• Tidak ada hasil yang ditemukan

TINJAUAN PUSTAKA Ubi Kayu (Manihot esculenta Crantz.)

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2019

Membagikan "TINJAUAN PUSTAKA Ubi Kayu (Manihot esculenta Crantz.)"

Copied!
9
0
0

Teks penuh

(1)

TINJAUAN PUSTAKA

Ubi Kayu (Manihot esculenta Crantz.)

Ubi kayu merupakan bahan pangan yang mudah rusak (perishable) dan akan menjadi busuk dalam 2-5 hari apabila tanpa mendapat perlakuan pasca panen yang memadai. Diperkirakan susut pasca panen dari ubi kayu lebih dari 25%. Susut tersebut dapat disebabkan oleh faktor-faktor fisik, fisiologis, hama penyakit atau kombinasi dari faktor-faktor tersebut. Susut fisik dapat terjadi akibat kerusakan mekanis selama pemanenan dan penanganan, dan akibat perubahan suhu. Susut fisiologis terutama disebabkan oleh air, enzim dan respirasi. Sedangkan faktor hama-penyakit mencakup mikro-organisme (jamur, bakteri dan virus), serta serangga, tikus dan hama lainnya. Susut jumlah lebih mudah diidentifikasi dan dihitung, akan tetapi susut mutu lebih sulit ditetapkan dan kemungkinan menghasilkan produk yang tidak dapat digunakan sebagai konsumsi manusia lagi (Wargiono, 1979).

(2)

ekonomi yang lebih tinggi bagi petani, menjamin harga yang layak, merangsang perbaikan produk dengan mutu tinggi, perbaikan sistem penanganan pasca panen, penurunan susut hasil, dan perbaikan gizi, mutu serta keamanan dari nilai makanan (Sundari, 2010).

Ubi kayu merupakan tanaman tropis. Wilayah pengembangan ubi kayu beradapada 30o LU dan 30o LS. Namun demikian, untuk dapat tumbuh, berkembang danberproduksi, tanaman ubi kayu menghendaki persyaratan iklim tertentu. Tanaman ubi kayu menghendaki suhu antara 18o-35oC. Pada suhu di bawah 10o

Namun demikian, untuk berproduksi secara maksimum tanaman ubi kayu membutuhkan kondisi tertentu, yaitu pada dataran rendah tropis, dengan ketinggian 150 m di atas permukaan laut (dpl), dengan suhu rata-rata antara 25-27

C pertumbuhan tanaman ubi kayu akan terhambat. Kelembaban udara yang dibutuhkan ubi kayu adalah 65% (Suharno et al., 1999).

o

Tanaman ubi kayu dapat tumbuh dengan baik apabila curah hujan cukup, tetapi tanaman ini juga dapat tumbuh pada curah hujan rendah (< 500 mm), ataupun tinggi (5000 mm). Curah hujan optimum untuk ubi kayu berkisar antara 760- 1015 mm per tahun. Curah hujan terlalu tinggi mengakibatkan terjadinya serangan jamur dan bakteri pada batang, daun dan umbi apabila drainase kurang baik (Suharno et al., 1999).

C, tetapi beberapa varietas dapat tumbuh pada ketinggian di atas 1500 m dpl (Rukmana, 1997).

(3)

Tanaman ubi kayu memerlukan struktur tanah yang gembur untuk pembentukan dan perkembangan umbi. Pada tanah yang berat, perlu ditambahkan pupuk organik. Sebagian besar pertanaman ubi kayu terdapat di daerah dengan jenis tanah Aluvial, Latosol, Podsolik dan sebagian kecil terdapat di daerah dengan jenis tanah Mediteran, Grumusol dan Andosol. Derajat kemasaman (pH) tanah yang sesuai untuk budidaya ubi kayu berkisar antara 4,5–8,0 dengan pH ideal 5,8. Pada tanah pH rendah (asam), yaitu berkisar 4,0–5,5 tanaman ubi kayu ini pun dapat tumbuh dan cukup subur bagi pertumbuhannya. (Wargijono, 1979).

Dalam pengolahan tanah diusahakan agar tanah tersebut menjadi cukup gembur, karena pada tanah yang gembur, perakaran/umbi akan tumbuh dengan optimal, akar akan mudah menembus tanah. Secara garis besar persiapan lahan untuk tanaman ubi kayu dilakukan sebagai berikut:

1. Pembabatan tanaman perdu dan semak-semak serta rumput-rumputan/alang-alang dan gulma lainnya. Hal ini dikerjakan terutama pada lahan yang baru dibuka, sedangkan pada lahan yang sudah biasa ditanami dengan palawija, tanah dapat langsung dicangkul/dibajak.

2. Pengumpulan dan penyisihan batang tebangan, sedangkan bekas rerumputan dicacah dan dimasukkan kedalam tanah.

3. Pembajakan/pencangkulan atau pentraktoran pertama

4. Pembajakan/pencangkulan atau pentraktoran kedua dan penggemburan 5. Pembuatan saluran pemasukan dan saluran pembuangan

(4)

Tekstur Tanah

Tekstur tanah adalah perbandingan kandungan partikel–partikel tanah primer berupa fraksi liat (ukuran < 0,002 mm dan bersifat licin dan lekat), debu (ukuran 0,05 hingga 0,002 mm dan bersifat licin tetapi tidak lekat) dan pasir

(ukuran > 2 mm dan bersifat kasar dan tidak lekat) dalam suatu massa tanah. Partikel–partikel primer itu mempunyai bentuk dan ukuran yang berbeda–beda

dan dapat digolongkan kedalam tiga fraksi tersebut. Ada yang berdiameter besar sehingga dengan mudah dapat dilihat dengan mata telanjang, tetapi ada pula yang sedemikian halusnya, seperti koloidal, sehingga tidak dapat dilihat dengan mata telanjang (Syarief, 1989).

Tekstur tanah mempengaruhi jumlah air dan udara di dalam tanah yang selanjutnya akan berpengaruh pada pertumbuhan tanaman. Ukuran partikel tanah sangat penting karena :

1. Ukuran partikel tanah makin kecil (liat) maka partikel-partikel tanah tersebut akan berikatan lebih kuat dibandingkan dengan yang berukuran besar (pasir). Hal ini berarti tanah akan didominasi pori-pori berukuran kecil. Demikian juga air dan udara di dalam tanah berada di dalam pori-pori kecil tersebut.

2. Partikel lebih kecil mempunyai luas permukaan lebih luas/besar dibandingkan dengan yang besar dalam satuan berat yang sama. Dalam berat yang sama liat dapat mengembang mempunyai sekitar 10 ribu kali luas permukaan partikel debu dan debu mempunyai luas permukaan sekitar 100 kali dibandingkan dengan pasir.

(5)

Luas permukaan partikel tanah dalam hubungannya dengan diameter partikel, jumlah partikel dan berbagai ukuran partikel tanah dapat disajikan pada tabel di bawah ini :

Tabel 1. Luas permukaan partikel tanah dalam hubungannya dengan diameter partikel, jumlah partikel dan berbagai ukuran partikel tanah

Partikel Tanah Diameter (dp,mm)

Partikel/g Luas permukaan (cm2/g)

Pasir sangat halus 2-1 112 15,4

Pasir kasar 1-0,5 895 30,8

Pasir sedang 0,5-0,25 7,1x103 61,6

Pasir halus 0,25-0,1 7,1x104 132

Pasir sangat halus 0,1-0,05 8,9x105 308

Debu 0,05-0,002 2x107 888

Liat mengembang <0,002 4x1011 8x106

Liat tidak mengembang <0,002 4x1011 4x105 (Winarso, 2005).

Tanah yang terbentuk dari hasil pelapukan batuan dan mineral menghasilkan partikel-partikel tanah yang mempunyai ukuran yang beraneka ragam dari ukuran kasar seperti kerikil dan pasir sampai berukuran halus seperti partikel liat. Tekstur tanah merupakan perbandingan relatip dari tiga fraksi tanah, yaitu pasir, debu dan liat yang dinyatakan dalam persen (Hasibuan, 2008).

(6)

hampir sama dengan syarat mineralogi lempung. Tekstur tanah ditentukan di lapangan dengan cara melihat gejala konsistensi dan rasa perabaan menurut bagan alir dan di laboratorium dengan metode pipet atau metode hidrometer. Tekstur tanah menentukan tata air, tata udara, kemudahan pengolahan dan struktur tanah (Rosmarkam dan Yuwono, 2002).

Tekstur dapat ditentukan di lapangan seperti disajikan pada tabel di bawah ini :

Tabel 2. Menentukan Kelas Tekstur di Lapangan

No Kelas Sifat Tanah

1 Pasir (S) Sangat kasar sekali, tidak membentuk gulungan, serta tidak melekat.

2 Pasir Berlempung (LS) Sangat kasar, membentuk bola yang mudah sekali hancur, serta agak melekat.

3 Lempung Berpasir (SL) Agak kasar, membentuk bola yang mudah sekali hancur, serta agak melekat.

4 Lempung (L) Rasa tidak kasar dan tidak licin, membentuk bola teguh, dapat sedikit digulung dengan permukaan mengkilat, dan melekat.

5 Lempung Berdebu (SiL) Licin, membentuk bola teguh, dapat sedikit digulung dengan permukaan mengkilat, serta agak melekat.

6 Debu (Si) Rasa licin sekali, membentuk bola teguh, dapat sedikit digulung dengan permukaan mengkilat, serta agak melekat.

7 Lempung Berliat (CL) Rasa agak kasar, membentuk bola agak teguh (lembab), membentuk gulungan tapi mudah hancur, serta agak melekat.

8 Lempung Liat Berpasir (SCL)

Rasa kasar agak jelas, membentuk bola agak teguh (lembab), membentuk gulungan tetapi mudah hancur, serta melekat.

9 Lempung Liat Berdebu (SiCL)

Rasa licin jelas, membentuk bola teguh, gulungan mengkilat, melekat.

10 Liat Berpasir (SC) Rasa licin agak kasar, membentuk bola dalam keadaan kering sukar dipilin, mudah digulung, serta melekat.

11 Liat Berdebu (SiC) Rasa agak licin, membentuk bola dalam keadaan kering sukar dipilin, mudah digulung, serta melekat.

(7)

atau berdasarkan data hasil analisis di laboratorium dengan menggunakan segitiga USDA

Bila tanah terlalu banyak menggandung pasir, tanah ini kurang baik untuk pertumbuhan tanaman. Tanah yang bertekstur pasir mempunyai luas permukaan yang kecil, sehingga sulit untuk menyerap atau menahan air dan unsur hara, sehingga pada musim kemarau mudah kekurangan air. Tanah yang banyak mengandung debu lebih kuat memegang air dibandingkan dengan tanah berpasir karena pori-porinya kecil. Daya meresapkan air perlahan-lahan sehingga air lama dipegang oleh tanah. Tanah yang bertekstur liat mempunyai luas permukaan yang besar sehingga kemampuan menahan air dan menyediakan unsur hara lebih tinggi. Tanah-tanah yang banyak mengandung liat dan bercampur dengan sejumlah debu menghasilkan tanah yang bertekstur halus (Foth, 1994).

Bahan Organik Tanah

Tanah terbentuk dari percampuran berbagai macam komponen penyusun apabila dinyatakan dalam persen (%) volume komposisi tanah ideal adalah terdiri dari mineral 45%, bahan organik 5%, udara 20-30%, dan air 20-30%. Walaupun komposisi bahan organik paling kecil dibanding bahan lainnya namun bahan organik memainkan banyak peranan penting dalam tanah baik secara fisik, kimia, maupun biologi tanah (Rosamarkam dan Yuwono, 2002).

(8)

yang terus menerus mengalami perubahan bentuk, karena dipengaruhi oleh faktor biologi, fisika, dan kimia (Sutanto, 2002).

Bahan organik memiliki peran penting dalam menentukan kemampuan tanah untuk mendukung pertumbuhan tanaman, sehingga jika kadar bahan organik tanah menurun, kemampuan tanah dalam mendukung produktivitas tanaman juga menurun. Menurunnya kadar bahan organik merupakan salah satu bentuk kerusakan tanah yang umum terjadi. Kerusakan tanah merupakan masalah penting bagi negara berkembang karena intensitasnya yang cenderung meningkat

sehingga tercipta tanah-tanah rusak yang jumlah maupun intensitasnya meningkat (Sutanto, 2005).

Kehilangan unsur hara dari daerah perakaran juga merupakan fenomena umum pada sistem pertanian dengan masukan rendah. Pemiskinan hara terjadi utamanya pada praktek pertanian di lahan yang miskin atau agak kurang subur tanpa dibarengi dengan pemberian masukan pupuk buatan maupun pupuk organik yang memadai. Termasuk dalam kelompok ini adalah kehilangan bahan organik yang lebih cepat dari penambahannya pada lapisan atas. Dengan demikian terjadi ketidakseimbangan masukan bahan organik dengan kehilangan yang terjadi melalui dekomposisi yang berdampak pada penurunan kadar bahan organik dalam tanah. Tanah-tanah yang sudah mengalami kerusakan akan sulit mendukung pertumbuhan tanaman. Sifat-sifat tanah yang sudah rusak memerlukan perbaikan

agar tanaman dapat tumbuh dan berproduksi kembali secara optimal (Sutanto, 2002)

(9)

tindakan yang baik, berwawasan lingkungan dan berfikir untuk kelestariannya. Pengaruh bahan organik dalam usaha pertanian ini menjadi sangat penting setelah banyak masyarakat lebih menghargai hasil-hasil pertanian ramah lingkungan (pertanian organik) atau sering dinyatakan kembali ke alam (Atmojo, 2003).

Gambar

Tabel 1. Luas permukaan partikel tanah dalam hubungannya dengan diameter
Tabel 2. Menentukan Kelas Tekstur di Lapangan

Referensi

Dokumen terkait

Mengingat pentingnya masalah pelaksanaan store atmosphere dalam Mal yang meliputi Exterior display, General interior, Store layout dan Interior display serta

Pada penelitian ini yang mengkaji pokok permasalahan adalah mengenai gaya hidup petani tembakau di desa Cemoro Kecamatan Wonoboyo Kabupaten Temanggung, untuk itu perlu

Hasil dari penelitian ini adalah terbentuknya model klasifikasi data lama studi mahasiswa STMIK Indonesia yang nantinya dapat digunakan untuk prediksi jumlah mahasiswa lulus

Optionally, if the destination device is different from the source device then select the destination disk device by choosing the GParted | Devices | [your-destination- disk-device]

Hasil belajar siswa adalah kemampuan yang dimiliki akan setelah mengikuti proses belajar didalam kelas dan telah mencapai tujuan pembelajaran yang ingin dicapai dalam

Peta persentase tutupan kategori biota dan substrat hasil “monitoring” dengan metode “LIT” di perairan Lahewa Tuhaemberua, Kabupaten Nias, 2010... Peta persentase tutupan

Saran yang dapat dikemukan dari hasil penelitian ini, adalah perusahaan penting untuk lebih memperhatikan tunjangan hari raya dan gaji, hubungan kerjasama yang baik

In Figure 5, 6 and 7 can be seen a block diagram and flowchart of the design sub- systems that are built for the solar storms type classification using