• Tidak ada hasil yang ditemukan

IMPLEMENTASI MODEL PEMBANGUNAN PERDESAAN DALAM PENINGKATAN PEMBANGUNAN DESA TERTINGGAL. Ode Sofyan Hardi, S.Pd., M.Si., M.

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "IMPLEMENTASI MODEL PEMBANGUNAN PERDESAAN DALAM PENINGKATAN PEMBANGUNAN DESA TERTINGGAL. Ode Sofyan Hardi, S.Pd., M.Si., M."

Copied!
14
0
0

Teks penuh

(1)

IMPLEMENTASI MODEL PEMBANGUNAN PERDESAAN DALAM PENINGKATAN PEMBANGUNAN DESA TERTINGGAL

Ode Sofyan Hardi, S.Pd., M.Si., M.Pd *)

Abstrak

Desa diartikan suatu tempat daerah di mana penduduk berkumpul dan hidup bersama, menggunakan lingkungan setempat, untuk mempertahankan, melangsungkan dan mengembangkan kehidupan mereka. Desa adalah pola permukiman yang bersifat dinamis, di mana para penghuninya senantiasa melakukan adaptasi spasial dan ekologis sederap kegiatannya berpangupajiwa agraris. Desa dalam arti administratif, adalah suatu kesatuan hukum di mana sekelompok masyarakat bertempat tinggal dan mengadakan pemerintahan sendiri. Desa di Jawa, mulanya dihuni orang seketurunan. Mereka memiliki nenek moyang sama, yaitu para cikal bakal pendiri permukiman tersebut. Indonesia menurut Survei Sosial Ekonomi Nasional (SUSENAS) 2002 dan data Keuangan Kabupaten 2004 dari Departemen Keuangan. Berdasarkan pendekatan tersebut, maka ditetapkan 199 kabupaten yang dikategorikan kabupaten tertinggal, berbagai model pembangunan sudah digulirkan maka dalam hal ini seberapa efektifkah suatu model pembengunan tersebut, oleh karena itu bagaimana mengoiptimalisasikan 3 pilar pembengunan berkelanjutan yang dianggap sesuai di semua daerah di seluruh wilayah Indonesia. Tiga pilar tersebut adalah mengoptimalisasikan dan mensinergikan unsur ekonomi,sosial dan lingkungan. Berdasarkan konsep pembangunan berkelanjutan tersebut, maka indikator pembangunan berkelanjutan tidak akan terlepas dari aspek-aspek tersebut diatas, yaitu aspek-aspek ekonomi, ekologi/lingkungan, sosial, politik, dan budaya. Pembangunan yang berkelanjutan terdapat aspek keberlanjutan yang perlu diperhatikan, yaitu: Keberlanjutan Ekologis; Keberlanjutan di Bidang Ekonomi; Keberlanjutan Sosial dan Budaya; Keberlanjutan Politik dan Keberlanjutan Pertahanan Keamanan. Terdapat enam tolok ukur pembangunan berkelanjutan secara sederhana yang dapat digunakan baik untuk pemerintah pusat maupun didaerah untuk menilai keberhasilan seorang Kepala Pemerintahan dalam pelaksanaan proses pembangunan berkelanjutan. Keenam tolok ukur itu meliputi: Pro Ekonomi Kesejahteraan; Pro Lingkungan Berkelanjutan; Pro Keadilan Sosial, yang didalamnya pro lingkungan hidup; pro rakyat miskin;pro kesetaraan jender; pro penciptaan lapangan kerja; pro dengan bentuk negara kesatuan Republik Indonesia dan harus anti korupsi, kolusi serta nepotisme.

(2)

A. Rasionalisasi

rti sebuah desa menurut BPS adalah satuan wilayah yang ditempati oleh sejumlah penduduk sebagai kesatuan masyarakat, termasuk di dalamnya kesatuan masyarakat hukum yang mempunyai organisasi pemerintahan terendah dan langsung di bawah camat, serta berhak menyelenggarakan rumah tangga sendiri dalam ikatan negara kesatuan Republik Indonesia. Ciri utama desa adalah kepala desanya dipilih oleh masyarakat setempat. Desa adalah bentuk kesatuan administratif yang disebut kelurahan. Lurahnya kepala desa. Dalam lingkup kota yang dipenuhi pertokoan, pasar dan deretan kios, juga ada desa, seperti desa Kalicacing di kota Salatiga. Desa di luar kota dengan lingkungan fisisbiotisnya, adalah gabungan dukuh. Dukuh mewujudkan unit geografis yang tersebar seperti pulau di tengah persawahan atau hutan.Dukuh di Jawa Barat disebut kampung. Gampong di Aceh, huta di Tapanuli, nagari di Sumatera Barat, marga di Sumatera Selatan, wanus di Sulawesi Utara, dan dusun dati di Maluku. Desa menurut definisi Bintarto, adalah perwujudan geografis yang ditimbulkan oleh unsure-unsur geografis, sosial,

ekonomi, politik dan kultural yang ada di sana dalam hubungannya dan pengaruh timbal balik dengan daerah-daerah lain.

Desa dalam definisi lainnya, adalah suatu tempat daerah di mana penduduk berkumpul dan hidup bersama, menggunakan lingkungan setempat, untuk mempertahankan, melangsungkan dan mengembangkan kehidupan mereka. Desa adalah pola permukiman yang bersifat dinamis, di mana para penghuninya senantiasa melakukan adaptasi spasial dan ekologis sederap kegiatannya berpangupajiwa agraris. Desa dalam arti administratif, adalah suatu kesatuan hukum di mana sekelompok masyarakat bertempat tinggal dan mengadakan pemerintahan sendiri. Desa di Jawa, mulanya dihuni orang seketurunan. Mereka memiliki nenek moyang sama, yaitu para cikal bakal pendiri permukiman tersebut. Jika desa sudah penuh, masalah-masalah ekonomi bermunculan. Beberapa keluarga keluarga keluar dan mendirikan permukiman baru dengan cara membuka hutan. Tindakan ini disebut tetruka. Di Tapanuli, pembukaan desa baru, sebagian karena kelompok baru ingin mencapai hak dan kewajiban sebagai raja adat, atau

(3)

tanah desa tak memadai lagi untuk menghidupi penghuninya.

Desa memiliki setting geografis dan sumber daya manusia yang berbeda-beda. Ada desa yang dikarunia alam yang kaya, namun semangat membangun, ketrampilan dan pengetahuan masyarakat serba kurang, sehingga tidak maju. Ada pula desa yang sumber alamnya terbatas, tetapi ekonominya maju, berkat kemampuan penduduknya mengatasi berbagai hambatan alam. Sehubungan dengan ini, ada 4 unsur geografis yang turut menentukan persebaran desa, yaitu : lokasi, iklim, tanah dan air.

1. Lokasi, menyangkut letak fisiografis, misalnya ; jauh dekatnya dengan jalan raya, sungai, rawa, pegunungan, pantai, kota, dsb, yang mempengaruhi ekonomi desa, kemajuan budaya, pendidikan. Contohnya, persebaran desa-desa di wilayah kecamatan Batu, Malang. Desa-desa ini menempati wilayah vulkanis yang tersebar di sekitar puncak gunung. Batas alam hampir berhimpit dengan batas administrasi. Kondisi fisiografis (topografi, iklim, vegetasi) cocok untuk agrowisata. Sungai Brantas di hulu memiliki banyak cabang sehingga baik untuk pertanian sayur, bunga dan budi daya pekarangan.

2. Iklim desa (tipe iklim), tergantung letak topografi desa atau dapat dipengaruhi oleh aspef-fisik lainny dan juga faktor letak suatu daerah berdasarkan astronomis dan geografis.

3. Tanah, misalnya tanah berkapur, berpasir, berlempung, bertanah liat, dan sebagainya, mempengaruhi keberhasilan pertanian. Tebu, tembakau, karet, coklat, teh, kopi, dan sebagainya, dibudidayakan menjadi perkebunan dengan modal teknologi dan perencanaan yang tepat.

Ciri wilayah desa, bentuk & polanya menurut Bintarto (1977), perbandingan lahan

1. Bentuk desa menyusur sepanjang pantai (desa pantai).Di daerah pantai yang landai dapat tumbuh permukiman yang bermatapencarian di bidang perikanan, perkebunan kelapa dan perdagangan. Perluasan desa pantai itu dengan cara menyambung sepanjang pesisir, sampai bertemu dengan desa pantai lainnya. Pusat2 kegiatan industri kecil (perikanan, pertanian) tetap dipertahankan di dekat tempat tinggal semula.

2. Bentuk desa yang terpusat (desa pegunungan).Terdapat di daerah pegunungan. Pemusatan tsb didorong kegotongroyongan penduduknya.

(4)

Pertambahan penduduk memekarkan desa pegunungan itu ke segala arah, tanpa rencana. Pusat-pusat kegiatan penduduk bergeser mengikuti pemekaran desa.

3. Bentuk desa linier di dataran rendah. Permukiman penduduk di sini umumnya memanjang sejajar dengan jalan raya yang menembus desa tsb. Jika desa mekar secara alami, tanah pertanian di luar desa sepanjang jalan raya menjadi permukiman baru. Ada kalanya pemekaran ke arah dalam (di belakang perrmukiman lama). Lalu dibuat jalan raya mengelilingi desa (ring road) agar permukiman baru tak terpencil.

4. Bentuk desa mengelilingi fasilitas tertentu. Fasilitas yang dimaksud, misalnya, mata air, waduk, lapangan terbang, dll. Arah pemekaran ke segala arah, sedangkan fasilitas industri kecil tersebar di mana pun sesuai kebutuhan.

Bentuk-bentuk desa tersebut diatas bertalian erat dengan usaha pengembangan dan penggalian sumber dayanya secara optimal. Dengan cara bijaksana, perkembangan permukiman harus direncanakan secara khusus, sehingga terjamin wajah permukiman yang baik dan menguntungkan. Di samping

bentuk desa, Bintarto menyatakan ada 6 pola desa ; memanjang jalan, memanjang sungai, radial, tersebar, memanjang pantai, memanjang pantai dan sejajar jalan kereta api. Daerah Bantul, Yogyakarta merupakan

line village (pola desa memanjang jalan).

Permukiman di sekitar Gunung Slamet dan sungai di lerengnya membentuk desa berpola radial. Pola desa di daerah karst Gunung Kidul, Yogyakarta adalah tersebar. Permukiman di daerah Rengasdengklok, Jawa Barat dan Tegal membentuk desa berpola memanjang (desa nelayan) dan sejajar rel kereta api.

Daerah tertinggal menurut Direktorat Kawasan Khusus dan Daerah Tertinggal, Kedeputian Bidang Pengembangan Regional dan Otonomi Daerah, Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional, Badan Perencanaan Pembangunan Nasional adalah daerah Kabupaten yang relatif kurang berkembang dibandingkan daerah lain dalam skala nasional, dan berpenduduk yang relatif tertinggal. Pembangunan daerah tertinggal merupakan upaya terencana untuk mengubah suatu daerah yang dihuni oleh komunitas dengan berbagai permasalahan sosial ekonomi dan keterbatasan fisik, menjadi daerah yang maju dengan komunitas yang kualitas hidupnya sama

(5)

atau tidak jauh tertinggal dibandingkan dengan masyarakat Indonesia lainnya. Pembangunan daerah tertinggal ini berbeda dengan penanggulangan kemiskinan dalam hal cakupan pembangunannya. Pembangunan daerah tertinggal tidak hanya meliputi aspek ekonomi, tetapi juga aspek sosial, budaya, dan keamanan (bahkan menyangkut hubungan antara daerah tertinggal dengan daerah maju). Di samping itu kesejahteraan kelompok masyarakat yang hidup di daerah tertinggal memerlukan perhatian dan keberpihakan yang besar dari pemerintah.

Berdasarkan hal tersebut di atas, diperlukan program pembangunan daerah tertinggal yang lebih difokuskan pada percepatan pembangunan di daerah yang kondisi sosial, budaya, ekonomi, keuangan daerah, aksesibilitas, serta ketersediaan infrastruktur masih tertinggal dibanding dengan daerah lainnya. Kondisi tersebut pada umumnya terdapat pada daerah yang secara geografis terisolir dan terpencil seperti daerah perbatasan antarnegara, daerah pulau-pulau kecil, daerah pedalaman, serta daerah rawan bencana. Di samping itu, perlu perhatian khusus pada daerah yang secara ekonomi mempunyai potensi untuk maju namun

mengalami ketertinggalan sebagai akibat terjadinya konflik sosial maupun politik.

B. Tujuan

Terkait dengan pembangunan desa (rural development), secara tradisional, bahwa pembangunan desa mempunyai tujuan untuk pertumbuhan sektor pertanian, dan integrasi Nasional, yaitu membawa seluruh penduduk suatu negara ke dalam pola utama kehidupan yang sesuai, serta menciptakan keadilan ekonomi berupa bagaimana pendapatan itu didistribusikan kepada seluruh penduduk, pembangunan desa diarahkan kepada bagaimana mengubah sumber daya alam dan sumber daya manusia suatu wilayah atau Negara, sehingga berguna dalam produksi barang dan melaksanakan pertumbuhan ekonomi, modernisasi dan perbaikan dalam tingkat produksi barang (materi) dan konsumsi.

Pembangunan perdesaan diarahkan untuk menghilangkan atau mengurangi berbagai hambatan dalam kehidupan sosial ekonomi, seperti kurang pengetahuan dan keterampilan, kurang kesempatan kerja, dan sebagainya. Akibat berbagai hambatan tersebut, penduduk wilayah pedesaan umumnya miskin, Sasaran dari program pembangunan pedesaan adalah meningkatkan kehidupan

(6)

sosial dan kehidupan ekonomi masyarakat desa, sehingga mereka memperoleh tingkat kepuasan dalam pemenuhan kebutuhan material dan spiritual

C. Bahasan

Pembangunan berkelanjutan adalah terjemahan dari Bahasa Inggris,

sustainable development. Istilah pembangunan berkelanjutan diperkenalkan dalam World Conservation Strategy

(Strategi Konservasi Dunia) yang diterbitkan oleh United Nations

Environment Programme (UNEP),

International Union for Conservation of Nature and Natural Resources (IUCN), dan World Wide Fund for Nature (WWF) pada

1980. Pada 1982, UNEP

menyelenggarakan sidang istimewa memperingati 10 tahun gerakan lingkungan dunia (1972-1982) di Nairobi, Kenya, sebagai reaksi ketidakpuasan atas penanganan lingkungan selama ini. Pembangunan berkelanjutan adalah proses pembangunan (lahan, desa, kota, bisnis, masyarakat, dan sebagainya) yang berprinsip “memenuhi kebutuhan sekarang tanpa mengorbankan pemenuhan kebutuhan generasi masa depan”. Salah satu faktor yang harus dihadapi untuk mencapai pembangunan berkelanjutan.

Faktor Penyebab Suatu daerah dikategorikan sebagai daerah tertinggal, karena beberapa faktor penyebab, antara lain :

1. Geografis. Umumnya secara geografis daerah tertinggal relatif sulit dijangkau karena letaknya yang jauh di pedalaman, perbukitan/pegunungan, kepulauan, pesisir, dan pulau-pulau terpencil atau karena faktor geomorfologis lainnya sehingga sulit dijangkau oleh jaringan baik transportasi maupun media komunikasi.

2. Sumberdaya Alam. Beberapa daerah tertinggal tidak memiliki potensi sumberdaya alam, daerah yang memiliki sumberdaya alam yang besar namun lingkungan sekitarnya merupakan daerah yang dilindungi atau tidak dapat dieksploitasi, dan daerah tertinggal akibat pemanfaatan sumberdaya alam yang berlebihan. 3. Sumberdaya Manusia. Pada umumnya

masyarakat di daerah tertinggal mempunyai tingkat pendidikan, pengetahuan, dan keterampilan yang relatif rendah serta kelembagaan adat yang belum berkembang.

4. Prasarana dan Sarana. Keterbatasan prasarana dan sarana komunikasi, transportasi, air bersih, irigasi,

(7)

kesehatan, pendidikan, dan pelayanan lainnya yang menyebabkan masyarakat di daerah tertinggal tersebut mengalami kesulitan untuk melakukan aktivitas ekonomi dan sosial.

5. Daerah Rawan Bencana dan Konflik Sosial. Seringnya suatu daerah mengalami bencana alam dan konflik sosial dapat menyebabkan terganggunya kegiatan pembangunan sosial dan ekonomi.

6. Kebijakan Pembangunan. Suatu daerah menjadi tertinggal dapat disebabkan oleh beberapa kebijakan yang tidak tepat seperti kurang memihak pada pembangunan daerah tertinggal, kesalahan pendekatan dan prioritas pembangunan, serta tidak dilibatkannya kelembagaan masyarakat adat dalam perencanaan dan pembangunan.

Kriteria Penetapan Daerah Tertinggal di wilayah Indonesia adalah melalui unit terkecil daerah tertinggal yang digunakan dalam Strategi Nasional ini adalah wilayah administrasi Kabupaten. Hal ini sesuai dengan kewenangan otonomi daerah yang secara penuh diberikan kepada pemerintah Kabupaten. Penetapan kriteria daerah tertinggal dilakukan dengan menggunakan

pendekatan berdasarkan pada perhitungan 6 (enam) kriteria dasar yaitu :

1. Strategi, Strategi pembangunan daerah tertinggal disesuaikan dengan kebutuhan dan kondisi masing-masing daerah. Strategi dimaksud meliputi: 2. Pengembangan ekonomi lokal, strategi

ini diarahkan untuk mengembangkan ekonomi daerah tertinggal dengan didasarkan pada pendayagunaan potensi sumberdaya lokal (sumberdaya manusia, sumberdaya kelembagaan, serta sumberdaya fisik) yang dimiliki masing-masing daerah, oleh pemerintah dan masyarakat, melalui pemerintah daerah maupun kelompok-kelompok kelembagaan berbasis masyarakat yang ada.

3. Pemberdayaan Masyarakat, strategi ini diarahkan untuk meningkatkan kemampuan masyarakat untuk berperan aktif dalam kegiatan sosial, budaya, ekonomi, dan politik

4. Perluasan Kesempatan, strategi ini diarahkan untuk membuka keterisolasian daerah tertinggal agar mempunyai keterkaitan dengan daerah maju

5. Peningkatan Kapasitas, strategi ini diarahkan untuk meningkatkan kapasitas kelembagaan dan

(8)

sumberdaya manusia pemerintah dan masyarakat di daerah tertinggal.

6. Peningkatan Mitigasi, Rehabilitasi dan Peningkatan, strategi ini diarahkan untuk mengurangi resiko dan memulihkan dampak kerusakan yang diakibatkan oleh konflik dan bencana alam serta berbagai aspek dalam wilayah perbatasan.

Ketimpangan kegiatan ekonomi antara perdesaan dan perkotaan masih menjadi problematika pembangunan saat ini. Dalam upaya mempercepat pembangunan perdesaan, perlu diamati apakah intervensi yang dilakukan baik oleh pemerintah, swasta maupun masyarakat terutama untuk meningkatkan pelayanan publik (seperti pendidikan, kesehatan, dan transportasi) bagi masyarakat perdesaan. Prinsip berkeadilan ekonomi ditelusuri kepentingannya dalam ketimpangan kota desa masih tergolong baru. Prinsip ini sendiri diturunkan dari prinsip berkeadilan lingkungan (environmental justice) dimana isu ras, etnis menentukan apakah suatu wilayah akan mendapatkan dampak negatif sementara dampak positif dirasakan di daerah lainnya. Di Indonesia, wilayah tertinggal yang tercatat akan dipercepat pembangunannya berlokasi di perdesaan. Ketidakadilan dalam pelayanan publik ini secara tidak langsung berakibat pada

ketidakadilan ekonomi. Dalam semangat untuk mendorong percepatan pembangunan di wilayah perdesaan, maka penelitian ini mendukung adanya introduksi konsep atau prinsip yang harus menggeser keberpihakan, dari perkotaan (urban

centered) menjadi perdesaan, yang terutama akan memberi dampak pada pembangunan pelayanan publik. Penelitian ini akan menitikberatkan pada realitas di lapangan, untuk menunjukkan bagaimana prinsip kesetaraan dan berkeadilan ekonomi telah berjalan dalam konteks pembangunan perdesaan. Lebih lanjut akan dikenali pola, struktur dan orientasi dari pelayanan publik di perdesaan. Pelayanan publik tersebut akan berupa di sektor kesehatan, pendidikan dan penggunaan infrastruktur. Penelitian ini akan memadukan antara pendekatan kuantitatif dan pendekatan kualitatif. Pendekatan kuantitatif menitikberatkan pada operasi statistik untuk mengenali karakteristik dan pola pemanfaatan sumber daya, pelayanan publik di perdesaan.

Konsep Pembangunan

Berkelanjutan ini kemudian dipopulerkan melalui laporan WCED berjudul “Our

Common Future” (Hari Depan Kita

Bersama) yang diterbitkan pada 1987. Laporan ini mendefinisikan Pembangunan Berkelanjutan sebagai pembangunan yang

(9)

memenuhi kebutuhan generasi saat ini tanpa mengurangi kemampuan generasi mendatang untuk memenuhi kebutuhan mereka sendiri. Di dalam konsep tersebut terkandung dua gagasan penting. Pertama, gagasan kebutuhan, khususnya kebutuhan esensial kaum miskin sedunia yang harus diberi prioritas utama. Kedua, gagasan keterbatasan, yang bersumber pada kondisi teknologi dan organisasi sosial terhadap kemampuan lingkungan untuk memenuhi kebututuhan kini dan hari depan. Tujuan pembangunan ekonomi dan sosial harus dituangkan dalam gagasan keberlanjutan di semua negara, baik negara maju maupun negara berkembang. Pembangunan berkelanjutan adalah suatu cara pandang mengenai kegiatan yang dilakukan secara sistematis dan terencana dalam kerangka peningkatan kesejahteraan, kualitas kehidupan dan lingkungan umat manusia tanpa mengurangi akses dan kesempatan kepada generasi yang akan dating untuk menikmati dan memanfaatkannya. Dalam proses pembangunan berkelanjutan terdapat proses perubahan yang terencana, yang didalamnya terdapat eksploitasi sumber daya, arah investasi orientasi pengembangan teknologi, dan perubahan kelembagaan yang kesemuanya ini dalam keadaan yang

selaras, sertameningkatkan potensi masa kini dan masa depan untuk memenuhi kebutuhan dan aspirasi masyarakat. Pembangunan berkelanjutan tidak saja berkonsentrasi pada isu-isu lingkungan. Lebih luas dari itu, pembangunan berkelanjutan mencakup tiga lingkup kebijakan: pembangunan ekonomi, pembangunan sosial dan perlindungan lingkungan yang lebih dikenal dengan 3 Pilar Pembangunan berkelanjutan). Dokumen-dokumen PBB, terutama dokumen hasil World Summit 2005 menyebut ketiga pilar tersebut saling terkait dan merupakan pilar pendorong bagi pembangunan berkelanjutan. Idealnya, ketiga hal tersebut dapat berjalan bersama-sama dan menjadi fokus pendorong dalam pembangunan berkelanjutan. Selanjutnya pada era pembangunan berkelanjutan saat ini ada 3 tahapan yang dilalui oleh setiap Negara. Pada setiap tahap, tujuan pembangunan adalah pertumbuhan ekonomi namun dengan dasar pertimbangan aspek-aspek yang semakin komprehensif dalam tiap tahapannya. Tahap pertama dasar pertimbangannya hanya pada keseimbangan ekologi. Tahap kedua dasar pertimbangannya harus telah memasukkan pula aspek keadilan sosial. Tahap ketiga, semestinya dasar pertimbangan dalam pembangunan

(10)

mencakup pula aspek aspirasi politis dan sosial budaya dari masyarakat setempat. Tahapan-tahapan ini digambarkan sebagai

evolusi konsep pembangunan berkelanjutan.

(11)

Dalam suatu proses pembangunan berkelanjutan haruslah diperhatihan hal-hal sebagai berikut seperti cara berpikir yang integratif. Dalam konteks ini, pembangunan haruslah melihat keterkaitan fungsional dari kompleksitas antara sistem alam, sistem sosial dan manusia di dalam merencanakan, mengorganisasikan maupun melaksanakan pembangunan tersebut. Pembangunan berkelanjutan harus dilihat dalam perspektif jangka panjang. Hingga saat ini yang banyak mendominasi pemikiran para pengambil keputusan dalam pembangunan adalah kerangka pikir jangka pendek, yang ingin cepat mendapatkan hasil dari proses pembangunan yang dilaksanakan. Kondisi ini sering kali membuat keputusan yang tidak memperhitungkan akibat dan implikasi pada jangka panjang, seperti misalnya potensi kerusakan hutan yang telah mencapai 3,5 juta Ha/tahun, banjir yang semakin sering melanda dan dampaknya yang semakin luas, krisis energi (karena saat ini kita telah menjadi nett importir minyak tanpa pernah melakukan langkah diversifi kasi yang maksimal ketika masih dalam kondisi surplus energi), moda transportasi yang tidak berkembang, kemiskinan yang sulit untuk diturunkan, dan seterusnya. Mempertimbangkan mega biodiversitas, untuk memastikan bahwa

berkelanjutan untuk masa kini dan masa mendatang, tak kalah pentingnya adalah juga pengakuan dan perawatan keanekaragaman budaya yang akan mendorong perlakukan yang merata terhadap berbagai tradisi masyarakat sehingga dapat lebih dimengerti oleh masyarakat. Distribusi keadilan sosial ekonomi. Dalam konteks ini dapat dikatakan pembangunan berkelanjutan menjamin adanya pemerataan dan keadilan sosial yang ditandai dengan meratanya sumber daya lahan dan faktor produksi yang lain, lebih meratanya akses peran dan kesempatan kepada setiap warga masyarakat, serta lebih adilnya distribusi kesejahteraan melalui pemerataan ekonomi.

Berdasarkan konsep

pembangunan berkelanjutan tersebut, maka indikator pembangunan berkelanjutan tidak akan terlepas dari aspek-aspek tersebut diatas, yaitu aspek ekonomi, ekologi dan lingkungan, sosial, politik, dan budaya. Pembangunan yang berkelanjutan terdapat aspek keberlanjutan yang perlu diperhatikan, yaitu: keberlanjutan dalam bidang ekologis; keberlanjutan dalam bidang ekonomi; keberlanjutan dalam bidang sosial dan budaya; keberlanjutan dalam bidang politik dan keberlanjutan dalam bidang pertahanan keamanan.

(12)

berkelanjutan secara sederhana yang dapat digunakan baik untuk pemerintah pusat maupun di daerah untuk menilai keberhasilan seorang Kepala Pemerintahan dalam pelaksanaan proses pembangunan berkelanjutan. Keenam tolok ukur itu meliputi: pro ekonomi kesejahteraan, pro lingkungan berkelanjutan, pro keadilan sosial, yang didalamnya pro lingkungan hidup, pro rakyat miskin, pro kesetaraan jender, pro penciptaan lapangan kerja, pro dengan bentuk negara kesatuan Republik Indonesia dan harus anti korupsi, kolusi serta nepotisme. Syarat-syarat tersebut secara umum terbagi dalam 3 indikator utama, yaitu:

1. Pro Ekonomi Kesejahteraan, maksudnya adalah pertumbuhan ekonomi ditujukan untuk kesejahteraan semua anggota masyarakat, pemberdayaan masyarakat secara kualitatif dan pemberdayaan secara kualitatif yang bersinergi dan jiga dapat dicapai melalui teknologi inovatif yang ramah dengan lingkungan.

2. Pro Lingkungan Berkelanjutan, maksudnya etika lingkungan non antroposentris yang menjadi pedoman hidup masyarakat, sehingga mereka selalu mengupayakan kelestarian dan keseimbangan lingkungan, konservasi

mengutamakan peningkatan kualitas hidup non material. Pembangunan lingkungan yang selaras denganpembangunan ekonomi, sehingga tidak selalu dalam pembangunan yang di sampingkan adalah faktor ekonomi yang berujung kerusakan lingkungan.

3. Pro Keadilan Sosial, maksudnya adalah keadilan dan kesetaraan akses terhadap sumberdaya alam dan pelayanan publik, menghargai diversitas budaya dan kesetaraan jender. Serta pemberdayaan kaum perempuan dalam pembangunan dan juga perberdayaan remaja sehingga unsur-unsur out migration dari penduduk dapat diminimalisir, seperti membuka lapangan kerja di perdesaan secara mandiri.

D. Kesimpulan

Optimalisasi 3 pilar pembangunan pedesaan akan menjadi acuan keberhasilan pembanguna desa jika semua pilar tersebut

berjalan bersinergi dan

berkesesuainandengan segala sumberdaya yang ada pada suatu desa tersebut. Keberhasilan pembangunan desa khususnya desa tertinggal sangat dipengaruhi oleh cara pandang level pemerintah, baik pusat, provinsi maupun

(13)

hakekatnya merupakan pengakuan dan penghargaan dari semua pihak terhadap pemerintahan dan masyarakat desa dalam upayanya mencapai harapan dengan potensi, dan kekhasannya sendiri sehingga desa seyogyanya menjadi prioritas utama pembangunan dari semua level pemerintahan. Keberhasilan pembangunan desa akan memberikan kontribusi yang signifikan terhadap keberhasilan pembangunan secara nasional, provinsional dan kabupaten/kota.

E. Sumber Rujukan

Adams, W. M., 2006, The Future of Sustainability: Re-thinking Environment and Development in the Twenty-first Century, Report of the IUCN Renowned Thinkers Meeting, 29-31 January 2006, Department of Geography, University of Cambridge, United Kingdom.

Baiquni, M dan Susilawardani, 2002. Pembangunan yang tidak Berkelanjutan, Refleksi Kritis

Pembangunan Indonesia. Transmedia Global Wacana, Yogyakarta.

Hadi, Sudharto P., 2005, Dimensi Lingkungan Perencanaan Pembangunan, Cet. II, Gadjah Mada University Press, Yogyakarta.

Kantor Menteri Negara Lingkungan Hidup, 1997. Agenda 21 Indonesia, Strategi Nasional untuk Pembangunan Berkelanjutan, Kantor Menteri Negara Lingkungan Hidup, Jakarta.

Marfai, M.A. 2005. Moralitas Lingkungan, Wahana Hijau, Yogyakarta Pemerintah Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta, 2002. Rencana Strategis Pengelolaan Lingkungan Hidup Daerah Istimewa Yogyakarta. Pemda Propinsi DI Yogyakarta.

Slaymaker, O and Spencer, T., 1998. Physical Geography and Global Environmental Change.Addison Wesley Longman Limited, Edinburh Gate, Harlow.

Miller. G.T. Jr. 1995. Environmental Science Sustaining the Earth. Wadsworth Publishing Co.Belmont.

(14)

Referensi

Dokumen terkait

Kepribadianpun memiliki beberapa unsur yang dimiliki dalam konsep kepribadian tersebut, yakni : pengetahuan, perasaan , dan dorongan naluri (Koentjaraningrat. Cosplayer

Gaya kepemimp inan kewirausahaan dan efektivitas komunikasi secara simultan memiliki hubungan yang kuat dan memiliki pengaruh yang signifikan terhadap kinerja karyawan

(sepotong rotan), rabayang (tombak bersayap/sejenis tri sula). Jari telunjuk mereka menunjuk ke atas sebagai tanda bahwa mereka berdua bersaksi kepada Ranying Hatalla

Bagaimana setelah anda mengetahui kiat-kiat cara menjadi orang sukses tentunya anda sekarang sudah memiliki gambaran bukan tentang langkah yang ingin anda capai

Nilai Original Sample adalah positif yaitu 0.186 yang menunjukkan bahwa terdapat hubungan positif dan signifikan antara Karakteristik pekerjaan dengan Intensi

[r]

Agroforestri adalah sistem kombinasi lahan yang mengkombinasikan tanaman kayu (pepohonan, perdu, bambu, rotan dan lainnya) dengan tanaman tidak berkayu atau dapat

Kesimpulan: 1) Sebagian besar keluarga yang membawa anggota keluarga berkunjung berobat memiliki beban keluarga sebanyak 47 orang (58,8%). 2) Sebagian besar keluarga