• Tidak ada hasil yang ditemukan

PEMETAAN GEOLOGI DAN IDENTIFIKASI MANIFE

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "PEMETAAN GEOLOGI DAN IDENTIFIKASI MANIFE"

Copied!
13
0
0

Teks penuh

(1)

PEMETAAN GEOLOGI DAN IDENTIFIKASI MANIFESTASI

PANAS BUMI DI DAERAH SONGGORITI, KOTA BATU

JAWA TIMUR

Laode Bagus Pratama Putra

Teknik Geologi ITATS, Jl. Arief Rahman Hakim No. 100 Surabaya

Email : [email protected]

ABSTRACT

Geothermal is environmentally friendly energy compare to the other energy

source particuraly the ones result from fossil fuel. Geothermal is renewable as its

forming process last continuously as long the environmental condition ( geology and

hydrology) is balance. A study on geothermal manifestation is intended for

investigating the existence of geothermal in the mapping area. It includes

manifestation of geothermal spots and other conditions related to geothermal

existence.

Geothermal refers to the thermal source in the hot water, water vapor, stone

and other minerals, as well as other gases which genetically integrated with

geothermal system. The utilization of geothermal needs mining process. Geothermal

belong to renewable energy which has huge potentials to be an alternative energy. It

is naturally formed under the earth surface as it derives from stone and water heating

together with other geothermal elements saved in the earth’s crust.

Based on the sort of surface manifestation found in the mapping area, there

were 5 geothermal source with neutral pH. Thus, the geothermal system in these area

was interpreted as hot water dominate system. Based on the stratigraphy structure in

the mapping area, the finding of cold water source could be interpreted that there

were 2 aquifer layers. The aquifer system of geothermal possibly came from

igneous rock in which aquifer was from quarter-aged rock or breccia stone which

belonged to permeable one. There were other quarter stone such as intrusive rock on

the surface.

(2)

ABSTRAK

Energi Panas Bumi adalah energi yang bersifat ramah lingkungan bila dibandingkan dengan jenis energi lainnya terutama yang berasal dari hasil pembakaran bahan bakar fosil (fossil fuel). Sumber energi panas bumi cenderung tidak akan habis, karena proses pembentukannya yang terus menerus selama kondisi lingkungannya (geologi dan hidrologi) dapat terjaga keseimbangannya. Studi manifestasi panas bumi adalah untuk mengetahui kondisi keterdapatan panas bumi pada daerah pemetaan berupa manifestasi titik-titik sumber mata air panas dan keadaan lain yang berhubungan dengan keberadaan panas bumi.

Panas bumi adalah sumber energi panas yang terkandung di dalam air panas, uap air, batuan bersama mineral ikutan dan gas lainnya yang secara genetik semuanya tidak dapat dipisahkan dalam suatu sistem panas bumi dan untuk pemanfaataan nya diperlukan proses penambangan. Panas bumi adalah sumber daya alam yang dapat diperbarui (renewable), berpotensi besar serta sebagai salah satu sumber energi pilihan dalam keanekaragaman energi. Panas bumi merupakan sumber energi panas yang terbentuk secara alami di bawah permukaan bumi. Sumber energi tersebut berasal dari pemanasan batuan dan air bersama unsur-unsur lain yang dikandung panas bumi yang tersimpan di dalam kerak bumi.

Berdasarkan jenis manifestasi permukaan yang dijumpai di daerah pemetaan terdapat 5 (lima) mata air panas yang bersifat pH netral, maka sistem panas bumi di daerah tersebut di intrepetasikan sebagai sistem panas bumi dominan air panas (hot water dominated system). Dengan ditemukan juga mata air dingin maka dapat di intrepetasikan ada 2 (dua) lapisan akuifer berdasarkan susunan stratigrafi di daerah pemetaan, sistem akuifer panas bumi di daerah pemetaan diduga berada pada batuan beku, dimana akuifernya terdapat pada batuan yang berumur Kuarter atau yang kemungkinan adalah batuan breksi yang juga merupakan batuan permeable. Hal ini juga terbukti adanya batuan Kuarter lain yaitu batuan terobosan yang muncul di permukaan.

(3)

PENDAHULUAN

Panas bumi adalah sumber energi panas yang terkandung di dalam air panas,

uap air, batuan bersama mineral ikutan dan gas lainnya yang secara genetik semuanya

tidak dapat dipisahkan dalam suatu sistem panas bumi dan untuk pemanfataannya

diperlukan proses penambangan. Panas bumi adalah sumber daya alam yang dapat

diperbarui (renewable), berpotensi besar serta sebagai salah satu sumber energi

pilihan dalam keanekaragaman energi. Panas bumi merupakan sumber energi panas

yang terbentuk secara alami di bawah permukaan bumi. Sumber energi tersebut

berasal dari pemanasan batuan dan air bersama unsur-unsur lain yang dikandung

panas bumi yang tersimpan di dalam kerak bumi.

Secara sederhana, energi panas bumi adalah energi panas yang dipindahkan

dari bagian dalam bumi. Energi tersebut dapat diambil dalam bentuk uap atau air

panas, Sesumber panas bumi didefiniskan sebagai suatu reservoir dimana energi

panas bumi dapat diekstraksi secara ekonomis dan dimanfaatkan untuk pembangkit

tenaga listrik atau untuk keperluan industri, pertanian atau keperluan-keperluan

domestik yang sesuai (Armstead, 1978 dan Gupta, 1980). Tulisan ini

mengetengahkan gambaran umum tentang energi panas bumi, meliputi asal usulnya,

macam-macam sistem panas bumi, sifat keterbaruannya serta sekilas mengenai

keterdapatannya di lndonesia.

TINJAUAN PUSTAKA

Suatu wilayah memiliki potensi geothermal dapat diketahui dengan

ditemukannya manifestasi permukaan. Manifestasi permukaan yang diantaranya

adalah : mata air panas, uap panas, lumpur panas, dan tanah panas.

Adanya suatu sistem hidrothermal di bawah permukaan sering kali ditunjukan adanya

manifestasi geothermal di permukaann seperti :

1. Mata air panas/hangat; batuan dalam dapur magma masih panas sampai ribuan

tahun, air tanah yang turun dan bersentuhan dengan batuan panas, maka

terpanaskan dan cenderung naik ke permukaan melalui rekahan-rekahan pada

(4)

2. Geyser; adalah air tanah yang tersembur keluar sebagai kolam uap air panas, yang

terbentuk oleh adanya celah yang terisi air. Makin besar akumulasi air dalam celah

maka makin tinggi tekanan air di bawahnya, sehingga saat air di bawah mendidih,

terbentuk uap air yang menekan di atasnya. Naik air akan mengurangi tekanan,

sehingga titik didih turun, dan giliran air yang di atas mendidih dan tersembur

keluar serentak sebagai Geyser.

3. Fumarol dan Solfatar; Fumarol merupakan lubang asap tempat keluarnya

gas-gas yang dihasilkan oleh gunung api. Umumnya terletak di sekitar gunung api atau

terobosan melalui rekahan-rekahan. Sedang Solfatar adalah Fumarol yang

mengeluarkan gas belerang (sulfur), sering juga dijumpai belerang yang

mengendap sebagai kristal dan melapisi rekahan-rekahan pada batuan yang

dilaluinya.

4. Tanah Hangat (Warm Ground ; Tanah hangat disebabkan oleh adanya

perpindahan panas secara konduksi oleh batuan yang terpanaskan. Tanah yang

panas disebabkan oleh tidak adanya system hidrologi bawah permukaan. Sehingga

panas yang dihantarkan oleh batuan mengenai batuan sekitarnya yang kemudian

suhunya menjadi meningkat. Perubahan suhu pada tanah hangat berkisar 25°C

-30° C per meter.

5. Mud Pool; lumpur selalu berair karena adanya kondensasi uap.

2.1. Macam-Macam Sistem Panas Bumi

2.1.1. Menurut Jenis Sumber Panas

Berdasarkan jenis sumber panasnya sistem panas bumi ( Gupta 1980) dapat

dikelompokkan ke dalam :

1. Sistem yang berasosiasi dengan intrusi batuan beku; dan

2. Sistem yang tidak berasosiasi dengan intrusi batuan beku.

Pada sistem yang berasosias dengan intrusi batuan beku perlu diingat bahwa

hanya tubuh magma yang terdapat pada kedalaman yang besar, serta mengalami

proses pendinginan secara konduktif dengan batuan di sekitarnya yang dapat menjadi

sumber panas ideal bagi suatu sistem panas bumi, bila rnagma terlalu cepat mencapai

permukaan bumi, ia akan kehilangan panasnya tanpa dapat membentuk sesumber

panas bumi (Gupta, 1980) Sistem panas bumi di daerah gunung api aktif hingga saat

(5)

Adalah sangat penting dalam mekanisme transportasi panas bahwa harus

ditemukan cara untuk membuat batuan yang semula bersifat impermeabel menjadi

struktur perrneabel dengan permukaan transfer panas yang lurus, dan agar struktur

permeabilitas yang dihasilkan juga memungkinkan fluida dipompakan balik ke

permukaan (Gupta, 1980 dan Armstead, 1983). Penelitian tentang cara-cara ekstraksi

energi panas dari sesumber hot dry rock tengah dikembangkan di Amerika Serikat,

Jepang, lnggris, Perancis dan Jerman (Carella dkk., 1995). Sumber panas dari sistem

yang tidak ada sangkut pautnya dengan intrusi batuan beku biasanya berasosiasi

dengan gradien geotermal dari tekanan yang besar atau berasosiasi dengan daerah

aliran panas yang besar. Sumber ini kurang umum dijumpai. Sebagai contoh antara

lain Hungarian Basin di Hongaria, dimana gradien geothermal mencapai 50 – 70°C, <

4 meter (Guota, l96l) Ejan di Basin and Range Province, Amerika Serikat

(Hochstern. 1992).

2.1.2. Menurut jenis fluida reservoir

Berdasarkan fluida yang terkandung di dalarn reservoir, sistem panas bumi

dikelompokkan ke dalam :

1. Sistem dominan uap; dalam sistem ini air yang terpanasi oleh batuan panas

menguap, sehingga mencapai permukaan dalam keadaan relatif kering pada suhu

sekitar 200°C dan lekanan sekitar 8 bar. Uap semacam ini cocok untuk

menggerakkan turbin pembangkit listrik. Sistem panas bumi dominan uap sangat

jarang dijurnpai di dunia dan hingga saat ini ada 5 lapangan besar yang telah

dikembangkan untuk pembangkit listrik, yaitu lapangan Larderello (ltalia), The

Geyser (Kalifornia), Matsukawa (Jepang), Kamojang dan Darajat (lndonesia).

2. Sistem air panas; pada sistem ini air panas bersirkulasi dalam reservoir bila

terperangkap pada sumur pemboran, air akan mengalir secara alamiah atau harus

dipompa. Penurunan tekanan yang besarnya sekitar lebih besar atau kurang,

rnenyebabkan air panas tersebut sebagian berubah menjadi campuran dua fasa

yang dominan air. Carnpuran tersebut mengandung padatan terlarut seperti silika,

karbonat dan sulfat. Padatan terlarut ini dalam beberapa hal dapat mempengaruhi

produksi energi sebab padatan tersebut akan mengendap dan membentuk

(6)

terjadinya proses pertukaran panas, sehingga mengurangi aliran fluida dan

perpindahan panas, sistem dominan air lebih banyak dijumpai dibanding sistem

dominan uap, sebagai contoh antara lain lapangan Gunung Salak (lndonesra),

Wairakei' Tauhara dan Waiotapu (New Zealand), Palinpinon (Filipina), Onikobe

(Jepang), Coso dan Long Valey (Amerika Serikat).

3. Sistem dua fasa; pada sistem ini, fluida di dalam reservoir terdiri atas dua fasa

yaitu uap dan air dengan proporsi yang bervariasi. Contoh lapangan bersistem dua

fasa adalah Tongonan (Fiiipina), Dieng dan Lahendong (lndonesia), Broadlands,

Ohaaki dan Kawerau (New Zealand), Hatchobaru dan Otake (Jepang), Aluto

(Ethiopia), Olkaria (Kenya), dan Krafla (lceland)

METODE

Metode yang digunakan dalam pengamatan geologi dari metode yang

digunakan dalam Skripsi ini adalah metode pemetaan geologi permukaan (surface

mapping), yaitu melakukan pengamatan langsung di lapangan. Data yang diamati

berupa data morfologi, litologi dan struktur geologi serta penentuan titik manifestasi

panas bumi. Selain pengamatan juga dilakukan pengambilan contoh batuan dan

dokumentasi. Dalam pelaksanaan pemetaan permukaan akan dilakukan dengan

beberapa tahapan yaitu analisa laboratorium petrografi dan laboratorium kimia.

HASIL PEMBAHASAN

Pada dasarnya dalam pengamatan geomorfologi daerah pengamatan,

pembagian satuan geomorfik (Verstapen, 1975) secara umum yang dipakai adalah

satuan geomorfik berdasarkan kualitatif/genesis yang dipengaruhi oleh roman muka

bumi oleh ketiga faktor pembentukannya yaitu litologi, proses endogen dan proses

eksogen.

Berdasarkan interpretasi pengamatan lapangan, dan analisa, maka geomorfologi

daerah penelitian dapat diklasifikasikan menjadi 3 (Tiga) satuan geomorfik yaitu

Satuan Geomorfik Vulkanik dengan Subsatuan Lereng Gunungapi (V3), Satuan

Geomorfik Vulkanik dengan Subsatuan Kaki Gunung Api (V4), serta Satuan

(7)

Satuan Geomorfik Struktural ini didasarkan atas bentukan dari morfologi yang

didominasi dan dikontrol oleh gaya endogen yang. Secara peta topografi,

morfogenesa vulkanik dicirikan oleh kontur dengan kecenderungan

membundar/melingkar dengan variasinya. Satuan ini pelamparannya terdapat di

beberapa desa dari daerah pengamatan. Daerahnya meliputi sekitar selatan Desa

Pesanggrahan, Kelurahan Songgokerto dan Kelurahan Ngaglik, wilayah utara Desa

Sumberejo dan Desa Gunungsari, sebelah barat Desa Pujon Lor. Ketinggian dari

satuan ini berkisar antara 900 – 1800 m di atas permukaan air laut (dpal).

Pada peta topografi satuan ini memiliki kontur yang rapat, dengan kemiringan

lereng pada daerah pengamatan antara 10º hingga 45º.

Klasifikasi satuan stratigrafi daerah penelitian berdasarkan atas kenampakan

megaskopis, ciri litologi dilapangan dan penamaannya merupakan satuan

litostratigrafi tidak resmi, dimana pembagian satuan itu sendiri dengan dasar

pemerian deskriptif ciri fisik dan dominasi batuan yang ada. Stratigrafi daerah

penelitian dapat dikelompokkan menjadi dua satuan litostratigrafi tidak resmi dari

satuan tertua hingga satuan termuda, sebagai berikut:

1. Satuan Andesit

2. Satuan Breksi

3. Satuan Tuff

(8)

Manifestasi panas bumi di daerah Songgoriti berupa pemunculan mata air

panas, dan mineral ubahan. Beberapa mata air panas ditemukan berasosiasi dengan

endapan oksida besi seperti yang ditemukan di lokasi mata air panas Gang Apel,

umumnya berasosiasi dengan batuan atau mineral ubahan dan dengan pemunculan

mata air, baik mata air panas maupun mata air dingin

Berdasarkan lokasi keterdapatannya, mata air di daerah panas bumi

Songgoriti, dikelompokkan menjadi 5 (lima) kelompok,yaitu:

1. Mata Air Panas Songgoriti 1

Di daerah Songgoriti atau tempatnya pada Kelurahan Songgokerto ada 2

(Dua) sumber mata air panas di daerah tersebut dan semuanya saling berdekatan.

Mata air panas Songgoriti muncul di dekat tebing bukit dan oleh warga sekitar

hangat tersebut memperlihatkan adanya gelembung-gelembung gas yang keluar

sehingga pemunculannya sangat jelas. Dengan kandungan kimia pada air panas

berupa HCO3 -

,Cl- ,SO4,SiO2 .

2. Mata Air Panas Songgoriti 2 (Candi Songgoriti)

Berada tidak jauh dari Mata air panas Songgoriti 1 yang jarak nya bisa di tempuh dengan berjalan kaki sejauh 10 m. berada di dalam wilayah hotel songgoriti yang lokasi tepat nya berada di samping situs Candi Songgoriti. Dan mata air panas nya di tampung pada tempat penampungan air berentuk Box Air (Tandon). Suhu mata air pada songgoriti 2 mencapai 42°C dengan bau belerang yang masih bisa tercium oleh indra penciuman, air pada mata air tersebut berwarna keruh, dan masih memperlihatkan aktifitas gelembung- gelembung gas yang keluar dengan sangat jelas. Dengan kandungan kimia berupa HCO3 -,Cl,SiO2 .

Pada mata air panas songgoriti 2 tidak diketemukan adanya kandungan kimia SO4.

3. Mata Air Panas Gang Macan

Berada pada gang macan berjarak 100 meter dari Mata Air Songgoriti, mata

air muncul di dekat sungai dan oleh warga sekitar di jadikan sebuah tempat

(9)

dan sedikit mengandung oksida besi berwarna kuning ke merah-merahan, dengan

suhu mencapai 47°C. Mata air ini memiliki debit air yang sangat tinggi >5

liter/detik. Kandungan kimia yang terdeteksi berupa HCO3 -

, Cl,SiO2 , Pada mata

air panas ini nilai HCO3 -

Lebih besar dibandingkan dengan mata air panas yang

lain.

4. Mata Air Panas Gang Apel

Terletak di sekitar wilayah Songgoriti tepat nya memasuki area pemukiman

Gang Apel dan mata air ini muncul di kaki bukit yang dekat dengan aliran sungai

kecil. Air nya terasa sedikit dingin denga warna mata air berwarna bening, sedikit

asam, dan sedikit berbau oksida besi. Oleh warga sekitar di tampung dalam bentuk

pipa air yang mana sekarang sudah tidak lagi di gunakan karena kandungan Clorid

yang membuat pipa menjadi berkarat (korosi). Suhu mata air ini mencapai 38°C.

dengan debit air yang normal >1 liter/detik. Pada mata air panas ini terdapat

kandungan kimia berupa HCO3 -

, Cl, SO4, SiO2 .

5. Mata Air Panas Kasinan

Mata air ini terletak di Desa Sumberejo letak nya di tengah - tengah

perkebunan dan mata air ini mucul tepat pada tepian sungai. Kondisi mata air

masih alami tanpa adanya campur tangan dari manusia, suhu mencapai 40°C dan

masih mengeluarkan gelembung – gelembung gas yang masih aktif. Debit air mata

air ini sangat kecil <1 liter/detik. Pada matai air panas kasinan kandungan kimia

HCO3 –sangat sedikit dibandingkan dengan kandungan kimia yang lainnya, SO4

pada mata air panas ini juga lebih tinggi dibandingkan dengan mata air panas yang

(10)

Geokimia Air

Geothermometer Panas Bumi Songgoriti

KESIMPULAN

Dari pembahasan Tugas Akhir di daerah Songgoriti dan sekitarnya, dapat

disimpulkan beberapa hal, yaitu :

Lokasi Songgoriti 1 Songgoriti 2 (Candi)

No Tipe Air Lokasi Geothermometer

1 Air Panas Songgoriti 1 221 °C

2 Air Panas Songgoriti 2 (Candi) 223 °C

3 Air Panas Gang Macan 219 °C

4 Air Panas Gang Apel 203 °C

(11)

1. Morfologi daerah Pengamatan diklasifikasikan menjadi 3 (tiga) satuan geomorfik

yaitu :

- Satuan Geomorfik Vulkanik dengan Lereng Gunungapi (V3);

- Satuan Geomorfik Vulkanik dengan Subsatuan Kaki Lereng Gunungapi (V4);

- Satuan Geomorfik Vulkanik dengan Subsatuan Dataran Kaki Gunungapi (V5);

2. Keadaan Geologi pada daerah Songgoriti termasuk dalam Komplek Gunungapi

Kawi-Butak terbagi dua Vulkanisme:

- Vulkanisme Tua : Kawah Songgoriti, Kawah Gunung Sari, Kawah

Panderman, Kerucut Pujon.

- Vulkanisme Muda : Kawah Kawi dan Kawah Butak asosiasi erupsi

sampingnya sebagai representasi vulkanisme muda.

3. Litologi batuan pada daerah penelitian terdiri atas 4 (empat) satuan batuan, Satuan

Andesit dengan umur Plistosen Awal, dan Satuan Breksi yang berumur plistosen

tengah-akhir, diatas satuan breksi tersingkap Satuan Tuff yang berumur sama

dengan satuan breksi, dan satuan Aluvium yang berumur holosen.

4. Struktur geologi yang terdapat di daerah penelitian merupakan struktur sesar geser

yang saling berpotongan yang mengakibatkan terbentuknya zona graben,

merupakan zona lemah mengakibatkan rekahan – rekahan terbuka pada batuan

bawah permukaan zona graben. Memungkinkan diterobos oleh magma sebagai

heat source.

5. Dari pengamatan pada daerah penelitian terdapat potensi-potensi geologi baik

yang menguntungkan maupun yang merugikan bagi manusia khususnya

masyarakat sekitar daerah pengamatan. Adapun potensi yang terdapat pada daerah

pengamatan yaitu potensi sumberdaya geologi, yaitu potensi airtanah, potensi

tataguna lahan, pertambangan, wisata dan potensi bencana geologi yaitu gerakan

tanah, dan erosi.

6. Kandungan kimia pada manifestasi panasbumi pada daerah songgoriti berupa

HCO3-, CL, SO4, SiO2. Dengan dominasi kimia air terletak pada tipe CL - HCO3

(Tiper Clorid-Bikarbonat)Maturre Water-Pheripheral water.

7. Tipe sistem panasbumi yang terdapat pada daerah Songgoriti berupa Sistem

(12)

Dimana sumber mata air panas yang terdapat pada daerah penelitian berjumlah 5

titik mata air panas.

8. Manifestasi panasbumi daerah Songgoriti berupa mata air panas, dijumpai di

Songgoriti,Songgoriti 2 (Candi), Gg.Macan, Apel dan Kasinan dengan temperatur

permukaan berkisar antara 38 – 47,7 oC berada diwilayah Kota Batu, Jawa Timur.

9. Kelompok mata air panas Songgoriti merupakan tipe air khlorida yang berada

didaerah immature waters dengan pemunculan berada di lingkungan vulkanik.

Pemunculan manifestasi kemungkinan pada daerah out flow.Pendugaan temperatur

bawah permukaan diwilayah Songgoriti adalah berkisar antara 221 oC (metoda

Na/K) termasuk kedalam entalphi sedang .

10.Panabumi Songgoriti terletak disebelah timur Gunung Kawi, sebelah timur laut

Gunung Butak dan disebelah selatan Gunung Panderman. Daerah panasbumi ini

berada pada zona graben yang terbentuk pada perpotongan pasangan Sesar Normal

Cemorokandang dan Sesar Normal Pitrang dengan Sesar Nomal Srandil. Ketiga

sesar normal tersebut dapat diinterpetasikan sebagai struktur geologi pengontrol

fluida panasbumi Songgoriti.

DAFTAR PUSTAKA

Bemmelen Van, R. W, 1949, The Geology of Indonesia, Vol I-A, Gov. Printed Office, The Hague, 732 p.

Dinas Energi Dan Sumber Daya Mineral Provinsi Jawa Timur, 2012, Ringkasan Eksekutif, Surver Pendahuluan, Geologi, Geokimia, Geofisika, Songgoriti – Kawi (Kota Batu, dan Kabupaten Malang),Tidak dipublikasikan.

Direktorat Vulkanologi, 2001, Pengetahuan Dasar Gunung Api Indonesia,(tanpa penerbit), Bandung.

Edwards, L.M., Chilingar, G.V. et al., Handbook of Geothermal Energy, Gulf Publishing Company, 1982, Chapter 2

(13)

Herdinata, Niniek Rina dan Wulandari Mandradewi, Evolution of Cisolok-Cisukarame Geothermal System, West JavaINDONESIA Based on its Surface Manifestation, JurnalGeoaplika, volume 5, nomor 1, 2009.

Hiltrudis Gendoet Hartono, 2009, Petrografi Batuan Beku dan Gunung Api,

UNPAD Press, Bandung.

Moch. Munir, 2003, Geologi Lingkungan, Bayumedia, Malang.

Nenny Miryani Saptadji, 2001, Teknik Panas Bumi, Diktat Kuliah Prodi Teknik Perminyakan,Penerbit ITB

Santosa,S dan Atmawinata,S, 1992 Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi Lembar Kediri.

Soejono Martodjo, 1973, Prinsip Stratigrafi, ITB, Bandung.

Referensi

Dokumen terkait

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah yang ARTOMORO2 Mart adalah layak untuk disebut di pasar dan aspek pemasaran, aspek teknis produksi dan teknologi, aspek

Ada hubungan antara asupan energi dengan derajat keparahan pada pasien. PPOK rawat jalan di rumah sakit

Nilai rata-rata yang diperoleh dari hasil evaluasi dengan me- nggunakan metode Penilaian Risiko Lingkungan dengan 6 kategori yaitu 1.8 atau tergolong risiko

Manakala dalam konteks perniagaan orang tengah yang dikelola oleh FD swasta, perkhidmatan mereka adalah lebih pelbagai tetapi hanya dalam skop aktiviti berkaitan

Pada masa pendudukan Jepang bangsa Indonesia sangat menderita akibat kerja paksa yang diberlakukan jepang.. Kerja paksa pada masa pendudukan jepang

Kemajuan perkembangan terjadi tentunya di dasari oleh berbagai faktor, faktor yang menjadi perhatian pertama kali tentunya mengenai relevansi antara peran Harun

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui nilai siklus fatik dari piston bekas yang di remelting kembali dan dicetak dengan metode centrifugal casting

Berdasarkan hasil penelitian di lapangan kegiatan prolanis yang sudah terlaksana di dokter keluarga yang sudah memiliki klub yaitu edukasi/konsultasi medis