PENERJEMAHAN KATA DAN KALIMAT PADA KOMIK NUSANTARANGER KE DALAM BAHASA JEPANG

Teks penuh

(1)

PENERJEMAHAN KATA DAN KALIMAT

PADA KOMIK NUSANTARANGER KE

DALAM BAHASA JEPANG

Kasih Elia

Jurusan Sastra Jepang Binus University, Jl. Kemanggisan Ilir III No. 45 Kemanggisan/Palmerah Jakarta Barat – 11480, Telp. 021 – 532-7630, kasihelialg@gmail.com

Kasih Elia, Prof. Dr. Sheddy Nagara Tjandra, MA.

ABSTRACT

This research deploys the problem that will eventually be found by a translator who wants to translate Indonesian text into Japanese Language. Methods applied were qualitative. Category which applied is around word, terms, and sentences analyzed by Newmark’s Translation Methods and Nida’s Functional Equivalent Theory. After problem has been found, it is concluded that functional equivalent and semantics methods is the most needed to find special word or terms in Japanese Language that has the same meaning with Indonesian text.

Keywords : translation, Nusantaranger, Indonesia, Japanese, Nida

ABSTRAK

Penelitian menjelaskan mengenai permasalahan yang akan muncul ketika akan menerjemahkan teks Indonesia ke dalam Bahasa Jepang. Metode yang digunakan Metode Kualitatif. Analisis dilakukan dengan mengaplikasikan Teori Penerjemahan Nida, yaitu Functional Equivalent dan Metode Penerjemahan Newmark pada kata, istilah dan kalimat. Disimpulkan bahwa Functional Equivalent dan Metode Penerjemahan Semantik adalah yang paling efektif untuk menerjemahkan kata atau istilah khusus Indonesia ke dalam Bahasa Jepang.

Kata kunci: penerjemahan, Nusantaranger, Indonesia, Jepang, Nida

PENDAHULUAN

Indonesia merupakan negara kepulauan yang memiliki beragam jenis kesenian seperti tarian adat, alat musik, lagu, pakaian daerah dan sebagainya, yang menampilan ciri khas dari masing-masing daerah di tanah air (Susanti, 2013). Banyak negara-negara di dunia

(2)

yang mengalami ketertarikan pada Indonesia oleh karena ragam budaya dan seni yang dimiliki.

Secara spesifik, Jepang juga, masuk ke Indonesia pertama kali melalui budaya Jepang yang sangat beragam. Mulai dari komik, yang kemudian dalam kontennya mengenalkan berbagai macam festival, makanan, dan pakaian adat orang Jepang. Diikuti oleh kesuksesan anime memberi gambaran visual yang lebih nyata kepada orang Indonesia, disertai dengan lagu-lagu Jepang yang mulai marak terdengar di Indonesia.

Komik dan anime Jepang yang masuk ke Indonesia tentunya telah mengalami proses penerjemahan dari bahasa Jepang ke Indonesia. Melalui komik dan anime Jepang yang telah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia itulah masyarakat Indonesia mulai tertarik pada sejarah, dan budaya Jepang.

Sebaliknya, penulis menemukan karya-karya sastra besar Indonesia yang telah diterjemahkan ke dalam bahasa Jepang. Contohnya adalah karya-karya dari Pramoedya Ananta Toer seperti Jejak Langkah (1985) yang diterjemahkan menjadi 足跡 dan Bumi Manusia (1980) yang diterjemahkan menjadi人間の大地. Ketertarikan masyarakat Jepang mungkin meningkat, tapi tidak sepesat peningkatan ketertarikan masyarakat Indonesia ketika mengenal budaya Jepang lewat komik dan anime.

Menerjemahkan teks pada dasarnya adalah penerjemahan budaya karena bahasa pada hakekatny adalah produk dari budaya tertentu. Budaya tidak saja menyangkut apa yang tampak pada permukaan (Sumardiono, 2007).

Bahasa merupakan ciri yang paling menonjol dari sebuah budaya yang bisa digambarkan sebagai sikap simplistik sebagai totalitas keyakinan dan tindakan suatu masyarakat tertentu (Nida, 2001). Bahasa tidak bisa dilihat sebagai fenomena yang terpisah pada sebuah ruang hampa tapi merupakan bagian integral dari sebuah kebudayaan (Sumardiono, 2007). Bahasa juga mengendalikan cara orang bersikap terhadap orang lain dalam masyarakat tuturnya yang merupakan cermin nilai-nilai relasi sosial dan kekuasaan dalam masyarakat tersebut. Budaya Jawa, misalnya, merupakan budaya yang sangat mengatur relasi sosial antar anggotanya yang berdasarkan pada status sosial (Sumardiono, 2007).

Menurut Nida dan Taber (1974:12):

“Translating consists in reproducing in the receptor language the closest natural equivalent of the source language message, first in terms of meaning and secondly in terms of style”.

Terjemahan:

“Penerjemahan adalah proses pengungkapan ulang bahasa sumber ke dalam bahasa sasaran dalam padanan yang diungkapkan sewajar mungkin, pertama dalam makna, dan kedua, dalam tatanan gaya bahasa.”

Maka itu, penerjemahan disebut sebagai upaya mengalihkan pesan yakni makna yang terkandung dari teks suatu bahasa (bahasa sumber/BSu) ke dalam teks bahasa yang lain (bahasa sasaran/BSa) yang dikemas dalam penyesuaian terhadap dari dan untuk siapa serta dengan tujuan apakah penerjemahan tersebut dibuat (Hoed, 2006). Teori ini didukung pula oleh ungkapan Torikai Kumiko, guru besar terjemahan di Universitas Rikkyo, Tokyo, yang mengatakan bahwa penerjemahan tertulis atau honyaku ( 翻 訳 ) adalah upaya menerjemahkan secara tertulis isi informasi dari teks tertulis satu bahasa ke dalam bahasa lainnya (Torikai, 1998:3).

(3)

Penulis menemukan fakta ini menarik dan karena penulis ingin budaya dan bahasa Indonesia lebih dikenal di Jepang, penulis memutuskan untuk menerjemahkan komik, dan bukan karya sastra dalam bentuk tulisan formal seperti essay atau novel, karena penulis percaya bahwa pendekatan melalui budaya pop Indonesia akan lebih mudah masuk ke masyarakat Jepang seperti halnya budaya pop Jepang yang mudah diterima oleh masyarakat Indonesia.

Pada dasarnya terdapat dua sistem yang berbeda dalam penerjemahan (Nida dan Taber, 1974). Sistem pertama terdiri dari aturan-aturan baku yang diterapkan dengan ketat yang bertujuan agar terdapat kesesuaian dari bahasa sumber dengan bahasa sasaran. Dengan demikian, sistem pertama dapat diformulasikan menjadi:

Di sini, (X) merupakan struktur menengah yang dapat digunakan secara universal untuk semua bahasa.

Sementara, sistem kedua memiliki tiga prosedur bertahap dalam menerjemahkan pesan yaitu analisis hubungan gramatikal serta makna kata dan kombinasi kata dalam pesan, peralihan hasil analisis tersebut dari bahasa sumber ke bahasa sasaran, dan kemudian restrukturisasi hasil analisis yang telah dialihkan ke bahasa sasaran menjadi pesan akhir yang dapat sepenuhnya dimengerti dalam bahasa sasaran. Sistem kedua ini dapat digambarkan menjadi:

Dalam hal ini penulis memilih komik sebagai sarana pengenalan terhadap Indonesia karena pada faktanya, Scott McCloud mengatakan bahwa komik adalah “Gambar dan lambang yang disandingkan dalam urutan tertentu, untuk memberikan informasi dan sebagai alat komunikasi, dalam mencapai tanggapan estetis dari para pembaca.”

Adapun, komik yang akan penulis gunakan dalam penelitian ini adalah komik Nusantaranger, komik yang tergolong baru di Indonesia. Diambil dari website resminya, nusantaranger.com, Nusantaranger adalah cerita tentang lima pemuda Indonesia yang diberi kekuatan khusus dari lima pulau besar di Indonesia untuk melawan Kelana, entitas jahat yang ingin menguasai Marcapada.

Penulis memutuskan mengambil komik ini karena, meskipun temanya begitu umum dengan menggunakan format pasukan super sejenis Power Ranger, tapi sentuhan-sentuhan budaya formal dan non-formal di Indonesia terdapat dalam komik tersebut. Di dalamnya juga terdapat interaksi sehari-hari orang Indonesia, dan ini akan menjadi pengenalan yang baik kepada masyarakat Jepang mengenai keseharian di Indonesia.

METODE PENELITIAN

Dalam prosesnya, penulis menemukan bahwa penelitian yang akan penulis lakukan termasuk dalam golongan metode penelitian kualitatif karena tidak memiliki nilai berupa angka dan pengukur dalam satuan pasti. Adapun penulis menemukan metode analisis yang dinilai sesuai dengan penelitian penulis adalah metode analisis data evaluasi deskriptif. Evaluasi dalam arti, penulis menjelaskan fenomena dan proses terjadinya suatu produk yang mana dalam hal ini adalah proses penerjemahan yang dilakukan oleh penulis dan hasil

BSu



 (X)







Bsa



(4)

terjemahan sebagai suatu produk yang dijelaskan. Sementara deskriptif adalah penelitian yang dilakukan untuk mengetahui nilai variable mandiri, baik satu variable atau lebih tanpa membuat perbandingan. Variable dalam hal ini adalah sampel dalam bahasa sumber dan hasil dalam bahasa sasaran. Penulis melakukan penelitian ini untuk mengetahui nilai dari sampel tersebut yang dalam hal ini adalah makna dari setiap sampel.

1. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif 2. Metode tinjauan pustaka

3. Metode evaluasi deskriptif 4. Teori:

a. Penerjemahan (Nida dan Taber, 1974) b. Metode Penerjemahan (Newmark, 1988) c. Teknik Penerjemahan (Hoed, 2006) d. Fuctional-Equivalent (Nida, 1986)

Dengan menggunakan pendekatan kualitatif, penulis mengumpulkan sumber data dalam penelitian ini dengan menggunakan metode evaluasi pada korpus data, yaitu Komik Nusantaranger.

Bagian komik Nusantaranger yang penulis teliti adalah Buku Elang, Bab 1. Setelah melakukan tafsiran kasar pada keseluruhan bab, penulis mengumpulkan sampel penelitian dengan mengelompokkannya ke dalam 3 bagian. Kata, Klausa dan Kalimat. Masing-masing 3 sampel. Dengan demikian, pada tahap ini, penulis telah berhasil menetapkan 9 sampel kata untuk dapat dianalisis lebih dalam.

HASIL DAN BAHASAN

Penulis menerjemahkan “Asssalamu’alaikum” menjadi 「アシャラムアライク ム」」」」. Ini adalah bentuk katakana dari ungkapan “Assalamu’alaikum”. Penulis menilai "Assalamu'alaikum" memiliki nilai agama dan budaya yang kuat. Penulis percaya, “Assalamu’alaikum” dapat mewakili kebudayaan beragama Indonesia sebagai negara dengan mayoritas penduduknya beragama Islam dan tidak memiliki padanan dalam bahasa Jepang karena penduduk yang beragama Islam merupakan minoritas di Jepang. Seperti yang diungkapkan Hoed, apabila suatu teks dari bahasa sumber, tidak dapat ditemukan padanannya di bahasa sasaran, maka dapat digunakan penerjemahan Fonologis. Karena itu penulis memutuskan untuk membiarkan “Assalamu’alaikum” dalam bentuk katakana-nya disertai dengan penjelasan atau catatan kaki pada halaman tersebut.

Penulis juga menerjemahkan “Aduh” menjadi 「いて!」。Secara umum, “Aduh” adalah bentuk reaksi keluhan. Reaksi yang dialami apabila mengalami hal yang tidak mengenakkan atau hal buruk. Karena itu, menganalisis kata “Aduh” sendiri tidak cukup untuk mendapatkan kata terjemahan yang baik.

Dikarenakan komik adalah gambar dan lambang yang disandingkan dalam urutan tertentu, untuk memberikan informasi dan sebagai alat komunikasi, dalam mencapai tanggapan estetis dari pembacanya (McScott, 1993), penulis akan menganalisa keadaan sesuai dengan kesan yang tergambar di dalam komik Nusantaranger ini.

Dengan menekankan pada arti dan kondisi ketika Rangga mengeluarkan reaksi tersebut, yaitu sehabis terjatuh. Selain itu, terlihat pada gambar 4.1.1 Rangga juga memegang kepalanya yang memang jatuh pertama kali ke tanah. Ini menunjukkan adanya rasa sakit yang dialami oleh Rangga. Dengan demikian, dapat ditafsirkan bahwa yang ingin diungkapkan Rangga adalah kesakitan lewat kata “Aduh”. Namun, menurut Simatupang (1999), pergeseran yang terjadi karena pada makna generik dari kata “Aduh” yang diungkapkan Rangga dari bahasa sumber dapat diterjemahkan ke makna yang lebih spesifik,

(5)

yaitu seperti yang telah dianalisa sebelumnya, kata “Aduh” dengan makna sakit yaitu 「い たい」。

Dengan demikian ditemukan padanan kata "Aduh” yang mengandung unsur keluhan kesakitan dalam bahasa Jepang adalah 「いたい」。

Sementara, sesuai dengan teori Newmark (1988) yang mengemukakan bahwa sebuah teks sasaran penentuannya dipengaruhi oleh budaya tulis dan cetak teks sasaran. Dalam hal ini adalah komik. Dalam bahasa komik, seringkali yang digunakan adalah bahasa percakapan sehari-hari. Sehingga kata 「いたい」dapat kita sesuaikan bentuknya menjadi 「いて!」。

Pada bagian Candi, awalnya penulis mengalami kesulitan untuk memilih padanan kata yang tepat. Apakah akan menggunakan kata 「寺」atau menggunakan kata 「寺院」 sebagai padanan kata yang tepat untuk kata “Candi”.

Namun menurut Nida dan Taber (1974), penerjemahan adala pengungkapan kembali pesan dari bahasa sumber ke dalam bahasa sasaran dengan padanan terdekat dan wajar.

Padanan terdekat “Candi” adalah 「お寺」atau 「時院」. Sementara itu, agar terdengar wajar, penulis mengambil padanan kata dalam teks sumber yang telah diterjemahkan ke dalam teks sasaran secara tepat yaitu “Candi Borobudur”. Penulis mencari padanan bahasa Jepang dari “Candi Borobudur” dan menemukan kata 「ボロブヅル寺院」. Dikarenakan 「ボロブヅル寺院」terdengar lebih wajar bila dibandingkan dengan 「ボロ ブヅルお寺」penulis memutuskan untuk menggunakan kata 「寺院」sebagai padanan kata “Candi” yang disebutkan oleh kakek.

Sementara itu, kata petak umpet adalah merupakan istilah. Yang apabila berdiri sendiri-sendiri akan kehilangan makna. Apabila penulis menerjemahkan istilah ini lewat penerjemahan word-to-word, petak dalam bahasa Jepang diartikan sebagai purotto (プロッ ト) yang berarti juga plot, atau sepetak tanah. Sementara kata umpet memiliki persamaan kata sembunyi yang dalam bahasa Jepangnya kakusu ( 隠す). Apabila digabungkan, kata petak umpet sendiri merujuk kepada permainan anak-anak di mana yang menjadi penjaga harus mencari orang-orang yang bersembunyi. Di Jepang, ada permainan yang serupa dengan petak umpet, yaitu kakurenbo (隠れん坊).

Karena inilah, dengan mengikuti teori functional-equivalent dari Nida, penulis memutuskan untuk menggunakan pilihan kata yang lebih memiliki kesetaraan dan persamaan definisi dibandingkan purotto kakusu yang sesungguhnya malah tidak berarti apa-apa ketika digabungkan bersama-sama.

Sementara itu kalimat pertama yang dianalisis oleh penulis adalah kalimat: “Ayah pasti bohong supaya bisa nangkep aku!”

Kalimat ini memiliki dua klausa yang masing-masing memiliki makna kuat. Dengan menitikberatkan pada makna yang terdapat pada kalimat itu, penulis memutuskan untuk memecah keduanya menjadi 2 klausa yang memegang intinya masing-masing.

“Ayah pasti bohong ,” Dan

(6)

“Supaya Ayah bisa nangkep aku.”

Dari pemotongan di atas, diketahui kalau kalimat “Ayah pasti bohong supaya bisa nangkep aku!” adalah kalimat majemuk. Dengan demikian, diterjemahkan secara terpisah, dapat membantu Penulis menemukan terjemahan yang paling tepat.

Penulis menggunakan Penerjemahan Harafiah yang mengubah susunan kalimat menjadi ke susunan kalimat yang dirasa lebih wajar dalam bahasa sasaran, dalam hal ini Bahasa Jepang.

Maka, terjemahannya menjadi:

“Ayah pasti bohong” -> 「それは嘘だろう! 間違いないんだ!」 “Supaya (Ayah) bisa nangkep aku!” -> 「俺を捕まえるためになぁ~!」

Penulis menambahkan kata 「間違いない」dikarenakan ada ketidakpercayaan dalam kalimat Rangga. Dia tidak menebak, tapi dia yakin kalau ayahnya berbohong. Fokus penulis letakkan pada bagian 「だろう」itu. Bagian itu yang menunjukkan bahwa Rangga yakin kalau ayahnya berbohong. Karena itu, sebagai bentuk keyakinan Rangga bahwa ayahnya berbohong, Penulis memutuskan untuk menambahkan 「間違いない」ke dalam kalimat tersebut.

“Pasti” merupakan ungkapan keyakinan bahwa dirinya tidak mungkin salah. Itulah yang diyakini oleh Rangga. “Supaya bisa nangkep aku” adalah dampak dari keyakinannya apabila hal tersebut memang benar.

Kalimat kedua yang digunakan pada analisa kalimat adalah: “Mimpi itu lagi...”

Kalimat di atas adalah kalimat tunggal. Jadi penulis akan mencoba menggunakan penerjemahan Word-toWord terlebih dahulu.

Mimpi = 夢 Itu = あの

Lagi = また、再び

Sementara ini, kata “mimpi” dan “itu” sudah mendapat padanan kata yang benar. Sementara, “lagi” mengalami kesulitan. Kesulitannya adalah dalam konteks apa “lagi” ini digunakan. Apakah dalam konteks membicarakan sesuatu yang terjadi berulang-ulang atau lagi-lagi, yang bisa dipastikan dapat menggunakan 「また」atau dalam konteks meminta perulangan akan sesuatu yang mana dapat menggunakan 「再び」.

Dengan melihat pada konteks, penulis menggunakan analisis alur cerita. Dari sini, ditemukan bahwa Rangga melihat mimpi yang sama berulang kali dan berkomentar mengenai itu. Penulis akhirnya memutuskan untuk menggunakan 「また」.

Setelah itu, penulis berusaha menyusun kalimat ini dalam bahasa sasaran agar terlihat wajar. Tapi kalau dengan hanya penerjemahan Word-to-word, maka hasilnya menjadi 「夢 あのまた」yang mana sangat tidak masuk akal bila dibaca dari segi bahasa sasaran. Karena itu ditahap ini, penulis perlu mengubah metode menjadi Literal Translation. Dengan metode ini, penulis dapat mengubah strukturisasi dan urutan kata sesuai dengan standar kalimat

(7)

bahasa sasaran. Penulis memutuskan, 「また」berada di depan sebagai keterangan situasi, diikuti oleh kejadiannya. Sehingga kalimat menjadi:

「また、あの夢か。」

Kalimat ini lebih mudah dimengerti dan lebih wajar, sehingga penulis memutuskan untuk menggunakan terjemahan ini.

SIMPULAN DAN SARAN

Untuk penerjemahan kata, masalah hanya ditemukan ketika menerjemahkan kata khusus yang jarang ditemui padanannya di bahasa sasaran, dalam hal ini Bahasa Jepang. Tetapi untuk penerjemahan kata secara keseluruhan, dapat digunakan metode Word-to-Word atau free translation.

Karena kata yang diterjemahkan di sini berasa dari kalimat. Sehingga perlu dipahami konteks ketika kata ini dibicarakan. Hal tersebut berlaku untuk kata yang kurang umum dan kata yang tidak umum. Tapi untuk kata yang umum, seberapapun berubah konteksnya, penerjemahan kata-per-kata biasanya tetap efektif karena kata yang umum biasanya lebih mudah dicari makna dan padanan di bahasa lain.

Penulis menemukan masalah dalam menerjemahkan istilah. Kata-kata yang berupa istilah, baik umum maupun memuat makna kultural atau agama, tidak dapat diterjemahkan mentah-mentah, kata per kata. Karena apabila diterjemahkan perkata, makna yang ada dari istilah tersebut malah hilang.

Dengan masalah tersebut, penulis menemukan solusi menyelesaikannya dengan metode functional-equivalent di mana penulis dapat menemukan saja, kalimat dalam Bsa yang memiliki padanan makna dengan Bsu yang akan diterjemahkan.

Kepada calon peneliti atau penulis yang lain, penulis menyarankan untuk menggali lebih lagi dari data yang penulis gunakan dalam penelitian ini yaitu Nusantaranger.

Pertama, calon penulis bisa melanjutkan menerjemahkan bab dan buku selanjutnya dari seri Nusantaranger yang penulis gunakan pada penelitian ini.

Kedua, calon penulis bisa membuat terjemahan calon penulis, dan membandingkannya dengan hasil terjemahan Penulis.

Ketiga, calon penulis bisa membuat terjemahan baru dengan menggunakan metode atau teori terjemahan yang tidak digunakan penulis kemudian membandingkan efektivitas dan hasilnya.

REFERENSI

Hoed, Benny Hoedoro. (2006). Penerjemahan dan Kebudayaan. Jakarta: Pustaka Jaya Newmark, Peter. (1998). A Textbook of Translation. Hertfordshire: Prentice Hall

(8)

Nida, E.A., & Charles R. Taber. (1974). The Theory and Practice of Translation. Leiden: E. J. Brill.

Ordudari, Mahmoud. (2007). Translation Procedures, Strategies and Methods. Translation Journal. Diunduh dari http://www.translationjournal.net/journal/41culture.htm Scott McCloud. (1993). Understanding Comic: Invisible Art. New York: Harper.. Tim Nusantaranger. (2012). Nusantaranger. www.nusantaranger.com.

Torikai, Kumiko. (1998). Mistranslations That Changed History. Shinco Bunko : Shinco-sha.

RIWAYAT PENULIS

Kasih Elia lahir di kota Jakarta pada 9 Januari 2014. Penulis menamatkan pendidikan S1 di Binus University pada jurusan Sastra Jepang pada tahun 2014.

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...

Related subjects :