BAB II TINJAUAN PUSTAKA. serta memberikan jasa-jasa bank lainnya.

24 

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Teks penuh

(1)

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Bank

2.1.1. Pengertian Bank

Menurut Undang-Undang RI Nomor 10 Tahun 1998 tentang Perbankan, “Bank adalah lembaga keuangan yang kegiatan usahanya menghimpun dana dari masyarakat dan menyalurkan kembali dana tersebut ke masyarakat dan serta memberikan jasa-jasa bank lainnya”.

Undang-Undang RI Nomor 10 Tahun 1998 tentang perbankan merupakan undang-undang perbankan yang terkini dan menjadi dasar hukum bagi usaha perbankan di seluruh Indonesia. Undang-undang ini merupakan hasil revisi, penyempurnaan dan perubahaan dari undang-undang RI Nomor 7 Tahun 1992 tentang perbankan. Selain itu, landasan hukum perbankan Indonesia adalah undang-undang RI Nomor 23 Tahun 1999 tentang Bank Indonesia yang kemudian diubah menjadi undang-undang RI Nomor 3 Tahun 2004. Dengan perundang-undang-undang-undangan yang telah beberapa kali revisi, maka usaha perbankan di Indonesia mempunyai asas yang kuat dan perlu mendapat dukungan dari semua pihak.( Lubis, 2010 : 27-28)

2.1.2. Jenis-Jenis Bank

Berdasarkan UU No 14/1967 pasal 3 menyebutkan bahwa menurut fungsinya, bank dapat dibedakan atas:

(2)

 Bank sentral, yaitu bank Indonesia yang diatur melalui undang-undang tersendiri yaitu UU No.13/1968.

 Bank umum adalah bank yang dalam pengumpulan dananya terutama menerima simpanan dalam bentuk giro dan deposito dalam usahanya terutama memberikan kredit jangka pendek.

 Bank tabungan adalah bank yang dalam pengumpulan dananya terutama menerima simpanan dalam bentuk tabungan, dan usahanya terutama memperbungakan dananya dalam bentuk dalam kertas berharga seperti cek, giro, bilyet giro, dan lain-lain.

2.1.3. Fungsi Bank Umum

Bank umum memiliki fungsi sebagai berikut :

1. Menyediakan mekanisme dan alat pembayaran yang lebih efisien dalam kegiatan ekonomi.

2. Menciptakan uang.

3. Menghimpun dana dan menyalurkannya kepada masyarakat. 4. Menawarkan jasa-jasa keuangan lain.

2.2.Bank Syariah

2.2.1. Pengertian Bank Syariah

Menurut Ali (2008 : 1 ; 2) bank syariah terdiri atas dua kata, yaitu bank, dan syariah. Kata bank bermakna suatu lembaga keuangan yang berfungsi sebagai perantara keuangan dari dua pihak, yaitu pihak yang berlebihan dana dan pihak yang kekurangan dana. Kata syariah dalam versi bank syariah di Indonesia adalah aturan perjanjian berdasarkan yang dilakukan

(3)

oleh pihak bank dan pihak lain untuk penyimpanan atau pembiayaan kegiatan usaha dan kegiatan lainnya sesuai dengan hukum Islam.

Bank syariah adalah suatu lembaga keuangan yang berfungsi sebagai perantara bagi pihak yang berlebihan dana dan dengan pihak yang kekurangan dana untuk kegiatan usaha dan kegiatan lainnya sesuai dengan hukum Islam. Selain itu, bank syariah biasa disebut Islamic banking atau fee banking, yaitu suatu sistem perbankan dalam pelaksanaan operasional tidak menggunakan sistem bunga (riba), spekulasi (maisir), dan ketidakpastian atau ketidakjelasan (gharar).

Bank syariah sebagai salah sebuah lembaga keuangan yang mempunyai mekanisme dasar, yaitu menerima deposito dari pemilik modal (depositor) dan mempunyai kewajiban (liability) untuk menawarkan pembiayaan kepada investor pada sisi asetnya, dengan pola dan skema pembiayaan yang sesuai dengan syariat Islam. Pada sisi kewajiban, terdapat dua kategori utama, yaitu interest-fee current and saving accounts dan invesment accounts yang berdasarkan pada prinsip PLS (Profit and Loss Sharing) antara pihak bank dan pihak depositor sedangkan pada sisi aset yang termasuk di dalamnya adalah segala bentuk pola pembiayaan yang bebas riba dan sesuai prinsip atau standard syariah seperti mudharabah, musyarakah, istisna, salam, dan lain-lain.

(4)

2.2.2. Dasar Hukum Bank Syariah

Bank syariah secara yuridis normatif dan yuridis empiris diakui keberadaannya di Negara Republik Indonesia. Pengakuan secara yuridis normatif tercatat dalam peraturan perundang-undangan(Wibowo dan widodo, 2005 : 36), diantaranya:

1. Undang No.10 Tahun 1998 tentang perubahan atas Undang-Undang No.7 Tahun 1992 tentang perbankan.

2. Undang No.23 Tahun 1999 tentang bank central. Undang-Undang ini memberi peluang bagi BI untuk menerapkan kebijakan moneter berdasarkan prinsip-prinsip syariah.

3. Surat keputusan direksi bank Indonesia No.32/33/KEP/DIR Tanggal 12 Mei 1999 tentang bank umum dan surat keputusan direksi bank Indonesia No.32/34/KEP/DIR Tanggal 12 Mei 1999 tentang bank umum berdasarkan prinsip syariah. Kedua peraturan perundang-undangan ini mengatur kelembagaan bank syariah yang meliputi pengaturan tata cara pendirian, kepemilikan, kepengurusan, dan kegiatan usaha bank.

4. Peraturan bank Indonesia No.2/7/PBI/2000 Tanggal 23 Februari 2000 tentang giro wajib minimum peraturan bank Indonesia No.2/4/PBI/2000 Tanggal 11 Februari tentang perubahaan atas peraturan bank Indonesia No.1/3/PBI/1999 Tanggal 13 Agustus 1999 tentang penyelenggaraan kliring lokal dan penyelesaian akhir transaksi pembayaran antarbank atas hasil kliring lokal, peraturan bank Imdonesia No.2/8/PBI/2000

(5)

Tanggal 23 Februari 2000 tentang pasar uang antarbank berdasarkan prinsip syariah, dan peraturan bank Indonesia No.2/9/PBI/2000 Tanggal 23 Februari 2000 tentang sertifikat Wadi’ah bank Indonesia. Peraturan perundang-undangan tersebut mengatur tentang likuiditas dan instrumen moneter yang sesuai dengan prinsip syariah.

5. Ketentuan-ketentuan yang dikeluarkan oleh Bank for International Settlement (BIS) yang berkedudukan di Basel, Swiss yang dijadikan acuan oleh perbankan Indonesia untuk mengatur pelaksanaan prinsip kehati-hatian (Prudential Banking Regulations).

6. Peraturan lainnya yang diterbitkan oleh bank Indonesia dan lembaga lain sebagai pendukung operasi bank syariah yang meliputi ketentuan berkaitan dengan pelaksanaan tugas bank sentral, ketentuan standar akuntansi dan audit, ketentuan pengaturan perselisihan perdata antara dengan nasabah (arbitrase muamalah), standardisasi fatwa produk bank syariah, dan peraturan pendukung lainnya.

Selain itu, pengakuan secara yuridis empiris dapat dilihat perbankan syariah tumbuh dan berkembang pada umumnya di seluruh Ibukota provinsi dan Kabupaten di Indonesia, bahkan beberapa bank konvensional dan lembaga keuangan lainnya membuka unit usaha syariah (bank syariah, asuransi syariah, pegadaian syariah, dan semacamnya). Pengakuan secara yuridis dimaksud memberi peluang tumbuh dan berkembang secara luas kegiatan perbankan syariah, termasuk memberi kesempatan kepada bank umum(konvensional) untuk membuka kantor cabang yang khusus

(6)

melakukan kegiatan usaha berdasarkan prinsip syariah. (Zainuddin Ali, 2008:2)

2.2.3. Prinsip-Prinsip Bank Syariah

Dalam Undang-Undang No.10 tahun 1998 disebutkan bahwa bank syariah adalah bank umum yang melaksanakan kegiatan usaha berdasarkan prinsip syariah yang dalam kegiatannya memberikan jasa dalam lalu lintas pembayaran (Sutedi, 2009:32). Dalam menjalankan aktivitasnya, bank syariah menganut prinsip-prinsip sebagai berikut:

1. Prinsip Keadilan

Prinsip keadilan tercermin dari penerapan imbalan atas dasar bagi hasil dan pengambilan keuntungan yang disepakati bersama antara bank dengan nasabah.

2. Prinsip Kesederajatan

Bank syariah menempatkan nasabah penyimpan dana, nasabah pengguna dana, maupun bank pada kedudukan yang sama dan sederajat. Hal ini tercermin dalam hak, kewajiban, risiko, dan keuntungan yang berimbang antara nasabah penyimpan dana, nasabah pengguna dana, maupun bank.

3. Prinsip Ketentraman

Produk-produk bank syariah telah sesuai dengan prinsip dan kaidah muamalah Islam, antara lain tidak adanya unsur riba serta penerapan zakat harta. Dengan demikian, nasabah akan merasakan ketentraman lahir maupun batin.

(7)

2.2.4. Fungsi Utama Bank Syariah

Bank syariah memiliki tiga fungsi utama yaitu menghimpun dana dari masyarakat dalam bentuk titipan dan investasi, menyalurkan dana kepada masyarakat yang membutuhkan dana dari bank, dan juga memberikan pelayanan dalam bentuk jasa perbankan syariah. Dan lebih jelasnya dapat dilihat pada gambar berikut ini :

Gambar 2.1. Fungsi Bank Syariah

Sumber : Ismail (2011 : 39)

2.2.4.1. Penghimpun Dana Masyarakat

Fungsi bank syariah yang pertama yaitu menghimpun dana dari masyarakat yang kelebihan dana. Bank syariah menghimpun dana dari masyarakat dalam bentuk titipan dengan menggunakan akad al-Wadiah dan dalam bentuk investasi dengan menggunakan akad

al-Mudharabah. Al-Wadiah adalah akad antara pihak pertama

(masyarakat) dengan pihak kedua (bank), dimana pihak pertama menitipkan dananya kepada bank, bank menerima titipan untuk dapat memanfaatkan titipan pihak pertama dalam transaksi yang diperbolehkan dalam Islam. Al-Mudharabah merupakan akad antara pihak yang memiliki dana kemudian menginvestasikan dananya atau disebut juga dengan shahibul maal dengan pihak kedua atau bank

Bank Syariah

(8)

yang menerima dana yang disebut juga dengan mudharib, yang mana pihak mudharib dapat memanfaatkan dana yang diinvestasikan oleh shahibul maal untuk tujuan tertentu yang diperbolehkan dalam syariah Islam.

Masyarakat mempercayai bank syariah sebagai tempat yang aman untuk melakukan investasi, dan menyimpan dana (uang). Masyarakat yang kelebihan dana membutuhkan keberadaan bank syariah untuk menitipkan dananya atau menginvestasikan dananya dengan aman. Keamanan atas dana(uang) yang dititipkan atau diinvestasikan di bank oleh masyarakat merupakan faktor yang sangat penting yang menjadi pertimbangan. Masyarakat akan merasa lebih aman apabila uangnya diinvestasikan di bank syariah. Dengan menyimpan uangnya di bank, nasabah juga akan mendapat keuntungan berupa return atas uang diinvestasikan yang besarnya tergantung kebijakan masing-masing bank syariah serta tergantung pada hasil yang diperoleh bank syariah.

Return merupakan imbalan yang diperoleh nasabah atas sejumlah dana yang diinvestasikan di bank. Imbalan yang diberikan oleh bank bisa dalam bentuk bonus dalam hal dananya dititipkan dengan menggunakan akad al-Wadiah, dan bagi hasil dalam hal dana yang diinvestasikan menggunakan akad al-Mudharabah. Dalam menghimpun dana pihak ketiga; giro wadiah, tabungan wadiah, tabungan mudharabah, dan deposito mudharabah, serta investasi

(9)

syariah lainnya diperkenankan sesuai dengan sistem operasional bank syariah.(Ismail, 2011 : 39-40)

2.2.4.2. Penyaluran Dana Kepada Masyarakat

Fungsi bank syariah yang kedua yaitu menyalurkan dana kepada masyarakat yang membutuhkan (user of fund). Masyarakat dapat memperoleh pembiayaan dari bank syariah asalkan dapat memenuhi semua ketentuan dan persyaratan yang berlaku. Menyalurkan dana merupakan aktivitas yang sangat penting bagi bank syariah. Bank syariah akan memperoleh return atas dana yang disalurkan. Return atau pendapatan yang diperoleh bank atas penyaluran dana ini tergantung pada akadnya.

Bank menyalurkan dana kepada masyarakat dengan menggunakan bermacam-macam akad, antara lain akad jual beli dan akad kemitraan atau kerja sama usaha. Dalam akad jual beli, maka return yang diperoleh bank atas penyaluran dananya adalah dalam bentuk margin keuntungan. Margin keuntungan merupakan selisih antara harga jual beli kepada nasabah dan harga beli bank. Pendapatan yang diperoleh dari aktivitas penyaluran dana kepada nasabah yang menggunakan akad kerja sama usaha adalah bagi hasil.

Kegiatan penyaluran dana kepada masyarakat, merupakan aktivitas yang dapat menghasilkan keuntungan berupa pendapatan margin keuntungan dan bagi hasil, juga untuk memanfaatkan dana yang idle (idle fund). Bank telah membayar sejumlah tertentu atas

(10)

dana yang telah dihimpunnya. Pada akhir bulan atau pada saat tertentu bank akan mengeluarkan biaya atas dana yang telah dihimpun dari masyarakat yang telah menginvestasikan dananya di bank. Bank tidak boleh membiarkan dana masyarakat mengendap. Dana nasabah investor harus segera disalurkannya kepada masyarakat yang membutuhkan agar memperoleh pendapatan.

Pembiayaan bank syariah dibagi menjadi beberapa jenis, antara lain: 1. Transaksi bagi hasil dalam bentuk mudharabah dan musyarakah.

Mudharabah merupakan kontrak antara dua pihak atau lebih yang mana satu pihak sebagai shahibul maal dan pihak lain sebagai mudharib. Musyarakah merupakan kontrak antara dua pihak atau lebih yang mana semua pihak merupakan partner dan mengikutsertakan modal dalam usaha yang dijalankan.

2. Transaksi sewa menyewa dalam bentuk ijarah atau sewa beli dalam bentuk ijarah muntahiya bittamlik.

3. Transaksi jual beli dalam bentuk piutang murabahah, salam, dan istishna.

4. Transaksi pinjam meminjam dalam bentuk piutang qardh.

5. Transaksi sewa menyewa jasa dalam bentuk ijarah untuk transaksi multijasa.

(11)

2.2.4.3. Pelayanan Jasa Bank

Bank syariah, disamping menghimpun dana dan menyalurkan dana kepada masyarakat, juga memberikan pelayanan jasa perbankan. Pelayanan jasa bank syariah ini diberikan dalam rangka memenuhi kebutuhan masyarakat dalam menjalankan aktivitasnya. Pelayanan jasa kepada nasabah merupakan fungsi bank syariah yang ketiga. Berbagai jenis produk pelayanan jasa yang dapat diberikan oleh bank syariah antara lain jasa pengiriman uang (transfer), pemindahbukuan, penagihan surat berharga, kliring, letter of credit, inkaso, garansi bank, dan pelayanan jasa bank lainnya.

Aktivitas pelayanan jasa, merupakan aktivitas yang diharapkan oleh bank syariah untuk dapat meningkatkan pendapatan bank yang berasal dari fee atas pelayanan jasa bank. Beberapa bank berusaha untuk meningkatkan teknologi informasi agar dapat memberikan pelayanan jasa yang memuaskan nasabah. Pelayanan yang dapat memuaskan nasabah ialah pelayanan jasa yang cepat dan akurat. Harapan nasabah dalam pelayanan jasa bank ialah kecepatan dan keakuratannya. Bank syariah berlomba-lomba untuk berinovasi dalam meningkatkan kualitas produk layanan jasanya. Dengan pelayanan jasa, bank syariah mendapat imbalan berupa fee yang disebut fee based income. (Ismail, 2011 : 42-43)

(12)

2.2.5.Tujuan Bank Syariah

Bank syariah memiliki tujuan yang lebih luas dibandingkan dengan bank konvensional, berkaitan dengan keberadaannya sebagai institusi komersial dan kewajiban moral yang disandangnya. Selain bertujuan meraih keuntungan sebagaimana layaknya bank konvensional pada umumnya, bank syariah juga bertujuan sebagai berikut : (Wibowo dan Widodo, 2005 : 37) 1. Menyediakan lembaga keuangan perbankan sebagai sarana

meningkatkan kualitas kehidupan sosial ekonomi masyarakat. Pengumpulan modal dari masyarakat dan pemanfaatannya kepada masyarakat diharapkan dapat mengurangi kesenjangan sosial guna tercipta peningkatan pembangunan nasional yang semakin mantap. Metode bagi hasil akan membantu orang yang lemah permodalannya untuk bergabung dengan bank syariah untuk mengembangkan usahanya. Metode bagi hasil ini akan memunculkan usaha-usaha baru dan pengembangan usaha yang telah ada sehingga dapat mengurangi pengangguran.

2. Meningkatnya partisipasi masyarakat benyak dalam proses pembangunan karena keengganan sebagian masyarakat untuk berhubungan dengan bank yang disebabkan oleh sikap menghindari bunga telah terjawab oleh bank syariah. Metode perbankan yang efisien dan adil akan menggalakkan usaha ekonomi kerakyatan.

3. Membentuk masyarakat agar berfikir secara ekonomis dan berperilaku bisnis untuk meningkatkan kualitas hidupnya.

(13)

4. Berusaha bahwa metode bagi hasil pada bank syariah dapat beroperasi, tumbuh, dan berkembang melebihi bank-bank dengan metode lain. 2.3. Perbedaan Bank Syariah dan Bank Konvensional

Bank syariah merupakan bank yang dalam sistem operasionalnya tidak menggunakan sistem bunga, akan tetapi menggunakan prinsip dasar sesuai dengan syariah Islam. Dalam menentukan imbalannya, baik imbalan yang diberikan maupun diterima, bank syariah tidak menggunakan sistem bunga, akan tetapi menggunakan konsep imbalan sesuai dengan akad yang diperjanjikan.(Ismail, 2011 : 34)

(14)

Tabel 2.1

Perbedaan antara Bank Syariah dan Bank Konvensional

No Bank Syariah Bank Konvensional

1 Investasi, hanya untuk proyek dan produk yang halal serta menguntungkan.

Investasi, tidak mempertimbangkan halal atau haram asalkan proyek yang dibiayai menguntungkan.

2 Return yang dibayar atau diterima berasal dari bagi hasil atau pendapatan lainnya berdasarkan prinsip syariah.

Return baik yang dibayar kepada nasabah penyimpan dana dan Return yang diterima dari nasabah pengguna dana berupa bunga.

3 Perjanjian dibuat dalam bentuk akad sesuai dengan syariah Islam.

Perjanjian menggunakan hukum positif.

4 Orientasi pembiayaan, tidak hanya untuk keuntungan akan tetapi juga falah oriented, yaitu berorientasi pada kesejahteraan masyarakat.

Orientasi pembiayaan, untuk memperoleh keuntungan atas dana yang dipinjamkan.

5 Hubungan antara bank dan nasabah adalah mitra.

Hubungan antara bank dan nasabah adalah kreditor dan debitur.

6 Dewan pengawas terdiri dari BI, Bapepam, Komisaris, dan Dewan Pengawas Syariah(DPS).

Dewan pengawas terdiri dari BI, Bapepam, dan Komisaris.

7 Penyelesaian sengketa, diupayakan diselesaikan secara musyawarah antara bank dan nasabah, melalui peradilan agama.

Penyelesaian sengketa melalui pengadilan negeri setempat.

Sumber : Ismail (2011 : 38) 2.4.Produk Bank Syariah

Pada dasarnya, produk yang ditawarkan oleh perbankan syariah dapat dibagi menjadi dua bagian, yaitu :

(15)

2.4.1 Produk Penyaluran Dana

Dalam menyalurkan dananya pada nasabah, secara garis besar produk pembiayaaan syariah terbagi ke dalam empat kategori yang dibedakan berdasarkan tujuan penggunaannya, yaitu: (karim, 2006:97)

1. Pembiayaan dengan prinsip jual-beli 2. Pembiayaan dengan prinsip sewa 3. Pembiayaan dengan prinsip bagi hasil

Pembiayaan dengan prinsip jual-beli ditujukan untuk memiliki barang, sedangkan yang menggunakan prinsip sewa ditujukan untuk mendapatkan jasa. Prinsip bagi hasil digunakan untuk usaha kerja sama yang ditujukan guna mendapatkan barang dan jasa sekaligus.

1. Prinsip jual-beli (Ba’i)

Prinsip jual-beli dilaksanakan sehubungan dengan adanya perpindahaan barang atau benda (transfer of property). Tingkat keuntungan bank ditentukan di depan dan menjadi bagian harga atas barang yang dijual. Transaksi jual-beli dapat dibedakan berdasarkan bentuk pembayarannya dan waktu penyerahaan barangnya, yakni sebagai berikut:

a. Pembiayaan Murabahah

Murabahah, yang berasal dari kata ribhu (keuntungan), adalah transaksi jual-beli dimana bank menyebut jumlah keuntungannya. Bank bertindak sebagai penjual, sementara nasabah sebagai pembeli. Harga jual adalah harga beli bank dari pemasok ditambah keuntungan (margin). (karim, 2006:98)

(16)

Kedua belah pihak harus menyepakati harga jual dan jangka waktu pembayaran. Harga jual dicantumkan dalam akad jual beli dan jika telah disepakati tidak dapat berubah selama berlakunya akad. Dalam perbankan, murabahah selalu dilakukan dengan cara pembayaran cicilan (bi tsaman ajil, atau muajjal). Dalam transaksi ini barang diserahkan segera setelah akad, sementara pembayaran dilakukan secara tangguh/cicilan. ( Ibid :98)

b. Pembiayaan Salam

Salam adalah transaksi jual beli di mana barang yang diperjualbelikan belum ada. Oleh karena itu, barang diserahkan secara tangguh sementara pembayaran dilakukan tunai. Bank bertindak sebagai pembeli, sementara nasabah sebagai penjual. Dalam transaksi ini kuantitas, kualitas, harga, dan waktu penyerahan barang harus ditentukan secara pasti. (karim, 2006 : 99) c. Pembiayaan Istishna’

Produk Istishna’ menyerupai produk salam, tapi dalam Istishna’ pembayarannya dapat dilakukan oleh bank dalam beberapa kali pembayaran. Ketentuan umum pembiayaan Istishna’ adalah spesifikasi barang pesanan harus jelas seperti jenis, macam ukuran, mutu dan jumlahnya. Harga jual yang telah disepakati dicantumkan dalam akad istishna’ dan tidak boleh berubah selama berlakunya akad. (karim, 2006 : 100)

(17)

2. Prinsip sewa (Ijarah)

Transaksi ini dilandasi adanya perpindahaan manfaat. Jadi pada dasarnya prinsip ijarah sama saja dengan prinsip jual beli, tapi perbedaanya terletak pada objek transaksinya. Bila pada jual beli objek transaksinya adalah barang, pada ijarah objek transaksinya adalah jasa. (Ibid : 101)

3. Prinsip bagi hasil (syirkah)

Produk pembiayaan syariah yang didasarkan atas prinsip bagi hasil adalah sebagai berikut.

a. Pembiayaan Musyarakah

Bentuk umum dari usaha bagi hasil adalah musyarakah (syirkah atau syarikah). Transaksi musyarakah dilandasi adanya keinginan para pihak yang bekerja sama untuk meningkatkan nilai aset yang mereka miliki secara bersama-sama. Semua bentuk usaha yang melibatkan dua pihak atau lebih di mana mereka secara bersama-sama memadukan seluruh bentuk sumber daya baik yang berwujud maupun tidak berwujud.(Ibid : 102)

b. Pembiayaan Mudharabah

Secara spesifik terdapat bentuk musyarakah yang populer dalam produk perbankan syariah yaitu mudharabah. Mudharabah adalah bentuk kerja sama antara dua atau lebih pihak dimana pemilik modal (shahib al-maal) mempercayakan sejumlah modal kepada pengelola (mudharib) dengan suatu perjanjian pembagian

(18)

keuntungan. Bentuk ini menegaskan kerja sama dalam paduan kontribusi 100% modal kas dari shahib al-maal dan keahlian dari mudharib.( Ibid : 103)

2.4.2 Penghimpunan Dana

Penghimpunan dana di bank syariah dapat berbentuk giro, tabungan dan deposito. Prinsip operasional syariah yang diterapkan dalam penghimpunan dana masyarakat adalah prinsip wadi’ah dan mudharabah.

1. Prinsip Wadi’ah

Prinsip wadi’ah yang diterapkan adalah wadi’ah yad dhamanah yang diterapkan pada produk rekening giro. Wadi’ah dhamanah berbeda dengan wadi’ah amanah. Dalam wadi’ah amanah, pada prinsipnya harta titipan tidak boleh dimanfaatkan oleh yang dititipi. Sementara itu, dalam wadi’ah dhamanah, pihak yang dititipi (bank) bertanggung jawab atas keutuhan harta titipan sehingga ia boleh memanfaatkan harta titipan tersebut.( karim, 2006 : 107)

2. Prinsip Mudharabah

Dalam mengaplikasikan prinsip mudharabah, penyimpan atau deposan bertindak sebagai shahibul maal (pemilik modal) dan bank sebgai mudharib (pengelola). Dana tersebut digunakan bank untuk melakukan murabahah atau ijarah seperti yang dijelaskan sebelumnya. Dapat pula dana tersebut digunakan bank untuk melakukan mudharabah kedua.( Ibid : 108)

(19)

2.5. Perbedaan Bagi Hasil dengan Riba

Tidak sedikit masyarakat yang menganggap bahwa bagi hasil tidak ada bedanya dengan pemberian/pengambilan bunga sehingga mereka beranggapan bahwa bank syariah dengan bank konvensional sama saja yang membedakan hanya istilah saja. Tentunya pendapat itu tidak benar karena mereka yang berpendapat seperti itu, tingkat pemahaman terhadap bank syariah termasuk dalam operasionalnya masih relatif kurang.

Secara singkat perbedaan – perbedaan antara bunga dengan bagi hasil dapat terlihat pada tabel 2.2.

Tabel 2.2.

Perbedaan Bagi Hasil dengan Bunga

Bagi Hasil Bunga

Penentuan bagi hasil dibuat sewaktu perjanjian dengan berdasarkan kepada untung/rugi.

Penentuan bunga dibuat sewaktu perjanjian tanpa berdasarkan kepada untung/rugi.

Jumlah nisbah bagi hasil berdasarkan jumlah keuntungan yang telah dicapai.

Jumlah persen bunga berdasarkan jumlah uang (modal) yang ada.

Jumlah pemberian hasil keuntungan meningkat sesuai dengan peningkatan keuntungan yang didapat.

Jumlah pembayaran bunga tidak meningkat walaupun jumlah keuntungan berlipat ganda.

Penerimaan/pembagian keuntungan adalah halal

Pengambilan/pembayaran bunga adalah haram

(20)

2.6. Reputasi

Reputasi diartikan sebagai suatu bangunan sosial yang mengayomi suatu hubungan, kepercayaan yang akhirnya akan menciptakan brand image bagi suatu perusahaan. Reputasi yang baik dan terpercaya merupakan sumber keunggulan bersaing suatu bank. Adanya reputasi yang baik dalam sebuah perusahaan bank akan menimbulkan kepercayaan bagi nasabah nya. Suatu kepercayaan adalah pikiran deskriptif oleh seorang mengenai suatu hal.

Reputasi menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah nama baik. Pandangan paling dominan pada literatur menunjukkan bahwa sikap terhadap merek yaitu reputasi atau penyedia jasa lebih merupakan evaluasi keseluruhan jangka panjang dibanding elemen kepuasan.

2.7. Lokasi

Lokasi bank adalah tempat dimana diperjualbelikannya produk perbankan dan pusat pengendalian perbankan. Bank yang terletak dalam lokasi yang strategis sangat memudahkan nasabah dalam berurusan dengan bank.

Secara umum pertimbangan dalam menentukan letak suatu lokasi adalah sebagai berikut :

1. Dekat dengan pasar / konsumen. 2. Tersedia sarana dan prasarana. 3. Dekat dengan pusat pemerintahan. 4. Kemudahan untuk melakukan ekspansi

(21)

2.8. Promosi

Menurut Hasan (2010) Semua aktivitas promosi harus sejalan dengan posisi bank pasar. Ini bukan hanya untuk tema iklan, tetapi juga pemilihan media harus berdasar pada usaha membangun dan penguatan posisi bank. Kegiatan promosi yang terus-menerus dan terencana dapat memecahkan tiga persoalan penting dalam setiap bisnis, tidak terkecuali bank syariah.

1. Informasi produk. Promosi dapat memberikan informasi tentang bauran pemasaran : produk, sistem distribusi, harga, dan manfaat utama yang ditawarkan oleh produk bank syariah.

2. Persepsi masyarakat. Promosi dapat memecahkan persepsi konsumen yang keliru terhadap produk perusahaan yang memasarkannya. Promosi dapat digunakan untuk mengubah atau meluruskan persepsi atau meningkatkan citra bank syariah menjadi nomor 1 di benak masyarakat Indonesia, bahkan tidak mustahil ke seluruh penjuru dunia.

3. Promosi dapat mendorong terjadinya keinginan untuk membeli atau menggunakan merk/produk (buying brand registed), baik secara langsung maupun pada masa yang akan datang.

2.9. Penelitian Terdahulu

Yupitri dan Linda Sari (2012) dalam penelitian yang berjudul “Analisis faktor-faktor yang mempengaruhi non muslim menjadi nasabah bank syariah mandiri”. Dengan menggunakan metode analisis Rank sperman Test yaitu sebuah ukuran hubungan antara dua variabel dengan hasil penelitian menunjukkan bahwa variabel fasilitas(X1) memiliki pengaruh yang sedang yaitu 0,469 terhadap

(22)

nasabah non muslim untuk menjadi nasabah di bank syariah mandiri. Sedangkan, variabel promosi (X2) dan variabel produk (X3) masing-masing memiliki pengaruh yang kuat yaitu 0,730 dan 0,529 terhadap nasabah non muslim untuk menjadi nasabah di bank syariah mandiri.

Hutabarat (2009) dalam penelitiannya yang berjudul “faktor-faktor yang mempengaruhi keputusan masyarakat menjadi nasabah bank syariah di Pekanbaru”. Dengan menggunakan metode analisis yaitu analisis linier berganda, hasil dalam penelitian ini menyimpulkan bahwa secara parsial hanya faktor fasilitas (X1), layanan (X2), produk (X3) memiliki pengaruh terhadap keputusan masyarakat untuk menjadi nasabah bank syariah sementara faktor promosi (X4) tidak berpengaruh secara signifikan. Implikasi hasil penelitian ini bahwa bank syariah telah menjadi pilihan masyarakat karena faktor religius yaitu keinginan untuk menjalankan syariat Islam.

Zia (2011) dalam penelitiannya yang berjudul “analisis faktor-faktor yang mempengaruhi minat menabung di bank syariah kota Lhokseumawe”. Menggunakan metode analisis deskriptif dan deduktif yakni mengumpulkan data secara sistematis dan menginterpretasikan dengan gambar-gambar, dengan hasil penelitian menyimpulkan bahwa masing-masing variabel berpengaruh positif dan signifikan. Hasil penelitian tersebut diantaranya perkembangan perkembangan perbankan syariah yang mengalami peningkatan dari sisi aset, pembiayaan, tabungan, deposito dan jumlah nasabah. Sedangkan variabel keyakinan dan bagi hasil merupakan faktor yang dominan dalam mendorong keputusan menabung di bank syariah kota lhokseumawe.

(23)

Tarigan (2014) dalam penelitiannya yang berjudul “analisis faktor-faktor yang mempengaruhi masyarakat tionghoa Kota Tebing Tinggi menabung di Bank Syariah”. Metode yang dipakai dalam penelitian ini yakni deskriptif eksploratif yang bertujuan menggambarkan fenomena dimana data yang diperoleh dianalisis dengan cara tabulasi, frekuensi, tabulasi silang (cross tab) dan gambar (grafik) dan hasil penelitian ini menyimpulkan bahwa masing-masing variabel berpengaruh positif akan tetapi ada satu variabel yang sangat berpengaruh dominan pada nasabah yakni variabel bagi hasil.

2.10. Kerangka Konseptual

Gambar 2.2. Kerangka Konseptual (dibuat oleh penulis)

Reputasi (X1)

Masyarakat Non Muslim menjadi nasabah pada bank syariah(Y)

(24)

2.11. Hipotesis

Hipotesis adalah jawaban sementara dari permasalahan yang menjadi objek penelitian dimana kebenarannya masih perlu untuk diuji. Maka penulis mengemukakan hipotesis sebagai berikut :

1. Pelayanan berhubungan kuat terhadap masyarakat non muslim menjadi nasabah pada bank syariah.

2. Lokasi berhubungan kuat terhadap masyarakat non muslim menjadi nasabah pada bank syariah.

3. Promosi berhubungan kuat terhadap masyarakat non muslim menjadi nasabah pada bank syariah.

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...

Related subjects :