• Tidak ada hasil yang ditemukan

PERAN HKBP DALAM POLITIK DI INDONESIA

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "PERAN HKBP DALAM POLITIK DI INDONESIA"

Copied!
12
0
0

Teks penuh

(1)

DI INDONESIA

Binsar Jonathan Pakpahan

Pendahuluan

Menjelang Pemilihan Gubernur Sumatra Utara 2018, HKBP kembali dihadapkan

kepada pertanyaan yang sering muncul menjelang pemilihan, baik itu pilkada mau pun

pilpres, yaitu sejauh apa gereja boleh berpolitik? Pertanyaan ini menjadi lebih krusial pada

saat ini karena bangsa Indonesia sebenarnya berada pada krisis kebangsaan, ketika ideologi

agama hendak dimasukkan sebagai landasan negara untuk mengganti Pancasila. Lantas, apa

peran gereja, terutama HKBP, sebagai gereja terbesar di Indonesia dalam dunia politik

Indonesia?

Untuk mencoba menganalisis bagian ini, saya akan mengajukan pemikiran Philip

Wogaman (2000) sebagai landasan teori pemeriksaan pemahaman HKBP akan perannya

dalam negara berdasarkan Pengakuan Iman (Konfesi 1951 & 1996) dan Rencana Strategis

Kerja HKBP 2016-2020 (2016). Kedua dokumen ini akan memberikan pemahaman kepada

kita mengenai apa yang HKBP pahami secara teologis mengenai perannya dalam kehidupan

berbangsa dan bernegara, serta bagaimana melihat posisi tersebut dari model yang diajukan

oleh Wogaman.

Seperti tipologi relasi Kristus dan budaya versi Richard H. Niebuhr (1975), Philip

Wogaman mengajukan lima pola hubungan antara gereja dan negara. Pertama, adalah

pemahaman teokrasi, erastianisme, pemisahan dengan tidak ramah (baca: pemisahan

mutlak), dan pemisahan dengan ramah (baca: pemisahan dengan kerja sama). Keempat pola

relasi ini umumnya dikenal di dunia dengan kecenderungan masa kini lebih mengerucut

kepada pola kerja sama antara negara dan lembaga agama (lht. Yewangoe 2009).

Meski demikian, pola kerja sama juga memiliki tantangannya sendiri, misalnya

ketakutan Abraham van de Beek, seorang teolog sistematika Belanda, yang mengingatkan

bahwa pemerintah sering memiliki agendanya sendiri dan akhirnya memaksakan agama

u tuk asuk ke dala kera gka kerja u tuk kesejahteraan bersama (2006). Van de Beek mengatakan bahwa agama harusnya punya tujuan untuk memuliakan Tuhan dan bukan

untuk menyejahterakan rakyat. Kesejahteraan rakyat adalah akibat dari kepatuhan orang

kepada kehendak Allah, bukan sebagai tujuan dari agama. Ketakutan ini tentu bukan tidak

(2)

negara misalnya, di China, kita akan mendapatkan banyak pesan titipan negara supaya

warga Kristen tunduk kepada kepentingan negara untuk rakyatnya (Xie 2006 bnd. Van Der

Borght 2006). Namun, di sisi lain, kita juga melihat kemungkinan buruk gereja yang tidak

mau ikut dalam kehidupan politik karena menganggap itu bukan urusannya. Pola apatis

seperti ini tentu tidak baik karena gereja hidup dalam dunia dan diutus ke dalam dunia

sehingga memang bagian dari polis di mana dia tinggal (lht. Yer. 29:7)

Tulisan ini saya buat untuk seorang yang saya anggap sebagai guru dan teladan saya

dalam menimba ilmu dan mengabdikannya kepada gereja dan bangsa, amang Pdt. Nelson F.

Siregar. Saya tidak akan pernah lupa pengalaman saya berjumpa dengan beliau sebagai

Praeses HKBP Distrik VII Samosir pada tahun 2001, ketika saya sedang praktik jemaat dari

kampus STT Jakarta di HKBP Ressort Onan Runggu. Sebagai orang muda yang penuh

semangat pembaruan, dan agak sedikit naif, saya merasa bahwa saya akan bisa

berkontribusi banyak bagi gereja yang saya cintai. Lalu dalam sermon distrik yang dipimpin

oleh beliau, saya menemukan banyak hal baru yang menyenangkan. Pertama, beliau

memimpin sermon dengan sandal dan kaus berkerah. Kedua, beliau memaparkan teks

Alkitab mengenai kekuatan Daud mengalahkan Goliat yang berasal dari IQ (kecerdasan

menganalisis kelemahan musuh), EQ (pemain musik), dan SQ (kedekatannya dengan Allah).

Buat saya, menemui seseorang yang berada di Samosir, yang mampu menerangkan

penggunaan multiple intelligence quotiënt dengan sangat baik (Gardner 1993), membuka

mata saya bahwa saya perlu lebih banyak belajar dari orang seperti beliau. Itulah perkenalan

pertama saya yang membuat saya banyak berdiskusi dengannya di kemudian hari mengenai

perkembangan HKBP.

Tipologi Peran Politik Gereja menurut Philip Wogaman

Pola relasi seperti apakah yang baik dan secara teologis bertanggung jawab yang

perlu dilakukan oleh gereja dalam hubungannya dengan kebijakan politis negara? Di sini,

saya hendak kembali mengajukan tipologi yang diajukan Wogaman dalam memandang

relasi ini. Menurutnya, gereja bisa aktif dalam politik melalui tujuh langkah atau level

berikut.

1. Gereja mempengaruhi etos. Dalam konteks ini, gereja menjadi suara moral yang

selalu mengingatkan negara akan kebijakan-kebijakan yang diambilnya. Gereja tidak

(3)

2. Gereja memberikan pendidikan bagi warga gereja mengenai politik. Dalam level ini,

gereja menjadi lembaga aktif yang mengajar rakyat mengenai politik, namun tidak

memberi suara atau pengaruh kepada kelompok atau partai tertentu. Contoh

konkret hal ini bisa kita lihat dalam berbagai surat pastoral yang dikeluarkan oleh

gereja atau Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia menjelang pemilu.

3. Gereja melakukan berbagai lobi. Lobi bukanlah suatu hal asing bagi gereja apalagi

ketika ada peraturan perundang-undangan yang dianggap bertentangan dengan

kepentingan gereja. Contoh beberapa lobi yang dilakukan adalah ketika pemerintah

Indonesia hendak membahas RUU Antipornografi atau RUU Pendidikan yang

kemudian mendapatkan penolakan dari gereja.

4. Gereja mendukung kandidat tertentu. Sebuah gereja tentu memiliki hak untuk

mendukung calon tertentu yang dianggap mewakili kepentingan mereka. Namun,

level keempat ini adalah batas di mana gereja sekarang mulai turut dalam politik

praktis. Politik praktis adalah sebuah situasi di mana seseorang/sebuah badan mulai

melakukan aksi konkret dalam mewujudkan pilihan politiknya. Pengarahan warga

atas sebuah pilihan tertentu juga terjadi di Pilpres 2014 dan Pilkada Gubernur DKI

Jakarta 2012 dan 2017, di mana ada persekutuan gereja/gereja yang mendukung

calon tertentu melalui surat pastoral resmi. Kelemahan dari cara ini tentu adalah

ketika warga gereja justru mendukung calon lain yang berlawanan dengan calon

yang didukung gerejanya. Sementara itu, gereja-gereja evangelikal di Amerika Serikat

tidak asing lagi dengan kampanye untuk mendukung calon presiden tertentu.

5. Gereja mendirikan partai politik. Di Pemilu 1999, beberapa gereja sepakat

mendirikan Partai Demokrasi Kasih Bangsa dan Partai Katolik Demokrat adalah

contoh keterlibatan langsung gereja membentuk partai politik di Indonesia. Hasilnya,

kedua partai ini tidak mendapatkan cukup suara untuk tetap muncul di pemilu

berikutnya. Partai Damai Sejahtera juga tidak mendapatkan cukup suara di Pemilu

2009.

6. Gereja melaksanakan pembangkangan sosial. Gereja bisa aktif berkampanye untuk

menyuruh warganya untuk tidak membayar pajak atau tidak mematuhi aturan

pemerintah yang dianggapnya berlawanan dengan pesan moral mereka. Contoh ini

bisa kita lihat ketika Gereja Katolik di Filipina berhasil menjalankan pembangkangan

(4)

7. Gereja ikut serta dalam gerakan revolusi. Ini adalah tahap keterlibatan politik praktis

gereja. Dalam langkah ini, gereja justru menjadi motor dari penggulingan atau

revolusi terhadap pemerintahan yang dianggap otoriter dan melanggar berbagai

norma moral. Ketika semua pilihan sudah habis, jalan ini adalah langkah terakhir

yang bisa dilakukan oleh gereja untuk menyuarakan kebenaran.

Dari berbagai pilihan di atas, pilihan nomor 4 adalah ambang batas keterlibatan

politik praktis gereja. Jika pilihan 1-3 adalah soal ajaran internal gereja dalam bentuk suara

dan advokasi untuk menyikapi situasi politik, pilihan 4-7 adalah aksi gereja secara langsung

di luar gerejanya untuk memengaruhi jalannya proses politik sebuah negara. Tentu langkah

di atas bukanlah tangga yang harus diikuti untuk sampai ke level berikutnya. Sebuah gereja

bisa saja melompati level tertentu untuk sampai kepada praktik politik yang lebih aktif.

Sebagai organisasi, gereja tentu dilihat sebagai sebuah vote-getter organization yang

seksi, apalagi jika gereja menjadi institusi yang diikuti oleh kebanyakan masyarakat di

sebuah lokasi tertentu. Praktik-praktik keagamaan yang bersifat searah seperti khotbah

membuat warga tidak terlalu menggunakan filter kritisnya, karena dia memiliki sikap

percaya terhadap pendeta dan materi khotbah yang akan disampaikan adalah soal Firman

Tuhan. Sikap seperti ini bisa menjadi celah yang digunakan oleh mereka yang ingin

berkampanye dan menyampaikan pesan politik praktis mengenai pemilihan calon atau

kelompok tertentu dalam khotbah. Karena itu, salah satu kode etik yang harus dipegang

dalam khotbah adalah prinsip untuk tidak berkampanye politik dalam penyampaian Firman

Tuhan.

Pemahaman Teologis HKBP mengenai Pemerintah

Bagaimana dengan peran gereja/sinode yang mengarahkan warganya untuk memilih

calon tertentu dalam bentuk endorsement resmi gereja? Lalu apa sikap politik HKBP dalam

dokumen resminya?

Pengakuan Iman HKBP 1951, Pasal 8 poin A tentang Gereja menyatakan,

A. Kita percaya dan menyaksikan :

(5)

Dalam penjelasan poin 3, dicantumkan,

Dengan ajaran ini kita menolak dan melawan:

… . Pe ikira ahwa Gereja harus e jadi Gereja Negara, se a kewaji a dari Gereja da

kewajiban negara adalah berlainan.

Dari poin di atas kita bisa menyimpulkan bahwa HKBP memahami dirinya bukan sebagai

gereja negara, namun tetap harus terlibat dalam kehidupan berbangsa seperti tercantum di

poin C di bawah ini,

C. Kita percaya serta menyaksikan :

Gereja itu adalah "Am, ialah persekutuan semua orang kudus, yang telah percaya di dalam Yesus Kristus dan pemberian-Nya, ialah Injil, Rohu'l Kudus, Iman, Kasih dan Pengharapan. Ialah orang-orang dari tiap negeri, bangsa, suku dan bahasa, walaupun berlainan kebiasaan dan keturunannya (Why. 7:9).

Dengan ajaran ini kita menolak dan melawan ajaran yang menghendaki agama kebangsaan dan juga pendirian, bahwa satu-satu Gereja dapat hidup terpisah dari yang lain.

Di bagian ini, kita bisa merasakan kuatnya pengaruh Deklarasi Barmen yang berusaha

mengingatkan bahwa gereja tidak boleh menjadi Der Volkskirche (gereja bangsa), yang

mementingkan suara bersama dalam persekutuan orang-orang percaya (lht Barmen

Declaration 1934 dalam Bradstock & Rowland 2002, 201-203). Tema penolakan ide Der

Volkskirche ini kembali diulangi di Konfesi HKBP 1996 Pasal 7 C dengan kalimat yang kurang

lebih serupa. Lebih lanjut, pemahaman HKBP mengenai relasi gereja dan pemerintah di atas

diperkuat dalam pasal 12 tentang Pemerintah yang menyatakan,

Kita menyaksikan :

Pemerintah yang berkuasa adalah dari Allah datangnya. Ialah pemerintah yang melawan kejahatan, yang mempertahankan keadilan yang berusaha agar orang percaya dapat hidup sejahtera seperti tercantum pada Roma 13 dan 1 Timotius 2:2.

Pada lai pihak kita harus i gat ya g ter a tu pada Kisah Rasul 5: 9: Waji lah ora g e urut Allah le ih daripada a usia.

Dengan ajaran ini kita menyaksikan: Gereja harus mendoakan Pemerintah agar berjalan di dalam keadilan. Sebaiknya Gereja pada saat-saat yang perlu harus memperdengarkan suaranya terhadap Pemerintah.

(6)

Jika perlu di hadapan hakim untuk menyaksikan kebenaran, orang Kristen boleh bersumpah, demikian pula waktu menerima jabatan atau pangkat.

Dari pemahaman di atas, kita bisa menyimpulkan bahwa HKBP melihat dirinya

sebagai suara kritis terhadap pemerintahan. Dia tidak menentang pemerintah karena

pemerintah berasal dari Allah, namun kepatuhan terhadap Allah tetap di atas kepatuhan

terhadap pemerintah dunia. Karena sikap kritis ini, HKBP bukanlah gereja negara, namun

juga bukan gereja yang tidak aktif dalam kehidupan berbangsa. Bahkan, gereja dilihat

sebagai penyuara norma moral terhadap pemerintahan.

Pengakuan Iman (Konfesi) HKBP 1951 berasal dari konteks yang tentu harus

disesuaikan dengan keadaan masa kini. Konfesi HKBP 1951 dibuat ketika HKBP akan masuk

ke dalam Lutheran World Federation, sebagai salah satu syarat yang diajukan pada saat itu

(Lumbantobing 1963, 120). Pada 1996, HKBP kembali merumuskan Pengakuan Imannya.

Namun ini juga jauh dari sempurna karena dirumuskan dalam masa konflik HKBP sehingga

fungsi kritis yang disebutkan di Konfesi HKBP 1951 sepertinya agak diperhalus. Pada tahun

1992-1998, ada dua kubu HKBP yang berkonflik, satu pihak secara jelas mengandalkan

kerjasama dengan pemerintah yang terbentuk di dalam Sinode Agung Istimewa di Hotel

Tiara, Medan, (SAI Tiara) tahun 1993, sementara pihak lain menamakan dirinya pihak Setia

Sampai Akhir (SSA) dan memilih untuk bersikap kritis terhadap pemerintah yang

dianggapnya turut campur tangan dalam masalah internal gereja (Lht. Pakpahan 2012).

Konfesi HKBP 1996 ditulis oleh kubu HKBP yang diakui oleh pemerintah Republik Indonesia.

Pasal 13 tentang Pemerintah mencantumkan,

Kita mempercayai dan menyaksikan:

Pemerintah yang berwibawa datang dari Allah untuk mewujudkan keadilan, melindungi, memelihara, melawan kejahatan dan menyediakan yang perlu bagi warga negara dan kehidupan umat.

Yesus Kristuslah dasar dari Gereja yang hidup di dunia ini, dan kita juga menyaksikan bahwa Allah lah yang memberikan keselamatan di dalam Yesus Kristus.

Kita mengingat bahwa kita harus lebih taat kepada Allah dari pada kepada manusia (Roma 13:1; 1Kor. 3:11, Kis. 5:29; 1Ptr. 2:13 -17; Why. 13).

Dengan ajaran ini:

(7)

Kita menekankan, Yesus Kristus, Panglima Gereja, sebagai jalan kita untuk meminta. Kita menekankan cita-cita dan tanggung jawab warga masyarakat dalam memperjuangkan keadilan, kasih, damai dan kesejahteraan melalui Pembangunan Nasional sebagai pengamalan Pancasila.

Kita menekankan bahwa kita turut serta menegakkan dan memelihara kebenaran, demikian juga turut menikmati hasil pembangunan nasional. Gereja terpanggil mendoakan

pemerintah dan aparatnya (1Tim. 2:1- 2; Rm. 13:1-7).

Di bagian ini, ada beberapa bagian dari Konfesi 1951 yang tidak dicantumkan lagi,

dan ada bagian eksplisit mengenai Pancasila yang kemudian ditambahkan. Bagi mereka yang

mengetahui sejarah konflik HKBP 1992-1998, perbedaan eksplisit ini dipahami sebagai

pemahaman kedua kelompok yang berbeda mengenai peran kritis gereja terhadap

pemerintah. Untuk lebih jelas, saya akan mencantumkan kedua bagian ini dalam tabel di

bawah dengan keterangan yang saya buat sendiri sebagai analisis saya akan pasal mengenai

pemerintah.

Konfesi HKBP 1951 Konfesi HKBP 1996 Catatan Analisis

Pemerintah yang Roma 13 dan 1 Timotius 2:2. bagi warga negara dan kehidupan umat.

Konfesi HKBP 1996 memberikan perbaikan redaksional dengan tata bahasa yang lebih baik, dan

e a ahka agia da kehidupa

umat. Pe a aha kata kehidupa umat sebenarnya tidak perlu karena setiap umat yang ada dalam suatu negara adalah warga negara. Bagian ayat Alkitab di Konfesi 1951 dipindahkan ke bagian berikutnya dan disatukan dengan ayat lainnya.

Yesus Kristuslah dasar dari Gereja yang hidup di dunia ini, dan kita juga menyaksikan bahwa Allah lah yang memberikan

keselamatan di dalam Yesus Kristus.

Konfesi HKBP 1996 memberi penekanan kepada peran Kristus sebagai dasar hidup bergereja.

Pada lain pihak kita harus ingat yang tercantum pada Kisah Para Rasul 5:29:

Waji lah ora g

Kita mengingat bahwa kita harus lebih taat kepada Allah daripada kepada manusia (Rm. 13:1; 1Kor. 3:11, Kis.

(8)

menurut Allah lebih

daripada a usia. 5:29; 1Ptr. 2:13 -17; Why. 13).

sebagai warning terhadap kemungkinan negara memaksa gereja tunduk

kepadanya, seperti yang terjadi di Perang Dunia II yang baru beberapa tahun berakhir dari pembuatan Konfesi tersebut. Sementara, pencantuman beberapa ayat yang memiliki tema yang beragam di Konfesi HKBP 1996 lebih menunjukkan bahwa peringatan ini hanya bersifat general dan tidak terlalu penting diperhatikan secara khusus.

Dengan ajaran ini kita menyaksikan: Gereja

Dengan ajaran ini: Kita menekankan, Allah lah

Konfesi HKBP 1996 menambahkan bagian penting bahwa Allah memberi kemerdekaan kepada bangsa Indonesia yang berazaskan Pancasila. Kita bisa melihat dukungan eksplisit yang diberikan oleh HKBP terhadap negara Indonesia dan Pancasila yang telah ditetapkan sebagai satu-satunya azas hidup bermasyarakat pada waktu itu oleh Presiden Soeharto.

“e e tara itu, agia “e aik ya

Gereja pada saat-saat yang perlu harus memperdengarkan suaranya terhadap

Pe eri tah tidak lagi di a tu ka di

sini. Peran gereja yang lebih suportif-kritis di Konfesi HKBP 1951 menjadi lebih suportif di Konfesi HKBP 1996.

Kita menekankan, Yesus Kristus, Panglima Gereja, sebagai jalan kita untuk meminta. Kita menekankan cita-cita dan tanggung jawab warga masyarakat

Konfesi HKBP 1996 kembali secara eksplisit menambahkan bagian dukungan terhadap pemerintah di bagian ini. Saya sendiri tidak melihat kesinambungan antara kalimat pertama dan kedua di paragraf ini, khususnya mengenai Yesus sebagai jalan meminta (kalimat pertama) dengan cita-cita dan tanggung jawab warga masyarakat).

Kita menekankan bahwa kita turut serta

menegakkan dan memelihara kebenaran,

Bagian ini kembali memperlihatkan dukungan eksplisit kepada

(9)

demikian juga turut

memang sesuai dengan panggilan gereja yaitu menegakkan dan memelihara kebenaran. Meski demikian, saya masih mempertanyakan mengapa bagian turut menikmati hasil pembangunan nasional dimasukkan sebagai tugas gereja.

Dengan ajaran ini kita menolak paham yang

Bagian ini dihilangkan oleh Konfesi HKBP 1996, dengan dua teori alasan yang bisa saya ajukan. Pertama, karena bagian ini dianggap redundant setelah disebutkan di Pasal 7 tentang Gereja bagian C. Konfesi HKBP 1951 perlu kembali menekankan hal ini karena menolak penggunaan gereja sebagai instrumen negara.

Jika perlu di hadapan hakim untuk

Kalimat ini sudah disebut di paragraf terakhir penjelasan Konfesi HKBP 1996 Pasal 2 tentang Firman Allah dengan sedikit modifikasi mengenai kata

ersu pah e jadi e yataka ja ji ya.

Setelah melihat perbandingan dari kedua Pengakuan Iman HKBP mengenai

Pemerintah, kita bisa menyimpulkan bahwa ada perbedaan mendasar dari keduanya.

Pengakuan Iman HKBP 1951 menempatkan gereja dalam posisi yang lebih kritis terhadap

pemerintah dibandingkan Pengakuan Iman HKBP 1996.

Dalam Renstra HKBP 2016-2020, poin Misi HKBP poin 2 dan 4 kembali

mencerminkan tema gereja sebagai pendukung dan penyuara moral kepada pemerintah:

2. Mendidik jemaat supaya sungguh-sungguh menjadi anak Allah dan warga negara yang baik.

4. Mendoakan dan menyampaikan pesan kenabian kepada masyarakat dan negara.

Kembalinya peran kritis ini ditunjukkan dalam penjabaran tujuan misi no. 4 poin 2, yaitu:

(10)

4.2.1. Terwujudnya peran HKBP dalam menyikapi masalah kebangsaan dan kenegaraan, baik yang bersifat nasional mau pun kedaerahan.

4.2.2. Terwujudnya sikap HKBP yang positif, kritis, realistis, dan kreatif dalam menyukseskan pembangunan nasional dan pembangunan daerah.

Dari catatan di atas, HKBP berusaha mempertahankan perannya sebagai bagian dari bangsa

Indonesia dan pada saat yang sama berusaha menjadi penyuara suara moral bagi bangsa

ketika diperlukan.

Penutup

Dari tipologi Wogaman, di manakah letak peran pendukung kritis HKBP? Dalam hal

ini saya bisa membayangkan bahwa sebagai gereja, HKBP bisa saja memilih untuk

mengajarkan nilai positif dan etos yang baik (poin 1); memberikan pendidikan politik bagi

warga gereja (poin 2); melakukan berbagai lobi terhadap warganya yang menduduki jabatan

penting pemerintahan mengenai isu kemasyarakatan (poin 3), bahkan mungkin melakukan

pembangkangan sosial (poin 6) dan ikut serta dalam gerakan revolusi ketika diperlukan

(poin 7) ketika keadaan menjadi kritis dan genting. Tentu, kita masih harus memberi definisi

mengenai apa itu situasi kritis. Tetapi peran gereja dalam politik praktis yang bersifat

membangkang dan menelurkan revolusi bukanlah hal yang tidak mungkin terjadi. Hal ini

masih sesuai dengan pemahaman HKBP sebagai pendukung kritis pemerintahan.

Meski demikian, poin 4 yaitu menyatakan dukungan terhadap kandidat tertentu,

atau poin 5 yaitu pendirian partai politik berlawanan dengan pemahaman teologis HKBP

yang tidak pernah melihat dirinya sebagai pemerintah. Poin no. 4 dan 5 mengandaikan

bahwa gereja akan menjadi pemain dalam ranah politik praktis, dan hal ini tidak sesuai

dengan pemahamannya sebagai pendukung kritis. Ketika gereja menjadi pemerintah, dia

akan kehilangan suara kritisnya, bahkan akan menjadi mereka yang akan dikritik dan perlu

diingatkan.

Gereja HKBP tidak boleh berpolitik praktis dalam bentuk pencalonan kandidat dan

pendirian partai politik karena tidak sesuai dengan pemahaman imannya. Konfesi HKBP juga

bisa diubah, selama melalui proses yang sesuai dengan kebutuhan dan pemahaman teologis

yang bertanggung jawab. Paling tidak, sampai Pemilihan Gubernur Sumatra Utara 2018,

saya tidak melihat kemungkinan HKBP sebagai sinode untuk mendukung calon tertentu,

(11)

Sebuah catatan lain juga saya berikan untuk HKBP supaya segera mendefinisikan

ulang pemahaman teologisnya mengenai hubungan gereja dan pemerintah, serta membuat

catatan kode etik bagi para pelayannya. Aturan bersama yang berdasar kepada pemahaman

teologis yang kuat penting untuk memberikan pegangan kepada seluruh warga dan pelayan

HKBP yang tersebar di seluruh Indonesia. Dengan pemahaman ini, kita tidak lagi memiliki

keraguan mengenai apa yang harus gereja lakukan setiap kali pemilu ada di ambang pintu.

Di sini saya kembali lagi kepada sermon pertama yang saya alami di bawah

kepemimpinan Pdt. Nelson F. Siregar, yaitu pemimpin yang baik, seperti Daud, harus

memiliki IQ, EQ, dan SQ yang kuat. Hendaknya alasan keberpihakan gereja bukan karena

kepentingan sesaat, melainkan untuk menjalankan tugasnya sebagai warga negara yang baik

berdasarkan imannya. Siapa pun yang akan dipilih umat dalam berbagai Pemilihan, biarlah

mereka selalu mencari yang memiliki IQ, EQ, dan SQ yang baik. Berkat masukan amang

Nelson, saya tahu bagaimana menilai kepemimpinan Daud dengan lengkap, dan memilih

pemimpin selanjutnya berdasarkan kriteria tersebut. Selamat menjalani masa purna dinas

kependetaan amang, namun pelayanan amang tetap dinanti dan bimbingannya tetap kami

harapkan. Terima kasih untuk semua pelayanan yang amang berikan kepada kami, dan

teruslah doakan kami memberi pelayanan bagi gereja yang kita cintai dan bangsa Indonesia.

Daftar Acuan

Van de Beek, Abraham. 2005. Religion without ulterior motive. HTS Theological Studies Vol

61, No ½: 517-529.

Van Der Borght, Eduardus A. J. G. (ed.). 2006. Religion without ulterior motive. Leiden: Brill.

Gardner, Howard. 1993. Frames of mind: The theory of multiple Intelligences. New York:

Basic Books.

HKBP. 1951. Konfessi HKBP 1951. Tarutung: Kantor Pusat HKBP.

HKBP. 1996. Konfessi HKBP 1996. Tarutung: Kantor Pusat HKBP.

Lumbantobing, Andar. 1963. The confession of the Batak Church: An introduction and

explanation. Dalam The church and the confession: The role of the confession in the

life and doctrine of the Lutheran Churches, Vilmos Vajta & Hans Weissgerber (eds.).

(12)

Niebuhr, H. Richard. Christ and Culture. USA: Harper & Brothers Printed, 1956.

Pakpahan, Binsar Jonathan. 2012. God remembers: Towards a theology of remembrance as

a basis of reconciliation in communal conflict. Amsterdam: VU University Press.

The Barmen Declaration (1934 in 2002). Dalam Radical Christian writings: A reader, pp.

201-203, Andrew Bradstock & Christopher Rowland (eds.). Oxford, UK & Malden, MA:

Blackwell.

Wogaman, Philip. 2000. Christian perspective on politics. Louisville, Kentucky: Westminster

John Knox Press.

Xie, Zhibin. 2006. Religious diversity and public religion in China. Burlington, USA: Ashgate.

Yewangoe, Andreas A. 2009. Civil society di tengah agama-agama. Jakarta: Bidang Koinonia

Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia.

Biografi Singkat

Binsar Jonathan Pakpahan adalah pendeta HKBP yang ditugaskan menjadi dosen di STT

Jakarta, untuk matakuliah Filsafat, Etika, dan Teologi Publik, dan pada saat ini menjabat

sebagai Pembantu Ketua 3 Bidang Kemahasiswaan. Pernikahannya dengan Dorta Pardede

(2012) dilayani oleh Pdt. Nelson F. Siregar dan Pdt. Rudolf Pasaribu, dan sekarang memiliki

Referensi

Dokumen terkait

Menurut UU No 21 Tahun 1992 disebutkan bahwa transportasi sungai, danau dan penyeberangan adalah angkutan menggunakan kapal yang dilakukan di sungai, danau, waduk, rawa,

The derivational process happens because there is word category changing after the verb root is added with circumfix ke-an.. The root of word is a verb „ ingin’ which

Berdasarkan latar belakang yang telah disampaikan diatas, terdapat pertanyaan yang ingin dijawab oleh penelitian ini, yaitu seperti apakah filosofi, konsep,

Kalimat-kalimat tersebut di atas (1 - 16) merupakan kalimat yang diberikan pada siswa untuk mengetahui hasil yang diperoleh siswa dalam mempelajari kalimat sederhana, Penulis

Sehubungan dengan akan dilaksanakannya HUT ke 31 tahun Rumah Sakit Rafflesia ini, maka pada tanggal 05 September 2011 telah diadakan rapat pembentukan panitia HUT ke

Berdasarkan hasil penelitian, dapat disimpulkan bahwa secara umum perlakuan uap etanol memberikan pengaruh nyata dalam memperlambat perubahan warna, mempertahankan

Olahan cemilan ini dibuat tidaklah menguras modal yang banyak, maka dari itu juga cemilan ini sangat sesuai dengan kantong mahasiswa, kami berusaha membuat olahan