Kebudayaan dan Jiwa Keagamaan
“Ditujukan untuk memenuhi tugas”
Mata Kuliah
: Psikologi Agama
Dosen
: Dra. Diah Nurita
Jurusan
: Tarbiyah - PAI (IV-A)
Di susun Oleh
Kelompok 7 (Tujuh )
- Desi Rahmawati
- Nikmatur Rada Saufi
- Rahmansyah
- Husna Hukmanda
SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM JAM’IYAH
MAHMUDIYAH TANJUNG PURA - LANGKAT
KATA PENGANTAR
ْمييححررلاِ نحْمحيررلاِ هحللاِ ْم
ح س
ي بح
Syukur Alhamdulillah penulis ucapkan kehadirat Tuhan yang maha Esa atas ridho dan hidayahnya sehingga penulis dapat menyelesaikan tugas Makalah ini dengan penuh keyakinan serta usaha maksimal. Semoga dengan terselesaikannya tugas ini dapat memberi pelajaran positif bagi kita semua.
Selanjutnya penulis juga ucapkan terima kasih kepada ibu dosen mata kuliah Psikologi Agama yang telah memberikan tugas Makalah ini kepada kami sehingga dapat memicu motifasi kami untuk senantiasa belajar lebih giat dan menggali ilmu lebih dalam khususnya mengenai “Kebudayaan dan jiwa keagamaan ” sehingga dengan kami dapat menemukan hal-hal baru yang belum kami ketahui.
Terima kasih juga kami sampaikan atas petunjuk yang di berikan sehingga kami dapat menyelasaikan tugas Makalah ini dengan usaha semaksimal mungkin. Terima kasih pula atas dukungan para pihak yang turut membantu terselesaikannya laporan ini, ayah bunda, teman-teman serta semua pihak yang penuh kebaikan dan telah membantu penulis.
Terakhir kali sebagai seorang manusia biasa yang mencoba berusaha sekuat tenaga dalam penyelesaian Makalah ini, tetapi tetap saja tak luput dari sifat manusiawi yang penuh khilaf dan salah, oleh karena itu segenap saran penulis harapkan dari semua pihak guna perbaikan tugas-tugas serupa di masa datang.
KATA PENGANTAR...i
DAFTAR ISI...ii
BAB I...1
PENDAHULUAN...1
A. Latar Belakang...1
B. Rumusan Masalah...1
C. Tujuan Masalah...1
BAB II...2
PEMBAHASAN...2
A. Pengertian,Teori Dan Fungsi Kebudayaan...2
B. Kebudayaan dan tradisi keagamaan...4
C. Hubungan tradisi keagamaan dan sikap keagamaan...6
D. Pengaruh kebudayaan dalam era global terhadap jiwa keagamaan...7
BAB III...11
PENUTUP...11
A. Kesimpulan...11
B. Saran...11
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Kebudayaan yang hidup pada suatu masyarakat, pada dasarnya merupakan gambaran dari pola pikir, tingkah laku, dan nilai yang dianut oleh masyarakat. Dari sudut pandang ini, agama disatu sisi memberikan kontribusi terhadap nilai-nilai budaya yang ada, sehingga agama pun bisa berjalan dengan nilai-nilai-nilai-nilai budaya yang sedang dianutnya. Pada sisi lain, karena agama sebagai wahyu dan memiliki kebenaran yang mutlak, maka agama tidak bisa disejajarkan dengan nilai-nilai budaya, bahkan agama harus menjadi sumber nilai bagi kelangsungan nilai-nilai budaya itu. Disinilah terjadi hubungan timbal balik antara agama dengan budaya.
Dalam hal ini ada persoalan yang membahas tentang apakah agama lebih dominan mempengaruhi terhadap budaya, atau sebaliknya apakah budaya lebih dominan mempengaruhi pola pikir dan tingkah laku manusia dalam kehidupan masyarakat. Dalam kajian sosiologi, baik agama maupun budaya merupakan bagian dari kehidupan masyarakat. Maka dari itu segala sesuatu yang terdapat dalam masyarakat ditentukan oleh kebudayaan yang dimiliki oleh masyarakat itu sendiri.
B. Rumusan Masalah
1. Bagaimana Pengertian,Teori Dan Fungsi Kebudayaan 2. Bagaiamana Kebudayaan dan tradisi keagamaan
3. Apa Hubungan tradisi keagamaan dan sikap keagamaan
C. Tujuan Masalah
1. Untuk Mengetahu Pengertian,Teori Dan Fungsi Kebudayaan 2. Untuk Mengetahui Kebudayaan dan tradisi keagamaan
3. Untuk Mengetahui Hubungan tradisi keagamaan dan sikap keagamaan
BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian,Teori Dan Fungsi Kebudayaan
1. Pengertian dan teori Kebudayaan
Kata kebudayaan berasal dari bahasa Sansekerta Buddhayah yang merupakan bentuk jamak kata “buddhi” yang berarti budi dan akal. Kebudayaan diadakan sebagai hal-hal yang bersangkutan dengan budi dan akal.1 Adapun istilah Culture yang merupakan istilah bahasa asing
yang sama artinya dengan kebudayaan, berasal dari bahasa Latin colere
Artinya mengolah atau mengerjakan, yaitu mengolah tanah bertani. Dari asal arti tersebut yaitu colere kemudian culture diartikan sebagai daya dan kegiatan manusia untuk mengubah dan mengolah alam. Kata
culture juga kadang diterjemahkan sebagai "kultur" dalam bahasa Indonesia. Budaya merupakan salah satu unsur dasar dalam kehidupan social. Budaya mempunyai peranan penting dalam membentuk pola berpikir dan pola pergaulan dalam masyarakat, yang berarti juga membentuk kepribadian dan pola piker masyarakat tertentu. Budaya mencakup perbuatan atau aktivitas sehari-hari yang dilakukan oleh suatu individu maupun masyarakat, pola berpikir mereka, kepercayaan, dan ideology yang mereka anut.
Adapun beberapa ahli merumuskan kebudayaan antara lain :
a. E.BTylor (1871)
Menurut E.B Tylor, kebudayaan merupakan keseluruhan yang kompleks, yang di dalamnya terkandung pengetahuan, kepercayaan, kesenian, moral, hukum, adat istiadat, dan kemampuan-kemampuan lain yang didapat seseorang sebagai anggota masyarakat.
b. Selo Soemardjan dan Soelaeman Soemardi
Menurut tokoh ini, kebudayaan sebagai suatu hasil karya, rasa, dan cipta masyarakat.
1) Karya masyarakat menghasilkan teknologi dan kebudayaan kebedaan atau
masyarakat.
2) Rasa meliputi jiwa manusia mewujudkan segala kaidah dan nilai – nilai
sosial yang perlu untuk mengatur masalah-masalah kemasyarakatan dalam arti yang kuat,didalamnya termasuk agama ideology kebatinan, kesenian, dan semua unsur yang merupakan hasilekspresi jiwa manusia yang hidup sebagai anggota masyarakat.
3) Cipta merupakan kemampuan mental, kemampuan berfikir orang-orang yang
hidup bermasyarakat yang antara lain menghasilkanfilsafat serta ilmu pengetahuan cipta bisa terwujud murni, maupun yang telah disusun untuk berlangsung diamalkan dalam kehidupanmasyarakat.
sebagai makhluk yang berbudaya, berupa perilaku dan benda-benda yang bersifat nyata, misalnya pola-pola perilaku, bahasa, peralatan hidup, organisasi sosial, religi, seni, dan lain-lain, yang kesemuanya ditujukan untuk membantu manusia dalam melangsungkan kehidupan bermasyarakat.
2. Fungsi Kebudayaan
Fungsi kebudayaan sangat besar bagi manusia dan masyarakat:
a. Manusia dan masyarakat memerlukan kepuasan, baik di bidang spiritual
maupun materiil. Kebutuhan ini sebagian besar dipenuhi oleh kebudayaanyang bersumber pada masyarakat itu sendiri.
b.
Hasil karya masyarakat menghasilkan teknologi dan kebudayaankebendaan mempunyai kegunaan utama di dalam melindungi masyarakatterhadap lingkungan dalamnya.
c. Karsa masyarakat mewujudkan norma dan nilai - nilai social yang sangat
perlu untuk mengadakan tata tertib dalam pergaulan kemasyarakatan.2
Jadi fungsi kebudayaan disini agar manusia dapat mengerti bagaimana seharusnya bertindak, berbuat, menentukan sikapnya kalau berhubungan dengan orang lain.
B. Kebudayaan dan tradisi keagamaan
Herskouits memandang kebudayaan sebagai sesuatu yang turun temurun dari satu generasi ke generasi yang lain. Sementara, menurut Andreas Eppink kebudayaan mengandung keseluruhan pengertian nilai, norma, ilmu pengetahuan, serta keseluruhan struktur-struktur sosial, religius dan lain-lain. Sementara itu Corel R. E dan Melvin E. (seorang ahli antropologi – budaya) memberikan konsep kebudayaan umumnya mencakup cara berpikir dan cara berlaku yang selah merupakan ciri khas suatu bangsa atau masyarakat tertentu (yang meliputi) hal – hal seperti bahasa, ilmu pengetahuan, hukum-hukum, kepercayaan, agama, kegemaran makanan tertentu, musik, kebiasaan, pekerjaan, larangan-larangan dan sebagainya.3
Dengan demikian, kebudayaan adalah hasil daya cipta manusia dengan menggunakan dan mengerahkan segenap potensi batin yang dimilikinya. Di dalam kebudayaan tersebut terdapat pengetahuan, keyakinan, seni, moral, adat istiadat sebaga aspek – aspek dar kebudayaan itu sendiri yang kesemuanya ditujukan untuk membantu manusia dalam melangsungkan kehidupan bermasyarakat. Dengan demikian, kebudayaan dalam suatu masyarakat merupakan sistem nilai tertentu yang dijadikan pedoman hidup oleh warga yang mendukung kebudayaan tersebut. Karena dijadikan kerangka acuan dalam bertindak dan bertingkah laku, maka kebudayaan cenderung menjadi tradisi dalam suatu masyarakat.
Tradisi menurut Parsudi Suparlan, merupakan unsur sosial budaya yang telah mengakar dalam kehidupan masyarakat dan sulit berubah. Umumnya tradisi erat kaitannya dengan mitos dan agama. Mitos lahir dari tradisi yang sudah mengakar kuat disuatu masyarakat, sementara agama dipahami berdasarkan kultus setempat sehingga mempengaruhi tradisi.
Dari sudut pandang sosiologi, tradisi merupakan suatu pranata sosial, karena tradisi dijadikan kerangka acuan norma ini ada yang bersifat sekunder dan primer. Pranata sekunder ini bersifat fleksibel mudah berubah sesuai dengan situasi yang diinginkan, sedangkan pranata primaer berhubungan dengan kehormatan dan harga diri, serta kelestarian masyarakatnya, karena pranata ini merupakan kerangka acuan norma yang mendasar dan hakiki dalam kehidupan manusia. Oleh karena itu pranata ini tidak dengan mudah dapat berubah begitu saja.
masyarakat. Tradisi keagamaan mengadung nilai-nilai yang sangat penting yang berkaitan erat dengan agama yang dianut masyarakat, atau pribadi – pribadi pemeluk agama tersebut.4
Dalam suatu masyarakat yang warganya terdiri atas pemeluk agama, maka secara umum pranata keagamaan menjadi salah satu pranata kebudayaan yang ada di masyarakat tersebut. Dalam konteks seperti ini terlihat hubungan antara tradisi keagamaan dengan kebudayaan masyarakat tersebut. Bila kebudayaan sebagai pedoman bagi kehidupan masyarakat, maka dalam masyarakat pemeluk agama perangkat – perangkat yang berlaku umum dan menyeluruh sebagai norma – norma kehidupan akan cenderung mengandung muatan keagamaan.
Dengan demikian dapat disimpulkan, hubungan antara kegamaan dengan kebudayaan terjalin sebagai hubungan timbal balik. Makin kuat tradisi keagamaan dalam suatu masyarakat akan makin terlihat peran akan makin dominan pengaruhnya dalam kebudayaan.
C. Hubungan tradisi keagamaan dan sikap keagamaan
Tradisi keagamaan dan sikap keagamaan saling mempengaruhi, sikap keagamaan mendukung terbentuknya tradisi keagamaan, sedangkan tradisi keagamaan sebagai lingkungan kehidupan turut memberi nilai-nilai, norma-norma pola tingkah laku keagamaan kepada seseorang. Dengan demikian, tradisi keagamaan memberi pengaruh dalam membentuk pengalaman dan kesadaran agama sehingga terbentuk dalam sikap keagamaan pada diri seseorang yang hidup dalam lingkungan tradisi keagamaan tertentu.
Sikap keagamaan yang terbentuk oleh tradisi keagamaan merupakan bagian dari pernyataan jati diri seseorang dalam kaitan dengan agama yang dianutnya.
Sikap keagamaan ini akan ikut mempengaruhi cara berpikir, cita rasa, ataupun penilaian seseorang terhadap segala sesuatu yang berkaitan dengan agama, tradisi keagamaan dalam pandangan Robert C. Monk memiliki dua fungsi utama yang mempunyai peran ganda. Yaitu bagi masyarakat maupun individu. Fungsi yang pertama adalah sebagai kekuatan yang mampu membuat kestabilan dan keterpaduan masyarakat maupun individu. Sedangkan fungsi yang kedua yaitu tradisi keagamaan berfungsi sebagai agen perubahan dalam masyarakat atau diri individu, bahkan dalam situasi terjadinya konfilik sekalipun.5[4]
Sikap dan keberagamaan seseorang atau sekelompok orang bisa berubah dan berkembang sejalan dengan perkembangan budaya dimana agama itu hidup dan berkembang. Demikian pula budaya mengalami perkembangan dan tranformasi. Transformasi budaya merupakan perubahan yang menyangkut nilai-nilai dan struktural sosial. Proses perubahan sturuktur sosial akan menyangkut masalah-masalah disiplin sosial, solidaritas sosial, keadilan sosial, system sosial, mobilitas sosial dan tindakan-tindakan keagamaan. Tranformasi budaya yang tidak berakar pada nilai budya bangsa yang beragam akan mengendorkan disiplin sosial dan solidaritas sosial, dan pada gilirannya unsur keadilan sosial akan sukar diwujudkan.
D. Pengaruh kebudayaan dalam era global terhadap jiwa keagamaan
ِ Era ِ global ِ umumnya ِ digambarkan ِ sebagai ِ kehidupan masyarakatِ dunia ِ yangِ menyatuِ .ِ karena ِ kemajuanِ teknologi, manusiaِ antarِ negaraِ menjadiِ mudahِ berhubunganِ baikِ melalui kunjungan ِ secara ِ fisik, ِ karena ِ lat ِ tranportasi ِ sudah ِ bukan merupakan ِ penghambat ِ bagi ِ manusia ِ untuk ِ melewat ِ di
berbagai ِ tempat ِ di ِ seantero ِ bumi ِ ini ِ ِ ataupun ِ melalui globalِ salingِ pengaruhِ memengaruhi,ِ sehinggaِ segalaِ sesuatu yangِ sebelumnyaِ dianggapِ sebagaiِ milikِ suatuِ bangsaِ tertentu akanِ terangkatِ menjadiِ miikِ bersama.
Dalam ِ kaitannya ِ dengan ِ jiwa ِ keagamaan, ِ barang ِ kali dampak ِ globalisasi ِ itu ِ dapat ِ dilihat ِ melalui ِ hubungannya denganِ perubahanِ sikap.ِ Menurutِ teoriِ yangِ dikemukakanِ oleh Osgood ِ dan ِ Tannenbaum, ِ perubahan ِ sikap ِ akan ِ terjadi ِ jika terjadiِ persamaanِ persepsiِ padaِ diriِ seseorangِ atauِ masyarakat terhadap ِ sesuatu. ِ Hal ِ ini ِ berarti ِ bahwa ِ apabila ِ pengaruh globalisasiِ denganِ segalaِ muatannyaِ diِ nilaiِ baikِ olehِ individu maupunِ masyarakat,ِ makaِ merekaِ akanِ menerimanya.ِ
Secara ِ fenomena, ِ kebudayaan ِ dalam ِ era ِ global ِ mengarah kepada ِ nilai-nilai ِ sekuler ِ yang ِ besar ِ pengaruhnya ِ terhadap perkembangan ِ jiwa ِ keagamaan. ِ Meskipun ِ dalam ِ sisi-sisi tertentuِ kehidupanِ tradisiِ keagamaanِ tampakِ meningkatِ dalam kesemarakannya. ِ Namun ِ dalam ِ kehidupan ِ masyarakat ِ global yang ِ cenderung ِ sekuler ِ barangkali ِ akan ِ ada ِ pengaruhnya terhadapِ pertumbunganِ jiwaِ keagamaannya.
tetap ِ berpegang ِ teguh ِ pada ِ nilai ِ – ِ nilai ِ keagamaan, kemungkinan ِ akan ِ lebih ِ meyakini ِ kebenaran ِ agama. ِ Kedua, golongan ِ yang ِ longgar ِ dari ِ nilai-nilai ِ ajaran ِ agama ِ akan mengalami ِ kekosongan ِ jiwa, ِ golongan ِ ini ِ sulit ِ menentukan pilihanِ gunaِ menentramkanِ gejolakِ dalamِ jiwanya.ِ
Era ِ global ِ diperkirakan ِ memunculkan ِ tiga ِ kecendrungan utama ِ dalam ِ kesadaran ِ agama ِ dan ِ pengalaman ِ agama. Kecendrungan ِ pertama, ِ berupa ِ arus ِ kembali ِ ke ِ tradisi keagamaan ِ yang ِ liberal. ِ Kedua, ِ kecendrungan ِ ke ِ tradisi keagamaanِ padaِ aspekِ mistis.ِ Sedangkan,ِ kecendrunganِ ketiga, adalah ِ munculnya ِ gerakan ِ sempalan ِ yang ِ mengatasnamakan agama.6
1. Agama Budaya Dan Budaya Agama
Pakarِ antropologiِ budaya,ِ Edwardِ B.ِ Taylorِ mendefenisikan agama ِ sebagai ِ belive ِ in ِ supernaural ِ being ِ (percaya ِ kepada wujudِ yangِ adikodrati).ِ Sedangkanِ Stanleyِ Hallِ menilaiِ agama bersumber ِ dari ِ tradisi ِ otemisme. ِ Para ِ agamawan ِ terkesan sepakat ِ dengan ِ pembagian ِ agama ِ menjadi ِ agama ِ samawi (agama ِ langit) ِ danِ agama ِ budaya. ِ Agama ِ samawiِ bersumber dari ِ kitab ِ suci ِ yang ِ ajarannya ِ disamaaikan ِ oleh ِ para ِ rasul (utusan ِ tuhan). ِ Yang ِ dimaksud ِ dengan ِ agama ِ budaya ِ adalah agama ِ yang ِ lahir ِ dari ِ pemukiran ِ atau ِ perkembangan ِ budaya manusia. ِ Kepercayaan ِ kepada ِ “sesuatu ِ “ ِ yang ِ melahirkan sistemِ kepercayaanِ yangِ secaraِ umumِ disebutِ dengan”ِ agama “ ِ yang ِ sejauh ِ ini ِ sebgaian ِ besar ِ pengalaman ِ manusia, ِ ebih banyakِ berdasarkanِ atauِ berpusakanِ legendaِ danِ mitologi.
2. Sentimen Keagamaan
secara ِ etimologis, ِ sentimen ِ diartikan ِ sebagai ِ semacam pendapat ِ atau ِ pandangan ِ yang ِ berdasarkan ِ perasaan ِ ya berlebih-lebihan ِ terhadap ِ sesuatu ِ yang ِ bertentangan ِ dengan pertimbangan ِ pikiran. ِ Sebagai ِ gejala ِ psikologis, ِ sentimen menggambarkan ِ luapan ِ perasaan ِ tidak ِ puas ِ atau ِ benci terhadap ِ sesuatu ِ yang ِ dianggap ِ menyalahi ِ ataupun bertentangnan ِ dengan ِ kondisi ِ yang ِ ada. ِ Ataupun ِ dianggap melecehkan ِ sisitem ِ nilai ِ yang ِ oleh ِ pendukungnya ِ dianggap sebagaisesuatuِ yangِ benarِ danِ perluِ dipertahankan.ِ Sentimen berpengaruh ِ dalam ِ menimbulkan ِ luapan ِ perasaan ِ yang ِ pada tingkatِ tertetuِ dapatِ menimbulkanِ reaksi.
3. Kegersangan Spiritual
Eksisensi ِ manusia ِ hanya ِ akan ِ dirasakan ِ bila ِ manusia berada ِ di ِ ingkungnnya. ِ Merasa ِ diterima ِ sebagai ِ anggota. Namunِ kegersanganِ spiritualِ mencabutِ manusiaِ dariِ nilai-nilai kemanusiannyaِ yangِ hakiki.ِ Menyebabkanِ manusiaِ kehilangan harkat ِ dan ِ martabatnya. ِ Seiring ِ dengan ِ itu ِ maka ِ jati ِ drinya melenyapkan.ِ Iaِ bagaikanِ dalamِ ruangِ waktuِ yangِ “kosong”ِ . kegersanganِ spiritualِ dapatِ menimbulkanِ cacatِ “nurani”.ِ Nilai-nilai ِ kemanusiaan ِ terabaikan ِ sama ِ sekali. ِ Mampu ِ mengubah perilakuِ manusiaِ menjadiِ kejam.ِ Inginِ menunjukkanِ eksistensi dirinyaِ melaluiِ perbuatanِ yangِ tercela.
a. Megalomania
terendap ِ ke ِ alam ِ tak ِ sadar. ِ Memupuk ِ dan ِ merunag ِ dalam bentukِ narsisiِ kekuasaan.ِ Secaraِ takِ sadarِ munculِ dalamِ sikap megalomania. ِ Gila ِ kekuasaan. ِ Sejarah ِ mencatat ِ sosok megalomania,ِ antaraِ lainِ adolfِ hilter,ِ idiِ amin,ِ Saddamِ Husein, maupunِ Georgeِ Walkerِ Bush.ِ Michaelِ Bigentِ mengatakanِ bahwa kemajuan, ِ telah ِ menghianati ِ amanat ِ yang ِ telah ِ diberikan kepadanya. ِ Ilmu ِ pengetahuan ِ yang ِ semula ِ diperkirakan ِ akan menawarkanِ prospekِ baruِ untukِ usahaِ perbaikanِ hidupِ manusia malah ِ justru ِ memproduksi ِ alat-alat ِ yang ِ mengerikan ِ untuk menghacurkannya. ِ Dibalik ِ itu ِ pula ِ berdiri ِ pengidap megalomania.7
b. Keserakahan
Produk ِ iptek ِ menawakan ِ kemewahan ِ materi. ِ Kekayaan materiِ dijadikanِ indikatorِ statusِ sosial.ِ Manusiaِ semakainِ haus. Tak ِ pernah ِ merasa ِ puas, ِ masing-masing ِ saling ِ berebut ِ untuk memiliki ِ sebanyak-banyaknya ِ yang ِ mampu ِ diusahakan. Memperkaya ِ didi ِ dengan ِ cara ِ apapun, ِ sementara ِ nilai-nilai moral ِ diabaikan. ِ Manusia ِ menjadi ِ serakah. ِ Gejolak ِ resesi ekonomiِ duniaِ takِ dapatِ dilepaskanِ dariِ sifatِ serakahِ ini.ِ Demi mengejarِ kekayaanِ manusiaِ kehilanganِ akalِ sehat.
Ditengah-tengah ِ persaingan ِ kemewahan, ِ tanpa ِ memiliki kekayaan,ِ manusiaِ merasa ِ kehilanganِ harga ِ diri,ِ perasaanِ ini yangِ mendorogِ seseorangِ menjadiِ serakah.ِ Hidupِ dalamِ kendali hawaِ nafsuِ yangِ lepasِ dariِ kekanganِ nilai-niaiِ moral.
c. Manusia Robot
Kegersangan ِ spiritual ِ menyebakan ِ manusia ِ ke ِ perilaku robotis. ِ Bentuk ِ perilaku ِ yang ِ robotis. ِ Bentuk ِ perilaku ِ yang terkendali ِ secara ِ mekanisme. ِ Membeo ِ dalam ِ kata, ِ meniru perilaku. ِ Mengidentifikasi ِ diri ِ di ِ popularias ِ sosok idoa.”terhipnotis”ِ jadiِ sosokِ “ِ pakِ turut”ِ berlomab-lomba,ِ dan tak ِ mau ِ ketinggalan ِ dalam ِ kegiatan ِ bersepeda ِ santai, ِ hanya karena ِ pejabat ِ setenpat ِ melakukannya. ِ Meniru ِ dandanan perilakuِ paraِ artisِ aauِ aktorِ kondang.ِ Perilakuِ jiplakanِ sepertiِ ini tak ِ lepas ِ dari ِ pengaruh ِ sikap ِ latah. ِ Menempat ِ diri ِ sebagai robot,ِ manusiaِ yangِ sudahِ kehilanganِ jatiِ diri.
d. Euforia Massal
Kegersangan ِ spiritual ِ menyebabkan ِ manusia ِ merassa dirinya ِ terasing, ِ merasa ِ kesepian ِ ditengah ِ keramaian. Masyarakatِ manusiaِ sudahِ berubahِ jadiِ masyaakatِ massa(ِ mass society) ِ masyarakat ِ yang ِ kehilangan ِ solidaritas. ِ Berubah menjadiِ masyarakatِ peguyubanِ keِ patemban.ِ Masyarakatِ yang mengkedepankanِ kepentinganِ individu,”ِ lu-lu,ِ gue-gue.”ِ
Sebagai ِ makhluk ِ sosial, ِ perasaan ِ terasig ِ merupakan “derita”ِ batinِ bagiِ manusia.ِ Untukِ mengenyahkanِ perasaanِ ini. Mendorong ِ manusia ِ menemukan ِ teman ِ senasib. ِ Membentuk peerِ groupِ denganِ latarِ belakngِ prfesi.ِ Membauruِ didiِ bersama temanِ senasibِ sepenanggungan,ِ menyatِ dalamِ euforiaِ massal. Apaun ِ kegiatannya ِ bukan ِ masalah. ِ Yang ِ penting ِ dapat mengobati ِ kegundahan ِ batin. ِ Tak ِ heran ِ berbagai ِ club bermunculan, ِ teruama ِ dikota-kota ِ yang ِ sudah ِ terlanda peradabanِ modern.8
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Kebudayaan adalah hasil daya cipta manusia yang di dalamnya terdapat pengetahuan, keyakinan, seni, moral, adat istiadat sebagai aspek dari kebudayaan itu sendiri. Kebudayaan cenderung menjadi tradisi dalam suatu masyarakat karena kebudayaan merupakan sistem nilai tertentu yang dijadikan pedoman hidup oleh masyarakat.
Tradisi keagamaan memberi pengaruh dalam membentuk pengalaman dan kesadaran agama sehingga terbentuk dalam sikap keagamaan pada diri seseorang yang hidup dalam lingkungan tradisi keagamaan tertentu.
Secara fenomena, kebudayaan dalam era global mengarah kepada nilai-nilai sekuler yang besar pengaruhnya terhadap perkembangan jiwa keagamaan. Dalam kaitannya dengan jiwa keagamaan dampak globalisasi dapat dilihat melalui hubungan dengan perubahan sikap, seperti hilangnya pegangan hidup yang bersumber dari tradisi masyarakat dan bersumber dari ajaran agama.
B. Saran
DAFTAR PUSTAKA
Jalaluddin, Psikologi Agama, Jakarta : Raja Grafindo Persada, 1996
Azizy, A. Qodry, Melawan Globalisasi Reinterpretasi Ajaran Islam (Persiapan SDM Yang Terciptanya Masyarakat Madani), Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2004
Soekanto Soerjono, Sosiologi Suatu Pengantar, Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2000