• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah"

Copied!
10
0
0

Teks penuh

(1)

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Berbicara fitrah tidak lepas dari membicarakan manusia itu sendiri. Manusia itu terdiri dari dua unsur yaitu unsur jasmani dan unsur rohani. (QS. Al Hijr, 28-29) dan (QS. Ash Shaad, 71-72).1)

Dari segi jasmani, manusia itu boleh dikatakan hampir sama dengan binatang, dalam artian bahwa pertumbuhan dan perkembangan lebih banyak dipengaruhi oleh proses alami. Tetapi dari segi rohani spiritual dan moral manusia dapat melawan proses alami dan menilai serta mengontrol alam sekitar hingga ia mampu mengadakan adaptasi serta mengubahnya. Hal ini berbeda dengan binatang yang keberadaannya secara utuh lebih ditentukan oleh proses alami dan tidak memerlukan perkembangan moral.2)

Sebagai makhluk diantara sekian banyak makhluk yang diciptakan oleh Allah, manusia adalah makhluk yang sangat menarik dan misterius. Sehingga banyak mengundang para ahli untuk mengkaji manusia menurut bidang studi masing-masing, sesuai dengan yang mereka tekuni. Namun sampai sekarang para ahli masih belum mencapai kata sepakat tentang manusia. Setidaknya ini terbukti dari banyaknya penamaan terhadap manusia, misalnya “homo sapiens” (manusia berakal) “homo economicus” (manusia ekonomi) atau yang kadang kala disebut “economic animal” (binatang ekonomi) dan seterusnya.3)

Usaha untuk mempelajari manusia tidak berarti harus berhenti. Banyak ayat-ayat al Qur’an yang memuat petunjuk ilahi tentang penciptaan manusia memberikan sejumlah informasi, baik yang tersurat (jelas maknanya) maupun

1)

Soenarjo dkk. Alqur’an dan Terjemahnya, Departemen Agama RI, Jakarta, 1994, hal 393,741.

2)

Ahmadi, Islam Sebagai Paradigma Ilmu Pendidikan, Aditya Media, Yogyakarta, 1992, hal. 50.

3)

Jalaluddin, Teologi Pendidikan, Raja Grafindo Persada, Jakarta, 2001, hal.11.

(2)

yang tersirat (perlu penafsiran) tentang hakikat manusia. Manusia sebagai makhluk ciptaan Allah dengan segala fungsi dan peranannya sebagai kholifah di bumi. Semuanya telah di informasikan dalam Al Qur’an. Namun informasi tersebut terkadang hanya merupakan pernyataan yang memuat prinsip-prinsip pokok yang tidak terjelaskan secara rinci.4)

Salah satu aspek penting untuk mengenal esensi dan eksistensi kehidupan manusia, maka fitrah merupakan aspek yang utama. Artinya fitrah yang mempunyai peran tersendiri memiliki kesan yang sangat vital untuk dijadikan dasar mengenal manusia. Dengan demikian fitrah adalah salah satu tatanan nilai yang ada pada diri manusia, bersifat orisinil, alamiah, dan hadir bersama hadirnya jasmaniah dan rohaniah diri manusia itu sendiri.5)

Pengenalan terhadap fitrah manusia diawali dengan mengetahui konsep kelahiran manusia dari unsur lahiriah maupun unsur batiniah. Unsur batiniah yang memiliki perangkat kemampuan dasar inilah yang disebut fitrah, yang dalam bahasa psikologi disebut personalitas atau disposisi, atau dalam psikologi behaviorisme disebut propotence reflexes, yaitu kemampuan dasar yang secara otomatis dapat berkembang. 6)

Sementara itu dalam tinjauan normatif, fitrah dapat dilihat dalam Al Qur’an surat Al Ruum ayat 30, sebagai berikut:

ﻢِﻗﹶﺄﹶﻓ

ﻚِﻟﹶﺫ ِﻪﱠﻠﻟﺍ ِﻖﹾﻠﺨِﻟ ﹶﻞﻳِﺪﺒﺗ ﺎﹶﻟ ﺎﻬﻴﹶﻠﻋ ﺱﺎﻨﻟﺍ ﺮﹶﻄﹶﻓ ﻲِﺘﱠﻟﺍ ِﻪﱠﻠﻟﺍ ﹶﺓﺮﹾﻄِﻓ ﺎﹰﻔﻴِﻨﺣ ِﻦﻳﺪﻠِﻟ ﻚﻬﺟﻭ

ﹶﻥﻮﻤﹶﻠﻌﻳ ﺎﹶﻟ ِﺱﺎﻨﻟﺍ ﺮﹶﺜﹾﻛﹶﺃ ﻦِﻜﹶﻟﻭ ﻢﻴﹶﻘﹾﻟﺍ ﻦﻳﺪﻟﺍ

)

30

(

"Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (Allah), tetaplah atas fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan dalam ciptaan allah, itulah agama yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui “ (QS. Al Ruum : 30).7)

4)

Jalaludin Op Cit

5)

Chalidjah Hasan, Dimensi-Dimensi Psikologi Islam, al Ikhlas, Surabaya, 1994, hal 35.

6)

Ibid.

7)

Soenarjo dkk. Alqur’an dan Terjemahnya, Departemen Agama RI, Jakarta, 1994, hal 645.

(3)

Dengan adanya penjelasan dalam Al Qur’an bahwa manusia memiliki fitrah, banyak para pemikir kemudian dengan daya kekuatan akalnya mencari pengertian fitrah yang terdapat dalam diri manusia. Dan lahirlah beberapa pengertian tentang fitrah.

Ibnul Qoyyim mengatakan bahwa fitrah adalah suci. Kesucian yang dapat mengantarkan manusia menuju dinul Islam, apabila ia selamat dari gangguan dan godaan yang menyebabkannya menyimpang dari naluri suci8)

Al Qurtubi mengartikan fitrah berarti mengesakan Tuhan.9) At Thobari mengartikan fitrah sebagai agama Islam.10) Abdul Mujib dengan mengambil kerangka pemikiran Al Qodhi Abu Ya’la Al Juuwainy, Al Ghozali, Al Rozy dan dari kalangan mu’tazilah, mengatakan bahwa fitrah adalah potensi bawaan manusia yang dapat berkembang menjadi manusia tauhid atau musyrik. Tauhid syiriknya tergantung pada pilihan manusia itu sendiri 11)

Adanya perbedaan tentang pengertian fitrah yang diungkapkan para mufasir mengindikasikan bahwa fitrah merupakan sesuatu yang sangat menarik untuk dikaji dan masih relevan untuk dibahas sampai sekarang. Menurut sudut pandang tertentu, sesuai dengan bidang yang dialami oleh para pemikir.

Allah telah menciptakan semua makhluknya berdasarkan fitrahnya, tetapi fitrah Allah untuk manusia memiliki kemungkinan untuk berkembang dan meningkat sehingga kemampuannya dapat melampaui jauh dari kemampuan fisiknya yang tidak berkembang.12)

Sejalan dengan kepentingan itu, maka Allah telah menganugerahkan manusia berbagai potensi yang dapat dikembangkan melalui bimbingan yang

8)

Hasan bin Ali Hasan Al Hijazy. Al Fikrut Tarbawy Inda Ibnul Qoyyim, terj. Muzaidi Hasbullah, Manhaj Tarbiyah Ibnul Qoyim, Pustaka Al Kautsar, Jakarta. Tahun 2001, hal 28.

9)

Abi Abdillah Muhammad Ibn Ahmad Anshori Al Qurtubi, Al-Jami’ al Ahkamil Qur’an, dar-al-kutub Al alamiah, Beirut, Libanon, tth. Juz IV, hal 21.

10)

Ibid.

11)

Abdul Mujib, Fitrah dan Kepribadian Islam (Sebuah Pendekatan Psikologis), Darul Falaf, Jakarta, 1999 hal 25.

12)

(4)

terarah, teratur, dan berkesinambungan. Hal ini memberikan isyarat, bahwa manusia adalah makhluk yang berpotensi untuk dididik sekaligus untuk mendidik. 13)

Hal ini sesuai dengan apa yang dikatakan Murtadho Mutohhari, bahwa secara khusus fitrah mempunyai hubungan kekerabatan dengan pendidikan.14) Sebab fitrah terdapat dalam diri manusia, yang oleh Ahmadi dikatakan fitrah itu masih merupakan pola dasar atau sifat-sifat asli, maka fitrah itu baru memiliki arti bagi kehidupan manusia setelah dikembangkan secara wajar dan optimal.15)

Pendidikan merupaakan proses usaha atau upaya membentuk manusia yang semula tidak tahu menjadi tahu, yang semula bodoh menjadi cerdas. Atau pendidikan itu adalah rekayasa dan usaha untuk menyempurnakan kecerdasaan dan pertumbuhan manusia.

Usaha manusia agar ia bisa mengembangkan, mendayagunakan, menjaga dan mengaktualisasikan fitrah (potensi) itu dengan baik dan lurus, maka diperlukan suatu usaha dalam diri manusia akan suatu pendidikan yang baik. Yaitu pendidikan yang dapat memelihara dan mengembangkan fitrah manusia.16) Serta pendidikan yang membersihkan jiwa manusia dari syirik, kesesatan dan kegelapan menuju ke arah hidup bahagia yang penuh optimis dan dinamika sepanjang hayat.17)

Karena itu pendidikan bagi manusia adalah suatu yang vital dalam kehidupan, maka tinggi rendahnya kualitas pendidikan akan mendatangkan kebahagiaan dan kesulitan atau musibah pada manusia di bumi ini.

Ibnul Qoyyim mengatakan bahwa lingkungan yang rusak dan sering bergaul dengan orang-orang yang buruk perangainya akan menodai kesucian

13)

Jalaludin, Op Cit hal 18.

14)

Murtadho Mutohhari, Fitrah, Tarj. Afif Muhammad, PT Lentera Bosritama, Jakarta, 1998. hal 30.

15)

Ahmadi Op Cit, hal 30.

16)

Ahmadi., Op Cit, hal 30.

17)

M. Arifin, Ilmu Pendidikan Islam, (Suatu Tinjauan Teoritik dan Praktis Berdasarkan Pendekatan Interdisipliner),Bumi Aksara, Jakarta, 1996. Hal 154.

(5)

fitrah manusia dan membuat menyimpang dari kelurusan.18) Hal ini diperkuat oleh Imam Ghozali yang mengatakan bahwa menjauhkan anak-anak dari teman-teman yang buruk perangainya adalah suatu yang sangat penting. Dan anak harus dibiasakan sejak kecil pada adat kebiasaan baginya setelah dewasa.19)

Fitrah dalam obyek pembahasan ini adalah manusia secara umum. Ini disebabkan oleh kondisi secara umum tanpa dikaitkan dengan aktifitasnya. Konsep manusia disini dikorelasikan dengan konsep agama hanif (Islam), artinya setiap penggambaran konsep manusia tidak boleh dilepaskan dari konsep agama hanif. Sebab di dalam arwah manusia telah meyakini dan mengatakan adanya agama yang hanif itu.

Dengan demikian ruh manusia memiliki asal-usul ketuhanan dan tujuan akhir ruh ini adalah kembali kepada hakekat ketuhanan. Dengan demikian adalah tidak dapat dinalar bahwa jiwa yang lahir dari ruh (ciptaan) Allah ditiupkan dalam eksistensi oleh Tuhan dan ditakdirkan untuk kembali kepada Tuhan yang tidak memiliki jejak ketuhanan.

Surat Al Ruum ayat 30, telah menginspirasikan untuk mengembangkan dan mengaktualisasikan fitrah atau potensi itu dengan baik dan lurus. Maka diperlukan suatu usaha-usaha yang baik yaitu pendidikan yang dapat memelihara dan mengembangkan fitrah serta pendidikan yang dapat membersihkan jiwa manusia dari syirik, kesesatan dan kegelapan menuju ke arah hidup bahagia yang penuh optimis dan dinamis.

Berangkat dari semua itulah penulis tertarik untuk mengkaji fitrah manusia dalam surat Al Ruum kaitannya dengan pendidikan. Kemudian kajian ini diberi judul : IMPLIKASI FITRAH MANUSIA DALAM PENDIDIKAN ISLAM (KAJIAN SURAT AL RUUM AYAT 30).

18)

Hasan Langgulung, Manusia dan Pendidikan; Suatu Analisis Psikologi dan Pendidikan, Al Husna Zikra, Jakarrta, 1995. Hal 75-81.

19)

Moh. Athiyah Al Abrasi, Al Tarbiyah Al Islamiyah, Terj. Bustami A Ghoni dan Djohar Bahry. HS., Dasar-Dasar Pokok Pendidikan Islam, Bulan Bintang, Jakarta, 1990. hal. 114.

(6)

B. Rumusan Masalah

Berpijak dari latar belakang diatas maka, permasalahan yang perlu dikaji dalam penulisan skripsi adalah :

1. Apa yang dimaksud fitrah dalam QS. Al Ruum : 30 ?

2. Bagaimana implikasi fitrah manusia dalam Pendidikan Islam ?

C. Tujuan dan Manfaat Penelitian

Sehubungan dengan permasalahan diatas, maka tujuan penelitian ini adalah :

1. Untuk mengetahui fitrah manusia dalam QS. Al Ruum : 30 kaitannya dengan pendidikan Islam ?

2. Untuk mengetahui implikasi fitrah manusia dalam Pendidikan Islam ? Adapun manfaat yang diharapkan dari penelitian ini adalah :

1. Studi ini diharapkan dapat memberikan kontribusi dalam khasanah pemikiran pendidikan Islam.

2. Studi ini juga diharapkan dapat bermanfaat sebagai sumbangan pemikiran disiplin ilmu pengetahuan, baik bagi guru maupun bagi siswa. Dengan mengenali pembawaan, perbedaan individu, minat yang dimiliki anak didik merupakan sebuah strategi yang memungkinkan proses belajar mengajar menjadi lebih lancar dan berarti.

D. Penegasan Judul

Untuk menghindari kesalah fahaman dan kerancuan, maka penulis memberi batasan arti terhadap kata-kata yang terdapat dalam judul skripsi ini : 1. Implikasi memiliki arti mengandung, berisi sesuatu,20). Yang penulis

maksud disini adalah kandungan atau isi yang termuat dalam QS. Al

20)

Mas’ud Hasan Abdul Kahar, dkk. Kamus Istilah Pengetahuan Populer. Gresik, Bintang Pelajar, tth, hal 107.

(7)

Ruum : 30, berkenaan dengan fitrah manusia, kaitannya dengan pendidikan Islam.

2. Fitrah manusia

- Fitrah memiliki arti sifat asal, bakat, pembawaan.21)

- Manusia memiliki arti makhluk yang berakal budi22). Jadi yang dimaksud fitrah manusia disini adalah manusia yang memiliki pembawaan berakal dan berbudi, kemudian dengan akalnya ia dapat dibimbing dan diarahkan melalui pendidikan.

3. QS. Al Ruum : 30

Surat Al Ruum yaitu surat yang terletak pada urutan kedua setelah surat Al Ankabut dalam tata urutan surat-surat Al Qur’an. Surat ini termasuk golongan surat-surat Makkiyah dan diturunkan setelah surat Al-Insyiqaaq.23)

Jadi yang penulis maksud dengan judul diatas adalah suatu penelitian yang berusaha untuk mengetahui tentang kandungan surat Al Ruum ayat 30 dalam hubungannya dengan pendidikan.

E. Metode Penelitian

Skripsi ini bersifat Library Research, yaitu suatu penelitian kepustakaan. Sedangkan metode penelitian yang akan penulis gunakan dalam pembahasan skripsi adalah :

1. Metode Pengumpulan Data

Data yang dihimpun merupakan sumber tertulis, secara garis besar ada dua macam sumber yaitu :

a. Sumber Primer

Yang jadi rujukan utama adalah bahan utama yang dijadikan referensi : Al-Qur’an dan Tafsir: Tafsir Al-Maraghi, Tafsir Ibnu Katsir,

21)

WJS Poerwadarminta, Kamus Umum Bahasa Indonesia, Balai, Pustaka, Jakarta, 1994, hal 82.

22)

Ibid. hal 32.

23)

(8)

Tafsir Fakhrur Rozi, Tafsir Jami Ahkam Al-Qur’an, karya al-Qurtuby, Tafisr al Khozin.

Tafsir- tafsir tersebut dijadikan sebagai sumber utama karena: isi tafsirnya mudah dipahami, sesuai dengan topik bahasan yang dibahas, metode tafsir yang digunakan sesuai dengan meode yang digunakan dalam pembahasan skripsi, dikarang oleh ulama ahli tafsir dan juga pemerhati pendidikan, sangat terkenal dalam masyarakat umum dan tidak asing lagi dalam dunia pendidikan.

b. Sumber Sekunder

Merupakan sumber penunjang sebagai bahan pendukung dalam pembahasan skripsi, yakni literatur atau buku-buku lain selain sumber primer diatas, yang ada kaitannya dengan bahasan fitrah manusia dalam pendidikan Islam. Seperti: buku-buku fitrah karangan Murtadho Muthohari, Islam Sebagai Paradigma Ilmu Pendidikan oleh Ahmadi, Manhaj Tarbiyah Ibnul Qoyyim oleh Hasan bin Ali al-Hijaz, Ilmu pendidikan oleh M Arifin, Fitrah dan Kepribadian Islam, karya Abdul Mujib, M.Ag.

2. Metode Pembahasan

Dalam penulisan skripsi ini penulis menggunakan metode pembahasan sebagai berikut :

a. Metode Tafsir Tahlily, yaitu menjelaskan kandungan ayat-ayat al-Qur’an dari seluruh aspeknya, seperti pengertian kosa kata, konotasi kalimatnya, asbabun nuzul, munasabah, pendapat-pendapat yang telah disampaikan oleh Nabi, sahabat tabiin dan ahli tafsir lainnya, sesuai dengan keahlian dan kecenderungan mufassir yang menafsirkan ayat-ayat tersebut.24) Metode ini penulis gunakan untuk menafsirkan surat al Ruum ayat 30-32 yang merupakan landasan utama dalam pembahasan

24)

Abd hayy al-Farmawy, Metode tafsir Maudi’i, suatu pengantar, Tarjm Suryan A Jamrah, Raja Grafindo Persada, Jakarta, 1996, hlm 12.

(9)

skripsi ini dan yang secara langsung berkaitan dengan fitrah manusia untuk kemudian dicari implikasinya dengan pendidikan Islam.

b. Deduksi, yaitu suatu cara untuk mengambil kesimpulan yang bertitik tolak dari hal-hal yang bersifat umum menuju hal-hal yang bersifat khusus.25) Metode ini penulis gunakan untuk menganalisa data-data atau masalah-masalah yang berkaitan dengan judul skripsi yang masih bersifat umum, untuk kemudian diuraikan secara terperinci atau khusus.

c. Induksi, yaitu suatu cara untuk mengambil kesimpulan yang bertitik tolak dari hal-hal yang bersifat khusus menuju menuju ke hal-hal yang bersifat umum.26) Metode ini penulis gunakan untuk menganalisa data-data atau masalah-masalah yang berkaitan dengan judul skripsi yang masih bersifat khusus untuk kemudian diambil kesimpulan secara umum.

F. Sistematika Penulisan Skripsi

Untuk memudahkan pembahasan permasalahan, maka penulis membagi dalam sistematika penulisan skripsi yang terdiri dari lima bab :

Bab I. Pendahuluan ; Dalam pendahuluan ini penulis menjelaskan latar belakang masalah, rumusan masalah, tujuan dan manfaat penelitian, penjelasan arti kata-kata kunci, metode penelitian, dan sistematika penulisan skripsi.

Bab II. Fitrah manusia dalam Qur’an surat Al Ruum ayat 30 ; pada bab ini akan dibahas tiga sub bab. Pertama, pembahasan mengenai pengertian fitrah. Kedua, konsep fitrah dalam Qur’an surat Al Ruum ayat 30, meliputi teks ayat dan terjemahnya, asbabun nuzul ayat, munasabah ayat, dan tafsir ayat. Ketiga, fungsi fitrah bagi manusia.

Bab III. Urgensi pendidikan Islam bagi kehidupan manusia. Di dalamnya berisi tentang definisi pendidikan Islam, dasar, tujuan dan fungsi

25)

Ibid, hal 42.

26)

(10)

pendidikan Islam. Aspek-aspek pendidikan Islam dan pendidikan sebagai proses pengembangan fitrah manusia.

Bab IV. Implikasi fitrah manusia terhadap pendidikan Islam. Dalam bab ini di bahas mengenai unsur-unsur fitrah manusia, usaha-usaha pengembangan fitrah manusia, urgensi pengembangan fitrah dalam pendidikan Islam yang meliputi pendidikan mengembangkan fitrah baik, menghentikan fitrah jahat dan pendidikan mengembangkan manusia dengan potensi insan kamil.

Bab V. Penutup, meliputi kesimpulan, saran-saran dan kata-kata penutup.

Referensi

Dokumen terkait

Nabot pasti tahu Ahab itu raja yang seperti apa, tetapi Nabot lebih takut kepada Tuhan sehingga ia menolak dengan tegas tidak akan menjual milik pusaka itu kepada Ahab.. Ini

Input data, yaitu: data Sumber PLN, Trafo, Saluran, dan beban yang diperoleh dari sistem yang terkait dengan catu daya Kawasan GI PUSPIPTEK dalam hal ini menggunakan catu

Alhamdulillah, segala puji bagi Allah SWT yang telah memberi petunjuk dan rahmat serta Rosulullah Muhammad SAW yang senantiasa memberikan syafaat kepada umatnya

5. Pelayanan sertifikasi karantina pertanian yang cepat, tepat dan simpatik. Adanya kesatuan peran serta masyarakat dalam kegiatan karantina pertanian. Pencegahan dan penangkalan

Hasil penelitiannya menunjukkan bahwa persentase larutan kapur sirih terbaik untuk bahan perendaman pada pembuatan keripik talas ketan adalah 20% dan lama

Penelitian ini terdiri dari dua percobaan yaitu 1) Iradiasi sinar gamma pada kalus embriogenik jeruk keprok SoE untuk mendapatkan nilai LD 50. 2) Seleksi untuk mendapatkan

Beberapa teori telah dikembangkan untuk menjelaskan asal kecemasan (Stuart, 2012). a) Dalam pandangan psikoanalisis, kecemasan adalah konflik emosional yang

Manfaat dari penelitian ini adalah memberi sumbangsih terhadap perkembangan ilmu pengetahuan, memberi informasi tentang keanekaragaman kupu-kupu kepada masyarakat