Daftar Isi
Salam Redaksi: ... 3
Laporan Utama: Menakar Reforma Agraria dalam Visi Misi ... 4
Opini: ... Petani Mencari Presiden
Di Bawah Reruntuhan Hiroshima Dan Nagasaki, Jepang Melakukan Landreform
9
Berita Agraria: ... Wawancara eksklusif: “Transformasi Perkebunan Sawit” bersama Jevry G Saragih
13
Dunia Dalam KPA: ... Perekebunan Sawit dan Tambang Musuh Utama Petani di Sanggau
Menuai Kemerdekaan Petani Pasca Land Reform Kulonbambang Tajamnya Konflik Agraria Di Sektor Kehutanan
Masalah Agraria: Tantangan Kebijakan Agraria Nasional Masa Kini Dan Masa Depan KPA Sulteng: Hutan Untuk Rakyat Bukan Untuk Pengusaha
17
Lintas Peristiwa: ... Dua Tahun Serikat Tani Indramayu
KPA Mendukung Pembubaran Kementrian Kehutanan Kalah di PTUN: Perjuangan Jalan Terus
Gerakan Buruh Usung Reforma Agraria
Bebaskan Para Pejuang Agraria: Bebaskan Eva Bande, Yohanes dan Anyun!
26
Dinamika Kebijakan Agraria: ... Setahun MK 35: Reforma Agraria dan Hutan Adat
Konflik Agraria Sektor Tambang akan Diteliti LIPI
Sektor Pertanian Diobral Murah ke Asing Pemerintah Harus Menghentikan Laju Ahli Fungsi Lahan Pertanian
Meninjau Kembali Sistem Kemitraan Perkebunan Inti Rakyat
RUU Pertanahan Harus Menjawab Ketimpangan Sturktur dan Konflik Agraria
34
Sosok: Eva Bande: ... Eva Bande Sang Pejuang Agraria yang Tangguh
46
Resensi Buku: ... ... Jurnal Land Reform: “Menghapus Warisan Buruk Agraria SBY: Rekomendasi untuk Pemimpin Baru”
49
Salam Redaksi
Salam Reforma Agraria sejati
Pada edisi ke-10, Suara Pembaruan Agraria kali ini, redaksi akan memuat isu-isu hangat seputar perkembangan perjuangan reforma agraria di Indonesia.
Laporan Utama mengulas visi misi reforma agraria dari para calon Presiden yang bertarung pada Pilpres Langsung 2014. Berisi perbandingan kedua visi-misi kandidat yang bisa menunjukan kebulatan tekad pemimpin baru menjalankan reforma agraria.
Suara Pembaruan Agraria mengangkat beberapa topik aktual. Dalam bentuk
Opini, Sekjend KPA Iwan Nurdin memaparkan bahasan petani yang akan terus mencari presiden untuk bisa melaksanakan reforma agraria sejati. Opini kedua datang dari Jepang yang akan membahas land reform di Jepang dan manfaatnya bagi rakyat Jepang oleh Rudi Casrudi, Peserta Studydi Asian Rural Institute-Japang delegasi KPA.
Pada rubrik Berita Agraria, kami akan mengulas Arah Transformasi Perkebunan Sawit di Indonesia. Kami sajikan bahasan ini, dalam bentuk wawancara eksklusif yang bertema “Transformasi Perkebunan Sawit” bersama Jefri Gideon Saragih, Koordinator Sawit Watch.
Tak ketinggalan, dalam Suara Pembaruan Agraria edisi ke-10 kali ini, memuat perkembangan kegiatan organisasi KPA yang ditampilkan dalam rubrik Dunia Dalam KPA, diantaranya: Perekebunan Sawit dan Tambang Musuh Utama Petani di Sanggau; Menuai Kemerdekaan Petani Pasca Land Reform Kulonbambang; Tajamnya Konflik Agraria Di Sektor Kehutanan; Masalah Agraria: Tantangan Kebijakan Agraria Nasional Masa Kini Dan Masa Depan dan KPA Sulteng: Hutan Untuk Rakyat Bukan Untuk Pengusaha.
Pada rubrik Lintas Peristiwa menyajikan rangkaian beragam peristiwa terkini seputar persoalan agraria, antara lain: Dua Tahun Serikat Tani Indramayu; KPA Mendukung Pembubaran Kementrian Kehutanan; Kalah di PTUN: Perjuangan Jalan Terus; Gerakan Buruh Usung Reforma Agraria serta Bebaskan Para Pejuang Agraria: Bebaskan Eva Bande, Yohanes dan Anyun!
Dalam edisi ini Redaksi Suara Pembaruan Agraria juga mengulas Dinamika Kebijakan Agraria sebagai wujud penyebaran informasi perkembangan kelahiran atau perubahan kebijakan agraria yang mempengaruhi gerakan dan pelaksanaan reforma agraria di tanah-air. Redaksi akan memulainya dengan Setahun MK 35: Reforma Agraria dan Hutan Adat; Konflik Agraria Sektor Tambang yang akan Diteliti LIPI; Asingisasi Sektor Pertanian oleh Rezim SBY Sengsarakan Petani; Pemerintah Harus Menghentikan Laju Ahli Fungsi Lahan Pertanian; Meninjau Kembali Sistem Kemitraan Perkebunan Inti Rakyat dan RUU Pertanahan Harus Menjawab Ketimpangan Sturktur dan Konflik Agraria
Dalam rubrik Sosok, KPA mengangkat profil pejuang agraria perempuan dari Sulawesi Tengah yaitu Eva Bande. Meskipun menghadapi tantangan berat melalui kriminalisasi, Eva tetap menyerukan perjuangan reforma agraria dari dalam penjara. Simak bahasan lengkap tentang Eva Bande di Rubrik Sosok. Di bagian akhir, kami juga mengangkat Resensi Jurnal Land Reform yang bertema “Menghapus Warisan Buruk Agraria SBY: Rekomendasi untuk Pemimpin Baru.” Harapannya, buletin ini dapat hadir mencukupi kebutuhan akan informasi aktual dan pelajaran-pelajaran penting apa yang dapat dimaknai dari setiap kejadian. Semoga tiap rangkaian kata dapat dijadikan modal bagi perluasan kesadaran dan pengetahuan bagi pembesaran gerakan Reforma Agraria di Indonesia.
SUARA PEMBARUAN AGRARIA
Edisi: X/Maret - Mei 2014
Tiada Guna Demokrasi Tanpa
Reforma Agraria Sejati Galih Andreanto, Jarwo Susilo, Andria Perangin-angin, Yusriansyah, DD Shineba, Yayan Herdiana, Agus Suprayitno, Adang Satrio, Diana, Roy Silalahi, Acik Handini
Menakar Reforma Agraria Dalam Visi Misi
K
ontestasi pimpinan nasional telah menyeret perhatian publik pada kampanye hitam yang menghias dominan di arus pemberitaan berbagai media. Substansi metode pelaksanaan ide para kontestan tergeser, sehingga luput dari perbincangan sehari-hari. Kampanye hitam membuat pendidikan politik publik mandeg. Alhasil, publik terlewat menilai apa-apa saja yang akan dikerjakan pemimpin baru hasil Pilpres 2014.Visi-Misi memang telah dirancang, dengan pengemasan narasi yang menawan mena-warkan janji. Setidaknya apa yang dituliskan para kandidat mencerminkan suasana batin dan semangat politik yang ada. Dari situ kita dapat menilai apa yang hendak dilakukan pasca pil-pres, termasuk soal kehendak menjalankan reforma agraria.
Dokumen visi misi resmi para kandidat merupakan ukuran awal sejauh mana kesung-guhan niat menjalankan reforma agraria ke depan. Namun, sayangnya reforma agraria hanya diposisikan penambal-sulam dalam teks. Persoalan penguasaan kekayaan alam, khususnya tanah bagi rakyat tak menjadi sorotan utama para kandidat pimpinan nasional. Calon-calon pimpinan nasional hanya meneropong program di ruang populer dengan harapan muluk-muluk dalam ilusi kemegahan angka pertumbuhan ekonomi.
Lilis Mulyani, Peneliti Pusat Penelitian Kemasyarakatan dan Kebudayaan LIPI berpan-dangan, bahwa kedua kandidat belum menempatkan agenda Landreform atau Reforma Agraria sebagai prioritas agenda yang diusung. “Hal ini terlihat misalnya di Visi Misi Jokowi-JK hanya ditempatkan di agenda No. 5 dari Nawacita atau 9 Agenda Prioritasnya, sementara Prabowo-Hatta malah menempatkan di agenda prioritas terakhir, yaitu nomor 8,” jelas Lilis.
“Dalam teks visi-misi dan debat kandidat kedua calon pimpinan tidak secara terang men-jelaskan tata cara maupun metode implementasi dari program ini secara rill dan strategis di da-lam kenyataannya nanti,” tambah lilis.
Masalah agraria menjadi isu penting, karena Indonesia dihadapkan pada persoalan agra-ria yang kronis. Masalah penguasaan kekayaan alam oleh segelintir orang menempatkan 56 persen asset berupa tanah, perkebunan dan properti hanya dikuasai oleh 0,2 persen penduduk.
LAPORAN UTAMA
Ketimpangan itu telah nyata menggerogoti keadilan sosial di Indonesia. Lebih parah lagi, kenyataan bahwa indeks gini tanah secara na-sional mencapai 0.72 yang menunjukan ke-timpangan penguasaan tanah semakin lebar.
Harapan pertumbuhan ekonomi yang da-pat meneteskan kesejahteraan kepada rakyat bawah masih menjadi kegemaran para kan-didat. Padahal, klaim pertumbuhan ekono-mi oleh rezim 2004-2014 yang tinggi, nyata-nyata membuat ketimpangan makin lebar. Angka indeks gini hingga 0,413 memuncul-kan potensi kerawanan sosial di Indonesia. Kenyataannya, pembangunan nasional yang berparadigma pertumbuhan ekonomi tidak selalu berkolerasi pada pemerataan. Hal itu dikarenakan fondasi pertumbuhan ekono-mi disandarkan pada hutang serta investasi asing yang penuh spekulasi.
Masalah angka pertumbuhan ekonomi dan penurunan kemiskinan serta pengang-guran yang dihitung berdasarkan basis eks-por-import dan kenaikan investasi, hanya didominasi oleh sekitar 10% penduduk. Jika kita telaah dari angka kemiskinan rumah tangga di pedesaan, sampai sekarang, besar orang miskin bertempat menetap di pedesa-an dpedesa-an mayoritas bekerja sebagai petpedesa-ani dpedesa-an buruh tani. Dari total 28 juta Rumah Tangga Petani (RTP) yang ada di Indonesia, terda-pat 11,1 juta RTP yang tidak memiliki lahan sama sekali. Sedangkan bagi mereka yang pu-nya lahan, rata-rata pemilikan lahanpu-nya ha-nya 0,36 hektar. Jadi dengan kata lain saat ini terdapat sekitar 32 juta jiwa petani Indonesia adalah buruh tani, dan 90 juta jiwa adalah pe-tani subsisten. Yang selama ini luput adalah analisa pergeseran 5,04 juta rumah tangga petani menjadi buruh dan pekerja informal di perkotaan dan luar negeri.
Lilis mengatakan bahwa yang terpen-ting dalam melaksanakan Landreform atau Reforma Agraria sebagaimana hasil kaji-an LIPI adalah di level negara, “diperlukan
pembenahan menyeluruh dari mulai kebijak-an hingga kelembagakebijak-an pengelola sumber daya agraria yang masih sangat sektoral, untuk itu, saya mengkritisi kedua kandidat karena tidak menyentuh masalah ini sama sekali. Dalam visi misi Prabowo-Hatta yang menjanjikan pertumbuhan ekonomi yang tinggi. Reformasi pengelolaan Sumber Daya Alam yang dijanji-kan justru bertujuan meningkatdijanji-kan nilai tam-bah SDA. sehingga tujuannya masih fokus di produktivitas (peningkatan nilai ekonomi) be-lum pada aspek keadilan ataupun keberlanjut-an,” jelas Lilis.
Kontradiksi Dalam Teks Visi-Misi Jokowi-JK
Para kandidat pemimpin baru, visi-misinya berbeda tipis namun, harus diakui masih mi-nim secara sistematika metodologi. Bahkan, yang tampak adalah kontradiksi atau perten-tangan nilai dalam isinya. Dalam visi misi res-minya, Jokowi-JK berniat memperjelas kepe-milikan dan kemanfaatan tanah dan sumber daya alam melalui penyempurnaan terhadap UU Pokok Agraria.
Patut dicurigai bahwa niatan perubahan UUPA 1960 sejalan dengan amanat MP3EI yang selama ini ditentang oleh gerakan rakyat pengusung reforma agraria. Pada hal 179 do-kumen MP3EI 2011-2025 dalam pelaksana-an dpelaksana-an tata kelola MP3EI di bagipelaksana-an perbaikpelaksana-an regulasi dan perizinan, MP3EI menghendaki “pengkajian ulang (UU & PP Keagrariaan) untuk memasukkan status tanah ulayat seba-gai bagian dari komponen investasi, sehingga memberikan peluang kepada pemilik tanah ulayat untuk menikmati pertumbuhan eko-nomi di daerahnya (terkait realisasi MIFEE)”. Publik harus jeli melihat kehendak perom-bakan ini.
di era post reformasi saat ini. Kehendak pe-laksanaan reforma agraria harus ditempat-kan sesuai amanat konstitusi UUD 1945 dan UUPA 1960 untuk menjaga jiwa dan sema-ngat kerakyatannya.
Tuntutan gerakan akan reforma agraria sebenarnya telah meluas dilakukan oleh se-rikat tani di seluruh wilayah tanah air. KPA setidaknya melansir seluruh provinsi di Indonesia terjadi konflik agraria dan terjadi pergolakan rebutan tanah secara struktural, baik antara rakyat dengan negara maupun antara rakyat dengan perusahaan swasta pe-megang konsesi.
Berikutnya adalah, klausul komitmen Jokowi-JK untuk implementasi reforma agra-ria melalui “akses dan aset reform pendistri-busian asset terhadap petani melalui distribusi hak atas tanah petani melalui land reform dan program kepemilikan lahan bagi petani dan buruh tani; menyerahkan lahan sebesar 9 juta Ha.” Hal ini menimbulkan pertanyaan lama yang muncul kembali ke permukaan, bah-wa tanah siapa dan dimanakah seluas 9 Juta Ha tersebut?
Sementara paradigma pembangunan in-frastruktur di atas ketimpangan menjadi pi-lihan Jokowi-JK dengan “akan membangun infrastruktur jalan baru sepanjang 2.000 Km, membangun 10 pelabuhan baru, 10 kawasan industri baru dan membangun 1 juta Ha la-han sawah baru di luar Jawa”. Hal ini tentu berlawanan dengan semangat anti alih fung-si lahan yang selama ini dipaparkan Jokowi karena akan membangun 10 kawasan indus-tri yang selama ini melibas lahan-lahan su-bur pertanian.
Sedangkan, niatan Jokowi-JK dalam me-ningkatkan daya saing akan meme-ningkatkan akselerasi pertumbuhan ekonomi nasional, yakni industri manufaktur, industri pangan, sektor maritim dan pariwisata akan percu-ma jika tidak lebih dahulu menata ulang penguasaan, pemilikan, pengelolaan dan
pemanfaatan sumber-sumber agraria men-jadi lebih adil untuk rakyat. Jika reforma ag-raria tidak dijalankan sebagai tahapan utama industrialisasi nasional maka pembangunan infrastruktur akan semakin meningkatkan konflik agraria dan melebarkan ketimpangan di Indonesia.
Iwan Nurdin, Sekjend KPA menambah-kan bahwa Jokowi-JK lebih banyak berenca-na pada aspek regulasi. “Misalnya dalam hal memberdayakan desa, Jokowi-JK menyiap-kan dan menjalanmenyiap-kan kebijamenyiap-kan regulasi baru untuk membebaskan desa di kantong-kan-tong hutan dan perkebunan, begitu juga da-lam akses dan hak desa mengelola SDA ber-skala lokal, mengatasi konflik agraria tanpa memastikan kelembagaan yang bertugas me-laksanakan konsepnya,” jelas Iwan. Peraturan dalam melaksanakan reforma agraria itu su-dah banyak, namun UU sektoral-lah yang justru merintangi pelaksanaan UUPA 1960. “Kondisinya krisis agraria sudah berat, aki-batnya sangat dalam, sehingga memerlukan kecepatan dan ketepatan pemimpin baru nan-ti,” tegas Iwan.
Prabowo-Hatta
jurang ketimpangan si miskin dan si kaya de-ngan menurunkan indeks gini dari 0,41 men-jadi 0,31.
Menyoal rencana Prabowo-Hatta, Dr Arya Hadi Dharmawan, Akademisi IPB me-ngatakan Program Pak Prabowo yang akan membuat 2 juta Ha sawah dalam 5 tahun itu dari teori manapun tidak masuk dan tak bisa diimplementasikan. Ia mengatakan “Silakan konsultasi ke Bakosurtanal, Kementan RI, Bappenas, Badan Pertanahan Nasional, Kementrian PU, Kemenko Perekonomian RI sampai kepada para ahli pertanahan di IPB. Kemampuan RI dalam mencetak sawah de-ngan dana yang ada, dede-ngan perangkat hu-kum yang ada dan dengan teknologi yang ada, serta clearness dalam hal kepastian hukum agraria serta kelayakan ekologi sehamparan yang ada, hanya 10.000 - 20.000 Ha per ta-hun. Artinya dalam lima tahun = 100.000 Ha saja (itu dengan syarat secara agraria, tanah-nya clear and clean dan dalam satu hamparan tanpa konflik dan tanpa sengketa - hari ini tak ada tanah tanpa sengketa), Ini titik lemah pak Prabowo,” kata Arya.
Selanjutnya adalah paradoks niatan “mempercepat reforma agraria untuk menja-min kepemilikan tanah rakyat, meningkatkan akses dan penguasaan yang lebih adil dan ber-kerakyatan”, namun Prabowo-Hatta menem-patkan Master Plan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Indonesia (MP3EI) sebagai ja-lan membangun kembali kedaulatan pangan, energi dan sumber daya alam.
Menurut Resolusi Munas KPA ke-VI, MP3EI bertentangan dengan arah dan co-rak Reforma Agraria sejati yang diamanatkan UUPA 1960 dan Pasal 33 UUD 45. MP3EI adalah antitesis pembangunan pedesaan dan kedaulatan pangan karena merupakan pe-lestarian perampasan lahan dan ruang hi-dup masyarakat. MP3EI semakin menguat-kan struktur ekonomi kolonial, yang belum berubah sejak Indonesia merdeka, dimana
konsentrasi penguasaan tanah oleh perusa-haan-perusahaan pemegang lisensi perke-bunan, kehutanan dan pertambangan, dan menempatkan rakyat Indonesia menjadi te-naga kerja. MP3EI yang berorientasi pada pertumbuhan ekonomi, berkolerasi dengan menurunnya kesejahteraan rakyat.
MP3EI adalah pipa-pipa penghisap ke-kayaan alam dengan menempatkan korpora-si swasta dan akorpora-sing serta dana hutang seba-gai lokomotif pelaksana penjarahan sumber daya alam. Konsep MP3EI berlawanan de-ngan semangat kedaulatan pade-ngan berba-sis keadilan sosial. Merauke Integrated Food and Energy Estate (MIFEE) di Merauke ada-lah contoh nyata dimana pembangunan are-al pangan skare-ala luas berbasis korporasi telah memusnahkan kedaulatan rakyat atas tanah-airnya sendiri.
Menurut Wasekjen KPA, Dewi Kartika “kontradiksi visi-misi reforma agraria Prabowo-Hatta mencerminkan tidak konsis-tennya niatan mereka, dan mereka tidak sepe-nuhnya benar-benar ingin menjalankan agen-da reforma agraria, karena di sisi lain, mereka juga mengusung model pembangunan yang bertentangan dengan reforma agraria. Karena dasar dari MP3EI adalah pertumbuhan eko-nomi semata, bukan untuk kesejahteraan masyarakat bawah.” Dewi menjelaskan bah-wa MP3EI itu mengusung penguasaan dan pengusahaan tanah dalam skala besar mela-lui proses eksploitasi sumber-sumber agra-ria, sementara reforma agraria adalah untuk menghapuskan juga ketimpangan, MP3EI justru akan mempertajam ketimpangan.
tanahnya. Maka patut dipertanyakan apakah pembangunan infrastruktur benar-benar di-tunjukan kepada rakyat kecil? Atau hanya demi lapangnya laju penghisapan sumber daya alam di seluruh wilayah Indonesia.
Membangun Indonesia yang bersatu, berdaulat, adil dan makmur serta bermarta-bat dengan menjalankan MP3EI adalah pe-ngelabuan dan penyesatan kesadaran rakyat. Alat picu konsumsi yang dianggap dapat me-ningkatkan pertumbuhan ekonomi adalah khayalan. Rakyatlah yang dapat menghidup-kan kekayaan alam dengan menjamin akses rakyat terhadap kekayaan alam. Itulah basis menyumbang pertumbuhan ekonomi negara.
Belajar dari yang Lalu demi Masa Depan Ke depan, dapat diprediksi bahwa Indonesia akan kembali berada dalam fase keterbela-kangan industrialisasi nasional dengan sega-la masasega-lah keruwetan agrarianya. Pimpinan nasional baru patut belajar dari pengalaman rezim SBY-Boediono yang menyumbangkan konflik agraria strukutral mencapai 1.057 kejadian dengan luasan areal 3.018.119 Ha
yang melibatkan 503.349 KK. Bahkan pada 2013 angka konflik naik 86% dibandingkan 2012. Tingginya angka konflik agraria me-nempatkan 22 petani tewas dan seharus-nya menempatkan reforma agraria sebagai kerangka utama pembangunan nasional di Indonesia. Reforma agraria bukan saja demi tujuan pengentasan kemiskinan semata, na-mun juga dalam rangka mewujudkan kea-dilan sosial. Reforma agraria sesuai tuntutan cita-cita proklamasi 1945 harus dijalankan secara logis dan sistematis sesuai dengan jiwa dan kemauan politik yang kuat dari pimpin-an nasional pilihpimpin-an rakyat. Momentum elek-toral di 2014 ini harus memunculkan kema-juan ide pelaksanaan reforma agraria secara terukur dan meluas. Jika sungguh-sungguh hendak melaksanakan reforma agraria, tiap kandidat harus menjelaskan siapa bertugas apa dan lembaga apa yang mau dan mampu menjalankan reforma agraria. Semoga refor-ma agraria sejati dapat terlaksana.
Petani Mencari Presiden
Oleh: Iwan Nurdin, Sekjend KPA
P
ada pemilihan presiden 9 Juli nanti, jika me-rujuk kepada visi-misi, tidak ada alasan bagi petani untuk tidak pergi ke TPS dan memilih. Pasalnya, kedua kandidat presiden menawarkan program reforma agraria melalui redistribusi ta-nah atau land reform. Meski belum secara deta-il dijelaskan bagaimana kelak presiden terpdeta-ilih menjalankan agenda ini. Setidaknya di atas ker-tas, redistribusi tanah untuk rakyat telah menja-di komitmen politik resmi.Dalam pemilihan presiden langsung, do-kumen visi-misi memang menjadi ukuran pen-ting. Sebab inilah yang akan dituangkan keda-lam rancangan pembangunan jangka menengah (RPJM) dalam kurun waktu lima tahun kedepan.
Janji reforma agraria sendiri bukanlah hal baru. Pemerintahan yang sedang berkuasa da-lam dua periode menjanjikan pelaksanaan refor-ma agraria. Meski hasilnya tidak pernah bergerak dari level wacana ke tataran aksi implemen-tasi. Pendeknya, di atas kertas visi-misi mencari presiden pro-petani relatif mudah. Dengan begitu, nampaknya petani harus tetap terus menerus mencari presidennya setelah pemilihan presiden usai.
Mencari Presiden
Petani harus mencari presidennya karena suaranya seolah air yang terserap kedalam pasir setelah selesai penghitungan suara. Meski jumlah agregatnya banyak tak juga membuat ar-tikulasi kepentingannya diterima dengan baik oleh para perumus kebijakan paska pilpres. Apalagi, pengalaman membuktikan bahwa kepentingan petani banyak tereduksi oleh peng-ambil kebijakan yang terbiasa memandang persoalan pertanian, pedesaan, dalam kacamata orang kota yang industri (urban bias dan industrial bias).
Pandangan seperti ini telah membuat bahwa persoalan pertanian, pedesaan bahkan pa-ngan adalah persoalan produksi semata sehingga proyek pengadaan benih, pupuk, pestisida, jaringan irigasi dan stimulus harga adalah rancangan pokok dalam meningkatkan produksi. Melupakan fakta bahwa produktifitas lahan pertanian petani kita tertinggi di ASEAN bahkan dunia. Dengan produktivitas lahan sawah tahunan 9.03 ton/ha/tahun, lebih tinggi dibanding China, Jepang, Korea dan Amerika Serikat (Andreas Santosa: 2013), petani telah bekerja ke-ras. Masalahnya bukankah petani gurem akan menghasilkan hasil panen yang gurem?. Belum lagi, atas nama petani, proyek-proyek semacam itu sebenarnya lebih banyak menguntungkan kalangan industriawan dan kontraktor belaka.
OPINI
Petani harus tetap mencari presidennya, karena tanah pertanian, perkebunan dan ke-hutanan seharusnya diprioritas kepada mere-ka. Menurut BPN saat ini terdapat 26.366.788 bidang tanah yang bersertifikat di Indonesia dengan luas 72.954.190 Ha. Di dalamnya ha-nya 10.368 sertifikat Hak Guna Usaha (HGU) milik perusahaan. Namun, luasnya mencapai 46 persen (33.5 juta ha) dari tanah bersertifi-kat tersebut.
Prioritas tanah untuk rakyat adalah sya-rat pokok transformasi agraria dari susunan lama yang subsisten, gurem, dan rendah tek-nologi kepada koperasi pertanian yang maju. Anggapan bahwa prioritas tanah kepada pe-tani sulit dilakukan dan jikapun dijalankan petani harus menjadi plasma dari raksasa korporasi pertanian/perkebunan harus di-tinggalkan. Kedepan, petani, pemuda, sarja-na dengan didukung oleh kredit pemerintah harus menjadi pemilik koperasi pertanian, perkebunan dan kehutanan yang modern. Sebab bercocok tanam dalam wadah modern bukanlah teknologi luar angkasa yang susah diterapkan kepada rakyat.
Petani harus mencari presidennya, se-bab konflik dan perampasan tanah terus saja mengancam kehidupan mereka. Pada tahun lalu, Konsorsium Pembaruan Agraria (KPA)
mencatat 369 kejadian konflik agraria struk-tural yang mengakibatkan 21 orang tewas dan telah merampas 1.281.660.09 ha, dan korban 139.874 KK. Dalam menangani kon-flik tersebut belum ada usaha pemerintah un-tuk membangun kelembagaan penyelesaian konflik agraria tersebut.
Pada akhirnya, kita dan petani harus te-tap mencari presiden. Sebab problem upah buruh murah di perkotaan, merebaknya sek-tor informal, lemahnya industrialisasi nasio-nal, hingga membludaknya pekerja migrant dengan skil rendah dan minim perlindungan berakar dari keterbelakangan petani, pertani-an dpertani-an pedesapertani-an. Dengpertani-an mudah ditemukpertani-an benang merah bahwa “tentara cadangan” bu-ruh murah bagi industriawan di dalam dan luar negeri tersebut berasal dari mereka yang terlempar secara tragis dari pedesaan.
Akhirnya, kita butuh khalayak luas yang memahami bahwa membenahi persoalan pe-tani ini adalah memperkuat akar kedaulat-an bkedaulat-angsa. Kita harus menemukkedaulat-an kkedaulat-andidat presiden yang mau terus menerus melihat dan mendengar, dan meyakini bahwa kelak terus berbuat demikian setelah terpilih kelak. Sebab, jawaban persoalan rakyat ditemukan bersama-sama rakyat.
"Ribuan Petani pada februari lalu mendatangi Komisi Pemberantasan Korupsi untuk melaporkan kasus agraria yang ber-kaitan dengan Korupsi, Itikad baik pemerintahan baru untuk menuntaskan konflik agraria dan korupsi agraria dinantikan oleh
Di Bawah Reruntuhan Hiroshima Dan Nagasaki, Jepang
Melakukan Landreform
Oleh: Rudi Casrudi, Peserta Studydi Asian Rural Institute-Japang delegasi KPA
H
arus dikatakan bahwa Restorasi Meiji tidaklah memberikan perubahan yang sesungguh-nya terhadap rakyat dan kaum tani, tuan tanah dan kaum feodal masih saja berada di pedesaan, mereka menyewa-nyewakan tanah kepada petani dengan pajak yang tinggi.Sejak di Jatuhkannya bom Atom di Hiroshima dan Nagasaki akhirnya Jepang ada da-lam pelukan Sekutu. Ada hal yang sangat penting dada-lam periode ini dimana di bawah kuasa Amerikalah Jepang melakukan Landreform. Tentu saja hal ini bisa dianggap aneh dimana Amerika justru melakukan landreform. Bukankah landreform identik program blok sosialis? Tapi kenyataannya justru di bawah komando Amerikalah landrefrom di Jepang dilaksanakan. Mc. Arthur bahkan mengkalim bahwa program Landrefom paling berhasil di dunia.
Setelah diduduki oleh Amerika, maka Amerika tidak menginginkan wilayah jepang ter-jadi hura hara , apalagi Amerika mendapatkan perlawanan dari rakyat. Maka yang harus di-taklukan terlebih dahulu ialah tuan tanah dan kaum feodal. Karena dua kekuatan ini yang bisa melakukan perlawanan kekuatan Amerika dan sekutunya. Cara yang ampuh adalah ngan pelaksanaan landreform. Akhirnya tahun 1947 pelaksanaan landreform dimulai de-ngan cara paksa oleh pemerintah membeli semua tanah milik tuan tanah hampir 70% dari tanah pertanian diambil dan kemudian dijual oleh pemerintah dengan harga murah kepada
para penyewa yang selama ini menderita aki-bat tuan tanah. Dengan demikian petani bisa menggarap di tanahnya sendiri dan mulai bertani dengan nyaman.
Dan sekarang jika kita berkunjung ke Jepang kita akan sulit menemukan perke-bunan-perkebunan dalam sekala seperti di Indonesia. Karena tanah-tanah sudah diberi-kan kepada rakyat. Inilah salah satu dampak-nya pelaksana dari landreform.
Lalu bagaimana kehidupan peertanian sekarang ini. Sejak tahun 1961 pemerintah Jepang menetapkan kebijakan dasar pertani-annya dengan cara memodernisir sektor per-tanian. Mekanisasi pertanian dan mengikut-sertakan unsur kimia. Teraktor tangan dan teraktor besar, mesin untuk menanam padi semua dikerjakan dengan mesin. Dampaknya adalah ketergantungan pada masukan kimia semakin tinggi, polusi, kerusakan lingkungan serta masalah masalah kesehatan.
Walaupun dengan teknologi yang sudah maju dalam pertanian ternyata problem ma-kanan tidaklah bisa diatasi sendiri oleh nege-ranya. Sekarang 60 % dari kebutuhan makan di Jepang adalah import yang didatangkan dari berbagai penjuru dunia.
Usaha-usaha untuk mengkeritisi kee-bijakan revolusi hijau sudah dilakukan se-jak tahun 1971 dan sudah dibentuk Asosiasi Pertanian Organik Jepang yang memproduk-si makanan yang lebih sehat dan ramah ling-kungan. Selain itu untuk pemasaran mereka membuat system yang bernama “Teikei” di-mana hubungan konsumen dengan produ-sen bukan sekedar dagang belaka tetapi ada-lah saling menghormati dan percaya. Ituada-lah sekilas info Landreform dan dampaknya bagi rakyat di Jepang.
Tochigi-Japan, 20 Juni 2014.
Siapa yang memiliki tanah
maka tanamilah, dan jika ia
tidak dapat menanaminya dan
tidak mampu melakukannya,
maka hendaknya ia berikan
tanah itu kepada saudaranya,
dan ia tidak sewakan atau
gadaikan kepadanya. [Hadits
diriwayatkan oleh Bukhari,
Muslim dan Ibnu Majah]
“
Wawancara Eksklusif
Jefri Saragih, Koordinator Sawit Watch
“Transformasi Perkebunan Sawit”
1. Apa sebabnya model perkebunan sawit era Kolonialisme masih diteruskan hingga saat ini?
Pertama, Kita lihat dari era Kolonialisme. Pada masa ini penguasaan lahan sepenuhnya bergantung pada pihak pemerintah koloniali dimana masyarakat wajib membe-rikan lahan kepada penjajah melalui kerajaan atau mem-berikan pajak tanah bagi tuan tanah yang memiliki usaha pertanian. Selain itu masyarakat juga wajib bekerja de-ngan upah kecil atau tanpa upah (kerja paksa) di lahan-lahan yang dikuasai penjajah.
Kedua, pada masa kemerdekaan kondisi ini berubah. Semua lahan yang dikuasai sebelumnya oleh pihak ko-lonial diambil alih oleh negara untuk dikuasai sepenuh-nya oleh masyarakat. Satu hal yang menarik pada masa itu adalah, adanya “Maklumat Hatta” yang intinya berisi instruksi kepada selauruh rakayat Indonesia untuk mengelola lahan-lahan penginggalan ko-lonialisme. Proses ini sangat menguntungkan masyarakat dalam meningkatkan taraf hidup mereka pasca kehidupan masa kolonial yang sangat susah. Namun untuk perkebunan skala besar, penguasaannya mulai diserahkan kepada tentara oleh pemerintah berkat manuver po-litik Jenderal Nasution.
Ketiga, jaman orde baru samapai sekarang. Kondisi yang terjadi pasca orde lama adalah penguasaan lahan sepenuhnya kembali dikuasai oleh negara melalui pemerintah. Lahan yang sebelumnya dikuasai masyarakat, diambil alih oleh negara untuk dikuasai dan dipergunakan dengan dalih meningkatkan devisa negara. Dengan dalih tadi, pemerintah pun mengundang para investor, baik asing maupun dalam negeri, untuk mengelola lahan-lahan tersbut. Dasar hukum yang diberikan kepada investor tersebut berupa Hak Guna Usaha (HGU).
Kondisi ini pun terjadi sampai sekarang dan kemungkinan akan terus berlangsung jika pemerintah dan DPR serta kekuasaan yudikatif tidak menitikberatkan pola pembangunan berbasis ekonomi kerakyatan, yang berarti rakyatlah yang menjadi aktor utama dan yang ter-penting dalam pengeloaan sumber daya alam berbasis tanah. Bukan pemilik modal besar yang berbadan hukum perusahaan, melainkan koperasi. Bila kondisi sekarang ini diteruskan, bisa dipastikan, tak akan ada lagi lahan yang dimiliki masyarakat yang bisa mencukupi ke-butuhan hidupnya di masa depan. Yang ada justru bangsa ini akan menjadi kuli di tanahnya sendiri dan kuli bagi bangsa-bangsa lain.
Contoh nyata yang terjadi terkait hal ini di perkebunan kelapa sawit ada di Sumatera Utara, tepatnya di Kabupaten Serdang Bedagai. Masyarakat yang menguasai lahan sejak
BERITA AGRARIA
jaman Sukarno, tiba-tiba dipaksa keluar oleh pemerintah orde baru ketika memberikan Hak Guna Usaha (HGU) kepada satu peru-sahaan asing yang berpatungan dengan pe-modal dalam negeri. Bukan hanya perampas-an lahperampas-an atas nama negara yperampas-ang dilakukperampas-an, pemerintah juga menuding penduduk desa Pergulaan yang sebelumnya menguasai bah-kan telah membayar pajak lahan itu ke peme-rintah sebagai pengikut organisasi terlarang Buruh Tani Indonesia (BTI) yang berafiliasi ke partai terlarang Partai Komunis Indonesia (PKI). Rakyat pun kehilangan sumber hidup sekaligus harga diri dan kebanggaan sebagai bagian dari bangsa ini sampai sekarang.
Dari contoh di atas bisa ditarik satu ke-simpulan, pemerintah memang lebih meng-utamakan peningkatan ekonomi melalui pemanfaatan lahan yang pengelolaannya di-berikan kepada perusahaan pemilik modal besar dengan mengesampingkan keberadaan dan kehidupan rakyat di seitar perkebunan sawit tersebut.
2. Bagaimana kondisi konflik agraria sek-tor perkebunan sawit
Luas perkebunan kelapa sawit yang ada sekarang di Indonesia sekarang adalah 13,5 juta Ha (Sawit Watch,2014). Perluasan per-kebunan kelapa sawit ini berbanding lurus dan berjalan seiring dengan semakin ting-ginya konflik dan kekerasan yang terjadi an-tara masyarakat, pemerintah dan perusaha-an skala besar. Anehnya sikap pemerintah sangat terlihat jelas berpihak pada pemodal besar, entah dari dalam atau luar negeri atau kolaborasi keduanya. Berdasarkan data yang tercatat sekarang di Sawit Watch (2014), ter-dapat 720 konflik, dan semua itu tak akan se-lesai bila pemerintah tak mengubah paradig-ma dan pendekatan peningkatan ekonomi berbasis masyarakat. Pada umumnya konflik yang terjadi dikarenakan karena proses pe-nguasaan lahan/tanah oleh pihak perusahaan
hanya berdasarkan surat ijin dari pemerin-tah, tanpa pernah memberikan pengakuan terhadap hak kelola masyarakat telah memi-liki lahan tersebut berketurunan.
3. Bagaimana kondisi buruh kebun?
Buruh yang ada sekarang di Indonesia, khusus di perkebunan sawit, telah mencapai angka 6 juta orang. Sekitar 50% dari buruh tersebut merupakan buruh harian lepas yang tak memiliki jaminan kesehatan dan hari tua, yang di Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, be-berapa pulau kecil di Maluku dan Papua.
Jumlah ini, menurut kami, akan terus meningkat seiring semakin masifnya ek-spansi perkebunan kelapa sawit di Indonesia. Buruh perkebunan di sektor perkebunan kelapa sawit agak berbeda dengan buruh di sektor industry lainnya. Selain tempat yang sebagian besar masih terisolir, buruh juga memiliki tugas atau tanggung jawab yang sa-ngat besar dengan upah yang tidak sesuai de-ngan frekuensi kerjanya.
Buruh di perkebunan kelapa sawit ter-diri dari Buruh Tetap dan Buruh Harian Lepas,Buruh kontrak dan Buruh Borongan. Buruh Tetap adalah buruh permanen yang mendapatkan hak-hak yang sesuai dengan undang-undang tenaga kerja. Buruh Harian Lepas adalah buruh ini yang tidak mendapat-kan hak yang sesuai dengan UU yang berlaku. Pada umumnya, kondisi hidup di tengah-tengah perkebunan kelapa sawit cukup mem-prihatinkan. Untuk kehidupan sehari-hari, seperti membeli bahan makanan pokok, bu-ruh harus mengeluarkan biaya dua kali lipat dari harga normal yang dijual. Sehingga un-tuk menghemat pengeluaran mereka seming-gu sekali keluar dari wilayah perkebunan ke-lapa sawit dan membeli kebutuhan pokok.
masak, untuk mencuci dan mandi mereka menggunakan air hujan atau air yang ada di kanal-kanal di perkebunan kelapa sawit.
Selain beberapa kondisi di atsa, kondi-si lain yang sangat memprihatinkan adalah terkait kondisi anak-anak buruh perkebunan kelapa sawit. Dengan upah yang sangat mi-nim, sekolah-sekolah yang sangat jauh dari wilayah perkebunan, anak-anak mereka da-pat dipastikan tidak mendada-patkan pendi-dikan yang seharusnya didapat. Bahkan se-bagian anak yang masih usia sekolah mesti bekerja membantu orang tuanya jadi buruh untuk mendapatan penghasilan lebih dari yang seharusnya. Akibatnya program wajib belajar 9 tahun sulit untuk diberlakukan bagi anak-anak di perkebunan kelapa sawit.
4. Seperti apa mata rantai perdagangan CPO dan produk turunan sawit?
Proses rantai pasok atau supply chain di perkebunan kelapa sawit sepenuhnya di-kuasai oleh perusahaan-perusahaan besar. Proses yang terjadi adalah setelah mengelo-la Tandan Buah Segar (TBS) menjadi minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO), perusa-haan langsung mengirim CPO ke pasar esk-por dan domestik.
Berdasarkan data resmi 2013, Indonesia memproduksi 28 juta ton CPO dimana 6 juta ton diperuntukkan bagi pemenuhan kon-sumsi dalam negeri dan selebihnya dijual ke beberapa negara tujuan seperti Eropa, Asia (India, China) dan Amerika. Namun dalam proses ekspor ini, CPO tersebut tidak lang-sung di kirim ke negara tujuan tetapi me-lalui negara tetangga seperti Malaysia dan Singapura. Hal ini terjadi karena beberapa perusahaan besar yang berusaha di Indonesia memiliki perusahaan yang mempunyai hak untuk menjual berada di Singapura dan Malaysia. Salah satu contohnya adalah Sinar Mas, yang mengirim CPO terlebih dahulu ke Singapura dan di sana GAR (Golden Agri
Resources) yang akan mengirim langsung ke negara tujuan ekspor.
Terkait dengan produk turunan dari CPO sendiri, sampai sekarang, yang bisa dilakukan oleh perusahaan-perusahaan di Indonesia adalah mengelola CPO ini menjadi minyak goreng. Sedangkan produk turunan lain seperti, coklat, sabun, shampo belum da-pat dilakukan di dalam negeri. Khusus untuk biodiesel dari CPO, sebenarnya Indonesia mampu membuat di tengah krisis produk-si bahan bakar minyak (BBM) namun harga keekonomian biodiesel tak sanggup bersaing dengan harga BBM yang disubsidi pemerin-tah. Akibatnya industri ini pun rontok dan Indonesia tetap tak mampu mengurangi im-por BBMnya dari luar negeri.
Hapan kami pemerintah Indonesia ke depan bisa membuat satu peraturan yang mewajibkan perusahaan sawit bergerak di hilir industri sawit seperti mengelola CPO menjadi barang jadi atau siap pakai seperti sabun, coklat dan beberapa turunan lainnya. Sedangkan sektor hulu biarkan masyarakat yang mengerjakannya dengan dukungan pe-latihan dan sarana serta prasarana produksi dari pemerintah. Jika hal ini dilakukan, ten-tu keterganten-tungan kita dari impor barang-barang turunan CPO tidak lagi terjadi, teru-tama untuk bahan bakar diesel.
5. Bagaimana semestinya arah transforma-si perkebunan sawit ke depan?
melanggar peraturan. Serta harus ada reward diberikan kepada perusahaan yang taat terha-dap hukum, misalnya dengan memberikan keringanan pajak. Selanjutnya meminta perusa-haan yang patut tadi bekerja sama dengan petani dalam pengelolaan kebun dan peningkatan produktifitas berdasarkan good agriculture practices (GAP) dalam jangka waktu tertentu, ke-mudian mengharuskan perusahaan untuk turun ke hilir memproduksi barang jadi berbahan baku minyak sawit.
Dengan jumlah kebun sawit yang sudah mencapai 13,5 juta ha, produktifitas per ha Indonesia masih kalah dengan Malaysia yang hanya memiliki 8 juta ha kebun sawit. Tahun lalu kita hanya memproduksi sekitar 28 juta ton CPO, sedangkan negeri jiran tadi sudah menghasilkan kurang lebih 20 juta ton pertahun. Artinya bila masyarakat yang didik dengan baik yang didukung dengan sarana dan prasarana yang memadai menjadi tulang punggu-ung dan aktor terpenting dalam pengelolaan kebun sawit, kami yakin produktifitas Indonesia akan mengalahkan negara manapun di dunia ini.
6. Bagaimana Reforma Agraria di sektor perkebunan kelapa sawit?
Proses reforma agraria di sektor ini tidak akan pernah terjadi bila pemerintah masih menjadikan perusahaan sawit skala besar menjadi aktor utama, bukan rakyat atau petani. Di sektor sawit, secara terang benderang ditunjukkan bahwa agenda reforma agraria tidak menjadi hal penting bagi pemerintah, melainkan peningkatan devisa negara melalui inestasi modal yang masuk ke sektor ini dan pajak ekspor yang menguntungkan pemerintah.
Semoga pemerintah baru Republik Indonesia yang ditandai terpilihnya presiden dan wa-kil presiden untuk 5 tahun ke depan bisa membuat rakyat menjadi aktor utama di sektor sa-wit. Saat itulah reforma agraria akan mulai bergulir. Kita lihat saja.
"Sekitar 700 rumah gubuk SAD telah dihancurkan oleh aparat keamanan dan perusahaan sawit PT Asiatik Persada (PT AP). 3000 jiwa lebih warga SAD sejak saat itu terusir dari tanah leluhurnya dan tidak dapat pulang kembali. Untuk diketahui bahwa PT
Rencana Replikasi Reforma Agraria Terbatas Sanggau:
Perkebunan Sawit dan Tambang Musuh Utama Petani di Sanggau
Desa Menyabo, Kabupaten Sanggau, Kalimantan Barat merupakan desa yang dipenuhi konflik agraria, baik di sek-tor perkebunan mapun pertambangan. Desa Menyabo yang terdiri dari dusun Menyabo, Kelingking, Sagu dan Tonggong ini berhadapan dengan dua perusahaan yang lapar akan tanah. Kedua perusahaan itu adalah tambang bauksit PT. Bintangar Jaya Abadi/ PT. BJA dan perkebunan sawit PT. Epita Agro Lestari/ PT. EAL yang dulu bernama PT. Ratu Badis.
Perusahaan tambang PT BJA masuk ke wilayah adat Menyabo pada 2010 tanpa ada sosi-aliasi terlebih dahulu kepada masyarakat. Sedangkan Perkebunan PT EAL berada di Dusun Sagu masuk sejak tahun 2002 dengan mengantongi ijin hutan produksi dari pemerintah. Awalnya pihak perkebunan mengembangkan sistem kerja sama dengan kelompok tani se-hingga warga percaya untuk menjual tanahnya ke pihak perusahaan. Setelah perusahaan me-nguasai lahan warga maka pihak perusahaan merubah sistem bagi hasil menjadi 50:50 pada 2012. Perusahan ingin menggunakan pola kerja sama inti plasma dan bagi aset, tentu hal ini mendapat reaksi dari masyarakat dan pola inti plasma ini ditolak oleh warga dan pemerin-tah desa.
Warga yang mulai merasa ditipu oleh pihak perusahaan mulai mengambil alih tanah-tanah yang dulu diberikan kepada perusahaan. Sedangkan dari pihak perusahaan mengklaim tanah tersebut adalah milik perusahaan karena telah melakukan ganti-rugi. Pada kenyataan-nya perusahaan perkebunan PT EAL hakenyataan-nya mengganti rugi tanaman yang tumbuh di atas la-han, jadi tidak termasuk lahan warga.
Akhirnya sampai berita ini dimuat, konflik agraria yang ada di Desa Manyabu belum se-lesai, baik yang berkonflik dengan pertambangan maupun dengan perkebunan. Di lapangan penduduk masih mengupayakan raklaiming atau menduduki lahan kembali yang telah di-rampas perusahaan. Kemudian melakukan kajian hukum dan membuka dialog dengan in-stansi pemerintahan terkait serta melakukan pemetaan wilayah.
Mengenai konflik yang terjadi di Desa Menyabo, Sanggau Sekjend KPA, Iwan Nurdin, berpendapat bahwa konflik yang terjadi harus bisa dimanfaatkan menjadi satu peluang untuk pelaksanaan reforma agraria. Capaiannya adalah rakyat yang ada di Sanggau harus meng-anggap dirinya sebagai pejuang agraria sehingga terbentuk satu organisasi rakyat yang kuat untuk mendesak terlaksananya reforma agraria. Selanjutnya, tanah yang sudah berhasil dire-but warga harus bisa dikembangkan untuk meningkatkan eknomi rumah tangga petani, jelas Iwan. (AGP)
DUNIA DALAM KPA
Menuai Kemerdekaan Petani pasca Land Reform Kulonbambang
R
eforma agraria sebagai jalan utama kesejahteraan dan keadilan sosial terbukti nyata di Kulonbambang, Blitar, Jawa Timur. Kisah perjuangan para buruh eks perkebunan yang menduduki lahan ex-HGU hingga kemenangannya mendapatkan tanah redistribusi sangat menarik untuk selalu diteladani. Perjuangan reforma agraria tak terbatas waktu, ia adalah perjuangan terus-menerus. Kini penataan ekonomi dan regenerasi pengurus organisasi men-jadi suatu tantangan baru yang harus dijawab organisasi petani di Blitar.Advokasi tanah secara terorganisir dijalankan melalui wadah perjuangan Pawartaku. Setelah 13 tahun, pada Oktober 2011, 280 Ha ex-HGU dinyatakan sebagai objek land reform dan didistribusikan kepada masyarakat melalui BPN. Warga-warga ke-4 kampung: Kampung Tlogosari, Tlogorejo, Bambang dan Kampung Anyar, Dusun Kulonbambang dapat mandiri atas kepemilikan terhadap tanah mereka.
Warga Kulonbambang bercerita “Dulu, kadang-kadang sulit makan setiap hari. Gajinya terlambat, dan tidak mungkin bikin tabungan, apalagi untuk menyekolah anak, merayakan le-baran dll. Pegawas kebun menganggap kami sebagai anjing, bahkan ada yang mendalami inti-midasi dan trauma ketika perjuangan.”
Sedangkan sekarang, tingkat ekonomi dan kehidupan jauh lebih baik. Jadwal kerja tidak ada lagi. Jumlah jam kerja sudah berkurang dua kali lipat (kira-kira 5jam/hari) dan rata-rata penghasilannya sudah naik dua kali lipat. Situasinya pasti lebih sejahtera. Banyak warga yang sudah memiliki motor dan rumah yang layak.
Selain itu, salah satu keuntungan landreform adalah kesempatan mendapatkan waktu merdeka di luar jam kerja. Agar ada peningkatan ekonomi di atas tanah yg didapat serta memperkuat persatuan, warga membuat pendirian asosiasi lokal (arisan perempuan dan pe-muda). Misalnya, kooperasi pinjam-simpan/Credit Union (CU) Pawartaku terbentuk pada januari 2013 sudah punya lebih dari 150 KK anggota yang diikat oleh dasar saling percaya.
Setelah land reform warga mengaku bukan saja tanah semata-mata yang sudah dikemba-likan kepada rakyat, tetapi juga martabat sebagai rakyat, kepercayaan diri dan tentu saja harga diri sebagai petani yang merdeka.
Dalam perjalanan tiga tahun ini, inisiatif warga Kulonbambang selalu berkembang. Penataan Ekonomi serta Kaderiasi dipandang pentibg dilakukan untuk terus memperbesar langkah perjuangan reforma agraria secara utuh. Untuk menjawab tantangan tersebut, or-ganisasi petani telah membangun pusat pendidikan dan mendurukan Credit Union (CU). Selain itu, kebutuhan akan kaderisasi dalam konteks penguatan organisasi tani dan regenerasi para pejuang agraria, maka mutlak perlunya diadakan pendidikan bagi para aktifis pendam-ping, mahasiswa dan para petani di daerah itu untuk menguatkan organisasi. Semua warga termasuk pengurus organisasi dan pendamping sangat optimis tentang kemakmuran masa depan di Kulonbambang. Semoga cerita ini menjadi teladan bagi perjuangan reforma agraria di seluruh Indonesia. (Camile-GA)
Tajamnya Konflik Agraria di Sektor Kehutanan
K
laim Kementerian Kehutanan yang mengatakan bahwa luas kawasan hutan 130 juta hek-tar telah menghasilkan konflik agraria. Kawasan hutan yang dijadikan Hutan Tanaman Industri (HTI), pertambangan dan perkebunan merupakan sumber konflik agraria di kawa-san hutan. Hal ini dikarenakan proses pinjam pakai kawakawa-san maupun pelepakawa-san kawakawa-san hutan tidak memperhatikan kondisi sosial masyarakat yang telah tumbuh di sekitar kawasan hutan. Masyarakat yang pada awalnya telah hidup dan bergantung pada hutan secara tiba-tiba kehilangan akses terhadap hutan akibat dari aktivitas pertambangan maupun perkebunan.Melihat kondisi dan situasi konflik agraria terus terjadi di kawasan hutan maka Konsorsium Pembaruan Agraria (KPA) mengadakan diskusi yang bertemakan “Konflik Agraria di Kawasan Hutan, Ditinjau Dari Sisi Hukum”. Diskusi Jumatan yang rutin dilaku-kan oleh KPA ini mengundang Myrna Safitri sebagai pembicara. Dalam kesempatan terse-but Myrna mengatakan kelompok yang selalu berkonflik terdiri dari masyarakat yang mem-pertahankan haknya atas hutan, Kehutanan yang merupakan perwakilan dari pemerintah dan pengusaha.
18,3 juta ha dengan membentuk Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH).
Untuk mejalankan rencana di atas Kehutanan menggunakan konsep “temu ge-lang”. Menurut Kehutanan konsep ini juga bertujuan untuk mempercepat pengukuran tapal batas sehingga konflik-konflik yang ada di kawasan hutan bisa dengan cepat diselesai-kan. Pada tingkat lapangan pengukuran ta-pal batas kawasan hutan yang dilakukan oleh Kehutanan sering kali mendapat protes dari masyarakat yang tinggal d kawasan hutan. Hal ini terjadi karena pematokan yang dila-kukan oleh Kehutanan berdasarkan pengu-kuran, tidak melibatkan masyarakat yang su-dah tumbuh di sekitar kawasan hutan. Pada tahap ini, jika sudah ada yang komplein dari masyarakat maka harus dilakukan pengukur-an ulpengukur-ang sehingga konflik tidak terjadi.
Di penghujung diskusi, Myrna menutup dengan menyampaikan solusi untuk menye-lesaikan konflik di kawasan hutan dengan menciptakan satu sistem yang baik ketim-bang membentuk satu lembaga baru. sistem yang baik ini memiliki empat tahapan, yaitu tahap pencegahan, tahap perbaikan kebijak-an, tahap konflik dan tahap pemulihan pasca konflik. Sistem yang berlangsung harus bisa mencegah perluasan konflik yang terjadi di sektor persisir, adat dan lingkungan dengan memperhatikan masukan dari masyarakat.
Di fase kebijakan, pengkajian ulang bukan hanya UU yang sudah disahkan, tetapi ter-hadap Rancangan UU juga perlu dilakukan. Kemudian melakukan penataan ulang terha-dap ijin-ijin yang sudah dikeluarkan, hal ini mengingat ijin-ijin tersebut telah menjadi sumber konflik agraria di kawasan hutan.
Untuk menangani konflik ada dua opsi yang bisa ditempuh, yaitu membentuk lem-baga penanganan konflik atau memperku-at fungsi lembaga Komnas HAM jika mem-bentuk lembaga penanganan konflik sulit dinegosiasikan. Memperkuat kewenangan Komnas HAM tidak sesulit membentuk satu lembaga karena hanya merubah UU yang mengatur Komnas HAM.
Masalah Agraria: Tantangan Kebijakan Agraria Nasional Masa
Kini dan Masa Depan
M
asalah Agraria kekinian semakin rumit dan sema-kin menguatkan desakan akan pelaksanaan reforma agraria sejati di Indonesia. Kompleksitas masalah agraria ditunjukan dengan semakin banyaknya jumlah kejadian konflik agraria di hampir seluruh wilayah di Indonesia. Oleh karena itu diskursus mendalam dan menyeluruh ten-tang masalah agraria serta solusinya harus diintensifkan di berbagai ajang dan lembaga.Salah satu pihak yang melakukan penelitian menge-nai isu agraria adalah Tim Penelitian Strategi Pembaruan Agraria untuk Keadilan dan Mengurangi Kemiskinan: Analisis Hukum dan Kelembagaan yang dinisiasi oleh Lilis Mulyani dari Pusat Penelitian Kemasyarakatan dan Kebudayaan sebagai koordinator penelitian.
Selama 2011-2013, tim peneliti menemukan bah-wa masyarakat Indonesia masih memandang penting arti
masalah agraria
Seminar “Masalah Agraria Kontemporer: Tantangan dan Kebijakan Agraria di Indonesia”
ker-jasama Pusat Penelitian Kemasyarakatan dan Kebudayaan -LIPI
tanah. Lebih lanjut, akses warga negara terha-dap lahan memiliki keterkaitan erat dengan pemenuhan hak, pengurangan kemiskinan, dan pengurangan kesenjangan. Hasil pene-litian tersebut disampaikan dalam seminar Masalah Agraria Kontemporer: Tantangan dan Kebijakan Agraria di Indonesia hasil kerja sama PMB-LIPI dengan Konsorsium Pembaruan Agraria di LIPI pada Selasa, 8 April 2014.
Keynote speaker dalam seminar ini diisi oleh DR (HC) Gunawan Wiradi yang menyo-roti kerumitan (involusi) di segala bidang ma-syarakat Indonesia. “Menurut teori, involu-si ada ambang batasnya, jika dilampaui yang akan terjadi adalah ledakan,” papar Gunawan Wiradi. Pertanyaan yang penting dijawab adalah Bagaimana ‘wajah’ masyarakat pede-saan penghasil pangan, di wilayah-wilayah yang berbeda-beda lingkungan alamiahnya di masa kini?”, tanya Gunawan Wiradi.
Tak luput dari analisanya, Gunawan juga mencermati momentum penentuan 2014 ini, yaitu pergantian kepemimpinan nasional. “Momentum ini mengandung peluang dan mengundang harapan. Pertanyaannya, sia-papun yang akan muncul sebagai pimpinan nasional, apa dia mampu dan sanggup me-lakukan langkah terobosan yang mendasar, khususnya dalam kebijakan mengatasi pe-ngelolaan sumber-sumber agraria?”
Gunawan Wiradi merekomendasikan beberapa tugas penting pemimpin yang baru, pertama, mendorong perlunya pemahaman yang benar mengenai konsep reforma agra-ria yang sejati (genuine). Kedua, mendorong adanya kemauan politik, komitmen yang ko-kok dan konsisten melaksanakan reforma ag-raria. Ketiga, menyusun kembali kelemba-gaan yang sesuai bagi pelaksanaan reforma agraria. Keempat, memberikan kesadaran bahwa masalah agraria tidak akan selesai me-lalui pendekatan ‘tambal sulam’, melainkan harus dimulai dengan program menyeluruh
dan drastis dari pusat. Kelima, melakukan pe-ninjauan kembali terhadap semua Undang-undang yang berkaitan dengan agraria secara serius, teliti tetapi cepat.
Agenda seminar ini turut dimeriahkan oleh para pakar dan aktifis yang selama ini fokus pada perjuangan agraria di Indonesia. Laksmi A. Savitri dari Departemen Antropologi UGM sebagai salah satu nara-sumber yang memaparkan topik transforma-si agraria dan perampasan tanah di Indonetransforma-sia yang diambil dari studi kasus di Merauke, Papua. Laksmi menyoroti konsentrasi dan rekonsentrasi pemilikan dan penguasaan ta-nah yang ditunjukan dengan koefisien gini yang mencapai 0,41, penurunan jumlah peta-ni gurem, konsesi kehutanan yang mencapai 35,7 juta Ha dan perkebunan yang mencapai 11 juta Ha dan pertambangan 28,27 juta Ha. “Hal itu mengakibatkan perampasan tanah skala luas yang melibatkan modal besar untuk perluasan perputaran modal. Persoalannya ekspansi modal selalu menemukan ruang baru, tapi tidak selalu menyerap buruh bah-kan terjadi krisis peluang kerja di pedesaan dan perkotaan,” ungkap Laksmi. Pelaksanaan Merauke Integrated Food and Energy Estate (MIFEE) adalah contoh bagaimana mengu-bah krisis menjadi peluang, namun berakhir krisis. Laksmi mengkonfirmasi temua terja-dinya de-agrarianisasi atau de-peasantisation dimana indikatornya adalah Jumlah Rumah Tangga Petani (RTP) menurun dan terbesar di Jawa, berkurangnya pekerjaan pertanian dan akses terhadap tanah di Jawa, penam-bahan jumlah konsesi di luar Jawa dan terjadi transmigrasi demi penyediaan cadangan bu-ruh untuk pertanian industrial serta investasi rumah tangga pedesaan pada pendidikan, se-jenis SMK/Pendidikan vokasi demi penyedi-aan cadangan buruh untuk industri.
Memahami Kemiskinan. Surya menyatakan “ketimpangan penguasaan tanah dimana se-dikit orang saja yang menguasai tanah luas,” papar Surya. Surya juga menyoroti masalah sulitnya orang miskin keluar dari jebakan kemiskinan karena ketimpangan penguasa-an tpenguasa-anah. Disamping itu ada fakta lain ypenguasa-ang juga bekerja, “pengabaian pertanian akan berdampak pada krisis pangan dan perluasan kemiskinan.” Pemerintah membiarkan orang miskin mencari jalan sendiri untuk keluar dari kemikinannya. “kemana mereka pergi? Menjadi TKI, sektor informal di perkotaan, terjebak perdagangan manusia,” tegas Surya. Menurut Surya Afiff kerangka transisi agraria dalam konteks memahami kemiskinan itulah yang harus menjadi prioritas LIPI ke depan.
Sesi kedua seminar menangkat pemba-hasan mengenai tantangan tata kelola agra-ria di Indonesia. Iwan Nurdin, Sekjend KPA dalam pemaparan topik korupsi agraria me-ngatakan bahwa masalah agraria saat ini di-perumit oleh persoalan korupsi dalam prak-tek perampasan tanah-tanah rakyat. “Dengan demikian, tidaklah berlebihan jika kita me-nyimpulkan bahwa kejahatan korupsi ada di wilayah-wilayah yang terkait dengan pengua-saan dan pengusahaan sumber-sumber agra-ria dan kekayaan alam,” Ungkap Iwan.
Tali temali antara konflik agraria yang terjadi dengan kejahatan korupsi aparat biro-krasi agraria di berbagai sektor (kebun, tam-bang, hutan, pesisir) ini, seharusnya mampu mendorong Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) bersama kepolisian dan kejaksaan un-tuk mulai berkomitmen menjalankan refor-ma agraria. “Institusi penegak hukum harus dengan sesegera mungkin melakukan penye-lidikan secara sungguh-sungguh atas wila-yah-wilayah yang selama ini telah dilaporkan masyarakat mengalami konflik agraria dan adanya dugaan kuat kejahatan korupsi di da-lamnya,” tambah Iwan.
Dalam kesempatan yang sama DR. Bambang Widjojanto (Wakil Ketua KPK) mengatakan bahwa KPK memiliki rencana strategi 2011-2015 yaitu fokus pelaksanaan tugas antara lain perbaikan sektor strategis terkait kepentingan nasional yang meliputi: ketahanan energi dan lingkungan (energi, migas, pertambangan dan kehutanan); ke-tahanan pangan, pendidikan dan kesehatan; penerimaan negara (pajak, bea cukai serta PNBP dan bidang infrastruktur).
Dalam kegiatannya dalam layanan per-tanahan misalnya, KPK telah melakukan Koordinasi, Supervisi dan Pengkajian terka-it Kajian Sistem Pengelolaan Administrasi Pertanahan (KPK, 2005); Koordinasi dan Supervisi Layanan Pertanahan (KPK, 2006-2011); Pemantauan Implementasi Rencana Aksi BPN-RI (2011-2014); Kajian Sistem Perizinan di Sektor Sumberdaya Alam – Studi Kasus Penetapan HGU dan HGB (KPK, 2013); Penandatanganan Nota Kesepahaman Bersama (NKB) Kehutanan oleh 12 Kementerian/Lembaga (KPK, 2013).
agar rekomendasi KPK ditindaklanjuti mela-lui perbaikan nyata di lapangan. Kedua, men-dorong Badan Pertanahanan Nasional untuk segera meningkatkan perbaikan layanan per-tanahan di Indonesia.
Contoh kasus korupsi pertanahan yang ditangani KPK antara lain: Kasus Pusat Olah Raga Hambalang (Penyuapan); Kasus Tanah Kuburan Kabupaten Bogor (Penyuapan dan Mark Up); Kasus Lombok (Penyuapan‐ Libatkan Penegak Hukum); Kasus pembelian tanah melalui Dana Bansos Bandung (penyu-apan dan Mark Up) serta Kasus TPPU dan pembelian tanah sebagai placing, layering dan covering.
Melihat kompleksitas masalah agraria ke-kinian tentu saja tantangan bidang kajian dan riset masalah agraria semakin besar. Tim neliti LIPI mengajukan rekomendasi agar pe-merintah membuat “Dokumen Pelaksanaan Kebijakan Agraria Nasional”. Lebih lanjut tim peneliti LIPI mengungkapkan bahwa doku-men tersebut harus doku-mencakup prinsip kese-imbangan aspek ekonomi, sosial budaya, dan keberlanjutan lingkungan. Proses pengelo-laan juga harus diarahkan bersifat integra-tif sehingga dapat mendobrak ego sektoral yang terjadi selama ini. Yang terpenting akses sumber daya agraria harus berwatak kerak-yatan yang berkeadilan sosial sesuai amanat UUD 45 Pasal 33 dan UUPA 1960. (GA)
KPA Sulteng: Hutan untuk Rakyat Bukan untuk Pengusaha
K
PA Sulawesi Tengah mengatakan bahwa pemerintah tidak serius dalam menjalankan skema Hutan kemasyarakatan (HKM), Hutan Desa (HD) dan Hutan Tanaman Rakyat(HTR) di Sulawesi Tengah. Hal tersebut disampaikan pada sosialisasi Hutan Kemasyarakatan (HKM) di Restoran Kampung Nelayan (20/05/14).
“Saat ini terdapat 1.618 Daerah Aliran Sungai dalam kondisi kritis, hal ini tidak terle-pas dari kegiatan perluasan investasi dalam pengelolaan sumber daya alam di sektor Hutan, tambang skala besar dan tambang galian C serta perkebunan sawit di Sulawesi Tengah,” kata Gifvents, Deputi Konsorsium Pembaruan Agraria Wilayah Sulteng.
Dia menambahkan, program-program pemberdayaan yang diusulkan sejatinya bu-kan memberdayabu-kan masyarakat. Ini dibuktibu-kan dengan pendampingan yang tidak serius dan menjadi proyek salah satu instansi terkait. Prakteknya di lapangan terjadi pembentuk-an kelompok tpembentuk-ani dadakpembentuk-an, proyek menpembentuk-anam pohon di wilayah alirpembentuk-an sungai, bpembentuk-antupembentuk-an lebah madu, gerhan dan bansos. “Ini kemudian malah memicu konflik di tingkatan masyarakat,” ujar Gifvents.
Selain itu, dia juga mengambil sampel di Kabupaten Donggala dalam kurun waktu dua tahun terkahir. Kami sudah mendampingi kelompok tani yang ada 6 Desa di 4 Kecamatan yang ada di kabupaten donggala, yang saat ini sedang dalam proses pengusulan Hutan Kemasyarakat (HKM) seluas 7.050 Ha, yang arealnya di cadangkan dalam wilayah Hutan Produksi (HP) dan Hutan Lindung (HL). “Hutan sejatinya untuk rakyat bukan untuk pengu-saha”, tegas Gifvents
Berkas Usulan tersebut sampai dengan saat ini belum di tindaklanjuti oleh dinas kehu-tanan kabupaten Donggala. Padahal Visi Misi Bupati Donggala yang baru terpilih 2014-2018 salah satunya adalah pemberdayaan masyarakat di sekitar hutan, namun beriringan dengan itu- ada beberapa usulan perkebunan sawit seperti PT Agromas Perdana seluas 20.000 Ha dan pertambangan yang baru maupun usulan lama dan yang sudah dalam status ekplorasi, yang juga muncul diwilayah usulan HKM yang diusulkan oleh masyarakat.
Hal ini membuktikan bahwa pemerintah lebih memilih pengusaha dibandingkan rakyat-nya sendiri, padahal rakyat butuh tanah untuk hidup dan bercocok tanam. Apalagi saat ini ada Perpres No 39 tahun 2014 Tentang penyertaan modal asing di sektor tanaman pangan, jika itu terimplementasi maka kita akan krisis pangan dan lahan, karena sebagian besar hasil pangan petani akan diekspor keluar.
Dia juga menambahkan KPA Sulteng mengusulkan pada Pemda Donggala agar segera melakukan review kembali izin tersebut dan pemerintah harus berpihak pada petani untuk meningkatkan tata kelola rakyat atas tanahnya secara baik.
Dua Tahun Serikat Tani Indramayu
P
ada perayaan Hari lahir Serikat Tani Indramayu (STI) yang kedua, ribuan petani yang tergabung dalam STI datang ke Desa Sukaslamet, Kec. Kroya untuk merayakan hari jadi organisasi tersebut. Dalam acara tersebut turut hadir kalangan pemuda petani yang terga-bung dalam Gerakan Pemuda dan Pemudi (GPP). Acara perayaan hari lahir STI ini dimulai dari pukul 18.30 sampai dengan selesai. Selain anggota STI dan GPP, jaringan nasional yang datang keacara tersebut adalah Konsorsium Pembaruan Agraria (KPA) yang diwakili oleh Iwan Nurdin, Direktur Walhi Jawa Barat yang diwakili Dadan Ramdan dan Aliansi Petani Indonesia (API) yang diwakili oleh Oji.Acara yang dilaksanakan pada 1 Maret 2014 mengangkat tema “Menata Organisasi Menuju Percepatan Reforma Agraria di Indonesia”. Tema ini sesuai dengan kondisi STI yang terus mendapat ancaman pembubaran dari Perhutani, Polsek Indramayu dan preman. Mulai dari pertengahan 2013 sampai Juni 2014, pejuang STI terus dikriminalisasi. Tujuannya adalah untuk melemahkan gerakan STI di basis-basis.
Dalam kata sambutannya, Syamsudin yang mewakili Sekjend STI mengatakan, petani STI akan tetap berkomitmen untuk memperjuangkan haknya atas tanah yang selama ini dikuasai Perhutani. Seluruh anggota STI harus belajar dari pengalaman yang lalu untuk membangun organisasi, program-program organisasi baik dalam bidang ekonomi kerakyatan, pendidik-an maupun ypendidik-ang lainya harus ditata ulpendidik-ang. Lebih lpendidik-anjut Syamsudin mengatakpendidik-an perjupendidik-angpendidik-an
LINTAS PERISTIWA
reforma agraria di Indonesia khusunya di Indramayu tidaklah mudah kerena perme-rintah pada saat ini tidak pro kepada rak-yat petani.
Iwan Nurdin, Sekjend KPA, yang juga memberikan kata sambutannya mangata-kan bahwa STI mempunyai potensi besar untuk menjadi organisasi panutan bagi pe-tani lainnya di Indramayu. STI sudah mem-punyai pengalaman untuk menyikapi tin-dak intimidasi dari polisi, membentuk solidaritas untuk mengawal sidang teman
seperjuangan yang dikriminalisasi dan mem-perjuangkan hak atas tanah yang telah di-rampas oleh pemerintah.
Hal senada juga diungkapkan oleh ka-wan dari WALHI, Dadan mangatakan STI harus mulai menata produksi dari hulu sam-pai hilir berkaitan dengan tata kelola lahan garapan peningkatan ekonomi dan pendi-dikan sehingga selanjutnya STI tidak hanya menjadi organisasi gerakan yang hanya me-nyelesaikan kasus di lapangan saja. Acara memperingati hari lahir STI ini ditutup de-ngan Tausiyah Agama.Danang.
KPA Mendukung Pembubaran Kementrian Kehutanan
D
alam rangka memperingati hari Kebangkitan Masyarakat Adat sejumlah elemen masya-rakat melakukan aksi (17/03). Elemen masyamasya-rakat yang terdiri dari Aliansi Masyamasya-rakat Adat Nasional (AMAN), Konsorsium Pembaruan Agraria (KPA) dan Walhi aksi long march dari Bundaran HI menuju istana Negara dan Kementerian Kehutanan.Di depan istana Abdon Nababan, Sekjend AMAN, mengatakan bahwa Putusan MK No. 35/puu-x/2012 tidak dijalankan karena ulah Kementerian Kehutanan. Lembaga Negara tersebut masih belum mengembalikan hutan adat seperti yang dinyatakan Putusan MK No. 35/puu-x/2012. Untuk itu Abdon me-nuntut kementerian Kehutanan agar dibu-barkan karena telah menjadi batu sandungan bagi masyarakat adat untuk menjaga keles-tarian hutan. Selain itu, Abdon mengimbau seluruh masyarakat adat agar tidak memilih calon presiden yang telah melakukan peru-sakan hutan.
Dalam rilis AMAN menyebutkan bah-wa menteri kehutanan menggunakan UU Pencegahan dan Pemberantasan Perusakan Hutan untuk mengkriminalisasi masyarakat adat. Hal ini juga memperlambat penyelesai-an RUU Pengakupenyelesai-an dpenyelesai-an Perlindungpenyelesai-an Hak Masyarakat Adat (PPHMA).
Hal yang senada juga disampaikan oleh Iwan Nurdin, Sekjen KPA. Dalam orasinya di depan gedung Kementerian Kehutanan menjelaskan bahwa Kementerian Kehutanan harus segara dibubarkan demi kesejahtera-an masyarakat.
“Ada Kementerian Kehutanan, hutan-hutan makin habis, hutan-hutan makin rusak, ta-nah-tanah rakyat makin diberikan kepada pengusaha, rakyat dihabisi tanah-tanahnya,” tegas Iwan Nurdin.
Idealnya, Kemenhut itu fokus saja ke-pada usaha perhutanan bukan menjadi pe-nguasa wilayah seperti yang terjadi saat ini. “Sehingga semua komponen pendaftaran ta-nah, hutan adat, hutan negara itu didaftar,” ujarnya. Kemenhut yang nantinya bertrans-formasi menjadi Dirjen ini bekerja berda-sarkan fungsi tata ruang, tidak lagi jadi pe-nguasa wilayah. “Kemenhut dilikuidasi saja, dijadikan Dirjen Kehutanan,” tegasnya lagi.
Pada tahun 2013, KPA mencatat 31 ke-jadian konflik agraria sektor kehutanan dan dengan luasan areal paling besar sepanjang konflik 2013 dengan 527.939,27 Ha. Jika kita melihat areal izin usaha pertambangan yang ada selama ini didominasi oleh areal pinjam-pakai kawasan hutan dan areal perkebunan juga merupakan lahan konversi dari kawasan hutan. Maka dapat disimpulkan bahwa kawa-san hutan menurut definisi yang dicantum-kan oleh UU 41/1999 tentang Kehutanan se-sungguhnya merupakan muasal pokok dari konflik agraria yang terjadi. (GA)
Kalah di PTUN: Perjuangan Jalan Terus
P
erjuangan masyarakat Ringinrejo, Kecamatan Wetas, Kabupaten Blitar melalui Pengadilan terjawab sudah. Tanggal 6 Mei 2014, Pengadilan Tata Usaha Negara (PTUN) Jakarta Timur memutuskan bahwa lahan seluas 724,23 ha yang menjadi sengketa dimenangkan oleh Kementerian Kehutanan. Alasan PTUN adalah subjek penggugat tidak mempunyai bukti-bukti yang menyatakan bahwa penggugat memiliki alas hak atas lahan objek gugatan.Dengan dimenangkannya Kementerian Kehutanan oleh PTUN maka konflik lahan antara Paguyuban Petani Penggarap Eks Perkebunan Gondangtapen (P4GT) dengan PT Holcim, secara otomatis dimenangkan oleh PT Holcim. Konflik lahan ini berlangsung sejak ex Perkebunan Gondang Tapen ditunjuk oleh Kementerian Kehutanan sebagai kawasan hu-tan sesuai dengan SK.367/Menhut-II/2013. Penunjukkan ini merupakan bagian tukar guling lahan Perhutani di Tuban dengan PT Holcim yang ada di Gondang Tapen.
terlantar. Namun dengan dikeluarkannya SK Kementerian Kehutanan maka konflik lahan mulai muncul dan petani P4GT melakukan gugatan dengan menunjuk PIL-NET sebagai kuasa hukumnya.
Membangun Semangat Organisasi
Walau PTUN telah memutuskan bah-wa P4GT tidak memiliki hak atas atas ta-nah seluas 724,23 ha perjuangan tidak ber-akhir. Dari jalur hukum perjungan untuk mendapatkan hak atas tanah garapan masih
dilanjutkan dengan melakukan banding. Di lapangan P4GT siap menghadang pemerin-tah yang akan melakukan eksekusi dengan merusak tanaman petani. Pada tingkatan or-ganisasi, P4GT mulai berbenah dengan mela-kukan pertemuan rutin, mengatur keuangan organisasi dan manata manajemen produksi agar lebih baik lagi.
Dukungan terhadap P4GT terus meng-alir agar bara perjuangan tetap menyala. Dukungan tersebut datang dari KPA, Elasam dan PIL-NET, lembaga-lembaga tersebut da-tang ke Blitar pada 9 Mei 2014 untuk meng-ingatkan pejuang P4GT agar tidak patah arang. Mereka memberikan pesan kepada petani P4GT agar tidak melepaskan tanah-nya walau sejengkal saja kepada PT Holcim. Selain itu mereka juga menyampaikan agara mendokumentasikan semua kejadian pen-ting, terutama peristiwa lapangan. Hal ini mengingat konflik agraria cenderung terjadi pelanggaran HAM. AGP
kalah di PTUN
Gerakan Buruh Usung Reforma Agraria:
B
elajar dari pengalaman Hari Buruh Internasional 1 Mei 2014Tiap hari, tiap bulan anda dan mungkin saya sering mendengar besarnya Ledakan angka PHK kaum buruh yang pada 2012 saja tiap bulannya tercatat rata-rata di Indonesia sebanyak 18.000 buruh manufaktur dan jasa kehilangan pekerjaan, sementara yang masih bekerja justru dipaksa menerima rendahnya upah, minimnya jaminan social untuk buruh, dibatasinya kehidupan kebebasan berorganisasi dalam pabrik.
Tidak benar, kalau Negara menyatakan ada jaminan sosial terhadap kaum buruh lewat UU SJSN, tidak benar Negara telah mengklaim ada perlindungan terhadap kebebasan beror-ganisasi buat kaum buruh, tidak benar kalo Negara telah mengkalim ada upaya perlingdung-an maksimal saat buruh di PHK. Justru yperlingdung-ang terjadi adalah Negara telah berpaling muka dari tanggung jawabnya sambil menginjak-injak kaum buruh yang memang sudah terhisap sejak perjanjian kerja ditantadatangani.
Buktinya hak-hak dasar, sebuah hak yang seharusnya diberikan oleh negara, justru si-tuasinya tidak seindah dalam teks undang-undang. Namun hak dasar itu bisa diperoleh aki-bat karena gigihnya perjuangan kaum buruh. Kita bisa belajar dari pengalaman perjuang-an, mogok nasional buru pada 3 Oktober 2012 kemarin, perjuangan buruh di Jabotabek saat
melakukan tekanan politik menuntut Hak dan kepastian bekerja lewat aksi massa mem-blokir jalan Jakarta-Cikampek dan pemogo-kan 2 hari 2 malam di Depnakertrans bebe-rapa waktu yang lalu, pun dengan berbagai pelajaran yang diajarkan kaum buruh yang bersatu saat mengugat revisi UU No 13/2003 tentang Ketenagakerjaan di tahun 2006-2007. Ungkap John Silaban, Sekjend FPBI.
Usep Setiawan Anggota Dewan Pakar KPA, menilai usaha pemerintah selama le-bih dari empat dekade terakhir ialah menam-pung kelebihan tenaga kerja produktif asal perdesaan dengan menggenjot pertumbuh-an sektor industri. Namun, agaknya usaha ini belum banyak membuahkan hasil. Terbukti, jumlah petani gurem dan buruh tani gurem di negara kita setiap tahun justru terus ber-tambah. Apalagi cetak biru pembangunan industri nasional bertumpu pada relokasi in-dustri dari negara maju dan utang luar nege-ri. Tidak mengherankan jika pembangunan industri nasional selama ini tak berelasi de-ngan pembangunan pertanian dan perdesaan yang dikembangkan.
Fenomena itu dianalisa oleh Iwan Nurdin, Sekjend KPA, “mengatakan bahwa pertumbuhan tersebut tak berkorelasi posi-tif terhadap peningkatan kesejahteraan bu-ruh. Bahkan, pertumbuhan petani gurem dan buruh tani terus meningkat dan menja-min ketersediaan buruh dalam sistem indus-tri pertanian dan perkebunan milik penjajah (kolonial). Inilah yang menjadi salah satu da-sar kesimpulan Gertz tentang gejala involusi pertanian dan sharing of poverty pada kehi-dupan petani Jawa.”
Tambah Iwan Nurdin, saat orasi di depan ri-buan kaum buruh.
Dengan persoalan yang demikian berat, menangani persoalan buruh tani dan petani gurem tidak dapat dijalankan dengan pende-katan biasa. Dibutuhkan terobosan kebijakan yang bersifat lompatan jauh ke depan, khu-susnya tekait pembangunan pertanian dan pedesaan yang dipadukan dengan pemba-ngunan perkotaan yang ramah terhadap rak-yat miskin.
Perlu ditempuh ialah mempercepat in-dustrialisasi pedesaan sebagai bagaian dari skema industrialisasi nasional dengan dasar pelaksanaan pembaruan agraria atau pem-baruan agraria. Pemerintah harus mendesa-in pembentukan badan usaha milik desa atau milik petani dalam wadah koperasi. Hal ini
gamar 16 bebaskan eva bande
didukung penyediaan lahan, bibit, kredit mu-rah, pendampingan, dan infrastruktur lain yang dibutuhkan. Tegas Iwan Nurdin.
Kent Yusriansyah Kepala Departmen POR KPA, memberikan catatan penting atas praktek perjuangan kaum buruh yang melakukan aksi massa pada hari buruh Internasional 1 Mei 2014 sebagai pelajaran berharga kepada gerakan tani di Indonesia. Bahwa kaum buruh di Indonesia setidaknya sudah menyadari bahwa reforma agraria ada-lah bagian yang penting dalam proses mene-gakkan industrialisasi nasional yang kuat un-tuk membangun kemandirian, keadaulatan dan kesejahteraan rakyat Indonesia, ini juga mengandung pengertian bahwa gerakan bu-ruh dalam kacamata teori sosial modern ada-lah pelopor perubahan sosial.(K-Ysr)
Bebaskan Para Pejuang Agraria: Bebaskan Eva Bande, Yohanes
dan Anyun!
Mei Eva Bande ditangkap di Yogyakarta oleh tim Kejaksaan Negeri Luwuk bekerjasa-ma dengan Kejaksaan Agung dan ditahan di Lapas Luwuk kelas II B.
Sementara Murad Husein yang sejak 2010 ditetapkan sebagai tersangka oleh Polres Banggai tidak pernah ditahan sama sekali. Bahkan Kapolres Banggai Ajun Komisaris Besar Polisi Dadan telah mengeluarkan Surat Penghentian Penghentian Penyidikan (SP3) atas tindak pidana yang dilakukan oleh Murad Husain. Padahal nyata-nyata taipan sawit tersebut menerabas kawasan Suaka Margasatwa Bangkiriang dan merampasi la-han-lahan petani Banggai.
Sementara itu, di Pontianak, Kalimantan Barat terjadi penahanan secara sewenang-wenang lima orang petani pada 5 Mei 2014. Mereka ditangkap dan diperlakukan se-cara brutal oleh Polisi, Brimob, dan petu-gas PT Swadaya Mukti Prakarsa (SMP)/PT. First Resources. Kelima korban ialah Kepala Desa Batu Daya Bethlyawan, Ketua Badan Pemusyaratan Desa (BPD) Yohanes Singkul, Antoniyus Sintu, Anyun, dan Jorben Marinel. Kini dua orang masih ditahan di Polda Kalbar yaitu Yohanes Singkul dan Anyun. Mereka adalah para pejuang yang selama ini
konsisten atas perjuangan hak-hak masyara-kat adat.
Setahun MK 35: Reforma Agraria dan Hutan Adat
D
alam agenda peringatan setahun MK 35/2012, KPA turut memberikan refleksi kritisnya terhadap implementasi MK 35 dan hubungannya dengan reforma agraria di sektor ke-hutanan. Setelah setahun dikeluarkan, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono belum menin-daklanjuti Putusan Mahkamah Konstitusi No. 35/PUU-X/2012 yang menegaskan bahwa hu-tan adat bukan lagi huhu-tan negara. Padahal, Keputusan MK.35/2012 memiliki makna bahwa pengakuan negara atas keberadaan masyarakat adat di wilayah hutan adat yang dikeluarkan dari klaim sebagai wilayah hutan negara merupakan sarana penyelesaian konflik berbasis pe-mulihan hak akibat adanya penetapan konsesi di atas wilayah hutan adat.Hutan adat dapat dijadikan objek reforma agraria dengan subjek utamanya adalah ma-syarakat adat itu sendiri. Terkait wilayah adat lainnya, masih tersisa persoalan yaitu wilayah masyarakat adat non kawasan hutan namun tidak diatur oleh masyarakat adat sebagai subjek hukum atau berada dalam konsesi usaha semisal kebun dan tambang.
Catatan kritis pelaksanaan MK 35 tersebut disampaikan Iwan Nurdin di acara peringat-an satu tahun putusperingat-an MK 35 di Jakarta, selasa (13/5). Iwperingat-an memaparkperingat-an bahwa paska pu-tusan MK maka peluang politik semakin meluas, apalagi dengan adanya Nota Kesepahaman Bersama (NKB) KPK dengan 12 K/L tentang percepatan pengukuhan kawasan hutan yang di dalamnya juga terdapat perluasan wilayah kelola rakyat dan penyelesaian konflik agraria di kawasan hutan. Paska putusan MK, ada UU No 6/2014 tentang Desa yang mengatur pene-tapan desa adat plus wilayahnya. Namun, yang terjadi sekarang adalah pembangkangan biro-krasi khususnya Kementrian Dalam Negeri dan Kementrian Kehutanan atas putusan MK 35. Terlebih lagi, tidak sepadannya peluang politik dan hukum yang semakin luas tersedia dengan realisasi pengakuan hutan adat dan wilayah masyarakat adat lainnya.
DINAMIKA KEBIJAKAN AGRARIA