UNIVERSITAS INDONESIA
HAK ASASI ATAS AKSES AIR PADA MASYARAKAT DI KOTA KECAMATAN NATAL DI KABUPATEN MANDAILING NATAL - PROVINSI SUMATERA
UTARA
SKRIPSI
Diajukan sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Hukum
ANDRA 1106072261
FAKULTAS HUKUM UNIVERSITAS INDONESIA
PROGRAM STUDI ILMU HUKUM
DEPOK
v KATA PENGANTAR
Alhamdulillah, puji syukur penulis panjatkan kepada Allah SWT yang Maha Kuasa dan Esa karena dengan Rahmat dan Karunia-Nya, penulis dapat
menyelesaikan skripsi ini. Skripsi sebagai bentuk syarat utama dalam meraih gelar Sarjana Hukum Program Studi Ilmu Hukum Universitas Indonesia. Penulis menyadari bahwa tanpa bimbingan dan bantuan dari berbagai pihak selama masa perkuliahan dan masa penulisan skripsi ini, sangat sulit bagi saya untuk menyelesaikan kewajiban saya untuk menulis skripsi ini. Maka dari itu penulis mengucapkan terima kasih kepada :
a. Ibu Dr. Raden Ismala Dewi S.H. M.H. dan Ibu Antarin Prasanthi Sigit
S.H., M.Si. atas bimbingan dan ilmu yang diberikan baik di bidang hukum dan kehidupan secara umum serta kasih sayangnya terhadap penulis sehingga penulis lebih bersemangat dalam penyelesaian studi ini.
b. Pimpinan dan seluruh Staf Pengajar PK VII Hukum, Masyarakat, dan
Pembangunan yang telah memberikan ilmu pengetahuan dan pendidikan moral kepada penulis.
c. Ibu Wirdyaningsih S.H. M.H. selaku pembimbing Akademik yang telah
sabar memberikan semangat dan dorongan kepada penulis untuk menyelesaikan skripsi ini.
d. Pimpinan FHUI, Pak Dekan Prof. Dr. Topo Santoso S.H., M.H., Ibu Wakil
Dekan I Ibu Dr. Ratih Lestarini S.H., M.H., serta Staf Pengajar dan Karyawan Fakultas Hukum Universitas Indonesia yang memberikan ilmu
-ilmunya bagi penulis dan membantu kelancaran studi penulis.
e. Penulis juga menyampaikan terima kasih kepada orang tua khususnya
Mama (Zuriannur), Papa (Rifla Anwar), dan Nabila Rininta (Adik) yang selalu memberikan kasih sayang dan dukungannya sebagai orang tua dari penulis. Kemudian ada keluarga di Jakarta khususnya Ilham Abla (Bapak), Budi Tutuko (Pak De), Emila Anwar (Mami), Erwina Tutuko, Giry Ilham, Gary Ilham, Gabrilla Ilham, Nalindra Tutuko, Sasha Tutuko dan anggota keluarga lainnya yang tak hentinya memberikan bantuan, dorongan dan nasihat kepada penulis untuk segera menyelesaikan skripsi.
f. Sahabat – sahabat dari Masa SMA di SMAN 3 Medan, Fauzya, Kartika
Putri Rianda Siregar, Sheila Nanda Karina, Nuzri Rahmat Al Qabri, Muhammad Faizal, Fhikry Ahmad, Nasrina, Kahfi Aulia, yang telah bersedia memberikan dorongan dan semangat kepada Penulis. Hail SMANTIG.
g. Sahabat-sahabat dan Rekan – rekan penulis di FHUI dan Universitas
vi Rahayu, Fahmy Yusuf, Shanaz Makrufa, Gangsar Luthfi Wicaksana, Rizky Touristy serta rekan – rekan lainnya yang tidak dapat disebut satu – persatu yang telah memberikan semangat, dorongan dan menyumbangkan pemikirannya membantu penulis dalam menyelesaikan skripsi ini.
h. Sahabat – sahabat dan Rekan – rekan Ikatan Mahasiswa Muslim Medan UI
(IMMM-UI) yang telah menjadi keluarga selama di perantauan ini. Bang
Ednaz (Mantan Ketua yang legendaris), Kak Ayang (Mantan Ketua Divisi Informasi UI GTM 2016), Rafiq Muhammad Daulay (Mantan Ketua IMMM UI 2013) serta teman – teman di IMMM. Mohon maaf sebesar – besarnya apabila penulis jarang bergabung di kegiatan –kegiatan yang di adakan oleh IMMM UI.
i. Para Narasumber yang bersedia untuk diwawancarai, bertukar pikiran dan
membantu penulis dalam penyelesaian skripsi ini mulai dari Bang Awaluddin (Staf Bappeda Kabupaten Mandailing Natal), Pak Abu Hanifah (Kepala Bappeda Kabupaten Mandailing Natal), Pak Astiono dan Mbak Febby (Staf BBWS II), Datuk Asrul (Kepala Desa Setia Karya, Natal), Ibu Asnimar (Sekretaris Camat Natal).
Pada akhir kata, penulis menyadari masih banyak memiliki kekurangan dan jauh dari sempurna. Atas hal itu, penulis terbuka menerima masukan, saran serta kritik sehingga skripsi ini menjadi lebih baik. Penulis berharap melalui pemikiran ini dapat berkontribusi dalam mengembangkan ilmu dan pengetahuan.
Depok, 27 Oktober 2016
vii ABSTRAK
Nama : Andra
Program Studi : Ilmu Hukum
Judul : HAK ASASI ATAS AKSES AIR PADA MASYARAKAT
DI KOTA KECAMATAN NATAL KABUPATEN MANDAILING NATAL - PROVINSI SUMATERA UTARA
Hak asasi atas akses air menjadi hak mendasar untuk dapat hidup bagi setiap orang. Oleh karena itu, kebutuhan akan air sangat vital. Hal itu terkait air sebagai unsur penting bagi keberlangsungan hidup setiap orang di dalam suatu masyarakat. Maka dari itu, diperlukan suatu landasan pengaturan terkait kepastian di dalam pemenuhan hak asasi atas akses air. Pengaturan tentang air di Indonesia kembali pada Undang – undang No. 11 Tahun 1974 tentang Pengairan yang diberlakukan melalui Putusan Mahkamah Konstitusi No. 85/PU-XII/2013. Putusan tersebut membatalkan UU No. 7 Tahun 2004 tentang Sumber Daya Air (LNRI 2004-32; TLNRI 4377). Pembatalan itu adalah terkait penafsiran berbeda
viii essential element for the survival of everyone in a community. Therefore, we need a foundation of certainty in the regulations related to the fulfillment of rights of access to water. The arrangement of the water in Indonesia returned to the Act No. 11/1974 on Irrigation imposed by the Constitutional Court Decision No. 85 / PU
-XII / 2013 that withdrawal the Act No. 7/2004 on Water Resources (LNRI 2004
-32; TLNRI 4377). Withdrawal because of different interpretations related to the implementation right to water. Thus a change in the social function of water is more emphasis on the right to cultivate the water run by the private water right run by private than the right to use water for the community. In addition, the shift in the role of government in providing water for the community. But to all of it in fact it cannot to resolve the basic problems faced by the peoples related to their access to water, especially in the Town District of Natal, Mandailing Natal, North Sumatra Province. In other side, public infrastructures for support access to the water remains limited. Similarly, there no community development related to water resources management. Implementation of the various plans made by the government is not yet able to prosper the community at Natal District City. It even has the potential to create a conflict of interest in the utilization of water resources between local peoples and private. This study research is intended to determine how the issue of the fulfillment of rights to access for water in the peoples such as the Town District of Natal uneven distribution of water connection via assembled of water drains from water sources for peoples houses. Meanwhile, existing water sources in Natal are shared by the community. Supporting elements in the form of infrastructure of water resources is still minimal of access water for peoples in Natal. In other side, the empowerment of people still weak where most peoples in Natal did not have an understanding of what they are entitled for access to water. Mandailing Natal Regency still has no local regulations level related to water resources sector. Efforts made by local government authorities, and obligations related to the implementation of planning the construction of water access are still not well executed in the field. In addition, it was studied how the legal foundation, legal arrangements and efforts by Local Government of Mandailing Natal in fulfill for rights of access to water especially for people in the Town District of Natal.
Keywords : right to water access, right to water, legal foundations, social
ix
1.4.3 Hak Menguasai dari Negara ... 11
1.5 Metode Penelitian ... 12
1.6 Sistematika Penulisan ... 15
BAB II LANDASAN HUKUM HAK ASASI ATAS AIR DI INDONESIA DAN PERATURAN DI TINGKAT INTERNASIONAL ... 17
2. 1 Landasan Hukum Hak Asasi Atas Air Di Indonesia ... 17
2. 1. 1 Landasan Konstitusional Hak atas Air ... 17
2. 1. 2 Pengaturan Sumber Daya Air sebelum Putusan Mahkamah Konstitusi No.85\PUU-XI\2013 ... 18
2. 1. 3 Putusan MK No. 85/PUU-XI/2013 tentang Pembatalan UU 7/2004 ... 22
2. 1. 4 Berlakunya kembali UU 11/1974 tentang Pengairan ... 27
2. 1. 5 Pengaturan Kewenangan dan Tanggung Jawab Pemerintah Daerah terhadap Sumber Daya Air ... 29
2.1.6 Akibat Hukum Putusan Mahkamah Konstitusi No. 85/PUU-XI/2013 terhadap Peraturan Pemerintah terkait Sumber Daya Air ... 37
2. 1.7 Peraturan Daerah tentang Sumber Daya Air ... 43
2.2 Peraturan di Tingkat Internasional ... 49
2.2.1 Deklarasi Universal Hak Asasi Manusia (Universal Declaration of Human Rights/UDHR) Resolusi Majelis Umum No. 217 A (III) tertanggal 10 December 1948 ... 49
2.2.2 Kovenan Internasional tentang Hak atas Ekonomi, Sosial, dan Budaya (The International Covenant on Economic, Social and Cultural Rights /ICESCR) ... 50
2.2.3 Dublin Principles 1992 ... 54
2.2.4 General Comment No. 15 (2002) The Right to Water ... 55
BAB III PERMASALAHAN AKSES MASYARAKAT TERHADAP AIR DI NATAL, MANDAILING – SUMATERA UTARA ... 57
3.1 Wilayah dan Masyarakat di Natal, Mandailing Natal, Sumatera Utara ... 57
3.1.1 Gambaran umum Kabupaten Mandailing Natal ... 57
3.1.2 Aspek sosial dan budaya dari masyarakat di Mandailing Natal ... 59
3.2 Fungsi Air Bagi Masyarakat di Natal, Mandailing Natal, Sumatera Utara ... 62
3.2.1 Keperluan Air Bersih/Air Minum ... 62
x
3. 3. 1 Lokasi Sumber Air ... 75
3. 3. 2 Sarana dan Prasarana yang Minim ... 76
3. 3. 3 Kesadaran Masyarakat terhadap Air Bersih ... 78
BAB IV PERANAN PEMERINTAH, PEMERINTAH DAERAH, MASYARAKAT LOKAL, DAN PELAKU USAHA DALAM MENGATASI PERSOALAN AKSES AIR PADA MASYARAKAT DI NATAL ... 84
4.1 Peranan Pemerintah ... 84
4.1.1 Peranan Pemerintah Pusat ... 85
4.1.2 Peranan Pemerintah Daerah ... 91
4.2 Peranan Masyarakat Lokal dan Pelaku Usaha di Natal ... 100
4.2.1 Masyarakat di Natal. ... 100
4.2.2 Pelaku Usaha... 101
BAB V PENUTUP ... 106
5.1 Simpulan ... 106
5.2 Saran ... 112
DAFTAR PUSTAKA ... 114
UNIVERSITAS INDONESIA | 1
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Air merupakan komponen utama dan kebutuhan dasar yang sangat vital bagi kelangsungan kehidupan manusia. Peradaban masyarakat tidak dilepaskan dari keberadaan air. Jumlah air bersih hanya sekitar 3 Persen dari total keseluruhan air di muka bumi. Seiring dengan meningkatnya kebutuhan dan makin terbatasnya keberadaan sumber air yang memadai, menandakan kompetisi atas akses air semakin meningkat pula. Di samping itu, keadaan sarana dan prasarana akses atas air yang ada juga masih terbatas. Semuanya ini menjadi persoalan dan tantangan bagi masyarakat dalam mengakses kebutuhannya atas air. Terkait hambatan - hambatan tersebut, landasan hukum dan peran dari negara baik
dari pemerintah maupun pemerintah daerah sangat dibutuhkan untuk mengatasi persoalan akses atas air yang dihadapi oleh masyarakat.
Berdasarkan proyeksi UNDP, ketersediaan sumber air yang memadai semakin terbatas dan menjadi suatu tantangan bagi masyarakat dunia pada tahun - tahun mendatang dikarenakan beberapa faktor seperti kenaikan populasi penduduk, perubahan iklim yang berdampak pada keandalan sumber air, dan menurunnya kualitas air karena buangan dari limbah terutama dari industri, dan terbatasnya sarana dan prasarana untuk mengimbanginya.1 Hal itu menimbulkan peningkatan risiko terjadinya konflik tentang akses atas air baik diantara masyarakat maupun masyarakat dengan pihak pelaku usaha. Air yang terdapat di
daerah aliran sungai (DAS) merupakan salah satu komponen utama pembentuk ekosistem maupun sebagai penyangga ekosistem2
. Terkait hal tersebut, terdapat
1UNDP,
Wa ter Governance for Poverty Reduction: Key Issues and the UNDP Response to Millenium Development Goals Chapter 1, Page 3. “Oleh UNDP yang menyatakan suplai atas sumber air bersih diproyeksikan akan mengalami krisis menjelang pada tahun 2050 ...”
UNIVERSITAS INDONESIA | 2 lima pilar utama di dalam pengelolaan Sumber Daya Air (SDA) yaitu3 a) Ketersediaan air dan kondisi SDA, b) Sarana dan prasarana SDA, c) Pengelolaan SDA, d) Institusi Pengelola SDA, dan e) Manusia sebagai pelaku terkait Tata
Kelola SDA.
Kelima pilar pengelolaan DAS tersebut sangat penting untuk dibangun karena dampak positif bagi manusia dan lingkungannya. Selain hal itu, penting untuk diterapkan asas tata pemerintah yang baik (Good Governance) sebagaimana tertuang di dalam prinsip Integrated Water Resources Management (IWRM). Prinsip IWRM tersebut digunakan untuk penerapan terhadap para pihak di dalam pengelolaan sumber daya air. Oleh karena itu, perlu suatu landasan pengaturan dalam mengatur penerapan prinsip di dalam IWRM dan tata kelola air yang baik tersebut.
Landasan hukum sebagai suatu jaminan dan perlindungan akses air bagi masyarakat yaitu Undang-Undang Dasar (UUD) 1945 yang mengamanatkan hak
mendasar bagi setiap warga negara salah satunya hak asasi atas air. Hal tersebut sebagaimana terdapat pada ketentuan Pasal 33 ayat (3) UUD 1945 yang menyatakan bahwa bumi, air, dan kekayaan alam yang terkandung didalamnya, dikuasai oleh negara dan dipergunakan sebesar-besarnya untuk kemakmuran
rakyat. Ketentuan pasal ini merupakan landasan yuridis atas pelaksanaan hak menguasai dari negara.
Berdasarkan Putusan Mahkamah Konstitusi No. 85/PUU-XI/2013 yang
membatalkan Undang – Undang (UU) No. 7 Tahun 2004 tentang Sumber Daya Air (SDA) dan mengembalikan pengaturan tentang sumber daya air ke UU No. 11 Tahun 1974 tentang Pengairan. Salah satu alasan mendasar dibatalkannya UU No. 7 Tahun 2004 tentang SDA adalah pemberlakuan UU tersebut mengakibatkan pergeseran fungsi sosial atas air yang lebih mengarah pada fungsi ekonomi atau komersialnya.
Pada dasarnya peraturan perundang-undangan yang mengatur tentang
sumber daya air menekankan fungsi sosial dari air dalam pemenuhan kebutuhan atas air dan manfaatnya sebesar-besarnya untuk kesejahteraan masyarakat.4 Dalam
3 Gunawan Jusuf, Blue Gold: Emas Biru Sumber Nyawa Kehidupan, Cet. I, (Jakarta: Bina Nusantara, November 2015) Hal 93.
4 Mahkamah Konstitusi, Putusan MK No 85/PUU
UNIVERSITAS INDONESIA | 3 hal ini, hak penguasaan atas air tetap dikuasai oleh negara tetapi dalam pengaturannya diberikan wewenang dan tanggung jawab kepada pemerintah dan/atau pemerintah daerah, antara lain untuk:
a. Menyusun perencanaan teknis pengaturan atas sumber daya air (SDA). b. Pengaturan terhadap Pengusahaan atas Air.
c. Pemanfaatan dan Pengawasan atas air
d. Mengelola dan mengembangkan terhadap sarana prasarana sumber daya
air.
Dalam pelaksanaannya, disusun sebuah rencana pembangunan yaitu Rencana Pembangunan Jangka Panjang Menengah Nasional (RPJMN) untuk diberlakukan dalam skala nasional di Indonesia. Salah satu sektor/bidang yang masuk di dalam RPJMN tersebut adalah bidang SDA terkait pembangunan sarana dan prasarana SDA daerah-daerah yang berada di Indonesia. Adanya Rencana
Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2015-2019 yang
menargetkan seluruh masyarakat di wilayah Indonesia dapat mengakses air bersih yang sebagian besar berasal dari jaringan distribusi pelayanan air yang dikelola oleh Badan Usaha Milik Negara (BUMN) misalnya seperti Perusahaan Jasa Tirta (PJT) yang bertanggung jawab pada prioritas skala nasional atau Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) pada tingkat operasional daerah misalnya melalui Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM). Pemerintah Indonesia menetapkan target didalam RPJMN 2015-2019 untuk mencapai angka 100 persen untuk kebutuhan
mendasar seperti akses untuk air minum dan air untuk rumah tangga di seluruh wilayah Indonesia.5
Wilayah Provinsi Sumatera Utara (2014) memiliki persentase target yang terdiri atas akses fasilitas sendiri sebesar 64,17 persen, fasilitas bersama 5,60 persen, fasilitas umum 6,44 persen, serta yang tidak memiliki fasilitas akses sebesar 23,79 persen. Persentase tersebut menunjukkan sebagian besar masyarakat yang belum memiliki akses yang mencukupi atas air guna memenuhi kebutuhan mendasar seperti air minum, air bagi kebutuhan rumah tangga serta sanitasi.6
85/PUU-XII/2013 terkait Pembatalan Undang - undang No. 7 Tahun 2004 tentang sumber Daya
Air yang kembali memberlakukan Undang-undang NO. 11 Tahun 1974‖.
5 Koran Kompas, edisi 21 April 2015 No. 286/Tahun ke 50. “Diskusi air dan Ekosistem (2):
Mimpi Besar Akses 100 Persen”, Hal 15.
UNIVERSITAS INDONESIA | 4 Kondisi geografis Kota Kecamatan Natal yang berbatasan langsung dengan garis pantai wilayah Samudra Hindia. Hal tersebut menjadi sebab air terancam menjadi kondisi payau sebagai akibat percampuran antara air tawar dan air asin. Hal tersebut menimbulkan ketidaklayakan atas air yang di manfaatkan oleh masyarakat Kota Kecamatan Natal untuk kebutuhan hidup sehari - hari. Terkait
dengan penjelasan sebelumnya, kehidupan sehari – hari masyarakat di Kota Kecamatan Natal tidak terlepas dari unsur air. Kebutuhan vital masyarakat atas akses air pada dasarnya memerlukan hal-hal yang penting seperti sarana dan
prasarana akses air berupa sambungan jaringan saluran untuk distribusi air yang memadai bagi masyarakat di Natal. Sarana dan prasarana akses air tersebut sebagai suatu fasilitas penopang kebutuhan akses air bagi masyarakat di Kota Kecamatan Natal. Oleh karena itu, penanganan tindak lanjut oleh Pemerintah Daerah Kabupaten Mandailing Natal perlu dikarenakan wewenang dan tanggung jawab pemerintah daerah menyangkut pembentukan perda dan pemberdayaan masyarakat di daerah Kabupaten Mandailing Natal.
Selain pembangunan atas sarana dan prasarana akses air, hal yang perlu dijadikan pertimbangan Pemerintah Daerah Kabupaten Mandailing Natal adalah aspek pemberdayaan masyarakat pedesaan yang berada di Kabupaten Mandailing Natal. Sebagaimana ditekankan di dalam Undang-Undang No. 6 Tahun 2014
tentang Desa, bahwa pemberdayaan masyarakat desa sebagai suatu kelembagaan sosial yang penting untuk diterapkan bagi masyarakat daerah pedesaan. Pemberdayaan tersebut melibatkan pemangku kepentingan yang ada seperti aparatur pemerintah desa, masyarakat daerah setempat dan pelaku usaha terkait dengan pemenuhan akses atas air bagi masyarakat daerah. Hal tersebut memerlukan suatu peraturan daerah (Perda) sebagai bentuk pengaturan terhadap pelaksanaan kebijakan khususnya pemerintah daerah, peningkatan peran-serta
masyarakat desa di dalam pembangunan dan pengelolaan SDA di daerah. Peraturan Daerah (Perda) merupakan bentuk pengaturan yang mengakomodir pemenuhan kebutuhan strategis dalam mencapai tujuan pembangunan akses air di daerah yang bersangkkutan. Di samping itu, perda sebagai suatu bentuk landasan pengaturan terhadap kebijakan dari pemerintah daerah dalam melaksanakan
UNIVERSITAS INDONESIA | 5 otonomi daerah yang diperluas dan bertanggungjawab, penyaluran aspirasi masyarakat daerah, alat transformasi perubahan daerah serta harmonisasi berbagai kepentingan di daerah.
Adanya pengusahaan air dengan kekuatan modal yang di jalankan oleh pihak pengusaha di Kota Kecamatan Natal, semakin mengancam masyarakat Natal mengakses air untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Di samping
itu,pengaturan air di tingkat perda belum ada mengatur tentang SDA di Mandailing Natal sehingga aturan yang digunakan mengacu pada peraturan daerah tingkat Provinsi Sumatera Utara. Hal tersebut menimbulkan persoalan yang menyebabkan kurangnya diakomodirnya persoalan air yang dihadapi masyarakat di Kota Kecamatan Natal.
Sebagaimana penjelasan sebelumnya, pengelolaan SDA di Kota Kecamatan Natal menyangkut hal yaitu Tata Kelola Air (Water Governance) di Kabupaten Mandailing Natal dengan adanya pengelolaan SDA khususnya di wilayah Kota Kecamatan Natal. Tata kelola air beberapa di antaranya yaitu integritas pelaku pengelolaan SDA, manajemen konflik terkait pengelolaan, pemanfaatan SDA dan kerusakan lingkungan SDA yang diterapkan pada pengelolaan SDA. Hal tersebut mengingat pentingnya suatu tata kelola air untuk diterapkan pada pelaksanaan atas pemenuhan kebutuhan atas air bagi masyarakat di Natal. Di samping hal tersebut, pentingnya kehadiran dari lembaga masyarakat desa yang menumbuhkan kesadaran atas pengetahuan mengenai pengelolaan air yang baik bagi pihak – pihak yang berkepentingan di Natal. Maka dari itu, peran utama bagi Pemerintah Daerah Kabupaten Mandailing Natal untuk memenuhi kebutuhan dasar bagi masyarakat yang bertempat tinggal di wilayah Kabupaten Mandailing Natal.
UNIVERSITAS INDONESIA | 6 SDA, konflik di dalam pendayagunaan SDA serta ancaman pencemaran terhadap sumber-sumber air yang ada di Kota Kecamatan Natal.
Dalam hal mengetahui dan memahami persoalan mengenai hak asasi atas akses air pada masyarakat di Natal perlu dilakukan kajian yuridis baik dari sisi normatif maupun empiris mulai dari tingkat konstitusi hingga tingkat peraturan daerah (Perda) yang hak asasi atas akses air. Selain itu perlu pula dikaji permasalahan di lapangan mengenai persoalan sarana dan prasarana di Natal; peran pihak – pihak yang berkepentingan yaitu pemerintah pusat, pemerintah daerah, masyarakat dan pemangku kepentingan lain di dalam pemenuhan akses atas air. Berdasarkan uraian di atas dirasakan perlu untuk dilakukan penelitian mengenai hak asasi atas akses air pada masyarakat di Natal yang berjudul “HAK ASASI ATAS AKSES AIR PADA MASYARAKAT NATAL DI KABUPATEN MANDAILING NATAL SUMATERA UTARA.”
1.2 Pokok Permasalahan
Berdasarkan permasalahan terkait hak asasi atas akses air yang telah dijelaskan sebelumnya, penulis mengajukan beberapa pertanyaan penelitian sebagai berikut :
1. Bagaimana pengaturan atas pemenuhan kebutuhan air masyarakat di
Natal ?
2. Bagaimana persoalan akses terhadap air yang ada di masyarakat Natal
dalam memenuhi kebutuhan dasarnya atas air ?
3. Upaya-upaya apakah yang dapat dilakukan untuk mengatasi persoalan
akses atas kebutuhan air di masyarakat Natal ?
1.3 Tujuan Penelitian
Dalam melakukan penelitian terhadap permasalahan Hak Asasi atas Air, penulis ingin memaparkan tujuan dari penelitian antara lain :
1. Untuk mengetahui dan menjelaskan pengaturan sumber daya air terkait
pemenuhan kebutuhan dasar masyarakat air, baik secara Nasional maupun pada tingkat daerah, di wilayah Kota Kecamatan Natal.
2. Untuk mengetahui dan menjelaskan akses masyarakat Kota Kecamatan
UNIVERSITAS INDONESIA | 7 3. Untuk mengetahui dan menjelaskan upaya-upaya apakah yang dapat
dilakukan terhadap permasalahan akses air pada masyarakat di Kota Kecamatan Natal tersebut.
1.4 Kerangka Konsep
1.4.1 Hak Asasi Manusia (HAM)
Hak Asasi Manusia (HAM) merupakan hak yang mendasar dan melekat pada diri setiap manusia yang sifatnya universal. Oleh karena itu, pelaksanaan HAM perlu diatur terkait aspek perlindungan, penghormatan, dan tidak boleh diabaikan oleh setiap negara dari setiap anggota masyarakat.7 Negara memiliki kewajiban untuk mengakui dan menjunjung tinggi HAM sebagai suatu hak mendasar yang melekat pada setiap warga negaranya. Hal tersebut dilakukan melalui tindakan perlindungan, dihormati, dan ditegakkan khususnya dalam hal pemenuhan kesejahteraan dan keadilan bagi masyarakat.8
Dalam permasalahan air, HAM dipandang sebagai hak untuk hidup yang menopang keberlangsungan kehidupan bagi setiap orang untuk mempertahankan dan meningkatkan kesejahteraan setiap masyarakat. Peningkatan kualitas kehidupan seseorang perlu didukung oleh keadaan lingkungan yang sehat sehingga dapat tumbuh dan berkembang secara layak. HAM merupakan bentuk pengakuan dan penghormatan terhadap martabat setiap orang terkait dengan hak – hak yang diakui di dalam Deklarasi Universal HAM 1948 yang mana hak asasi manusia sebagai suatu bentuk pengakuan terhadap hak setiap orang untuk mencapai standar hidup yang standar dan layak.9
Hak asasi Manusia di Indonesia diakui dan diatur dalam UUD 1945 Pasal 28H ayat (1) dan (2) yang menegaskan setiap orang untuk mendapatkan hak hidup sejahtera dan kesempatan yang sama dalam mendapat persamaan dan keadilan dan Pasal 28I ayat (4) yang menegaskan adanya aspek jaminan dan perlindungan sebagai bentuk dari tanggung jawab negara dalam pemenuhan HAM bagi setiap warga negara. Selain UUD 1945, mekanisme pengaturan HAM diatur
7 Huruf b Pertimbangan Undang
-undang RI No. 39 tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia
8Ibid., Pasal 2.
9https://www.humanrights.gov.au/human-rights-explained-fact-sheet-1-defining-human
UNIVERSITAS INDONESIA | 8 di dalam Undang - Undang yaitu UU No. 39 Tahun 1999 tentang Hak Asasi
Manusia yang mengatur asas – asas dan aspek mendasar dari HAM khususnya pemberlakuan HAM di Indonesia.
Keterkaitan pengakuan HAM di tingkat global, pihak Indonesia kemudian menindaklanjuti dengan meratifikasi beberapa Kovenan-Kovenan internasional
terkait hak asasi manusia diantaranya International Covenant on Civil and Political Rights (ICCPR) dan International Covenant on Economic, Social and Cultural Rights (ICESCR). Hal itu menunjukkan pentingnya substansi HAM diatur lebih lanjut di dalam peraturan – peraturan di Indonesia.
1.4.2 Hak Asasi Atas Air
Berdasarkan sisi historis, terdapat doktrin – doktrin yang melatarbelakangi hak akses atas air yaitu Doktrin Appropriation dan Doktrin Riparian. Berdasarkan doktrin Riparian (Riparian Doctrine) yang berasal dari kata latin Ripa yang artinya pinggiran yang masuk. Doktrin ini berkembang didalam Kode Justinian (The Justinian Code yang dikenal juga dengan Corpus Juris Civilis) pada awal abad ke 16 di mana terdapat suatu kerangka hukum atas alokasi air pada seluruh wilayah Kekaisaran Romawi pada waktu itu. Melalui Doktrin Riparian menyatakan bahwa air yang berada di sebuah sungai termasuk dalam kepemilikan publik yang digunakan untuk kepentingan publik seperti aktivitas dan kepentingan bidang navigasi dan perkapalan. Maka dari itu, pada dasarnya, air tersebut tidak dapat dikontrol secara individual. Namun memasuki kurun waktu saat ini, pada
prakteknya terdapat pembagian hak atas air dan menekankan pentingnya pengaturan terhadap akses atas air.10 Pemenuhan hak asasi atas air terkait dengan beberapa faktor yang mempengaruhi antara lain11 :
a. Faktor mencukupi, bahwa jumlah air yang harus tersedia sesuai dengan pedoman internasional.
b. Faktor aman, bahwa air yang digunakan untuk keperluan pribadi dan rumah tangga harus aman, terutama secara kualitas.
10Principles of Water Resources: History, Development, Management, and Policy, Chapter
8, Ancient Water Allocation Code, Hal 213. 11 Koalisi Rakyat untuk Hak atas Air,
UNIVERSITAS INDONESIA | 9 c. Faktor keterjangkauan secara fisik bahwa air harus berada dalam
jangkauan fisik yang memadai, di dalam atau di dekat rumah, sekolah, atau pun ditempat lainnya medis.
d. Faktor keterjangkauan secara finansial tanpa harus mengurangi kemampuan orang tersebut untuk membeli barang-barang pokok lainnya. Hal tersebut memperlihatkan kebutuhan masyarakat atas air disediakan secara cuma-cuma.
Sedangkan variasi doktrin lainnya yaitu Doktrin Hak Appropriation
(Appropriation Rights) yang berkembang pertama kali di wilayah bagian barat Amerika Serikat, merupakan suatu kepemilikan hak atas air oleh pihak yang paling pertama (first in time-first in right) mengambil air yang ada di sumber air
yang tersedia, kemudian dimanfaatkan untuk keperluan strategis seperti kebutuhan air minum, keperluan rumah tangga, pertanian dan industri. Berdasarkan doktrin
Appropriation tersebut, adanya hak pendayagunaan air oleh pihak yang lain setelah pemanfaatan pengguna air yang pertama (first user). Namun yang patut dipertimbangkan bahwa pemanfaatan air oleh pemanfaat lainnya tidak boleh melanggar hak akses air pengguna yang pertama. Pengguna lainnya tidak dapat mengubah aliran air khususnya yang berada di daerah aliran sungai (DAS) yang menyebabkan akses air bagi pemegang hak terkait doktrin appropriation lainnya menjadi terganggu.
UNIVERSITAS INDONESIA | 10 prioritas terkait penggunaan air dan lokasi yang ada.12
Pada prakteknya hak penguasaan atas air berdasarkan doktrin appropriation
tersebut diatur di dalam suatu mekanisme pengaturan dalam menjamin dan melindungi penggunaan aliran air sungai untuk kepentingan publikkhususnya bagi masyarakat . Hal tersebut diperlukan untuk mempertahankan perbedaan yang jelas
antara penggunaan individual (usufructuary) dan penggunaan konsumtif.13
Dalam konteks nasional di Indonesia, pemenuhan Hak Asasi atas Akses Air bagi masyarakat memiliki landasan pengaturan yang paling mendasar salah satunya diatur dalam Pasal 28I ayat (4) UUD 1945 yang mana negara memiliki tanggung jawab dalam aspek perlindungan dan jaminan pemenuhan HAM bagi setiap warga negara. Di antara unsur-unsur HAM yang ada, salah satu unsur HAM yang paling penting yaitu hak atas hidup. Terkait dengan hal tersebut, air sebagai suatu kebutuhan untuk keberlangsungan hidup yang termasuk di dalam lingkup hak asasi manusia. Oleh karena itu, air sebagai salah satu unsur yang vital dan mendasar guna pemenuhan kebutuhan hidup bagi setiap anggota masyarakat. Maka dari itu, negara memiliki wewenang dan tanggung jawab dalam memenuhi hak asasi atas air. Hal tersebut dalam bentuk jaminan dan perlindungan yang diberikan negara melalui adanya akses atas air yang dapat memenuhi kebutuhan setiap anggota masyarakat.
Sebagaimana pengaturan pada pasal 33 ayat (3) UUD 1945, negara berkedudukan sebagai mandataris untuk mengelola dan mengontrol pemanfaatan air bagi terpenuhinya kesejahteraan dan kemakmuran rakyat Indonesia. Selain pengaturan pada tingkat nasional terdapat juga pengaturan terkait HAM dan Hak Asasi atas Air di tingkat Intenasional diantaranya Universal Declaration of Human Rights, International Covenant on Economic, Social, dan Cultural Rights,
The Dublin Principles 1992 dan General Comment No. 15—The Right to Water
yang mengatur dan jaminan terhadap hak asasi atas air sebagai bentuk adanya pengakuan hak asasi atas air termasuk di dalam lingkuphak asasi manusia.
12Water Appropriation Systems, http://www.undeerc.org/Water/Decision-Support/Water
-Law/pdf/Water-Appr-Systems.pdf, diakses 4 Oktober 2016
13 J. W. Milliman, Water Law dan Private Decision Making: A Critique, (Indiana
UNIVERSITAS INDONESIA | 11 Pengaturan baik di tingkat nasional berupa landasan konstitusi hingga tingkat peraturan daerah menjadi suatu landasan atas pengakuan dan pemenuhan hak asasi atas air. Kemudian pada pengaturan di dalam Kovenan – Kovenan internasional, hak asasi atas air termasuk di dalam mekanisme HAM. Hal itu memberikan pengertian bahwa negara diberikan wewenang dan tanggung jawab dalam hal pemenuhan atas hak asasi atas air bagi masyarakat Indonesia.
1.4.3 Hak Menguasai dari Negara
Hak menguasai dari negara merupakan hak negara dalam memegang kendali dan pengawasan terhadap penguasaan cabang-cabang produksi yang
penting dan menguasai hajat hidup orang banyak. Berdasar pada Pasal 33 ayat (3) UUD 1945 yang telah disinggung sebelumnya, Hak Menguasai Negara di atur pada beberapa peraturan perundang-undangan yang mengatur sektor strategis
salah satunya UU No. 11 Tahun 1974 tentang Pengairan dan UU No. 7 Tahun 2004 tentang Sumber Daya Air. Negara berada pada tingkat tertinggi atas penguasaan SDA bagi kesejahteraan rakyat dan bangsa Indonesia. Negara diberi wewenang dan tanggung dalam pemenuhan terhadap akses kebutuhan atas air oleh masyarakat yang antara lain untuk :
a. Mengatur dan menyelenggarakan peruntukan, penggunaan, persediaan dan
pemeliharaan bumi, air dan ruang angkasa.
b. Menentukan dan mengatur hubungan-hubungan hukum antara orang –
orang dengan bumi, air dan angkasa.
c. Menentukan dan mengatur hubungan hukum antara orang –orang, dan
perbuatan – perbuatan hukum yang berkaitan dengan bumi, air dan ruang angkasa.
UNIVERSITAS INDONESIA | 12 barang publik yang vital bagi kebutuhan masyarakat.14 Adanya otonomi daerah, pelaksanaan hak menguasai negara itu dapat dikuasakan kepada pemerintah daerah dalam hal jika diperlukan dan tidak bertentangan dengan kepentingan nasional.15
Ketentuan pengaturan terkait hak menguasai negara bukan hanya diatur dalam UU No. 11 Tahun 1974 tentang Pengairan dan UU No. 7 Tahun 2004 tentang Sumber Daya Air, namun terdapat juga pada beberapa pengaturan di undang – undang yang mengatur terkait sektor strategis seperti UU No. 5 Tahun 1960 tentang Ketentuan – ketentuan Pokok Agraria, UU No. 41 Tahun 1999 tentang Kehutanan, UU No. 22 Tahun 2001 tentang Minyak dan Gas Bumi, UU No. 4 Tahun 2009 tentang Pertambangan Mineral dan Batubara, UU No. 30 Tahun 2009 tentang Ketenagalistrikan, UU No. 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup. Adanya substansi materi mengenai hak menguasai negara di peraturan perundang – undangan yang bersangkutan menandakan negara bukan sebagai pemilik dari sumber – sumber penghidupan rakyat namun negara disini diartikan sebagai mandataris rakyat yang melaksanakan pemenuhan kesejahteraan dan kemakmuran rakyat dan bangsa Indonesia.
1.5 Metode Penelitian
Penelitian terkait persoalan hak asasi atas akses air di Kota Kecamatan Natal, Kabupaten Mandailing Natal, Provinsi Sumatera Utara dilakukan dengan metode sosio-legal. Kajian tersebut dilakukan secara normatif dan empiris, dalam
rangka menjelaskan bagaimana hukum bekerja di dalam praktik sehari-hari, dan
untuk menjelaskan relasi antara hukum dengan masyarakat. Keterkaitan antara hukum dengan masyarakat itu terlihat dalam konteks ketika hukum bukan hanya mempengaruhi masyarakat tetapi masyarakat juga mempengaruhi pengaturan hukum.
Studi normatif di penelitian tersebut dilakukan dengan mempelajari teks-teks peraturan perundang-undangan yang relevan dan putusan hakim. Terkait
14 R. Ismala Dewi, Pengaturan Air Untuk Industri Air Kemasan dan Dampaknya Bagi
Masyarakat Lokal, Cet I, (Jakarta: UI-Press, 2013), Hal 24-25.
UNIVERSITAS INDONESIA | 13 studi normatif, dilakukan analisa terhadap bahan-bahan hukum primer, sekunder dan tersier. Penulis melakukan kajian dan analisa terhadap bahan hukum primer di
antaranya :
a. Undang-undang Dasar (UUD) 1945, berupa pasal – pasal yang tekrait
dengan hak asasi manusia dan hak asasi atas air, serta menyangkut jaminan dan tanggung jawab dari negara atas pemenuhan hak-hak mendasar dari
setiap warga negara di Indonesia.
b. Undang – undang terkait persoalan akses atas SDA seperti Undang – undang
(UU) No. 7 Tahun 2004 tentang Sumber Daya Air, Undang – undang No. 11 Tahun 1974 tentang Pengairan, Undang – undang No. 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah, Undang – undang No. 6 Tahun 2014 tentang Desa.
c. Putusan Mahkamah Konstitusi (MK) yaitu Putusan MK No. 85/PUU
-XI/2013 yang membatalkan UU No. 7 Tahun 2004 tentang Sumber Daya Air dan mengembalikan pemberlakuan UU No. 11 Tahun 1974 tentang Pengairan.
d. Adanya Peraturan – peraturan dibawah Undang – undang seperti Surat
Edaran Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat No. 04/SE/M/2015 tentang Kerjasama Pemerintah dan Swasta terkait dengan SPAM, Peraturan – peraturan Daerah yaitu Peraturan Daerah (Perda) Tingkat Provinsi Sumatera Utara No. 5 Tahun 2014 tentang Rencana pembangunan Jangka Panjang dan Menengah Provinsi Sumatera Utara Tahun 2015 -2018, Peraturan Daerah Provinsi Sumatera Utara No. 4 Tahun
2013 tentang Pengelolaan Air Tanah, Peraturan Gubernur Sumatera Utara No. 8 Tahun 2014 tentang Pengelolaan Sumber Daya Air Provinsi Sumatera Utara.
Peraturan Tingkat Internasional terkait Hak Asasi Manusia dan Hak Asasi atas Air yaitu Deklarasi Universal Hak Asasi Manusia (Universal Declaration of Human Rights/UDHR) Resolusi Majelis No. 217 A (III) 10 Desember 1948, Kovenan Internasional tentang Hak atas Ekonomi, Sosial dan Budaya (International Covenant on Economic, Social, and Cultural Rights/ICESCR),
UNIVERSITAS INDONESIA | 14 tentang The Right of Water. Penelitian juga dilakukan terhadap berupa bahan hukum sekunder seperti buku-buku, jurnal, paper, artikel online dan laporan
perencanaan bidang sumber daya air yang diterbitkan oleh pihak dinas dan badan pemerintah yang berwenang di sektor sumber daya air. Sebagai dukungan analisis, kajian juga di lakukan terhadap bahan hukum tersier berupa Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) Online seperti terkait pendekatan konseptual dan perumusan definisi operasional terkait persoalan yang dibahas di dalam skripsi ini.
Selain studi normatif yang telah dijelaskan, penelitian ini juga dilakukan studi empiris yang memakai ilmu antropologi sebagai ilmu sosial yang mendukung kajian terhadap permasalahan hak asasi atas akses air di Kota Kecamatan Natal. Dalam melakukan penelitian secara empiris terkait permasalahan tersebut, pada tahap awal penulis melakukan kunjungan ke beberapa badan dan dinas pemerintah daerah yang berwenang pada sektor sumber daya air dalam rangka mendapatkan laporan perencanaan bidang sumber daya air di Kabupaten Mandailing Natal dan melakukan pengamatan (observasi) di Kota Kecamatan Natal. Selain melakukan pengamatan (observasi) ke lapangan penelitian tersebut, penulis juga melakukan wawancara kepada pejabat dan aparatur pemerintahan di badan dan dinas pemerintahan yang berwenang pada bidang sumber daya air di wilayah Provinsi Sumatera Utara dan Kabupaten Mandailing Natal, di antara nya yaitu Kepala Badan Perencanaan Daerah (Bappeda) dan Kepala Bidang Fisik dan Prasarana Bapedda Daerah Kabupaten Mandailing Natal, Staf di Direktorat Jenderal Cipta Karya Provinsi Sumatera Utara, Sekretaris Camat Natal, Kepala Desa beberapa Masyarakat Natal dan salah satu pelaku usaha air minum isi ulang.
Terkait pemaparan metode penelitian sosio-legal yang telah dijelaskan, hal
tersebut dimaksudkan untuk memperlihatkan bagaimana pelaksanaan atas pemenuhan hak asasi atas air di lapangan terkait doktrin-doktrin dan peraturan
perundang-undangan terkait dengan persoalan di lapangan terkait akses air
khususnya di Kota Kecamatan Natal. Melalui metode penelitian sosio-legal, dapat
dilihat bahwa kajian antara bahan-bahan hukum yang bersifat normatif-yuridis
dan empiris-antropologis sebagai pisau analisis dalam meneliti dan mengkaji
-UNIVERSITAS INDONESIA | 15 buku artikel dan kamus yang bersifat normatif-yuridis.
Sebagai gambaran persoalan akses air di lapangan, dilakukannya penelitian yang bersifat empiris-antropologis bahwa untuk mengetahui dan membahas
pengelolaan dan pemanfaatan akses air serta kearifan budaya pada masyarakat di Kota Kecamatan Natal. Hal tersebut juga untuk mengetahui bagaimana pelaksanaan atas pembangunan terhadap akses air bagi masyarakat di Natal oleh pemerintah Kabupaten Mandailing Natal. Kemudian pengamatan/observasi di lapangan untuk mengetahui bagaimana pelaksanaan pemenuhan akses air tersebut dan mengetahui bagaimana perspektif dan pandangan para pihak seperti masyarakat, aparatur pemerintahan di Natal, dan pelaku usaha terkait dengan pengelolaan dan pemanfaatan air di Natal.
1.6 Sistematika Penulisan
Secara keseluruhan, dalam penulisannya skripsi ini terdiri Skripsi ini terdiri dari lima bab pokok di antaranya :
Bab 1 menguraikan mengenai pendahuluan memaparkan latar belakang terkait permasalahan vitalnya akses atas air bagi setiap orang. Hal tersebut dimulainya dari pentingnya air bagi keberlangsungan kehidupan manusia, akses atas air pada masyarakat, landasan konstitusi, peraturan teknis, serta pentingnya kajian hukum terhadap persoalan air di Kota Kecamatan Natal kemudian penulis memaparkan pokok permasalahan, tujuan penelitian, metode penelitian yang digunakan serta sistematika penulisan.
Bab 2 membahas mengenai landasan hukum hak asasi atas air di tingkat nasional dan internasional. Pada bagian ini penulis membahas substansi
pengaturan terkait hak asasi atas akses air yang dimulai dengan landasan konstitusi UUD 1945, peraturan perundang–undangan dan pengaturan padalingkup hukum internasional.
Bab 3 membahas mengenai persoalan akses air bagi masyarakat di Kota Kecamatan Natal, Mandailing Natal, Provinsi Sumatera Utara. Pada bagian ini dibahas mengenai substansi dari permasalahan atas akses atas air yang dihadapi Masyarakat Natal.
UNIVERSITAS INDONESIA | 16 masyarakat di Kota Kecamatan Natal. Pada bagian ini menjelaskan bagaimana peran dari pemerintah, pemerintah daerah, masyarakat lokal, serta pemangku kepentingan dalam mengatasi persoalan akses air masyarakat di Kota Kecamatan Natal.
UNIVERSITAS INDONESIA | 17 BAB II
LANDASAN HUKUM HAK ASASI ATAS AIR DI INDONESIA DAN PERATURAN DI TINGKAT INTERNASIONAL
2. 1 Landasan Hukum Hak Asasi Atas Air Di Indonesia 2. 1. 1 Landasan Konstitusional Hak atas Air
Undang – Undang Dasar (UUD) 1945 merupakan landasan konstitusional untuk memberikan jaminan dan perlindungan Hak Asasi Manusia bagi seluruh warga negara Indonesia. Dalam pelaksanaannya, negara dituntut untuk mewujudkan pemenuhan hak asasi manusia itu. Salah satu hak yang termasuk yaitu Hak Asasi atas akses air sebagai bagian dari hak yang mendasar yang harus dipenuhi. Atas dasar hal tersebut, hak asasi atas akses air sebagai bagian dari kesejahteraan dan keadilan bagi setiap orang. Hal itu sebagaimana ketentuan Pasal 28H ayat (1) dan (2) UUD 1945 yang berbunyi :
―(1) Setiap orang berhak hidup sejahtera lahir dan batin, bertempat tinggal, dan mendapatkan lingkungan hidup yang baik dan sehat serta berhak memperoleh pelayanan kesehatan.‖
―(2) Setiap orang berhak mendapat kemudahan dan perlakuan khusus untuk memperoleh kesempatan dan manfaat yang sama guna mencapai persamaan dan keadilan.‖
Melalui pengaturan Pasal 28H ayat (1) dan (2) tersebut, Negara memberikan jaminan dan perlindungan atas hak-hak yang mendasar bagi setiap warga negara.
Hak - hak mendasar itu berupa kesejahteraan yang hakiki dalam kehidupan setiap
UNIVERSITAS INDONESIA | 18 yang berkeadilan sebagaimana cerminan Sila Kelima dari Pancasila yaitu keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Terkait hak asasi atas air, Negara memiliki tanggung jawab dan wewenang yang utama terhadap proses pemenuhan perlindungan serta penegakan atas HAM yang masuk sebagai komitmen utama sebagaimana di atur dalam Pasal 28I ayat (4) UUD 1945 yang berbunyi :
―(4) Perlindungan, pemajuan, penegakan, dan pemenuhan hak asasi manusia adalah tanggung jawab negara, terutama pemerintah‖
Sebagaimana penjelasan sebelumnya, pemenuhan hak asasi atas air sebagai bagian dari HAM, wajib untuk dipenuhi mengingat hal itu sebagai bagian dari kebutuhan dasar bagi setiap masyarakat. Hal itu sebagai tanggung jawab negara dalam penguasaan untuk pemenuhan kesejahteraan masyarakat, sebagaimana diatur pada ketentuan Pasal 33 ayat (3) UUD 1945 yang berbunyi :
“(3) Bumi, air, angkasa, dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya dikuasai oleh negara dan dipergunakan untuk sebesar-besar kemakmuran
rakyat.‖
Sebagaimana penjelasan sebelumnya, baik pemerintah maupun pemerintah daerah sebagai pihak yang memiliki wewenang dan tanggung jawab atas penguasaan dan pengelolaan terhadap cabang-cabang produksi dari kekayaan
alam yang terkandung pada wilayah Indonesia. Berlandaskan pada ketentuan UUD 1945, Negara melaksanakan hak menguasai negara dengan tujuan mensejahterakan dan memakmurkan kehidupan atas rakyat dan bangsa di Indonesia termasuk dalam pemenuhan akses air sebagai bagian dari hak asasi manusia.
2. 1. 2 Pengaturan Sumber Daya Air sebelum Putusan Mahkamah Konstitusi No.85\PUU-XI\2013
Pengaturan terkait sumber daya air (SDA) setelah UU No. 7/2004 tentang Sumber Daya Air yang pembentukannya dilatarbelakangi adanya pertimbangan bahwa perkembangan waktu dan zaman yang mana masyarakat menghadapi keadaan terjadinya ketidakseimbangan antara ketersediaan air dengan kebutuhan air yang semakin meningkat. Dengan demikian, diperlukan suatu landasan hukum
UNIVERSITAS INDONESIA | 19 bersangkutan. Undang-undang Nomor 11 Tahun 1974 tentang Pengairan sudah tidak sesuai dengan tuntutan perkembangan keadaan dan perubahan dalam kehidupan masyarakat atas air sehingga adanya tuntutan segera membentuk undang-undang yang baru. Seiring perkembangan zaman,Undang-Undang No. 7 Tahun 2004 memiliki substansi pengaturan yang lebih kompleks dibanding pengaturan Undang – undang No. 11 Tahun 1974 tentang Pengairan. Namun dalam praktiknya terdapat pergeseran makna atas hak guna atas air yang berfungsi sosial dalam pemenuhan kebutuhan vital bagi masyarakat. Hak guna pakai air bagi masyarakat disetarakan dengan hak guna usaha air yang dimiliki oleh pelaku usaha menimbulkan potensi konflik antara pemegang hak guna pakai atas air oleh masyarakat dengan pihak pelaku usaha air sebagai pemegang hak guna usaha atas air. Hal itu menghalangi pemenuhan kesejahteraan dan kemakmuran rakyat.
Pembentukan Undang - Undang No. 7 Tahun 2004 tentang Sumber Daya Air dilatarbelakangi adanya program WATSAL (Water Resources Sector Adjustment Loan) oleh Bank Dunia sebagai syarat pinjaman kepada pihak Indonesia.16 Program WATSAL yang berasal dari Bank Dunia menawarkan
perbaikan kebijakan, kelembagaan, peraturan dan sistem hukum, pengelolaan dan konservasi. Konsekuensi yang timbul dari WATSAL di antaranya pembentukan Dewan Air, Sistem Lisensi Air, Sistem Pajak Air, partisipasi sektor swasta terkait pengelolaan suatu daerah aliran sungai (DAS). Syarat – syarat yang diajukan oleh Bank Dunia menandakan adanya pelonggaran pengawasan negara atas pengelolaan air sehingga membuka peluang pihak swasta untuk menguasai SDA demi kepentingan usaha dan modal.
Adanya program itu menekankan pihak pemerintah Indonesia untuk melakukan restrukturisasi menyeluruh atas sektor SDA mulai dari perbaikan kebijakan, kelembagaan, peraturan dan sistem hukum, pengelolaan dan konservasi yang mengarah pada privatisasi sektor air terkait pinjaman utang tersebut. 17 Pengusahaan air tersebut menjadikan air sebagai barang ekonomis yang ditentukan dengan mekanisme pasar dan dihitung dengan kemampuan membeli dari tiap orang. Terkait persoalan sebelumnya, berikut dipaparkan beberapa
16
Indonesia-Water Resources Sector Adjustment Loan, WORLD BANK, Report No. PID7067,
diakses 19 April 2016.
17http://www.fair
UNIVERSITAS INDONESIA | 20 ketentuan yang terdapat pada Undang-undang No. 7 Tahun 2004 tentang Sumber
Daya Air yaitu :
Tabel 1. 1 Ketentuan Pasal UU No. 7 Tahun 2004 tentang Sumber Daya Air
UNDANG –UNDANG NO. 7 TAHUN 2004
Asas dan Landasan (Pasal 2) Pengelolaan SDA berdasarkan kelestarian,
keseimbangan, kemanfaatan umum,
keterpaduan dan keserasian, keadilan,
kemandirian, serta transparansi dan
akuntabilitas.
Hak Menguasai Negara (pasal 5 dan 6)
Negara menjamin hak setiap orang untuk mendapatkan air bagi kebutuhan pokok
minimal sehari-hari guna memenuhi
kehidupannya yang sehat, bersih, dan produktif.
SDA dikuasai oleh negara dan
dipergunakan untuk sebesar-besar
kemakmuran rakyat.
Hak atas Air (Pasal 7 dan 26) Hak guna air terbagi menjadi dua yaitu hak guna pakai air dan hak guna usaha air yang tidak dapat tidak dapat
disewakan atau dipindahtangankan,
sebagian atau seluruhnya.
Prioritas Pengunaan Air (Pasal 26, 29,
dan 40) Pendayagunaan SDA ditujukan terhadap
pemanfaatan sumber daya air secara
berkelanjutan dengan mengutamakan
pemenuhan kebutuhan pokok kehidupan masyarakat secara adil.
Mengedepankan fungsi sosial dalam
pemanfaatan air sebagai wujud dari keadilan dengan membayar biaya jasa atas pengelolaan air dan penglibatan peran masyarakat.
UNIVERSITAS INDONESIA | 21 Hak dan Kewajiban Masyarakat
(Pasal 62, 82, 83)
Masyarakat memiliki hak terkait masalah SDA yaitu informasi terkait pengelolaan
SDA, ganti kerugian akibat dari
pengelolaan SDA, manfaat atas
pengelolaan sumber daya air, keberatan terhadap rencana pengelolaan sumber daya air, laporan dan pengaduan, dan gugatan ke pengadilan
Dalam hal kewajiban, mengedepankan kepentingan umum melalui perannya atas konservasi, perlindungan dan pengamanan terhadap sumber daya air.
Partisipasi Masyarakat (Pasal 11) Penyusunan pola pengelolaan sumber daya air sebagaimana dimaksud pada ayat (2)
dilakukan dengan melibatkan peran
masyarakat dan dunia usaha seluas-luasnya.
Pengunaan Air dengan Izin (Pasal 8 dan 9)
Pengunaan air dengan izin diberlakukan
bagi pihak – pihak yang mendayagunakan mekanisme izin oleh pemerintah atau pemerintah daerah.
Yang memberi izin usaha (Pasal 9) Pemerintah atau pemerintah daerah berwenang dan bertanggung jawab atas izin usaha mengacu pada pola pengelolaan sumber daya air yang ditetapkan pada setiap wilayah sungai, mentaati ketentuan
izin dan pembatasan lingkup akses
UNIVERSITAS INDONESIA | 22 Berdasarkan pokok –pokok pengaturan yang di bahas sebelumnya, UU No. 7 Tahun 2004 tentang Sumber Daya Air tersebut lebih lengkap dan kompleks dibandingkan UU No. 11 Tahun 1974 tentang Pengairan. Undang - Undang tentang SDA membagi dua Hak atas Air yaitu Hak Guna Pakai Air dan Hak Guna Usaha Air. Di satu sisi, UU SDA menekankan pemenuhan kepentingan masyarakat umum dan dilibatkannya masyarakat dalam pengelolaan air. Namun demikian, UU ini yang membuka peluang bagi pelaku usaha air yang dilakukan dengan mekanisme perizinan yang kemudian memanfaatkan air untuk kepentingan usahanya. Hal itu membuka celah privatisasi atas air dan membatasi akses atas air bagi masyarakat karena air semakin dikuasai oleh swasta yang memiliki modal besar. Akibatnya akses masyarakat terhadap air semakin sulit. Dengan demikian, persoalan tersebut menjadi pertimbangan beberapa pihak pemohon untuk mengajukan judicial review atas UU No. 7 Tahun 2004 tentang SDA terhadap UUD 1945, mengingat hakikat air sebagai hak asasi manusia yang harus dipenuhi oleh negara.
2. 1. 3 Putusan MK No. 85/PUU-XI/2013 tentang Pembatalan UU 7/2004
tentang Sumber Daya Air
Adanya Putusan MK yang membatalkan Undang-undang 7 Tahun 2004
tentang Sumber Daya Air (SDA) sebagai bentuk adanya permohonan pengujian dari pihak-pihak yang merasa dirugikan dengan adanya pemberlakuan Undang
-undang No. 7 Tahun 2004 tentang SDA. Beberapa hal yang menjadi alasan dari pemohon mengajukan judicial review terhadap UU No.7 Tahun 2004 antara lain :
1. Undang - Undang No. 7 Tahun 2004 memiliki keterkaitan dengan program
WATSAL (Water Resources Sector Adjustment Loan) yang berasal dari lembaga donor keuangan internasional yang tidak terlepas dari substansi undang-undang yang memberi kelonggaran terhadap modal asing dalam
melakukan pengelolaan terhadap sumber daya air.
2. Adanya pergeseran makna Hak atas Air yang merupakan fungsinya sosial
UNIVERSITAS INDONESIA | 23 3. Timbul suatu penafsiran lain atas pelaksanaan UU SDA dan dilakukan
pengujian konstitusional terhadap beberapa ketentuan pasal di UU SDA.
4. Air dianggap sebagai bagian dari kebutuhan yang vital terhadap eksistensi
kehidupan seluruh makhluk hidup dan oleh karenanya dibutuhkan pengaturan yang adil dalam peruntukan dan penggunaannya. Dari hal tersebut diharapkan pemanfaatan air bisa dilakukan secara optimal bagi seluruh unsur kehidupan yang ada di muka bumi yang mengacu pada landasan mendasar dari ketentuan pasal Pasal 18B ayat (2), Pasal 28H ayat (1), Pasal 28I ayat (4), dan Pasal 33 ayat (2) Undang-undang dasar 1945.
Berdasarkan hal – hal sebagaimana dijelaskan sebelumnya, terdapat
penegasan kewajiban, baik pemerintah maupun pemerintah daerah dalam hal penyediaan air bersih bagi masyarakat berangkat dari pengakuan air sebagai bagian di dalam hak asasi manusia yaitu kedudukan air yang mendasar bagi kehidupan manusia dan perlindungan terhadap akses atas air sebagai hak yang mendasar. Aspek-aspek kewajiban oleh negara terhadap pemenuhan hak asasi atas
air antara lain a) Negara harus menghormati (to respect); b) Melindungi (to protect) dan memenuhinya (to fulfill).18 Negara sebagai res republica yang berorientasi kepada kepentingan umum dan harus mengedepankan fungsi sosial dari air pemenuhan kebutuhan dan kesejahteraan masyarakat. Kepentingan rakyat tersebut tidak dapat diganggu gugat mengingat air sebagai unsur vital dalam hal keberlangsungan dari perkembangan dan pembangunan terhadap masyarakat.
Negara dengan kewenangan dan tanggung jawabnya harus mengutamakan pemenuhan hak asasi atas akses air sebagai hak yang utama dalam rangka
pemenuhan hak asasi atas air bagi setiap masyarakat.
Persyaratan konstitusionalitas UU SDA tersebut bahwa dalam pelaksanaannya harus menjamin terwujudnya amanat konstitusi UUD 1945 tentang hak penguasaan negara atas air sebagaimana terdapat pada enam prinsip dasar mengenai pembatasan pengelolaan SDA di Putusan MK.19 Dalam menjalankan perannya, pemerintah menjalankan fungsi pengaturan dan
18 Pasal 12 (1) Kovenan ICESCR, ―The States Parties to the present Covenant recognize
the right of everyone to the enjoyment of the highest attainable standard of physical and mental health‖.
19http://www.mahkamahkonstitusi.go.id/index.php?page=web.Beritadanid=10634#.VsQdS
UNIVERSITAS INDONESIA | 24 pengawasan terhadap pengelolaan SDA. Dalam mendukung pemerintah, partisipasi dari masyarakat sebagai bagian dari pelaksanaan asas demokratisasi dalam pengelolaan air yang diutamakan di dalam pengelolaan air khususnya oleh pihak Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) sebagai cerminan secara langsung baik atau buruknya negara dalam melakukan kewajibannya untuk memenuhi hak asasi atas air kebutuhan dasar masyarakat atas air. PDAM harus diposisikan sebagai unit operasional negara dalam merealisasikan kewajiban negara dalam memenuhi akses masyarakat atas air. Air sebagai sumber daya yang sangat vital serta terkait langsung dengan hak asasi, maka dalam kebijakan dengan tegas kewajiban bagi pemerintah daerah untuk menganggarkan dalam APBD sebagai sumber pembiayaan pengelolaan sumber daya air di daerah tersebut.
Melalui Putusan MK tersebut, pernyataan oleh Majelis Hakim MK bahwa tidak menutup kemungkinan partisipasi swasta dalam sektor penyelenggaraan air minum. Namun demikian, ditekankan bahwa partisipasi swasta tersebut tidak boleh menghilangkan makna penguasaan oleh negara dan menggeser fungsi sosial dari air itu sendiri. Kerangka kerjasama dengan pihak swasta tidak boleh menghambat pemerintah dalam penyelenggaraan atas pengelolaan air tersebut.20 Adanya perizinan dalam pemanfaatan SDA menimbulkan diskriminasi dan monopoli atas penguasaan sumber-sumber air oleh swasta dan kelompok yang memiliki Hak Guna Usaha atas Air. Pelaku usaha memiliki hak untuk mengelola dan mendistribusikannya untuk berbagai kepentingan usahanya dan memungut biaya demi kepentingan ekonomi yang dimilikinya. Hal tersebut berdampak pada tergesernya kedudukan hak atas air masyarakat yang selama ini menggunakan air secara bersama-sama. Sumber-sumber air milik bersama masyarakat yang kemudian telah diusahakan oleh swasta, maka pengguna air tidak punya pilihan lain kecuali menerima dari kehadiran dari pelaku usaha tersebut. Hal tersebut berdampak pada pengguna air membayar secara penuh biaya pengusahaan tersebut yang artinya selain menanggung biaya pengolahan dan distribusi, pengguna air juga menanggung keuntungan jangka panjang bagi jalannya usaha tersebut.
UNIVERSITAS INDONESIA | 25 Berdasarkan pertimbangan majelis hakim Mahkamah Konstitusi, privatisasi atas air sangat bertentangan dengan mandat UUD 1945, khususnya berdasar pada Pasal 33 ayat (3) UUD 1945 yang menegaskan bahwa cabang-cabang produksi yang penting bagi negara dan yang menguasai hajat hidup orang banyak dikuasai oleh negara. Oleh karena itu, pihak pemerintah daerah harus mengusahakan tetap
mengutamakan adanya hak asasi atas air dan melibatkan peran dari masyarakat dalam pengelolaan SDA.Dalam pertimbangannya terhadap permohonan para Pemohon, Mahkamah Konstitusi mengemukakan beberapa hal-hal antara lain21 :
1. Hak Rakyat harus diutamakan dan tidak boleh diganggu dalam hal
pemanfaatan SDA. Hal itu harus dikelola dengan pengusasaan oleh negara yang peruntukannya adalah untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat. 2. Pemenuhan Hak masyarakat atas air menjadi bagian di dalam mekanisme
HAM tersendiri.
3. Aspek kelestarian lingkungan hidup tetap menjadi bagian di dalam
mekanisme hak asasi manusia bahwa setiap orang berhak hidup sejahtera lahir dan batin, bertempat tinggal, dan mendapatkan lingkungan hidup yang baik dan sehat serta berhak memperoleh pelayanan kesehatan
4. Penguasaan di dalam pengelolaan dan pemanfaatan air sebagai salah satu
cabang produksi yang penting dan menguasai hajat hidup orang banyak sebagaimana dijamin oleh ketentuan Pasal 33 ayat (2) UUD 1945.
5. Kedudukan air yang menyangkut hajat hidup orang banyak maka prioritas
pengelolaan dan pengusahaan diberikan kepada BUMN atau pun BUMD. Berdasarkan penjelasan sebelumnya, pengusahaan air tetap dimungkinkan diberikan kepada pihak privat oleh pemerintah namun dengan pertimbangan bahwa syarat-syarat tertentu dan ketat serta masih dipertimbangkan dengan
ketersediaan air. Hal tersebut menunjukkan pentingnya keberadaan negara dalam memegang hak penguasaan atas air terkait dengan syarat konstitusionalitas atas UU SDA bahwa penguasaan negara atas pengelolaan dan penguasaan air oleh negara dapat mewujudkan hal - hal antara lain22 :
1. Konsep Hak Guna Pakai Air dalam UU SDA harus ditafsirkan sebagai
turunan (derivative) dari hak hidup yang dijamin oleh UUD 1945.
21 Mahkamah Konstitusi, Putusan Nomor 85/PUU-XI/2013, hal 27.
22Ibid., hal 141
UNIVERSITAS INDONESIA | 26 2. Konsep hak dalam Hak Guna Air harus dibedakan dengan konsep hak
dalam pengertian umum.
3. Prinsip “penerima manfaat jasa pengelolaan sumber daya air wajib menanggung biaya pengelolaan” harus dimaknai sebagai prinsip bahwa air tidak serta merta sebagai objek ekonomi semata.
4. Pengguna sumber daya air untuk memenuhi kebutuhan pokok sehari-hari
dan untuk pertanian rakyat tidak dibebani biaya jasa pengelolaan sumber daya air, sepanjang pemenuhan kebutuhan pokok sehari-hari dan untuk
pertanian rakyat di atas diperoleh langsung dari sumber air.
5. Adanya pengakuan terhadap masyarakat yang memegang hukum adat
dalam mengatur SDA sesuai dengan Pasal 18B ayat (2) UUD 1945.
6. Pada prinsipnya pengusahaan air untuk negara lain tidak diizinkan.
Pemerintah hanya dapat memberikan izin pengusahaan air untuk negara lain apabila penyediaan air untuk berbagai kebutuhan sendiri telah terpenuhi seperti kebutuhan pokok, sanitasi lingkungan.
Berdasarkan alasan–alasan yang telah dijelaskan sebelumnya, Majelis Hakim MK mengeluarkan pertimbangan hukum yaitu :
1. Melalui putusan dinyatakan UU No. 7 Tahun 2004 tentang SDA
bertentangan dengan UUD 1945.
2. UU No. 7 Tahun 2004 tentang SDA tidak memiliki kekuatan hukum yang
mengikat sebagaimana sebelumnya,
3. UU No. 11 Tahun 1974 tentang Pengairan dinyatakan berlaku kembali.
Adanya keputusan Mahkamah Konstitusi itu, mengembalikan semangat cita
- cita konstitusi terkait fungsi sosial dari air bagi masyarakat Indonesia. Undang –
UNIVERSITAS INDONESIA | 27 maupun non-teknis seperti kelembagaan dan pemberdayaan masyarakat terkait
dengan tujuan pemenuhan hak asasi atas akses air bagi masyarakat.
2. 1. 4 Berlakunya kembali UU 11/1974 tentang Pengairan
Melalui putusan MK No. 85/PUU-XI/2013 yang dbatalkannya UU No.
7/2004 tentang Sumber Daya Air maka pada pertimbangan hukum nya yang menyatakan pemberlakuan kembali UU No. 11 Tahun 1974 tentang Pengairan. Dalam pembentukannya, UU No. 11 Tahun 1974 tentang Pengairan memiliki latar belakang pembentukan :
a. Algemeen Waterreglement Tahun 1936 yang tidak sesuai perkembangan dan keadaan zaman sehingga digantikan oleh Undang - Undang No. 11 Tahun 1974 tentang Pengairan.
b. Pembentukan Undang-undang tentang pengairan ini penting mengingat sifatnya yang nasional dan perlu disesuaikan dengan perkembangan keadaan di Indonesia ditinjau dari segi ekonomi, sosial dan teknologi, guna dijadikan landasan bagi penyusunan peraturan perundang-undangan selanjutnya.
Adanya pembatalan UU No. 7 Tahun 2004 oleh Mahkamah Konstitusi, pengaturan atas sektor air diberlakukan kembali lagi pada UU 11 Tahun 1974 tentang Pengairan yang dikarenakan masih memiliki hakikat pengaturan atas akses dan pemanfaatan air yang berfungsi sosial. UU tentang Pengairan mengatur tentang fungsi bahwa penggunaan air beserta sumber-sumbernya termasuk kekayaan alam yang terkandung didalamnya seperti dimaksud dalam Pasal 1 angka 3, 4, dan 5 mempunyai fungsi sosial serta digunakan untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat.
Pada hal substansi, UU No. 11 Tahun 1974 mengatur pengelolaan SDA melalui tata pengaturan air dalam hal pembinaan terhadap pemilikan, penguasaan,
penggunaan, pengusahaan, dan pengawasan atas air beserta sumber-sumbernya
UNIVERSITAS INDONESIA | 28 Tabel 1. 2. Ketentuan Undang – undang No. 11 Tahun 1974 tentang
Pengairan
UNDANG – UNDANG NO. 11 TAHUN 1974
FUNGSI Menegaskan adanya fungsi sosial air dan
pengunaannya bagi sebesar-besarnya
PEMBINAAN Tata cara pembinaan kegiatan pengairan
dilakukan menurut bidangnya masing-masing sesuai dengan fungsi-fungsi dan peranannya. (Pasal 10)
PENGUSAHAAN Pengusahaan air diberikan kepada Badan
Hukum, badan sosial atau perseorangan
EKSPLOITASI DAN PEMELIHARAAN Adanya jaminan kelestarian fungsi atas
UNIVERSITAS INDONESIA | 29
PEMBIAYAAN Adanya pengenaan biaya terhadap kegiatan
pembangunan fasilitas pengairan oleh
pihak – pihak seperti masyarakat dalam
badan usaha baik perseorangan maupun kelompok (Pasal 14)
KETENTUAN PIDANA Ketentuan Pidana dilakukan terhadap pihak
pihak yang melakukan pengusahaan air yaitu :
Pengusahaan air yang tidak sesuai dengan perencanaan baik teknis maupun non teknis.
Pengusahaan air tanpa izin dari pemerintah Dengan sengaja tidak melakukan dan/atau tidak ikut membantu usaha penyelamatan terhadap kelestarian SDA. (Pasal 15)
Substansi pengaturan UU No 11 Tahun 1974 tentang Pengairan masih bersifat umum serta belum serinci pengaturan di dalam Undang – undang No. 7 Tahun 2004 tentang SDA. Namun yang patut dipahami bahwa aspek yang terpenting dari pengaturan UU tentang Pengairan ini melingkupi asas dan fungsi sosial di dalam pengelolaan air. Undang-Undang No. 11 Tahun 1974 tentang
Pengairan ini juga mengatur tentang pengusahaan atas Air yang berlandaskan pada asas – asas kebersamaan dan kekeluargaan. Izin tetap dapat diberikan terhadap pengusahaan air namun pemanfaatannya dilakukan demi kesejahteraan rakyat. Terkait dengan pengelolaan dan pemanfaatan air, kedua peraturan perundang – undangan tersebut diberlakukan suatu sanksi hukum berupa pemidanaan yang dapat dijatuhkan kepada pihak yang mengusahakan air yang tidak sesuai perencanaan dan tanpa izin dari pemerintah serta tidak mengikuti partisipasi dalam kelestarian SDA.
2. 1. 5 Pengaturan Kewenangan dan Tanggung Jawab Pemerintah Daerah terhadap Sumber Daya Air
2. 1. 5. 1. Undang - Undang No. 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan
Daerah
UNIVERSITAS INDONESIA | 30 dalam mengatur dan mengurus urusan pemerintahan terhadap kepentingan masyarakat setempat sebagai bagian dari upaya mewujudkan daerah yang mampu menyelenggarakan urusan pemerintahan di daerah yang bersangkutan. Salah satu tujuan dari otonomi daerah antara lain berkurangnya ketergantungan pembiayaan pada keuangan negara dan berkembangnya perekonomian di daerah yang bertumpu pada sumber daya di daerah dalam mencapai keberhasilan penyelenggaraan pemerintahan daerah dan pemenuhan terhadap masyarakat. Dengan kesimpulan berhasil atau tidaknya kebijakan dari otonomi daerah bergantung pada aktivitas yang pemerintah daerah itu sendiri yang dikenal dengan istilah The Impact of Local Government Activity.23 Hal tersebut menandakan sebagian kebijakan yang dilaksanakan di daerah yang sudah tidak lagi ditentukan pemerintah pusat lagi.24 Hal tersebut membuat pemerintah daerah bertanggung jawab khususnya bagi kesejahteraan masyarakat di daerah yang bersangkutan.
Adanya pemberlakuan otonomi daerah, sektor SDA termasuk dalam lingkup perencanaan dan pelaksanaan yang menjadi bagian dari wewenang dan tanggung jawab dari pemerintah daerah. Hal ini dikarenakan sektor SDA dipandang sebagai sumber yang sangat penting mengingat air sebagai sektor yang penting dan menguasai hajat hidup orang banyak yang mana pemerintah daerah lebih mengetahui masalah lokalitas yang ada pada daerah bersangkutan. Pemerintah daerah perlu menjadikan air sebagai prioritas utama dengan memasukkan bidang air perencanaan anggaran daerah serta kebijakan dari daerah yang bersangkutan. Dari kebijakan tersebut, pemerintah daerah mengambil tindakan pengaturan (regelendaad) dan pengelolaan (beheersdaad) serta pengawasan terhadap pengelolaan SDA di daerah yang bersangkutan.
Sebagaimana Pasal 12 ayat (1-4) Undang-Undang 23 Tahun 2014 tentang
Pemerintahan Daerah, pada prakteknya pemerintah maupun pemerintah daerah dapat menjalankan secara sinkron kedua urusan pemerintahan baik yang bersifat wajib maupun pilihan dengan melihat wewenang dan tanggung jawab masing
-masing.25 Dalam pengelolaan SDA, terdapat keterkaitan dengan urusan
23 David Easton, A System Analysis of Political Life (New York: Willey, 1965), Hal 212. 24 Dian Puji N. Simatupang, Paradoks Rasionalitas : Perluasan Ruang Lingkup Keuangan
Negara dan Implikasinya terhadap Kinerja Keuangan Pemerintah, (Badan penerbit FHUI Jakarta, 2011), Hal 216.