• Tidak ada hasil yang ditemukan

ALAT BANTU GERAK ELEKTRIK DENGAN SISTEM

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "ALAT BANTU GERAK ELEKTRIK DENGAN SISTEM"

Copied!
27
0
0

Teks penuh

(1)

ALAT BANTU GERAK ELEKTRIK DENGAN

SISTEM KONTROL UNTUK PENYANDANG

CACAT (POLIO) DAN LANSIA

BIDANG KEGIATAN :

PKM-GAGASAN TERTULIS

Diusulkan oleh :

Deona Erion (1110913047)

Maigi Saputra ( 1010911011)

Dila Zati Hulwani (1110911011)

Ahmad Affandi (1110913043)

UNIVERSITAS ANDALAS

PADANG

(2)
(3)

DAFTAR ISI

Halaman Judul / Cover

Halaman Pengesahan

Daftar Isi... i

Daftar Gambar... iii

Ringkasan... iv

Pendahuluan Latar Belakang ... 1

Tujuan ... 2

Manfaat yang ingin dicapai... 2

Gagasan Kondisi kekinian Pencetus Gagasan ... 3

1. Kurang Bergerak. ... 3

2. Instabilitas ... 4

3. Beser... 4

4. Gangguan Intelektual ... 5

5. Infeksi... 5

6. Gangguan pancaindera, komunikasi, penyembuhan, dan kulit... 5

7. Sulit buang air besar (konstipasi)... 5

(4)

9. Kurang gizi... 6

10. Tidak punya uang... 7

11. Penyakit akibat Obat-obatan ... 7

12. Gangguan Tidur Solusi yang pernah ditawarkan ... 8

Gagasan yang diajukan ... 9

Pihak-pihak yang terkait ... 10

Metode Perancangan ... 10

Kesimpulan Kesimpulan ... 14

Daftar Pustaka Daftar Pustaka ... 15

(5)

DAFTAR GAMBAR

Gambar 1. Kaki Palsu otomatis... 9

Gambar 2. Bagian (1) Paha,(2) Betis... 8

Gambar 3. Sepatu ... 12

Gambar 4. Hidrolik... 12

Gambar 5. Posisi hidrolik ketika membentuk sudut 45o,50o... 12

Gambar 6. Posisi hidrolik ketika melangkah ... 13

(6)

RINGKASAN

Manusia membutuhkan tubuh dan akal yang sehat untuk dapat berprestasi dan

membangggakan orang tua. Namun apabila seseorang memiliki kekurangan pada

fisiknya, hal tersebut dapat menghambat mereka untuk dapat berprestasi. Maka dari

itu, kami merancang alat bantu untuk penyandang cacat khususnya untuk penyandang

polio dan lansia.

Polio adalah cacat oleh virus yang menyebabkan infeksi saraf dan

kadang-kadang sumsum tulang belakang dan otak yang menyebabkan kelumpuhan parsial

atau lengkap. Kerusakan tulang dapat mengakibatkan permanen otot kelemahan dan

cacat. Berdasarkan fakta yang telah disampaikan sebelumnya, maka perancang

merancang alat bantu gerak eletrik dengan system controlyang ringan, praktis, mudah

digunakan dan bisa dijadikan terapi untuk penyandang cacat.

Penulisan proposal ini dimulai dengan bagian pendahuluan yang menguraikan

latar belakang, tujuan penulisan, sampai manfaat yang hendak diperoleh dari

penyusunan proposal ini. Bagian selanjutnya merupakan bagian penguraian gagasan

yang memaparkan mengenai kondisi kekininan bagi penyandang cacat, solusi yang

pernah dilakukan, gagasan yang diajukan penulis serta kehandalan dari produk yang

diranvang oleh penulis. Dalam bagian ini juga dicantumkan pihak-pihak yang dapat

mengimplementasikan gagasan. Pada bagian akhir, penulis memberikan rekomendasi

(7)

PENDAHULUAN

Latar Belakang

Tumbuh dan berkembang menjadi anak yang sehat adalah impian semua

manusia dimuka bumi. Dengan tubuh yang sehat para generasi penerus bangsa dapat

berprestasi dan membahagiakan orang tua. Dengan prestasi yang diraih kehidupan

manusia dapat menjadi sejahtera dan meningkatkan perekonomian. Namun, lain

halnya jika saat seseorang sedang tumbuh tetapi harus menyandang cacat seumur

hidup atau bisa sembuh dari kecacatan dengan terapi yang memakan waktu yang

lama. Cacat fisik ataupun mental dapat mengganggu seseorang dalam menjalankan

kegiatan sehari-hari.

Berdasarkan hasil pendataan/survey jumlah penyandang cacat pada 9 provinsi

sebanyak 299.203 jiwa dan 10,5% (31.327 jiwa) merupakan penyandang cacat berat

yang mengalami hambatan dalam kegiatan sehari-hari (activity daily living/ADL).

Kecacatan yang paling banyak dialami adalah cacat kaki (21,86%), mental retardasi

(15,41%) dan bicara (13,08%). Data di atas menunjukkan bahwa tingginya kebutuhan

akan protesa kaki palsu di Indonesia.[1]

Dari data yang telah tertera diatas, maka kami merancang alat gerak berupa

kaki palsu dengan sistem kontrol elektrik untuk penyandang cacat yang juga bisa

digunakan untuk lansia. Dalam perancangan alat gerak ini, dirancang brace yang

dapat menompang badan si pengguna dengan alasan penyandang cacat dan lansia

biasanya memiliki kelemahan fisik untuk menegakkan badannya sendiri. Penyandang

cacat yang dijadikan target adalah penyandang cacat polio. Cacat polio adalah

penyakit virus. Virus ini menyebabkan infeksi saraf dan kadang-kadang sumsum

tulang belakang dan otak yang menyebabkan kelumpuhan parsial atau lengkap. Di

sekitar 95% kasus infeksi ringan dan tidak berbahaya. Namun dalam 1% atau kurang

jumlah individu mungkin ada kelumpuhan kaki atau lain otot, otak penderitaan atau

(8)

Hal ini terjadi ketika virus menyerang saraf tulang (terutama bagian dari

tulang yang disebut tanduk anterior) dan bagian dari otak yang disebut batang otak

yang lebih rendah.

Batang otak berkaitan dengan mengontrol pernapasan. Kerusakan daerah ini

dapat menyebabkan kelumpuhan otot respirasi dan bahkan kematian. Kerusakan

tulang dapat mengakibatkan permanen otot kelemahan dan cacat.

Perancangan alat gerak ini dibuat dengan desain sesederhana mungkin agar si

pengguna merasa nyaman dengan alat ini, sehingga dalam perancangan ini ditambah

sistem kontrol untuk meningkatkan efisiensi kerja dari kaki palsu ini.

Tujuan

Merancang Alat Gerak Elektrik dengan system control untuk penyandang

cacat (polio) dan lansia yang ringan, praktis, mudah digunakan dan bisa dijadikan

terapi untuk penyandang cacat.

Manfaat

Dengan adanya perancangan Alat Gerak Elektrik ini diharapkan menjadi

solusi untuk pengembangan disain protesa/kaki palsu modern bagi penyandang cacat

(9)

GAGASAN

Kondisi kekinian Pencetus Gagasan

Penampilan penyakit pada lanjut usia (lansia) sering berbeda dengan dewasa

muda, karena penyakit pada lansia merupakan gabungan dari kelainan-kelainan yang

timbul akibat penyakit dan proses penuaan, yaitu proses menghilangnya secara

perlahan-lahan kemampuan jaringan untuk memperbaiki diri atau mengganti diri

serta mempertahankan struktur dan fungsi normalnya, sehingga tidak dapat bertahan

dan memperbaiki kerusakan pada organ tubuh.

Demikian juga, masalah kesehatan yang sering terjadi pada lansia berbeda

dari orang dewasa, menurut Kane dan Ouslander sering disebut dengan istilah 14 I,

yaitu immobility (kurang bergerak), instability (berdiri dan berjalan tidak stabil atau

mudah jatuh), incontinence (sulit buang air kecil dan atau buang air besar),

intellectual impairment (gangguan intelektual/dementia), infection (infeksi),

impairment of vision and hearing, taste, smell, communication, convalescence, skin

integrity (gangguan pancaindera, komunikasi, penyembuhan, dan kulit), impaction

(sulit buang air besar), isolation (depresi), inanition (kurang gizi), impecunity (tidak

punya uang), iatrogenesis (menderita penyakit akibat obat-obatan), insomnia

(gangguan tidur), immune deficiency (daya tahan tubuh yang menurun), impotence

(impotensi).

Masalah kesehatan di atas sering terjadi pada lansia perlu dikenal dan

dimengerti oleh siapa saja yang banyak berhubungan dengan perawatan lansia agar

dapat memberikan perawatan untuk mencapai derajat kesehatan yang seoptimal

mungkin. Beberapa penyakit yang sering diderita lansia adalah sebagai berikut:

1. Kurang bergerak: gangguan fisik, jiwa, dan faktor lingkungan dapat

(10)

gangguan tulang, sendi dan otot, gangguan saraf, dan penyakit jantung dan

pembuluh darah.

2. Instabilitas:penyebab terjatuh pada lansia dapat berupa faktor intrinsik

(hal-hal yang berkaitan dengan keadaan tubuh penderita) baik karena proses

menua, penyakit maupun faktor ekstrinsik (hal-hal yang berasal dari luar

tubuh) seperti obat-obat tertentu dan faktor lingkungan.Akibat yang paling

sering dari terjatuh pada lansia adalah kerusakan bahagian tertentu dari tubuh

yang mengakibatkan rasa sakit, patah tulang, cedera pada kepala, luka bakar

karena air panas akibat terjatuh ke dalam tempat mandi. Selain daripada itu,

terjatuh menyebabkan lansia tersebut sangat membatasi

pergerakannya.Walaupun sebahagian lansia yang terjatuh tidak sampai

menyebabkan kematian atau gangguan fisik yang berat, tetapi kejadian ini

haruslah dianggap bukan merupakan peristiwa yang ringan. Terjatuh pada

lansia dapat menyebabkan gangguan psikologik berupa hilangnya harga diri

dan perasaan takut akan terjatuh lagi, sehingga untuk selanjutnya lansia

tersebut menjadi takut berjalan untuk melindungi dirinya dari bahaya

terjatuh.

3. Beser:beser buang air kecil (bak) merupakan salah satu masalah yang sering

didapati pada lansia, yaitu keluarnya air seni tanpa disadari, dalam jumlah

(11)

4. Gangguan intelektual: merupakan kumpulan gejala klinik yang meliputi

gangguan fungsi intelektual dan ingatan yang cukup berat sehingga

menyebabkan terganggunya aktivitas kehidupan sehari-hari.Kejadian ini

meningkat dengan cepat mulai usia 60 sampai 85 tahun atau lebih, yaitu

kurang dari 5 % lansia yang berusia 60-74 tahun mengalami dementia

(kepikunan berat) sedangkan pada usia setelah 85 tahun kejadian ini

meningkat mendekati 50 %. Salah satu hal yang dapat menyebabkan

gangguan interlektual adalah depresi sehingga perlu dibedakan dengan

gangguan intelektual lainnya.

5. Infeksi:merupakan salah satu masalah kesehatan yang penting pada lansia,

karena selain sering didapati, juga gejala tidak khas bahkan asimtomatik

yang menyebabkan keterlambatan di dalam diagnosis dan pengobatan serta

risiko menjadi fatal meningkat pula.Beberapa faktor risiko yang

menyebabkan lansia mudah mendapat penyakit infeksi karena kekurangan

gizi, kekebalan tubuh:yang menurun, berkurangnya fungsi berbagai organ

tubuh, terdapatnya beberapa penyakit sekaligus (komorbiditas) yang

menyebabkan daya tahan tubuh yang sangat berkurang. Selain daripada itu,

faktor lingkungan, jumlah dan keganasan kuman akan mempermudah tubuh

mengalami infeksi.

6. Gangguan pancaindera, komunikasi, penyembuhan, dan kulit: akibat

proses menua semua pancaindera berkurang fungsinya, demikian juga

gangguan pada otak, saraf dan otot-otot yang digunakan untuk berbicara

dapat menyebabkn terganggunya komunikasi, sedangkan kulit menjadi lebih

kering, rapuh dan mudah rusak dengan trauma yang minimal.

7. Sulit buang air besar (konstipasi): beberapa faktor yang mempermudah

terjadinya konstipasi, seperti kurangnya gerakan fisik, makanan yang kurang

(12)

Akibatnya, pengosongan isi usus menjadi sulit terjadi atau isi usus menjadi

tertahan. Pada konstipasi, kotoran di dalam usus menjadi keras dan kering,

dan pada keadaan yang berat dapat terjadi akibat yang lebih berat berupa

penyumbatan pada usus disertai rasa sakit pada daerah perut.

8. Depresi:perubahan status sosial, bertambahnya penyakit dan berkurangnya

kemandirian sosial serta perubahan-perubahan akibat proses menua menjadi

salah satu pemicu munculnya depresi pada lansia.

Namun demikian, sering sekali gejala depresi menyertai penderita dengan

penyakit-penyakit gangguan fisik, yang tidak dapat diketahui ataupun

terpikirkan sebelumnya, karena gejala-gejala depresi yang muncul seringkali

dianggap sebagai suatu bagian dari proses menua yang normal ataupun tidak

khas.

Gejala-gejala depresi dapat berupa perasaan sedih, tidak bahagia, sering

menangis, merasa kesepian, tidur terganggu, pikiran dan gerakan tubuh

lamban, cepat lelah dan menurunnya aktivitas, tidak ada selera makan, berat

badan berkurang, daya ingat berkurang, sulit untuk memusatkan pikiran dan

perhatian, kurangnya minat, hilangnya kesenangan yang biasanya dinikmati,

menyusahkan orang lain, merasa rendah diri, harga diri dan kepercayaan diri

berkurang, merasa bersalah dan tidak berguna, tidak ingin hidup lagi bahkan

mau bunuh diri, dan gejala-gejala fisik lainnya.Akan tetapi pada lansia sering

(13)

penyakit fisik, mental, gangguan tidur, alkoholisme, obat-obatan dan

lain-lain.

10. Tidak punya uang:dengan semakin bertambahnya usia maka kemampuan

fisik dan mental akan berkurang secara perlahan-lahan, yang menyebabkan

ketidakmampuan tubuh dalam mengerjakan atau menyelesaikan

pekerjaannya sehingga tidak dapat memberikan penghasilan. Untuk dapat

menikmati masa tua yang bahagia kelak diperlukan paling sedikit tiga

syarat, yaitu :memiliki uang yang diperlukan yang paling sedikit dapat

memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari, memiliki tempat tinggal yang layak,

mempunyai peranan di dalam menjalani masa tuanya.

11. Penyakit akibat obat-obatan: salah satu yang sering didapati pada lansia

adalah menderita penyakit lebih dari satu jenis sehingga membutuhkan obat

yang lebih banyak, apalagi sebahagian lansia sering menggunakan obat

dalam jangka waktu yang lama tanpa pengawasan dokter dapat

menyebabkan timbulnya penyakit akibat pemakaian obat-obat yaqng

digunakan.

12. Gangguan tidur: dua proses normal yang paling penting di dalam

kehidupan manusia adalah makan dan tidur. Walaupun keduanya sangat

penting akan tetapi karena sangat rutin maka kita sering melupakan akan

proses itu dan baru setelah adanya gangguan pada kedua proses tersebut

maka kita ingat akan pentingnya kedua keadaan ini.

Jadi dalam keadaan normal (sehat) maka pada umumnya manusia dapat

menikmati makan enak dan tidur nyenyak atau bergerak secara bebas. Berbagai

keluhan gangguan tidur yang sering dilaporkan oleh para lansia, yakni sulit untuk

masuk dalam proses tidur, jika terbangun sukar tidur kembali, terbangun dinihari,

lesu setelah bangun dipagi hari.disamping itu seorang lansia sulit untuk bergerak,

(14)

kerja organ tubuh akibatnya penyandang lansia sulit untuk melakukan aktifitas

sehari-hari,selain permasalah tulang pada lansia,sering kita jumpai penyandang cacat pada

kaki yang sulit melakukan aktifitas sehari-hari seperti bekerja,berjalan dan lain-lain

dikarenakan tidak sempurnanya organ gerak (kaki) bekerja. Cacat pada kaki ini

disebabkan karena :

1. kekurangan zat besi,fosfor, dan kalsium sehingga tulang kaki melemah

akibatnya tulang kaki tidak berfungsi secara optimal.

2. Amputasi adalah pemotongan atau pengambilan tulang (kaki) yang sudah

membusuk

3. Dan lain-lain

Solusi Yang Pernah Ditawarkan

Melihat permasalahan yang dihadapi oleh lanjut usia (lansia) dan penyandang

cacat pada kaki mereka sangat sulit melakukan aktifitas dikarenakan kurangnya organ

gerak seperti kaki pada tubuh dan ketidak sempurnaan kerja kaki pada lanjut usia

(lansia).Pada zaman dahulu penyandang cacat pada kaki atau lanjut usia (lansia)

untuk mempermudah berjalan umumnya menggunakan tongkat namun fungsi dari

tongkat tidak sepenuhnya membantu penyandang cacat kaki dan lanju usia (lansia)

untuk berjalan dikarenakan untuk melangkah atau berjalan mereka harus

mengeluarkan tenaga atau energi yang banyak sehingga sipengguna tongkat merasa

letih dan cepat capek untuk menggunakannya,disamping itu tongkat tidak memiliki

(15)

banyak,oleh karena itu pada pekan kreatifitas mahasiswa kami mengajukan sebuah

penelitian perancangan alat bantu gerak pada cacat kaki dan lanjut usia (lansia)

dengan sistem kontrol.

Gagasan Yang Diajukan

Alat gerak elektrik dengan system control untuk penyandangan cacat

(polio),kaki, dan lansia yang ringan, praktis, mudah digunakan dan bisa dijadikan

terapi untuk penyandang cacat terutama pada kaki. Alat ini diperkirakan dapat

membantu penyandang cacat pada kaki atau lansia untuk dapat berjalan melakukan

aktifitas semestinya. Dengan menggunakan sistem kontrol dan dibantu dengan

hidrolik pengguna kaki palsu elektrik dapat mengarahkan langkah kakinya untuk

sampai ketujuan, Disamping itu kaki palsu elektrik ini memiliki pengatur kecepatan

langkah otomatis yang bertujuan agar pada saat melangkah atau berjalan sipengguna

kaki palsu tersebut bisa mengetahui kondisi jalan seperti lubang,batu-batuan sehingga

kaki palsu tersebut akan mendeteksi kondisi jalan, ketika kondisi jalan tidak

memungkinkan kecepatan langkah kaki akan berkurang atau lambat dan sebaliknya

sehingga alat gerak ini memiliki nilai keamanan bagi pengguna kaki palsu.

Gambar 1.Kaki Palsu Otomatis

Pihak-Pihak Yang Terkait

Setiap manusia menginginkan pertumbuhan san perkembangan dengan baik

baik terhadap dirinya. Akan tetapi, terdapat beberapa dari kita yang mendapatkan

(16)

ini, kami lebih fokus terhadap cacat pada alat gerak bagian bawah atau kaki

khususnya pada penyandang cacat dan polio. Dari permasalahan diatas kami

merancang sebuah alat bantu gerak yang dapat memudahkan para penyandang cacat

polio dan lansia agar dapat melakukan aktifitas sehari-hari seperti semestinya.

Untuk memulai membuat alat ini, dibutuhkanlah pihak-pihak yang terkait

untuk dapat merealisasikan produk ini. Dimulai dari customer yang menganalisa

kebutuhan produk terhadap masyarakat yang mendapati masalah terhadap kaki nya.

Setelah customer memahami permasalahan, kemudian akan dilanjutkan kebagian

industri yang berguna untuk memproduksi alat yang telah ditawarkan oleh customer

setelah terdapat kebutuhan pada masyarakat. Setelah adanya kerja sama antara

customer dan pihak industri maka dibutuhkanlah engineer design untuk merancang

alat ini agar dapat digunakan secara maksimal sesuai dengan kebutuhan. Engineer

design akan menentukan alat pendukung yang berguna dalam proses pembuatan

produk. Setelah menentukan alat-alat pendukung yang berguna dalam proses

produksi ini maka dimulailah proses manufacturing untuk pembuatan serta

proses-proses dalam pembuatan alat gerak ini. Ketika produksi selesai dilakukan, makan

didapatkan lah produk yang berupa alat bantu gerak bagi penyandang cacat polio dan

lansia yang berguna bagi masyarakat dan dilanjutkan oleh distributor untuk

memasarkan dan menyalurkan alat ini untuk dipasarkan. Untuk memuaskan

konsumen maka kami menyediakan pelayanan dan service jika terjadi kerusakan atau

(17)

3. Kabel merupakan penghubung arus listrik menuju komponen elektronik

lainnya.

4. Hidrolik merupakan alat bantu melangkah yang diletakan pada bagian betis

yang terhubung kebagian belakang paha.

5. Sensor optik merupakan komponen elektronika yang berfungsi mendeteksi

kondisi yang sedang dihadapi,misalnya ketika dalam perjalanan kita

menemukan jalan yang berlubang atau tidak rata maka sensor akan

memerintahkan kekomponen lainnya untuk meperlambat pergerakan dan

sebaliknya.

6. Engsel merupakan suatu alat yang dapat mengarahkan pergerakan sesuai

dengan perintah.

Dalam merancang alat bantu gerak elektrik dengan sistem kontrol untuk

penyandang cacat (polio) dan lanjut usia (lansia) kita harus mengetahui material yang

akan kita gunakan diantaranya :

1. Untuk membuat tabung paha dan betis material yang kita gunakan

adalah pipa pvc alasannya karena material tersebut ringan,murah,dan

kuat untuk menahan pembebanan

Gambar 2.Bagian (1) Paha,(2) Betis

2. Untuk membuat sepatu material yang akan kita gunakan adalah

material yang terbuat dari alumunium karena alumunium memiliki

(18)

Gambar 3. Sepatu

3. Hidrolik merupakan alat bantu melangakah dimana material yang kita

gunakan adalah hidrolik pasaran yang terbuat dari alumunium

Gambar 4.Hidrolik

Skema Kerja Alat :

1. Ketika tombol maju ditekan maka motor stepper akan menggerakan

paha dan membentuk sudut,45o,50o( sesuai perintah)

2. Ketika paha terangkat maka posisi kaki akan membentuk sudut 45o,50o

(sesuai perintah)

3. Pada saat posisi kaki membentuk sudut 45o,50o ( sesuai perintah)

(19)

Gambar 6. Posisi hidrolik ketika melangkah

5. Ketika saat perjalanan kita menemukan kondisi jalan berlubang atau

tidak teratur maka alat ini langsung mengurangi kecepatan langkahnya

agar sipengguna alat tidak terjatuh akibat kondisi permukaan jalan dan

sebaliknya

6. Ketika sipengguna alat ingin berbelok maka kita hanya menekan

tombol belok kanan atau belok kiri sehingga alat akan berbelok sesuai

dengan perintah.Alat ini dilengkapi dengan engsel yang akan

mempermudah untuk melangkah dan belok

Gambar 7. Posisi Kerja Alat bantu jalan

(20)

KESIMPULAN

Alat bantu gerak dengan dengan sistem kontrol untuk penyandang cacat

(polio) dan lansia merupakan suatu alat gerak yang berupa kaki palsu yang

memberikan keunggulan dari kaki palsu yang telah ada, yaitu ringan, praktis, mudah

digunakan dan bisa dijadikan terapi untuk penyandang cacat. Alat ini sangat

membantu para penyandang cacat untuk dapat melakukan aktivitasnya sehingga tidak

menutup kemungkinan untuk dapat berprestasi sebagaimana mestinya. Oleh karena

itu, perancangan alat ini harus tetap dilaksanakan hingga menjadi sebuah produk yang

(21)

DAFTAR PUSTAKA

[1] PT Surveyor Indonesia (Persero).

2009.

[2] B.J Beumer. 1985. Ilmu Bahan Logam jilid I, Bhratara Karya Aksara. Jakarta.

[3] Fessenden dan Fessenden. 1991. Kimia Organik, Erlangga. Jakarta.

[4] Fitriadi, Taufik. 2008. Perancangan Alat Bantu Jalan (Kruk) Yang Praktis Dan

Ergonomis Dengan Menggunakan Software Catia.http://scribt.com. Diakses pada

13 Maret 2014.

[5] Van Vlack, Lawrence. 1986. Ilmu dan teknologi bahan Edisi Keempat. Erlangga.

Jakarta.

[6] Universitas Gunadarma. 2010. Alat Bantu Jalan Kruk.

http://wartawarga.gunadarma.ac.id/2009/12/alat-bantu-berjalan-kruk/.Diakses

pada 16 Maret 2014.

[7]Jakarta Prosthetic Orthotic Centre. Kaki Palsu.

http://www.jpoc-indonesia.com/jpoc-product/. Diakses 20 Maret 2014.

[8] Medika,R. Rehabilitation Product. www.ratumedika.com/alat-bantu-jalan.html.

Diakses pada 15 Maret 2014.

[9]Ubaya. Leg Brace Adjustable, Alat Bantu Berjalan.

(22)
(23)
(24)
(25)
(26)

Susunan Organisasi Tim Kegiatan dan Pembagian Tugas

No. Nama / NIM Program

Studi

Bidang Ilmu Alokasi

Waktu (jam/minggu)

Uraian Tugas

1. Deona Erion

(1110913047)

Teknik Mesin Teknik Mesin 24 Ketua

2. Dila Zati Hulwani

(1110911011)

Teknik Mesin Teknik Mesin 24 Pelaksana 1

3. Maigi Saputra

(1010911011)

Teknik Mesin Teknik Mesin 24 Pelaksana 2

4. Ahmad Affandi

(1110913043)

(27)

Gambar

Gambar 1. Kaki Palsu Otomatis
Gambar 2. Bagian (1) Paha,(2) Betis
Gambar 3. Sepatu
Gambar 7. Posisi Kerja Alat bantu jalan

Referensi

Dokumen terkait

Dengan ini menyatakan bahwa skripsi dengan judul “ Peningkatan Keterampilan Gerak Dasar Guling Lenting Dengan Alat Bantu Bagi Siswa Kelas V SD N Sumber Jaya Lampung selatan

Hasil penelitian ini menunjukkan adanya peningkatan keterampilan gerak dasar guling lenting melalui penggunaan modifikasi alat bantu pada setiap siklusnya, adapun peningkatan

Dengan ini menyatakan bahwa skripsi dengan judul “ Peningkatan Keterampilan Gerak Dasar Renang Gaya Bebas Melalui Model Pembelajaran Dan Alat Bantu Bagi Siswa Kelas V SD N 6

Setelah diberikan tindakan siklus atau putaran kedua dengan alat bantu berupa kun untuk gerak zig- zag melewati rintangan dan shooting ke gawang yang sudah dimodifikasi

Pembelajaran Gerak Dasar Pencak Silat Kuda-Kuda Tengah Kangkang Dengan Alat Bantu sebagai pembelajaran untuk meningkatkan hasil belajar siswa dengan topik penelitian ”

keterampilan gerak dasar loncat harimau adalah karena kompleksnya gerak dasar loncat harimau selain itu juga tidak tepat dalam pemilihan alat bantu, guru kurang

Pada paper ini menyajikan alat bantu navigasi bagi penyandang tunanetra, dimana digunakan sistem mikrokontroler yang dilengkapi dengan sensor jarak, RFID reader,

Pada paper ini menyajikan alat bantu navigasi bagi penyandang tunanetra, dimana digunakan sistem mikrokontroler yang dilengkapi dengan sensor jarak, RFID reader, voice database serta