• Tidak ada hasil yang ditemukan

STUDI KEBIJAKAN PEMERINTAHAN DAERAH DI BIDANG PENDIDIKAN AGAMA

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "STUDI KEBIJAKAN PEMERINTAHAN DAERAH DI BIDANG PENDIDIKAN AGAMA"

Copied!
17
0
0

Teks penuh

(1)

STUDI KEBIJAKAN PEMERINTAHAN DAERAH

STUDI KEBIJAKAN PEMERINTAHAN DAERAH

DI BIDANG PENDIDIKAN AGAMA

DI BIDANG PENDIDIKAN AGAMA

(Analisis Terhadap Kebijakan Pemerintahan Bidang Pemberdayaan

(Analisis Terhadap Kebijakan Pemerintahan Bidang Pemberdayaan

Madrasah Ibtidaiyah di Kota Surabaya dan Kota Malang)

(2)

ABS

T

RAK

 Eksistensi Madrasah Ibtidaiyah bukan hanya syarat dengan problematika internal, melainkan juga dipenuhi aneka kerumitan eksternal. Kesediaan Madrasah Ibtidaiyah menjadi laboratorium sumber daya manusia kerap bersentuhan dengan politik, sehingga terdiskriminasi di ruang pelayanan publik. Pemerintahan Daerah Kota Surabaya menempatkannya sebagai bagian terpisah dari Sekolah Dasar, bahkan juga terbelah antara Madrasah Ibtidaiyah Negeri dan Swasta. Indikasi diskriminasi tersebut dapat ditemukan pada kemasan bahasa hukum produk kebijakan publik, termasuk pengaruh Surat Edaran Menteri Dalam Negeri, Nomor 903/3172/SJ, tertanggal 21 September 2005, walaupun masa kini telah mengalami revisi. Ketimpangan ini juga ditemukan pada aspek landasan hukum. Formulasi bantuan kepada Madrasah Ibtidaiyah hanya berpedoman pada Surat Keputusan Dinas Pendidikan Kota Surabaya. Kalaupun ada Peraturan Wali Kota Surabaya, hal itu hanya menyangkut Madrasah Ibtidaiyah Negeri, sementara Madrasah Ibtidaiyah Swasta tidak termasuk di dalamnya.

 Kebijakan publik Pemerintahan Daerah Kota Malang memiliki sedikit perbedaan dalam menciptakan kesamaan antara Madrasah Ibtidaiyah dengan Sekolah Dasar. Sebab upaya implementasi program kebijakan publiknya telah melalui proses studi kelayakan terlebih dahulu. Hal ini dibuktikan dengan penerbitan Peraturan Daerah, Keputusan Wali Kota, dan Dinas Pendidikan Kota Malang. Posisi Madrasah Ibtidaiyah Negeri/Swasta, dan Sekolah Dasar, sedikit memiliki persamaan, karena eksistensi Madrasah Ibtidaiyah di Kota Malang mampu menjadi sekolah unggulan dan menempati kebutuhan alternatif utama masyarakat.  Namun demikian, keterlibatan kontrol publik masih diposisikan terpisah dalam kebijakan

Pemerintahan Daerah Kota Surabaya dan Kota Malang. Akibatnya terdapat peralihan milik kebijakan publik ke arah kebijakan yang samar, bahkan hanya menjadi elite kebijakan. Terbukti pengaruh keterlibatan Madrasah Ibtidaiyah dalam kebijakan publik, walaupun ada

political will Pemerintahan Daerah, juga masih dipenuhi oleh proses kedekatan Personalisasi Departemen Agama, Madrasah Ibtidaiyah dengan kelompok elite kebijakan, seperti eksekutif dan legislatif.

(3)

Aspek Realitas: Aspek Realitas:

Hambatan paling besar bagi Departemen Agama dalam upaya mengakselesari Madrasah Ibtidaiyah sejajar Hambatan paling besar bagi Departemen Agama dalam upaya mengakselesari Madrasah Ibtidaiyah sejajar dengan sekolah umum adalah rendahnya kualitas proses pendidikan di Madrasah Ibtidaiyah. Hal ini terjadi

dengan sekolah umum adalah rendahnya kualitas proses pendidikan di Madrasah Ibtidaiyah. Hal ini terjadi

karena:

karena: PertamaPertama, aspek manajemen, , aspek manajemen, KeduaKedua, aspek kurikulum, sebagai konsekwensi dari kebijakan. , aspek kurikulum, sebagai konsekwensi dari kebijakan. KetigaKetiga, , aspek kualitas tenaga guru di Madrasah Ibtidaiyah masih tergolong rendah

aspek kualitas tenaga guru di Madrasah Ibtidaiyah masih tergolong rendah..

Lembaga Pendidikan Agama, memiliki kecenderungan ke tiga model. Lembaga Pendidikan Agama, memiliki kecenderungan ke tiga model. PertamaPertama, Lembaga Pendidikan , Lembaga Pendidikan Agama “supplement”,

Agama “supplement”, Kedua,Kedua, Lembaga Pendidikan Agama “life skill”, Lembaga Pendidikan Agama “life skill”, Ketiga,Ketiga,Lembaga Pendidikan Agama Lembaga Pendidikan Agama “ma’had ‘aliy

“ma’had ‘aliy

Aspek Idealitas Aspek Idealitas

Kebijakan otonomi daerah yang sedang berproses akhir-akhir ini, diasumsikan dapat memicu adanya Kebijakan otonomi daerah yang sedang berproses akhir-akhir ini, diasumsikan dapat memicu adanya implikasi pada semua sector kehidupan yang lebih luas. Dengan diberlakukannya otonomi daerah tersebut,

implikasi pada semua sector kehidupan yang lebih luas. Dengan diberlakukannya otonomi daerah tersebut,

berarti kekuasaan negara dalam penyelenggaraan bidang pendidikan terbagi menjadi dua wilayah, yaitu

berarti kekuasaan negara dalam penyelenggaraan bidang pendidikan terbagi menjadi dua wilayah, yaitu

pemerintah pusat di satu pihak, dan pemerintah daerah di lain pihak, serta satuan pendidikan dalam rangka

pemerintah pusat di satu pihak, dan pemerintah daerah di lain pihak, serta satuan pendidikan dalam rangka

otonomi daerah

otonomi daerah

Praktek otonomi daerah identik dengan desentralisasi pendidikan sebagai upaya untuk mendelegasikan Praktek otonomi daerah identik dengan desentralisasi pendidikan sebagai upaya untuk mendelegasikan sebagian atau seluruh wewenang di bidang pendidikan kepada pejabat di bawahnyua, atau dari

sebagian atau seluruh wewenang di bidang pendidikan kepada pejabat di bawahnyua, atau dari

pemerintah pusat ke pemerintah daerah, atau pun dari pemerintah kepada masyarakat. Tujuan

pemerintah pusat ke pemerintah daerah, atau pun dari pemerintah kepada masyarakat. Tujuan

desentralisasi pendidikan adalah untuk meningkatkan pencapaian tujuan-tujuan pendidikan terkait dengan

desentralisasi pendidikan adalah untuk meningkatkan pencapaian tujuan-tujuan pendidikan terkait dengan

pelaksanaan kebijakan-kebijakan, seperti; pemerataan pendidikan, peningkatan mutu, relevansi pendidikan,

pelaksanaan kebijakan-kebijakan, seperti; pemerataan pendidikan, peningkatan mutu, relevansi pendidikan,

dan efektifitas/efisiensi pengelolaan pendidikan.

dan efektifitas/efisiensi pengelolaan pendidikan.

Relevansi semangat Undang-undang Sistem Pendidikan Nasional, yang memuat 4 (empat) kebijakan, yaitu Relevansi semangat Undang-undang Sistem Pendidikan Nasional, yang memuat 4 (empat) kebijakan, yaitu (1) peningkatan mutu pendidikan, (2) efisiensi pengelolaan pendidikan, (3) relevansi pendidikan, dan (4)

(1) peningkatan mutu pendidikan, (2) efisiensi pengelolaan pendidikan, (3) relevansi pendidikan, dan (4)

pemerataan pelayanan pendidikan. UU Sisdiknas ini muncul sebagai konsekuensi dari lahirnya

pemerataan pelayanan pendidikan. UU Sisdiknas ini muncul sebagai konsekuensi dari lahirnya

Undang-undang No. 22 tahun 1999 tentang Otonomi Daerah dan Undang-Undang-undang No. 25 Tahun 1999 tentang

undang No. 22 tahun 1999 tentang Otonomi Daerah dan Undang-undang No. 25 Tahun 1999 tentang

perimbangan Keuangan Pusat dan daerah.

perimbangan Keuangan Pusat dan daerah.

Relevansi Problematika Relevansi Problematika

Berdasarkan hal di atas, citra kota pendidikan dan kota industri memiliki kedekatan untuk dijadikan sebagai Berdasarkan hal di atas, citra kota pendidikan dan kota industri memiliki kedekatan untuk dijadikan sebagai bagian jawaban di tengah perkembangan kekinian. Salah satunya adalah eksistensi Madrasah Ibtidaiyah di

bagian jawaban di tengah perkembangan kekinian. Salah satunya adalah eksistensi Madrasah Ibtidaiyah di

Kota Surabaya dan Kota Malang. Oleh karena itu, untuk mensinergiskan realitas pola pengembangan

Kota Surabaya dan Kota Malang. Oleh karena itu, untuk mensinergiskan realitas pola pengembangan

lembaga pendidikan agama, maka dibutuhkan penelitian kebijakan pemerintahan bidang lembaga

lembaga pendidikan agama, maka dibutuhkan penelitian kebijakan pemerintahan bidang lembaga

pendidikan agama di Kota Surabaya dan Kota Malang, terkait dengan perberdayaan Madrasah Ibtidaiyah.

pendidikan agama di Kota Surabaya dan Kota Malang, terkait dengan perberdayaan Madrasah Ibtidaiyah.

Sebab pola apapun yang terkait dengan pembangunan daerah sangat menentukan arah kehidupan dan

Sebab pola apapun yang terkait dengan pembangunan daerah sangat menentukan arah kehidupan dan

perkembangan institusi yang hidup di dalamnya, termasuk lembaga pendidikan agama.

(4)

FOKUS BAHASAN

Aspek Produk Kebijakan; pada aspek ini focus bahasan akan diarahkan kepada beberapa bentuk kebijakan yang terkait dengan kebijakan pemerintahan Kota Surabaya dan Kota Malang bidang pemberdayaan lembaga pendidikan agama. Adapun substansi focus bahasannya sebagai berikut:

 Produk Peraturan Daerah, terkait dengan pengembangan dan pemberdayaan lembaga pendidikan, khususnya Madrasah Ibtidaiyah

 Aneka Formulasi Kebijakan, terkait dengan pengembangan dan pemberdayaan Madrasah Ibtidaiyah, dalam hal Kebijakan Perda, Bantuan Dana, Bantuan Sarana dan Prasarana, dan Bantuan Tenaga Pengajar

 Implementasi kebijakan Pemerintahan Kota Surabaya dan Kota Malang bidang pendidikan yang telah diberikan kepada Madrasah Ibtidayah.

 Dampak dari interaksi pengaruh kebijakan Pemerintahan Kota Surabaya dan Kota Malang bidang pendidiakn terhadap madrasah Ibtidaiyah, dalam hal Peningkatan Menejemen, Pengembangan Kurikulum, dan Kualitas Tenaga Pengajar.

(5)

RUMUSAN MASALAH

RUMUSAN MASALAH

 Bagaimana produk dan formulasi kebijakan Pemerintahan Bagaimana produk dan formulasi kebijakan Pemerintahan Kota Surabaya dan Kota Malang di bidang pemberdayaan

Kota Surabaya dan Kota Malang di bidang pemberdayaan

Madrasah Ibtidaiyah?

Madrasah Ibtidaiyah?

 Bagaimana Bagaimana Implementasi Implementasi dan dan dampak dampak kebijakan kebijakan

Pemerintahan Kota Surabaya dan Kota Malang dalam

Pemerintahan Kota Surabaya dan Kota Malang dalam

pemberdayaan Madrasah Ibtidaiyah?

(6)

KERANGKA KONSEPTUAL

LANDASAN KEBIJAKAN

 UU Nomor 2 Tahun 1989, Tentang Sistem Pendidikan Nasional

 UU Nomor 20 Tahun 2003, Tentang Sisdiknas

 UU Nomor 25 Tahun 1999, tentang Perimbangan Keuangan Pusat dan Daerah,

 UU Nomor 22 Tahun 1999, tentang Otonomi Daerah

KEBIJAKAN PEMERINTAHAN KOTA SURABAYA & KOTA MALANG

BIDANG PENDIDIKAN

(Lembaga Pendidikan Agama)

Sistem Kebijakan

Produk Kebijakan

Formulasi Kebijakan

MADRASAH IBTIDAIYAH

Di Kota Surabaya dan Kota Malang

Implementasi Kebijakan

(7)

METODE PENELITIAN

METODE PENELITIAN

Pendekatan

Pendekatan

Pendekatan dalam penelitian ini menggunakan Pendekatan dalam penelitian ini menggunakan pendekatan fenomenologispendekatan fenomenologis. Karena peneliti akan berusaha . Karena peneliti akan berusaha mengungkapkan pengertian intrepretatif terhadap pemahaman subyek penelitian.

mengungkapkan pengertian intrepretatif terhadap pemahaman subyek penelitian.

Sumber dan Jenis Data

Sumber dan Jenis DataKata-kata dan Tindakan;Kata-kata dan Tindakan;

Dokumen TertulisDokumen Tertulis

Instrumen Penelitian

Instrumen Penelitian

 Penetian dalam hal ini menggunakan pola Penetian dalam hal ini menggunakan pola pengamatan berperansertapengamatan berperanserta peneliti. Model pengamatan berperan peneliti. Model pengamatan berperan serta dalam hal ini akan menggunakan pola secara acak, yakni berperanserta secara lengkap, pemeran serta serta dalam hal ini akan menggunakan pola secara acak, yakni berperanserta secara lengkap, pemeran serta sebagai pengamat, pengamat sebagai pemeranserta, dan pengamat penuh.

sebagai pengamat, pengamat sebagai pemeranserta, dan pengamat penuh.

Tehnik Pengumpulan Data

Tehnik Pengumpulan DataPengamatanPengamatan

WawancaraWawancara

Catatan LapanganCatatan LapanganPenggunaan dokumenPenggunaan dokumen

Tehnik Analisis Data

Tehnik Analisis Data

Proses Satuan (Unilyzing); Proses Satuan (Unilyzing); proses ini akan melakukan dua hal yakni, tipolagi satuan, dan penyusuan satuanproses ini akan melakukan dua hal yakni, tipolagi satuan, dan penyusuan satuan

Kategorisasi; Kategorisasi; Peniliti akan melakukan kategorisasi data penelitian ke arah pendataan yang sistematis dan Peniliti akan melakukan kategorisasi data penelitian ke arah pendataan yang sistematis dan terarah. Sehingga tampak struktur data yang diperlukan dan tidak diperlukan, atau data kurang lengkap dan data terarah. Sehingga tampak struktur data yang diperlukan dan tidak diperlukan, atau data kurang lengkap dan data diperluas.

diperluas.

Penafsiran Data; Penafsiran Data; Untuk melakukan penafsiran data, maka peneliti akan mengkategorikan dan mencari jawaban Untuk melakukan penafsiran data, maka peneliti akan mengkategorikan dan mencari jawaban penafsiran data dalam struktur pertanyaan yang terbuka dan tertutup.

(8)

TEMUAN PENELITIAN

TEMUAN PENELITIAN

Keputusan Wali Kota Malang, Nomor 244 Tahun 2005, Tentang Penetapan Rehabilitasi Gedung Ruang Bnelajar Sekolah Dasar Dana Stimulan Adhoc II Tahun 2005

9  

Keputusan Wali Kota Malang, Nomor 49 Tahun 2005, Tentang Penetapan Reahabilitasi Sekolah Dasar dan Madrasah Ibtidaiyah Kota Malang Tahun Anggaran 2005

8  

Keputusan Kepala Dinas Pendidikan Kota Malang, Nomor 800/3069/420.304/2004, Tentang Penetapan Sekolah Penerima Dana Bantuan Langsung dan Dana Imbal Swadaya Rehabilitasi Gedung Sekolah dan Peningkatan Mutu Proyek Peningkatan Pendidikan Dasar IV Kota Malang Tahun Anggaran 2004

7  

Keputusan Wali Kota Malang, Nomor 504 Tahun 2004, Tentang Penetapan Alokasi Dana Stimulasi Perubahan Anggaran Keuangan (PAK) Untuk TK/SD/MI Kota Malang Tahun 2004

6  

Keputusan Wali Kota Malang, Nomor 101 Tahun 2004, Tentang Penetapan Rehabilitasi Sekolah Dasar dan Dana Madrasah Ibtidaiyah Kota Malang Tahun Anggaran 2004

5  

Keputusan Wali Kota malang, Nomor 141 Tahun 2003, Tentang Pelaksanaan Penggunaan Dana Stimulan Untuk Sekolah

Dasar/Madrasah Ibtidaiyah dan Taman Kanak-Kanak Tahun 2003 4

Peraturan Wali Kota Surabaya, Nomor 43 Tahun 2006, Tentang Petunjuk Tehnis dan Alokasi Madrasah Ibtidaiyah Negeri (MIN) dan Madrasah Tsanawiyah Negeri (MTsN) Penerima Penunjang Biaya Sekolah Gratis tahun 2006 di Kota Surabaya

4

Keputusan Wali Kota Malang, Nomor 777 Tahun 2002, Tentang Susunan Organisasi dan Tata Kerja Satuan Pendidikan Kota Malang

3 Peraturan Wali Kota Surabaya, Nomor 17 Tahun 2006, Tentang Honorarium Guru Bantu Daerah.

3

Keputusan Wali Kota Malang, Nomor 776 Tahun 2002, Tentang Tata Cara Pendirian Sekolah Di Kota Malang

2 Peratuaran Wali Kota Surabaya, Nomor 16 tahun 2006, Tentang Petunjuk Teknis dan Alokasi Penunjang Biaya Sekolah Gratis Tahun 2006 Di Kota Surabaya

2

Peraturan Daerah Kota Malang, Nomor 13 Tahun 2001, Tentang Sistem Penyelenggaraan Pendidikan di Kota Malang

1 Peraturan Wali Kota Surabaya, Nomor 58 Tahun 2005, Tentang Petunjuk Teknis dan Alokasi Sekolah Penerima Bantuan Sekolah Gratis Tahun 2005 Di Kota Surabaya

1

Produk Kebijakan Kota Malang No

Produk Kebijakan Kota Surabaya No

(9)

 FORMULASI KEBIJAKAN PENDIDIKANFORMULASI KEBIJAKAN PENDIDIKAN

Catatan: Skema periodik penerima bantuan rehabilitasi Gedung Madrasah Ibtidaiyah sebagaimana pada tabel 14

Pemberian Bantuan Buku Perpustakaan Madrasah Ibtidaiyah Tahun 2005 (lihat tabel 24)

10

Pemberian Bantuan Buku Pelajaran Matematika dan bahasa Inggris di Madrasah Ibtidaiyah Tahun 2005. (lihat tabel 23)

9

Pemberian Bantuan Alat Peraga Pendidikan dan Sarana Laboratorium. (lihat tabel 22)

8

Pemberian Bantuan Tenaga Pengajar di Madrasah Ibtidaiyah (lihat tabel 20 dan 21)

7

Pemberian Bantuan Beasiswa Studi Lanjutan bagi Guru Madarasah Ibtidaiyah; • Beasiswa Studi Lanjutan D2 PGSD Tahun 2004 (lihat tabel 15)

• Beasiswa Studi Lanjutan D2 PGSD Tahun 2005 (lihat tabel 16)

• Beasiswa Studi Lanjutan S1 PGSD Tahun Anggkatan 2001/2002 (lihat tabel 17)

• Beasiswa Studi Lanjutan S1 PGSD Tahun Anggkatan 2003/2004 (lihat tabel 18)

• Beasiswa Studi Lanjutan S1 PGSD Tahun Anggkatan 2005/2006 (lihat tabel 19)

6

Pemberian Dana Bantuan Langsung (DBL) Proyek Peningkatan Pendidikan Dasar (MI) Tahun 2004 (lihat tabel 13)

5

Pemberian Bantuan Dana Proyek P2KP di Madrasah Ibtidaiyah Tahun 2003. (lihat tabel 12)

4

Pemberian Bantuan Dana Alokasi Non Dana Reboisasi di Madrasah Ibtidaiyah Tahun 2005. (lihat tabel 11)

3

Pemberian Bantuan Tenaga Pengajar di Madrasah Ibtidaiyah (lihat tabel 4 dan 5)

3

Pemberintan Bantuan Dana Alokasi Khusus (DAK) Madrasah Ibtidaiyah Tahun 2003.

(lihat tabel 10)

2

Pemberian Bantuan Dana Peningkatan Kualitas Gedung Madrasah Ibtidaiyah, antara lain:

• Madrasah Ibtidaiyah Penerima Dana Peningkatan Kualitas Gedung Sekolah Tahun 2005 (lihat tabel 2)

• Madrasah Ibtidaiyah Penerima Dana Peningkatan Kualitas Gedung Sekolah Tahun 2006 (lihat tabel 3)

2

Pemberian Bantuan Dana Stimulan PAK (Rehabilitasi) Madrasah Ibtidaiyah; antara lain:

• Madrasah Ibtidaiyah penerima bantuan dana stimulan Tahun Anggaran 2002.

(lihat tabel 6)

• Madrasah Ibtidaiyah penerima bantuan dana stimulan Tahun Anggaran 2003.

(lihat tabel 7)

• Madrasah Ibtidaiyah penerima bantuan dana stimulan Tahun Anggaran 2004.

(lihat tabel 8)

• Madrasah Ibtidaiyah penerima bantuan dana stimulan Tahun Anggaran 2005.

(lihat tabel 9)

1

Pemberian Bantuan Penunjang Biaya Sekolah Terhadap Madrasah Ibtidaiyah Dari APBD, Periode: Januari s/d Desember 2006 (lihat tebel 1)

1

Formulasi KebijakanKota Malang No

(10)

IMPLEMENTASI DAN DAMPAK KEBIJAKANIMPLEMENTASI DAN DAMPAK KEBIJAKAN

Tidak ada tambahan

tenaga pengajar Belum sama sekali

tersentuh Pemberian Batun

hanya cukup untuk pemeliharaan gedung, dan tidak menyentuh aspek menejemn  Tanpa melibatkan kontrol publik, dan merupakan hasil kedekatan dengan legisltaif

 Tanpa Studi kelayakan Madrasah Ibtidaiyah Swasta Al Hidayah Surabaya 2 Bersifat penambahan tenaga pengajar, dan belum pada spesifikasi gurua kelas dan mata pelajaran

Belum sama sekali tersentuh

Pemberian Batun hanya cukup untuk pemeliharaan gedung, dan tidak menyentuh aspek menejemn

 Tanpa melibatkan kontrol publik,

 Tanpa Studi kelayakan  Lebih diuntungkan oleh status negeri Madrasah Ibtidaiyah Negeri Medokan Ayu Surabaya 1 Kualitas Guru Pengembangan Kurikulum Peningkatan Menejemen Dampak Kebijakan Implementasi Kebijakan Tempat Penelitian No

Catatan: Keberpihakan kebiajkan Pemerintahan Daerah Kota Surabaya di bidang pendidikan masih menjadi penetu

(11)

Tidak ada tambahan tenaga pengajar dan masih jauh dari

spesifikasi guru kelas dan mata pelajaranHadirnya kebijakan bersifat menentukan Aneka mcam pelatihan yang diadakan Diknas Malang mampu menjembatani upaya pengembangan kurikulum Keterbatasan dalam pengelolaan SDM Madrasah Ibtidaiyah, sehingga lambat dalam merespon kebijakan Melalui Studi kelayakan,

Tanpa melibatkan kontrol public Madrasah Ibtidaiyah Swasta NU Putri Malang 5

Tidak ada tambahan tenaga pengajar dan bersifat semi

spesifikasi guru kelas dan mata pelajaranHadirnya kebijakan bersifat membantu dalam pengembangan Mampu mengaplikasi materi dan metode sesuai dengan kebutuhan lokal dan aplikasi pendidikan modern Pengelolaan menejemen bersifat mandiri, peningkatan kualitas menejemen lebih merupakan bentuk jaringan kekuatan menjerial

Melalui Studi

kelayakan,

Tanpa melibatkan

kontrol publik Madrasah Ibtidaiyah Swasta Jendaral Sudirman Malang 4 Hadirnya kebijakan hanya bersifat penunjang Bersifat spesifikasi

guru kelas dan mata pelajaran

Mampu

mengaplikasi materi dan metode sesuai dengan kebutuhan lokal dan aplikasi pendidikan modern

 Melalui Studi kelayakan,

Tanpa melibatkan

kontrol publik,

Kesiapan tenaga

administrasi dan tenaga mengajar mampu tampil dalam menejemen pendidikan modern Madrasah Ibtidaiyah Negeri Malang I 3 Kualitas Guru Pengembangan Kurikulum Peningkatan Menejemen Dampak Kebijakan Implementasi Kebijakan Tempat Penelitian No

Hadirnya kebijakan bersifat menentukan

(12)

ANALISIS

ANALISIS

Memiliki muatan kepedulian ldalam memproduk bahasa kebijakan publik.

Diskriminasi Bahasa Hukum (Madrasah Ibtidaiyah) Dalam Produk Kebijakan Publik;

2

Masih Terdapat Penanggalan Aspirasi dan Partisipasi Publik (Madrasah Ibtidaiyah) Dalam Pembuatan Kebijakan Publik; Hal ini disebabkan oleh beberapa Faktor:

Studi kelayakan dilakukan setelah ada kepastian turunnnya anggaran

Faktor Pembelahan Prilaku Politik; Masih Terdapat Penanggalan Aspirasi dan

Partisipasi Publik (Madrasah Ibtidaiyah) Dalam Pembuatan Kebijakan Publik; Hal ini disebabkan oleh beberapa Faktor:

Faktor Pembelahan Prilaku Politik;Faktor Pembelahan Tanggungjawab; 1

Kota Malang Kota Surabaya

Analisis Produk Kebijakan Analisis Produk Kebijakan

No

(13)

ASPEK IMPLEMENTASI KEBIJAKANASPEK IMPLEMENTASI KEBIJAKAN

Kreatifitas Formulasi Kebijakan Publik; Kreatifitas Formulasi Kebijakan Publik;

Pemetaan aneka formulasi kebijakan sebagai bentuk kreatifitas dapat dipaparkan sebagai berikut;

Pemetaan aneka formulasi kebijakan sebagai bentuk kreatifitas dapat dipaparkan sebagai berikut;

Pemerintahan Daerah Kota MalangPemerintahan Daerah Kota Malang telah menerbitkan bentuk kebijakan publik tentang pendidikan telah menerbitkan bentuk kebijakan publik tentang pendidikan agama Madrasah Ibtidaiyah, dengan bentuk formulasi antara lain;

agama Madrasah Ibtidaiyah, dengan bentuk formulasi antara lain; (1). Pemberian Bantuan Dana (1). Pemberian Bantuan Dana

Madrasah Ibtidaiyah ; (2). Pemberian Bantuan Studi Lanjutan Guru Madrasah Ibtidaiyah; (3). Pemberian

Madrasah Ibtidaiyah ; (2). Pemberian Bantuan Studi Lanjutan Guru Madrasah Ibtidaiyah; (3). Pemberian

Bantuan Pembangunan Gedung Madrasah Ibtidaiyah; (4). Pemberian Bantuan Sarana dan Prasarana

Bantuan Pembangunan Gedung Madrasah Ibtidaiyah; (4). Pemberian Bantuan Sarana dan Prasarana

Pengajaran Madrasah Ibtidaiyah

Pengajaran Madrasah Ibtidaiyah. Semua kebijakan ini dalam oprerasionalnya berlandaskan pada dua . Semua kebijakan ini dalam oprerasionalnya berlandaskan pada dua hal utama, yakni;

hal utama, yakni;

 Peraturan Daerah Kota Malang, Peraturan Wali Kota Malang dan Peraturan Dinas Pendidikan Kota Peraturan Daerah Kota Malang, Peraturan Wali Kota Malang dan Peraturan Dinas Pendidikan Kota

Malang

Malang

 Penanganan operasional kebijakan publik tersebut melibatkan struktur pelaksana, bahkan juga Penanganan operasional kebijakan publik tersebut melibatkan struktur pelaksana, bahkan juga dalam bentuk berita acara.

dalam bentuk berita acara.

 Namun demikian, implementasi kebijakan publik dalam bentuk variatif yang melibatkan MadrasahNamun demikian, implementasi kebijakan publik dalam bentuk variatif yang melibatkan Madrasah

Ibtidaiyah di Kota Malang, dipengaruhi oleh beberapa faktor hal:

Ibtidaiyah di Kota Malang, dipengaruhi oleh beberapa faktor hal:

Faktor Polical Will Pemerintahan Kota Malang yang Memberikan Apresiasi Terhadap Kehadiran Faktor Polical Will Pemerintahan Kota Malang yang Memberikan Apresiasi Terhadap Kehadiran Madrasah Ibtidaiyah

Madrasah Ibtidaiyah. Hal ini juga dibuktikan oleh karya Madrasah Ibtidaiyah yang mampu. Hal ini juga dibuktikan oleh karya Madrasah Ibtidaiyah yang mampu

menjadi jembatan Madrasah unggulan, seperti MIN I Malang, MIS Jendral Sudirman. Sehingga

menjadi jembatan Madrasah unggulan, seperti MIN I Malang, MIS Jendral Sudirman. Sehingga

Madrasah Ibtidaiyah menjadi bagian integral dari kebutuhan masyarakat, pada aspek alternatif

Madrasah Ibtidaiyah menjadi bagian integral dari kebutuhan masyarakat, pada aspek alternatif

pendidikan dasar. Oleh karena itu, posisi kebutuhan masyarakat tersebut meniscayakan

pendidikan dasar. Oleh karena itu, posisi kebutuhan masyarakat tersebut meniscayakan

Pemerintahan Daerah Kota Malang untuk memberikan apresiasi tersendiri terhadap Madarash

Pemerintahan Daerah Kota Malang untuk memberikan apresiasi tersendiri terhadap Madarash

Ibtidaiyah.

Ibtidaiyah.

Faktor Pendekatan dan kedekatan Elit kebijakan antara Departemen Agama Kota Malang Faktor Pendekatan dan kedekatan Elit kebijakan antara Departemen Agama Kota Malang dengan Pemerintahan Daerah Kota Malang, termasuk dengan Dewan Perwakilan Rakyat Kota

dengan Pemerintahan Daerah Kota Malang, termasuk dengan Dewan Perwakilan Rakyat Kota

Malang

Malang. Realitas ini sebagaimana digambarkan Wright Mills, bahwa menurut perspektif . Realitas ini sebagaimana digambarkan Wright Mills, bahwa menurut perspektif teori eliteteori elite,,

kebijaksanaan (atau bahkan) kebijakan publik dapat dipandang sebagai nilai-nilai dan

kebijaksanaan (atau bahkan) kebijakan publik dapat dipandang sebagai nilai-nilai dan

pilihan-pilihan dari elite yang memerintah. Argumentasi pokok dari teori elite ini adalah bukan rakyat yang

pilihan dari elite yang memerintah. Argumentasi pokok dari teori elite ini adalah bukan rakyat yang

menentukan kebijaksanaan (atau kebijakan) publik melalui tuntutan-tuntutan dan tindakan

menentukan kebijaksanaan (atau kebijakan) publik melalui tuntutan-tuntutan dan tindakan

mereka, tetapi elite yang memerintah dan dilaksanakan pejabat-pejabat

mereka, tetapi elite yang memerintah dan dilaksanakan pejabat-pejabat dan badan-badan dan badan-badan pemerintah.

(14)

Pemerintahan Daerah Kota SurabayaPemerintahan Daerah Kota Surabaya telah menerbitkan bentuk kebijakan publik tentang pendidikan telah menerbitkan bentuk kebijakan publik tentang pendidikan

agama Madrasah Ibtidaiyah, dengan bentuk formulasi antara lain;

agama Madrasah Ibtidaiyah, dengan bentuk formulasi antara lain; (1). Pemberian Bantuan Dana (1). Pemberian Bantuan Dana Madrasah Ibtidaiyah ; (2). Pemberian Bantuan Guru Honorer Madrasah Ibtidaiyah; (3). Pemberian

Madrasah Ibtidaiyah ; (2). Pemberian Bantuan Guru Honorer Madrasah Ibtidaiyah; (3). Pemberian

Bantuan Pembangunan Gedung Madrasah Ibtidaiyah;

Bantuan Pembangunan Gedung Madrasah Ibtidaiyah; Semua kebijakan ini dalam operasionalnya Semua kebijakan ini dalam operasionalnya berlandaskan pada dua hal utama, yakni;

berlandaskan pada dua hal utama, yakni;

 Peraturan Dinas Pendidikan Kota Surabaya, dan minim sekali yang berlandaskan Peraturan Daerah Peraturan Dinas Pendidikan Kota Surabaya, dan minim sekali yang berlandaskan Peraturan Daerah

atau Peraturan Wali Kota Surabaya. Walaupun ada, itu hanya menyangkut Madrasah Ibtidaiyah

atau Peraturan Wali Kota Surabaya. Walaupun ada, itu hanya menyangkut Madrasah Ibtidaiyah

Negeri.

Negeri.

Penanganan operasional kebijakan publik tersebut tidak melibatkan struktur pelaksanaPenanganan operasional kebijakan publik tersebut tidak melibatkan struktur pelaksana yang jelas,yang jelas,

bahkan tidak ada bentuk berita acara.

bahkan tidak ada bentuk berita acara.

 Namun demikian, implementasi kebijakan publik dalam bentuk variatif yang melibatkan MadrasahNamun demikian, implementasi kebijakan publik dalam bentuk variatif yang melibatkan Madrasah

Ibtidaiyah di Kota Surabaya, dipengaruhi oleh beberapa faktor hal:

Ibtidaiyah di Kota Surabaya, dipengaruhi oleh beberapa faktor hal:

Diterbitkannya Surat Edaran Menteri Dalam Negeri, Nomor 903/3172/SJ, tertanggal 21 September Diterbitkannya Surat Edaran Menteri Dalam Negeri, Nomor 903/3172/SJ, tertanggal 21 September 2005

2005. Surat Edaran ini, disamping menimbulkan polemik, juga melahirkan ketakutan tersendiri. . Surat Edaran ini, disamping menimbulkan polemik, juga melahirkan ketakutan tersendiri. Sehingga Madrasah Ibtidaiayah menjadi korban bentuk diskriminasi ini, sekaligus dijadikan argumen

Sehingga Madrasah Ibtidaiayah menjadi korban bentuk diskriminasi ini, sekaligus dijadikan argumen

untuk tidak memberikan bantu kepada Madrasah Ibtidaiyah. Memang kenyataan saat ini, Surat

untuk tidak memberikan bantu kepada Madrasah Ibtidaiyah. Memang kenyataan saat ini, Surat

Edaran tersebut sudah direvisi, tertanggal Pebruari 2006.

Edaran tersebut sudah direvisi, tertanggal Pebruari 2006.

Pendekatan Informal Madrasah Ibtidaiyah Kepada Dewan Perwakilan Rakyat SurabayaPendekatan Informal Madrasah Ibtidaiyah Kepada Dewan Perwakilan Rakyat Surabaya. . Pendekatan ini tidak dapat dipandang sebelah mata, karena pola ini menjadi

Pendekatan ini tidak dapat dipandang sebelah mata, karena pola ini menjadi “trend titip proyek” “trend titip proyek”

yang akan di gulirkan dari pihak legislator kepada kepada eksekutif.

yang akan di gulirkan dari pihak legislator kepada kepada eksekutif.

 Hal itu senada dengan Hal itu senada dengan teori transaksiteori transaksi (exchange theory (exchange theory), diillustrasikan titik temu antara sisi ), diillustrasikan titik temu antara sisi permintaan dan sisi penawaran pada penentuan kebijakan. Dalam sisi permintaan (

permintaan dan sisi penawaran pada penentuan kebijakan. Dalam sisi permintaan (demand-sidedemand-side) ) pembuat kebijakan memerlukan rekognisi dari konstituennya, terpilih kembali, dukungan maupun

pembuat kebijakan memerlukan rekognisi dari konstituennya, terpilih kembali, dukungan maupun

sumbangan dana kampanye. Dari sisi penawaran (

sumbangan dana kampanye. Dari sisi penawaran (supply-sidesupply-side), kelompok-kelompok kepentingan, ), kelompok-kelompok kepentingan, memberikan akses dan kontribusi dana kampanye demi memperoleh kebijakan yang

memberikan akses dan kontribusi dana kampanye demi memperoleh kebijakan yang

menguntungkan, akses terhadap sumberdaya maupun proteksi bisnis. Kekuatan posisi tawar

menguntungkan, akses terhadap sumberdaya maupun proteksi bisnis. Kekuatan posisi tawar

(

(bargaining powerbargaining power) legislatif terhadap eksekutif maupun kelompok kepentingan sangat menentukan) legislatif terhadap eksekutif maupun kelompok kepentingan sangat menentukan

hasil akhir dari suatu kebijakan.

hasil akhir dari suatu kebijakan.

Proses pembuatan kebijakan dan perundangan menjadi political game antar elit politik dan Proses pembuatan kebijakan dan perundangan menjadi political game antar elit politik dan

ekonomi dengan meminggirkan kepentingan publik. Pertemuan antar dua kepentingan ini

ekonomi dengan meminggirkan kepentingan publik. Pertemuan antar dua kepentingan ini

membidani kebijakan yang buruk. Politisi dilihat sebagai entitas yang sedapat mungkin

membidani kebijakan yang buruk. Politisi dilihat sebagai entitas yang sedapat mungkin

memperbesar dukungan dan suara (votemaximizing) agar terpilih. Hubungan politico-business yang

memperbesar dukungan dan suara (votemaximizing) agar terpilih. Hubungan politico-business yang

saling menguntungkan dan koruptif. Produk kebijakan hanya berorientasi kepada kepentingan krom

saling menguntungkan dan koruptif. Produk kebijakan hanya berorientasi kepada kepentingan krom

untuk menguasai sumberdaya ekonomi belaka. Caranya, kekuasaan digunakan untuk

untuk menguasai sumberdaya ekonomi belaka. Caranya, kekuasaan digunakan untuk

mengembangkan bisnis kroni dan menguasai aset ekonomi. Sedangkan keuntungan dari ekonomi

mengembangkan bisnis kroni dan menguasai aset ekonomi. Sedangkan keuntungan dari ekonomi

digunakan untuk memperbesar kekuasaan politik. Dengan demikian, korupsi merupakan bentuk

digunakan untuk memperbesar kekuasaan politik. Dengan demikian, korupsi merupakan bentuk

khusus dari pengaruh politik yang dilakukan untuk menopang keberlangsungan suatu rezim politik.

(15)

Keterlibatan Kontrol Publik;

Keterlibatan Kontrol Publik;

 Gerakan sosial ini menjadi kekuatan penekan untuk menagih hak-hak dasar, pembenan akses Gerakan sosial ini menjadi kekuatan penekan untuk menagih hak-hak dasar, pembenan akses terhadap sumberdaya, sekaligus sebagai kontrol terhadap penyelenggaraan negara.

terhadap sumberdaya, sekaligus sebagai kontrol terhadap penyelenggaraan negara.

PertamaPertama; Kontrol ini untuk menjaga dana-dana publik baik dalam pembuatan maupun ; Kontrol ini untuk menjaga dana-dana publik baik dalam pembuatan maupun

implementasi kebijakan tidak diselewengkan.

implementasi kebijakan tidak diselewengkan. Kedua Kedua; menciptakan transparansi dalam ; menciptakan transparansi dalam penentuan kebijakan dan penggunaan anggaran. Selain itu, mekanisme ini juga efektif untuk

penentuan kebijakan dan penggunaan anggaran. Selain itu, mekanisme ini juga efektif untuk

menghindari praktek dagang sapi, yang cenderung koruptif.

menghindari praktek dagang sapi, yang cenderung koruptif.

 Dengan eksisnya kesadaran masyarakat akan tercipta kontrol publik yang kuat dan terus Dengan eksisnya kesadaran masyarakat akan tercipta kontrol publik yang kuat dan terus menerus sehingga memperkecil kemungkinan terjadinya penyelewengan kekuasaan. Namun

menerus sehingga memperkecil kemungkinan terjadinya penyelewengan kekuasaan. Namun

demikian, dalam proses lebih lanjut operasional kebijakan publik Pemerintahan Kota Suarabaya

demikian, dalam proses lebih lanjut operasional kebijakan publik Pemerintahan Kota Suarabaya

dan Kota Malang tidak berada pada eksistensi kebijakan transparan. Karena memang dalam

dan Kota Malang tidak berada pada eksistensi kebijakan transparan. Karena memang dalam

siklus penerbitan kebijakan publik tidak memberi ruang kontrol publik.

siklus penerbitan kebijakan publik tidak memberi ruang kontrol publik.

 Akibatnya implementasi kebijakan menjadi hal yang samar untuk dipahami publik. Sebagai hal Akibatnya implementasi kebijakan menjadi hal yang samar untuk dipahami publik. Sebagai hal samar, maka tidaklah mungkin melakukan kontrol publik atas kebijakan tersebut. Sederhananya

samar, maka tidaklah mungkin melakukan kontrol publik atas kebijakan tersebut. Sederhananya

setiap kebijakan publik Pemerintahan Daerah Kota Surabaya dan Kota Malang tidak ada kontrol

setiap kebijakan publik Pemerintahan Daerah Kota Surabaya dan Kota Malang tidak ada kontrol

terhadap beberapa hal, antara lain;

terhadap beberapa hal, antara lain;

Kontrol penyerapan aspirasi Madrasah Ibtidaiyah dalam pengelolaan

Kontrol penyerapan aspirasi Madrasah Ibtidaiyah dalam pengelolaan

kebijakan publik Pemerintahan Daerah

kebijakan publik Pemerintahan Daerah

Kontrol perumusan produk kebijakan publik Pemerintahan Daerah pada

Kontrol perumusan produk kebijakan publik Pemerintahan Daerah pada

tingkat kebutuhan Madrasah Ibtidaiayah

tingkat kebutuhan Madrasah Ibtidaiayah

Kontrol

Kontrol

implementasi

implementasi

kebijakan

kebijakan

Pemerintahan

Pemerintahan

Daerah

Daerah

di

di

tengah

tengah

penyelenggaraan kebijakan di Madarasah Ibtidaiyah

penyelenggaraan kebijakan di Madarasah Ibtidaiyah

Kontrol dampak kebijakan Pemerintahan Daerah di tingkat efektifitas

Kontrol dampak kebijakan Pemerintahan Daerah di tingkat efektifitas

pemberdayaan Madrasah Ibtidaiyah

(16)

 DAMPAK KEBIJAKANDAMPAK KEBIJAKAN

Berdasarkan di atas, maka dampak kebijakan publik Pemerintahan Daerah Kota Surabaya dan Kota Malang,

Berdasarkan di atas, maka dampak kebijakan publik Pemerintahan Daerah Kota Surabaya dan Kota Malang,

dapat didiskripsikan sebagai berikut;

dapat didiskripsikan sebagai berikut;  Aspek Policy OutputAspek Policy Output

Program-program operasional kebijakan publik Pemerintahan Kota Surabaya, berupa (1). Pemberian Program-program operasional kebijakan publik Pemerintahan Kota Surabaya, berupa (1). Pemberian

Bantuan Dana Madrasah Ibtidaiyah ; (2). Pemberian Bantuan Guru Honorer Madrasah Ibtidaiyah; (3).

Bantuan Dana Madrasah Ibtidaiyah ; (2). Pemberian Bantuan Guru Honorer Madrasah Ibtidaiyah; (3).

Pemberian Bantuan Pembangunan Gedung Madrasah Ibtidaiyah;

Pemberian Bantuan Pembangunan Gedung Madrasah Ibtidaiyah; dan Pemerintahan Kota Malang, dan Pemerintahan Kota Malang, berupa

berupa (1). Pemberian Bantuan Dana Madrasah Ibtidaiyah ; (2). Pemberian Bantuan Studi Lanjutan (1). Pemberian Bantuan Dana Madrasah Ibtidaiyah ; (2). Pemberian Bantuan Studi Lanjutan Guru Madrasah Ibtidaiyah; (3). Pemberian Bantuan Pembangunan Gedung Madrasah Ibtidaiyah;

Guru Madrasah Ibtidaiyah; (3). Pemberian Bantuan Pembangunan Gedung Madrasah Ibtidaiyah;

(4). Pemberian Bantuan Sarana dan Prasarana Pengajaran Madrasah Ibtidaiyah

(4). Pemberian Bantuan Sarana dan Prasarana Pengajaran Madrasah Ibtidaiyah; masih merupakan ; masih merupakan bentuk program yang sangat dibutuhkan oleh Madrasah Ibtidaiyah

bentuk program yang sangat dibutuhkan oleh Madrasah Ibtidaiyah

Program-program tersebut harus sudah mulai dilakukan pemetaan sesuai dengan kebutuhan Program-program tersebut harus sudah mulai dilakukan pemetaan sesuai dengan kebutuhan

Madrasah Ibtidaiyah. Sehingga tidak terjadi lagi model bantuan yang tidak efektif dalam upaya

Madrasah Ibtidaiyah. Sehingga tidak terjadi lagi model bantuan yang tidak efektif dalam upaya

meningkatkan Pemberdayaan Madrasah Ibtidaiyah dan atau tidak sesuai dengan kebutuhan yang

meningkatkan Pemberdayaan Madrasah Ibtidaiyah dan atau tidak sesuai dengan kebutuhan yang

bergerak aktual. Oleh karena itu Pemerintahan Daerah harus melakukan studi kelayakan terlebih

bergerak aktual. Oleh karena itu Pemerintahan Daerah harus melakukan studi kelayakan terlebih

dahulu dalam setiap menentukan kebijakan publik. Sehingga standarisasi efektifitas program dapat

dahulu dalam setiap menentukan kebijakan publik. Sehingga standarisasi efektifitas program dapat

terukur dengan jelas.

terukur dengan jelas.

 Program-program tersebut harus sudah mulai didekatkan dengan informasi masyarakat. Sehingga Program-program tersebut harus sudah mulai didekatkan dengan informasi masyarakat. Sehingga

dapat dipertanggungjawabkan oleh Pemerintahan Daerah dan Madrasah Ibtidaiyah dalam

dapat dipertanggungjawabkan oleh Pemerintahan Daerah dan Madrasah Ibtidaiyah dalam

akuntabilitas dan kontrol publik.

akuntabilitas dan kontrol publik.

Aspek Policy Out ComeAspek Policy Out Come

 Respon Madrasah Ibtidaiyah terhadap kebijakan publik tersebut mengindikasikan sebagai bentuk kepedulian, sekaligus Respon Madrasah Ibtidaiyah terhadap kebijakan publik tersebut mengindikasikan sebagai bentuk kepedulian, sekaligus

kebutuhan. Namun demikian hal itu, belum mampu memberikan jawaban terhadap posisi Madrasah yang memiliki

kebutuhan. Namun demikian hal itu, belum mampu memberikan jawaban terhadap posisi Madrasah yang memiliki

tingkat ketergantungan, baik aspek dana maupun proses pengembangannya.

tingkat ketergantungan, baik aspek dana maupun proses pengembangannya.

Respon Madrasah Ibtidaiyah terhadap kebijakan publik tersebut mengindikasikan adanya perlakukan diskriminatif, Respon Madrasah Ibtidaiyah terhadap kebijakan publik tersebut mengindikasikan adanya perlakukan diskriminatif, antara sesama lembaga pendidikan dasar. Yakni bentuk perlakuan beda antara posisi Madrasah Ibtidaiyah dan Sekolah

antara sesama lembaga pendidikan dasar. Yakni bentuk perlakuan beda antara posisi Madrasah Ibtidaiyah dan Sekolah

dasar di depan kebijakan Pemerintahan Daerah.

dasar di depan kebijakan Pemerintahan Daerah.

Respon Madrasah Ibtidaiyah terhadap kebijakan publik tersebut mengindikasi adanya tingkat kerumitan tersendiri dalam Respon Madrasah Ibtidaiyah terhadap kebijakan publik tersebut mengindikasi adanya tingkat kerumitan tersendiri dalam proses penyelesaian birokrasinya.

(17)

KESIMPULAN

KESIMPULAN

 Produk kebijakan Publik Pemerintahan Kota Surabaya dan Kota Malang di Bidang pendidikan agama Produk kebijakan Publik Pemerintahan Kota Surabaya dan Kota Malang di Bidang pendidikan agama Madrasah Ibtidaiyah tidak berinteraksi dengan pelibatan aspirasi dan partsipasi kebutuhan Madrasah

Madrasah Ibtidaiyah tidak berinteraksi dengan pelibatan aspirasi dan partsipasi kebutuhan Madrasah

Ibtidaiyah dalam perumusan kebijakan publik dan masih menimbulkan perlakuan diskriminatif antara

Ibtidaiyah dalam perumusan kebijakan publik dan masih menimbulkan perlakuan diskriminatif antara

posisi Madrasah Ibtidaiyah dengan Sekolah Dasar. Namun demikian dalam kebijakan telah ditemukan

posisi Madrasah Ibtidaiyah dengan Sekolah Dasar. Namun demikian dalam kebijakan telah ditemukan

bebera model formulasi kebijakan berupa;

bebera model formulasi kebijakan berupa; (1). Pemberian Bantuan Dana Madrasah Ibtidaiyah; (2). (1). Pemberian Bantuan Dana Madrasah Ibtidaiyah; (2). Pemberian Bantuan Studi Lanjutan Guru Madrasah Ibtidaiyah; (3). Pemberian Bantuan Pembangunan

Pemberian Bantuan Studi Lanjutan Guru Madrasah Ibtidaiyah; (3). Pemberian Bantuan Pembangunan

Gedung Madrasah Ibtidaiyah; (4). Pemberian Bantuan Sarana dan Prasarana Pengajaran Madrasah

Gedung Madrasah Ibtidaiyah; (4). Pemberian Bantuan Sarana dan Prasarana Pengajaran Madrasah

Ibtidaiyah,

Ibtidaiyah, sebagai bentuk tawaran program Pemerintahan Daerah Kota Malang. Sedangkan sebagai bentuk tawaran program Pemerintahan Daerah Kota Malang. Sedangkan Pemerintahan Daerah Kota Surabaya menawarkan formulasi kebijkaan berupa;

Pemerintahan Daerah Kota Surabaya menawarkan formulasi kebijkaan berupa; (1). Pemberian Bantuan (1). Pemberian Bantuan

Dana Madrasah Ibtidaiyah; (2). Pemberian Bantuan Guru Honorer Madrasah Ibtidaiyah; (3). Pemberian

Dana Madrasah Ibtidaiyah; (2). Pemberian Bantuan Guru Honorer Madrasah Ibtidaiyah; (3). Pemberian

Bantuan Pembangunan Gedung Madrasah Ibtidaiyah.

Bantuan Pembangunan Gedung Madrasah Ibtidaiyah.

 Implementasi operasional kebijakan publik Pemerintahan Kota Malang di bidang pendidikan agama Implementasi operasional kebijakan publik Pemerintahan Kota Malang di bidang pendidikan agama Madrasah Ibtidaiyah dihadirkan melalui landasan Peraturan Daerah, Peraturan Wali Kota dan Peraturan

Madrasah Ibtidaiyah dihadirkan melalui landasan Peraturan Daerah, Peraturan Wali Kota dan Peraturan

Dinas Pendidikan Kota Malang. Disamping itu, telah dirancang Tim Pelaksana Teknik sebagai bagian

Dinas Pendidikan Kota Malang. Disamping itu, telah dirancang Tim Pelaksana Teknik sebagai bagian

struktur pelaksana program. Berbeda dengan implementasi kebijakan publik Pemerintahan Daerah

struktur pelaksana program. Berbeda dengan implementasi kebijakan publik Pemerintahan Daerah

Kota Surabaya di bidang pendidikan agama Madrasah Ibtidaiyah, yang hanya berlandaskan pada

Kota Surabaya di bidang pendidikan agama Madrasah Ibtidaiyah, yang hanya berlandaskan pada

Peraturan Dinas Pendidikan Kota Surabaya. Namun demikian, baik Pemerintahan Daerah Kota Malang

Peraturan Dinas Pendidikan Kota Surabaya. Namun demikian, baik Pemerintahan Daerah Kota Malang

maupun Pemerintahan Daerah Kota Surabaya, dalam pelaksanaan program tidak memberikan ruang

maupun Pemerintahan Daerah Kota Surabaya, dalam pelaksanaan program tidak memberikan ruang

kontrol publik sebagai bagian integral dalam kebijakan publik. Sehingga kebijakan publik tersebut

kontrol publik sebagai bagian integral dalam kebijakan publik. Sehingga kebijakan publik tersebut

beralih keareal yang samar sebagai milik publik, dan atau masih dalam kategori kebijakan yang tidak

beralih keareal yang samar sebagai milik publik, dan atau masih dalam kategori kebijakan yang tidak

transparan sebagai kebijakan publik.

transparan sebagai kebijakan publik.

 Sementara dampak kebijakan publik Pemerinhan Daerah Kota Surabaya dan Kota pada aspek policy Sementara dampak kebijakan publik Pemerinhan Daerah Kota Surabaya dan Kota pada aspek policy output menegaskan sebagai bentuk program yang sangat dibutuhkan oleh Madrasah Ibtidaiyah.

output menegaskan sebagai bentuk program yang sangat dibutuhkan oleh Madrasah Ibtidaiyah.

Namun lebih lanjut sangat membutuhkan pemetaan kebutuhan dasar Madrasah Ibtidaiyah. Sehingga

Namun lebih lanjut sangat membutuhkan pemetaan kebutuhan dasar Madrasah Ibtidaiyah. Sehingga

dibutuhkan studi kelayakan dan kedekatan dengan ruang publik sejak awal, utamanya kebutuhan

dibutuhkan studi kelayakan dan kedekatan dengan ruang publik sejak awal, utamanya kebutuhan

Madrasah Ibtidaiyah dan akuntabilitas publik. Sementara pada aspek policy out come, kebijakan

Madrasah Ibtidaiyah dan akuntabilitas publik. Sementara pada aspek policy out come, kebijakan

tersebut mendapat respon sebagai bentuk kepedulian. Namun juga semakin mendekatkan kenyataan

tersebut mendapat respon sebagai bentuk kepedulian. Namun juga semakin mendekatkan kenyataan

diskriminasi perlakuan kebijakan. Ditambah pula munculnya tingkat kerumitan di sektor birokrasi sebagai

diskriminasi perlakuan kebijakan. Ditambah pula munculnya tingkat kerumitan di sektor birokrasi sebagai

pelaksana tehnik kebijakan publik.

Referensi

Dokumen terkait

Kegiatan Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) pengabdian masyarakat yang dilakukan oleh mahasiswa Program Studi Seni Karawitan Institut Seni Budaya Indonesia (ISBI)

[r]

Tindak tutur direktif adalah tindak tutur yang dilakukan oleh penuturnya dengan maksud agar lawan tutur melakukan tindakan yang disebutkan di dalam tuturan itu

Dalam proses pembuatan karya seni lukis dengan teknik dekoratif ini penulis menggunakan kucing sebagai objek dalam gagasan pembuatan karya, dimana penulis jadi

Untuk menghitung kerugian head mayor maupun kerugian head minor yang terjadi di sepanjang jaringan pipa dapat digunakan persamaan Hazzen Williams dimana kapasitas aliran pada

Dalam proses formulasi dan implementasi dasar kebajikan sosial, seorang pekerja sosial professional memainkan peranan penting.. Bicangkan bidang kemahiran umum

Sarung tangan yang kuat, tahan bahan kimia yang sesuai dengan standar yang disahkan, harus dipakai setiap saat bila menangani produk kimia, jika penilaian risiko menunjukkan,

(1) Batas daerah manfaat jalan kereta api untuk jalan rel di permukaan tanah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6 ayat (3) huruf a, adalah sisi terluar jalan rel beserta bidang tanah