BAB II PERLINDUNGAN HUKUM YANG DIBERIKAN UNDANG-UNDANG MEREK INDONESIA TERHADAP MEREK ASING DALAM HAL TERJADI PENDAFTARAN SECARA ITIKAD TIDAK BAIK DI INDONESIA A. Konsep Perlindungan Hukum Dalam Merek - Analisis Hukum Perlindungan Merek Asing Terhadap Tin

Teks penuh

(1)

BAB II

PERLINDUNGAN HUKUM YANG DIBERIKAN UNDANG-UNDANG MEREK INDONESIA TERHADAP MEREK ASING DALAM HAL TERJADI

PENDAFTARAN SECARA ITIKAD TIDAK BAIK DI INDONESIA

A. Konsep Perlindungan Hukum Dalam Merek

Pada masa perkembangan globalisasi sekarang ini, Merek yang adalah salah

satu bagian hak kekayaan intelektual memiliki peranan penting bagi kelancaran

perdagangan barang atau jasa dalam kegiatan perdagangan dan investasi. Demikian

pentingnya peranan merek ini, maka terhadapnya dilekatkan perlindungan hukum,

yakni sebagai objek terhadapnya terkait hak-hak perseorangan atau badan hukum.41

Pengertian perlindungan dalam ilmu hukum adalah suatu bentuk pelayanan

yang wajib dilaksanakan oleh aparat penegak hukum atau aparat keamanan untuk

memberikan rasa aman, baik fisik maupun mental, kepada korban dan sanksi dari

ancaman, gangguan, teror, dan kekerasan dari pihak manapun yang diberikan pada

tahap penyelidikan, penuntutan, dan atas pemeriksaan di sidang pengadilan.42

Jadi Pengertian perlindungan hukum adalah suatu perlindungan yang

diberikan terhadap subyek hukum dalam bentuk perangkat hukum baik yang bersifat

preventif maupun yang bersifat represif, baik yang tertulis maupun tidak tertulis.

Dengan kata lain perlindungan hukum sebagai suatu gambaran dari fungsi hukum,

41Adrian Sutedi,Hak atas Kekayaan Intelektual, (Jakarta: Sinar Grafika, 2009), hal. 91-92. 42Pengertian Perlindungan hukum,

(2)

yaitu konsep dimana hukum dapat memberikan suatu keadilan, ketertiban, kepastian,

kemanfaatan dan kedamaian.43

Perlindungan hukum selalu dikaitkan dengan konsep rechtstaat.44 Konsep

rechtstaat atau konsep Rule of Law karena lahirnya konsep-konsep tersebut tidak

lepas dari keinginan memberikan pengakuan dan perlindungan terhadap hak asasi

manusia, konsepRechtstaatmuncul di abad ke-19 yang pertama kali dicetuskan oleh

Julius Stahl. Pada saatnya hampir bersamaan muncul pula konsep negara hukum (rule

of Law) yang dipelopori oleh A.V.Dicey.45

Negara hukum pada dasarnya bertujuan untuk memberikan perlindungan

hukum bagi rakyat terhadap tindakan pemerintah dilandasi dua prinsip negara hukum,

yaitu :46

1. Perlindungan hukum yang preventif, adalah Perlindungan hukum bersifat

pencegahan dan bertujuan untuk minimalisasi kemungkinan terjadi sengketa.

2. Perlindungan hukum yang represif, adalah Perlindungan hukum yang

bertujuan untuk menyelesaikan sengketa.

Prinsip perlindungan hukum terhadap tindakan pemerintah bertumpu dan

bersumber dari konsep tentang pengakuan dan perlindungan terhadap hak-hak asasi

manusia karena menurut sejarah dari barat, lahirnya konsep-konsep tentang

43

Perlindungan Hukum,http://statushukum.com/perlindungan-hukum.html , diakses tanggal 25 September 2014

44Philipus M Hadjon,Perlindungan Hukum bagi Rakyat di Indonesia, (PT. Bina Ilmu,

Jakarta) , 1987, hlm. 72.

45 Konsep Negara Hukum,

http://tifiacerdikia.wordpress.com/lecture/lecture-5/pendidikan-kewarganegaraan/konsep-negara-hukum/ , diakses 25 September 2014

46 Pengertian Perlindungan Hukum Menurut Para Ahli,

(3)

pengakuan dan perlindungan terhadap hak-hak asasi manusia diarahkan kepada

pembatasan-pembatasan dan peletakan kewajiban masyarakat dan pemerintah.

Aspek dominan dalam konsep barat tentang hak asasi manusia menekankan

eksistensi hak dan kebebasan yang melekat pada kodrat manusia dan statusnya

sebagai individu, hak tersebut berada di atas negara dan di atas semua organisasi

politik dan bersifat mutlak sehingga tidak dapat diganggu gugat. Karena konsep ini,

maka sering kali dilontarkan kritik bahwa konsep Barat tentang hak-hak asasi

manusia adalah konsep yang individualistik. Kemudian dengan masuknya hak-hak

sosial dan hak-hak ekonomi serta hak kultural, terdapat kecenderungan mulai

melunturnya sifat indivudualistik dari konsep Barat.

Dalam merumuskan prinsip-prinsip perlindungan hukum di Indonesia,

landasannya adalah Pancasila sebagai ideologi dan falsafah negara. Konsepsi

perlindungan hukum bagi rakyat di Barat bersumber pada konsep-konsep Rechtstaat

dan ”Rule of The Law”.47 Dengan menggunakan konsepsi Barat sebagai kerangka

berfikir dengan landasan pada Pancasila, prinsip perlindungan hukum di Indonesia

adalah prinsip pengakuan dan perlindungan terhadap harkat dan martabat manusia

yang bersumber pada Pancasila. Prinsip perlindungan hukum terhadap tindak

pemerintah bertumpu dan bersumber dari konsep tentang pengakuan dan

perlindungan terhadap hak-hak asasi manusia karena menurut sejarahnya di Barat,

lahirnya konsep-konsep tentang pengakuan dan perlindungan terhadap hak-hak asasi

47 Gagasan Negara Hukum Indonesia, http://www. docudesk.com, diakses pada tanggal 25

(4)

menusia diarahkan kepada pembatasan-pembatasan dan peletakan kewajiban

masyarakat dan pemerintah.

Didalam perlindungan hukum ini dikenal dua sarana perlindungan Hukum,

yaitu sarana perlindungan Hukum bersifat Preventif dan saran perlindungan hukum

yang bersifat Represif.48

Perlindungan Hukum yang preventif ini bertujuan untuk mencegah timbulnya

sengketa. para pemilik merek diberikan wadah untuk mendapatkan perlindungan

hukum. Wadah perlindungan hukum merek adalah dengan dibuatnya

Undang-Undang No 15 Tahun 2001 yang mengatur tentang merek. Pemerintah melalui

Direktorat Jenderal Hak Kekayaan Intelektual meminta dan menganjurkan para

pemilik merek yang sah untuk mendaftarkan merek sesuai dengan ketentuan yang ada

didalam Undang-Undang No 15 Tahun 2001. Hal ini bertujuan supaya para Pemilik

merek yang sah mendapatkan perlindungan dari Undang-Undang merek karena

Undang-Undang merek No 15 Tahun 2001 ini menganut sistem Konstitutif. Sistem

Konstitutif ini berarti bahwa jika seorang pemilik merek yang sah ingin mendapatkan

perlindungan terhadap mereknya maka pendaftaran merek tersebut ke Direktorat

Jenderal Hak Kekayaan Intelektual merupakan sesuatu yang diwajibkan.

Setelah didaftarkan merek sesuai dengan prosedur yang diatur dalam

Undang-Undang No 15 Tahun 2001, maka pemilik merek mendapatkan hak atas merek. Hak

atas merek adalah hak eksklusif yang diberikan oleh Negara kepada pemilik merek

48 Perlindungan Hukum Unsur Essensial dalam suatu Negara Hukum,

(5)

yang terdaftar dalam Daftar Umum Merek untuk jangka waktu tertentu dengan

menggunakan sendiri merek tersebut atau memberikan izin kepada pihak lain untuk

menggunakannya. terhadap merek terdaftar tersebut akan diberikan perlindungan.

Permohonan Pendaftaran suatu merek tidak boleh dilandasi dengan unsur

itikad tidak baik, tidak boleh memiliki persamaan pada pokoknya dan persamaan

pada keseluruhannya dengan merek terdaftar lainnya maupun merek terkenal. Merek

yang diajukan permohonan pendaftaran ke Direktorat Jenderal Hak Kekayaan

Intelektual juga tidak boleh bertentang dengan poin-poin yang diatur dalam Pasal 5

Undang-Undang No 15 Tahun 2001, menyatakan bahwa suatu merek tidak boleh

didaftar apabila merek tersebut bertentangan dengan peraturan perundang-undangan

yang berlaku, moralitas agama, kesusilaan, atau ketertiban Umum, tidak memiliki

daya pembeda, telah menjadi milik umum, dan merupakan keterangan atau berkaitan

dengan barang atau jasa yang dimohonkan pendaftarannya.

Mengenai Jangka waktu perlindungan terhadap merek diatur pada Pasal 28

Undang-Undang No 15 Tahun 2001, yang menyatakan bahwa Merek terdaftar

mendapat perlindungan hukum untuk jangka waktu 10 (sepuluh) tahun sejak Tanggal

Penerimaan dan jangka waktu perlindungan itu dapat diperpanjang. Jangka waktu

(6)

ditetapkan Pasal 18 TRIPs, yang hanya memberikan perlindungan hukum selama 7

tahun dan setelah itu dapat diperbaharui lagi.49

Jangka waktu perlindungan merek ini dapat diperpanjang setiap kali untuk

jangka waktu perlindungan yang sama.50 Dalam perpanjangan jangka waktu

perlindungan merek ini tidak dilakukan lagi penelitian terhadap merek tersebut, juga

tidak dimungkinkan adanya bantahan dari pihak lain. Perpanjangan waktu

perlindungan merek ini harus dilakukan secara tertulis oleh pemilik merek atau kuasa

yang ditunjuk oleh pemilik merek yang sah.

Permohonan perpanjangan jangka waktu ini harus telah diajukan dalam

jangka waktu tidak lebih dari 12 bulan sebelum berakhirnya jangka waktu

perlindungan merek. Permohonan perpanjangan jangka waktu perlindungan merek

terdaftar, diterima atau disetujui apabila:

1. Merek yang bersangkutan masih digunakan pada barang atau jasa

sebagaimana disebut dalam Sertifikat Merek.

2. Barang atau jasa sebagaimana dalam Sertifikat Merek tersebut masih

diproduksi dan diperdagangkan.

Jadi selama jangka waktu perlindungan merek berlaku, maka Undang-Undang

merek memberikan perlindungan merek terdaftar tersebut. Walaupun sebuah merek

telah didaftarkan dan mendapat perlindungan tetap tidak menutup kemungkinan

49Jangka Waktu Perlindungan Merek,

http://merek-paten-nurdin.blogspot.com/2007/11/jangka-waktu-perlindungan-merek.html , di akses pada tanggal 14 Oktober 2014

(7)

timbulnya perlanggaran terhadap merek terdaftar tersebut. Pencegahan akan

pelanggaran terhadap merek sebenarnya telah dilakukan oleh pihak Dirjen HKI,

mereka melakukan pengecekan seperti yang tertera di dalam Undang-Undang Merek

2001. Namun pengecekan ini hanya bersifat First To File, tanpa pengecekan lebih

lanjut apakah merek yang didaftarkan tersebut adalah merek yang sudah didaftarkan

terlebih dahulu atau tidak.51 Oleh karena itu pelanggaran merek berupa pendaftaran

merek secara itikad tidak baik kerap terjadi. Maka dari itu diperlukan juga sarana

perlindungan hukum yang bersifat Represif.

Perlindungan hukum yang represif bertujuan untuk menyelesaikan sengketa.

Penanganan perlindungan hukum oleh Pengadilan Negeri di Indonesia termasuk

kategori perlindungan hukum ini. Prinsip perlindungan hukum ini bersumber dari

konsep tentang pengakuan dan perlindungan terhadap hak-hak asasi manusia. Prinsip

kedua yang mendasari perlindungan hukum terhadap tindak pemerintahan adalah

prinsip negara hukum. Dikaitkan dengan pengakuan dan perlindungan terhadap

hak-hak asasi manusia, pengakuan dan perlindungan terhadap hak-hak-hak-hak asasi manusia

mendapat tempat utama dan dapat dikaitkan dengan tujuan dari negara hukum.

Perlindungan hukum yang bersifat represif ini juga sangat diperlukan dalam

hal perlindungan merek karena walaupun suatu merek telah terdaftar kerap menjadi

sasaran dari pelanggaran merek, terutama merek terkenal yang sering menjadi sasaran

51Metha Kurniawan,Perlindungan Hukum Merek Di Indonesia, (Jakarta: Program Magister

(8)

pemboncengan merek. penyelesaian sengketa, Undang-Undang merek No 15 Tahun

2001 menyatakan bahwa peradilan yang berwenang adalah pengadilan Niaga.

Didalam Pasal 76 Undang-Undang No 15 Tahun 2001 dinyatakan bahwa

pemilik merek terdaftar dapat mengajukan gugatan terhadap pihak lain yang secara

tanpa hak menggunakan merek yang mempunyai persamaan pada pokoknya atau

persamaan pada keseluruhannya untuk barang atau jasa sejenis berupa gugatan ganti

rugi dan penghentian semua perbuatan yang berkaitan dengan penggunaan merek

tersebut. Selain gugatan ganti rugi dan penghentian semua perbuatan yang berkaitan

dengan penggunaan merek, pada Pasal 80 yang mengatur tentang gugatan pembatalan

merek.

Mengenai sanksi Pidananya pada KUHP ada di atur pada Pasal 253-262

KUHP, tetapi dengan ada pembaharuan Undang merek dengan

Undang-Undang No 15 Tahun 2001 yang didalam Pasal 91-94 ada pengaturan sanksi pada dan

oleh karena juga Undang-Undang No 15 tahun 2001 ini adalah lex spesialis maka

Pasal KUHP yang mengatur hal yang sama di kesampingkan.

Selain penyelesaian sengketa melalui pengadilan, juga di kenal penyelesaian

melalui arbitrase atau melalui Alternatif Penyelesaian Sengketa. Hal ini sebagaimana

diatur dalam Pasal 84 Undang-Undang No 15 Tahun 2001. Arbitrase adalah institusi

hukum alternatif bagi penyelesaian sengketa diluar pengadilan. Menurut Pasal 1

angka 1 Undang-Undang Nomor 30 Tahun 1999 yang dimaksud dengan Arbitrase

(9)

didasarkan pada perjanjian arbitrase yang dibuat secara tertulis oleh para pihak yang

bersengketa. Pada dasarnya, arbitrase dapat berwujud dalam 2 (dua) bentuk yaitu :

a. Klausula Arbitrase yang tercantum dalam suatu perjanjian tertulis yang dibuat

para pihak sebelum timbul sengketa.

b. Suatu perjanjian Arbitrase tersendiri yang dibuat para pihak setelah timbul

sengketa.

Selain penyelesaian sengketa melalui arbitrase, juga beberapa jenis lagi dari

alternatif penyelesaian sengketa. Menurut Pasal 1 angka 10 Undang-Undang Nomor

30 tahun 1999 yang dimaksud dengan Alternatif Penyelesaian Sengketa adalah

lembaga penyelesaian sengketa atau beda pendapat melalui prosedur yang disepakati

para pihak, yakni penyelesaian di luar pengadilan dengan cara konsultasi, negosiasi,

mediasi, konsiliasi, atau penilaian ahli.52

Mengenai Konsultasi di dalam Undang-Undang Nomor 30 Tahun 1999 tidak

dirumuskan pengertian konsultasi. Pengertian konsultasi menurut Black Law

Dictionary yang pada prinsipnya konsultasi merupakan suatu tindakan yang bersifat

personal antara suatu pihak tertentu, yang disebut dengan klien dengan pihak lain

yang merupakan pihak konsultan, yang memberikan pendapatnya kepada klien

tersebut untuk memenuhi keperluan dan kebutuhan kliennya tersebut.53

Negosiasi Menurut Pasal 6 ayat 2 Undang-Undang Nomor 30 Tahun 1999

pada dasarnya para pihak dapat berhak untuk menyelesaikan sendiri sengketa yang

timbul di antara mereka. Kesepakatan mengenai penyelesaian tersebut selanjutnya

52Gunawan Widjaya Alternatif Penyelesaian Sengketa, (Jakarta : PT Raja Grafindo Persada,

2001), hlm 86

53 Rachmadi Usman, Pilihan Penyelesaian Sengketa Di Luar Pengadilan, (Bandung : PT

(10)

harus dituangkan dalam bentuk tertulis yang disetujui oleh para pihak. Negosiasi

merupakan salah satu penyelesaian sengketa alternatif yang dilakukan oleh

pihak-pihak yang bersengketa atau kuasanya secara langsung pada saat negosiasi dilakukan,

tanpa keterlibatan pihak ketiga sebagai penengah. Para pihak yang bersengketa yang

secara langsung melakukan perundingan atau tawar-menawar sehingga menghasilkan

suatu kesepakatan bersama. Para pihak yang bersengketa sudah barang tentu telah

berdiskusi atau bermusyawarah sedemikian rupa agar kepentingan-kepentingan dan

hak-haknya terakomodir menjadi kepentingan/ kebutuhan bersama para pihak yang

bersengketa. Pada umumnya kesepakatan bersama tersebut dituangkan secara tertulis.

Mediasi merupakan salah satu penyelesaian sengketa dengan bantuan pihak

ketiga (mediator) yang tidak memihak (imparsia) yang turut aktif memberikan

bimbingan atau arahan guna mencapai penyelesaian.54 Namun ia tidak berfungsi

sebagai hakim yang berwenang mengambil keputusan. Inisiatif penyelesaian tetap

berada pada tangan para pihak yang bersengketa. Dalam kaitan dengan Mediasi

menurut ketentuan Pasal 6 ayat (2) Undang-Undang Nomor 30 Tahun 1999

menyatakan atas kesepakatan tertulis para pihak, sengketa atau beda pendapat

diselesaikan melalui bantuan ”seorang atau lebih penasehat ahli” maupun melalui

seorang mediator. Kesepakatan penyelesaian sengketa atau beda pendapat secara

tertulis adalah final dan mengikat bagi para pihak untuk dilaksanakan dengan itikad

baik.

(11)

Konsiliasi adalah suatu proses penyelesaian sengketa alternatif yang

melibatkan seorang pihak ketiga, pihak ketiga yang diikutsertakan untuk

menyelesaikan sengketa adalah seseorang yang secara profesional sudah dapat

dibuktikan kehandalannya. Konsiliator dalam proses konsiliasi ini memiliki peran

yang cukup berarti, oleh karena konsilisator Konsiliator juga berhak menyampaikan

pendapat secara terbuka tanpa memihak siapa pun. Selain itu, konsiliator tidak berhak

untuk membuat keputusan dalam sengketa untuk dan atas nama para pihak sehingga

keputusan akhir merupakan proses konsiliasi yang diambil sepenuhnya oleh para

pihak dalam sengketa yang dituangkan dalam bentuk kesepakatan di antar mereka.55

B. Perlindungan Hukum Merek Dari Berbagai Aspek 1. Perlindungan Merek secara Pidana

Perbuatan yang dilarang berhubungan dengan merek juga diatur di dalam

Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP). Dalam KUHP mengenai perbuatan

yang dilarang berhubungan dengan merek ini diatur pada pasal 253-262 KUHP.

Dalam hal ini rumusan perbuatan-perbuatan tersebut dapat dikelompokkan, antara

lain :

1. Tiap perbuatan yang dilakukan oleh siapapun, baik itu menaruhkan sesuatu yang palsu dengan maksud akan menggunakan atau menyuruh orang lain untuk menggunakan barang-barang tersebut seolah-olah merek atau tanda yang ditaruhkan itu asli dan tidak palsu.

55konsoliasi, http://nielasafiraaa.blogspot.com/2014/01/konsoliasi.html, diakses pada tanggal

(12)

2. Tiap perbuatan yang dilakukan oleh siapapun dalam hal ini menaruhkan merek atau tanda pada barang yang dengan melawan hak memakai cap yang asli.

3. Tiap perbuatan yang dilakukan oleh siapapun dalam hal ini menambah atau memindahkan Merek Negara yang asli atau tanda pembuat yang dikehendaki oleh, di dalam, pada atau atas barang-barang lain yang terbuat dari emas atau perak dengan maksud akan menggunakan atau menyuruh orang lain menggunakan barang itu, seolah-olah merek atau tanda itu dari mula-mulanya ditaruhkan pada barang itu.

4. Tiap perbuatan yang dilakukan oleh siapapun dalam hal ini dengan sengaja memakai, menjual, menawarkan, menyerahkan, menyediakan untuk dijual, atau memalsukan ke negara Indonesia materai, tanda, atau merek palsu, yang dipalsukan atau yang dibuat dengan melawan hak, atau barang-barang yang ditaruh materai, tanda atau merek itu dengan melawan hak, seolah-olah materai, tanda atau merek asli tidak dipalsukan dan tidak dibuat dengan melawan hak atau tidak melawan hak ditaruhkan pada barang itu

5. Tiap perbuatan yang dilakukan oleh siapapun dalam hal ini memalsukan ukuran dan takaran timbangan yang sudah dibubuhi tanda dengan maksud akan menggunakan atau menyuruh orang lain menggunakan seolah-olah asli dan tidak dipalsukan

6. Tiap perbuatan yang dilakukan oleh siapapun dalam hal ini menbuangkan tanda batal dari barang yang telah ditera dengan maksud akan menggunakan atau menyuruh orang lain menggunakan barang tersebut seolah-oleh tidak dibatalkan.

7. Tiap perbuatan yang dilakukan oleh siapapun dalam hal ini menyediakan bahan-bahan atau perkakas-perkakas yang diketahuinya digunakan untuk melakukan kejahatan memalsukan merek.56

Sanksi terhadap suatu tindakan yang melanggar merek, selain diatur khusus

dalam ketentuan sanksi peraturan Undang-Undang No 15 Tahun 2001 tentang merek,

juga terdapat ketentuan KUH Pidana yang mengatur sanksi terhadap perlanggaran

merek. salah satunya adalah Pasal 393 KUH Pidana yang pada butir pertama

menyatakan bahwa “Barang siapa memasukkan ke Indonesia tanpa tujuan jelas untuk

mengeluarkan lagi dari Indonesia, menjual, menamarkan, menyerahkan, membagikan

atau mempunyai persediaan untuk dijual atau dibagi-bagikan. barang-barang yang

(13)

diketahui atau sepatutnya harus diduganya bahwa pada barangnya itu sendiri atau

pada bungkusnya dipakaikan secara palsu, nama firma atau merek yang menjadi hak

orang lain atau untui menyatakan asalnya barang, nama sehuah tempat tertentu,

dengan ditambahkan nama atau firma yang khayal, ataupun pada barangnya sendiri

atau pada bungkusnya ditirukan nama, firma atau merek yang demikian sekalipun

dengan sedikit perubahan, diancam dengan pidana penjara paling lama empat bulan

dua minggu atau pidana denda paling banyak sembilan ribu rupiah.”

Pasal 393 KUHPidana butir kedua menyatakan bahwa “Jika pada waktu

melakukan kejahatan belurn lewat lima tahun sejak adanya pemidanaan yang menjadi

tetap karena kejahatan semacam itu juga dapat dijatuhkan pidana penjara paling lama

sembilan bulan.”

Undang-Undang No. 15 Tahun 2001 Tentang Merek juga memuat pengaturan

tentang pidana. Ketentuan pidana pada Undang-undang No 15 Tahun 2001 ini

bersifat khusus atau lex spesialis dorogat lex generalis atau hukum yang khusus

mengesampingkan hukum yang umum. Ketentuan asas Hukum‘Lex Specialis” dapat

mengesampingkan ketentuan yang termuat dalam KUH Pidana terhadap aturan yang

memiliki kesamaan. Dalam Undang-Undang No 15 Tahun 2001 tenang bentuk

deliknya untuk masalah merek diatur dalam Pasal 95, yang mnyatakan bahwa

deliknya bukan delik biasa namun delik aduan, adapun delik aduan delik dimana

walaupun telah terjadi tindak pidana namun polisi tidak proaktif dalam penindakan

sebelum ada pengaduan, kemudian untuk delik aduan ini dapat dicabut pengaduannya

(14)

dalam hal merek dagang dan jasa ini diatur dalam Pasal 90-94 Undang-Undang No 15

Tahun 2001.

Dalam Pasal 90 Undang-Undang No 15 Tahun 2001 mengatur sanksi pidana

berupa pidana penjara paling lama 5 tahun dan/atau denda paling banyak Rp.

1.000.000.000,- (satu miliar Rupiah) terhadap pihak yang dengan sengaja dan tanpa

hak menggunakan Merek yang sama pada keseluruhannya dengan Merek terdaftar

milik pihak lain untuk barang dan/atau jasa sejenis yang diproduksi dan/atau

diperdagangkan.

Pasal 91 mengatur tentang tindakan penggunaan tanpa hak merek yang

mempunyai persamaan pada pokoknya dengan merek terdaftar milik pihak lain,

sanski yang dikenakan adalah pidana penjara paling lama 4 tahun dan/atau denda

paling banyak Rp. 800.000.000,- (delapan ratus juta rupiah)

Selain itu, sesuai dengan penambahan ketentuan Indikasi Geografis dan

Indikasi Asal. maka terhadap pelanggaran kedua hal tersebut juga telah diatur sanksi

pada Pasal 92 dan Pasal 93 Undang-Undang No 15 Tahun 2001.

Dalam Pasal 92 diatur tentang penggunaan tanpa hak terhadap tanda yang

memiliki persamaan dengan indikasi geografis milik pihak lain. Pada ayat (1) Pasal

92 diatur mengenai sanksi pidana terhadap pihak yang terbukti dengan sengaja dan

tanpa hak menggunakan tanda yang sama pada keseluruhan dengan indikasi geografis

milik pihak lain untuk barang yang sama atau sejenis dengan barang terdaftar, sanksi

yang diberikan berupa pidana penjara paling lama 5 tahun dan/atau denda paling

(15)

Pada ayat (2) 92 Pasal diatur Barangsiapa dengan sengaja dan tanpa hak

menggunakan tanda yang sama pada pokoknya dengan indikasi geografis milik pihak

lain untuk barang yang sama atau sejenis dengan barang yang terdaftar, dipidana

dengan pidana penjara paling lama 4 (empat) tahun dan/atau denda paling banyak

Rp.800.000.000,- (delapan ratus juta rupiah).

Pada ayat (3) Pasal 92 mengatur bahwa Terhadap pencantuman asal

sebenarnya pada barang yang merupakan hasil pelanggaran ataupun pencantuman

kata yang menunjukkan bahwa barang tersebut merupakan tiruan dari barang yang

terdaftar dan dilindungi berdasarkan indikasi-geografis, diberlakukan ketentuan

sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2).

Mengenai perlindungan terhadap indikasi asal diatur pada Pasal 93, yang pada

intinya mengatur pemberian sanksi berupa pidana penjara paling lama 4 (empat)

tahun dan/atau denda paling banyak Rp.800.000.000,- (delapan ratus juta rupiah)

terhadap pihak yang dengan sengaja dan tanpa hak menggunakan tanda yang

dilindungi berdasarkan indikasi-asal pada barang atau jasa sehingga dapat

memperdaya atau menyesatkan masyarakat mengenai asal barang atau asal jasa

tersebut.

Perbuatan tindak pidana berkaitan dengan perlanggaran indikasi geografis dan

indikasi asal, semuanya di klasifikasikan sebagai kejahatan meskipun dilakukan

pencantuman asal sebenarnya pada barang yang merupakan hasil pelanggaran

ataupun kata-kata yang menunjukkan bahwa barang-barang tesebut merupakan tiruan

(16)

Dalam Pasal 94 mengatur larangan terhadap perdagangan barang atau jasa

yang diketahui atau patut diduga sebagai barang atau jasa yang dihasilkan dengan

melanggar ketentuan Pasal 90, Pasal 91, Pasal 92, dan Pasal 93. Pada ayat 1 Pasal 94

mengatur sanksi yang berupa pidana kurungan paling lama 1 (satu) tahun atau denda

paling banyak Rp 200.000.000,- (dua ratus juta Rupiah). Pada ayat 2 dikatakan bahwa

Tindak pidana sebagaimana dimaksud pada ayat (1) adalah pelanggaran.

Ketentuan-ketentuan Pasal-pasal tersebut di atas yang memuat sanksi pidana

memberikan perlindungan kepada orang atau badan hukum berhak atas merek

terdaftar dengan jalan melarang pemakaian merek secara tidak sah oleh pihak lain.

Dengan adanya sanski pidana sebagaimana di atur pada pasal 90-95 Undang-Undang

No 15 Tahun 2001, tidak menutup kemungkinan pihak pemilik merek untuk

menggugat secara perdata.

Ketentuan mengenai penyidikan terhadap tindak pidana di bidang merek

diatur dalam pasal 89 Undang-Undang No 15 Tahun 2001 yang menyatakan bahwa

selain Penyidik Pejabat Polisi Negara Republik Indonesia, Pejabat Negeri Sipil

tertentu di Direktorat Jenderal diberi kewenangan khusus sebagai penyidik. Penyidik

Pegawai Negeri Sipil diberi kewenangan sebagai berikut :

a) melakukan pemeriksaan atas kebenaran aduan berkenaan dengan tindak

pidana di bidang Merek;

b) melakukan pemeriksaan terhadap orang atau badan hukum yang diduga

melakukan tindak pidana di bidang Merek berdasarkan aduan tersebut pada

(17)

c) meminta keterangan dan barang bukti dari orang atau badan hukum

sehubungan dengan tindak pidana dibidang Merek;

d) melakukan pemeriksaan atas pembukuan, catatan dan dokumen lainnya yang

berkenaan dengan tindak pidana di bidang Merek;

e) melakukan pemeriksaan di tempat tertentu yang diduga terdapat barang bukti,

pembukuan, catatan, dan dokumen lain serta melakukan penyitaan terhadap

bahan dan barang hasil pelanggaran yang dapat dijadikan bukti dalam perkara

tindak pidana di bidang Merek; dan

f) meminta bantuan ahli dalam rangka pelaksanaan tugas penyidikan tindak

pidana di bidang Merek.

Penyidik Pegawai Negeri sipil harus tetap berkoordinasi dengan Penyidik

Pejabat Polisi Negara, terutama dalam hal pemberitahuan dimulai proses penyidikan

serta dalam hal menyampaikan laporan penyidikan kepada Penuntut Umum harus

melalui Penyidik Pejabat Polisi Negara RI.57

2. Perlindungan Merek Secara Perdata

Undang-Undang No 15 Tahun 2001 mengatur bahwa pemilik merek yang

sudah terdaftar dalam Daftar Umum Merek akan mendapatkan hak atas merek dan

mendapatkan perlindungan selama 10 tahun. pemilik merek oleh undang-undang

diberikan hak untuk mempergunakan sendiri dan atau menguasakan kepada orang

lain untuk mempergunakan merek yang telah didapatnya dari Negara dalam bentuk

57CST Kansil,Hak Milik Intelektual (Hak Milik Perindutrian dan Hak Cipta), (Jakarta, Sinar

(18)

lisensi. Biasanya merek yang sudah memiliki reputasi yang bagus menghadapi

ancaman dari tindakan perlanggaran merek pemakaian merek tanpa hak, pemalsuan

ataupun pemboncengan merek oleh pihak lain, tujuan dari pihak lain supaya bisa

mendapatkan keuntungan dari memalsukan atau membonceng ketenaran dari merek

yang memiliki reputasi bagus tersebut.

Dalam hal suatu merek digunakan oleh pihak lain tanpa izin tentu akan sangat

merugikan pemilik merek terdaftar, kerugian itu tidak hanya kerugian materiil berupa

uang atau barang tetapi juga menimbulkan kerugian inmateriil. Kerugian inmateriil

ini bisa berupa turun nilai penjualan dari merek tersebut. Maka untuk itu Negara

melalui aturan hukumnya berupa undang-undang untuk melindungi pemilik merek

yang sudah terdaftar, Undang-undang memberikan kesempatan kepada pemilik merek

untuk melakukan upaya hukum untuk mempertahankan hak-haknya untuk

menggunakan atau memanfaatkan hak atas mereknya.

Pemilik merek terdaftar jika mereknya digunakan oleh pihak lain tanpa seizin

pemilik merek terdaftar maka pemilik merek dapat mengajukan gugatan melanggar

hukum (pasal 1365 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata). Sebagai pihak penggugat

harus dapat membuktikan bahwa penggugat oleh karena perbuatan melanggar Hukum

yang dilakukan tergugat, telah mengalami kerugian.58 Gugatan ini bersifat

keperdataan, tidak bisa menyebabkan pembatalan merek. dan gugatan ini diajukan

melalui pengadilan Niaga. Jadi pemilik merek dapat mengajukan gugatan terhadap

orang ataupun badan hukum yang menggunakan mereknya, tanpa hak berupa

(19)

permohonan ganti rugi dengan penghentian pemakain merek tersebut. Hal ini diatur

dalam Pasal 76 Ayat (1) b Undang-Undang No 15 Tahun 2001.

Gugatan atas ganti kerugian atau penghentian dapat juga dilakukan oleh

mereka yang mendapatkan lisensi dari pemilik merek baik sendiri ataupun secara

bersama-sama. Dalam rangka untuk mengurangi kerugian dari yang lebih besar atas

penggunaan merek oleh pihak lain maka pemilik merek ataupun penerima lisensi

dapat menyampaikan permohonan kepada hakim agar memerintahkan tergugat untuk

menghentikan produksi, peredaran dan atau perdagangan barang dan jasa.

Hakim dalam pemeriksaan gugatan tersebut dapat memerintahkan tergugat

untuk menghentikan perdagangan barang yang menggunakan merek secara tanpa hak

tersebut atas permohonan pihak penggugat. Permohonan ini diatur dalam Pasal 180,

dikenal sebagai tuntutan provisi. Putusan provisi ini tergolong dalam kategori putusan

sela yang berbeda dengan putusan akhir.59Dalam hal ini tergugat juga dapat dituntut

pula menyerahkan barang yang diproduksi dengan menggunakan merek secara tanpa

hak tersebut, Hakim dapat menmerintahkan bahwa penyerahan barang atau nilai

barang tersebut dilaksanakan setelah Putusan Pengadilan yang mempunyai kekuatan

hukum tetap.

3. Perlindungan Hukum Merek melalui Administrasi Negara

Dalam hal terjadi perlanggaran merek, negara juga bisa melakukan upaya

melindungi pemilik merek yang sah. Upaya tersebut bisa melalui pengawasan pabean

dan pegawasan standar industri

59Retnowulan Sutantio dan Iskandar Oeripkartawinata,Hukum Acara Perdata dalam Teori

(20)

Pengawasan terhadap pabean, terhadap ekspor dan impor barang juga diatur

dalam pasal Pasal 9 Konvensi Paris menyatakan bahwa setiap negara peserta

Konvensi Paris harus melakukan tindakan penyitaan terhadap barang impor milik

warga negaranya dalam hal barang tersebut memakai merek dagang yang tidak sah.

Atau sekurang-kurangnya mengeluarkan larangan impor terhadap barang-barang

tersebut. Dalam hal terindikasi bahwa barang-barang yang diimpor ada pemalsuan

terhadap sumber barang-barang ataupun identitas pembuat maka dapat dilakukan

tindakan penyitaan terhadap barang-barang tersebut.

Perundang-undangan Kepabeaan di Indonesia juga telah memuat ketentuan

ataupun mekanisme perlindungan hukum terhadap merek. Pada Bab X

Undang-Undang No 10 Tahun 1995 tentang Kepabeanan mengatur ketentuan Larangan

Pembatasan Impor Atau Ekspor serta Pengendalian Impor atau Ekspor barang hasil

pelanggaran Hak Atas Kekayaan Intelektual. Pengaturannya dimulai dari pasal 53-64

Undang-Undang no 10 tahun 1995.60

Walaupun fungsi pengawasan terhadap barang ekspor-impor dilakukan oleh

Direktorat Jenderal Bea dan Cukai, Untuk menjamin kelancaran dalam pengendalian

terhadap ekspor-impor barang hasil pelanggaran Hak Kekayaan Intelektual, maka

pemilik Hak kekayaan intelektual harus melakukan tindakan ataupun upaya aktif

dalam hal mencegah terjadinya ekspor-impor barang dagangan pelanggaran hak

kekayaan intelektual. Dalam hal bilamana pemilik hak kekayaan intelektual

mengetahui barang dagangan ekspor-impor merupakan barang dagangan hasil

(21)

pelanggaran atas merek sahnya maka pemilik hak kekayaan intelektual tersebut bisa

meminta ke Pengadilan Negeri Setempat untuk mengeluarkan perintah tertulis yang

ditujukan kepada Pejabat Bea Cukai untuk menangguhkan sementara waktu

pengeluaran barang ekspor-impor dari kawasan Pabean yang berdasarkan bukti yang

cukup, diduga merupakan hasil pelanggaran Hak Merek dan Hak Cipta. Pasal 54

Undang-Undang no 10 tahun 1995 mengatur Pengajuan penangguhan sementara di

Pengadilan Niaga setempat harus memenuhi kelengkapan sebagai berikut :

1. Bukti yang cukup mengenai adanya pelanggaran merek atau hak cipta yang

bersangkutan

2. Bukti pemilikan merek atau Hak cipta dari yang bersangkutan

3. Perincian dan keterangan yang jelas mengenai barang impor atau ekspor yang

dimintakan penangguhan pengeluarannya agar dengan cepat dapat dikenali

oleh Pejabat Bea Cukai

4. Jaminan

Kelengkapan untuk mengajukan permohonan penangguhan bersifat mutlak.

Keberadaan jaminan yang cukup nilainya sebagai salah satu kelengkapan untuk

mengajukan permohonan penangguhan ini dimaksudkan untuk :

1. Melindungi pihak yang diduga melakukan pelanggaran dari kerugian yang

tidak perlu

2. Mengurangi kemungkinan berlangsungnya penyalahgunaan hak

3. Melindungi Pejabat Bea Cukai dari kemungkinan adanya tuntutan ganti rugi

sebagai akibat dari dilaksanakannya Perintah penangguhan yang dikeluarkan

(22)

Selain pengawasan oleh pabean dalam hal ekspor dan impor barang untuk

mencegah terjadinya perlanggaran terhadap hak atas merek terdaftar , pengawasan

terhadap merek dilakukan oleh Lembaga Badan Standar Industri Indonesia juga

penting. Dalam pelaksanaan pengawasan terhadap merek secara tidak langsung

Lembaga badan standar Industri di Indonesia biasa nya memiliki Penilaian yang

sering disebut SNI atau kepanjangannya Standar Nasional Indonesia.61 Dalam

Undang-Undang Tentang Standarisasi dan Penilaian Kesesuian Bab I Ketentuan

Umum pasal 1 ayat ke 7 menyatakan bahwa :

“Standar Nasional Indonesia yang selanjutnya disingkat SNI adalah Standar yang

ditetapkan oleh BSN dan berlaku di wilayah Negara Kesatuan Republik

Indonesia.”

Adapun tujuan dibuatnya Standarisasi dan Penilaian Kesesuaian diatur dalam

Pasal 3 tentang Standarisasi dan Penilaian Kesesuian bertujuan :

1) meningkatkan jaminan mutu, efisiensi produksi, daya saing nasional,

persaingan usaha yang sehat dan transparan dalam perdagangan, kepastian

usaha, dan kemampuan Pelaku Usaha, serta kemampuan inovasi teknologi;

2) meningkatkan perlindungan kepada konsumen, Pelaku Usaha, tenaga kerja,

dan masyarakat lainnya, serta negara,baik dari aspek keselamatan, keamanan,

kesehatan, maupun pelestarian fungsi lingkungan hidup; dan

3) meningkatkan kepastian, kelancaran, dan efisiensi transaksi perdagangan

Barang dan/atau Jasa di dalam negeri dan luar negeri.

Biasanya barang-barang dagangan hasil dari pemalsuan merek dibuat dengan

tidak memperhatikan kualitas pada merek aslinya. Hal ini dikarenakan para pelaku

61

(23)

pelanggaran merek ataupun pemalsuan merek memiliki tujuan untuk mendapatkan

keuntungan sebesar-besarnya. Para pelaku pemalsuan merek akan memproduksi

barang-barang dagangannya dengan biaya serendah-rendahnya, hal ini

mengakibatkan bahan-bahan yang digunakan dalam memproduksi barang

daganganya bukanlah bahan-bahan dengan kualitas bagus. Dengan demikian patut

diduga bahwa kebanyakan barang dagangan yang merupakan hasil pemalsuan merek

dapat dikatakan tidak memenuhi standar dari merek aslinya dan mungkin ada juga

yang tidak memenuhi standar industri yang telah ditentukan. Hal ini lah yang menjadi

salah satu objek pengawasan dari Badan Standar Industri. Jadi Badan pengawasan

Standar Industri bertindak aktif dalam pengawasan terhadap merek dagang yang

beredar di dalam masyarakat62

C. Pembatalan Pendaftaran Merek Terdaftar dan Penghapusan Merek Terdaftar

Pengaturan mengenai pembatalan merek terdaftar ini dapat ditemukan dalam

Pasal 68 sampai dengan Pasal 72 Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2001.

Pembatalan merek terdaftar hanya dapat diajukan oleh pihak yang berkepentingan

seperti jaksa, yayasan atau lembaga di bidang konsumen dan majelis lembaga

keuangan atau juga oleh pemilik merek dengan mengajukan gugatan kepada

Pengadilan Niaga, yang wilayah hukumnya meliputi alamat pemilik merek terdaftar

yang akan dibatalkan. Kecuali apabila pemilik merek terdaftar sebagai tergugat

berada di luar negeri, gugatan diajukan ke Pengadilan Niaga di Jakarta.63

(24)

Pasal 68 (1) Undang-Undang No. 15 Tahun 2001 menyatakan bahwa gugatan

pembatalan pendaftaran merek diajukan berdasarkan alasan yang terdapat dalam

Pasal 4, 5, dan 6. Pasal 4 menyatakan bahwa merek tidak didaftar oleh pemohon

beriktikad tidak baik. Pasal 5 menyatakan bahwa merek tidak dapat didaftar bila

bertentangan dengan Undang-Undang, tidak memiliki daya pembeda, merek menjadi

milik umum dan merupakan keterangan yang berkaitan dengan barang atau jasa yang

dimohonkan pendaftaran. Dan Pasal 6 menyatakan bahwa permohonan merek ditolak

bila mempunyai persamaan dengan merek milik pihak lain, serta dengan indikasi

geografis yang sudah terkenal, bendera, lambang Negara, cap resmi Negara kecuali

atas persetujuan tertulis dari pihak yang berwenang.

Tenggang waktu gugatan pembatalan merek terdaftar tercantum dalam Pasal

69 Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2001 adalah 5 ( lima ) tahun sejak tanggal

pendaftaran.64Namun, khusus untuk gugatan pembatalan yang didasarkan atas alasan

bertentangan dengan moralitas agama, kesusilaan, atau ketertiban umum dapat

diajukan kapan saja tanpa batas waktu.

Seperti yang telah diketahui, gugatan pembatalan merek terdaftar diajukan

kepada Pengadilan Niaga, dan terhadap putusan Pengadilan Niaga tersebut hanya

dapat diajukan kasasi.65 Setelah putusan telah mempunyai kekuatan hukum yang

tetap, Direktorat Jenderal Hak Kekayaan Intelektual akan mencoret merek yang

bersangkutan dari Daftar Umum Merek dengan member catatan tentang alasan dan

64 Nurachmad, Much, Segala Tentang HAKI Indonesia, (Jogjakara : Penerbit Buku Biru,

2012), hal 77

(25)

tanggal pembatalannya serta atau kuasanya. Dengan pembatalan merek terdaftar

tersebut, berakhir pula perlindungan hukum atas merek yang bersangkutan.66

Selain mengatur tentang pembatalan merek, Undang-Undang merek juga

mengatur tentang penghapusan pendaftaran merek. Pengaturan mengenai

Penghapusan pendaftaran Merek yang berlaku sekarang diatur dalam Bab VIII

mengenai Penghapusan dan Pembatalan Pendaftaran Merek dari Pasal 61 sampai

dengan Pasal 67 Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2001. Dalam Undang-Undang ini,

Pasal 61 (1) Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2001 mengatur bahwa penghapusan

pendaftaran merek dari Daftar Umum dapat dilakukan atas prakarsa dari Direktorat

Jenderal HAKI ataupun berdasarkan prakarsa dari pemilik merek tersebut. Kemudian

Pasal 62 (1) Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2001 menyatakan:

“Permohonan penghapusan pendaftaran Merek oleh pemilik merek atau

Kuasanya, baik sebagian atau seluruh jenis barang dan/atau jasa, diajukan

kepada Direktorat Jenderal”

Penghapusan pendaftaran merek juga dapat lakukan oleh pihak ketiga dengan

cara mengajukan gugatan kepada Pengadilan Niaga, hal ini sebagaimana diatur dalam

Pasal 63 yang menyatakan bahwa :

“Penghapusan pendaftaran Merek berdasarkan alasan sebagaimana dimaksud

dalam Pasal 61 ayat (2) huruf a dan huruf b dapat pula diajukan oleh pihak

ketiga dalam bentuk gugatan kepada Pengadilan Niaga”

66 Rachmadi Usman, Hukum Hak atas Kekayaan Intelektual, Perlindungan dan Dimensi

(26)

Sehingga berdasarkan Pasal-pasal 61,62 dan 63 Undang-Undang Nomor 15

Tahun 2001 diatas, dapat diketahui bahwa ada tiga cara penghapusan pendaftaran

merek terdaftar, yaitu:

1. Penghapusan pendaftaran merek terdaftar atas prakarsa Direktorat HAKI, 2. Permohonan penghapusan pendaftaran merek terdaftar oleh pemilik merek

sendiri dan

3. gugatan penghapusan pendaftaran merek terdaftar di pengadilan oleh pihak ketiga.67

Pasal 61 (2) Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2001 ditentukan secara

limitatif alasan dari penghapusan pendaftaran merek yaitu: Merek tersebut tidak

digunakan (non use) Merek yang bersangkutan tidak digunakan oleh pemilik mereka

setelah didaftarkan dalam daftar umum merek dalam perdagangan barang dan jasa

dan juga merek tersebut tidak pernah dipakai lagi selama 3 tahun berturut-turut, baik

sejak tanggal pendaftaran ataupun dari pemakaian terakhir. Dalam praktik merek,

alasan untuk menghapus suatu pendaftaran merek atas dasar non usepembuktiannya

sulit, karena bukan merupakan hal yang mudah untuk membuktikan bahwa suatu

merek tidak dipakai, dan jika alasan ini yang dipakai untuk menghapus pendaftaran

merek oleh Direktorat Merek, pemilik merek yang mereknya akan dihapus akan

berusaha untuk mengedarkan lagi mereknya dengan barang-barang yang

bersangkutan, atau memberi bukti bahwa sesungguhnya pemilik merek tersebut sudah

memakai merek itu.68 Misalnya, barang yang dijual dalam kualitas yang sedikit

kepada konsumen, bisa juga dengan menunjukkan bukti-bukti lain berupa

faktur-faktur telah menjual ke beberapa toko di dalam wilayah Indonesia.

(27)

Undang-Undang memberikan jangka waktu selama 3 (tiga) tahun untuk

dipergunakannya suatu merek untuk mengantisipasi perkembangan teknologi yang

berkembang dengan pesat. Sehingga merek-merek yang sifatnya hanya didaftar saja

tanpa pernah dipergunakan dalam kegiatan produksi barang dan jasa, akan

mengganggu investasi dan perekonomian bangsa. Hal inilah yang berusaha dicegah

dengan memberikan jangka waktu selama 3 (tiga) tahun.

Penghapusan suatu merek terdaftar juga bisa terjadi apabila merek terdaftar

tersebut digunakan untuk jenis barang atau jasa yang tidak sesuai; Merek tersebut

digunakan untuk melindungi jenis barang atau jasa yang berbeda baik yang berada

dalam satu kelas apalagi untuk jenis barang yang berbeda kelasnya. Bahkan, dalam

penjelasan Pasal 61 (2) Undang-Undang, ketidaksesuaian dalam penggunaan tersebut

meliputi, pertama bentuk penulisan kata atau huruf, dan kedua penggunaan warna

yang berbeda. Hal ini kemungkinan terjadi dalam dunia perdagangan jika pemilik

merek merasa mereknya mempunyai bentuk yang kurang menarik dan warnanya

kurang cocok, sehingga pemilik merek tersebut menggunakan merek yang berbeda.69

Tujuan dari Undang-Undang memperluas pengertian ketidaksesuaian dalam

penggunaan warna yang berbeda, untuk membina terciptanya penggunaan merek

yang jujur ataufair use dan beriktikad baik (good faith). Hal ini menyiratkan bahwa

perlindungan hukum yang diberikan kepada pemilik merek terdaftar, tidak boleh

dipergunakan dengan curang dan harus beriktikad baik.

(28)

Penghapusan pendaftaran merek biasa atas prakarsa Direktorat Merek.

Direktorat Merek diberikan wewenang untuk melakukan pengawasan represif, yang

secaraex-officio dilakukan berdasarkan kuasa yang diberikan Undang-Undang dapat

melakukan penghapusan pendaftaran merek. Pasal 61 (2) Undang-Undang Nomor 15

Tahun 2001 memperingatkan apabila Direktorat Merek hendak mengambil tindakan

menghapus pendaftaran merek atas prakarsa sendiri, selain harus berdasarkan pada

alasan yang sah menurut Undang-Undang, juga mesti didukung oleh bukti yang

cukup bahwa:

a. Merek tidak dipergunakan berturut-turut selama 3 ( tiga ) tahun atau lebih dalam perdagangan barang atau jasa sejak tanggal pendaftaran atau pemakaian terakhir, kecuali apabila ada alasan yang dapat diterima oleh Ditjen HAKI.

b. Merek yang digunakan untuk jenis barang atau jasa tidak sesuai dengan jenis barang atau jasa yang dimohonkan pendaftarannya,teremasuk pemakaian merek yang tidak sesuai dengan merek yang didaftar.70

Penghapusan pendaftaran merek atas prakarsa sendiri disikapi oleh Direktorat

Merek dengan mencari bukti-bukti atau mendasarkan pada masukan dari masyarakat

guna dijadikan bahan pertimbangan. Pemilik merek diberikan kesempatan untuk

melakukan upaya pembelaan untuk dikecualikan dari ketentuan tentang penghapusan

ide dengan mengajukan alasan-alasan yang dapat dipertimbangkan oleh kantor

merek, misalnya produk makanan dan minuman yang izin peredarannya menjadi

kewenangan instansi lain atau keputusan pengadilan yang bersifat sementara

mengenai penghentian sementara pemakaian merek selama perkara berlangsung.

Apabila terdapat bukti yang cukup untuk menghapus pendaftaran merek,

(29)

penghapusan pendaftaran merek yang dilakukan oleh Direktorat Merek akan dicoret

dalam Daftar Umum Merek dan akan diumumkan dalam Berita Resmi Merek.

Pencoretan merek dari Daftar Umum Merek mengakibatkan berakhir perlindungan

hukum atas merek tersebut.

Jika dilihat dari Undang-Undang Merek, Direktorat Merek diharuskan untuk

bekerja aktif dalam mengawasi pelaksanaan pemakaian merek terdaftar. Hal ini tentu

saja merupakan pekerjaan yang tidak mudah, karena untuk mendapatkan bukti-bukti

penggunaan merek yang menyimpang, tentu saja tidak gampang.71Apabila keputusan

yang diambil Direktorat Merek keliru, Direktorat Merek dapat digugat oleh pemilik

merek yang mereknya dihapus untuk membatalkan penghapusan pendaftaran

mereknya ke Pengadilan Niaga.

Selain penghapusan merek berdasarkan Penetapan Pengadilan Niaga, Pada

prinsipnya Direktorat Merek dapat melakukan penghapusan pendaftaran yang

diajukan oleh pemilik merek terdaftar. Landasan prinsip ini dapat disimpulkan dari

Pasal 62 (1) yang menegaskan:

“Permohonan penghapusan pendaftaran Merek oleh pemilik Merek atau

Kuasanya, baik sebagian atau seluruh jenis barang dan/atau jasa, diajukan kepada

Direktorat Jenderal”

Permintaan penghapusan pendaftaran merek oleh pemilik merek ini dapat

diajukan untuk sebagian atau seluruh jenis barang atau jasa yang termasuk dalam satu

71Sudargo Gautama dan Rizwanto Winata,Pembaharuan hukum Merek di Indonesia, (Dalam

(30)

kelas, pertimbangan pemilik merek dalam hal ini, biasanya karena mereknya

dianggap sudah tidak menguntungkan lagi. Permintaan penghapusan pendaftaran

merek oleh pemilik merek diajukan secara tertulis dalam bahasa Indonesia kepada

Direktorat Merek dengan menyebutkan merek terdaftar dan nomor pendaftaran merek

yang bersangkutan. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 23 Tahun 1993

tentang tata cara Permintaan Pendaftaran Merek, Pasal 21 permintaan penghapusan

pendaftaran merek oleh pemilik merek dilengkapi dengan surat-surat sebagai berikut:

1. Bukti identitas dari pemilik merek terdaftar yang dimintakan penghapusannya,

2. Surat kuasa khusus bagi permintaan penghapusan apabila penghapusan tersebut dilakukan oleh kuasa pemilik merek,

3. Surat pernyataan persetujuan tertulis dari penerima lisensi, apabila pendaftaran merek yang dimintakan penghapusan masih terikat perjanjian lisensi,

4. Pembayaran biaya dalam rangka permintaan penghapusan pendaftaran merek terdaftar.72

Apabila penghapusan pendaftaran merek dilakukan oleh pemilik merek yang

masih terikat dengan perjanjian lisensi, penghapusan hanya dapat dilakukan apabila

hal ini disetujui oleh penerima lisensi, kecuali apabila telah terdapat kesepakatan

tertulis dalam perjanjian lisensi dari penerima lisensi.73 Permohonan penghapusan

pendaftaran merek yang diterima oleh Direktorat Merek akan dilaksanakan dengan

cara mencoret merek tersebut dalam Daftar Umum Merek dan diberi catatan tentang

alasan tanggal penghapusan. Selanjutnya, diberitahukan secara tertulis kepada

72Rezki Sri Astarini, Dwi,Op.Cit, hal 88

73 Suyud Margono dan Longginus Hadi, Pembaharuan Perlindungan Hukum Merek,

(31)

pemilik merek atau kuasanya dengan diberikan penegasan bahwa sejak tanggal

pencoretan merek dari Daftar Umum Merek, Sertifikat Merek yang bersangkutan

dinyatakan tidak berlaku lagi.74

Penghapusan suatu merek terdaftar juga bisa berdasarkan Putusan Pengadilan

Dengan gugatan Penghapusan pendaftaran Merek atas permintaan pihak ketiga,

pembuat Undang-Undang menghendaki selain pemilik merek dan Direktorat Merek

yang dapat melakukan penghapusan pendaftaran merek, kontrol dari masyarakat juga

diperlukan tentang pelaksanaan merek yang telah didaftarkan.

Gugatan penghapusan pendaftaran merek yang dimohonkan oleh pihak ketiga

diajukan ke Pengadilan Niaga dimana Tergugat berdomisili atau bertempat tinggal.

Hal ini menunjukkan kompetensi relatif dari suatu Pengadilan. Terdapat 5 (lima)

Pengadilan Niaga di Indonesia, yaitu Pengadilan Niaga Jakarta, Pengadilan Niaga

Medan, Pengadilan Niaga Semarang, Pengadilan Niaga Surabaya, serta Pengadilan

Niaga Ujung Pandang.75

Dalam sengketa penghapusan pendaftaran merek, yang menjadi tergugat tidak

cukup hanya pemilik mereknya saja sebagai tergugat I, tetapi juga harus melibatkan

Direktorat Merek sebagai tergugat II. Hal ini dilakukan karena Direktorat Merek

sebagai instansi yang melakukan pendaftaran merek yang dapat mencoret suatu

merek dari Daftar Umum Merek sehingga dalam petitum gugatan penggugat perlu

(32)

dimntakan agar Direktorat Merek diperintahkan untuk mencoret merek dari Daftar

Umum.

Gugatan dalam sengketa penghapusan pendaftaran merek tidak dimungkinkan

menggunakan dasar hukum lain, selain alasan yang tercantum dalam Pasal 61 (2)

Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2001. Apabila dalil gugatan menyimpang dari itu,

akan berakibat gugatan menjadi kabur (obscuur libel) atau tidak mempunyai dasar

hukum. Akibat yang terjadi adalah gugatan akan dinyatakan tidak dapat diterima.76

Selain dari penghapusan merek terdaftar sebagaimana dibahas di atas, juga

ada pengaturan mengenai Penghapusan Merek Kolektif. Penghapusan Merek Kolektif

merupakan Hal baru yang diatur dalam Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2001. Pada

penghapusan pendaftaran merek kolektif ini harus di ajukan kepada Direktorat

Jenderal HAKI. Mengenai penghapusan Merek kolektif terdaftar ini akan dicatat

dalam Daftar Umum dan akan dilakukan pengumuman dalam Berita Resmi Merek.

Penghapusan Pendaftaran Merek Kolektif ini harus atas dasar :

1. Permohonan sendiri dari pemilik Merek Kolektif dengan persetujuan tertulis semua pemakai Merek Kolektif;

2. Bukti yang cukup bahwa Merek Kolektif tersebut dipakai selama 3 (tiga) tahun berturut-turut sejak tanggal pendaftarannya atau pemakaian terakhir kecuali apabila ada alasan yang dapat diterima oleh Direktorat Jenderal; 3. Bukti yang cukup bahwa Merek Kolektif digunakan untuk jenis barang atau

jasa yang tidak sesuai dengan jenis barang atau jenis jasa yang dimohonkan pendaftarannya; atau pula 3 ( tiga ) pihak yang dapat menghapuskan pendaftaran merek.

4. Bukti yang cukup bahwa Merek Kolektif tersebut tidak digunakan sesuai dengan peraturan penggunaan Merek Kolektif.77

76Ibid,hal 91

(33)

Penghapusan pendaftaran merek kolektif yang diajukan oleh pihak ketiga

harus diajukan ke Pengadilan Niaga hal ini sebagaimana diatur Dalam Pasal 67, yang

menyatakan bahwa :

“Penghapusan pendaftaran Merek Kolektif dapat pula diajukan Niaga

berdasarkan alasan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 66 ayat (1) huruf b, huruf

c, atau huruf d”.

Dalam sejarah perkembangan dan perubahan Undang-Undang Merek, dapat

dilihat bahwa pada bagian penghapusan pendaftaran merek terdapat

penyempurnaan-penyempurnaan yang dilakukan guna menyesuaikan diri dengan perubahan zaman

dan untuk menyesuaikan Hukum merek dengan ketentuan TRIPs. Seperti diatur pada

Pasal 63 dan Pasal 67 Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2001 tentang gugatan

penghapusan pendaftaran merek merupakan bagian dari perekonomian dan dunia

usaha, sehingga penyelesaian sengketa memerlukan badan peradilan khusus, yaitu

Pengadilan Niaga. Dipilihnya Pengadilan Niaga disebabkan sengketa merek tersebut

dapat diselesaikan dalam waktu yang relatif cepat.

D. Pengertian Dan Konsep Itikad Tidak Baik Dalam Pendaftaran Merek

Definsi mengenai itikad tidak baik, sejauh ini masih belum mendapatkan

pengertian yang jelas. Beberapa Negara telah mulai membuat peraturan yang

(34)

penjelasan yang akurat mengenai pembahasan itikad tidak baik ini. Menurut legal

Dictionarymenyebutkan bahwa

“Bad faith is intentional dishonest act by not fulfilling legal or contractual obligations, misleading another, entering into an agreement without the intention or means to fulfill it, or violating basic standards of honesty in dealing with others. Most states recognize what is called ‘implied covenant of good faith and fair dealing’ which is breached by acts of bad faith, for which a lawsuit may be brought (filed) for the breach (just as one might sue for breach of contract). The question of bad faith may be raised as a defense to a suit on a contract.”78

Definisi mengenai itikad tidak baik oleh legal Dictionary di atas, memberikan

pengertian itikad tidak dari sudut pandang perjanjian atau pembuatan kontrak.

Definisi itikad tidak baik melalui sudut pandang pendaftaran merek masih belum

didapat pengertian yang jelas. Tetapi itikad tidak baik dalam pendaftaran merek selalu

identik dengan pendaftaran merek yang memiliki persamaaan pada merek terdaftar.

Menurut Amalia Rooseno, ada 2 (dua) doktrin mengenai persamaan merek yaitu

doktrin enterities similar dan doktrin nearly resembles.79 Doktrin enterities similar

menganggap persamaan merek diidentifikasi sebagai persamaan keseluruhan elemen

dengan merek lain, Sedangkan doktrin nearly resembles menganggap suatu merek

mempunyai persamaan pada pokoknya dengan merek orang lain jika pada merek

tersebut terdapat kemiripan atau hampir mirip dengan merek orang lain,

Di Indonesia pengaturan mengenai itikad tidak baik ini diatur pada Pasal 4

Undang-Undang No 15 Tahun 2001 tentang merek yang menyatakan bahwa :

78 http://dictionary.law.com/Default.aspx?selected=21, diakses pada tanggal 15 September

2014

79 Emmy Yuhassarie, Hak Kekayaaan Intelektual dan Perkembangannya, (Jakarta: Pusat

(35)

“ Merek tidak dapat didaftar atas dasar permohonan yang diajukan oleh pemohon

yang beritikad tidak baik.”

Dalam Pasal 4 Undang-Undang no 15 Tahun 2001 ini tidak dijelaskan

pengertian itikad tidak baik ataupun unsur-unsur suatu permohonan dikategorikan

sebagai pemohon yang beritikad tidak baik. Didalam penjelasan Pasal 4 ini hanya

menjelaskan pengertian pemohon yang beritikad baik. Dalam penjelasan pasal 4 itu

disebutkan bahwa pemohon yang beritikad baik adalah pemohon yang mendaftarkan

mereknya secara layak dan jujur tanpa niat untuk menbonceng,meniru atau menjiplak

ketenaran merek pihak lain demi kepentingan usahanya yang berakibat kerugian pada

pihak lain itu atau menimbulkan kondisi persaingan curang, mengecoh, atau

menyesatkan konsumen.

Walaupun tidak dijelaskan mengenai pengertian atau definisi itikad tidak baik,

tetapi dalam penjelasan Pasal 4 Undang-Undang No 15 Tahun 2001 tersebut ada

diberikan contoh yang merupakan suatu tindakan itikad tidak baik. Dalam contoh

yang dimuat pada penjelasan Pasal 4 itu djelaskan bahwa suatu tindakan peniruan

terhadap merek yang sudah dikenal oleh masyarakat secara umum sejak

bertahun-tahun dan tindakan peniruan tersebut sedemikian rupa sehingga memiliki persamaan

pada pokoknya ataupun memiliki persamaan pada keseluruhannya dengan merek

dagang tersebut, maka dalam hal ini sudah terjadi itikad tidak baik dari peniru karena

setidak-tidaknya patut diketahui adanya unsur peniruan merek yang sudah dikenal

(36)

jangkauan pengertian itikad tidak baik meliputi perbuatan penipuan, rangkaian

menyesatkan orang lain, serta tingkah laku yang mengabaikan kewajiban hukum

untuk mendapat keuntungan. Bisa juga diartikan sebagai perilaku yang tidak

dibenarkan secara sadar untuk mencapai suatu tujuan yang tidak jujur (dishonestly

purpose).80

Jadi dapat diketahui bahwa walaupun Undang-Undang No 15 Tahun 2001

tentang merek telah mengatur tentang itikad tidak baik, tetapi mengenai itikad tidak

baik tersebut belum diatur secara jelas dalam Undang-Undang No 15 Tahun 2001

tentang merek tersebut. Dalam pembahasan di bawah ini akan di bahas mengenai

pengaturan mengenai definisi serta kriteria mengenai itikad tidak baik tersebut dari

beberapa negara serta pembahasan mengenai kriteria itikad tidak baik yang diatur di

Undang–Undang merek Indonesia.

1. Pengaturan Itikad Tidak Baik Dalam Hukum Beberapa Negara

a. Australia

Hukum di Negara Australia belum memberikan definisi secara jelas mengenai

itikad tidak baik, tetapi mengenai kriteria-kriteria atau syarat-syarat suatu tindakan

dikatakan sebagai itikad tidak baik ada di atur dalamThe Explanatory Memorandum

to the Trade Marks Amendment Act 2006. Di dalamThe Explanatory Memorandum

to the Trade Marks Amendment Act 2006, menyebutkan itikad tidak baik sebagai

instances in which a person has deliberately set out to gain registration of a trade

80Agus Mardianto,“Penghapusan Pendaftaran Merek Berdasarkan Gugatan Pihak Ketiga”,

(37)

mark, or adopted a trade mark in bad faith”. Untuk bisa dinyatakan sebagai itikad

tidak baik, harus mencakup :

1. an element of intentional dishonesty; or

2. a deliberate attempt to mislead the Registrar in some way by means of the application; or

3. in circumstances where an Applicant claims that the application was not made in bad faith but, rather, as a result of its own ignorance or naivety, then the evidence would need to show that the circumstances were such that the “reasonable man” standing in the shoes of the Applicant, should be aware that he ought not to apply for Trade Mark Registration.81

b. Brazil

Di negara Brazil juga ada diatur mengenai tindakan itikad tidak baik. Tetapi

sejauh ini Hukum di Negara Brazil masih belum mencantum atau mengatur mengenai

pengertian atau definisi itikad tidak baik secara jelas. Mengenai itikad tidak baik,

pada Undang-undang merek Brazil yang disahkan pada tanggal 14 mei 1996

memperkenalkan konsep mengenai itikad tidak baik yang kaitannya dengan

pengaplikasian merek atau pada pendaftaran merek. mengenai itikad tidak baik ini

diatur pada Section 124, XXIII, yang mengatur bahwa

“shall not be registered as trade marks a sign that imitates or reproduces, either wholly or in part, a trade mark which the applicant clearly could not be unaware of as a result of his activity, in the name of a person established or domiciled in Brazilian territory or in a country that is bound to Brazil by agreement, or that assures reciprocity of treatment, if the mark is intended to identify identical, similar or related products or services liable to cause confusion or association with the other person’s mark”.82

81Trade mark application for SUPERMAN WORKOUT made in bad faith ,

http://www.gadens.com/publications/Pages/Trade-mark-application-for-SUPERMAN-WORK-OUT-made-in-bad-faith.aspx , diakses pada tanggal 29 September 2014

82

(38)

Dengan demikian, definisi "itikad buruk" dalam suatu pendaftaran merek,

tidak hanya mempertimbangkan status ketenaran suatu merek dagang (sebagaimana

yang diatur dalam Pasal 6 bis Konvensi Paris), tetapi juga harus menganalisis tujuan

dan maksud Pemohon dalam mengajukan permohonan pendaftaran suatu merek.

c. China

Mengenai pengertian dan konsep itikad tidak baik di China, masih belum ada

penjelasan yang lengkap pada Regulasi dan Hukum merek di China. Trademark

Review and Adjudication Board (TRAB) memberikan Penjelasan mengenai itikad

tidak baik, TRAB menyatakan bahwa “Bad faith is a mental state of a person in that

he knew or should have known that the trademark in question originated from a third

party.”

China Trademark Office (CTMO) dan Trademark Review and Adjudication

Board (TRAB) juga memberikan penjelasan mengenai konteks pasal 13 dari Hukum

merek China yang mengatur mengenai perlindungan merek terkenal. Dalam hal ini

dikatakan dalam melindungi merek terkenal dari kemungkinan terjadi itikad tidak

baik, harus mempertimbangkan beberapa faktor sebagai berikut :

1. The Applicant and the prior user of the trademark have had business contacts or cooperation;

2. the Applicant and the prior user are in the same area or both goods/ services have same distribution channel and territorial scope;

3. the Applicant and the prior user have had other disputes to let the applicant become aware of prior user’s trademark;

4. the Applicant and the prior user have had internal personnel exchanges; 5. upon the registration of the trademark, the Applicant, with the purpose to seek

(39)

trademark to mislead the public, forces the prior user to do business with the applicant, or demands high transfer fee, royalty fee or infringement compensation from the prior user or others;

6. the other’s trademark has high originality; and

7. other situations indicating the existence of bad faith.83

Selain pengaturan mengenai perlindungan terhadap merek terkenal yang

sebagaimana tercantum pada konteks Pasal 13 Hukum merek, dalam perkembangan

nya juga ada diberikan penjelasan mengenai itikad tidak dalam pendaftaran merek.

untuk dapat memutuskan suatu pendaftaran tergolong dalam pendaftaran yang

berdasarkan itikad tidak baik, maka harus memenuhi unsur-unsur sebagai berikut :

1. If the applicant seeks to register the mark, it may be difficult to determine if this act is actually done in bad faith. A bad faith applicant is not actually using the mark for the properly intended usage; rather they are using the intellectual property of others for their personal gain by filing a bad faith application. This behavior in and of itself is intended to occupy the fruits of labor or intellectual achievements of others. If this type of mark is registered, it is no different from theft. we can identify the registration made in bad faith from one that establishes legitimate interests from three step. First, see that if registration is successful, the mark is used on the applicant's goods or services and see whether those goods and services are registered with said mark are similar to or the same as another's. Secondly, one should know if the registrant transferred the trademark rights to a second party, or they bought a license to use the mark. Third, ask if a registered trademark owner made the direct infringement complaint, and if so, did they request reimbursement. If the bad faith applicants have registered trademarks not primarily for their own use, and do not own the products or services associated with that mark, or, if they have not purchased a trademark license or failed to request compensation for infringement of the trademark, then it can be accurately assumed that this applicant's actions were intended to register a mark in bad faith.

2. If the applicant has registered through unfair means; this behavior can be explained through the aforementioned elements. Through improper means, the applicant registered a trademark in an unlawful manner, concealing relevant

83 Bad Faith Trade Mark Filings – An International Perspective,

(40)

facts in their trademark application and other related materials, thereby falsely reporting information within their application.

3. If registration is successful, the results of bad faith registration can be more easily determined; it will eventually constitute a bad faith registration if objections are filed. If there is a procedure of objection, these bad faith applicants will inevitably be found to have applied for the trademark rights of others. In this case, objections will certainly be raised, leading to the unsuccessful registration of the mark, which is then called "attempted bad faith registration"84

d. Inggris

Mengenai itikad tidak baik, dalam Undang-undang Inggris belum di muat

pembahasan mengenai pengertian ataupun kriteria tindakan-tindakan yang bisa

digolongkan sebagai tindakan berdasarkan itikad tidak baik. Mengenai pembahasan

itikad tidak baik muncul pada sidang pengadilan kasus Gromax Plasticulture Ltd v

Don dan Low Nonwovens Ltd. Dalam persidangan ini Hakim ada memberikan opini

mengenai itikad tidak baik, Hakim menyatakan bahwa :

“I shall not attempt to define bad faith in this context. Plainly it includes dishonesty and, as I would hold, includes also some dealings which fall short of the standards of acceptable commercial behavior observed by reasonable and experienced men in the particular area being examined. Parliament has wisely not attempted to explain in detail what is or is not bad faith in this context; how far a dealing must so fall-short in order to amount to bad faith is a matter best left to be adjudged not by some paraphrase by the Courts (which leads to the danger of the Courts then construing not the Act but the paraphrase) but by reference to the words of the Act and upon a regard to all material surrounding circumstances.”85

e. Taiwan

84Bad Faith Registration: What China's New Trademark Law Will Change To Protect IPR

Owners,http://www.mondaq.com/x/310464/Trademark/Bad+Faith+Registration+What+Chinas+New+ Trademark+Law+Will , diakses pada 29 September 2014

85Bad Faith Trade Mark Filings An International Perspective, Page 139,

(41)

Dalam perundang-undangan kekayaan intelektual di Taiwan tidak

memberikan definisi tentang apa yang dimaksud dengan "itikad buruk", tetapi ada

diberikan kriteria-kriteria ataupun unsur-unsur itikad tidak baik. Sehubungan dengan

dokumen atau pernyataan yang disampaikan ke Kantor Merek Dagang diatur dalam

Pasal 119 UU Prosedur Administrasi dimana tindakan-tindakan berikut dikategorikan

sebagai tindakan "itikad buruk" yaitu :

1. Causing the administrative authority to render an administrative disposition by way of fraud, coercion or bribery;

2. furnishing incorrect information or making incomplete statements, thereby causing the administrative authority to render an administrative disposition based on such information or statement; and

3. having knowledge that the administrative disposition is unlawful or failing to know that it is unlawful due to his gross negligence.86

f. Jerman

Didalam undang-undang perdagangan merek di Jerman No. 10 pada Pasal

8(2) ada diatur mengenai pembahasan itikad tidak baik. Menurut pengaturan pada

Pasal 8(2) untuk menentukan apakah suatu merek dagang diajukan berdasarkan itikad

tidak baik, harus menjadi subyek dari penilaian secara keseluruhan dengan

mempertimbangkan semua faktor yang relevan dengan kasus tertentu. Faktor-faktor

yang relevan adalah :

1. The fact that the Applicant knows or must know that a third party is using an identical/similar sign for identical/similar products/services capable of being confused with the sign for which registration is sought and that this third party has acquired a degree of legal protection on this sign through use. 2. A presumption of knowledge by the Applicant of the use by a third party of a

confusingly similar sign may arise from general knowledge in the economic sector concerned with such use or from the duration of such use. The more

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...