BAB II KAJIAN PUSTAKA. dalam bentuk cerita. Kata novel berasal dari bahasa Italia yaitu novella yang

23 

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Teks penuh

(1)

8

BAB II

KAJIAN PUSTAKA

2.1 Seluk Beluk Novel

Novel adalah sebuah karya fiksi prosa yang ditulis secara naratif, biasanya dalam bentuk cerita. Kata novel berasal dari bahasa Italia yaitu novella yang dalam bahasa Jerman disebut novelle. Secara harfiah, novella berarti „sebuah barang baru yang kecil‟. Kemudian dalam perkembangannya, istilah novella dan novelle mengandung pengertian yang sama dengan istilah novelet di Indonesia (Inggris novelette) yang berarti sebuah karya prosa fiksi yang panjangnya cukupan, tidak terlalu panjang, namun juga tidak terlalu pendek (Nurgiyantoro, 2013:11-12).

Novel berkembang dari bentuk-bentuk naratif nonfiksi, misalnya surat,biografi, kronik, atau sejarah. Jadi novel berkembang dari dokumen-dokumen, dan secara stilistika menekankan pentingnya detail dan bersifat mimesis. Novel lebih mengacu pada realitas yang lebih tinggi dan psikologi yang lebih mendalam (Nurgiyantoro, 2013:18).

Menurut Clara Reeve (Wellek dan Warren, 2014:260), “novel adalah gambaran dari kehidupan dan perilaku yang nyata, dari zaman pada saat novel itu ditulis.” Sedangkan menurut Kosasih (2012:60), “novel adalah karya imajinatif yang mengisahkan sisi utuh atas problematika kehidupan seseorang atau beberapa orang tokoh.”

Dari beberapa pengertian yang diungkapkan oleh beberapa pakar tersebut, maka penulis mengambil kesimpulan bahwa novel adalah sebuah karya sastra yang bersifat fiksi dalam bentuk tulisan/kata-kata dan berkisah tentang kehidupan

(2)

tokoh dengan segala unsur instrinsik dan ekstrinsiknya. Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan novel Hujan Bulan Juni. Sebuah novel karya Sapardi Djoko Damono yang diterbitkan oleh Gramedia Pustaka Utama pada Juni 2015. Novel setebal 135 halaman ini menceritakan tentang kehidupan antara dua sejoli (Sarwono dan Pingkan) yang penuh liku. Di dalam tulisannya Sapardi Djoko Damono tetaplah memunculkan ciri khasnya yang lihai dalam membuat kalimat. Banyak kalimat yang terbaca seperti sebuah syair dalam setiap percakapan. Muncul juga beberapa kalimat percakapan yang menggunakan bahasa Jawa di dalam novel ini. Disispkan juga beberapa bait puisi yang menambah bumbu romantika dalam sebuah kehidupan dan hubungan.

2.2 Unsur Intrinsik Novel

Secara garis besar, novel terdiri atas bagian perkenalan, konflik, dan penutup. Struktur tersebut berhubungan erat dengan unsur-unsur intrinsik. Nurgiyantoro (2013:30) menjelaskan bahwa, “unsur intrinsik (intrinsic) adalah unsur-unsur yang membangun karya sastra itu sendiri.” Unsur intrinsik sebuah novel adalah unsur-unsur yang (secara langsung) turut serta membangun cerita. Stanton (Nurgiyantoro, 2013:31) membedakan unsur pembangun sebuah novel ke dalam tiga bagian: fakta, tema, dan sarana pengucapan (sastra). Fakta (facts) dalam sebuah cerita meliputi karakter (tokoh cerita), plot, latar. Tema adalah sesuatu yang menjadi dasar cerita. Sedangkan sarana pengucapan sastra adalah teknik yang digunakan untuk memillih dan menyusun detail-detail cerita menjadi suatu pola yang bermakna.

Secara umum, unsur intrinsik terdiri dari: tema, amanat, tokoh dan penokohan, plot, latar, gaya bahasa, dan sudut pandang. Akantetapi dalam

(3)

penelitian ini hanya akan difokuskan pada enam unsur yang mewakili keseluruhan sebuah novel, yakni: tema, amanat, alur, latar, tokoh dan penokohan serta sudut pandang.

2.2.1 Tema

Stanton dan Kenny (Nurgiyantoro, 2013:114) mengemukakan bahwa “tema (theme) adalah makna yang dikandung oleh sebuah cerita.” Menurut Sudjiman (Rokhmansyah, 2014:33), “tema adalah gagasan, ide atau pilihan utama yang mendasari suatu karya sastra itu.” Sedangkan Sumardjo (Rokhmansyah, 2014:33), mendefinisikan “tema sebagai ide sebuah cerita, pengarang dalam tulisannya tidak hanya bercerita melainkan mengatakan sesuatu kepada pembaca. Jadi, dapat dikatakan bahwa tema merupakan ide pokok sebuah cerita.”

Kosasih (2012:60) berpendapat bahwa “tema sebagai gagasan yang menjalin struktur isi cerita.” Tema suatu cerita menyangkut segala persoalan, baik masalah kemanusiaan, kasih sayang, politik, dan sebagainya. Kemudian Hartoko dan Rahmanto (Nurgiyantoro, 2013:115) menjelaskan “tema merupakan gagasan dasar umum yang menopang sebuah karya sastra dan yang terkandung di dalam teks sebagai struktur semantis dan yang menyangkut persamaan-persamaan dan perbedaan-perbedaan.” Di lain pihak Baldic (Nurgiyantoro, 2014:115) mengemukakan bahwa “tema adalah gagasan abstrak utama yang terdapat dalam sebuah karya sastra atau yang secara berulang-ulang dimunculkan, baik secara eksplisit maupun implisit lewat pengulangan motif.”

Kosasih (2012:62-63) mengemukakan tiga aspek yang dapat dilihat untuk menemukan tema yakni:

(1)Melalui alur cerita, biasanya, pengarang menggunakan alur cerita untuk membimbing pembaca menuju tema pada sebuah cerita tersebut. Alur merupakan

(4)

rangkaian peristiwa dalam cerita yang diurutkan berdasarkan peristiwa sebab akibat, yakni peristiwa A mengakibatkan peristiwa B, dan peristiwa B merupakan akibat dari peristiwa A. Dari rangkaian peristiwa-peristiwa, maka akan kita temukan sebuah tema dari karya sastra tersebut. (2) Melalui tokoh cerita, selain alur, penokohan juga biasa digunakan pengarang untuk menyalurkan tema. Sifat-sifat yang ada pada tokoh cerita dapat digunakan pengarang untuk menggambarkan tema cerita. Tokoh antagonis biasanya dipertentangkan dengan tokoh protagonis. Jika pengarang ingin menunjukkan tema bahwa kebaikan pasti akan menang, maka pengarang dapat melumpuhkan tokoh antagonis. Atau sebaliknya, kebaikan tidak selamanya benar, maka pengarang dapat melumpuhkan tokoh protagonis. (3) Melalui bahasa yang digunakan pengarang, bahasa yang digunakan oleh pengarang dalam ceritanya juga dapat dipakai untuk menemukan tema. Melalui kalimat atau dialog tokoh-tokoh dalam cerita dan komentar pengarang terhadap peristiwa-peristiwa dapat dirumuskan sebagai tema sebuah karya sastra.

2.2.2 Amanat

Amanat merupakan pesan yang terdapat dalam sebuah cerita dan ingin disampaikan kepada para pembaca. Kosasih (2012:71) menyatakan “Amanat merupakan ajaran moral atau pesan didaktis yang hendak disampaikan pengarang kepada pembaca melalui karyanya itu”. Zulfahnur (1997:26) menyatakan “amanat dapat diartikan berupa ide, gagasan, ajaran moral, dan nilai-nilai kemanusiaan yang ingin disampaikan atau dikemukakan pengarang lewat cerita”. Amanat sangat erat hubungannya dengan tema.

Dari beberapa penjelasan di atas dapat dinyatakan bahwa pengertian amanat adalah pesan yang ingin disampaikan oleh pengarang melalui hasil karyanya kepada pembaca yang bertujuan untuk memberikan pengaruh dan perubahan kepada pembaca sesuai dengan apa yang menjadi tujuan pengarang.

2.2.3 Alur

Stanton (Nurgiyantoro, 2013:167) mengemukakan bahwa “plot adalah cerita yang berisi urutan kejadian, namun tiap kejadian itu hanya dihubungkan secara sebab akibat, peristiwa yang satu disebabkan atau menyebabkan terjadinya peristiwa yang lainnya.” Kemudian Kenny (Nurgiyantoro, 2013:167)

(5)

mengemukakan “plot sebagai peristiwa-peristiwa yang ditampilkan dalam cerita yang bersifat sederhana karena pengarang menyusun peristiwa-peristiwa itu berdasarkan kaitan sebab akibat.” Jadi, alur dalam suatu rangkaian cerita disusun berdasarkan urutan sebab-akibat. Hal ini diperjelas dalam pendapat Kosasih (2012:63) bahwa “alur merupakan pola pengembangan cerita yang terbentuk oleh hubungan sebab akibat.”

Menurut Sumardjo (Rokhmansyah, 2014:37) menjelaskan bahwa inti dari alur ialah konflik yang dibagi ke dalam elemen-elemen berikut: pengenalan, timbulnya konflik, konflik, konflik memuncak, klimaks, dan pemecahan soal. Secara umum alur dapat dibagi ke dalam lima bagian, yaitu:

(1) Pengenalan situasi cerita (exposition), dalam bagian ini pengarang memperkenalkan tokoh-tokoh, menata adegan, dan hubungan antartokoh, (2) Pengungkapan peristiwa (complication), dalam bagian ini ditunjukkan bagian-bagian yang menjadi awal munculnya suatu permasalahan, (3) Menuju pada adanya konflik (rising action), yakni peningkatan situasi yang menyebabkan suatu konflik, (4) Puncak konflik (turning point), yakni bagian yang menentukan nasib beberapa tokoh. Bagian ini dikenal juga dengan istilah klimaks, (5) Penyelesaian (ending), merupakan bagian akhir dari suatu cerita. Pengarang biasanya menjelaskan bagaimana nasib para tokoh setelah terjadinya klimaks atau pengarang bisa juga menyerahkan akhir cerita kepada pembaca dengan tidak ada penyelesaian.

Menurut Hayati (1990:10-11) alur dapat dibagi berdasarkan kategori kausal dan kondisinya. Berdasarkan kausalnya alur dapat dibedakan atas (1) alur urutan (episodik), (2) alur mundur (flashback), dan (3) alur campuran (elektrik). Berdasarkan kondisinya, alur dapat dibedakan atas (1) alur buka, (2) alur tengah, (3) alur puncak, dan (4) alur tutup.

1. Alur cerita dikatakan alur urutan (episodik) apabila peristiwa-peristiwa yang ada disusun berdasarkan urutan sebab akibat, kronologis (sesuai dengan urutan waktu), tempat atau hierarkis.

(6)

2. Alur cerita dikatakan alur mundur (flashback)apabila peristiwa-peristiwa yang ada disusun berdasarkan akibat sebab, waktu kini ke masa lampau. 3. Alur cerita dikatakan alur campuran (elektik) apabila peristiwa-peristiwa

yang ada disusun secara campuran antara sebab akibat, waktu kini ke waktu lampau dan waktu lampau ke waktu kini.

4. Alur buka yaitu rangkaian peristiwa yang dianggap sebagai kondisi mula yang akan dilanjutkan dengan kondisi berikutnya.

5. Alur tengah yaitu rangkaian peristiwa yang dianggap sebagai kondisi yang mulai bergerak ke arah kondisi puncak.

6. Alu puncak yaitu rangkai peristiwa yang dianggap sebagai kondisi klimaks dari sekian banyak rangkaian peristiwa yang ada pada cerita itu.

7. Alur tutup yaitu rangkai peristiwa yang dianggap sebagai kondisi yang mulai bergerak ke arah penyelesaian atau pemecahan dari kondisi klimaks.

2.2.4 Latar atau Setting

Menurut Semi (Rokhmansyah, 2014:38), “setting adalah lingkungan tempat terjadinya peristiwa.” Abrams (Nurgiyantoro, 2013:302) menjelaskan bahwa “latar atau setting yang disebut juga sebagai landas tumpu, menunjuk pada pengertian tempat, hubungan waktu sejarah, dan lingkungan sosial tempat terjadinya peristiwa-peristiwa yang diceritakan.” Sedangkan Kosasih (2012:67) menyebutkan bahwa latar atau setting meliputi tempat, waktu, dan budaya yang digunakan dalam suatu cerita. Latar dalam suatu cerita bisa bersifat faktual atau bisa pula bersifat imajiner.

Menurut Nurgiyantoro (2013:314-330), unsur latar dapat dibedakan ke dalam tiga unsur pokok, yaitu tempat, waktu, dan sosial-budaya. Walau

(7)

masing-masing menawarkan permasalahan yang berbeda dan dapat dibicarakan secara sendiri, ketiga unsur itu pada kenyataannya saling berkaitan dan saling mempengaruhi satu dengan yang lainnya. Jadi, pembicaraan secara terpisah hanya bersifat teknis dan untuk memudahkan saja.

1) Latar Tempat

Latar tempat menunjuk pada lokasi terjadinya peristiwa yang diceritakan dalam sebuah karya fiksi. Unsur tempat yang dipergunakan mungkin berupa tempat-tempat dengan nama tertentu, inisial tertentu, mungkin lokasi tertentu tanpa nama jelas. Tempat-tempat yang bernama adalah tempat yang dijumpai dalam dunia nyata. Penggunaan latar tempat dengan nama-nama tertentu haruslah mencerminkan, atau paling tidak, tidak bertentangan dengan sifat dari keadaan geografis tempat yang bersangkutan.

Latar tempat dalam sebuah novel biasanya meliputi berbagai lokasi. Ia akan berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat lain sejalan dengan perkembangan plot. Namun, banyak atau sedikitnya latar tempat tidak berhubungan dengan kadar kelitereran karya yang bersangkutan. Keberhasilan latar tempat lebih ditentukan oleh ketepatan deskripsi, fungsi, dan keterpaduannya dengan unsur latar yang lain sehingga semuanya bersifat saling mengisi. Keberhasilan penampilan unsur latar itu sendiri antara lain dilihat dari segi koherensinya dengan unsur fiksi lain dan dengan tuntutan cerita secara keseluruhan.

(8)

2) Latar Waktu

Latar waktu berhubungan dengan masalah “kapan” terjadinya peristiwa-peristiwa yang diceritakan dalam sebuah karya fiksi. Masalah “kapan” tersebut biasanya dihubungkan dengan waktu faktual, waktu yang ada kaitannya atau dapat dikaitkan dengan peristiwa sejarah. Pengetahuan dan persepsi pembaca terhadap waktu sejarah itu kemudian dipergunakan untuk mencoba masuk ke dalam suasana cerita. Pembaca berusaha memahami dan menikmati cerita berdasarkan acuan waktu yang diketahuinya yang berasal dari luar cerita berdasarkan acuan waktu yang diketahuinya yang berasal dari luar cerita yang bersangkutan. Adanya persamaan perkembangan dan atau kesejalanan waktu tersebut juga dimanfaatkan untuk mengesani pembaca seolah-olah cerita itu sebagai sungguh-sungguh ada dan terjadi.

3) Latar Sosial-budaya

Latar sosial-budaya merujuk pada hal-hal yang berhubungan dengan perilaku kehidupan sosial masyarakat di suatu tempat yang diceritakan dalam karya fiksi. Tata cara kehidupan sosial masyarakat mencakup berbagai masalah dalam lingkup yang cukup kompleks. Ia dapat berupa kebiasaan hidup, adat istiadat, tradisi, keyakinan, pandangan hidup, cara berpikir dan bersikap, dan lain-lain. Di samping itu, latar sosial-budaya juga berhubungan dengan status sosial tokoh yang bersangkutan, misalnya rendah, menengah, atau atas.

(9)

2.2.5 Tokoh dan Penokohan

Menurut Aminuddin (Rokhmansyah, 2014:34), “tokoh adalah pelaku yang mengemban peristiwa dalam cerita fiksi sehingga peristiwa itu mampu menjalin suatu cerita.” Nurgiyantoro (2013:247) menambahkan bahwa istilah tokoh menunjuk pada orangnya, pelaku cerita. Selanjutnya Sudjiman (Rokhmansyah, 2014:34) berpendapat bahwa “Tokoh adalah individu rekaan yang mengalami peristiwa atau berlaku andil dalam berbagai peristiwa cerita.” Sejalan dengan itu, Abrams (Rokhmansyah, 2014:34) menjelaskan “Tokoh cerita merupakan orang-orang yang ditampilkan dalam suatu karya naratif atau drama oleh pembaca kualitas moral dan kecenderungan-kecenderungan tertentu seperti yang diekspresikan dalam ucapan dan dilakukan dalam tindakan.”

Sedangkan penokohan merupakan cara pengarang mengembangkan karakter pada tokoh cerita. Menurut Rokhmansyah (2014:34), “Penokohan dan perwatakan adalah pelukisan mengenai tokoh cerita, baik keadaan lahirnya maupun batinnya yang dapat berubah, pandangan hidupnya, sikapnya, keyakinannya, adat istiadatnya, dan sebagainya.” Sudjiman (Rokhmansyah, 2014:34) menyamakan istilah penokohan dengan watak atau perwatakan, yakni kualitas nalar dan jiwa tokoh yang membedakannya dengan tokoh lain.

Berdasarkan perbedaan dan tinjauan tertentu, Nurgiyantoro (2013: 258-278) membagi tokoh ke dalam beberapa kategori, yaitu sebagai berikut.

2.2.5.1Tokoh Utama dan Tokoh Tambahan

Berdasarkan peran dan pentingnya seorang tokoh dalam cerita fiksi secara keseluruhan dibedakan atas: tokoh utama dan tokoh tambahan. Tokoh utama (central character) adalah tokoh yang diutamakan penceritaannya dalam

(10)

novel yang bersangkutan. Sedangkan tokoh tambahan adalah tokoh yang mendukung adanya tokoh utama, biasanya pemunculannya diabaikan dan kurang mendapat perhatian. Pembedaan tokoh dalam cerita tidak dapat dilakukan secara eksak, melainkan pembedaan itu bersifat gradasi karena kadar keutamaan tokoh-tokoh itu bertingkat: tokoh utama (yang) utama, tokoh utama tambahan, tokoh tambahan (periferal) utama, dan tokoh tambahan (yang memang) tambahan.

2.2.5.2Tokoh Protagonis dan Tokoh Antagonis

Tokoh protagonis adalah tokoh yang oleh pembaca dianggap sebagai tokoh baik atau tokoh yang dikagumi. Sedangkan tokoh antagonis adalah kebalikan dari tokoh protagonis, yaitu tokoh jahat yang menjadi musuh dari tokoh baik. Keberhasilan tokoh protagonis tergantung pada kehebatan tokoh antagonis dalam membangun konflik-konflik dalam sebuah cerita. Hal ini dilihat dari pembedaan tokoh berdasarkan fungsi penampilan tokoh.

2.2.5.3Tokoh Sederhana dan Tokoh Bulat

Pembedaan tokoh berdasarkan perwatakannya dibagi menjadi dua, yaitu tokoh sederhana dan tokoh bulat. Tokoh sederhana adalah tokoh yang hanya memiliki satu kualitas pribadi. Sedangkan tokoh bulat adalah tokoh yang memiliki dan diungkap berbagai kemungkinan sisi kehidupannya, sisi kepribadian dan jati dirinya. Tokoh bulat disebut juga dengan tokoh kompleks.

2.2.5.4Tokoh Statis dan Tokoh Berkembang

Berdasarkan kriteria berkembang atau tidaknya perwatakan tokoh-tokoh dalam cerita dibagi menjadi dua, yaitu tokoh-tokoh statis dan tokoh-tokoh dinamis. Tokoh statis adalah tokoh cerita yang tidak mengalami perubahan atau

(11)

perkembangan watak sebagai akibat adanya peristiwa-peristiwa yang terjadi di dalam cerita. Sedangkan tokoh berkembang merupakan kebalikan dari tokoh statis. Tokoh berkembang adalah tokoh cerita yang mengalami perubahan dan perkembangan watak sejalan dengan perkembangan peristiwa di dalam cerita.

2.2.5.5Tokoh Tipikal dan Tokoh Netral

Tokoh tipikal adalah tokoh yang hanya sedikit menampilkan keadaan individualitas dan lebih menonjolkan kualitas pekerjaan atau kebangsaan untuk mewakili sifat tokoh tersebut. Sedangkan tokoh netral adalah tokoh cerita yang bereksistensi demi cerita itu sendiri. Pembedaan tokoh ini didasarkan pada kemungkinan pencerminan tokoh cerita terhadap sekelompok manusia dari dunia nyata.

Penokohan dapat diwujudkan secara langsung dan tidak langsung. Kosasih (2012:68) mengemukakan ada dua teknik yang dapat digunakan untuk menggambarkan karakter seorang tokoh yaitu :

(1) Teknik analitik, karakter tokoh diceritakan secara langsung oleh pengarang.(2) Teknik dramatik, karakter tokoh dikemukakan melalui: penggambaran fisik dan perilaku tokoh, penggambaran lingkungan kehidupan tokoh, penggambaran tata kebahasaan tokoh, pengungkapan jalan pikiran tokoh, dan penggambaran oleh tokoh lain.

Menurut Ahadiat (2007:36) penokohan ialah bagaimana cara pengarang menggambarkan dan mengembangkan watak tokoh-tokoh dalam sebuah prosa. Ada beberapa cara dalam menggambarkan tokoh-tokoh, yaitu:

(a) Secara analitik, maksudnya adalah pengarang langsung menceritakan bagaimana watak tokoh-tokohnya; (b) secara dramatik, maksudnya adalah pengarang tidak langsung menceritakan bagaimana watak tokoh-tokoh dalam cerita, misalnya melalui penggambaran tempat dan lingkungan tokoh, bentuk-bentuk lahir (potongan tubuh dan sebagainya) melalui percakapan (dialog) melalui perbuatan sang tokoh.

Jadi, dalam penelitian ini peneliti hanya memfokuskan kajian tokoh dan penokohan pada tokoh utama dan tokoh tambahan dengan menggunakan teknik

(12)

analitik dan teknik dramatik. Alasan peneliti memfokuskan hanya mengkaji satu dari tokoh dan penokohan tersebut, karena di dalam novel Hujan Bulan Juni tokoh yang diceritakan adalah tokoh utama dan tokoh tambahan.

2.2.6 Sudut Pandang

Sudut pandang merujuk pada cara sebuah cerita dikisahkan. Ia merupakan cara dan atau pandangan yang dipergunakan pengarang sebagai sarana untuk menyajikan cerita dalam sebuah karya fiksi kepada pembaca (Abrams,1999:231). Dengan demikian, sudut pandang pada hakikatnya merupakan strategi, teknik, siasat yang secara sengaja dipilih pengarang untuk mengemukakan gagasan dan cerita (Nurgiyantoro, 2013:38).

2.2.6.1 Macam-Macam Sudut Pandang

Pembedaan sudut pandang juga dilihat dari bagaimana kehadiran cerita itu kepada pembaca : lebih bersifat penceritaan, telling atau penunjukan, showing, naratif atau dramatik. Pembedaan sudut pandang yang akan dikemukaakn berikut berdasarkan pembedaan yang telah umum dilakukan orang, yaitu bentuk persona tokoh cerita: persona ketiga dan persona pertama, dan ditambah persona kedua. (Nurgiyantoro, 2013:347-363)

2.2.6.1.1 Sudut Pandang Persona Ketiga: “Dia”

Pengisahan cerita yang mempergunakan sudut pandang persona ketiga, gaya “dia”, narator adalah seorang yang berada diluar cerita yang menampilkan tokoh-tokoh cerita dengan menyebut nama, atau kata gantinya; ia, dia, mereka. Nama-nama tokoh cerita, khususnya yang utama, kerap atau terus-menerus disebut, dan sebagai variasi dipergunakan kata ganti. Hal ini akan mempermudah pembaca untuk mengenali siapa tokoh yang diceritakan atau siapa yang bertindak.

(13)

a. “Dia” Mahatahu

Sudut pandang pesona ketiga mahatahu dalam literatur bahasa Inggris dikenal dengan istilah-istilah the omniscient point of view, Third-person Omniscient narrator, atau author omniscient. Dalam sudut pandang in, cerita dikisahkan dari sudut “dia”, namun pengarang, narator dapat menceritakan apa saja hal-hal yang menyangkut tokoh “dia” tersebut. Narator mengetahui segalanya, ia bersifat mahatahu (omniscient). Ia mengetahui berbagai hal tentang tokoh , peristiwa, dan indakan, termasuk motivasi yang melatar-belakanginya. Ia bebas bergerak dan menceritakan apa saja dalam lingkup waktu dan tempat cerita, berpindah-pindah dari tokoh “dia” yang satu ke “dia” yang lain, menceritakan atau sebaliknya “menyembunyikan “ ucapan dan tindakan tokoh, bahkan juga yang haya berupa pikiran,perasaan, pandangan, dan motivasi tokoh secara jelas seperti halnya tindakan nyata. Abrams (Nurgiyantoro,2013:348) b. “Dia” terbatas, “Dia” sebagai pengamat

Dalam sudut pandang “dia” terbatas, seperti halnya dalam “dia” mahatahu, pengarang melukiskan apa yang dilihat,didengar, dialami, dipikir, dan dirasakan oleh tokoh cerita, namun terbatas dalam jumlah seorang tokoh saja (Stanton, 1965:26), atau terbatas dalam jumlah yang angat terbatas (Abrams, 1999:233). Tokoh cerita mungkin saja cukup banyak, yang berupa tokoh “dia”, namun mereka tidak diberi kesempatan (baca: tidak dilukiskan) untuk menunjukkan sosok dirinya seperti halnya tokoh pertama. Oleh karena dalam teknik ini hanya adas seorang tokoh yang terseleksi untuk diungkap, tokoh tersebut merupakan

(14)

fokus, cermin atau pusat kesadaran, center of consciousness. Berbagai peristiwa dan tindakan yang dicertiakan disajikan lewat “pandangan” dan atau kesadaran seorang tokoh, dan hal itu sekaligus berungsi sebagai “filter” bagi pembaca.

Dalam sudut pandang “dia” sebagai pengamat yang benar-benar objektif, narator bahkan hanya dapat melaporkan (baca: menceritakan) segala sesuatu yang dapat dilihat dan didengar, atau yang dapat dijangkau oleh indera. Namun, walau ia hanya melaporkan secara apa adanya, kadar ketelitiannya harusah diperhitungkan, khususnya ketelitian dalam mencatat dan mendeskripsikan berbagai peristiwa, tindakan, latar, sampai kedetail-detail terkecil yang khas. Dalam hal ini narator seolah-olah berlaku sebagai kamera yang berfungsi untuk merekam dan mengabadikan suatu objek.

2.2.6.1.2 Sudut Pandang Persona Pertama : “Aku”

Dalam pengisahan cerita yang mempergunakan sudut pandang persona pertama, First-person point of view, “aku”, jadi: gaya “aku”, narator adalah seseorang ikut terlibat dalam cerita. Ia adalah si “aku” consciousness, mengisahkan peristiwa dan tindakan, yang diketahui, dilihat, didengar, dialami, dan dirasakan, serta sikapnya terhadap orang (tokoh ) lain kepada pembaca. Kita, pembaca menerima apa yang diceritakan oleh si “aku”, maka kita hanya dapat melihat dan merasakan secara terbatas seperti yang dilihat dan dirasakan tokoh si “aku” tersebut.

Berdasarkan peran dan kedudukan si “aku” dalam cerita, sudut pandang persona pertama dapat dibedakan ke dalam dua golongan. Si “aku” mungkin menduduki peran utama, jadi tokoh utama protagonis, mungkin hanya menduduki peran tambahan, jadi tokoh tambahan protagonis, atau berlaku sebagai saksi.

(15)

a. “Aku” Tokoh Utama

Dalam sudut pandang teknik ini, si “aku” mengisahkan berbagai peristiwa dab tingkah laku yang dialaminya, baik yang bersifat batiniah, dalam diri sendiri, maupun fisik, hubungannya dengan sesuatu yang di luar dirinya. Si “aku” menjadi fokus, pusat kesadaran, pusat cerita. Segala sesuatu yang di luar diri si “aku”, peristiwa, tindakan, dan orang, diceritakan hanya berhubungan dengan dirinya atau dipandang penting. Jika tidak, hal itu tidak disinggung sebab si “aku” mempunyai keterbatasan terhadap segala hal yang di luar dirinya. Namun sebaliknya, tokoh “aku” memiliki kebebasan untuk memilih masalah-masalah yang akan diceritakan. Dalam cerita yang demikian, si “aku” menjadi tokoh utama First-person central. b. “Aku” Tokoh Tambahan

Dalam sudut pandang ini tokoh “aku” muncul bukan sebagai tokoh utama, melainkan sebagai tokoh tambahan, First-person peripheral. Tokoh “aku” hadir untuk membawakan cerita kepada pembaca, sedang tokoh cerita yang dikisahkan itu kemudian “dibiarkan” untuk mengisahkan sendiri berbagai pengalamannya. Tokoh cerita yang dibiarkan berkisah sendiri itulah yang kemudian menjadi tokoh utama karena dialah yang lebih banyak tampil, membawakan berbagai peristiwa, tindakan, dan berhubungan dengan tokoh-tokoh lain. Setelah cerita tokoh utama selesai berbicara atau tampil., si “aku” tambahan tampil kembali, dan dialah kini yang berkisah.

Dengan demikian, si “aku” hanya tampil sebagai saksi, witness, saja. Saksi terhadap berlangsungnya cerita yang ditokohi oleh orang lain. Si “aku”

(16)

pada umumnya tampil sebagai pengantar dan penutup cerita. Dalam hubungannya dengan keseluruhannya novel, tokoh “aku” tersebut muncul dan berfungsi sebagai “bingkai” cerita.

2.2.6.1.3 Sudut Pandang Persona Kedua : “Kau”

Secara faktual, sudut pandang persona kedua tidak jarang ditemukan dalam berbagai cerita fiksi walau hanya sekedar sebagai selingan dari gaya “dia” atau “aku”. Artinya, dalam sebuah cerita fiksi tidak atau belum pernah ditemukan yang dari awal hingga akhir cerita yang seluruhnya menggunakan sudut pandang “kau”. Sudut pandang gaya “kau” merupakan cara pengisahan yang mempergunakan “kau” yang biasanya sebagaivariasi cara memandang oleh aku dan dia.

Penggunaan teknik “kau” biasanya dipakai “mengoranglainkan” diri sendiri, melihat diri sendiri sebagai orang lain. Keadaan ini dapat ditemukan pada cerita fiksi yang disudutpandangi “aku” maupun “dia” sebagai variasi penuturan atau penyebutan. Hal itu dipilih tentu juga tidak lepas dari tujuan menuturkan sesuatu dengan yang berbeda, yang asli, yang lain dari pada yang lain sehingga terjadi kebaruan cerapan indera atau penerimaan pembaca. Intinya, untuk lebih menyegerakan cerita.

2.1.6.1.4 Sudut Pandang Campuran

Penggunaan sudut pandang dalam sebuah novel mungkin saja lebih satu teknik. Pengarang dapat berganti-ganti dari teknik yang satu ke teknik yang lain untuk sebuah cerita yang dituliskannya. Kesemuanya itu tergantung dari kemauan dan kreativitas pengarang, bagaimana mereka memanfaatkan berbagai teknik yang ada demi tercapainya efektivitas penceritaan agar memberikan kesan lain.

(17)

Pemanfaatan teknik-teknik tersebut dalam sebuah novel misalnya, dilakukan dengan mempertimbangkan kelebihan dan keterbatasan masing-masing teknik.

Penggunaan sudut pandang campuran itu di dalam sebuah novel, mungkin berupa penggunaan sudut pandang persona ketiga dengan teknik “dia” mahatahu dan “dia” sebagai pengamat, persona pertama dengan teknik “aku” sebagai tokoh utama dan “aku” tambahan atau sebagai saksi. Selin itu, ia dapat pula berupa campuran antara persona pertama dan ketiga, antara “aku”, “dia”, bahkan kadang-kadang juga diselingi persona kedua “kau” sekaligus.

2.3 Hubungan Antarunsur

Karya sastra adalah sebuah struktur yang kompleks. Oleh karena itu, untuk dapat memahaminya haruslah karya sastra dianalisis. Hill (Pradopo, 2005:108). Dalam analisis itu karya sastra diuraikan unsur-unsur pembentuknya. Dengan demikian, maka keseluruhan karya sastra akan dapat dipahami. Hal ini mengingat bahwa karya sastra itu adalah sebuah karya sastra yang utuh (Hawkes, dalam Pradopo,2005:108).

Di samping itu, sebuah struktur sebagai kesatuan yang utuh dapat dipahami makna keseluruhannya bila diketahui unsur-unsur pembentuknya dan saling berhubungan diantaranya dengan keseluruhannya. Unsur-unsur atau bagian-bagian lainnya dengan keseluruhannya (Hawkers, dalam Pradopo, 2005:108).

Sesuai dengan pendapat tersebut, Endaswara (2003:49) menyatakan “karya sastra diasumsikan sebagai fenomena yang memiliki struktur yang saling terkait satu sama lain. Kodrat struktur itu akan bermakna apabila dihubungkan dengan struktur lain. Struktur tersebut memiliki bagian yang kompleks, sehingga pemaknaan harus diarahkan ke dalam hubungan antarunsur secara keseluruhan”.

(18)

Unsur-unsur yang membentuk karya sastra yaitu: Tema, alur, amanat, latar, sudut pandang, tokoh dan penokohan dan sebagainya. Struktur novel yang hadir di hadapan pembaca merupakan sebuah totalitas. Novel yang dibangun dari sejumlah unsur akan saling berhubungan secara saling menentukan sehingga menyebabkan novel tersebut menjadi sebuah karya yang bermakna hidup. Adapun struktur pembangun karya sastra yang dimaksud dan akan diteliti meliputi: tema, amanat, alur, latar, sudut pandang, tokoh dan penokohan.

Ada beberapa pengertian yang harus dijelaskan terlebih dahulu sebelum penelitian ini dilakukan. Pertama menyangkut pengertian tema, apa yang dimaksud dengan tema dan bagaimana menentukannya di dalam novel. Kedua, tentang pengertian amanat, apa yang dimaksud amanat dan bagaimana pula menentukannya. Ketiga, tentang alur, apa yang dimaksud dengan alur dan bagaimana menentukannya. Keempat, tentang latar, apa yang dimaksud dengan latar, latar yang bagaimana saja yang dimaksud dalam penelitian ini. Kelima tentang sudut pandang yang yang dipakai pengarang dalam novel. Keenam tentang tokoh dan penokohan, bagaimana menentukan tokoh utama dan tokoh tambahan. Lalu keenam, hubungan antara tema dengan amanat, tema dengan alur, tema dengan latar, tema dengan tokoh dan sudut pandang.

Menurut Esten ( 1984:87) “tema adalah apa yang menjadi persoalan di dalam sebuah karya sastra. Apa yang menjadi persoalan utama di dalam sebuah karya sastra”. Lalu untuk menentukan persoalan mana yang merupakan tema, pertama tentulah dilihat persoalan mana yang paling menonjol. Kedua secara kuantitatif, persoalan mana yang paling banyak menimbulkan konflik, konflik-konflik yang melahirkan peristiwa-peristiwa. Cara yang ketiga ialah menentukan (menghitung)

(19)

waktu penceritaan, yaitu waktu yang diperlukan untuk menceritakan peristiwa-peristiwa ataupun tokoh-tokoh di dalam sebuah sastra.

Bilamana tema telah diidentifikasikan, maka untuk menentukan amanat sudah mudah dilakukan. Karena amanat merupakan pemecahan persoalan yang terkandung di dalam tema. kemungkinan yang menyukarkan ialah bahwa adakalanya amanat terungkap secara implisit, secara tersirat. Kemudian menurut Esten (1984:39) “ alur dimaksudkan: bagaimana pengarang menyusun peristiwa di dalam sebuah karya sastra. Kehadiran atau penyusunan peristiwa-peristiwa tersebut di dalam karya sastra didasarkan kepada hubungan kausalitas”. Menurut Wellek (Esten 1984:88) latar dapat menjadi (merupakan) pernyataan dari sebuah keinginan manusia. Ia dapat, bilamana ia merupakan latar alam, sebagai proyeksi dari keinginan. Latar dibagi menjadi tiga, yaitu latar tempat menunjuk pada lokasi terjadinya peristiwa yang diceritakan dalam sebuah karya fiksi. Latar waktu, berhubungan dengan masalah “kapan” terjadinya peristiwa-peristiwa yang diceritakan dalam sebuah karya fiksi. Latar sosial-budaya, menunjuk pada hal-hal yang berhubungan dengan perilaku kehidupan sosial masyarakat di suatu tempat yang diceritakan dalam karya fiksi.

Sudut pandang menunjuk pada cara pengarang mengisahkan suatu cerita dalam karya fiksi. Lalu, di dalam penelitian ini akan dibicarakan tokoh dan penokohan. Dalam menentukan yang mana yang merupakan tokoh utama dalam novel ini, langkah yang kita ambil juga sama dengan menentukan tema. pertama dilihat masalahnya (tema), lalu dilihat tokoh mana yang paling banyak berhubungan dengan masalah tersebut. Kedua, tokoh mana yang paling banyak

(20)

berhubungan dengan tokoh-tokoh lainnya. Ketiga, tokoh mana yang paling banyak memenuhi persyaratan waktu penceritaan.

Sebagai suatu unsur struktur dari sebuah karya sastra, maka tema sangat erat hubungannya dengan alur, amanat, tokoh, latar, dan sudut pandang. Hal tersebut yang membuat unsur di dalam sebuah karya sastra menjadi utuh dan saling berkaitan. Jadi, dapat disimpulkan bahwa hubungan antarunsur merupakan inti dari analisis struktural. (http://www.bing.com/sebuah analisis struktural id)

2.4 Pendekatan Struktural

Teori struktural sangat penting digunakan karena karya sastra merupakan sebuah struktur yang unsur-unsur pembentuknya saling erat kaitannya satu dengan yang lain. Jadi, unsur-unsur pembentuk karya sastra tidak dapat berdiri sendiri, tetapi saling terkait karena merupakan suatu sistem. Analisis struktural merupakan sarana untuk menganalisis unsur-unsur karya sastra.

Menurut Teeuw (Wiyatmi, 2005:89), Sesuai dengan namanya pendekatan struktural memandang dan memahami karya sastra dari segi struktur karya sastra itu sendiri. Karya sastra dipandang sebagai sesuatu yang otonom, berdiri sendiri, bebas dari pengarang, realitas, maupun pembaca. Dalam penerapannya pendekatan struktural memahami karya sastra secara Close reading (membaca karya secara tertutup tanpa melihat pengarangnya, hubungannya dengan realitas, maupun pembaca). Analisis difokuskan pada unsur-unsur intrinsik karya sastra. Dalam hal ini setiap unsur dianalisis dalam hubungannya dengan unsur-unsur lainnya. (Wiyatmi,2015:89)

Menurut (Teeuw, 2003:112) “analisis struktural bertujuan untuk membongkar dan memaparkan secermat, seteliti, semendetail, dan semendalam

(21)

mungkin keterkaitan dan keterjalinan semua anasir dan aspek karya sastera yang bersama-sama menghasikan makna menyeluruh”. Dengan demikian, pada dasarnya analisis struktural bertujuan memaparkan secermat mungkin fungsi dan keterkaitan antarunsur karya sastra yang secara bersama menghasilkan sebuah kemenyeluruhan (Nurgiyantoro, 2013: 60). Analisis tidak cukup dilakukan hanya sekedar mendata unsur tertentu sebuah karya fiksi, misalnya peristiwa, plot, tokoh, latar, atau yang lain. Namun, yang lebih penting adalah menunjukkan bagaimana hubungan antarunsur itu dan sumbangan apa yang diberikan terhadap tujuan estetik dan makna keseluruhan yang ingin dicapai.

Menurut Semi (1990:67-68) pendekatan struktural mempunyai konsepsi dan kriteria sebagai berikut.

1) Karya sastra dipandang dan diperlakukan sebagai sebuah sosok yang berdiri sendiri, yang mempunyai dunianya sendiri, mempunyai rangka dan bentuknya sendiri.

2) Memberi penilaian terhadap keserasian atau keharmonisan semua komponen membentuk keseluruhan struktur. Mutu karya sastra ditentukan oleh kemampuan penulis menjalin hubungan antarkomponen tersebut sehingga menjadi suatu keseluruhan yang bermakna dan bernilai estetik. 3) Memberikan penilaian terhadap keberhasilan penulis menjalin hubungan

harmonis antara isi dan bentuk, karena jalinan isi dan bentuk merupakan hal yang amat penting dalam menentukan mutu sebuah karya sastra.

4) Walaupun memberikan perhatian istimewa terhadap jalinan hubungan antara isi dan bentuk, namun pendekatan ini menghendaki adanya analisis

(22)

yang objektif sehingga perlu dikaji atau diteliti setiap unsur yang terdapat dalam karya sastra tersebut.

5) Pendekatan struktural berusaha berlaku adil terhadap karya sastra dengan jalan hanya menganalisis karya sastra tanpa megikutsertakan hal-hal yang berada di luarnya.

6) Yang dimaksudkan dengan isi dalam kajian struktural adalah persoalan, pemikiran, falsafah, cerita, pusat pengisahan, tema, sedangkan yang dimaksudkan dengan bentuk adalah alur (plot), bahasa, sistem penulisan, dan perangkatan perwajahan sebagai karya tulis.

7) Penulis boleh melakukan analisis komponen yang diingininya.

Berdasarkan penjelasan di atas, metode atau langkah kerja yang harus dilalui peneliti bila bersandar pada pendekatan struktural adalah: (1) peneliti menguasai pengertian-pengertian dasar unsur intrinsik dalam karya sastra, karena unsur tersebut menjadi titik fokus analisis; (2) unsur intrinsik yang pertama dibahas adalah tema, baru kemudian dilanjutkan dengan komponen-komponen lain. Langkah ini ditetapkan disebabkan tema merupakan komponen yang berada di tengah-tengah komponen yang lain, dalam arti semua bahasan tentang komponen yang lain selalu terkait ke tema; (3) setelah analisis tema dilanjutkan dengan analisis alur (plot), (4) kemudian perwatakan atau penokohan merupakan bahasan yang sangat penting, karena merupakan alat penggerak tema dan pembentuk alur; (5) selanjutnya analisis amanat, kemudian analisis sudut pandang harus dilihat pula kejelasannya dengan tema, alur, dan perwatakan; (6) komponen latar (setting) juga mendapat sorotan, baik yang menyangkut latar tempat, latar waktu, maupun latar sosial budaya; (7) kemudian langkah yang terakhir dilakukan

(23)

oleh peneliti yaitu menghubungkan komponen unsur intrinsik sehingga memiliki kesatuan,keseluruhan, dan kebulatan makna, serta adanya koherensi.

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...

Related subjects :