BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
4.1 Gambaran Umum Studio Audio Visual Puskat
Studio Audio Visual Puskat didirikan di Yogyakarta pada tahun 1969 oleh para imam yesuit yang mempunyai perhatian pada bidang komunikasi. Bermula dari sebuah laboratorium Sekolah Tinggi Filsafat Kateketik yang berada dipusat Yogyakarta melalui produksi foto, sound slide, dan rekaman audio. SAV Puskat telah berkembang menjadi sebuah pusat training dan produksi audio visual. Karena perkembangan zaman dan kebutuhan masyarakat akan dunia audio visual terus meningkat terlebih dengan merebaknya televisi swasta di Indonesia, SAV Puskat membuka diri seluas-luasnya untuk kebutuhan tersebut. SAV Puskat tidak hanya melayani kebutuhan Gereja saja, tetapi juga masyarakat luas seperti LSM, pemerintah, stasiun televisi, Universitas, masyarakat lintas agama dan siapa saja yang mempunyai kehendak baik untuk membangun dunia ini menjadi lebih baik. Untuk mengantisipasi kebutuhan tersebut, pada tahun 1995 SAV Puskat berpindah tempat ke sebuah desa di Sinduharjo di pinggir kota Yogyakarta. Di sinilah dibangun sebuah
"media village" untuk mencapai apa yang dicita-citakan oleh SAV Puskat.1
1 Http://www.savpuskat.or.id/profil.php?ver=ina
Gambar 7. Logo SAV Puskat
4.1.1 Visi & Misi Studio Audio Visual Puskat
SAV Puskat yang memang didirikan oleh para yesuit tentunya memiliki visi dan misi dan memang concern khususnya dari organisasi ini sendiri adalah umat
Katolik dan juga umumnya semua manusia.2
1) Visi:
1. Menggali inspirasi dari tradisi-tradisi kebudayaan dan spiritual demi
kebahagiaan semua manusia jaman sekarang
2. Terbentuknya masyarakat religius plural
3. Keharmonisan alam raya dijaga bersama
4. Kebudayan lokal semakin disenangi sehingga kepribadian tumbuh kembali
5. Masyarakat hidup terbebas dari kekerasan dan hidup damai dalam
kebhinekaan.
2
2) Misi:
1. Mengembangkan media komunikasi, baik media massa maupun media
kelompok, yang berguna utnuk membangun masyarakat religius pluralis.
2. Membuat pelatihan dibidang produksi dan penggunaan media komunikasi.
3. Mengembangkan budaya lokal dan keadilan sosial melalui Balai Budaya.
4. Mendorong partisipasi masyarakat dalam menghidupkan dan mengarahkan
media komunikasi bagi pengembangan masyarakat.3
4.1.2 Peran SAV Puskat Bagi Umat Katolik
Keberadaan SAV Puskat bagi umat Katolik di Indonesia adalah untuk memberikan semangat, inspirasi bagi umat Katolik (khususnya) dan bagi segala makhluk ciptaan terkhusus umat manusia, siapapun mereka, apapun golongan, ras dan agama serta latar belakangnya melalui karya SAV Puskat di bidang komunikasi media audio visual. Mengapa ditujukan kepada semua umat manusia? Jawabannya tentu saja karena komunikasi itu inklusif, terbuka bagi dan bersama siapa saja. Dengan begitu harapan SAV Puskat ingin menjadikan dunia ini damai, penuh kegembiraan dalam pengharapan. Dengan begitu nama Allah semakin dimuliakan. Usaha ini kami wujudkan melalui karya-karya kami di bidang produksi program telivisi acara “Penyejuk Imani Katolik” di Indosiar, program-program dokumenter
kami, menyelenggarakan training di bidang produksi program video dan televisi.4
SAV Puskat yang memang di latar belakangi oleh umat Katolik, tentu saja memiliki visi dan misi yang mereka emban khususnya bagi semua umat Katolik di Indonesia.
Bagi masyarakat Yogyakarta tentu saja karena SAV berakar dari kultur budaya setempat, maka concern content program-programnya diilhami dari atmosfer Yogyakarta. Dengan demikian banyak aktivitas dan kami fasilitasi masyarakat sekitar kami untuk wadah berkomunikasi berekspresi dalam bidang seni, budaya dan itu semua menjadi sarana berkomunikasinya antar warga.
5
Berikut adalah Peran SAV Puskat bagi umat Katolik di Indonesia pada umumnya:6
Memberikan semangat, inspirasi bagi umat Katolik (khususnya) dan maunya kami bagi segala makhluk ciptaan terkhusus umat manusia, siapa pun mereka, apa pun golongan, ras dan agamanya serta latar belakangya melalui karya kami di bidang komunikasi media audio visual. Nah mengapa kepada seluruh umat manusia karena komunikasi itu inklusif, terbuka bagi dan bersama siapa saja. Dengan begitu harapan kami ingin menjadikan dunia ini damai, penuh kegembiraan dalam pengharapan. Dengan begitu nama Allah semakin dimuliakan. Usaha ini kami wujudkan melalui
4
Hasil wawancara dengan humas SAV Puskat FX Tri Mulyono
5 Ibid 6
karya-karya kami di bidang produksi program televise acara “Penyejuk Imani
Katolik” di Indosiar, program-program documenter kami, menyelenggarakan training di bidang produksi program video dan televisi.
Bagi masyarakat Yogyakarta tentu saja karena kami berakar dari kultur budaya setempat, maka concern content program-program kami dilhami dari atmosfir Yogyakarta. Dengan demikian banyak aktivitas dan kami fasilitasi masyarakat sekitar kami untuk wadah berkomunikasi, berekspresi dalam bidang seni, budaya dan itu semua menjadi sarana berkomunikasinya antar warga.
4.2 Tentang Film Soegija
Menurut narasumber FX Tri Mulyono selaku humas dari SAV Puskat “Dalam konteks film Soegija terdapat keterkaitan antara sutradara, penulis skenario dan juga SAV Puskat. Karena ide dasar semula, bahan-bahan informasi, hasil riset, semua dari SAV Puskat. Sejak semula memang SAV Puskat berkeinginan memproduksi sendiri tetapi hanya dalam format video atau televisi karena memang spesialisasinya di bidang itu. Sutradara dan penulis naskah lebih memformatkan ke dalam bentuk “Film
Layar Lebar”, tentu saja dengan segala konsekuensinya”.7
Nirwan Dewanto bukan seorang Katolik. Ia dipilih, dan bersedia menjadi pemeran Soegija dalam film Soegija. Nirwan seorang sastrawan dan kritikus papan
7
atas. Dalam beberapa hal Soegijapranata juga seorang sastrawan dan kiritikus yang selalu mengusahakan pengayaan ekspresi dan istilah dalam tulisan-tulisannya. Ayahnya dulu belajar dari Ronggiwarsito.
Garin Nugroho juga bukan seorang Katolik. Sineas senior ini datang dari masa ketika sutradara adalah pekerjaan bagi yang mumpuni. Ia bukan sekedar pekerja film, ia juga seorang budayawan. Karya dan pergaulannya melintas sekat dan bidang seni. Ia berkawan dengan G. Budi Subanar, seorang yesuit yang tinggal dan mengajar di Yogyakarta. Subanar meneliti sejarah Gereja di Jawa. Salah satu tokoh kunci dalam sejarah Gereja di Jawa tentu saja adalah Monsinyur Albertus Soegijapranata, SJ.
Hasil penelitian Subanar memang menjadi pegangan dasar utama untuk mengembangkan naskah. Juga beberapa tulisan yang lebih awal dari orang lain. Dari sanalah diwawancara para saksi mata. Pada awalnya naskah dikembangkan oleh SAV Puskat yang dimotori oleh FX.Murti Hadiwijayanto, SJ dan dibantu aktor teater Heru Kesawa Murti (meninggal dunia pada proses ini). Naskah akhir digarap oleh
Armantono dan Garin Nugroho.
Produksi dan promosi film ini diperkirakan menghabiskan 12 milyar, angka yang wajar untuk produksi film nasional dengan setting Perang Dunia. Dananya diperoleh dari umat Katolik, yang digalang sejak gala-dinner dibulan April 2011. Syuting dilakukan bulan Agustus hingga Desember, dan film ditayangkan untuk
umum 7 Juni 2012.
Film ini menceritakan kehidupan pada zaman penjajahan Belanda dan juga Jepang, khususnya di wilayah Jawa. Di samping menceritakan tentang tokoh nasional sekaligus uskup pertama di tanah jajahan yaitu Soegijapranata, di dalam film dapat kita temukan simbol- simbol ideologi dari agama Katolik yaitu penggambaran ibadah yang dilakukan oleh umat Katolik seperti proses pentahbisan, lagu rohani agama Katolik yang kerap dinyanyikan dan tanda-tanda lainnya. Dalam film ini juga
terdapat peran pembantu lainnya yang didominasi dengan pemain yang berkeyakinan Katolik.
Film Soegija dianggap sangat efektif bagi umat Katolik di Indonesia melihat agama Katolik di Indonesia yang minoritas terhadap penganutnya. Walaupun
minoritas, SAV Puskat tetap gigih dalam upaya mengobarkan semangat bagi saudara-saudari seiman akan kesadaran: 100% Katolik, sekaligus 100% Indonesia. Jika kita bicara Katolik Indonesia, maka umat Katolik harus berani membuka diri, menghargai dan menghormati keberadaan, karena Mgr. Soegijapranata sendirilah pencetus
kalimat yang menyemangati itu ujar Bapak Tri saat wawancara.8
Pada sisi lain, sebelum layar lebar ini sebenarnya SAV Puskat telah berkecimpung dibidang-bidang produksi program-program video dan
menyelenggarakan pelatihan produksi program audio visual bagi khalayak umum.
8
Daftar nama kru yang terlibat dalam pembuatan film Soegija:9
1. Produser sekaligus penulis catatan dalam buku Soegija in frames: FX. Murti
Hadi Wijayanto
2. Sutradara : Garin Nugroho
3. Penulis naskah : Armantono
4. Director of photography : Teo Gay Hian
5. Supervisor produksi film: JB Kristanto
6. Para pemain :
• Nirwan Dewanto sebagai Mgr. Soegijapranoto • Annisa Hertami sebagai Mariyem
• Olga Lydia sebagai Ibu Lingling • Andrea Reva sebagai Lingling • Suzuki sebagai Nobuzuki • Wouter Zweers sebagai Robert • Wouter Braaf sebagai Hendrick • Butet Kertaradjasa sebagai Tugimin • Abe sebagai Maryono
• Rukman Rosadi sebagai Lantip • Eko Balung sebagai Soewita
9
Dan beberapa orang lainnya yang ikut terlibat dalam proses pembuatan lainnya yaitu Rm G. Subanar, SJ selaku sumber dari kesaksian tentang buku-buku Mgr. Soegijapranoto, tim produser Rm. Y.I. Iswarahadi SJ, Djaduk Ferianto, juga Tri Giovanni, Alm. Heru Kesawa Murti yang menggagas lahirnya film ini, dan lainnya yang ikut mendukung proses pembuatan film ini.
Film Soegija dalam proses pembuatannya jika dihitung dari ide awal sampai selesai produksi siap tayang, sekitar 5 tahun (terhitung dari 2007-2012). Tetapi jika dihitung dari penyelarasan skenario hingga siap tayang memakan waktu kurang lebih
10 bulan. Konkretnya demikian: 10
1. Mei-Agustus 2011 (Penyelarasan naskah/Skenario)
2. Agustus-Awal November 2011 (Pra Produksi)
3. 7 November-9 Desember 2011 (Produksi/shooting filmnya)
4. Desember 2011-April 2012 (Pasca/Post Produksi : loading gambar, off line,
editing, dubbing, mixing, screening, revisi, screening, revisi, grading di Bangkok- Thailand).
4.2.1 Sinopsis Film Soegija
Film Soegija menceritakan tentang seorang uskup pertama di tanah jajahan yaitu Indonesia pada masa penjajahan. Uskup Soegija pada awalnya adalah seorang muslim, hingga diusianya yang masih muda ia memustuskan untuk memeluk agama
10
Katolik (terdapat dalam buku Soegija 100% Indonesia karangan Ayu Utami).11
Zaman penjajahan Jepang-pun dimulai, tetapi Indonesia justru mengalami Karena keteguhan hatinya, kecerdasan, serta kepedulian dia terhadap
masyarakat khususnya yang beragama Katolik di Semarang dan sekitarnya, maka ia dipercaya untuk menjadi uskup di wilayah Semarang. Diangkatnya Soegija menjadi uskup sempat ditentang oleh Belanda yang tinggal di Indonesia dan menjadi
perdebatan di Vatikan. Hingga akhirnya Soegija ditahbis dan diresmikan menjadi seorang uskup pertama di tanah jajahan. Upacara pentahbisan terlihat sangat khusyu pada saat itu. Lagu-lagu rohani ikut menambah kesan kekhusyannya. Semua umat Katolik ikut serta dalam pentahbisan uskup Soegija.
Ditahbis pada zaman penjajahan adalah tantangan tersendiri bagi uskup Soegija. Ia harus melindungi umatnya sebagai seorang gembala yang memang dipercayakan untuk mengabdikan diri sepenuhnya kepada umat.
Penjajah Belanda yang sedang berkuasa di Indonesia pada saat itu, tiba-tiba harus mendapat serangan dari Jepang yang baru menduduki wilayah Indonesia. Pangkalan udara Pearl Harbour dibom oleh tentara Jepang dan hal ini memberi dampak Bagi Belanda. Tentara Belanda yang berada di Indonesia terpojok sehingga harus meninggalkan wilayah Indonesia. Dan Jepanglah yang akhirnya menduduki wilayah Indonesia saat ini.
11 Ayu Utami. Op. cit. Hal 56
penderitaan yang lebih dari sebelumnya. Di sinilah Soegija sebagai pemimpin umat pada saat itu harus berfikir keras bagaimana melindungi umatnya dari kekerasan yang dilakukan oleh penjajah Jepang. Banyak keluarga yang terpisah satu dengan lainnya, hal ini juga dialami oleh Mariyem dan kakaknya dan juga dialami oleh Lingling dengan ibunya. Para biarawati dan biarawan juga dipaksa untuk meninggalkan Gereja dan dibawa ke tempat penampungan secara paksa oleh tentara Jepang.
Kurang dari empat tahun Jepang menjajah Indonesia, akhirnya Belanda kembali lagi untuk menjajah Indonesia. Kedatangan Belanda yang kedua kalinya tidak ubahnya dengan saat pertama kali Belanda datang ke Indonesia. Kekejaman tetap terlihat, kekerasan di mana-mana. Pada situasi ini peran Soegija sebagai seorang uskup terlihat. Terdapat scene di mana presiden Soekarno meminta pendapat kepada Soegija mengenai langkah yang harus dilakukan oleh Indonesia dalam masa sulit ini. Dan dalam scene lainnya, Soegija terlihat menjadi penengah mengenai penyerahan kekuasan atas Indonesia dari Jepang ke Belanda. Selain itu pula Soegija terlihat memotivasi umat Katolik dalam masa-masa sulit saat itu dan ikut pula memotivasi genjatan senjata terhadap penjajah Belanda.
4.3 Hasil Penelitian
Film ini memang menceritakan tentang kisah orang pribumi khususnya di Semarang pada zaman penjajahan dengan berbagai konflik berupa peperangan juga penderitaan yang harus dialami oleh orang pribumi. Tetapi selain menceritakan
tentang kisah pada zaman penjajahan tersebut, film ini juga menggambarkan tentang peran agama Katolik khususnya Soegija sebagai uskup.
Dalam teori Roland Barthes menitikberatkan terhadap adanya upaya ideologi yang disampaikan oleh komunikator kepada komunikan begitu pula dalam teori kritis hegemoni yang menyampaikan ideologi tanpa paksaan. Dalam penelitian ini berupa representasi agama Katolik melalui simbol-simbol yang dapat kita temukan di
beberapa scene dalam film Soegija yang bergenre dokumenter tetapi dilatarbelakangi oleh nilai-nilai agama Katolik.
Awalnya khalayak pada umumnya tidak mengenal tokoh Soegija, hingga akhirnya media dalam hal ini SAV Puskat melalui film memperkenalkan Soegija sebagai tokoh nasional yang ikut berperan dalam kemerdekaan Indonesia. Soegija yang sebelumnya hanya dikenal oleh umat Katolik, muncul sebagai tokoh nasional baru pada zaman penjajahan bagi khalayak. Sehingga memunculkan mitologi baru yaitu Soegija sebagai tokoh nasional bagi Indonesia. Hal ini tentu saja merupakan upaya penggambaran lain kepada khalayak dari tokoh Soegija.
Dalam film ini Soegija digambarkan sebagai sosok yang kritis, cermat, cerdas, taat kepada tuhannya dan memiliki kepedulian yang sangat besar ke semua umatnya. Soegija berfikir keras dalam situasi sulit saat itu. Dia memberikan banyak sumbangan fikiran untuk meraih kemerdekaan Indonesia. Sebagai seorang imam di wilayah keuskupan Semarang, jiwa nasionalis yang dimiliki saat itu ikut ditonjolkan pula
dalam beberepa scene, diantaranya saat Nobuzuki hendak menjadikan Gereja sebagai benteng bagi Jepang, Soegija mengatakan “penggal dulu kepala saya, jika kamu mau menjadikan tempat ini sebagai benteng”. Peran nasionalis lainnya yang menonjol adalah saat Soegija memberikan pengarahan kepada Lantip untuk melakukan genjatan senjata di wilayah Semarang, Soegija dimintai pendapatnya oleh presiden Soekarno, ia juga selalu memberikan motivasi kepada seluruh umatnya disituasi sulit, menjadi perwakilan dari Indonesia dalam perundingan dengan sekutu dan juga
Jepang, bahkan digambarkan pula Soegija rela memberikan seluruh hidupnya demi kepentingan umat, seperti kata-kata yang diucapkan oleh Soegija kepada kepala Lurah, “Jika rakyat kenyang biar para imam yang terakhir merasa kenyang, jika rakyat lapar biar para imam yang pertama merasa lapar”.
Penggambaran Soegija sebagai tokoh bahkan pahlawan nasional semakin diperkuat oleh dengan pernyataan Bapak FX Tri Mulyono, menurutnya “Seorang pahlawan adalah sosok yang berani untuk keluar dari kemampuan yang dimilikinya untuk kepentingan umum (kutipan dari Anar Gonggong) dan hal ini sangat sesuai
dengan apa yang telah Soegija lakukan terhadap bangsa Indonesia”.12
Semua penggambaran tokoh nasionalis dari Soegija tidak terlepas dari penggambaran peran awalnya sebagai seorang uskup. Soegija tetap menjalankan tugasnya sebagai uskup di wilayah keuskupan Semarang. Ia tetap menjadi gembala yang baik bagi semua umatnya. Sebagai uskup pertama di tanah jajahan, meskipun
mendapatkan kesulitan, karena tidak hanya menjadi imam bagi orang pribumi melainkan menjadi imam bagi para penjajah juga, Soegija tetap teguh dan menjalankan tugasnya sebaik mungkin. Jadi dalam film ini, Soegija tidak hanya digambarkan sebagai uskup/imam bagi umat Katolik tetapi dia juga memiliki peran sebagai tokoh nasional yang ikut terlibat dalam upaya kemerdekaan, khususnya di daerah Semarang, Yogyakarta dan sekitarnya.
Selain munculnya mitologi baru yaitu tokoh Soegija, terdapat pula mitologi lainnya diantaranya Misa bagi umat Katolik yang dimaknai bukan misa pada umumnya, tetapi sebuah kegiatan berupa kunjungan uskup ke desa-desa untuk
memberikan motivasi dan juga masukkan psikologis pada korban-korban penjajahan, Gereja juga memiliki baru dalam film ini, fungsi Gereja keluar dari fungsi
sebenarnya, yaitu sebagai tempat ibadah bagi umat Katolik dan juga Kristen.
Di dalam salah satu scene, Soegija juga mengatakan “100 % republik, sebab kita merasa 100% katolik”, Soegija disebutkan sebagai pencetus dari semboyan 100% Katolik 100% Indonesia. Semboyan ini digambarkan sebagai seorang Katolik harus mengasihi Gereja dengan begitu berarti mengasihi juga mengasihi Negara, sebagai orang Katolik yang baik, meskinya juga menjadi patriot yang baik.
Berikut ini adalah beberpa gambar yang merepresentasikan agama Katolik dalam film Sogija:
1) Pastor
Gambar 1 Gambar 2
1. Denotasi:
Ikon, berupa gambar pastor Soegija yang mengenakan jubah putih yang sedang mengunjungi stasi di sebuah desa dengan menggunakan alat transportasi yang sangat sederhana, yaitu berupa sepeda. Ikon lainnya berupa pesan linguistik yang
disampaikan oleh pastor Soegija pada saat menyampaikan khotbah ke umat Katolik di desa tersebut.
2. Konotasi:
Berdasarkan gambar di atas dan tanda-tanda yang dimunculkan menggambarkan kegiatan dari seorang pastor. Pastor dimaknai sesungguhnya yaitu imam dalam sebuah Gereja yang memiliki tugas diantaranya melakukan pembaptisan, memimpin sebuah misa, dan beberapa kegiatan kerohanian lainnya.
Mitos:
Dalam scene di atas pastor dimaknai bukan sebagai imam yang memberikan khotbah berisi tentang ajaran agama Katolik kepada umatnya, tetapi sebagai tokoh patriotik dan motivator yang memberikan semangat kepada semua umatnya pada zaman
penjajahan. Jadi dapat dimaknai pula pastor adalah seseorang yang berjiwa patriotik dan dapat memotivasi orang lain.
1) Jubah Rohaniwan
Gambar 1
1. Denotasi :
Ikon berupa gambar Soegija yang sedang dikenakan jubah berawarna ungu untuk proses pentahbisan uskup. Jubah berwarna ungu yang panjang menjuntai hingga telapak kaki adalah jubah yang sering digunakan oleh uskup pada saat itu.
2. Konotasi :
Jubah rohaniwan pada umumnya dimaknai sebagai pakaian yang dikenakan oleh para rohaniwan untuk membedakan antara rohaniwan dengan orang biasa.
Mitos:
Dalam scene di atas dimaknai jubah rohaniwan sebagai pakaian yang resmi yang digunakan pada proses pentahbisan uskup. Jubah ini memberi kesan bahwa uskup bukan orang yang biasa bagi umat Katolik. Uskup memiliki keagungan karena memang perannya sebagai wakil Rasul di dunia.
3) Pentahbisan
Gambar 1 Gambar 2
Gambar 3
1. Denotasi :
Ikon berupa pesan ikonik yaitu pastor yang sedang menuju altar dan diiringi dengan pastor lainnya yang salah satu diantaranya membawa al-kitab. Pesan linguistik
terdapat pada gambar berikutnya berupa pastor-pastor yang sedang menyanyikan lagu rohani dan pada gambar terakhir, pesan ikonik dan linguistik yaitu uskup agung yang sedang mentahbis Soegija dan sumpah yang diucapkan oleh Soegija.
Dari ketiga gambar di atas menggambarkan runtutan dari sebuah kegiatan ibadah berupa sakramen yang dilakukan oleh agama Katolik yang disebut dengan
pentahbisan. Pentahbisan pada umumnya adalkah proses pengangkatan sesuatu atau seseorang.
Mitos:
Pentahbisan Soegija merupakan pengangkatan uskup pertama di tanah jajahan. Pentahbisan pada scene di atas dimaknai sebagai dengan “Sakramen Wisuda” dimana pastor menaiki jabatan yang baru yang lebih tinggi yaitu sebagai uskup dan tentunya dengan wewenang yang lebih besar dari sebelumnya.
4) Cincin Uskup
Gambar 1 Gambar 2
1. Denotasi :
Ikon, berupa cincin yang sedang disematkan ke jari manis Soegija dalam proses upacara pentahbisan untuk menjadi seorang uskup.
2. Konotasi :
diartikan sebagai tanda identitas uskup. Pada cincin uskup biasanya terukir lambang keuskupan atau gambar lain. Cincin bagi seorang Uskup akan menjadi sesuatu yang istimewa dan diagungkan.
Mitos:
Umat Katolik zaman dulu, akan mencium tangan Uskup ketika berjumpa dengannya. Yang dicium bukan punggung tangannya melainkan cincin yang ada di jari Uskup itu. Di jaman ini, ada sebagian umat Katolik yang masih melakukannya. Dalam adegan ini memang terkesan feodal, tapi disinilah ungkapan rasa bakti umat Katolik kepada para pemimpinnya dalam hierarki Gereja. Mereka terpilih untuk duduk di kursi para rasul Yesus Kristus, sebagai imam, guru dan gembala.
5) Berkat Perdana Uskup
Gambar 1 Gambar 2
1. Denotasi:
Simbol, berupa pesan ikonik Soegija sebagai uskup baru yang sedang membentuk tanda salib dari tangannya sendiri kepada umat Katolik yang ada di dalam Gereja. Soegija juga membawa sebuah tongkat ditangannya dan juga memakai mitra.
2. Konotasi:
Pembentukan tanda salib dengan tangan yang dilakukan oleh Soegijadi hadapan umat Katolik dinamakan berkat uskup. Berkat uskup diartikan sebagai doa yang ingin disampaikan kepada Allah dari umat untuk memperoleh karunia dengan uskup sebagai perantarnya. Tongkat yang dibawa oleh uskup juga salah satu dari tanda wewenang uskup lainnya yang dimaknai sebagai tongkat kegembalaannya. Tongkat uskup (baculis pastoralis) melambangkan peran uskup sebagai Gembala Yang Baik. Sebab itu, tongkat gembala merupakan simbol yang paling tepat bagi jabatan uskup. Mitos:
St Isidorus menjelaskan bahwa seorang uskup yang baru ditahbiskan menerima tongkat uskup “agar ia dapat memimpin serta membimbing mereka yang
dipercayakan kepadanya atau agar memberikan dukungan kepada yang terlemah dari antara yang lemah.” Sejak jaman Paus Paulus VI, tongkat Bapa Suci memiliki salib di atasnya, melambangkan jabatannya yang istimewa, bukan saja sebagai Uskup Roma, melainkan juga sebagai Vicar Kristus yang telah diserahi kepercayaan untuk
memimpin Gereja universal.
Gambar 1 Gambar 2
Gambar 3
1. Denotasi:
Simbol berupa pesan ikonik dan juga pesan linguistik adalah uskup Soegija yang sedang menyampaikan ajaran rohani atau khotbah kepada semua umat Katolik di dalam Gereja, Soegija yang sedang berusaha mempertahan Gereja dari panglima Jepang yang ingin menjadikan Gereja sebagi benteng Jepang, dan juga Soegija sebagai perwakilan dari Indonesia dalam perundingan dengan sekutu dan juga Jepang.
2. Konotasi:
Uskup diibaratkan sebagai utusan Rosul yang mengimami semua umatnya di suatu wilayah. Ia memiliki tugas-tugas diantaranya untuk menyebarkan ajaran agama Allah
bagi seluruh umat manusia, mentahbis pastor, melakukan pembaptisan dan tugas-tugas lainnya.
Mitos:
Uskup dalam scene di atas digambarkan tidak hanya sebagai imam melainkan
sebagai tokoh nasional yang memberikan semangat dalam khotbah yang disampaikan kepada umatnya, melindungi umat Katolik beserta Gereja, serta sebagai perantara antara sekutu dan Jepang, juga sebagai pencetus genjatan senjata. Sehingga memunculkan mitologi baru yaitu Soegija sebagai tokoh nasional pada zaman penjajahan khusunya di wilayah keuskupannya.
7) Gereja
Gambar 1 Gambar 2
1. Denotasi:
Simbol berupa pesan ikonik dan juga pesan linguistik sejumlah orang yang sedang berada di dalam bangunan yang terdapat Yesus pada tanda salib, patung bunda Maria serta meja altar di hadapan umat. Gambar selanjutnya berupa pesan ikonik dan juga linguistik yaitu Soegija yang sedang memerintahkan para perawat untuk melayani
para umat korban penjajahan di dalam Gereja.
2. Konotasi:
Gereja merupakan tempat ibadah bagi umat Katolik dan juga Kristen. Sebagai tempat ibadah bagi umat Katolik dan juga Kristen, banyak kegiatan kerohanian dilakukan di sini, diantaranya misa yang biasanya rutin dilakukan pada hari Minggu, pembaptisan, pentahbisan dan kegiatan lainnya.
Mitos:
Gereja dalam scene ini dimunculkan tidak hanya sebagai tempat ibadah bagi umat Katolik, melainkan sebagai tempat konsolidasi sekaligus penampungan bagi korban-korban penjajahan saat itu.
8) Tanda Salib
Gambar 3
1. Denotasi:
Simbol berupa pesan ikonik tanda salib yang diletakkan di atas dinding. Tidak hanya di rumah ibadah umat Katolik, tanda salib juga terdapat di ruang kerja Soegija, dan juga kalung yang digunakan oleh Soegija dibeberapa sceneS.
2. Konotasi:
Tanda salib memiliki makna yang suci bagi umat Katolik. Tanda salib juga dapat merepresentasikan dari Allah Tritunggal, supaya umat Katolik itu sendiri selalu mengingat akan adanya Tuhan, selalu bersikap sesuai dengan ajaran-Nya juga tidak meninggalkan-Nya.
Mitos:
Tanda salib dalam beberapa scene di atas memiliki makna yang sama dengan tanda salib pada umumnya, yaitu sebagai identitas yang membedakan antar umat Katolik juga Kristen dengan umat agama lainnya. Dan juga sebagai simbol dari makna Tritunggal itu sendiri.
Gambar 1 Gambar 2
1. Denotasi:
Pesan linguistik berupa lagu-lagu rohani yang liriknya berisi Bunda Maria, pesan ikonik diorama dari Bunda Maria dan juga Yesus yang masih bayi.
2. Konotasi:
Yesus adalah putra Allah yang diyakini sebagai pengantara. Bunda Maria adalah ibu biologis dari Yesus secara manusiawi. Secara kerohanian, kelahiran Yesus dari Bunda Maria merupakan pemberian dari Allah. Anak yang dikandung oleh Maria akan menjadi penyelamat bagi dunia, yaitu Yesus. Alasan dipilihnya Maria sebagai ibu kandung dari Yesus karena Maria yang suci memiliki sifat yang baik, yang diyakini oleh umat Katolik anak yang dikandung oleh Maria-pun pasti akan memiliki sifat yang baik. Maria dinikahkan dengan Yusuf sebagai pertolongan dari Tuhan kepadanya.
Mitos:
Dalam scene diatas lagu rohani dengan lirik Bunda Maria dapat dimaknai sebagai doa sebagai perantara kepada Allah. Maria sebagai ibu dari segala ibu yang dapat
untuk berdoa dengan menghadap ke diorama tersebut. Dan sebagai ibu dari segala ibu di dunia, jika berdoa dengan sungguh-sungguh maka semua ibu di dunia akan
mendengar doa tersebut.
10) Allah Tritunggal
Gambar 1
1. Denotasi:
Pesan ikonik berupa tanda salib yang dibuat sendiri dengan menggunakan tangan. Kebiasaan ini selalu dilakukan oleh umat Katolik sebelum memulai ibadah atau berdoa.
2. Konotasi :
Tanda salib yang dibentuk sendiri dengan menggunakan tangan dapat dimaknai sebagai Allah Tritunggal. Dalam setiap kebiasaan ini selalu disertai dengan
pengucapan “Atas nama Bapak, Putra, dan Roh Kudus”. Allah Tritunggal bagi umat
Katolik mengandung arti Allah yang Esa dalam tiga kepribadian yaitu Allah Bapa
dan Putra dan Roh Kudus, di mana ketiganya adalah sama esensinya, sama kedudukannnya, sama kuasanya, dan sama kemuliaannya.
Tritunggal dalam scene di atas dimaknai sama dengan makna tritunggal
sesungguhnya yaitu Tuhan yang memiliki tiga wujud yaitu Allah Bapak, Allah Putra, dan Roh Kudus. Yang kesemuanya memiliki kedudukan yang sama dan bukan berarti dibagi menjadi tiga bagian.
11) Misa
Gambar 1 Gambar 2
1. Denotasi:
Ikon berupa gambar uskup Soegija bersama pastor, suster Mariyem dan juga Lantip yang sedang mengunjungi salah satu desa untuk melakukan misa atau doa bersama. Terlihat para umat Katolik duduk bersimpuh sambil menciumi tangan yang
tersematkan cincin keuskupan di jari manis uskup Soegija.
2. Konotasi :
Misa adalah salah satu kegiatan yang rutin dilakukan oleh umat Katolik yang umumnya dilakukan pada hari Minggu. Umat Katolik berkumpul untuk melakukan doa bersama. Awalnya misa itu berupa perjamuan oleh umat Katolik.
Dalam scene di atas misa dapat dimaknai sebagai salah satu kegiatan sosial dengan mengunjungi umat Katolik pada zaman penjajahan sebagai upaya untuk memberikan masukan secara psikis dan juga bantuan berupa pengobatan kepada para korban akibat penjajahan.
12) Hidup Selibat
Gambar 1 Gambar 2
1. Denotasi:
Ikon berupa gambar beberapa biarawati dan biarawan yang memilih untuk tinggal di lingkungan sekitar Gereja dan juga pesan linguisti berupa percakapan Soegija dengan Tugimin tentang hidup separuh. Rohaniwan Katolik yang memutuskan untuk
mengabdi kepada Yesus, mayoritas memilih untuk hidup selibat.
2. Konotasi :
Hidup selibat memiliki arti hidup dengan kemiskinan, kemurnian juga taat pada pimpinan. Rohaniwan mengabdikan dirinya sepenuhnya kepada Allah untuk melayani umat seutuhnya dan mengenyampingkan kepentingan pribadinya. Mitos:
Dalam scene di atas hidup selibat dimaknai sebagai hidup, yaitu hidup separuh atau tidak sempurna, hidup yang tidak memiliki pendamping selama masa hidupnya.
Table 4.3.1 PEMAKNAAN
INDIKATOR MAKNA LAMA MAKNA BARU
• Pastor
• Jubah Rohaniwan
• Pentahbisan
Seorang imam bagi umat Katolik dan juga Kristen, yang berdiam di pastoran sekitar Gereja Paroki di bawah uskup
Pakaian yang sering digunakan oleh
rohaniwan hanya dalam ibadah-ibadah tertentu
Sakramen yang dilakukan oleh agama Katolik untuk meresmikan sesuatu atau seseorang, agar dapat diakui oleh hirearki
Digambarkan sebagai tokoh patriotik dan juga seorang motivator bagi umat Katolik pada saat itu
Pakaian yang sering digunakan oleh
rohaniwan tidak hanya dalam ibadah-ibadah tertentu tetapi juga dalam kesehariannya
Sakramen pengangakatan uskup oleh dewan uskup di wilayah yang sesuai dengan tempat uskup
• Cincin Uskup
• Berkat Perdana uskup
• Gereja
• Uskup
Katolik di seluruh dunia Cincin sakral yang digunakan oleh seorang uskupuntuk menunjukkan kewenangannya
Permohonan untuk memperoleh karunia dari Tuhan Yesus dalam setiap tindakan yang dilakukan
Bangunan yang besar dengan arsitektur yang anggun dan digunakan untuk kegiatan ibadah umat Katolik
Rohaniwan yang
Cincin sakral yang digunakan oleh seorang uskup, karena
kesakralannya itu maka umat Katolik
menghoramati uskup dengan mencium cincin tesebut
Tanda salib yang
dibentuk oleh uskup baru kepada semua umat untuk memperoleh karunia dari Tuhan Yesus
Gereja dimaknai sebagai tempat konsolidasi dan juga pengungsian bagi para umat korban
penjajahan oleh Belanda dan Jepang
• Tanda Salib
• Yesus dan Maria
• Allah Tritunggal
• Misa
memimpin Gereja di satu wilayah yang telah diakui oleh hierarki pusat
Katolik di Vatikan
Ikon berupa bentuk vertikal dan horizontal yang dipertemukan di satu titik dan biasanya diaplikasikan sebagai sarana untuk berdoa dan juga hiasan
Yesus adalah putra Allah yang lahir dari rahim Maria dalam keadaam perawan
Allah tunggal yang hadir dalam tiga wujud yaitu Bapak, Putra dan Roh Kudus
Sakramen berupa doa
tidak hanya dimaknai sebagai imam bagi umat Katolik, tetapi tokoh nasional bagi
kemerdekaan Indonesia Ikon berupa bentuk vertikal dan horizontal yang dipertemukan di satu titik dan biasanya diaplikasikan sebagai sarana untuk berdoa dan juga hiasan
Yesus adalah putra Allah yang lahir dari rahim Maria dalam keadaam perawan
Allah tunggal yang hadir dalam tiga wujud yaitu Bapak, Putra dan Roh Kudus
• Hidup Selibat
yang dilakukan di Gereja biasanya dilakukan pada hari Minggu
Kehidupan yang dilakukan dengan mengabdi sepenuhnya kepada Allah dan tidak memikirkan kesenangan duniawi
dimaknai sebagai kegiatan sosial yang dilakukan oleh uskup dengan cara memberikan bantuan secara psikis dan sejumlah pengobatan kepada umat Katolik sebagai korban pada zaman penjajahan Kehidupan yang dilakukan dengan mengabdi sepenuhnya kepada Allah dan tidak memikirkan kesenangan duniawi
4.4 Pembahasan
Dari hasil penelitian di atas, penelitian ini memfokuskan pada masalah bagaimana tanda-tanda yang terdapat dalam film Soegija. Tanda-tanda tersebut diformulasikan ke dalam bentuk pertanyaan tentang adanya unsur-unsur agama Katolik dalam film ini. Dalam penelitian digunakan penelitian semiotika dengan
menggunakan teori Roland Barthes dimana menurut Barthes penanda-penanda konotasi terjadi karena tanda-tanda sistem denotasi.
Tanda-tanda yang mengambarkan dari representasi agama Katolik dalam film ini berupa pastor yang digambarkan bukan hanya sebagai imam melainkan lebih kepada seorang motivator yang juga memiliki jiwa patriotik, Gereja yang
digambarkan pula sebagai tempat konsolidasi juga untuk menmpung umat sebagai korban penjajahan, uskup Soegija sebagai tokoh nasional yang ikut berperan dalam kemerdekaan, misa yang digambarkan sebagai kegiatan sosial, serta tanda lainnya yang memiliki makna yang sama dengan makna pada umumnya.
Dalam teorinya Roland Barthes mengatakan bahwa semiotika tidak hanya meneliti mengenai petanda dan penanda, tetapi juga hubungan yang mengikat mereka secara keseluruhan. Dalam film Soegija terdapat unsur representasi dari agama Katolik dalam beberapa peristiwa yang masih memiliki keterkaitan satu dengan yang lainnya.
Indikator-indikator yang terkait dalam penelitian ini memiliki makna-makna tersendiri yang merepresentasikan agama Katolik di dalamnya. Istilah-istilah seperti pastor, uskup, cincin uskup, dan beberapa istilah lainnya yang dapat kita dengar di dalam ajaran agama Katolik.
Roland Barthes dalam teorinya juga menyebutkan adanya bahasan ideologi dalam semiotika. Dalam film ini juga terdapat adanya upaya penyampaian ideologi yaitu gambaran dari agama Katolik itu sendiri berupa semboyan yang dicetuskan oleh uskup Soegija “100% Katolik 100% Indonesia”, meskipun film ini dikategorikan
sebagai film dokumenter dan mengangkat kisah tentang seorang tokoh nasional di Semarang.
Sedangkan berdasarkan teori kritis hegemoni Antonio Garmsci. Di balik pembuatan film Soegija yang memang diproduksi oleh SAV Puskat sebagai lembaga yang berlandaskan dari ajaran Katolik, ternyata film ini juga memperoleh dana dari umat Katolik lain yang disalurkan melalui organisasi Katolik lainnya seperti Serikat
Yesus Provinsi Indonesia.13
Film Soegija yang pada awal pembuatannya hanya ditujukan kepada umat Katolik, mengalami perubahan target audiens yaitu untuk umum. Film ini akhirnya ditayangkan di semua bioskop Indonesia. Kedekatan antara sutradara Garin Nugroho dengan G. Budi Subanar memudahkan dalam proses pembuatannya. Dikemas dengan adegan-adegan yang menggambarkan kekerasan dan penderitaan orang pribumi pada zaman penjajahan, dan dilengkapi dengan adegan-adegan lain yang menggambarkan
Dalam agama Katolik penghimpunan dana memang rutin dilakukan, sebagian besar umat Katolik selalu menyisihkan sejumlah penghasilannya ke paroki untuk kepentingan pengembangan agama Katolik, seperti pembangunan Gereja, kebutuhan hidup di lingkungan Gereja, kegiatan sosial, Lembaga pendidikan agama Katolik dan lain sebagainya. Di samping itu pula setiap lembaga-lembaga Katolik memiliki keterkaitan satu dengan lainnya di setiap wilayah. Dengan latar belakang tersebut, penulis meyakini ada upaya untuk menyampaikan ideologi agama Katolik di balik kisah nasional dari zaman penjajahan itu sendiri.
nilai dari ajaran agama Katolik, film nasionalis ini berhasil menggambarkan tokoh Soegija sebagai tokoh agama dan juga tokoh nasional.
SAV Puskat berupaya untuk menghasilkan karya-karya yang selalu dilatarbelakangi dengan nilai dari agama Katolik, maka dapat didefinisikan SAV Puskat memiliki upaya untuk menyampaikan pesan berupa ideologi agama Katolik tidak hanya kepada umat Katolik melainkan seluruh umat manusia yang salah
satunya melalui film ini.14
14