Internalisasi Nilai Nilai Akuntabilitas

30 

Teks penuh

(1)

Internalisasi Nilai-Nilai Akuntabilitas-Nasionalisme-Etika

Publik-Komitmen Mutu-Anti Korupsi (ANEKA) Pada Aparatur Sipil Negara

(ASN) di Museum BPK

BPK Pengawal Harta Negara

Badan Pemeriksa Keuangan sebagai lembaga negara menunjukkan komitmen awal sebagai lembaga yang berwenang melakukan pemeriksaan keuangan, sesuai

amanah Pasal 23E UUD 1945 ayat (1) pasca amandemen yang berbunyi “Untuk

memeriksa pengelolaan dan tanggung jawab tentang keuangan negara diadakan

suatu Badan Pemeriksa Keuangan yang bebas dan mandiri”, frase “Badan Pemeriksa Keuangan” merupakan nomenklatur yang ditunjuk langsung sebagai suatu lembaga

pengawas keuangan yakni disingkat dengan BPK, artinya menutup kemungkian untuk diadakan terhadap nama atau sebutan lain dari BPK, mis Komisi Pengawas

Keuangan, Dewan Pengawas Keuangan dan lain-lain. Penunjukan nomenklatur secara langsung tampak dari penulisan sesuai EYD yakni awalah huruf besar dari tiap kata Badan (B), Pemeriksa (P), Keuangan (K), sekali lagi dinyatakan secara tegas bahwasanya Lembaga yang mengawasi keuangan negara adalah dan tidak lain ataupun tidak bukan yakni BPK.

Keberadaan BPK sendiri pada masa Penjajahan kolonialisme Belanda di tanah Hindia Belanda populer dengan sebutan Rakenkamer, Rakenkamer sebagai lembaga pengawas keuangan negara pada saat itu dikatakan bukanlah wajah lama dari BPK saat ini, perbedaan Rakenkamer dengan BPK saat ini yakni perbedaan mengenai kedudukan lembaga pengawas keuangan itu sendiri dalam sistem ketatanegaraan Republik Indonesia (RI), perbedaan keduanya yakni Rakenkamer merupakan kepanjangan tangan dari parlemen, sedangkan BPK saat ini merupakan BPK yang mandiri dan independen. Meskipun BPK saat ini bukanlah Rakenkamer masa Hindia Belanda yang hanya berganti baju, setidaknya keberadaan Rakenkamer menjadi cikal bakal semangat founding fathers perlu diadakannya suatu lembaga pengawas keuangan negara. Keberadaan lembaga ini muncul pada perdebatan sidang BPUPKI tanggal 11 Juli 1945, penitia kecil bagian ekonomi dan keuangan negara yang digawangi oleh Muh Hatta serta Muh. Yamin dan kawan-kawan, selain panitia hukum dasar dan bela negara, panitia ini berhasil merumuskan pasal 23 UUD 1945 mengenai

keuangan negara dengan menumbuhkan BPK sebagai lembaga pengawas keuangan negara saat itu, secara positif hal ini disambut sebagai berita bahagia, karena

(2)

kelembagaannya sendiri, hasil positif ini tentunya digapai tidak dengan cuma-Cuma, persoalan pasal 23 ini mulai muncul ketika penempatan Yamin dalam tim kecil

perumus Keuangan Negara yang jelas-jelas sangat kontroversial, artinya Yamin dipaksakan untuk berpikir dan merumuskan sesuatu pekerjaan besar demi tugas

negara yang adapun hal ini bukanlah kompetensi dari Yamin sendiri, walhasil pasal 23 ini mengandung kelemahan mendasar yang menganggap keuangan negara hanya sebatas pada ruang liingkup sempit yakni APBN saja, tidak termasuk APBD, Pajak dan lain-lain.

Kelemahan ini ditutupi dengan momentum pasca reformasi 1998 yakni perubahan (amadenem) konstitusi yang berlangsung empat (4) kali yakni 1999-2002. Reformasi diikuti denga tuntutan perubahan terhadap konstitusi, termasuk yang menjadi objek perubahan yakni pasal 23, pasal 23 pasca amademen memperbaiki kekurangannya mengenai ruang lingkup objek pemeriksaan keuangan negara yang dimaksud tidak hanya sebatas pada APBN, termasuk juga APBD, Pajak dan pungutan lainnya. Perubahan terjadi sebagai implikasi dari adanya sistem presidensilil yakni pengorganisasian lembaga negara yang semula subordinasi dari Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) dan bertanggung jawab kepada MPR, saat ini lembaga-lembaga berada pada posisi yang seimbang dengan sistem pemisahan kekuasaan dan salin mengimbangi (checks and balances system), keberadaan BPK menjadi lembaga yang bebas dan mandiri, mengartikan BPK dalam menjalankan

kewenangannya tidak bisa diintervensi oleh kekuasaan lembaga manapun, baik DPR maupun Presiden dan lembaga lainnya.

(3)

yang berasl dari rakyat oleh rakyat dan untuk rakyat dapat kembali kepada rakyat melalui kesejahteraan yang dinikmati oleh rakyat.

Pertanggungjwabannya dilakukan oleh BPK dengan melakukan audit, baik berupa audit kinerja, program maupun invertigatif. Audit kinerja merupakan audit rutin

tahunan, audit program merupakan audit tanpa rekomendasi, sedangkan audit innverstigatif merupakan audit dengan tujuan tertentu misal adanya indikasi kerugian negara (korupsi). Hasil audit daripada BPK diserahkan kepada DPR, DPD dan DPRD, hasil audit berupa laporan hasil pemeriksaan (LHP) harus dapat diakses dan diketahui masyarakat tanpa ada informasi yang disembunyikan (A-transparansi). LHP akan menjadi rekomendasi bagi wakil rakyat untuk menjadi bahan penilaian dan landasan pengambilan keputusan dalam fungsi pengawasan terhadap pemerintah, apakah akan diadakan tindak lanjut kepada penegak hukum untuk diproses secara hukum atau berhenti tanpa terindikasi perbuatan pidana apapun.

Lembaga BPK yang mengedepankan prinsip auntabilitas dalam menjalankan kewenangannya, sudah barang tentu perlu didukung oleh para Sumber Daya Manusia (SDM) yang mumpuni dan kompeten. Para SDM BPK, baik dimulai dari pimpinan hingga ke bawahan harus menujukkan sikap mulia dan penuh integritas dalam menjalankan tugas dan fungsinya. Rekrutmen terhadap para pimpinan BPK harus memenuhi kualifikasi tertentu terutama harus memiliki rasa setia dan cinta kepada tanah air (N-sila 3; E-Setia dan Mempertahankan UUD NKRI 1945) bahwa apa yang

menjadi amanah harus dilaksanakan dan dipertanggungjawabkan kepada publik demi kesejahteraan masyarakat (N-sila 5) itu sendiri. Sebagai pejabat negara para

(4)

Dalam pelaksanaan fungsi dan kewenangannya, BPK yang diisi oleh tenaga-tenaga SDM yang handal dan profesional dan ahli dari berbagai bidang disiplin ilmu,

baik hukum, akuntansi dan lainnya tentunya segala pelaksanaan tugas dilandasi dengan kajian-kajian ilmiah yang dapat dipertanggungjawabkan validitasnya,

temuan-temuan baik berupa kegiatan audit maupun lainnya menggunakan standar akuntansi berbasis akrual (K-menggunakan pendekatan ilmiah dan inovatif dalam pemecahan masalah dan pengambilan keputusan). Kerjasama sinergis antar lembaga demi mendukung fungsi penegakan hukum dalam pemberatasan korupsi bersama Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Kejaksaan dan Kepolisian perlu dibangun dan ditingkatkan demi mewujudkan misi Indonesia yang bersih dan bebas dari korupsi.

Kerjasama BPK dan khususnya KPK, sebagai ujung tombak terhadap pemberantasan korupsi yang tanpa pandang bulu siapun pelaku delik korupsi perlu bermodalkan tekad dan keberanian yang teguh dan tidak mudah terayu oleh godaan suap ( AK-Jujur-Sederhana) dari pihak manapun yang berperkara (AK-Berani), keberanian dari para punggawa ini tak akan perna terwujud tanpa dukungan dan kerja keras masyarakat di sekitar yang selalu memantau kinerja mereka dalam mengawal harta negara. Ujian nyali bagi mereka didapatkan baik melalui teror, intimidasi, ancaman langsung maupun tidak langsung, misal kinerja apik dari mereka dapat kit apresiasi melalui

terbongkarnya skandal kasus “mega” korupsi dana BOS, TKI dan Haji. Keberanian ini

perlu didukung oleh sistem penegakan hukum melalui lembaga peradilan yang mampu menghasilkan putusan-putusan yang berkualitas demi menimbulkan efek jera

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...