BAB III
HAK WARIS ANAK ANGKAT DALAM HUKUM ADAT DAN KOMPILASI
HUKUM ISLAM
B.Pengertian Waris
Pengertian hukum waris dalam sistem hukum Adat ada berbagai macam pendapat diantaranya Betrand Ter Haar menyebutkan Hukum waris Adat adalah proses penerusan dan peralihan kekayaan materil dan immaterial dari turunan ke turunan.167Soepomo juga menyebutkan Hukum adat waris memuat peraturan-peraturan yang mengatur proses meneruskan serta mengoperkan barang-barang harta benda dan barang-barang yang tidak berwujud benda (immateriele goederen) dari suatu angkatan manusia (generatie) kepada keturunannya.
Soerojo Wignjodipoero.168 Hukum adat waris meliputi norma-norma hukum yang menetapkan harta kekayaan baik yang bersifat materil maupun yang bersifat immateril dari seseorang yang telah meninggal dunia kepada ahli warisnya.169
Pengertian hukum waris dalam sistem hukum Islam adalah aturan yang mengatur peralihan harta dari seseorang yang meninggal dunia kepada ahli warisnya. Hal ini berarti menentukan siapa-siapa yang menjadi ahli waris, porsi bagian masing-masing
167
Betrand Ter Haar, Asas-asas dan Susunan Hukum Adat, Terjemahan Soerbakti Poesponoto, Surabaya, Fadjar, 1953, Hal : 197
168
Soepomo, Op, Cit, Bab-bab tentang Hukum Adat, Hal : 79 169
ahli waris, menentukan harta peninggalan dan harta warisan bagi orang yang meninggal dimaksud.170
Hukum waris Eropa yang dimuat dalam Burgerlijk Wetboek (BW) adalah kumpulan peraturan yang mengatur mengenai kekayaan karena wafatnya seseorang, yaitu mengenai pemindahan kekayaan yang ditinggalkan oleh si mati dan akibat dari pemindahan ini bagi orang-orang yang memperolehnya, baik dalam hubungan antara mereka dengan pihak ketiga.171
Kekayaan dalam pengertian waris diatas adalah sejumlah harta kekayaan yang ditinggalkan seseorang yang meninggal dunia berupa kumpulan aktiva dan pasiva. Namun pada dasarnya, proses beralihnya harta kekayaan seseorang kepada ahli warisnya, yang dinamakan pewarisan, terjadi karena adanya kematian. Oleh karena itu, unsur-unsur terjadinya pewarisan mempunyai tiga persyaratan sebagai berikut :172
a. Ada orang yang meninggal dunia.
b. Ada orang yang masih hidup, sebagai ahli waris yang akan memperoleh warisan pada saat pewaris meninggal dunia
c. Ada sejumlah harta kekayaan yang ditinggalkan oleh pewaris.
Hukum waris menurut BW berlaku asas : “Apabila seseorang meninggal dunia, maka
seketika itu juga segala hak dan kewajibannya beralih kepada sekalian ahli
170
Zainuddin Ali, Op, Cit, Pelaksanaan Hukum Waris di Indonesia, Hal : 33 171
A. Pitlo, Hukum Waris Menurut Kitab Undang-undang Hukum Perdata, Terjemahan M. Isa Arief, Jakarta, Intermassa 1979, Hal : 1
172
warisnya”.173
Hak-hak dan kewajiban dimaksud, yang beralih kepada ahli waris adalah termasuk ruang lingkup harta kekayaan atau hanya hak dan kewajiban yang dapat dinilai dengan uang.
Hukum waris (Erfrecht), KUH Perdata pasal 380 dst) ialah hukum yang mengatur kedudukan hukum harta kekayaan seseorang setelah ia meninggal, terutama berpindahnya harta kekayaan itu kepada orang lain. Ciri khas hukum waris perdata Barat atau BW antara lain : adanya hak mutlak dari para ahli waris masing-masing untuk sewaktu-waktu menuntut pembagian dari harta warisan. Hal itu berarti bila seseorang ahli waris menuntut pembagian harta warisan di pengadilan, maka tuntutan dimaksud, tidak dapat ditolak oleh ahli waris yang lainnya. Hal ini berdasarkan ketentuan Pasal 1066 BW sebagai berikut :
a. Seseorang yang mempunyai hak atas sebagian dari harta peninggalan tidak dapat dipaksa untuk membiarkan harta benda peninggalan dalam keadaan tidak terbagi-bagi di antara para ahli waris yang ada.
b. Pembagian harta benda peninggalan itu selalu dapat dituntut walaupun ada perjanjian yang melarang hal tersebut.
c. Perjanjian penangguhan pembagian harta peninggalan dapat saja dilakukan hanya beberapa waktu tertentu.
d. Perjanjian penangguhan pembagian hanya berlaku mengikat selama lima tahun, namun dapat diperbaharui jika masih dikehendaki oleh para pihak.
173
Hukum waris Perdata Barat174 diatur dalam buku II Kitab Undang-Undang Hukum Perdata (BW), yaitu yang mengatur tentang benda. Hal ini didasari oleh pemikiran :
a. Memperoleh warisan merupakan satu cara untuk memperoleh harta benda.
b. Falsafah hidup orang Barat pada umumnya bersifat materialistis dan individualistis.
Hal pertama dapat dilihat secara jelas dalamkehidupan sehari-hari bagi orang yang memperoleh harta melalui warisan, hal kedua dapat dilihat dalam pelaksanaan hukum waris Perdata Barat, yaitu hanya hak-hak dan kewajiban dalam lapangan hukum kekayaan harta benda saja yang dapat diwariskan. Kecuali itu, dalam hal pakai hasil yang sebenarnya termasuk hukum harta benda, tidak dapat diwariskan. Sebaliknya, hak seorang anak untuk diakui sebagai anak sah dan hak seorang ayah untuk menyangkal sahnya anak, yang sebenarnya termasuk lapangan hukum keluarga. Hal ini didasari oleh keberlakuan Kitab Undang-Undang Hukum Perdata di Indonesia yang berdasarkan Pasal II Aturan Peralihan UUD 1945.175
Dalam Kitab Undang-Undang Hukum Perdata di Indonesia ada dua acara untuk mendapatkan harta warisan, yaitu :
a. Sebagai ahli waris menurut ketentuan Undang-Undang (ab intestate). b. Karena seorang ditunjuk dalam surat wasiat (testamentair).
174
Hukum waris yang diterjemahkan dari BW yang termasuk Kitab Undang-Undang Hukum Perdata 175
Pasal 834 BW mengungkapkan bahwa seorang ahli waris berhak untuk menuntut segala apa saja yang termasuk harta peninggalan agar diserahkan kepadanya, berdasarkan haknya sebagai ahli waris. Pemilik hak dimaksud mirip dengan hak seorang pemilik benda. Hak menuntut ahli waris dimaksud, hanya terbatas pada seseorang yang menguasai suatu harta warisan dengan maksud untuk memiliknya. Jadi, penuntutan ini tidak dapat dilakukan terhadap pelaksanaan wasiat (executeur testamentair), seorang kurator atas harta peninggalan yang tidak terurus dan penyewa dari benda warisan.
Warisan merupakan salah satu cara yang limitative ditentukan untuk memperoleh hak milik, dan karena benda (hak) milik merupakan salah satu unsur pokok dari benda maka hukum waris diatur dalam Buku II bersama-sama dengan pengaturan tentang benda yang lain. Dalam pasal 584 KUHPerdata dinyatakan bahwa “hak milik atas
suatu benda tak dapat diperoleh dengan cara lain, melainkan pemilikan, karena perlekatan, karena kadaluarsa, karena pewarisan, baik menurut undang-undang maupun menurut surat wasiat176
KUHPerdata memiliki beberapa prinsip-prinsip kewarisan, yaitu :177
a. Pewarisan karena kematian, pasal 830 KUHPerdata secara garis besar menentukan, bahwa pewarisan hanya terjadi karena kematian. Dengan demikian, sejak detik kematian tersebut, maka segala hak dan kewajiban pewaris beralih pada para ahli warisnya. Yang beralih pada ahli warisnya hanyalah hak dan kewajiban dalam hubungan hukum harta kekayaan. Pengecualiannya : hak untuk menuntut pengakuan anak yang mempunyai hak subyektif, tetapi beralih pada ahli waris. Pengertian meninggal dunia di sini
176
Akmaluddin Syahputra, Hukum Perdata Indonesia, Medan, Perdana Mulya Sarana, 2011, Hal : 123 177
diartikan meninggal dunia secara alamiah, karena KUHPerdata tidak mengenal lagi kematian perdata.
b. Keberadaan ahli waris. Pada prinsipnya, orang bertindak sebagai ahli waris, maka ia harus ada atau sudah lahir pada saat terbukanya warisan. Orang akan menggantikan hak dan kewajiban pewaris sebagai ahli waris selain ia harus sudah ada atau sudah dilahirkan, ia juga harus masih ada (masih hidup) pada saat meninggalnya si pewaris (pasal 836 dan pasal 899 ayat I KUHPerdata). Dengan demikian, kematian dan kelahiran seseorang memegang peranan penting dalam pewarisan. Saat tersebut pada hakekatnya, menentukan siapa yang berhak mewaris dan sejak kapan hak dan kewajiban pewaris beralih kepada ahli warisnya
c. Perpindahan di dalam pewarisan adalah kekayaan si pewaris. Yang dimaksud dengan kekayaan si pewaris adalah hak dan kewajiban yang dapat dinilai dengan uang. Hukum waris pada hakekatnya, merupakan bagian dari hukum harta kekayaan. Artinya, yang diwariskan pada prinsipnya adalah hak dan kewajiban yang dapat dinilai dengan uang, kecuali dalam hal-hal tertentu, yaitu :
1) Pemberian kuasa berakhir dengan meninggalnya si pemberi kuasa (pasal 1813 KUHPerdata)
2) Hubungan kerja yang bersifat sangat pribadi tidak beralih kepada ahli warisnya (pasal 1601 KUHPerdata)
3) Keanggotaan dalam perseroan tidak beralih kepada ahli warisnya (pasal 1646 KUHPerdata)
4) Hak pakai hasil berakhir dengan meninggalnya orang yang mempunyai hak tersebut (pasal 807 KUHPerdata)
Sedangkan hak dan kewajiban dalam bidang hukum keluarga pada prinsipnya, tidak beralih kepada para ahli warisnya. Misalnya, hak suami sebagai kepala rumah tangga, hak wali terhadap anak yang diperwalikan, hak pengampu tidak beralih kepada ahli waris (tidak diwariskan). Terhadap hal ini terdapat dua pengecualiannya, yaitu :
a. Hak yang dimiliki oleh seorang suami untuk menyangkal keabsahan anak dapat dilanjutkan oleh ahli warisnya.
KUHPerdata mengandung asas tidak memandang sifat maupun asal-usul barang warisan. Halini dapat kita simpulkan dari pasal 849 KUHPerdata yang menentukan, bahwa undang-undang tidak memandang akan sifat atau asal barang-barang dalam suatu peninggalan untuk mengatur pewarisan terhadapnya. Dengan demikian dalam pewarisan tidak diperhatikan, apakah barang tertentu dari keluarga pihak ayah atau dari keluarga pihak ibu orang yang meninggal dunia. Menurut pasal 850 KUHPerdata, dengan tidak mengurangi ketentuan-ketentuan dalam pasal 854, pasal 855, dan pasal 859 KUHPerdata, tiap-tiap warisan yang mana, baik seluruhnya maupun untuk sebagian, terbuka atas kebahagiaan para keluarga sedarah dalam garis lurus ke atas atau dalam garis menyimpang, harus dibelah menjadi 2 bagian yang sama, bagian-bagian mana yang satu adalah untuk sekalian sanak-saudara dalam garis bapak, dan yang lain untuk sanak-saudara dalam garis ibu. Bagian-bagian warisan tersebut tidak boleh beralih dari garis yang satu ke garis yang lain, kecuali apabila dalam salah satu garis tidak ada seorang keluarga pun, baik keluarga sedarah dalam garis lurus ke atas maupun keponakan-keponakan.178
C. Dasar Waris Mewarisi
Kaitannya dengan sumber hukum waris nasional, ada beberapa pilihan yang dapat dijadilak landasan pembagian harta waris oleh masyarkat di Indonesia, yaitu :
a. Menggunakan hukum adat. Menurut Wirjono Prodjodikoro, hukum adat pada umumnya bersandar pada kaidah social normative dalam cara
178
berfikir yang konkret, yang sudah menjadi tradisi masyarakat tertentu. Salah satunya, masyarakat Minangkabau yang membagi harta waris dengan hukum adat, yang secara substansial sumber utama dari hukum adat itu sendiri adalah syariat Islam.179
b. Menggunakan hukum waris Islam, yang cara pembagiannya secara murni mengacu pada doktrin ajaran Islam yang termuat dalam Al-Quran dan As-Sunnah serta ijma ulama, atau Kompilasi Hukum Islam Indonesia.
c. Menggunakan Burgerlijk Wetboek (BW). Dalam BW terdapat empat golongan ahli waris yang bergiliran berhak atas harta warisan, yakni golongan kesatu sebagai golongan terkuat, yang akan menutup hak golongan kedua hingga keempat, jika golongan kesatu tidak ada, hak waris berpindah kepada golongan kedua, demikian seterusnya.
Dalam hal ada golongan kesatu, yaitu anak-anak dan atau keturunannya serta janda, seluruh harta warisan seluruh menurut pasal 852 BW harus dibagi sebagai berikut :180
a. Apabila anak-anak dari si wafat masih hidup, anak-anak itu dan janda mendapat masing-masing suatu bagian yang sama. Jadi, misalnya ada 4 anak dan janda maka mereka masing-masing mendapat 1/5 bagian.
b. Apabila salah seorang anak sudah meninggal lebih dahulu, dan ia mempunyai anak (cucu si peninggal warisan), misalnya 4 cucu, maka
179
Wirjono Prodjodikoro, Hukum Warisan di Indonesia, Bandung, Sumur Bandung, 1991 180
mereka semua mendapat 1/5 bagian selaku pengganti ahli waris menurut pasal 842 BW, jadi masing-masing cucu mendapat 1/20 bagian.
Maka dapat dipahami peraturan hukum waris di Indonesia terdiri dari tiga macam, yaitu Hukum Adat, Hukum Islam, dan Hukum Perdata (BW).181
Kompilasi Hukum Islam (KHI) menyebutkan dasar pewarisan pada pasal 174 ayat (1) Kelompok-kelompoh ahli waris terdiri dari :182
a. Menurut hubungan darah
- Golongan laki-laki terdiri dari : ayah, anak laki-laki, saudara laki-laki,
paman dan kakek.
- Golongan perempuan terdiri dari : ibu, anak perempuan, saudara
perempuan dan nenek.
b. Menurut hubungan perkawinan terdiri dari : duda atau janda
Anak angkat tidak termasuk dalam katagori tersebut, karena anak angkat bukan satu kerabat atau satu keturunan dengan orang tua angkatnya, dan bukan pula ;ahir dari perkawinan yang sah dari orang tua angkatnya. Maka antara anak angkat dengan orang tua angkatnya tidak berhak saling mewarisi. Hak saling mewarisi hanya berlaku antara anak angkat dengan orang tua kandungnya atas dasar hubungan darah.183
D. Hak Waris Anak Angkat (Adopsi)
Hukum Islam tidak mengenal pengangkatan anak dalam arti menjadikan anak orang lain menjadi anak di mana memutuskan hubungan si anak dengan orang tua asalnya,
181
Zainuddin Ali, Op, Cit, Pelaksanaan Hukum Waris di Indonesia
182
Kompilasi Hukum Islam (KHI) pasal 174 Ayat (1) 183
bahkan pengangkatan anak seperti itu dilarang. 184Jalan yang ditunjukkan oleh Tuhan ialah syariat Islam. Maka segala peraturan yang lain, termasuk peraturan orang kafir yang dijalankan dalam dunia Islam, mengangkat anak orang lain jadi anak sendiri, bukanlah jalan yang benar. Islam telah mengadakan aturan sendiri dalam menjaga
nasab dan keturunan, sehingga apabila seseorang meninggal dunia sudah ada ketentuan pembagian harta pusaka (Faraid). Namun mengangkat anak orang lain jadi kepada anak angkat itu adalah melanggar pula kepada ketentuan hak milik yang telah ditentukan syari‟at. Di Indonesia sebagai Negri yang 350 tahun lamanya dijajah
diakui pula peraturan pengangkatan anak itu, nyatalah mereka melanggar syari‟at nya
sendiri. Inilah yang diperingatkan Tuhan kepada Rasulnya pada ayat pertama surat ini, agar Rasul jangan mengikuti kepada kafir dan munafik. 185
Dalam hukum Islam, tidak ada hubungan saling mewarisi antara anak angkat dengan orang tua angkatnya. Sehingga sering kali anak angkat berada pada posisi yang lemah. Terlebih jika ia tidak memiliki akta otentik sebagai bukti hubungan pengangkatan anak. Sebaliknya, tidak jarang pula anak angkat menguasai harta waris seluruhnya. Dengan dalih bahwa ia telah memberikan kontribusi yang banyak terhadap orang tua angkatnya. Dua kondisi di atas kemudian melahirkan sengketa harta waris yang menjadi kompetensi absolut dari Pengadilan Agama.186
184
Achmad Ichsan, Hukum Perdata, Jakarta, Pembimbing Masa, 1969, Hal : 120 185
Al-Muhaddits, Op, Cit, Shohih Ababun Nuzul, Hal : 315-316 186
Islam mensyariatkan sistem hubungan keluarga atas asas alami dan sesuai tabiat keluarga, menentukan ikatan-ikatannya, dan menjadikannya jelas dan tidak bercampur aduk serta tidak ada cacat di dalamnya. Kemudian Islam membatalkan adat adopsi dan mengembalikan hubungan nasab kepada sebab-sebabnya yang hakiki, yaitu hubungan darah, orang tua dan anak yang benar dan hakiki. 187
Hubungan itu merupakan hubungan perasaan dan adab. Ia tidak memiliki konsekuensi-konsekuensi lazim dan keharusan-keharusan seperti saling mewarisi dan membayar diyat yang semua itu merupakan konsekuensi-konsekuensi hubungan darah. Hal itu dilakukan agar para anak angkat tersebut tidak bebas begitu saja dan diacuhkan tanpa ikatan sama sekali dalam masyarakat setelah hubungan pengangkatan anak dihapuskan. Nash ini “…dan jika kamu tidak mengetahui bapak-bapak mereka…”, dapat menggambarkan betapa kacau balaunya institusi keluarga
pada masyarakat jahiliyah dan kebejatan inilah yang ingin dikoreksi dan dibenarkan oleh Islam dengan membangun sistem keluarga atas fondasi hubungan orang tua kandung. Juga dengan membangun sistem masyarakat di atas asas keluarga yang sehat, aman dan benar.188
Akibat hukum pengangkatan anak menurut hukum adat sifatnya variatif, artinya disuatu daerah mungkin berlainan dengan hukum adat di daerah lainnya. Misalnya, dalam hukum adat Minangkabau, walaupun pengangkatan anak merupakan perbuatan yang diperbolehkan, tetapi perbuatan itu tidak menimbulkan hubungan
187
Sayyid Quthb, Tafsir Fi Zhilali Qur’an, Jilid 9, Penerjemah As‟ad Yasin ed, al, Jakarta, Gema Insani, 2004, Hal : 220
188
kewarisan antara orang tua angkat dengan anak angkat. Sementara itu di daerah-daerah yang menganut sistem kekerabatan bilateral (parental, keibubapakan), misalnya di Jawa, Sulawesi, dan sebagian Kalimantan, pengangkatan anak menimbulkan hubungan kewarisan. Hukum adat Jawa mengenal asa “ngangsu sumur
loro” untuk kewarisan anak angkat. Kata “ngangsu” berarti mencari atau
memperoleh “sumur” berarti tempat mengambil air atau perigi “loro” berarti dua. Asas itu bermaksan bahwa anak angkat memperoleh warisan dari dua sumber, yaitu dari orang tua kandung dan orang tua angkat.189
Hubungannya dengan masalah warisan, maka terdapat juga variasi ketentuan hukumnya seperti misalnya daerah Lampung Utara dengan tegas menyatakan bahwa anak angkat tidak mendapat bagian warisan dari orang tua kandungnya. Dengan demikian jelas dia adalah ahli waris dari orang tua angkatnya.ketentuan tersebut sesuai dengan beberapa daerah di kecamatan Duduk Kabupaten Gresik yang juga menyatakan bahwa anak mewarisi dari orang tua angkatnya, bahkan disamping itu ia juga mewarisi orang tuanya sendiri. Namun sebetulnya banyak daerah di Indonesia yang hukum adatnya menyatakan bahwa anak angkat bukanlah sebagai ahli waris seperti di Kabupaten Lahat (Palembang) pada umumnya di sini anak angkatnya hanya mendapat warisan, apabila pada waktu pengangkatannya secara khusus dinyatakan bahwa ia kelak mewarisi dari orang tua angkatnya. Kalau tidak disebutkan, maka tidaklah ia sebagai ahli waris. Untuk daerah Pasemah harus tetap tinggal di dusun
189
orang tua angkatnya. Selain itu lazimnya daerah Paseman ini apabila disamping anak angkat ada anak kandung, mereka mendapat warisan, tetapi warisannya tidak sama. Kemudian untuk beberapa daerah di Kabupaten Batanghari dengan jelas menyatakan hukum adatnya, bahwa anak angkat di sini tidak pernah mewarisi orang tua angkatnya. Begitu pula di Kecamatan Bontomaranu Kabupaten Goa daerah Kepulauan Tidore (Ambon), daerah Takengon Kabupaten Aceh Tengah, Kecamatan Cikajang Kabupaten Garut, Kecamatan Sambas Kalimantan Barat dan beberapa daerah lain menyatakan bahwa anak angkat bukanlah ahli waris dari orang tua angkatnya, dia adalah ahli waris orang tua nya sendiri. Bisa menjadi waris melalui jalur hibah/pemberian, sehingga anak angkat mendapatkan sedikit bagian dari harta peninggalan orang tua angkatnya. Ketentuan bias tidaknya suatu pengangkatan (adopsi) dibatalkan pada umumnya sesuai dengan kultur dan kepribadian Timur, maka bagi masyarakat Indonesia adalah salah satu hal yang tidak etis, terkecualinya adanya hal-hal yang luar biasa, seperti terjadi penghianatan dari anak angkatnya, maka wajar saja terjadi pembatalan adopsi ini. Selanjutnya kalau memperhatikan versi pengadilan, contoh Pengadilan Martapura, Kalimantan Selatan yang menyatakan bahwa Adopsi (pengangkatan anak) bias dibatalkan bilamana syarat-syarat formalnya itu salah atau data yang diajukan oleh pemohon tidak benar, yang biasanya dalam hal ini orang tua angkatnya, maka batal karena hukum.190
Menurut Kitab Undang-Undang Hukum Perdata (KUH Perdata) tidak membedakan ahli waris laki-laki dan perempuan, tidak juga membedakan urutan kelahiran, hanya
190
ada ketentuan bahwa ahli waris golongan pertama jika masih ada maka akan menutup hak anggota keluarga lainnya dalam garis lurus ke atas dan ke samping sehingga tampak anggota keluarga yang lebih dekat menutup haknya anggota keluarga yang lebih jauh.191
Mengenai siapa saja yang berhak mendapatkan warisan maka KUHPerdata menggolongkan ahli waris menjadi 4 golongan, yaitu :
8. Ahli waris golongan I
a. Ahli waris golongan I terdiri atas anak-anak atau sekalian keturunannya. Anak yang dimaksud pada Pasal tersebut adalah anak sah, karena mengenai anak luar kawin, pembuat undang-undang mengadakan pengaturan tersendiri dalam bagian ke 3 Title/Bab ke II mulai dari pasal 862 KUHPerdata. Termasuk dalam kelompok anak sah adalah anak-anak yang disahkan serta anak-anak yang diadopsi secara sah.192
b. Suami atau istri yang hidup lebih lama. Adapun besaran bagian hak seorang istri atau suami atas warisan pewaris adalah ditentukan dengan seberapa besar bagian satu orang anak.193
9. Ahli waris golongan II, golongan ini terdiri atas orang tua, saudara laki-laki atau perempuan dan keturunannya. Pengaturan mengenai bagian ahli waris golongan ini diatur dalam Pasal 854-857 KUHPerdata
191
Zainuddin Ali, Op, Cit, Pelaksanaan Hukum Waris di Indonesia, Hal : 93 192
J. Satrio, Hukum Waris, alumni 1992, Bandung, 1992, Hal : 102 193
10. Ahli waris golongan III, golongan ini terdiri atas keluarga sedarah dalam garis lurus ke atas sesudah orang tua, baik dari pihak ayah maupun dari garis ibu. Menurut pasal 853 KUHPerdata, golongan ini muncul apabila ahli waris dari golongan I dan II tidak ada. Yang dimaksud dengan keluarga sedarah dalam garis ibu dan garis ayah ke atas adalah kakek dan nenek, kakek buyut dan nenek buyut terus ke atas dari garis ayah maupun garis ibu.194
11. Ahli waris golongan IV, menurut Pasal 858 ayat (1) KUHPerdata, dalam hal tidak adanya saudara (golongan II) dan saudara dalam salah satu garis lurus ke atas (golongan III), maka setengah bagian warisan menjadi bagian keluarga sedarah dalam garis lurus ke atas yang masih hidup. Sedangkan setengah bagiannya lagi menjadi bagian dari para sanak saudara garis yang lain. Pengertian sanak saudara dalam garis yang lain ini adalah para paman dan bibi, serta sekalian keturunan mereka yang telah meninggal dunia lebih dahulu dari pewaris.195
194
Simanjuntak, Pokok-Pokok Hukum Perdata Indonesia, Djambatan, Jakarta, 1992, Hal : 259 195
BAB IV
PORSI BAGIAN WARIS BAGI ANAK ANGKAT DALAM HUKUM ADAT
DAN KOMPILASI HUKUM ISLAM
A. Porsi Warisan Terhadap Anak Angkat
Dalam hukum adat, penentuan waris bagi anak angkat tergantung kepada hukum adat yang berlaku. Bagi keluarga yang parental (misalnya suku jawa), pengangkatan anak tidak otomatis memutus tali keluarga antara anak itu dengan orang tua kandungnya. Oleh karenanya, selain mendapatkan hak waris dari orang tua angkatnya, dia juga tetap berhak atas waris dari orang tua kandungnya. Berbeda dengan suku yang ada di bali, pengangkatan anak merupakan kewajiban hukum yang melepaskan anak tersebut dari keluarga asalnya ke dalam keluarga asalnya ke dalam keluarga angkatnya. Anak tersebut menjadi anak kandung dari yang mengangkatnya dan meneruskan kedudukan dari bapak angkatnya.196 Pengaturan terhadap waris bagi anak angkat dalam hukum adat berbeda dengan daerah satu dengan yang lain, begitu pula terhadap porsi warisannya. Namun kebiasaan nya adalah anak angkat berhak mewaris selaku anak, sedangkan sebagai unsur asing ia tidak berhak. Sepanjang pengangkatan anak itu melenyapkan sifat unsur asing dan menimbulkan sifat anak. Itulah titik pangkal hukum adat.197
KUHPerdata tidak mengatur tentang pengangkatan anak, khususnya dalam hal porsi warisan terhadap anak angkat. Dalam beberapa pasal KUHPerdata hanya dijelaskan
196
Buddiarto, Pengangkatan Anak Ditinjau Dari Segi Hukum, AKAPRESS, 1991 197
masalah perkawinan dengan istilah “anak luar kawin” atau anak yang diakui
(Erkiend).198
Ada dua acara untuk menyelenggarakan pembagian warisan yaitu : 199
1. Pewarisan menurut undang-undang, ialah pembagian warisan kepada orang-orang yang mempunyai hubungan darah yang terdekat dengan si pewaris. Hubungan kekeluargaan sampai derajat keberapa yang berhak menerima warisan, adalah ditentukan oleh undang-undang.
Pada pewarisan menurut undang-undang terdapat pengisian tempat (plaatsvervulling) artinya apabila ahli waris yang berhak langsung menerima warisan, telah mendahului meninggal dunia atau karena sesuatu hal dinyatakan tidak patut menjadi ahli waris, maka anak-anaknya berhak menggantikan menjadi ahli waris dan demikianlah seterusnya.
2. Pewarisan berwasiat, yaitu pembagian warisan kepada orang-orang yang berhak menerima warisan atas kehendak terakhir (wasiat) si pewaris. Wasiat itu harus dinyatakan dalam bentuk tulisan, misalnya dalam akta notaris (warisan testamenter).
Pewarisan menurut Undang-undang terbagi atas dua macam :200
a) Mewaris berdasarkan kedudukan sendiri (uit eigen hoofer), yaitu ahli waris tampil mewaris secara langssung dari pewaris kepala demi kepala (sama rata). Dengan emikian, orang yang mewaris karena kedudukannya
198
http://abdisamudera.blogspot.co.id/2014/04/anak-angkat-menurut-kuh-perdata.html, diakses pada tanggal 12 juni 2016
199
Kansil, Cristine S. T. Kansil, Modul Hukum Perdata Termasuk Asas-Asas Hukum Perdata, Jakarta, Pradnya Paramita, 2004, Hal : 143-144
200
sendiri dalam susunan keluarga si pewaris, mempunyai posisi yang memberikan kepadanya hak untuk mewaris. Hak tersebut adalah haknya sendiri, bukan menggantikan hak orang lain.
b) Mewaris berdasarkan penggantian tempat (bij plaatsvervulling). Artinya, ahli waris tampil mewaris karena menggantikan kedudukan dari ahli waris yang sebenarnya berhak mewaris yang telah meninggal dunia lebih dahulu dari pewaris. (pasal 852 ayat 2 KUHPerdata). Orang yang menggantikan dengan sendirinya memperoleh hak dan kewajiban dari orang yang digantikan tempatnya. Dengan demikian asas keluarga yang dekat menghapus keluarga yang jauh dikesampingkan.
Berkaitan dengan anak angkat, pasal 209 Kompilasi Hukum Islam (KHI) menentukan:
a) Harta peninggalan anak angkat dibagi berdasarkan pasal-pasal 176 sampai dengan 193 tersebut di atas, sedangkan terhadap orang tua angkat yang tidak menerima wasiat diberi wasiat wajibah sebanyak-banyaknya 1/3 dari harta warisan anak angkatnya.
b) Terhadap anak angkat yag tidak menerima wasiat diberi wasiat wajibah sebanyak-banyaknya 1/3 dari harta warisan orang tuanya.
Kompilasi Hukum Islam menegaskan bahwa antara anak angkat dengan orang tua angkatnya tidak ada hubungan kewarisan, tetapi sebagai pengakuan mengenai baiknya lembaga pengangkatan anak tersebut, maka hubungan antara anak angkat dengan orang tua angkatnya dikukuhkan dengan perantaraan wasiat atau wasiat wajibah. Untuk membedakannya dengan kedudukan ahli waris, pengaturan anak angkat ini diatur dalam bab V tentang wasiat.201
Wasiat wajibah adalah tindakan yang dilakukan oleh penguasa atau hakim sebagai aparat Negara untuk memaksa, atau memberi putusan wajib wasiat bagi orang yang telah meninggal, yang diberikan kepada orang tertentu,202 adapun disebut wasiat wajibah karena :
201
Rachmad Budiono, Op, Cit, Pembaruan Hukum Kewarisan Islam di Indonesia, Hal : 195 202
1) Hilangnya unsur ikhtiar bagi pemberi wasiat dan munculnya kewajiban melalui peraturan perundang-undangan atau putusan pengadilan tanpa bergantung pada kerelaan orang yang berwasiat dan persetujuan penerima waris.
2) Ada kemiripannya dengan ketentuan pembagian harta pusaka dalam penerimaan laki-laki dua kali lipat bagian perempuan.203
Kompilasi Hukum Islam menentukan kewajiban orang tua angkat untuk memberikan wasiat wajibah kepada anak angkatnya untuk kemaslahatan anak angkat sebagaimana orang tua angkat telah dibebani tanggung jawab untuk mengurus segala kebutuhannya.
Ketentuan yang menetapkan bahwa wasiat hanya dibenarkan maksimal sepertiga harta yang dimiliki si pewaris adalah sejalan dengan apa yang telah ditetapkan oleh Kompilasi Hukum Islam. Dalam pasal 201 Kompilasi Hukum Islam ditegaskan bahwa wasiat tidak boleh lebih dari sepertiga harta yang dimiliki si pewaris, apabila wasiat melebihi sepertiga dari harta yang dimiliki itu maka harus ada persetujuan ahli waris, jika mereka tidak menyetujuinya, maka wasiat harus dilaksanakan hanya sampai batas sepertiga saja dari seluruh harta warisan yang ditinggalkan si pewaris. Meskipun Kompilasi Hukum Islam tidak menetapkan secara tegas masa perhitungan sepertiga wasiat, tetapi secara tersirat dapat ditegaskan bahwa sepertiga tersebut dihitung dari semua harta peninggalan pada saat kematian orang yang berwasiat. Penegasan ini penting sebab tidak jarang wasiat itu terjadi jauh dari sebelum orang
203
yang diberi wasiat itu meninggal dunia, sehingga banyak terjadi penyusutan atau penambahan harta milik orang yang memberi wasiat pada saat ia meninggal dunia. Selain dari itu pasal 200 Kompilasi Hukum Islam memberikan penjelasan bahwa harta wasiat yang berupa barang tak bergerak bila karena suatu sebab yang sah mengalami penyusutan, atau kerusakan yang terjadi sebelum pewasiat meninggal dunia, maka penerima wasiat hanya akan menerima harta tersisa.204
Yurisprudensi tetap di lingkungan Pengadilan Agama telah berulang kali diterapkan oleh para praktisi hukum di Pengadilan Agama yang memberikan hak wasiat wajibah kepada anak angkat. Dalam kasus yang terjadi di Pengadilan Agama, masalah wasiat wajibah biasanya masuk dalam sangketa waris. Misalnya orang tua angkat yang kerena kasih sayangnya kepada anak angkatnya lalu berwasiat dengan menyerahkan dan mengatas namakan seluruh harta kekayaannya kepada anak angkatnya. Karena orang tua kandung dan saudara kandung merasa berhak atas harta si pewasiat yang hanya meninggalkan anak angkat saja, lalu mereka mengajukan gugatan waris. Dalam kasus ini umumnya wasiat dibatalkan oleh Pengadilan Agama dan hanya diberlakukan paling banyak 1/3 (sepertiga) saja. Selebihnya dibagikan kepada ahli waris.205
Penerapan lembaga hukum wasiat wajibah dalam kasus sengketa anak angkat dan ahli waris beda agama di Indonesia merupakan perkembangan hukum baru. Khusus mengenai ahli waris beda agama yang diberikan harta warisan melalui wasiat wajibah
204
Abdul Manan, Aneka Masalah Hukum Perdata Islam Di Indonesia, Jakarta, Prenada Media Group, 2008, Hal : 173
205
harus melalui berbagai prtimbangan hukum mendalam, sehingga antara kasus yang satu dengan lainnya tidak selalu memiliki hukum terapan yang sama. Konsepsi wasiat wajibah mulanya hanya diperuntukkan kepada ahli waris atau kerabat yang tidak memperoleh bagian harta warisan dari orang yang wafat, karena adanya suatu halangan. Misalnya, berwasiat kepada ibu atau ayah yang beragama non-Islam. Konsep ini lahir adalah sebagai kebijakan penguasa trhadap orang-orang yang tidak meninggalkan wasiat, sedangkan ia mempunyai harta peninggalan yang banyak. Artinya, kebijakan dalam wasiat wajibah lebih bersifat qhadaiyah, dalam pengertian, mewajibkan untuk mengeluarkan sebagian dari harta peninggalan sebagai wasiat, tidak lagi disandarkan kepada atau tidaknya seseorang meninggalkan wasiat pada masa hidupnya, tetapi kepada hukum atau undang-undang yang berlaku.206
Dari pendapat inilah kemudian lahir istilah wasiat wajibah, yang oleh Suparman Usman didefenisikan sebagai wasiat yang pelaksanaannya tidak dipengaruhi atau tidak bergantung kepada kehendak orang yang meninggal dunia. Wasiat ini tetap dilaksanakan, baik diucapkan, atau dikehendaki maupun tidak oleh orang yang meninggal dunia. Jadi pelaksanaan wasiat tersebut tidak memerlukan bukti bahwa wasiat tersebut diucapkan, dituliskan atau dikehendaki, tetapi pelaksanaannya didasarkan kepada alasan-alasan hukum yang membenarkan bahwa wasiat tersebut harus dilaksanakan. 207
206Sa‟id Muhammad al
-Jalidi, Op, Cit, Hal : 290 207
Dikatakan wasiat wajibah disebabkan dua hal :208
1) Hilangnya unsur ikhtiar bagi si pemberi wasiat dan munculnya unsur kewajiban melalui undang-undang atau surat keputusan tanpa tergantung kepada orang yang berwasiat
2) Adanya kemiripan dengan ketentuan pembagian harta pusaka dalam penerimaan laki-laki dua kali lipat nagian perempuan.
Wasiat wajibah adalah suatu wasiat yang diperuntukkan kepada para ahli waris atau kerabat yang tidak memperoleh bagian harta warisan dari orang yang wafat, karena adanya suatu halangan. Misalnya berwasiat kepada ibu atau ayah yang beragama non-Islam, karena berbeda agama menjadi penghalang bagi seseorang untuk menerima warisan, atau cucu yang tidak mendapatkan harta warisan disebabkan terhalang oleh keberadaan paman mereka, anak angkat yang tidak termasuk ahli waris tetapi jasa dan keberadaannya sangat berarti bagi si mayit.209
Teoritis hukum Islam (klasik dan kontemporer) berbeda pendapat dalam menetapkan hukum wasiat wajib. Jumhur ulama berpendapat bahwa sifatnya hanya di anjurkan, bukan wajib, dengan tujuan untuk membantu meringankan yang bersangkutan dalam menghadapi kesulitan hidup. Akan tetapi sebagian ulama fiqh lainnya berpendapat bahwa wasiat seperti ini wajib hukumnya, dengan alasan surat Al-Baqarah (2) ayat 180. Menurut mereka perintah untuk berwasiat dalam ayat tersebut adalah untuk para ahli waris yang terhalang mendapat warisan. Adapun jumlah harta wasiat wajib menurut ulama fikih yang mewajibkan adalah sesuai dengan pembagian warisan yang mesti mereka terima, apabila tidak ada penghalangnya. Misalnya ayah dan ibu
208
Faturrahman, Op, Cit, Ilmu Waris, Hal : 62 209
mendapatkan seperenam harta, apabila orang yang wafat memiliki anak. Cucu mendapatkan sebesar bagian ayahnya yang wafat. Akan tetapi para penyusun perundang-undangan tentang wasiat di Mesir dan Suriah, yang didominasi ulama Mazhab Hanafi, berpendapat bahwa besarnya wasiat wajib itu tidak melebihi sepertiga harta, sesuai dengan ketentuan wasiat biasa (UU Wasiat Mesir, Pasal 76-79 ; UU Suriah, Pasal 257).210
Wasiat wajibah dibatasi sepertiga harta dengan syarat bagian tersebut sama dengan yang seharusnya diterima oleh ashabul furud secara kewarisan seandainya ia masih hidup. Ketentuan ini ditetapkan berdasarkan penafsiran terhadap kalimat “al-khair”
yang terdapat dalam ayat wasiat surat Al-Baqarah ayat 180.211
Kompilasi Hukum Islam di Indonesia, istilah wasiat wajib disebutkan pada Pasal 209 Ayat 1 dan Ayat 2, sebagai berikut:
1. Harta peninggalan anak angkat dibagi berdasarkan Pasal 176 sampai dengan pasal 193 tersebut di atas, sedangkan terhadap orang tua angkat yang tidak menerima wasiat diberi wasiat wajibah sebanyak-banyaknya 1/3 dari harta warisan anak angkatnya.
2. Terhadap anak angkat yang tidak menerima wasiat diberi wasiat wajibah sebanyak-banyaknya 1/3 dari harta warisan orang tua angkatnya.212
Berdasarkan isi bunyi pasal 290 KHI ayat 1 dan 2 di atas dapat dipahami bahwa wasiat wajibah yang dimaksud oleh KHI adalah wasiat yang diwajibkan berdasarkan
210
Ibid
211
Ali al-Khafif, Op, Cit, Hal : 526 212
ketentuan perundang-undangan yang diperuntukkan bagi anak angkat atau sebaliknya orang tua angkatnya yang tidak diberi wasiat sebelumnya oleh orang tua angkat atau anak angkatnya, dengan jumlah maksimal 1/3 dari harta peninggalan. Pengertian wasiat wajibah sebagaimana dikemukakan di atas sama dan disejajarkan dengan pengertian wasiat wajibah yang terdapat dalam undang-undang Mesit. Kuat dugaan bahwa rumusan wasiat wajibah yang terdapat dalam KHI mengikuti pengertian wasiat wajibah yang terdapat dalam undang-undang wasiat Mesir.213
Muhammad Daud Ali mengemukakan bahwa pemberian hak wasiat wajibah kepada anak angkat oleh KHI dilakukan dengan mengadaptasi nilai hukum adat secara terbatas ke dalam hukum Islam. Karena berpindahnya tanggung jawab orang tua asal kepada orang tua angkatnya mengenai pemeliharaan kehidupan sehari-hari dan biaya pendidikan berdasarkan keputusan pengadilan yang disebutkan dalam huruf (h) pasal 71 tentang Ketentuan Umum Kewarisan.214
B. Wasiat
Dari segi etimologi, wasiat mempunyai beberapa arti yaitu menjadikan, manaruh kasih sayang, menyuruh dan menghubungkan sesuatu dengan sesuatu yang lain. 215 Menurut Ahmad Rafiq secara etimologi, para ahli hukum Islam mengemukakan bahwa wasiat adalah pemilikan yang didasarkan pada orang yang
213
Ahmad Kamil, Fauzan, Op, Cit, Hukum Perlindungan dan Pengangkatan Anak di Indonesia, Hal : 148
214
Muhammad Daud Ali, Hukum Islam dan Peradilan Agama (Kumpulan Tulisan), Jakarta, Rajawali Pers, 1997, Hal : 137
215
menyatakan wasiat meninggal dunia dengan jalan kebaikan tanpa menuntut imbalan atau tabarru.216 Sayyid Sabiq mengemukakan bahwa pengertian ini adalah sejalan dengan definisi yang dikemukakan oleh para ahli hukum Islam di kalangan Mahzab Hanafi yang mengemukakan bahwa wasiat itu adalah tindakan seseorang yang memberikan haknya kepada orang lain untuk memiliki sesuatu baik merupakan kebendaan maupun manfaat secara sukarela tanpa imbalan yang pelaksanaannya ditangguhkan sampai terjadi kematian orang yang menyatakan wasiat tersebut.217 Sedangkan Al-Jaziri menjelaskan bahwa para ahli hukum Islam di kalangan mahzab Maliki, Syafi‟I, dan Hambali memberi definisi wasiat itu adalah suatu transaksi yang
mengharuskan orang yang menerima wasiat berhak memiliki sepertiga harta peninggalan orang yang menyatakan wasiat setelah ia meninggal dunia.218
Dalam kamus besar Bahasa Indonesia disebutkan wasiat adalah, pesan terakhir yang disampaikan oleh orang yang akan meninggal dunia (biasanya) berkenaan dengan harta kekayaan dan sebagainya.219 Sementara itu dalam kamus umum Bahasa Indonesia dinyatakan, bahwa wasiat adalah pesan terakhir yang dituliskan oleh orang yang akan meninggal dunia yang berkenaan dengan harta benda dan sebagainya.220 Dalam Kompilasi Hukum Islam di Indonesia disebutkan bahwa yang dimaksud dengan wasiat adalah pemberian suatu benda dari pewaris kepada orang lain atau lembaga yang akan berlaku setelah pewaris meninggal dunia (pasal 171 huruf f).
216
Ahmad Rafiq, Hukum Islam di Indonesia, Jakarta, Raja Grafindo Persada, 1987 217
Sayyid Sabiq, Fiqhus Sunnah, Beirut, Darul Fikri, 1989, Hal : 415 218
Abdurrahman al-Jaziri, al Fiqhu ala Madzhibil Arba’ah, Beirut, Darul Fikri, 1982, Hal : 327 219
Kamus Besar Bahasa Indonesia, 1996 220
ketentuan tentang wasiat ini terdaat dalam pasal 194-209 yang mengatur secara keseluruhan prosedur tentang wasiat.
Menurut Eman Suparman dalam hukum adat wasiat adalah pemberian yang dilaksanakan oleh seseorang kepada ahli warisnya atau orang yang tertentu yang pelaksanaannya dilakukan setelah orang yang menyatakan wasiat itu meninggal dunia. Wasiat dibuat karena berbagai alasan yang biasanya untuk menghindarkan persengketaan, perwujudan rasa kasih sayang dari orang yang menyatakan wasiat, orang yang menyatakan wasiat akan melaksanakan haji dan orang yang menyatakan wasiat ajalnya sudah dekat tetapi masih ada ganjalan semasa hidupnya yang belum terpenuhi. Orang yang menyatakan wasiat dapat mencabut kembali wasiatnya yang dinyatakan itu atau telah diikrarkan, tetapi jika tidak dicabut sampai orang yang menyatakan wasiat itu meninggal dunia maka para ahli waris harus menghormati wasiat itu.pelaksanaan wasiat dalah hukum adat tidak perlu dilakukan di hadapan Notaris, tetapi cukup diucapkan secara lisan di hadapan keluarga atau wali waris yang hadir pada waktu pernyataan wasiat dilakukan.221
Surat wasiat atau testament adalah suatu akta yang yang memuat pernyataan seseorang tentang apa yang dikehendakinya akan terjadi setelah ia meninggal dunia, dan yang olehnya dapat dicabut kembali (pasal 1875 KUHPerdata). Segala harta peninggalan seorang yang meninggal dunia pada prinsipnya adalah kepunyaan sekalian ahli waris menurut undang-undang sekadar terhadap hal itu dengan surat wasiat tidak telah diambil suatu ketetapan yang sah (pasal 874 KUHPerdata). Dengan
221
demikian, hukum waris menurut KUHPerdata sifatnya mengatur walaupun sebagian terdapat ketentuan-ketentuan yang sifatnya memaksa. Sebenarnya, kehendak mewaris didahulukan (sekadar terhadap hal itu dengan surat wasiat tidak telah diambil suatu ketetapan yang sah).222
Wasiat pada umumnya adalah keterangan dari seseorang tentang hal-hal yang akan terjadi setelah ia meninggal. Keterangan tadi dapat ditarik kembali, kecuali tentang hal-hal yang telah ditentukan. Surat wasiat harus dibuat dengan akta notaris, dan juga harus memenuhi syarat lain seperti yang telah ditetapkan oleh Undang-Undang. Mungkin juga di dalam surat wasiat itu terdapat codosil, yaitu surat di bawah tangan untuk menunjuk pelaksanaan suatu warisan, atau menentukan pemakaman.223
Wasiat merupakan salah satu bentuk pemilikan atas harta yang dikenal dan diakui dalam syariat Islam, disamping bentu-bentuk pemilikan lainnya.224secara terminology wasiat adalah penyerahan harta secara sukarela dari seseorang kepada pihak lain yang berlaku setelah orang tersebut wafat, baik harta itu berbentuk materi maupunberbentuk manfaat. 225 A. Hanafi mendefinisikan wasiat dengan pesan seseorang untuk menyisihkan sebagian harta bendanya untuk orang ditentukannya dan pelaksanaannya terjadi sesudah ia meninggal dunia.226praktik wasiat sudah dikenal jauh sebelum Islam datang, akan tetapi dalam praktiknya belum memiliki
222
Akmaluddun Syahputra, Op, Cit, Hukum Perdata Indonesia, Hal : 141-142 223
Kansil, Cristine S.T. Kansil, Op, Cit, Modul Hukum Perdata termasuk Asas-Asas Hukum Perdata,
Hal : 150 224
Abu Zahrah, Syarh Qanun al-Wasiyyah, Dar al-Fiqh a;-Arabi, 1978, Hal : 7 225
Abdul Aziz Dahlan, Ensiklopedia Hukum Islam, Jakarta, PT Ichtiar Baru Van Hoeve, 1996, Hal : 1929
226
aturan yang jelas. Ketika itu setiap orang bebas menyerahkan harta yang dia miliki kepada siapa saja yang dia kehendaki, tanpa adanya pengawasan dan regulasi yang mengaturnya. Banyak diantara mereka yang menyerahkan harta mereka untuk kejahatan dan kemudharatan. Dalam situasi dan kondisi seperti inilah syariat Islam datang dengan membawa seperangkat aturan hukum wasiat yang bertujuan untuk membenahi dan meluruskan praktik wasiat yang pernah ada sebelumnya.227
Menurut bentuknya ada tiga macam wasiat (testamen), yaitu :228
1)Openbaar testament,(Pasal 938 KUHPerdata)yaitu surat wasiat yang di buat oleh seorang notaris. Orang yang akan meninggalkan warisan menghadap pada notaris dan menyatakan kehendaknya. Notaris itu membuat suatu akte dengan dihadiri oleh dua orang saksi. Bentuk ini paling banyak dipakai dan juga memang yang paling baik, karena notaris dapat mengawasi isi surat wasiat itu, sehingga ia dapat memberikan nasihat-nasihat supaya isi testamen
tersebut tidak bertentangan dengan undang-undang. Dengan kata-kata yang jelas, notaris tersebut harus menulis atau menyuruh menulis kehendak si pewaris, sebagaimana di dalam pokoknya ketentuan itu (pasal 939 ayat 1 KUHPerdata).
2)Olographis testament, yaitu harus ditulis dengan tangan orang yang akan meninggalkan warisan itu sendiri (eigenhandig). Harus diserahkan sendiri kepada seorang notaris untuk disimpan (gedeponeerd). Penyerahan tersebut harus pula dihadiri oleh dua orang saksi. Sebagai tanggal testamen itu berlaku diambil tanggal akta penyerahan (akte van depot). Penyerahan pada notaris dapat dilakukan secara terbuka atau secara tertutup. Mengenai testamen yang diserahkan secara tertutup, ditetapkan bahwa apabila si pembuat testamen itu meninggal, testamen itu harus diserahkan oleh notaris pada Balai Harta Peninggalan, yang akan membuka testamen itu. Pembukaan testamen itu harus dibuat proses-verbal. Jika si pembuat surat wasiat hendak menarik kembali wasiatnya, cukuplah ia meminta kembali surat wasiat yang disimpan oleh notaris itu.
Penyerahan akte ini dapat dilakukan secara terbuka atau tertutup (Pasal 932 KUHPerdata). Menurut pasal 933 ayat (1) KUHPerdata, wasiat olographis yang
227
Ali Al-Khafif, Ahkam al-Wasiyah, Beirut, Ma‟hat al-Dirasat al-Arabiyah, 1962, Hal : 2
228
Kansil, Cristine S.T. Kansil, Op, Cit, Modul Hukum Perdata termasuk Asas-Asas Hukum Perdata,
berada dalam penyimpanan notaris sama kuatnya dengan surat wasiat umum dan penetapan waktu yang dipakai sebagai pegangan ialah waktu di mana diadakan penyimpanan pada notaris. Kemudian, tulisan dari surat wasiat, harus dianggap ditulis sendiri oleh pewaris, kecuali kalau terbukti sebaliknya. Apabila si pewaris hendak menarik kembali wasiatnya, cukuplah ia meminta kembali surat wasiatnya yang disimpan oleh notaris itu (pasal 934 KUHPerdata).
3)Testament tertutu atau rahasia, (pasal 940 KUHPerdata) yaitu dibuat sendiri oleh orang yang akan meninggalkan warisan, tetapi tidak diharuskan ia menulis dengan tangannya sendiri. Suatu surat wasiat rahasia harus selalu tertutup dan disegel. Penyerahannya kepada notaris harus dihadiri oleh empat orang saksi. Orang yang menjadi saksi pada pembuatan atau penyerahan surat wasiat kepada seorang notaris, harus orang yang sudah dewasa, penduduk Indonesia dan mengerti benar Bahasa yang digunakan dalam surat wasiat atau akta penyerahan itu.229
Kalau si pewaris yang meninggalkan surat wasiat tertutup atau rahasia tersebut meninggal dunia, maka surat wasiat itu harus diserahkan oleh notaris pada balai harta peninggalan, yang akan membuka surat wasiat tersebut. Penerimaan dan pembukaan surat wasiat tersebut harus dibuat proses verbal (pasal 942 KUHPerdata.)
KUHPerdata menentukan beberapa pasal yang mengatur mengenai penafsiran
testament, yaitu :230
1) Pasal 877 KUHPerdata menyatakan, bahwa surat wasiat yang ditunjukkan pada keluarga sedarah terdekat harus dicantumkan sebagai ditujukan kepada ahli waris menurut undang-undang.
2) Pasal 878 KUHPerdata menyatakan, bahwa para fakir miskin ditafsirkan dengan prinsip yang terkandung di dalamnya yang tidak membeda-bedakan agama dan lembaga yang berhak menerima adalah lembaga di mana warisan terbuka atau di tempat di mana pewaris meninggal dunia.
229
Ibid
230
3) Pasal 885 KUHPerdata menyatakan, bahwa jika kata-kata dari suatu testament
itu jelas, maka orang tidak boleh menafsirkan yang menyimpang dari kata-kata itu.
4) Pasal 886 KUHPerdata menyatakan, bahwa dalam hal pelaksanaan testament, maka maksud dan pikiran pewaris didahulukan terhadap kata-kata testament.
5) Pasal 888 KUHPerdata menyatakan, jika surat wasiat memuat syarat-syarat yang tidak dapat dimengerti atau tidak mungkin dilaksanakan atau bertentangan dengan kesusilaan, maka hal yang demikian harus dianggap sebagai tak tertulis.
Kemudian dalam hal pencabutan dan gugurnya surat wasiat diatur sebagai berikut :231 1) Pencabutan surat wasiat
Pada dasarnya, suatu surat wasiat (testament) dapat ditarik kembali (dicabut) setiap waktu oleh pewaris (pembuat wasiat). Penarikan kembali (pencabutan) suatu wasiat ini dapat dilakukan dengan 2 cara, yaitu :
a) Pencabutan wasiat secara tegas. Pencabutan surat wasiat dapat secara tegas dengan dibuatnya surat wasiat baru atau dengan dibuatnya akta notaris khusus, dengan mana diterangkan secara tegas bahwa surat wasiat yang dahulu dicabut untuk seluruhnya atau untuk sebagian (pasal 992 KUHPerdata).
b) Pencabutan wasiat secara diam-diam. Pencabutan surat wasiat dengan secara diam-diam terjadi dengan dibuatnya surat wasiat baru yang memuat pesan-pesan yang bertentangan dengan surat.
2) Gugurnya surat wasiat, yaitu gugurnya wasiat apabila :
a) Satu wasiat memuat suatu ketetapan yang bergantung kepada suatu peristiwa yang tak tentu, maka jika si ahli waris atau legataris meninggal dunia sebelum peristiwa itu terjadi, maka wasiat itu gugur (pasal 997 KUHPerdata)
b) Seorang ahli waris atau orang yang menerima hibah wasiat menolak atau ia tidak cakap untuk menerimanya (pasal 1001 KUHPerdata)
c) Syarat-syarat yang tercantum dalam suatu wasiat tidak dapat dipenuhi (pasal 1004 KUHPerdata)
Wasiat mempunyai dasar yang kuat dalam syariat Islam, di dalam al-Quran yaitu :
“ diwajibkan atas kamu, apabila seorang di antara kamu kedatangan (tanda-tanda) maut, jika ia meninggalkan harta yang banyak, berwasiatlah untuk ibu bapak dan karib kerabatnya secara makruf, (ini adalah) kewajiban atas orang-orang yang bertaqwa”.(Al-Baqarah/2 : 282), dan : “…sesudah dipenuhi wasiat yang ia buat atau
231
(dan) sesudah dibayar utangnya…”, dan “….sesudah dipenuhi wasiat yang mereka buat atau (dan) sesudah dibayar utangnya…”. (Al-Nisa/4 : 11 dan 12).
Ulama fiqh menetapkan beberapa syarat untuk orang berwasiat. Adapun syarat-syarat orang yang berwasiat232 :
1) Orang berwasiat merupakan pemilih sempurna terhadap benda yang diwasiatkan
2) Orang yang cakap bertindak hukum, merdeka, berakal, dan adil.233 3) Wasiat dilakukan secara sadar dan sukarela.
4) Orang yang berwasiat tidak mempunyai utang yang jumlahnya sebanyak harta yang akan ditinggalkannya.
Kompilasi hukum Islam di Indonesia, mensyaratkan pewasiat sekurang-kurangnya telah berumur 21 tahun, berakal sehat, dan tidak ada paksaan dari pihak lain. 234
Uulama fiqh juga sepakat untuk mensyaratkan penerima wasiat. Syarat penerima wasiat :235
1) Penerima wasiat adalah orang yang ditunjuk secara khusus bahwa ia berhak menerima wasiat.
2) Penerima wasiat mesti jelas identitasnya, sehingga wasiat dapat diberikan kepadanya.
3) Penerima wasiat tidak berada di daerah musuh.
4) Penerima wasiat bukan orang yang membunuh pemberi wasiat, jika yang disebut akhir ini wafatnya karena terbunuh.
5) Penerima wasiat bukan kafir harbi (kafir yang memusuhi Islam) akan tetapi diperbolehkan kepada kafir zimmi selama dia bersifat adil. 6) Wasiat tidak dimaksudkan untuk sesuatu yang merugikan umat Islam
atau sesuatu maksiat.
7) Penerima wasiat bukan ahli waris.
Kemudian ulama fiqh juga menmberikan syarat harta yang diwasiatkan, yaitu : 236
232 Sa‟id Muhammad al-jalidi,
Ahkam al-Miras wa al-Wasiyah fi al-Syari’at al-Islamiyah, Kulliyatu Da‟wah Islamiyah, tp, tth, Hal : 209
233
Wahbah al-Zuhaili, Op, Cit, al-Fiqh al-Islami wa Adillatuhu, Hal : 7589 234
KHI BAB I, Pasal 194 ayat 1 235
Ahmad Kamil, Fauzan, Op, Cit, Hukum Perlindungan dan Pengangkatan Anak di Indonesia, Hal :135
236
1) Harta/benda yang diwasiatkan adalah sesuatu yang bernilai harta secara baik.
2) Harta yang diwasiatkan adalah sesuatu yang bisa dijadikan milik, baik berupa materi maupun manfaat.
3) Harta yang diwasiatkan adalah milik pewasiat, ketika berlangsungnya wasiat.
4) Harta yang diwasiatkan itu tidak melebihi 1/3 (sepertiga) harta pewasiat
5) Sesuatu yang diwasiatkan tidak mengandung unsur maksiat.
Sesuai dengan sabda Rasulullah SAW, kepada Sa‟ad bin Abi Waqqas, mayoritas
ulama sepakat bahwa jumlah harta yang diwasiatkan tidak boleh lebih dari sepertiga harta pewasiat, apabila pewasiat mempunyai ahli waris. Karena Rasulullah SAW, menyatakan jumlah harta yang boleh diwasiatkan dalam hadist tersebut adalah : “…..
sepertiga, dan sepertiga itu pun telah banyak….”. persyaratan ini berlaku bagi orang
yang berwasiat bagi orang lain sedangkan dia memiliki ahli waris, dan ahli waris tersebut tidak mengizinkannya. Bila wasiat dalam keadaan seperti yang disebutkan, maka ada beberapa pendapat ulama tentang status wasiatnya :237
1) Menurut pendapat yang mashur dikalangan ulama Mazhab Malikiah, Syafi‟iyah dan Zhahiriyah wasiatn ya tidak sah (batal) meskipun ahli waris mengizinkannya.
2) Menurut pendapat yang tidak mashur di kalangan ulama Mazhab Hanafiah, Hambali wasiatnya sah, hanya saja terhadap sisanya menunggu izin dari ahli waris, apakah mengizinkan atau tidak, kalau diizinkan maka wasiat dapat diteruskan, jika tidak maka batal.
Apabila pewasiat mewasiatkan hartanya lebih dari sepertiga, baik kepada salah seorang ahli warisnya maupun kepada orang lain, maka harus mendapatkan persetujuan dari keseluruhan ahli waris. Jika mereka menyetujui, maka wasiatnya sah dan dilaksanakan, sebaliknya jika ahli waris pewasiat tidak menyetujui, maka
237
wasiatnya hanya berlaku sepertiga. Apabila yang diwasiati kepada seorang ahli waris, maka ketidak setujuan ahli waris lain mengakibatkan batalnya wasiat.238
Batal/sah atau tidak sahnya wasiat tergantung pada apakah praktik wasiat sudah memenuhi segala rukun dan persyaratan wasiat yang telah ditetapkan. Kalau wasiat sudah memenuhi segala rukun dan persyaratannya maka wasiat dianggap sah dan bisa dilaksanakan, sebaliknya jika tidak memenuhi segala rukun dan persyaratan, atau tidak terpenuhi salah satu rukun dan persyaratannya maka wasiat dianggap batal dan tidak sah, karenanya tidak menimbulkan akibat hukum apapun.
Ulama fikih menetapkan beberapa hal yang dapat membatalkan wasiat, adalah :239 1. Dari aspek pewasiat
a) Mencabut wasiatnya, beik secara terang-terangan maupun melalui tindakan hukum.
b) Orang yang berwasiat mewasiatkan yang bukan miliknya. c) Orang yang berwasiat tidak cakap hukum.
d) Orang yang berwasiat mencabut wasiatnya. 2. Dari aspek penerima wasiat
a) Orang yang menerima wasiat menyatakan penolakannya terhadap wasiat tersebut.
b) Tidak jelas orang yang menerima wasiat.
c) Orang yang menerima wasiat lebih dahulu meninggal dari pada yang berwasiat.
d) Orang yang menerima wasiat membunuh orang yang berwasiat. 3. Dari aspek yang diwasiatkan
4. Penerima wasiat lebih dahulu wafat dari pemberi wasiat 5. Syarat yang ditentukan dalam akad wasiat tidak terpenuhi.
Kompilasi Hukum Islam telah mengambil jalan tengah dari perselisihan apakah ahli waris dapat menerima wasiat atau tidak. Ibnu Hazm dan Fuqaha Malikiyah yang termashur tidak membolehkan sama sekali berwasiat kepada ahli waris. Sedangkan
238
Ibid, Hal : 142 239
fuqaha syi‟ah imamiyah memperbolehkan wasiat kepada ahli waris. Sementara itu, ulama Syafi‟iyah yang termashur menegaskan bahwa berwasiat kepada ahli waris
diperbolehkan, asalkan mendapat izin dari para ahli waris lainnya.240
Orang yang sakit lazimnya tidak berdaya, baik mental maupun fisik. Oleh karena itu, mudah sekali timbul rasa simpati pada diri orang yang sakit itu terhadap orang-orang yang menolongnya. Dalam keadaan tang demikian ini mudah sekali timbul rasa sentimental. Untuk mencegah berlebih-lebihannya perwujudan perasaan yang demikian ini, maka diadakan pembatasan-pembatasan oleh hukum, supaya pihak-pihak lain (misalnya ahli waris) tidak dirugikan. Barangkali ketentuan sebagaimana tercantum dalam pasal 207 Kompilasi Hukum Islam itu dilatar belakangi oleh konsep bahwa tidak tepat untuk mengatakan perasaan si sakit yang demikian itu sebagai “tidak berakal sehat”, tetapi sesungguhnya memang “tidak sehat”. Akan tetapi, yang
agaknya mengaburkan penafsiran itu adalah klausula yang tercantum dalam pasal tersebut, yaitu “kecuali ditentukan dengan jelas untuk membalas jasa”.241
Sangat logis apabila ditentukan bahwa notaris dan saksi-saksi yang berkaitan dengan pembuatan akta tidak diperbolehkan menerima wasiat. Jika mereka diperbolehkan menerima wasiat, dikhawatirkan mereka akan menyalahgunakan kedudukannya, misalnya mengubah atau mengganti isi wasiat untuk keuntungan mereka sendiri.242 Khusus bagi harta wasiat yang berupa barang tidak bergerak, bilamana suatu sebab yang sah mengalami penyusutan atau kerusakan yang terjadi sebelum pewasiat
240
Rachmad Budiono, Op, Cit, Pembaharuan Hukum Kewarisan Islam di Indonesia, Hal : 175 241
Ibid, Hal : 176 242
meninggal dunia, berdasarkan ketentuan dalam pasal 200 Kompilasi Hukum Islam, maka penerima wasiat hanya akan menerima harta yang tersisa. Ketentuan dalam pasal 202 Kompilasi Hukum Islam menentukan, kegiatan mana yang didahulukan pelaksanaannya. Artinya sepanjang wasiat itu ditujukan untuk berbagai kebaikan dan harta wasiat tidak mencakupi untuk itu, maka ahli waris mempunyai hak untuk menentukan dari berbagai kegiatan yang ada untuk didahulukan lebih dulu pelaksanaannya.243
Dalam perspektif Kompilasi Hukum Islam, wasiat dapat diberikan secara lisan atau tertulis. Hal ini disimpulkan dari kata-kata dalam pasal 195 ayat (1) Kompilasi Hukum Islam, yang menyatakan bahwa “wasiat dilakukan secara lisan di hadaan dua
saksi, atau tertulis di hadapan dua orang saksi, atau di hadapan notaris”. Berdasarkan ketentuan dalam pasal 195 ayat (1) Kompilasi Hukum Islam tersebut, maka wasiat itu dapat dilakukan secara lisan atau bawah tangan (akta di bawah tangan) atau dengan akta notaris. Baik secara lisan maupun secara tertulis, wasiat tersebut dilakukan dengan dipersaksikan minimal oleh dua orang saksi atau lebih.244
Pemberian wasiat juga dapat dibatalkan bilamana calon penerima wasiat telah melakukan perbuatan yang dapat menggugurkannya sebagai calon penerima wasiat. Dalam ketentuan pasal 197 ayat (1) Kompilasi Hukum Islam ditegaskan, bahwa wasiat menjadi batal apabila calon penerima wasiat berdasarkan putusan hakim yang telah mempunyai kekuatan hukum tetap dihukum karena :
243
Rachmadi Usman, Hukum Kewarisan Islam, Bandung, Mandar Maju, 2009, Hal : 161 244
1) Dipersalahkan telah membunuh atau mencoba membunuh atau menganiaya berat pada pewasiat.
2) Dipersalahkan secara menfitnah telah mengajukan oengaduan bahwa pewasiat telah melakukan suatu kejahatan yang diancam dengan hukuman lima tahun penjara atau hukuman yang lebih berat.
3) Dipersalahkan dengan kekerasan atau ancaman mencegah pewasiat untuk membuat atau mencabut atau mengubah wasiat untuk kepentingan calon penerima wasiat.
4) Dipersalahkan telah menggelapkan atau merusak atau memalsukan surat wasiat dari pewasiat.
Demikian halnya pemberian wasiat dapat pula batal seperti yang termuat dalam ketentuan pasal 197 ayat (2) Kompilasi Hukum Islam, bahwa wasiat menjadi batal apabila orang yang ditunjuk untuk menerima wasiat itu :245
1) Tidak mengetahui adanya wasiat tersebut sampai ia meninggal dunia sebelum meninggalnya pewasiat.
2) Mengetahui adanya wasiat tersebut, tetapi ia menolak untuk menerimanya. 3) Mengetahui adanya wasiat itu, tetapi tidak pernah menyatakan menerima atau menolak sampai ia meninggal dunia sebelum meninggalnya pewasiat. Selanjutnya menurut pasal 197 ayat (3) Kompilasi Hukum Islam, bahwa apabila barang yang diwasiatkan musnah, maka wasiatnya pun menjadi batal. Pada prinsipnya sebelum meninggal dunia, pewasiat berhak mencabut kembali wasiatnya
245
sepanjang calon penerima wasiat belum menyatakan persetujuan-persetujuannya atau sudah menyatakan persetujuannya tetapi kemudian menarik kembali. Hal ini ditegaskan dalam pasal 199 ayat (1) Kompilasi Hukum Islam. Dengan kata lain, bahwa pewasiat tidak dapat mencabut atau menarik kembali wasiatnya bilamana calon penerima wasiat telah menyatakan peretujuan-persetujuannya atau tidak menarik kembali persetujuan-persetujuannya, maka wasiat tersebut tidak dapat dicabut atau ditarik kembali oleh pewasiat.dari ketentuan dalam pasal 199 ayat (1) Kompilasi Hukum Islam ternyata bahwa Kompilasi Hukum Islam memandang wasiat bukan merupakan perbuatan hukum sepihak, sebagaimana layaknya suatu perjanjian. Suatu perjanjian hanya dapat dibatalkan apabila mendapat peretujuan dua belah pihak.246
Kemudian ketentuan dalam pasal 199 ayat (2), ayat (3) dan ayat (4) Kompilasi Hukum Islam menegaskan, bahwa pencabutan wasiat dapat dilakukan secara lisan dengan disaksikan oleh dua orang saksi atau berdasarkan akta Notaris bila wasiat terdahulu di buat secara lisan. Sedangkan bilamana wasiat dibuat secara tertulis, maka hanya dapat dicabut dengan cara tertulis dengan disaksikan oleh dua orang saksi atau berdasarkan akta Notaris. Sementara itu wasiat yang dibuat berdasarkan akta notaris, maka hanya dapat dicabut berdasarkan akta notaris. Tentang penyimpanan surat wasiat diatur lebih lanjut dalam pasal 203 dan pasal 204 Kompilasi Hukum Islam. Dikemukakan bahwa surat wasiat dalam keadaan tertutup, penyimpanannya di tempat Notaris yang membuatnya atau di tempat lain, termasuk surat-surat yang ada
246
hubungannya. Surat wasiat akan diserahkan kembali kepada pewasiat oleh Notaris bilamana surat wasiat dimaksud dicabut karena tidak memenuhi persyaratan yang telah ditentukan. Seiring dengan meninggalnya pewasiat, maka surat wasiat yang tertutup dan disimpan pada Notaris yang bersangkutan, dibuka olehnya di hadapan ahli waris, disaksikan dua orang saksi dan dengan membuat berita acara pembukaan surat wasiat. Sementara itu bilamana surat wasiat yang tertutup itu disimpan bukan pada Notaris, maka penyimpan harus menyerahkan kepada Notaris setempat atau Kantor Urusan Agama setempat dan selanjutnya Notaris atau kantor Urusan Agama tersebut membuka sebagamana ditentukan di atas. Selanjutnya setelah semia isi serta maksud surat wasiat itu diketahui, maka oleh Notaris atau Kantor Urusan Agama diserahkan kepada penerima wasiat guna penyelesaian selanjutnya.247
Kompilasi Hukum Islam juga mengatur wasiat wajibah, yaitu wasiat tanpa wasiat, wasiat yang ditentukan oleh perundang-undangan walaupun yang bersangkutan tidak mewasiatkannya. Hal mana diperuntukkan bagi orang tua dan anak angkat pewaris yang dalam perspektif Hukum Islam tidak berhak mendapatkan harta warisan. Ketentuan wasiat wajibah tersebut diatur dalam pasal 209 Kompilasi Hukum Islam yang menentukan, bahwa terhadap orang tua angkat yang tidak menerima wasiat diberi wasiat wajibah sebanyak-banyaknya sepertiga dari harta warisan anak angkat dan terhadap anak angkat yang tidak menerima wasaiat diberi wasiat wajibah sebanyak-banyaknya sepertiga dari harta warisan orang tua angkatnya. Demikian batas maksimal dari wasiat wajibah ini adalah sepertiga dari harta warisan anak
247
angkat atau orang tua angkat, artinya tidak boleh melebihi dari sepertiga harta yang ditinggalkan anak angkat atau orang tua angkatnya, terkecuali bilamana hal itu disetujui oleh semua ahli waris.248 Wasiat wajibah tersebut merupakan tindakan yang di lakukan penguasa atau hakim sebagai apparat Negara untuk memaksa atau memberi putusan wasiat bagi orang yang telah meninggal dunia, yang diberikan kepada orang tertentu dalam keadaan tertentu pula.249
248
Ibid
249
BAB V
PENUTUP
C. Kesimpulan
1. Masing-masing sistem hukum yang berlaku di Indonesia mempunyai sikap sendiri-sendiri terhadap pengangkatan anak (meskipun tidak diabaikan juga persamaannya), baik mengenai eksistensi, bentuk maupun isi dari lembaga pengangkatan anak, sehingga dalam sistem hukum Indonesia soal pengangkatan anak, terdapat peraturan yang tidak sama untuk seluruh golongan penduduk. Agama Islam tidak memungkiri adanya anak angkat sejauh untuk memberi kesejahteraan dan pendidikan kepada si anak. Yang tidak diperkenankan oleh agama Islam ialah memutuskan hubungan darah antara si anak kandung dengan orang tua kandungnya. Allah tidak menjadikan anak angkat menjadi anak kandung, sehingga segala akibat sebagai anak kandung tidaklah hapus dengan pengangkatan anak. Kedudukan anak angkat dalam hukum adat dipengaruhi oleh sistem kekeluargaan atau keturunan, kedudukan anak angkat adalah berbeda-beda dari satu daerah dengan daerah yang lain. Kedudukan yang timbul terhadap pengangkatan anak tergantung kepada adat yang ada pada daerah tersebut. Pengangkatan anak bisa saja memutus pertalian anak angkat terhadap orang tua asal, ataupun pengangkatan anak tidak memutus hubungan anak angkat dengan orang tua kandungnya.
mensejahterakan, memelihara anak angkat dari keterlantaran saja, sehingga hubungan antara anak angkat dengan orang tua kandungnya tetap ada. Akibat hukum pengangkatan anak menurut hukum adat sifatnya variatif, artinya disuatu daerah berlainan dengan hukum adat di daerah lainnya. Hubungannya dengan masalah warisan, terdapat juga variasi ketentuan hukumnya, dalam hal hak mewarisi terdapat beraneka ketentuan. Ada yang dengan pengangkatan anak maka terjalin hubungan waris mewarisi antara orang tua angkat dengan anak angkat dan memutus hak waris anak angkat dengan orang tua kandungnya, ada juga yang karena pengangkatan anak hanya sekedar sebagai pengangkatan tanpa ada hak kewarisan. Malah ada yang karena pengangkatan anak hubungan waris terhadap anak angkat dan orang tua kandung tetap ada dan hubungan waris anak angkat dengan orang tua kandung muncul karena pengangkatan anak tersebut. 3. Dalam hal penetapan porsi warisan bagi anak angkat, Kompilasi Hukum Islam
Demikian batas maksimal dari wasiat wajibah ini adalah sepertiga dari harta warisan anak angkat atau orang tua angkat, artinya tidak boleh melebihi dari sepertiga harta yang ditinggalkan anak angkat atau orang tua angkatnya, terkecuali bilamana hal itu disetujui oleh semua ahli waris. Wasiat wajibah tersebut merupakan tindakan yang di lakukan penguasa atau hakim sebagai apparat Negara untuk memaksa atau memberi putusan wasiat bagi orang yang telah meninggal dunia, yang diberikan kepada orang tertentu dalam keadaan tertentu pula. Dalam hukum adat, ketentuan warisan bagi anak angkat suatu daerah berlainan dengan hukum adat di daerah lainnya. Dengan cara yang berbeda pula yaitu baik berupa wasiat ataupun memang sudah ada ketentuan porsi terhadap anak angkat maupun tidak sama sekali mendapatkan warisan. Begitu juga terhadap porsi warisnya, tidak dapat di pastikan berapa porsi waris bagi anak angkat. Namun dapat diambil kesimpulan bahwa beberapa ketentuan hukum adat menyatakan porsi anak angkat dipersamakan dengan porsi anak kandung (apabila ada hak waris). Ataupun melalu cara wasiat dari orang tua angkatnya.
D. Saran
Undang-Undang atau peraturan yang dibuat dapat ditegakkan bagi seluruh masyarakat Indonesia.
2. Disarankan kepada penegak hukum, khususnya dalam membuat peraturan mengenai waris anak angkat, untuk dapat memperhatikan pentingnya hak dan kewajiban bagi anak angkat, sehingga ada aturan yang jelas untuk menentukan hak kewarisan terhadap anak angkat.