• Tidak ada hasil yang ditemukan

RINGKASAN DESERTASI A. Latar Belakang Masalah

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "RINGKASAN DESERTASI A. Latar Belakang Masalah"

Copied!
34
0
0

Teks penuh

(1)

x

RINGKASAN DESERTASI

A. Latar Belakang Masalah

Pembukaan UUD Negara Republik Indonesia 1945 secara tegas menggariskan bahwa pokok-pokok pikiran yang terkandung di dalam pembukaan adalah mewujudkan “cita hukum” (rechtsidee), yang tidak lain adalah Pancasila...Cita hukum dapat dipahami sebagai konstruksi pikiran yang merupakan keharusan untuk mengarahkan pada cita-cita yang diinginkan masyarakat. Disini tampak jelas bahwa Pancasila sebagai rechsidee sangat memperhatikan harapan dan cita-cita masyarakat. Tidak terkecuali Lingkungan hidup yang baik dan sehat merupakan hak warga negara Indonesia, yang ketentuannya diatur dalam Pasal 28 H Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. Lingkungan hidup merupakan sumber daya alam yang dibutuhkan manusia dalam memenuhi kebutuhan hidupnya. Dalam memenuhi kebutuhannya manusia tidak lepas dari pembangunan, baik itu pembangunan fisik, maupun pembangunan non fisik. Untuk pembangunan fisik, seringkali dalam pelaksanaannya terjadi persoalan yang melibatkan permasalahan sosial dan lingkungan. Permasalahan sosial dan lingkungan hidup menjadikan proyek pembangunan PLTU yang diharapkan bisa menyuplai listrik di Pulau Jawa dan Bali, jadi tertunda. Bagi masyarakat yang sedang membangun, hukum selalu dikaitkan dengan usaha-usaha untuk meningkatkan taraf kehidupan masyarakat kearah yang lebih baik. Menghadapi keadaan yang demikian maka peranan hukum semakin menjadi penting dalam mewujudkan itu. Fungsi hukum tidak cukup hanya sebagai kontrol sosial, melainkan lebih dari itu. Fungsi hukum yang diharapkan dewasa ini adalah melakukan usaha untuk menggerakkan rakyat agar bertingkah laku sesuai dengan cara- cara baru untuk mencapai suatu tujuan yang dicita-citakan. Pembangunan yang dilakukan oleh bangsa Indonesia bertujuan untuk meningkatkan kesejahterahan dan mutu hidup rakyat.

Pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) 2 X 1000 MW di Desa Ujung Negoro, Karanggeneng (Kecamatan Kandeman), dan Ponowareng (Kecamatan Tulis) yang rencananya sudah dilaksanakan mulai tahun 2011, sejak dimenangkan tendernya oleh J. Power, Itochu dan Adaro yang kemudian membentuk PT. Bhimasena Power Indonesia, yang diperkirakan mulai beroperasi pada tahun 2016, mengalami berbagai hambatan, sehingga mundur dari schedule yang sudah ditetapkan. Keterlambatan ini disebabkan karena pembebasan tanah yang dilakukan oleh PT. Bhimasena Power Indonesia mengalami kendala berupa penolakan dari masyarakat untuk menjual tanahnya guna kepentingan Proyek Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) di Kabupaten Batang.

Praktek perencanaan pembangunan proyek PLTU ini pada kenyataannya banyak menemui berbagai kendala. Setelah ijin diberikan kepada pihak investor, tanpa adanya koordinasi dan tanpa sepengetahuan pemerintah daerah setempat langsung terjun kelokasi dengan membawa berbagai peralatan survei seperti peta lokasi, alat-alat berat, datang ke warga secara langsung bermaksud membeli tanah tanah rakyat dan lain-lain kegiatan

(2)

xi

diluar sepengetahuan pemerintah daerah. Pendekatan langsung yang dilakukan oleh investor tanpa peran aparatur pemerintahan setempat pada akhirnya hanya menuai konflik dan berdampak pada tertundanya mega proyek PLTU di Kabupaten Batang. Warga membutuhkan pendekatan yang dekat dengan budaya setempat dengan penjelasan yang rasional terhadap dampak proyek PLTU. Tata cara kearifan lokal yang masih lekat dengan warga desa sekitar area rencana pembangunan proyek PLTU membuat warga tidak bisa menerima model-model pendekatan yang langsung dan to the point. Padahal sosialisasi ini sudah dimulai sejak 2011 namun dinilai tidak efektif untuk melunakkan hati masyarakat. Sosialisasi yang dilakukan sebelumnya, investor datang ke masyarakat dan langsung menetapkan harga tanahnya membuat warga ketakutan dan menutup diri dari pihak luar yang tidak dikenal. Sejumlah warga menolak pembangunan PLTU dengan alasan karena proyek tersebut merusak lingkungan dan sebagian lainnya mengaku kehilangan mata pencahariannya sebagai petani penggarap. Sumber daya alam yang ada di desa Ujung Negoro, Karanggeneng, Ponowareng dan sekitarnya merupakan daya dukung yang memberikan kehidupan masyarakat setempat dalam memenuhi kebutuhan sehari-harinya. Mulai dari bertani, mencari ikan di laut, dan segala aktivitas nya. Kondisi desa yang masih hijau, asri dan juga persawahan yang produktif, membuat beberapa warga cukup berat menjual tanahnya.

Pembangunan dengan argumentasi untuk memberi kesejahterahan terhadap masyarakat, termasuk masyarakat adat, justru seringkali dilakukan dengan mengorbankan nilai-nilai kearifan lokal yang masih terpelihara...Pembangunan yang hanya dilakukan dengan memandangnya dari sisi ekonomi jangka pendek telah mengorbankan aspek-aspek kelestarian...perlu ditanamkan kembali melalui perspektif ilmu pengetahuan yang bersifat holistik, bahwa alam tidak pada tempatnya jika hanya dipandang dari aspek ekonomi saja. Alam adalah harta karun untuk dimanfaatkan secara bijaksana, bukan untuk dieksploitasi. Bahwa hidup selaras dengan alam akan menentukan kualitas hidup manusia. Manusia harus memelihara lingkungan hidupnya, karena disitulah sumber hidupnya. Dengan kata lain dalam hal lingkungan hidup, generasi saat ini dalam menikmati sumber daya alam dan keragaman hayati, harus pula dapat dinikmati oleh generasi yang akan datang dengan kualitas dan kuantitas yang sama. Dalam pengelolaan lingkungan harus disandarkan pada beberapa prinsip-prinsip yang diatur dalam UU No. 32 tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup yang di dalamnya juga mengandung nilai keadilan.

“Mega proyek pembangunan pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) di Kabupaten Batang merupakan pembangunan yang bertujuan mensejahterahkan masyarakat berupa kemudahan dalam hal energi listrik untuk daerah Jawa dan Bali juga program CSR dari PT. Bhimasena Power Indonesia diharapkan bisa memberikan kesejahterahan bagi masyarakat desa terdampak. Program CSR dari PT. Bhimasena Power Indonesia mencakup bidang ekonomi, Pendidikan, Kesehatan, dan sosial budaya. Dengan program CSR tersebut diharapkan bisa memberikan kesejahterahan bagi warga terkena dampak, sehingga mereka bisa hidup dengan sejahterah.

PLTU Jawa Tengah 2 X 1000 MW merupakan proyek infrastruktur pertama Kerjasama Pemerintah Swasta atau dibangun dengan skema Public Private Partnership

(3)

xii

(PPP) serta menjadi bagian dari Master Plan percepatan dan perluasan pembangunan ekonomi Indonesia. Pembangkit ini diharapkan menjadi lokomotif dalam perkembangan ekonomi Jawa. Selain itu PLTU ini direncanakan menggunakan teknologi terkini yang lebih ramah lingkungan dan efisien yakni Ultra Super Critical. PLTU Batang berkontribusi menyuplai listrik sebesar 5,7 persen untuk sistem Jawa-Bali sehingga bisa mendukung rasio elektrifikasi di Jawa.

Namun demikian, pembangunan apapun itu harus seiring dengan Filsafat Dasar Negara (Filosifishe Gronslag) bangsa Indonesia yaitu Pancasila dan amanat UUD Negara Kesatuan Republik Indonesia Tahun 1945 Pasal 28 H ayat (1) “Setiap orang berhak hidup sejahtera lahir dan batin, bertempat tinggal, dan mendapatkan lingkungan hidup yang baik dan sehat serta berhak memperoleh layanan kesehatan dan Pasal 33 ayat (4 ) Perekonomian nasional diselenggarakan berdasar atas demokrasi ekonomi dengan prinsip kebersamaan, efisiensi berkeadilan, berkelanjutan, berwawasan lingkungan, kemandirian, serta dengan menjaga keseimbangan kemajuan dan kesatuan ekonomi nasional. Untuk itu UUD 1945 terkenal dengan istilah yang populer “konstitusi hijau” harus diperhatikan dalam semua aktivitas yang berhubungan dengan pembangunan, tidak terkecuali, Proyek Pembangkit Listrik Tenaga Uap di Kabupaten Batang.

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang di atas, dapat dirumuskan permasalahan sebagai berikut : (1) Apakah pengelolaan lingkungan hidup dalam Pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) saat ini belum berkeadilan? (2) Apa saja dampak negatif yang timbul dalam Pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Uap Terhadap pengelolaan lingkungan hidup saat ini? (3) Bagaimanakah rekonstruksi pengelolaan lingkungan hidup dalam Pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) di masa yang akan datang yang berbasis nilai keadilan ?

C. Kerangka Teori Disertasi

1. Teori Keadilan Islam dan Teori Keadilan Pancasila Sebagai Grand Theory a. Teori Keadilan Islam

1. QS. An-Nahl : 90, yang artinya :

“Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat kebajikan,memberi kepada kaum kerabat, dan Allah melarang dari perbuatan keji, kemungkaran dan permusuhan. dia memberi pengajaran kepadamu agar kamu dapat mengambil pelajaran.”

2. QS. Al-Maidah : 8, yang artinya :

“ Hai orang-orang yan g beriman hendaklah kamu jadi orang-orang yang selalu menegakkan (kebe naran) Karena Allah, menjadi saksi dengan adil. dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. berlaku adillah, Karena adil itu lebih dekat kepada takwa. dan bertakw alah kepada Allah, Sesungguhnya Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerj akan.”

(4)

xiii 3. QS. Ar-Rahman : 7, yang artinya :

“ Dan Allah Telah meninggikan langit dan dia meletakkan neraca (keadilan).”

4. QS. asSyuura (42) ayat 15, yang artinya:

“Maka karena itu serulah (mereka kepada agama itu) dan tetaplah sebagaimana diperintahkan kepadamu dan janganlah mengikuti hawa nafsu mereka dan katakanlah:“Aku beriman kepada semua kitab yaig diturunkan Allah dan aku diperintahkan supaya berlaku adil di antara kamu. Bagi kami amal-amal kami dan bagi kamu amal-amal kamu. Tidak ada pertengkaran antara kami dan kamu Allah mengumpulkan antara kita dan kepada-Nyalah kebali (kita)”

5. QS. an-Nisaa ayat 135, yang artinya :

“Wahai orang-orang yang beriman, jadilah kamu orang yang benar-benar penegak keadilan, menjadi saksi karena Allah walaupun terhadap dirimu sendiri atau Ibu, Bapak dan kaum kerabatmu. Jika ia, kaya ataupun miskin, maka Allah lebih tahu kemasalahatanya. Maka janganlah kamu mengikuti hawa nafsu karena ingin menyimpang dan kebenaran. Dan jika kamu memutar balikkan (kata-kata) atau dengan menjadi saksi, maka sesungguhnya Allah Maha Mengetahui Segalanya apa yang kamu lakukan.”

Sedangkan larangan untuk melakukan perusakan di muka bumi terhadap sumber daya alam, diatur di dalam A1-Qur’an Surat Ar-rum 30 : 41, yang artinya:

“Telah tampak kerusakan didarat dan dilaut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar)”.

b. Teori Keadilan Pancasila,

Pancasila sebagai dasar filsafat atau falsafah memperoleh sumber nilai dalam konteks perjalanan dinamis sejarah kebudayaan bangsa. Pembentukan sumber nilai yang tercakup kedalam sistem falsafah kebangsaan, berjalan dalam sejarah yang Panjang, yang melibatkan bukan saja kaum cendekia dan primus interparish, melainkan juga masyarakat. Komitmen keadilan menurut alam pemikiran Pancasila berdimensi luas. Peran negara dalam perwujudan keadilan sosial, setidaknya ada dalam kerangka : 1. Perwujudan relasi yang adil disemua tingkat sistem (kemasyarakatan), 2. Penhembangan struktur yang menyediakan kesetaraan kesempatan, 3. Proses fasilitasi akses atas informasi yang diperlukan, layanan yang diperlukan dan sumber daya yang diperlukan, 4. Dukungan atas partisipasi bermakna atas pengambilan keputusan bagi semua orang. Yang dituju dari gagasan keadilan ini juga tidak terbatas pada pemenuhan kesejahterahan yang bersifat ekonomis, tetapi juga terkait dengan usaha emansipasi dalam rangka pembebasan manusia dari pemberhalaan terhadap benda, pemuliaan martabat kemanusiaan, pemupukan solidaritas kebangsaan dan penguatan kedaulatan rakyat.

Dengan Sila Kemanusiaan yang adil dan beradab, manusia diakui dan diperlakukan sesuai dengan harkat dan martabatnya sebagai makhluk Tuhan Yang Maha Esa, yang sama derajatnya, yang sama hak dan kewajiban-kewajiban asasinya,

(5)

xiv

tanpa membeda-bedakan suku, keturunan, agama, dan kepercayaan, jenis kelamin, kedudukan sosial, warna kulit dan sebagainya. Karena itu dikembangkanlah sikap saling mencintai sesame manusia, sikap tenggang rasa dan “tepa salira” serta sikap tidak semena-mena terhadap orang lain. Kemanusiaan yang adil dan beradab berarti menjunjung tinggi nilai-nilai kmanusiaan, gemar melakukan kegiatan-kegiatan kemanusiaan, dan berani membela kebenaran dan keadilan. Pancasila dinyatakan sebagai jiwa bangsa Indonesia, sebagai kepribadian bangsa Indoensia, sebagai pandangan hidup bangsa Indonesia, dan sebagai pedoman hidup bangsa Indoinesia. Hal ini sesuai dengan kenyatan sehari-hari bangsa Indonesia. Nilai-nilai dalam Pancasila digali dari bangsa Indonesia sendiri yakni dalam nilai adat istiadat, kebudayaan, dan religi dari kehidupan bangsa.

2. Teori Sibernetika Talcott Parson sebagai Midle Theory

Dunia budaya dengan masukan nilai-nilai ke dalam sistem sosial merupakan salah satu sumber daya bagi bekerjanya sistem sosial itu...bahwa tanpa masukan nilai- nilai itu sistem sosial (dalam hal ini melalui norma sosialnya) tidak bisa mulai bekerja. Sumber Daya yang dibutuhkan oleh sistem sosial tidak hanya datang dari bidang budaya melainkan juga bidang-bidang yang lain dalam masyarakat. Salah satu dari bidang yang demikian itu adalah : ekonomi. Bidang ekonomi ini melakukan adaptasi terhadap lingkungan kehidupan manusia yang bersifat bio-fisis. Tanpa fungsi adaptasi yang dilakukan oleh ekonomi ini masyarakat tidak bisa mempertahankan hidupnya ditengah-tengah lingkungannya. Kegiatan ekonomi inilah yang bisa mengubah berbagai sumber daya yang ada disekitar manusia sehingga berguna untuk mempertahankan kelangsungan hidupnya. Kegiatan ini misalnya : pertanian, pertambangan, perdagangan, industri alat-alat produksi dan sebagainya.

3. Teori hukum pembangunan sebagai Applied theory

Teori ini mulai diperkenalkan oleh Mochtar Kusumaatmadja, pakar hukum internasional, ketika menjadi pembicara dalam Seminar Nasional pada tahun 1973. Pandangan Mochtar Kusumaatmadja tentang fungsi dan peranan hukum dalam pembangunan nasional, kemudian dikenal sebagai teori Hukum Pembangunan, diletakkan di atas premis yang merupakan inti ajaran atau prinsip sebagai berikut :

a). Semua masyarakat yang sedang membangun selalu dicirikan oleh perubahan dan hukum berfungsi agar dapat menjamin bahwa perubahan itu terjadi dengan cara yang teratur. Perubahan yang teratur menurut Mochtar, dapat dibantu oleh perundang-undangan atau keputusan pengadilan atau kombinasi keduanya. Beliau menolak perubahan yang tidak teratur dengan menggunakan kekerarasan semata-mata.

b). Baik perubahan maupun ketertiban (atau keteraturan merupakan tujuan awal dari masyarakat yang sedang membangun, maka hukum menjadi suatu sarana (bukan alat) yang tidak dapat diabaikan dalam proses pembangunan;

c). Fungsi hukum dalam masyarakat adalah mempertahankan ketertiban melalui kepatian hukum dan juga hukum (sebagai kadiah sosial) harus dapat mengatur (membantu) proses perubahan dalam masyarakat;

(6)

xv

d). Hukum yang baik adalah hukum yang sesuai dengan hukum yang hidup (the

living law) dalam masyarakat, yang tentunya sesuai pula atau merupakan

pencerminan dari nilai-nilai yang berlaku dalam masyarakat itu;

e). Implementasi fungsi hukum tersebut di atas hanya dapat diwujudkan jika hukum dijalankan oleh suatu kekuasaan, akan tetapi kekuasaan itu sendiri harus berjalan dalam batas rambu-rambu yang ditentukan di dalam hukum itu. D. Paradigma Penelitian

Dalam desertasi ini menggunakan paradigma critical theory melihat bahwa, unsur kebenaran melekat pada “ historical situatedness of the inquiry.” Situasi historis yang meletakkan dasar kegiatan penelitian bersifat kontekstual, meliputi situasi sosial, politik, kebudayaan ekonomi, etnik dan gender. Disamping itu peneliti juga harus mengembangkan sikap “conscientization” yaitu sikap yang hati-hati dalam kegiatan penelitian, karena kegiatan penelitian dapat mengungkap ketidaktahuan dan salah pengertian. Tidak semua asumsi dan teori memuat kebenaran sehingga dalam proses kegiatan penelitian dapat dicapai wawasan baru dalam bentuk cara berpikir tertentu. E. Metode Pendekatan

Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah socio legal research, karena untuk mengetahui gambaran menyeluruh tentang Rekonstruksi Pengelolaan Lingkungan Hidup Dalam Pembangunan PLTU di Kabupaten Batang. ”... Studi hukum sebagai law in action merupakan studi ilmu sosial yang non doktrinal dan bersifat empiris. Dalam studi sosial, hukum tidak dikonsepsikan sebagai suatu gejala normatif yang mandiri (otonom), tetapi sebagai institusi sosial yang dikaitkan secara riil dengan variable-variable sosial yang lain.

F. Hasil Penelitian dan Pembahasan

Kabupaten Batang, terletak pada 60 51’46 sampai 70 11’47 Lintang Selatan dan antara 109 0 40’ 19 sampai 1100 03’06 Bujur Timur di Pantai Utara Jawa Tengah dan berada pada jalur utama yang menghubungkan Jakarta – Surabaya. Luas Daerah 78.864,16 Ha. Batas-batas wilayahnya sebelah utara Laut Jawa, sebelah timur Kabupaten Kendal, sebelah selatan Kabupaten Wonosobo dan Kabupaten Banjarnegara, sebelah barat kota dan Kabupaten Pekalongan. Posisi tersebut menempatkan wilayah Kabupaten Batang, utamanya ibu kota pemerintahannya pada jalur ekonomi pulau jawa sebelah utara. Arus transportasi dan mobilitas yang tinggi di jalur pantura memberikan kemungkinan Kabupaten Batang berkembang cukup prospektif disektor jasa transit dan transportasi.

1. Program CSR dari PT. Bhimasena Power Indonesia cukup banyak, diantaranya adalah :

1. program pengembangan ekonomi, yaitu : 1. Pengembangan Kelompok Usaha Bersama 2. Pengembangan Lembaga keuangan Mikro 3. Penciptaan Lapangan kerja sementara 4. Kompensasi Sosial

(7)

xvi 6. Penciptaan Wirausaha baru

2. Dukungan Peningkatan Kualitas Kesehatan : Dukungan Pelayanan Program Posyandu, Penguatan kelembagaan Kesehatan Desa, Dukungan Peningkatan Kesehatan Lingkungan dan Kampanye Penyadartahuan Kesehatan

3. Dukungan Peningkatan Kualitas Pendidikan : Dukungan sekolah Adiwiyata, Program peningkatan literasi, dan Pengembangan Sekolah

4. Program Dukungan Kegiatan Sosial, Budaya dan Lingkungan : Penyadartahuan kebersihan lingkungan, .Restorasi ekosistem, Managemen sampah, dan Program Sosial.

Berdasarkan penelitian dan hasil wawancara, dengan warga terdampak, untuk CSR Kelompok usaha bersama saat ini banyak yang sudah tidak berjalan, namun demikian untuk Koperasi simpan pinjam masih ada meskipun tidak maksimal. Diujung negoro pembuatan krupuk usek juga masih berjalan, namun demikian untuk yang lainnya banyak yang sudah tidak berjalan. Untuk CSR bidang Pendidikan dan Kesehatan masih berjalan dengan baik. Dan saat ini untuk nelayan di desa ujung negoro dan sekitarnya juga cukup banyak yang bekerja di PLTU, meskipun hanya tenaga kasar. Namun demikian desa roban timur boleh dikatakan seluruh warganya masih berprofesi sebagai nelayan (cantrang) berangkat habis subuh pulang siang sekitar jam 13.00. Sehingga keadaan masyarakat terdampak memang kondisinya berbeda-beda.

Sementara ini kesulitan dalam penelitian memang masih ada Ketika penulis memasukkan surat ijin penelitian ke PT. Bhimasena Power Indonesia, perwakilan yang ada di Batang untuk melakukan wawancara, sampai saat ini juga belum terlaksana. Hal ini dikarenakan proses pembangunan masih berjalan dan pihak PT. Bhimasena belum bisa untuk dilakukan penelitian. Hal ini disampaikan oleh pihak yang ditunjuk oleh kantor perwakilan PT. Bhimasena Power Indonesia di Batang. Selanjutnya juga bagi warga yang menolak menjual tanahnya untuk PLTU, juga tertutup memberikan informasinya.

Pembangunan Pembangkit Listrik Tenag Uap di Kabupaten Batang, membuat petani dan nelayan kehilangan mata pencahariannya, meskipun sudah mendapat kompensasi tanah seluas 70 Ha, namun tanah tersebut tidak produktif, merupakan tanah kering dan hanya cocok untuk menanam polowijo, dan tidak dapat digunakan untuk menanam padi. Hal ini tidak semua warga petani mau bercocok di tanam dilahan tersebut, sehingga banyak yang kehilangan mata pencaharian sebagai petani.

Dalam wawancara dengan Ketua dan Anggota Go Green (NGO) yang mengikuti dan mendampingi warga terkena dampak, bahwa dengan adanya pembangunan Pembangkit listrik Tenaga Uap di Kabupaten Batang, bagi petani tidak tambah kesejahterahannya, namun sebaliknya malah membuat mereka jatuh miskin. Hal ini karena pekerjaan mereka sebagai petani, termasuk petani penggarap tidak dapat bekerja lagi sebagai petani. Uang hasil ganti rugi yang telah diterima setelah habis , maka gak ada lagi pemasukan, karena lahan untuk

(8)

xvii

pertanian sudah gak ada. Dengan demikian sebagian dari mereka ada yang merantau keluar kota untuk mencukup kebutuhan hidupnya.

Wawancara dengan salah satu responden, bahwa lahan pengganti pertanian jauh dari domisili warga terdampak, meski awalnya difasilitasi mobil untuk mengangkut,namun warga terdampak tetap tidak mau menggarap lahan pengganti tersebut (hanya sedikit petani yang menggarap). Hak Guna Usaha untuk pertanian padahal (sawah) untuk bercocok tanam. Dari lahan kering tersebut memang ada yang bisa dijadikan untuk bercocok tanam tapi hanya sedikit. Sedangkan mobil pengangkut petani ke lahan pengganti (mobil grandmax) dialihkan fungsinya dengan dihibahkan kedesa untuk ambulance. Sedangkan bagi petani penggarap dan semua orang yang menggunakan ladang pertanian (sawah) untuk kehidupannya sekarang mereka sudah tidak ada lahan pertanian bercocok tanam lagi dan kesulitan untuk mencari pekerjaan. Ketika mereka kerja di PLTU juga akan bergiliran dengan warga yang lain, sehingga cukup banyak penggangguran. Sedangkan secara lahir banyak rumah yang tadinya gak bagus sekarang sudah bagus, namun demikian mereka karena menjual asset tanah /sawah bukan dari hasil kerja mereka. Sehingga kedepan pemerintah daerah harus dilibatkan membuat konsep kesejahterahan bagi warga terdampak.

Sementara itu dalam wawancara dengan beberapa warga nelayan di Desa Roban Timur, dapat diketahui bahwa penghasilan mereka sekitar 150 nelayan sekarang setelah adanya PLTU pendapatannya berkurang. Hal ini dikarenakan para nelayan tidak dapat mencari ikan di tempat sekitar PLTU, karena banyak semacam terumbu karang buatan yang ada disekitar PLTU. Sehingga nelayan sekarang mencari ikannya lebih jauh (artinya solar sebagai bahan bakar perahu) juga lebih banyak dan pendapatan ikannya ditempat yang lebih jauh tersebut tidak sebanyak ditempat sekitar PLTU. Dan nelayan di Desa Roban Timur itu juga meminta mesin perahu dalam Bahasa mereka namanya (dumpeng) ke PT. Bhimasena Power Indonesia, namun belum dipenuhi.

Berdasarkan hal tersebut, maka penulis akan menganalisis permasalahan yang pertama : pembangunan pembangkit listrik tenaga uap di Kabupaten Batang tidak berbasis nilai keadilan, Melihat beberapa konsep keadilan Islam sebagaimana tersebut di atas, pembangunan Listrik Tenaga Uap di Kabupaten Batang, tidak berbasis nilai-nilai keadilan. Hal ini dikarenakan masyarakat terkena dampak, khususnya yang mempunyai lahan untuk lokasi PLTU tidak semuanya ikhlas menjual tanahnya kepada PT. Bhimasena Power Indonesia, kedua juga dalam ganti rugi tanah, harganya berbeda-beda, hal inilah yang memicu ketidakadilan, sehingga diantara warga yang menjual tanahnya menginginkan harga tanah yang sama. Kemudian keberadaan Pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Uap di Kabupaten Batang, menurut hasil wawancara dengan Ketua Go Green sebenarnya tidak mendesak diperlukan, mengingat di Jawa Tengah Listrik sudah surplus 40% (empat puluh prosen). Artinya sebenarnya listrik di Jawa Tengah sudah

(9)

cukup tersedia bagi masyarakat. Pembangunan PLTU di Kabupaten Batang akan disandingkan dengan nilai-nilai Pancasila, khususnya sila ke dua : Kemanusiaan yang adil dan beradab dan sila kelima Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Adil merupakan sesuatu yang sangat mudah diucapkan namun sulit untuk dilakukan, karena harus berkomitmen dalam mewujudkannya. Dalam hal ini pembangunan PLTU, adil secara hukum positif namun tidak adil dari apa yang dirasakan masyarakat terkena dampak. Hal ini yang menjadikan pembangunan PLTU tersendat sampai saat ini. Masyarakat pro dan kontra dalam penanganan pembangunan PLTU, menjadikan pihak yang kontra, bahkan sampai saat ini berdasarkan penelitian kepada responden, masih berharap dibatalkan pembangunan PLTU nya.

Pancasila merupakan pandangan hidup bangsa Indonesia, dan merupakan sumber dari segala sumber hukum. Sila-sila dalam Pancasila merupakan satu kesatuan yang bulat dan utuh. Demikian pula keadilan Pancasila dari sila pertama Ketuhanan Yang Maha Esa, sila kedua kemanusiaan Yang Adil dan Beradab, Sila ketiga Persatuan Indonesia, sila keempat Kerakyatan Yang Dipimpin Oleh Hikmat Kebijaksanaan Dalam Permusyawaratan Perwakilan dan sila kelima Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia merupakan sistem filsafat yang sarat dengan nilai-nilai keadilan dan moral.

Sila keadilan sosial bilamana dikembalikan kepada dasar kerokhanian yaitu sifat kodrat manusia yang monodualis yaitu keseimbangan yang dinamis. Oleh karena itu konsekwensinya kepentingan individu (perseorangan) (kepentingan khusus) dan kepentingan umum harus dalam suatu keseimbangan yang dinamis, yang harus sesuai dengan keadaan, waktu dan perkembangan zaman...maka dapat disimpulkan bahwa “kepentingan khusus (perseorangan) sendiri pada hakekatnya tidak sama sekali diserahkan keapada perseorangan sendiri berdasarkan asas kekuasaannya sendiri atau sebaliknya sama sekali diselenggarakan oleh negara, akan tetapi negara memelihara baik kepentingan umum maupun kepentingan warga negara perseorangan, yang dalam prinsip yang menjadi pemelihara perseorangan sendiri. Negara memberikan kesempatan dan memberikan bantuan yang sebaik-baiknya kepada perseorangan. Baik secara sendiri-sendiri atau bersama sama untuk berusaha sendiri memenuhi keinginan, kebutuhan dan kepentingannya sendiri.

Berdasarkan analilis hasil penelitian, Pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Uap di Kabupaten Batang, belum mencerminkan nilai-nilai keadilan yang hidup di masyarakat. Hal ini bisa dianalisis dengan teori keadilan Islam. Bahwa adil adalah memberikan kepada masing-masing orang apa yang menjadi haknya. Dalam pembangunan pembangkit listrik tanaga uap di Kabupaten Batang, masih sekitar 10% lahan yang tidak dijual kepada BPI kemudian pemerintah menitipkan uang melalui pengadilan, guna pembayaran ganti rugi tanah. Kerasnya penolakan yang dilakukan warga sekitar PLTU, membuat pembangunan PLTU terbengkalai beberapa tahun. Warga sekitar takut kehilangan mata pencahariannya sebagai petani dan nelayan. Ketakutan warga sekitar membuat perlawanan penolakan, bahkan sesame warga yang

(10)

xix

pro dan kontra sendiri mereka tidak saling menyapa. Dan ketika pihak yang pro punya hajatan, pihak yang kontra tidak memenuhi undangan. Misalnya kondangan dan khitanan sekalipun meskipun berdekatan mereka tidak akan menghadiri undangan. Sesama saudara pun saling bermusuhan. Bahkan unsur kekerasan sesama warga dan aparat pun sering terjadi. Kondisi mencekam tersebut, terjadi hampir selama lima tahun. Dinamika Pembangunan listrik tenaga uap di Kabupaten Batang, selain terkait dinamika sosial, juga adanya penggantian lahan pertanian dari Bhimasena Power Indonesia (BPI) kepada warga yang terkana dampak, khususnya warga desa ponowareng, karanggeneng, dan ujung negoro. Namun penggantian lahan di desa Segayung tersebut tidak sebagaimana yang diharapkan petani penggarap, karena jenis lahannya kering, sehingga tidak dapat digunakan untuk menanam padi. Lahan kering tersebut hanya dapat untuk menanam palawijo, misalnya kacang tanah. Dengan lahan yang tidak produktif untuk menanam padi maka hanya sedikit petani penggarap yang mau mengelola/ menanam palawijo di tanah tersebut. Kesulitan air dilahan itu kelihatan dengan jelas, bahwa irigasi yang digunakan untuk perairan lahan kelihatan kering. Dari perspektif teori keadilan Islam. Pembangunan pembangkit listrik tenaga uap di Kabupaten Batang belum sebagaimana yang tercermin dari sisi keadilannya. Yang pertama adil, mensyaratkan masing-masing pihak menerima apa yang telah menjadi kesepakatan. Pertentangan antara Warga yang terkena dampak, meskipun pro dan kontra terhadap pembangunan PLTU di Batang, namun tidak sedikit pihak yang kontra yang menentang sampai dengan saat ini. Bahkan ada yang pihak kontra masih berharap agar Pembangunan Pembangkit Tenaga uap di Kabupaten Batang di tiadakan. Bahkan warga yang tidak mau menjual tanahnya kepada BPI sampai saat inipun masih bertahan untuk tidak mengambil uangnya di Pengadilan Negeri Batang.

Namun demikian dalam penelitian baik hasil wawancara dengan warga yang kontra maupun NGO Go Green, dapat diketahui bahwa kehidupan warga sekitar PLTU yang dulunya petani dan petani penggarap, kehidupannya sekarang sudah tidak sama dengan ketika masih mendapat uang ganti rugi pembangunan Pembangikit Listrik Tenaga Uap, karena mereka sekarang sudah tidak punya uang yang dapat menghidupi kehidupan mereka lagi. Sedangkan warga yang profesinya nelayan, disekitar masyarakat yang terkena dampak, bahkan dari Roban sekarang sudah mulai khawatir, bagaimana mereka nantinya dalam mencari ikan di laut. Apakah ikan-ikan dan biota laut lainnya akan bisa bertahan, terkait dengan adanya PLTU tersebut. Menurut Go Green ketika sudah operasional PLTU di Batang, dipastikan ikan dan biota laut lainnya pasti akan binasa, termasuk terumbu karang yang merupakan Kawasan yang dilindungi di Kawasan ujung negoro. Mengingat lingkungan adalah kebutuhan mutlak bagi kehidupan makhluk hidup di bumi, maka diperlukan perlindungan bagi lingkungan agar tidak rusak atau tercemar. Mengapa lingkungan harus dilindungi adalah pertanyaan mendasar dan tidak mudah untuk dijawab. Pertanyaan mengapa lingkungan harus dilindungi adalah pertanyaan mengenai tujuan peradaban manusia di atas bumi.

(11)

xx

Investasi apapun bentuknya tetap harus memprioritaskan kelestarian lingkungan hidup dalam arti menjaga ketersediaan sumber daya alam, khususnya sumber daya alam yang tidak terbarukan. Hal ini merupakan keharusan yang tak bisa ditawar lagi, mengingat pentingnya sumber daya alam yang tidak dapat diperharui dalam menopang kelangsungan hidup manusia. Pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Uap di Batang, jelas merusak ekosistem yang ada, diantaranya biota laut seperti ikan, dan terumbu karang di pantai ujung negoro dipastikan akan musnah. Dalam teori keadilan Islam, ditegaskan bahwa manusia sebagai pemimpin di muka bumi haruslah menjaga lingkungan dengan sebaik-baiknya, tidak boleh merusak alam, karema alam diperuntukkan untuk memenuhi segala kebutuhan ummat manusia. Sumber daya alam merupakan asset bagi manusia dalam kehidupannya. Untuk itu manusia harus seefektif mungkin dalam menggunakan sumber daya alam yang ada. Perspektif ketidakadilan dalam sudut pandang Islam dalam pembangunan pembangkit listrik tenaga uap di Kabupaten Batang, yang pertama :

1. Hilangnya lahan dan mata pencaharian petani dan petani penggarap di sekitar lokasi/warga yang dampak

2. Penggantian ganti rugi lahan yang berbeda-beda dari mulai 30.000, 100.000, hingga 400.000.

3. Terancamnya mata pencaharian nelayan, karena ketika PLTU beroperasi dipastikan biota laut akan musnah juga

4. Masalah sosial yang berkepanjangan

Tahap pembebasan tanah menurut pak Anton, aktivis desa Ujung Negoro ada tiga tahap:

a. Calo (yang memberli PT. BPI tetapi sebelum harga resmi diumumkan b. Sesudah harga resmi diumumkan 100.000/M2 dengan pajak

c. Setelah tidak ada yang menjual tanah, orang diluar PT. BPI membeli dengan harga Rp. 400.000 tanpa pajak, dan PT. BPI memberi klarifikasi tidak pernah membeli tanah dengan harga Rp. 400.000 M2. Sedangkan terkait CSR memang banyak, namun demikian masih kurang efektif, Misalnya KUB, ternak lele, buat Kue, membuat krupuk usek dan sebagainya. Harapannya usulan ketrampilan hidup dari warga terdampak, bukan dari PT. Bhimasena Power Indonesia, sehingga kedepan untuk kelangsungan hidup petani dan nelayan perlu keterlibatan pemerintah daerah dalam membuat konsep kesejahterahan bagi warga terdampak.

Kemudian dari sisi keadilan Pancasila, dimana Pancasila sangat menghormati keadilan individual maupun keadilan sosial. Hak-hak individu di negara hukum Pancasila ini mendapat tempat yang penting. Due process of law, dimana semua tindakan pemerintah harus berdasarkan hukum (undang-undang). Hal ini merupakan perbedaan mendasar antara ideologi Pancasila yang merupakan ideologi terbuka dengan ideologi tertutup. Di dalam ideologi terbuka semua hak individu maupun hak komunal diakui eksistensinya. Namun dalam ideologi tertutup, hanya hak komunal saja yang mendapat tempat. Inilah yang komprehensif dalam arti dan makna ideologi

(12)

xxi

Pancasila, yang mana didalam sila-sila Pancasila terdapat nilai-nilai keadilan yang terejawantahkan dalam kehidupan sehari-hari bangsa Indonesia. Pancasila menuntut, untuk setiap orang agar diberikan haknya masing-masing, dengan demikian hak perorangan juga dilindungi oleh nilai keadilan Pancasila. Sehingga Pemerintah sendiri pun tidak bisa sewenang-wenang dalam kebijakannya kepada masyarakat. Karena dalam negara hukum Pancasila hak-hak individu sangat dijunjung tinggi.

Konsep kemanusiaan yang adil dan beradab, mengandung makna bahwa manusia Indonesia haruslah bersikap adil dalam segalanya, ini tentu saja konsekwensinya bahwa nilai sila Kemanusiaan yang adil dan beradab itu juga dilaksanakan oleh negara republik Indonesia. Sehingga negara dalam kebijakan apapun harus mendasarkan pada nilai-nilai Pancasila. Keadilan Pancasila Mensyaratkan bahwa semua pihak harus mendapat kesepakatan dalam berbagai kegiatan yanag menyangkut anatara hak dan kewajiban. Termasuk dalam Pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Uap di Kabupaten Batang.

Dari hasil wawancara dengan Ketua Go Green dapat diketahui bahwa bahwa pembangunan PLTU di Kabupaten Batang tidak mencerminkan rasa keadilan masyarakat sekitar (warga terkena dampak) karena memang kehidupan masyarakatnya tidak lebih baik dari sebelumnya. Bahkan cenderung miskin karena memang sudah tidak bisa menjadi buruh tani/ pun menikmati panennya bagi yang mempunyai sawah. Sehingga sampai saat ini, meskipun sudah ada kompensasi dari PT Bhimasena Power Indonesia, namun lahan yang disediakan tidak dapat untuk bercocok tanam padi. Lahan tersebut hanya cocok untuk palowijo. Sehingga tidak banyak petani terkena dampak yang mengolah lahan pengganti tersebut. Dari proses pembebasan lahan yang harga tanah per meternya berbeda-beda dan dengan kuatnya kemauan warga yang tidak mau menjual tanahnya, hingga proses konsinyasi, dan dinamika pembangunan Proyek Pembangkit Tenaga Uap dengan bahan bakar batu bara, dapat ditari kesimpulannya bahwa pembangunan Pembangkit Listrik tenaga Uap di Kabupaten Batang tidak sesuai dengan nilai -nilai keadilan Islan dan Nilai-Nilai keadilan Pancasila. Hal ini bisa kita lihat ketika pemaksaan kehendak atau kemauan sepihak dalam hal ini PT. Bhimasena Power Indonesia untuk membuat Proyek Pembangkit Listrik Tenaga Uap yang sempat mendapat penolakan keras dari warga sekitar, maka hal ini tidak sesuai dengan nilai-nilai keadilan Islam. Dimana Islam sangat menghormati hak-hak individu warga negara. Kemudian kalau disandingkan hak-hak manusia dalam tinjauan Islam dan Undang-Undang Dasar 1945, sangat menarik dimana diantara keduanya tidak ada yang bertentangan.

Sebenarnya cerita masyarakat yang ada pembangunan Pembangkit Listrik tenaga Uap tidak jauh berbeda satu sama lain. Yang jelas kehidupan nelayan untuk mencari ikan sudah tidak bisa dilakukan disekitar PLTU, sehingga mereka (para nelayan) harus mencari ikan ketempat yang agak jauh dari lokasi PLTU. Kemudian keragaman hayatipun, terutama terumbu karang juga tidak akan bisa dilestarikan. Pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Uap dengan bahan bakar batubara (meskipun tergolong murah) namun tidak ramah lingkungan, bahkan berdampak negative bagi kesehatan manusia. Faktor investasi dan ekonomi dalam pembangunan

(13)

pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) memang menajadi alasan utama selain faktor untuk mensejahterahkan rakyat. Namun kesejahterahan masyarakat, tidak harus dibayar mahal dengan dampak negative bakan bakar batu bara untuk beroperasinya PLTU. Kesejahterahan masyarakat memang wajib di upayakan namun dalam rangka meraih kesejahrerahan tersebut, harus diupayakan dengan pembangunan yang berkelanjutan. Dimana dalam pembangunan berkelanjutan, masyarakat kan bisa menikmatinya baik saat ini, maupun di waktu mendatang. Begitu pula keragaman hayatinya harus bisa dinikmati generasi yang akan datang. Dengan demikian kesejahterahan masyarakat berbanding lurus dengan hak atas lingkungan hidup yang baik dan sehat.

Persepsi warga terkena dampak, membandingkan proyek Pembangkit Listrik Tenaga Uap yang ada dibeberapa daerah, misalnya Cirebon, cilacap, rembang, Paiton, dan lainnya. Dimana kehidupan petani maupun nelayan sudah tidak bisa seperti dahulu. Nelayan semakin jauh dan sulit mencari ikan. Dan menurut salah satu nelayan di Reban, mereka bakal kesulitan mencari ikan disekitar PLTU, karena tentu saja ikannya akan mati. Namun demikian perjuangan mencari ikan, akan tetap dilaksanakan, meskipun tempat mencari ikannya sangat jauh. Selain warga terkena dampak di Desa Ponowareng, Desa Karanggeneng, dan Desa Ujungnegoro, juga yang wilayahnya dekat dengan Pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Uap, adalah Desa Roban, mayoritas penduduk Desa Roban adalah Bertani dan nelayan. Biasanya kaum nelayan secara turun temurun sudah mewarisi bakat sebagai nelayan. Salah satu nelayan Desa Roban adalah Pak Bismo, pak Bismo melakukan pekerjaan sebagai nelayan sudah lama sejak kecil, orang tuanya juga nelayan Pak MUI, Keluarga besar pak Mui dengan anak-anaknya menggantungkan hidup dari nelayan. Pak Mui mempunyai 4 orang anak, dimana kedua anak lelakinya semuanya sebagai nelayan. Mereka dalam mencari ikan harus ditempat yang sangat jauh, dari lokasi PLTU, tentu saja BBM nya untuk perahu juga semakin banyak. Namun mereka kini pasrah karena pembangunan PLTU sudah berjalan. Selama pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Uap, nelayan di Roban Timur pendapatannya semakin berkurang dan jarak tempuh semakin jauh. Ini merupakan salah satu dampak Pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Uap, dimana ikan-ikan tidak bisa bertahan hidup setelah proses bekerjanya mesin PLTU. Dan masih banyak lagi keluarga nelayan di Desa Roban yang nantinya akan kesulitan terkait mata pencaharian sebagai nelayan. Artinya salah satu kearifan lokal penduduk nelayan berlahan-lahan akan tergeser, dengan hadirnya Pembangkit Listrik Tenaga Uap yang akan menyuplai listrik Jawa dan Bali.

(14)

G. Rekonstruksi UU No. 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup

SEBELUM REKONSRUKSI SESUDAH REKONSTRUKSI

Pasal 2

Perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup dilaksanakan berdasarkan asas :

a. Tanggung jawab negara; b. Kelestarian dan keberlanjutan;

c. Keserasian dan kesimbangan; d. Keterpaduan; e. Manfaat; f. Kehati-hatian; g. Keadilan; h. Ecoregion; i. Keanekaragaman hayati; j. Pencemar membayar; k. Partisipatif; l. Kearifan lokal;

m. Tata kelola pemerintahan yang baik n. Otonomi daerah

Pasal 2

Perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup dilaksanakan berdasarkan asas :

a. Tanggung jawab negara; b.Kelestarian dan keberlanjutan; c.Keserasian dan kesimbangan; d.Keterpaduan; e.Manfaat; f.Kehati-hatian; g.Keadilan; h.Ecoregion; i.Keanekaragaman hayati; j.Pencemar membayar; k.Partisipatif; l.Kearifan lokal;

m.Tata kelola pemerintahan yang baik n.Otonomi daerah

o.Pemanfaatan tanah negara

Pasal 3

Perlindungan dan pengelolaan

lingkungan hidup bertujuan

a.melindungi wilayah negara kesatuan Republik Indonesia dari pencemaran dan/atau kerusakan lingkungan hidup b.menjamin keselamatan, kesehatan, dan

kehidupan manusia

c.menjamin kelangsungan kehidupan makhluk hidup dan kelestarian ekosistem

d. menjaga kelestarian fungsi lingkungan e. mencapai keserasian,keselarasan, dan

keseimbangan lingkungan hidup f. menjamin terpenuhinya keadilan

generasi masa kini dan masa depan g. menjamin pemenuhan dan

Pasal 3

Perlindungan dan pemngelolaan

lingkungan hidup bertujuan

a.melindungi wilayah negara kesatuan Republik Indonesia dari pencemaran dan/atau kerusakan lingkungan hidup b.menjamin keselamatan, kesehatan, dan

kehidupan manusia

c.menjamin kelangsungan kehidupan makhluk hidup dan kelestarian ekosistem

d. menjaga kelestarian fungsi lingkungan e. mencapai keserasian,keselarasan, dan

keseimbangan lingkungan hidup f. menjamin terpenuhinya keadilan

generasi masa kini dan masa depan g. menjamin pemenuhan dan

(15)

h. perlindungan hak atas ligkungan hidup sebagai bagian dari hak asasi manusia mengendalikan pemanfaatan sumber daya alam secara sederhana i. Mewujudkan pembangunan

berkelanjutan

j. mengantisipasi issue global

h. perlindungan hak atas ligkungan hidup sebagai bagian dari hak asasi manusia mengendalikan pemanfaatan sumber daya alam secara sederhana i. Mewujudkan pembangunan

berkelanjutan

j. mengantisipasi issue global

k. Merehabilitasi

sosial akibat

pencemaran lingkungan Pasal 4

Perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup meliputi :

a. Perencanaan b. Pemanfaatan c. Pengendalian d. Pemeliharaan e. Pengawasan f. Penegakan hukum g. Keadilan Pasal 4

Perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup meliputi :

a. Perencanaan

b. Pemanfaatan tanah negara c. Pengendalian

d. Pemeliharaan e. Pengawasan f. Penegakan hukum g. Keadilan

h. Rehabilitasi sosial dampak

pencemaran lingkungan

H. Simpulan dan Saran 1. Simpulan

a. Pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) di Kabupaten Batang, tidak mencerminkan rasa keadilan bagi masyarakat, karena banyak dari petani yang sebenarnya tidak mau menjual sawahnya kepada PT. Bhimasena Power Indonesia. Kehidupan petani yang mereka lakukan memang sudah sejak turun temurun, jadi memang keahlian mereka adalah bercocok tanam padi. Ketika mereka tidak mempunyai sawah, nyaris mereka tidak mempunyai pekerjaan lagi, Namun sebagian dari petani dan nelayan juga sebagai pekerja (helper) di PLTU. Area Pembangkit Listrik Tenaga Uap mayoritas adalah tanah produktif (persawahan). Dan ketika proses pembebasan tanahnya harga yang diperoleh pun berbeda -beda. Sejak awal ada yang 30.000 per M, 50.000 per M, 100.000 per M, bahkan sampai ada yang 400.000 per M. Selanjutnya ketika sawah sudah dijual ke PT Bhimasena maka para Petani sudah tidak bisa bercocok tanam lagi. Kemudian hasil penjualan tanah semakin lama semakin habis, untuk memenuhi kehidupan mereka, maupun membeli mobil, membangun rumah dan kebutuhan

(16)

xxv

lainnya. sehingga kehidupan yang mereka tidak bertambah sejahtera, namun menurun kesejahterannya.

b. Dampak negatif Pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Uap di Kabupaten Batang, penuh dinamika, sejak sosialisasi maupun proses pembangunannya. Dalam keseharian kalau kita amati dampak negatif yang berkenan dengan proses pembangunan PLTU, seperti debu, kepadatan transportasi truck, mobil dan bus Pegawai PLTU yang menuju lokasi PLTU. Kebisingan suara proses pembangunan juga dampak sosialnya cukup luas, meskipun berangsur bertambah membaik, interaksi antara warga sekitar dampak yang pro dan yang kontra dalam pembangunan PLTU Kabupaten Batang, pada awalnya sangat mencekam, tidak saling sapa, bahkan sesama saudara atau tetangga. Namun demikian sekarang keadaan sudah mulai membaik, meski masih ada sisa-sisa pertikaian dimasa lalu. Bahkan orang punya hajatan (sunatan, perkawinan) pun tidak akan didatangi, bila sedang berseteru masalah pembangunan PLTU. Sedangkan terkait kehidupan petani yang sudah tidak punya sawah lagi juga banyak yang hidupnya pasa-pasan saja, karena mereka memang tidak punya keahlian untuk bekerja di profesi lainnya.

c. Rekonstruksi pengelolaan lingkungn hidup dalam pembangunan PLTU berbasis nilai keadilan adalah merekonstruksi Pasal 2 menjadi penambahan ( huruf o. Pemanfaatan tanah negara) Pasal 3 menjadi ( huruf k. merehabilitasi sosial akibat pencemaran lingkungan) dan Pasal 4 UU No. 32 Tahun 2009 menjadi ( huruf b. Pemanfaatan tanah negara dan huruf h. Rehabilitasi sosial dampak pencemaran lingkungan).

2. Saran

a. Pemerintah dan Dewan Perwakilan Rakyat perlu menyempurnakan Pasal 2, Pasal 3, dan Pasal 4 UU No. 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan pengelolaan Lingkungan Hidup.

b. Pemerintah/pengambil keputusan dalam Mega Proyek Pembangunan Pembangkit Lisrik Tenaga Uap (PLTU) di Kabupaten Batang, seharusnya memperhatikan aspirasi masrakat sekitar terkena dampak, rembug desa dan dengan tokoh agama, tokoh masyarakat dan tokoh pemuda seharusnya dilakukan sebelum pembangunan PLTU, sehingga tidak muncul pihak pro dan kontra dalam pembangunan PLTU, sehingga pembangunan PLTU mendapat dukungan penuh dari masyarakat. Keadilan bagi warga masyarakat terkena dampak harus lebih diprioritaskan lagi misalnya CSR baik dalam tenaga kerja maupun dalam bentuk fisik lainnya.

c. Dampak yang ditimbulkan Pembangunan PLTU, di Kabupaten Batang, selain dampak yang bersifat fisik, misalnya banyaknya debu, kebisingan, juga alat transportasi bus dan mobil pegawai PT. Bhisemasena Power Indonesia. Juga dampak sosial, dimana antar warga diharapkan semakin cair hubungan sosialnya, sehingga tidak ada ketegangan maupun permusuhan diantara warga terkena dampak. Dengan kata lain hubungan warga masyarakat bisa kembali baik seperti sebelum adanya pembangunan Pembangkit Listrik tenaga Uap (PLTU) di

(17)

xxvi

Kabupaten Batang. Pembangunan PLTU harus memprioritaskan kesehatan manusia dan kelestarian lingkungan hidup. Sehingga konsep pembangunan berkelanjutan bisa dirasakan manfaatnya baik bagi generasi sekarang maupun generasi yang akan datang. Pembangunan berkelanjutan mutlak harus dijalakan dalam pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Uap di Kabupaten Batang menuju kelangsungan hidup manusia yang sehat dan bermartabat.

I. Implikasi Kajian Disertasi

Pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) di Kabupaten Batang berdasarkan analisis merupakan kegiatan yang tidak mencerminkan rasa keadilan bagi masyarakat terkena dampak khususnya, dalam hal ini petani dan warga sekitar dampak. Selain tidak mencerminkan rasa keadilan juga dalam tahapan pembangunan menimbulkan berbagai dampak fisik dan non fisik, termasuk meluasnya dampak sosial bagi masyarakat terkena dampak. Dampak fisik, terlihat jelas bahwa lahan pertanian untuk bercocok tanam padi, sudah tidak ada lagi, meskipun warga petani terkena dampak mendapat kompensasi, namun lahan pertanian tersebut tidak dapat untuk bercocok tanam padi, hanya bisa untuk bertanam palawijo. Selain itu juga kehidupan nelayan menjadi kurang penghasilannya karena tangkapan ikannya jauh berkurang setelah ada PLTU tersebut. Kemudian dampak sosial non fisik, juga masih terasa meskipun sudah tidak seperti awal adanya pembangunan PLTU, sedikit banyak masih ada ketidakharmonisan dalam bermasyarakat, terkait pihak yang mendukung proyek PLTU dan yang menolaknya.

Dalam pembangunan apa pun, termasuk Pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) harus memprioritaskan dari sisi kesehatan, karena pembangunan bertujuan untuk bisa memberikan kesejahterahan bagi manusia, tidak sebaliknya. Kalau pembangunan justru membuat masyarakat tidak sejahtera dan tidak sehat, ini harus ditinjau ulang dalam pelaksanaanya. Dengan demikian pembangunan pembangkit listrik tenaga uap di Kabupaten Batang harus komprehensif melihat dari berbagai perspektif, khususnya dampak negatif harus ditekan sekecil mungkin, untuk itu perlu dimaksimalkan rehabilitasi sosial karena dampak pembangunan pembangkit Listrik Tenaga Uap. Selanjutnya harus memprioritaskan kesehatan manusia, kelestarian lingkungan hidup, dan sumber daya alam, yang mana semua itu sangat bermanfaat bagi kelangsungan hidup manusia. Manusia akan sehat bilamana dalam lingkungan yang sehat, dan manusia akan tidak sehat bilamana dalam lingkungan yang tidak sehat, misalnya polusi udara yang mencemari lingkungan sekitarnya.

(18)

xxvii

DESERTATION SUMMARY A. BACKGROUND PROBLEMS

The opening of the CONSTITUTION of the Republic of Indonesia 1945 expressly outlines that the points of thought contained in the opening are the realization of "the Mind of the Law" (Rechtsidee), which is nothing but Pancasila... The legal ideals can be understood as a construction of the mind that is imperative to direct the ideals that the community wants. Here it seems obvious that Pancasila as Rechsidee very attentive to the expectations and ideals of society. There is no exception that a good and healthy environment is the right of an Indonesian citizen, whose conditions are governed by article 28 of the Constitution of the Republic of Indonesia year 1945. The environment is a natural resource that needs human beings in fulfilling its life needs. In fulfilling the needs of human beings do not escape from development, whether physical development, or non-physical development. For physical development, often in the implementation of problems involving social and environmental problems. The social and environmental issues made the PLTU development project expected to supply electricity in Java and Bali Island, so delayed. For the developing community, the law is always associated with efforts to improve the lives of the community towards a better. Facing such circumstances, the role of the law is increasingly important in realizing it. The legal functions are not enough just as social control, but rather than that. The legal function expected today is to make efforts to move the people to behave in accordance with new ways to achieve a dicita-citakan goal. The development of the Indonesian people aims to improve the Kesejahterahan and quality of life of the people.

2 X 1000 MW development of steam power Plant (PLTU) in Ujung Negoro Village, Karanggeneng (subdistrict Kandeman), and Ponowareng (subdistrict Tulis) which has been implemented in the year 2011, since it was won Tendernya by J. Power, Itochu and Adaro which then formed PT. Bhimasena Power Indonesia, which is expected to start in the year 2016, experiencing various obstacles, so withdraw from the schedule that has been set. This delay is due to the land acquisition by PT. Bhimasena Power Indonesia have constraints in the form of rejection from the community to sell the land for the benefit of the Steam Power Project (PLTU) in Batang Regency.

The practice of building the PLTU project is in fact many obstacles. After the permission is given to the investor, without coordination and without the knowledge of local governments directly plunge the location by carrying a variety of survey equipment such as site map, heavy equipment, come to citizens directly intend to buy land of people and other activities outside the knowledge of local governments. The direct approach by investors without the role of local government apparatus was ultimately only reaping the conflict and impacting the delay of the PLTU mega project in Batang District. Residents need a close approach to local culture with a rational explanation of the impact of the PLTU project. The Ordinance of local wisdom that is still closely related to the villagers around the area of PLTU project development plan makes the citizens can not accept direct models of approach and to the point. Whereas this socialization has been started since 2011 but is judged ineffective to soften the hearts of society. Socialization

(19)

xxviii

conducted earlier, investors came to the community and immediately set the price of land making the citizens frightened and shut away from the outside the unknown. Some people reject the development of PLTU, because the project has damaged the environment and others claim to lose its livelihood as a farmer. Natural resources in the village of Ujung Negoro, Karanggeneng, Ponowareng and surrounding area is a support that gives the life of local people to fulfill their daily needs. Starting from farming, looking for fish in the sea, and all its activities. The condition of the village is still green, beautiful and also productive rice fields, making some citizens quite heavy selling land.

Development with the argument to give Kesejahterahan to the community, including indigenous peoples, is precisely often done at the expense of local wisdom values that are still preserved... The development that is only done by viewing it from the short-term economic side has sacrificed aspects of sustainability... Need to be implanted back through a holistic science perspective, that nature is not in place if only viewed from the economic aspect alone. Nature is a treasure trove to be utilized wisely, not for exploitation. That living in harmony with nature will determine the quality of human life. Man must preserve his life environment, because that is where the source of his life. In other words in terms of the environment, the current generation in enjoying natural resources and biodiversity, must also be enjoyed by generations to come with the same quality and quantity. In environmental management should be held on several principles stipulated in LAW No. 32 year 2009 on protection and environmental management in which it also contains the value of justice.

"The development of Steam power Plant Project (PLTU) in Batang District is a development aimed at the welfare of the community in the form of convenience in electrical energy for the area of Java and Bali CSR programs of PT. Bhimasena Power Indonesia is expected to provide kesejahterahan for affected village communities. PT. Bhimasena Power Indonesia's CSR Program covers economic, educational, health, and socio-cultural fields. With the CSR program is expected to give Kesejahterahan to affected residents, so that they can live with Sejahterah.

Central Java HYDROPOWER 2 X 1000 MW is the first infrastructure project of private government cooperation or built with Public Private Partnership (PPP) scheme as well as part of the Master Plan acceleration and expansion of Indonesia's economic development. This plant is expected to be a locomotive in Java economic development. In addition, the PLTU is planned to use the latest technology that is more environmentally friendly and efficient namely Ultra Super Critical. The Batang PLTU contributes to supplying 5.7 percent electricity to the Java-Bali system so as to support electrification ratio in Java.

Nevertheless, any development that must be in line with the basic philosophy of State (Filosifishe Gronslag) of Indonesia namely Pancasila and the mandate of the CONSTITUTION of the Republic of Indonesia year 1945 article 28 H paragraph (1) "Every person has the right to live prosperous born and inner, residing, and obtain a good and healthy living environment and are entitled to health care services and article 33 paragraph (4) The national economy is organized based on economic democracy with the principle of togetherness , equitable efficiency, sustainability, environmental insight, self-

(20)

reliance, and by maintaining a balance of progress and national economic unity. For that UUD 1945 famous with the popular term "green Constitution" should be considered in all activities related to development, no exception, Project steam power plant in Batang district.

B. FORMULATION OF PROBLEMS

Based on the background above, can be formulated the following problems: (1) is the environmental management in the development of steam power plants (PLTU) is not currently in fairness? (2) What are the negative impacts of the development of the steam power plant on current environmental management? (3) How is the reconstruction of environmental management in the development of steam power Plant (PLTU) in the future based on the value of justice?

C. FRAMEWORK OF DISSERTATION THEORY

1. Islamic Justice Theory and Pancasila theory as Grand Theory A. Islamic Justice theory

1. QS. An-Nahl: 90, which means:

"Verily, Allah shall have (you) fair and commit virtue, give to relatives, and Allah forbid from evil, evil and hostility. He gives you instruction that you may take heed. "

2. QS. Al-Maidah: 8, which means:

"Hey people of faith, you shall be those who always uphold the cause of Allah, to be witnesses justly. And do not your hatred against a tribe, encourage you to be unjust. Is true, because it is just closer to the Takwa. And fear Allah, indeed, Allah knows what you have been. "

3. QS. Ar-Rahman: 7, which means:

"And God has raised up the heavens, and he laid the balance (justice)." 4. QS. asSyuura (42) verse 15, which means:

"So be it (they are to that religion) and remain as commanded you and do not follow their passions, and say," I have faith in all the book of Yaig, and I shall be commanded to be righteous among you. " For us our charity and for you your charity. There is no quarrel between us and you God collecting between us and in-law Tobali (US) "

5. QS. An-NISAA verse 135, which means:

"Hey Those who believe, be ye the very people of justice, to be witnesses of God even against yourself or your mother, father and your kindred. If it is rich or poor, Allah knows more about the problem. Then do not follow lust because you want to stray and righteousness. And if you turn the invert (words) or witness, then indeed Allah knows everything you do. "While the prohibition to do destruction on Earth to natural resources, is governed in the A1-Qur'an letter Ar-Rum 30:41, which means:

"There seemed damage on land and sea because of the deeds of human hands, so that God felt to them part of their deeds, that they might return (to the right way)".

(21)

xxx B. Pancasila Theory of Justice,

Pancasila as the basis of philosophy or philosophy derive a source of value in the context of dynamic journey of cultural history of the nation. The establishment of a value source that is included in the national philosophical system, running in a long history, involving not only the scholars and the Interparish Primus, but also the community. The commitment of justice according to Pancasila's mind is broadly dimensional. The role of the country in the realization of social justice, at least in the framework: 1. The realization of a fair relationship at all levels of the system (community), 2. The development of structures that provide equality of opportunity, 3. The process of facilitating access to necessary information, required services and required resources, 4. Support for participation is meaningful to the decision making for everyone. The idea of justice is also not limited to the fulfillment of Kesejahterahan which is economical, but also related to emancipation efforts in the framework of human liberation from idolatry to objects, glorification of humanitarian dignity, fertilization of national solidarity and strengthening the sovereignty of the people.

With the fair and civilized humanity, mankind is recognized and treated in accordance with its dignity and dignity as a creature of God Almighty, as the same degree, the same rights and obligations of its origin, without discriminate tribes, descendants, religions, and beliefs, sex, social standing, skin tone and so on. Because it developed the attitude of mutual love of people, a sense of tolerance and "Tepa Salira" and attitude not arbitrarily to others. Fair and civilized humanity means upholding the human values, keen on humanitarian activities, and daring to defend truth and justice. Pancasila is declared as the soul of the nation of Indonesia, as a personality of the people of Indonesia, as a view of the life of the Indonesian nation, and as guidelines for the life of This is in accordance with the daily comfort of the Indonesian nation. The values in Pancasila were excavated from the Indonesian people themselves, namely in the value of customs, culture, and religion of the life of the nation.

2. Cybernetika Talcott theory Parson as Midle Theory

The cultural world with input values into the social system is one of the resources for the social system's work... That without input values it's social system (in this case via its social norms) can not start working. The resources required by the social system not only come from the cultural field but also other areas in society. One of those areas is this: economics. This economic field adapts to human life environment that is bio-Phisycs. Without the adaptation function done by this economy, the community could not sustain its life amid its environment. This economic activity that can change the various resources that exist around the human so it is useful to maintain its survival. This activity is for example: agriculture, mining, trade, industrial production tools and so on.

(22)

xxxi 3. Legal theory of development as Applied theory

This theory was introduced by Mochtar Kusumaatmadja, an international legal expert, when he was a speaker at the national Seminar in 1973. Mochtar Kusumaatmadja's view on the function and role of law in national development, then known as the theory of the law of development, is placed on the premise which is the essence of the doctrine or principle as follows:

a). All communities that are building up are always characterized by change and the law serves to guarantee that the change happens in a regular way. Regular changes according to Mochtar, may be assisted by legislation or court judgments or a combination of both. He resisted irregular changes using sheer adjustment.

b). Neither change nor order (or regularity is the initial purpose of the developing community, then the law becomes a means (not a tool) which cannot be ignored in the development process;

c). The functioning of the law in the community is to maintain order through the legal and judicial jurisdiction (as social Kadiah) should be able to regulate (help) the process of change in society;

d). Good law is the law in accordance with the living Law in society, which is certainly appropriate or is a reflection of the prevailing values in the society;

e). The implementation of the above legal functions can only be realized if the law is executed by a power, but the power itself must walk within the boundaries of the signs specified in the law.

D. Paradigm Research

In this desertation using the critical theory paradigm saw that, the element of truth was inherent in the "historical situatedness of the inquiry." The historical situation that lays the foundation of research activities is contextual, covering social, political, economic, ethnic and gender situations. Besides, researchers must also develop the attitude of "conscientization" that is careful attitude in research activities, because research activities can uncover ignorance and misunderstandings. Not all assumptions and theories contain truth so that in the process of research activities can be achieved new insight in the form of a certain way of thinking.

E. Approach method

The approach used in this research is socio legal research, because to know the overall picture of reconstruction of environmental management in PLTU development in Batang district. ”... Legal studies as a law in action are non-doctrinal and empirical social sciences studies. In social studies, the law was not conceptualed as a self-sufficient normative (autonomous) symptom, but as a socially associated social institution with other social variables.

F. Results of research and discussion

Batang District, located at 60 51 ' 46 to 70 11 ' 47 south latitude and between 109 0 40 ' 19 to 1100 03 ' 06 East longitude on the north coast of Central Java and is on the main line that connects Jakarta – Surabaya. Total area 78,864.16 Ha. The boundaries of its territory is north of the Java Sea, east of Kendal District, south of Wonosobo Regency and Banjarnegara Regency, west of the city and Kabupaten Pekalongan. The position

(23)

xxxii

placed Batang District, primarily the capital of the government in the North Java economic route. The flow of transportation and high mobility on the Pantura line provides the possibility of Batang Regency developing quite a prospective sector of transit and transport services.

1. The CSR Program of PT. Bhimasena Power Indonesia is quite a lot, including: 1. Economic development program, namely:

1. Joint Venture Group Development

2. Development of microfinance institutions 3. Temporary employment creation

4. Social compensation 5. Substitute Land

6. Creation of new entrepreneurship

2. Support Improvement of health quality: Posyandu Program support, strengthening the institutional health of the village, support for environmental health enhancement and health care campaign

3. Education Quality Improvement Support: Adiwiyata School support, literacy enhancement, and school development Program

4. Support Program of social, cultural and environmental activities: environmental hygiene. Ecosystem restoration, garbage management, and social programs.

Based on research and interview results, with the affected residents, for the CSR Group joint venture today many are already not running, but so for cooperatives keep the loan still there even though not maximal. At the end Negoro making crackers Usek also still running, but so for the other many who have not walked. For CSR the field of education and health is still running well. And now for fishermen in the village of Negoro and surrounding ends also quite a lot of working in the PLTU, although only a rude force. Nevertheless, the village of East Roban can be said to all its citizens still as a fisherman (Cantrang) to depart from Dawn back in the afternoon around 13.00. So that the condition of society affected is different condition.

While this difficulty in the research is still there when the author entered a research permit to PT. Bhimasena Power Indonesia, representatives who are in Batang to conduct interviews, so far has not been done. This is because the development process is still running and the party of PT. Bhimasena has not been able to do research. This is conveyed by the party appointed by the representative office of PT. Bhimasena Power Indonesia in Batang. Furthermore, for people who refuse to sell their land for PLTU, also closed to provide information.

The construction of Tenag Uap power plant in Batang Regency, making farmers and fishermen lose their livelihood, although it has been compensated for land area of 70 Ha, but the land is not productive, is dry land and only suitable for planting polowijo, and can not be used for planting rice. It is not all farmers want to fit in the cultivation, so that many people lose their livelihood as farmers. In interviews with the chairman and Go Green members (NGO) who follow and accompany the citizens impacted, that by the development of steam power plant in Batang District, for farmers do not add kesejahterahannya, but instead make them fall poor. This is because their

Referensi

Dokumen terkait

Penstrukturan Kursus Citra yang dilaksanakan ini dapat menambahbaik sistem penyampaian universiti dalam melengkapkan pendidikan pelajar bagi melahirkan graduan

Beberapa kesimpulan yang dapat diberikan dari hasil penelitian ini adalah sebagai berikut: 1) Sistem dapat mengaplikasikan pengetahuan kerusakan mesin mobil. 2) Website

Berdasarkan hasil penelitian, terdapat hubungan yang signifikan antara power (kemampuan) brand ambassador Lee Min Ho dengan keputusan pembelian terhadap produk

bahwa dalam rangka pelaksanaan ketentuan Pasal 60 Undang- Undang Nomor 22 Tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah juncto Pasal 9 Peraturan Pemerintah Nomor 8 Tahun 2003 tentang

Dengan ini saya menyatakan dengan sesungguhnya bahwa dalam skripsi ini tidak terdapat keseluruhan atau sebagian tulisan orang lain yang saya ambil dengan cara menyalin,

kompetensi dasar, aktivitas, indikator penca- paian aktivitas, materi pembelajaran, dan pengalaman belajar sesuai dengan silabus pem- belajaran; 2) Telaah buku

• Proses akulturasi yang berjalan dengan baik akan menghasilkan integrasi antara unsur kebudayaan asing dengan unsur kebudayaan sendiri. • Kegoncangan kebudayaan terjadi apabila

Manfaat penelitian ini adalah memberi pengetahuan kepada Bapak/Ibu tentang mulut kering yang terjadi dan dapat menjaga kesehatan rongga mulut agar tidak terjadi mulut