ANALISIS EKSPOR KARET INDONESIA KE CINA

83 

Teks penuh

(1)

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Indonesia dikenal sebagai negara agraris, perekonomiannya bertumpu

pada sektor pertanian. Salah satu subsektor pertanian yang menjadi andalan adalah

subsektor perkebunan. Beberapa komoditi unggulan Indonesia dari sektor ini

yaitu, kelapa sawit, kelapa, karet, tebu, kakao, dan kopi. Masing-masing komoditi

memiliki kekhasan yang membuat Indonesia menjadi salah satu eksportir terbesar

di dunia.

Penggerak roda perekonomian suatu negara antara lain adalah

perdagangan. Perdagangan banyak macam dan jenisnya, salah satunya adalah

perdagangan luar negeri yang lebih dikenal perdagangan internasional. Dewasa ini

negara di belahan dunia manapun pasti melakukan perdagangan luar negeri.

Perdagangan luar negeri berkaitan erat dengan ekspor dan impor. Ekspor dan

impor merupakan bagaikan 2 kutub magnet yang saling berkaitan. Ekspor

berperan penting dalam perekonomian, menyangkut dengan penerimaan yang

berguna bagi negara tersebut, biasanya negara yang menganut sistem berorientasi

keluar, menumpukan perekonomiannya kepada sektor ekspor.

Kondisi perekonomian dunia pada saat ini yang masih dominan dikuasai

oleh negara-negara maju, tidak manjadi sebuah alasan bagi setiap negara untuk

memperbaiki kualitas interaksi dalam sebuah pasar yang semakin bebas bergeliat

di berbagai segi, sebab kualitas dan kuantitas yang hanya mampu dihasilkan oleh

(2)

persaingan yang semakin ketat. Negara yang memiliki keunggulan akan secara

cepat menciptakan sebuah interaksi ekonomi yang baik ketimbang negara yang

hanya berpaku pada satu segi saja. Suatu negara akan melakukan perdagangan

dengan negara lain karena negara tersebut akan menciptakan manfaat dari

diadakannya manfaat dari sebuah perdagangan, karena tidak ada negara yang

mampu berdiri sendiri dengan mempertahankan suatu sistem perekonomian yang

stagnan, tanpa dilakukannya kerja sama dan tukar menukar komoditi dengan

negara lain baik barang maupun jasa, maka suatu negara tidak meningkatkan

perekonomiannya, sehingga perdagangan internasional harus diupayakan agar

dapat meraih berbagai peluang dan kesempatan yang ada.

Menuju era perdagangan bebas, persaingan global yang semakin ketat

memaksa Indonesia harus kompetitif untuk mempertahankan ekonomi. Salah satu

cara untuk mempertahankan pertumbuhan ekonomi suatu negara dengan

meningkatkan pembangunan pada sektor primer (pertanian) (Jhingan, 2010).

Beberapa kawasan di dunia seperti Asia, Afrika dan Amerika Selatan,

ekspor telah menjadi perangsang yang penting dalam mempercepat pertumbuhan

ekonomi baik itu pada sisi kesempatan kerja, pengolahan sumber daya dengan

kapasitas yang lebih optimal, hingga kemungkinan suatu negara untuk

memperkuat sumber-sumber finansial dan fiskalnya.

Tabel 1.1 menyajikan produksi komoditi perkebunan dari tahun 2012 dan

tahun 2013. Produksi karet menempati urutan ketiga dengan jumlah produksi

3,012 juta ton tahun 2012 dan di tahun 2013 jumlah produksi sementara 3,107 juta

ton. Hal ini merupakan salah satu potensi untuk terus diperhatikan oleh

(3)

Tabel 1.1 Produksi Komoditi Perkebunan (Juta Ton)

karet di mana populasi tanaman karet Indonesia adalah yang menduduki kedua di

dunia. Produksi karet Indonesia meningkat secara perlahan dari 2.440.347 ton di

tahun 2009 menjadi 2.990.184 ton pada 2011. Kemudian terus meningkat di tahun

2012 sebesar 3.040.376 dan diperkirakan pada tahun 2013 sebesar 3.100.000 ton.

Produksi karet Indonesia masih didominasi oleh karet rakyat dengan luas terbesar

di Indonesia yang diusahakan oleh jutaan petani kecil-kecil (small farm) dan memberikan kontribusi besar dalam menghasilkan devisa negara (Virdhani, 2013).

Tabel 1.2 menjelaskan tentang luas perkebunan karet Indonesia. Luas

perkebunan karet rakyat pada tahun 2009 adalah 2,912 juta hektare di mana

sampai tahun 2014 kenaikan rata-rata 1,02 persen dan total luas keseluruhan

perkebunan karet Indonesia pada tahun 2009 adalah 3,435. Luas perkebunan

swasta mengalami tren menurun tahun 2009 adalah 284 ribu hektare dan pada

tahun 2014 menjadi 279 ribu hektare. Peningkatan berikutnya terjadi pada areal

perkebunan BUMN pada tahun 2009 adalah 239 ribu hektare dan terjadi

peningkatan yang signifikan pada tahun 2014 mengalami kenaikan 264 ribu

(4)

Tabel 1.2 Luas Perkebunan Karet Indonesia 2009-2014 (Ribuan Hektare)

Kepemilikan 2009 2010 2011 2012 2013* 2014**

Karet Rakyat 2,912 2,922 2,932 2,978 3,016 3,063

BUMN 239 239 257 259 261 264

Swasta 284 284 267 269 279 279

Total 3,435 3,445 3,456 3,506 3,556 3,606

Sumber : Gapkindo, 2014.

Keterangan : *) Angka Sementara

Perkembangan nilai ekspor karet Indonesia (Tabel 1.3) mengalami tren

fluktuasi. Terjadi pergerakan kenaikan yang cukup signifikan di tahun 2010

mencapai 32.12 persen. Nilai ekspor karet Indonesia pada umumnya terus

meningkat di tahun 2001 US$ 57.361.000.000. Pada tahun 2002 peningkatan

mencapai 3.15 persen atau senilai US$ 56.166.000.000. Di tahun 2003 terjadi

kenaikan US$ 64.108.000.000 sebanyak 8.35 persen. Pada tahun 2004 terjadi

kenaikan nilai ekspor karet Indonesia US$ 70.766.610.000 atau sebanyak 10.39

persen. Tren meningkat terus terjadi, pada tahun 2005 meningkat 22.39 persen

atau senilai US$ 86.996.064.000. Nilai ekspor karet Indonesia naik menjadi US$

103.527.000.000 pada tahun 2006 atau sebanyak 19.00 persen. Terjadi penurunan

di tahun 2009 dikarenakan terjadi krisis di Amerika dan berdampak ke

perekonomian di negara berkembang, khususnya Indonesia. Nilai ekspor karet

Indonesia pada tahun 2009 mengalami penurunan -14.30 atau senilai US$

119.646.000.000. Untuk di tahun 2011 nilai ekspor karet Indonesia semakin

menguat senilai US$ 210.472.259.000 atau meningkat 27.45 persen.

Tabel 1.3 Perkembangan Nilai Ekspor Karet Indonesia (US$)

Tahun Ekspor Karet (US$) Perkembangan (%)

(5)

-2002 59.166.000.000 3.15

Permintaan yang semakin tinggi atas bahan dasar karet alam terjadi di

negara konsumen utama karet alam dunia seperti Jepang, China dan Korea.

Pertumbuhan konsumsi karet alam di Filipina mengalami peningkatan yang relatif

menurun yang signifikan sebanyak 88.45 persen. Berbeda halnya yang terjadi di

Negara China, peningkatan konsumsi China sebesar 44,11 persen pada periode

2009-2011 seperti yang tertera pada tabel 1.4.

Tabel 1.4 Perkembangan Ekspor Karet Indonesia Berdasarkan Negara Konsumen, Tahun 2009-2011 (US$)

(6)

Indonesia. Pada tabel 1.4 tingkat konsumsi Negara China cenderung mengalami

tren naik yang signifikan positif.

Selama ini ekspor hasil pertanian sebagian besar merupakan ekspor hasil

perkebunan primer. Dalam jangka panjang pengembangan ekspor sektor pertanian

difokuskan kepada produk-produk olahan hasil pertanian yang memberikan nilai

tambah lebih besar bagi perekonomian nasional. Sejalan dengan rencana tersebut,

maka pengembangan agro industri mutlak diperlukan yang pada gilirannya akan

mendukung upaya pengembangan ekspor sektor pertanian. Tren nilai ekspor

komoditas perkebunan dari tahun 2009 hingga 2011 cenderung meningkat. Tren

ekspor yang terus meningkat ini, memberikan gambaran bahwa produk

perkebunan kita telah mampu bersaing di pasar internasional sehingga mampu

memberikan kontribusi yang sangat berarti dalam devisa perdagangan.

Berdasarkan perkembangan yang sudah dijelaskan, maka penulis tertarik

untuk menganalisis lebih lanjut bagaimana perkembangan ekspor karet Indonesia

ke China, kontribusi nilai ekspor karet Indonesia ke China terhadap nilai ekspor

karet Indonesia dan bagaimana pengaruh kurs, GDP China, dan harga karet

internasional terhadap nilai ekspor karet indonesia ke China dengan judul

“Analisis Ekspor Karet Indonesia ke China”

1.2 Rumusan Masalah

Pada era perdagangan bebas seperti saat ini, daya saing ekspor karet

terletak pada industri hilirnya, tidak lagi pada produk primer, di mana nilai tambah

dalam negeri yang dapat tercipta pada produk hilir dapat berlipat ganda daripada

(7)

kelayakan yang tinggi untuk usaha kecil, menengah maupun besar sehingga

industri hilir menjadi lokomotif industri hulu.

Motor penggerak perekonomian suatu negara adalah perdagangan

internasional, di mana setiap negara akan selalu berinteraksi dengan negara lainya.

Ketika kegiatan ekonomi internasional semakin berkembang maka akan terus

terciptanya kebutuhan–kebutuhan ekonomi antarnegara.

Produksi karet alam Indonesia pada 2011 merupakan terbesar ke dua di

dunia yakni mencapai 2.982.000 ton. Di mana kontribusinya terhadap produksi

karet dunia mencapai 27,06%. Indonesia memiliki luas area karet mencapai

3.445.000 hektare dengan 85% merupakan perkebunan karet rakyat. Namun

produktivitas Indonesia masih lemah yakni hanya 986 kg per hektare per tahun

(Dhany, 2013).

Harga sangat berpengaruh yang sangat erat kaitannya ketika berada dalam

suatu pasar internasional, hal ini terjadi karena jika harga karet alam Indonesia

mengalami peningkatan akan menimbulkan dampak pengurangan kapasitas

permintaan ekspor karet dari Indonesia.

Berdasarkan pada latar belakang dan uraian tersebut maka rumusan

masalah yang perlu diteliti adalah sebagai berikut :

1. Bagaimana perkembangan ekspor karet Indonesia ke China, kurs, GDP

China, harga karet internasional dan kontribusi nilai ekspor karet Indonesia

ke China terhadap nilai ekspor karet Indonesia selama periode 2001-2012.

2. Bagaimana pengaruh kurs, GDP China dan harga karet internasional

(8)

1.3 Tujuan Penelitian

Berdasarkan rumusan masalah yang telah diuraikan maka tujuan penelitian

adalah sebagai berikut :

1. Menganalisis perkembangan ekspor karet Indonesia ke China, kurs, GDP

China, harga karet Internasional dan kontribusi nilai ekspor karet

Indonesia ke China terhadap nilai ekspor karet Indonesia selama periode

2001-2012.

2. Menganalisis pengaruh kurs, GDP China dan harga karet internasional

terhadap nilai ekspor karet Indonesia ke China selama periode 2001-2012.

1.4 Manfaat Penelitian

Hasil penelitian ini diharapkan dapat berguna baik bagi akademisi

maupun praktisi dan pihak lain yang berkepentingan. Manfaat yang diharapkan

tersebut antara lain yaitu:

1. Akademis

Diharapkan dapat bermanfaat bagi penelitian berikutnya terutama yang

berkaitan dengan analisis ekspor karet Indonesia. 2. Praktisi

Dapat dijadikan bahan masukan dan informasi bagi pemerintah untuk

keperluan perumusan kebijakan yang terkait dengan perkembangan ekspor

karet sehingga pemerintah mampu meningkatkan daya saing dalam

mengatasi efek persaingan global yang semakin ketat dengan

perencanaan-perencanaan yang lebih menggairahkan bagi sektor perkebunan khususnya

komoditi karet Indonesia sehingga menghasilkan kualitas dan kuantitas

(9)

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

(10)

2.1.1 Teori Perdagangan Internasional

Perdagangan internasional ialah arus tukar menukar antarnegara yang

melintasi batas-batas negara. Perdagangan internasional pada dasarnya merupakan

kegiatan yang menyangkut penawaran ekspor dan permintaan impor antarnegara,

pada saat melakukan ekspor, negara menerima devisa dan sebaliknya pada saat

impor, devisa dikeluarkan untuk pembayaran. Ekspor suatu negara merupakan

impor bagi negara lain, begitu juga sebaliknya (Boediono, 1995).

Teori mengenai perdagangan antardua negara yang dikenal luas dengan

teori keunggulan absolut dikemukan oleh Adam Smith. Asumsi yang menjadi

dasar dalam teori ini adalah perdagangan internasional hanya dapat terjadi pada

negara yang memiliki keuntungan absolut. Jika suatu negara lebih efisien atau

memiliki keunggulan absolut terhadap negara lainnya dalam memproduksi suatu

komoditas, namun kurang efisien dibandingkan negara lain dalam memproduksi

komoditi lain, maka kedua negara tersebut dapat memperoleh keuntungan dengan

cara masing-masing melakukan spesialisasi dalam komoditi unggulan dan

menukarkannya dengan komoditi lain yang tidak memiliki keunggulan absolut

dalam suatu mekanisme perdagangan internasional (Salvatore, 1997).

Perdagangan ini terjadi apabila terdapat permintaan dan penawaran pada

pasar internasional. Selain itu perdagangan internasioanal mampu menggerakan

pertumbuhan ekonomi suatu negara. Pada saat ini perdagangan internasional lebih

mengarah pada terjadinya perdagangan bebas dan menuntut adanya efisiensi yang

tinggi, setiap negara berusaha memasuki pasar internasional dengan produk yang

dihasilkannya memiliki kualitas yang terbaik dan mampu bersaing di pasar

(11)

barang dan jasa dapat dipenuhi dengan baik, dengan demikian perdagangan

internasional memiliki peranan yang cukup penting dalam perekonomian suatu

negara. Perdagangan merupakan faktor penting dalam merangsang pertumbuhan

ekonomi setiap negara, perdagangan akan memperbesar kapasitas konsumsi suatu

negara, meningkatkan output dunia serta menyajikan akses ke sumber-sumber daya yang langka dan pasar-pasar internasional yang potensial untuk sebagai

produk ekspor (Todaro, 2003).

Menurut Amir (2004) ada beberapa faktor khusus yang dipengaruhi, sama

halnya dengan perdagangan luar negeri yakni melakukan transaksi jual-beli maka

dalam perdagangan luar negeri pun juga dilakukan aktivitas beli yang lazim

disebut impor pada barang (visible goods),

1. Faktor pertama yang harus diperhatikan adalah faktor hasil (proceds) dan biaya (cost). Barang-barang yang akan dijual ke luar negeri adalah barang yang biaya produksinya relatif murah dibandingkan dengan ongkos

pembuatannya di luar negeri, dalam arti kata kalau diekspor akan dapat

dijual dengan menguntungkan. Sebaliknya barang-barang yang akan

diimpor adalah barang yang biaya produksinya di dalam negeri terlalu

tinggi atau yang sama sekali belum bisa diproduksi.

2. Kedua aktivitas tersebut hanya dapat dilakukan dalam batas tertentu sesuai

dengan dengan kebijaksaan umum pemerintah. Adakalanya suatu jenis

barang harus diekspor sekalipun akan menderita rugi kalau dihitung

dengan mata uang sendiri, tetapi jika pemerintah mengutamakan

(12)

Dalam melaksanakan perdagangan luar negeri, diperlukan pengetahuan

yang cukup misalkan dalam segi teknis pembiayaan baik impor maupun ekspor,

masalah perasuransian, masalah shipping, urusan pabean dan lain-lain. Setiap transaksi perdagangan luar negeri dilihat baik sebagai transaksi impor maupun

sebagai transaksi ekspor. Dari sudut penjual transaksi ini disebut ekspor dan

sebaliknya dari sudut pembeli disebut transaksi impor. Oleh karenanya ada

baiknya secara sepintas lalu dipelajari prosedur ekspor-impor.

Perkembangan dalam teori perdagangan internasional selanjutnya

dikemukakan oleh Heckscher-Ohlin (H-O). Menurut Hecksher-Ohlin, terdapat

perbedaan oportunity cost suatu produk antar suatu negara dengan negara lain yang disebabkan karena adanya perbedaan jumlah atau proporsi yang dimiliki

masing-masing negara. Negara-negara yang memiliki faktor produksi relatif

banyak dan murah dalam produksinya akan melakukan spesialisasi produksi dan

mengekspor barangnya. Sebaliknya, masing-masing negara akan mengimpor

barang tertentu apabila negara tersebut memiliki faktor produksi yang relatif

langka dan mahal dalam produksinya (Salvatore, 1997).

Adapun teori yang berkaitan dengan perdagangan internasional adalah

sebagai berikut:

a) Teori Hecsksher – Ohlin (H-O)

Eli Hecsksher dan Berthin Ohlin mengembangkan teori perdagangan

internasional yang dikenal dengan Teori Heckscher-Ohlin (H-O)

menyatakan bahwa sumber utama perdagangan internasional adalah

adanya perbedaan karunia sumber-sumber antarnegara. Teori ini lebih

(13)

antarnegara dan perbedaan penggunaan dalam memproduksi berbagai

barang. Sehingga teori ini sering disebut sebagai teori proporsi faktor

produksi (Factor Proportion Theory) (Krugman dan Obstfeld, 2004). Teori H-O merupakan penyempurnaan dari teori sebelumnya, teori klasik

telah membuktikan bahwa perbedaan harga relatif komoditi yang berlaku

di masing-masing negara merupakan sumber keunggulan komperatif bagi

negara-negara tersebut. Keunggulan ini selanjutnya mendorong terjadinya

perdagangan yang saling menguntungkan. Teori dari Adam Smith, Ricardo

dan H-O belum mampu menerangkan perkembangan ekspor non migas

dari negara-negara di dunia. Teori mereka juga tidak mampu menjelaskan

perubahan pola atau struktur perdagangan internasional yang sangat

signifikan (Haryadi, 2000).

Dalam sistem perekonomian terbuka, perdagangan internasional tidak

terlepas dari perkembangan ekonomi dunia secara keseluruhan.

Perkembangan ekonomi dunia sangat penting untuk dipertimbangkan

dampaknya terhadap sisi permintaan, terutama permintaan di sisi ekspor.

Menurut teori H-O suatu negara akan berspesialisasi dalam produksi dan

ekspor barang-barang yang di-input (faktor produksi) utamanya relatif sangat banyak di negara tersebut dan impor utamanya tidak dimiliki oleh

negara tersebut (jumlahnya terbatas). Teori H-O menggunakan asumsi 2 x 2 x 2 dalam artian perdagangan internasional terjadi antara dua negara,

masing-masing negara memproduksi dua macam barang yang sama,

masing-masing negara menggunakan dua macam faktor produksi yaitu

(14)

b) Teori keuntungan absolute (Keunggulan Mutlak)

Teori keunggulan absolute dari Adam Smith adalah bahwa perdagangan internasional antara dua negara yang terjadi, jika kedua negara saling

memperoleh manfaat, dan ini hanya terjadi bila masing-masing negara

memiliki keunggulan absolut berbeda. Sehingga muncul teori keunggulan

komperatif dari J.S Mill dan David Ricardo yang dianggap kritik sekaligus penyempurnaan atau perbaikan terhadap keunggulan absolut. Dasar

pemikiran kedua tokoh ini adalah bahwa terjadinya perdagangan

internasional pada prinsipnya tidak berbeda. J.S Mill beranggapan bahwa

suatu negara akan mengkhususkan diri pada ekspor barang tertentu bila

negara tersebut memiliki keunggulan komperatif (Comperative Advantage) tersebar dan akan mengkhususkan diri pada impor barang bila negara tersebut memiliki kerugian komperatif (Comperative Disadvantage), atau suatu negara akan melakukan ekspor barang bila barang itu dapat diproduksi biaya lebih rendah dan akan melakukan impor

barang bila barang itu diproduksi sendiri akan memerlukan biaya produksi

lebih besar. Sedangkan dasar pemikiran David Ricardo adalah

perdagangan antara dua negara akan tejadi bila masing-masing negara

memiliki biaya relatif lebih kecil untuk jenis barang yang berbeda.

Penekanan Ricardo pada perbedaan efisiensi biaya relatif antarnegara

dalam memproduksi dua (atau lebih) jenis barang yang menjadi dasar

(15)

Dasar teori merkantilisme menganggap pertumbuhan ekonomi suatu

negara tumbuh sebagai akibat adanya pengeluaran dari negara lain. Bagi

merkantilisme sistem perekonomian terdiri dari tiga komponen yakni : 1)

Sektor Manufaktur, 2) Sektor Rural, 3) Sektor Foreign Colonies. Penganut

merkantilisme yang dipelopori oleh Mun (1571-1641) dalam karyanya

England’s Tresuary By Foreign Trade, bahwa satu-satunya cara bagi sebuah negara untuk menjadi kaya dan kuat adalah dengan melakukan

sebanyak mungkin ekspor dan sedikit mungkin impor. Surplus ekspor

yang dihasilkan kemudian dibentuk dalam logam mulia khususnya emas

dan perak, semakin banyak logam mulia yang dimiliki suatu negara

semakin kaya dan kuat negara tersebut.

2.1.2 Peranan Perdagangan Internasional

Perkembangan spesialisasi berarti perkembangan pula bagi perdagangan.

Dalam dunia modern dewasa ini negara sulit untuk memenuhi seluruh

kebutuhanya sendiri dengan kata lain tanpa ada kerja sama dengan negara lain.

Dengan perkembangan teknologi yang sangat cepat sangat membantu proses kerja

sama antarnegara tersebut, perdagangan antarnegara pun berkembang pula dengan

pesat, dan dengan demikian perdagangan antarnegara ini saling menginginkan:

1. Tukar menukar barang dan jasa-jasa,

2. Pergerakan sumber daya melalui batas-batas negara,

3. Pertukaran dan perluasan penggunaan teknologi sehingga dapat

mempercepat pertumbuhan ekonomi negara-negara yang terlibat di

(16)

Bagi Indonesia perdagangan bukanlah hal yang baru karena sejak dahulu

Bangsa Indonesia telah menjalankan perdagangan antarnegara dan diikuti negara

asing lainnya, seperti: Amerika, Eropa, Australia dan Amerika Latin. Manfaat dari

perdagangan timbul karena adanya perbedaan selera antara konsumsi-konsumsi

tersebut dan perbedaan dalam jumlah awal dari barang-barang yang dimiliki

masing-masing (Boediono, 1995).

Seperti yang kita ketahui perdagangan internasional sangat membantu

dalam pertumbuhan ekonomi di suatu negara sehingga dapat kita lihat manfaatnya

secara langsung dari perdagangan internasional yaitu meningkatkan hasil produksi

dan pendapatan produsen. Di samping itu bertambahnya lapangan pekerjaan serta

mendorong perbaikan mutu dari barang-barang yang diproduksi dan dihasilkan

oleh masing-masing perusahaan yang memproduksi barang yang diperdagangkan

maupun dalam bentuk layanan jasa. Manfaat tidak langsung seperti pemindahan

modal dan teknologi dari negara maju ke negara berkembang.

2.1.3 Kebijakan Perdagangan Internasional

Adapun kebijakan dari perdagangan internasional ini adalah autarki, tujuan

ini pada dasarnya bertolak belakang dengan prinsip perekonomian terbuka, karena

negara yang memiliki tujuan seperti ini berusaha untuk menghindari dari

pengaruh negara lain. Kesejahteraan (welfare), tujuan kebijakan ini bertentangan dengan kebijakan di atas. Tujuan kebijakan ekonomi internasional seperti ini

sangat mendukung dilaksanakannya perdagangan internasional, dengan

memperoleh keuntungan dari adanya spesialisasi. Hambatan perdagangan

(17)

Proteksi, tujuan ini melindungi industri dalam negeri dari pesaing barang

impor. Hal ini biasa dilakukan dengan tarif, kuota dan lain sebagainya. Alasan

fiskal, dalam hal ini pemerintah dapat meningkatkan pendapatan dari bea masuk

terhadap barang impor. Balance of payment, kebijakan ini biasanya dilakukan oleh negara berkembang relatif memiliki cadangan devisa yang lebih sedikit. Untuk

mengurangi defisit tersebut kebijakan subtitusi impor yang menjadi pilihan utama

adalah proteksi. Mencegah dumping, suatu negara yang merasa barang impornya lebih murah atau di bawah harga normal biasanya akan melakukan peningkatan

atas bea masuk terhadap barang tersebut.

Meningkatkan kesempatan kerja, bagi kebanyakan negara yang sedang

berkembang kebijakan subtitusi impor biasanya dilakukan sebagai salah satu

untuk meningkatkan kesempatan kerja. Negara yang sektor industrinya belum

kuat terancam akan hancur bila apabila impor sepenuhnya dibebaskan yang

selanjutnya akan meningkatkan pengangguran. Pembangunan ekonomi, dengan

adanya kebijakan perlindungan terhadap infant industri, maka industri akan

mampu tumbuh dan berkembang yang selanjutnya produksi domestik akan

meningkatkan pertumbuhan ekonomi. Tujuan politik, sebagian negara tetap ngotot

untuk melindungi sektor-sektor tertentu di dalam negeri semata-mata untuk tujuan

politik. Seperti Jepang yang melindungi petani berasnya dengan menetapkan tarif

impornya yang sangat tinggi bagi impor berasnya, sehingga kegiatan pertanian di

Jepang mampu berkembang (Haryadi, 2007).

(18)

Menurut Belante dan Mark (1990) pemintaan ialah jumlah yang diminta

atas suatu komoditas pada tingkat harga dan periode waktu tertentu. Permintaan

suatu komoditas merupakan hubungan yang menyeluruh antara kuantitas

komoditas yang akan dibeli konsumen selama periode tertentu pada suatu tingkat

harga. Pada sisi lain, permintaan perusahaan akan input merupakan permintaan turunan (derived demand), yang diperoleh dari permintaan konsumen terhadap produk perusahaan.

Menurut Sukirno (1994) secara teoritis ekspor suatu barang dipengaruhi

oleh suatu penawaran dan permintaan, permintaan diartikan sebagai hubungan

antara jumlah barang yang diminta dengan faktor-faktor yang mempengaruhi

permintaan itu sendiri.

Permintaan adalah berbagai kombinasi harga dan jumlah suatu barang

yang ingin dan dibeli oleh konsumen pada berbagai tingkat harga yang mungkin

selama suatu periode tertentu. Pengertian permintaan selalu menunjukkan

skedul, kurva atau fungsi. Sedangkan jumlah yang diminta merupakan

kuantitas yang benar-benar dibeli pada berbagai tingkat harga tertentu.

Supaya permintaan terhadap suatu barang itu dapat terjadi maka konsumen

haruslah ada keinginan (willing) dan kemampuan (ability) membeli. Permintaan juga menunjukkan arus pembelian pada satu periode waktu tertentu (Nopirin,

1994).

Menurut Nicholes Anggaini (2006) hukum permintaan mengatakan bahwa

dalam keadaan ceteris paribus, apabila harga barang naik maka permintaan barang tersebut menjadi turun sebaliknya. Hubungan antara harga barang dan

(19)

pendekatan yang menerangkan mengapa konsumen berperilaku seperti yang

dinyatakan dalam hukum permintaan. Pendekatan tersebut adalah pendekatan

merginal utility dan pendekatan indifference curve. Pendekatan marginal utility mempunyai asumsi:

1. Kepuasan setiap konsumen dapat diukur baik dengan uang maupun dangan

satuan lain yang bersifat kardinal.

2. Berlakunya hukum Gossen (law diminishing marginal utility), yaitu semakin banyak suatu barang dikonsumsi maka tambahan kepuasan yang

diperoleh semakin menurun.

3. Konsumen selalu berusaha mencapai kepuasan total yang maksimum.

Pendekatan indifference curve adalah pendekatan yang menekankan bahwa tingkat kepuasan konsumen bisa dikatakan lebih tinggi atau lebih rendah tanpa

menyatakan seberapa besar tinggi rendahnya (merupakan kepuasan yang bersifat

ordinal). Pendekatan ini menganggap bahwa:

1. Konsumen mempunyai pola referensi akan barang-barang konsumen yang bisa dinyatakan dalam bentuk kumpulan dari indifference curve.

2. Konsumen mendapat kepuasan dari barang yang dikonsumsi.

3. Ingin mengonsumsi jumlah barang yang lebih banyak untuk mencapai kepuasan yang lebih tinggi.

Permintaan yang dimaksud di sini adalah permintaan yang disertai daya

(20)

barang yang tersedia dibeli oleh konsumen pada harga yang dibayarkannya untuk

barang itu, biasa disebut permintaan efektif. Sedangkan permintaan potensial

adalah permintaan terhadap suatu barang dan jasa disertai dengan kemampuan

membayar namun saat ini belum melakukan pembelian (Lipsey, et all., 1995).

Daya beli konsumen didasari atas besar sedikitnya pendapatan yang dapat

dibelanjakan dan tinggi rendahnya harga barang.

2.1.4.2 Elastisitas Permintaan

Elastisitas permintaan (elasticity of demand) adalah pengaruh perubahan harga terhadap besar kecilnya jumlah barang yang diminta atau tingkat kepekaan

perubahan jumlah barang yang diminta terhadap perubahan harga barang

(Sukirno, 2002).

Untuk mempelajari bagaimana pengaruh perubahan suatu jumlah tertentu

terhadap peubah lainnya digunakan konsep elastisitas. Elastisitas merupakan

ukuran derajat kepekaan jumlah permintaan terhadap perubahan salah satu faktor

yang mempengaruhi yaitu harga, pendapatan dan harga barang lain (Manurung

dan Prathama, 1999).

Beberapa konsep elastisitas yang mempunyai hubungan dengan

permintaan antara lain:

1. Elastisitas harga (Eh), yaitu persentase perubahan jumlah barang yang

diminta sebagai akibat terjadinya perubahan harga barang tersebut dengan

(21)

menunjukkan derajat kepekaan perubahan permintaan karena adanya

perubahan harga.

2. Elastisitas silang, yaitu persentase perubahan barang yang diminta (Q)

yang disebabkan oleh perubahan harga barang lainya (P).

3. Elastisitas pendapatan adalah persentase perubahan jumlah barang yang

diminta yang disebabkan oleh perubahan pendapatan konsumen atau

merupakan derajat kepekaaan permintaan sebagai akibat perubahan

pendapatan (Nicholon, 1999).

2.1.4.3 Teori Penawaran

Penawaran menerangkan sifat para penjual dalam menawarkan komoditas

yang akan dijualnya. Banyaknya komoditi yang akan dijual oleh produsen disebut

sebagai jumlah yang ditawarkan. Jumlah komoditi yang ditawarkan tidak harus

selalu sama dengan jumlah yang berhasil dijual oleh produsen tersebut

(Lipsey,1995).

Ada beberapa faktor yang mempengaruhi jumlah komoditi yang akan

ditawarkan oleh produsen, yaitu:

1. Harga komoditi itu sendiri

Hipotesis ekonomi menyatakan bahwa antara harga komoditi dengan

jumlah yang ditawarkan terjadi hubungan positif, artinya semakin tinggi

harga komoditi tersebut maka akan semakin besar jumlah yang

ditawarkan, ceteris paribus. Bila harga komoditi tersebut meningkat maka keuntungannya akan bertambah. Itu sebabnya produsen akan menambah

(22)

yang diperoleh. Hubungan yang positif antara harga komoditi dengan

jumlah yang ditawarkan akan membentuk suatu kurva yang dinamakan

kurva penawaran. Kurva tersebut memiliki kemiringan positif karena

antara harga dan jumlah yang ditawarkan juga terjadi hubungan yang

positif. Bila terjadi perubahan pada harga komoditi, maka akan

mengakibatkan pergerakan sepanjang kurva penawaran komoditi tersebut,

seperti pada Gambar 1.

Gambar 1. Kurva Penawaran Sumber : Lipsey, 1995

2. Harga faktor-faktor produksi

Semakin tinggi harga faktor-faktor produksinya maka semakin rendah

jumlah komoditi yang akan diproduksi dan ditawarkan, ceteris paribus.

Perubahan pada harga faktor produksi akan menggeser kurva penawaran

komoditi tersebut. Kenaikan harga faktor produksi menggeser kurva

penawaran ke kiri, artinya semakin sedikit jumlah yang ditawarkan.

Sebaliknya, turunnya harga faktor produksi akan menggeser kurva

penawaran ke kanan di mana jumlah yang ditawarkan semakin besar.

(23)

Produsen diasumsikan memiliki satu tujuan yaitu memaksimalkan

keuntungan. Untuk mencapainya, produsen akan memperbesar jumlah

produksi dan jumlah yang ditawarkan sehingga kurva penawaran akan

bergeser ke kanan.

4. Perkembangan teknologi

Teknologi yang digunakan oleh produsen akan untuk menurunkan biaya

produksi dan meningkatkan keuntungan. Artinya, semakin berkembang

teknologi yang digunakan dalam suatu proses produksi maka semakin

besar kemampuan memproduksi dan menawarkan komoditi tersebut,

ceteris paribus. Perkembangan teknologi akan menggeser kurva penawaran ke arah kanan di mana jumlah yang ditawarkan semakin besar.

Perubahan faktor-faktor lain di luar harga komoditi itu sendiri akan

menyebabkan pergeseran kurva penawaran ke kanan atau ke kiri,

tergantung pada faktor apa yang mempengaruhi volume penawaran

tersebut.

2.1.5 Ekspor

Menurut Todaro (2003), menyatakan ekspor adalah perdagangan

internasional yang memberikan rangsangan guna menumbuhkan permintaan

dalam negeri yang menyebabkan tumbuhnya industri-industri pabrik besar,

bersama dengan struktur politik yang stabil dan lembaga sosial yang fleksibel.

Dengan kata lain, ekspor mencerminkan aktivitas perdagangan antarbangsa yang

dapat memberikan dorongan dalam dinamika pertumbuhan perdagangan

(24)

mencapai kemajuan perekonomian setara dengan negara-negara yang lebih maju.

Ekspor adalah arus keluar sejumlah barang dan jasa dari suatu negara ke pasar

internasional.

Kegiatan ekspor merupakan kegiatan perdagangan dengan cara melakukan

penjualan barang-barang dari dalam negeri ke luar negeri. Ekspor ini sangat

penting bagi perekonomian suatu negara. Dengan adanya ekspor maka akan

terjadi akumulasi bagi devisa negara. Ekspor menunjukkan hubungan antara

permintaan luar negeri terhadap barang domestik, di mana permintaan tersebut

dipengaruhi oleh harga relatif dan pendapatan luar negeri (Batiz,1994).

Ekspor berarti menjual produk keluar negeri yang dilakukan oleh

eksportir. Keuntungan yang diperoleh dari menjual barang keluar negeri dengan

harga yang relatif lebih tinggi dari pada di dalam negeri. Berarti di sini telah

terjadi perbedaan harga bukan hanya ditimbulkan karena perbedaan ongkos

produksi, tetapi juga terdapat perbedaan pendapat dan selera. Permintaan untuk

suatu barang sangat ditentukan oleh selera dan pendapatan. Selera dapat

memainkan peranan penting dalam menentukan permintaan akan suatu barang

antarnegara. Apabila persediaan di suatu negara tidak mencukupi kebutuhan

masyarakat akan permintaan, maka negara tersebut dapat mengimpor dari negara

lain. Selain selera permintaan akan suatu barang ditentukan pula oleh pemerintah

(Nopirin, 1992).

Menurut Tan (2004) ekspor bisa terjadi karena adanya permintaan dan

penawaran suatu barang dan jasa yang dibutuhkan dalam perdagangan

internasional. Tetapi tidak semua kebutuhan yang dapat dipenuhi oleh negara

(25)

Para ahli ekonomi klasik dan neo klasik mengungkapkan betapa

pentingnya arti perdagangan internasional dalam pembangunan suatu negara

sampai dianggap sebagai mesin pertumbuhan. Dengan adanya kegiatan ekspor

maka secara tidak langsung negara tersebut telah memperluas pasar (Jhingan,

1992). Menurut Krugman (1997), ekspor merupakan salah satu bentuk

perdagangan luar negeri yang memberikan keuntungan bagi suatu negara, bahwa

perdagangan akan menciptakan keuntungan dengan memberikan peluang kepada

setiap negara untuk mengekspor barang-barang yang diproduksinya menggunakan

sebagian besar sumber daya yang berlimpah dan mengimpor barang-barang

produksi menggunakan sumber daya yang langka.

Menurut teori klasik Adam Smith dan David Ricardo (Sukirno, 1994),

menyatakan bahwa perdagangan luar negeri dapat memberikan beberapa

sumbangan pada ahirnya akan dapat memperlaju perkembangan ekonomi suatu

negara, dapat dikatakan bahwa ahli-ahli ekonomi klasik mengemukakan

sumbangan yang penting dari kegiatan perdagangan luar negeri di dalam

pembangunan ekonomi.

2.1.6 Peranan Ekspor

Ekspor memiliki peranan penting dalam perekonomian suatu negara

terutama bagi negara yang sedang berkembang termasuk Indonesia. Manfaat

ekspor secara langsung yakni jika suatu negara dapat memproduksi barang dengan

spesialisasi maka biaya yang dikeluarkan relatif rendah. Hal ini dikarenakan

(26)

langsung yakni berupa peningkatan penggunaan teknologi, mendorong inovasi,

meningkatkan produktivitas tenaga kerja, menurunkan biaya produksi, dan lain

sebagainya. Ekspor akan menghasilkan devisa yang akan dimanfaatkan sebagai

pembiayaan dalam kegiatan impor dan pembangunan sektor-sektor ekonomi

dalam negeri.

Menurut Tan (2010) dalam teori perdagangan internasional, faham

merkantilisme memperkenalkan bahwa emas lambang kekayaan suatu negara.

Emas diciptakan melalui surplus ekspor, yang menghasilkan negara makin kuat.

Ekspor merupakan aktivitas suatu negara menjual barang dan jasa keluar batas

negara. Pada dasarnya ekspor bertujuan meningkatkan devisa berupa mata uang

asing yang dapat dipergunakan dalam transaksi perdagangan internasional. Ekspor

yang semakin besar akan menunjukkan kemampuan suatu negara dapat membeli

barang impor dan membayar hutang luar negeri serta semakin kuat cadangan

devisa yang dimiliki suatu negara.

Ekspor adalah salah satu komponen pengeluaran agregat, oleh sebab itu

ekspor dapat menpengaruhi tingkat pendapatan nasional yang akan dicapai.

Apabila ekspor bertambah, pengeluaran agregat bertambah tinggi dan selanjutnya

akan menaikkan pendapatan nasional. Akan tetapi sebaliknya pendapatan nasional

tidak akan mempengaruhi ekspor. Ekspor belum tentu bertambah apabila

pendapatan nasional bertambah atau ekspor dapat mengalami perubahan

walaupun pendapatan nasional tetap. Kegiatan ekspor adalah sistem perdagangan

dengan cara mengeluarkan barang-barang dari dalam ke luar negeri dengan

(27)

Menurut Mankiw (2003), ekspor adalah berbagai macam barang dan jasa

yang diproduksi di dalam negeri lalu dijual di luar negeri. Sedangkan menurut

(Jhingan, 2000) fungsi terpenting komponen ekspor dari perdagangan luar negeri

adalah negara memperoleh keuntungan dan pendapatan nasional naik, kemudian

menaikan jumlah output dan laju petumbuhan ekonomi. Dengan tingginya tingkat

output maka akan mematahkan lingkaran setan kemiskinan dan pembangunan ekonomi dapat ditingkatkan.

Menurut Amir M.S (2004), ekspor adalah mengeluarkan barang-barang

dari peredaran dalam masyarakat dan mengirimkan ke luar negeri sesuai

ketentuan pemerintah dan mengharapkan pembayaran dalam bentuk valuta asing

ataupun ekspor merupakan upaya melakukan penjualan komoditi yang kita miliki

kepada bangsa lain atau negara asing, dengan mengharapkan bayaran dengan

valuta asing.

2.1.7 Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Ekspor 2.1.7.1 Nilai Tukar Mata Uang (Kurs)

Menurut Nopirin (1996) kurs adalah pertukaran antara dua mata uang yang

berbeda, maka akan mendapat perbandingan nilai/harga antara kedua mata uang

tersebut.

Dalam pengertian sederhana, kurs berarti jumlah suatu mata uang yang

diperlukan untuk membeli satu satuan mata uang lain. Misalnya kurs dollar

terhadap rupiah sama dengan jumlah rupiah yang diperlukan untuk membeli satu

(28)

Ada beberapa bentuk sistem nilai tukar (excange rate) valuta asing yang digunakan oleh negara-negara di dunia. Terdapat tiga sistem nilai tukar yang

dipakai (Samuelson, 1993):

1. Sistem kurs (fixed exchange rate)

Sistem yang menganut nilai kurs (nilai tukar) mata uang domestik yang

dipertahankan pada tingkat tertentu atau berubah-ubah. Terdapat satu mata

uang asing pada waktu tertentu yang menuntut peran pemerintah lebih

besar, karena keadaan yang tidak berubah-ubah tersebut maka disebut

sistem kurs tetap.

2. Sistem kurs mengambang bebas

Suatu sistem kurs di mana nilai tukar mata uang tidak ditentukan oleh

pemerintah tetapi melalui mekanisme yang berlaku. Permintaan dan

penawaran uang yang terjadi di pasar akan menyebabkan nilai suatu mata

uang yang dapat menguat dan melemah.

3. Sistem kurs mengambang (managed floating exchange rate)

Sistem kurs mengambang adalah apabila uang suatu negara tidak dinilai

secara mengambang terhadap mata uang asing tertentu, tetapi dikaitkan

dengan jumlah mata uang yang dominan yang dijadikan patokan.

4. Bila suatu negara menentukan kurs mata uangnya dengan mata uangnya

dengan mata uang negara lainya secara bebas atau tarik menarik karena

(29)

pembayaran, sebab bekerjanya pasar selalu menyeimbangkan jumlah

devisa yang masuk dengan devisa yang keluar.

Aliaran ini merupakan penawaran (supply) devisa, sedangkan aliran keluar devisa mencerminkan kebutuhan penduduk negara tersebut akan devisa untuk

pembayaran transaksinya di luar negeri. Menurut Tan (2004), nominal exchange rate (NER) merupakan gambaran harga domestik relatif terhadap dollar US$ atau NER, berarti dollar US diukur dari nilai rupiah. Nilai tukar nominal (real exchange rate) lebih menggambarkan nilai tukar nominal dua negara dengan memperhitungkan tingkat inflasi.

Semakin tinggi nilai tukar mata uang suatu negara (mengalami apresiasi)

maka harga ekspor negara itu di pasar internasional menjadi mahal.

Sebaliknya, semangkin rendah nilai tukar mata uang suatu negara (mengalami

depresiasi), harga ekspor negara itu di pasar internasional menjadi lebih murah.

Menurut Sukirno (2011), kurs mata uang asing menunjukkan harga atau

nilai mata uang suatu negara atau nilai mata uang suatu negara dinyatakan dalam

nilai mata uang negara lain. Menurutnya ada beberapa faktor yang dapat

mempengaruhi kurs yakni :

1. Perubahan dalam citarasa masyarakat, perubahan ini akan mengubah corak

konsumsi atas barang-barang yang diproduksi di dalam negeri maupun

dari impor. Perbaikan kualitas barang-barang dalam negeri menyebabkan

keinginan mengimpor berkurang dan di dalam negeri akan mampu

menaikkan ekspor. Sedangkan perbaikan kualitas barang-barang impor

(30)

besar. Perubahan-perubahan ini akan mempengaruhi permintaan dan

penawaran valuta asing.

2. Kenaikan harga umum (inflasi) sangat berpengaruh besar terhadap pertukaran valuta asing. Inflasi yang berlaku pada umumnya cenderung

untuk menurunkan nilai sesuatu valuta asing.

3. Pertumbuhan suku bunga dan tingkat pengembalian investasi, suku bunga

dan tingkat pengembalian investasi yang rendah akan cenderung

menyebabkan modal dalam negeri akan mengalir ke luar negeri.

Sedangkan suku bunga dan tingkat pengembalian investasi yang tinggi

akan menyebabkan modal luar negeri masuk ke dalam negara tersebut.

Apabila lebih banyak modal mengalir ke suatu negara, permintaan atas

mata uangnya bertambah. Maka nilai mata uang akan bertambah. Nilai

mata uang suatu negara akan merosot apabila banyak modal negara

dialirkan ke luar negeri karena suku bunga dan tingkat pengembalian

investasi yang lebih tinggi di negara-negara lain.

2.1.7.2 Gross Domestic Product (GDP)

Menurut Manurung dan Prathama (2002), PDB merupakan penjumlahan

nilai pasar dari permintaan sektor rumah tangga untuk barang-barang konsumsi

dan jasa (C), pengeluaran sektor bisnis untuk investasi (I), pengeluaran sektor

pemerintahan untuk barang dan jasa (G) dan pengeluaran sektor luar negeri untuk

ekspor dan impor (X-M). Menurut pembagiannya terdapat dua macam PDB,

(31)

1. PDB dengan harga berlaku atau PDB nominal, yaitu nilai barang dan jasa

yang dihasilkan suatu negara dalam satu tahun dinilai menurut harga yang

berlaku pada tahun tersebut.

2. PDB dengan harga tetap atau PDB riil, yaitu nilai barang dan jasa yang

dihasilkan suatu negara dalam satu tahun menurut harga yang berlaku pada

satu tahun tertentu yang seterusnya digunakan untuk menilai barang dan

jasa yang dihasilkan pada tahun-tahun lain.

Menurut Tan (2004), peningkatan impor sebagai akibat dari meningkatnya

PDB negara importir dapat dilihat dari dua mekanisme yaitu:

1. Kenaikan PDB negara importir menyebabkan meningkatnya investasi,

sehingga mengakibatkan meningkatnya kebutuhan akan barang impor

antara lain barang-barang modal dan bahan baku sebagai input dalam proses produksi.

2. Kenaikan PDB negara importir menyebabkan peningkatan kebutuhan

pokok impor karena tidak semua dapat dipenuhi dalam negeri.

Menurut McEachern (2000), GDP artinya mengukur nilai pasar dari

barang dan jasa akhir yang diproduksi oleh sumber daya yang berada dalam suatu

negara selama jangka waktu tertentu, biasanya satu tahun. GDP juga dapat

dipergunakan untuk mempelajari perekonomian dari waktu ke waktu atau untuk

membandingkan beberapa perekonomian pada suatu saat. Gross Domestic Product hanya mencakup barang dan jasa akhir yakni, barang dan jasa yang dijual kepada pengguna akhir. Dalam teorinya ada dua pendekatan yang digunakan

(32)

1. Pendekatan pengeluaran, menjumlahkan seluruh pengeluaran agregat pada

seluruh barang dan jasa akhir yang diproduksi selama satu tahun. Dalam

pendekatan pengeluaran maka pengeluaran agregat akan dibagi menjadi

empat komponen 1) Konsumsi, 2) Investasi, 3) Pembelian Pemerintah, 4)

Ekspor Netto. Dalam pendekatan pengeluaran agregat negara sama dengan

penjumlahan Konsumsi (C), Investasi (I), Pembelian Pemerintah (G) dan

Ekspor Netto yakni nilai Ekspor (X) dikurangi dengan nilai Impor (M),

atau secara matematis dirumuskan:

GDP = C+I+G+(X-M)

2. Pendekatan pendapatan, menjumlahkan seluruh pendapatan agregat yang

diterima selama satu tahun oleh mereka yang memproduksi output

tersebut. Pendapatan agregat sama dengan penjumlahan semua pendapatan

yang diterima pemilik sumber daya alam perekonomian. Sistem

pembukuan double-entry dapat memastikan bahwa nilai output agregat sama dengan pendapatan agregat yang dibayarkan untuk sumber daya

yang digunakan dalam produksi output tersebut yakni upah, bunga, sewa, dan laba dari produk.

Menurut Lipsey (1995) Gross Domestic Product (GDP) atau disebut juga dengan Product Domestik Bruto (PDB) adalah pendapatan nasional yang diukur dari sisi pengeluaran yaitu jumlah pengeluaran konsumsi, investasi, pengeluaran

pemerintah, ekspor dan impor. GDP dikategorikan menjadi dua, yaitu nominal dan

riil. Dikatakan GDP nominal apabila GDP total yang dinilai pada harga-harga

sekarang. Sedangkan GDP yang dinilai pada harga GDP dasarnya disebut GDP

(33)

Nicholson (2005) menyatakan ketika pendapatan total seorang meningkat

dengan asumsi harga-harga tidak berubah, kita mugkin mengharapkan kuantitas

yang dibeli untuk setiap barang juga akan meningkat. Terdapat korelasi positif

antara PDB dengan permintaan produk impor. Peningkatan PDB akan

meningkatkan permintaan terhadap produk impor, demikian sebaliknya.

2.1.7.3 Harga Internasional (PC)

Harga internasional, semakin besar selisih antara harga di pasar

internasional dengan harga domestik akan menyebabkan jumlah komoditi

yang akan diekspor menjadi bertambah banyak (Soekartawi, 1991).

Harga merupakan nilai yang harus dibayar oleh pembeli atas transaksi

terhadap suatu barang. Harga dapat ditentukan dari banyaknya jumlah permintaan

dan penawaran terhadap suatu barang yang dimiliki oleh suatu negara. Kenaikan

harga dapat disebabkan adanya kelebihan permintaan terhadap suatu barang,

untuk itu harga merupakan faktor penting dalam menentukan keseimbangan

tingkat penawaran dan permintaan. Dalam ilmu ekonomi dikenal dengan adanya

harga relatif dan harga mutlak. Masalah harga relatif merupakan masalah nilai

tukar barang-barang khususnya nilai tukar objektif. Nilai tukar objektif suatu

barang merupakan perbandingan terhadap apa barang tersebut akan ditukar

dengan barang lainya. Harga relatif suatu barang merupakan nilai tukar barang

tersebut dinyatakan dengan uang sedangkan harga mutlak merupakan harga di

mana semua barang sama-sama meningkat atau turun (Winardi, 1990).

Apabila suatu negara melakukan perdagangan dengan negara lain maka

(34)

barang yang diperdagangkan karena harga menjadi penentu kuantiti barang yang

diperdagangkan. Sebab harga dapat mempengaruhi pembentukan pendapatan,

kesejahteraan, pendapatan ekspor, fluktuasi pendapatan dan fluktuasi produk

pertanian (Anindita, 2008)

Harga yang turun dapat disebabkan karena terdapat kelebihan penawaran

dibandingkan dengan permintaan. Maka produsen akan mengurangi produksi

akibatnya dapat berupa kenaikan harga (Winardi, 1985). Dipandang dari sudut

pembeli kenaikan harga biasanya berguna untuk mengurangi konsumsi sedangkan

turunnya harga mendorong memperbesar konsumsi. Karena itu harga merupakan

faktor yang mengusahakan agar permintaan dan penawaran seimbang.

Harga suatu barang adalah nilai tukar barang tersebut yang dinyatakan

dalam uang. Dalam masyarakat modern nilai barang diukur atau dinyatakan dalam

uang. Harga menunjukkan berapa yang harus dibayar untuk memperoleh suatu

barang atau jasa atau berupa uang yang diperoleh jika menjual suatu barang atau

jasa (Gilarso, 1993).

2.2 Penelitian Sebelumnya

Dalam penulisan dan penelitian ini terdapat beberapa penelitian yang telah

lebih dahulu diterbitkan dan dipublikasikan dengan tema yang sama tentang

ekspor suatu komoditi yang dihasilkan oleh suatu negara kemudian

diperdagangkan ke negara lain yang dianggap berguna bagi penulis dalam

penyusunan penulisan serta penelitian ini. Beberapa penelitian tersebut adalah:

1. Penelitian yang dilakukan oleh Lidya Anggarini dalam skripsinya (2012)

(35)

ini menggunakan metode deskriptif dan kuantitatif. Deskriptif adalah

analisis data yang dilakukan dengan cara merumuskan dan mengumpulkan

data, mengklasifikasikan serta menginterprestasikan sehingga memberikan

keterangan gambaran yang ada. Kuantitatif analisis yang digunakan untuk

melihat secara empiris sejauh mana pengaruh variabel bebas (X) terhadap

variabel terikat (Y).

Dari hasil analisis yang dilakukan dapat diambil kesimpulan bahwa variabel kurs,

GDP Indonesia dan harga karet internasional memiliki pengaruh yang signifikan

terhadap nilai ekspor karet Indonesia ke Singapura. Kontribusi rata-rata ekspor

karet Indonesia ke Singapura terhadap ekspor karet Indonesia sebesar 0,2 persen.

2. Penelitian yang dilakukan oleh Tanti Triyani dalam skripsinya (2005)

“Analisis Permintaan Jepang terhadap Komoditas Udang Indonesia Tahun

1978-2003”. Penelitian ini menggunakan teori model Error Correction Model (ECM). Model ECM adalah kemampuannya dalam meliput lebih banyak variabel dalam menganalisis fenomena ekonomi jangka pendek

dan jangka panjang, dan mengkaji konsisten tidaknya model empirik

dengan teori ekonomi, serta dalam usaha mencari pemecahan terhadap

variabel runtut waktu yang tidak stasioner dan persoalan regresi langsung.

Dari hasil analisis yang telah dilakukan, hasil regresi berganda dengan

menggunakan ECM, Harga komoditas udang Indonesia (fob) dalam jangka

pendek mempunyai hubungan yang negatif dan signifikan terhadap permintaan

Jepang terhadap komoditi udang Indonesia. Hal ini bisa terjadi karena naiknya

harga komoditas udang Indonesia (fob) dalam jangka pendek akan menyebabkan

(36)

variabel cadangan devisa dengan permintaan Jepang terhadap komoditas udang

Indonesia dalam jangka pendek mempunyai hubungan yang negatif dan

signifikan. Hal ini bisa dimengerti karena cadangan devisa yang dimiliki oleh

Jepang tidak hanya digunakan untuk membiayai impor saja, tetapi juga digunakan

untuk investasi di luar negeri.

3. Penelitian yang dilakukan oleh Ella Hapsari Hendratno (2008) dalam

skripsinya. “Analisis Permintaan Ekspor Karet Alam Indonesia di Negara

China”. Dalam penelitian menggunakan metode deskriptif dan model

kuantitatif. Metode deskriptif digunakan untuk mengidentifikasi

perkembangan pasar karet alam di China. Metode kuantitatif yang

digunakan ialah model regresi berganda. Analisis regresi berganda

digunakan untuk menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi

permintaan ekspor karet alam Indonesia di negara tujuan ekspor China.

Dari hasil analisis penelitian tersebut, bahwa permintaan ekspor karet alam

Indonesia di Negara China cenderung semakin meningkat sebesar 89,96 persen

selama periode 2000-2007. Sedangkan faktor-faktor yang mempengaruhi

permintaan ekspor karet alam Indonesia di Negara China adalah harga ekspor

karet alam Indonesia ke China tahun sebelumnya, harga karet sintetis dunia, GDP

per kapita China, nilai tukar yuan terhadap dollar US dan ekspor tahun

sebelumnya. Strategi pengembangan ekspor karet alam Indonesia dapat dilakukan

melalui upaya peningkatan produktivitas karet alam Indonesia dilakukan dengan

cara perluasan perkebunan dan peremajaan kembali tanaman karet serta

mengaplikasikan pola kemitraan antara petani perkebunan rakyat dan perkebunan

(37)

2.3 Kerangka Pemikiran

Faktor-faktor yang mempengaruhi permintaan komoditas tertentu

dipengaruhi oleh harga barang itu sendiri, pendapatan rata-rata konsumen, jumlah

populasi, harga barang lain yang ada kaitannya dengan penggunaan (Samuelson

dan Nordhus, 1997).

Indonesia merupakan negara produsen dan pengekspor karet terbesar ke

dua dunia setelah Thailand, sehingga produksi karet dapat memberikan kontribusi

bagi perekonomian Indonesia. Namun dalam pengembangannya, ekspor karet

Indonesia dihadapkan pada produksi yang berfluktuasi yang berdampak pada

berfluktuasinya jumlah ekspor karet Indonesia ke China. Permasalahannya lain

yang dihadapi yaitu diberlakukannya kebijakan dalam persyaratan kualitas mutu

karet yang akan diekspor.

Dalam melakukan kegiatan ekspor karet Indonesia ke China dipengaruhi

beberapa faktor. Faktor-faktor yang mempengaruhi penawaran ekspor karet

Indonesia ialah nilai tukar atau kurs yang merupakan perbandingan nilai atau

harga di antara dua negara yang melakukan jual beli. Selain kurs harga karet

Indonesia dan harga karet dunia juga mempengaruhi terhadap permintaan produk

karet Indonesia.

Kegiatan perdagangan luar negeri akan menghasilkan devisa, semakin

banyak devisa yang diperoleh maka akan berpengaruh terhadap PDB negara

tersebut yang akhirnya berdampak terhadap kesejahteraan masyarakat negara

(38)

Ekspor Secara skematis kerangka pemikiran tersebut dapat digambarkan sebagai berikut:

2.4 Hipotesis

Hipotesis adalah pendapat sementara dan pedoman serta arah dalam

(39)

selalu dirumuskan dalam bentuk pernyataan yang menghubungkan dua variabel

atau lebih (J. Supranto, 1997).

Dengan mengacu pada dasar pemikiran yang bersifat teoritis dan

berdasarkan studi empiris yang pernah dilakukan berkaitan dengan penelitian di

bidang ini, maka akan diajukan hipotesis sebagai berikut:

1. Diduga menguatnya kurs yuan akan berpengaruh positif terhadap nilai

ekspor karet Indonesia ke China tahun 2001-2012.

2. Diduga GDP China berpengaruh positif terhadap perkembangan nilai

ekspor karet Indonesia ke China tahun 2001-2012

3. Diduga harga karet internasional mempunyai pengaruh positif dengan nilai

(40)

BAB III

METODE PENELITIAN

3.1 Jenis dan Sumber Data

Jenis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data sekunder. Data

sekunder adalah data berkala yang dikumpulkan untuk menggambarkan tentang

perkembangan suatu negara dari waktu ke waktu yang diperoleh dari instansi

terkait yang ada hubungannya dengan penelitian. Data berkala yaitu data yang

dikumpulkan dari waktu ke waktu untuk memberikan gambaran tentang

perkembangan suatu kegiatan. Data sekunder yang digunakan adalah data yang

mencatat secara sistematis yang berbentuk data runtut waktu (time series data).

Dalam penelitian ini digunakan data tahun 2001-2012 yang diperoleh dari

berbagai sumber:

(41)

2. Data volume ekspor karet Indonesia dan nilai ekspor karet alam Indonesia diperoleh dari situs resmi Badan Pusat Statistik (BPS) www.bps.go.id,

Gabungan Pengusaha Karet Indonesia (GAPKINDO) www.gapkindo.org

dan Kementerian Pertanian Republik Indonesia www.deptan.go.id

3. Harga karet internasional diperoleh dari situs resmi Gabungan Pengusaha Karet Indonesia (GAPKINDO) www.gapkindo.org

4. GDP China diperoleh dari World Bank http://data.worldbank.org

5. Jurnal Ilmiah.

6. Serta referensi penelitian-penelitian terdahulu yang terkait dengan

penelitian ini.

3.2 Metode Analisis

3.2.1 Metode Analisis Deskriptif

Jenis analisis data yang dilakukan dengan cara merumuskan dan

mengumpulkan data, mengklasifikasikan serta menginteprestasikan sehingga

memberikan suatu keterangan variabel yang teliti. Masalah tersebut dianalisis

menggunakan teori.

3.2.2 Metode Analisis Kuantitatif

Jenis analisis yang digunakan untuk melihat secara empiris sejauh mana

pengaruh variabel bebas (X) terhadap variabel terikat (Y). Untuk menganalisis

pengaruh kurs, GDP China dan harga karet internasional terhadap nilai ekspor

karet Indonesia ke China dilakukan secara kuantitatif dengan bantuan program

Eview 8.1 dengan metode analisis regeresi linear berganda.

(42)

Dalam penulisan ini penulis menggunakan analisis regresi untuk mengolah

data yang tersedia. Analisis regresi pada dasarnya adalah studi mengenai

ketergantungan suatu variabel dependen terhadap suatu variabel independen untuk

memprediksi nilai rata-rata variabel terikat terhadap nilai variabel bebas yang

diketahui.

3.3.1 Analisis Deskriptif

Adalah analisis data yang digunakan untuk mengetahui dan menganalisis

perkembangan variabel yang digunakan dalam penelitian.

Untuk menjawab pertanyaan pertama besarnya perkembangan diketahui

dengan menggunakan rumus berikut:

G = XtXt−1 Xt−1

x100

Di mana:

G = Perkembangan variabel

Xt = Nilai tahun yang bersangkutan

Xt1 = Nilai tahun lalu

Untuk menganalisis kontribusi ekspor karet Indonesia ke China terhadap

nilai ekpor karet Indonesia dirumuskan:

X p=Xp Tx

x100

X p = Kontribusi nilai ekspor karet Indonesia ke China terhadap

(43)

ekspor karet Indonesia (%)

Xp = Nilai ekspor karet Indonesia ke China US $

Tx = Nilai ekspor karet Indonesia US $

3.3.2 Analisis Kuantitatif

Metode analisis kuantitatif ini digunakan untuk mengetahui besarnya

pengaruh kurs, GDP China dan harga karet internasional terhadap nilai ekspor

karet Indonesia ke China, alat analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah

persamaan regresi berganda dengan metode OLS (Ordinary Least Square) karena akan menghasilkan koefisien dugaan linier yang tidak bias (Best Linier Unbiased Estimator = BLUE).

Untuk menjawab pertanyaan kedua alat analisis yang digunakan adalah

regresi linear berganda:

Xind=F(ER ,GDP , Pc)

Di mana:

Xind = Nilai ekspor karet Indonesia ke China (US$)

ER = Nilai tukar dollar US$ terhadap yuan (US$/Yuan)

GDP = GDP China (US$)

Pc = Harga karet internasional (US$)

Model fungsi di atas dispesifikasi menggunakan pendekatan regresi linear

berganda menjadi:

Xindt0+β1ER1t+β2GDP2t+β3Pc3t+e

Di mana:

(44)

ER1t = Kurs mata uang dollar US$ terhadap yuan

(US$/Yuan)

GDP2t = GDP China (US$)

Pc3t = Harga karet internasional (US$)

β0 = Konstanta

β1 = Koefisien regresi kurs dollar US$ terhadap yuan

β2 = Koefisien regresi GDP China

β3 = Koefisien harga karet internasional

e = Variabel pengganggu (error term)

3.4 Uji Statistik

Selanjutnya untuk mengetahui keakuratan data maka perlu dilakukan

beberapa pengujian (Gujarati, 2003) :

3.4.1 Uji Statistik F

Uji F digunakan untuk menguji koefisien dugaan secara serentak atau

bersama-sama apakah variabel-variabel independen secara bersama-sama dapat

menjelaskan variasi dari variabel dependen. Stastistik uji yang digunakan dalam

uji-F:

Fhitung= e 2

/(k−1) (1−e2)/(n−k)

Di mana:

e2 = Koefisien determinasi

1−e2 = Jumlah kuadrat sisa

(45)

n = Jumlah sampel

Penilaian dilakukan dengan membandingkan nilai F hitung dengan F tabel

pada derajat kebebasan degree of freedom (df) dan tingkat keyakinan tertentu dengan ketentuan sebagai berikut:

1. H0 diterima jika fhitung>ftabelmaka Ha ditolak artinya seluruh

variabel independen merupakan penjelas terhadap variabel dependen.

2. H0 ditolak jika fhitung<ftabelmaka Ha diterima artinya seluruh

variabel independen bukan merupakan penjelas terhadap variabel

dependen.

Dengan hipotesis sebagai berikut:

H0:β1=β2=β3=0 artinya tidak terdapat pengaruh yang signifikan antara

variabel independen dengan variabel dependen.

H1:β1, β2, β3dan β40 artinya terdapat pengaruh yang signifikan antara

variabel independen dengan variabel dependen.

3.4.2 Uji Statistik t

Uji statistik-t digunakan untuk menguji koefisien dugaan dari

masing-masing variabel independen apakah secara terpisah berpengaruh nyata terhadap

variabel dependennya. Untuk menguji keberartian koefisien regresi digunakan

uji-t yang kemudian dibandingkan dengan uji-tabel. Suji-tauji-tisuji-tik uji yang digunakan dalam

(46)

thitung= βx Se(βx)

Di mana:

βx = Koefisien regresi

Se(βx) = Standar Error

Penilaian dapat dilakukan dengan membandingkan nilai t hitung dengan t tabel

pada derajat kebebasan atau degree of freedom (df) dan tingkat keyakinan tertentu, dengan ketentuan sebagai berikut:

1. Jika thitung<ttabel maka H0 diterima dan hipotesis alternatif ditolak

berarti variabel independen tidak berpengaruh signifikan terhadap variabel

dependen.

2. Jika thitung>ttabel maka H0 ditolak dan hipotesis alternatif diterima

berarti variabel independen berpengaruh signifikan terhadap variabel

dependen.

Dengan hipotesis sebagai berikut:

H0:βx=¿ 0 artinya tidak terdapat pengaruh yang signifikan variabel

independen dengan variabel dependen.

H1:β10 artinya terdapat pengaruh yang signifikan variabel independen

dengan variabel dependen.

3.4.3 Koefisien Determinasi (¿¿R2) ¿

Pengujian ini berguna untuk mengetahui seberapa besar proporsi

sumbangan seluruh variabel independen terhadap variasi naik turunnya variabel

(47)

R2

=β1

X1Yt+β2

X2Yt+β3

X3Yt

Yt 2

Di mana:

R2 = Koefisien determinasi

Yt = Ekspor karet Indonesia ke China

β1β2β3 = Koefisien regresi

X1 = Kurs dollar US$ terhadap yuan

X2 = GDP China

X3 = Harga karet internasional

Di mana persamaan R2 berkisar 0 0≤ R21 . Jika mendekati 0

berarti kurang kuat hubungan antara variabel terikat dengan variabel bebas. Jika

nilai mendekati 1 maka ini menunjukkan semakin besarnya hubungan antara

kedua variabel tersebut.

3.5 Uji Asumsi Klasik a. Multikolinearitas

Menurut Ghozali (2005), uji multikolinearitas adalah sebagai alat uji

multikolinearitas, bertujuan untuk menguji apakah model regresi ditemukan

adanya korelasi antarvariabel bebas (independen). Karena model regresi yang baik

seharusnya tidak terjadi korelasi di antara variabel independen. Uji

(48)

Cara mengetahui apakah dalam model tersebut ada multikolineritas atau

tidak adalah dengan cara menghitung nilai Varians Inflation Factor (VIF). Jika nilai VIF < 10, maka persamaan tersebut tidak ada masalah multikolinearitas.

VIF= 1

1−R2xi

Di mana:

VIF = Varians Inflation Factor

R2xi = Korelasi antara variabel xi dengan variabel x lain

Menurut Sumodiningrat (2001), uji kolinearitas digunakan untuk menguji

adanya korelasi antarvariabel independen pada regresi yang ditentukan. Jika

terjadi korelasi, maka dapat problem multikolinearitas. Model regresi yang baik

seharusnya tidak terjadi korelasi di antara variabel independen.

b. Heteroskedastisitas

Menurut Winarno (2009), uji ini digunakan untuk melihat varians residual

apakah konstan atau tidak. Apabila varians residual konstan maka asumsi

homoskedastisitas terpenuhi. Salah satu cara untuk melihat ada atau tidaknya

masalah heteroskedastisitas adalah dengan menggunakan Uji White. Uji White

menggunakan residual kuadrat sebagai variabel dependen yang diregresikan

terhadap variabel- variabel independennya.

Uji heteroskedastisitas hipotesinya adalah:

H0 = Homokedastisitas

H1 = Heteroskedastisitas

Jika di temukan heteroskedastisitas, maka estimator OLS tidak akan

Figur

Tabel 1.4 Perkembangan Ekspor Karet Indonesia Berdasarkan Negara
Tabel 1 4 Perkembangan Ekspor Karet Indonesia Berdasarkan Negara. View in document p.5
Gambar 1. Kurva Penawaran
Gambar 1 Kurva Penawaran. View in document p.22
Tabel 1.5 Perkembangan Ekspor Karet Indonesia ke China
Tabel 1 5 Perkembangan Ekspor Karet Indonesia ke China. View in document p.53
Tabel 1.6 Perkembangan Kurs Dollar AS terhadap Yuan
Tabel 1 6 Perkembangan Kurs Dollar AS terhadap Yuan. View in document p.56
Tabel 1.7 Perkembangan GDP China Tahun 2001-2012
Tabel 1 7 Perkembangan GDP China Tahun 2001 2012. View in document p.59
Tabel 1.8 Perkembangan Harga Karet Internasional 2001-2012
Tabel 1 8 Perkembangan Harga Karet Internasional 2001 2012. View in document p.61
Tabel 1.9 Kontribusi Nilai Ekspor Karet Indonesia ke China terhadap Nilai
Tabel 1 9 Kontribusi Nilai Ekspor Karet Indonesia ke China terhadap Nilai. View in document p.63
Tabel  1.10  Hasil  Estimasi  Pengaruh  Kurs,  GDP  China  dan  Harga  Karet
Tabel 1 10 Hasil Estimasi Pengaruh Kurs GDP China dan Harga Karet. View in document p.65

Referensi

Memperbarui...

Outline : DAFTAR PUSTAKA