BAB III ANALISIS LINGKUNGAN STRATEGIS KEMENTERIAN KOPERASI DAN UKM

12 

Teks penuh

(1)

BAB III

ANALISIS LINGKUNGAN STRATEGIS

KEMENTERIAN KOPERASI DAN UKM

Kementerian Koperasi dan UKM telah melaksanakan pemberdayaan koperasi dan usaha mikro, kecil dan menengah (KUMKM) agar mampu menjadi pelaku utama dalam perekonomian nasional. Upaya dan langkah-langkah strategis pemberdayaan KUMKM akan terus dilaksanakan secara sistimatis, konsisten dan berkesinambungan pada masa mendatang. Untuk itu, perlu dikaji lingkungan strategis yang akan mempengaruhi proses pemberdayaan KUMKM yang akan dilaksanakan oleh Kementerian Koperasi dan UKM pada masa mendatang.

A. KEKUATAN

Sesuai dengan tugas pokok dan fungsinya, Kementerian Koperasi dan UKM berperan sebagai koordinator perumusan kebijakan nasional dan pelaksanaan kebijakan pemberdayaan koperasi dan UKM di Indonesia, sehingga diharapkan dapat berperan aktif dalam pemberdayaan koperasi dan UKM di Indonesia. Sinergi kebijakan dengan instansi pemerintah lainnya, dunia usaha dan masyarakat akan menjadi kunci keberhasilan pemberdayaan koperasi dan UMKM.

Jumlah dan tingkat pendidikan pegawai dan anggaran pembangunan yang cukup memadai merupakan sumberdaya utama Kementerian Koperasi dan UKM untuk memberdayakan proses pemberdayaan koperasi dan UMKM di Indonesia. Komitmen Pimpinan Kementerian Koperasi dan UKM untuk menegakkan birokrasi yang efisien dan efektif serta akuntabel menjadi kunci kekuatan Kementerian Koperasi dan UKM. Di samping itu, dukungan politik dari masyarakat, pemerintah daerah dan lembaga legislatif menjadikan Kementerian Koperasi dan UKM lebih mudah mensinergikan sumberdaya yang ada di masyarakat dan dunia usaha untuk pemberdayaan koperasi dan UMKM di Indonesia.

B. KENDALA

Secara umum kendala yang dihadapi Kementerian Koperasi dan UKM adalah terbatasnya sarana dan prasarana penunjang yang persebarannya kurang merata dan kurang memadai. Adanya gap kompetensi pegawai dengan perkembangan dinamika masyarakat, dan belum adanya sistem jenjang karir yang jelas dan belum adanya sistem kompensasi PNS yang berbasis kinerja

(2)

menjadi salah satu kendala untuk memaksimalkan potensi Kementerian Koperasi dan UKM dalam pelaksanaan pemberdayaan koperasi dan UMKM.

Kendala lain yang dihadapi adalah rendahnya perspektif pimpinan instansi pemerintah dan dunia usaha mengenai pemberdayaan koperasi dan UMKM di Indonesia. Adanya perspektif yang seolah-olah pemberdayaan koperasi dan UMKM semata-mata urusan Kementerian Koperasi dan UKM menjadi kendala utama dalam mensinergikan potensi dan sumberdaya untuk pemberdayaan koperasi dan UMKM di Indonesia.

C. PELUANG

Pulihnya perekonomian nasional dari krisis ekonomi dan pertumbuhan ekonomi selama tahun 2005 - 2009 mendatang yang diperkirakan tumbuh lebih baik daripada tahun 2000 - 2003, akan membuka berbagai peluang usaha baru, terutama bagi KUMKM. Pertumbuhan ekonomi diharapkan akan makin meningkatkan daya beli dan keanekaragaman pola permintaan masyarakat, serta jumlah penduduk yang sangat besar, berarti pasar dalam negeri akan berkembang lebih besar sehingga memberi peluang untuk menumbuhkan usaha nasional, terutama bagi KUMKM. Ketersediaan tenaga kerja yang mutunya makin meningkat serta sumber daya alam yang beraneka ragam merupakan pula peluang untuk menghasilkan produksi yang lebih beragam dan kompetitif.

Adanya kemauan politik yang kuat dari pemerintah dan berkembangnya tuntutan masyarakat untuk menciptakan pembangunan yang makin berkeadilan dan transparan serta komitmen membangun sistem ekonomi yang lebih demokratis berdasarkan sistem ekonomi kerakyatan akan menciptakan lebih banyak peluang baru bagi pemberdayaan KUMKM.

Pelaksanaan otonomi daerah yang lebih baik disertai perimbangan keuangan yang lebih adil akan meningkatkan kemampuan pemerintah daerah untuk memberdayakan KUMKM di daerahnya sebagai motor penggerak perekonomian daerah. Pemerintah Daerah dengan kedekatannya dengan permasalahan pelaku ekonomi di wilayahnya diharapkan mampu merumuskan kebijakan yang tepat untuk memberdayakan KUMKM, sehingga akan dapat menciptakan iklim berusaha yang kondusif dan dukungan perkuatan bagi KUMKM.

Perubahan struktur perekonomian nasional dari sektor pertanian ke sektor industri dan jasa menciptakan peluang bagi KUMKM terutama di bidang agrobisnis, agroindustri, kerajinan industri, dan industri-industri lainnya di mana KUMKM dapat berfungsi sebagai sub kontraktor yang kuat dan efisien bagi usaha besar. Perubahan orientasi kebijakan investasi, perdagangan dan industri ke arah industri pedesaan

(3)

dan industri yang berbasis sumber daya alam terutama pertanian, kehutanan, kelautan, pertambangan dan pariwisata serta kerajinan rakyat memberikan peluang bagi tumbuh dan berkembangnya KUMKM.

Pertumbuhan ekonomi dunia yang semakin tinggi, dan makin terbukanya perekonomian dunia, serta makin pesatnya kerjasama ekonomi antar negara terutama dalam konteks ASEAN dan APEC juga akan menciptakan peluang baru bagi KUMKM, sehingga dapat meningkatkan peranannya sebagai penggerak utama pertumbuhan industri manufaktur dan kerajinan, agroindustri, ekspor non migas, dan penciptaan lapangan kerja baru.

Meningkatnya kesadaran pemerintah, dunia usaha dan masyarakat akan arti pentingnya KUMKM dalam pereko-nomian nasional akan meningkatkan komitmen dan pemihakannya dalam pembangunan nasional. Hal ini didukung oleh pranata konstitusi dan aturan pelaksanaannya (GBHN, UU Usaha Kecil, UU Perkoperasian, dan UU Propenas) yang memberikan prioritas pembangunan ekonomi pada KUMKM dalam rangka mewujudkan sistem ekonomi kerakyatan.

Berbagai keterbatasan KUMKM dalam mengakses sumberdaya produktif telah menjadikan KUMKM sebagai usaha yang mandiri, kukuh dan fleksibel. Fleksibilitas usaha KUMKM untuk beralih usaha dari satu sektor ke sektor lain menjadi kekuatan KUMKM dalam mempertahan kelangsungan hidup dan mengembangkan usahanya. Fleksibilitas inilah yang sering menjadikan KUMKM menjadi kekuatan inovasi dan stabilisator dalam pembangunan ekonomi nasional.

KUMKM dapat didorong menjadi motor penggerak perekonomian nasional mengingat kandungan impornya rendah dan keterkaitannya antar sektor relatif tinggi. Di samping itu, KUMKM umumnya bergerak di sektor padat karya yang memerlukan investasi yang relatif rendah dengan ICOR rendah dan lag waktu yang singkat, sehingga upaya mendorong pertumbuhannya relatif lebih mudah dan lebih cepat.

D. ANCAMAN

Adanya agenda neo liberalisasi dari dunia internasional akan mengancam upaya pemberdayaan KUMKM. Liberalisasi perdagangan yang tanpa batas akan mengancam upaya pemberdayaan usaha KUMKM, seperti: paha ayam impor, pakaian bekas impor dan sejenisnya.

Bertambahnya pelaku pasar multinasional yang sangat inovatif dan mampu menyajikan produk dan layanan yang lebih baik, maka pelaku ekonomi termasuk KUMKM menghadapi persaingan yang semakin ketat di pasar dalam negeri dan internasional. Penegakan hukum yang belum efektif juga akan menjadi ancaman, yang terbukti dengan maraknya peredaran barang impor ilegal, seperti: impor

(4)

gula ilegal, beras ilegal, produk lainnya yang umumnya telah dihasilkan oleh KUMKM di Indonesia.

Pemberdayaan KUMKM menghadapi kendala berupa rendahnya kualitas sumberdaya manusia yang tercermin dari kurang berkembangnya kewirausahaan dan rendahnya produktivitas serta daya saing KUMKM. Kendala itu mempengaruhi kemampuannya dalam menciptakan dan memanfaatkan peluang usaha. Kinerja KUMKM selain dipengaruhi oleh kualitas SDMnya dan ketersediaan berbagai faktor produksi yang dibutuhkan juga dipengaruhi oleh tersedianya sarana dan infrastruktur yang memadai. Infrastruktur di sektor transportasi, telekomunikasi, pasokan air bersih dan listrik masih terbatas penyebarannya.

Keterbatasan akses KUMKM kepada sumberdaya produktif menjadi kendala untuk pemberdayaan usaha KUMKM secara cepat dan berkesinambungan. Kendala ini akibat struktur perekonomian nasional yang penuh dengan ketimpangan dalam penguasaan dan alokasi sumberdaya produktif. Upaya mempercepat pemberdayaan KUMKM memiliki berbagai keterbatasan antara lain: (1) mekanisme pasar yang berkeadilan belum efektif berfungsi, (2) keterbatasan keuangan negara untuk menstimulan pembangunan ekonomi, (3) belum optimalnya fungsi intermediasi bank, dan (4) belum optimalnya pelaksanaan otonomi daerah untuk mendukung pemberdayaan KUMKM.

Iklim usaha yang belum sepenuhnya memberikan dukungan terhadap pemberdayaan KUMKM; belum lengkapnya kelembagaan pemberdayaan KUMKM, belum tegaknya pelaksanaan peraturan perundangan yang mengatur persaingan sehat dan adil, serta belum mantapnya pembinaan usaha nasional baik antar sektor dan antar golongan ekonomi maupun antar daerah.

Rendahnya partisipasi anggota koperasi dalam kegiatan usaha koperasi masih merupakan kendala pengembangan koperasi di Indonesia. Untuk itu, pengembangan kelembagaan dan usaha koperasi, serta peningkatan citra koperasi perlu menjadi perhatian pemerintah pada masa mendatang.

Tingkat kepedulian pembina dari instansi terkait relatif masih belum tinggi terhadap upaya pemberdayaan KUMKM di masing-masing unit kerjanya. Rendahnya tingkat kepedulian, kemampuan dan kualitas pembina dalam memberdayakan KUMKM akan menjadi salah satu kendala pemberdayaan KUMKM pada masa mendatang.

E. TANTANGAN

Tantangan utama yang dihadapi dalam pengembangan ekonomi nasional pada masa mendatang adalah mempercepat upaya memperkukuh struktur ekonomi yang

(5)

berintikan KUMKM sebagai penggerak utama pertumbuhan ekonomi, yang pro pengurangan kemiskinan dan peningkatan lapangan usaha. Ketimpangan penguasaan sumberdaya produktif baik antar pelaku usaha, antar daerah maupun antara pusat dan daerah telah menghambat upaya mewujudkan demokrasi ekonomi. Tantangan yang dihadapi adalah bagaimana meningkatkan alokasi sumberdaya produktif yang mudah diakses oleh KUMKM, sehingga dapat mengubah struktur ekonomi nasional yang lebih adil. Untuk itu, perlu ada perubahan radikal dalam kebijakan alokasi sumberdaya melalui reformasi perpajakan, reformasi kebijakan yang menghambat usaha KUMKM, penataan ulang perimbangan keuangan pusat-daerah dan reformasi kebijakan ekonomi lainnya dalam rangka mewujudkan demokrasi ekonomi.

Indonesia baru pulih dari krisis ekonomi dan dalam proses percepatan pertumbuhan ekonomi untuk mengejar berbagai ketertinggalan pembangunan nasional akibat krisis ekonomi. Untuk itu, tantangan pemberdayaan KUMKM pada masa mendatang adalah mempercepat pemberdayaan KUMKM dengan mendorong kembali bekerjanya infrastruktur perekonomian seperti bank, lembaga keuangan dan sejenisnya untuk memberikan dukungan bagi pemberdayaan usaha KUMKM, sehingga KUMKM mampu menjadi basis ketahanan dan pertumbuhan perekonomian Indonesia.

Tantangan pemberdayaan KUMKM adalah meningkatkan produktivitas dan daya saing KUMKM agar dapat meningkatkan pangsa pasarnya, serta mendiversifikasi dan mendiferensiasikan produknya di pasar dalam negeri dan luar negeri. Upaya ini memerlukan sinergi pemerintah pusat, pemerintah daerah, dunia usaha, masyarakat dan KUMKM untuk menyatukan potensi sumberdayanya dalam pemberdayaan KUMKM pada masa mendatang.

Pemerintah dan dunia usaha perlu mengembangkan langkah-langkah strategis yang bersifat inovatif dalam memberdayakan KUMKM dengan menumbuhkan lingkungan usaha yang kondusif dan memberikan dukungan perkuatan agar KUMKM mampu bersaing secara global.

(6)

BAB IV

LANDASAN PEMBERDAYAAN KOPERASI DAN

UMKM

Pancasila dan Undang-undang Dasar Tahun 1945 merupakan landasan ideologi dan konstitusional pembangunan nasional termasuk pemberdayaan koperasi dan usaha kecil dan menengah. Pemberdayaan koperasi dan usaha kecil dan menengah merupakan bagian integral dari pembangunan nasional untuk mewujudkan masyarakat Indonesia yang demokratis, adil dan makmur sesuai dengan amanat konstitusi Undang-undang Dasar Tahun 1945. Rencana strategis Kementerian Koperasi dan UKM ini disusun atas dasar landasan idiil Pancasila dan landasan konstitusional undang Dasar Tahun 1945, Ketetapan MPR-RI, Undang-undang Nomor 25/1992 tentang Perkoperasian, Undang-Undang-undang Nomor 9/1995 tentang Usaha Kecil, Undang-undang Nomor 25/2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional, serta berbagai undang-undang, peraturan pemerintah, Inpres dan Keppres dan Perpres lainnya yang terkait.

A. UNDANG-UNDANG PERKOPERASIAN

Undang-undang Nomor 25 Tahun 1992 tentang Perkoperasian menegaskan bahwa Pemerintah bertugas: (1) menciptakan dan mengembangkan iklim dan kondisi yang mendorong pertumbuhan serta pemasyarakatan koperasi, (2) memberikan bimbingan dan kemudahan kepada koperasi, dan (3) memberikan perlindungan kepada koperasi. Pembinaan koperasi dilakukan dengan memperhatikan keadaan dan kepentingan ekonomi nasional, serta pemerataan kesempatan berusaha dan kesempatan kerja.

Dalam upaya menciptakan dan mengembangkan iklim dan kondisi yang mendorong pertumbuhan dan pemasyarakatan koperasi, Pemerintah (pasal 61 UU Nomor 25/1992):

1. memberikan kesempatan usaha seluas-luasnya kepada koperasi

2. meningkatkan dan memantapkan kemampuan koperasi agar menjadi koperasi yang berkualitas, tangguh dan mandiri.

3. mengupayakan tata hubungan usaha yang saling menguntungkan antara koperasi dengan badan usaha lainnya.

4. membudayakan koperasi dalam masyarakat.

Dalam rangka memberikan bimbingan dan kemudahan kepada koperasi, Pemerintah (pasal 62):

1. membimbing usaha koperasi yang sesuai dengan kepentingan ekonomi anggotanya.

(7)

2. mendorong, mengembangkan dan membantu pelaksanaan pendidikan, pelatihan, penyuluhan dan penelitian perkoperasian.

3. memberikan kemudahan untuk memperkokoh permodalan koperasi serta mengembangkan lembaga keuangan koperasi.

4. membantu pengembangan jaringan usaha koperasi dan kerjasama yang saling menguntungkan antar koperasi.

5. memberikan bantuan konsultasi guna memecahkan permasalahan yang dihadapi oleh koperasi dengan tetap memperhatikan Anggaran Dasar dan Prinsip Koperasi.

Dalam rangka pemberian perlindungan kepada koperasi, Pemerintah dapat: (pasal 63):

1. menetapkan bidang kegiatan ekonomi yang hanya boleh diusahakan oleh koperasi.

2. menetapkan bidang kegiatan ekonomi di suatu wilayah yang telah berhasil diusahakan oleh koperasi untuk tidak diusahakan oleh badan usaha lainnya.

B. UNDANG-UNDANG USAHA KECIL

Undang-undang Nomor 9 Tahun 1995 tentang Usaha Kecil secara tegas menyatakan tujuan pemberdayaan usaha kecil adalah: (1) menumbuhkan dan meningkatkan kemampuan usaha kecil menjadi usaha yang tangguh dan mandiri serta dapat berkembang menjadi usaha menengah, dan (2) meningkatkan peranan usaha kecil dalam pembentukan produk nasional, perluasan kesempatan kerja dan berusaha, peningkatan ekspor, serta peningkatan dan pemerataan pendapatan untuk mewujudkan dirinya sebagai tulang punggung serta memperkukuh struktur perekonomian nasional.

Dalam rangka mencapai tujuan pemberdayaan usaha kecil tersebut, maka pemerintah bertugas dan berperan:

1. menumbuhkan iklim usaha yang kondusif bagi usaha kecil melalui penetapan peraturan perundang-undangan dan kebijakan: pendanaan, persaingan, prasarana, informasi, kemitraan, perijinan usaha dan perlindungan.

2. melakukan pembinaan dan pengembangan usaha kecil bersama-sama dunia usaha dan masyarakat terutama dalam bidang: produksi dan pengolahan, pemasaran, sumberdaya manusia dan teknologi.

3. menyediakan pembiayaan bagi pemberdayaan usaha kecil bersama-sama dunia usaha dan masyarakat, berupa: kredit perbankan, pinjaman lembaga keuangan bukan bank, modal ventura, pinjaman dari penyisihan sebagian laba BUMN, hibah dan jenis pembiayaan lainnya.

(8)

4. memfasilitasi kemitraan usaha kecil dengan usaha menengah dan besar melalui pola: inti-plasma, subkontrak, dagang umum, waralaba, keagenan, dan bentuk-bentuk kemitraan lainnya.

5. menugaskan Menteri yang membidangi usaha kecil untuk mengkoordinasikan dan mengendalikan pemberdayaan usaha kecil.

6. melaksanakan sanksi pidana dan administratif kepada usaha menengah dan besar yang merugikan pemberdayaan usaha kecil.

Usaha kecil yang telah dibina dan berkembang menjadi usaha menengah masih dapat diberikan pembinaan dan pengembangan dalam jangka waktu paling lama tiga tahun, serta tetap dapat menempati lokasi usaha dan melakukan kegiatan usaha yang dicadangkan. Pemerintah menetapkan bidang pembinaan dan pengembangan yang masih perlu diberikan kepada usaha menengah.

C. PERATURAN PEMERINTAH DAN KEPUTUSAN

PRESIDEN

Pelaksanaan pemberdayaan koperasi dan UKM juga mengacu pada berbagai peraturan pemerintah dan Keputusan Presiden dan Instruksi Presiden, antara lain:

1. Peraturan Pemerintah Nomor 4 Tahun 1994 tentang Pendirian dan Perubahan Anggaran Dasar Koperasi

2. Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 1994 tentang Pembubaran Koperasi oleh Pemerintah

3. Peraturan Pemerintah Nomor 9 Tahun 1995 tentang Kegiatan Usaha Simpan Pinjam.

4. Peraturan Pemerintah Nomor 16 Tahun 1997 tentang Waralaba 5. Peraturan Pemerintah Nomor 44 Tahun 1997 tentang Kemitraan

6. Peraturan Pemerintah Nomor 32 Tahun 1998 tentang Pembinaan dan Pengembangan Usaha Kecil

7. Peraturan Pemerintah Nomor 33 Tahun 1998 tentang Modal Penyertaan pada Koperasi

8. Peraturan Pemerintah Nomor 25 Tahun 2000 tentang Kewenangan Pemerintah dan Kewenangan Propinsi sebagai Daerah Otonom.

9. Peraturan Pemerintah Nomor 39 Tahun 2001 tentang Penyelenggaraan Dekonsentrasi.

10. Peraturan pemerintah nomor 52 Tahun 2001 tentang Penyelenggaraan Tugas Pembantuan.

11. Keputusan Presiden Nomor 187/M Tahun 2004 tentang Pembentukan Kabinet Indonesia Bersatu sebagaimana telah diubah dengan Keputusan Presiden Nomor 8/M Tahun 2005.

12. Peraturan Presiden Nomor 07 Tahun 2005 tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah Periode Tahun 2004 - 2009

(9)

13. Peraturan Presiden Nomor 09 Tahun 2005 tentang Kedudukan, Tugas, Fungsi, Susunan Organisasi dan Tata Kerja Kementerian Negara Republik Indonesia. 14. Instruksi Presiden Nomor 18 Tahun 1998 tentang Peningkatan dan Pembinaan

dan Pengembangan Perkoperasian.

15. Instruksi Presiden Nomor 07 Tahun 1999 tentang Akuntabilitas Kinerja.

16. Instruksi Presiden Nomor 10 Tahun 1999 tentang Pemberdayaan Usaha Menengah

serta berbagai peraturan pemerintah dan keputusan presiden lainnya.

D. RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH

PERIODE 2004 - 2009

Dalan Rencana pembangunan Jangka Menengah Periode Tahun 2004 – 2009, Koperasi dan UMKM menempati posisi strategis untuk mempercepat perubahan struktural dalam rangka meningkatkan taraf hidup rakyat banyak. Sebagai wadah kegiatan usaha bersama bagi produsen maupun konsumen, koperasi diharapkan berperan dalam meningkatkan posisi tawar dan efisiensi ekonomi rakyat, sekaligus turut memperbaiki kondisi persaingan usaha di pasar melalui dampak eksternalitas positif yang ditimbulkannya. Sementara itu UMKM berperan dalam memperluas penyediaan lapangan kerja, memberikan kontribusi yang signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi, dan memeratakan peningkatan pendapatan. Bersamaan dengan itu adalah meningkatnya daya saing dan daya tahan ekonomi nasional. Dengan perspektif peran seperti itu, sasaran umum pemberdayaan koperasi dan UMKM dalam lima tahun mendatang adalah:

1. Meningkatnya produktivitas UMKM dengan laju pertumbuhan lebih tinggi dari laju pertumbuhan produktivitas nasional;

2. Meningkatnya proporsi usaha kecil formal;

3. Meningkatnya nilai ekspor produk usaha kecil dan menengah dengan laju pertumbuhan lebih tinggi dari laju pertumbuhan nilai tambahnya;

4. Berfungsinya sistem untuk menumbuhkan wirausaha baru berbasis ilmu pengetahuan dan teknologi; dan

5. Meningkatnya kualitas kelembagaan dan organisasi koperasi sesuai dengan jatidiri koperasi.

Dalam rangka mewujudkan sasaran tersebut, pemberdayaan koperasi dan UMKM akan dilaksanakan dengan arah kebijakan sebagai berikut:

1. Mengembangkan usaha kecil dan menengah (UKM) yang diarahkan untuk memberikan kontribusi yang signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi, penciptaan lapangan kerja, dan peningkatan daya saing; sedangkan pemberdayaan usaha skala mikro lebih diarahkan untuk memberikan

(10)

kontribusi dalam peningkatan pendapatan pada kelompok masyarakat berpendapatan rendah.

2. Memperkuat kelembagaan dengan menerapkan prinsip-prinsip tata kepemerintahan yang baik (good governance) dan berwawasan gender terutama untuk:

• memperluas akses kepada sumber permodalan khususnya perbankan; • memperbaiki lingkungan usaha dan menyederhanakan prosedur

perijinan;

• memperluas dan meningkatkan kualitas institusi pendukung yang menjalankan fungsi intermediasi sebagai penyedia jasa pengembangan usaha, teknologi, manajemen, pemasaran dan informasi.

3. Memperluas basis dan kesempatan berusaha serta menumbuhkan wirausaha baru berkeunggulan untuk mendorong pertumbuhan, peningkatan ekspor dan penciptaan lapangan kerja terutama dengan :

• meningkatkan perpaduan antara tenaga kerja terdidik dan terampil dengan adopsi penerapan teknologi;

• mengembangkan UMKM melalui pendekatan klaster di sektor agribisnis dan agroindustri disertai pemberian kemudahan dalam pengelolaan usaha, termasuk dengan cara meningkatkan kualitas kelembagaan koperasi sebagai wadah organisasi kepentingan usaha bersama untuk memperoleh efisiensi kolektif;

• meningkatkan peran UMKM dalam proses industrialisasi, perkuatan keterkaitan industri, percepatan pengalihan teknologi, dan peningkatan kualitas SDM;

• mengintegrasikan pengembangan usaha dalam konteks pengembangan regional, sesuai dengan karakteristik pengusaha dan potensi usaha unggulan di setiap daerah.

4. Meningkankan peran UMKM sebagai penyedia barang dan jasa pada pasar domestik yang semakin berdaya saing dengan produk impor, khususnya untuk memenuhi kebutuhan masyarakat banyak.

5. Membangun koperasi yang diarahkan dan difokuskan pada upaya-upaya untuk: (i) membenahi dan memperkuat tatanan kelembagaan dan organisasi koperasi di tingkat makro, meso, maupun mikro, guna menciptakan iklim dan lingkungan usaha yang kondusif bagi kemajuan koperasi serta kepastian hukum yang menjamin terlindunginya koperasi dan/atau anggotanya dari praktek-praktek persaingan usaha yang tidak sehat; (ii) meningkatkan pemahaman, kepedulian dan dukungan pemangku kepentingan (stakeholders) kepada koperasi; dan (iii) meningkatkan kemandirian gerakan koperasi.

Program pemberdayaan koperasi dan UMKM dalam RPJM Periode Tahun 2004-2009 diarahkan pada 5 program pokok, yaitu:

(11)

1. Program penciptaan iklim usaha yang kondusif bagi UMKM; Tujuan program ini adalah untuk memfasilitasi terselenggaranya lingkungan usaha yang efisien secara ekonomi, sehat dalam persaingan, dan non-diskriminatif bagi kelangsungan dan peningkatan kinerja usaha UMKM, sehingga dapat mengurangi beban administratif, hambatan usaha dan biaya usaha maupun meningkatkan rata-rata skala usaha, mutu layanan perijinan/pendirian usaha, dan partisipasi stakeholders dalam pengembangan kebijakan UMKM.

2. Program pengembangan sistem pendukung usaha bagi UMKM; Tujuan program ini adalah mempermudah, memperlancar dan memperluas akses UMKM kepada sumberdaya produktif agar mampu memanfaatkan kesempatan yang terbuka dan potensi sumberdaya lokal serta menyesuaikan skala usahanya sesuai dengan tuntutan efisiensi. Sistem pendukung dibangun melalui pengembangan lembaga pendukung/penyedia jasa pengembangan usaha yang terjangkau, semakin tersebar dan bermutu untuk meningkatkan akses UMKM terhadap pasar dan sumber daya produktif, seperti sumber daya manusia, modal, pasar, teknologi, dan informasi, termasuk mendorong peningkatan fungsi intermediasi lembaga-lembaga keuangan bagi UMKM.

3. Program pengembangan kewirausahaan dan keunggulan kompetitif

UKM; Tujuan program ini adalah untuk mengembangkan jiwa dan

semangat kewirausahaan dan meningkatkan daya saing UKM sehingga pengetahuan serta sikap wirausaha semakin berkembang, produktivitas meningkat, wirausaha baru berbasis pengetahuan dan teknologi meningkat jumlahnya, dan ragam produk-produk unggulan UKM semakin berkembang.

4. Program Pemberdayaan Usaha Skala Mikro; Tujuan program ini adalah untuk meningkatkan pendapatan masyarakat yang bergerak dalam kegiatan usaha ekonomi di sektor informal yang berskala usaha mikro, terutama yang masih berstatus keluarga miskin dalam rangka memperoleh pendapatan yang tetap, melalui upaya peningkatan kapasitas usaha sehingga menjadi unit usaha yang lebih mandiri, berkelanjutan dan siap untuk tumbuh dan bersaing. Program ini akan memfasilitasi peningkatan kapasitas usaha mikro dan keterampilan pengelolaan usaha serta sekaligus mendorong adanya kepastian, perlindungan dan pembinaan usaha.

5. Program Peningkatan Kualitas Kelembagaan Koperasi; Tujuan program ini adalah untuk meningkatkan kualitas kelembagaan dan organisasi koperasi agar koperasi mampu tumbuh dan berkembang secara sehat sesuai dengan jati dirinya menjadi wadah kepentingan bersama bagi anggotanya untuk memperoleh efisiensi kolektif, sehingga citra koperasi menjadi semakin baik. Dengan demikian diharapkan kelembagaan dan organisasi koperasi di tingkat primer dan sekunder akan tertata dan berfungsi dengan baik; infrastruktur pendukung pengembangan koperasi

(12)

semakin lengkap dan berkualitas; lembaga gerakan koperasi semakin berfungsi efektif dan mandiri; serta praktek berkoperasi yang baik (best

practices) semakin berkembang di kalangan masyarakat luas.

E. TUGAS DAN FUNGSI KEMENTERIAN KOPERASI

DAN UKM

Tugas dan fungsi Kementerian Koperasi dan UKM telah ditetapkan dalam Peraturan Presiden Nomor 09 Tahun 2005 tentang Kedudukan, Tugas, Fungsi, Susunan Organisasi, dan Tata Kerja Kementerian Negara Republik Indonesia, pasal 94 dan 95, yaitu: membantu Presiden dalam merumuskan kebijakan dan koordinasi kebijakan di bidang koperasi dan usaha kecil dan menengah. Dalam melaksanakan tugasnya, Kementerian koperasi dan UKM menyelenggarakan fungsi:

1. perumusan kebijakan nasional di bidang koperasi dan usaha kecil dan menengah;

2. koordinasi pelaksanaan kebijakan di bidang koperasi dan usaha kecil dan menengah;

3. pengelolaan barang milik/kekayaan negara yang menjadi tanggungjawabnya; 4. pengawasan atas pelaksanaan tugasnya; dan

5. penyampaian laporan hasil evaluasi, saran dan pertimbangan di bidang tugas dan fungsinya kepada Presiden.

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...

Related subjects :