DINAS PENDIDIKAN PROVINSI PAPUA
Yogyakarta, 18 SEPTEMBER 2017
KONDISI UMUM PENDIDIKAN
DI PROVINSI PAPUA
CAPAIAN TARGET RPJMD PROVINSI PAPUA 2014 - 2018
BIDANG PENDIDIKAN
Indikator Sasaran
RPJMD Papua 2014
-2018
Capaian
Kinerja
Tahun 2014
Capaian
Kinerja
Tahun 2015
Capaian
Kinerja
Tahun 2016
Angka Harapan Hidup
saat Lahir (AHH)
64,84
65,09
65,12
Harapan Lama sekolah
(HLS)
9,94
9,95
10,23
Rata – Rata Lama
Sekolah (RLS)
5,76
5,99
6,15
DINAS PENDIDIKAN PROVINSI PAPUA
0,00 10,00 20,00 30,00 40,00 50,00 60,00 70,00 80,00 90,00 100,00
Mimika Nabire Paniai Dogiyai Deiyai Intan Jaya IPM 70,40 66,25 53,93 52,25 48,12 43,51 AMH 100,00 99,22 72,92 91,76 80,47 52,99 RLS 9,30 9,45 3,74 4,87 2,95 2,32
Mee Pago
IPM, AMH, IPM 3 kabupaten DOB di Kawasan Me-Pago
sangat rendah.
GERBANGMAS HASRAT PAPUA
Kab. Dogiyai, Kab.Deiyai dan Kab.Paniai : 4 PAUD 4 SD 2 SMP
Keterangan : Tutor PAUD GERBANGMAS magang di PAUD Sentani PAUD –SD KECIL BERBASI
BAHASA IBU
Kab.Deiyai (Kurikulum bahasa Mei)
KKN Prcepatan Tuntas Buta Aksara :
Kab.Deiyai, Kab Dogiyai, Kab. Paniai,( KPG Nabire)
SMA Unggulan Berpola Asrama Untuk Oap
Di Kab.Nabire SMK UNGGULAN di Kab.Dogiyai,Kab.Nabire
IPM, AMH, IPM hampir seluruh kabupaten DOB
di Kawasan La-Pago sangat rendah.
GERBANGMAS HASRAT PAPUA Kab. Lanny Jaya,Kab. Tolikara,Kab.P. Jaya,Kab.Yalimo, Kab.Peg Bintang Kab.Yahukimo :
4 PAUD 4 SD 2 SMP Keterangan : Tutor PAUD GERBANGMAS magang di PAUD
YKW Wamena
PAUD –SD KECIL BERBASI BAHASA IBU
Kab.Lanny Jaya kuyawage13 Paud (Kurikulum bahasa Lanny
KKN Prcepatan Tuntas Buta Aksara :
Kab.Lanny Jaya, Kab Tolikara, Kab.Yalimo, Kab.Yahukimo, Kab.Pegbintang ( STIKIP YKW,STT
GKI, STT GIDI dan STT WALTER POST)
SMA Unggulan Berpola Asrama Untuk Oap
Di Wamena SMK UNGGULAN DI PUNCAK JAYA, TOLIKARA
DAN Peg.Bintang 0,00 10,00 20,00 30,00 40,00 50,00 60,00 70,00 80,00 90,00 Jayawij aya Puncak Jaya Tolikara Yahuki mo Lanny Jaya Peg Bintang Puncak Mamten g Yalimo Nduga IPM 53,37 44,32 45,68 46,36 43,28 39,68 38,05 43,19 44,21 25,38 AMH 79,11 80,98 68,15 59,23 59,19 55,58 41,17 49,30 69,10 37,97 RLS 4,39 3,04 3,04 3,97 2,60 1,97 1,43 2,40 2,07 0,63 La Pago
Kab. Waropen memiliki performance terendah di
Kawasan Saereri
GERBANGMAS HASRAT PAPUA Kab. Supiori
Kab.Waropen : 4 PAUD 4 SD 2 SMP Keterangan : Tutor PAUD GERBANGMAS magang di PAUD
Kasih Mama Jayapura
PAUD –SD KECIL BERBASI BAHASA IBU
Kab.Waropen (Kurikulum bahasa Waropen)
SMA Unggulan Berpola Asrama Untuk Oap Di Kab.Biak Numfor SMK UNGGULAN DI Kab.Biak Numfor, Kab.Kep.Yapen 0,00 10,00 20,00 30,00 40,00 50,00 60,00 70,00 80,00 90,00 100,00 Biak Numfor Kep Yapen Supiori Waropen IPM 70,32 64,89 59,70 61,97 AMH 100,00 98,65 100,00 100,00 RLS 9,61 8,68 8,11 8,53 Saereri
Kab. Memberamo Raya memiliki RLS terendah di
Kawasan Mamta
GERBANGMAS HASRAT PAPUA Kab. Keerom
Kab.Sarmi :
4 PAUD 4 SD 2 SMP Keterangan : Tutor PAUD GERBANGMAS magang di PAUD Kasih Mama
Jayapura
SMA Unggulan Berpola Asrama Untuk Oap
Di Kab.Jayapura
SMK UNGGULAN DI Kab.Jayapura,Kota Jayapura, Kab.Keerom
PAUD –SD KECIL, Posyandu, Life Skill dan Taman Bacaan BERBASI BAHASA IBU
Kerjasama PKK
Kab. Jayapura (Kurikulum bahasa Sentani) 0,00 10,00 20,00 30,00 40,00 50,00 60,00 70,00 80,00 90,00 100,00 Kota Jayap ura Jayap ura Sarmi Keero m Mamb Raya IPM 77,86 69,55 60,48 62,73 47,88 AMH 100,00 100,00 97,98 97,85 86,53 RLS 11,09 9,41 7,89 6,57 4,44
Mamta
3 Kabupaten DOB memiliki kinerja terendah di Kawasan
Ha-anim
GERBANGMAS HASRAT PAPUA Kab. Boven Digoel,
Kab.Mappi :
4 PAUD 4 SD 2 SMP Keterangan : Tutor PAUD GERBANGMAS
magang di PAUD Sentani
PAUD –SD KECIL BERBASI BAHASA IBU
Kab.Boven Digoel (Kurikulum bahasa
Maren)
KKN Prcepatan Tuntas Buta Aksara :
Kab.Mappi, Kab Boven Digoel, Kab.Asmat,( KPG Merauke dan
STIKIP Katolik Waena)
SMA Unggulan Berpola Asrama Untuk Oap
Di Kab.Merauke SMK UNGGULAN DI Kab.Merauke, Kab.Boven Digoel 0,00 20,00 40,00 60,00 80,00 100,00 Merauk e
Asmat Mappi Boven Digoel IPM 67,33 45,91 55,74 58,21 AMH 99,62 81,46 95,47 100,00 RLS 8,23 4,34 5,96 7,50
PERATURAN GUBERNUR PAPUA No 32/2014
TENTANG PENGGUNAAN DANA OTSUS
BIDANG PENDIDIKAN
Alokasi Dana untuk kabupaten dg orientasi pada akses/mutu
Komponen Program
Akses Mutu
PAUD Non Formal dan Formal
5%
5%
Wajar Dikdas 9 Tahun SD
35%
32%
Wajar Dikdas 9 Tahun SMP
25%
25%
Sekolah Menengah Atas
10%
15%
Sekolah Menengah Kejuruan
5%
10%
Pend. Non-Formal & Informal
10%
3%
Pendidikan Tinggi dan Pendidikan lain bidang
pendidikan yang sesuai
Penyediaan PAUD terintegrasi SD Kecil, Posyandu dan
Life skill
percontohan di Kabupaten GERBANGMAS
HASRAT PAPUA
• Mengembangkan model PAUD terintegrasi
SD-Kecil, Posyandu dan life skill di
kabupaten-kabupaten Gerbangmas Hasrat Papua, Kerjasama
antara Tim Penggerak PKK Provinsi Papua dan
Dinas Pendidikan Provinsi Papua.
ISU STRATEGIS-TK
1. Rata-rata setiap TK di Papua melayani 2 kampung. Meski
demikian, pada kabupaten pemekaran di La-Pago, kondisi
ketersediaan TK per kampung sangat rendah.
2. Pendidikan (kualifikasi) guru dan tutor jenjang PAUD di
Papua 75% diantaranya masih pada jenjang SMA kebawah
3. Dukungan pendanaan untuk PAUD masih rendah dan
belum dianggap prioritas oleh pemerintah kabupaten,
sehingga sangat tergantung pada kinerja penyelenggaraan
pendidikan oleh masyarakat
KEBIJAKAN - TK
1. Memberikan jaminan ketersediaan anggaran Otsus 5%
dari 30% alokasi untuk bidang pendidikan dari 80%
bagian kabupaten/kota
2. Peningkatan kompetensi pendidik TK melalui pelatihan
dan magang
3. Penyediaan percontohan pengelolaa PAUD terstandar di 16
kabupaten Gerbangmas Hasrat Papua
4. Kerjasama dengan Kementrian Pendidikan, TP PKK
Provinsi Papua dan TP PKK kabupaten dalam percepatan
penyediaan layanan akses PAUD di tingkat kampung
STRATEGI PERCEPATAN
1. Penyediaan
paket
modul
penyelenggaraan
PAUD
terintegrasi SD Kecil, Posyandu, life skill, dan taman
bacaan masyarakat untuk wilayah pinggiran dan terpencil
2. Penyediaan percontohan layanan PAUD Terintegrasi - SD
Kecil – Posyandu – life skill di kabupaten penerima program
Gerbangmas Hasrat Papua
3. Pelatihan kopetensi guru TK dari masing-masing kawasan
adat dan magang di beberapa TK yang telah memenuhi
standar di Kota dan Kabupaten Jayapura
ISU STRATEGIS SD-01
1. Rata-rata setiap SD di Papua melayani 2 kamung Kota
Jayapura dan beberapa kabupaten induk teleh memeliki rasio
yang tinggi, tetapi di kabupen pemekaran masih sangat rendah.
Kondisi ini dihadapkan pada kondisi beberapa sekolah tidak
berjalan baik atau bahkan telah tutup?
2. Pengawasan Pendidikan oleh pengawas sekolah masih sangat
rendah kuantitas dan kualitasnya. Dampaknya tidak ada yang
memastikan terselenggaranya pendidikan, pemantauan ketidak
hadiran
guru
dan
siswa
serta
konsistensi
guru
menyelenggarakan layanan per jenjang kelas. Pengawas tidak
cukup percaya diri karena tidak melalui seleksi, tidak cukup
dana operasional dan tidak ada tindaklanjut hasil pengawasan
ISU STRATEGIS SD.02
3. Alasan Ketidakhadiran guru adalah rasa tidak aman di tempat tugas , tidak ada rumah dinas guru, konflik dengan orang tua siswa dan masyarakat setempat dan penolakan guru dari warga/keluarga dari luar, dan karena kepala sekolah tidak transparan dalam pengelolaan keuangan sekolah
4. Kemampuan membaca dan menulis siswa kelas 2 dan 3 masih sangat rendah, diakibatkan rendahnya kehadiran guru, kompetensi guru, kualitas dukungan orang tua dst
5. Masyarkat di pinggiran dan terpencil apatis dengan pendidikan yang diselenggarakan oleh pemerintah karena tingginya ketidak hadiran guru (karena mementingkan kepentingannya sendiri), tidak ada peningkatan mutu, dan tidak akuntabel (peserta ujian bukan hanya karena kelas 6 tapi umur yang sudah mencukupi).
6. Masih tingginya Lulusan SMP yang melanjutkan ke Jenjang Pendidikan Menengah
KEBIJAKAN PERCEPATAN -SD
1. Memberikan jaminan ketersediaan anggaran Otsus 32% dari 30% alokasi untuk bidang pendidikan dari 80% bagian kabupaten/kota
2. Mendorong penyediaan layanan pendidikan yang sesuai dengan kondisi wilayah;
• Penyediaan Guru Kontrak
• Kelas CALISTUNG terintegrasi KF untuk kawasan terpencil dan terisolasi
• SD Kecil terintegrasi KF untuk kawasan pinggiran
• SD-SMP satu atap plus life skill untuk kawasan pinggiran • Fokus mutu pada kawasan perkotaan
3. Percontohan penyediaan layanan terstandar SD di kabupaten sasaran Gerbangmas Hasrat Papua
4. Melakukan Replikasi Semua Model Pembelajaran Kontekstual dari Mitra Pembangunan ke Pusat Layanan Pendidikan di Kampung dan Distrik
KEBIJAKAN PERCEPATAN -SD
4. Penyediaan guru kontrak untuk wilayah pinggiran dan terpencil
sebagai pengganti atau mengisi kekosongan guru
5. Pelibatan aktif masyarakat dalam pemantauan ketidakhadiran
guru dan kepala sekolah
6. Pelaksanaan kajian kemungkinan pengelolaan pengawasan
pendidikan dasar oleh dinas pendidikan provinsi
7. Re-orientasi KPG untuk fokus pada penyediaan guru kelas awal
di kawasan pinggiran dan terpencil
STRATEGI PERCEPATAN
1. Penyediaan guru kontrak sebagai pengganti atau mengisi kekosongan guru
2. Penyediaan paket modul peningkatan kompetensi guru kelas awal dan calon guru di KPG dan LPTK di Papua dalam penggunaan motodologi pengajaran membaca dan menulis kelas awal
3. Program percontohan di kabupaten penerima program Gerbangmas Hasrat Papua
4. KKN Tematik KPG untuk CALISTUNG dan KF di kawasan pinggiran dan terpencil Papua
5. Penyediaan beasiswa transisi untuk lulusan SD yang melanjutkan ke SMP dan beasiswa re-trival untuk memastikan anak-anak yang putus sekolah dapat kembali ke sekolah
6. Pengendalian pelaksanaan pembangunan pendidikan dari dana otsus 7. Penguatan peran serta masyarakat dalam ikut memastikan
keberlangsungan penyelenggaraan pendidikan di kampungnya dan keamanan guru
ISU STRATEGIS - SMP
1. Secara rata-rata, setiap kampung di Papua telah terlayani
SMP, tetapi masih sangat rendah untuk pemerataan
khususnya di kabupaten pemekaran baru
2. Keterediaan ruang kelas untuk kelas 7 masih tidak
sebanding
dengan
lulusan
SD
sehingga
menilkan
kesenjangan antara angka partisipasi murni SD dg SMP
3. Ketidakadiran guru di jenjang SMP di kawasan pinggiran
dan terpencil cukup tinggi
4. Masih tingginya Lulusan SMP yang melanjutkan ke
Jenjang Pendidikan Menengah
KEBIJAKAN PERCEPATAN - SMP
1. Memberikan jaminan ketersediaan anggaran Otsus 25% dari 30% alokasi untuk bidang pendidikan dari 80% bagian kabupaten/kota
2. Mendorong penyediaan layanan pendidikan yang sesuai dengan kondisi wilayah;
• Sekolah Berpola Asrama SD-SMP satu atap plus life skill untuk kawasan pinggiran di Setiap Distrik
• Peningkatan mutu pendidikan jenjang SMP
3. Percontohan penyediaan layanan SMP ter-standar melalui Gerbangmas Hasrat Papua
4. Peningkatan Kompetensi Guru 5. Supervisi dan Monitoring
STARTEGI PERCEPATAN - SMP
1. Penyediaan dan replikasi penyelenggaraan layanan SMP percontohan di kabupaten penerima program Gerbangmas Hasrat Papua
2. Menyediakan rombel yang lebih menyebar dikawasan pinggiran dan terpencil untuk menampung lulusan SD kecil
3. Penyediaan Guru Bimbingan Konseling untuk membantu pemilihan lanjutan pendidikan secara tepat apakah akan ke SMA atau SMK?
4. Penyediaan beasiswa transisi untuk lulusan SMP yang melanjutkan ke SMA/K dan beasiswa re-trival untuk memastikan anak-anak yang putus sekolah dapat kembali ke sekolah
5. Penguatan peran serta masyarakat dalam ikut memastikan keberlangsungan (tidak memalang sekolah) penyelenggaraan pendidikan di kampungnya dan keamanan guru
ISU STRATEGIS - SMA
1. Paling
lambat
2
Oktober
2016,
SMA
menjadi
tanggungjawab pengelolaan Dinas Pendidikan Provinsi
2. Sebagian besar distrik di Papua belum terlayani SMA
khususnya di kabupaten pemekaran
3. Angka Partisipasi masih rendah, dengan laki-laki lebih
rendah dari perempuan
4. Daya saing lulusan SMA untuk bisa masuk di PT
unggulan nasional masih harus ditingkatkan. Selama ini
tergantung pada program afirmative.
KEBIJAKAN PERCEPATAN - SMA
1. Memberikan jaminan ketersediaan anggaran Otsus 10-15% dari 30% alokasi untuk bidang pendidikan dari 80% bagian kabupaten/kota
2. Penyediaan dukungan dalam peningkatan cakupan layanan SMA dan PMU (pendidikan menengah universal) di Papua
3. Peningkatan kompetensi guru mata pelajaran untuk meningkatkan kompetensi lulusan SMA
4. Supervisi dan Pendampingan bagi Guru/Kepala Sekolah
5. Peningkatan sarana dan prasarana pembelajaran untuk peningkatan mutu kompetensi lulusa
6. Pengembangan SMA Unggulan Berpola Asrama Untuk Anak Asli Papua di 5 (lima) Wilayah Adat
STRATEGI PERCEPATAN - SMA
1. Pengalihan pengelolaan dari kabupaten ke provinsi paling lambat 2 Oktober 2016
2. Menyediakan layanan SMA yang lebih menyebar di distrik yang memastikan cakupan layanan yang lebih luas melalui SMA berasrama 3. Penyediaan Muatan Lokal life skill bernegosiasi menghindari resiko
HIV dan AIDs
4. Penyediaan beasiswa re-trival untuk memastikan anak-anak yang putus sekolah dapat kembali ke sekolah
5. Penguatan peran serta masyarakat dalam ikut memastikan keberlangsungan (tidak memalang sekolah, menjamin keamanan Guru dn keluarga), Penguatan Kerjasama Lembaga Mitra dan Perguruan Tinggi dalam meningkatkan kualitas Tata Kelola Pendidikan termasuk Pola rekrutmen dan kompetensi Guru.
ISU STRATEGIS SMK
1. Paling
lambat
2
Oktober
2016,
SMA
menjadi
tanggungjawab pengelolaan Dinas Pendidikan Provinsi
2. Sebagian besar program keahlian di sediakan belum
memperhatikan pasar kerja, menumpuk di satu jenis
keahlian
3. SMK belum menjadi pilihan favorit orang tua dan siswa
4. Kerjasama dengan dunia usaha dan industri masih lemah
sehingga kompetensi lulusan belum cukup meyakinkan
5. Rendahnya ketersediaan sarana pendukung kompetensi
6. Rendahnya kompetensi guru mata pelajaran produktif
KEBIJAKAN PENDIDIKAN SMK
1. Memberikan jaminan ketersediaan anggaran Otsus 5-10% dari 30% alokasi untuk bidang pendidikan dari 80% bagian kabupaten/kota
2. Penertiban program keahlian yang lebih berorientasi kebutuhan pasar kerja dengan memperhatikan Potensi Pengebangan Sumber daya di 5 Wilayah Adat.
3. Peningkatan kompetensi guru mata pelajaran produktif melalui pelatihan dan magang di Industri dalam dan luar Papua
4. Dukungan penyediaan sarana dan prasarana yang memadai untuk memastikan kompetensi lulusan
5. Kerjasama lebih erat dengan dunia usaha dan industri di lokal, nasional dan Global.
STRATEGI PRIORITAS-SMK
1. Pendataan asset untuk pengalihan pengelolaan dari kabupaten ke provinsi dan memastikan Penyerahan P3D dari kab/kota ke Provinsi 2. Pelibatan Dunia Usaha dan Industri dalam menyusun Kurikulum SMK
berdasarkan standar dkebutuhan Dunia Usaha dan Industri
3. Pelatihan guru produktif untuk meningkatkan kompetensi guru dan lulusan
4. Magang (PRAKERIN) siswa untuk peningkatan kompetensi 5. Lomba kompetensi siswa SMK untuk teknologi tepat guna
6. Kerjasama lebih erat dengan dunia usaha dan industri untuk sertifikasi kompetensi siswa
7. Lomba kompetensi SMK, pameran kompetensi SMK dan bursa kerja SMK tingkat Papua
8. Penguatan peran serta masyarakat dalam ikut memastikan keberlangsungan penyelenggaraan pendidikan.
ISU STRATEGIS PNFI
1. Penurunan angka melek huruf masih sangat lambat
2. Ketersediaan anggaran KF dan pelatihan ketrampilan yang
sangat rendah
3. Terbatasnya tutor KF dan trainer terlatih
4. Belum adanya akreditasi PNFI
KEBIJAKAN PENDIDIKAN PNFI
1. Memberikan jaminan ketersediaan anggaran Otsus 3-10% dari
30% alokasi untuk bidang pendidikan dari 80% bagian
kabupaten/kota
2. KKN Tematik Keaksaraan Fungsional kerjasama dengan KPG
untk 17 kabupaten melek huruf terendah di Papua
3. Penertiban penyediaan program keahlian sesuai pasar kerja
4. Peningkatan kompetensi tutor untuk menjamin kompetensi
lulusan
STRATEGI PERCEPATAN PNFI
1. Penyediaan tutor KF dan ketrampilan kerja untuk meningkatkan ketersediaan, kompetensi tutor dan lulusan
2. Kerjasama dalam pengembangan metode pembelajaran dengan kontekstualitas fungsionalisasi keaksaraan
3. Penyediaan Muatan Lokal life skill bernegosiasi menghindari resiko HIV dan AIDs
4. Kerjasama lebih erat dengan dunia usaha dan industri untuk sertifikasi kompetensi lulusan
5. Lomba kompetensi ketrampilan kerja dan bursa kerja tingkat regional 6. Uji coba penyediaan kursus ketrampilan kerja bagi lulusan SMP yang
tidak melanjutkan
7. Pembangunan pusat pelatihan kerja (Vocasional Training Centre) untuk anak-anak putus sekolah usia 15 +
ISU STRATEGIS TATA KELOLA
1. Kualitas Layanan Pendidikan Masih Rendah
2. Kualitas
Kebijakan
Perencanaan
dan
Penganggaran
Pendidikan Belum Sesuai Kebutuhan Pendidikan
3. Kualitas Sumber Daya Aparatur Bidang Pendidikan Masih
Rendah
KEBIJAKAN TATA KELOLA PENDIDIKAN
1. Perbaikan
Kualitas
tata
Kelola
meliputi
Perencanaan,
Penganggaran, Keuangan, Kepegawaian dan Administrasi Umum
melalui Pelatihan dan Pendampingan oleh Lembaga Mitra dan
Perguruan Tinggi yang Relevan.
Keberhasilan pembangunan jangka panjang bidang pendidikan
ditandai dengan kondisi sebagai berikut :
Semua anak Papua usia sekolah memperoleh layanan pendidikan pada semua jalur dan jenjang pendidikan yang bermutu dan terjangkau dan dapat melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi dengan lancar
Anak kelas 2 SD semester genap mampu dengan baik membaca, menulis dan berhitung dengan sangat baik
Semua lulusan SMK dan pendidikan pelatihan difasilitasi oleh pemerintah untuk dapat memperoleh pekerjaan dengan baik di dalam atau diluar papua dan atau
berwirausaha dalam mengembangkan potensi daerahnya
Semua penduduk Papua dapat menjalankan pendidikan sepanjang hayat melalui
pendidikan keaksaraan fungsional, pendidikan kesetaraan, dan pendidikan ketrampilan hidup serta kesejahteraan keluarga
Orang Papua bangga dan memiliki jati diri sebagai orang Papua yang kompetitif dan adaptis
1
2
3
4
Grand Design Pendidikan dilaksanakan dengan metode
sebagai berikut:
FOK
US
AR
EA
Akses
Mutu
Tata Kelola Pendidikan Yang BaiikPercepatan pemerataan ketersediaan layanan pendidikan sesuai kondisi
sosial budaya, penyediaan guru, beasiswa transisi/personal (asrama/biaya hidup) Penguatan kompetensi guru, kehadiran guru,
memastikan mutu kompetensi lulusan (literacy, keberkerjaan, lanjut ke PT terkemuka), pendidikan karakter positif
Papua, afirmasi magang & penempatan kerja Perubahan Mindset dan Cultureset Birokrasi di Dinas Pendidikan, menagement guru yang lebih profesional
MET ODE PELAK SANAA N Pendekatan asimetris, Pengendalian penyusunan dan pelaksanaan rencana pemb, kerjasama dg LPTK/KPG, Pendelegasian
pada Yayasan pendidikan masyarakat.
Pelatihan berbasis gugus, Pembiasaan perilaku
positif di sekolah, keluarga dan masyarakat,
ketrampilan hidup, Kerjasama dg DUDI untuk mutu lulusan,
Kerjasa dg PT
Pelibatan masyarkat lebih besar dalam
penyelenggaraan pendidikan, Reformasi
Birokrasi Pendidikan berkelanjutan, re-distribusi guru, peran