• Tidak ada hasil yang ditemukan

MAKALAH AGAMA ISLAM PANDANGAN ISLAM TENT

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "MAKALAH AGAMA ISLAM PANDANGAN ISLAM TENT"

Copied!
29
0
0

Teks penuh

(1)

PROGRAM STUDI TEKNIK

INFORMATIKA

TUGAS PENDIDIKAN AGAMA

DISUSUN OLEH :

NAMA : ISRODIMAN SAPUTRA

KELAS : TI.1G

NIM : 141420126

(2)

PANDANGAN ISLAM TENTANG KEHIDUPAN :

KEHIDUPAN PRIBADI

1. Dalam Aqidah

Setiap Warga Muhammadiyah harus memiliki prinsip hidup dan kesadaran imani berupa tauhid kepada Allah SWT.23 yang benar, ikhlas dan penuh ketundukan sehingga terpancar sebagai ibad al-rahman 24 yang menjalani kehidupan dengan benar-benar menjadi mukmin, muslim, muhsin, dan muttaqin yang paripurna.

2. Dalam Akhlaq

Setiap warga Muhammadiyah dituntut untuk meneladani perilaku Nabi Muhammad dalam mepraktekkan akhlaq mulia28, sehingga menjadi uswah hasanah29, yang diteladani oleh sesama berupa sifat shiddiq, amanah, tabligh dan fathanah.

3. Dalam Ibadah

Setiap warga Muhammadiyah dituntut untuk senantiasa membersihkan jiwa/hati kearah terbentuknya pribadi yang muttaqin dengan beribadah yang tekun dan menjauhkan diri dari jiwa/nafsu yang buruk31, sehingga terpancar kepribadian yang shalih32 yang mengahdirkan kedamaian dan kemanfaatan bagi diri dan sesamanya.

KEHIDUPAN DALAM KELUARGA

1. Kedudukan Keluarga

Keluarga merupakan tiang utama kehidupan ummat dan bangsa sebagai tempat sosialisasi nilai-nilai yang paling intensif dan menentukan, karenanya menjadi kewajiban setiap anggota Muhammadiyah untuk mewujudkan keluarga yang sakinah, mawaddah wa al-rahmah40 yang dikelanal dengan keluarga sakinah.

2. Fungsi Keluarga

(3)

sehingga anak-anak tumbuh menjadi generasi muslim Muhammadiyah yang dapat menjadi pelangsung dan penyempurna gerakan dakwah di kemudian hari.

3. Aktifitas Keluarga

Di tengah arus media elektronik dan media cetak yang makin terbuka, keluarga - keluarga di lingkungan Muhammadiyah kian dituntut perhatian dan

kesungguhan dalam mendidik anak-anak dan menciptakan suasana yang harmonis agar terhindar dari pengaruh-pengaruh negatif dan terciptanya suasana pendidikan keluarga yang positif dengan nilai-nilai jaran Islam.

KEHIDUPAN BERMASYARAKAT

Islam mengajarkan agar setiap muslim menjalin persaudaraan dan kebaikan dengan sesama seperti dengan tetangga maupun anggota masyarakat lainnya masing - masing dengan memelihara dan kehormatan baik dengan sesama muslim maupun dengan non-muslim, dalam hubungan ketetanggaan bahkan Islam memberikan perhatian sampai ke area 40 rumah yang dikategorikan sebagai tetangga yang harus dipelihara hak-haknya.

Setiap keluarga dan anggota keluarga Muhammadiyah harus menunjukkan keteladanan dalam bersikap baik kepada tetangga 50, memelihara kemuliaan dan memuliakan tetangga51, bermurah hati kepada tetangga yang ingin

menitipkan barangnya atau hartanya52, menjenguk bila tetangga sakit53, mengasihi tetangga sebagaimana mengasihi keluarag/diri sendiri54,

menyatakan ikut gembira / senang hati bila tertangga memperoleh kesuksesan, menghibur dan mempberikan perhatian yang simpati bila tetangga mengalami musibah atau kesusahan, menjenguk / melayat bila ada tetangga yang

meninggal dan ikut mengurusi sebagaimana hak - hak tetangga yang

diperlukan, bersikap pemaaf dan lemah lembut billa tetangga salah, jangan selidik-menyelidiki keburukan-keburukan tetangga, membiasakan memberikan sesuatu seperti makanan dan oleh-oleh kepada tetangga, jangan menyakiti tetangga, bersikap kasih sayang dan lapang dada, menjauhkan diri dari segala sengkerta dan sifat tercela, berkunjung dan saling tolong menolong, dan melakukan amar makruf nahi munkar dengan cara yang tepat dan bijaksana.

(4)

Persyarikatan Muhammadiyah merupakan amanat yang didirikan dan dirintis oleh KH. Ahmad Dahlan untuk kepentingan menjunjung tinggi dan menegakkan Agama Islam sehingga terwujud masyarakat utama yang diridloi Allah SWT, karena itu menjadi tanggung jawab seluruh warga dan lebih-lebih pimpinan Muhammadiyah di berbagai tingkatan dan bagian untuk benar-benar

menjadikan organisasi (persyarikatan) ini sebagai gerakan dakwah Islam yang kuat dan unggul dalam berbagai bidang kehidupan.

Setiap anggota, kader, dan pimpinan Muhammadiyah berkewajiban memelihara, melangsungkan, dan menyempurnakan gerak dan lankah

persyarikatan dengan penuh komitmen yang istiqomah, kepribadian yang mulia (shiddiq, amanah, tabligh, fathanah), wawasan pemikiran dan visi yang luas, keahlian yang tinggi, dan amaliah yang unggul sehingga Muhammadiyah menjadi gerakan Islam yang benar-benar menjadi rahmatan li al-'alamin.

Dalam menyelesaikan masalah-masalah dan konflik-konflik yang timbul di Persyarikatan hendaknya mengutamakan musyawarah dan mengacu pada peraturan organisasi yang memberikan kemaslahatan dan kebaikan seraya dijauhkan tindakan-tindakan anggota pimpinan yang tidak terpuji dan dapat merugikan kepentingan Persyarikatan.

Mengairahkan ruh al-Islan dan ruh al-jihad dalam seluruh gerakan Persyarikatan dan suasana di lingkungan Persyarikatan sehingga

Muhammadiayh benar-benar tampil sebagai gerakan Islam yang istiqamah dan memiliki ghirah yang tinggi dalam mengamalkan Islam.

Setiap anggota pimpinan Persyarikatan harus menunjukkan keteladanan dalam bertutur kata dan bertingkah laku, beramal dan berjuang, disiplin dan tanggung jawab, dan memiliki kemauan untuk belajar dalam segala lapangan kehidupan yang diperlukan.

Dalam acara-acara rapat dan pertemuan-pertemuan di lingkungan

persyarikatan hendaknya ditumbuhkan kembali pengajian-pengajian singkat (seperti kuliah tujuh menit) dan selalu mengindahkan waktu shalat dan menunaikan shalat jamaah sehingguh gairah keberagamaan yang tinggi yang menjadi bangunan bagi pembentukan kesalihan dan ketakwaan dalam

(5)

KEHIDUPAN DALAM MENGELOLA AMAL USAHA

Amal Usaha Muhammadiyah adalah salah satu usaha dari usaha-usaha persyarikatan untuk mencapai maksud dan tujuan Persyarikatan, yakni menegakkan dan menjunjung tinggi Agama Islam sehingga terwujud Masyarakat Utama yang diridlai Allah SWT. Oleh karenanya semua bentuk kegiatan amal usaha Muhammadiyah harus mengarah kepada terlaksananya maksud dan Tujuan Persyarikatan dan seluruh pimpinan serta pengelola amal usaha berkewajiban untuk melaksanakan misi utama Muhammadiyah itu sebaik-baiknya sebagai misi dakwah75.

KEHIDUPAN DALAM MENGEMBANGKAN PROFESI

Profesi merupakan bidang pekerjaan yang dijalani setiap orang sesuai dengan keahliannya yang menuntut kesetiaan (komitmen), kecakapan (skill), dan tanggung jawab yang sepadan sehingga bukan semata-mata urusan mencari nafkah berupa materi belaka.Dalam menjalani profesi hendaknya

mengembangkan prinsipbekerja sama dalam kebaikan dan ketakwaan serta tidak bekerja sama dalam dosa dan permusuhan.

KEHIDUPAN DALAM BERBANGSA DAN BERNEGARA

Warga Muhammadiyah perlu mengambil bagian dati dak boleh apatis (masa bodoh) dalam kehidupan politik melalui berbagai saluran secara positif sebagai wujud bermuamalah sebagaimana dalam bidang kehidupan lain dengan

prinsip-prinsi etika / akhlaq Islam dengan sebaik-baiknya dengan tujuan membangun masyarakat utama yang diridlai Allah SWT.

Beberapa prinsip dalam berpolitik harus ditegakkan dengan sejujur-jujurnya dan sesungguh-sungguhnya yaitu menunaikan amanat83 dan tidak boleh menghianati amanat84, menegakkan keadilan, hukum dan kebenaran85, ketaatan kepada pemimpin sejauh sejalan dengan dengan perintah Allah dan Rasul86, mengemban risalah Islam87, menunaikan amar ma'ruf, nahi munkar, dan mengajak orang untuk beriman kepada Allah88, mempedomani al-Quran dan as-Sunnah89, mementingkan kesatuan dan persaudaraan umat

(6)

melakukan kezaliman94, tidak mengambil hak orang lain95, berlomba dalam kebaikan96, bekerja sama dalam kebaikan dan ketakwaan serta tidak bekerja sama (konspirasi) dalam melakukan dosa dan permusuhan97, memelihara hubungan baik antara pemimpin dan warga98, memelihara keslamatan umum99, hidup berdampingan dengan baik dan damai100, tidak melakukan fasad dan kemunkaran101, memeintingkan ukhuwah Islamiyah102, dan prinsip-prinsip lainnya yang maslahat, ihsan dan ishlah.

Berpolitik dalam dan demi kepentingan umat dan bangsa sebagai wujud ibadah kepada Allah dan ishlah serta ihsan kepada sesama, dan jangan mengorbankan kepentingan yang lebih luas dan utama itu demi kepentinagn diri sendiri dan kelompok yang sempit.

Para politisi Muhammadiyah berkewajiban menunjukkan keteladanan diri (uswah hasanah) yang jujur, benar, adil serta menjauhkan diri dri perilaku politik yang kotor, membawa fitnah, fasad (kerusakan), dan hanya

mementingkan diri sendiri.

Berpolitik dengan kesalihan, sikap positif, dan memiliki cita-cita bagi

terwujudnya masyarakat utama dengan fungsi amar ma'ruf dan nahi munkar yang tersistem dalam satu kesatuan imamah yang kokoh.

Menggalang silaturahim dan ukhuwah antar politisi dan kekuatan politik yang digerakkan oleh para politisi Muhammadiyah secara cerdasa dan dewasa.

KEHIDUPAN DALAM MELESTARIKAN LINGKUNGAN

Lingkungan hidup sebagai alam sekitar dengan segala isi yang terkandung di dalamnya merupakan ciptaan dan anugerah Allah yang harus diolah /

dimakmurkan, dipelihara, dan tidak boleh dirusak103.

Setiap muslim khususnya warga Muhammadiyah berkewajiban untuk melakukan konservasi sumber daya alam dan ekosistemnya sehingga terpelihara proses ekologis yang menjadi penyangga kelangsungan hidup, terpeliharanya keanekaragaman sumber genetik dan berbagai tipe

(7)

terpelihara kelangsungan dan kelestariannya demi keselamatan, kebagahagiaan, kesejahteraan, dan kelangsungan hidup manusia dan keseimbangan sistem kehidupan di alam raya ini104.

Setiap muslim khususnya warga Muhammadiyah dilarang malakukan usaha-usaha dan tindakan-tindakan yang menyebabkan kerusakan lingkungan alam termasuk kehidupan hayati seperti binatang, pepohonan, maupun lingkunagn fisik dan biotik termasuk air laut, udara, sungai, dan sebagainya yang

menyebabkan kehilangan kesimbangan ekosistem dan timbulnya bencana dalam kehidupan105.

Memasyarakatkan dan mempraktikkan budaya bersih, sehat, dan indah

lingkunagn disertai kebersihan fisik dan jasmani yang menunjukkan keimanan dan kesalihan106.

Melakukan tindakan-tindakan amar makruf dan nahi munkar dalam

menghadapi kezaliman, keserakahan, dan rekayasa serta kebijakan-kebijakan yang mengarah, mempengaruhi, dan menyebabkan kerusakan lingkungan dan tereksploitasinya sumber-sumber daya alam yang menimbulkan kehancuran, kerusakan, dan ketidakadilan dalam kehidupan.

Melakukan kerja sama-kerja sama dan aksi-aksi praksis dengan berbagai pihak baik perseorangan maupun kolektif untuk terpeliharanya keseimbangan, kelestarian, dan keselamatan lingkungan hidup serta terhindarnya kerusakan-kerusakan lingkungan hidup sebagai wujud dari sikap pengabdian dan

kekhalifahan dalam mengemban misi kehidupan di muka bumi ini untuk keselamatan hidup di dunia dan akhirat107.

THAHARA :

1. Pengertian Thahara

Thaharah artinya : Hal bersuci atau hal kebersihan.

Arti disini : hal cara bagaimana mensucikan diri (badan, pakaian, dll) agar boleh sahmenjalankan ibadah.

2. Macam-Macam Thahara

(8)

Bersuci dari najis danBersuci dari hadats.

1. Bersuci Dari Najis :

Arti najis menurut bahasa: apa saja yang kotor. Sedang menurut syar’i berarti kotoran yang mengakibatkan shalat tidak sah, seperti darah dan air kencing.

2. Bersuci Dari Hadats

Menurut bahasa, al-Hadats artinya: peristiwa. Sedang menurut syara’ artinya: perkara yang dianggap mempengaruhi anggota-anggota tubuh, sehingga menjadikan shalat dan pekerjaan-pekerjaan lain yang sehukum dengannya tidak sah karenanya, karena tidak ada sesuatu yang meringankan. Al-Hadats diartikan juga hal-hal yang membatalkan wudhu’, sebagaimana yang akan kita bicarakan nanti, dan juga diartikan hal-hal yang mewajibkan mandi.

Pembagian Hadats

Hadats dibagi menjadi dua: hadats kecil dan hadats besar.

Hadatas kecil ialah perkara yang dianggap mempengaruhi empat anggota tubuh manusia, yaitu: wajah, dua tangan, kepala dan dua kaki, lalu menjadikan shalat dan semisalnya tidak sah. Hadats itu bisa hilang dengan cara berwudhu’. Dan sesudah itu, seseorang siap untuk melakukan shalat dan semisalnya.

Hadats besar ialah perkara yang dianggap mempengaruhi seluruh tubuh, lalu menjadikan shalat dan pekerjaan-pekerjaan lain yang sehubungan dengannya tidak sah karenanya. Hadats besar ini bisa hilang dengan cara mandi. Dan sesudah itu seseorang diperbolehkan melakukan pekerjaan-pekerjaan yang tadi terlarang karenanya.

Adapun thaharah dalam ilmu Fiqih ialah :

1. Menghilangkan Najis

2. Berwudlu

(9)

4. Tayammum

Alat terpenting untuk bersuci adalah Air

A. Macam-Macam Air

Air yang dapat dipergunakan untuk bersuci itu ada 7 (tujuh) macam :

1. Air Hujan

2. Air Sungai

3. Air Laut

4. Air dari Mata Air (Telaga)

5. Air Sumur

6. Air Salju

7. Air Embun

Ringkasnya ialah air bersih yang sewajarnya.

B. Pembagian Air

Air tersebut diatas itu dapat terbagi menjadi 4 (empat) :

1. Air suci dan mensucikan, artinya dapat sah dapat digunakan untuk bersuci dan tidak makruh, air semacam itu ialah air mutlak (muthlag). Artinya : Air yang sewajarnya, bukan air yang telah bersyarat. air kelapa dan air kopi bukan air mutlak lagi, karena telah bersyarat, keduanya itu suci dan dapat diminum, tetapi tidak dapat sah dipergunakan untuk bersuci seumpama berwudlu atau mandi.

2. Air yang suci tetapi tidak dapat dipergunakan untuk bersuci seumpama wudlu, mandi dan menghilangkan najis. Air yang semacam itu :

o Air sedikit yang sudah bekas dipakai (musta'mal) dari berwudlu atau mandi.

(10)

3. Air yang suci dan dapat mensucikan, tetapi makruh memakainya, yaitu air yang terjemur(musyammas).

4. Air bernajis (mutannajis)

Air yang bernajis itu ada 2 (dua) macam :

o Jika air itu sedikit, kemudian kemasukan najis, maka ia tidak sah dipakai untuk bersuci, dan ia tetap najis hukumnya, baik berubah sifatnya atau tidak.

o jika air itu banyak, (artinya lebih dari 216 liter) maka apabila kemasukan najis yang terlalu sedikit yang tidak merubah sifatnya, maka hukumnya tetap suci dan dapat sah dipergunakan untuk bersuci, tetapi apabila berubah sifatnya (bau, rupa, dan rasanya), maka tidak lagi dapat (tidak sah) dipergunakan untuk bersuci.

"Air sedikit artinya kurang dari dua kulah (kolam) dan kalau dihitung dengan liter kurang dari 216 liter.

o Air banyak ialah air yang lebih dari 216 liter. Dua kulah sama dengan 216 liter. jika berbentuk bak, maka besarnya sama dengan panjangnya 60cm, lebarnya 60cm, dan dalamnya 60cm."

Pengertian Najis (Kotoran)

Yang dimaksud dengan Najis atau Kotoran disini adalah air kencing, darah, nanah, bangkai, bekas dijilat anjing, dan lain sebagainya.

semua najis itu harus kita bersihkan dari badan kita, badan kita dan tempat kita.

Pembagiannya :

· Najis Ringan atau Najis Mukhaffafah, adalah air kencing bayi (anak kecil) laki-laki yang umurnya kurang dari 2 (dua) bulan, dan belum makan selain air susu.

Cara membersihkannya : cukup dengan memercikkan air ke bagian yang terkena sampai bersih.

(11)

kemudian dicuci dengan air bersih 7 (tujuh) kali, salah satunya dengan campuran tanah.

· Najis Biasa (sedang) atau Najis Mutawassitah, yaitu kotoran manusia atau binatang, air kencing, bangkai (selainbangkai ikan air, belalang dan mayat manusia), darah, nanah, dan sebagainya selain yang tersebut dalam najis ringan dan najis berat. Cara membersihkannya : Cukup sekali dengan air sehingga hilang sifatnya. Tetapi apabila tidak mungkin hilang semua sifatnya (bau, rasa dan rupanya) maka dimaafkanlah adanya bekas najis itu.

Adapun cara membersihkan kulit binatang dengan cara disamak.

Menurut wujudnya Najis itu dibagi menjadi 2 (dua) :

1. 'Ainy , artinya berwujud benda.

2. Hukmi , artinya hanya hukumnya saja, sedang wujud bendanya tidak ada.

Dalam pada itu ada beberapa macam najis yang dimaafkan. Diantaranya ialah :

1. Bangkai binatang yang darahnya tidak mengalir umpamanya nyamuk, kutu dan sebagainya.

2. Najis yang amat dikit sekali.

3. Nanah atau Darah dari kudis (bisulnya) sendiri yang belum sembuh.

4. Debu yang bercampur najis.

Dan lain-lainya yang sangat sukar (susah) menghindarinya.

WUDHU :

1. Pengertian wudhu :

Wudu adalah salah satu cara menyucikan anggota tubuh dengan air.

2.Penggunaan air

(12)

>Air hujan,Air sumur,Air terjun, laut atau sungai,Air dari lelehan salju atau es batu,Air dari tangki besar atau kolam.

B. Jenis air yang tidak diperkenankan :

>Air yang tidak bersih atau ada najis,Air sari buah atau pohon,Air yang telah berubah warna, rasa dan bau dan menjadi pekat karena sesuatu telah

direndam didalamnya,Air dengan jumlah sedikit (kurang dari 1000 liter) yang terkena sesuatu yang tidak bersih seperti urin, darah atau minuman anggur atau ada seekor binatang mati didalamnya,Air bekas wudu,Air yang tersisa setelah binatang haram meminumnya seperti anjing, babi atau binatang mangsa,Air yang tersisa oleh seseorang yang telah mabuk karena khamr (minuman keras).

3. Syarat wudu

Ada 4(empat) syarat untuk berwudu;

1. Niat

2. Air yang digunakan harus thohur (suci dan mensucikan), maka tidak sah

berwudu dengan air yang najis

3. Menghilangkan hal-hal yang bisa mengahalangi sampainya air ke kulit.

4. Jika seseorang selesai dari buang hajat maka dia harus bersuci dahulu

sebelum berwudu.

4.Rukun Wudhu

Rukun berwudu yang disepakati ada empat:

1. Mencuci wajah, 3. Mengusap kepala,dan

(13)

5. Sunnah wudhu :

Berikut sunnah-sunnah wudu yang biasa dilakukan oleh Nabi Muhammad:

1. Bersiwak,

2.Mencuci kedua tangan sampai pergelangan tangan sebelum berwudu,

3.Mencuci anggota-anggota wudu sebanyak tiga kali, kecuali kepala hanya

sekali,

5.Menyela-nyela jenggot yang tebal,

6.Menyela-nyela jari-jari kaki dan jari-jari tangan,

7.Menyeka

8.Mendahulukan tangan kanan daripada yang kiri dan kaki kanan daripada

kaki kiri.

9.Berdo'a setelah berwudu.

10.Menggunakan air wudu dengan hemat.

6. Yang Membatalkan Wudhu :

Ada beberapa perkara atau hal yang dapat membatalkan syahnya wudu, diantaranya adalah:

1.Keluar sesuatu dari lubang kelamin dan anus, berupa tinja, kencing, kentut,dan semua hadats besar seperti keluarnya air mani, madzi, jima', haid, nifas,

2.Tidur lelap (dalam keadaan tidak sadar),

3.Hilangnya akal karena mabuk, pingsan dan gila,

4.Memakan daging unta,

(14)

TAYAMUM :

A. Arti Definisi / Pengertian Tayamum

Tayamum adalah pengganti wudhu atau mandi wajib yang tadinya seharusnya menggunakan air bersih digantikan dengan menggunakan tanah atau debu yang bersih. Yang boleh dijadikan alat tayamum adalah tanah suci yang ada debunya. Dilarang bertayamum dengan tanah berlumpur, bernajis atau berbingkah. Pasir halus, pecahan batu halus boleh dijadikan alat melakukan tayamum.

Orang yang melakukan tayamum lalu shalat, apabila air sudah tersedia maka ia tidak wajib mengulang sholatnya. Namun untuk menghilangkan hadas, harus tetap mengutamakan air daripada tayamum yang wajib hukumnya bila sudah tersedia. Tayamum untuk hadas hanya bersifat sementara dan darurat hingga air sudah ada.

Tayamum yang telah dilakukan bisa batal apabila ada air dengan alasan tidak ada air atau bisa menggunakan air dengan alasan tidak dapat menggunakan air tetapi tetap melakukan tayamum serta sebab musabab lain seperti yang

membatalkan wudu dengan air.

B. Sebab / Alasan Melakukan Tayamum :

- Dalam perjalanan jauh

- Jumlah air tidak mencukupi karena jumlahnya sedikit

- Telah berusaha mencari air tapi tidak diketemukan

- Air yang ada suhu atau kondisinya mengundang kemudharatan

- Air yang ada hanya untuk minum

(15)

- Pada sumber air yang ada memiliki bahaya

- Sakit dan tidak boleh terkena air

C. Syarat Sah Tayamum :

- Telah masuk waktu salat

- Memakai tanah berdebu yang bersih dari najis dan kotoran

- Memenuhi alasan atau sebab melakukan tayamum

- Sudah berupaya / berusaha mencari air namun tidak ketemu

- Tidak haid maupun nifas bagi wanita / perempuan

- Menghilangkan najis yang yang melekat pada tubuh

D. Sunah / Sunat Ketika Melaksanakan Tayamum :

- Membaca basmalah

- Menghadap ke arah kiblat

- Membaca doa ketika selesai tayamum

- Medulukan kanan dari pada kiri

- Meniup debu yang ada di telapak tangan

- Menggodok sela jari setelah menyapu tangan hingga siku

E. Rukun Tayamum :

- Niat Tayamum.

- Menyapu muka dengan debu atau tanah.

(16)

F. Tata Cara / Praktek Tayamum :

- Membaca basmalah

- Renggangkan jari-jemari, tempelkan ke debu, tekan-tekan hingga debu melekat.

- Angkat kedua tangan lalu tiup telapat tangan untuk menipiskan debu yang menempel, tetapi tiup ke arah berlainan dari sumber debu tadi.

- Niat tayamum : Nawaytuttayammuma listibaa hatishhalaati fardhollillahi ta'aala (Saya niat tayammum untuk diperbolehkan melakukan shalat karena Allah Ta'ala).

- Mengusap telapak tangan ke muka secara merata

- Bersihkan debu yang tersisa di telapak tangan

- Ambil debu lagi dengan merenggangkan jari-jemari, tempelkan ke debu, tekan-tekan hingga debu melekat.

- Angkat kedua tangan lalu tiup telapat tangan untuk menipiskan debu yang menempel, tetapi tiup ke arah berlainan dari sumber debu tadi.

- Mengusap debu ke tangan kanan lalu ke tangan kiri

MANDI WAJIB :

Mandi Wajib (Arab: لسغلا al-ghusl) adalah mandi untuk menghilangkan hadats besar, baik karena junub, atau karena haid, yaitu dengan cara membasuh seluruh tubuh mulai dari atas kepala hingga ujung kaki.

Daftar isi

1 Syarat sah mandi

2 Rukun mandi

(17)

1. Syarat sah mandi

Sebagai pembeda mandi biasa dengan mandi wajib perbedaannya terletak pada niatnya, dan tidak usah diucapkan (lafaz) cukup dalam hati.

2.Rukun mandi

Untuk melakukan mandi janabah, maka ada beberapa hal yang harus dikerjakan karena merupakan rukun (pokok), diantaranya adalah:

Mengguyur air keseluruh badan;

Mengguyur kepala tiga kali, kemudian guyur bagian tubuh yang lain.

Dengan seseorang memenuhi rukun mandi diatas, maka mandinya dianggap sudah sah, dengan disertai niat untuk mandi wajib (al ghuslu). Jika seseorang mandi di pancuran (shower) dan air mengenai seluruh tubuhnya, maka mandinya sudah dianggap sah. Kemudian untuk berkumur-kumur

(madhmadhoh), memasukkan air dalam hidung (istinsyaq) dan menggosok-gosok badan (ad dalk) adalah perkara yang disunnahkan menurut mayoritas ulama.

3.Tata cara mandi sempurna

Berikut adalah tata cara mandi yang disunnahkan, ketika seorang Muslim melakukannya, maka akan membuat mandi wajib tadi lebih sempurna. Yang menjadi dalil dari bahasan ini adalah dua dalil yaitu hadits dari ‘Aisyah dan hadits dari Maimunah.

Mencuci tangan terlebih dahulu sebanyak tiga kali sebelum tangan tersebut dimasukkan dalam bejana atau sebelum mandi;

Membersihkan kemaluan dan kotoran yang ada dengan tangan kiri;

Mencuci tangan setelah membersihkan kemaluan dengan menggosokkan ke tanah atau dengan menggunakan sabun;

(18)

Mengguyur air pada kepala sebanyak tiga kali hingga sampai ke pangkal rambut;

Memulai mencuci kepala bagian kanan, lalu kepala bagian kiri;

Menyela-nyela rambut;

Mengguyur air pada seluruh badan dimulai dari sisi yang kanan setelah itu yang kiri.

SUMBER AJARAN AGAMA ISLAM :

1. Pengertian AL-Qur’an

Al-Qur’an adalah wahyu Allah yang berfungsi sebagai mu’jizat bagi Rasulullah Muhammad saw. sebagai pedoman hidup bagi setiap muslim dan sebagai korektor dan penyempurna terhadap kitab-kitab Allah yang sebelumnya dan bernilai abadi. Sebagai mu’jizat, al-Qur’an telah menjadi salah satu sebab pula bagi masuknya orang-orang Arab di zaman

Rasulullah ke dalam agama Islam, dan menjadi sebab pula bagi

masuknya orang-orang sekarang dan (insya Allah) pada masa-masa yang akan datang.

2. Pengumpulan Al-Qur'an di masa Khulafaur Rasyidin

a. Abu Bakar

Pada masa kekhalifahan Abu Bakar, terjadi beberapa pertempuran (dalam perang yang dikenal dengan nama perang Ridda) yang mengakibatkan tewasnya

beberapa penghafal Al-Qur'an dalam jumlah yang signifikan. Umar bin Khattab yang saat itu merasa sangat khawatir akan keadaan tersebut lantas meminta kepada Abu Bakar untuk mengumpulkan seluruh tulisan Al-Qur'an yang saat itu tersebar di antara para sahabat. Abu Bakar lantas memerintahkan Zaid bin Tsabit sebagai koordinator pelaksaan tugas tersebut. Setelah pekerjaan tersebut selesai dan Al-Qur'an tersusun secara rapi dalam satu mushaf, hasilnya diserahkan kepada Abu Bakar. Abu Bakar menyimpan mushaf tersebut hingga wafatnya.

b. Umar Bin Khathap

kemudian mushaf tersebut berpindah kepada Umar sebagai khalifah

penerusnya,Setelah umar wafat selanjutnya mushaf dipegang oleh anaknya yakni Hafsah yang juga istri Nabi Muhammad SAW.

(19)

Pada masa pemerintahan khalifah ke-3 yakni Utsman bin Affan, terdapat keragaman dalam cara pembacaan Al-Qur'an (qira'at) yang disebabkan oleh adanya perbedaan dialek (lahjah) antar suku yang berasal dari daerah berbeda-beda. Hal ini menimbulkan kekhawatiran Utsman sehingga ia mengambil kebijakan untuk membuat sebuah mushaf standar (menyalin mushaf yang dipegang Hafsah) yang ditulis dengan sebuah jenis penulisan yang baku. Standar tersebut, yang kemudian dikenal dengan istilah cara penulisan (rasam) Utsmani yang digunakan hingga saat ini. Bersamaan dengan standarisasi ini, seluruh mushaf yang berbeda dengan standar yang dihasilkan diperintahkan untuk dimusnahkan (dibakar). Dengan proses ini Utsman berhasil mencegah bahaya laten terjadinya perselisihan di antara umat Islam di masa depan dalam penulisan dan pembacaan Al-Qur'an.

d. Ali Bin Abu Thalib

- sudah ada tanda baca

- penomoran AL-Qur’an - juz

- Ayat

3. Isi kandungan AL-Qur’an

1. Aqidah / Akidah

Aqidah adalah ilmu yang mengajarkan manusia mengenai kepercayaan yang pasti wajib dimiliki oleh setiap orang di dunia. Alquran mengajarkan akidah tauhid kepada kita yaitu menanamkan keyakinan terhadap Allah SWT yang satu yang tidak pernah tidur dan tidak beranak-pinak. Percaya kepada Allah SWT adalah salah satu butir rukun iman yang pertama. Orang yang tidak percaya terhadap rukun iman disebut sebagai orang-orang kafir.

2. Ibadah

Ibadah adalah taat, tunduk, ikut atau nurut dari segi bahasa. Dari pengertian “fuqaha” ibadah adalah segala bentuk ketaatan yang dijalankan atau dkerjakan untuk

mendapatkan ridho dari Allah SWT. Bentuk ibadah dasar dalam ajaran agama islam yakni seperti yang tercantum dalam lima butir rukum islam. Mengucapkan dua kalimah syahadat, sholat lima waktu, membayar zakat, puasa di bulan suci ramadhan dan beribadah pergi haji bagi yang telah mampu menjalankannya.

3. Akhlaq / Akhlak

Akhlak adalah perilaku yang dimiliki oleh manusia, baik akhlak yang terpuji atau akhlakul karimah maupun yang tercela atau akhlakul madzmumah. Allah SWT mengutus Nabi Muhammd SAW tidak lain dan tidak bukan adalah untuk

memperbaiki akhlaq. Setiap manusia harus mengikuti apa yang diperintahkanNya dan menjauhi laranganNya.

4. Hukum-Hukum

(20)

yang beriman untuk mengadili dan memberikan penjatuhan hukuman hukum pada sesama manusia yang terbukti bersalah. Hukum dalam islam berdasarkan Alqur’an ada beberapa jenis atau macam seperti jinayat, mu’amalat, munakahat, faraidh dan jihad.

5. Peringatan / Tadzkir

Tadzkir atau peringatan adalah sesuatu yang memberi peringatan kepada manusia akan ancaman Allah SWT berupa siksa neraka atau waa’id. Tadzkir juga bisa berupa kabar gembira bagi orang-orang yang beriman kepadaNya dengan balasan berupa nikmat surga jannah atau waa’ad. Di samping itu ada pula gambaran yang

menyenangkan di dalam alquran atau disebut juga targhib dan kebalikannya gambarang yang menakutkan dengan istilah lainnya tarhib.

6. Sejarah-Sejarah atau Kisah-Kisah

Sejarah atau kisah adalah cerita mengenai orang-orang yang terdahulu baik yang mendapatkan kejayaan akibat taat kepada Allah SWT serta ada juga yang mengalami kebinasaan akibat tidak taat atau ingkar terhadap Allah SWT. Dalam menjalankan kehidupan sehari-hari sebaiknya kita mengambil pelajaran yang baik-baik dari sejarah masa lalu atau dengan istilah lain ikibar.

7. Dorongan Untuk Berpikir

Di dalam al-qur’an banyak ayat-ayat yang mengulas suatu bahasan yang memerlukan pemikiran menusia untuk mendapatkan manfaat dan juga membuktikan

kebenarannya, terutama mengenai alam semesta.

4. Fungsi AL-Qur’an

a. Al-Huda (petunjuk), Dalam Qur'an terdapat tiga kategori tentang posisi Qur'an sebagai petunjuk. Pertama, petunjuk bagi manusia secara umum. Kedua, al-Qur'an adalah petunjuk bagi orang-orang bertakwa. Ketiga, petunjuk bagi orang-orang yang beriman.4

b. Al-Furqon (pemisah), Dalam al-Qur'an dikatakan bahwa ia adalah ugeran untuk membedakan dan bahkan memisahkan antara yang hak dan yang batil, atau antara yang benar dan yang salah.

c. Al-Asyifa (obat). Dalam al-Qur'an dikatakan bahwa ia berfungsi sebagai obat bagi penyakit-penyakit yang ada dalam dada (mungkin yang dimaksud disini adalah penyakit Psikologis)

d. Al-Mau’izah (nasihat), Didalam Al-Qur’an di katakan bahwa ia berfungsi sebagai penasihat bagi orang-orang yang bertakwa

(21)

A. Pengertian Sabab An-Nuzul

Kata asbab an-nuzul menurut bahasa adalah sebab-sebab yang melatarbelakangi terjadinya sesuatu. Meskipun segala fenomena yang melatarbelakangi terjadinya sesuatu dapat disebut asbab an-nuzul, dalam pemakaiannya ungkapan asbab an-nuzul khusus dipergunakan untuk menyatakan sebab-sebab yang melatarbelakangi turunnya Al-Qur’an, seperti halnya asbab al-wurud secara khusus digunakan bagi sebab-sebab terjadinya Hadits.

B. Hubungan Sebab an-Nuzul dengan Ayat-ayat al-Qur’an

Agar kita lebih mudah memahami hubungan antara sabab an-Nuzul dengan ayat-ayat al-Qur’an, maka penulis merasa perlu mengutarakan sebuah contoh mengenai urutan-urutan fase penetapan hukum keharaman khamr. Dimana terdapat tiga ayat dalam Al-Qur’an yang menceritakan “kehalusan” hukum haramnya, yaitu: Surat Al Baqarah ayat 219, kemudian disusul dengan ayat lain yaitu dalam surat An Nisa’ ayat 43, dan yang terakhir adalah Surat Al Maaidah ayat 90-91. Di sinilah peranan penting Asbab an-nuzul, dimana untuk menentukan ayat yang mansukh harus diketahui dengan jelas urutan turunnya ayat-ayat tersebut.[4]

c. Al-Qur’an Diturunkan secara Bertahap

Terkait dengan peristiwa turunnya al-Qur’an yang tidak sekaligus (berangsur-angsur) dan mempertimbangkan realitas dan sebab itu maka menimbulkan keusilan

dikalangan pembantahnya yaitu kaum Musyriq karena mereka mempunyai konsep mengenai kitab-kitab sebelumnya yang diturunkan secara lengkap dan terbukukan sebagaimana papan (lauh) milik Musa as.

1. Sunnah :

->Segala yang datang dari Rasulullah SAW,baik

perkataan,perbuatan,maupun ketetapan (testimonial ) yang bisa dijadikan dasar penetapan hukum syara’

->fungsi sunnah terhadap AL-Qur’an

1.Memberikan perincian (tafshil) terhadap ayat-ayat yang global (mujmal). Misalnya ayat-ayat yang menunjukkan perintah shalat, zakat, haji di dalam al-Qur'an disebutkan secara global. Dan sunnah menjelaskan secararinci mulai dari syarat, rukun, waktu pelaksanaan dan lain-lain yang secararinci dan jelas mengenaitata cara pelaksanaan ibadah shalat, zakat dan haji. 2.Mengkhususkan (takhsis) dari maknaumum ('am) yang disebut kan dalam al-Qur'an. Seperti

(22)

kafirdan orang kafir pun tidak boleh mewarisiharta orang muslim" (HR. Jama'ah). Dan hadits "Pembunuh tidak mewarisiharta orang yang dibunuh sedikit pun" (HR. Nasa'i).

3.Membatasi (men-taqyid-kan) makna yang mutlakdalamayat-ayat al-Qur'an. Seperti al-Maidah 38

ميكح زيزع لاو لا نم لكن ابسك امب ءازج امهيديأ اوعطقاف ةقراسلاو قراسلاو Artinya : "Laki-laki yang mencuri dan perempuan yang mencuri potonglah tangan keduanya (sebagai) pembalasan bagi apa yang mereka kerjakan dan sebagai siksaan dari Allah SWT. Dan Allah Maha Perkasa LagiMahaBijaksana". (QS. Al-Maidah : 38).

Ayat di atas dibatasi dengan sabda Nabi SAW : "Potongtangan ituuntuk seperempat dinar

ataulebih". Dengan demikian hukuman potong tangan bagi yang mencuri seperempat dinar

atau lebih saja.

4.Menetapkan dan memperkuat hukum yang telah ditentukan oleh al-Qur'an. Misalnya al-Hajj : 30.

. ..

روزلا لوق اوبنتجاو Artinya :"… Dan jauhilah perkataan-perkataan dusta". QS. Al-Hajj : 30).

Kemudian Rosulullah SAW menguatkannya dalam sabdanya : "Perhatikan! Aku akan memberitahukan kepadamu sekalian sebesar-besarnya dosa besar! Sahutkami : "Baiklah hai Rasulullah". Beliau meneruskan sabdanya : "1. Musyrik kepada Allah SWT. 2. Menyakiti orang tua".Saatitu Rosulullah sedang bersandar, tiba-tiba duduk seraya bersabdalagi :

"Awasberkata (bersaksi) palsu". (HR. Bukhori Muslim)

5.Menetapkan hokum dan aturan yang tidak didapati dalam Qur'an. Misalnya di dalam al-Qur'an tidak terdapat larangan untuk memaduseorang perempuan dengan bibinya, larangan terdapat dalam hadits yang berbunyi : "Tidak boleh seseorang memaduseorang perempuan dengan 'ammah (saudaribapak) nyadanseorang perempuan dengan khalah

(saudaraibu)nya". (HR. Bukhoridan Muslim).

->kekuatansunnahataukehujahansunnah :

(23)

maka saya memutuskannya dengan berpedoman kepada sunnah Rasulullah Saw.” Adapun sepeninggal Rasulullah Saw. jika mereka tidak menemukan ketentuan ajaran agama melalui al-Qur’an, mereka masih tetap

berpedoman kepada sunnah Rasulullah Saw. Sebagai contoh, Abu Bakr Ra. ketika tidak menemukan sunnah Rasulullah Saw. terkait suatu perkara, maka beliau bertanya kepada sahabat yang lain adakah mereka mengetahui adanya sunnah Rasulullah Saw. yang megatur terkait persoalan yang

dimaksud. Begitu juga yang dilakukan oleh Umar bin Khatab Ra. dan sahabat yang lainnya ketika akan berfatwa atau melahirkan ketentuan hukum selama riwayat yang disampikan itu benar dari Rasulullah Saw.

- Qiyas

a. Menyarakansuatukejadian yang

tidakadanashnyaatauhukumdengansuatukejadian yang

sudahadaniatnyakarenadisebabkanadanyaduakejadianitudalamsebabhu kumnya . missal dilarangtransaksijualbelisaatwaktushalatjum’at ( Q.S AL – Jumu’ah : 9 ). Illalnyapadaayatitukarnamelalaikanshalat .

IBADAH :

1. Pengertian Ibadah

Secara bahasa ibadah berarti mematuhi, tunduk, berdo’a. Hal ini ditemukan penjelasannya dalam Al-Qur’an Surah yaasin ayat 60 yang berbunyi :

۞ ننيببمممومندمععممكملعۥهمنمعإبنعنطعطميشمعلٱااودمبممعتعالمعنأعمعدعاءعيينببعيعطممكمميلعإبمدهعمعأعمملعأع٦٠

Artinya :Bukankah Aku telah memerintahkan kepadamu hai Bani Adam supaya kamu tidak menyembah syaitan? Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagi kamu”

Sedangkan pengertian ibadah menurut istilah adalah kepatuhan kepada dzat yang memiliki puncak keagungan, Tuhan Yang Maha Esa. Ibadah mencakup segala bentuk kegiatan yang dilakukan oleh setiap mukmin muslim dengan tujuan untuk mencari keridhaan Allah SWT.

(24)

a. Untuk memperlihatkan perasaan hina dihadapan Allah dan bertekat meningkatkan kualitas takwa,

b. Memperlihatkan rasa cinta sesungguhnya kepada Allah, c. Memperlihatkan rasa takut kepada Allah dari azabnya dan

pengharapan yang seutuhnya,

d. Memperlihatkan rasa syukur yang mendalam thd semua nikmat Allah

3. Dasar Hukum Ibadah

Didalam Al-Qur’an terdapat penjelasan bahwa penciptaan manusia oleh Allah tidak mengandung maksud lain kecuali agar mereka menyembah Allah

نبودمبممعيعلبالمعإبسعنإبملٱوعنمعجبملٱتممقلعخعامعوع

٥٦

Artinya : Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku

4. MACAM-MACAM IBADAH DITINJAU DARI BERBAGAI SEGI

Ibadah ditinjau dari beberapa segi memiliki begitu banyak klasifikasi, mulai dari ruang lingkup bentuk dan sifat, dan juga lain sebagainya klasifikasi yang dimaksut antara lain:

a. Dari Segi Ruang Lingkupnya.

Ditinjau dari segi ruang lingkupnya, ibadah dapat dibagi menjadi dua macam:

1. Ibadah khashsah, yaitu ibadah yang ketentuan dan caranya pelaksanaannya secara

khusus sudah ditetapkan oleh nash, seperti shalat, zakat, puasa dan haji

2. Ibadah ‘ammah, yaitu semua perbuatan baik yang dilakukan dengan niat yang baik

dan semata-mata karena Allah SWT (ikhlas), seperti makan dan minum, bekerja,

amar ma’ruf nahi munkar, berlaku adil, berbuat baik kepada orang lain dan

sebagainya.

b. Dari Segi Bentuk dan Sifatnya.

Ditinjau dari segi bentuk dan sifatnya ibadah terbagi dalam enam macam antara lain: 1. Ibadah yang berupa perkataan dan ucapan lidah, seperti: tasbih, tahmid, tahlil,

takbir, taslim, do’a, membaca hamdalah oleh orang bersin, tasymit (menyahuti) orang

(25)

(memberi fatwa), mengungkapkan persaksian (syahadah), membaca iqamah,

membaca adzan, membaca Al-Qur’an, membaca basmalah ketika hendak makan, minum dan menyembelih binatang, membaca Al-Qur’an ketika dikejuti syaitan dan lain-lain sebagainya.

2. Ibadah-ibadah berupa perbuatan, seperti menolong orang yang karam atau yang tenggelam, berjihad di jalan Allah SWT, membela diri dari gangguan, menyelenggarakan mayat dan mandi.

3. Ibadah-ibadah yang berupa menahan diri dari mengerjakan sesuatu pekerjaan. Termasuk kedalam ibadah ini, ibadah puasa, yaitu menahan diri dari makan, minum dan dari segala yang merusak puasa.

4. Ibadah-ibadah yang terdiri dari melakukan dan menahan diri dari suatu perbuatan, seperti ‘itikaf (duduk dirumah Allah) serta menahan diri dari ijma’ dan mubasyaroh

(bergaul dengan istri), haji, tawaf, wukuf di Arafah, ihram serta menahan diri ketika haji atau umrah dari menggunting rambut, memotong kuku, jima’, nikah dan menikahkan, berburu, menutup muka oleh para wanita dan menutup kepala oleh lelaki.

5. Ibadah-ibadah yang bersifat menggugurkan hak, seperti membebaskan orang yang berhutang dari hutangnya dan memaafkan kesalahan dari orang yang bersalah dan memerdekakan budak dengan kaffarat.

6. Ibadah-ibadah yang meliputi perkataan, pekerjaan, khudu’, khusyu’, menahan diri dari berbicara dan dari berpaling lahir dan batin dari yang diperintahkan kita menghadapinya, seperti shalat. Shalat di pandang sebagai ibadah yang paling utama, karena shalat melengkapi perbuatan-perbuatan yang lahir dan batin, melengkapi ucapan-ucapan dan menahan diri dari berbicara serta menahan diri dari memalingkan hati dari Allah SWT.

5. Dari Segi Sifat, Waktu, Keadaan, dan Rukunya

Apabila ditinjau dari segi sifat, waktu, keadaan dan hukumnya, ibadah terbagi menjadi:

1. Muadda, yaitu ibadah yang dikerjakan dalam waktu yang ditetapkan syara’. Ibadah tersebut dilakukan pada waktu yang ditetapkan itu untuk pertama kalinya, bukan sebagai pengulangan. Pelaksaan ibadah ini disebut dengan ibadah tunai (ada’).

(26)

3. Mu’ad, yaitu ibadah yang diulang sekali lagi dalam waktunya untuk menambah kesempurnaan, misalnya melaksanakan shalat secara berjamaah dalam waktunya yang ditentukan setelah melaksanakannya secara sendirian pada waktu yang sama.

4. Muthlaq, yaitu ibadah yang tidak dikaitkan waktunya oleh syara’ dengan sesuatu waktu yang terbatas, seperti membayar kiffarat, sebagai hukuman bagi pelanggar sumpah.

5. Muwaqqat, yaitu ibadah yang dikaitkan oleh syara’ dengan waktu tertentu yang terbatas, seperti shalat pada waktu subuh, zuhur, asar, magrib dan isya. Termasuk juga puasa pada bulan ramadhan.

6. Muwassa’, yaitu ibadah yang lebih luas waktunya dari yang diperlukan untuk melaksanakan kewajiban yang dituntut pada waktu itu, seperti shalat lima waktu. Seorang yang shalat diberikan kepadanya hak mengerjakan shalatnya di awal waktu, di pertengahan dan di akhirnya.

7. Mudhayyaq (mi’yar), yaitu ibadah yang waktunya sebanyak atau sepanjang

fardhu atau di-fardhu-kan dalam waktu itu, seperti puasa. Dalam bulan ramadhan,

hanya dikhususkan untuk puasa wajib dan tidak boleh dikerjakan puasa yang lain pada waktu itu seperti puasa sunnah, nazar dan lain-lain.

8. Dzusyabain, yaitu ibadah yang mempunyai persamaan dengan mudhayyaq dan

mempunyai persamaan pula dengan muwassa’, seperti pada ibadah haji. Dari segi pelaksanaanya, ibadah haji menyerupai mudayyaq, karena hanya diwajibkan sekali dalam setahun, dan dari segi keberlanjutan bulan-bulan haji itu menyerupai

muwassa’.

9. Mu’ayyan, yaitu ibadah tertentu dituntut oleh syara’, misalnya Allah SWT

memerintahkan shalat, maka seorang mukallaf wajib melaksanakan shalat yang diperintahkan itu, tidak boleh mengganti dengan ibadah lain.

10. Mukhayyar, yaitu ibadah yang boleh dipilih salah satu dari yang diperintahkan.

Seperti kebolehan memilih antara ber-istinja’ dengan air dan ber-istinja’ dengan batu.

SEJARAH IBADAH HAJI :

1. Mulai diwajibkan Allah pada tahun ke 4 H ( 625 M ) 2. Syari’at haji dari Nabi ibrahim

(27)

melaksanakan perjalanan kesana. Barang siapa yang ingkar maka Allah Sesungguhnya maha kuasa di seluruh alam

4. Pada Tahun ke-6 H ( April 628 M )

Rasulullah saw. bermimpi menunaikan umrah (kunjungan) ke Makkah dan mengajak para sahabat untuk mewujudkan mimpi tersebut. Rasulullah pun dengan disertai 1.500 sahabat berangkat menuju Makkah, mengenakan pakaian ihram dan membawa hewan-hewan qurban. Kaum musyrikin Quraisy mengerahkan pasukan untuk menghalang-halangi sehingga rombongan dari Madinah tertahan di

Hudaibiyah, 20 km di sebelah barat laut Makkah.

Kaum Quraisy mengutus Suhail ibn Amr untuk berunding dengan Rasulullah. Suhail mengusulkan, antara lain, kesepakatan genjatan senjata dan kaum Muslimin harus menunda umrah dengan kembali ke Madinah, tetapi tahun depan diberikan kebebasan melakukan umrah dan tinggal selama tiga hari di Makkah. Rasulullah menyetujui perjanjian ini meskipun para sahabat banyak yang kecewa, namun tidak ada yang berani menentang keputusan Junjungan mereka.

Sepintas lalu isi perjanjian kelihatannya merugikan kaum Muslimin, tetapi secara politis sangat menguntungkan. "Perjanjian Hudaibiyah" merupakan salah satu tonggak penting dalam sejarah Islam sebab untuk pertama kalinya kaum Quraisy di Makkah mengakui kedaulatan kaum Muslimin di Madinah. Dalam perjalanan pulang ke Madinah, turunlah wahyu Allah dalam Al-Fath 27: "Sungguh Allah akan memenuhi mimpi rasul-Nya dengan sebenar-benarnya, bahwa kamu pasti akan memasuki Masjid al-Haram insya Allah dengan aman. Kamu akan mencukur kepalamu atau menggunting rambut (merampungkan umrah) dengan tidak merasa takut. Dia mengetahui apa yang tidak kamu ketahui, dan Dia menjadikan selain itu kemenangan yang dekat".

5. Pada tahun ke-7 H ( Maret 629 M)

Rasulullah saw. beserta para sahabat untuk pertama kalinya melakukan umrah ke Baitullah. Ketika rombongan Nabi yang berjumlah sekira 2.000 orang memasuki pelataran Kakbah untuk melakukan tawaf, orang-orang Makkah berkumpul

menonton di bukit Qubais dengan berteriak-teriak bahwa kaum Muslimin kelihatan letih dan pasti tidak kuat berkeliling tujuh putaran. Mendengar ejekan ini, Rasulullah bersabda kepada jemaahnya, "Marilah kita tunjukkan kepada mereka bahwa kita kuat. Bahu kanan kita terbuka dari kain ihram, dan kita lakukan thawaf dengan berlari!"

Sesudah mencium Hajar Aswad, Rasulullah saw. dan para sahabat memulai tawaf dengan berlari-lari mengelilingi Kakbah sehingga para pengejek akhirnya bubar. Pada putaran keempat setelah orang-orang usil di atas bukit Qubais pergi, Rasulullah mengajak para sahabat berhenti berlari dan berjalan seperti biasa. Inilah latar belakang beberapa sunah tawaf di kemudian hari: bahu kanan yang terbuka

(28)

pertama.

Selesai tujuh putaran, Rasulullah saw. salat dua rakaat di Maqam Ibrahim, kemudian minum air Zamzam. Sesudah itu Rasulullah me-lakukan sa`i antara Safa dan Marwah, dan akhirnya melakukan tahallul ('menghalalkan kembali') atau membebaskan diri dari larangan-larangan ihram, dengan menyuruh Khirasy mencukur kepala beliau. Ketika masuk waktu duhur, Rasulullah saw. menyuruh Bilal ibn Rabah naik ke atap Kakbah untuk mengumandangkan azan.

Suara azan Bilal menggema ke segenap penjuru sehingga orang-orang Makkah berkumpul ke arah "suara aneh" yang baru pertama kali mereka dengar. Kaum musyrikin menyaksikan betapa rapinya saf-saf kaum Muslimin yang sedang salat berjamaah. Hari itu, 17 Dzulqa`dah 7 Hijri (17 Maret 629), untuk pertama kalinya azan berkumandang di Makkah dan Nabi Muhammad s.a.w. menjadi imam salat di depan Kakbah!

6. pada 20 Ramadan 8 Hijriah (11 Januari 630)

Rasulullah saw. beserta sepuluh ribu pasukan menaklukkan Makkah tanpa

pertumpahan darah. Bahkan, Rasulullah saw. memberikan amnesti umum kepada warga Makkah yang dahulu memusuhi Muslimin. La tatsriba `alaykumu l-yaum. Yaghfiru l-Lahu lakum wa huwa arhamu r-rahimin (Tiada balas dendam bagimu hari ini. Semoga Allah mengampuni kalian dan Dia Paling Penyayang di antara para penyayang), demikian sabda Rasulullah saw. mengutip ucapan Nabi Yusuf a.s. yang tercantum dalam Surat Yusuf 92. Akibatnya, seluruh orang Quraisy masuk Islam. Turunlah Surat An-Nasr: "Tatkala datang pertolongan Allah dan kemenangan, engkau melihat manusia masuk kepada agama Allah berbondong-bondong. Sucikan dan pujilah Tuhanmu dan memohon ampunlah pada-Nya. Sesungguhnya Dia Maha Penerima Taubat". Setelah menerima ayat ini, Rasulullah pada ruku dan sujud dalam salat mengucapkan Subhanaka llahumma rabbana wa bi hamdika, allahumma ghfirli (Maha Suci Engkau, Ya Allah, dan pujian bagi-Mu. Ya Allah, ampunilah daku).

Dengan jatuhnya kota Makkah ke tangan umat Islam, Rasulullah saw. segera memerintahkan pemusnahan berhala-berhala di sekeliling Kakbah serta

membersihkan ibadah haji dari unsur-unsur kemusyrikan dan mengembalikannya kepada syariat Nabi Ibrahim yang asli. Pada tahun 8 Hijriah itu Rasulullah saw. melakukan umrah dua kali, yaitu ketika menaklukkan Makkah serta ketika beliau pulang dari Perang Hunain. Ditambah dengan umrah tahun sebelumnya berarti Rasulullah saw. sempat melakukan umrah tiga kali, sebelum beliau mengerjakan ibadah haji tahun 10 Hijriah.

7. Pada bulan Zulhijah 9 Hijriah (Maret 631)

(29)

baru diterima Nabi bahwa mulai tahun depan kaum musyrikin dilarang mendekati Masjid al-Haram dan menunaikan ibadah haji karena sesungguhnya mereka bukanlah penganut ajaran Nabi Ibrahim a.s.

8. Pada tahun 10 Hijriah (632 Masehi)

Semenanjung Arabia telah dipersatukan di bawah kekuasaan Nabi Muhammad saw. yang berpusat di Madinah, dan seluruh penduduk telah memeluk agama Islam. Maka pada bulan Syawwal Rasulullah saw. mengumumkan bahwa beliau sendiri akan memimpin ibadah haji tahun itu. Berita ini disambut hangat oleh seluruh umat dari segala penjuru sebab mereka berkesempatan mendampingi Rasulullah dan

menyaksikan setiap langkah beliau dalam melakukan manasik (tata cara) haji.

9. Pada Ahad 4 Zulhijah (1 Maret) pagi

Rasulullah dan rombongan memasuki kota Makkah. Di sana sudah menunggu

puluhan ribu umat yang datang dari berbagai penjuru, dan diperkirakan total jemaah haji mencapai lebih dari 100.000 orang. Rasulullah memasuki Masjid al-Haram melalui gerbang Banu Syaibah yang terletak di samping telaga Zamzam di belakang Maqam Ibrahim. Gerbang Banu Syaibah ini kelak populer dengan nama Babu s-Salam ('Pintu Kedamaian'). Perlu dijelaskan bahwa yang disebut Masjid al-Haram waktu itu adalah pelataran Kakbah tempat salat dan tawaf (secara harfiah, masjid artinya tempat sujud), sedangkan bangunan masjid baru dirintis pada masa Khalifah Umar ibn Khattab (634-644) dan mengalami perluasan dari zaman ke zaman sehingga akhirnya megah seperti sekarang.

10.Pada hari Jumat, 9 Zulhijah (6 Maret)

Referensi

Dokumen terkait

Prediksi para ilmuwan yang tergabung di dalam Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC) menyajikan perkiraan yang mengerikan. Selama tahun 1990-2005 terlah

Dalam tubuh ODHA, partikel virus akan bergabung dengan DNA sel pasien, sehingga orang yang terinfeksi HIV seumur hidup akan bergabung dengan DNA sel pasien,

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan menganalisis dimensi ekuitas merek mana yang berpengaruh lebih signifikan pada merek sepeda motor Honda terhadap keputusan

Judul Kegiatan : Pelatihan Pembuatan Dec - Lights (Decorative Lights) Dari Limbah Benang Sebagai Upaya Untuk Meningkatkan Perekonomian Warga Desa Sendang

Maka hipotesis alternatif (Ha) yang berbunyi “Ada korelasi antara kompetensi pedagogik guru aqidah akhlak dalam menyelenggaraka n penilaian dan evaluasi proses dan

[r]

Dengan adanya beberapa proses itu, dokumen yang akan diuji menjadi lebih spesifik dan lebih siap untuk selanjutnya dilakukan proses inti dari sistem ini yaitu proses

Logam berat menjadi berbahaya disebabkan oleh sistem bioakumulasi.Bioakumulasi berarti peningkatan konsentrasi unsur kimia tersebut dalam tubuh makhluk hidup sesuai