RISALAH RAPAT PROSES PEMBAHASAN RANCANGAN UNDANG-UNDANG TENTANG HAK ASASI MANUSIA

Teks penuh

(1)

RISALAH RAPAT

PROSES PEMBAHASAN RANCANGAN UNDANG-UNDANG TENTANG

HAK ASASI MANUSIA

Tahun Sidang 1998/l '.?99 Masa Persidangan : IV Rapat ke 6 Jenis Rapat Sifat Rapat Hari, tanggal Pukul Tern pat Rapat Kerja Terbuka Kamis, 8 Juli 1999

09.00 WIB sampai dengan 14.00 WIB Ruang Rapat Pansus Lantai 3 Kamar 2 DRS. DP. Datuk Labuan

Subijanto Sudardjo, S.H. Ketua Rapat

Sekretaris Rapat

Acara Pembahasan Persandingan Daftar lnventarisasi Masai ah

Hadir Anggota Panitia Khusus :

43 dari 50 Anggota Panitia Khusus - Pemerintah :

Menteri Kehakiman dan Staf

FRAKSI ABRI : I.

3. 4.

F.X. Ferry Tinggogoy

H. Hendi Tjaswadi, S.H.. S.E. M.B.A., CN, M.Hum Drs. Ign. Koes Sujudono. S.H.

Tjahjono HS. S.E.

(2)

5. Sri Hardjendro

6. Christina M. Rantetana. S.K.M,, M.P.H. 7. Uddy Rusdilie, S.H.

8. Rukmini, S.IP

FRAKSI KARYA PEMBANGUNAN 1. Drs. DP. Datuk Labuan

2. Drs. H. Zamharir. A.R. J. Dr. Bachtiar Aly, M.A. 4. Ir. Suwatri Dt. Bandoro Sati 5. Drs. H. Noviarman Kailani 6. Drs. Ferry Mursyidan Baldan 7. Drs. Norman Soni Sontani 8. Walujo, S.H.

9. Dra. Tri Prihatini Endang Kusumastuti, M.Sc I 0. Ir. Gatot Murdjito, MS

11. Drs. Tjarda Muchtar

12. Dra. Ny. Hj. Oelfah As. Harmanto 13. Drs. Yasril Ananta Baharuddin 14. Drs. Abdullah Mokoginta

15. Dra. Ny. Hemani Hurustiati Subiyanto 16. Ir. Harris Ali Moerfi. MS

17. Tisnawati Karna. S.H.

18. Ny. Hj. Lydia Arlini Rianzi Julidar 19. Drs. Yusufhadi, HS

20. Prof. H.A. Masyhur Effendi, S.H., M.S 21. Otto Daryono

22. Ferdinand Potu Dotulong Lengkey 23. H.M. Laode Djenihasmar, S.Sos. 24. Josef Pieter Yoseano Waas 25. Abdul Manaf Pulungan

FRAKSI PERSATUAN PEMBANGUNAN I. Drs. H. Hadimulyo. M.Sc

2. Drs. H. Lukman Hakim Saifuddin

(3)

3. H. Fatchurrahman, H.M. 4. Ors. H. Ghazali Abbas Adan 5. H. Hussein Umar

6. Ny. Hj. Machfudhoh Aly Ubaid

FRAKSI PARTAI DEMOKRASI INDONESIA I. Y.B. Wiyanjono, S.H.

PEMERINTAH

I. Prof. Dr. Muladi, S.H. 2. Prof. Dr. Natabaya, S.H., 3. Ny. Lies Sugondo, S.H. 4. Prof. Dr. Sri Sunaryati, S.H. 5. Drs. Suherman Soemantri 6. Beserta Jajarannya

KETUA RAPAT :

Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh. Atas ijin Bapak/Ibu sekalian skors kami cabut.

(Skors Dicabut Pukul 09.20 WIB)

Bapak-bapak dan Ibu-ibu Anggota Panitia Khusus yang kami hormati dan pihak Pemerintah.

Sebelum kita mulai u~nuk melanjutkan pembicaraan DIM, ditangan Bapak/Ibu sekalian sudah ada resume rapat kemarin, oleh karena itu kami mohon sekali lagi untuk periksa ulang supaya biasa lebih disempurnakan oleh Tim Sekretariat, itu yang pertama.

Yang kedua Bapak/lbu sekalian, rekap kita sampai hari kemarin; kita sudah bisa menyelesaikan beberapa DIM, kemarin itu tanggal 7 sebanyak 214 DIM. pada hari Selasa 72 DIM. pada Senin sekitar 48 DIM. Oleh karena itu Bapak/Ibu sekalian tersisa sekarang DIM sekitar lebih kurang 68 DIM. Oleh karena itu Bapak/Ibu sekalian dalam posisi jumlah yang sekitar 332 DIM tersebut, Panja berjumlah 169 dalam posisi sampai hari kemarin. Tim Khusus berjumlah 53 DIM yang disetujui sekitar 89 DIM. Tim Kecil berjumlah 6 dan didrop berjumlah sekitar 4. oleh karena itu Bapak/lbu sekalian ini dapat menggambarkan kepada kita sekalian bahwa hari-hari yang akan dipergunakan secara efektif dan baik. Oleh karena itu Bapak/Ibu sekalian ada pernikiran dari kami di sini

(4)

bahwa kaJau seandainya kita bisa menyelesaikan DIM ini nanti sampai istirahat pukul 12.00, kepada Bapak/Ibu sekalian Fraksi-fraksi untuk menyerahkan nama-nama untuk Panja, untuk yang jadwal kita mulai pada hari Senin tanggal 12. Kalau seandainya bisa hari ini kita selesaikan sekitar pukul 12.00 atau pukul 12.30, artinya besok kita istirahat untuk mempelajari tentang masalah yang dimasukkan ke Panja, ke Tim Khusus dan sebagainya, supaya hari Minggu Bapak/Ibu sekalian bisa istirahat. Kalau seandainya tidak bisa, besok kita lanjutkan berarti Sabtu dan Minggu di rumah Bapak/Ibu sekalian untuk mempelajari hal-hal yang

DIM di Panja dan di Tim Khusus-kan.

Jadwal Tim Kecil dan Tim Khusus itu sekitar kitajadwalkan tanggal 19. Jadi full 12 sampai 17 itu untuk Panitia Kerja, supaya kita lebih diefektifkan. Oleh karena itu Bapak/Ibu sekalian untuk menangani pada hari ini, kita ada dapat surat dari pihak Menteri, Pak Muladi, pada pagi hari ini beliau sampai pukul I0.30 ada kegiatan yang tidak bisa ditinggalkannya, oleh karena itu beJiau memberikan mandat penuh kepada staf beliau yang kita lihat bersama yang ada pada mangan ini, oleh karena itu sesuai dengan Tata Tertib saya kembalikan kepada Bapak/Ibu sekalian apa bisa kita teruskan sampai jam ini, sampai pukul I 0.30. sampai beliau datang, atau kita tunggu beliau untuk kernbali kepada kita semua, untuk itu kami rninta pendapat dari Bapak/Ibu sekalian. pertama kami minta dari FPP. Kami persilakan.

FPP (DRS. H. LUKMAN HAKIM SAIFUDDIN) :

Berkaitan dengan Pimpinan Sidang, maka kami FPP bisa menerima mandat penuh yang diberikan Pak Menteri kepada stafnya. Jadi kita bisa melanjutkan sidang.

KETUA RAPAT :

Dengan catatan setelah beliau Menteri Muladi datang. seperti kemarin tidak selamat datang lagi langsung lengser saja. Ya silakan FABRI.

FABRI (UDDY RUSDILIE, S.H.) : Dapat menerima Pak.

KETUA RAPAT : FKP.

FKP (PROF. H.A. MASYHUR EFFENDI, S.H., .M.S)

Sebagaimana kita menerima konvensi ini kami pakai dan kami pun bisa menerima.

(5)

KETUA RAPAT: Baik, terima kasih. ·

Baik, Bapak/Ibu sekalian, kita fanjutkan rapat kita dengan pembahasan DIM dan mohon kita ingat setelah ini, sarnpai hari ini ada kita pending satu DIM, oleh karena itu selesai ini semua baru kita bicarakan yang kita pending.

Bapak/lbu sekalian tolong dibuka halaman 78. Kemarin kita berhenti pada sedang pembahasan Daftar Inventarisasi Masalah Nomor 331. Daftar lnventarisasi Masalah Nomor 331 Kita berhenti kemarin diteligah perjalanan pembicaraan. Oleh karena itu kami mulai kembali pada Daftar lnventarisasi Masalah Nomor 331 ini dengan ada usul perubahan dari FKP, FABRI, dan dari FPP.

Oleh karena itu kami persilakan kepada FKP.

FKP (PROF. H.A. MASYHUR EFFENDI, S.H., M.S) Terima kasih.

FKP kami usul kemarin ya, kemudian dari diskusi yang berkembang kemarin, kita diajak oleh Pemerintah mengingat kembali bahwa posisi dari Komnas HAM itu tidak sampai pada penyidikan. Semula kita berpikir waktu berpikir makro soal lima tahun ada kesan waktu itu termasuk di dalam penyidikan, dan masalah penyidikan ifli sudah ada instansi lain yang menekelnya, karenanya usulan dari FKP yang membicarakan masalah lima tahun kemudian kita ingin merubahnya sebagimana usulan yang kami sampaikan, ini bisa kita teruskan ke Panja dalarn arti kita mencari suatu rumusan yang pas, yang tidak dikesankan bahwa Komnas ini bertindak melebihi apa yang ditentukan di dalarn pasal-pasal sebelumnya. Dengan demikian kami setuju hal ini nanti lebih dalam dipanjakan.

Jadi kalau rnisalnya akan tetap digunakan. kemarin ada kesan Pemerintah ingin tetap seperti ini, nah kalau itu nanti apa yang kami usulkan di dalarn usulan ini bisa dimasukkan misalnya di dalarn Penjelasan lebih lanjut. Terirna kasih.

KETUA RAPAT : Kami persilakan FABRI.

FABRI (H. HENDI TJASWADI, S.H., S.E, M.B.A, C.N, M.Hum) : Terima kasih Pimpinan.

(6)

Jadi melihat kepada usulan kami dan setelah mendengarkan apa yang disampaikan oleh rekan kami FKP. rumusan dari RUU ini kami menganggap ada yang perlu dicermati, yaitu kalimat setelah "kecuali", "kecuali" karena ini subjek, jadi subyek seolah-olah ini mempunyai kewenangan yang tidak di undang-undang. Oleh karena itu untuk menampung apa yang sudah diwaspadai dan diantisipasi oleh pemerintah bahwa ada kasus-kasus tertentu yang juga bisa diselesaikan barangkali, tidak memadai, oleh karena itu di dalam rumusan Daftar Inventarisasi Masalah Nomor 331 ini kasus-kasus tersebut masih perlu diwaspadai dan dengan tidak menyalahi atau menyimpangi dari undang-undang ini. Oleh karena itu kami mengusulkan, "kecuali diputuskan lain oleh Sidang Paripurna" itu diganti dengan "kecuali untuk kasus-kasus tertentu sesuai dengan peraturan perundang-undangan". Jadi di 1uar ini masih terbuka sesuai dengan peraturan perundang-undangan. Jadi kasusnya masih ada, diwadahi.

Saya kira demikian, terima kasih. KETUA RAPAT :

Silakan kepada FPP.

FPP (DRS. H. LUKMAN HAKIM SAIFUDDIN) lbu-ibu dan Bapak-bapak sekalian yang kami hormati.

Daftar Inventarisasi Masalah Nomor 331 ini, memang pending sesuai dengan sore kemarin, dan kami tetap pada usulan kami semula, karena kami tidak atau paling tidak belum melihat alasannya. mendasar begitu, adanya ketentuan batasan menyangkut penghentian pemeriksaan ini dikaitkan dengan batasan waktu. Jadi kami mohon kepada Pemerintah rnungkin bisa rnernberikan penjelasan dasar pertimbangan apa yang digunakan sehingga untuk menghentikan pemeriksaan ini salah satunya adalah perbuatan yang diadukan telah me1ampaui batas waktu lima tahun ini. Demikian.

KETUA RAPAT :

Baik untuk putaran pertama untuk hari ini, silakan Pernerintah. PEMERINTAH :

Terima kasih Saudara Ketua.

Sebagaimana kami jelaskan kemarin, bahwa pengertian lima tahun tm tidaklah pengertian dalam arti daluwarsa. Lima tahun ini adalah 794

(7)

pengertian bahwa Komas HAM itu memeriksa sesuatu itu hanya daJam rangka lima tahun yang masuk, karena apa, karena ada beberapa kemungkinan jumJah perkara-perkara yang masuk yang ditangani mereka itu sudah, menurut pengaJaman kemarin juga sudah dijelaskan Pak Menteri sampai 800, sehingga ada kemungkinan kasus yang ditangani yang segera itu tidak bisa ditangani. Jadi bukan mengatakan bahwa kasus itu menjadi tidak lagi penting, artinya bisa diselesaikan barangkali juga organisasi yang Jain, tidak dalam arti daluarsa, sebab daluarsa itu mempunyai ketentuan sendiri, baik daluarsa dalam pengertian penuntutan maupun daJuarsa daripada keputusan hakim. Nah kemarin juga menurut Pak Menteri, ini mengenai pengertian kecuali diputuskan Jain dalam Sidang Paripurna ini, ini diberikan di dalam penjelasan, yang kemarin juga sudah paparkan bahwa ada empat kriteria yang tidak masuk dalam pengertian meJampaui lima tahun ini, yaitu antara lain disebutkan adalah tindakan-tindakan yang ... mengenai kejahatan-kejahatan yang artinya . . . dan jug a pelanggaran-pelanggaran Kornn as HAM yang absolute. Jadi ada empat itu, nah ini dimasukkan di dalam penjelasan dari Pasal 118 c ini, untuk .memasuki ini.

Mengenai rumusan yang dikemukakan oleh FABRI tadi, barangkali itu yang dapat kita rumuskan. Artinya memang apakah ditentukan, kecuali hal-hal yang seperti ini, ini, ini, yah, empat itu terserah itu Menteri di dalam rumusannya, karena itu kemarin kita s_etuju apakah itu di Panja, apakah di Timus, pada dasarnya kemarin juga FPP menerima sejak kami berikan penjelasan mengenai masalah tuntutan dan penghukuman. malah dari Bapak Hussein Umar, wah itu sebetulnya apa yang mau Bapak kemukakan itu saya mau kemukakan, tapi Alhamdulillah, rupanya terdapat meeting of mind (?) dengan beliau, apa namanya itu.

Sekian. terima kasih.

KETUA RAPAT :

Bapak/Ibu sekalian. demikian tanggapan dan penjelasan Pemerintah seperti yang di. sebagian dari pihak Pemerintah sudah berusaha untuk memberikan penjelasan. Karena ada dua Fraksi menawarkan rumusan. di satu Fraksi dalam tahap pendalaman, seperti FPP tahap pendalaman. dan FABRI juga ada rumusan tentang pendalaman, oleh karena itu kami menawarkan pada putaran kedua ini, ini kita tarik ke Panja karena masih ada substansi-substansi yang hams kita dalami pada Daftar Inventarisasi MasaJah Nomor 331 ini. Ini tawaran dari kami, ada tanggapan dari Fraksi-fraksi? FPP kami persilakan.

(8)

FPP (DRS. H. GHAZAL! ABBAS ADAN) :

Baik. Agaknya ini ada dua alasan yang disampaikan Pemerintah menyangkut dengan batasan lima tahun itu, kami bisa mengatakan untuk alasan pertama itu tidak ada cukup bukti atau bukti yang hilang atau tidak ada bukti karena sudah terlewat lama, ini saya kira kalau pelanggaran Komnas HAM yang melibatkan negara itu tidak sulit mencari bukti. Saya barusan mendapatkan bukti cuma lupa saya bawa kemari, kepala orang ditenteng oleh militer, lupa saya bawa kemafi nanti Bapak-bapak bisa lihat, itu bukti yang sangat jelas, kepala sudah dipegang sambil ketawa ia menenteng, baju loreng, ini bukti yang tidak bisa hilang sampai kapanpun, baru-baru ini kuburan massal, belum lagi tempat penyiksaan, belum lagi korban penyiksaan dengan anaknya sekalian, masih hidup, masih ada, dan dia tahu siapa pelakunya, jadi kalau alasan bukti tidak cukup kita tidak terns mengusut ini kami tidak bisa terima, apalagi pelanggaran HAM yang melibatkan negara, satu.

Yang kedua, disebutkan tadi bahwa berdasarkan pengalaman selama ini banyak kasus menumpuk, tidak diteruskan, kita bisa pahami mengapa? Tidak ada kemauan untuk meneruskan itu, tidak ada satu lembaga yang berani mengadili, pengadilan pelanggaran HAM jadi kami menolak alasan itu, kalau ke depan Komnas HAM sudah, atau kita bisa mengutus sebuah pengadilan HAM, saya pikir tidak bisa menumpuk, maka kami tetap pada sikap tidak ada pembatasan, dan ini hams didrop, sampai tingkat manapun ini adalah sikap FPP. Terima kasih.

KETUA RAPAT : Silakan.

FPP (H. HUSSEIN UMAR) Tambahan sedikit.

Assalamua'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

Tadi yang disampaikan pihak Pemerintah, memang kemarin saya ingin menyampaikan itu, bagian yang berkaitan dengan daluarsa itu. sama pandangan kami dengan pihak Pemerintah. tapi dalam masalah yang menyangkut DIM ini, jangan terbebani oleh sulitnya memperoleh bukti. kita melepaskan tanggung jawab moral, tanggung jawab, bahkan lehih dari itu kepada Tuhan, jadi kalau FPP menganggap pekerjaan yang disebut amar · ma'roef nahi mungkar itu tidak mengenal batas waktu, sampai kapan pun. oleh karena itu masalah ini sangat prinsipil bagi FPP.

(9)

Kemudian terkait dengan masalah yang menyangkut batas .emampuan dari pihak Komnas HAM menangani perkara-perkara, lalu 1hirlah tim ini, justru bagi karni karena Komnas HAM itu bukan lembaga 1engadilan, jangan memasuki wilayah yang bukan wilayahnya, seperti nenentukan batas waktu itu, walaupun tidak dimaksudkan dengan nendaluarsakan, tapi dengan begitu·seolah-olah harapan dari masyarakat wan yang sangat besar penghargaannya terhadap Komnas HAM menjadi tilang, kalau sudah batas itu kita tidak bisa lagi ngomong dengan pihak Comnas HAM. saya ingin menggambarkan suasana kejiwaan,

berkali-~ali s~ya dihubungi oleh Saudara Eva Arnaz, yang suaminya sampai hari ni tidak diketahui nasibnya, entah mati, entah hidup. Kalau mati dimana

~ubumya, mungkin anak yang dalam kandungannya itu bisa jiarah nan ti mtuk melihat, inilah kuburan Bapak kau, tidak tahu itu di mana, ini ha->islah masalah ini. Komnas HAM tidak lagi merasa secara moral punya anggung jawab untuk membalik-balik masalahnya dan sebagainya, oleh

~arena masalah ini toh tidak lagi akan sanggup ditangani katakan oleh (omisi Nasional Hak Asasi Manusia, kenapa mesti dimasukkan, itu ;ebabnya harus didrop. Kemudian jangan tidak membuat undang-undang ;epertinya rnelindungi pelanggaran HAM, atau paling tidak dia akan erbebas dari kejaran ini untuk masa yang tertentu, wah itu sulit dicoba, adi secara moral sekali lagi ini sulit kami menerima. Kemudian pihak rang berkuasa sering disuruh menghindar dan sikap menghindar itu lebih nuatan politik dibanding hak-hak asasi manusia padahal ada golongan ertentu bagi mereka untuk menghindar, umpamanya kasus Tanjung Priok rang menyangkut tokoh-tokoh tertentu, kami menduga sekarang ini gencar ;ekali soal itu diangkat karena mungkin ada target untuk Presiden, nungkin orang yang sering disebut sebagai calon alternatif, jadi nasalahnya ini berdimensi banyak gitu, justru itu kami tetap pada )endirian untuk ini mesti dicabut, lebih pada tuntutan moral dan tidak mleh kita membiarkan soal seperti ini orang yang berbuat aniaya. tenang iia untllk hal-hal tertentu. untuk Komnas HAM dia sudah selesai, kecuali iari peradilan lain mungkin dia akan terjaring, kami keberatan itu.

Tcrima kasih.

KETUA RAPAT

Kami persilakan dari FABRI.

FABRI (H. HENDI TJASWADI, S.H., S.E. M.B.A., CN., M.Hum) : Terima kasih Pimpinan.

(10)

Kami bisa menerima penjelasan dari Pemerintah, dan usulan rumusan kami yang tambahan untuk menggantikan kecuali diputuskan lain oleh Sidang Paripurna, sedangkan isi butir 4 buah yang kemarin dijelaskan itu bisa saya kira bisa masuk dalam penjelasan pasal. Jadi penjelasan pasal itu isinya adalah butir 4 buah tadi. Oleh karena itu kami setuju untuk diusulkan dalam Panja.

Terima kasih. KETUA RAPAT :

Dari FKP kami persilakan.

FKP (PROF. H.A. MASYHUR ~FFENDI, S.H., M.S.) : Terima kasih.

Pada prinsipnya kami juga setuju untuk di Panja. dengan catatan bisa mengerti apa disampaikan oleh Saudara FPP, juga bisa mengerti apa yang disampaikan oleh Pemerintah.

Menurut hemat kami Komnas HAM ini ingin ada pembagian tugas dan wewenang antara Komnas HAM pada satu pihak dengan instansi lain penegak hukum di lain pihak. Ini perlu ada semacam itu, sehingga tidak ada akan terjadi semua kasus yang masuk di Komnas HAM tidak tertangani. sehingga perlu ada kalimat yang mungkin bisa dimasukkan di pasal atau di penjelasan yang antara lain bermakna Komnas berkewajiban meneruskan ke lembaga penegak hukum lain. Sehingga tidak akan dianggap, bahwa itu dimatikan di Komnas tetapi disarankan untuk dilimpahkan ke lembaga penegak hukum yang lain.

Terima kasih. KETUA RAPAT

Pemerintah mau menggunakan putaran kedua. Silakan Pemerintah.

PEMERINTAH (PROF. DR. SRI SUNARYATI. S.H.) Terima kasih.

Dari Pernerintah sebenarnya sama sekali tidak ada maksud untuk tidak memeriksa perkara-perkara yang tadi sudah diungkapkan oleh FPP. bahkan justru sangat menginginkan agar supaya dalam hal-hal seperti ini timbul klarifikasi sebaik-baik mungkin. Karena itu maka kemarin oleh

(11)

3apak Menteri mernang sudah diusulkan adanya 4 dasar dari Sidang =>aripurna untuk rnelanjutkan pemeriksaan perkara atau penerimaan )erkara. yaitu :

Pertama. kalau alat bukti cukup, yaitu tadi masalah Aceh yang alat-1lat buktinya sudah cukup itu diteruskan atau memang diterima.

Kedua. adalah perkara yang menimbulkan keresahan dalam nasyarakat. semua perkara yang menimbulkan keresahan dalam nasyarakat itu juga diteruskan.

Ketiga. pelanggaran HAM yang absolut, jadi yang menyangkut Jelanggaran HAM yang absolut itu juga diteruskan.

Keernpat, rurnusan bahasa Indonesia nya "Gross violation of Human Rights" itu juga diteruskan.

Jadi kekhawatiran dari FPP, bahwa justru hal-hal yang berat ini :idak diteruskan atau pemeriksaannya itu jadi justru itulah yang melatar belakangi mengapa dikatakan kecuali diputuskan lain oleh Sidang Paripurna. Tetapi kalau mau lebih eksplisit ini bisa dimasukkan seperti apa yang dikemukakan oleh FABRI, itu bisa dikemukakan dalam penjelasan atau bahkan kalau dikehendaki di dalam perumusan pasal itu sendiri.

Mengenai 5 tahun, itu memang sebagaimana tadi sudah dikatakan ini sebetulnya bukan masalah kadaluarsa, karena perkara ini sebetulnya juga bisa langsung diajukan ke pengadilan. Jadi tidak berarti lalu tertutup kemungkinan untuk diajukan ke pengadilan.

Jadi ini masalahnya kekhawatiran, bahwa dengan adanya begitu banyak perkara, itu lalu justru masalah yang timbul hari ini justru tidak tertangani. Jadi terjadi dead lock yang terus menerus sangat besar, itulah sebabnya di lain-lain negara Komnas HAM itu selalu diberi batasan 2 tahun, tetapi kami sengaja mengingat pelanggaran-pelanggaran HAM yang begitu banyak terjadi di negara kita pada saat-saat ini, mem-perpanjangnya itu sampai 5 tahun. Tidak ada satu negara pun di mana pemeriksaan atau pengajuan perkara itu masih dimungkinkan untuk 5 tahun, hanya kalau ini menjadi diterima itu hanya di Indonesia.

Jadi yang inilah menjadi latar belakang, sehingga kekhawatiran dari FPP, bahwa nanti masalah-masalah yang besar ini justru lantas mau hapuskan atau mau diputihkan begitu saja itu sama sekali tidak ada di dalam maksud dari Pemerintah. Ini kalau mau, sekali lagi kalau diinginkan bisa dimasukkan di dalam Penjelasan atau bahkan kalau belum cukup puas bisa dimasukkan di dalam pasalnya itu sendiri, tetapi kalau didrop rasanya sulit sekali. Terima kasih.

(12)

KETUA RAPAT :

Terima kasih dari pihak Pemerintah, kita sudah memperkenankan 2 putaran, pada putaran kedua kami tawarkan tadi ini untuk kita Panja kan. Oleh karena itu di penjeJasan pihak Pemerintah tetap untuk terbuka. untuk disempurnakan perumusannya, seperti yang mana diusulkan oJeh FABRI dan FKP.

Dengan demikian dari FPP tetap untuk disarankan untuk didrop. oleh karena itu Saudara-saudara sekalian ada pikiran kami dari sini, bahwa DIM ini buat sementara penglihatannya itu berdiri sendiri, artinya da]am ayat ini oleh karena itu kami tawarkan DIM ini kita pending, nanti kita bicarakan setelah kita selesai untuk melakukan. Kecuali dari FPP, bersama kita menarik ini di Panja untuk diperdalam ini di Panja. kalau tidak saya tawarkan untuk dipending untuk kita bicarakan lagi nanti setelah DIM yang lain. Bagaimana FPP kami persilakan.

FPP (DRS. H. LUKMAN HAKIM SAIFUDDIN)

Kami setuju kalau ini dipending sebagaimana usulan Pimpinan. Terima kasih.

KETUA RAPAT :

Baik, kami minta pendapat dari FKP mengenai· usulan dari. FKP (WALUJO, S.H.) :

Sebetulnya sebelum ke arah pending, saya ingin menambahkan penjelasan lagi. sesuai yang dikemukakan oleh pihak Pemerintah kalau diperkenankan.

Jadi sebenarnya huruf c ini adalah menampting hal-haJ yang kemungkinan-betul-betul sudah tidak terkuasai lagi oleh Komnas HAM. Jangan sampai ada kesan la]u ha] ini ditiadakan begitu saja. Kalau kit<1 membaca yang berikutnya seperti yang itu, terdapat upaya hukum yang lebih layak dan efektif. Ini berarti membuka peluang bagi yang c tadi. Lebih-lebih lagi nanti kalau kita membaca ke belakang pada Pasal I 25 ayat ( 1) huruf b. dapat memberikan rekomendasi kalau ada pelanggaran HAM. ternyata ke pengadilan HAM yang tentunya akan dibentuk dengan undang-undang.

Jadi saya kira kalau ini penting untuk dicantumkan. karena ini untuk menampung yang jangan ada kesan, sekali lagi jangan ada kesan Komna~

HAM itu lain membiarkan. Oleh karena itu lalu diikuti oleh yang lain.

(13)

kalau itu memang ternyata selanjutnya bisa diselesaikan oleh lembaga yang lain, bisa saja. Terima kasih.

KETUA RAPAT

ltu tambahan penjelasan sebelum kita pending. Silakan dari FABRI.

FABRI (UDDY RUSDILIE, S.H.)

Kami juga mohon menjelaskan, mengomentari sedikit, kegelisahan apa yang dirasakan oleh Saudara kita dari FPP, masuk diakal dan memang logis dan dikaitkan dengan penjelasan Pemerintah yang begitu gamblangnya, dikaitkan lagi dengan konsep yang di dalam rancangan ini memang kami tambahkan saja, bahwa bukan dan warsa dari kejadian. Itu kejadian itu mulai dari sampai kapanpun tetap ditangani. Jadi yang disebut 5 tahun di sini adalah mohon coba dibaca lanjutannya, dari Saudara kita itu hanya sampai pengaduan 5 tahun saja, jadi tidak dilanjutkan kalimatnya.

Jadi sejak pengaduan tersebut, jadi pengaduan itu sejak pengaduan itu 5 tahun, kalau seandainya setelah 5 tahun adukan saja terus menerus akan ditangani oleh Komnas HAM . Jadi bukannya kejadiannya 5 tahun, misalnya tadi Komnas HAM pun itu misalnya. setelah 5 tahun bubar, tidak Pak. sebetulnya hanya sejak pengaduan saja.

Jadi pengaduan itu masuk ke Komnas HAM , itu dihitung dia. karena Komnas HAM begitu banyak pekerjaannya. Kalau seandainya ada pihak yang mengadukan lagi, sudah mulai terhitung di situ lagi, maju lagi 4 tahun lagi. jadi demikian begitu maksud Pemerintah tadi. Jadi bukan masalah kasusnya yang setelah 5 tahun bubar tidak ditangani, tidak. Kasusnya biarpun seperti kemarin H. Suherman saja itu juga di sini juga sama begitu. asal dengan bukti yang cukup ada lanjutan hukumnya.

Jadi begitulah penjelasan dari Pemerintah yang begitu gamblang, mari kita coba resapkan. siapa tahu nanti dengan penjelasan yang begitu jelas. kita akan merenung mungkin akan menerima dengan perubahan kalimat. Karena dirnungkin di sini ada suatu kesan, · bahwa perbuatan yang diadukan jadi rnelampaui batas waktu 5 tahun. 5 tahun itu jadi seakan-akan kejadian itu sudah lebih dari 5 tahun, padahal pengaduannya yang 5 tahun itu. Pengaduannya sudah batas 5 tahun, adukan lagi sudah no! tahun lagi. adukan lagi sudah nol tahun lagi.

(14)

Jadi iiu yang mungkin yang dimaksud oleh kami, mengomentari apa yang diutarakan oleh Pemerintah, demikian. Terima kasih.

KETUA RAPAT :

Dengan tambahan penjelasan FABRI, setuju untuk dipending sementara. baik.

Dengan demikian Daftar Inventarisasi Masalah Nomor 331 kita pending, termasuk pada kumpulan pending yang satu sebelumnya.

Oleh karena itu kita Janjutkan pada Daftar lnfentarisasi Masalah Nomor 332. FKP ada usu! perubahan, FABRI tetap. FPP ada usul perubahan.

Kami persilakan kepada FKP.

FKP (FERDINAND POTU DOTULONG LENGKEY): Terima kasih.

Jadi FKP itu sama dengan yang dulu:, jadi masalah kata sambung "yang". Kalau memang alias kita akan sesuaikan sesuai dengan ketentuan penulisan. Terima kasih.

KETUA RAPAT :

Terima kasih FKP. Kami persilakan dari FPP. FPP (NY.

HJ.

lVIACHFUDHOH ALY UBAID) : Terima kasih.

Dari FPP dalam Daftar lnfentarisasi Masalah Nomor 332 mengusulkan kata-kata "efektif' itu diganti dengan kata "pasti", setelah · perubahan maka berbunyi : "terdapat upaya hukum yang lebih banyak

lebih layak dan pasti bagi penyelesaian materi pengaduan". Terima kasih.

KETUA RAPAT : Terima kasih.

Ada komentar dari FABRI sebelum kita teruskan kepada pihak Pemerintah, Kami persilakan kepada pihak Pemerintah.

PEMERINTAH (KEPALA BPHN/PROF. DR. NATABAYA, S.H.,) Terima kasih Saudara Ketua.

(15)

Kelihatannya ini dari FKP itu inasaiah kata "atau" itu dihapus, ini susah untuk menghaptis ini kalau tidak tahu dan ini merupakan suatu alternatif jadi bukan akumulatif. Jadi bukan selumhnya dipenuhi dari a, b, c, d nya itu. Karena itu pemmusan atau terakhir itu menunjukkan itu adalah suatu kumulatif dalam itu di dalam cara-cara legal drafting.

Tapi usu) dari FPP ini, ini pengertian "pasti" itu tidak mungkin, kita hams efektif, ini layak dan efektif, artinya berhasil guna. Jadi kalau pasti itu belum tentu kita mau apa namanya pasti itu, sebab upaya hukum yang layak dan efektif.

Upaya hukum itu carilah yang mana upaya hukum yang Iayak dan efektif, jadi upaya hukum itu banyak terdapat, apakah ini persoalan ini sudah ditangani di dalam proses, bisa upaya hukumnya itu dalam bentuk kasasi dan banding atau upaya hukum yang lain yang tidak menggunakan Komnas itu sendiri.

Jadi itu harus dicari, jadi bukan pasti, jadi hams efektif, jadi tepat guna, dan juga akan nanti efisien bagi dia berhasil guna itu, barangkali itu jawaban kami dari Pemerintah, sekian.

Terima kasih.

KETUA RAPAT

Terima kasih kepada Pemerintah.

Untuk putaran kedua kami tawarkan kepada Bapak-bapak sekalian bagaimana kalau_DIM ini kita Timus-kan bagaimana FPP, FKP, FABRI? FPDI?

(RAPAT SETUJU)

Daftar Inventarisasi Masalah Nomor 333 FKP tetap. FABRI tetap, FPP tetap, FPDI tetap.

Daftar Inventarisasi Masalah Nomor 334 FKP tetap, FABRI tetap, FPP tetap. FPDI tetap.

Daftar lnventarisasi Masalah Nomor 335 FKP tetap. FABRI tetap, FPP pasal disesuaikan berarti tetap. FPDI tetap.

Daftar Inventarisasi Masalah Nomor 336 sampai dengan Daftar lnventarisasi Masalah Nomor 342 halaman 79 semua Fraksi tetap. bisa kita tutup tetap ini? Pemerintah setuju?

(RAPAT SETUJU)

(16)

Daftar Jnventarisasi Masalah Nomor 343 semua Fraksi tetap, Pemerintah setuju?

(RAPAT SETUJU)

Daftar Inventarisasi Masalah Nomor 344 FKP ada usul perubahan, FABRI, FPP dan FPDI tetap atau ditarik oleh FKP karena supaya mengetuk-ngetuk terus?

FKP (FERDINAND POTU DOTULONG LENGKEY) : Ya ini kami tarik, karena ini altematif.

KETUA RAPAT :

Dengan ditariknya usul perubahan dari FKP, maka Daftar lnventarisasi Masalah Nomor 344 tetap.

(RAPAT SETUJU)

Daftar Inventarisasi Masalah Nomor 345 sampai dengan Daftar Inventarisasi Masalah Nomor 349 FPP pasal disesuaikan, FPDI tetap, FABRI tetap, Pemerintah bisa tetap?

(RAPAT SETUJU)

Daftar Inventarisasi Masalah Nomor 350 FABRl tetap, FPP, FPDI · dan FKP tetap.

Daftar Inventarisasi Masalah Nomor 351 FABRI ada usu] perubahan? FKP tetap, FPP tetap, FPDI tetap. Saya persilakan kepada FABRI.

FABRI (H. HENDI TJASWADI, S.H., S.E., M.B.A, CN., M. Hum) : Terima kasih Pimpinan.

Jadi Daftar Inventarisasi Masalah Nomor 351 ini kami mengusulkan untuk didrop karena substansinya rnemang melebihi kewenangan yang ada, yang dimiliki oleh Komnas HAM sebagai lembaga yang mengadakan upaya mediasi. saya kira demikian. Terima kasih.

KETUA RAPAT :

Sebelum kepada pihak Pemerintah, FPP mau mengomentari dari usulan atau did:rop FABRI Kami persilakan.

FPP (DRS. H. LUKMAN HAKIM SAIFUDDIN) : Kami tetap.

(17)

KETUA RAPAT:

Dari FKP, ada usul perubahan dari FABRI itu didrop .

. FABRI (H. HENDI TJASWADI, S.H., S.E~, M.B.A., CN., M. Hum) : Maaf Pak, ini kaitannya dengan Daftar Inventarisasi Masalah Nomor 118, apakah ini? ini tanya kepada Pemerintah dulu, jadi DIM ini Daftar Inventarisasi Masalah yang Nomor 351 apakah dimaksud dengan rumusan ke Pasal 118 ayat (2), itu akan di mekanisme pelaksanaan kewenangan itu tidak melakukan atau apa namanya, kalau misalnya ini tidak dilaksanakan tidak datang, maka pengaduan tersebut akan didrop, apakah demikian kira-kira perumusan atau pengertian dari Daftar Inventarisasi Masalah Nomor 351 ini, mohon penjelasan dari Pemerintah dulu.

KETUA RAPAT

Mohon penjelasan dari Pemerintah.

PEMERINTAH (KEPALA BPHN/PROF. DR. NATABAYA, S.H.) : lni kalau dibaca dengan ini kan kaitannya dengan Pasal 118 ayat ( 1) dan ayat (2) yang menyebabkan pemeriksaan yang dilakukan oleh Komnas HAM, dan apabila sebagaimana yang di Ayat ( 1) dipenuhi, ini akan dicatat oleh Komnas dan mungkin bisa dilanjutkan ini.

Jadi bukan artinya hilang ke.

FABRI (H. HENDI TJASWADI, S.H., S.E., M.B.A., CN., M. Hum) : Maaf kurang jelas. penjelasannya tolong.

PEMERINTAH:

Jadi coba dilihat "apabila kewajiban sebagaimana dimaksud dalam Ayat ( 1) dan Ayat (2) tidak dipenuhi oleh pihak lain, jadi pihak lain itu tidak memenuhi apa yang ditentukan oleh, apa yang diamanatkan oleh Pasal 188 ini. Ini kan alasan-alasan untuk bisa didrop, jadi artinya orang lain yang memenuhi maka bagi mereka, oleh pihak lain maka bagi mereka berlaku ketentuan Ayat ( 1) dan Ayat (2).

Jadi ini akan diperlakukan oleh Komnas apabila mereka itu tidak memenuhi pasal ini, ini suatu penegasan dan itu tidak bisa ditarik, supaya nanti jangan dipersalahkan Komnas itu.

(18)

FABRI (H. HENDI TJASWADI, S.H., S.E., M.B.A., CN., M. Hum): Pihak lain inikan ada satu pihak mengadu ke Komnas HAM. kemudian Komnas HAM menghadirkan pihak lain itu, pihak Jain diminta hadir untuk memberikan k~saksian atau segala macarri. Kemudian kalau pihak lain tidak hadir, jadi kaitannya dengan yang ini kemudian kita kaitlmn dengan Pasal 118, jadi bukan pihak lain kaJau Pasal l 18 itu. Oleh karena itu kami mohon penjelasan itu, karena ini agak ruwet ini.

Terima kasih. KETUA RAPAT :

Barangkali Ibu Sunaryati akan menjelaskan. Silakan. PEMERINTAH (PROF. DR. SRI SUNARYATI, S.H.) :

Maaf di sini memang ada kesalahan ketik, bukan Pasal 118 tapi Pasa) 122, jadi ini menyangkut soal pemanggilan saksi jadi supaya berhubungan juga dengan . . . power yang sudah diberikan kepada · Komnas HAM.

Jadi kalau saksi yang dipanggil tidak datang, maka akan dicatat, sebab tentu ini akan mempengaruhi pemeriksaan dari Komisi Nasional Hak Asasi Manusia itu terhadap perkara.

Jadi oleh karena itu maka pada pasal yang bersangkutan ini. maka justru akan sangat mempengaruhi jalannya perkara dan tentunya juga penilaian dari Komnas HAM terhadap masalah ini kalau saksi tidak datang.

Jadi maaf ini rnernang ada kesalahan sudah 180 derajat sekali Pak Ketua, bukan Ayat (2), ya apabila saksi tidak datang atau menolak, maka bagi mereka berlaku ketentuan Pasa) 140 ekstra, ya Ayat (2).

KETUA RAPAT : Bagaimana FABRI?

FABRI {H. HENDI TJASWADI, S.H., S.E., M.B.A., CN, M. Hum) : Terima kasih Pimpinan.

Jadi begini. saya kira kami tetap kepada DIM kami. bahwa Daftar Inventarisasi Masalah Nornor 351 ini didrop, mengingat begini. bahwa Jembaga yang. memiliki atau berperan kepada mediator bukan hanya Komnas HAM saja. Departemen-departemen itu sekarang perannya juga sebagai mediator. upaya mediasi tapi tetap mediator, misalnya kehutanan.

(19)

itu selama ini juga melakukan mediasi apabila ada pihak-pihak yang bergerak di dalam kehlitanan ada konflik. Misalnya tenaga kerja juga sebagai mediator melaksanakan mediasi, bukan lembaga, bukan.

Bukan lembaga mediator, misalnya lembaga segala macam, hal segala macam bukan, jadi ada upaya saja, kemudian pertanian, tenaga kerja, ini melakukan mediasi sama seperti Komnas HAM yang sampai ke level mediasi, jadi musyawarah, negoisasi, mediasi berhenti di situ, tidak lanjut, bukan penyelesaian sengketa ya, tapi sampai pada tahap mediasi.

Oleh karena itu akan sangat janggal sekali apab-ila suatu lembaga yang melakukan upaya mediasi memiliki hak sempurna, hak sempurna yang kita miliki baru sampai di DPR, DPRD sesuai dengan Undang-Undang Nomor 4 Tahun 1999. Tapi lembaga yang upaya mediasi saya kira kurang tepat kalau memiliki hak sempurna. Oleh karena itu kami mengusulkan Daftar lnventarisasi Masalah Nomor 351 ini didrop.

Terima kasih.

Terrnasuk juga dengan DIM berikutnya yang berkaitan dengan sempurna. Terima kasih.

KETUA RAPAT :

Kami minta komentar dari Fraksi lain tentang usulan dari FABRI. bahwa Daftar Inventarisasi Masalah Nornor 351 ini didrop. Kami persilakan dari FKP:

FKP (PROF. H.A. MASYHUR EFFENDI, S.H., M.S.) Terirna kasih.

Masalah yang terkait dengan mediasi itu kalau kita terjemahkan dalam arti makro ya sernacam musyawarah, itu pun kalau kita kembali dan melihat beberapa pasal dari Undang-Undang tentang Hak Asasi Manusia di Eropah itu dikenal di sana yang istilahnya friendly settlement, itu pun kalau kita terjemahkan juga musyawarah. Atas dasar pendekatan seperti itu, saya pikir Komnas masih punya hak, sehingga yang kemudian diusulkan sebagaimana dijelaskan oleh Prof Sunaryati tadi bisa mengerti.

Jadi maksimum tidak hanya satu instansi tapi Komnas pun memiliki hak untuk itu karena bersifat friendly settlement. Terima kasih.

KETUA RAPAT:

FPP ada komentar, silakan.

(20)

FPP (DRS. H. LUKMAN HAKIM SAIFUDDIN) :

Mengingat Daftar Inventarisasi Masalah Nomor 351 ini berkait erat dengan Daftar Inventarisasi Masalah Nomor 353 jadi kami mohon penjelasan dari Pemerintah menyangkut substansi dari rumusan Daftar lnventarisasi Masalah Nomor 353 ini karena ini secara langsung berkaitan.

KETUA RAPAT:

Kami persilakan pihak Pemerintah. PEMERINTAH:

Sebagaimana kita jelaskan tadi bahwa apabila ini tidak dipenuhi oleh pihak lain Pasal ayat (I) dan (2) oleh Komnas HAM maka ini akan berlaku bagi mereka ini akan diperlakukan oleh Komnas HAM adalah yang dirujuk oleh Pasal 122 ayat (2) di mana dalam Pasal 122 ayat (2) ini menunjuk mengenai Pasal 140 ayat ( 1) dan ayat (2) daripada HIR: Pasal 1 ayat ( 1) dan ayat (2) ini adalah tata cara mengenai pemanggilan saksi. Say a bacakan jadi ini analog dengan ini, jika saksi yang dipandang demikian tidak datang pada hari yang telah ditentukan maka ia dihukum oleh Pengadilan Negeri membayar segala biaya yang dikeluarkan, jadi oleh karena itu Komnas HAM akan meneruskannya ini seolah-olah. yang telah dipanggil secara baik itu dia akan terkena Pasal 140 ayat (1} dan ayat (2) daripada HIR ini, jadi dia akan dikenakan itu, Bukan Komuas HAM tapi undang-undang ini menunjuk bahwa anda kalau melanggar Pasal 351 ayat (2) dan ayat (3) tadi yang kita bahas akan kena. diperlakukan HIR Pasal 140 ayat ( 1) dan ayat (2).

PEMERINTAH (PROF. DR. NATABAYA, S.H.) : Maaf, boleh saya tambahkan.

Untuk menjawab pertanyaan dari FABRI, memang Komnas HAM ini merupakan suatu badan untuk mediasi, tapi justru antara badan-badan lain dan Komnas HAM dimaksudkan itu ada perbedaan. karena Komnas HAM-lah yang diharapkan tentunya itu mempunyai gigi yang Jebih daripada yang sekarang dimiliki, dan juga mediasi itu hmwa salah satu jalur untuk menuju kepada penyelesaian sengketa·. karena itu justru diharapkan bahwa tadi sudah dikemukan oleh Pak Natabaya yaitu bahwa yang dicatat oleh Komnas HAM itu adalah bahwa saksi itu walaupun dipanggil sah, tidak dengan segala konsekuensi. jadi bukan Komnas HAM sendiri yang mengadili tentang ketidak datangan saksi tersebut tapi itu tentunya diserahkan kepada pengadilan. Walaupun demikian maka

(21)

.808-dengan adanya kewajiban dari saksi untuk hadir di dalam pemeriksaan perkara, di situlah tidak seperti sekarang di pengadilanpun banyak orang yang dipanggil tidak mau datang sebagai saksi.

lnilah yang melatarbelakangi dimasukan pasal ini di sini danjuga supayajangan orang menganggap remeh Komnas HAM itu, ya dipanggil biarkan saja dipanggil tapi sama sekali tidak ada sanksinya walaupun sanksinya tidak seberat seperti kalau dipanggil oleh pengadilan.

KETUA RAPAT :

Pihak Pemerintah sudah selesai.

FPP bisa menerirna penjelasan dari pihak Pemerintah, FKP. FABRI. FABRI (H. HENDI TJASWADI, S.H., S.E., M.B.A., CN., M. Hum) : Terima kasih Pimpinan.

Jadi tadi sudah dibacakan oleh Pemerintah, yang dibacakan itu adalah untuk Pengadilan Negeri, jadi Pengadilan Negeri kalau ada saksi yang tidak hadir itu berhak, jadi jangan sampai Komnas HAM itu disetarakan dengan Pengadilan Negeri, pengadilan lain tolong jangan, jadi Komnas HAM bisa melaksanakan itu melewati Pengadilan Negeri silakan, tapi bukan Komnas HAM memiliki kewenangan itu jangan sampai kita rancu. Sistem ketatanegaraan kita tidak begitu, sistem hukum kita tidak begitu, kalau 1ewat Pengadilan Negeri saya kira kami sependapat, jadi bukan langsung.

Kemudian menyampaikan tadi bahwa Komnas HAM itu bukan badan rnediasi, mediasi itu upaya. jadi Komnas HAM adalah badan yang melaksanakan upaya mediasi, itu betul, tapi bukan badan mediasi. tidak ada badan mediasi, semua departemen itu tidak sanggup mediasi, jadi mohon ini diluruskan jadi tidak ada badan mediasi, badan yang melaksanakan upaya mediasi ya, kalau arbitrase itu yang badan ya upaya itu jadi satu tapi kalau mediasi hanya upaya saja bukan badan.

Kami mengusulkan DIM ini dipending saja Pak, terima kasih.

KETUA RAPAT :

Selamat datang Saudara Menteri.

Ada tawaran dari FABRI ini kita pending, bag~limana FPP. baik sebelurn pending silakan.

(22)

PEMERINTAH :

Untuk FABRI, ini dicoba dibaca dengan baik-baik, dengan persetujuan Ketua Pengadilan berarti ini sudah dengan persetujuan Ketua Pengadilan, dia meminta pihak lain melakukan pemeriksaan. kedua pihak lain sebagaimana dimaksud Ayat (2) juga wajib mengenai permintaan ini dan apabila ini tidak dipenuhi oleh pihak Jain itu maka bagi mereka ini akan dikenakan Pasal 122 ayat (2), PasaJ J ayat (2) itu menunjuk hanya normanya saja yang diambiJ dari HIR itu dan itupun sudah sesuai dengan persetujuan Ketua Pengadilan Negeri, jadi dan itupun yang dibayar itu hanya biaya yang sia-sia dikeluarkan oleh Komnas. karena mereka sudah dipanggil dengan layak, demikian dikatakan, jika saksi dipanggil demikian tidak datang pada hari yang ditentukan maka dia dihukuin oleh Pengadilan Negeri. Jadi sulit kepada Komnas membayar segala biaya yang dikeluarkan dengan sia-sia begitu juga Pasal 1 ayat ( 1 )nya. Jika saksi dipanggil sah lagi tidak juga datang maka yang terhukum sekali lagi membayar biaya dikeluarkan dengan sia-sia.

Jadi ini sudah dikeluarkan dengan persetujuan Ketua Peng~dilan

Negeri jadi bukan datang-datang Komnas ini dan normanya ini dipergunakannya dalam Hukurn Acara Pengadilan Negeri itu sendiri, jadi kalau dia di daerah seberang di luar Jawa berlakulah yang PasaJ 176 daripada RUU ini, kalau dia di Jawa HIR ini tapi sebetulnya sekarang sudah berlaku KUHP (Pidana), sepanjang rnengenai pidana sudah KUHP bukan lagi HIR.

FABRI (H. HENDI TJASWADI, S.H, S.E., M.B.A., CN, M. Hum) : Terima kasih Pemerintah ..

Saya kira Pemerintah keliru manafsirkan pasaJ ini, tolong dibaca struktur dari pasal ini Pak, jadi Ayat ( 1) bunyinya seperti yang disampaikan tadi Ayat ( 1) itu tidak membawa Ayat (3) restruktumya keliru Pak. kalau Bapak menafsirkan begini sangat sayang saya, kalau Bapak ingin melihat di Pasal 121 ini bukan Ayat ( 1 ) saya setuju dengan pendapat Bapak, tapi kalau ini Ayat (3) itu lain Pak, bedanya jauh sekali. Ayat (I) tidak membawahi dalam arti kata mengalir ke Ayat (3) tidak. kalau misalnya Ayat ( 1 )-nya hilang bahwa kalimat dengan P.ersetujuan Ketua Pengadilan Negeri itu tanpa ayat kemudian di situ di bawahnya ada Ayat (I). Ayat (2). Ayat_ (3) itu setuju kami, itu lain sekali dengan penjelasan Bapak. ayat ini bunyinya lain dengan penjelasan Bapak, jadi saya sangat menyayangkan bahwa Bapak tidak cermat, karena apa sangat berbeda Pak, yang Bapak maksud dari penjelasan tadi itu berbeda sekali dengan

(23)

ayat ini. ayat ini Ayat ( l ). Ayat (2), Ayat (3) berdiri sendiri lain kalau misalnya Pasal t 21 itu ·bunyinya tanpa ayat "Dengan persetujuan Ketua Pengadilan Negeri untuk : "Satunya adalah yang a itu b itu setuju kami. jadi yang tiga itu dengan persetujuan ke Pengadilan Negeri. Jadi bukan seperti tadi yang Bapak jelaskan, kalau ini tidak diubah yang rnisalnya yang Ayat ( t) dari Pasal t 21 itu berarti bedanya lain sekali pengertiannya. Terima kasih.

KETUA RAPAT

Terima kasih dari pihak FABRI.

Sesuai dengan hirnbauan dari FABRI, minta dipending ini dan FPP sudah setuju itu dipending, sebelum pending silakan.

FPP (DRS. H. LUKMAN HAKIM SAIFUDDIN)

Bagi kami sebenarnya kalau dimungkinkan tidak perlu pending, karena perbedaannya sebenarnya tidak kepada yang substansial dalam pengertian maksud yang dikehendaki, jadi yang ditangkap oleh memang betuJ FABRI penjelilsan Pemerintah nampaknya dengan rumusan seperti ini tidak sebagaimana yang dijelaskan tadi, tapi kalau inti dari penjelasan Pemerintah itu bisa diterima oleh FABRI sebenarnya ini bisa kita bawa ke Timus, karena menyangkut perubahan susunan rumusan ini sejauh dari sisi substansi ini tidak ada perbedaan. Demikian Pimpinan.

KETUA RAPAT : Ada tambahan dari FKP.

FKP (PROF. H.A. MASYHUR EFFENDI, S.H., M.S) :

Kalau kita lagi merenung dari Pasal 121 sub a, b dan c ini memang satu rangkaian yang saya setuju, ini sebenarnya penataan ulang dari kalimat yang ada di sini. sehingga bisa langsung ke Timus, terima kasih.

KETUA RAPAT :

Sebelum pada pihak Pemerintah, ada ajakan dari FPP bahwa ini di Timus karena memang kalau bisa dipending dari usulan FABRL bagaimana kira-kira.

FABRI (H. HENDI TJASWADI, S.H., S.E., M.B.A., CN., M. Hum) : Kami melihat substansi dari Pemerintah <lulu Pak, jadi apakah Pemerintah masih berpegang pada rancangan ini atau kepada Penjelasan

(24)

tadi, karena rancangan dengan Penjelasan tadi sangat berbedajauh, kalau Penjelasan kami bisa menerima tapi kalau Rancangan ini tidak, karena ini jauh berbeda Pak, terima kasih.

KETUA RAPAT :

Kami persilakan pihak Pemerintah.

PEMERINTAH:

Baik, terima kasih Saudara Ketua.

Kalau saya tidak salah ada dalam PasaJ J J J itu kewenangan Komnas HAM, sebeJah saya 2 nomor a itu Komnas HAM berhak untuk memanggil dan mewajibkan seseorang hadir untuk diperiksa sebagai saksi, ini satu komitmen yang dikatakan sebagai subpoena power memberikan kesaksian itu satu hak, jadi kalau kita sudah memberi suatu hak pada suatu instansi suatu lembaga yang mempunyai kewenangan mediasi, kita tidak menyamakari dengan peradilan tapi kewenangan subpoena itu kewenangan yang dikehendaki pada masa lalu juga demikian.

Otomatis kaJau orang yang dipanggil itu ti<;lak datang itu juga harus ada suatu usaha untuk menjaga kewibawaan Jembaga yang sudah diberikan subpoena power itu, saya beri contoh misalnya dalarn KUHP tidak membedakan hukurn pidana atau apa ya, di dalam Pasal 522, barang siapa menurut undang-undang dipanggiJ sebagai saksi ahli atau juru bahasa tidak datang secara melawan hukum diancam dengan denda paling ban yak sekian ratus rupiah, jadi ada suatu sanksi Pasal 534 dan kalau dia memberikan sumpah palsu kejahatan tapi kalau dia tidak datang itu dianggap pelanggaran terhadap penguasa umum, saya minta dilihat Pasal 522 sekalipun sanksinya ringan ini sudah dikalikan beberapa kali itu untuk menjaga wibawa suatu lembaga yang dibentuk berdasarkan undang-undang.

Saya minta ini diperhatikan hanya masalah sanksi itu saya kira relatif kita rnemberikan sanksi. jumlahnya berapa bentuknya apa tapi ini suatu lembaga yang sudah diberi kewibawaan dengan undang-undang harus dijaga kewibawaannya dan 522 KUHP sudah mengatur itu, saya rnohon ini dipertimbangkan betul-betul. Terima kasih.

KETUA RAPAT:

Masih ada penjelasan.

(25)

FABRI

{H.

HENDI TJASWADI,

S.H.,

S.E., M.B.A., CN., M.

Hum):

Menanggapi saja Pak, jadi di undang-undang juga ditentukan hahwa Polisi dan Jaksa itu sebagai penyidik lebih tinggi daripada Komnas HAM, Komnas HAM penyelidik, ini penyidik, tapi untuk menyidiki Bank itu mereka harus mendapat izin baru Gubernur BI atau Menteri Keuangan padahal mereka sudah dijamin dari undang-undang, ini sebagai penyidik, padahal level penyidik dengan penyidik itu di atas dari penyelidik, Komnas HAM ini penyelidik, Polisi dan jaksa ini penyidik jadi dijamin oleh undang-undang juga tapi untuk masuk ke Bank untuk mendapat keterangan kita harus ada izin dari Gubernur Bank dan Menteri Keuangan. Jadi saya kira contoh-contoh itu ada yang relevan ada yang tidak, oleh karena itu kami, kalau pemmusannya seperti ini kami minta didrop yang Daftar Inventarisasi Masalah Nomor 351, tetapi kalau rumusannya diubah seperti yang apa yang disampaikan oleh Pemerintah kami setuju untuk dimasukkan tapi kalau rumusannya tetap seperti ini sangat jauh berbeda, kami tidak melihat hukumnya berapa tidak, tapi bahwa lembaga mediasi yang melakukan upaya mediasi punya hak subpoena ini saya kira lembaga lain belurn tentu punya kecuali DPR dan DPRD berdasarkan Undang-Undang Nornor 499 tapi lernbaga lain tidak punya, polisi lewat pengadilan bisa oleh karena itu kalau di Daftar lnventarisasi Masalah Nomor 347 itu rnasuk membawahi atau mengalir kepada ayat-ayat kami sependapat, jadi Pengadilan tidak dilewatin jangan sampai seperti undang-undang yang dibacakan Pemerintah tadi bahwa

Komn~s HAM ini mempunyai kekuatan seperti Pengadilan Negeri tadi dibacakan hukumannya Pengadilan Negeri kalau begini kacau sistim hukum kita, oleh karena itu kami rnohon kalau rumusan ini diubah sehingga mengalir yang di atas menjiwai yang di bawahnya Ayat (I), Ayat (2), Ayat (3) kami setuju, tapi kalau rumusannya tetap seperti ini kami mohon dipending. Terima kasih.

KETUA RAPAT :

Masih ada penjelasan, masih ada silakan. PEMERINTAH :

lni memang perlu didiskusikan sebentar ya, tadi saya katakan bahwa pengaturan sebagai saksi itu bukan berarti Komnas HAM yang memberikan sanksi, sanksi otomatis oleh lembaga yang berwenang dan perlu diketahui bahwa tugas dari Komnas HAM ini sudah disepakati. tidak hanya menyelidiki. ini menjalankan suatu tugas konstitusional yang ditetapkan pada MPR memantau dan sebagainya itu tugas yang besar, jadi tidak

(26)

hanya menyelidiki dan kalau di dalam pas masaJah penyeJidikan ini otomatis bukti-bukti penyelidikan akan menjadi bahan penyidik, kalau diteruskan dalarn perkara pidana itu sebagai material bagi penyidik untuk digunakan sebagai memperkuat alat bukti katakanlah, jadi mempunyai kekuatan ini, penyelidikan itu tidak begitu saja tapi hasiJ penyelidikan itu sebagai bahan bagi penyidikan, lernbaga penyidik, kita tidak pernah menyidik, jadi ini perlu diperhatikan jangan melihat Komnas HAM a itu hanya menyelidiki, tugasnya itu tugas besar, tugas konstitusionaJ menjalankan Tap MPR yang cukup besar dasarnya sama kuat, masalah perumusannya bisa dirundingkan tapi saya kira kewibawaan lembaga yang dibentuk berdasarkan Tap MPR ini juga harus dijaga. Terima kasih.

KETUA RAPAT :

Terima kasih pada Pemerintah.

Setelah kita rnendengar berapa kali putaran penjelasan dari Pemerintah dan oleh pihak Fraksi-fraksi, dari FABRI ingin minta untuk dipending dan ada tanggapan dari FPP supaya ini karena substansinya tidak berubah ini bisa di Timuskan tapi setelah melihat penjelasan dari Pernerintah ini ada kaitan dengan Pasal 111 yaitu terutama dengan Daftar Inventarisasi Masalah Nomor 287, oJeh karena ini di Panjakan ini karni tawarkan ini supaya sejiwa, ini di Panjakan, bagaimana FABRI.

FABRI (DRS. IGN. KOES SUJUDONO, S.H.) Minta waktu Pak,

Mohon penjelasan dari Pemerintah, kaJau di sini dengan memakai judul dengan Pasal 121 dengan persetujuan Ketua Pengadilan, ini mekanisrne pelaksanaan di lapangan nanti bagaimana, karena seperti penyidikpun rnau menyita hams izin Ketua Pengadilan itu harus kita ke Pengadilan <lulu lalu kita Jakukan dan sekarang dengan persetujuan Ketua Pengadilan ini mekanisrnenya nanti bagaimana. Terirna kasih.

KETUA RAPAT Silakan.

PEMERINTAH:

Justru pasal itu untuk mengurangi kemungkinan terjadinya sesuatu yang abuse power atau pelanggaran wewenang, jadi permintaan izin ini menjadi penting untuk menjaga integritas dari Komnas HAM itu. Dengan persetujuan Ketua Pengadilan untuk keperluan perneriksaan Komnas

(27)

HAM dapat, ini masalah prosedur itu masalah nanti ya. tapi ini satu hal yang bisa digunakan untuk menjaga wibawa atau legalitas dari apa yang akan dilakukan Komnas HAM, akhirnya itu ujung-ujungnya ke pengadilan nanti. suatu proses penyelidikan. Terima kasih.

KETUA RAPAT :

Bagaimana tawaran kami supaya di Panjakan supaya sejiwa dengan DIM sebelumnya, dari FABRI, FPP, FKP, Panja, baik.

PEMERINTAH:

Yang Panja ini yang hanya Daftar lnventarisasi Masalah Nomor 351 ya, apa dari Pasal 121 sampai Ayat 3 kita Timuskan karena untuk menampung usu! FABRI tadi.

FABRI (H. HENDI TJASWADI, S.H., S.E., M.B.A., CN., M. Hum) : Usul Pimpinan:

Jadi kalau misalnya kita melihat Daftar Inventarisasi Masalah Nomor 347 itu berkaitan dengan Daftar Inventarisasi Masalah Nomor 351 jadi yang dijelaskan Pemerintah itu adalah menjiwai Daftar lnventarisasi Masalah Nomor 347, jadi kalau yang di Panja kan Daftar Inventarisasi Masalah Nomor 351 saja itu saya kira kurang pas, jadi kami sependapat dengan mungkin antisipasi Pemerintah tadi dari Daftar Inventarisasi Masalah Nomor 347 ke Daftar Inventarisasi Masai ah Nomor 351 ini yang di Panjakan, jadi satu jiwa, jadi rumusan yang disampaikan Pemerintah dalam penjelasan itu bisa kami terima untuk mengubah ini, jadi saksinya berapa saja silakan tapi lewat pengadilan. Terirna kasih.

KETUA RAPAT :

Karena Daftar Inventarisasi Masalah Nornor 347 sampai Daftar lnventarisasi Masalah Nornor 350 sudah kita sepakati tetap. seperti pada penjelasan dari FABRI dan contoh lain bahwa ini sejiwa rnengalir di dalam ini. Ada tanggapan dari FPP?

FPP (DRS. H. LUKMAN HAKIM SAIFUDDIN)

Jadi yang di Panjakan kan kami setuju mulai dari Daftar lnventarisasi Masalah Nomor 347?

(28)

KETUA RAPAT : FKP?

FKP (PROF. H.A. MASYHUR EFFENDI, S.H. M.S.) Paket pasal kami kembali pada pertama.

KETUA RAPAT Pemerintah?

Baik karena ada kaitan dengan Daft:ar Inventarisasi Masalah Nomor 352 dan Daftar lnventarisasi Masalah Nomor 353 ini Panjajuga, supaya kalau tidak di Panja jangan dipanggil gitu, diundang gitu enggak ada sanksi kan?

Baik, Bapak lbu sekalian karena ada panggil memanggiJ jadi ada sanksi ya. Kita masuk ke Daftar Inventarisasi Masalah Nomor 354 karena ada soal panggil memanggil substansi berkaitan dengan pasa) sebelum kecuali itu kalau diundang sanksi itu. Jadi tidak ada sanksi-sanksi.

Baik, Bapak lbu sekaJian. Kita masuk ke Daftar Inventarisasi Masalah Nomor 354 FKP tetap, FABRI tetap, FPP ada usu) perubahan dan FPDI tetap. Kami silakan pada FPP.

FPP (DRS. H. LUKMAN HAKIM SAIFUDDIN) :

lni menyangkut perubahan rumusan, jadi kaitannya nanti dengan DIM berikutnya maka kami usulkan perubahan menjadi tidak menggunakan a, b seperti yang ada di RUU ini. Jadi sekedar penyempurnaan rumusan. Demikian.

KETUA RAPAT:

Sebelum kepihak Pemerintah dari FPP itu ada perubahan rumusan hasilnya nanti berkait dengan Daftar Inventarisasi Masalah Nomor 355 dan Daftar lnventarisasi Masalah Nomor 356. Kami minta tanggapan atau komentar FABRI, tetap. FKP Tetap.

Kami silakan pada pihak Pemerintah. PEMERINTAH:

Jadi, memang jalan yang ditempuh Komnas HAM itu pertama dengan cara melegalisasi masalah perdata administrasi tapi juga dalam hat tertentu juga menggunakan cara efektifikasi dan kita toh sudah punya

Undang-U1idang Arbitrase juga yang memberi landasan kuat tentang non legitasi 816

(29)

itu. Jadi. silakan saja asalkan substansi dari 2 prinsip itu tidak hilang, mau digabung jadi satu ayat tidak apa-apa, asal substansinya tidak hilang.

Terima kasih. KETUA RAPAT :

Kami silakan putaran kedua terhadap FPP.

FPP (DRS. H. LUKMAN .HAKIM SAIFUDDIN)

Dengan penjelasan Pemerintah maka kami usulkan ini dibawa ke Timus.

KETUA RAPAT Bapak ibu sekalian,

Ada tawaran dari pengusul perubahan yaitu dibawa ke Timus. FKP, FABRI, Pemerintah?

Jadi ini sejalan dengan Daftar Inventarisasi Masalah Nornor 355 clan Daftar Inventarisasi Masalah Nornor 356, Timus.

Kita berlanjut ke Daftar Inventarisasi Masalah Nomor 357, FKP tetap. FABRI tetap, FPP menghilangkan, maksudnya usul ini di drop, dan FPDI tetap.

Kami silakan pada FPP.

FPP (DRS. H. LUKMAN HAKIM SAIFUDDIN)

Ya, jadi usulan Fraksi kami menyangkut Pasal 124 ini. karena ini berkaitan dengan fungsi Komnas HAM sebagai mediator. Namun karena beberapa DIM sebelumnya ini nampak sudah ada kesepakatan untuk ada batasan dari rnediasi itu. maka kami mengubah ini disesuaikan. Sesuai kesepakatan yang telah diputuskan. Jadi mediasi dengan penjelasan pada tahapan apa mediasi itu dilakukan. Demikian.

KETUA RAPAT :

Judi kalau arti kata ini bisa tetap dengan menyesuaikan dengan penjelasan. Jadi sebelum karni sampaikan pada Pemerintah. penjelasan dari FPP Daftar Inventarisasi Masalah Nomor 357 dan Daftar lnventarisasi Masalah Nomor 358 dan Daftar Inventarisasi Masalah Nomor 359 ini tetap. Dengan catatan disesuaikan dengan penjelasan pasal yang sebelumnya.

(30)

Kita lanjut ke Daftar Inventarisasi MasaJah Nomor 360. FKP tetap. FABRI ada usu! perubahan. FPP tetap dan FPDI tetap. Kami silakan pada FABRI.

FABRI (TJAHYONO HS, S.H.) :

Dari FABRI Daftar lnventarisasi Masalah Nomor 360 ini hanya penyempurnaan kalimat, sehingga substansinya tetap. Jadi a. b, c itu diganti rumusan sebagai berikut: "Apabila berdasarkan hasiJ pemeriksaan Komnas HAM suatu kasus terbukti merupakan pelanggaran HAM maka Komnas HAM dapat menyelenggarakan mediasi untuk menyelesaikan perkara".

KETUA RAPAT Bapak-bapak sekalian.

Dan sekalipun kami mohon penjelasan pada FPP karena kaitan daripada Daftar Inventarisasi Masalah Nomor 360 sampai Daftar lnventarisasi Masalah Nomor 367 ini berkaitan pasalnya, oleh karena itu FPP juga memberikan usulan pembahan. Oleh karena.itu supaya sejalan pembahasan dengan perubahan yang diberikan FABRI. sebab kalau FABRI usul perubahan ini diterima berarti Daftar Inventarisasi Masalah Nomor 361 sampai Daftar lnventarisasi Masalah Nomor 367 ini didrop oleh karena itu ada usul perubahan oleh FPP dari DIM-DIM berikutnya, untuk itu kami silakan memberikan penjelasan.

FPP (DRS. H. LUKMAN HAKIM SAIFUDDIN) :

Jadi mungkin Pasal 125 itu Daftar Inventarisasi Masalah Nomor 360 itu sampai Daftar Inventarisasi Masalah Nomor 365 atau bahkan Daftar Inventarisasi Masalah Nomor 364. Jadi ada 4 hal yang diatur dalam pasal ini. Kami semula mengusulkan huruf a ini dihapus karena berkaitan dengan mediasi tadi yang sudah disepakati ada penjelasan mengenai batasan mediasi itu, mungkin itu nanti bisa disesuaikan, lalu huruf b menjadi humf a begitu dan huruf c menjadi huruf b, jadi hanya 3 ha! saja yang diatur dalam Pasal 125 ini.

KETUA RAPAT :

Sebelum ke pihak Pemerintah FKP kami minta tanggapan karena ada usu! perubahan menjadi satu rumusan oleh FABRJ kemudian FPP ada usu) perubahan dengan ada penjelasan tadi tentang masalah Daftar

lnventarisasi Masalah Nomor 361 itu sudah bisa dianggap kembali.

(31)

_FKP (PROF. H.A. MASYHUR EFFENDI, S.H., M.S.) :

Sesuai dengan posisi kami yang menyetujui RUU ini pada prinsipnya kami setuju dengan apa yang dikembangkan oleh Pemerintah. Jadi usulan-usulan dari FPP dan FABRI itu kita bawa ke Timus saja.

KETUA RAPAT :

Baik untuk putaran pertama kami silakan pada pihak Pemerintah. PEMERINTAH:

Ya sepanjang menyangkut Daftar Inventarisasi Masalah Nomor 360 dan seterusnya, saya minta dikaji betul-betul ini ada a, b dan c, jadi tidak bisa diringkas seperti FABRI atau usul penghapusan dari FPP. Saya minta a, b dan c itu dilihat satu-persatu dulu, masing-masing kewenangan itu. Kecuali yang b ya, itu memang masalah pengadilan HAM itu memang perlu dispesifikasikan. Tapi a dan c itu sudah biasa dilakukan oleh Komnas HAM, sudah biasa. Hanya ini merupakan satu pemantapan saja di dalam undang-undang ini. Menyelenggarakan mediasi untuk menyelesaikan perkara, itu suda~ biasa terjadi dalam kasus perdata atau administrasi kalau terjadi pelanggaran HAM. Kita betulkan, biasanya kalau suatu tim dikirim ke daerah rapat dengan instansi terkait diselesaikan setempat, tanda tangan semua; kemudian rnelakukan intervensi dalam proses perneriksaan. Jadi memberikan bahan bagi pengadilan bahwa suatu values human rights sebagai bahan supaya di pengadilan memperhatikan bukan ... tapi ada pelanggaran HAM yang signifikan kalau pengadilan HAM itu diteruskan sangat berbahaya ada suatu yang disebut unfecrail.

Keempat, menyelesaikan perkara sendiri berdasarkan kewenangan yang diberikan kepada pihak, ini juga sudah biasa dilakukan. Jadi sernua perkara itu penyelesaiannya melalui I, 2 dan 3 ini. Hanya yang b saya kira pengadilan HAM perlu didiskusikan dalarn-dalarn. Terima kasih.

KETUA RAPAT :

Baik, kami kembalikan pada FABRI.

FABRI (H. HENDI TJASWADI, S.H., S.E., M.B.A., CN., M. Hum) : Jadi kami ini meningkat dengan tidak mengurangi fungsi dari Komnas HAM untuk mediasi. Jadi untuk a dan d ini senapas ini, mediasi, Kami sepakat.

(32)

FKP (PROF. H.A. MASYHUR EFFENDI, S.H., M.S.) :

Sesuai dengan posisi kami yang menyetujui RUU ini pada prinsipnya kami setuju dengan apa yang dikembangkan oleh Pemerintah. Jadi usulan-usulan dari FPP dan FABRI itu kita bawa ke Timus saja.

KETUA RAPAT:

Baik untuk putaran pertama kami silakan pada pihak Pemerintah. PEMERINTAH:

Ya sepanjang menyangkut Daftar lnventarisasi Masalah Nomor 360 dan seterusnya, saya minta dikaji betul-betul ini ada a, b dan c, jadi tidak bisa diringkas seperti FABRI atau usu] penghapusan dari FPP. Saya minta a, b dan c itu dilihat satu-persatu dulu, masing-masing kewenangan itu. Kecuali yang b ya, itu memang masalah pengadilan HAM itu memang perlu dispesifikasikan. Tapi a dan c itu sudah biasa dilakukan oleh Komnas HAM, sudah biasa. Hanya ini merupakan satu pemantapan saja di dalam undang-undang ini. Menyelenggarakan mediasi untuk menyelesaikan perkara, itu suda~ biasa terjadi dalam kasus perdata atau administrasi kalau terjadi pelanggaran HAM. Kita betulkan, biasanya kalau suatu tim dikirim ke daerah rapat dengan instansi terkait diselesaikan setempat, tanda tangan semua; kemudian melakukan intervensi dalam proses pemeriksaan. Jadi memberikan bahan bagi pengadilan bahwa suatu values human rights sebagai bahan supaya di pengadilan memperhatikan bukan ... tapi ada pelanggaran HAM yang signifikan kalau pengadilan HAM itu diteruskan sangat berbahaya ada suatu yang disebut unfecrail.

Keempat, menyelesaikan perkara sendiri berdasarkan kewenangan yang diberikan kepada pihak, ini juga sudah biasa dilakukan. Jadi semua perkara itu penyelesaiannya melalui I, 2 dan 3 ini. Hanya yang b saya kira pengadilan HAM perlu didiskusikan dalam-dalam. Terima kasih.

KETUA RAPAT:

Baik, kami kembalikan pada FABRl.

FABRI (H. HENDI TJASWADI, S.H., S.E., M.B.A., CN., M. Hum) : Jadi kami ini meningkat dengan tidak mengurangi fungsi dari Komnas HAM untuk mediasi. Jadi untuk a dan d ini senapas ini, mediasi, Kami sepakat.

(33)

Sedangkan a dan b tidak lazim suatu undang-undang mengatur hal yang belum ada. Jadi kalau mau mengadakan pengadilan HAM itu revisi dulu Undang-Undang Nomor 14 Tahun 1970, dan di sana saya kira ada berapa pengadilan peradilan kita. Jadi jangan kita masukkan di sini.

Karena ini untuk menampakkan di sini, saya kira perlu kita dalami lebih lanjut, jadi tidak langsung di sini. Seolah-olah sudah ada, sedang kita belum tahu, ini bisa setuju atau tidak.

Kemudian yang butir c ini intervensi. Intervensi saya kira tidak ada lembaga yang bisa intervensi kalau berbeda dengan penjelasan tadi, kalau dicantumkan di sini intervensi saya kira di dalam Pasal 24 UUD 1945, itu kekuasaan pengadilan merdeka, tidak ada lembaga manapun yang bisa intervensi pada pengadilan.

Oleh karena itu kurang tepat kalau di sini dituliskan melakukan intervensi. Kalau misalnya rumusannya seperti yang disampaikan tadi bisa juga dalam dikoordinasi atau bahas pasal tapi bukan intervensi.

Kalau intervensi kami tidak sependapat, karena apa? Dalam UUD dijamin kekuasaan kehakiman itu merdeka, tidak ada satu lernbagapun intervensi. Sedangkan untuk a dan d ini kami singkat dan dimasukkan, jadi : "menyelesaikan perkara melalui mediasi" jadi a dan d i_ni satu

napas ini.

Kemudian mengenai b sudah kami sampaikan ini perlu dikaji lebih lanjut, kalau sekiranya pernerintah ada untuk mendirikan pengadilan HAM seperti pengadilan niaga terus anak segala macam silakan dibentuk undang-undangnya bukan di sini, bukan mengatur yang belum ada.

Di sini kita lihat belurn ada. Saya kira demikian dulu. Oleh karena itu kami FABRI mengusulkan agar b, c dan e ini dihapus, tapi rumusan untuk ini sudah masuk di dalam butir Daftar Inventarisasi Masalah Nomor 360. Terima kasih.

KETUA RAPAT: Kami silakan FPP.

FPP (DRS. H. LUKMAN HAKIM SAIFUDDIN)

Menyangkut usulan kami yang pertama, mengenai penghapusan huruf a itu, karena sudah ada perubahan kesepakatan sebelumnya. maka pengertian mediasi itu diberikan batasannya. Lalu menyangkut perubahan hutir c, intervensi itu kami ubah dengan kata atau kalimat terlibat ikut 820

(34)

serta. Sehingga setelah perubahan itu menjadi "terlibat dan ikut serta dalarn proses pemeriksaan yang sedang berlangsung dipengadilan".

Adapun huruf d ini diusulkan untuk dihapus karena sebenarnya substansinya sudah tertampung pada butir a. Dernikian.

KETUA RAPAT :

Putaran kedua Pemerintah mau mempergunakan, silakan. PEMERINTAH :

Yang pertama mengenai huruf a dan d, saya minta FABRI mengkaji Undang-Undang Arbitrase yang baru diundangkan, disahkan. Jadi rnediasi itu hanya salah satu alternatif resolution dan negoisasi dalam rekonsiliasi bermacam-macam, di sarnping arbitrase. Nah mediasi ini yang biasa dilakukan oleh Komnas HAM sebagai suatu sarana utama. Tapi yang d itu mungkin pernmusannya bentuk lain dari alternatif yang sengketa, itu bisa dilakukan. Kalau mau menggabungkan a dan d itu sekaligus rnediasi itu dihapuskan diganti "menyelenggarakan alternatif untuk menyelesaikan perkara" bisa tertampung semua. Jadi mediasi itu hanya salah satu bentuk saja dari altematif pilihan sengketa.

Kemudian yang c, intervensi nanti bisa dicari bahasa yang penting, tapi ini penting karena yang disebut "gross violation human rights" itu salah satu intinya adalah unfrelred. Dan saat ini saya kira banyak terjadi. Kecuali kalau kita mau status quo ya ini dihilangkan. Jadi saya terns terang saya sebagai Menteri Kehakiman banyak mengalami masalah ini, sekalipun yang disebut pengadilan itu di bawah pengawasan dalam arti pengadministrasiannya di bawah Departemen Kehakiman, saya terns terang masih kecewa dengan kondisi. Jadi soal unfrelred bagi kami sesuatu yang luar biasa saat ini untuk mendapat penanganan yang serius, saya kira mungkin di rnasa depan masih, apalagi dengan nanti sudah diputuskan penggabungan dalam satu atap, kita harus ada satu alat-alat lain untuk mengontrol pengadilan. Yang mulai nanti hari Senin mau dibicarakan revisi Undang-Undang Nomor 14 Tahun 1970. Ini suatu masalah. bangunan yang besar.

Kemudian soal B, itu saya kira ini masih perlu didiskusikan. Hanya kalau toh kita kalau mau membentuk bisa saja, mungkin namanya peraclilan HAM. bagian dari peradilan umum. Seperti saya beri contoh, clalam Undang-Undang tentang Kepailitan yang sudah diselesaikan dan mau direvisi lagi. itu ada salah segment yang disebut "comercial force" peradilan niaga di bawah peradilan umum. Jadi tidak usah merubah

(35)

Undang-Undang Nomor 14 Tahun 1970 keberadaan p~radilan HAM ini disetujui, saya katakan, itu tidak usah merubah Undang-Undang Nomor 14 Tahun 1970. Istilah peradiJan HAM bukan pengadilan HAM. Saya minta ini dipahami betul, terima kasih.

KETUA RAPAT :

Setelah mendengar dari Pemerintah semua menanggapi usu1-usul perubahan dari beberapa Fraksi dan penghapusan oleh beberapa Fraksi Daftar Inventarisasi Masalah Nomor 360 sampai Daftar Inventarisasi Masalah Nomor 364, oleh karena itu kami tawarkan pada pembukaan-pembukaan untuk ditawarkan kepada pihak Pemerintah untuk dirumuskan kembali hal-hal berapa point ini, lebih-lebih beberapa DIM ini kami tawarkan kepada Fraksi untuk dirumuskan. FPP silakan.

FPP (DRS. H. LUKMAN HAKIM SAIFUDDIN) :

Saya sangat memahami dan sangat-sangat me_nerima apa yang dijelaskan pemerintah tadi menyangkut butir b ini. Inilah kunci dari sebuah kebaktian hukum. Ini kunci perlindungan HAM di Indonesia. Bila ini tidak ada HAM tidak akan betah tinggal di Indonesia, ini yang saya baca begitu. Apalagi ada kaitan dengan butir Daftar lnventarisasi Masalah Nomor 362. tapi ini tidak sulit-sulit amat kalau membentuk peradilan HAM kalau kita punya hati nurani, itu saja persoalannya.

KETUA RAPAT :

Kami tawarkan untuk Timus·.

FABRI (H. HENDI TJASWADI, S.H., S.E., M.B.A., CN., M Hum) : Begini" Pak, kalau untuk Timus kami keberatan, di Panjakan Pak. Jadi. ada beberapa hal yang perlu dipahami lebih lanjut. Misalnya mengenai pembentukan pengadilan HAM. Jadi pengadilan HAM sendiri kami setuju, jadi bukan kami tidak punya hati nurani, kami punya. Kami setuju, hanya bukan di sini letaknya ajukan seperti prosedur yang biasa. Kemudian intervensi saya kira kalau pengertiannya bukan yang seperti disampaikan, kalau pengertiannya seperti yang disampaikan oleh Pemerintah kami setuju tapi bukan kata intervensi. Jadi mohon kata intervensi tidak dimasukkan, karena kita sepakat dalam UUD 1945 Pasal 24, kekuasaan kehakiman yang merdeka. Jadi mohon pengertian intcrvensi mohon ada penjelasannya, jadi bukan intervensi kata-katanya dan penjelasannya ada.

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...

Related subjects :