Hadis berasal dari Bahasa arab yaitu hadis, Jamaknya Hadis,Hidsan dan Al-Hudson,dari segi bahasa, kata ini banyak mengandung arti, diantaranya : Al-Jadid yang baru lawan dari Al-Qadim yang lama,Al-Khabar,yang berarti kabar atau berita.
Kata hadis ini didalam AL-Quran digunakan berulang kali secara garis besar yaitu Bermakna pesan atau perkataan
Bermakna cerita mengenai masalah duniawi Bermakna cerita historis
Bermakna cerita atau pembicaraan yang masih hangat.
Jadi hadisan mengandung arti pesan yang harus disampaikan kepada orang lain, sehingga pesan
tersebut harus dijaga atau dipelihara kemurniannya,dengan kata lain menghafal pesan tersebut, tanpa mengurangi maupun menambahnya sedikit pun.
Dan secara terminologis para ulama memberikan definisinya secara berbeda-beda akan tetapi tujuannya adalah sama.
Secara bahasa sunnah adalah jalan yang lurus dan secara istilah ulama hadis tidak membedakannya dengan sunnah.secara termologis sunnah adalah setiap apa yang ditinggalkan (diterima) dan rasul SAW, berupa perkataan,perbuatan,taqrir,sifat, fisik atau akhlak,atau perkehidupan, baik sebelum beliau diangkat menjadi rasul seperti tahnus, yang beliau lakukan, di gua hira, atau sesudah kerasulan beliau.
Khabar secara bahasa adalah berita sedangkan secara istilah ada 3 pengertian khabar sama dengan hadis,khabar berbeda dengan hadis,jadi hadis adalah sesuatu yang datang dari nabi dan atau dari selain nabi saw.
Asar secara bahasa adalah (baqiyatu syaikh)bekas dari sesuatu sedangkan menurut istilah ada 2 pendapat. Asar sama dengan hadis,asar berbeda dengan hadis. Asar bias juga dikatakan segala sesuatu yang dating dari sahabat tabiin dari orang orang sesudahnya.
Sanad menurut bahasa yaitu sandaran, atau sesuatu yang dijadikan sandaran menurut istilah sanad adalah silsilah orang-orang yang meriwayatkan hadis, yang
menyampaikannya kepada matan hadis,jadi sanad adalah
menyandarkan,mengasalkan,mengembalikan kesediakala dan mengangkat.
Menurut bahasa ma-irtafa’ min al-ard (tanah yang meninggi), sedangkan menurut istilah adalah suatu kalimat tempat berakhirnya sanad atau bermakna lafal-lafal hadis yang didalamnya mengandung makna tertentu.
BAB I
HADIS & ISTILAH YANG BERKAITAN DENGANNYA
A.HADIS
B.SUNNAHH
C.KHABAR
D.ASAR
D.SANAD
Kata rawi atau ar-rawi berarti orang yang meriwayatkan atau memberitakan hadis (Naqil Al-Hadis).menurut istilah orang yang meriwayatkan dan memindahkan hadis,atau orang yang menerima hadis dan kemudian menghimpunnya dalam suatu kitab tadwin.
Bayan Ta’kid (taqrir) atau isbat
Adalah menguatkan atau menegaskan kaembali ayat perintah atau larangan yang ada didalam Al-Qur’an.
Bayan Tafsir
Adalah penjelasan terhadap ayat-ayat yang memerlukan perincian atau penjelasan lebih lanjut,seperti pada ayat-ayat yang mujmal,mutlaq,dan a’am.
Bayan Tasyri
Yaitu menetapkan suatu hukum yang tidak ada ditemukan dan atau ditetapkan dalam Al-Qur’an.Atau ketentuan hokum yang ditambahi oleh Nabi yang tidak ada ketentuannya di dalam Al-qur’an.
Kata kodifikasi adalah berasal dari bahasa inggris yaitu codification yang berarti penyusunan menurut aturan/system tertentu. Kodifikasi dalam bahasa arab diistilahkan dengan tadwin, yang berarti rekaman (recording), penulisan (writing down), pembukuan (booking) pendaftaran (listing).
1. Hadis Mutawatir
Yaitu adalah menurut bahasa berarti mutatabi,yaitu yang datang berikut, atau yang beriring - Iringan antara satu orang dengan yang lainnya.yang tidak ada jaraknya. Sedangkan menurut istilah yaitu hadis yang diriwayatkan oleh jumlah besar orang yang menurut adat mustahil mereka bersepakat terlebih dahulu untuk berdusta mulai dari awal sampai akhir sanad, dengan syrat jumlah itu tidak kurang pada setiap tingkatannya.
2. Hadis Ahad
Yaitu secara bahasa ahad adalah jama’ dari jama’ dari kata ahad yang berarti al-wahid atau Satu maka dengan demikian al-wahid adalah suatu bentuk yang disampaikan oleh satu Orang. dan menurut istilah yaitu hadis yang jumlah perawinya tidak sampai sebanyak jumlah hadis mutawatir baik perawinya itu satu,dua,tiga,empat,lima dan seterusnya. Yang tidak memberikan pengertian bahwa jumlah perawi tersebut tidak sampai kepada jumlah perawi hadis mutawatir.
E.RAWI
BAB II
KEHUJJAHAN HADIS
A.FUNGSI HADIS TERHADAP AL-QUR’AN
BAB III KODIFIKASI HADIS
BAB VII PEMBAGIAN HADIS
3. Hadis Masyhur
Secara bahasa adalah sesuatu yang sudah tersebar dan popular sedangkan menurut istilahyaitu hadis yang diriwayatkan dari sahabat,tetapi bilangannya tidak sampai ukuran bilangan mutawatir,kemudian baru mutawatir setelah sahabat dan demikian pula setelah mereka.
Mau’du adalah isim maf’ul dari kata wa;dhaa yadha wadha’a yang secara bahasa berarti al-shiqod (meletakan atau menyimpan) (mengada-ngada atau yang dibuat-buat),dan menurut istilah yaitu hadis yang disandarkan kepada rasulullah Saw, secara dibuat-buat dan dusta, padahal beliau tidak mengatakan melakukan atau menetapkannya.para ulama berbeda pendapat tentang kapan mulai jadinya pemalsuan hadis yaitu :
Menurut ahmad amin hadis palsu telah terjadi sejak masa rasullulah hidup.menurutnya hadis tersebut menggambarkan bahwa kemungkinan pada zaman rasullullah SAW. telah terjadi pemalsuan hadis
Salah Ad-din Al-id mengatakan bahwa pemalsuan hadis berkenan dengan masalah keduniaan telah terjadi pada masa rasullullah karena berkenaan dengan masalah agama.
Menurut jumhur Al-muhadizin bahwa pemalsuan hadis itu terjadi pada masa kekhalifahannya ali bin abi thalib. Bahwa keadaan hadis sejak zaman nabi hingga sebelum terjadinya pertentangan politik antara ali dengan mu’awiyah ibn abi syufyan masih terhidar dari pemalsuan-pemalsuan.
Ada beberapa motif yang mendorong mereka membuat hadis palsu yaitu : Pertentangan politik
Yaitu perpecahan umat islam yang diakibatkan politik yang terjadi pada kekhalifahan ali bin abi thalib besar sekali pengaruhnya terhadap kemunculan hadis-hadis palsu. Usaha kaum tindiq
Kaum tindik termasuk golongan yang membenci islam baik islam sebagai agama maupun sebagai dasar pemerintahan
Sikap Fanatik buta terhadap bangsa, suku, bahasa negeri dan pimpinan.
Mereka membuat hadis palsu karena didorong oleh sifat eg dan fanatic buta serta ingin menonjolkan seseorang, bangsa, kelmpk atau yang lain.
Mempen garuhi kaum awam dengan kisah dan nasihat.
Mereka melakukan pemalsuan hadis ini guna memperoleh simpatik dari pendengarnya dan agar mereka kagum melihat kemampuannya.
Perselisihan dalam fiqih dan ilmu kalam.
Munculnya hadis-hadis palsu dalam masalah fiqih dan ilmu kalam ini berasal dari para pengikut mazhab.Mereka berani melakukan pemalsuan hadis karena didorong sifat fanatic dan ingin menguatkan mazhabnya masing-masing.
Menjilat Penguasa
Giyas ibn Ibrahim merupakan tokoh yang banyak ditulis dalam kitab hadis sebgai pemalsu hadis tentang perlombaan matan asli rasullullah saw.
BAB VIII
PERMASALAHAN HADIS MAU’DU
A.Pengertian Hadis Mau’du
B.Latar Belakang Munculnya Hadis Ma’udu
Atas dasar pengakuan para pembuat hadis palsu maknanya rusak Matannya bertentangan dengan akal atau kenyataan
Matannya menyebutkan janji yang sangat besar atas perbuatan yang kecil atau ancaman yang sangat besar atas perkara kecil.
Perawinya dikenal seorang pendusta.
1. Hadis Shahih
Yaitu secara bahasa as-shihah (sehat) lawan dari as-saqim (sakit), secara istilah yaitu hadis yang bersambung sanadnya diriwayatkan oleh periwayat yang adil lagi dabit dan diterima dari periwayat yang adil lagi dabit mulai dari awal sanad sampai akhir sanad tidak ada ulah (cacat) dan syaz (kejanggalan).
2. Hadis Hasan
Secara bahasa adalah al-jamal (indah/bagus).sedangkan menurut istilah yaitu hadis yang bersambung sanadnya diriwayatkan oleh periwayat yang adil,ringan dabitnya. Dan diterima dari periwayat yang sama mulai dari awal sampai akhir sanad tidak ada kejanggalan ulah (cacat).
3. Hadis Daif
Secara bahasa as-saqim (sakit/lemah), dan secara istilah adalah hadis yang tidak memenuhi sifat hadis shahih atau hadis hasan.
Secara bahasa al-jarh adalah luka, sedangkan menurut istilah yaitu munculnya sifat pada seseorang periwayat yang merusak keadilannya atau hafalannya dan kecermatannya yang keadaan itu menyebabkan gugurnya/lemahnya atau tertolaknya riwayat yang disampaikannya.
1. Maratib Al-Jarh Adalah Sebagai Berikut :
Apabila seorang periwayat dinilai dengan peringkat pertama sampai keempat, maka riwayatnya tidak dapat diterima dan tidak dapat dipertimbangkan.Adapun dua peringkat terakhir ada jalur lain yang menguatkannya, maka hadisnya akan diterima menjadi hasan ligairih.Namun,apabila tidak ada yang menguatkannya, maka ia menjadi daif.
2. Maratib alfaz at-ta’dil adalah sebagai berikut :
Apabila seorang periwayat dinilai dengan maratib pertama sampai ketiga, maka riwayatnya dapatditerima (shahih).Apabila seorang periwayat dinilai dengan peringkat keempat, maka riwayatnya dinilai dengan kualitas hasan. Adapun dua peringkat terakhir sama halnya dengan peringkat kelima dan keenam dari al-jarh.
Ulama kritikus hadis yang selalu memberikan penilaian terhadap periwayat ada tiga kelompok/klasifikasi.pertama,ulama kritikus yang sangat ketat/selektif (mutasyadid),kedua ulama kritikus yang sangat lnggar (mutasahil) dan ketiga ulama yang mderat (mu’takdil/mutawassit). Ketiga kelompok ini sangat jarang memberikan penilaian yang sama terhadap seorang periwayat.
Kelompok pertama ulama krritikus yang mutasyadid (ketet/selektif) yaitu ulama yang sangat ketat dalam penilaian terhadap seorang periwayat,kelompok kedua adalah ulama kritikus mutasahil,yaitu ulama yang sangat longgar dlm memberikan penilaian terhadap periwayat,kelompok ketiga adalah ulama kritikus yang mu’tadil yaitu ulama yang pertengahan dalam memberikan penilaian terhadap periwayat.
C.HADIS DITINJAU DARI SEGI KUALITASNYA
BAB IX
AL-JARH WA’AT AT’TA’DIL
A.PENGERTIAN