BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Auditing merupakan kegiatan pemeriksaan dan pengujian suatu

Teks penuh

(1)

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA A. Pengertian Audit Intern

Auditing merupakan kegiatan pemeriksaan dan pengujian suatu pernyataan, pelaksanaan dari kegiatan yang dilakukan oleh pihak independen guna memberikan suatu pendapat. Pihak yang melaksanakan auditing disebut dengan auditor. Pengertian auditing semakin berkembang sesuai dengan kebutuhan yang meningkat akan hasil pelaksanaan auditing.

Adapun menurut Alvin A. Arens (2003:15) definisi auditing sebagai berikut “Auditing adalah pengumpulan serta pengevaluasian bukti-bukti atas informasi untuk menentukan dan melaporkan tingkat kesesuaian informasi tersebut dengan kriteria-kriteria yang telah ditetapkan. Auditing harus dilaksanakan oleh seseorang yang kompeten dan independen”.

Dilihat dari definisi di atas, unsur penting dalam pelaksanaan auditing adalah proses pengumpulan serta pengevaluasian bukti-bukti dan kriteria-kriteria yang telah ditetapkan. Bukti-bukti yang diperoleh baik dari dalam perusahaan maupun dari luar perusahaan digunakan sebagi bahan evaluasi sehingga hasil audit lebih objektif. Kriteria-kriteria yang ditetapkan digunakan sebagai tolak ukur auditor untuk memberikan pendapatnya yang kemudian dituangkan ke dalam laporan audit. Laporan audit harus dapat memberi informasi kepada para pengguna akan tingkat kesesuaian dari informasi tersebut dengan kriteria-kriteria yang ditetapkan.

(2)

Jika dilihat dari pihak yang melakukan pemeriksaan, audit dapat dikelompokkan menjadi audit intern dan audit ekstern. Audit intern ini sering juga disebut sebagai pemeriksaan intern. Pihak yang melakukan audit intern disebut internal auditor yang merupakan karyawan tetap dari suatu entitas, sedangkan pihak yang melakukan audit ekstern bukan merupakan karyawan dari organisasi yang diaudit, tetapi memiliki praktik independen sendiri. Meskipun pihak yang melakukan audit intern merupakan bagian dari organisasi yang diaudit itu sendiri, tetapi pelaksanaan audit intern harus tetap obyektif dan independen dari aktivitas yang diaudit.

Untuk dapat memahami dan lebih memperjelas pengertian audit intern secara baik, berikut ini akan dikutip beberapa definisi audit intern. Ikatan Auditor Internal (Institue of Internal Auditors – IIA), yang dikutip oleh Messier (2005:514), mendefinisikan audit internal sebagai berikut :

Audit intern adalah aktivitas independen, keyakinan obyektif, dan konsultasi yang dirancang untuk menambah nilai dan meningkatkan operasi organisasi. Audit intern ini membantu organisasi mencapai tujuannya dengan melakukan pendekatan sistematis dan disipilin untuk mengevaluasi dan meningkatkan efektifitas manajemen resiko, pengendalian, dan proses tata kelola.

Definisi ini mengandung pengertian bahwa audit intern merupakan suatu aktivitas yang dilakukan untuk membantu manajemen dalam penyediaan informasi, dengan tujuan akhir yaitu menambah nilai perusahaan. Pelaksanaan audit intern dilakukan secara independen dan obyektif yang berarti tidak terpengaruh oleh pihak manapun dan tidak terlibat dalam pelaksanaan kegiatan yang diaudit. Hasil audit yang diperoleh dari pelaksanaan audit intern secara

(3)

independen dan obyektif tersebut akan dapat diandalkan oleh para pengguna informasi.

Soekirno Agoes (2004:221) mendefinisikan audit intern sebagai berikut : Internal audit adalah pemeriksaan yang dilakukan oleh bagian internal audit perusahaan, baik terhadap laporan keuangan dan catatan akuntansi perusahaan, maupun ketaatan terhadap kebijakan manajemen puncak yang telah ditentukan dan ketaatan terhadap peraturan pemerintah dan ketentuan-ketentuan dari ikatan profesi yang berlaku.

Definisi di atas menunjukkan bahwa audit intern telah mengalami perkembangan. Lingkup audit intern tidak lagi hanya terbatas melakukan pemeriksaan di bidang keuangan saja, tetapi juga melakukan pemeriksaan di bidang lainnya seperti pengendalian, kepatuhan, operasional dan lain-lain. Perkembangan tersebut membuat peran audit intern semakin diperlukan perusahaan untuk mencapai tujuannya, bahkan mungkin bagi pemegang saham untuk memastikan setiap unit di dalam perusahaan berjalan dengan baik.

Peran audit intern tersebut dapat dilaksanakan melalui :

1. Menilai kecukupan penerapan pengendalian dan mengembangkan pengendalian yang efektif dengan biaya yang efisien pula.

2. Memastikan bahwa kebijakan, prosedur, dan peraturan yang ditetapkan manajemen telah ditaati.

3. Meyakinkan bahwa harta perusahaan telah terlindungi dengan baik dan pengelolaan sumber daya dapat dipertanggungjawabkan.

4. Menilai mutu pekerjaan yang ditugaskan kepada anggota manajemen.

(4)

5. Memberikan saran-saran perbaikan yang dapat meningkatkan efisiensi dan efektivitas operasional.

Definisi lain menurut Sawyer (2005:10) mengenai audit intern sebagai berikut :

Audit internal adalah sebuah penilaian yang sistematis dan objektif yang dilakukan auditor internal terhadap operasi dan kontrol yang berbeda-beda dalam organisasi untuk menentukan apakah (1) informasi keuangan dan operasi telah akurat dan dapat diandalkan; (2) risiko yang dihadapi perusahaan telah diidentifikasi dan diminimalisasi; (3) peraturan eksternal serta kebijakan dan prosedur internal yang bisa diterima telah diikuti; (4) kriteria operasi yang memuaskan telah dipenuhi; (5) sumber daya telah digunakan secara efisien dan ekonomis; dan (6) tujuan organisasi telah dicapai secara efektif - semua dilakukan dengan tujuan untuk dikonsultasikan dengan manajemen dan membantu anggota organisasi dalam menjalankan tanggung jawabnya secara efektif.

Definisi ini menyatakan dengan jelas tentang aspek-aspek utama yang dinilai oleh audit intern dalam perusahaan yaitu manajemen resiko, pengendalian intern, dan proses tata kelola.

Bertolak dari definisi-definisi di atas, dalam perkembangannya konsep audit intern telah mengalami perubahan. Peranan audit intern sebelumnya hanya sebatas sebagai pengawas di dalam perusahaanyang kerjanya hanya mencari kesalahan, sedangkan saat ini audit intern dapat memberikan saran dan masukan berupa tindakan perbaikan atas sistem yang telah ada. Oleh karena itu, saat ini audit intern dapat juga dikatakan sebagai konsultan perusahaan dalam mencapai tujuannya di masa yang akan datang.

Agar dapat memberikan saran dan masukan berupa tindakan perbaikan tersebut, internal auditor harus selalu meningkatkan pengetahuan baik di bidang auditing sendiri maupun pengetahuan di bidang bisnis perusahaan.

(5)

B. Fungsi dan Tujuan Audit Intern

Bank sebagai salah satu lembaga keuangan memiliki kedudukan yang penting dalam perekonomian dan pembangunan, maka fungsi audit intern menjadi semakin penting. Secara umum dapat dikatakan bahwa fungsi audit intern bagi manajemen perusahaan adalah untuk menjamin pelaksanaan operasional yang sesuai dengan ketentuan-ketentuan yang berlaku.

Dalam perusahaan perbankan, Bank Indonesia telah mengeluarkan peraturan mengenai pelaksanaan audit intern. Peraturan tersebut mewajibkan setiap bank umum di Indonesia untuk menerapkan Standar Pelaksanaan Fungsi Audit Intern (SPFAIB). Fungsi audit intern yang dimiliki oleh perusahaan perbankan dinamakan sebagai Satuan Kerja Audit Intern, namun bisa saja memiliki nama yang berbeda pada masing-masing bank tetapi makna dan fungsinya tetap sesuai dengan SPFAIB.

Tujuan satuan kerja audit intern yang dibentuk harus sesuai dengan tujuan manajemen, karena pada dasarnya tujuan satuan kerja audit intern adalah untuk memenuhi kebutuhan manajemen. Manajemen dapat menjadikan satuan kerja audit intern sebagai salah satu alat untuk menambah nilai perusahaan dan mencapai tujuannya.

Perumusan fungsi satuan kerja audit intern dalam perusahaan biasanya menyangkut sistem pengendalian manajemen, ketaatan, pengungkapan penyimpangan, efisiensi dan efektivitas, manajemen risiko, dan proses tata kelola (good corporate governance).

(6)

Fungsi audit intern menjadi semakin penting sejalan dengan semakin kompleksnya operasional perusahaan. Manajemen tidak mungkin dapat mengawasi seluruh kegiatan operasional perusahaan, karena itu manajemen sangat terbantu oleh fungsi audit intern untuk menjaga efisiensi dan efektivitas kegiatan.

Sawyer (2005:32) menyebutkan fungsi audit intern bagi manajemen sebagai berikut :

1. Mengawasi kegiatan-kegiatan yang tidak dapat diawasi sendiri oleh manajemen puncak.

2. Mengidentifikasi dan meminimalkan risiko. 3. Memvalidasi laporan ke manajemen senior. 4. Membantu manajemen pada bidang-bidang teknis. 5. Membantu proses pengambilan keputusan.

6. Menganalisis masa depan – bukan hanya untuk masa lalu. 7. Membantu manajer untuk mengelola perusahaan.

Menurut Teguh Pudjo Mulyono (1999:6), “tujuan audit yang pokok adalah untuk memberikan jasa kepada management yang bersifat protektif dan konstruktif”. Adapun menurutnya, Teguh Pudjo Mulyono (1999:6) sifat protektif dari kegiatan audit dapat berupa :

1. Pengamanan atas harta kekayaan bank, dalam pengertian di sini tentu termasuk pula pengamanan atas assets / aktiva / harta bank itu sendiri, atas pendapatan bank dalam segala bentuk yang seharusnya diterima dalam jumlah dan waktu yang semestinya.

2. Penjagaan harta kekayaan lebih bersifat aktif oleh karena itu lebih cocok dikatakan sebagai upaya penjagaan harta kekayaan dalam bentuk represif.

3. Dipatuhinya kebijakan (policies) management yang telah ditetapkan untuk menghindarkan penyimpangan-penyimpangan, baik dilakukan oleh pihak intern maupun extern.

4. Bentuk lain dari sifat protektif ini yaitu menjaga kebenaran dan ketepatan data administrasi / management information system.

5. Dan tujuan pemeriksaan yang tidak kalah pentingnya yaitu untuk menilai apakah internal control yang diterapkan dalam bank yang bersangkutan telah memadai atau tidak.

(7)

Selanjutnya, Teguh Pudjo Mulyono (1999:7) mengemukakan sifat dari tujuan audit yang lain yaitu jasa konstruktif bagi manajemen, antara lain berupa :

1. Penyampaian umpan balik untuk corective action atas penyimpangan-penyimpangan yang ditemukan selama pelaksanaan audit tersebut. 2. Mendorong dicapainya target yang telah ditetapkan.

3. Dari hasil auditnya juga akan diketahui strenghtness, opportunities, weakness dan threat (titik-titik kekuatan, kesempatan-kesempatan usaha, titik kelemahan, dan titik kerawanan yang ada).

4. Dari berbagai saran tersebut tentunya akan memberikan dampak positif yaitu untuk meningkatkan profitability dan efektivitas / efisiensi usaha bank yang bersangkutan.

Sebagai pemeriksa, fungsi audit intern sering terkesan kurang disukai oleh manajemen. Hal tersebut merupakan konsekuensi dari posisi audit intern sebagai pemeriksa (auditor) yang tentunya saling berhadapan dengan manajemen yang merupakan pihak yang diperiksa (auditee). Namun saat ini banyak perusahaan yang manajemennya telah menyadari dan memahami fungsi audit intern yang tidak lagi dipandang sebagai pihak yang hanya mencari kesalahan manajemen melainkan membantu manajemen menjalankan strategi untuk menambah nilai dan mencapai tujuan perusahaan.

Pelaksanaan fungsi audit intern yang tepat pada perusahaan seperti bank, BUMN, maupun perusahaan publik akan meminimalkan dan menghindari terjadinya kegagalan dalam menghadapi tantangan di masa depan. Perusahaan berkeyakinan bahwa fungsi audit intern (satuan kerja audit intern) yang efektif mampu memberikan sumbangan penting dalam meningkatkan proses corporate governance, pengelolaan risiko, dan pengendalian manajemen.

Beberapa hal yang perlu diperhatikan oleh manajemen agar fungsi satuan kerja audit intern dapat terlaksana efektif dalam membantu manajemen dengan

(8)

memberikan analisa, penilaian, dan saran mengenai kegiatan yang diperiksanya adalah :

1. Satuan kerja audit intern harus mempunyai kedudukan independen dalam organisasi perusahaan, yaitu tidak terlibat dalam kegiatan operasional yang diperiksanya.

2. Satuan kerja audit intern harus mempunyai uraian tugas tertulis yang jelas sehingga dapat mengetahui tugas, wewenang dan tanggung jawabnya.

3. Satuan kerja audit intern harus pula memiliki internal audit manual yang berguna untuk :

a. mencegah terjadi penyimpangan pelaksanaan tugas

b. menentukan standar untuk mengukur dan meningkatkan performance

c. memberi keyakinan bahwa hasil akhir satuan kerja audit intern telah sesuai dengan requirement kepala audit intern. 4. Harus ada dukungan kuat dari top management kepada satuan

kerja audit intern, dukungan tersebut dapat berupa :

a. penempatan satuan kerja audit intern dalam posisi yang independen

b. penempatan audit staf dengan gaji yang menarik

c. penyediaan waktu yang cukup dari top manajemen untuk membaca, mendengarkan dan mempelajari laporan –

(9)

laporan satuan kerja audit intern dan tanggapan yang cepat dan tegas terhadap saran-saran perbaikan yang diajukan 5. Satuan kerja audit intern harus memiliki sumber daya yang

profesional, capable, bisa bersikap objective dan mempunyai integritas serta loyalitas yang tinggi.

6. Satuan kerja audit intern harus dapat bekerja sama dengan akuntan publik. Hasil kerja satuan audit intern bisa mempercepat dan mempermudah pelaksanaan pekerjaan akuntan publik.

7. Mengadakan rotasi dan kewajiban mengambil cuti bagi pegawai satuan kerja audit intern.

8. Memberikan sanksi yang tegas kepada pegawai yang melakukan kecurangan dan memberikan penghargaan kepada mereka yang berprestasi.

9. Menetapkan kebijakan tegas mengenai pemberian-pemberian dari luar. Pemberian pada pegawai satuan kerja audit intern diinformasikan dan dijelaskan pada orang-orang yang dianggap perlu agar jelas mana yang hadiah dan mana yang berupa sogokan dan mana yang resmi.

10. Mengadakan program pendidikan dan pelatihan untuk meningkatkan kemampuan pegawai dalam melaksanakan fungsi dan tugasnya sebagai satuan kerja audit intern.

Fungsi satuan kerja audit intern yang telah diuraikan sebelumnya merupakan dukungan penting bagi Komisaris, Komite Audit, Direksi, dan

(10)

Manajemen dalam membentuk fondasi bagi pengembangan perusahaan. Demi kelancaran dari pelaksanaan fungsinya tersebut, satuan kerja audit intern harus memiliki kemampuan berkomunikasi baik komunikasi antar audit intern dalam satuan kerja, komunikasi pada berbagai tingkat manajemen, maupun pada pihak eksternal yang terkait.

C. Pengendalian Intern

Setiap perusahaan dalam menjalankan kegiatan usaha memiliki suatu pengendalian (kontrol) di dalam perusahaan agar operasional dilaksanakan sesuai ketentuan yang berlaku. Satuan kerja audit intern dapat membantu manajemen dalam menyusun pengendalian intern yang baik, mengadakan pengawasan pelaksanaannya, menilai serta memberikan saran perbaikan dan rekomendasi yang sangat diperlukan oleh manajemen. Dengan adanya pengendalian intern yang selalu dinilai maka akan menghasilkan operasional perusahaan yang sesuai dengan usaha pencapaian tujuan perusahaan.

Menurut Tjukria P.Tawaf (1999:19), mengenai hubungan satuan kerja audit intern dengan pengendalian intern pada perusahaan, khususnya bank adalah sebagai berikut :

Satuan Kerja Audit Intern merupakan bagian dari struktur pengendalian intern bank dan merupakan segala bentuk kegiatan yang berhubungan dengan audit dan pelaporan hasil audit mengenai terselenggaranya struktur pengendalian secara terkoordinasi dalam setiap tingkatan manajemen bank.

(11)

Untuk lebih memahami tentang pengendalian intern dengan baik, maka berikut akan dijelaskan pengertian, tujuan, dan komponen dari pengendalian intern.

Definisi pengendalian intern menurut George H. Bodnar (2003:233) disebutkan sebagai berikut :

Kontrol internal adalah sebuah proses yang dipengaruhi oleh jajaran direktur entitas, manajemen, dan karyawan lainnya dirancang untuk memberikan jaminan masuk akal mengenai pencapaian tujuan dalam kategori berikut : (1) pelaporan keuangan yang bisa diandalkan, (2) efektivitas dan efisiensi dari operasi, dan (3) pemenuhan hukum dan peraturan yang berlaku.

Pengendalian intern yang dilakukan membantu manajemen dalam mengkoordinasikan dan mengawasi semua sumber daya perusahaan untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Merupakan tanggung jawab direksi dan manajemen untuk membuat dan memelihara sistem pengendalian intern di dalam perusahaan. Namun pihak lain yang terkait seperti internal auditor dapat memberikan pertimbangan bagi manajemen dan direksi dalam merumuskan model pengendalian intern yang sesuai untuk dijalankan perusahaan.

Ikatan Auditor Internal (Institue of Internal Auditors – IIA), yang dikutip oleh Sawyer (2003:59), mendefinisikan pengendalian intern sebagai berikut :

“…..setiap tindakan yang diambil manajemen untuk meningkatkan kemungkinan tercapainya tujuan dan sasaran yang ditetapkan. Kontrol bisa bersifat preventif (untuk mencagah terjadinya hal-hal yang tidak diinginkan), detektif (untuk mendeteksi dan memperbaiki hal-hal yang tidak diinginkan yang telah terjadi), atau direktif (untuk menyebabkan atau mengarahkan terjadinya hal yang diinginkan). Konsep sistem kontrol merupakan gabungan komponen kontrol yang terintegrasi dan aktivitas-aktivitas yang digunakan organisasi untuk mencapai tujuan-tujuan dan sasaran-sasarannya”.

(12)

Definisi di atas tentang pengendalian intern ataupun istilah sekarang yang sering disebut dengan kontrol, menggambarkan bahwa pengendalian intern dalam perusahaan mutlak dibutuhkan untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Pengendalian intern yang baik akan meningkatkan kemungkinan dapat dicegah, diketahui, diungkapkan, dan diselesaikannya kesalahan yang terjadi dalam perusahaan.

Adapun menurut Tjukria P. Tawaf (1999:19) tujuan struktur pengendalian intern yaitu untuk :

1. Mengamankan harta kekayaan.

2. Meyakini akurasi dan kehandalan data akuntansi.

3. Mengoptimalkan pemanfaatan sumber daya secara ekonomis dan efisien serta mendorong ditaatinya kebijakan manajemen yang telah digariskan.

4. Dalam usaha perbankan yang melibatkan dana dari masyarakat luas, ruang lingkup pengendalian intern bank meliputi juga aspek-aspek yang mampu menjamin keamanan dana yang disimpan oleh masyarakat dan pihak ketiga lainnya.

Perusahaan perbankan umumnya mempunyai banyak cabang dan unit yang tersebar di wilayah yang luas, maka pihak manajemen melakukan fungsinya dengan menggunakan laporan-laporan yang dapat diandalkan, yang hanya diperoleh apabila tujuan pengendalian intern telah dipenuhi.

Selanjutnya Teguh Pudjo Mulyono (1999:30), mengemukakan mengenai tujuan pelaksanaan pengendalian intern dalam perusahaan perbankan yaitu untuk memastikan apakah :

1. Pengamanan dana masyarakat di bank yang bersangkutan seperti giro, deposito, tabungan dan dana pihak ketiga lainnya telah terjamin.

2. Pencapaian tujuan dan sasaran kegiatan operasional yang telah ditetapkan.

3. Telah tercapai pemanfaatan sumber dana dan daya secara ekonomis dan efisien.

(13)

4. Telah diperoleh kebenaran dan keutuhan informasi keuangan dan operasional termasuk kewajiban bank dan rekening administratif yang akurat, handal, lengkap, tepat waktu yang berguna bagi kepentingan bank yang bersangkutan, masyarakat, maupun pihak ketiga lainnya. 5. Telah terdapat kepatuhan terhadap kebijakan, rencana, prosedur,

hukum peraturan dan perundang-undangan yang berlaku.

6. Telah terdapatnya pengamanan harta kekayaan bank seluas-luasnya.

Pengendalian intern yang baik dapat dilihat dari komponen yang dimilikinya. Adapun lima komponen pengendalian intern adalah sebagai berikut :

1. Lingkungan Pengendalian

Lingkungan pengendalian mempengaruhi kesadaran akan pentingnya pengendalian dari orang-orang sekitarnya dan merupakan pondasi bagi kedisiplinan. Lingkungan pengendalian ini merupakan komponen yang amat penting karena menjadi dasar keefektifan unsur-unsur pengendalian intern yang lain . Faktor yang berpengaruh dalam lingkungan pengendalian yaitu :

a. Nilai integritas dan etika. Manajemen dapat memiliki pegangan dalam melaksanaan tugasnya melalui integritas dan etika yang membentuk suatu standar moral dan prilaku.

b. Komitmen kepada kompetensi. Manajemen harus mempertimbangkan kemampuan, pengetahuan, dan keahlian yang diperlukan untuk menyelesaikan pekerjaan dalam menugaskan karyawannya.

c. Filosofi manajemen dan gaya operasional. Dalam setiap menjalankan tugas dan fungsinya, manajemen percaya akan pentingnya pengendalian intern dan berusaha mengaplikasikannya dengan efektif. Kepercayaan akan pentingnya pengendalian akan

(14)

membentuk gaya operasioanal yang akan mengkomunikasikan kesadaran akan pengendalian tersebut.

d. Partisipasi dewan direksi dan komite audit. Pemegang saham melakukan kontrol atas manajemen melalui fungsi dewan direksi dan komitenya. Dewan direksi dan komitenya ikut memberikan saran kepada manajemen, serta mengawasi pengendalian internal. e. Pemberian otoritas dan tanggung jawab. Pemberian otoritas dan

tanggung jawab dipengaruhi oleh struktur organisasi. Setiap bagian perusahaan harus memahami bagaimana mereka dapat memberi kontribusi untuk mencapai tujuan perusahaan melalui otoritas dan tanggung jawab yang diberikan. Dengan demikian tujuan perusahaan harus dapat dipahami dengan jelas pula oleh setiap personel.

f. Kebijakan dan prosedur sumber daya manusia. Pada dasarnya sumber daya manusia merupakan unsur kunci dalam pelaksanaan pengendalian. Sumber daya manusia yang digunakan haruslah memiliki kemampuan yang sesuai dengan tugas yang diberikan. 2. Penilaian Resiko

Penilaian resiko merupakan proses identifikasi dan analisis resiko yang berkaitan dengan usaha pencapaian tujuan entitas, sebagai dasar dalam manajemen resiko yang dilakukan. Proses penilaian risiko yang dapat dilakukan adalah dengan mengidentifikasi perubahan internal dan eksternal dan tindakan

(15)

yang terkait yang mungkin diperlukan. Dengan demikian dapat dievaluasi kemungkinan adanya pelaksanaan operasional yang tidak sesuai.

3. Aktivitas Pengendalian

Aktivitas pengendalian adalah kebijakan dan prosedur yang dapat membantu manajemen untuk menjamin bahwa arahan manajemen dilaksanakan. Aktivitas pengendalian memiliki berbagai tujuan dan diaplikasikan sesuai fungsi dari masing-masing tingkatan organisasi. Aktivitas pengendalian yang dapat dilakukan antara lain : pemisahan tugas, pengendalian pemrosesan informasi, pengendalian fisik, dan review kerja.

4. Informasi dan Komunikasi

Komponen ini terdiri dari proses identifikasi dan penangkapan yang menghasilkan informasi, pertukaran dan komunikasi informasi sehingga orang dapat melaksanakan tanggung jawabnya.informasi dan komunikasi penting dalam proses pemahaman individu tentang peran dan tanggung jawabnya dalam pengendalian.

5. Pemantauan

Pemantauan adalah proses penentuan kualitas kinerja pengendalian intern sepanjang waktu. Tindakan perbaikan yang mungkin diperlukan juga dapat dilakukan.

Meskipun keseluruhan komponen pengandalian intern tersebut telah berjalan dengan baik, namun tidak menjamin bahwa penyimpangan dan kecurangan tidak terjadi sama sekali. Pengendalian yang dirancang dan diaplikasikan sedemikian rupa pun tetap saja terdapat kemungkinan kelemahan

(16)

yang bisa dimanfaatkan oleh pihak yang berkesempatan melakukan penyelewengan. Beberapa kelemahan pengendalian intern yang bisa terjadi tersebut antara lain :

1. Kolusi. Kolusi atau persekongkolan merupakan tindakan kerja sama pegawai untuk melakukan kecurangan serta mampu untuk menutupinya. 2. Biaya dan manfaat. Pengendalian intern tidak memungkinkan untuk

dijalankan manajemen bila biaya pengendalian melebihi manfaat yang diterima. Pertimbangan tentang biaya dan manfaat pengendalian, dapat menghambat manajemen untuk menjalankan pengendalian intern dengan memadai yang sebenarnya dibutuhkan perusahaan.

3. Kelemahan manusia. Pengendalian dirancang dan dilaksanakan oleh manusia yang tentu memiliki kelemahan sehingga dapat melakukan kekeliruan.

Berdasarkan penjelasan yang telah diuraikan di atas mengenai pengendalian intern perusahaan maka jelaslah bahwa pengendalian tersebut harus berjalan sebaik-baiknya demi tercapai tujuan perusahaan. Untuk menentukan sampai di mana pengendalian intern perusahaan dapat dipercaya telah memadai, maka manajemen memerlukan peran internal auditor untuk menilainya.

Agar dapat berjalan dengan baik maka pelaksanaan pengendalian intern dalam perusahaan memerlukan komitmen dari semua pihak. Ch Narotama dan Wirawan (2004 : 30) menyatakan bahwa perusahaan yang memiliki pengendalian intern cukup baik ditandai dengan beberapa ukuran sebagai berikut :

1. Semakin berkurangnya temuan-temuan yang tidak sesuai dengan standar akuntansi dan kebijakan-kebijakan manajemen perusahaan.

(17)

2. Semakin berkurangnya peran direksi dalam memecahkan masalah yang dihadapi oleh satuan pengawas internal.

3. Laporan satuan pengawas internal yang tepat waktu. 4. Meningkatnya efisiensi dan efektivitas perusahaan.

D. Independensi Audit Intern

Karena yang melakukan audit intern adalah pegawai perusahaan sendiri (orang dalam perusahaan), maka banyak pihak yang menganggap bahwa pelaksanaan audit intern kurang independen.

Perusahaan harus dapat menempatkan satuan kerja audit intern pada kedudukan yang menjamin satuan kerja audit intern dapat dengan bebas memberi penilaian yang tidak memihak (independen).

Penempatan kedudukan satuan kerja audit intern yang tidak tepat di dalam perusahaan dapat menghambat pelaksanaan fungsi audit intern. Selain itu juga dapat mengganggu pelaporan hasil pekerjaannya kepada manajemen, dimana internal auditor harus mengungkapkan semua fakta-fakta penting yang diketahuinya tanpa berupaya menutupinya demi kepentingan pihak tertentu.

Soekirno Agoes (2004:227), mengemukakan bahwa independensi internal auditor antara lain tergantung pada :

1. Kedudukan Internal Audit Department (IAD) tersebut dalam organisasi perusahaan, maksudnya kepada siapa IAD bertanggung jawab.

2. Apakah IAD dilibatkan dalam kegiatan operasional.

Kedudukan departemen audit intern (satuan kerja audit intern) di dalam perusahaan akan menentukan tingkat kebebasannya dalam menjalankan tugas

(18)

sebagai auditor. Terdapat alternatif kedudukan internal auditor dalam perusahaan yaitu sebagai berikut :

1. Internal auditor berada di bawah direktur keuangan.

2. Internal auditor berada di bawah direktur utama yang merupakan staf dari direktur utama.

3. Internal auditor merupakan staf dewan komisaris.

Kedudukan seorang internal auditor juga tidak memiliki wewenang langsung terhadap tingkatan manajemen di dalam organisasi perusahaan, kecuali pihak yang memang berada di bawahnya dalam satuan kerja audit intern itu sendiri.

Untuk lebih dapat menjelaskan tentang kedudukan satuan kerja audit intern (internal audit department) di dalam organisasi perusahaan maupun struktur organisasi dalam satuan kerja audit intern sendiri, maka dapat diperlihatkan gambar berikut di bawah ini :

(19)

GAMBAR 2.1

Internal Audit Department (IAD) Berada Dibawah Direktur Keuangan Sumber : Agoes Soekirno. Auditing (Pemeriksaan Akuntan) oleh Kantor

Akuntan Publik. Jakarta.2004. hal 243. RUPS DEWAN KOMISARIS DIRUT DIR. KEU BAGIAN AKUNTANSI BAGIAN KEUANGAN IAD

(20)

GAMBAR 2.2

Internal Audit Department (IAD) Berada Dibawah Direktur Utama Sumber : Agoes Soekirno. Auditing (Pemeriksaan Akuntan) oleh Kantor

Akuntan Publik. Jakarta.2004. hal 243. RUPS DEWAN KOMISARIS DIRUT IAD DIR. KEU BAGIAN AKUNTANSI BAGIAN KEUANGAN BAGIAN ANGGARAN

(21)

GAMBAR 2.3

Internal Audit Department (IAD) Berada Dibawah Dewan Komisaris Sumber : Agoes Soekirno. Auditing (Pemeriksaan Akuntan) oleh Kantor

Akuntan Publik. Jakarta.2004. hal 243. RUPS DEWAN KOMISARIS DIRUT IAD DIR. KEU BAGIAN AKUNTANSI BAGIAN KEUANGAN BAGIAN ANGGARAN

(22)
(23)

Satuan kerja audit intern yang independen tidak dibolehkan untuk terlibat dalam kegiatan operasional perusahaan apalagi kegiatan yang diperiksanya. Sulit bagi seorang auditor untuk memberikan penilaian yang objektif dan independen apabila ternyata ia terlibat dalam kegiatan yang diperiksanya.

Sebagai penilai independen tentang kecukupan pengendalian intern perusahaan, satuan kerja audit intern hanya menempatkan diri sebagai narasumber dalam pembuatan konsep pengendalian perusahaan. Pihak yang bertanggung jawab penuh dalam perancangan dan implementasi pengendalian intern adalah manajemen dan direksi. Dengan demikian penilaian satuan kerja audit intern terhadap pengendalian intern tetap independen dan objektif, tanpa terlibat langsung dalam perencanaannya.

E. Laporan Audit Intern

Hasil akhir dari pelaksanaan audit intern dituangkan dalam suatu bentuk laporan tertulis melalui proses penyusunan yang baik. Laporan hasil audit intern merupakan suatu alat penting untuk menyampaikan pertanggungjawaban hasil kerja kepada manajemen yaitu sebagai media informasi untuk menilai sejauh mana tugas-tugas yang dibebankan. Untuk itu laporan yang disampaikan harus :

1. Objective

Laporan yang disusun harus mengungkapkan fakta dengan teliti berdasarkan data yang dapat diuji kebenarannya. Menyampaikan dengan jelas tentang pokok pemeriksaan yang telah dilakukan sehingga dapat diyakini kebenarannya.

(24)

2. Clear (jelas)

Laporan disusun dengan menggunakan bahasa yang jelas, tidak menimbulkan kesalahpahaman bagi penggunanya. Menerangkan dengan jelas dan lengkap agar dapat dimengerti oleh pihak-pihak yang menggunakannya.

3. Singkat dan padat

Struktur laporan yang baik melaporkan dengan ringkas pelaksanaan operasional, pengendalian, dan hasil kerja. Namun tetap menjaga kualitas informasi yang disampaikan melalui laporan tersebut.

4. Membangun (konstruktif)

Laporan yang bersifat membangun adalah laporan yang sedapat mungkin memaparkan rekomendasi tindakan perbaikan yang dapat dilakukan untuk mengupayakan peningkatan operasi.

5. Tepat waktu

Laporan audit hanya dapat bermanfaat dengan maksimal bila laporan tersebut disajikan pada saat dibutuhkan. Sehingga auditor harus mampu menyajikan laporan yang tepat waktu.

Dengan adanya pedoman yang harus diikuti dalam penyusunan laporan audit maka kualitas laporan lebih memuaskan. Kualitas laporan yang dibuat akan mencerminkan pula kualitas pelaksanaan audit intern itu sendiri. Oleh karena itu satuan kerja audit intern sedapat mungkin melaksanakan fungsinya dengan baik agar laporan yang disusun sesuai dengan kebutuhan manajemen.

(25)

Sebelum disampaikan pada pengguna laporan, peninjauan kembali atas laporan (review) adalah tindakan bijak yang dapat dilakukan satuan kerja audit intern. Hal tersebut bertujuan untuk lebih memastikan kebenaran dan kelengkapannya.

Adapun isi atau materi laporan audit intern antara lain : a. Tujuan, luas dan pendekatan audit.

Laporan harus menjelaskan tujuan audit yang dilakukan, periode waktu dan kegiatan yang diaudit, serta pendekatan audit agar pengguna laporan dapat memahami dengan baik.

b. Temuan audit.

Pengungkapan temuan audit harus berdasarkan fakta dan memuat dengan jelas penyebab dan dampak dari temuan tersebut.

c. Kesimpulan internal auditor atas hasil audit.

Auditor harus mampu menganalisis sehingga dapat memberikan kesimpulan atas temuan audit.

d. Pernyataan internal auditor bahwa audit telah dilakukan sesuai dengan SPFAIB.

Pernyataan tersebut harus berdasarkan pelaksanaan audit yang sebenarnya dilakukan. Bila audit yang dilakukan tidak sesuai dengan SPFAIB, maka akan mempengaruhi penilaian Bank Indonesia terhadap kinerja auditor.

e. Rekomendasi.

Internal auditor harus pula memberikan rekomendasi perbaikan atas temuan audit berupa kelemahan maupun penyimpangan.

(26)

f. Tanggapan Auditee.

Auditee berkesempatan menanggapi temuan audit. Auditee dapat melakukan pembenaran atau keberatan/menolak temuan audit disertai alasannya. Kemudian auditee harus memberi komitmen untuk melakukan perbaikan sesuai rekomendasi auditor dengan batas waktu tertentu.

g. Hasil pengecekan komitemen auditee.

Laporan audit mengemukakan juga hasil pengecekan atas pelaksanaan komitmen auditee atas hasil audit sebelumnya yang belum dapat dilaksanakan.

Laporan audit akan efektif bila terdapat pelaksanaan tindak lanjut agar proses audit yang berjalan benar-benar memberikan manfaat bagi perusahaan. Hiro Tugiman (1997:75) mengemukakan bahwa “Tindak lanjut oleh pemeriksa internal didefinisikan sebagai suatu proses untuk menentukan kecukupan, keefektivan, dan ketepatan waktu dari berbagai tindakan yang dilakukan oleh manajemen terhadap berbagai temuan pemeriksaan yang dilaporkan”. Kegiatan tersebut dikenal dengan monitoring tindak lanjut hasil audit.

Dengan adanya kegiatan monitoring (pemantauan) atas pelaksanaan tindak lanjut yang dilakukan audit intern, maka dapat diketahui perkembangan dan dapat diingatkan kepada auditee terhadap komitmen perbaikan apabila diperlukan. Dalam SPFAIB juga menjelaskan mengenai kegiatan pemantauan tindak lanjut hasil audit yakni dari hasil pemantauan pelaksanaan tindak lanjut dilakukan analisis kecukupan atas realisasi janji perbaikan yang telah dilaksanakan auditee. Sellanjutnya pengecekan kembali tindak lanjut perlu dilakukan apabila terdapat

(27)

kesulitan atau hambatan yang menyebabkan tindak lanjut tersebut tidak dapat dilakukan sebagaimana mestinya.

Dengan demikian peran satuan kerja audit intern semakin dibutuhkan untuk bertugas memantau pelaksanaan tindak lanjut, menganalisis kecukupan tindak lanjut disertai identifikasi hambatan pelaksanaannya, dan memberikan laporan atas tindak lanjut tersebut.

F. Standar Audit Intern

Standar audit intern diperlukan sebagai dasar untuk mengukur apakah pelaksanaan pekerjaan audit intern telah memadai atau tidak. Dengan bekerja mengikuti standar, auditor dapat mempertahankan diri dari tuduhan akan pelaksanaan audit yang tidak memadai.

The Institute of Internal Auditor (IIA) merupakan asosiasi profesi internasional yang telah diakui di dunia. IIA mengembangkan pedoman pelaksanaan audit intern yaitu International Standards for The Professional Practice of Internal Auditing.

Sesuai dengan yang dipublikasikan IIA, tujuan Standar tersebut adalah untuk :

1. Menjelaskan prinsip-prinsip dasar yang mencerminkan praktik audit internal yang seharusnya dilakukan.

2. Memberikan kerangka kerja untuk melaksanakan dan meningkatkan lingkup aktivitas audit internal yang bernilai tambah.

(28)

3. Menetapkan dasar pengukuran kinerja audit internal.

4. Membantu perkembangan proses organisasional dan operasi. International Standards for The Professional Practice of Internal Auditing terdiri dari tiga bidang utama yaitu standar atribut, standar kinerja, dan standar implementasi. Standar atribut menjelaskan karakteristik organisasi dan individu yang melakukan kegiatan audit intern. Standar Kinerja menjelaskan sifat aktivitas audit intern dan kriteria kualitas untuk menilai kinerjanya. Standar atribut dan standar kinerja berlaku untuk audit intern secara umum, sedangkan standar implememtasi lebih rinci dan memfokuskan pada penerapan langsung atas situasi khusus.

Pada perbankan di Indonesia, Bank Indonesia telah secara tegas membuat suatu standar untuk para internal auditnya dengan memberlakukan SPFAIB (Standar Pelaksanaan Fungsi Audit Intern Bank).

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...