PEMBERDAYAAN KADER BINA KELUARGA BALITA DALAM
“TODDLER DEVELOPMENT SCREENING” BERBASIS ANDROID
DI DESA TEGAL LINGGAH, KECAMATAN SUKASADA
Ni Wayan Dewi Tarini1, Ni Ketut Erawati2, Ni Nyoman Ayu Dwi Astini3
Program Studi Diploma 3 Kebidanan Fakultas Olahraga dan Kesehatan Universitas Pendidikan Ganesha123
[email protected], [email protected]2, [email protected]3
ABSTRACT
A BKB cadre is someone who is tasked with carrying out activities specifically managing the development of fostering children through correct parenting based on age groups. In Tegal Linggah Village, Sukasada District, Buleleng, of the six Posyandu spread across five hamlets in Tegal Linggah Village, only one BKB (Bina Keluarga Balita) cadre group is still in charge of monitoring the development of babies and toddlers using KPSP manual media (The Developmental Pre Screening Questionnaire) is less practical. The rapid development of technology where the manual screening function can be replaced by using an Android-based application, has become a design for empowering BKB cadres in Tegal Linggah Village, so that it will greatly help facilitate the main tasks of cadres in monitoring the growth and development of children under five on an ongoing basis and providing an updated database in the field toddler health in Tegal Linggah Village. Community service activities are packaged in the form of training and mentoring for BKB cadres in using the KPSP mobile application in monitoring growth and development of infants and toddlers. After mentoring, all BKB cadres can use this application properly and can interpret the results of monitoring the growth and development of infants and toddlers in Tegal Linggah Village.
Keywords: BKB cadres, growth and development, android based KPSP application
ABSTRAK
Kader BKB adalah seseorang yang bertugas melakukan kegiatan yang khusus mengelola tentang pembinaan tumbuh kembang anak melalui pola asuh yang benar berdasarkan kelompok umur. Di Desa Tegal Linggah, Kecamatan Sukasada, Buleleng, dari enam Posyandu yang tersebar di lima dusun di Desa Tegal Linggah, baru terdapat satu kelompok kader BKB (Bina Keluarga Balita) dimana dalam melaksanakan tugasnya memantau tumbuh kembang bayi dan balita masih menggunakan media manual KPSP (Kuesioner Pra Skrining Perkembangan) yang kurang praktis. Perkembangan teknologi yang pesat dimana fungsi skrining secara manual dapat digantikan dengan menggunakan aplikasi berbasis android, menjadi rancangan pemberdayaan kader BKB di Desa Tegal Linggah, sehingga akan sangat membantu memudahkan tugas pokok kader dalam memantau tumbuh kembang anak balita secara berkesinambungan serta menyediakan database yang update di bidang kesehatan balita di Desa Tegal Linggah. Kegiatan pengabdian dikemas dalam bentuk pelatihan dan pendampingan pada kader BKB dalam menggunakan aplikasi KPSP mobile dalam melakukan pemantauan tumbuh kembang pada bayi dan balita. Setelah dilakukan pendampingan, seluruh kader BKB dapat menggunakan aplikasi ini dengan baik dan dapat melakukan interpretasi terhadap hasil pemantauan tumbuh kembang bayi dan balita di Desa Tegal Linggah.
Kata Kunci: Kader BKB, tumbuh kembang, aplikasi KPSP berbasis android
PENDAHULUAN
Desa Tegal Linggah adalah salah satu desa di wilayah Kecamatan Sukasada
Kabupaten Buleleng, dimana mayoritas penduduk desa beragama Hindu dan Islam dengan perbandingan 55:45. Desa Tegal
Linggah memiliki lima dusun yaitu Dusun Munduk Kunci, Dusun Bukit Sari, Dusun Batu Candi, Dusun Tegal Linggah dan Dusun Gunung Sari. Tegal linggah berarti suatu tanah kering atau ladang kering yang sangat luas, bermula dari pendatang Bugis dan Palembang yang datang dan kemudian menetap di wilayah tersebut berbaur dengan penduduk asli. Di Desa Tegal Linggah Mata pencaharian utama masyarakat adalah petani, sebagian berdagang, berternak dan buruh tukang. Desa Tegal Linggah dipimpin oleh seorang Perbekel (Kepala Desa), dimana atas konsensus tokoh masyarakat di Desa Tegal Linggah sejak tahun 1966 dua tokoh desa yaitu Kepala Desa dan Sekretaris Desa dijabat oleh perwakilan tokoh masyarakat sesuai dua agama mayoritas yang ada. Desa Tegal Linggah memiliki luas wilayah 9,36 km2 dengan total jumlah penduduk 7.465
jiwa (laki-laki 3.741 jiwa dan perempuan 3.724 jiwa) dan 2.063 KK (kepala keluarga).
Sebagai salah satu desa berkembang, berbagai permasalahan di semua sektor juga dialami oleh Desa Tegal Linggah, salah satu permasalahan yang dialami sampai saat ini adalah di bidang kesehatan terkait dengan fungsi Posyandu (Pos Pelayanan Terpadu) Balita sebagai ujung tombak terdepan pelayanan di bidang kesehatan yang ada di desa. Di Desa Tegal Linggah, Kecamatan Sukasada, Buleleng, berdasarkan informasi dari Kepala Desa Tegal Linggah, dari enam Posyandu yang tersebar di lima dusun di Desa Tegal Linggah, baru terdapat satu kelompok kader BKB (Bina Keluarga Balita). Kader BKB adalah seseorang yang bertugas melakukan kegiatan yang khusus mengelola tentang pembinaan tumbuh kembang anak melalui pola asuh yang benar berdasarkan kelompok umur (BKKBN, 1997). BKB adalah suatu upaya peningkatan pengetahuan, keterampilan dan kesadaran ibu serta anggota keluarga lain dalam membina tumbuh kembang balitanya melalui rangsangan fisik, motorik, kecerdasan, sosial, emosional serta moral yang berlangsung dalam proses interaksi antara ibu/anggota keluarga lainnya dengan anak balita (BKKBN, 1998).
Mengingat pentingnya peran kader BKB dalam pemantauan tumbuh kembang anak balita, maka diharapkan seluruh dusun memiliki kader BKB yang melaksanakan tugas dan fungsinya bersamaan dengan kegiatan Posyandu di setiap dusun. Kepala Desa Tegal Linggah berkomitmen untuk membentuk lima kelompok BKB lagi guna melakukan fungsi pemantauan tumbuh kembang anak balita di Desa Tegal Linggah. Saat ini Kepala Desa Tegal Linggah melalui Petugas Lapangan Keluarga Berencana (PLKB) Desa Tegal Linggah, sudah merekrut calon kader BKB sebanyak lima orang untuk masing-masing posyandu, sehingga total calon kader BKB yang direkrut sebanyak 25 orang. Kepala Desa Tegal Linggah berkeinginan untuk melakukan pelatihan calon kader BKB sehingga siap untuk diterjunkan melaksanakan tugas dan fungsinya di Desa Tegal Linggah.
Pemantauan tumbuh kembang anak balita yang menjadi tugas pokok kader BKB selama ini dilaksanakan dengan menggunakan kuesioner manual, dimana kuesioner yang dipergunakan adalah manual KPSP (Kuesioner Pra Skrining Perkembangan) sesuai kelompok umur anak balita. Perkembangan teknologi yang pesat dimana fungsi skrining secara manual dapat digantikan dengan menggunakan aplikasi berbasis android, menjadi rancangan pemberdayaan kader BKB di Desa Tegal Linggah, sehingga akan sangat membantu memudahkan tugas pokok kader dalam memantau tumbuh kembang anak balita secara berkesinambungan serta menyediakan database yang update di bidang kesehatan balita di Desa Tegal Linggah.
Seyogyanya terdapat enam kelompok BKB di Desa Tegal Linggah dengan anggota minimal lima orang dalam satu kelompok BKB, namun hanya ada satu kelompok BKB yang sudah terbentuk. Satu kelompok BKB yang sudah ada, belum dapat melakukan tugas dan fungsinya secara optimal, mengingat belum pernah dilakukan pelatihan kader secara terpadu. Sehingga kader BKB yang sudah ada hanya melakukan tugas penimbangan saja saat kegiatan posyandu berlangsung, sehingga oleh
Bidan Desa Tegal Linggah dianggap belum efektif. Adanya komitmen dari Kepala Desa Tegal Linggah untuk membentuk lima kelompok BKB lagi, sudah diwujudkan dengan mempersiapkan calon kader BKB. Calon kader BKB yang direkrut perlu dilakukan pelatihan dan pendampingan sehingga mampu melaksanakan tugas dan fungsinya dalam melakukan pemantauan terhadap tumbuh kembang anak balita di Desa Tegal Linggah.
Melihat dari kondisi geografis Desa Tegal Linggah yang berbukit dan sebagian besar penduduk bermata pencaharian sebagai buruh tani (perkebunan), antusiasme kepala desa serta aparat terkait, maka besar peluang bagi kelompok sasaran calon kader BKB di Desa Tegal Linggah untuk dibina dan dilakukan pendampingan secara berkala melalui kegiatan pengabdian kepada masyarakat. Selain itu juga dilihat dari jumlah anak balita yang ada di Desa Tegal Linggah yang cukup banyak, menjadi alas an untuk dibentuknya kelompok kader BKB di semua dusun yang ada di Desa Tegal Linggah. Idealnya di setiap posyandu terdapat minimal lima orang kader BKB.
Anak balita yang ada di Desa Tegal Linggah Kecamatan Sukasada jumlahnya cukup banyak yaitu sebanyak 449 orang anak dari 7.465 jiwa yang ada (6%). Jumlah tersebut tersebar di enam posyandu yang ada di Desa Tegal Linggah. Anak pada usia ini membutuhkan pemantauan tumbuh kembang secara teratur untuk mencegah terjadinya penyimpangan pada fase ini. Besarnya jumlah anak balita di Desa Tegal Linggah, akan meningkatkan resiko penyimpangan tumbuh kembang yang dapat terjadi apabila tidak dilakukan pemantauan secara berkelanjutan.
Pemantauan tumbuh kembang adalah kegiatan rutin yang wajib dilakukan pada setiap anak balita, mengingat pesatnya pertumbuhan dan perkembangan pada usia ini (Depkes RI, 2015). Tugas pemantauan tumbuh kembang di desa dilaksanakan oleh kader BKB melalui kegiatan posyandu. Idealnya di setiap posyandu terdapat lima orang kader BKB. Di Desa Tegal Linggah jumlah kader BKB belum memenuhi
syarat jumlah petugas yang ada di posyandu, dan kader BKB yang ada saat ini (lima orang) belum pernah dilakukan pelatihan tentang pemantauan tumbuh kembang pada anak balita.
Perkembangan teknologi yang pesat menyebabkan pemantauan tumbuh kembang secara manual skrining mulai ditinggalkan karena dianggap kurang praktis. Selama ini pemantauan tumbuh kembang anak balita yang dilakukan oleh kader BKB di Desa Tegal Linggah masih menggunakan manual skrining, kader BKB belum terpapar penggunaan skrining tumbuh kembang berbasis android. Skrining tumbuh kembang berbasis android ini lebih mudah dan praktis dipergunakan, namun perlu dilatihkan kepada kader BKB sehingga kader dapat mempergunakan metode skrining berbasis android ini dengan baik.
Adapun identifikasi permasalahan yang ditemukan di Desa Tegal Linggah adalah:
1) Besarnya jumlah balita di Desa Tegal Linggah akan meningkatkan resiko kejadian penyimpangan tumbuh kembang. 2) Jumlah kader BKB yang ada di Desa Tegal
Linggah belum memenuhi syarat jumlah petugas di posyandu dan kader yang ada saat ini belum mendapatkan pelatihan tentang tugas pokok kader BKB di posyandu.
3) Kader BKB di Desa Tegal Linggah masih menggunakan manual skrining dalam memantau tumbuh kembang anak balita dan belum pernah terpapar penggunaan skrining pemantauan tumbuh kembang berbasis android.
Solusi dari permasalahan yang ada di Desa Tegal Linggah adalah dengan melakukan pemberdayaan kader BKB dalam melakukan skrining perkembangan balita berbasis android, sehingga pemantauan tumbuh kembang pada anak balita di Desa Tegal Linggah dapat dilakukan secara berkala dan dapat meminimalkan terjadinya penyimpangan perkembangan pada fase balita serta dapat menyediakan database yang update di bidang kesehatan balita di Desa Tegal Linggah.
Tujuan dari kegiatan pengabdian kepada masyarakat dalam bentuk pemberdayaan kader Bina Keluarga Balita
(BKB) dalam skrining perkembangan balita di Desa Tegal Linggah, Kecamatan Sukasada, antara lain:
1) Penyadaran calon kader BKB tentang pemantauan tumbuh kembang balita melalui penyuluhan.
2) Kader BKB di Desa Tegal Linggah terlatih sebagai kader BKB dalam melakukan pemantauan tumbuh kembang balita berbasis android.
3) Terdapat modul belajar bagi kader BKB di Desa Tegal Linggah.
4) Terbentuk kelompok BKB di enam posyandu di Desa Tegal Linggah
5) Terdapat program pendampingan bagi kader BKB secara berkala.
6) Terdapat evaluasi tindak lanjut terhadap hasil pemantauan tumbuh kembang oleh kader BKB kepada orangtua dan petugas kesehatan di Desa Tegal Linggah.
Manfaat dari program pengabdian masyarakat ini adalah dapat membentuk kader Bina Keluarga Balita (BKB) yang terlatih
dalam melakukan tugas dan fungsinya dalam pemantauan tumbuh kembang anak balita berbasis android di Desa Tegal Linggah, Kader BKB yang sudah terlatih selanjutnya dapat melakukan pendampingan secara berkala dalam menindaklanjuti hasil pemantauan tumbuh kembang kepada orangtua dan petugas kesehatan di Desa Tegal Linggah secara mandiri.
Adapun yang menjadi khalayak sasaran program pengabdian masyarakat ini adalah kader Bina Keluarga Balita (BKB) Desa Tegal Linggah yang telah diekrut oleh Kepala Desa Tegal Linggah sejumlah 25 orang, ditambah lima orang kader BKB yang sudah ada sebelumnya, sehingga total sasaran adalah sebanyak 30 orang. Kader BKB akan diberdayakan dalam memantau tumbuh kembang anak balita di Desa Tegal Linggah dengan menggunakan skrining berbasis android, dengan harapan mampu menyediakan kebaharuan data kesehatan balita dalam mendukung program Desa Tegal Linggah yang sehat.
Kerangka pemecahan masalah digambarkan sebagai berikut:
Gambar 1. Kerangka Pemecahan Masalah METODE
Metode yang digunakan dalam program pengabdian masyarakat ini adalah
menggunakan metode pendekatan PALS (Participatory Action Learning System) dengan tahapan: 1) Penyadaran. Iptek (skrining berbasis android) Kader BKB Toddler development screening KK dengan anak balita Update database desa Desa Tegal Linggah sehat Potensi dukungan desa
Pada tahap ini dilakukan penyuluhan kepada kader BKB mengenai tugas pokok BKB dalam melakukan pemantauan tumbuh kembang anak balita melalui kegiatan posyandu.
2) Peningkatan kapasitas (1) Ceramah
Pada tahap ini dilakukan pelatihan pada kader BKB selama tiga bulan dengan memberikan materi mengenai tumbuh kembang dan cara pemantauan tumbuh kembang anak balita baik secara manual maupun pemantauan tumbuh kembang berbasis android.
(2) Praktek
Pada tahap ini dilakukan praktek langsung pemantauan tumbuh kembang anak balita dengan menggunakan metode manual serta pemantauan tumbuh kembang berbasis android secara langsung kepada anak balita melalui kegiatan posyandu. 3) Pelembagaan
Pada tahap ini dilakukan pendampingan kepada Kepala Desa dan petugas kesehatan Desa Tegal Linggah dalam membentuk organisasi kader BKB di setiap Posyandu di Desa Tegal Linggah.
4) Pendampingan.
Pada tahap ini dilakukan pendampingan secara berkala terhadap kader BKB dalam melakukan evaluasi tindak lanjut terhadap hasil pemantauan tumbuh kembang anak balita.
Keberhasilan kegiatan pengabdian ini dievaluasi pada akhir kegiatan dengan indikator keberhasilan:
1) 95% calon kader BKB di Desa Tegal Linggah mengikuti pelatihan secara penuh dan mengalami peningkatan pengetahuan dan keterampilan kader dalam memantau tumbuh kembang anak balita melalui manual skrining dan skrining berbasis android.
2) Terbentuk organisasi kader BKB di setiap posyandu di Dsa Tegal Linggah.
3) Modul belajar bagi kader BKB tersedia. 4) Pendampingan dilakukan secara berkala
kepada kader BKB dan seluurh kader dapat melakukan evaluasi tindak lanjut terhadap hasil pemantauan tumbuh kembang anak balita sesuai kelompok umur.
Program pengabdian pada masyarakat ini berkaitan erat dengan Program Studi D3 Kebidanan Fakultas Olahraga dan Kesehatan Undiksha. Fakultas Olahraga dan Kesehatan yang merupakan bagian dari Undiksha memiliki tanggung jawab untuk mendukung pembinaan kader kesehatan di Kabupaten Buleleng, termasuk pembinaan kegiatan kader Bina Keluarga Balita (BKB) dalam pemantauan tumbuh kembang anak balita.
Prodi D3 Kebidanan Fakultas Olahraga dan Kesehatan Undiksha memiliki tenaga kesehatan (perawat dan bidan) yang dapat melakukan pembinaan pada pelaksanaan pelatihan dan pendampingan calon kader BKB di Desa Tegal Linggah, sehingga kader BKB yang sudah terlatih dapat melakukan tugas dan fungsinya dengan baik dalam pemantauan tumbuh kembang anak balita, sehingga setiap penyimpangan yang terjadi pada tumbuh kembang anak balita di Desa Tegal Linggah dapat dilakukan stimulasi yang sesuai. Hasil dari program pengabdian masyarakat ini dirasakan manfaatnya secara langsung oleh kader BKB di Desa Tegal Linggah dan berdampak pada status tumbuh kembang balita Desa Tegal Linggah secara umum.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Hasil
Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini dilaksanakan di Desa Tegal Linggah, Kecamatan Sukasada. Sesuai dengan rencana, seyogyanya kegiatan PKM ini dilaksanakan mulai awal bulan Maret-Mei 2020. Namun karena terjadinya pandemic Covid-19 di seluruh wilayah Bali dan khususnya Kabupaten Buleleng, maka kegiatan PKM ini terundur menjadi bulan Juli dan Agustus 2020. Kegiatan PKM diawali dengan memberikan pelatihan mengenai Toddler Development Screening
berbasis android pada kader Bina Keluarga Balita (BKB) yang ada di Desa Tegal Linggah. Kegiatan pelatihan dilaksanakan sebanyak dua kali mengingat adanya himbauan dari pemerintah untuk meminimalkan kegiatan berkerumun untuk mencegah penularan Covid-19.
Kegiatan pemberian pelatihan dilaksanakan pada tanggal 22 Juli 2020 dan tanggal 13 Agustus 2020, dihadiri oleh seluruh Kader BKB sebanyak 20 orang meliputi pengulangan materi tentang deteksi dini tumbuh kembang pada balita dan cara melakukan deteksi dini tumbuh kembang pada balita dengan menggunakan aplikasi KPSP berbasis android. Kegiatan pelatihan ini disaksikan oleh aparat desa dan didampingi oleh Bidan Desa Tegal Linggah. Setiap akhir kegiatan dilaksanakan evaluasi dengan menggunakan kasus fiktif.
Dari dua kali pelatihan dan pendampingan pemberian materi mengenai deteksi dini tumbuh kembang pada balita berbasis android, terlihat adanya perubahan keterampilan pada kader BKB dalam menggunakan android sebagai alat bantu melakukan deteksi dini tumbuh kembang pada anak balita. Dari yang awalnya seluruhnya tidak dapat melakukan deteksi dini tumbuh kembang dengan menggunakan android, hingga akhirnya seluruhnya dapat melakukan dengan terampil, dan seluruh kader BKB dapat melakukan interpretasi terhadap hasil deteksi tumbuh kembang yang sudah dilakukan (100%).
Pembentukan organisasi kader BKB di setiap dusun di Desa Tegal Linggah yang seyogyanya menjadi rancangan pada kegiatan pengabdian ini belum dapat dilakukan, mengingat kondisi pandemic Covid-19, dilakukan penundaan untuk pembentukan organisasi kader BKB sampai waktu yang memungkinkan untuk melakukan pertemuan kembali.
Pembahasan
Kader BKB adalah anggota masyarakat yang bekerja secara sukarela dalam membina dan memberikan penyuluhan kepada orangtua,
tentang bagaimana cara merawat anak dengan baik. Dalam pelaksanaan kegiatan penyuluhan BKB, kader menjadi orang yang bertanggung jawab memberikan penyuluhan. Syarat sebagai kader BKB adalah: 1) Laki-laki/perempuan, tinggal di lokasi kegiatan, punya minat terhadap anak; 2) Bisa baca tulis; 3) Sukarela, 4) Dilatih; 5) Mampu berkomunikasi. Idealnya di setiap posyandu terdapat lima orang kader BKB yang bertugas di posyandu tersebut untuk memantau tumbuh kembang anak balita (BKKBN, 1997).
BKB bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan, keterampilan dan sikap orangtua serta anggota keluarga lainnya dalam membina tumbuh kembang anak secara menyeluruh terpadu guna mencapai tumbuh kembang yang optimal. Manfaat BKB bagi anak adalah: 1) Akan terbentuk karakter anak yang bertaqwa kepaa Tuhan; 2) Anak akan memiliki kepribadian yang baik; 3) Tumbuh kembang anak akan terpantau secara optimal; dan 4) Anak memiliki kecerdasan, terampil dan sehat. Sementara bagi orangtua, manfaat BKB adalah melalui BKB diharapkan orangtua balita dapat mengetahui tahapan pertumbuhan dan perkembangan anak dan cara merangsang atau menstimulus anak (BKKBN, 1998).
Pertumbuhan adalah bertambahnya ukuran fisik (anatomi) dan struktur tubuh dalam arti sebagian atau seluruhnya karena ada multiplikasi (bertambah banyak) sel-sel tubuh dan juga karena bertambah besarnya sel/adanya multiplikasi dan pertambahan ukuran sel berarti ada penambahan secara kuantitatif dan hal tersebut terjadi sejak konsepsi, yaitu bertemunya sel telur dan sperma hingga dewasa. Perkembangan adalah bertambahnya kemampuan dan struktur fungsi tubuh yang lebih kompleks dalam pola yang teratur, dapat diperkirakan dan diramalkan sebagai hasil dari proses deferensiasi sel, jaringan tubuh, organ-organ dan sistemnya yang terorgan-organisasi.
Ciri-ciri Tumbuh Kembang adalah: 1) Perkembangan menimbulkan perubahan; 2) Pertumbuhan dan perkembangan pada tahap awal menentukan perkembangan selanjutnya; 3) Pertumbuhan dan perkembangan mempunyai kecepatan yang berbeda; 4) Perkembangan
berkorelasi dengan pertumbuhan; 5) Perkembangan mempunyai pola yang tetap; dan 6) Perkembangan memiliki tahap yang berurutan.
Sektor Tugas Perkembangan adalah: 1) Personal sosial; 2) Gerakan motorik halus-adaptif; 3) Bahasa dan 4) Gerakan motorik kasar. Pemantauan tumbuh kembang dilakukan dengan mempergunakan manual KPSP (Kueseioner Pra Skrining Perkembangan) yang meliputi empat sektor perkembangan pada anak balita sesuai tahapan umur (Frakenburg dkk, 1981).
KPSP (Kuesioner Pra Skrining Perkembangan) adalah suatu daftar pertanyaan singkat yang ditujukan kepada ornagtua dan dipergunakan sebagai alat untuk melakukan skrining pendahuluan perkembangan anak usia 3 bulan-6 tahun, dimana setiap golongan umur terdiri dari 10 pertanyaan. Kuesioner ini direkomendasikan oleh Depkes RI untuk digunakan di tingkat pelayanan kesehatan primer sebagai salah satu upaya deteksi dini tumbuh kembang anak. KPSP merupakan kuesioner untuk skrining pendahuluan anak umur tiga bulan sampai enam tahun yang dilakukan oleh kader, tenaga medis maupun orangtua. Terdapat 10 pertanyaan pada setiap golongan umur yang hars diisi dengan jawaban ya atau tidak. Tujuan melakukan skrining KPSP adalah untuk mengetahui perkembangan anak normal atau ada penyimpangan. Melakukan skrining dengan metode KPSP membutuhkan alat bantu yaitu: Formulir KPSP menurut umur dan alat bantu pemeriksaan berupa pensil, kertas, bola sebesar bola tenis, kerincingan, kubus berukuran sisi 2,5 cm sebnayak 6 buah, kacang tanah, potongan biskuit kecil berukuran 0,5-1 cm (Depkes RI, 2015).
Saat ini dikembangkan KPSP berbasis android merupakan suatu aplikasi berbasis smartphone yang membantu orangtua untuk memantau perkembangan balita dan mendeteksi adanya kelainan sejak dini (Fauzan, M, 2017). Aplikasi ini berisi soal-soal tes perkembangan balita dari usia 3 bulan-72 bulan. Aplikasi ini dapat memberikan sebuah nilai perkembangan balita serta menunjukkan adanya penyimpangan
atau tidak. KPSP berbasis android ini juga dapat memberikan solusi stimulasi yang cocok untuk perkembangan balita selanjutnya (Apriningrum, N, 2018).
Kader BKB dalam pelaksanaan tugasnya melakukan deteksi dini tumbuh kembang pada balita akan dapat menyelesaikan tugasnya dengan lebih cepat dan akurat dengan menggunakan KPSP berbasis android karena lebih mudah dan praktis dipergunakan dibandingkan dengan cara manual. Konsep inilah yang dikembangkan di Desa Tegal Linggah Kecamatan Sukasada dan disambut dengan sangat antusias oleh kader BKB dan apparat Desa Tegal Linggah.
Dalam dua kali kegiatan pendampingan pelatihan deteksi tumbuh kembang pada bayi dan balita dengan menggunakan KPSP berbasis android pada kader BKB di Desa Tegal Linggah, menunjukkan adanya peningkatan keterampilan kader, dari yang awalnya tidak bisa menggunakan aplikasi KPSP berbasis android hingga akhirnya dapat menggunakan aplikasi ini secara mandiri dan kader BKB seluruhnya dapat melakukan interpretasi tindak lanjut evaluasi terhadap hasil pemantauan tumbuh kembang yang sudah dilakukan.
Kegiatan pendampingan pada kader BKB di Desa Tegal Linggah dirasakan manfaatnya sangat besar oleh seluruh kader yang hadir, bidan desa dan apparat desa, karena meningkatnya keterampilan kader BKB dalam melakukan pemantauan tumbuh kembang bayi dan balita dengan menggunakan KPSP berbasis android akan sangat membantu memudahkan pelaksanaan tugas dari kader BKB dalam kegiatan posyandu di Desa Tegal Linggah. SIMPULAN
Pelaksanaan pelatihan kader Binas Keluarga Balita dalam melakukan pemantauan tumbuh kembang pada balita dengan menggunakan KPSP berbasis android di Desa Tegal Linggah, Kecamatan Sukasada berjalan dengan baik dan seluruh kader BKB dapat melakukan pemantauan tumbuh kembang pada balita secara mandiri serta dapat melakukan
interpretasi terhadap hasil pemeriksaan yang sudah dilakukan (100%).
DAFTAR RUJUKAN
Apriningrum, N (2018). Rancang Bangun KPSP Berbasis Android Bagi Anak Balita Sampai Pra Sekolah di Kabupaten Karawang.
BKKBN (1997). Buku Pedoman Bina Keluarga Balita. Jakarta: BKKBN BKKBN (1998). Buku Pegangan Kader Bina
Keluarga Balita. Jakarta: BKKBN. Depkes RI. (2015) Pedoman Deteksi Dini
Tumbuh Kembang Balita. Jakarta: Kemenkes RI.
Fauzan, M (2017). Aplikasi Kuesioner Pra Skrening Perkembangan Balita Sehat Berbasis Android.
Frakenburg dkk. (1981). Denver II. Diterjemahkan Oleh Bagian Ilmu Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran Universitas Gajah Mada Yogyakarta.