• Tidak ada hasil yang ditemukan

DEWAN PERWAKILAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "DEWAN PERWAKILAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA"

Copied!
33
0
0

Teks penuh

(1)

291 DEWAN PERWAKILAN RAKYAT

REPUBLIK INDONESIA

RAPAT DENGAR PENDAPAT UMUM KOMISI II DPR RI

DENGAN Prof. Dr. PURWO SANTOSO DAN AAGN ARI DWIPAYANA, M.SI JURUSAN POLITIK DAN PEMERINTAHAN UNIVERSITAS GADJAH MADA

DALAM RANGKA PEMBAHASAN RANCANGAN UNDANG-UNDANG TENTANG

KEISTIMEWAAN PROVINSI DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA Tahun Sidang : 2010 – 2011

Masa Persidangan : III

Jenis Rapat : Rapat Dengar Pendapat Umum (RDPU)

Rapat Ke : --

Sifat Rapat : Terbuka

Dengan : Prof. Dr. Purwo Santoso dan AAGN Ari Dwipayana, M.Si (dihadiri 4 Anggota Komite I DPD RI)

Hari / Tanggal : Rabu, 23 Maret 2011

Pukul : 09.00 WIB – selesai

Tempat Rapat : Ruang Rapat Komisi II DPR-RI (KK. III/Gd Nusantara) Ketua Rapat : H. Chairuman Harahap, SH.,MH/Ketua Komisi II DPR RI Sekretaris Rapat : Arini Wijayanti, SH.,MH/Kabag.Set Komisi II DPR RI

Acara : Mencari Masukan terkait dengan RUU Keistimewaan Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta

Anggota : 22 dari 49 orang Anggota Komisi II DPR RI 27 orang Ijin

Nama Anggota : Pimpinan Komisi II DPR RI : 1. H. Chairuman Harahap, SH.,MH 2. DR. Drs. H. Taufiq Effendi, MBA 3. Drs. Abdul Hakam Naja, M.Si

Fraksi Partai Demokrat : Fraksi Persatuan Pembangunan : 4. H. Abdul Wahab Dalimunthe, SH

5. Drs. H. Djufri

(2)

292 6. Drs. H. Amrun Daulay, MM

7. Ir. Nanang Samodra, KA, M.Sc 8. Muslim, SH

9. Drs. Abdul Gafar Patappe

Fraksi Partai Golkar : Fraksi Partai Kebangkitan Bangsa : 10. Drs. Murad U Nasir, M.Si

11. Agustina Basik-Basik. S.Sos.,MM.,M.Pd 12. Drs. Taufiq Hidayat, M.Si

13. Hj. Nurokhmah Ahmad Hidayat Mus

20. Hj. Masitah, S.Ag, M.Pd.I

Fraksi Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan : Fraksi Partai Gerindra:

-- 21. Mestariany Habie, SH

22. Drs. H. Harun Al Rasyid, M.Si

Fraksi Partai Keadilan Sejahtera: Fraksi Partai Hanura: 14. Hermanto, SE.,MM

15. Drs. Almuzzamil Yusuf

--

Fraksi Partai Amanat Nasional: 16. Drs. H. Rusli Ridwan, M.Si 17. H. Chairul Naim, M.Anik, SH.,MH 18. Drs. H. Fauzan Syai’e

Anggota yang berhalangan hadir (Izin) : 1. Ganjar Pranowo

2. Dr. H. Subyakto, SH, MH, MM 3. Rusminiati, SH

4. Ignatius Moelyono

5. Dra. Gray Koesmoertiyah, M.Pd 6. Khatibul Umam Wiranu, M.Hum 7. Kasma Bouty, SE, MM

8. Ir. Basuki Tjahaja Purnama, MM 9. Nurul Arifin, S.IP, M.Si

10. Drs. Agun Gunanjar Sudarsa, BcIP, M.Si 11. Dr. M. Idrus Marham

12. Drs. Soewarno 13. Arif Wibowo

14. H. Rahadi Zakaria, S.IP, MH

15. Dr. Yasonna H Laoly, SH, MH 16. Budiman Sudjatmiko, MSc, M.Phill 17. Alexander Litaay

18. Vanda Sarundajang 19. Agus Purnomo, S.IP 20. Aus Hidayat Nur 21. TB. Soenmandjaja.SD 22. H.M. Izzul Islam 23. Dr. AW. Thalib, M.Si 24. Dra. Hj. Ida Fauziyah 25. Abdul Malik Haraman, M.Si 26. Miryam Haryani, SE, M.Si 27. Drs. Akbar Faizal, M.Si

(3)

293 JALANNYA RAPAT:

KETUA RAPAT/H. CHAIRUMAN HARAHAP, SH.,MH/F-PG: Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

Salam sejahtera bagi kita sekalian

Yang terhormat saudara Profesor DR Purwo Santoso Yang terhormat saudara AA GN Ari Dwipayana Yang terhormat saudara Anggota komite I DPD RI Yang terhormat saudara Pimpinan dan Anggota DPR RI.

Pertama-tama marilah kita panjatkan puji dan syukur kehadirat Allah SWT karena hanya atas perkenannya kita dapat menghadiri rapat denga pendapat umum Komisi II DPR RI dengan jurusan politik dan pemerintahan Universitas Gajah Mada pada hari ini dalam keadaan sehat wal afiat. Rapat ini memang tidak memerlukan kuorum karena dalam rapat ini tidak mengambil keputusan sesuai dengan tata tertib. Hanya menampung aspirasi dan masukan pemikiran-pemikiran dan lain sebagainya dari Profesor DPR RI Djoko Purwo dan Pak Dwipayana perkenankanlah kami untuk membuka rapat ini dan dinyatakan terbuka untuk umum.

(RAPAT DIBUKA)

Saudara-saudara sekalin sesuai dengan tata tertib maka saya ingin minta persetujuan tentang acara rapat kita pada hari ini yaitu mendapatkan masukan terkait dengan RUU tentang keistimewaan DIY. Apakah acara ini disetujui?

(RAPAT: SETUJU)

Bapak dan Ibu sekalian dan Bapak Prof Santoso dan Pak Ari Dwipayana kami menyampaikan terimakasih atas kehadirannya di RDPU Komisi II DPR RI, begitu jauh dari Jogjakarta untuk datang ke Jakarta ini, dan sebagaimana diketahui bahwa Komisi II DPR RI telah mengagendakan RDPU untuk mendapatkan masukan-masukan dari berbagi pihak, dari pakar, ahli dan sebagainya dalam hal ini ada dari pakar tata negara, praktisi hukum, pakar sejarah, pakar sosiologi, pertanahan dan otonomi daerah serta juga dengan Gubernur, kepadala daerah Jogjakarta Sri Sultan HB dengan Wakilnya Sri Paku Alam dan juga kita telah melakukan kunjungan-kunjungan dan pertemuan dengan masyarakat di Jogjakarta serta pertemuan dengan Universitas Gadjah Mada pada tanggal 10 Maret 2011 di Balai Senat UGM, untuk meindaklanjuti pertemuan-pertemuan tersebut kami mengundang Tim Jurusan Politik dan Pemerintahan UGM untuk memaparkan penjelasan naskah akademik dan RUU Tentang DIY, untuk mepersingkat waktu kami persilahkan Prof DR Purwo Santoso dan Ari Dwipayana untuk menyapaikan masukan-masukannya. Kami persilahkan

Prof. Dr. PURWO SANTOSO: Terima kasih.

Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

Bapak-bapak dan Ibu Anggota DPR RI dan DPD RI terima kasih kami mendapatkan kepercayaan untuk menyampaikan draf RUU keistimewaan Jogja berikut naskah akademik yang

(4)

294 berikut naskah akademik yang medasarinya dan ini merupakan hal yang penting bagi kami karena kami di Jogja dihujat masyarakat sebagai biang keladi keganduhan disana. Sebagaimana sudah menjadi perdebatan umum persoalan kunci dalam penyusunan UUK DIY ini persoalan pengisian jabatan gubernur dan saya tahu bapak dan Ibu sudah punya posisi masing-masing apalagi sudah mengisi DIM, oh belum ya Pak. Harapannya kalaulah DIM itu nanti disusun ada keranga besar yang kami letakan, kami susun dalam naskah akademik itu menjadi pengimbangnya. Saya tahu politisi punya kalkulasi politis, akademisi harapannya bisa merangkai kalkulasi politis itu dalam satu keutuhan logika dan sungguh sangat senang kami mendapatkan kepercayaan untuk menyampaikan itu.

Ada empat kelompok persoalan yang kami ingin kami samapaikan pada pagi hari ini pertama tentang bagaimana kami menyusun naskah akademik itu dan logika dasar kami kemudian alasan dan prinsip pengaturan dan kemudian detail substansi pengaturannya dan yang tidak kalah penting diujung akhir karena kami membayangkan ada perubahan yang signifikan kami sangat hati-hati sekali dan sangat serius merumuskan transisi sepertinya draf pemerintah sudah kehilangan transisi karena dia asumsikan persoalannya sepele, kami justeru karena sangat suka dengan keistimewaan maka sangat hati-hati tetapi kami tetap toh dihujat baik. Tentang proses penyusunan naskah akademik dan formula keistimewaan yang disampikan pertama, kami kalaulah dikecam oleh orang Jogja yang tidak tahu sejarah dan bahkan mau diusir dan itu kebanyakan dari kami itu bukan asli dari Jogja, jadi pokok persoalan. Kami melakukan interpretasi sejarah dan praktek yang ada disana dan proses interpretasi inilah yang kemudian menghasilkan perbedaan-perbedaan dan sebelum kami menyusun naskah akademik yang kemudian kami serahkan ke kementerian dalam negeri, kami mengkompilasi terlebih dahulu karena Tim kami sebelumnya terlibat dalam penyusunan tapi konsep itu tidak kunjung masuk ke Kementerian dalam negeri.

Kami sadar betul dalam proses perumusan itu ada kontroversi dan cara kami menyusun naskah adalah justeru menghadirkan tokoh-tokoh yang bersebrangan pendapat sehingga kami lama mengalokasikan waktu untuk mendengarkan untuk sisi-sisi yang pertentangan, kami mohon maaf seperti “mengadu domba” kami undang dua kelompok berdebat dan kemudian perdebatan itu kami hayati betul, sehingga kontroversi itu sudah kami antisipasi dan termasuk posisi kami, dan kami juga sudah mengkonsultasikan produk-produk tengah jalan waktu itu dalam konsultasi kepada Sri Sultan HB dan Sri Paku Alam baik pada pemerintah dan tentunya pada kementerian dalam negeri. Posisi kami pertama keistimewaan DIY adalah hal yang final, kami tidak sedang mementahkan keistimewaan tetapi karena perbedaan tafsir dan pejabaran opersional tentang keistimewaan itu kemudian kami berbeda pendapat di Jogja dan di Jogja wacananya adalah pemerintah pusat yang menggunakan kosep kami itu sedang menghabisi keistimewaan, jadi kami harus klarifikasi bahwa kami ketika menyusun konsep itu menjabarkan termasuk untuk menjabarkan keistimewaan dalam bahasa pemerintahan. Dan karena ada pro dan kontra posisi kami mengambil jalan tengah dengan rsiko terhimpit diantara dua ekstrim, jadi suatu saat mohon maaf saya cerita, suatu saat senior kami ini

(5)

295 dimaki-maki orang banyak, kemudian saya katakan “Pak kita sudah sepakat mengambil jalan tengah, jadi kita dengatkan komplain dari ujung ekstrim itu” jalan tengah nya seperti apa nanti kami tunjukan.

Kami meskipun kami dari jurusan politik dan pemerintahan kami sadar untuk membacaka gagasan kami itu kedalam hukum perlu ahli hukum sehingga dalam Tim kami juga ada teman-teman dari fakultas hukum dan karena kami bukan politisi kami tidak punya kalkulasi apa-apa, cara kami merumuskan pasal –pasal itu sepenuhnya mengacu pada prinsip-prinsip pengaturan yang sudah kami temukan dari penggalian berdasarkan memahami pro dan kontra itu dan harapannya mengacu pada prinsip pengaturan yang nanti kami sampaikan di…pada level yang lebih operasional lebih detail itu bisa dimuderasi, artinya kalau ada deadlock artinya keharusannya kembali ke pengaturannya ini usul kami proses politik bisa dimoderasidi DPR atau di DPD dengan menyepakati prinsip pengaturan itu. kalau prinsip pengaturan tidak diselesaikan mohon maaf “politik ini kemudian tidak terangkai” naskah akademik dan leggal drafting itu kami serahkan kepada Mendagri dan dan saya tahu kami sadar bahwa setelah draf itu masuk ke mesin politik baik ke permerintah maupun DPR pasti ada modifiksi pasti ada kalkulasi, oleh karena itu kami buru-buru membikin versi yang bisa kami pertanggungjawabkan dalam naskah yang saya kira sudah dibagikan kepada Bapak dan Ibu.

Jadi kami tidak bisa bertanggungjawab terhadap hal diluar ini, jadi yang kami bisa pertangungjawabkan secara akademik adalah naskah ini, kami sadar proses perubahan itu pasti terjadi. Alasan dan prinsip pengaturan, saya kira ini tidak begitu menari untu didiskusikan tapi sekedar untuk di ingat bahwa ada landasan filosofis, historis, yuridis serta sosio sikologis yang mendasari itu terutama kalau di Jogja itu sosiosikologisnya yag setiap lima tahun itu orang heboh ketika dasar hukum bagi legalisasi jabatan gubernur selalu jadi persoalan dan selalu minta Undang-Undang, tapi ketika Undang-Undang dibuat kemudian heboh lagi, tetapi karena sifat yang unik ada keraton dan pakualaman yang itu sebetulnya itu tidak unik diseluruh dunia, kami juga melakukan studi banding tuntuk mempelajari praktek-praktek pemerintah dan kerajaan di negara-negara lain.

Dan atas dasar itulah kita menyusun draf ijinkan kami lengsung masuk ke prinsip pengaturan, ada enam yang kami tawarkan ini harapannya bisa menjadi kunci untuk negosiasi antar fraksi di DPR RI dan juga nanti di DPD. Pertama dalam demokrasi bahwa ketika kita menyusun keistimewaan Jogja kita tidak sedang melupakan demokrasi bahkan dalam tafsir kami istimewa Jogja itu karena sanggup berdemokrasi denga keunikannya sendiri karena dalam skema itu start nya dari demokrasi tapi muaranya, ujung panahnya dalam kepentingan nasional, kami tidak sedang entertain, eksklusifisme Jogja yang itu menjadi main stream wacana di Jogja, jadi kalaulah kami melakukan pengaturan ini kalkulasinya adalah nasional, ketika kami dihujat oleh orang Jogja kami katakan “ kami waktu itu membayangkan menyusun Undang-Undang dan Undang-Undang itu untuk Indonesia, kami tidak sedang menyusun perda” sehingga ekslusivisme Jogja harus diletakan dalam kepentingan nasional dan kalaulah kita melindungi keistimewaan Jogja justeru itu untuk mendapatkan hasil optimal kekhasan kepentingan itu untuk kepentingan Indonesia dan implikasinya karena ada istimewaan jojga yang indonesia juga harus berkontribusi kepada Jogja, termasuk nanti dalam implikasi keuagannya.

(6)

296 Kalau kita perlakukan keistimewaan Jogja itu sebagai warisan budaya yang harus dirawat, yang merawatnya juga Indonesia dan implikasinya ada dana APBN ada dana keistimewaan yang harus dipikirkan. Kesan saya pemerintah menghilangkan poin itu, ini poin penting berangkat dari logika dasar pengaturannya itu. demokrasi salah satunya adalah kerakyatan dan ketika kami melakukan debat, diskusi dengan tokoh-tokoh kesimpulan kami di Jogja itu yang istimewa itu bukan hanya Sultannya tapi lebih-lebih adalah rakyatnya, rakyatnya organise dan itu bisa dilihat apa yang terjadi ketika ada gempa tsunami dan erupsi merapi, masyarakatnya orgaines dan itulah yang menjadi ada pondasi keistimewaan yang kuat disana, sistem sosialnya sangat kuat sebagai pondasi untuk pengembangan model pemerintahan atau apapun nanti, itu adalah karena kerakyatan yang ada disana dan yang ketiga adalh persoalan keanekaragaman bahwa Indonesia ini adalah beragam dan justeru berangkat dari kajian ini kemudian kami di UGM mewacanakan gagasan desentralisai asmetik, berangkat kita dari kesadaran bahwa kita ini mengelola pemerintahan daerah yang sangat beragam untuk satu Indonesia, dan kemudian kami tetapkan disitu kalaulah kita bicara yang istimewa hal seperti ini, ini adalah dalam bingkai besar pengaturan keanekaragaman pemerintahan sehingga harapannya ini nanti pararel dengan pengaturan dengan Aceh, pengaturan tentang Papua, pengaturan tentang DKI dan seterusnya sehingga ada parareditas.

Bentuk konkritnya begini, ketika Depadagri waktu itu kami ajak diskusi pertanyaan-nya tolong kami dibantu membedakan mana urusan-urusan yang sama untuk seluruh Indonesia dan mana yang urusan-urusan yang khusus karena kalau tidak kemendagri atau pemerintah pusat, depkeu agak bingung mana wilayah yang khas, mana wilayah yang unik, yang umum sehingga harus ada pembicaraan yang sangat serius soal kebhinekaan itu dan disamping itu motif kami adalah justeru mendayagunaan kearifan lokal yang tumbuh berkembang di Jogja dan itu semua harapannya bisa menghasilkan efektifitas pemerintahan sehingga kalaulah kita mengatur yang unik-unik efektifitas pemerintahan tidak harus terkompromikan bahkan harapannya tujuan nasional itu bisa difasilitasi melalui Undang-Undang Ini. Ini logika dasar pengaturan yang sekali lagi kami harapkan bisa mengkerangkai perpolitikan di lembaga perwakilan ini. Baik saya tidak mungkin mendetailkan secara panjang soal itu.

Substansi keistimewaan, yang menonjol dan saya kira menghasilkan perdebatan sengit selama ini adalah pengaturan dalam bidang politik dan pemerintahan, ada skema yang dari jadi kami mengindetifikasi wilayah-wilayah yang kemudian bisa dijastifikasi menjadi urusan keistimewaan yang kemudian berifat unik, untuk Jogja itu ada di empat sektor, empat kelompok persoalan, persoalan politik, persoalan pemerintahan, kebudayaan, dan kemudian pertanahan dan tata ruang. Ini adalah empat klaster persoalan yang kemudian harus di detailkan mana yang unik Jogja mana yang tidak. Dari empat kelompok persoalan itu yang politk pemerintahan yang paling heboh dan cara kami meratifikasikan rumusan sebagai berikut, jadi dalam bidang politik pemerintahan peran HB dan Paku Alam itulah poin yang paling utama, dan dari pelcakan sejarah peran dimasa lalu kami menemukan keduanya telah tampil sebagai dwi tunggal, dan kami mengusulkan dwi tunggal itu diberikan peran

(7)

297 khusus sebagai peyelenggara kewenangan istimewa di empat sektor dan karena ini gagasan baru tidak ada dalam sejarah, gagasan itu harus dikasih lebel dan dalam kebingunan mencari lebel itu kami waktu itu dalam gagasam awal mengunakan istilah “pengageng” tetapi ketika gagasan ini kami sampaikan kepada HB X, beliau komentar nama itu tidak ada dalam sejarah tetapi kalau dicari ya harus ada sesuatu yang relevan dengan itu dan beliau menawarkan secara tentativ istilah paradiyta, paraditya itulah yang kita dengar dari statement beliau Sultan X dan karena kita tunggu konfirmasi itu juga tidak kunjung tiba kemudian kami pakai tetapi dalam komunikasi publik di Jogja ada disasosiasi beliau tidak berkenan untuk diasosiasikan dengan gagasan itu. tetapi kami punya bukti rekaman bahwa kami sudah komunikasikan dan istilah itu pun dari beliau, artinya gagasan ini pernah diterima oleh beliau dalam proses konsultasi.

Dan berikutnya peranan penyelenggara dalam pemerinahan sehari-hari itu dipilah antara peranan strategis dan peranan rutin, dan yang rutin itulah yang kemudian disama ratakan keseluruh Indonesia, ini logika yang kami usulkan, sehingga kalaulah para apapaun nama yang dipakai dipilih kalau nanti disetuji itu adalah urusan strategis dan usul kami peran strategis dalam penyelenggaraan pemerintahan itu dikawal oleh dwi tunggal sebagai bagai pimpinan yang sudah terbukti dalam sejarah peran dwi tunggalnya, kami usulkan untuk jadi lembaga tersendiri dan cara menyelenggarakannya bersifat tidak langsung, inilah formula jalan tengah yang kami usulkan, karena yang selama ini ada kan tidak jelas batas, peran-peran keistimewaan yang membuka asas dari pihak keraton dari pihak yang kemudian membuka asas dari pihak keraton dan paku alaman itu tidak jelas batasnya, dan kami coba melakukan pembatasan. Jadi intiya adalah ada kewenangan strategis vital dalam empat hal tadi yang itu diselenggarakan secara tidak langsung dan peran tidak langsung itulah yang memungkinkan kami merumuskan tata kelembagaan untuk menjabarkan gagasan dasar ini.

Ijinkan kami menggunakan poin wacana kami ketika berdiskusi, jadi ini kami mengambil aspirasi nasi goreng istimewa, tadi pagi-pagi saya setelah shalat shubuh saya masih sempat bikin gambar nasi goreng istimewa itu kuning-kuning. Yang menjadi penentu istimewanya atau tidak itu dalam logika nasi goring adalah tumpungan topengnya itu, itu catatan diskusi dalam proses formulasi, sehingga istimewa atau tidaknya istimewa bukan ditentukan oleh nasi kuningnya, tapi ditentukan oleh topengnya itu, yang ini Pak..(gambar) inikan sudah ada kuning, merah, biru, putih itu milih orang banyak, kaitanannya dengan HB dan Paku Alam itu ketika kita membicarakan persoalan yang krusial dari pengisian jabatan gubernur, pertanyaan kami apakah HB dan PA itu hanya urusannya dalam gabungan dua itu urusan yang istimewa ataukah juga masuk yang rutin sehari –hari itu, dalam logika ini maka pengisian jabatan yang kemudian memerlukan peran istimewa itu hanya untuk urusan yang topengnya itu, sehigga atas dasar itu maka pengisian jabatan gubernur itu masuk pada urusan sehari-hari pemerintahan urusan yang sama untuk seluruh Indonesia dank arena itulah logika pengisian jabatan gubernur sama untuk gubernur-gubernur yang lain, itu logika pengaturan yang kemudian menghasilkan kontroversi karena formula kami adalah sekali lagi urusan strategis vital yang kita lesatrikan dari peralanan sejarah DIY dan peran strategis vital itu kemudian kita kodifikasi kemudian

(8)

298 kita tentukan lembaganya yakni gabungan atau dwi tunggal HB dan PA itu dan kalaulah ada peran istimewa mereka dalam pengisian jabatan mereka berdua itu di dua lapis itu, sehingga kalau bicara pengisian jabatan gubernur masuk dalam kategori pemerintahan tidak istimewa. Dan karena itulah maka pengisian jabatan gubernur itu sama dengan yang lain mengikuti pasal dalam konstitusi, ajdi itu mengapa kita sampai pada gagasan gubernur itu dipilih secara langsung di Jogja dan peran istimewa dari PA dan HB berikut institusi tradisional menyejarah disana itu kami bayangkan diwilayah strategis itu dan tanggungjawab nasional untuk mengawal keistimewaan itu usteru dikawan dengan penganggaran khsusu untuk dua lembaga dengan amanat keistimewaan itu.

Ini formula yang kami harapkan bisa survaiv ketika kita oleh Mahkamah Konstitusi suatu saat, karena kita tahu dalam konstitusi dalam hasil amandemen di satu sisi ada kewajiban untuk meneguhkan atau mengakui keistimewaan daerah Pasal 18 yang mengatur itu tapi ada pasal yang mengharuskan kepala daerah secara demokratis, maka penilihan itu kemudian bisa teratasi dengan justifikasi bahwa ini untuk urusan normal bukan urusan istimewa. Apakah kita bisa mengikuti gagasan ini bahwa kalau kita tidak menyelesaikan ini, suatau saat kami khawatir entah orang Jogja atau bukan orang Jogja kemudian mengajukan gugatan ke Mahkamah Konstitusi, Mahkamah Konstitusi mohon diperhatian hak konstitusional saya menjadi gubernur DIY di tiadakan oleh UU mohon pasal itu dihapus, dan kalau ada orang iseng katakanlah keluar sekian puluh juta dan kemudian dia menang dalam konstitusi maka kedaultan atau hiur pikuk penetapan yang diusualkan di Jogja itu bisa mentah diproses Mahkamah Konstitusi.

Jadi ini ada formula yang disatu sisi membicarakan keragaman dan keumuman, keistimewaan dan ketidakistimewaan tapi pada saat bersamaan juga survaiv untuk suatu saat dipersoalkandi Mahkamah Konstitusi. Diskusi kami waktu itu bahwa amanat konstitusi itu a negosible, jadi tentang istimewa itu tidak bisa dibantah dan tentang pemilihan demokrasi juga tidak bisa dibantah sehingga kami harus kemluar dengan solusi yang bisa menjawab dua persoalan sekaligus itu poin yang menurut kami paling penting untuk kami sampaikan didalam forum yang sangat terhormat ini, karena kita berhadapan dengan konstitusi kita berhadapan dengan aspirasi Jogja, pertanyaannya adalah apakah orang Jogja akan bersedia, ada hasil survey yang berbeda-beda, tetapi kesan kami proses untuk memperdebatkan di Jogja itu tidak berlangsung, kalau ada perdebatan itu dilapis elit saja dan masa lebih dimobilisasi pikirannya dari pada diajak untuk merenung dan memperdebatkan kearifan yang selama ini ada.

Yang kami sesalkan adalah wacana yang menjadi dasar kami menguskan keistimewaan bahwa Jogja itu berpikir untuk Indonesia sekarang ini terbalik, Jogja sedang sibuk dengan dirinya sendiri, dan jangan-jangan kami ini tidak ada gunanya untuk melindungi keistimewaannya kalau cara berpikirnya terus begitu. Jadi yang menjadikan Jogja kami bela adalah karena Jogja menjadi penanggungjawab Indonesia dimasa lalu, sehingga dari Jogja untuk Indonesia itu premisnya, tetapi yang terjadi disini dalam beberapa bulan terakhir ini dan itu juga saya kira terjadi mobilisasi masa, adalah Jogja sibuk dengan dirinya sendiri, bahkan merebut perhatian merengek-rengek terhadap

(9)

299 Indonesia dan gagasan tanpa tamrih itu kemudian sekarang sangat kentara pamrihnya, jadi saya kemudian sekarang ragu-ragu apakah masih ada gunanya keistimewaan Jogja dilindungi kalau cara berpikir orang Jogja seperti ini. Mohon maaf ini agak keras tapi justeru karena kecintaan kami terhadap Jogja.

Berikuntnya dengan formula seperti ini kami membayangkan Sultan kami dan Paku Alam kami itu menjadi Pimpinan orang seluruh DIY, dan oleh karena itu kami mecegah untuk masuk dalam politik praktis, politik yang normal tadi sehingga keinginan untuk memisahkan itu justeru karena kecintaan kami karena beliau itu tetap mengakar sebagai kekuatan yang merakyat, yang inspiratif itu. Oleh karena itu dalam rumusan kami, kami mengusulkan supaya HB dan PA itu dijauhkan dari ikatan bisnis, sehingga ikatan bisnis yang berskala besar itu tidak boleh dan kami usulkan juga tidak ini aga bertentangan dengan konstitusi tapi ini kemudian jadi pengurus partai, justeru karena, keistimewaannya itu bisa merangkul orang banyak, ini mohon maaf kalau saya menyebut “Golkar dimasa lalu berhasil menjangkau dan warisan masa lalu da nada hubungan yang unik antara keraton paku alamanan dan kesultanan dan suatu saat perlu reposisi demi istimewanya watak Jogja, rakyat Jogja dan kemampuan mengayomi seluruh faksi-faksi segmentasi masyarakat yang ada disana sehingga kekuatan kepemimpinan yang jadi inspirasi itulah yang kami rawat dengan menjauhkan diri dari bahaya politik sehari-hari, mari kita bayangkan kalau suatu saat Sultan jadi kandidat dalam suatu Pilkada, dan kemudian proses money politik itu bisa ditangkap ditunjukan dan kemudian Sultan kami masuk ke pengadilan KPK, apakah masih ada justifikasi moral untuk melindungi keistimewaan Jogja dan mengukuhkan keistimewaan Jogja ketika Sultan ini jadi pesakitan.

Jadi wacana ini tidak pernah muncuk karena kami beresiko untuk ngomong untuk terus terang ngomong di Jogja dengan menunjukan kecintaan kami kepada Sultan dengan cara yang berbeda. kita tahu ada beberapa kepala daerah yang sudah ngantri di KPK disekolahkan di KPK sudah disekolahkan di Cipinang, dan kami tidak boleh dan membuat usulan ini untuk mencegah peluang itu terjadi bahkan ketika memikirkan administrasi untuk lembaga dwi tunggal para raa itu kamipun menjaga supaya beilau tetap bebas dari peluang supaya beliau itu terbebas dari peluang ditangkap sebagai koruptor sehingga administrasi keuangan beliau ketika menjalankan fungsi raja itu mencegah beliau untuk terpidana, karena kami memerlukan symbol, ekspresi spiritual yang kemudian terbebas dari politik normal yang sehari-hari itu. Justeru karena yang menurut kajian kami ini yang menjadi kuatnya Jogja karena masyarakatnya orginese dan kemudian ada pemimpin yang isnpiratif, maka kemudian itulah yang harus dijaga dan diuri-uri bukan cerita masa lalu, bukan romantisme sejarah tapi Jogja harus diajak menciptakan sejarah-sejarah baru dengan kekuatan dasarnya itu. itu cara kami mencintai Jogja, meskipun tadi kami katakana sebagian Tim kami itu bukan penduduk asli Jogja tetapi kami punya mimpi supaya kearifan lokal Jogja ini bisa menjadi kekuatan nasional dan kemudian bisa mengawal keistimewaan spirit keistimewaan secara pilosofis itu maka justeru kami harus menjauhkan diri dari peluang kriminalisasi Sultan dan oleh karena itu HB dan PA itu harus menjadi symbol bersama seluruh Jogja kalau bukan seluruh Indonesia dan atas dasar itulah kami tidak

(10)

300 merekomendasikan tidak mengusulkan yang kemudin oleh Mendagri diganti gubernur utama dan beliau punya hak untuk mencalonkan diri, karena yang kami cegah adalah masuk kewilayah-wilayah yang justeru mengotori keagungan. Jadi itu logika dasar kenapa kami tidak menyetujui atau mengusulkan pengisian jabatan gubernur melalui penetapan sebagaiman diwacanakan selama ini.

Urusan yang lain saya kira sudah sering diwacanakan oleh DPR dan sudah dibahas pada masa DPR yang lalu dan waktu itu saya mendengar sudah selesai, saya tidak tahu apakah prosedur sekarang ini akan membahas ulang ini dari awal ataukah mengacu pada yang lama tetapi dari segi pemerintahan dari segi kebudayaan dan dari segi pertanahan itu menjadi sangat penting. Tentang pertanahan dan tata ruang, itu kami perlu berikan tekanan di Jogja ada tiga jenis tanah, yang pertama tanah hak milik sebagaimana biasa ada didaerah lain, yang kedua ada tanah bekas keraton bekas milik kerajaan, bekas milik kesultanand an kepakualaman, milik keluarga kerajaan. Terkait dengan pertanahan waktu itu kami laporkan kepada beliau HB dan PA, poinnya adalah beliau menghendaki adanya ketegasan siapa yang menjadi pemiliknya, tanah-tanah bekas kerajaan itu siapa pemiliknya, dalam prakteknya sebagian sudah menjadi tanahnya untuk operasinya UGM, sebagian menjadi terminal, sebagian untuk sekolah artinya tanah itu sudah difungsikan. Tetapi ada kegamangan dari kantor BPN untuk mengurus itu karena persoalan sejarah pertanahannya tetapi disisi lain institrusi keraton yang mengurusi tanah yakni “Paniti Kismo” itu juga tidak menjalankan fungsi optimalnya. Oleh karena itu usulan kami adalah tanah ini kemudian dimiliki oleh lembaga yang punya setelah konsultasi dengan ahli hokum pertanahan, Prof Maria dan Tim nya dari UGM, beliau mengusulkan dan kami ambil gagasannya untuk pertanahan tadi ada badan hokum kebudayaan dan badan hokum kebudayaan itulah yang pemiliknya, tetapi badan hokum itulah yeng kemudian mengadministrasikan tanah itu sehingga jelas tanahnya itu dimana saja, berapa saja digunakan untuk apa saja dan kemudian ada proses monitoring pemilikan, karena banyak tanah yang sudah ditukar gulingkan, dan kemudian harus dipastikan tanah itu untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat, disatu sisi ada kepemilikan dan ini mengakomodir permintaan Sultan tetapi jug karena istimewanya Jogja itu antara lain itu adalah ikatan raja dengan rakyatnya, dan dikami terhadap kerajaan-kerajaan yang masih hidup dan survive jaman modern itu karena ikatan dengan tanah.

Maka ikatan raja dengan tanah itu lah yang kami jaga dan bahasa UU nya untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat, disinilah yang menimbulkan problem di lapangan, karena ketika ada keharusan untuk melakukan inventarisasi tanah maka aparat di desa yang sudah menukar gulingkan tanah dalam posisi terancam dan kalau ada kemarahan merka kami khawatir itu ada hubungannya dengan ini. Jadi yang mobilisasi itu adalah tokoh-tokoh dari desa itu tetapi juga proses persoalan yang terkait dengan mereka itu adalah soal tanah dan kita tidak pernah mempunyai pembicaran yang terbuka tentang pertanahan sehingga kalau Komisi II masih bermaksud untuk mendetailkan itu mestinya ada pelacakan secara seksama, kemarahan merka ini soal tanah atau soal Sultan, ini ada perbicangan dilapangan, kami juga tidak cukup berani, merasa tidak aman kalau membuka persoalan ini dilapangan tetapi kita tahu ada banyak kasus tanah itu yang sudah dimutasikan dalam pengalpaan

(11)

301 pengadministrasian karena kegamangan dua rejim, rejim BPN dan Paniti Kismo, ini maka kemudian ada kelonggaran, kita tahu tanah itu aset yang sangat sensitive dalam berbagai kesepatan, baik HB atau PA ketika “menggertak” kepatuhan kepada parade desa itu tanah yang dipakai, sehingga ini adalah basis kekuatan politik real yang punya efek dilapangan dan kami berharap DPR RI ini cukup cermat menganalisis persoalan ini.

Tentang kebudayaan saya kira Jogja sebagai pusat kebudayaan dan seterusnya itu memungkinkan Jogja tetap surviv sebagai pusat macam-macam dank arena itu ada pengaturan disana tapi saya kira itu nanti diskusikan saja, ini struktur pemerintahan yang kami bayangkan. Kami mencoba melakukan simulasi peran Sultan dan lembaga para raja dalam hubungan pusat dan daerah, ada dekonsetrasi dan desentrasisai, kami coba gambarkan, intinya adalah hubungan kordinasi dengan Presiden sehingga ada jalur komunikasi ke Presiden dan itu masuk dalam wilayah desentralisai tetapi urusan dekonsentrasi itu sama dengan daerah-daerah yang lain. Kalau kita pilahkan dari segi urusan da nada urusan keistimewaan dan yang mengeksekusi urusan keistimewaan itu adalah lembaga-lembaga konvensional. Hanya saja untuk menjabarkan indirek rule pemerintah tidak langsung maka para raja harus punya instrumen untuk memastikan pemerintahan yang normal bak ditangan DPRD maupun Gubernur untuk mematuhi maka ada arah umum kebijakan yang dibuat. (GBHN) lokal, untuk proses pembuatan aturan istimewa dan untuk menjakankan itu perlu mendetailkan, jadi perlu ada instalasi pemerintahan itu dan kami perlu waktu transisi. Begitu juga akan ada perubahan dalam tata perubahan yang cukup mendasar dalam tata permintahan di Jogja apalagi banyak hal. Kemudian yang memimpin masa transisi itu adalah yang sekarang menjabat sehingga Sultan dan Paku Alam itu ditetapkan untuk satu periode mendatang, itu logika dari penataan keistimewaan tadi dan karena prose menjakan itu semua membebankan anggaran maka waktu itu sudah melakukan diskusi dengan Dirjen keuangan pusat dan daerah waktu itu masih Prof Masdiatmo, kami sudah mendiskusikan simulasi cara-cara untuk mengambil dana perimbangan dana keistimewaan besarannya berapa dan kita sudah antisipasi, logia dasarnya sekali lagi karena keistimewaaan Jogja ini sesuatu yang penting bagi Indonesia dan harus dirawat maka yang merawatnya adalah Indonesia, dan Indonesia merawat dengan memberikan tugas khusus kepada lembaga khusus dengan spesifikasi peran dan oleh karena itu tanggungjawab untuk menjalankan penyelenggaraan pemerintahan itu bisa dicukupi dengan biaya tentu saja kami detailkan juga disana, mana yang urusan APBN dan seterusnya.

Saya kira itu beberapa hal penting yang saya bisa sampaikan, silahkan Mas Hari untuk tambahan-tambahannnya.

AAGN. ARI DWIPAYANA, M.Si: Terima kasih.

Pimpinan yang saya hormati

(12)

302 Saya kira sudah banyak hal yang sudah disapakan oleh Pak Purwo Santoso dan Versi tertulisnya memang sudah disampaikan baik ke DPR RI maupun DPD RI. Kami hanya mempertegas beberapa hal yang sudah disampaikan oleh Pak Purwo bahwa posisi jurusan Ilmu Politk dan Pemerintahan terhadap keistimewaan itu final, jadi penerimaan terhadap keistimewaan DIY sebagai suatu keistimewaan yang muncul dalam sejarah konstitusi maupun dalam sejarah pemerintahan kita tidak bisa ditolak lagi dan itu merupakan sesuatu yang harus diterima, baik itu diterima secara politik maupun diterima secara moral oleh seluruh elemen masyarakat DIY maupun komunitas-komunitas akademik yang membicarakan soal itu.

Yang kedua, ketika pengakuan dan penerimaan terhadap keistimewaan sudah ada tapi persoalan lingkupnya bagaimana merumuskan substansi keistimewaan ini menjadi satu titik..titik panas perdebatan, tadi disampaikan oleh Mas Purwo, ada titik titik yang upaya untuk menarik secara diametral begitu, seolah-olah perdebatan kesitimewaan itu hanya pada persoalan posisi pemilihan dan penetapan, ada dua posisi binerar yang yang posisi ekstrem yang ditawar, tapi kami dari Jurusan Ilmu Politik dan Pemeritahan berupaya untuk memberikan cara berpikir lain, yang dimulai dengan mengajak untuk melihat lebih jauh mengenai tujuan dalam kerangka pikir keistimewaan, jadi memang agak jarang kalau kita membicarakan UU itu dimulai dengan tujuan dan kerangka pikir karena itu menurut kami sebagai sesuatu yang sangat penting. Sebenarnya sebuah UU diadakan itu untuk kepentingan apa, tujuannya dasar itu untuk apa, oleh karena itu dalam pemaparan yang disampaikan Mas Purwo tadi bahwa ada beberapa prinsip-prinsip dasar yang seharusnya kita jadikan jangkar bersama, sebelum kita meruskan UU ini, jangkar bersama itu kurang lebih sudah terumuskan secara implisit dalam konstitusi kita tetapi juga secara implisit itu muncul dalam jiwa bangsa kita, apa yang saya maksudkan tujuan prinsip dasar bersama adalah pengakuan bahwa titik berangkat kita menerima prinsip kedaulatan kita sebagai prinsip dalam konstitusi maupun dalam penyelenggaraan pemerintahan. Prinsip demokrasi yang kemudian kita terjemahkan sebagai daulat rakyat itu sesungguhnya meletakan pondasi yang kuat mengganti daulat raja atau daulat tuanku yang pernah ada dalam kerangka feodalisme lama yang pernah kita miliki. Daulat rakyat yang kami bayangkan itu tidak berhenti pada persoalan bagaimana meletakan dan siapa yang menjadi pemimpin tetapi berkaitan dengan penghargaan dan penghormatan terhadap warga Negara.

Yang paling penting dalam draf ini adalah upaya untuk mencari konstruksi baru, jadi kalau kita mencari rujukan dimasa lalu mungkin agak sulit karena kita sedang mencari konstruksi baru, bagaiman membangun konstruksi baru atas Papua, bagaimana membangun kontruksi baru atas Aceh, dan bagaiman membangun kontruksi baru atas DIY, sehingga maka banyak hal yang memang tidak ditemukan dalam sisi historis padanannya begitu yang sangat sama tetapi mungkin filosofi dasarnya, nilai-nilainya ada, tapi kontruksi bentuk, wadahnya mungkin tidak ada, itulah sebabnya kenapa muncul istilah “parargia” karena memang rujukan dimasa lalu tidak ada upaya menyatukan dua kerajaan ini menjadi satu, sebenarnya Paku Alam dengan kesultanan itu kan sama-sama kerajaan yang berdiri sendiri dan kemudian dalam konstruksi baru ini coba disatukan sebagai Dwi

(13)

303 Tunggal tadi, memang dimasa lalu tidak ada nama yang pas untuk menjadi rujukan penyatuan dua ini, apa tetapi ada praktek penyatuan ini. ini yang kemudian melahirkan istilah-istilah yang awalnya memang diambil “pengageung” ternyata “pengageung” itu sudah dipakai di Kesultanan sebagai birokrat kerajaan, kemudian ada usulan menggunakan para raja, jadi dua raja bersatu menjadi satu kesatuan, memang istilah ini kurang dikenal dimasyarakat Jogja. Kemudian dulu ada istilah “paniradiapati” itu semacam lembaga konsultatif yang dibuat oleh HB IX tetapi itu bukan institusi paniradiyapati, istilah paniradiyapatinya itu yang dipake untuk menjadi wadah untuk bersatunya dua kesatuan itu.

Saya kira itu adalah sebuah konstruksi baru yang sama padanannya kalau kiat liat kasus Aceh, dengan Wali Nanggro atau kita menemukan MRP di Papua, didalam sejarahnya Papua tidak ada MRP, tetapi kita membangun konstruksi itu. yang berikutnya hal yang penting ingin saya sampaikan dan upaya menemukan konstruksi baru adalah mencari benang merah dan juga jalan tengah antara upaya untuk menghargai satu entitas yang sudah ada dalam masyarakat menjadi suatu symbol kultural dan juga punya legitimasi social yang kuat dengan sebuah praktek politik yang berjalan sehari-hari, itulah sebabnya kenapa kemudian ada upaya untuk disatu sisi mengintegrasikan institusi kultural yang ada dimasyarakat dalam susunan pemerintahan modern, tetapi pada sisi lain melakukan pemisahan strategis, dengan tidak memasukan entitas kultural ini dalam praktek politik sehari-hari. Dengan cara seperti itulah sesunguhnya kedepan bisa membangun derajat survivalitas yang lebih panjang bagi entitas kultural itu.

Saya kita agak sulit membayangkan kemampuan untuk menyerap sebenarnya proses perubahanini secara cepat, oleh karena itu salah satu hal yang kami pikirkan adalah periodesasi transisi, sebuah kurun waktu yang bisa kita pikirkan bersama diantara bagaimana konsep yang kita bangun dalam konstruksi baru itu dalam merespon perkembangan yang terjadi, itu bisa diterapkan dengan satu persiapan yang lebih baikm dan dalam persiapan itu kita juga bisa menjelaskan, mengatur siapa yang melakukan apa, apa yang harus dilakukan dan itulah sebabnya mengapa pada draf yang diusulkan oleh jurusan Politik dan Permerintahan itu ditawarkan sebuah periode taransisi, supaya ada masa antara, supaya konsep itu bisa dicerna oleh masyarakat. Sekali lagi kami ingin menyanpaikan sikap kami keistimewaan adalah final, perlu ada pemikitan kontruksi baru tidak hanya untuk merespon masa lalu dan masa kini, tapi juga menghadapi masa depan kemudian yang ketiga yang sangat penting kita memikirkan periodesasi transisi supaya apa yang kita pikirkan itu bisa dijalankan dengan baik.

Saya kira itu Bapak Ketua dan para Anggota Komisi II dan Komite I DPD yang saya hormati. Terima kasih.

KETUA RAPAT: Terima kasih.

Sudah cukup ya, saya kira sekarang kita sudah menangkap apa pemikiran-pemikian dari para ahli kita sehingga tersusun naskah akademik da nada RUU yang diusulkan oleh jurusan Ilmu Politik

(14)

304 UGM. Sekarang pada Anggota yang terhormat, baik DPR maupun DPD saya persilahkan, yang pertama Pak Almuzamil, silahkan

F-PKS/DRS. AL-MUZAMMIL YUSUF: Terima kasih Pimpinan.

Para Anggota dan rekan-rekan dari DPD, serta nara sumber kami Prof Purwosantoso dan Pak Ari Dwipayana yang saya hormari. Saya senang sekali apa yang kita cari ke Jogja tidak ketemu dan ketemunya disini, kita di Jogja waktu itu berharap ada pemikiran-pemikiran alternative bahkan kita berharap ada dari kelompok masyarakat ada aspirasi yang berbeda disampaikan kepada kita tetapi tidak, dan kita bertemu disini dengan dan saya menangkap Pak Prof kita masih terbawa beban sebagai orang Jogja yang mungkin dianggap tidak loyal kejogjaannya, tetapi tadi menyatakan keloyalanya dengan cara yang berbeda, sebagai pendekatan akademik saya bisa memahaminya apa yang Bapak berdua sampaikan sangat tajam, cerdas, bisa meyakinkan kenapa usulan ini mucul, kenapa usulan gubernur utama ini mucul diatas tumpeng nasi goring itu dan dibawahnya gubernur seperti biasa. Saya ingin mempertajam lebih mengkritisi dalam kontek ingin mengkritisi konsep yang Bapak berdua Bapak, bukan dalam posisi untuk mendukung ya.

Pengkritisan saya yang pertama adalah kalau yang diambil contoh bahwa rekontruksi daerah itu melihat pada Aceh, Papua, kita membuat sesuatu yang baru disana, pertanyaan saya adalah bukankah rekontruksi Aceh, Papua itu karena ada background, background konflik, gerakan aktivitas merdeka dan lain-lain sehingga perlu ada ajusment, ada momentum tsunami, Papua momentumnya seperti yang kita ketahui, karena ada latar belakang seperti itu sosiologis, social, politik. Pertanyaan saya apa background kenapa Jogja harus berubah, apa ada instabilitas yang signifikan, sehingga sesuatu yang relative lebih mapan apa yang kami dengar paling tidak termasuk dari kampus UGM, masyarakat. Bahkan dibandingkan dengan kasus yang lebih menarik adalah kasus reformasi 1998 ada pakar-pakar di Jogja tenang-tenang saja. Sehingga saya sangat paham kalau merubah kepemimpinan itu menjadi sebuah pertanyaan ada apa, bagi sebagian orang tidak perlu karena tidak ada yang perlu dirubah, itu satu yang perlu saya kira perlu diperdalam sehingga relevansi perubahan itu menjadi pertanyaan, guncangan bukan menjadi penguat.

Yang kedua, ketika Prof menyampaikan pada pendekatan konstitusi, amanat konstitusi gubernur, wali kota harus dipilih secara demokratis, demokratis itu dalam UU kita itu masuk dalam pemilihan langsung tetap pasal lainnya pasal keistimewaan muncul disitu, ada bentuk mengkompromikan antara yang istimewa dan demokratis pendekatannya. Tapi ada pendekatan lain mengatakan tidak perlu dikompromikan, istimewa pada posisi istimewa itu dia eksis diatur oleh konstitusi sebagaimana DKI Jakarta memiliki wali kota yang tidak pernah dipilih oleh pemilu dan sudah berjalan, ada istimewa ada khusus, istimewa khususnya kalau untuk Jogja seperti itu, kalau untuk DKI ya gubernut yang memilih wali kota yang dikehendakinya. Ini juga sudah berjalan, pertanyaan apakah pada debat konstitusi pada amandemen yang saya ketahui pemikiran seperti ini sudah diketahui pada pasal istimewa itu, sehingga pendekatan kompromi pada sebagai pendekatan

(15)

305 akademisi sah-sah aja, ada demokrasi ada istimewa sehingga nasi diatas tumpeng itu kita katakana istimewa sedangkan yang dibawahnya demokratis tadi, tapi pedekatan yang lain tidak perlu digabungkan istimewapun punya cantolan yang sah bagaimana DKI selama ini sudah berjalan.

Saya kira itu pertanyaannya sehingga dengan cara berpikiri seperti itu, maka yang perlu kita selesaikan adalah bukan pada posisi kepemimpinan, saya setuju pada posisi tanah misalnya yang apa yang tanah ini dan tidak terlau sensitive pada posisi tanah, pada posisi kebudayaan, kultural, bagaimana pemerintah menjamin disana justeru dijaga disana pada posisi kultural itu langsung. Bahkan ketika doalog kita dengan Sultan, UU kita yang lama juga pengganti Sultan juga dijamin oleh orang-orang yang kira-kira mampu, tidak misalnya karena dia tidak sekolah karena keturunan Sultan maka muncul sebegai pengganti Sultan tidak juga harus sarjana, punya kemampuan, ada seleksi-seleksi yang manusiawi didalamnya, ketika kita mempertanyakan bagaimana kalau Sultan punya kasus-kasus hokum, Sultan tidak kebal bahkan sejah HB IX dan mereka tidak meminta kekebalan itu, silahkan saja persamaan manusia dihadapan hokum, itu juga penerapan konstitusi tidak perlu kekebalan itu, ketika kita mempertanyakan kekritisan DPRD ketika laporan rapat paripurna sudah berlangsung kekritisan itu, sehingga semua tidak ada persoalan yang tinggal saya kira mengambil mana persoalan yang harus diatur karena persoalan itu belum diatur, misalnya kasus pertanahan yang tidak terlalu sensitive saya kira, dana Negara untuk kebudayan untuk menjaga kebudayaan di Jogja, itulah sebabnya pemikiran-pemikiran yang menentang konsep pemerintah itu mucul termasuk pada kami, karena kami tidak melihat ada sesuatu yang justeru istimewanya sekarang termasuk istimewa dalam berjalan kekompkan masyarakat solidaritasnya yang Prof tadi katakana, begitu kuat, begitu kokoh.

Demikian Pimpinan. Terima kasih. KETUA RAPAT :

Terima kasih Pak Muzamil Yusuf, silahkan Pak Abdul Ghafar Patappe F-PD/DRS. H. ABDUL GAFAR PATAPPE:

Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh. Terima kasih Bapak Ketua Komisi.

Bapak Prof Bowo dan Pak Ari yang saya hormati.

Ada dua hal saja yang sampaikan dan singkat. Saya sudah baca secara seksama RUU nya, dan juga sudah medalamkan berbagai pandangan-pandangan dari pakar dan terakhir Bapak Prof, saya sesunguhnya memberikan respon, saya mendukung RUU itu dan pendapat Prof karena saya juga menganut pandangan dengan pendekatan logika saya lihat itu RUU cukup bagus bisa mengakomodir dua hal kepentingan kesultanan atau keistimewaan, kepentingan sultan dengan keistimewaan diakomodir disitu kecuali satu itu juga saya setuju dengan harapan Sri Sultan supaya jangan ada dua matahari kembar itu, jadi kalau istilah gubernur utama itu mau diganti silahkan mau pake apakan itu paradia atau istilah Sultan apa yang diinginkan oleh Sultan, karena memang kalau

(16)

306 gubernur dan gubernur utama itu tidak ada bedanya, jadi bisa ada konotasi yang kembar disitu, saya kira itu dan kalau yang lain-lain bisa mengakomodir semua kepentingan yang persis pendekatan Pak Prof tadi yang enam aspek itu. aspek demokrasi, kerakyatan, kearifan lokal, NKRI itu saya setuju.

Kemudian saya juga sama dengan Pak Prof, tentang menghargai, saya sangat menghargai keistimewaan Jogja,saya sama, ada dua aspek yang mau saya mau komntari soal Jogja selain banyak aspek, pertama Sri Sultannya, HB X menurut mata saya beliau itu sangat bijaksana, sangat arif bijaksana sebagai seorang sultan, yang kedua beliau itu punya hati yang mulia sekali terhadap rakyatnya, Sri Sultan HB kemudian budayanya, budaya Jogja saya tahu hampir seluruh budaya di Indonesia ini yang namanya birokrat yang pertama menduduki itu adalah alumni Jogja, UGM, ahli-ahli pemerintahan dari sarjanan Jogja itu semua mereka yang menjadi pamong, sampai sekarang dia menjadi kota pendidikan dan kota budaya yang kita kenal Cuma memang sedikit koreksi kemarin waktu Anggota DPR Komisi II berkunjung kesana sedikit ada “pelecehan” jadi saya lihat ada sedikit degradasi dari masyarakat, pada waktu Anggota DPR sedang bicara terutama dari Demokrat, itu agak sinis, padahal itu tidak boleh, karena kita ini DPR mau mendatangi secara terhormat mengadopsi kepada masyarakat tetapi kalau dibegitu kan ini Cuma saya dengarkan keluhan dari teman-teman.

Kemudian yang kedua Prof, ini terakhir saran saja, saran saya begini Pak, ada dua aspek, aspek pertama aspek social, aspek social itu supaya rakyat bisa , rakyat Jogja itu bisa diberikan untuk menikmati semua haknya sepanjang dia memenuhi persyaratan, contoh ada satu orang Jogja jadi Gubernur di Sumatera Utara sekarang dia pejabat, waktu itu saya berkunjung kesana saya tanya, Bapak iniorang Sumut, dia bilang bukan, saya orang Jogja. Sementara puluhan ribu rakyat Jogja yang memiliki pengetahun, kapasitas, pedidikan, professional dan sebagainya tidak ada kesempatan untuk menggunakan hak nya pada satu jabatan ini, karena tertrentu ini. jadi itu saran saya kalau bisa bagaimana supaya ada kesemptan untuk rakyat Jogja, jadi Presiden bisa, wakil bisa apa bisa, ditempat lain kenapa didaerahnya tidak bisa, ini kanlogika ini yang pertama.

Yang kedua aspek agama, aspek agama Pak Prof, didalam agama yang saya anut islam, disitu ada pesan Tuhan Allah bersumpah “Walasri” demi masa, saya wallahu bishawab, tetapi saya mengartikan itu bisa saya tambahkan pengertian demi masa ini ada dua, kehidupan di dunia dan diakhirat, keduanya beda diduni ini bercampur antara syurga dan neraka, diakhirat nanti tidak terpisah surga dan neraka, berbeda kan, itu peringatan Allah, yang kedua bisa saya artikan demi masa itu masa lalu, masa kini dan masa yang akan datang, itu semua berbeda jangan dipaksakan, kalau maaf, kalau masa lalu, masanya raja yang kuasa, sekarang masa ini rakyat yang kuasa, demokrasi kan, masa yang akan datang kita belum tahu masa apa yang akan datang hanya Allah yang tahu, untuk itu mari kita sadar semua jangan kita mau mengembalikan masa lalu sekarang, jangan kita paksakan masa sekarang ke yang akan datang tidak boleh nabi sudah pernah berpesan “didiklah anak-anakmu supaya bisa hidup pada masa yang akan datang yang bukan lagi masamu” itu semua ada anunya, ini yang kedua terakhir. Jadi untuk itu saya sendiri yang mantan birokrat dan sekarang

(17)

307 jadi Anggota saya berpegang tegus dan konsiten sama dengan Pak Prof sebagai PNS pada doktrin pada abdi Negara , abdi masyarakat bukan abdi siapa-siapa kalau kita mau bagus.

Sekian dan terima kasih. Terima kasih Pak Ketua. Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh KETUA RAPAT :

Waalikumsalaam Pak Patappe, silahkan Pak Nanang F-PD/IR. NANANG SAMODRA, KA.,M.Sc:

Terima kasih Pimpinan.

Pada Prof Purwo dan Prof Ari. Saya melihat ada paparan transparan dan ada naskah akademik, apakah ini satu kesatuan atau hal yang beda, sebab kalau dilihat dari naskah akademik ini dibuatnya atau dipublikasikannya Januari 2008 jadi dibuatnya jauh sebelum itu, suasana kenatinan pada saat menyusun ini apakah masih relevan dengan kondisi sekarang atau tidak, mohon komentar. Kemudian yang kedua saya lupa saya menyampaikan apresiasi kepada Bapak berdua karena berani tampil beda, pengalaman teman-teman yang pergi ke Jogja kemarin kelihatannya mencari yang beda tidak akan ketemu jadi saya menyampaikan apresiasi untuk itu. kemudian pertanyaan berikutnya adalah dari sisi historis politik kebetulan saya lahir di Jogja dan dibersarkan di SD Paku Alaman, saya tahu persis kehidupan disana, seingat saya Sultan HB X itu tidak mempunyai permaisuri berarti juga beliau tidak punya putera mahkota, dari kacamata ilmiah bisakan ini kita artikan sebagai sinyal bahwa Sultan HB tidak ingin kelanjutan kerajaanya lagi pada masa-masa pasca beliau, kemudian yang berikutnya dalam aflikasi pemerintahan sehari-hari, saya juga pernah juga jadi birokrat dan sering melakukan rapat-rapat di Jogja dulu saya jadi staf nya Pak Harun, dalam rapat-rapat tadi dialog dan diskusi itu biasanya hanya sampai pada tingkat kepatihan begitu masuk ke jenjang yang lebih tinggi untuk diskusi dan dialog sudah tertutup dan disitu para hadirin yang ikut hadir dalam ruangan itu hanya menyatakan “injih-injih” bahkan yang termasuk terpelajarpun ngomongnyapun seperti itu. ini mohon komentar.

Yang terakhir, ingin komentar mumpung ada para ahli, pakar mengenai pemerintahan mengenai demokratisasi di Indonesia, kalau kita menengok ke tetangga di Philipina disana sangat demokratis, jadi pada tigkat kepala desa itu sudah lebih hebat dari kita tetapi negaranya tidak maju-maju, kemudian kita di Indonesia tetap mengacu ke Jogjakarta kita katakana “demokrasi di Jogja terbatas” bahkan masyarakat juga “ menginginkan” kepala daerah ditetapkan langsung, dari sisi lain dilihat dari indek pembangunan manusia, Jogaj termasuk yang tertinggi nomor satu atau dua, berarti apakah model yang itu cocok di Indonesia atau ada pendapat yang lain.

Terima kasih. KETUA RAPAT :

Terima kasih Pak Nanang Samudera, untuk diketahu saja beliau bekas Sekda di NTB, sekolahnya di Jogja, jadi masih ada nuansa Jogjanya masih ada. kemudian silahkan Pak Fauzan Sya’ie

(18)

308 F-PAN/DRS. FAUZAN SYAI’E:

Terima kasih Pak Ketua.

Assalamu’alikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Rekan-rekan Komisi II dan Bapak dan Ibu Anggota DPD yang kami hormati dan Para pakar Pak Ari dan Pak Purwo. Sama seperti kawan-kawan terdahulu bahwa naluri keilmuan Bapak berdua lebih diutamakan dari pada posisi bagaimana menyenangkan pihak-pihak tertentu yang mayoritas tentunya menginginkan bahwa Sri Sultan itu ditetapkan seumur hidup sebagai Gubernur untuk DIY, jadi rasa salut itu tentunya saya ingin dari Pak Purwo maupun Pak Ari bahwa kajian ini diungkapkan pada posisi dua sisi, yang pertama andaikan gubernur Jogja ini otomatis dengan segala argumentasinya berkembang baik dari yang memang menginginkan posisi itu maupun dari pakar, hal demikian ini disandingkan dari sisi bahwa ini seperti bapak katakana kita tetap mengangkat, menghormati dan memberikan kekhususan tapi khusus untuk jabatan gubernur sama dengan posisi gubernur-gubernur yang lain. Dari sua sisi ini tentunya nanti akan ketemu dimana nilai lebih ditinjau dari kepertingan sehingga ini ada keseimbanga, di Komisi II ini akan mempertimbangkan segala aspek. Yang kedua andai ini ditawarkan jalan tengah seperti yang diangkat Bang Buyung, ada masa transisi dan UU ini belum final maka diberikan jabatan 5 tahun kedepan, yang kita proyeksikan ada kejenuhan sepeti di Timur Tengah, masyrakat bisa menginginkan mode baru, kesempatan masyarakat jogja sehingga mungkin pada keadaan tertentu, kemarin kita tanyakan ke Sultan tidak diajawab, ini adalah aspirasi dan keinginan mayoritas, kalau pada masa tertentu masyarakat menginginkan ini, kira-kira antisipati tawaran yang Bapak berikan seperti apa, sekedar demikian. Terima kasih.

Wassalamu’alikum Warahmatullahi Wabarakatuh KETUA RAPAT:

Terima kasih Pak Fauzan, saya pindah dulu ke DPD ini, Pak Paulus sudah menunggu-nunggu, silahkan Pak Paulus

KOMITE I DPD RI / DRS. PAULUS YAHONES SUMMINO, MM: Terima kasih.

Pak Ketua dan Wakil Ketua, Bapak Anggota DPR yang saya hormati dan para narasumber yang saya hormati.

Pertama saya tertarik bahwa pemikiran akademis Prof untuk tujuan menempatkan posisi Sultan dan Sri Paku Alam dalam posisi terhormat dan kewenangan untuk mengurus keistimewaan, tapi tidak dilibatakan dalam politik keseharian, tapi setelah saya mencermati uraian dibawah saya melihat disini Prof gagal menarik alurnya, karena juga melihat bisa suatu saat terjadi “matahari kembar” dan untuk mencegah itu maka akan diberikan kewenangan calon gubernur untuk disetuji pihak keraton, masalahnya disini yang tidak akan dijamin disini adalah calon gubernur itukan diaukan partai politik ketika dia dicalonkan dan yakin akan menang mana dia mau tunduk sama Sultan kan tidak mungkin, untuk disetuji atau tidak, dimana letak kewenangannya, disinilah konsep ini tidak punya

(19)

309 tujuan. Yang kedua masalah keberatan bahwa Sultan dan yang sekarang juga sebagai Gubernur menyanang kewajiban mengurus kesejahteraan, kalau dilepaskan kewenangannya maka tidak mengurus kesejahteraan lagi karena keseharian diurus oleh gubernur maka disinilah sebenarnya hilangnya predikat-predikat selama ini disandang oleh Sultan, disinilah terjadi kegoncangan buat Jogjakarta, ini alurnya juga gagal, ketika Prof juga melihat bahwa kemampuan Jogjakarta menjadi unggul sekarang ini dalam beberapa hal misalnya kemarin dalam menghadapi gempa itu situasi yang datang dari pengaruh kepemimpinan Sultan, sehingga saya kaitan untuk melakukan pembaharuan untuk Jogja pertanyaan saya apakah pembaharuan itu sekrang dibutuhkan dan relevan? Untuk mengahasilkan apa pembaharuan itu nantinya.

Pertanyaan saya ini menghawatirkan kalau muncul pembaharuan itu dalam kontek mana akan mengahasilkan apa, apa melihat ada indikasi Jogja berbahaya untuk NKRI, jadi ini pemikiran yang perlu dikritisi untuk melihat secara baik apa yang telah diajukan Prof berdua. Berikutnya alur masih tetap sama tadi kita melihat disini memang kalau kita melihat keistimewaannya dimissalkannasi kuning istimewa dan terletak pada atas yang ditumpangkan itu memang keistimewaan terlepas pada substansinya yang kuning dan merah, biru, putih terpisah, keistimewaan terpisah dari pada masalah pokoknya, jadi disini mengindetifikasikan bahwa keistimewaan tidak mencakup suksesi gubernur ini jelas dipisahkan, disini perlu dikritisi sementar secara ril yang kami dengar rakyat Jogja menganggap salah satu bentuk keistimewaan adalah penetapan Sultan dengan menjadi gubernur, kemudian disini saya tidak melihat kajian tentang hostoris, bahwa pasal 18 UUD 45 yang mengkontruksi adanya daerah khusus dan daerah istimewa pada saat dibentuk nya UU itu dirumuskan UU Itu karena memang ada Aceh, Jakarta, ada Jogja pada saat itu kontruksi untuk itu menunjuk pada sejak lahirnya Negara NKRI sejak dirundingkannya sejak dikomitmenkannya mebangun Negara sudah didirakan dalam kontruksi dasar ini tentang keistimewaan Jogjakarta dan konsekuenasi dari komitmen nasonal itu melanjutkan tradisi pemerintahan di Jogjakarta, dengan dirumuskan dengen UU keistimewaan tetapi fakta adalah salah satu keistimewaan yang termasuk dalam tradisi itu adalah Sultan dan Sri Paku Alam sebagai gubernur dan wakil gubernur sebagai kepala daerah dan wakil kepala daerahnya. Saya tidak melihat kajian itu menyentuh ke aspek itu.

Terima kasih saudara Ketua KETUA RAPAT:

Terima kasih Pak Paulus, silahkan lebih lanjut I Wayan KOMITE I DPD RI/ I WAYAN SUDIRTA, SH:

Terima kasih.

Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh. Salam sejahtera buat kita semua.

Om Swastiastu.

Untuk kesekian kalinya juga kami harus menghargai argumen dan kesimpulan yang sangat-sangat masuk akal, problem yang ada dalam pikiran saya adalah soal poilihan, terlebih dahulu saya

(20)

310 ingin menggarisbawahi dengan contoh yang sederhana, di beberapa daerah ketika dahulu kala kepala daerah belum dipilih darah-darah tertentu kepala daerah itu disebut “bekal perbekel” kita pasti ingat benar bagaiman mereka berwibawa, gampang menyelesaikan masalah, gampang didengar kata-katanya penuh keujuran bahkan pada waktu itu tidak bergaji, kantornya dirumah dan surat-surat yang kita buat selalu gratis. Belakangan setekah kepala daerah dipilih, digaji dan berlomba-lomba orang ingin menjadi kepada desa bisa kita lihat didesa banyak persoalan yang ditimbulkan kepala desanya sendiri, dengan demikian pentingkah kepemimpinan di desa-desa itu dan proses da nasal-ususl kenapa dia duduk, kalau kita sandingkan dengan keistimewaan jogja Pak Prof sudah menyebut soal pertanahan dan saya melihat kalau memang keistimewaan itu masih penting dipertahankan bukankah yang paling penting itu adalah kepermmpinanya, karena kepemimpinan setelah kami turun selain contoh-contoh yang disebutkan Pak Paulus tadi banyak sekali kasus konflik antar kelompok ketika Sultan turun selsai saja, oleh karena itu bukankah yang paling penting kepemimpinan ini yang perlu kita garisbawahi dalam rangka menjaga keistimewaan Jogja. Dan kalau misalnya demokratisasi yang kita tekankan, kira-kira apa kuranya kalau ada survey yang menginginkan penetapan kemudian ada DPR yang menginginkan penetapan dan dengan segala hormat menghargai Pak Prof dan Pak Ari, kebetulan ketika kami ke UGM juga suaranya sama sayang waktu itu Pak Prof tidak diberikan kesempatan hadir tapi Pak Ari hadir, tapi yang saya tangkap waktu UGM juga menginginkan penetapan, dengan demikian dari segi demokratisasi bukankah penetapan itu sesuatu yang demokratis juga kalau itu dikehedaki oleh sekian banyak unsur.

Tidak bermasud beradu argumentasi saya ingin sajikan data dan beberapa informasi Pak Prof dan Pak Ari pertama-tama tentang 18 B setelah saya liat-liat lagi ada dua argumen ternyata dikaitkan dengan Pasal 18, argumen pertama mengatakan lex spesialis, argumen kedua justeru pasal itu berdiri sendiri, dan kalau dilihat dari kedua aspek ini dikaitkan dengan dua putusan MK tentang DKI dan Papua maka Jogja kelihatannya boleh juga masuk lewat pintu itu, Papua juga kan minta kekhusan, janganlah yang jadi gubernur itu bukan orang asli dan itu tidak salah dan kalau sekarang rakyat papua dari etnis Bali, Jawa mengatakan dan itulah pasal 18 b masuk untuk itu dan itulah masuk konstitusi. Jadi kalau memang kebhinekaan tetap kita jaga janganlah segala sesuatu kita sama ratakan, tentu saja hal ini harus didukung oleh hal yang tidak sembarangan seperti yang saya katakana tadi.

Yang kedua masa transisi, Bang Buyung sudah pernah membicarakan ini dan Pak Kristiadi, ternyata tiba-tiba pendapat kami dan temen-temen di DPD tidak beda dasarnya bahkan tidak mustahil pendapat kami dengan Pak Prof ini juga tidak beda kalau dilihat dari masa transisi, cara pandanganya saja orang berbeda, ketika saya tanyakan ke Pak Kristiadi itu mohon maaf, karena kami hanya menyaikan data “kenapa hari ini mereka menginginkan penetapan dan Sultan jadi gubernur” pasti alasannya benar karena orang-orang UGM, Jogja itu orang-orang pintar, percaya Pak Kristiadi kalau Sultanya tidak sebagus sekarang kelak kalau pemilihan gubernur sudah demokratis dan tidak menghasilan gubernur yang korup dan perkembangan masyarakat Jogja juga sudah berubah

(21)

311 bukankan yang menjadi gubernur itu tida mesti sultan karena sultan selalu mengatakan tahta itu untuk rakyat, rakyat selalu didengar oleh Sultan kemana arah Jogja ini akan digerakan.

Jadi dengan demikian jikapun kali ini kita menetapkan tanpa masa transis dalam UU Ini bahwa gubernur Jogja dipilih tanpa ada transispun kalau masa transisi itu kita bungkus 5 Tahunan, kalau perubahan masyarakat Jogjakan dinasmis bisa 2 Tahun, 3 tahun tidak harus 5 Tahun maka lebih baik masa transisi yang memberi ukuran tertetntu seperti 5 Tahun ini kenapa kita lebih baik memasyarakatkan bahwa setiap saat UU itu bisa dirubah, jangan UU, UUD saja bisa durubah, maka dengan demikian kita tidak hawatir kelak rakyat Jogja akan terus menerur menerima sesuatu yang dia tidak sukai. Para pemimpin yang tidak dia sukai pasti tidak mau.

Memang kalau ingin kesultana ini dirwat penting sekali ada tanah yang menjadi milik Sultan selain untuk merawat sepanjang tidak mengabaikan fungsi-fungsi social yang ada selama ini, jika dalam UU ini diperlukan pertaturan macam apa yang bisa Profesor berikan pada kita sebagai pendapat danpegangan agar tanah kelak setelah menjadi milik Sultan sebagai badan hokum fungsi sosialnya itu tidak berubah, karena sampai hari inikan setiap butuh tanah untuk kantor pemerintah tidak ada masalah, untuk kantor militer tidak ada masalah, bahkan beberapa masyarakat yang mensertifikatkan, kalau BPN mensertifikatkan Sultan tidak pernah protes, saya hanya ingin ini tidak berubah, jadi ada tanggugjawab kita kalau ada badan hokum rambu-rambu apakah menurut program Pak Ari yang perlu kita buat, jangan gara-gara menetapkan sekarang menjadi badan hokum justeru nanti masyarakat terkekang hak-haknya dan berubah seperti yang selama ini mereka peroleh.

Terima kasih. KETUA RAPAT:

Terima kasih Pak I Wayan Sudhirta selanjutnya Pak Jhon Pieres KOMITE I DPD RI / Prof. JHON PIERES:

Terima kasih Pak Ketua.

Pak Budi dan Pak Ari yang saya hormati. Memang kita menemukan perspektif yang sedikit berbeda dengan forum rektor dan dosen-dosen UGM yang kita datangi sebelum kunujungan besama dengan DPR, DPD juga melakukan diskusi dengan forum rektor di Jogja, justeru perbedaan itu memperkaya perspektif kita untuk menyusun sebaik-baiknya dan membahas RUUK DIY secara lebih baik dari pada draf yang disediakan pemerintah sekalipun yang disediakan pemerintah itu juga disiapkan oleh para pakar tetapi mungkin disana-sini saya akan setuju dengan bebepa perspektif yang dikemukan oleh dua pakar ini tetapi ada yang berbeda dan justeru perbedaan ini yang atau konflik pemikiran itu membuat saya tercerahkan, saya pribadi menyukai itu.

Ada empat poin yang saya garis bawahi, kita menemukan dengan kata lain system pemerintahan lokal itu melekat pada masyarakat yang kedua system hokum adat ada hokum pertanahan, yang ketemu kita di Bantuk adalah kepala BPN sangat setuju system hokum pertanahan di Jogja itu menggunakan system hokum adat, dan BPN hanya sebagai Tim asistensi, jadi BPN sebagai symbol Negara itu memposisikan sebagai Tim asistensi. Selain sudah baik juga. Kemudian

(22)

312 keistimewaan itu pada struktur masyarakat, saya lihat ada di Bali dan Jogja dan saya rindu suatu waktu otonomi khsusus, kita disana di Bali kita liat upacara adat, tiada hari tanpa upacara, ini untuk kita ingatkan ,sejarah itu jangan dipisah-pisahkan, sejelek apapun kita belajar dari sejarah. Jadi keistimewaan ini jadi paradigma politik dan social. Maka Sultan dan Paku Alam dakam kontek hokum dan tata Negara memiliki original power,kekuasaan yang original oleh karena tanahm daerah itu milik mereka, tadinya itu kan Negara, Negara itu milik mereka. Untuk Brunei Darussalam bukan diwilayah kita, kita dari sana dan seluruh keluarga itu ada mobil, mereka tahu kalau bergabung dengan Indonesia pasti melarat, lebih baik Negara sendiri. Jadi original power yang dimiliki itu tidak bisa dinapikan ada wibawa politik yang luar bisa, dan ternyata memang beliau sendiri tidak menunjukan dan beliau yang mengatur dan pakai pakaian yang bisa saja, jadi tidak perlu dikhawatirkan beliau itu seorang monarki, bapak lebih tahu dari saya dan apakah merugikan bangsa ini secara keseluruhan tidak ada, justreu dia memberikan saham yang besar secara historis. Oleh sebab itu dinamakan keistimewaan. Soal pertanahan mereka tidak akan menguasi itu semua, jadi saya melihat itu yang saya tekuni kalau Pasal 18 B itu, itu sumber hokum utama Pak, untuk melahirkan UU otonomi khusus dan bersifat istimewa pemikiran kitra semua termasuk pemikiran Bapak-bapak semua harus bersumber daro situ untuk melahirkan norma-norma hokum pada level UU dan PP dan Perda. Dia tidak bisa ditafsirkan terlalu jauh, kalau terlalu jauh pemerintahan ditafsirkan dalam bidang politik berbahaya Pak. Apa yang dikatan Danie Leps misalnya dalam desertasi, karena dia desertasinya mengenai kekuasaan kehakiman di Indonesia,mengatakan “ketika politik merasuk hokum, rusaklah disitu” dan dia mengatakan Indonesia sangat gandrung disitu, politik masuk ke hokum kita lalu hancur system hokum di Indonesia.

Yang terakhir penepatan adalah konsep demokrasi original karena rakyat menginginkan itu. Terima kasih Pak Katua

KETUA RAPAT :

Terima kasih Profesor Jhon Perres, perlu saya dari awal tadi saya ingin menyebutkan siapa Profesor DR Purwosantoso ini bersama kita, beliau ini adalah lahir di Jepara 1963, kemudian pendidikan beliau Drs dari Fisipol UGM, S2 dari SunMerry University Canada, Bsc dari London School of Economik, saya kira ini sekolah yang teruji kemudian riwayat karir beliau kepala jurusan Ilmu Pemerintah, kemudian wakil Dekan Fisipol kemudian Ketua Program Studi Pasca Sarjana Ilmu Politik UGM, dan Pak Ari, ini AA saya curiga ini Anak Agung ini memang dari Bali, beliau sekarang kandidat S3 UGM dan S1-S2 nya di UGM, sekarang beliau dosen S2 Ilmu Politik UGM dan Dosen Ilmu Pemerintahan di UGM, saya kira itu kelahiran Bali, 24 Februari Tahun 1972 masih muda, dan Pak Purwo kelahiran 4 Februari 1963. Kalau dibandingkan saya sangat muda, kalau saya 47 dari generasi. Saya teruskan Pak Rusli Ridwan silahkan

F-PAN/DRS. H. RUSLI RIDWAN, M.SI: Terima kasih Pimpinan.

(23)

313 Yang saya hormati para narasumber. Yang sering kita dengar bahwa demokrasi itu harus mendengar suara rakyat begitukan, suara rakyat ini sering kita dengar bisa melalui referendum, bisa juga melalui survey, bisa juga melalui pernyataan sikap dari partai-partai politik dari fraksi bahkan dari DPR, suara rakyat ini pernah didengar juga dalam penetapan HB menjadi gubernur sejak peristiwa pernyataan sikap HB X itu kemudian jadilah dia kepala daerah, melalui pernyatan sikap itu. kemudian kalau ini dijadikan sebuah konvensi, hanya saja mucul sebuah kegamangan dalam diri saya untuk ada jalan keluar untuk pintu masuknya menghadapi sebuah persoalan, ini bagaimana kalau seandainya gubernur yang sudah dinyatakan sikap dan itu sebuah proses demokrasi kemudian muncul sang gubernur tidak memnuhi syarat, sultan tidak memenuhi syarat atau berhalangan tetap, atau juga ini yang saya katakana muncul konflik internal, mungkin saja dikerabat kesultanan muncul konflik diantara mereka, dipaku alaman muncul juga ada koinflik bagaimana menyelesaikan soal ini. mungkin ada jalan yaitu melalui Plt, sultan pernah mengatakan serahkan kepada pemerintah dan pada rakyat, pemerintah mengangkat dan karena ada konflik tidak memenuhi syarat, muculanh Plt, pertanyaan saya mau berapa lama Plt itu. kemudian saya meilhat kegamangan terakhir yang saya amati sekarang ini itu merupakan kultus, jangan-jangan karena hebatnya HB X yang luar biasa dikagumi dan kemudian muncul kultus, pertanyaannya apakah ada jaminan HB XI-XII seperti yang sekarang apa juga pintu masuk menyelesaikan persoalan ini.

Terima kasih. KETUA RAPAT :

Terima kasih Pak Rusli Ridwan, singkat jelas ya, selanjutnya Pak Hermanto, silahkan F-PKS/HERMANTO, SE.,MM:

Terima kasih Pimpinan.

Yang terhomat Ketua Komisi beserta Pimpinan dan Anggota Komisi II, serta Anggota DPD dan Profesor. Saya merasakan adanya suatu informasi yang melengkapi pemikiran-pemikiran saya tentang keistimewaan Jogjakarta ini, ketika ada teman-teman tentang konstruksi baru memang kita pastikan bahwa apapun juga kita didunia ini pasti ada perubahan, sehingga bagaimana mengkontrusikannya sehingga memberi manfaat kesejahteraan bagi kehidupan umat manusia khusus adalah untuk Jogjakarta. Ketka kami Komisi II bekunung ketika kami berdialog dengan elemen masyaralat disana, kita menemukan banyak sekali keistimewaan-keistiewaan kultur di Jogja itu mulai dari yang santrian sampai kepada secara eksplisit mengatakan sampai yang “tidak punya Tuhan juga ada disitu” jadi sungguh luar biasa Jogja itu dan itu semua terayomi, oleh Sultan yang kita anggap Sultan ini arif, santun dan karena perilaku seperti inilah semua bisa diterima sampai kepada orang yang tidak punya “Tuhan” pun bisa berkumpul itu aneh pula buat kita saya juga jadi termangu-mangu mereka mengatakan ada perkumpulan seperti itu dan sudah sebagai satu kultur juga disitu, apakah ini suatu bentuk keistiewaan yang ada di Jogja dari segi kultur pola hidup tadi. Ini apakah ini tidak bertentangan dengan pancasila kita, saya ingin pula dari keistimewaan kultur juga saya ingin sesuatu yang definitive, terklarifikasi dengan jelas, walaupun debat kita ini banyak pada masalah-masalah

(24)

314 kepermimpinan yang seolah-olah kultur yang seperti ini belum kita perdalam seperti apa ini, saya ingin membayangkan kalau sekiranya elemen-elemen itu hidup dan dia berkembang, lalu bagaimana dengan mainstream kehidupan kita Indonesia.

Dalam perspektif social politiknya itu mau diapakan kelompok seperti ini ketika kita menata Jogja seperti itu. yang selanutnya tadi disebutkan masa transisi, saya ingin tahu model transisi itu seperti apa, apakah memang ini akan kita seperti yang di RUU ini kita mau transisikan, ada gubernur utama, ada gubernur atau tetap kita katakana transisi ini seperti yang sekarang ini lalu batas waktunya seperti apa dan apa yang mesti kita bangun pada masa transisi itu, saya setuju kita tidak melakukan perubahan yang radikal, artinya perlu ada perubahan yang secara gradual yang dia juga bisa memastikan hak-hak untuk masyarakat bisa mendapatkan peluang-peluang ke eksekutif, sebagaimana juga sebagai suatu tradisi demokrasi modern itu memberi peluang semua masyarakat, manusia yang ada disitu berada pada suatu akses kepemimpinan. jadi saya melihat bahwa sebagai Profesor ada pengetahuan yang saya melihat luar biasa membca phenomena ini saya ingin suatu rumusan tentang pasal ini memiliki jangkauan waktu yang sayang luas, panjang. Seingga nanti aturan-aturan ini bisa diterima oleh baik dari pemerintah maupun masyarakat dan kesultanan Jogja, saya juga salut pada profesor ketika mainstream di Jogja itu begitu cukup kuat tetapi Profesor itu memiliki suatu mainstream yang baru dengan itupun juga dengan rasa cinta, ini adalah suatu yang luat biasa, Cuma sayangnya kalau suasana Profesor dalam mensosialisaikannya dalam suatu ruang yang terbatas saya pikir nanti pemikiran semacam ini juga infolusif, saya ingin gagasan semacam ini juga harus solutif sehingga diraskan sehingga masyarakat itu tercerahkan, kurang lebih begitu Prof.

Demikian. KETUA RAPAT :

Terima kasih Pak Hermanto, memang ketika kita berkunjung ke Jogja kita mengharapkan ada pandangan-pandangan lain dan kita mengundang juga supaya diundang yang mempunyai pendapat lain begitu. Tidak ada itu samapai di Gama itu juga begitu, saya tidak tahu Bapak-Bapak ini ada dimana, padahal kita undang supaya datang juga yang membuat naskah akademik pada saat pertemuan di Gama, tapi tidak ada, kita juga bingung bagaimana Jogja ini. Pak Ari ada yaa..silahkan lebih jauh dengan Pak Prof, masih ada silahkan dulu Pak Harus Alrasyid, silahkan

F-GERINDRA/DRS. H. HARUN AL-RASYID, M.SI: Terima kasih Pimpinan.

Para narasumber dan teman-teman sekalian.

Saya teringat waktu dikepatihan dan di Sleman pada waktu dan mungkin salah satu orang yang mengkritisi pada saat itu dan malah saya di Sleman bikin ceramah, karena kalimat-kalimat Huuuu..yang begitu keluar itu terpaksa saya berdiri walaupun akhirnya dikepatihan juga ada Sultan saya katakana pada waktu itu mendukung yang banyak itu pasti ada yang tidak mendukung, kenapa tidak diundang dan dimana kita harus dapatkan orang itu , memang tidak ada tanggapan dan jawaban, namun demikian kehadiran Bapak pada hari ini juga satu pemikiran pula saya ingin

Referensi

Dokumen terkait

Mulai mengomunikasikan kepada pimpinan atau rekan-rekan kerja tentang masa cuti yang akan diambil dan rencana menyusui saat bekerja sehingga ibu membutuhkan waktu dan

1. a.) Berdasarkan analisis eksperimen, variasi penambahan serat bambu memiliki pengaruh terhadap kuat lentur beton ringan, namun hasil yang didapatkan tidak

Peraturan Pemerintah Nomor 37 Tahun 2007 tentang Pelaksanaan Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2006 tentang Administrasi Kependudukan (Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 80

PT Bank Muamalat Indonesia memiliki bidang usaha yang hampir sama dengan bidang usaha Bank umum pada umumnya yaitu menghimpun dana dari masyarakat melalui sarana

Upaya yang bisa dilakukan guru di antaranya adalah guru harus bisa memberi motivasi kepada siswa agar bisa menerapkan faktor kebahasaan dan faktor nonkebahasaan dalam

Data (27) kata one heart yang memiliki arti satu hati , yang dimaksudkan bahwa sesuai dengan logo iklan Honda yang berlambang hati, maka dari itu penggunaan bahasa

ang mana rancangan faktorial adalah suatu tindakan terhadap satu variabel atau lebih yang dimanipulasi secara simultan agar dapat mempelajari pengaruh setiap variabel terhadap

Apabila perbuatan tersebut memenuhi semua unsur yang terdapat di dalam rumusan suatu delik. Delik ialah delik formil atau delik dengan perumusan formil, yaitu