Pengaruh proporsi drug load terhadap disolusi dispersi padat vacuum dried isolat ekstrak rimpang kunyit (Curcuma domestica C-95)-Gom Guar - USD Repository

99 

Teks penuh

(1)

SKRIPSI

Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Farmasi (S.Farm.)

Program Studi Farmasi

Oleh: Oki Christina NIM : 078114035

FAKULTAS FARMASI

UNIVERSITAS SANATA DHARMA YOGYAKARTA

(2)

i

PENGARUH PROPORSI DRUG LOAD TERHADAP DISOLUSI DISPERSI PADAT VACUUM DRIED ISOLAT EKSTRAK RIMPANG KUNYIT

(Curcuma domestica C-95)-GOM GUAR

SKRIPSI

Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Farmasi (S.Farm.)

Program Studi Farmasi

Oleh:

Oki Christina

NIM : 078114035

FAKULTAS FARMASI

UNIVERSITAS SANATA DHARMA YOGYAKARTA

(3)

ii

PADAT VACUUM DRIED ISOLAT EKSTRAK RIMPANG KUNYIT (Curcuma domestica C-95)-GOM GUAR

Skripsi yang diajukan oleh:

Oki Christina

NIM : 078114035

telah disetujui oleh:

Pembimbing Utama

tanggal 11 Februari 2011

Pembimbing Pendamping

Lucia Wiwid Wijayanti, M.Si.

(4)
(5)

iv

-Anyone who stops learning is old, whether at twenty or

eighty. Anyone who keeps learning stays young. The greatest

thing in life is to keep your mind young

Henry Ford -

With Jesus I can take it

With Him I know I can stand

No matter what may come my way

My life is in his hands

(6)

v

LEMBAR PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI KARYA ILMIAH UNTUK KEPENTINGAN AKADEMIS

Yang bertanda tangan di bawah ini, saya mahasiswa Universitas Sanata Dharma:

Nama : Oki Christina

Nomor Mahasiswa : 07 8114 035

Demi perkembangan ilmu pengetahuan, saya memberikan kepada Perpustakaan

Universitas Sanata Dharma karya ilmiah saya yang berjudul:

PENGARUH PROPORSI DRUG LOAD TERHADAP DISOLUSI DISPERSI

PADAT VACUUM DRIED ISOLAT EKSTRAK RIMPANG KUNYIT (Curcuma

domestica C-95)-GOM GUAR

beserta perangkat yang diperlukan (bila ada). Dengan demikian saya memberikan

kepada

Perpustakaan Universitas Sanata Dharma hak untuk menyimpan, mengalihkan

dalam bentuk media lain, mengelolanya dalam bentuk pangkalan data,

mendistribusikan secara terbatas, dan mempublikasikannya di internet atau media

lain untuk kepentingan akademis tanpa perlu meminta ijin dari saya ataupun

memberi royalti kepada saya selama tetap mencantumkan nama saya sebagai

penulis.

Demikian pernyataan ini yang saya buat dengan sebenamya.

Dibuat di Yogyakarta

Pada tanggal: 17 Februari 2011

Yang menyatakan

(7)

vi

tidak memuat karya atau bagian karya orang lain, kecuali yang telah disebutkan

dalam kutipan dan daftar pustaka, sebagaimana layaknya karya ilmiah.

Apabila di kemudian hari ditemukan indikasi plagiarisme dalam naskah

ini, maka saya bersedia menanggung segala sanksi sesuai peraturan

perundang-undangan yang berlaku.

Yogyakarta, 2 Februari 2011

Penulis

(8)

vii

PRAKATA

Puji syukur kepada Tuhan Yesus atas berkat dan penyertaan-Nya kepada

penulis, sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini dengan baik. Skripsi ini

disusun untuk memenuhi salah satu syarat untuk memperoleh gelar kesarjanaan

Program Studi Ilmu Farmasi (S.Farm.).

Dalam penyelesaian skripsi ini penulis banyak mengalami kesulitan,

namun penulis banyak mendapat bantuan dari berbagai pihak. Oleh karena itu,

pada kesempatan ini penulis ingin mengucapkan banyak terima kasih kepada:

1. Bapak Ipang Djunarko, M.Sc., Apt. selaku Dekan Fakultas Farmasi

Universitas Sanata Dharma.

2. Ibu Dewi Setyaningsih, M.Sc., Apt. selaku Dosen Pembimbing Utama,

yang dengan sabar memberikan bimbingan, saran, pengarahan, dan telah

menanggung biaya penelitian.

3. Ibu Lucia Wiwid Wijayanti, M.Si. selaku Dosen Pembimbing

Pendamping, yang telah memberikan waktu dan bimbingan kepada

penulis.

4. Ibu Rini Dwiastuti, M.Sc., Apt. selaku Dosen Penguji atas waktu, kritik,

dan saran yang diberikan.

5. Bapak Dr. C.J. Soegihardjo, Apt. selaku Dosen Penguji atas waktu, kritik,

dan saran yang diberikan.

6. Bapak Prof. Dr. Sudibyo Martono, M.S., Apt. atas pemberian eksklusif

(9)

viii

semangat, kerjasama dan kebersamaannya selama ini.

9. I Gusti Ngurah Agung Windra Wartana Putra, Lia Natalia Setiomulyo, dan

Benny Nugroho, yang telah memberikan waktu, tenaga, dan pikiran untuk

membantu penulis dalam menyelesaikan skripsi ini.

10.Teman-teman angkatan 2007, khususnya teman-teman seperjuangan FST

07 jumawa, atas dukungan, semangat, dan kebersamaannya selama ini.

11.Keluargaku di kos Difa yang kusayangi Mba Dini Puspita, Kak Grace

Litad, Kak Ayu Widyasari, Flavia Sungkit, Ayu Ningsih, Maria Larizza,

Putri Adrenari, Melantina, Evina, Eka Permatasari, Sari, Putu Dyana,

Defilia, Leni atas kebersamaan, keceriaan, dukungan dan semangat yang

diberikan kepada penulis.

12.Semua pihak yang tidak dapat disebutkan satu-persatu yang telah

membantu dalam penyelesaian skripsi ini.

Penulis menyadari bahwa masih banyak kekurangan dalam penulisan

skripsi ini mengingat keterbatasan yang ada. Oleh karena itu penulis

mengharapkan kritik dan saran dari segenap pembaca. Semoga skripsi ini dapat

bermanfaat bagi pihak yang membutuhkan dan perkembangan ilmu kefarmasian.

(10)

ix

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL ...……… i

HALAMAN PERSETUJUAN PEMBIMBING ………. ii

HALAMAN PENGESAHAN ………... iii

HALAMAN PERSEMBAHAN ………. iv

LEMBAR PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI KARYA ILMIAH UNTUK KEPENTINGAN AKADEMIS ……… v

PERNYATAAN KEASLIAN KARYA ……….…………... vi

PRAKATA ………..………. vii

DAFTAR ISI ………... ix

DAFTAR TABEL ………... xiii

DAFTAR GAMBAR ……….. xiv

DAFTAR LAMPIRAN ………... xv

INTISARI ……… xvi

ABSTRACT ……….. xvii

BAB I. PENGANTAR ……….... 1

A.Latar Belakang ………... 1

1. Permasalahan ……….………... 4

2. Keaslian penelitian ………... 4

3. Manfaat penelitian ………... 4

(11)

x

C.Gom guar ... 8

D.Dispersi Padat ………... 10

1. Definisi ……….. 2. Metode pembuatan dispersi padat ……….………….. 10 11 E. Uji Disolusi ... 11

1. Disolusi ………...………... 11

2. Peralatan uji disolusi ………... 12

F. Spektrofotometri Visibel ………..…... 13

G.Validasi Metode Analisis ………..…... 14

H.Landasan Teori ………... 20

I. Hipotesis ……… 21

BAB III. METODE PENELITIAN ……… 22

A.Jenis dan Rancangan Penelitian ………... 22

B.Variabel Penelitian ………... 1. Variabel utama ……….. 2. Variabel pengacau ………. 22 22 22 C.Definisi Operasional ………... 23

D.Bahan Penelitian ………... 23

E. Alat Penelitian ………... 24

(12)

xi

1. Pembuatan dispersi padat isolat ekstrak rimpang kunyit-gom guar 24

2. Pembuatan campuran fisik ………... 25

3. Pengujian disolusi ………... 4. Validasi metode analisis ……… 25 26 G.Analisis Hasil ………... 1. Validasi metode ……….... 2. Pengaruh proporsi drug load terhadap disolusi kurkumin ... 28 28 29 BAB IV. HASIL DAN PEMBAHASAN ………...….. 30

A.Pembuatan Dispersi Padat ………..……... 30

B.Pembuatan Campuran Fisik ………... 31

C.Penetapan Panjang Gelombang Maksimum ………... 31

(13)
(14)

xiii

DAFTAR TABEL

Tabel I. Elemen-elemen data yang dibutuhkan untuk uji validasi .... 16

Tabel II. Nilai persyaratan koefisien korelasi pada tiap pengujian …. 19 Tabel III. Proporsi drug load dalam dispersi padat ………... 25

Tabel IV. Hasil pengukuran seri kurva baku ……… 33

Tabel V. Rentang % recovery yang diijinkan pada setiap konsentrasi analit pada matriks………. 34

Tabel VI. Persyaratan nilai presisi (CV) ………... 35

Tabel VII. Hasil perhitungan koefisien variasi (CV) ……... 35

Tabel VIII. Hasil pengukuran kurva baku... 36

Tabel IX. Persyaratan nilai linieritas ……… 36

Tabel X. Hasil uji statistik disolusi dispersi padat dan campuran fisik proporsi drug load 1,72% ………. 39

Tabel XI. Hasil uji statistik disolusi dispersi padat dan campuran fisik proporsi drug load 3,38% ………. 40

Tabel XII. Hasil uji statistik disolusi dispersi padat dan campuran fisik proporsi drug load 5,11% ………. 42

(15)

xiv

Gambar 1. Rimpang kunyit (Curcuma domestica Val.) ……… 6

Gambar 2. Struktur kimia kurkumin ……...…… 7

Gambar 3. Degradasi kurkumin dalam larutan ...……….. 8

Gambar 4. Struktur gom guar ……...……… 9

Gambar 5. Kurva baku ………... 33

Gambar 6. Grafik dispersi padat dan campuran fisik drug load 1,72% 38 Gambar 7. Grafik dispersi padat dan campuran fisik drug load 3,38% 39 Gambar 8. Grafik dispersi padat dan campuran fisik drug load 5,11% 41 Gambar 9. Grafik dispersi padat berbagai proporsi drug load ... 42

(16)

xv

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1. Certificate of Analysis (CoA) isolat ekstrak rimpang

kunyit (Curcuma domestica Rhizome) ………...….. 50

Lampiran 2. Certificate of Analysis (CoA) baku standar kurkumin …... 51

Lampiran 3. Scan λ maksimum ... 52

Lampiran 4. Kurva baku, linieritas dan LOD ... 56

Lampiran 5. Perhitungan recovery dan CV ... 58

Lampiran 6. Penimbangan untuk pembuatan dispersi padat dan

campuran fisik …... 59

Lampiran 7. Hasil uji disolusi campuran fisik dan dispersi padat ……. 64

Lampiran 8. Grafik dispersi padat dan campuran fisik ... 73

Lampiran 9. Uji normalitas, korelasi, dan regresi linier proporsi drug

load dan persentase kurkumin terdisolusi …………... 76

Lampiran 10. Perbandingan disolusi dispersi padat dan campuran fisik 78

(17)

xvi

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh proporsi drug load terhadap disolusi dispersi padat vacuum dried isolat ekstrak rimpang kunyit-gom guar. Penelitian ini dilakukan dengan pembuatan campuran fisik dan dispersi padat menggunakan pembawa gom guar pada proporsi drug load 1,72%, 3,38%, dan 5,11%. Disolusi campuran fisik dan dispersi padat dilihat melalui uji disolusi menggunakan medium cairan lambung buatan tanpa pepsin (pH 1,2), lalu diukur dengan spektrofotometer visibel λ 421,6 nm.

Kandungan utama rimpang kunyit adalah kurkuminoid, yang terdiri dari kurkumin, demetoksikurkumin, dan bisdemetoksikurkumin. Kurkumin memiliki banyak efek farmakologi, seperti antioksidan, antiinflamasi, antimikrobia, dan antikanker. Namun, kurkumin mempunyai kelarutan yang sangat rendah dalam air. Kelarutan senyawa dapat ditingkatkan dengan pembuatan dispersi padat.

Hasil uji disolusi dibuat kurva antara waktu dan persentase kurkumin terdisolusi. Disolusi kurkumin pada dispersi padat meningkat secara signifikan dibandingkan dengan campuran fisik, dilihat dari nilai p<0,05. Korelasi antara proporsi drug load dan disolusi kurkumin dianalisis dengan korelasi Spearman dan regresi. Korelasi Spearman menunjukkan adanya korelasi yang kuat (r= -0,685). Pada analisis regresi didapatkan persamaan y=-2,7204x+18,047 dengan nilai signifikansi 0,028. Peningkatan proporsi drug load berpengaruh terhadap penurunan disolusi kurkumin.

(18)

xvii

ABSTRACT

Turmeric (Curcuma domestica Val.) widely used in society. The main content of turmeric are curcuminoids, consisting of curcumin, demetoksikurkumin, and bisdemetoksikurkumin. Curcumin has many pharmacological effects, such as antioxidant, antiinflammatory, antimicrobial, and anticancer. However, curcumin has very low solubility in water. Solubility of compounds can be enhanced by making solid dispersions.

This study aims to determine the influence of the proportion of drug load on the dissolution of solid dispersion vacuum dried isolate turmeric rhizome extract-guar gum. Research was conducted by making physical mixtures and solid dispersions using guar gum on the proportion of carriers of drug load 1,72%, 3,38%, and 5,11%. Dissolution of physical mixture and solid dispersion seen through the dissolution testusing the medium of artificial gastric fluid without pepsin (pH 1,2), then measured by visible spectrophotometer λ 421,6 nm.

Dissolution test results made the curve between time and percentage of curcumin terdisolusi. Dissolution of curcumin on solid dispersion increased significantly compared with physical mixture, judging from the value of p < 0,05. The correlation between the proportion of drug load and dissolution of curcumin were analyzed with Spearman correlation and regression. Spearman correlation showed a strong correlation (r= -0,685). In the regression analysis equation y = -2,7204 x + 18,047 with a value of significance 0,028. Increasing the proportion of drug load reduction effect on the dissolution of curcumin.

(19)

1

A. Latar Belakang

Kunyit (Curcuma domestica Val.) secara empiris telah digunakan oleh masyarakat untuk mengobati berbagai penyakit, seperti antikoagulan, antiedemik,

obat sakit perut, memperbanyak ASI, stimulan, mengobati keseleo, memar dan

rematik (The Medical News, 2010). Bagian tanaman kunyit yang paling sering

digunakan adalah rimpang kunyit. Rimpang kunyit mengandung senyawa yang

berkhasiat obat, yaitu kurkuminoid, yang terdiri dari kurkumin (sebanyak 60%),

desmetoksikurkumin, dan bisdesmetoksikurkumin (Parinussa dan Timotius,

2010). Kurkumin (1,7-bis-(4-hidroksi-3-metoksifenil)-1,6-heptadiena-3,5-dion)

adalah senyawa golongan polifenol berwarna kuning yang memiliki banyak efek

farmakologi, seperti antioksidan, antiinflamasi, antimikrobia, antikanker, dan

anti-HIV (Xu, Wang, Jin, Mei, dan Xu, 2006).

Kurkumin mempunyai stabilitas yang baik pada pH asam, namun pada

pH basa kurkumin mudah mengalami dekomposisi atau degradasi (Tonnesen dan

Karlsen, 1985). Produk utama dekomposisi kurkumin adalah asam ferulat dan

4-fenil-3-butena-2-on, yang secara cepat mengalami kondensasi retroaldol menjadi

vanilin dan aseton. Selain mudah terdegradasi dalam suasana basa, kurkumin juga

mudah terdekomposisi oleh cahaya menjadi ferulat aldehid, asam ferulat,

adihidrosinaftalen, vinilguaiacol, vanilin, dan asam vanilat. Faktor dekomposisi

(20)

2

Kurkumin mempunyai kelarutan dalam air yang sangat rendah sehingga

kurkumin tidak terabsorpsi sempurna dan bioavailabilitas oral kurkumin rendah

(Kaewnopparat, Kaewnopparat, Jangwang, Maneenaum, Chucome, dan

Panichayupakaranant, 2009). Bioavailabilitas oral senyawa tergantung pada

kelarutan dan/ atau kecepatan disolusi, sehingga seringkali diperlukan

peningkatan disolusi dari senyawa yang sukar larut dalam air (Malviya,

Srivastava, Bansal, dan Sharma, 2010). Kelarutan senyawa dapat ditingkatkan

dengan beberapa cara, yaitu dengan micronization, dispersi padat, pembentukan garam, dan penyisipan gugus polar ke dalam molekul (Voigt, 1984).

Dispersi padat merupakan salah satu metode yang sering digunakan dan

berhasil digunakan untuk meningkatkan kelarutan, kecepatan disolusi, dan pada

akhirnya dapat meningkatkan bioavailabilitas senyawa dengan kelarutan rendah

(Malviya et al., 2010). Umumnya, dispersi padat mengandung pembawa hidrofilik, dimana obat terdispersi secara molekular atau sebagai partikel yang

sangat kecil. Dengan ukuran partikel yang kecil, luas permukaan kontak partikel

saat disolusi meningkat sehingga dapat meningkatkan kelarutan obat. Selain itu,

senyawa yang semula berbentuk kristal akan berubah menjadi amorf. Senyawa

berbentuk amorf mempunyai energi yang lebih tinggi dibandingkan bentuk kristal,

sehingga kelarutannya lebih besar (Srinarong, Kouwen, Visser, Hinrichs, dan

Frijlink, 2009).

Ada beberapa macam metode pembuatan dispersi padat, antara lain

(21)

electrostatic spinning method, dan super critical fluid technology (Sharma dan Joshi, 2007). Pembuatan dispersi padat pada penelitian ini menggunakan metode

vacuum drying, dimana cara ini adalah cara yang sederhana dan dapat dilakukan di Laboratorium Fakultas Farmasi Universitas Sanata Dharma.

Pada pembuatan dispersi padat, bahan pembawa dan isolat ekstrak

rimpang kunyit yang didispersikan sesuai dengan proporsi drug load. Peningkatan drug load dan/ atau saat pembawa terlarut dengan cepat, akan menyebabkan penurunan laju disolusi. Hal ini menunjukkan terjadinya kristalisasi obat yang

tidak terkontrol, yang disebabkan oleh supersaturasi pada daerah pelepasan obat

tersebut. Kristalisasi yang tidak terkontrol ini menghasilkan bentuk kristal dalam

jumlah besar, yang akan terlarut dengan lambat (Srinarong et al., 2009). Bahan pembawa yang digunakan dalam pembuatan dispersi padat adalah gom guar.

Gom guar adalah suatu hidrokoloid yang diperoleh dari endosperma biji

tanaman guar (Srichamroen, 2007). Gom guar dapat terdispersi dan mengembang

dalam air membentuk larutan dengan viskositas yang tinggi (Rowe, Sheskey, dan

Owen, 2006). Dalam pembuatan dispersi padat, gom guar dan isolat ekstrak

kunyit akan terdispersi dalam ukuran yang lebih kecil dan menjadi bentuk amorf

sehingga kelarutannya meningkat. Peningkatan kelarutan kurkumin diketahui

dengan mengukur disolusi kurkumin dalam dispersi padat, menggunakan

(22)

4

1. Permasalahan

Berdasarkan latar belakang di atas timbul permasalahan, yaitu:

Bagaimana pengaruh proporsi drug load terhadap disolusi dispersi padat isolat ekstrak rimpang kunyit-gom guar?

2. Keaslian penelitian

Sejauh pengetahuan penulis, penelitian mengenai pengaruh proporsi drug load terhadap laju disolusi kurkumin pada dispersi padat isolat ekstrak rimpang kunyit (Curcuma domestica C-95)-gom guar belum pernah dilakukan. Penelitian terkait yang pernah dilakukan adalah Solubility and Dissolution Rate Enhancement of Licofelone by Using Modified Guar Gum.

3. Manfaat penelitian

a. Manfaat teoritis

b.

. Penelitian ini diharapkan dapat menambah informasi

mengenai cara peningkatan disolusi kurkumin dengan pembuatan

dispersi padat isolat ekstrak rimpang kunyit-gom guar.

Manfaat Metodologis

c.

. Penelitian ini diharapkan dapat menambah

informasi mengenai jenis bahan pembawa dan proporsi drug load yang dapat digunakan dalam pembuatan dispersi padat.

Manfaat Praktis. Penelitian ini diharapkan dapat menambah

pengetahuan mengenai pembuatan dispersi padat isolat ekstrak

(23)

B. Tujuan Penelitian

Berdasarkan latar belakang dan perumusan masalah, tujuan dari

(24)

6 BAB II

PENELAAHAN PUSTAKA

A. Ekstrak Kunyit

Kunyit secara empiris telah digunakan masyarakat untuk mengobati

berbagai penyakit. Bagian yang sering dimanfaatkan sebagai obat adalah rimpang;

dimanfaatkan untuk antikoagulan, antiedemik, obat sakit perut, memperbanyak

ASI, stimulan, mengobati keseleo, memar dan rematik (The Medical News, 2010).

Bagian tanaman kunyit yang paling sering digunakan adalah rimpang kunyit.

Komponen utama yang terpenting dalam rimpang kunyit adalah kurkuminoid dan

minyak atsiri (Wahyuni dan Yamrewav, 2004). Kurkuminoid terdiri dari

kurkumin (sebanyak 60%), desmetoksikurkumin, dan bisdesmetoksikurkumin

(Parinussa dan Timotius, 2010).

(25)

B. Kurkumin

Kurkumin (1,7-bis-(4-hidroksi-3-metoksifenil)-1,6-heptadiena-3,5-dion)

adalah senyawa polifenol berwarna kuning yang diperoleh dari ekstrak rimpang

kunyit (Curcuma longa). Kurkumin merupakan suatu sistem cincin aromatis dengan polifenol yang dihubungkan oleh dua α, β gugus karbonil tak jenuh yang

berasal dari rantai diketon. Kurkumin memiliki banyak efek farmakologi, antara

lain sebagai antitumor, antiartritik, amylod, antioksidan, antiinflamasi,

anti-HIV, antikanker, dan antimikrobia (Najib, 2009).

Namun demikian, kendatipun aplikasi klinis sudah cukup luas dan

dikenal manjur sebagai bahan antikanker dan penyakit lainnya, kurkumin

memiliki sifat yang terbatas dari segi kelarutan. Hal ini mengakibatkan kurkumin

mempunyai bioavailabiltas sistemik yang minim (Meiyanto, 2010).

Kurkumin berwarna kuning terang, mempunyai bobot molekul 368,37 (C

= 68,47 %; H = 5,47 %; O = 26,06 %). Titik lebur kurkumin adalah 183°C.

kurkumin larut dalam alkohol dan asam asetat glasial dan tidak larut dalam air

(Wahyuni dan Yamrewav, 2004). Nilai log P kurkumin adalah 3,62 (Genome

Alberta, 2009).

Gambar 2. Struktur kimia kurkumin (Najib, 2009)

Apabila kurkumin diinkubasi dalam buffer fosfat 0,1 M dan serum, pH

(26)

8

Produk degradasi kurkumin yang utama diidentifikasikan sebagai

trans-6-(4’-hidroksi-3’-metoksifenil)-2,4-diokso-5-heksenal. Produk degradasi yang lain

(vanillin, asam ferulat, dan ferulol metana) hanya terbentuk sedikit. Dekomposisi

terjadi dipengaruhi oleh pH dan terjadi lebih cepat pada kondisi pH netral (Wang,

Pan, Chang, Hsieh, dan Lin, 1997).

Gambar 3. Degradasi kurkumin dalam larutan (Wang et al., 1997)

C. Gom Guar

Gom guar adalah suatu hidrokoloid yang diperoleh dari endosperma biji

tanaman guar, Cyamopsis tetragonolobus, yang termasuk dalam famili Leguminosae (Srichamroen, 2007). Tanaman ini banyak tumbuh di India dan

Pakistan. Tanaman ini juga tersebar di belahan bumi bagian selatan, pada daerah

(27)

selatan, seperti Texas dan Arizona (Kawamura, 2008). Gom guar sebagian besar

terdiri dari polisakarida dengan bobot molekul tinggi (kira-kira

50.000-8.000.000), terdiri dari galaktomanan. Gom guar berwarna putih sampai putih

kekuningan, tidak berbau atau hampir tidak berbau dengan rasa yang lemah

(Kawamura, 2008).

Gambar 4. Struktur gom guar (Kawamura, 2008)

Gom guar tidak larut dalam pelarut organik. Gom guar terdispersi dan

mengembang dalam air dingin atau air panas, membentuk larutan dengan

viskositas yang tinggi. Akan tetapi, pemanasan yang lama dapat mengurangi

viskositas larutan gom guar. Larutan gom guar mempunyai kemampuan sebagai

buffer dan sangat stabil pada rentang pH 4,0-10,5. Gom guar umumnya digunakan

dalam kosmetik, produk makanan, dan formulasi sediaan farmasi. Gom guar

digunakan sebagai pengikat dan penghancur dalam sediaan padat. Pada sediaan

(28)

10

D. Dispersi Padat

1. Definisi

Dispersi padat didefinisikan sebagai dispersi satu atau lebih zat aktif

dalam pembawa hidrofilik atau matriks inert pada bentuk padat, yang dibuat

dengan metode peleburan (fusion), pelarut, atau peleburan pelarut (Kaewnopparat

et al., 2009).

Dispersi padat yang amorf dapat digunakan untuk meningkatkan laju

disolusi dari obat yang kelarutannya rendah. Pada umumnya, dispersi padat

mengandung pembawa hidrofilik, dimana obat terdispersi secara molekular atau

sebagai partikel yang sangat kecil. Mekanisme peningkatan laju disolusi obat

adalah sebagai berikut.

a. Penurunan ukuran partikel obat, sehingga luas permukaan partikel

saat terdisolusi menjadi lebih besar.

b. Peningkatan sifat pembasahan dari obat.

c. Tingkat energi bentuk amorf lebih tinggi dibandingkan bentuk

kristalin, sehingga terjadi peningkatan kelarutan obat (Srinarong et al., 2009).

Bila dispersi padat kontak dengan air, pembawa akan terlarut, dan obat

dilepaskan dengan ukuran partikel yang kecil. Oleh karena terjadi peningkatan

luas permukaan partikel obat, laju disolusi dan bioavailabilitasnya juga

mengalami peningkatan (Chaudhari, Sharma, Badagale, Dave, Kaulkarni, dan

(29)

Obat dapat terdispersi secara molekular dalam pembawa membentuk

larutan solid atau dapat terdispersi sebagai partikel. Selain itu, obat juga dapat

sebagian terlarut dan sebagian lagi terdispersi dalam pembawa. Untuk obat

dengan banyak lapisan, lebih baik jika terdispersi molekular, sedangkan bila

terdispersi sebagai partikulat, obat akan lebih mudah lepas dari matriks

pembawanya (Chaudhari et al., 2006).

Peningkatan drug load dan/ atau saat pembawa terlarut dengan cepat, akan menyebabkan penurunan laju disolusi. Hal ini menunjukkan terjadinya

kristalisasi obat yang tidak terkontrol, yang disebabkan oleh supersaturasi pada

daerah pelepasan obat tersebut. Kristalisasi yang tidak terkontrol ini menghasilkan

bentuk kristal dalam jumlah besar, yang akan terlarut dengan lambat (Srinarong et al., 2009).

2. Metode Pembuatan Dispersi Padat

Beberapa metode yang dapat dilakukan untuk membuat dispersi padat

adalah fusion method, solvent evaporation method, liofilisasi, melt agglomeration method, extruding method, spray drying, penggunaan surfaktan, electrospinning, super critical fluid technology (Sharma dan Joshi, 2007).

E. Uji Disolusi

1. Disolusi

Disolusi didefinisikan sebagai proses dimana substansi padat masuk ke

dalam pelarut menghasilkan suatu larutan. Secara sederhana, disolusi adalah

(30)

12

afinitas antara substansi padat dan pelarut. Faktor-faktor yang mempengaruhi

karakter disolusi suatu obat, antara lain sifat fisik bentuk sediaan, kemampuan

pembasahan sediaan, kemampuan penetrasi medium disolusi, proses swelling, disintegrasi dan deagregasi sediaan (Troy, 2005).

Umumnya, disolusi obat terjadi tidak hanya dari partikel halus obat yang

dihasilkan dari pemecahan sediaan, tetapi juga pada tingkat yang kecil dari

sediaan sebelum disintegrasi dan dari fragmen dan agregat setelah disintegrasi.

Bukti ilmiah menunjukkan bahwa uji disolusi sangat berarti dalam mengevaluasi

parameter kritis seperti bioavailabilitas yang memadai dan memberikan informasi

yang dibutuhkan formulator pengembangan bentuk sediaan yang optimal secara

terapetik dan efikasinya lebih besar (Banakar, 1992).

2. Peralatan uji disolusi

Metode laju disolusi diklasifikasikan menurut berbagai macam faktor.

Jika luas permukaan obat tetap, laju disolusi obat diukur dari jumlah obat yang

dilepaskan per unit area dan per unit waktu (Banakar, 1992).

Banyak peralatan yang telah digunakan untuk menentukan laju disolusi.

Prosedurnya berbeda pada prinsip dasarnya. Kondisi umum pada kebanyakan uji

in vitro adalah sebagai berikut :

a. Penggunaan cairan lambung dan cairan usus buatan pada suhu 37°C.

b. Penggunaan peralatan untuk mengaduk komponen dan produk pada

kecepatan tetap.

c. Penggunaan kasa untuk memisahkan partikel yang terdisintegrasi dari

(31)

Macam-macam metode pengujian disolusi adalah rotating basket method, rotating paddle method, reciprocating cylinder, flow-through cell, paddle over disk, dan cylinder (Troy, 2005)

F. Spektrofotometri Visibel

Spektrofotometri UV-Visibel adalah salah satu teknik analisis

fisika-kimia yang mengamati interaksi atom atau molekul dengan radiasi

elektromagnetik pada panjang gelombang 190-380 nm (UV) dan 380-780 nm

(visibel) dengan menggunakan instrument spektrofotometer (Mulja dan

Suharman, 1995).

Pada umumnya, semua molekul dapat menyerap radiasi elektromagnetik

di daerah UV dan visibel karena memiliki elektron, baik berkelompok maupun

tunggal yang dapat terkeksitasi ke tingkat energi yang lebih tinggi. Panjang

gelombang yang menunjukkan terjadinya serapan tergantung pada kekuatan

ikatan elektron pada molekul tersebut (Day dan Underwood, 1986).

Instrumentasi spektrofotometer meliputi sumber radiasi kontinyu pada

panjang gelombang tertentu, monokromator untuk memilih berkas sempit dari

(32)

14

Untuk sampel yang berupa larutan perlu diperhatikan beberapa persyaratan

pelarut yang dipakai yaitu :

1. Pelarut tidak mengandung sistem ikatan rangkap terkonjugasi pada

struktur molekulnya dan tidak berwarna

2. Tidak terjadi interaksi dengan molekul senyawa yang dianalisis

3. Kemurnian harus tinggi atau derajat untuk analisis (Mulja dan Suharman,

1995).

Pada umunya, pelarut yang sering dipakai adalah air, etanol, sikloheksan,

dan isopropanol. Hal lain yang perlu diperhatikan dalam masalah pemilihan

pelarut adalah polaritas pelarut yang dipakai, karena akan berpengaruh terhadap

pergeseran spektrum molekul yang dianalisis (Mulja dan Suharman, 1995).

Keuntungan teknik spektrofotometri yaitu banyak substansi dapat diukur

pada kisaran part per million (ppm) rendah pada pelarut yang tidak memberikan serapan. Selain itu, spektrofotometri memiliki sensitivitas yang baik serta

didukung oleh cara yang sederhana dan akurat (Schirmer, 1982).

G. ValidasiMetode Analisis

Validasi metode menurut United States Pharmacopeia (USP) dilakukan untuk menjamin bahwa metode analisis bersifat akurat, spesifik, reprodusibel, dan

tahan pada kisaran analit yang akan dianalisis. Tujuan utama validasi metode

adalah untul menghasilkan hasil analisis yang paling baik. Untuk memperoleh

(33)

dipertimbangkan. Banyaknya parameter yang harus di validasi tergantung pada

tujuan analisis (Rohman, 2009).

Suatu metode analisis untuk mengamati adanya pengotor-pengotor

(impurities) atau produk degradasi dalam suatu produk akhir obat, harus menentukan nilai batas deteksi (limit of detection, LOD) dan batas kuantifikasi (limit of quantification, LOQ); karena adanya suatu fakta bahwa senyawa-senyawa pengotor dan hasil degradasi biasanya berada dalam jumlah sekelumit

(trace elements). Meskipun demikian, untuk uji senyawa aktif farmasetik (Active Pharmaceutical Ingredients, API), maka tidak disyaratkan untuk menentukan nilai LOD dan LOQ, Karena metode analisis untuk API tidak ditujukan untuk

analisis senyawa pada konsentrasi rendah (Rohman, 2009).

Kategori yang terdapat dalam USP dan ICH adalah sebagai berikut:

1. Kategori I

Metode untuk kuantifikasi komponen mayor dalam produk ruahan API,

termasuk senyawa-senyawa pengawet dalam produk akhir obat,

diklasifikasikan dalam kategori I. Metode uji dan keseragaman kandungan

masuk dalam kategori ini.

Analisis sekelumit ini tidak diisyaratkan pada uji keseragaman kandungan

ini, karenanya penentuan LOD dan LOQ dalam uji ini tidaklah penting

(Rohman, 2009).

2. Kategori II

Metode kategori II ditujukan untuk menentukan pengotor/ pengganggu

(34)

16

produk akhir obat atau dalam proses pembersihan (cleanng process). Metode ini lebih lanjut dibagi menjadi 2 yaitu ke dalam uji kuantitatif dan uji batas

(limit test) (Rohman, 2009). 3. Kategori III

Metode-metode yang digunakan untuk menentukan karakteristik kinerja

produk akhir jatuh pada kategori III. Uji disolusi (tidak termasuk

pengukurannya) dan uji-uji pelepasan obat merupakan contoh metode yang

masuk kategori ini (Rohman, 2009).

Tabel I. Elemen-elemen data yang dibutuhkan untuk uji validasi

Parameter Kinerja Analisis

Pengujian kategori I

Pengujian kategori II Uji kategori III Kuantitatif Uji Batas

Akurasi Ya Ya * *

*mungkin dibutuhkan, tergantung pada uji spesifiknya

Parameter-parameter dalam validasi metode analisis adalah sebagai

berikut.

1. Presisi

Presisi suatu metode analisis merupakan sejumlah pencarian hasil yang

diperoleh dari analisis berulangkali pada suatu sampel homogen. Presisi biasanya

(35)

memberikan presisi yang bagus, sedangkan untuk bioanalisis, CV = 15% - 20%

masih dapat diterima (Mulja dan Hanwar, 2003).

Nilai SD dihitung dengan:

SD =

Nilai CV dihitung dengan rumus:

CV = x 100%

Keterangan:

x = nilai dari masing-masing pengukuran = rata-rata (mean) dari pengukuran

N = banyaknya data

N-1 = derajat kebebasan (Rohman, 2009).

2. Akurasi

Akurasi merupakan keterdekatan antara nilai pengukuran dengan nilai

yang sebenarnya dari analit dalam sampel. Indikasi yang paling umum untuk

menyatakan akurasi yang tinggi adalah perolehan kembali (% recovery) (Mulja dan Hanwar, 2003).

3. Batas deteksi (LOD)

Batas deteksi didefinisikan sebagai konsentrasi analit terendah dalam

sampel yang masih dapat terdeteksi, meskipun tidak selalu dapat dikuantifikasi.

LOD merupakan batas uji yang secara spesifik menyatakan apakah analit di atas

atau di bawah nilai tertentu (Rohman, 2009).

(36)

18

Keterangan :

Sy/x = simpangan baku (SD)

Sl = arah garis linier dari kurva antara respon terhadap konsentrasi (slope)

(Harmita, 2004).

4. Batas kuantifikasi (LOQ)

Batas kuantifikasi didefinisikan sebagai konsentrasi analit terendah

dalam sampel yang dapat ditentukan dengan presisi dan akurasi yang dapat

diterima pada kondisi operasional metode yang digunakan. Sebagaimana LOD,

LOQ juga diekspresikan sebagai konsentrasi (dengan presisi dan akurasi juga

dilaporkan) (Rohman, 2009).

LOQ =

Keterangan :

Sy/x = simpangan baku (SD)

Sl = arah garis linier dari kurva antara respon terhadap konsentrasi (slope)

(Harmita, 2004).

5. Spesifisitas

Spesifisitas suatu metode analisis adalah kemampuan suatu metode

analisis untuk mengukur analit yang dituju secara tepat dan spesifik dengan

adanya komponen-komponen lain dalam matriks (Rohman, 2009).

6. Linieritas

Linieritas merupakan kemampuan suatu metode untuk memperoleh

hasil-hasil uji yang secara langsung proporsional dengan konsentrasi analit pada kisaran

(37)

kalibrasi yang menghubungkan antara respon (y) dengan konsentrasi (x)

(Rohman, 2009).

Tabel II. Nilai persyaratan koefisien korelasi pada tiap pengujian (Rohman, 2009)

Uji Level* Kisaran** Kriteria keberterimaan

pengujian 5 50% - 150% r > 0,999; intersep -y > 2,0% disolusi 5-8 10% - 150% r > 0,99; intersep -y > 5,0% pengotor 5 LOQ – 2% r > 0,98

7. Kekasaran (Ruggedness)

Kekasaran merupakan tingkat reprodusibilitas hasil yang diperoleh di

bawah kondisi yang bermacam-macam, yang diekspresikan sebagai persen standar

deviasi relatif (% RSD). Kondisi ini meliputi laboratorium, analisis, alat, reagen,

dan waktu percobaan yang berbeda. Kekasaran suatu metode mungkin tidak akan

diketahui jika suatu metode dikembangkan pertama kali, akan tetapi kekasaran

suatu metode akan kelihatan jika digunakan berulang kali. Suatu pengembangan

metode yang bagus mensyaratkan suatu evaluasi yang sistematik terhadap

faktor-faktor penting yang mempengaruhi kekasaran suatu metode (Rohman, 2009).

8. Ketahanan (Robustness)

Ketahanan merupakan kapasitas metode analisis untuk tetap tidak

terpengaruh oleh adanya variasi parameter metode yang kecil. Ketahanan

dievaluasi dengan melakukan variasi parameter-parameter metode seperti

persentase pelarut organik, pH, kekuatan ionik, suhu, dan sebagainya (Rohman,

(38)

20

H. Landasan Teori

Kunyit (Curcuma domestica Val.) telah banyak digunakan oleh masyarakat untuk mengobati berbagai penyakit, seperti antikoagulan, antiedemik,

obat sakit perut, memperbanyak ASI, stimulan, mengobati keseleo, memar dan

rematik. Bagian dari tanaman kunyit yang paling sering digunakan adalah bagian

rimpang. Rimpang kunyit mengandung senyawa yang berkhasiat obat, yaitu

kurkuminoid, yang terdiri dari kurkumin (sebanyak 60%), desmetoksikurkumin,

dan bisdesmetoksikurkumin.

Kurkumin merupakan senyawa polifenol yang berwarna kuning dan

diperoleh dari kunyit. Kurkumin mempunyai banyak efek farmakologi, seperti

antiinflamasi, antitumor, antiartritik, antikanker, antimikroba, dan anti-HIV.

Meskipun demikian, kurkumin mempunyai bioavailabilitas yang rendah. Hal ini

disebabkan oleh kelarutan kurkumin dalam air yang rendah dan terdegradasi pada

pH basa. Faktor degradasi kurkumin ini disebabkan oleh gugus metilen aktifnya.

Ada berbagai macam cara meningkatkan kelarutan suatu senyawa. Salah

satu cara yang akan dilakukan dalam penelitian ini adalah pembentukan dispersi

padat. Dispersi padat adalah dispersi satu atau lebih zat aktif dalam pembawa atau

matriks inert pada bentuk padat. Dispersi padat yang amorf dapat digunakan untuk

meningkatkan laju disolusi dari obat yang kelarutannya rendah. Pada umumnya,

dispersi padat mengandung pembawa hidrofilik, dimana obat terdispersi secara

molekular atau sebagai partikel yang sangat kecil. Bahan pembawa yang

(39)

Gom guar merupakan suatu hidrokoloid yang diperoleh dari endosperma

tanaman guar. Gom guar sebagian besar terdiri dari polisakarida dengan bobot

molekul yang tinggi, yang terdiri dari galaktomanan. Gom guar dapat terdispersi

dan mengembang dalam air dingin atau air panas, membentuk larutan dengan

viskositas yang tinggi.

Peningkatan laju disolusi obat dapat diketahui dengan melakukan

pengujian disolusi, yang kemudian akan diukur dengan spektrofotometer visibel.

I. Hipotesis

(40)

22 BAB III

METODE PENELITIAN

A. Jenis dan Rancangan Penelitian

Penelitian ini merupakan jenis penelitian eksperimental. Penelitian ini

disebut eksperimental karena peneliti menambahkan bahan pembawa untuk

meningkatkan disolusi kurkumin.

B. Variabel Penelitian

1. Variabel Utama

a. Variabel bebas

Proporsi drug load b. Variabel tergantung

Persen kurkumin terdisolusi

2. Variabel Pengacau

a. Variabel pengacau terkendali

Intensitas cahaya selama penyimpanan kurkumin

b. Variabel pengacau tak terkendali

(41)

C. Definisi Operasional

1. Ekstrak rimpang kunyit mempunyai kandungan utama kurkuminoid, yang

terdiri dari kurkumin (sebanyak 60%), desmetoksikurkumin, dan

bisdesmetoksikurkumin

2. Kurkumin adalah senyawa polifenol yang berwarna kuning, yang mempunyai

banyak efek farmakologi. Kurkumin memiliki kelarutan dan disolusi yang

rendah dalam air sehingga bioavailabilitasnya juga rendah.

3. Gom guar adalah suatu hidrokoloid yang sebagian besar terdiri dari

polisakarida dengan bobot molekul tinggi. Gom guar dapat terdispersi dan

mengembang dalam air dingin atau air panas, membentuk larutan dengan

viskositas yang tinggi.

4. Dispersi padat adalah dispersi satu atau lebih zat aktif dalam pembawa yang

inert, dalam bentuk padat. Dispersi padat dibuat dengan metode vacuum drying.

5. Uji disolusi dilakukan dengan menggunakan cairan lambung buatan tanpa

pepsin (pH 1,2). Peralatan uji disolusi yang digunakan adalah rotatingpaddle method.

6. Pengukuran kelarutan dan disolusi kurkumin pada dispersi padat dilakukan

dengan spektrofotometer visibel.

D. Bahan Penelitian

Bahan baku yang digunakan adalah isolat ekstrak rimpang kunyit (PT.

(42)

24

(pemberian eksklusif dari Prof. Dr. Sudibyo Martono, M.S., Apt.), gom guar (PT.

Brataco), etanol 70% (PT. Brataco), metanol p. a (E. Merck), dan aquadest.

E. Alat Penelitian

Alat-alat yang digunakan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:

timbangan analitik (Ohaus, Carat Series), oven (Memmert), desikator, Vacuum Rotary Evaporator (Janke & Kunkel, IKA Labortechnik), alat-alat gelas, blender (Philips), mortar, stemper, alat uji disolusi, spektrofotometri visibel (Perkin-Elmer

Lambda 20).

F. Tata Cara Penelitian

1. Pembuatan dispersi padat isolat ekstrak rimpang kunyit-gom guar

Dispersi padat isolat ekstrak rimpang kunyit-gom guar dengan drug load 1,72%; 3,38%; 5,11% dibuat dengan metode vacuum drying. Isolat ekstrak rimpang kunyit (100,0228 mg) dilarutkan dalam etanol 70% dengan suhu ±50°C

(40 ml). Ke dalam larutan gom guar ditambahkan larutan isolat ekstrak rimpang

kunyit tersebut, sesuai dengan dengan drug load 1,72%; 3,38%; 5,11%. Pelarut dihilangkan di bawah tekanan 72 mbar pada suhu 50°C dan dikeringkan dengan

oven pada suhu 50°C selama 4 hari. Hasil dispersi padat kering dihaluskan

menggunakan blender, serta diayak dengan nomor mesh 60. Hasil dispersi padat

dibungkus dengan aluminium foil dan disimpan selama 24 jam dalam desikator.

Kemudian, hasil ayakan ditimbang sebanyak 250 mg dan dimasukkan ke dalam

(43)

Tabel III. Proporsi Drug Load dalam Dispersi Padat

Gom guar (g) Kurkumin(mg) Drug load (%)

2 35 1,72

1 35 3,38

0,65 35 5,11

2. Pembuatan campuran fisik

Campuran fisik dibuat dengan mencampurkan isolat ekstrak rimpang

kunyit dan gom guar, yang masing-masing telah diayak sebelumnya dengan

ayakan no. mesh 60. Jumlah isolat ekstrak rimpang kunyit dan gom guar yang

dicampurkan dihitung berdasarkan jumlah dispersi padat yang diperoleh tiap

replikasinya. Pencampuran isolat ekstrak rimpang kunyit dan gom guar dilakukan

dengan mortar dan stemper hingga homogen. Kemudian, hasil campuran fisik

tersebut dibungkus dengan aluminium foil dan disimpan selama 24 jam dalam

desikator.setelah 24 jam, campuran fisik dimasukkan ke dalam kapsul dan

disimpan lagi selama 24 jam dalam desikator sebelum diuji disolusi.

3. Pengujian disolusi

a.

Medium disolusi yang digunakan adalah cairan lambung buatan LP tanpa

pepsin. Larutkan 2,0 g Natrium Klorida P dalam 7,0 ml Asam Klorida P dan air

hingga 1000 ml. Larutan mempunyai pH ±1,2. Pembuatan medium disolusi

b.

Disolusi dispersi padat diukur menggunakan peralatan disolusi. Media

disolusi terdiri dari 900 ml cairan lambung buatan tanpa pepsin pada pH 1,2.

(44)

26

Kapsul yang berisi dispersi padat dan campuran fisik dimasukkan ke dalam

medium disolusi. Setiap 5, 10, 20, 30, 45, 60, 90, 120, 150, dan 180 menit,

cuplikan sebanyak 5 ml diambil dan disaring, medium disolusi diganti dengan 5

ml medium disolusi yang baru setelah pengambilan sampel. Kurkumin dalam

cuplikan diukur dengan spektrofotometer visibel pada λ 421,6 nm. Kadar

kurkumin dihitung dan dinyatakan sebagai persentase kurkumin terdisolusi dari

rata-rata 3 replikasi pengujian disolusi.

4. Validasi metode analisis

a.

Sebanyak 10,0 mg serbuk kurkumin ditimbang lebih kurang seksama,

masukkan ke dalam labu ukur 25,0 ml. Encerkan dengan metanol p.a hingga

tanda. Simpan dalam wadah terlindung cahaya. Larutan stok kurkumin

b.

Larutan stok kurkumin diambil sebanyak 1,0 ml, masukkan ke dalam

labu ukur 10,0 ml. Encerkan dengan metanol p.a hingga tanda. Larutan

intermediet dibuat sebanyak 3 kali. Larutan intermediet

c. Penentuan panjang gelombang maksimum (λmaks

Larutan intermediet diambil sebanyak 0,4; 0,8; 1,2 ml dan masukkan ke

dalam labu ukur 10,0 ml. Encerkan dengan metanol p.a hingga tanda. Pengukuran

panjang gelombang maksimum dilakukan pada λ 300-600 nm, sebanyak 3 kali. Pengukuran juga dilakukan pada larutan intermediet II dan III. Panjang

gelombang dicari yang memberikan serapan maksimum dan memberikan profil

kurva yang mirip.

(45)

d.

Larutan intermediet diambil sebanyak 0,4 ml; 0,6 ml; 0,8 ml; 1,0 ml dan

1,2 ml, masukkan ke dalam labu ukur 10,0 ml, kemudian diencerkan dengan

metanol p.a hingga tanda. Kelima larutan tersebut diukur serapannya pada

panjang gelombang maksimum. Pengukuran dilakukan sebanyak 3 kali, untuk

kurva baku intermediet I, II, dan III. Data yang diperoleh dihitung dengan regresi

linier sehingga diperoleh persamaan kurva baku kurkumin. Pembuatan kurva baku

e.

Larutan intermediet diambil sebanyak 0,4 ml; 0,8 ml; dan 1,2 ml,

masukkan ke dalam labu ukur 10,0 ml, kemudian diencerkan dengan metanol p.a

hingga tanda. Ketiga larutan tersebut diukur serapannya pada panjang gelombang

maksimum. Pengukuran ulang dilakukan untuk larutan intermediet II dan III. Penetapan parameter akurasi (recovery)

Cara perhitungannya adalah sebagai berikut.

% recovery = x 100%

f.

Larutan intermediet diambil sebanyak 0,4 ml; 0,8 ml; dan 1,2 ml,

masukkan ke dalam labu ukur 10,0 ml, kemudian diencerkan dengan metanol p.a

hingga tanda. Kelima larutan tersebut diukur serapannya pada panjang gelombang

maksimum. Pengukuran ulang dilakukan untuk larutan intermediet II dan III.

Serapan yang diperoleh dimasukkan ke dalam persamaan kurva baku untuk

mengetahui kadar terukur, kemudian dihitung standar deviasi. Data yang

diperoleh dimasukkan ke dalam rumus berikut.

Penetapan parameter presisi (koefisien variasi)

(46)

28

Keterangan :

SD = standar deviasi

= kadar rata-rata

CV = koefisien variasi

g.

Larutan intermediet diambil sebanyak 0,4 ml; 0,6 ml; 0,8 ml; 1,0 ml dan

1,2 ml, masukkan ke dalam labu ukur 10,0 ml. Encerkan dengan metanol p.a

hingga tanda. Kelima larutan tersebut diukur serapannya pada panjang gelombang

maksimum. Pengukuran ulang dilakukan untuk larutan intermediet II dan III.

Hitung nilai linearitas serapan dan konsentrasi baku kurkumin dengan

menggunakan regresi linier.

Penetapan parameter linearitas

G. Analisis Hasil

1. Validasi metode

Validasi metode yang digunakan berdasarkan parameter berikut.

a.

Akurasi metode analisis dinyatakan sebagai recovery dan dihitung

dengan rumus berikut. Akurasi

% recovery = x 100%

Metode digunakan untuk menganalisis bahan obat dengan kadar lebih

(47)

b.

Presisi dinyatakan dengan koefisien variasi, dengan rumus: Presisi

CV = x 100%

Metode ini dikatakan baik bila nilai CV yang diperoleh < 2%. Semakin

kecil nilai CV, presisi metode yang digunakan semakin baik.

c.

Parameter linearitas dilihat dari nilai koefisien korelasi (r) hasil

pengukuran larutan seri baku kurkumin. Metode dikatakan memiliki linearitas

yang baik bila r > 0,99 atau r Linieritas

2

2. Pengaruh proporsi drug load terhadap disolusi kurkumin

≥ 0,997.

Data uji disolusi kurkumin dibuat dalam bentuk kurva hubungan

persentase pelepasan kurkumin terhadap waktu. Kemudian, korelasi keduanya

dilihat dengan menggunakan Korelasi Spearman dan regresi linier dengan taraf

(48)

30 BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Pembuatan Dispersi Padat

Dispersi padat adalah dispersi satu atau lebih zat aktif dalam pembawa

atau matriks inert pada bentuk padat. Tujuan pembuatan dispersi padat adalah

untuk meningkatkan kelarutan kurkumin dalam air. Dalam penelitian, dispersi

padat dibuat menggunakan metode vacuum drying dengan gom guar sebagai pembawa, dalam berbagai proporsi drug load, yaitu 1,72%, 3,38%, dan 5,11%.

Dalam pembuatan dispersi padat, isolat ekstrak rimpang kunyit yang

digunakan berasal dari PT. Phytochemindo Reksa dengan komponen 97,20%

kurkuminoid, yang tertera pada Certificate of Analysis. Dalam kurkuminoid terdapat kandungan kurkumin sebesar 60% (Parinussa dan Timotius, 2010). Isolat

ekstrak rimpang kunyit yang dilarutkan dalam etanol 70% (suhu 50°C)

didispersikan ke dalam gom guar yang dilarutkan dalam aquadest, hingga

homogen. Etanol yang digunakan sebagai pelarut serbuk kunyit sebelumnya

dipanaskan terlebih dahulu hingga suhu 50°C karena bila tidak dipanaskan gom

guar yang terdispersi akan menggumpal. Pelarut pada campuran tersebut

dihilangkan dengan menggunakan vacuum rotary evaporator.

Hasil yang didapat dikeringkan dalam oven selama 4 hari pada suhu

50°C. Hasil yang sudah kering dihaluskan dengan blender menjadi serbuk dan

(49)

desikator selama 24 jam, kemudian dimasukkan dalam kapsul ukuran 0. Kapsul

tersebut akan dilakukan uji disolusi setelah penyimpanan 24 jam.

B. Pembuatan Campuran Fisik

Campuran fisik dibuat dengan mencampurkan isolat ekstrak rimpang

kunyit dan gom guar, yang masing-masing telah diayak sebelumnya dengan

ayakan no. mesh 60. Masing-masing serbuk diayak terlebih dahulu agar ukuran

partikelnya homogen dan sama dengan ukuran partikel dispersi padat. Jumlah

isolat ekstrak rimpang kunyit dan gom guar yang dicampurkan dihitung

berdasarkan jumlah dispersi padat tiap replikasinya. Serbuk kunyit dan gom guar

dihomogenkan dengan mortar dan stemper. Hasil campuran fisik dibungkus

dengan aluminium foil dan disimpan dalam desikator selama 24 jam. Setelah

penyimpanan 24 jam, serbuk campuran fisik dimasukkan dalam kapsul dan

disimpan selama 24 jam. Setelah penyimpanan dalam kapsul 24 jam, kapsul

tersebut diuji disolusi.

C. Penetapan Panjang Gelombang Maksimum

Panjang gelombang maksimum adalah panjang gelombang dari suatu

larutan yang mempunyai absorbansi atau serapan maksimum. Panjang gelombang

maksimum digunakan karena pada panjang gelombang maksimum, perubahan

absorbansi untuk setiap satuan konsentrasi, paling besar. Dengan demikian,

sensitivitas pengukuran lebih baik dan saat dilakukan pengukuran ulang hasilnya

(50)

32

Dalam menentukan panjang gelombang maksimum, digunakan larutan

baku kurkumin pada tiga konsentrasi yang berbeda (rendah, tengah, tinggi),

dimana masing-masing konsentrasi direplikasi sebanyak tiga kali. Panjang

gelombang maksimum diukur mulai dari 300 nm sampai 600 nm. Dari hasil

penelitian, diperoleh panjang gelombang maksimum pada 421,6 nm. Panjang

gelombang maksimum yang diperoleh tidak berbeda jauh dengan yang tertera

pada penelitian Kaewnopparat (2009), dimana pengukuran kadar kurkumin dalam

medium cairan lambung buatan (pH 1,2), menggunakan panjang gelombang 421

nm. Dengan demikian, kurkumin yang digunakan dalam pengukuran panjang

gelombang maksimum ini dapat digunakan sebagai baku (standar) dan panjang

gelombang maksimum 421,6 nm dapat digunakan untuk pengukuran larutan baku

maupun sampel yang akan dianalisis.

D. Pembuatan Kurva Baku

Dalam pembuatan kurva baku digunakan satu seri larutan baku

kurkumin dengan lima konsentrasi yang berbeda, yaitu 1,584∙10-3; 2,376∙10-3;

3,168∙10-3; 3,960∙10-3, dan 4,752∙10-3 mg/ml. Seri larutan baku kurkumin diukur

absorbansinya pada panjang gelombang maksimum, kemudian dibuat kurva

hubungan antara konsentrasi dan absorbansi. Dari kurva hubungan antara

konsentrasi dan absorbansi, dapat dilihat korelasi dari keduanya. Korelasi yang

baik antara konsentrasi dan absorbansi dapat dilihat dari nilai r yang mendekati

(51)

adalah r ≥ 0,99. Persamaan kurva baku yang memiliki nilai r ≥ 0,99, yang akan digunakan dalam penetapan kadar pada uji disolusi.

Tabel IV. Hasil pengukuran seri kurva baku

I II III

Dari data pada tabel di atas, maka persamaan kurva baku yang

digunakan dalam pengukuran kadar pada uji disolusi adalah y = 152,3990 x –

0,017 dengan nilai r = 0,9981.

(52)

34

E. Validasi Metode Analisis

Suatu metode analisis harus divalidasi untuk memastikan bahwa

metode analisis yang digunakan sesuai dengan tujuan yang diinginkan. Parameter

validasi yang digunakan pada suatu metode analisis berbeda-beda, disesuaikan

dengan tujuan yang diinginkan. Pada penelitian ini digunakan

parameter-parameter sebagai berikut.

1. Akurasi

Akurasi metode dilihat dari nilai % recovery. Persyaratan akurasi yang diperbolehkan pada setiap metode tergantung pada konsentrasi analit dalam

matriks sampel.

Tabel V. Rentang % recovery yang diijinkan pada setiap konsentrasi analit pada matriks (Guideline, 2004)

% Active/ impurity content Acceptable mean recovery ≥ 10

Hasil dari perhitungan recovery untuk larutan seri baku 1,584∙10-3 mg/ml adalah 96,52%; untuk seri 3,168∙ 10-3 mg/ml adalah 93,48% ; dan untuk seri

(53)

2. Presisi

Presisi suatu metode dinyatakan dengan koefisien variasi (CV).

Umumnya, presisi dikatakan baik bila nilai CV < 2%, namun menurut Guideline

(2004), persyaratan nilai CV tergantung pada jumlah analit yang diukur.

Tabel VI. Persyaratan nilai presisi (CV) (Guideline, 2004)

Component measured in sample Precision

>10.0% ≤ 2%

1.0 up to 10.0% ≤ 5%

0.1 up to 1.0% ≤ 10%

< 0.1% ≤ 20%

Tabel VII. Hasil perhitungan koefisien variasi (CV)

Recovery (%) SD CV(%)

96,52 7,19 7,44

93,48 4,85 5,19

98,41 1,39 1,42

Pada penelitian ini, kadar analit sampel >0,1% atau dalam rentang 0,1 –

1,0%, maka persyaratan CV yang digunakan adalah CV ≤ 10%. Dari hasil

perhitungan didapatkan bahwa semua nilai CV yang diperoleh memenuhi syarat

CV ≤ 10%. Dengan demikian, metode yang digunakan memenuhi persyaratan

presisi.

3. LOD

LOD merupakan batas terkecil analit yang masih dapat dideteksi pada

suatu metode. Bila kadar yang diukur berada di bawah LOD, maka kadar tersebut

tidak dapat dideteksi. Nilai LOD dihitung dengan rumus berikut:

(54)

36

Tabel VIII. Hasil pengukuran kurva baku

SD = 1,2522 x 10

LOD =

-3

=

= 2,4649 x 10-5

Dari hasil perhitunngan LOD, didapatkan LOD sebesar 2,4649 x 10 mg/ml

-5

4. Linieritas

mg/ml. Hal ini menunjukkan bahwa jumlah kurkumin dalam dispersi padat dan

campuran fisik berada di atas LOD pengukuran.

Linieritas metode dilihat dari nilai koefisien korelasi pada kurva baku.

Nilai koefisien korelasi yang baik adalah yang mendekati ±1, karena pada nilai r

±1, peningkatan konsentrasi akan diikuti dengan peningkatan absorbansinya.

Tabel IX. Persyaratan nilai linieritas (Rohman, 2009)

Uji Level* Kisaran** Kriteria keberterimaan

pengujian 5 50% - 150% r > 0,999; intersep -y > 2,0% disolusi 5-8 10% - 150% r > 0,99; intersep -y > 5,0% pengotor 5 LOQ – 2% r > 0,98

Menurut Rohman (2009), persyaratan nilai koefisien korelasi pada uji

disolusi adalah r ≥ 0,99. Persamaan kurva baku memiliki nilai r = 0,9981 sehingga Konsentrasi (mg/ml) Absorbansi

(55)

dapat dikatakan mempunyai linieritas yang baik. Dengan demikian, metode

analisis yang digunakan dalam pengujian disolusi ini memenuhi persyaratan

linieritas.

F. Uji Disolusi

Uji disolusi sangat penting dalam mengevaluasi parameter kritis seperti

bioavailabilitas yang memadai, sehingga dapat dibuat bentuk sediaan yang

efikasinya lebih besar. Dalam penelitian ini, uji disolusi dilakukan secara in vitro menggunakan medium cairan lambung buatan tanpa pepsin (pH 1,2). Uji disolusi

dilakukan untuk mengetahui disolusi kurkumin dalam dispersi padat dan

campuran fisik.

Uji disolusi dilakukan menggunakan peralatan uji disolusi tipe 2

(rotating paddle method) dengan kecepatan putar paddle 50±1 rpm, pada suhu 37±0,5°C. Pengujian dilakukan selama 3 jam dengan waktu pengambilan cuplikan

pada menit ke-5, 10, 20, 30, 45, 60, 90, 120, 150, dan 180. Cuplikan diambil

sebanyak 5 ml, yang diikuti dengan penggantian medium disolusi sebanyak 5 ml.

Cuplikan tersebut diukur absorbansinya dan dimasukkan ke dalam persamaan

kurva baku sehingga diperoleh kadar kurkumin yang terdisolusi. Dari kadar

tersebut, dihitung kadar dalam 900 ml, dan kemudian dihitung persentase

kurkumin yang terdisolusi. Kemudian, dibuat kurva hubungan antara waktu dan

(56)

38

Gambar 6. Grafik Dispersi Padat dan Campuran Fisik Drug Load 1,72% Dari grafik di atas dapat diketahui bahwa dispersi padat isolat ekstrak

rimpang kunyit-gom guar dapat meningkatkan disolusi kurkumin, tetapi tidak

signifikan dibandingkan dengan campuran fisik. Hal ini dapat dilihat dari rentang

± SD yang saling tumpang tindih antara dispersi padat dan campuran fisik.

Perbandingan disolusi dispersi padat dan campuran fisik drug load 1,72% juga dilihat dengan uji statistik, dengan uji T tidak berpasangan dan uji

Mann-Whitney. Uji statistik dilakukan dengan uji T tidak berpasangan dan uji Mann-Whitney karena distribusi data pada waktu-waktu yang diuji, ada yang normal dan ada yang tidak normal. Uji normalitas dilakukan dengan

(57)

Tabel X. Hasil uji statistik disolusi dispersi padat dan campuran fisik proporsi drug load 1,72%

Waktu

(menit) Nilai p Signifikan/ tidak

5 0,121 Tidak signifikan

10 0,275 Tidak signifikan

20 0,607 Tidak signifikan

30 0,290 Tidak signifikan

45 0,591 Tidak signifikan

60 0,513 Tidak signifikan

90 0,036 Signifikan

120 0,331 Tidak signifikan

150 0,116 Tidak signifikan

180 0,033 Signifikan

Dari hasil perhitungan uji statistik diperoleh nilai signifikansi > 0,05;

hanya pada menit ke-90 dan 180 nilai signifikansi < 0,05. Oleh karena itu, dapat

dikatakan bahwa terdapat perbedaan yang tidak bermakna antara disolusi dispersi

padat dan campuran fisik.

(58)

40

Grafik di atas menunjukkan peningkatan disolusi kurkumin yang

signifikan antara dispersi padat dan campuran fisik. Hal ini dapat dilihat dari

rentang ± SD yang tidak tumpang tindih diantara keduanya. Oleh karena rentang

± SD tidak tumpang tindih, maka rentang persentase kurkumin yang terdisolusi

berbeda signifikan antara dispersi padat dan campuran fisik.

Tabel XI. Hasil uji statistik disolusi dispersi padat dan campuran fisik proporsi drug load 3,38%

Waktu

(menit) Nilai p Signifikan/ tidak

5 0,872 Tidak signifikan

10 0,232 Tidak signifikan

20 0,226 Tidak signifikan

30 0,098 Tidak signifikan

45 0,021 Signifikan

Perbandingan disolusi dispersi padat dan campuran fisik drug load 3,38% juga dilakukan dengan uji T tidak berpasangan karena data terdistribusi

normal (p < 0,05). Uji normalitas dilakukan dengan menggunakan Shapiro-Wilk,

karena data yang diuji jumlahnya kurang dari 50.

Dari hasil perhitungan uji T tidak berpasangan menunjukkan bahwa pada

menit ke-5 sampai menit ke-30 disolusi kurkumin pada dispersi padat dan

campuran fisik tidak ada perbedaan yang signifikan. Namun, pada menit ke-45

sampai menit ke-180 terdapat perbedaan yang signifikan antara dispersi padat dan

(59)

terjadi pemecahan kapsul dan kurkumin yang terdisolusi masih sedikit sehingga

tidak ada perbedaan yang signifikan antara dispersi padat dan campuran fisik.

Oleh karena itu, dapat dikatakan bahwa disolusi antara dispersi padat dan

campuran fisik pada proporsi drug load 3%, terdapat perbedaan yang signifikan.

Gambar 8. Grafik Dispersi Padat dan Campuran Fisik Drug Load 5,11% Grafik di atas menunjukkan bahwa terjadi sedikit peningkatan disolusi

kurkumin antara dispersi padat dan campuran fisik, namun peningkatan disolusi

tersebut tidak signifikan. Hal ini dapat dilihat dari rentang ± SD yang

berdekatan, bahkan tumpang tindih antara dispersi padat dan campuran fisik.

Perbandingan disolusi dispersi padat dan campuran fisik drug load 5,11% juga dilakukan dengan uji T tidak berpasangan karena data menunjukkan

distribusi normal (p > 0,05). Uji normalitas dilakukan menggunakan

(60)

42

Tabel XII. Hasil uji statistik disolusi dispersi padat dan campuran fisik proporsi drug load 5,11%

Waktu

(menit) Nilai p Signifikan/ tidak

5 0,863 Tidak signifikan

10 0,992 Tidak signifikan

20 0,380 Tidak signifikan

30 0,304 Tidak signifikan

45 0,297 Tidak signifikan

60 0,360 Tidak signifikan

90 0,233 Tidak signifikan

120 0,308 Tidak signifikan

150 0,123 Tidak signifikan

180 0,101 Tidak signifikan

Dari hasil perhitungan uji T tidak berpasangan diperoleh nilai

signifikansi > 0,05; hal ini menunjukkan adanya perbedaan yang tidak signifikan

antara disolusi dispersi padat dan campuran fisik.

(61)

Grafik tersebut menunjukkan bahwa semakin besar drug load, maka disolusi kurkumin akan semakin menurun. Peningkatan drug load dan/ atau saat pembawa terlarut dengan cepat,maka akan menyebabkan penurunan laju disolusi.

Hal ini menunjukkan terjadinya kristalisasi obat yang tidak terkontrol, yang

disebabkan oleh supersaturasi pada daerah pelepasan obat tersebut. Kristalisasi

yang tidak terkontrol ini menghasilkan bentuk kristal dalam jumlah besar, yang

akan terlarut dengan lambat (Srinarong et al., 2009).

G. Korelasi Proporsi Drug Load dan Disolusi Kurkumin

Dari hasil disolusi tersebut, kemudian dilihat hubungan korelasi antara

proporsi drug load dengan persentase kurkumin terdisolusi pada waktu 60 menit. Korelasi antara proporsi drug load dengan persentase kurkumin terdisolusi dihitung dengan menggunakan korelasi Spearman dan analisis regresi. Korelasi

dilakukan dengan korelasi Spearman karena data yang ada tidak terdistribusi

normal (p < 0,05). Uji normalitas data dilakukan menggunakan Shapiro-Wilk,

karena data yang diuji jumlahnya kurang dari 50.

Dari hasil perhitungan korelasi Spearman, diperoleh nilai signifikansi

0,042. Nilai signifikansi yang diperoleh tersebut < 0,05; maka dapat dikatakan

bahwa ada korelasi yang bermakna antara proporsi drug load dengan persentase kurkumin yang terdisolusi. Nilai koefisien korelasi yang diperoleh adalah -0,685.

(62)

44

terdisolusi. Koefisien korelasi sebesar 0,685 menunjukkan bahwa ada korelasi

yang kuat antara proporsi drug load dan persentase kurkumin terdisolusi. Tabel XIII. Kekuatan korelasi (Dahlan, 2009)

Koefisien korelasi Kekuatan korelasi

0,00-0,199 sangat lemah

0,20-0,399 lemah

0,40-0,599 sedang

0,60-0,799 kuat

0,80-1,000 sangat kuat

Pengaruh proporsi drug load terhadap persentase kurkumin terdisolusi juga dihitung dengan analisis regresi linier. Dengan melakukan analisis regresi

linier, dapat diprediksi nilai proporsi drug load dan persentase kurkumin terdisolusi, yang berada diluar nilai yang diteliti melalui persamaan matematis.

Gambar 10. Kurva Proporsi Drug Load vs %Kurkumin Terdisolusi

Dari perhitungan analisis regresi diperoleh persamaan regresi

(63)

0,026. Nilai signifikansi yang diperoleh < 0,05; hal ini menunjukkan bahwa

persamaan tersebut layak digunakan untuk meramalkan besarnya persentase

kurkumin terdisolusi bila proporsi drug load diturunkan kurang dari 1,72% dan ditingkatkan lebih dari 5,11%. Nilai Adjusted R Square yang diperoleh adalah 0,464, yang berarti 46,4% dari persentase kurkumin terdisolusi dipengaruhi oleh

(64)

46 BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan

Dispersi padat dapat meningkatkan disolusi kurkumin secara signifikan

dibandingkan dengan campuran fisik. Peningkatan proporsi drug load akan berpengaruh terhadap penurunan disolusi dispersi padat ekstrak rimpang kunyit

(Curcuma domestica Rhizome)-gom guar.

B. Saran

1. Perlu dilakukan uji stabilitas terhadap dispersi padat pada rentang waktu

tertentu untuk melihat pengaruhnya terhadap disolusi kurkumin.

2. Pengukuran kadar pada uji disolusi dilakukan dengan metode yang lebih

(65)

47

DAFTAR PUSTAKA

Banakar, U.V., 1992, Pharmaceutical Dissolution Testing, Marcel Dekker Inc., New York, United States of America, pp. 15-17, 53.

Chaudhari, P.D., Sharma, P.K., Badagale, M.M., Dave, K.D., Kaulkarni, P.A., dan Baharte, N.S., 2006, Current Trends in Solid Dispersions Techniques,

Christian, G.D., 2004, Analytical Chemistry, 6th

Direktorat Jenderal Pengawasan Obat dan Makanan RI, 1995, Farmakope Indonesia, jilid IV, Departemen Kesehatan Republik Indonesia, Jakarta, pp. 1143.

ed., John Wiley & Sons, Inc., United States of America, pp. 65-66, 483-484.

Day, R.A. dan Underwood, A.L., 1986, Quantitative Analysis, diterjemahkan oleh Pudjaatmaka, A. H., Erlangga, Jakarta, pp. 388-390.

Guideline, 2004, Guidelines for the Validation of Analytical Methods Active Constituent, Agricultural and Veterinary Chemical Producta, Australian Pesticides & Veterinary Medicines Authority, 1-9.

Genome Alberta, 2009, Curcumin,

Harmita, 2004, Petunjuk Pelaksanaan Validasi Metode dan Cara Perhitungannya, Majalah Ilmu Kefarmasian, Vol. I, No. 3, 117-135.

Kaewnopparat, N., Kaewnopparat, S., Jangwang, A., Maneenaum, D., Chucome, T., dan Panichayupakaranant, P., 2009, Increased Solubility, Dissolution, and Physicochemical Studies of Curcumin-Polyvinylpyrrolidone K-30 Solid Dispersions, World Academy of Science, Engineering and Technology, 55, 229-234.

Kawamura, Y., 2008, Guar Gum, Chemical and Technical Assessment, diakses tanggal 5 September 2010.

Malviya, R., Srivastava, P., Bansal, M., dan Sharma, P.K., 2010, Improvement of Dissolution Behavior of Paracetamol Using Solid Dispersion Technique, International Journal of Pharmaceutical Science and Research, 1, 95-99. Meiyanto, E., 2010, Kurkumin Sebagai Obat Kanker; Menelusuri Mekanisme

Figur

Gambar 1. Rimpang Kunyit (Curcuma domestica Val.) (The Medical News, 2010)
Gambar 1 Rimpang Kunyit Curcuma domestica Val The Medical News 2010 . View in document p.24
Gambar 2. Struktur kimia kurkumin (Najib, 2009)
Gambar 2 Struktur kimia kurkumin Najib 2009 . View in document p.25
Gambar 3. Degradasi kurkumin dalam larutan (Wang et al., 1997)
Gambar 3 Degradasi kurkumin dalam larutan Wang et al 1997 . View in document p.26
Gambar 4. Struktur gom guar (Kawamura, 2008)
Gambar 4 Struktur gom guar Kawamura 2008 . View in document p.27
Tabel I. Elemen-elemen data yang dibutuhkan untuk uji validasi
Tabel I Elemen elemen data yang dibutuhkan untuk uji validasi . View in document p.34
Tabel III. Proporsi Drug Load dalam Dispersi Padat
Tabel III Proporsi Drug Load dalam Dispersi Padat . View in document p.43
Gambar 5. Kurva Baku
Gambar 5 Kurva Baku . View in document p.51
Tabel IV. Hasil pengukuran seri kurva baku
Tabel IV Hasil pengukuran seri kurva baku . View in document p.51
Tabel VII. Hasil perhitungan koefisien variasi (CV)
Tabel VII Hasil perhitungan koefisien variasi CV . View in document p.53
Tabel VI. Persyaratan nilai presisi (CV) (Guideline, 2004)
Tabel VI Persyaratan nilai presisi CV Guideline 2004 . View in document p.53
Tabel VIII. Hasil pengukuran kurva baku
Tabel VIII Hasil pengukuran kurva baku . View in document p.54
Tabel IX. Persyaratan nilai linieritas (Rohman, 2009)
Tabel IX Persyaratan nilai linieritas Rohman 2009 . View in document p.54
Gambar 6. Grafik Dispersi Padat dan Campuran Fisik Drug Load 1,72%
Gambar 6 Grafik Dispersi Padat dan Campuran Fisik Drug Load 1 72 . View in document p.56
Gambar 7. Grafik Dispersi Padat dan Campuran Fisik Drug Load 3,38%
Gambar 7 Grafik Dispersi Padat dan Campuran Fisik Drug Load 3 38 . View in document p.57
Tabel X. Hasil uji statistik disolusi dispersi padat dan campuran fisik proporsi drug load 1,72%
Tabel X Hasil uji statistik disolusi dispersi padat dan campuran fisik proporsi drug load 1 72 . View in document p.57
Tabel XI. Hasil uji statistik disolusi dispersi padat dan campuran fisik
Tabel XI Hasil uji statistik disolusi dispersi padat dan campuran fisik . View in document p.58
Grafik di atas menunjukkan peningkatan disolusi kurkumin yang
Grafik di atas menunjukkan peningkatan disolusi kurkumin yang . View in document p.58
Gambar 8. Grafik Dispersi Padat dan Campuran Fisik Drug Load 5,11%
Gambar 8 Grafik Dispersi Padat dan Campuran Fisik Drug Load 5 11 . View in document p.59
Tabel XII. Hasil uji statistik disolusi dispersi padat dan campuran fisik proporsi drug load 5,11%
Tabel XII Hasil uji statistik disolusi dispersi padat dan campuran fisik proporsi drug load 5 11 . View in document p.60
Gambar 9. Grafik Dispersi Padat Berbagai Drug Load
Gambar 9 Grafik Dispersi Padat Berbagai Drug Load . View in document p.60
Gambar 10. Kurva Proporsi Drug Load vs %Kurkumin Terdisolusi
Gambar 10 Kurva Proporsi Drug Load vs Kurkumin Terdisolusi . View in document p.62
Tabel XIII. Kekuatan korelasi (Dahlan, 2009)
Tabel XIII Kekuatan korelasi Dahlan 2009 . View in document p.62

Referensi

Memperbarui...