Teologi Fundamental
Rekonstruksi Historis merupakan bentuk lain dari studi historis kristis yang cenderung menggali hakekat teks-teks dengan tujuan untuk mencari sebuah pemaknaan awal teks-teks tersebut.
Adolf Harnack (Teolog Protestan Liberal) meyakini bahwa dengan mengidentifikasi sumber-sumber purbakala yang terdekat dengan peristiwa actual akan memungkinkan pencapaian suatu rekonstruksi historis yang dapat dipercaya. Harnack mencoba menangkap sabda karya Yesus dengan menggunakan kombinasi antara Injil Markus dan sumber hipotesis yang disebut Q. Q (Quelle) bukanlah sumber tertulis, melainkan kumpulan pengajaran pendek Yesus yang digunakan untuk menyusun Injil Markus.1
Abad kesembilan belas berusaha menetapkan iman atas dasar yang aman dengan maksud historiografi ilmiah yang didasarkan pada postulat-postulat positifistik dan berakhir pada kebuntuan, yang dengan apik dideskripsikan dalam buku Albert Schweitzer yang berjudul Quest of the Historical Yesus.
Usaha unutk menemukan kebenaran tentang Yesus di suatu bagian dibalik kesaksian Perjanjian Baru masih diteruskan, walaupun lebih sederhana daripada abad sebelumnya. Akhit tahun 1950-an, beberapa penganut Post-Bultmanian, termasuk Fuchs dan Ebelling, merekonstruksi berbagai maksud dan tujuan Yesus, serta pengaruh-Nya yang kuat pada zaman itu, dengan bantuan semacam sejarah eksistensial.
Wolfhart Pannenberg, yang meragukan pendekatan eksistensial ini berusaha mendasarkan iman pada pengetahuan rasional. Sejak zaman pencerahan, ia menegaskan, tidak memungkinkan lagi untuk berargumentasi hanya berdasarkan teks-teks Kitab Suci sebagai sumber yang diinspirasikan dan tanpa kesalahan. Pemaknaan teks-teks kitab suci harus dimulai dalam sosok Yesus pada Perjanjian Baru yang seringkali dituliskan dengan cara yang berbeda-beda dari setiap penulis. Sehingga pemaknaan Yesus secara Historis haruslah secara implisit. Maka, menurut Pannenberg, ekseget harus menggunakan semacam metode detektif, yakni menganalisa dalam suatu pemeriksaan kritis atas beraneka ragam kesaksian yang telah terjadi. Dari metode ini, jika dilakukan dengan benar, akan memperkuat kebenaran ajaran iman kristiani, setidaknya secara garis besar. Ini menjadi suatu keunggulan dari metode pendekatan ini.
Hans Kung berpendapat bahwa eksegese historis kritis merupakan suatu tantangan bagi teologi dogmatic. Sejak Konsili Vatican II, ia menegaskan, ”Teologi Katolik
Teologi Fundamental
berkomitmen pada dirinya sendiri melalui sikap positif pada fakta-fakta biblis, seperti yang diuraikan oleh kritikisme.” Oleh sebab itu, ia berpegang teguh bahwa sumber norma san kriteria iman kristiani adalah diri Yesus secara hostoris, yang melaluinya kita memperoleh jalan dalam metode historis kristis. Ini bertujuan untuk menemukan apa yang menjadi fakta-fakta yang tidak dapat dipungkiri, sebagaimana diketahui melalui kepastian ilmiah atau kemungkinan (probabilitas) tertinggi mengenai diri Yesus secara historis.
Pendekatan ini bernilai sejauh ia dapat menunjang penguatan iman, dengan menunjukkan bahwa kisah kekristenan sesungguhnya memiliki suatu dasar yang kuat, yaitu melalui sabda dan karya Yesus yang berusaha untuk diteladani oleh jemaat Kristen dalam Kitab Suci. Dikontraskan dengan aliran eksperiensial, pendekatan ini menghargai karunia objektif dari hakikat iman, dan mempertahankan dari tindakan menyamakan penebusan atau pewahyuan dengan suatu pengalaman langsung untuk mengenali hal yang transendental. Kelemahan dari metode ini ialah ia tidak berhasil menyetujui bersama mengenai rekonstruksi peristiwa masa lampau, dan seringkali para sejarawan dalam pendekatan ini menggunakan metodologi yang asing bagi iman Kristen; sehingga hanya menghasilkan hipotesa-hipotesa yang terpecah-pecah, tidak mendukung pengembangan bobot iman, dan tidak menghasilkan pendasaran teologis yang kokoh. Karya-karya Tuhan dalam sejarah keselamatan bukanlah pewahyuan kristiani, kecuali diangkat kedalam ranah kesaksian dan kenangan Gereja yang memperkaya Kitab Suci sebagai suatu teks yang teristimewa
Sumber Bacaan:
Dulles, Avery. 1995. The Craft of Theology: From Symbol to System, Expanded Edition. New York: The Crossroad.