TINJAUAN PUSTAKA. Gaharu merupakan hasil dari pohon atau kayu dengan famili. Thymeleaceae dan bermarga Aquilaria. Aquilaria malaccensis adalah sumber

14 

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Teks penuh

(1)

TINJAUAN PUSTAKA

Gaharu merupakan hasil dari pohon atau kayu dengan famili Thymeleaceae dan bermarga Aquilaria. Aquilaria malaccensis adalah sumber utamagarwood). Guna menghindari tumbuhan penghasil gaharu di alam tidak punah dan pemanfaatannya dapat lestari maka perlu upaya konservasi, baik

in-situ (dalam habitat) maupun ek-situ (di luar habitat) dan budidaya serta rekayasa untuk mempercepat produksi gaharu dengan teknologi induksi (inokulasi). Sebaran Pohon Gaharu di Asia diantaranya adalah di India, Laos, Burma, Malaysia, Vietnam, dan Indonesia. Sedangkan di Indonesia sendiri Pohon Gaharu tersebar di Pulau Irian, Sumarta, Kalimantan, Sulawesi, Nusa Tenggara, maluku dan sedikit di Jawa bagian Barat. Beberapa jenis tanaman gaharu yang dikenal antara lain Aquilaria malaccensis, A. filaria, A. hirta, A. agalloccha, A. macrophylum dan beberapa jenis lainnya. Saat ini A. Malaccensis merupakan jenis yang paling baik dalam menghasilkan minyak gaharu (Purwanto, 1999).

Secara taksonomi gaharu mempunyai klasifikasi sebagai berikut: Kingdom : Plantae

Divisi : Spermatophyta Sub Divisi : Angiospermae Klass : Magnoliopsida

Ordo : Thymelaeles

Famili : Thymelaeaceae Genus : Aquilaria

(2)

Dalam perdagangan, gaharu dikenal dengan nama agarwood, aloewood

dan eaglewood. Gaharu memiliki 4 kelas mutu yaitu Super, A, B, dan C. Kelas Super digolongkan Gubal Gaharu sedangkan kelas A hingga C disebut Kemedangan. Gubal gaharu memiliki bentuk beragam, berwarna hitamdan sangat wangi. Sedangkan Kemedangan berukuran besar, berwarna coklat hingga coklat kehitaman. Aromanya lebih rendah dari pada Gubal Gaharu (Situmorang, 2005).

Aquilaria malaccensis merupakan salah satu tanaman kehutanan yang telah dikembangkan dengan teknik kultur jaringan. Tanaman ini merupakan salah satu hasil hutan non kayu Indonesia yang memiliki nilai jual yang sangat mahal. Potensi gaharu yang sangat tinggi biasanya berasal dari jenis A. malaccensis, A. hirta, A. macrophylum dll. Dan yang paling tinggi hasil gaharunya adalah jenis A. malaccensis (Sumarna, 2009).

Aquilaria malaccensis memiliki morfologi atau ciri-ciri fisiologi yang sangat unik, dimana tinggi pohon ini mencapai 40 meter dengan diameter 60 cm. Pohon ini memiliki permukaan batang licin, warna keputihan, kadang beralur dan kayunya agak keras. Tanaman ini memiliki bentuk daun lonjong agak memanjang, panjang 6-8 cm, lebar 3-4 cm, bagian ujung meruncing. Daun yang kering berwarna abu-abu kehijaun, agak bergelombang, melengkung, permukaan daun atas-bawah licin dan mengkilap, tulang daun sekunder 12-16 pasang. Tanaman ini memiliki bunga yang terdapat diujung ranting, ketiak daun, kadang-kadang di bawah ketiak daun. Berbentuk lancip, panjang sampai 5 mm. Dan buahnya berbentuk bulat telor, tertutup rapat oleh rambut-rambut yang berwarna merah. Biasanya memiliki panjang hingga 4 cm lebar 2,5 cm (Biro Pusat Statistik, 2004).

(3)

Aquilaria malaccensis sesuai ditanam di antara kawasan dataran rendah hingga ke pergunungan pada ketinggian 0 – 750 meter dari permukaan laut dengan curah hujan kurang dari 2000 mm/Thn. Suhu yang sesuai adalah antara 27°C hingga 32°C dengan kadar cahaya matahari sebanyak 70%. Kesesuaian tanah adalah jenis lembut dan liat berpasir dengan pH tanah antara 4.0 hingga 6.0 dan biji yang berkualitas baik amat penting untuk tujuan pembenihan. Buah A. malaccensis berbentuk kapsul, dengan panjang 3.5 cm hingga 5 cm, ovoid dan berwarna coklat. Kulitnya agak keras dan berbaldu. Mengandung 3 hingga 4 biji benih bagi setiap buah (Sumarna, 2009).

Pupuk daun Gandasil D merupakan pupuk anorganik yang dirancang sebagai makanan seimbang yang lengkap dengan unsur hara makro (N, P, K Ca, Mg ,dan S) dan mikro (B, Fe, Mn, Cu, Zn, Mo, Co, dan Cl) untuk berbagai jenis tanaman (Lingga dan Marsono, 2001). Selain itu dikatakan pula oleh Hasan ( 1997) bahwa pupuk ini juga mengandung antibiotik (pemusnah kuman) serta vitamin yang berfungsi mengaktifkan sel-sel yang rusak atau mati, mendorong pertumbuhan sel-sel baru, merangsang pertumbuhan batang, daun lebih menghijau serta bunga lebih meningkat. aplikasi naungan (misalnya paranet) sangat diperlukan. Pengaturan tingkat kerapatan naungan diperlukan untuk mengatur intensitas cahaya sesuai dengan kebutuhan bibit. Kebutuhan cahaya setiap jenis akan berbeda. Pada jenis yang membutuhkan cahaya, naungan yang terlalu rapat akan menyebabkan terjadinya etiolasi, sedangkan naungan yang kurang akan menyebabkan kurangnya perlindungan tanaman (bibit) dari sinar matahari langsung, curah hujan yang tinggi, angin serta fluktuasi suhu yang ekstrim (Schmidt, 2002).

(4)

Manfaat Gaharu

Gaharu mengandung essens yang disebut sebagai minyak essens (essential oil) yang dapat dibuat dengan eksraksi atau penyulingan dari gubal gaharu. Essens gaharu ini digunakan sebagai bahan pengikat (fixative) dari berbagai jenis parfum, kosmetika dan obat-obatan herbal. Selain itu, serbuk atau abu dari gaharu digunakan sebagai bahan pembuatan dupa/hio dan bubuk aroma therapy. Daun pohon gaharu bisa dibuat menjadi teh daun pohon gaharu yang membantu kebugaran tubuh. Senyawa aktif agarospirol yang terkandung dalam daun pohon gaharu dapat menekan sistem syaraf pusat sehingga menimbulkan efek menenangkan, teh gaharu juga ampuh sebagai obat anti mabuk. Ampas dari sulingan minyak dari marga Aquilaria di Jepang dimanfaatkan sebagai kamfer anti ngengat dan juga mengharumkan seluruh isi lemari. Oleh masyarakat tradisional Indonesia, gaharu digunakan sebagai obat nyamuk, kulit atau kayu gaharu dibakar sampai berasap. Aroma harum tersebutlah yang tidak disukai nyamuk (Asgarin, 2004).

Pemanfaatan gaharu yang paling banyak adalah dalam bentuk bahan baku (bongkah kayu, cacahan, habuk). Setiap produk yang dihasilkan memiliki sifat dan warna yang berbeda. Aroma wangi atau harum dengan cara membakar secara sederhana banyak dilakukan oleh masyarakat Timur Tengah (seperti Saudi Arabia, Uni Emirat Arab, Yaman, Oman) menggunakan gaharu untuk mengharumkan tubuh dan ruangan. Sedangkan penggunaan yang lebih bervariasi banyak dilakukan di Cina, Korea seperti bahan baku industri minyak wangi, obat-obatan, kosmetik, dupa, dan pengawet berbagai jenis aksesori serta untuk keperluan kegiatan relijius. Dalam khasana etnobotani di Cina, digunakan sebagai

(5)

obat sakit perut, penghilang rasa sakit, kanker, diare, tersedak, ginjal tumor paru-paru dan lain-lain. Di Eropa, gaharu ini kabarnya diperuntukkan sebagai obat kanker. Di India, gaharu juga dipakai sebagai obat tumor usus. Di samping itu di beberapa Negara seperti Singapura, Cina, Korea, Jepang, dan Amerika Serikat sudah mengembangkan gaharu ini sebagai obat-obatan seperti penghilang stress, gangguan ginjal, sakit perut, asma, hepatitis, sirosis, pembengkakan liver dan limfa. Bahkan Asoasiasi Eksportir Gaharu Indonesia (ASGARIN) melaporkan bahwa Negara-negara di Eropa dan India sudah memanfaatkan gaharu tersebut untuk pengobatan tumor dan kanker. Di Papua, gaharu sudah digunakan secara tradisional oleh masyarakat setempat untuk pengobatan. Mereka mengggunakan bagian-bagian dari pohon penghasil gaharu (daun, kulit batang, dan akar) digunakan sebagai bahan pengobatan malaria. Sementara air sulingang (limbah dari proses destilasi gaharu untuk menghasilkan minyak atsiri) yang sangat bermanfaat untuk merawat wajah dan menghaluskan kulit (Salampesi, 2004).

Dengan seiringnya perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi industri, gaharu pun bukan hanya berguna sebagai bahan untuk industri wangi-wangian saja, tetapi juga secara klinis dapat dimanfaatkan sebagai obat. Gaharu bisa dipakai sebagai obat anti asmatik, anti mikroba, stimulant kerja syaraf dan pencernaan, gaharu selain dibutuhkan sebagai bahan parfum dan kosmetika, juga dapat diproduksi sebagai bahan obat herbal untuk pengobatan stress, rheumatik, liver, radang ginjal dan lambung, bahan antibiotik TBC serta kanker dan tumor. Selain itu gaharu juga sudah dimanfaatkan bukan hanya gubalnya akan tetapi bagian daun, batang, kulit batang dan akarnya juga sudah dimanfaatkan sebagai bahan untuk merawat wajah dan menghaluskan kulit. Daun pohon gaharu bisa

(6)

dibuat menjadi teh daun pohon gaharu yang membantu kebugaran tubuh. Senyawa aktif agarospirol yang terkandung dalam daun pohon gaharu dapat menekan sistem syaraf pusat sehingga menimbulkan efek menenangkan, teh gaharu juga ampuh sebagai obat anti mabuk (Asgarin, 2004).

Kandungan yang terdapat pada Gaharu

Kandungan kimia yang terdapat dalam gaharu memiliki enam komponen utama berupa furanoid sesquiterpen diantaranya a-agarofuran,b-agarofuran dan

agarospirol. Selain itu gaharu juga mengandung minyak berupa chromone.

Chromone biasanya dapat menyebabkan bau harum dari gaharu ketika dibakar. Sementara kandungan minyak atsiri yang banyak dikandung gaharu adalah

sequiterpenoida, cudesmana dan paleman (Sumarna, 2009).

Perdagangan Gaharu

Permintaan pasar terhadap gaharu terus meningkat. Gaharu selama ini diperdagangkan sebagai obat (terutama di Cina dan India), parfum dan dupa (terutama di Jepang, negara-negara arab dan Timur tengah) serta anti serangga di berbagai negara. Ekspor kayu gaharu Indonesia berhasil masuk langsung pasar China setelah pemerintah melalui Kementerian Kehutanan dan pemerintah China sepakat bekerja sama dalam perdagangan langsung kayu gaharu. Untuk mengoptimalkan potensi bisnis ini, pemerintah juga berniat merealisasikan pengembangan hutan budi daya gaharu untuk mendorong produksi gaharu nasional. Mashur, Ketua Umum Asosiasi Gaharu Indonesia, mengatakan volume ekspor kayu gaharu Indonesia ke China mencapai 200-300 ton. Total permintaan

(7)

impor kayu gaharu China diperkirakan mencapai 500 ton per tahun dari total kebutuhan dunia sebesar 4.000 ton per tahun. Permintaan tersebut dipenuhi oleh eksportir Indonesia melalui negara ketiga seperti Taiwan, Hongkong dan Singapura. Sebelumnya Indonesia tidak bisa mengekspor langsung karena hambatan birokrasi perdagangan. Tingginya hambatan untuk ekspor langsung karena pihak ketiga memperoleh margin yang tinggi dari produk ini. Apalagi beberapa varietas gaharu Indonesia memiliki kualitas terbaik yang harganya mencapai Rp 150 juta per kilogram. Di pasar China harganya bisa naik menjadi Rp 400 juta per kilogram akibat panjangnya mata rantai perdagangan. Kondisi iklim yang panas dan kegemaran mengkonsumsi daging membuat tubuh mereka bau menyengat sehingga wangi gaharu digunakan sebagai pangharum (Suhartono dan Mardiastuti, 2003).

Nilai Ekonomi Gaharu

Gaharu banyak diperdagangan dengan harga jual yang sangat tinggi terutama untuk gaharu dari tanaman famili Themeleaceae dengan jenis Aquilariamalaccensis. yang dalam dunia perdangangan disebut sebagai gaharu beringin. Untuk jenis gaharu dengan nilai jual yang relatif rendah, biasanya disebut sebagai gaharu buaya. Selain ditentukan dari jenis tanaman penghasilnya, kualitas gaharu juga ditentukan oleh banyaknya kandungan resin dalam jaringan kayunya. Semakin tinggi kandungan resin di dalamnya maka harga gaharu tersebut akan semakin mahal dan begitu pula sebaliknya. Secara umum perdagangan gaharu digolongkan menjadi tiga kelas besar, yaitu gubal, kemedangan, dan abu. Gubal merupakan kayu berwarna hitam atau hitam

(8)

kecoklatan dan diperoleh dari bagian pohon penghasil gaharu yang memiliki kandungan damar wangi beraroma kuat. Kemedangan adalah kayu gaharu dengan kandungan damar wangi dan aroma yang lemah serta memiliki penampakan fisik berwarna kecoklatan sampai abu-abu, memiliki kasar, dan kayu lunak. Kelas terakhir adalah abu gaharu yang merupakan serbuk kayu hasil pengerokan atau sisa penghancuran kayu gaharu. Sebanyak 2000 ton/tahun gaharu memenuhi pusat perdagangan gaharu di Singapura. Gaharu tersebut 70% berasal dari Indonesia dan 30% dari negara-negara Asia Tenggara lainnya. Hutan alam sudah tidak mampu lagi menyediakan gaharu. Gaharu hasil budidaya merupakan alternatif pilihan untuk mendukung kebutuhan masyarakat dunia secara berkelanjutan.

Nilai ekonomi kayu gaharu banyak diperdagangkan dengan harga jual yang sangat tinggi. terutama untuk gaharu dari tanaman famili Themeleaceae dengan jenis Aquilaria Malaccensis. yang dalam dunia perdangangan disebut sebagai gaharu beringin. Untuk jenis gaharu dengan nilai jual yang relatif rendah, biasanya disebut sebagai gaharu buaya. Semakin tinggi kandungan resin didalamnya maka harga gaharu tersebut akan semakin mahal dan begitu pula sebaliknya.(Sumarna dan Santoso, 2004).

Pemeliharaan Gaharu

Pemeliharaan meliputi penyiraman, penyiangan, pemberian pupuk dan pengendalian hama dan penyakit. Penyiraman dilakukan tergantung pada kebutuhan bibit, penyiangan dilakukan terhadap rumput yang masih kecil-kecil supaya tidak merusak tanaman pokok, pengendalian hama dilakukan dengan cara penyemprotan terhadap bibit apabila tampak ada gejala-gejala penyakit (seperti

(9)

kutu putih di bagian belakang daun atau daun yang dapat mengakibatkan kematian bibit. Pemeliharaan dalam bentuk pendangiran bertujuan untuk mencegah persaingan ruang tumbuh antara tanaman pokok dengan tanaman lainnya dan juga untuk menggemburkan tanah sehingga tanah menjadi lebih dingin dan akar tanaman mendapatkan hawa yang cukup di seputar piringan tanaman (Iriansyah et al, 2006 ).

Peningkatan kualitas Gaharu

Untuk mendapatkan pohon penghasil gubal gaharu yang baik, harus menggunakan bibit dari pohon gaharu potensial yaitu bibit unggul dari pohon inang yang telah terbukti menghasilkan gubal gaharu di alam, artinya sangat dipengaruhi oleh sifat genetik, kemudian diperbanyak sebagai bibit unggul (clone) untuk kepentingan budidaya. Namun demikian produktifitas benih yang rendah menyebabkan kesulitan memperoleh anakan pohon gaharu dalam jumlah banyak di alam, padahal untuk tujuan budidaya yang luas sangat diperlukan bibit berkualitas dalam jumlah yang cukup dan tersedia tepat waktu. Di sisi lain, selama ini bibit yang digunakan berasal dari biji atau semai hutan alam dimana jumlah bibit terbatas, kualitas bibit rendah dan peluang memperoleh gubal gaharu setelah penanaman relatif kecil karena bibit yang dipakai belum tentu berasal dari induk yang berpotensi menghasilkan gubal gaharu (Siran dan Julianty, 2007).

Kendala lain yang umumnya dihadapi adalah tidak semua pohon gaharu menghasilkan buah setiap tahun, belum adanya kebun bibit unggul dan kebun benih serta biji gaharu bersifat rekalsitran, selain itu adanya penebangan pohon induk dewasa di alam oleh pencari gaharu menyebabkan hilangnya sumber benih.

(10)

Rendahnya daya berbunga dan produktifitas berbuah menyebabkan masalah regenerasi secara generatif, sementara itu pembiakan secara vegetatif menggunakan stek dan cangkok membutuhkan bahan induk yang banyak, maka kultur in vitro gaharu menjadi alternatif teknologi perbanyakan gaharu unggul secara missal dan cepat (Sumarna, 2009).

Penetapan harga gaharu di perdagangan internasional didasarkan pada kualitas gaharu tersebut. Makin baik kualitas gaharu maka harga gaharu akan makin mahal begitu juga sebaliknya semakin rendah kualitas gaharu maka harga gaharu akan makin rendah. Parameter yang digunakan dalam penentuan kualitas gaharu adalah warna, kadar resin, kadar minyak, dan ukuran bentuk serpihan (Barder dkk., 2009).

Menurut (Bambang dkk., 1996) semakin hitam warna gaharu semakin tinggi kualitasnya dan biasanya gaharu kualitas ini tenggelam kedalam air. Gaharu kualitas pertama harus memiliki warna paling hitam dan mengkilat. Gaharu yang warnanya hitam dan mengkilat memiliki tingkat kepadatan dan pendamaran lebih tinggi yang menunjukkan kadar resin yang terkandung di dalamnya. Sehubungan dengan kadar resin, makin banyak kadar resin yang terkandung maka kadar harum dan kadar aromanya akan makin tinggi. Begitu juga dengan bentuk dan ukuran, ukuran yang lebih besar akan menunjukkan kualitas gaharu yang lebih baik.

Penentuan kualitas gaharu pada umumnya dilakukan tidak seragam dan dilakukan secara visual saja, sehingga sifatnya lebih subyektif dan kualitas gaharu yang dihasilkan tergantung pada orang yang menentukannya. Untuk menghindari keragaman dari kualitas gaharu Badan Standarisasi Nasional (BSN) menetapkan Standar Nasional Indonesia (SNI) mutu gaharu. Dalam standar diuraikan

(11)

mengenai definisi gaharu, lambing dan singkatan, istilah, spesifikasi, klasifikasi, cara pemungutan, syarat mutu, pengambilan contoh, cara uji, syarat lulus uji dan syarat penandaan. Klasifikasi mutu gaharu terdiri dari gubal gaharu, kemedangan dan abu gaharu. Setiap kelas mutu dibedakan lagi menjadi beberapa sub kelas, berdasarkan ukuran, warna, kandungan dammar wangi, serat, bobot, dan aroma ketika dibakar (Yuliansyah dkk., 2003).

Teknik Budidaya Gaharu

Cara menanam gaharu atau yang lebih sering disebut cara budidaya gaharu sangat menentukan keberhasilan budidaya gaharu di masa mendatang. Cara budidaya ini merupakan fondasi awal keberhasilan hidup gaharu yang ditandai tumbuhnya bibit gaharu menjadi pohon gaharu. Menjadi pertanyaan besar bagi petani yang ingin memulai budidaya gaharu yaitu bagaimana cara menanam yang meliputi tekstur tanah, jenis bibit dan perawatan. Cara menanam gaharu untuk dibudidayakan tidak memerlukan kriteria tanah khusus, yang terpenting tanah tersebut tidak terendam air seperti tanah rawa ataupun tanah sawah. Gaharu dapat ditanam pada ketinggian 0 - 1200 m dpl dan beberapa pengalaman teman, gaharu juga dapat ditanam pada ketinggian lebih dari 1200 mdpl. Ada hal yang paling penting yang harus diperhatikan ketika akan berkecimpung dalam budidaya gaharu ini adalah bahwa pohon gaharu berumur 0-12 bulan setelah ditanam harus mendapat naungan/teduhan sehingga memerlukan perawatan yang ekstra.

System dan pola tanam budidaya Aquilaria Malaccensis

a. Sistem pola tanam gaharu dapat dlakukan secara monokultur pada kondisi seleksi media maupun dengan sistem tumpang sari.

(12)

b. Jarak tanam ideal pola tanam monokultur adalah 2m x 2m x 2m x 3m x 3m x 3m (1000-1600 phn/ha), apabila terpola agroforestry jarak ideal tanam 4m x 5m, 5m x 5m (400 phn/ha).

c. Pengajiran dilakukan untuk menentukan titik letak tanam yang disesuaikan dengan kondisi lahan.

d. Lubang tanam dengan ukuran 40 x 40 x 40 cm dengan masa strerilisasi lubang 1 minggu sebelum waktu tanam.

e. Pemupukan dasar dipandang penting untuk mempercepat laju pertumbuhan bibit. Setiap lubang tanam diberikan penambahan pupuk organik matang dengan perbandingan 3:1

f. Penanaman sebaiknya dilakukan pada saat intensitas sinar matahari tidak terlalu maksimal (jam 6-10 pagi/jam 3-5 sore).

g. Perbanyakan bibit

Secara umum, ada 2 (dua) cara perbanyakan bibit tanaman gaharu, yaitu dengan cara generatif dan vegetatif.

Cara Generatif

Secara generatif (biji), bibit Gaharu dapat diperoleh dari biji maupun secara puteran.

Pembuatan bibit gaharu dari biji, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam pemilihan biji ini, yaitu :

a) Buah yang sudah tua di batang dikumpulkan pada musim buah.

b) Buah yang diperoleh dikeringkan selama beberapa hari dengan cara diangin-anginkan atau dijemur selama 2 (dua) jam pada pagi hari, yaitu antara jam 08.00-10.00.

(13)

c) Biji yang sudah kering ditaruh di dalam karung dan disimpan dengan baik, jangan sampai terkena air, lembab, berjamur atau dimakan serangga dan tikus, sampai waktunya untuk disemaikan.

d) Pembuatan bibit secara puteran

e) Tanaman Gaharu dapat dikembangbiakkan secara alami melalui pemencaran biji. Pohon yang sehat biasanya dapat menghasilkan banyak biji dengan daya kecambah yang cukup tinggi. Umumnya, pohon yang berasal dari biji baru bisa menghasilkan buah setelah berumur ± 8 (delapan) tahun.

f) Anakan gaharu dapat diambil pada awal musim penghujan. Pengambilan anakan ini harus disertai dengan tanah disekitarnya dan dilakukan dengan hati-hati agar akar jangan sampai rusak. Kemudian anakan tersebut ditempatkan di polybag dan dipelihara di bedengan sampai siap untuk ditanam.

Cara Vegetatif

Perbanyakan bibit tanaman gaharu secara vegetatif dapat dengan cangkok, okulasi, stek pucuk dan lain sebagainya. Namun cara vegetatif ini memiliki kelemahan, antara lain :

a) Perakaran tanaman kurang lengkap, sehingga mudah roboh bila tertiup angin kencang.

b) Tanaman kurang tahan menghadapi keadaan kurang air, khususnya di musim kemarau panjang, karena sifat perakarannya yang dangkal dan kurang mampu mengambil air tanah.

Teknik budidaya lainnya dengan cara inokulasi/suntik. Inokulasi adalah proses memasukkan cendawan/atau jamur ke dalam batang tanaman A. malaccensis

(14)

dengan tujuan membentuk resin gaharu. Resin berwarna coklat itu melindungi sel-sel tanaman dari serangan mikroba supaya luka/kerusakan akibat serangan mikroba tidak meluas ke jaringan lain. Namun adanya resin pada jaringan hidup yang terus menumpuk itu justru menutupi dan menghambat fungsi jaringan tanaman untuk pengangkutan unsur hara kebagian tanaman lainnya sehingga berujung pada terbentuknya gaharu dan pada akhirnya tanaman akan mati karena mengalami kekurangan hara. Proses inokulasi dilakukan dengan cara pengeboran batang tanaman pada saat diameter batang 10 cm atau usia pohon sekitar 3 tahun (Yuliansyah dkk., 2003).

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...

Related subjects :