SUPERVISI AKADEMIK KEPALA SEKOLAH DALAM MENINGKATKAN KOMPETENSI PROFESIONAL GURU PAI (Studi Kasus di SD se-Kecamatan Sregen Tahun 2016) - Test Repository

175  Download (0)

Teks penuh

(1)

SUPERVISI AKADEMIK KEPALA SEKOLAH

DALAM MENINGKATKAN KOMPETENSI

PROFESIONAL GURU PAI

(Studi Kasus di SD se-Kecamatan Sregen Tahun 2016)

Oleh:

PUJI HANDRIYANI

NIM. M2.14.024

Tesis diajukan sebagai pelengkap persyaratan

Untuk gelar Magister Pendidikan

PROGRAM BEASISWA SUPERVISI PASCASARJANA

INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI SALATIGA

(2)
(3)
(4)
(5)

ABSTRAK

SUPERVISI AKADEMIK KEPALA SEKOLAH DALAM MENINGKATKAN KOMPETENSI PROFESIONAL GURU PAI

(Studi Kasus di SD se-Kecamatan Sregen Tahun 2016)

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pelaksanaan supervisi akademik Kepala Sekolah dimulai dari perencanaan, pelaksanaan dan tindak lanjut serta keberhasilan supervisi akademik kepala sekolah dalam meningkatkan kompetensi profesional guru PAI. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif. Teknik pengambilan data melalui observasi dan wawancara. Hasil penelitian ini menyimpulkan bahwa pertama, perencanaan kegiatan supervisi akademik kepala sekolah dimulai dengan pembuatan program supervisi kemudian disosialisasikan kepada semua guru agar mengetahui dan memahami sehingga timbul rasa tanggung jawab. Kedua, pelaksanaan supervisi akademik kepala sekolah di Kecamatan Sragen menggunakan tehnik kelompok dan perorangan. Sebagian besar kepala sekolah hanya melakukan supervisi secara kelompok dengan pembinaan guru secara bersama-sama di awal tahun ajaran baru. Beberapa kepala sekolah tidak melakukan supervisi perseorangan dengan kunjungan kelas, observasi kelas maupun pertemuan individual. Ketiga, program tindak lanjut supervisi akademik kepala sekolah di Kecamatan Sragen hanya berupa pembinaan yang bersifat umum dan dilakukan dalam rapat guru sehingga kurang menyasar kepada guru PAI. Keempat, supervisi akademik kepala sekolah di kecamatan Sragen belum berhasil dalam meningkatkan kompetensi profesional guru PAI karena pelaksanaan supervisi akademik kepala sekolah belum terencana, sistematis dan berkelanjutan.

Kata kunci: supervisi akademik, kepala sekolah, kompetensi profesional, guru

(6)

ABSTRACK

PRINCIPAL ACADEMIC SUPERVISION OF IMPROVING TEACHER PROFESSIONAL COMPETENCE PAI

(Case Study in elementary sub-district Sregen 2016)

The purpose of study is to investigate implementation of the principal academic supervision. The study starting from the planning, implementation and follow-up academic supervision to improving the professional competence of islamic teachers. This study used descriptive qualitative approach, Technique intake of data through observation and interviews.

The study concludes that first, the planning activities of the principal academic supervision starting with the production supervision program and then disseminate to all teachers in order to know and understand so that the resulting sense of responsibility. Second, the implementation of the principal academic supervision in the district of Sragen using the technique with groups and individuals. Most principals just do supervision in groups with teachers coaching together at the meeting of new school year. Some principal were supervising individual with visit classroom, observation classroom and individual meetings. Third, the follow-up program of the principal academic supervision in the district only form of guidance a general nature and is done in a teachers' meeting so that less targeted to islamic teachers. Fourth, the principal academic supervision in the district of Sragen has not success to improving the professional competence of islamic teachers. In the mplementation of the principal academic supervision, the principal has not been planned, systematic and sustainable.

Inggris keywords: academic supervision, principal, professional competence,

(7)

PRAKATA

Alhamdulillahirobbil „alamin, segala puji bagi Allah SWT atas segala

karunia terindahnya. Atas rahmat Allah SWT, penulis bisa menyelesaikan Tesis

yang berjudul “Supervisi Akademik Kepala Sekolah dalam Meningkatkan

Kompetensi Profesional Guru PAI (Studi Kasus SD se-Kecamatan Sragen tahun

2016).

Dalam penyelesaian Tesis ini, penulis mendapat bantuan, motivasi dari berbagai pihak. Dalam kesempatan ini saya mengucapkan Jazakallah khoiron katsiro kepada:

1. Bapak Dr. H. Rahmat Hariyadi, M.Pd selaku Rektor Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Salatiga.

2. Bapak Dr. Zakiyuddin, M.Ag selaku direktur Pascasarjana Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Salatiga.

3. Bapak Dr. H. Muh. Saerozi, M.Pd selaku pembimbing Tesis, yang telah

membimbing dengan ikhlas sampai Tesis selesai.

4. Semua Dosen program Beasiswa Pascasarjana Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Salatiga yang telah membimbing dan memberi kemudahan selama penulis mengikuti kuliah.

5. Teman-teman program Beasiswa Pascasarjana Institut Agama Islam Negeri

(IAIN) Salatiga.

(8)

7. Untuk keluarga, suami dan anak-anakku terima kasih atas motivasi selama ini. Semoga karya ilmiah ini bisa bermanfaat untuk penulis dan juga semua pihak. Akhirnya penulis menyadari bahwa karya ilmiah ini jauh dari sempurna, oleh karena itu penulis mengharap saran dan kritik yang membangun.

Penulis

(9)

DAFTAR ISI

A. Latar Belakang Masalah ….……… B. Rumusan Masalah …………..………...

F. Sistematika Penulisan……….. 1

A. Supervisi Akademik Kepala Sekolah ...………..

B. Tujuan Supervisi Akademik ...………

C. Prinsip-prinsip Supervisi Akademik .………. D. Ruang Lingkup Supervisi Akademik ……….

E. Perencanaan Supervisi Akademik ……….

F. Model-model Supervisi Akademik ………

G. Teknik Supervisi Akademik ………...

H. Tindak Lanjut Supervisi Akademik ………... I. Kompetensi Profesional Guru PAI ……….

(10)

J. Indikator Kompetensi Profesional Guru PAI ………. 45 BAB III HASIL PENELITIAN

A. Gambaran Umum Sekolah Dasar (SD) di Kecamatan Sragen B. Kondisi Sekolah Dasar (SD) di Kecamatan Sragen …... C. Perencanaan Supervisi Akademik Kepala Sekolah ...…….. D. Pelaksanaan Supervisi Akademik Kepala Sekolah ...…….. E. Tindak Lanjut Supervisi Akademik Kepala Sekolah ...…...

47 49 66 72 84 BAB IV PEMBAHASAN

A. Tingkat Keberhasilan Supervisi Akademik Kepala Sekolah ... B. Faktor Pendukung Supervisi Akademik Kepala Sekolah ...….

C. Kendala yang Dihadapi ………

92 106 108 BAB V PENUTUP

A. Simpulan………...

B. Saran……….

112 114

DAFTAR PUSTAKA………. 115

LAMPIRAN………

(11)

DAFTAR BAGAN

Hal Bagan 1 Struktur Organisasi SD Birrul Walidain Muhammadiyah

Sragen ………

50

Bagan 2 Struktur Organisasi SD N Mojo 58 ………. 51

Bagan 3 Struktur Organisasi SD N Karang Tengah 1 ……….. 53

Bagan 4 Struktur Organisasi SD N 16 Sragen ……… 54

Bagan 5 Struktur Organisasi SD N Mojomulyo 2 ……… 56

Bagan 6 Struktur Organisasi SD N Tangkil 4 ………. 58

Bagan 7 Struktur Organisasi SD Sragen 6 ……….. 59

Bagan 8 Struktur Organisasi SDN Nglorog 3 ……… 61

Bagan 9 Struktur Organisasi SD N Nglorog 1 ……… 63

(12)

DAFTAR LAMPIRAN

LAMPIRAN HAL

(13)

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Tujuan nasional Indonesia sebagaimana tercantum dalam pembukaan UUD 45, adalah “Melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia dan untuk memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial.”1 Usaha mencerdaskan kehidupan bangsa salah satunya dengan memajukan pendidikan yang operasionalnya diatur melalui Undang-undang.

Sebagai konsekuensi logis dari adanya arah tujuan nasional, maka pemerintah menyelenggarakan pendidikan sebagai sarana untuk mengembangkan sumberdaya manusia Indonesia yang berkualitas. Penyelenggaran pendidikan oleh pemerintah dilaksanakan melalui jalur pendidikan formal, informal, dan non formal.

Pendidikan dalam Undang-undang nomor 20 tahun 2003 dijelaskan bahwa:

Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia,

1

(14)

serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara.2

Sistem pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.3 Maka perlu lembaga/sekolah yang mampu menghasilkan manusia yang berkualitas serta didukung sumber daya manusia yang berkualitas pula.

Salah satu sumber daya manusia dalam penyelenggaraan pendidikan adalah kepala sekolah. Kepala sekolah mempunyai peran yang sangat penting dalam mempengaruhi sistem dalam sekolah. Secara operasional, kepala sekolah adalah orang yang berada terdepan dalam mengkoordinasikan upaya meningkatkan pembelajaran yang bermutu. Sebagai pemimpin lembaga di suatu sekolah memiliki peran yang cukup besar dalam membina kemampuan guru dalam proses pembelajaran. Untuk membuat guru menjadi profesional tidak semata-mata hanya meningkatkan kompetensinya baik melalui pemberian penataran, pelatihan maupun memperoleh kesempatan untuk belajar lagi, namun juga perlu memperhatikan guru dari segi yang lain seperti

2

Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional, http://kemenag.go.id/file/dokumen/UU2003.pdf diunduh pada hari Rabu, 10 Pebruari 2016 pukul 23.30 WIB.

3

(15)

peningkatan disiplin, pemberian motivasi, pemberian bimbingan melalui supervisi.

Suharsimi4 menjelaskan bahwa kepala sekolah lebih dekat dengan sekolah bahkan melekat pada kehidupan sekolah yang lebih banyak mengarahkan perhatiannya pada supervisi pengajaran/akademik. Kepala sekolah merupakan supervisor yang sangat tepat karena kepala sekolahlah yang paling memahami seluk beluk kondisi dan kebutuhan sekolah yang dipimpinnya. Kepala Sekolah dituntut melakukan fungsinya sebagai manajer sekolah dalam meningkatkan proses pembelajaran dengan melakukan supervisi, membina, dan memberikan saran-saran positif kepada guru.

Sebagai manajer sekolah, kepala sekolah juga dituntut untuk meningkatkan proses pembelajaran, dengan melakukan supervisi kelas, membina dan memberikan saran-saran positif kepada guru. Di samping itu, kepala sekolah juga harus melakukan tukar pikiran, sumbang saran, dan studi banding antar sekolah untuk menyerap kiat-kiat kepemimpinan dari kepala sekolah yang lain.5

Salah satu kompetensi yang harus dimiliki kepala sekolah adalah kompetensi supervisi. Kompetensi supervisi sesuai permendiknas nomor 13 tahun 2007 mencakup perencanakan program supervisi akademik dalam rangka peningkatan profesionalisme guru, melaksanakan supervisi akademik terhadap guru dengan menggunakan pendekatan dan tehnik supervisi yang tepat dan menindaklanjuti hasil supervisi akademis terhadap guru dalam rangka peningkatan profesionalisme guru.6 Untuk menunjang kompetensi

4

Suharsimi Arikunto, Dasar-dasar supervisi, Jakarta: Rineka Cipta, 2004, 7.

5

E. Mulyasa, Menjadi Kepala Sekolah Profesional, Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2006, 40.

6

(16)

tersebut, kepala sekolah harus mempunyai pengetahuan dan keterampilan dalam merencanakan, melaksanakan dan menindaklanjuti supervisi dalam upaya meningkatkan kualitas sekolah. Untuk meningkatkan kualitas guru, kegiatan supervisi kepala sekolah melalui kegiatan pelayanan dan pembinaan dengan memberikan kesempatan kepada guru-guru untuk dapat berkembang secara profesional.

Supervisi merupakan aktivitas yang harus dilakukan oleh seorang pemimpin berkaitan dengan peran kepemimpinan yang diembannya dalam rangka menjaga kualitas produk yang dihasilkan lembaga.7 Hal tersebut bertujuan meningkatkan kualitas dan kinerja. Dengan bimbingan dan bantuan, kualitas sumber daya manusia yang ada akan senantiasa bisa dijaga dan ditingkatkan.

Dalam proses supervisi, supervisor dapat berperan sebagai sumber informasi, sumber ide, sumber petunjuk dalam berbagai hal dalam rangka peningkatan kemampuan profesional guru. Supervisi sebagai koordinasi, kepala sekolah sebagai supervisor harus memimpin sejumlah guru/straf yang masing-masing mempunyai tugas dan tanggung jawab sendiri-sendiri. Supervisor haruslah menjaga agar setiap guru dapat menjalankan tugasnya dengan baik dalam situasi kerja yang kooperatif. Supervisi sebagai evaluasi, untuk mengetahui kemampuan guru yang akan dibina perlu dilakukan evaluasi sehingga program supervisi cocok dengan kebutuhan guru. Selain itu melalui

7

(17)

evaluasi dapat pula diketahui kemampuan guru setelah mendapatkan bantuan dan latihan dari supervisor.8

Bafadal mengemukakan pula bahwa supervisi akademik akan mampu membuat guru semakin profesional apabila programnya mampu mengembangkan dimensi persyaratan profesional/kemampuan kerja.9 Oleh karena itu kegiatan supervisi akademik dipandang perlu untuk meningkatkan kompetensi profesional guru termasuk guru PAI dalam proses pembelajaran. Dan dengan perkembangan pendidikan yang semakin pesat, menuntut guru menjadi seorang yang berkembang pula di setiap tahunnya dan semakin profesional dalam mengajar, sehingga supervisi akademik perlu dilakukan secara efektif agar kekurangan-kekurangan dari guru dapat segera diatasi.

Guru Pendidikan Agama Islam merupakan salah satu guru di Sekolah Dasar yang mempunyai peran penting dalam pembentukan akhlak dan karakter anak. Sebagai guru mata pelajaran Pendidikan Agama Islam, guru PAI mempunyai hak yang sama dengan guru-guru yang lain seperti guru kelas dan guru Penjasorkes dalam supervisi Kepala Sekolah. Guru PAI mempunyai pengawas dari Kementrian Agama, namun hal ini tidak maksimal sehingga perlu peran Kepala Sekolah dalam memberikan supervisi.

Pelaksanaan supervisi perlu dilaksanakan secara rutin dan bertahap dengan jadwal dan program supervisi yang jelas. Pencapaian target nilai kelulusan peserta didik dari tahun ke tahun yang semakin bertambah dan banyaknya tuntutan untuk menjadi sekolah lebih maju, merupakan kewajiban

8

Kompri, Manajemen Pendidikan 3, Bandung: Alfabeta, 2015, 196-197.

9

(18)

kepala sekolah untuk melaksanakan supervisi agar guru lebih profesional dalam pembelajaran.

Dalam pelaksanaannya di lembaga pendidikan, supervisi masih menemui berbagai kendala baik itu dalam teknik penyampaian maupun intensitas pelaksanaan supervisi yang dilakukan belum ditetapkan dengan baik sehingga kepala sekolah masih insidental mengadakan pembinaan dan pelatihan kepada guru dalam proses pembelajaran. Selain itu, kepala sekolah kurang menguasai kompetensi yang harus dimiliki untuk mengadakan pembinaan dan pelatihan kepada guru dalam proses pembelajaran. Hal ini sesuai dengan pendapat Suharsimi10 yang mengemukakan bahwa dalam kenyataannya kepala sekolah belum dapat melaksanakan supervisi dengan baik dengan alasan beban kerja kepala sekolah yang terlalu berat serta latar belakang pendidikan yang kurang sesuai dengan bidang studi yang disupervisi. Sehingga tujuan untuk membina dan membimbing guru masih belum sempurna serta guru kurang memahami makna dari pentingnya supervisi yang dilakukan oleh kepala sekolah.

Selain itu pelaksanaan supervisi oleh Kepala Sekolah belum maksimal terutama untuk guru Pendidikan Agama Islam. Secara umum persoalan tersebut meliputi kualitas dan kuantitas supervisi dari Kepala Sekolah yang masih tergolong rendah. Tinggi rendahnya peran Kepala Sekolah sebagai supervisor menjadi hal yang patut untuk dipertanyakan, hal ini dikarenakan banyaknya tugas dan tanggungjwab Kepala Sekolah menjadi salah satu alasan minimnya pelaksanaan supervisi di sekolah. Bahkan tidak jarang kepala

10

(19)

sekolah hanya menekankan pada sisi tanggungjawab administratif guru PAI tanpa memperhatikan pembinaan kompetensi profesionalnya yang jauh lebih penting. Pelaksanan supervisi oleh kepala sekolah harus dilakukan secara kontinyu mengingat peningkatan kompetensi profesional guru PAI tidak bisa dilakukan secara instan. Sebagai supervisor, kepala sekolah harus mampu memahami karakteristik dan kondisi setiap guru sehingga apa yang menjadi esensi ataupun tujuan supervisi dapat tercapai. Selain itu kepala sekolah juga harus bisa merencanakan melaksanakan dan membuat tindak lanjut dari hasil pelaksanaan supervisi.

Alasan peneliti memilih Kecamatan Sragen sebagai lokasi penelitian karena kecamatan Sragen merupakan tempat strategi yang berada di tengah-tengah kota dan merupakan ibu kota kabupaten Sragen. Hal ini menjadikan kecamatan Sragen sebagai tujuan orang tua dalam memilih pendidikan untuk anak-anaknya. Tidak hanya tingkat SLTA dan SLTP, tingkat Sekolah Dasar juga menjadi pilihan bagi orang tua.

Sekolah Dasar di Kecamatan Sragen terdiri dari 37 Sekolah Dasar. 30 SD Negeri, 4 SD Swasta berbasis Islam, dan 3 SD Swasta non Islam. Dari Sekolah negeri dan swasta terdiri dari 48 Guru Pendidikan Agama Islam. Guru PAI lebih banyak dari jumlah sekolah karena ada beberapa sekolah yang memiliki rombel lebih dari satu. Dari 48 guru PAI, terdiri dari 12 guru PNS dan 36 guru Wiyata Bhakti dan guru yayasan.

(20)

dapatkan dari ketua Kelompok Kerja Kepala Sekolah (K3S) Joko Laksono, bahwa Sekolah Dasar di Sragen mempunyai prestasi yang menggembirakan baik di tingkat karesidenan Surakarta, propinsi maupun tingkat nasional. Termasuk lomba-lomba dalam Pendidikan Agama Islam juga meraih juara di tingkat Propinsi Jawa Tengah. Tentu ini tidak lepas dari peran guru Pendidikan Agama Islam dalam memberikan arahan dan bimbingan kepada murid-muridnya.11

Upaya peningkatan kompetensi profesional guru PAI di sekolah bukan masalah yang sederhana, tetapi memerlukan penanganan yang multidimensi dengan melibatkan berbagai pihak yang terkait. Untuk mencapai hal itu, kepala sekolah SD se-Kecamatan Sragen melakukan berbagai upaya diantaranya adalah dengan meningkatkan kemampuan supervisi akademik kepala sekolah.

Berdasarkan uraian di atas, maka dalam penelitian ini akan dikaji tentang supervisi kepala sekolah SD dengan judul “Supervisi Akademik Kepala

Sekolah dalam Meningkatkan Kompetensi Profesional Guru PAI.” (Studi

kasus SD se-Kecamatan Sragen Tahun 2016).

B. Perumusan Masalah

1. Identifikasi Masalah

a. Rendahnya pemahaman kepala sekolah tentang supervisi akademik sehingga kepala sekolah hanya memahami supervisi sebagai bentuk pengawasan dan penilaian kinerja guru dalam pembelajaran.

11Wawancara pada hari Jum’at, 3 Juni 2016

(21)

b. Minimnya pelatihan kepala sekolah tentang supervisi, serta beban tugas kepala SD yang tidak dibantu oleh tenaga administrasi/TU membuat kepala sekolah tidak maksimal melakukan supervisi akademik.

c. Kurangnya perhatian kepala sekolah terhadap guru dalam meningkatkan kompetensi profesional terutama guru Pendidikan Agama Islam.

d. Guru Pendidikan Agama Islam kurang memahami pentingnya pelaksanaan supervisi akademik kepala sekolah sehingga pembinaan terkesan kurang bermakna dalam meningkatkan kompetensi profesional guru dalam proses pembelajaran

2. Pembatasan Masalah

a. Pembatasan masalah dalam penelitian ini yaitu supervisi akademik yang dilakukan oleh kepala sekolah SD di Kecamatan Sragen.

b. Kompetensi guru terdiri dari kompetensi pedagogik, kepribadian, profesional dan sosial. Peneliti membatasi penelitian ini dalam hal peningkatan kompetensi profesional guru PAI

c. Peneliti membatasi permasalahan dari perencanaan sampai tindak lanjut dan keberhasilan supervisi akademik kepala sekolah dalam meningkatkan kompetensi profesional guru PAI SD di Sekolah Dasar se-Kecamatan Sragen.

(22)

a. Bagaimana perencanaan supervisi akademik kepala sekolah dalam meningkatkan kompetensi profesional guru PAI se Kecamatan Sragen? b. Bagaimana pelaksanaan supervisi akademik kepala sekolah dalam meningkatkan kompetensi profesional guru PAI se Kecamatan Sragen? c. Bagaimana tindak lanjut supervisi akademik kepala sekolah dalam meningkatkan kompetensi profesional guru PAI se Kecamatan Sragen? d. Bagaimana keberhasilan supervisi akademik dalam meningkatkan

kompetensi profesional guru PAI se Kecamatan Sragen?

C. Signifikansi Penelitian

1. Tujuan Penelitian

a. Untuk mengetahui/menemukan perencanaan supervisi akademik kepala sekolah dalam meningkatkan kompetensi profesional guru PAI se Kecamatan Sragen.

b. Untuk mengetahui/menemukan pelaksanaan supervisi akademik

kepala sekolah dalam meningkatkan kompetensi profesional guru PAI se Kecamatan Sragen.

c. Untuk mengetahui/menemukan tindak lanjut supervisi akademik kepala sekolah dalam meningkatkan kompetensi profesional guru PAI se Kecamatan Sragen.

d. Untuk mengetahui/menemukan keberhasilan supervisi akademik kepala sekolah dalam meningkatkan kompetensi profesional guru PAI se Kecamatan Sragen.

(23)

a. Manfaat Praktis

1) Hasil penelitian ini menjadi masukan dan pertimbangan bagi SD se-Kecamatan Sragen dalam rangka peningkatan kompetensi profesional guru PAI.

2) Penelitian ini dapat diterapkan sebagai langkah meningkatkan kemampuan supervisi kepala sekolah, sebagai upaya dalam rangka meningkatkan kompetensi profesional guru PAI.

b. Manfaat Teoritis 1) Bagi peneliti

Dapat menambah pengetahuan, pengalaman, dan wawasan di bidang supervisi pendidikan

2) Bagi akademisi

Untuk menambah wawasan dan literatur dalam pengembangan ilmu pengetahuan khususnya supervisi pendidikan.

D. Kajian Pustaka

(24)

dengan kebutuhan guru bidang studi dan kondisi sekolah /daerah sendiri. Ketiga, tim supervisi mempunyai moral tangggung jawab dalam pelaksanaan Supervisi sampai dengan evaluasi supervisi dan pemantauan di lapangan sehingga akan mengetahui kelemahan dan kekurangan Guru, setelah itu diadakan supervisi tidak lanjut. Keempat, pengaruh supervisi bagi guru di SMP Budaya dapat merubah paradigma terhadap arti dari supervisi di sekolah sehingga dapat meningkatkan kompetensi dan profesionalisme guru dalam tugasnya sebagai tenaga pengajar sehingga proses PBM dapat tercapai tujuannya.12

Penelitian Donni Juni Priansa dan Rismi Somad tahun 2014 menyatakan bahwa kepala sekolah perlu menguasai perencanaan supervisi akademik sehingga ia perlu menguasai kompetensi perencanaan supervisi akademik dengan baik. Terdapat sejumlah prinsip yang perlu diperhatikan dalam perencanaan supervisi akademik, yaitu menyangkut obyektivitas (data apa adanya) tanggung jawab, berkesinambungan, didasarkan pada Standar Nasional Pendidikan; serta didasarkan pada kebutuhan dan kondisi sekolah.13

Penelitian Wahid Hasim tahun 2013 diperoleh temuan pada sekolah dan madrasah bahwa pertama, pelaksanaan supervisi pembelajaran yang dilakukan oleh kepala sekolah/madrasah ditandai dengan melalui membuat perencanaan jadwal supervisi, pelaksanaannya menggunakan model,

12

Puji Rahayu, “Peran Kepala Sekolah dalam Supervisi Akademik untuk Meningkatkan Profesionalisme Guru (Studi Kasus di SMP Budaya Bandar Lampung)”, Lampung: Universitas Lampung, 2015.

13

(25)

pendekatan dan teknik supervisi, observasi kelas dilakukan dengan menggunakan instrumen, dan menindaklanjuti supervisi. Kedua, pelaksanaan supervisi ditinjau dari teori supervisi di kedua sekolah/madrasah tersebut hanya sebagian yang dilaksanakan. Ketiga, dampak supervisi dapat meningkatan kompetensi profesional ditandai dengan meningkatnya guru dalam membuat silabus dan RPP secara mandiri. Keempat, perbedaan pelaksanaan supervisi di MTs Negeri belum melibatkan wakil kepala madrasah dan guru senior, sedangkan di SMP Islam Al-Azhar telah melibatkan wakil kepala sekolah dan guru senior, dan dampaknya dapat meningkatkan kompetensi profesional guru.14

Penelitian M. Dja’far HS, dalam Jurnal Evaluasi Pendidikan Volume 4,

Nomor 2 bulan Oktober 2013, menyatakan bahwa supervisi kepala sekolah berpengaruh positif dan memberikan kontribusi/pengaruh langsung positif terhadap kualitas tes buatan guru.15

Penelitian Rohikah tahun 2012 menyimpulkan bahwa supervisi Kepala Sekolah terhadap pembelajaran PAI terbukti efektif dengan adanya peningkatan guru PAI dalam hal: peningkatan Guru PAI dalam persiapan mengajar, peningkatan guru PAI dalam mengelola kelas, peningkatan guru

14 Wahid Hasim, “Supervisi Pembelajaran Kepala Madrasah dalam Meningkatkan

Kompetensi Guru (Studi Multi Kasus di MTs Negeri dan SMP Islam Al-Azhar 18 Salatiga)”, Salatiga: Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri Salatiga,2013.

15M. Dja’far HS. “Supervisi Kepala Sekolah Meningkatkan Kualitas Tes Buatan Guru,

(26)

PAI memahami peserta didik dan peningkatan guru PAI dalam memanfaatkan teknologi pembelajaran.16

Penelitian Andi Tenriningsih dalam Jurnal Ilmu Pendidikan Jilid 17, nomor 6 bulan Oktober 2011, menyatakan bahwa supervisi yang dilakukan kepala sekolah dapat memberikan kontribusi pada peningkatan motivasi kerja para guru yang berdampak pada kinerja guru. Kinerja guru yang baik akan memberikan kontribusi pada keberhasilan belajar siswa yang baik. Oleh karena itu kegiatan supervisi yang dilakukan kepala sekolah memiliki peranan yang sangat penting bagi terciptanya kinerja sekolah secara menyeluruh baik dari aspek motivasi kerja para guru, kinerja para guru serta pada akhirnya dapat menciptakan keberhasilan belajar.17

Penelitian Sutikno tahun 2009 menyimpulkan bahwa supervisi yang dilakukan pengawas TK/SD/SDLB telah berhasil meningkatkan profesionalisme guru SD pada pembelajaran mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) Sejarah di Sekolah Dasar Colo dan Sekolah Dasar 2 Japan.18

Penelitian Tri Martiningsih tahun 2008 menyimpulkan bahwa: 1) Semakin baik persepsi guru terhadap supervisi akademik akan diikuti dengan semakin tingginya kompetensi profesional guru SD Negeri di Kecamatan Pekalongan Utara. 2) Semakin baik partisipasi guru dalam KKG (Kelompok Kerja Guru) akan diikuti dengan semakin tingginya kompetensi profesional

16 Rohikah., “Efektivitas

Supervisi Kepala Sekolah terhadap Pembelajaran PAI di SMP

Negeri 2 Ponjong”, Kabupaten Gunung Kidul, Yogyakarta, UIN, 2012.

17Andi Tenriningsih, “Supervisi Pengajaran, Motivasi Kerja, Kinerja Guru dan Prestasi

Belajar”, Jurnal Ilmu Pendidikan, Jilid 17, Nomor 5, (Oktober 2011), 425-428.

18 Sutikno, “

Peranan Supervisi Pengawas TK/SD/SDLB dalam Meningkatkan Profesionalisme Guru SD pada Pembelajaran IPS Sejarah (Studi Kasus di SD Kecamatan Dawe

(27)

guru SD Negeri di Kecamatan Pekalongan Utara. 3) Semakin baik persepsi guru terhadap supervisi akademik dan partisipasi guru dalam KKG (Kelompok Kerja Guru) akan diikuti dengan semakin tingginya kompetensi profesional guru SD Negeri di Kecamatan Pekalongan Utara.19

Dengan menjelaskan penelitian-penelitian di atas, maka akan bisa dilihat perbedaan dan persamaannya dengan penelitian yang akan dilakukan ini. Persamaan penelitian ini dengan penelitian-penelitian yang ditampilkan di atas adalah membahas tentang supervisi kepala sekolah. Adapun yang membedakan penelitian ini dengan karya ilmiah dan penelitian lainnya yang telah ada pertama, lokasi yang peneliti lakukan di Kecamatan Sragen. Kedua, dalam penelitian sebelumnya, membahas tentang supervisi kepala sekolah terhadap guru secara umum, namun dalam penelitian ini, peneliti berusaha untuk menjelaskan supervisi akademik kepala sekolah dalam meningkatkan kompetensi profesional guru PAI di SD se Kecamatan Sragen. Dalam penelitian ini, peneliti menekankan pada supervisi akademik kepala sekolah dalam peningkatan kompetensi profesional guru terutama guru Pendidikan Agama Islam (PAI) di Sekolah Dasar yang berada di kecamatan Sragen Kabupaten Sragen.

E. Metode Penelitian

1. Jenis Penelitian

Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif. Menurut Bogdan dan Taylor dalam Lexy J. Moleong mendefinisikan metodologi kualitatif

19 Tri Martiningsih, “Pengaruh Supervisi Akademik dan Partisipasi Guru dalam KKG

(Kelompok Kerja Guru) terhadap Kompetensi Profesional Guru SD di Kecamatan Pekalongan

(28)

sebagai prosedur penelitian yang menghasilkan data deskriptif berupa kata-kata tertulis atau lisan dari orang-orang dan perilaku yang dapat diamati.20

Penelitian ini termasuk dalam jenis penelitian kualitatif. Penelitian ini berusaha untuk mendreskripsikan atau menggambarkan data-data yang telah diperoleh dari lapangan maupun literatur kepustakaan yang berkaitan dengan pembahasan.

Penelitian ini bersifat deskriptif, hanya sebatas pada usaha untuk mengungkapkan suatu permasalahan, keadaan atau peristiwa sebagaimana berkenaan dengan masalah penelitian yaitu gambaran pelaksanaan supervisi akademik yang dilakukan kepala sekolah dalam upaya meningkatkan kompetensi profesional guru PAI di SD se kecamatan Sragen. Teori-teori dalam penelitian ini digunakan untuk memahami dan menjelaskan realita sosial yang terjadi, sehingga teori tidak digunakan untuk mengintervensi realitas sosial tersebut. Dalam arti bahwa penelitian ini tidak untuk mendukung, membantah suatu teori.

2. Lokasi Penelitian

Penelitian dilakukan di SD se Kecamatan Sragen yang terdiri dari 37 SD dan akan menggunakan teknik purposive sampling, di mana lokasi Sekolah Dasar yang dipilih dianggap tahu dan dapat dipercaya untuk menjadi sumber data. Untuk menentukan Sekolah Dasar yang akan dipilih, peneliti membagi menjadi 5 karena kecamatan Sragen terdiri dari 5 gugus,

20

(29)

dan tiap gugus peneliti mengambil 2 sekolah. Sehingga obyek yang peneliti ambil sejumlah 10 SD yang terdiri dari SD Birrul Walidain Muhammadiyah Sragen, SD N Mojo 58, SD N Karang Tengah 1, SD N 16 Sragen, SD N Mojomulyo 2, SD N Tangkil 4, SD N 6 Sragen, SD N Nglorog 3, SD N Nglorog 1, dan SD N 4 Sragen.

Peneliti mengambil obyek penelitian di 10 Sekolah Dasar tersebut dengan alasan sekolah-sekolah tersebut cukup mewakili kondisi sekolah di Kecamatan Sragen baik sekolah negeri maupun sekolah swasta. Kemudian peneliti mengambil sekolah di masing-masing gugus agar obyek yang peneliti ambil bisa mewakili kondisi Sekolah Dasar di Kecamatan Sragen. 3. Tehnik Pengumpulan Data

a. Sumber Data

Sumber data yang digunakan adalah data primer dan data sekunder. Data primer yang diperoleh dalam penelitian ini berasal dari kepala SD se-Kecamatan Sragen yang merupakan subyek dalam penelitian.

Data sekunder adalah sumber yang tidak langsung memberikan data kepada pengumpul data, misalnya dalam hal ini melalui guru-guru PAI, serta dokumen yang terkait dengan penelitian. Semua itu untuk menjelaskan supervisi akademik kepala sekolah dalam meningkatkan kompetensi profesional guru PAI SD se-Kecamatan Sragen.

(30)

1) Tehnik Observasi

Dalam proses pengumpulan data peneliti menggunakan teknik observasi yaitu pengamatan dan pencatatan dengan sistematik tentang fenomena–fenomena yang diselidiki secara sistematik.21 Dalam hal ini, observasi dilakukan untuk meneliti tentang gambaran lokasi penelitian, aktivitas supervisi akademik kepala SD se-Kecamatan Sragen dalam meningkatkan kompetensi profesional guru PAI.

2) Teknik Wawancara

Dalam penelitian ini, peneliti memilih bentuk wawancara tak terstruktur. Wawancara tak terstruktur dalam pelaksanaan tanya jawab mengalir seperti dalam percakapan sehari-hari.22 Alasan peneliti menggunakan teknik wawancara tak terstruktur adalah untuk memberikan kesempatan kepada seseorang atau responden untuk menyatakan dan menangkap pernyataan secara mendetail. Yang menjadi informan dalam penelitian ini terdiri dari (1). Kepala sekolah, (2) Guru PAI SD se-Kecamatan Sragen.

3) Teknik Dokumentasi

Teknik ini dikenal dengan penelitian dokumentasi (dokumentation research) yang mencari data melalui beberapa

21

Sutrisno Hadi, Metodologi Research, Jilid 3, Yogyakarta:Penerbit Andi, 2007, 36.

22

(31)

arsip dan dokumen sejarah madrasah/sekolah, raport, surat kabar, majalah, jurnal, buku dan benda-benda tulis lainnya yang relevan.23

Dalam penelitian ini metode dokumentasi untuk mengumpulkan data tentang supervisi akademik kepala sekolah di SD se-Kecamatan Sragen.

4. Validitas Data

Setelah seluruh data yang dibutuhkan berhasil dikumpulkan, langkah selanjutnya adalah melakukan proses verifikasi data supaya data yang ada dapat dipertanggung jawabkan secara ilmiah. Menurut J. Moleong dalam penelitian kualitatif terdapat empat kriteria yang dapat digunakan dalam uji validitas data yaitu berkaitan dengan derajat kepercayaan (credebility) keteralihan (transferability), ketergantungan (dependability) dan kepastian (confirmability).24

Data tersebut diuji keabsahan dengan triangulasi data,25 untuk mengetahui sejauhmana temuan-temuan di lapangan benar-benar representatif untuk dijadikan pedoman analisis dan juga untuk mendapatkan informasi yang luas tentang perspektif penelitian.

Teknik yang digunakan dalam triangulasi adalah dengan menggunakan banyak sumber untuk satu data yaitu membandingkan antara hasil wawancara dengan hasil observasi antara ucapan informan di depan umum dengan ucapan ketika informan sendirian (secara informal)

23

Suharsini Arikunto. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan, Jakarta:Rineka Cipa,1993, 200.

24

Lexy J. Moleong,,Metodologi Penelitian …, 173.

25

(32)

Dan antara hasil wawancara dengan data yang ada pada dokumen. Juga dilakukan chek-richek, konsultasi dengan kepala sekolah, guru dan sumber-sumber data yang terkait.

F. Sistematika Penelitian

Penelitian Tesis ini terdiri atas lima bab. Bab Pertama: Pendahuluan, yang meliputi: Latar belakang masalah; Perumusan masalah; Tujuan Penelitian, Manfaat Penelitian; Penelitian yang relevan dan Sistematika Penelitian.

Bab Kedua: Kajian Teori. Bab ini meliputi: Supervisi akademik Kepala Sekolah; Tujuan supervisi akademik; prinsip-prinsip supervisi akademik; Ruang lingkup supervisi akademik; Model-model supervisi akademik; teknik-teknik supervisi akademik; perencanaan supervisi akademik; langkah-langkah supervisi akademik; tindak lanjut supervisi akademik; kompetensi profesional guru PAI dan indikatornya.

Bab Ketiga: Hasil penelitian yang meliputi gambaran dan kondisi Sekolah Dasar di Kecamatan Sragen, perencanaan, pelaksanaan dan tindak lanjut supervisi akademik kepala sekolah.

Bab Keempat: Pembahasan yang meliputi tingkat keberhasilan

supervisi akademik kepala sekolah serta hambatan dalam pelaksanaan supervisi akademik kepala sekolah.

(33)
(34)

BAB II

KAJIAN TEORI

A. Supervisi Akademik Kepala Sekolah

Menurut Glickman sebagaimana dikutip Sudjana26, supervisi akademik adalah serangkaian kegiatan membantu guru mengembangkan kemampuannya mengelola proses pembelajaran demi tercapainya tujuan pembelajaran. Menurut Kemendiknas dalam Donni Juni Priansa dan Rismi Somad, supervisi akademik merupakan upaya untuk membantu guru-guru dalam mengembangkan kemampuannya dalam mencapai tujuan pembelajaran.27

Supervisi akademik adalah supervisi yang menitikberatkan pengamatan pada masalah akademik, yaitu yang langsung berada dalam lingkup kegiatan pembelajaran yang dilakukan oleh guru untuk membantu siswa ketika sedang dalam proses belajar mengajar.28 Sedangkan Syaiful Sagala memberikan definisi:

Supervisi akademik adalah bantuan dan pelayanan yang diberikan kepada guru agar mau terus belajar, meningkatkan kualitas pembelajarannya menumbuhkan kreativitas guru memperbaiki bersama-sama dengan cara melakukan seleksi dan revisi tujuan-tujuan pendidikan, bahan pengajaran, model dan metode pengajaran, dan evaluasi pengajaran untuk meningkatkan kualitas pengajaran, pendidikan, dan kurikulum dalam perkembangan dari belajar mengajar dengan baik agar memperoleh hasil lebih baik.29

26

Nana Sudjana, Supervisi Akademik Membina Profesionalisme Guru melalui Supervisi Klinis, Jakarta: Binamita Publishing, 2011, 54.

27

Donni Juni Priansa dan Rismi Somad, Manajemen Supervisi dan Kepemimpinan Kepala Sekolah, Bandung: Alfabeta, 2014, 107.

28

Suharsimi Arikunto, Dasar-dasar …., 5.

29

(35)

Dari pengertian di atas, dapat diambil kesimpulan bahwa supervisi akademik merupakan serangkaian kegiatan pembinaan dan pelayanan yang menitikberatkan pada masalah akademik untuk membantu guru mengembangkan kemampuannya mengelola proses pembelajaran demi tercapainya tujuan pembelajaran

Sebagai seorang pemimpin, kepala sekolah mempunyai peran penting dalam supervisi. Kepala sekolah mempunyai peran memberikan petunjuk dan pengarahan kepada guru-guru, sebagaimana firman Allah SWT dalam surat As Sajdah ayat 24:

Artinya : Dan Kami jadikan diantara mereka itu pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Kami selama mereka sabar.30 Pelaksanaan supervisi yang dilakukan oleh kepala sekolah diharapkan memberi dampak terbentuknya sikap profesional guru. Sikap profesional guru sangat penting dalam meningkatkan kualitas guru, karena selalu berpengaruh pada perilaku dan aktivitas keseharian guru. Perilaku profesional akan lebih diwujudkan dalam diri guru, apabila institusi tempat ia bekerja memberi perhatian lebih banyak pada pembinaan, pembentukan, dan pengembangan sikap profesional.31 Oleh sebab itu, setiap kepala sekolah harus memiliki dan menguasai konsep supervisi akademik yang meliputi pengertian, tujuan dan fungsi, prinsip-prinsip, dan tehnik-teknik supervisi.

30

Kementrian Agama RI, Al Qur‟an dan Terjemahnya, Jakarta: PT. Sinergi Pustaka Indonesia, 2012, 589.

31

Euis Karwati dan Donni Juni Priansa, Kinerja dan Profesionalisme Kepala Sekolah,

(36)

B. Tujuan Supervisi Akademik

Menurut Glickman dalam Donni Juni Priansa dan Rismi Somad, Secara umum, tujuan supervisi akademik adalah membantu guru untuk mengembangkan kemampuannya dalam mencapai tujuan pembelajaran yang direncanakan bagi peserta didiknya.32 Menurut Peter Oliva dalam Donni Juni Priansa dan Rismi Somad, menyatakan bahwa kegiatan supervisi akademik dimaksudkan untuk:

1. Membantu guru dalam merencanakan pembelajaran 2. Membantu guru dalam penyajian materi pembelajaran 3. Membantu guru dalam mengevaluasi pembelajaran 4. Membantu guru dalam mengelola kelas

5. Membantu guru mengembangkan kurikulum 6. Membantu guru dalam mengevaluasi kurikulum

7. Membantu guru dalam mengevaluasi diri mereka sendiri 8. Membantu guru bekerjasama dengan kelompok

9. Membantu guru melalui inservice program33

Tiga tujuan supervisi akademik antara lain pengembangan profesional, pengawasan kualitas dan penumbuhan motivasi yang dapat dijelaskan sebagai berikut34:

1. Pengembangan profesional

32

Donni Juni Priansa dan Rismi Somad, Manajemen Supervisi …, 108.

33

Donni Juni Priansa dan Rismi Somad, Manajemen Supervisi …, 109.

34

Euis Karwati dan Donni Juni Priansa, Kinerja dan Profesionalisme Kepala Sekolah,

(37)

Supervisi akademik dimaksudkan untuk membantu guru mengembangkan kemampuan profesionalnya dalam memahami akademik, kehidupan kelas, mengembangkan keterampilan mengajarnya melalui teknik-teknik tertentu.

2. Pengawasan kualitas

Supervisi akademik untuk memonitor kegiatan belajar mengajar di sekolah. Kegiatan memonitor ini bisa dilakukan melalui kunjungan kepala sekolah ke kelas-kelas di saat guru sedang mengajar, percakapan pribadi dengan guru, teman sejawatnya, maupun dengan peserta didik.

3. Penumbuhan motivasi

Supervisi akademik untuk mendorong guru menerapkan kemampuannya dalam melaksanakan tugas-tugas mengajarnya, mendorong guru mengembangkan kemampuannya sendiri, serta mendorong guru agar ia memiliki perhatian yang sungguh-sungguh terhadap tugas dan tanggung jawabnya.

C. Prinsip-prinsip Supervisi Akademik

Menurut Dodd dalam Materi Pelatihan Penguatan Kemampuan Kepala Sekolah menyatakan bahwa prinsip-prinsip supervisi akademik yaitu:

1. Praktis, artinya mudah dikerjakan sesuai kondisi sekolah.

2. Sistematis, artinya dikembangkan sesuai perencanaan program supervisi yang matang dan tujuan pembelajaran.

3. Objektif, artinya masukan sesuai aspek-aspek instrumen. 4. Realistis, artinya berdasarkan kenyataan sebenarnya.

5. Antisipatif, artinya mampu menghadapi masalah-masalah yang mungkin akan terjadi.

(38)

7. Kooperatif, artinya ada kerja sama yang baik antara supervisor dan guru dalam mengembangkan pembelajaran.

8. Kekeluargaan, artinya mempertimbangkan saling asah, asih, dan asuh dalam mengembangkan pembelajaran.

9. Demokratis, artinya supervisor tidak boleh mendominasi pelaksanaan supervisi akademik.

10. Aktif, artinya guru dan supervisor harus aktif berpartisipasi.

11. Humanis, artinya mampu menciptakan hubungan kemanusiaan yang harmonis, terbuka, jujur, ajeg, sabar, antusias, dan penuh humor 12. Berkesinambungan (supervisi akademik dilakukan secara teratur dan

berkelanjutan oleh Kepala sekolah).

13. Terpadu, artinya menyatu dengan dengan program pendidikan.

14. Komprehensif, artinya memenuhi ketiga tujuan supervisi akademik di atas.35

D. Ruang Lingkup Supervisi Akademik

Ruang lingkup supervisi akademik meliputi:36 1. Pelaksanaan kurikulum

2. Persiapan, pelaksanaan dan penilaian pembelajaran oleh guru.

3. Pencapaian standar kompetensi lulusan, standar proses, standar Isi, dan peraturan pelaksanaannya.

4. Peningkatan mutu pembelajaran melalui pengembangan sebagai berikut:

a. model kegiatan pembelajaran yang mengacu pada Standar Proses; b. peran serta peserta didik dalam proses pembelajaran secara aktif,

kreatif, demokratis, mendidik, memotivasi, mendorong kreativitas dan dialogis;

c. peserta didik dapat membentuk karakter dan memiliki pola pikir serta kebebasan berpikir sehingga dapat melaksanakan aktivitas intelektual yang kreatif dan inovatif, berargumentasi, mempertanyakan, mengkaji, menemukan, dan memprediksi; d. keterlibatan peserta didik secara aktif dalam proses belajar yang

dilakukan secara sungguh-sungguh dan mendalam untuk mencapai pemahaman konsep, tidak terbatas pada materi yang diberikan oleh guru.

e. bertanggung jawab terhadap mutu perencanaan kegiatan pembelajaran untuk setiap mata pelajaran yang diampunya agar siswa mampu:

1) meningkat rasa ingin tahunya;

2) mencapai keberhasilan belajarnya secara konsisten sesuai dengan tujuan pendidikan;

35

Materi Pelatihan Penguatan Kemampuan Kepala Sekolah, Dirjen PMPTK, 2010,

https://teguhsasmitosdp1.files.wordpress.com diunduh pada hari Kamis, 7 April 2016 pukul 21.00 WIB, 8-9.

36

(39)

3) memahami perkembangan pengetahuan dengan kemampuan mencari sumber informasi;

4) mengolah informasi menjadi pengetahuan;

5) menggunakan pengetahuan untuk menyelesaikan masalah; 6) mengkomunikasikan pengetahuan pada pihak lain; dan

7) mengembangkan belajar mandiri dan kelompok dengan proporsi yang wajar.

Supervisi akademik juga mencakup buku kurikulum, kegiatan belajar mengajar dan pelaksanaan bimbingan dan konseling. Supervisi akademik tidak kalah pentingnya dibanding dengan supervisi administratif. Sasaran utama supervisi edukatif adalah proses belajar mengajar dengan tujuan meningkatkan mutu proses dan mutu hasil pembelajaran. Variabel yang mempengaruhi proses pembelajaran antara lain guru, siswa, kurikulum, alat dan buku pelajaran serta kondisi lingkungan dan fisik. Oleh sebab itu, fokus utama supervisi edukatif adalah usaha-usaha yang sifatnya memberikan kesempatan kepada guru untuk berkembang secara profesional sehingga mampu melaksanakan tugas pokoknya, yaitu: memperbaiki dan meningkatkan proses dan hasil pembelajaran.

E. Perencanaan Supervisi Akademik

Perencanaan program supervisi akademik adalah penyusunan dokumen perencanaan, pemantauan serangkaian kegiatan membantu guru mengembangkan kemampuannya mengelola proses pembelajaran untuk mencapai tujuan pembelajaran.37

37

(40)

Perencanaan penting dilakukan sebagai pedoman dalam pelaksanaan

kegiatan. Sebagaimana firman Allah dalam Al Qur’an Surat Al Hasyr: 18

yang berbunyi:

Artinya: Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat); dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.38 Perencanaan dalam fungsi manajemen pendidikan merupakan bagian yang penting dan menjadi fungsi pertama. Begitu pula dalam kegiatan supervisi, perlu diawali dengan perencanaan yang baik. Kegiatan supervisi adalah kegiatan yang terencana untuk memperbaiki pengajaran menjadi lebih baik. Karena itu perlu perencanaan yang matang agar dapat berjalan sesuai yang diharapkan. Dalam melaksanakan supervisi, merencanakan program supervisi merupakan salah satu tugas kepala sekolah. Perencanaan supervisi akademik disusun dengan tujuan agar dapat memberikan gambaran atau prosedur yang jelas untuk mencapai tujuan supervisi akademik serta mempermudah dalam mengukur membuat etercapaian program. Di samping itu kepala sekolah harus memiliki kompetensi membuat rencana program supervisi akademik agar dapat menyusun perencanaan yang maksimal.

38

(41)

Perencanaan program supervisi akademik meliputi pembuatan program supervisi, sosialisasi kepada guru, pembinaan dan pendampingan sebelum pelaksanaan supervisi, pelaksanaan supervisi, dan langkah-langkah tindak lanjut. Seorang kepala sekolah harus memahami bahwa kagiatan ini untuk memperbaiki proses dan hasil belajar yang mengacu pada perubahan tingkah laku dan pola mengajar guru ke arah yang lebih baik.

Program supervisi terdiri dari kesatuan dalam kerangka untuk meningkatkan pengetahuan, kemampuan dan kesadaran dalam menjalankan tugas, peran dan fungsi seorang kepala sekolah sebagai supervisor. Program supervisi merupakan kegiatan yang dilakukan untuk memperbaiki dan meningkatkan proses dan hasil belajar. Kegiatan ini menggambarkan hal-hal yang akan dilakukan, bagaimana melakukan, fasilitas apa yang diperlukan, kapan waktu pelaksanaan dan untuk mengetahui berhasil tidaknya usaha yang dilakukan.

Manfaat perencanaan program supervisi akademik adalah sebagai berikut:39

1. Sebagai pedoman pelaksanaan dan pengawasan akademik,

2. Untuk menyamakan persepsi seluruh warga sekolah tentang program supervisi akademik, dan

3. Penjamin penghematan serta keefektifan penggunaan sumber daya sekolah (tenaga, waktu dan biaya).

39

Materi Pelatihan Penguatan Kemampuan Kepala Sekolah, Dirjen PMPTK, 2010,

(42)

Prinsip-prinsip perencanaan program supervisi akademik adalah: 1. obyektif (data apa adanya),

2. bertanggung jawab, 3. berkelanjutan,

4. didasarkan pada Standar Nasional Pendidikan, dan

5. didasarkan pada kebutuhan dan kondisi sekolah/madrasah. 40

Program supervisi akademik hendaknya disusun sesaca jelas, sistematis yang memuat jadwal secara rinci dan disampaikan kepada guru. Jadwal supervisi memuat jadwal kunjungan, waktu kunjungan guru yang disupervisi serta kelasnya.

Dalam menyusun program supervisi perlu disosialisasikan kepada guru dengan tujuan agar guru mengetahui program kepala sekolah serta jadwal kunjungan masing-masing. Jika guru mengetahui ada program supervisi dari kepala sekolah, tentu guru dengan senang mempersiapkan terkait pembelajaran yang akan dilaksanakan. Program supervisi ini perlu disosialisasikan kepada guru dengan tujuan agar mempunyai persepsi yang sama dan saling tanggung jawab.

Program supervisi dimaksudkan sebagai bahan acuan dalam melaksanakan supervisi. Program supervisi dibuat untuk mengukur apakah pelaksanaan supervisi sudah sesuai dengan perencanaan atau belum. Apabila pelaksanaan supervisi sudah sesuai dengan program supervisi, berarti pelaksanaan supervisi sudah berjalan, namun tidak menutup kemungkinan ada beberapa hal yang menjadi kendala. Program supervisi dibuat juga untuk menyamakan persepsi seluruh warga sekolah tentang program supervisi akademik.

40

(43)

Kegiatan supervisi tidak hanya untuk menilai guru, tapi juga sebagai sarana untuk

pembinaan dan pendampingan kepada guru dalam pelaksanaan pembelajaran. Selain

itu, diharapkan dengan supervisi akademik akan dapat mengefektifankan penggunaan

sumber daya sekolah seperti tenaga, waktu dan biaya.

Program supervisi yang baik, akan menentukan pelaksanaan supervisi. Program supervisi yang direncanakan secara matang, akan memberikan hasil yang maksimal. Sebaliknya apabila program supervisi hanya disusun secara asal-asalan tentu pelaksanaannya pun tidak sistematis. Melalui program supervisi akademik ini, gambaran kegiatan kepala sekolah dalam mensupervisi dapat direncanakan.

Perencanaan program supervisi akademik yang baik dimulai dengan penyusunan dokumen perencanaan pemantauan kegiatan dalam membantu guru mengembangkan kemampuannya mengelola proses pembelajaran untuk mencapai tujuan pembelajaran. Tidak ada aturan yang baku mengenai perencanaan supervisi akademik kepala sekolah. Kepala sekolah bisa menyesuaikan dengan kebutuhan dan kondisi sekolah masing-masing. Program supervisi di suatu sekolah belum tentu bisa diterapkan di sekolah lain.

(44)

kecamatan, disesuaikan dengan kondisi sekolah dan tidak ada salahnya bila melibatkan guru, agar timbul rasa tanggung jawab bersama.

F. Model-model Supervisi Akademik

Model yang dapat digunakan dalam melaksanakan kegiatan supervisi akademik, antara lain41:

1. Model supervisi tradisional, meliputi: a. Observasi langsung

Supervisi model ini dapat dilakukan dengan observasi langsung kepada guru yang sedang mengajar melalui prosedur: praobservasi, observasi, dan post-observasi.

1) Pra-Observasi

Sebelum observasi kelas, supervisor seharusnya melakukan wawancara serta diskusi dengan guru yang akan diamati. Isi diskusi dan wawancara tersebut mencakup kurikulum, pendekatan, metode dan strategi, media pengajaran, evaluasi dan analisis. 2) Observasi

Setelah wawancara dan diskusi mengenai apa yang akan dilaksanakan guru dalam kegiatan belajar mengajar, kemudian supervisor mengadakan observasi kelas. Observasi kelas meliputi pendahuluan (apersepsi), pengembangan, penerapan dan penutup. 3) Post-Observasi

Setelah observasi kelas selesai, sebaiknya supervisor mengadakan wawancara dan diskusi tentang: kesan guru terhadap penampilannya, identifikasi keberhasilan dan kelemahan guru, identifikasi ketrampilan-ketrampilan mengajar yang perlu ditingkatkan, gagasan-gagasan baru yang akan dilakukan.42

b. Observasi tidak langsung

Observasi ini dilakukan melalui tes dadakan, diskusi kasus, dan metode angket.

41

Donni Juni Priansa dan Rismi Somad, Manajemen Supervisi …, 111-113.

42

(45)

1) Tes dadakan

Sebaiknya soal yang digunakan pada saat diadakan sudah diketahui validitas, reliabilitas, daya beda dan tingkat kesukarannya. Soal yang diberikan sesuai dengan yang sudah dipelajari peserta didik waktu itu.

2) Diskusi kasus

Diskusi kasus berawal dari kasus-kasus yang ditemukan pada observasi Proses Pembelajaran (PBM), laporan-laporan atau hasil studi dokumentasi. Supervisor dengan guru mendiskusikan kasus demi kasus, mencari akar permasalahan dan mencari berbagai alternatif jalan keluarnya.

3) Metode angket

Angket ini berisi pokok-pokok pemikiran yang berkaitan erat dan mencerminkan penampilan, kinerja guru, kualifikasi hubungan guru dengan siswanya dan sebagainya.43

2. Model kontemporer

Supervisi akademik model kontemporer dilaksanakan dengan pendekatan klinis, sehingga sering disebut dengan model supervisi klinis. Model supervisi klinis adalah suatu proses pembimbingan dalam pendidikan yang bertujuan membantu pengembangan profesional guru dalam pengenalan mengajar melalui observasi dan analisis data secara obyektif serta teliti sebagai dasar untuk mengubah perilaku mengajar guru.44 Tekanan dalam model supervisi klinis bersifat khusus melalui tatap muka ketika guru mengajar dikelas. Inti bantuan dari supervisor berpusat pada perbaikan penampilan dan perilaku guru dalam mengajar.

Tujuan supervisi klinis adalah memperbaiki perilaku guru dalam proses belajar mengajar, terutama yang kronis secara aspek demi aspek

(46)

perilaku yang tidak kronis bisa diperbaiki dengan teknik supervisi yang lain. Secara teknik mereka mengatakan bahwa supervisi klinis adalah suatu model supervisi yang terdiri atas tiga fase, yaitu pertemuan perencanaan, observasi kelas, dan pertemuan balik. Supervisi klinis adalah supervisi yang terfokus pada penampilan guru secara nyata di kelas, termasuk pula guru sebagai peserta atau partisipan aktif dalam proses supervisi tersebut45

G.Teknik Supervisi Akademik

Teknik supervisi akademik merupakan suatu cara yang digunakan oleh seorang supervisor dalam memberikan pelayanan dan bantuan kepada guru yang disupervisi. Teknik-teknik supervisi pendidikan dapat ditinjau dari banyaknya guru dan cara menghadapi guru.46 Pertama ditinjau dari banyaknya guru, dapat dilakukan melalui:

1. Teknik Kelompok

Teknik supervisi kelompok adalah satu cara melaksanakan program supervisi yang ditujukan pada dua orang atau lebih. Guru-guru yang diduga, sesuai dengan analisis kebutuhan, memiliki masalah atau kebutuhan atau kelemahan-kelemahan yang sama dikelompokkan atau dikumpulkan menjadi satu/bersama-sama. Kemudian kepada mereka diberikan layanan supervisi sesuai dengan permasalahan atau kebutuhan yang mereka hadapi.

45

Mukhtar dan Iskandar, Orientasi Baru Supervisi Pendidikan. Jakarta: Gaung Persada Press, 2009, 61.

46

Hendiyat Soetopo dan Easti Soemanto, Kepemimpinan dan Supervisi Pendidikan,

(47)

Teknik-teknik yang dapat dipakai dalam supervisi kelompok antara lain:

a. Rapat guru

Rapat Guru merupakan teknik supervisi kelompok melalui suatu pertemuan guru yang dilakukan untuk membicarakan proses pembelajaan, dan upaya atau cara meningkatkan profesi guru. Rapat guru yang dipimpin oleh supervisor akan menghasilkan guru yang baik jika direncanakan dengan baik, dilaksanakan sesuai rencana, dan ditindaklanjuti sesuai dengan kesepakatan yang telah dicapai dalam rapat. Contoh rapat guru adalah rapat membahas kegiatan dan pelaksanaan pengembangan kurikulum, rapat pembinaan awal tahun ajaran baru, rapat untuk meningkatkan kemampuan lulusan, termasuk meningkatkan kualitas lulusan, dan juga untuk mengatasi masalah-masalah yang ada.

b. Lokakarya (Workshop)

Lokakarya/Workshop diartikan sebagai suatu kegiatan belajar memecahkan suatu masalah melalui percakapan. Ciri lokakarya adalah:

1) Masalah yang dibahas bersifat “life centered" dan muncul dari guru;

2) Menggunakan secara maksimal aktivitas mental dan fisik dalam kegiatannya, sehingga tercapai taraf pertumbuhan profesi yang lebih tinggi dan lebih baik dari semula atau terjadi perubahan yang berarti setelah megikuti lokakarya; 3) Metode yang digunakan dalam bekerja adalah metode

(48)

5) Menggunakan narasumber yang memberi bantuan yang besar dalam mencapai hasil; dan

6) Senantiasa memelihara kehidupan seimbang di samping memperkembangkan pengetahuan, kecakapan, dan perubahan tingkah laku.47

c. Diskusi

Diskusi merupakan kegiatan pertukaran pikiran atau pendapat melalui suatu proses percakapan antara dua atau lebih individu tentang suatu masalah untuk mencari alternatif pemecahannya. Melalui teknik ini, kepala sekolah dapat membantu guru untuk saling mengetahui, memahami atau mendalami suatu permasalahan, sehingga secara bersama-sama akan berusaha mencari alternatif pemecahan masalah tersebut. Contoh: guru PAI berdiskusi dengan kepala sekolah tentang strategi yang tepat untuk penyampaian materi tertentu.

d. Studi kelompok.

Studi kelompok dapat diadakan dengan membentuk kelompok guru bidang studi sejenis (biasanya untuk sekolah lanjutan). Untuk SD dapat pula dibentuk kelompok-kelompok guru yang berminat pada mata pelajaran tertentu. Kelompok-kelompok yang telah terbentuk itu diprogramkan untuk mengadakan pertemuan/diskusi guna membicaraka hal-hal yang berhubungan dengan usaha pengembangan dan peranan proses belajar-mengajar. Di dalam setiap diskusi, supervisor atau kepala sekolah dapat memberikan pengarahan, bimbingan, nasihat-nasihat ataupun saran-saran yang diperlukan.

47

(49)

2. Teknik Perorangan

Teknik yang dipergunakan apabila hanya seorang guru memiliki masalah khusus dan meminta bimbingan tersendiri dari supervisor. Dalam hal ini teknik-teknik yang dapat digunakan antara lain: kunjungan kelas, observasi kelas, pertemuan individual, kunjungan antarkelas, dan menilai diri sendiri.

a. Kunjungan Kelas

Kunjungan kelas adalah teknik pembinaan guru oleh kepala sekolah untuk mengamati proses pembelajaran di kelas. Tujuannya adalah untuk menolong guru dalam mengatasi masalah di dalam kelas. Pertemuan individual adalah satu pertemuan, percakapan, dialog, dan tukar pikiran antara supervisor guru. Cara melaksanakan kunjungan kelas:

1) dengan atau tanpa pemberitahuan terlebih dahulu tergantung sifat tujuan dan masalahnya,

2) atas permintaan guru bersangkutan,

3) sudah memiliki instrumen atau catatan-catatan, dan 4) tujuan kunjungan harus jelas.48

b. Observasi Kelas

Observasi kelas adalah mengamati proses pembelajaran secara teliti di kelas. Tujuannya adalah untuk memperoleh data obyektif aspek-aspek situasi pembelajaran, kesulitan-kesulitan guru dalam usaha memperbaiki proses pembelajaran. Secara umum, aspek-aspek yang diobservasi meliputi usaha-usaha dan aktivitas guru-siswa dalam

48

(50)

proses pembelajaran, cara menggunakan media pengajaran, variasi metode, ketepatan penggunaan media dengan materi, ketepatan penggunaan metode dengan materi, dan reaksi mental para siswa dalam proses belajar mengajar.49

Pelaksanaan observasi kelas ini melalui tahapan persiapan, pelaksanaan, penutupan, penilaian hasil observasi; dan tindak lanjut. Dalam pelaksanaan observasi kelas seorang supervisor sudah siap dengan instrumen observasi, menguasai masalah dan tujuan supervisi, dan tidak mengganggu proses pembelajaran.

c. Pertemuan Individual

Pertemuan individual bertujuan untuk memberikan kemungkinan pertumbuhan jabatan guru melalui pemecahan kesulitan yang dihadapi; mengembangkan hal mengajar yang lebih baik; memperbaiki segala kelemahan dan kekurangan pada diri guru; dan menghilangkan atau menghindari segala prasangka. Kunjungan antar kelas adalah guru yang satu berkunjung ke kelas yang lain di sekolah itu sendiri. Tujuannya adalah untuk berbagi pengalaman dalam pembelajaran.

Menurut Swearingen dalam Materi Pelatihan Penguatan Kemampuan Kepala Sekolah mengklasifikasi empat jenis pertemuan (percakapan) individual sebagai berikut:

49

(51)

1) classroom-conference, yaitu percakapan individual yang dilaksanakan di dalam kelas ketika murid-murid sedang meninggalkan kelas (istirahat).

2) office-conference. Yaitu percakapan individual yang dilaksanakan di ruang kepala sekolah atau ruang guru, di mana sudah dilengkapi dengan alat-alat bantu yang dapat digunakan untuk memberikan penjelasan pada guru.

3) causal-conference. Yaitu percakapan individual yang bersifat informal, yang dilaksanakan secara kebetulan bertemu dengan guru 4) observational visitation. Yaitu percakapan individual yang dilaksanakan setelah supervisor melakukan kunjungan kelas atau observasi kelas.50

Supervisor harus berusaha mengembangkan segi-segi positif guru, mendorong guru mengatasi kesulitan-kesulitannya, memberikan pengarahan, dan melakukan kesepakatan terhadap hal-hal yang masih meragukan.

d. Kunjungan Antar Kelas

Kunjungan antar kelas adalah guru yang satu berkunjung ke kelas yang lain di sekolah itu sendiri. Tujuannya adalah untuk berbagi pengalaman dalam pembelajaran. Melaksanakan kunjungan antar kelas dengan cara direncanakan; guru-guru yang akan dikunjungi harus diseleksi; tentukan guru-guru yang akan mengunjungi; sediakan segala fasilitas yang diperlukan; supervisor hendaknya mengikuti acara ini dengan pengamatan yang cermat; adakah tindak lanjut setelah kunjungan antar kelas selesai, misalnya dalam bentuk percakapan pribadi, penegasan, dan pemberian tugas-tugas tertentu; segera aplikasikan ke sekolah atau ke kelas guru bersangkutan, dengan menyesuaikan pada situasi dan kondisi yang dihadapi; dan adakan

50

(52)

perjanjian-perjanjian untuk mengadakan kunjungan antar kelas berikutnya.51

e. Menilai diri sendiri

Menilai diri adalah penilaian diri yang dilakukan oleh diri sendiri secara objektif. Untuk maksud itu diperlukan kejujuran diri sendiri. Cara menilai diri sendiri yaitu dengan:

1) Suatu daftar pandangan atau pendapat yang disampaikan kepada murid-murid untuk menilai pekerjaan atau suatu aktivitas. Biasanya disusun dalam bentuk pertanyaan baik secara tertutup maupun terbuka, dengan tidak perlu menyebut nama.

2) Menganalisa tes-tes terhadap unit kerja.

3) Mencatat aktivitas murid-murid dalam suatu catatan, baik mereka bekerja secara individu maupun secara kelompok.52

Kedua ditinjau dari cara menghadapi guru, yaitu:

1. Teknik langsung misalnya menyelenggarakan rapat guru, kunjungan kelas, menyelenggarakan workshop, dan mengadakan coverence.

2. Teknik tidak langsung dapat dilakukan melalui quesioner (angket), buku presensi guru, jurnal mengajar, buku paket guru, bulletin board.

Teknik-teknik supervisi individual atau kelompok di atas tidak semua bisa diterapkan untuk semua pembinaan guru di sekolah. Oleh sebab itu, seorang kepala sekolah harus mampu menetapkan teknik-teknik mana yang sekiranya mampu membina keterampilan pembelajaran seorang guru. Untuk menetapkan teknik-teknik supervisi akademik yang tepat tidaklah mudah. Seorang kepala sekolah, selain harus mengetahui aspek atau bidang keterampilan yang akan dibina, juga harus mengetahui karakteristik setiap

51

Materi Pelatihan ..., 28.

52

(53)

teknik di atas dan sifat atau kepribadian guru sehingga teknik yang digunakan betul-betul sesuai dengan guru yang sedang dibina melalui supervisi akademik.

H. Tindak Lanjut Supervisi Akademik

Kegiatan tindak lanjut merupakan rangkaian akhir kegiatan supervisi. Kegiatan tindak lanjut diantaranya dengan penguatan dan penghargaan diberikan kepada guru yang telah memenuhi standar, teguran yang bersifat mendidik diberikan kepada guru yang belum memenuhi standar dan guru diberi kesempatan untuk mengikuti pelatihan/penataran lebih lanjut.

(54)

dalam mengajar tentu dialami oleh masing-masing guru, namun terkadang kepala sekolah hanya menyimpan instrumen supervisi sebagai dokumen administrasi saja. Tentu hal ini tidak memberikan manfaat dalam peningkatan kompetensi guru.

Bentuk tindak lanjut supervisi akademik dapat berupa53: 1. Pembinaan

Pembinaan dapat dilakukan secara langsung maupun tidak langsung. Pembinaan langsung bila berkaitan dengan hal-hal yang bersifat khusus dan perlu perbaikan dengan segera dari hasil analisis supervisi. Pembinaan tidak langsung dilakukan terhadap hal-hal yang sifatnya umum yang perlu perbaikan dan perhatian setelah memperoleh hasil analisis supervisi.

Beberapa cara yang dapat dilakukan kepala sekolah/madrasah dalam membina guru untuk meningkatkan proses pembelajaran diantaranya dengan:

a. Menggunakan secara efektif petunjuk bagi guru dan bahan pembantu guru lainnya

b. Menggunakan buku teks secara efektif

c. Menggunakan praktek pembelajaran yang efektif yang dapat mereka pelajari selama pelatihan profesional/inservice training d. Mengembangkan teknik pembelajaran yang telah mereka miliki e. Menggunakan metodologi yang luwes (fleksibel)

f. Merespon kebutuhan dan kemampuan individual siswa g. Menggunakan lingkungan sekitar sebagai alat bantu

pembelajaran

h. Mengelompokan siswa secara lebih efektif

i. Mengevaluasi siswa dengan lebih akurat/teliti/seksama j. Berkooperasi dengan guru lain agar lebih berhasil

53

(55)

k. Meraih moral dan motivasi mereka sendiri

l. Memperkenalkan teknik pembelajaran modern untuk inovasi dan kreatifitas layanan pembelajaran

m. Membantu membuktikan siswa dalam meningkatkan ketrampilan berpikir kritis, menyelesaikan masalah dan pengambilan keputusan

n. Menciptakan suasana pembelajaran yang kondusif54

Tindak lanjut supervisi akademik bisa berupa penghargaan dan motivasi yang diberikan kepala sekolah kepada guru yang telah melakukan pembelajaran sesuai strandar kompetensinya. Saran dan kritik membangun diharapkan mampu membekali guru dalam meningkatkan kemampuan mengajar yang lebih baik. Guru diberi kesempatan seluas-luasnya untuk mengikuti kegiatan peningkatan kompetensi diri melalui seminar, pelatihan dan kegiatan lain dalam rangka peningkatan kompetensi profesional guru.

2. Pemantapan instrumen supervisi akademik

Kegiatan pemantapan instrumen supervisi akademik dapat dilakukan dengan cara diskusi kelompok oleh kepala sekolah tentang instrumen supervisi.

Cara-cara melaksanakan tindak lanjut hasil supervisi akademik sebagai berikut.

a. Mengkaji rangkuman hasil penilaian.

b. Apabila ternyata tujuan supervisi akademik dan standar-standar pembelajaran belum tercapai, maka sebaiknya dilakukan penilaian ulang terhadap pengetahuan, keterampilan dan sikap guru yang menjadi tujuan pembinaan.

c. Apabila ternyata memang tujuannya belum tercapai maka mulailah merancang kembali program supervisi akademik guru untuk masa berikutnya.

54

Figur

Tabel 1

Tabel 1

p.60
Tabel 2

Tabel 2

p.62
Tabel 3 Daftar Nama Guru  PAI SD N  Sragen 4

Tabel 3

Daftar Nama Guru PAI SD N Sragen 4 p.77

Referensi

Pindai kode QR dengan aplikasi 1PDF
untuk diunduh sekarang

Instal aplikasi 1PDF di