Pengertian Filsafat dalam arti Kehidupan
Dalam arti ini filsafat dipahami sebagai orientasi yang mencerahkan kehidupan sesuai dengan tuntunan akal. Filsuf bukanlah seorang yang hidup dalah menara gading dan mengasingkan diri dari kehidupan masyarakat, seperti yang selama ini digambarkan oleh banyak orang. Bahkan, filsuf adalah pribadi yang hidup menyatu dengan masyarakat dan berbagai persoalannya. Dialog pemkiran dan diskusi filofofisnya merupakan sebuah pross berhadapan dengan realitas yang memiliki ciri poitivistik. Sorang filsuf dalam menghadapi persoalan dalam realita ini tidak sekedar mengamati dan memkirkannya untuk memahami dan menafsirkannya, namun juga memanfaatkan pemahaman ini untuk sampai pada berbagai solusi yang dapat menyelesikan persoalan-persoalan tersebut, serta megarahkan manusia menuju suatu kehidupan yang lebih utama, baik untuk pribadi maupun masyarakat.
Orientasi untuk mengarahkan kehidupan ini bukan sesuatu yang baru dalama filsafat. Kita melihat Plato sejak masa Yunani telah menggambarkan sebuah model "Masyarakat Manusia" seperti yang dicita-citakannya. Dalam diskripsinya, Pato berusaha menghilangkan berbagai aib (cela) yang ada dalam masyarakat, yaitu dengan membuat suatu pola reformasi umum. Apa yang dilakukan Plato hanyalah salah satu dari sekian banyak contoh usaha yang dilakukan oleh para filsuf diberbagai zaman. Bahkan, filsafatlah yang ada di balik berbagai gerakan kebangkitan sosial dan ilmiyah, serta memikul beban untuk mengarahkan kehidupan menjadi lebih baik dari mulia.
Diantara tokoh-tokoh filsafat kontemorer, ada yang berusaha untuk menjadikan orientasi dalam filsafat, misalnya Karl Mark yang mengusung filsafat materialisme. Marx mengkritik habis filsafat klasik yang hanya menafsirkan alam dan memandang hal tersebut tidak benar. Tugas filsafat adalah bekerja untuk merubah alam, karena menurut Marx, dengan merubah alam, manusia akan merubah dirinya dan akan membentuk sesuatu hukum baru yang akan memudahkan jalannya sejarah. Filsafat Prakmatisme juga memiliki orientasi ini. Wiliam James, tokoh filsafat prakmatisme yang paling terkenal menyatakan, "Filsafat dalam arti yang sesungguhnya adalah seseorang yang berfikir untuk merealsasikan suatu manfaat yang dicarinya".
1. Pengertian Homo Homini Lupus
Manusia adalah serigala bagi manusia lainnya” atau juga disebut “Homo homini Lupus ” istilah ini pertama kali di kemukakan oleh plautus pada tahun 945,yang artinya sudah lebih dari 1500 tahun dan kita masih belum tersadar juga. di jaman sekarang ini sangat sulit Menjadikan Manusia seperti seorang manusia pada umumnya,sepertinya istilah ini masih tetap berlaku sampai sekarang.
Ungkapan “homo homini lupus” (manusia adalah serigala bagi manusia lain) dipopulerkan oleh Thomas Hobbes, seorang filsuf dari Inggris, untuk menggambarkan situasi masyarakat yang diwarnai oleh persaingan dan peperangan. Siapa pun bisa menjadi musuh. Manusia yang satu bisa “memakan” dan mengorbankan manusia lain demi tujuan yang ingin dicapai. “Bellum omnium contra omnes” (perang semua melawan semua).
Latar belakang munculnya pemikiran yang dicetuskan oleh Thomas Hobbes itu berkaitan dengan pengalaman hidup nya Filsuf Ingris yang hidup antara tahun 1588 hingga 1679 itu mengalami penderitaan hidup bertahun-tahun lamanya di pengasingan, karena pada masa hidupnya negerinya Inggeris mengalami perang yang berkepanjangan bagai tidak pernah selesai untuk menggambarkan situasi masyarakat yang diwarnai oleh persaingan dan peperangan. siapa pun bisa menjadi musuh. manusia yang satu bisa “memakan” dan mengorbankan manusia lain demi tujuan yang ingin dicapai. “bellum omnium contra omnes” (perang semua melawan semua).
Thomas Hobbes dari Inggris (1588 - 1679) menilai bahwa negara dibutuhkan perannya yang besar dan amat penting agar mampu mencegah adanya “homo homini lupus”. Hobbes memunculkan teori ini karena di masanya ia melihat adanya kesewenang-wenangan terhadap golongan yang lemah, sehingga perlu adanya peran negara untuk mencegah ini.
1. Penting nya pendekatan sosiologi terhadap hukum
Pendekatan sosiologi terhadap hukum memiliki pengaruh yang sangat penting bagi munculnya sosiologi hukum. Misalnya, industrialisasi yang berkelanjutan melontarkan persoalan sosiologisnya sendiri, seperti urbanisasi dan gerakan demokrasi juga menata kembali masyarakat sesuai dengan prinsip kehidupan demokrasi. Kemapanan kehidupan pada abad ke-19 yang penuh dengan kemajuan di banyak bidang bukanlah akhir atau puncak peradaban manusia. Pada abad ini kodifikasi bukanlah akhir dari perkembangan kehidupan hukum.
Sosiologi hukum, merupakan suatu disiplin ilmu yang sangat muda dan merupakan cabang sosiologi terpenting, yang sampai sekarang masih dicari perumusannya. Hingga saat ini, sosiologi hukum masih mempunyai batasan-batasan yang belum jelas, ahli-ahlinya belum mempunyai kesepakatan mengenai pokok persoalan tentang apa itu sosiologi hukum. Apa yang menyebabkan ilmu baru ini terhambat perkembangannya. Menurut penulis, karena ilmu baru ini, dalam mempertahankan hidupnya, harus bertempur di dua front. Sosiologi hukum menghadapi dua kekuatan, yakni dari kalangan para ahli hukum dan ahli sosiologi, yang terkadang keduanya bersatu untuk menggugat keabsahan sosiologi sebagai disiplin yang berdiri sendiri.
2. Pakar-pakar yang beraliran sosiologis dan inti ajaran dari para pakar tersebut 1. Max Weber
Max Weber melihat hukum memerlukan kekuatan di luar hukum agar bisa dipaksakan secara fisik ataupun psikologis dalam konteks dan hubungannya dengan sanksi.
Hukum merupakan kesepakatan suatu kelompok tertentu dan merupakan jaminan melalui suatu perlengkapan pemaksa.
2. Emili Durkheim
menghubungkan hukum dengan struktur sosial, hukum dipergunakan sebagaig alat diagnosa untuk menemukan syarat-syarat structural bagi perkembangan soilidaritas masyarakat.
3. Eugen Ehrlich
A. Pengertian Hukum
Pengertian Hukum adalah peraturan-peraturan hidup di dalam masyarakat yang sifatnya memaksa untuk menaati tata tertip dalam masyarakat serta memberikan sanksi yang tidak mau patuh menaatinya.
B. Unsur-unsur Hukum
1. Apabila kita lihat dari beberapa perumusan tentang berbagai pengertian hukum, dapatlah diambil kesimpulan bahwa hukum itu meliputi unsur-unsur :
2. peraturan mengenai tingkah laku manusia dalam pergaulan masyarakat; 3. peraturan itu diadakan oleh badan-badan resmi yang berwajib;
4. peraturan itu bersifat memaksa; dan
5. sanksi terhadap pelanggaran peraturan tersebut adalah tegas. C. Ciri-Ciri Hukum
1. Peraturan mengenai tingkah laku manusia dalam pergaulan masyarakat; 2. Peraturan itu diadakan oleh badan-badan resmi yang berwajib;
3. Peraturan itu bersifat memaksa;
4. Sanksi terhadap pelanggaran peraturan tersebut tegas; 5. Berisi perintah dan atau larangan; dan
6. Perintah dan atau larangan itu harus dipatuhi oleh setiap orang. D. Fungsi Hukum
Adapun fungsi dari hukum adalah, sebagai berikut :
1. Sebagai Perlindungan, Hukum melindungi masyarakat dari ancaman bahaya;
2. Fungsi Keadilan, Hukum sebagai penjaga, pelindung dan memberikan keadilan bagi manusia; dan