UPAYA MENINGKATKAN HASIL PENJUALAN PADA JOSEMMA BOUTIQUE SEMARANG

105  Download (0)

Teks penuh

(1)

SKRIPSI

Diajukan sebagai salah satu syarat untuk menyelesaikan Program Sarjana (S1)

Fakultas Ekonomi Universitas Semarang

Inneke Putri Pujowati NIM. B.131.15.0596

FAKULTAS EKONOMI UNIVERSITAS SEMARANG

SEMARANG 2019

(2)
(3)
(4)
(5)
(6)
(7)

vii

Semua impian kita bisa terwujud jika kita memiliki keberanian untuk mengejarnya”

PERSEMBAHAN

Untuk kedua orang tua dan kerabat lainnya yang aku sayangi.

Terimakasih atas bantuan, doa dan motivasi yang telah di berikan.

(8)

viii

boutique sales in the period of 2015-2018 . By looking at the existing conflicts, this research is directed at increasing sales results.

This source is used by researchers to check data obtained from josemma boutique, while triangulation techniques are to test the credibility of the data by checking the data to the same source with different techniques. Triangulation techniques are used by researchers after getting the results of interviews which are then checked with the results of observation and documentation. Of the three techniques, of course, it will produce a conclusion: Efforts to Increase Sales Results of Josemma Boutique

The results showed that marketing strategies, quality, promotion, word of mouth, price, interest in buying had a positive and significant effect on increasing sales results. The author's advice is to increase sales through boutique promotions so that customers can find out what is done by improving service quality, maintaining customer satisfaction and pricing that is more in line with customer capabilities. Josemma Boutique needs to maintain the elements that have been valued well by customers and need to improve things that are still less.

Keywords: marketing strategy, quality, promotion, price, wom, buying interest

(9)

ix

boutique pada periode 2015-2018. Dengan melihat permasalahan yang ada, maka penelitian ini diarahkan untuk meningkatkan hasil penjualan.

Sumber ini digunakan oleh peneliti untuk mengecek data yang diperoleh dari pemilik josemma boutique sedangkan triangulasi teknik yaitu untuk menguji kredibilitas data yang dilakukan dengan cara mengecek data kepada sumber yang sama dengan teknik yang berbeda. Triangulasi teknik digunakan oleh peneliti setelah mendapatkan hasil wawancara yang kemudian dicek dengan hasil observasi dan dokumentasi. Dari ketiga teknik tersebut tentunya akan menghasilkan sebuah kesimpulan Upaya Meningkatkan Hasil Penjualan Josemma Boutique

Hasil penelitian menunjukkan strategi pemasaran, kualitas, promosi, harga, wom, minat beli memiliki pengaruh yang positif dan signifikan terhadap peningkatan hasil penjualan. Saran penulis adalah untuk meningkatkan penjualan melalui promosi butik supaya pelanggan dapat mengetahui yang dilakukan dengan cara meningkatkan kualitas pelayanan, menjaga kepuasaan pelanggan dan penetapan harga yang lebih sesuai dengan kemampuan pelanggan. Josemma Boutique perlu mempertahankan elemen-elemen yang sudah dinilai baik oleh pelanggan serta perlu memperbaiki hal-hal yang msih kurang.

Kata kunci : strategi pemasaran, kualitas, promosi, harga, wom, minat beli

(10)

x

kurnia yang telah diberikannya kepada penulis sehingga penulis dapat menyelesaikan penulisan skripsi yang berjudul : “Upaya Meningkatkan Hasil Penjualan Pada Josemma Boutique Semarang”dapat diselesaikan dengan baik adapun tujuan dari penyusunan skripsi ini adalah untuk memenuhi salah satu syarat menyelesaikan program strata satu (Sarjanan) pada Fakultas Jurusan Manajemen Universitas Semarang

Dalam penelitian ini menyadari bahwa penyelesaian skripsi ini tidak terlepas dari bantuan, bimbingan, petunjuk dan saran dari semua pihak. Oleh karena itu, penulis ingin menyempaikan rasa hormat dan terimkasih yang sebesar- besarnya kepada :

1. Tuhan Yang Maha Esa, yang telah memberi petunjuk dan Kurnia-Nya kepada penulis hingga terselesaikan skripsi ini

2. Bapak Andy Kridasusila, SE,MM, selaku Rektor Universitas Semarang

3. Bapak Yohanes Suhardjo, SE,MM, Akt. Selaku Dekan Fakultas Ekonomi Universitas Semarang

4. Bapak Drs.Witjaksono E.H,MM, selaku Dosen Wali yang telah memberi bimbingan dan bantuan kepada penulis selama perkuliahan hingga terselesaikannya studi di Universitas Semarang

5. Ibu Dra. Nur Hidayati, M.M, selaku Dosen Pembimbing yang telah banyak meluangkan waktu disela- sela kesibukanya untuk memberikan

(11)

xi

6. Segenap Pemilik dan Karyawan Josemma Boutique, karena telah memberikan ijin untuk melakukan riset untuk penyusunan skripsi ini.

7. Kedua orang tua, Ayahanda tercinta Adi Pujono, ibunda tersayang Suharni dan kakak tersayang Dewi, Retno, Pramudya yang telah memberikan dukungan moril serta doa yang tiada henti-hentinya kepada penulis.

8. Kepada yang spesial Maulana Rian Afandi , yang selalu memberikan doa dan semangat dalam menjalani kehidupan.

9. Kepada teman tersayang Siska, Ambar, Anggitha, Ririn yang selalu membantu memberikan semangat tiada henti-hentinya.

10. Dan semua pihak yang tidak dapat disebutkan satu persatu yang telah membantu memberikan dukungan kepada peneliti.

Penulismenyadaribahwadalampenulisanskripsiinimasihjauh dari sempurna.Olehkarenaitu,segalakritikdan saranyang sifatnyamembangunakan menyempurnakan penulisan skripsiinisertabermanfaat bagipenulis, danbagi penelitianselanjutnya.

Semarang, 2Agustus 2019 Penulis

(12)

xii

HALAMAN JUDUL... i

HALAMAN PERSETUJUAN LAPORAN SKRIPSI ... ii

HALAMAN PENGESAHAN LAPORAN SKRIPSI... iii

HALAMAN PENGESAHAN REVISI SKRIPSI... iv

HALAMAN PENGESAHAN KELULUSAN SKRIPSI... v

HALAMAN PERNYATAAN ORISINALITAS SKRIPSI... vi

HALAMAN MOTTO DAN PERSEMBAHAN... vii

ABSTRACT... viii

ABSTRAK ... ix

KATA PENGANTAR ... x

DAFTAR ISI... xii

DAFTAR TABEL... xiv

DAFTAR GAMBAR ... xv

DAFTAR LAMPIRAN ... xvi

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah ... 1

1.2. Rumusan Masalah ... 3

1.3. Tujuan Penelitian... 4

1.4. Manfaat Penelitian ... 4

BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Telaah Literatur ... 5

2.1.1 Pengertian Pemasaran ... 5

2.1.2 Bauran Pemasaran ... 7

2.1.3 Penjualan ... 16

2.1.4 Bauran Promosi... 19

2.1.5 Wort of Mouth ... 20

2.1.6Pelayanan ... 21

2.1.7 Perilaku Konsumen ... 22

2.2. Hasil Penelitian Sebelumnya ... 29

2.3. Alur Penelitian ... 32

(13)

xiii

3.3. Tempat dan Waktu Penelitian ... 35

3.4. Subyek dan Objek Penelitian ... 35

3.5. Metode Pengumpulan Data ... 36

3.5.1 Observasi ... 37

3.5.2 Wawancara ... 38

3.5.3 Dokumentasi ... 38

3.6 Teknik Analisis Data ... 38

3.7Narasi ...39

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1. Deskripsi Objek Penelitian ... 41

4.1.1 Sejarah Singkat Josemma Boutique ... 41

4.2 Profil dan informan kunci... 41

4.3 Gambaran penelitian pembahasan ... 42

4.3.1 Hasil wawancara dengan pemilik ... 43

4.3.2 Hasil wawancara dengan tenaga penjualan pertama ... 47

4.3.3Hasil wawancara dengan tenaga penjualan kedua ... 49

4.3.4Hasil wawancara dengan konsumen pertama... 52

4.3.5Hasil wawancara dengan konsumen kedua ... 55

4.3.6Hasil wawancara dengan konsumen ketiga... 57

4.3.7Hasil wawancara dengan konsumen keempat ... 60

4.5 Pembahasan ... 69

BAB V PENUTUP 5.1 Kesimpulan ... 74

5.2 Saran ... 75

5.3 Keterbatasan Penelitian ... 76

5.4 Agenda Penelitian Selanjutnya... 76

DAFTAR PUSTAKA ... 78

LAMPIRAN... 80

(14)

xiv

Nomor Tabel Judul Tabel Hal

Tabel 1.1 Data Hasil Penjualan Josemma Boutique... I-2 Tabel 3.4 Daftar Nama Informan……... III-35 Tabel 4.1 Daftar Nama Informan……... IV-41 Tabel 4.2 Kategori Data…...…... IV-63 Tabel 4.4 Klasterisasi Kategori…...………... IV-65 Tabel 4.5 Pengidentifikasi Pola dan Konsep……...………... IV-66

(15)

xv

Nomor GambarJudul Gambar Hal

Gambar 2.1 Alur Penelitian ... . II-31

(16)

xvi Lampiran 2Foto Wawancara dengan Informan Lampiran 3Daftar Riwayat Hidup

Lampiran 4 Lembar Konsultasi Bimbingan Skripsi

(17)

1 1.1 Latar Belakang Masalah

Pada masa sekarang ini dunia usaha memasuki era globalisasi, dimana semua pihak bebas memasuki pasar mana yang akan dikehendaki. Dalam hal itu perusahaan harus pintar memanfaatkan situasi dan kondisi dalam mengembangkan keberhasilan usahanya,Pemasaran yang aktif lebih berorientasi pada konsumen yang dilakukan oleh para pengusaha dalam usahanya untuk mempertahankan kelangsungan hidup perusahaan, melihat kondisi persaingan yang semakin ketat setiap bisnis perlu meningkatkan kekuatan yang ada dalam perusahaanya dengan cara memunculkan perbedaan atau keunikan yang dimiliki perusahaan dibandingkan dengan pesaing untuk dapat memberikan kepuasan serta menarik minat konsumen.

Dalam kebutuhan pada saat ini bisnis pakaian merupakan bisnis yang sangat diminati. Kebutuhan dalam berpakaian merupakan kebutuhan primer setiap orang, pakaian juga dapat meningkatkan rasa percaya diri seseorang dan pakaian juga dapat membuat seseorang lebih terlihat modis dan menarik. Bisnis penjualan pakaian sekarang ini semakin berkembang pesat sepanjang berubahnya model dan gaya setiap waktunya.

Seperti halnya dalam penelitian ini, peneliti mengambil studi pada penjualan produk fashion wanitapadaJosemma Boutique yang bertempat di Jl. Raya Genuk Kudu Banjardowo Semarang. Usaha ini beroperasi sejak 2015 dan sampai sekaran

(18)

masih beroperasi. Josemma Boutique salah satu bisnis baju fashion wanita dengan produk-produk baju fashion dengan menonjolkan keberagaman produk dan keunikan yang berbeda dengan bisnis fashion yang lain yang mempunyai penggemar setia pada kelasnya. Hal ini dapat dilihat dari tabel data penjualan pada

“Josemma Boutique” selama empat tahun terakhir.

Tabel 1.1

DATA PENJUALAN PADA JOSEMMA BOUTIQUE SEMARANG PERIODE 2015-2018

Tahun Penjualan (pcs) Penjualan(Rp)

2015 1.675 Rp143.605.000

2016 1.492 Rp125.714.000

2017 975 Rp91.170.000

2018 825 Rp84.640.000

Sumber: Rekap laporan penjualan pada Josemma boutique Tahun 2015-2018

Dari tabel 1.1 dapat diketahui terjadinya penurunan penjualan dan mengindikasikan adanya masalah atau penurunan pada Josemma Boutique Semarang. Oleh karenananya perusahaan berupaya melakukan evaluasi internal guna meningkatkan omset penjualanya sehingga mendapatkan hasil penjualan yang diharapkan. Semua perusahaan pasti akan menghadapi kendala dalam meningkatkan penjualanya. Banyak perusahaan yang berusaha menargetkan namun sesungguhnya perusahaan kurang membekali dengan pengetahuan dan

(19)

keterampilan menjual yang mengakibatkan menurunya performa dan hasil yang dicapai. Hal ini tentunya akan membawa dampak bagi perusahaan sehingga perusahaan tidak memperoleh profit maksimal.

Berdasarkan uraian diatas, memotivasi penyusun untuk meneliti masalah ini melalui suatu penelitian untuk mengetahui penyebab penurunan hasil penjulan pada Josemma Boutique Semarang. Dan untuk kepentingan penelitian maka peneliti merumuskan judul penelitian“UPAYA MENINGKATKAN HASIL PENJUALAN PADA JOSEMMA BOUTIQUE, SEMARANG”.

1.2. Perumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah yang telah diuraikan diatas maka masalah dalam penelitian ini adalah pada penjualan Josemma Boutique Semarang pada periode tahun 2015-2018 penjualan yang dilakukan oleh Josemma Boutique Semarang mengalami penurunan penjualan. Pihak Toko Josemma Boutique harus menganalisa faktor-faktor diharapkan agar mampu menarik pelanggan untuk menciptakan penjualan yang optimal.

Dari rumusan masalah diatas maka muncul pertanyaan penelitian sebagai berikut:

1. Faktor apa saja yang menyebabkan penurunan hasil penjualan pada Josemma Boutique Semarang?

2. Bagaimana faktorupaya meningkatkan hasil penjualan pada Josemma Boutique Semarang?

(20)

1.3. Tujuan Penelitian

Berdasarkan perumusan masalah tersebut di atas, maka tujuan penelitian ini adalah :

1. Untuk mengetahui faktor-faktor apa saja yang menyebabkan penurunan hasil penjualan Josemma Boutique Semarang.

2. Untuk mengetahui faktor dalam meningkatkan penjualan pada Josemma Boutique Semarang.

1.4. Manfaat Penelitian

Sedangkan manfaat yang diharapkan dari hasil penelitian ini adalah sebagai berikut :

1. Bagi Josemma Boutique, Semarang dengan adanya penelitian ini diharapkan dapat menjadi bahan masukan dan evaluasi dalam penerapan langsung dan dapat digunakan dalam proses upaya agar tidak mengalami penurunan omset penjualan.

2. Bagi peneliti, memberi masukkan bagi peneliti lain yang akan melakukan peneliti lebih lanjut tentang proses upaya agar tidak mengalami penurunan omset penjulan.

3. Bagi mahasiswa diharapkan penelitian ini dapat berguna menambah khasanah pengetahuan dan sebagai bahan latihan dalam menganalisis permasalahan yang terjadi dalam kehidupan nyata.

(21)

5 2.1. Landasan Teori

2.1.1 Pemasaran

Pemasaran merupakan suatu proses kegiatan secara menyeluruh dan secara terpadu dan terencana, yang dilakukan oleh sebuah institusi atau organisasi dalam menjalankan usaha agar dapat memenuhi kebutuhan pasar dengan cara membuat produk yang memiliki nilai jual,menetapkan harga, mengkomunikasikan, dan harus mendistribusikannya melalui kegiatan pertukaran untuk dapat memuaskan konsumen dan perusahaan.Menurut Kotler (2012) mengartikan pemasaran adalah penganalisaan, pelaksanaan, dan pengawasan, program-program yang ditujukan utuk mengadakan pertukaran dengan pasar yang dituju dengan maksud untuk mencapai tujuan organisasi.

Strategi pemasaran sangat penting perananya dalam perusahaan, karena strategi pemasaran merupakan aspek utama sebelum barang dan jasa yang dihasilkan dapat dinikmati oleh konsumen.Menurut Tjiptono (2008) strategi pemasaran adalah alat fundamental yang dirancang untuk mencapai tujuan perusahaan dengan mengembangkan keunggulan daya saing yang berkesinambungan melewati pasar yang dimasuki, dan progam pemasaran yang digunakan untuk melayani pasar target tersebut.

Konsep Pemasaran

Menurut Swasta dalam Hartono (2012) konsep pemasaran adalah falsafah bisnis yang menyatakan bahwa pemuasan kebutuhan konsumen merupakan syarat

(22)

ekonomis dan social bagi kelangsungan hidup perusahaan.Dari definisi tersebut, perusahaan harus mengetahui kebutuhan apa saja yang diinignkan oleh konsumen dan mampu memberikan kepuasan agar mendapatkan laba bagi perusahaan tersebut.

Menurut Sudaryono (2016), konsep inti pemasaran ada 4, yaitu:

1. Kebutuhan, Keinginan, dan Permintaan

Inti pemasaran yaitu di mulai dengan kebutuhan dan keinginan manusia.

Salah satu kebutuhan manusia antara lain seperti, makan, pakaian, tempat tinggal dll. Seperti yang kita ketahui, kebutuhan dan keinginan memiliki arti yang berbeda. Kebutuhan merupakan sesuatu yang dibutuhkan untuk bertahan hidup, sedangkan keinginan merupakan hasrat atau pemuas dari sesuatu yang kita inginakan.

2. Produk, Nilai, Biaya, dan Kepuasan

Apabila kita hendak memenuhi kebutuhan dan keinginan pasti berhubungan dengan produk ataupun jasa. Produk adalah sesuatu barang yang ditawarkan untuk memenuhi dan keinginan manusia. Manusia mempunyai suatu produk bukan dilihat dari fisiknya akan tetapi dilihat dari segi fungsinya.

3. Pertukaran, Transaksi, dan Hubungan

Kebutuhan dan keinginan manusia pada awalnya melalui pertukaran sesama manusia. Pada zaman dahulu apabila manusia membutuhkan barang maka mereka akan saling bertukar barang (barter) sesuai dengan barang yang mereka butuhkan. Dengan adanya pertukaran ini, adanya transaksi dengan sesama manusia, hal ini transaksi bukan menggunakan

(23)

uang karena pada zaman dahulu belum ditemukannya uang. Dari hal itulah, maka manusia pada zaman dahulu sangat menjadi hubungan dengan baik

4. Pasar, Pemasaran, dan Pemasar

Pasar merupakan salah satu tempat bertemunya antara pembeli dan penjual. Di pasar kita dapat menemukan barang yang kita butuhkan dan inginkan dan mampu untuk melakukan pertukaran untuk memenuhi kebutuhan dan keinginan. Jadi besarnya pasar tergantung jumlah orang yang memiliki kebutuhan, punya sumber daya yang diminati orang lain, dan mau menawarkan sumber daya itu untuk ditukar untuk memenuhi kebutuhan mereka.

2.1.2 Bauran Pemasaran

Menurut Kotler (2012) menyatakan bahwa bauran pemasaran merupakan seperangkat alat pemasaran yang digunakan suatu perusahaan untuk terus menerus mencapai tujuan pemasarannya di pasar sasaran.Berdasarkan definisi diatas dapat disimpulkan bahwa bauran pemasaran merupakan alat yang baik yang berada dalam suatu perusahaan, agar dapat mempengaruhi respon sasaran. Dalam bauran pemasaran terdapatseperangkat alat yang dikenal dalam istilah 4P, yaitu product (produk), price (harga), place (tempat atau saluran distribusi), dan promotion (promosi), sedangkan dalam pemasaran jasa memiliki beberapa alat pemasaran tambahan seperti people (orang), physical evidence (fasilitas fisik), dan process (proses), sehingga dikenal dengan istilah 7P maka dapat disimpulkan bauran pemasaran yaitu product, price, place, promotion, people, physical

(24)

evidence, dan process. Adapun pengertian 7P menurut Kotler dan Amstrong, (2012) sebagai berikut:

1. Produk

Produk (product), adalah mengelola unsur produk termasuk perencaan dan pengembangan produk atau jasa yang tepat untuk dipasarkan dengan mengubah produk atau jasa yang ada dengan menambah dan mengambil tindakan yang lain yang mempengaruhi bermacam-macam produk atau jasa.

2. Harga

Harga (price), adalah suatu sistem menajemen perusahaan yang akan menentukan harga dasar yang tepat bagi produk atau jasa dan harus menentukan strategi yang menyangkut potongan harga, pembayaran ongkos angkut dan berbagai variabel yang bersangkutan.

3. Distribusi

Distribusi (place), yakni memilih dan mengelola saluran perdagangan yang dipakai untuk menyalurkan produk atau jasa dan juga untuk melayani pasar sasaran, serta mengembangkan sistem distribusi untuk pengiriman dan perniagaan produk secara fisik.

4. Promosi

Promosi (promotion), adalah salah satu unsur yang digunakan untuk memberitahukan dan membujuk pasar tentang produk atau jasa yang baru pada perusahaan melalui iklan, penjualan pribadi, promosi penjualan, maupun publikasi.

(25)

5. Sarana fisik

Sarana fisik (physical evidence), merupakan hal nyata yang turut mempengaruhi keputusan konsumen untuk membeli produk atau jasa yang ditawarkan. Unsur yang termasuk dalam sarana fisik antara lain lingkungan atau bangunan fisik, peralatan, perlengkapan, logo, warna dan barang-barang lainnya.

6. Orang

Orang (people), adalah semua pelaku yang memainkan peranan penting dalam menyajikan jasa sehingga dapat mempengaruhi persepsi pembeli.

Elemen dari orang adalah pegawai perusahaan, konsumen, dan konsumen lain. Semua sikap dan tindakan karyawan, cara berpakaian karyawan, dan penampilan karyawan memiliki pengaruh terhadap keberhasilan penyampaian jasa.

Kualitas Produk

Menurut Kotler(2009), kualitas sebagai keseluruhan ciri serta sifat barang dan jasa yang berpengaruh pada kemampuan memenuhi kebutuhan yang dinyatakan maupun yang tersirat. Kualitas produk adalah kemampuan yang bisa dinilai dari suatu produk didalam menjalankan fungsinya, yang merupakan suatu gabungan dari daya tahan, keandalan, ketetapan, kemudahan pemeliharaan serta atribut-atribut lainya dari suatu produk Kotler dan Amstrong (2011).

Dimensi kualitas produk menurut Tjiptono (2008) adalah:

1. performance (kinerja), berhubungan dengan karakteristik operasi dasar dari sebuah produk.

(26)

2. Durability (daya tahan), yang berarti berapa lama atau umur produk yang bersangkutan bertahan sebelum produk tersebut harus diganti. Semakin besar frekuensi pemakaian konsumen terhadap produk maka semakin pula daya produk.

3. conformance to specifications (kesesuaian dengan spesifikasi), yaitu sejauh mana karakteristik operasi dasar dari sebuah produk memenuhi spesifikasi tertentu dari konsumen atau tidak ditemukannya cacat pada produk.

4. Features (fitur), adalah karakteristik produk yang dirancang untuk menyempurnakan fungsi produk atau menambah ketertarikan konsumen terhadap produk.

5. Reliability (reliabilitas), adalah probabilitas bahwa produk akan bekerja dengan memuaskan atau tidak dalam periode waktu tertentu. Semakin kecil kemungkinan terjadinya kerusakan maka produk tersebut dapat diandalkan.

6. Aeshetics (estetika), berhubungan dengan bagaimana penampilan produk 7. Perceived quality (kesan kualitas), yaitu persepsi konsumen terhadap

keseluruhan kualitas atau keunggulan suatu produk.

8. Serviceabillity , meliputi kecepatan dan kemudahan untuk direparasi, serta kompetensi dan keramahtamahan staf layanan.

Definisi bauran produk menurut Kotler (2009) adalah “Bauran Produk (Product Mix) adalah kumpulan dari semua produk dan unit produk yang ditawarkan penjual tertentu kepada pembeli.”

Menurut Kotler (2008) bauran produk suatu perusahaan memiliki lebar, panjang, kedalaman, dan konsistensi tertentu. Konsep-konsep dimensi tersebut antara lain:

(27)

1. Lebar bauran produk

Lebar bauran produk mengacu pada berapa banyak macam lini produk yang ada pada suatu perusahaan.

2. Panjang bauran produk

Panjang bauran produk mengacu pada jumlah unit produk dalam bauran produk suatu perusahaan.

3. Kedalaman bauran produk

Kedalaman bauran produk mengacu pada beberapa banyak varian yang ditawarkan tiap produk dalam lini suatu perusahaan

4. Konsistensi bauran produk

Konsistensi bauran produk mengacu pada seberapa erat hubungan berbagai lini produk dalam hal penggunaan akhir, persyaratan produksi, saluran distribusi, atau hal lainnya.

Harga

Menurut Kotler (2009) Harga adalah jumlah uang yang ditukarkan konsumen dengan manfaat dari memiliki atau menggunakan produk dan jasa.

Harga berperan sebagai penentu utama pilihan pembeli. Harga merupakan satu- satunya elemen bauran pemasaran yang menghasilkan pendapatan, elemen- elemen lain menimbulkan biaya.

Tujuan Penetapan Harga

Menurut Saladin (2006), ada 6 (enam) tujuan yang dapat diraih perusahaan melalui penetapan harga, yaitu :

(28)

1. Bertahan hidup (survival) Pada kondisi tertentu (karena adanya kapasitas yang menganggur, persaingan yang semaikin gencar atau perubahan keinginan konsumen, atau mungkin juga kesulitan keuangan), maka perusahaan menetapkan harga jualnya dibawah biaya total produk tersebut atau bibawah harga pasar. Tujuannya adalah bertahan bidup (survival) dalam jangka pendek. Untuk berahan hidup jangka panjang, harus mencari jalan keluar lainnya.

2. Memaksimalkan laba jangka pendek (maximum current profit) Perusahaan merasa yakin bahwa dengan volume penjualan yang tinggi akan mengakibatkan biaya per unit lebih rendah dan keuntungan yang lebih tinggi. Perusahaan menetapkan harga serendah rendahnya dengan asumsi pasar sangat peka terhadap harga. Ini dinamakan “penentuan harga untuk menerobos pasar (marketpenetration pricing)”. Hal ini hanya dapat dilakukan apabila :

a. Pasar sangat peka terhadap harga, dan rendahnya harga sangat merangsang pertumbuhan pasar.

b. Biaya produksi dari distribusi menurun sejalan denganm bertambahnya produksi.

c. Rendahnya harga akan melemahkan persaingan.

3. Memaksimalkan hasil penjualan (maximum current revenue) Untuk memaksimalkan hasil penjualan, perusahaan perlu memahami fungsi permintaan. Banyak perusahaan berpendapat bahwa maksimalisasi hasil penjualan itu akan mengantarkan perusahaan memperoleh maksimalisasi laba dalam jangka panjang dan pertumbuhan bagian pasar.

(29)

4. Menyaring pasar secara maksimum (maximum market skiming) Banyak perusahaan menetapkan harga untuk menyaring pasar (marketskiming price). Hal ini dilakukan untuk menarik segmen-segmen baru. Mula-mula dimunculkan ke pasar produk baru dengan harga tinggi, beberapa lama kemudian dimunculkan produk baru dengan harga tinggi, beberapa lama kemudian dimunculkan pula produk yang sama dengan harga yang lebih rendah.

5. Menentukan permintaan (determinant demand)Penetapan harga jual membawa akibat pada jumlah permintaan.

Metode Penetapan Harga

Menurut Tjiptono (2008)metode penetapan secara garis besar dikelompokan menjadi empat kategori utama, yaitu metode penetapan harga berbasis permintaan, berbasis biaya,berbasis laba, dan berbasis persaingan.

1. Metode penetapan berbasis permintaan Metode ini lebih menekankan faktor- faktor yang mempengaruhi selera dan preferensi pelanggan daripada faktor-faktor seperti biaya, laba, dan persaingan. Permintaan pelanggan sendiri didasarkan pada berbagai pertimbangan, diantaranya yaitu:

a. Kemampuan para pelangganuntuk membeli (daya beli) b. Kemauan pelanggan untukmembeli

c. Posisi suatu produk dalam gaya hidup pelanggan, yakni menyangkut d. Apakah produk tersebut merupakan symbol status atau hanya produk e. Manfaat yang diberikan produktersebut kepada pelanggan.

f. Harga-harga produk substitusi

(30)

2. Metode Penetapan Harga BerbasisBiayaDalam metode ini faktor penentuyang utama adalah aspekpenawaran atau biaya, bukan aspekpermintaan. Harga ditentukanberdasarkan biaya produksi danpemasaran yang ditambah denganjumlah tertentu sehingga menutupibiaya-biaya langsung, biayaoverhead dan laba.

3. Metode Penetapan Harga BerbasisLabaMetode ini berusahamenyeimbangkan pendapatan danbiaya dalam penetapan harganya.Upaya ini dilakukan atas dasartarget volume laba spesifik ataudinyatakan dalam bentukpersentase terhadap penjualan atauinvestasi.

4. Metode Penetapan Harga BerbasispersainganSelain berdasarkan padapertimbangan biaya, permintaan,atau laba harga juga dapatditetapkan atas dasar persaingan,yaitu apa yang dilakukan pesaing.Metode penetapan harga berbasispersaingan terdiri atas empatmacam : customary pricing, above,at, or below market pricing, lossleader pricing, sealed bid pricing.

Indikator Harga

Menurut Kotler dan Armstrong (2008), ada empat indikator yang mencirikan harga yaitu:

a. Keterjangkauan harga,

b. Kesesuaian harga dengan kualitasproduk, c. Daya saing harga, dan

d. Kesesuaian harga dengan manfaat.

(31)

Promosi

Promosi merupakan kegiatan untuk mempengaruhi konsumen agar mereka mengetahui dan mengenal produk yang di tawarkan oleh perusahaan kepada mereka dan kemudian mereka tertarik ingin mencoba lalu membeli produk tersebut (Gitosudarmo, 2001).Kegiatan promosi ini perusahaan berusaha untuk mempromosikan seluruh produk dan jasa yang dimilikinya, baik langsung maupun tidak langsung. Tanpa promosi jangan diharapkan pelanggan dapat mengenal produk atau jasa yang ditawarkan. Oleh karena itu promosi merupakan cara yang paling ampuh untuk menarik dan mempertahankan konsumennya. Salah satu tujuan promosi perusahaan adalah menginformasikan segala jenis produk yang ditawarkan dan berusaha menarik calon konsumen yang baru (Hermawan, 2002).

Lima sarana promosi utama Kotler dan Amstrong adalah sebagai berikut (Kotler, 2008).

a. Periklanan (advertising)

Kegiatan promosi yang digunakan oleh perusahaan guna menginformasikan, menarik dan mempengaruhi calon konsumennya menggunakan brosur, spanduk, iklan di media cetak, tv maupun radio.

b. Promosi penjualan (sales promotion)

Agar konsumen tertarik membeli produk atau jasa yang ditawarkan maka perlu dilakukan promosi yang menarik seperti pemberian harga khusus atau discount untuk produk tertentu, memberikan undian kepada pembeli yang membeli dalam jumlah tertentu atau memberikan cinderamata kepada pembeli.

(32)

c. Publisitas (publicity)

Publisitas adalah kegiatan promosi untuk memancing konsumen melalui kegiatan seperti pameran dan bakti sosial. Kegiatan publisitas bertujuan untuk membuat pamor perusahaan baik dimata konsumennya.

d. Penjualan Personal (personal selling)

Presentasi pribadi oleh salesman atau salesgirl perusahaan untuk tujuan menghasilkan penjualan dan membangun hubungan dengan konsumen.

e. Pemasaran langsung (direct marketing)

Hubungan langsung dengan konsumen individual yang ditargetkan secara cermat untuk memperoleh respons segera dan membangun hubungan pelanggan yang langgeng. Bauran promosi ini digunakan untuk mengkomunikasikan kegiatan perusahaan kepada konsumen. Komunikasi yang efektif akan mengubah tingkah laku konsumen dan akan memperkuat tingkah laku yang telah diubah sebelumya.

2.1.3 Penjualan

Penjualan adalah usaha yang dilakukan manusia untuk menyampaikan barang-barang kebutuhan yang dihasilkan kepada mereka yang memerlukannya dengan imbalan uang menurut harga yang ditentukkan atas persetujuan bersama (Swasta, 2001). Definisi lain mengatakan bahwa penjualan adalah usaha yang dilakukan manusia untuk menyampaikan barang dan jasa pada mereka yang memperlukan dengan imbalan uang dan menurut harga yang telah ditentukkan atas persetujuan bersama (Susanto, 2005).

Dari definisi penjualan diatas ada beberapa hal yang dapat ditarik kesimpulanya, pertama : penjualan merupakan usaha yang dilakukan perusahaan

(33)

untuk menyampaikan sesuatu barang kepada konsumen. Kedua : setiap kegiatan penjualan diiringi dengan sebuah transaksi jual beli. Ketiga : setiap penjualan meghasilkan harga sebagai imbalan yang diberikan pembeli kepada penjual. Atas dasar pengertian penjualan diatas, maka fungsi penjuaan yang utama selain memindahkan hak milik suatu barang atau jasa dari penjual kepada pembeli juga adalah menciptakan harga. Seperti yang kita ketahui bahwa pada umumnya suatu perusahaan mempunyai tujuan dibidang penjualan. Untuk mencapai tujuan tersebut maka perusahaan harus berusaha memasarkan produknya seluas mungkin. Bagi perusahaan, pada umumnya mempunyai tiga tujuan utama dalam penjualanya yaitu (Swasta dan Irawan, 2008 ).

1. Mencapai volume penjualan 2. Mendapatkan laba

3. Menunjang pertumbuhan

Faktor-faktor yang Mempengaruhi Penjualan

Faktor-faktor yang mempengaruhi penjualan (Swastha,2005) sebagai berikut :

1. Kondisi dan kemampuan penjual

Kondisi dan kemampuan terdiri dari pemahaman atas beberapa masalah penting yang berkaitan dengan produk yang dijual, jumlah dan sifat dari tenaga penjual adalah :

a. Jenis dan karakteristik barang atau jasa yang ditawarkan b. Harga produk atau jasa

c. Syarat penjualan, seperti : pembayaran, pengiriman

(34)

2. Kondisi pasar

Kondisi pasar dipengaruhi oleh beberapa faktor, yakni: jenis pasar, kelompok pembeli, daya beli, frekuensi pembelian serta keinginan dan kebutuhannya.

3. Modal kerja perusahaan yang digunakan untuk mencapai target penjualan yang dianggarkan, misalnya dalam menyelenggarakan stok produk dan dalam melaksanakan kegiatan penjualan memerlukan usaha seperti alat transportasi, tempat untuk menjual, dan usaha promosi.

4. Kondisi organisasi perusahaan

Pada perusahaan yang besar, biasanya masalah penjualan ini ditangani oleh bagian tersendiri, yaitu penjualan yang dipegang oleh orang-orang yang ahli dibidang penjualan.

5. Faktor lain

Faktor-faktor lain seperti periklanan, peragaan, kampanye dan pemberian hadiah sering mempengaruhi penjualan karena diharapkan dengan adanya faktor-faktor tersebut pembeli akan membeli lagi barang yang sama.

Volume Penjualan

Volume penjualan merupakan hasil akhir yang dicapai perusahaan dan hasil penjualan produk yang dihasilkan oleh perusahaan tersebut. Menurut Kotler (2002) volume penjualan adalah barang yang terjual dalam bentuk uang untuk jangka waktu tertentu dan didalamnya mempunyai strategi pelayanan yang baik.

Ada beberapa usaha untuk meningkatkan volume penjualan, yaitu :

(35)

1. Menjajakan produk dengan sedemikian rupa sehingga konsumen melihatnya.

2. Menempatkan dan pengaturan yang teratur sehingga produk tersebut akan menarik perhatian konsumen.

3. Mengadakan analisis pasar.

4. Menentukkan calon pembeli atau konsumen yang potensial.

5. Mengadakan pameran.

6. Mengadakan diskon atau potongan harga.

2.1.4 Bauran Promosi

Menurut Assuari (2009) yang dimaksud dengan bauran promosi adalah kombinasi strategi yang paling baik dari unsur-unsur promosi yang dilakukan oleh suatu perusahaan, perlu ditentukkan terlebih dahulu peralatan atau unsur promosi apa yang sebaiknya digunakan dan bagaimana pengkoordinasian unsur-unsur tersebut agar hasilnya dapat optimal. Bauran promosi adalah kombinasi dari penjualan tatap muka, periklanan, promosi penjualan, publisitas dan hubungan masyarakat yang membantu pencapaian tujuan perusahaan (Prihartono, 2012).

Sedangkan menurut Kotler dan Amstrong (2012) bauran promosi adalah suatu perpaduan dari alat-alat promosi yang digunakan oleh perusahaan untuk mengkomunikasikan nilai untuk konsumen dan membangun hubungan dengan konsumen.

Menurut Kotler dan Keller (2012) dijelaskan bahwa bauran promosi memiliki 5 unsur, yaitu:

(36)

1. Periklanan (advertising), iklan adalah setiap bentuk presentasi yang bukan dilakukan orang dan berupa promosi gagasan, barang atau jasa oleh sponsor yang ditentukkan.

2. Promosi penjualan (sales promosi). Adalah berbagai jenis insentif jangka pendek untuk mendorong orang mencoba atau membeli produk atau jasa.

3. Penjualan personal (personal selling), adalah interaksi tatap muka dengan satu atau beberapa calon pembeli dengan maksud untuk melakukan presentasi, menjawab pertanyaan dan memperoleh pesanan.

4. Pemasaran langsung (direct marketing), penggunaan surat, telepon, faksimil, email, atau internet untuk berkomunikasi langsung atau meminta tanggapan atau dialog dengan pelanggan tertentu dan calon pelanggan.

5. Hubungan masyarakat (public relations), berbagai program yang dirancang untuk mempromosikan atau melindungi citra perusahaan atau masing-masing produknya.

2.1.5 Word of Mouth (Mulut ke Mulut)

Word of mouth adalah komunikasi dari orang ke orang antara sumber pesan dan penerima pesan dimana penerima pesan menerima pesan dengan cara tidak komersil mengenai suatu produk, pelayanan atau merek. Menurut Lupiyoadi (2006). Suatu bentuk promosi yang berupa rekomendasi dari mulut kemulut tentang kebaikan dalam suatu produk.

Menurut Kotler dan Keller (2012), word of mouth communication atau komunikasi mulut ke mulut merupakan proses komunikasi yang berupa

(37)

pemberian rekomendasi baik secara individu maupun kelompok terhadap suatu produk atau jasa yang bertujuan untuk memberikan informasi secara personal.

Ada empat dimensi word of mounth Menurut Rosiana (2011), yaitu : 1. Cerita positif, adalah keinginan konsumen untuk memberikan atau

menceritakan hal-hal positif mengenai produk yang dikonsumsinya kepada orang lain.

2. Informasi, adalah keinginan untuk memberikan informasi kepada orang lain ketika mereka ditanya mengenai sebuah produk yang baik.

3. Rekomendasi, adalah keinginan konsumen untuk memberikan rekomendasi kepada orang lain yang membutuhkan informasi mengenai produk yang berkualitas.

4. Ajakan adalah kesediaan konsumen untuk mengajak orang lain agar menggunakan produk yang telah dikonsumsinya.

2.1.6 Kualitas Pelayanan

Pelayanan adalah salah satu strategi produk. Produk perusahaan biasanya mencakup berbagai pelayanan itu bisa merupakan bagian kecil atau bagian besar dari seluruh produk (Kotler, 2009). Menurut Parasuraman, dalam Kotler (2002: 499) ada lima dimensi kualitas pelayanan yaitu.

a. Reability (kehandalan), yaitu kemampuan memberikan layanan yang dijanjikan dengan segera, akurat, dan memuaskan.

b. Responsiveness (daya tanggap), yaitu keinginan para karyawan untuk membantu para konsumen dan memberikan pelayanan dengan tanggap.

(38)

c. Assurance (jaminan), yaitu jaminan mencakup pengetahuan, kompetisi, kesopanan, dan sifat dapat dipercaya dimiliki para karyawan, bebas dari bahaya, resiko, atau keraguan.

d. Empathy (perhatian), yaitu meliputi kemudahan dalam menjalin relasi, komunikasi yang baik, perhatian pribadi dan pemahaman atas kebutuhan individual para konsumen.

e. Tangibles (bukti fisik), yaitu meliputi fasilitas fisik, perlengkapan, pegawai dan sarana komunikasi.

2.1.7 Perilaku Konsumen

Perilaku konsumen adalah proses aktivitas saat seseorang atau organisasi berhubungan dengan pencarian, pemilihan, pembelian, pemakaian, dan mengevaluasi produk atau jasa demi memenuhi keinginan dan kebutuhannya.

Prilaku konsumen merupakan berbagai hal-hal yang mendasari konsumen untuk membuat keputusan pembelian produk atau jasa. (Menurut Schiffman dan Kanuk, 2000), adalah proses yang dilalui seseorang dalam mencari, membeli, menggunakan, mengevaluasi, dan bertindak pasca konsumsi produk, jasa maupun ide yang diharapkan bisa memenuhi kebutuhannya.

Keputusan Pembelian

Keputusan pembelian merupakan kegiatan individu yang secara langsung terlibat dalam pengambilan keputusan untuk melakukan pembelian terhadap produk yang ditawarkan oleh penjual (Kotler dan Amstrong, 2008).

Kotler dan Keller (2012) mengemukakan dimensi keputusan pembelian, antara lain;

(39)

1. Pilihan produk, dalam hal ini perusahaan harus memutuskan perhatianya kepada orang-orang yang berniat membeli sebuah produk serta alternatifnya yang mereka pertimbangkan. Konsumen dapat mengambil keputusan untuk memilih sebuah produk dengan pertimbangan;

a. Keunggulan produk, yaitu tingkat kualitas diharapkan oleh konsumen pada produk yang dibutuhkan dari beragam pilihan yang ada.

b. Manfaat produk, yaitu tingkat kegunaan yang dapat diperoleh konsumen pada tiap pilihan produk untuk memenuhi kebutuhannya.

c. Pemilihan produk, yaitu pilihan konsumen pada produk yang akan dibelinya sesuai dengan kualitas yang diinginkan dan manfaat yang akan diperoleh.

2. Pilihan merek, konsumen harus menjatuhkan pilihan pada merek apa yang akan dibelinya. Dalam hal ini perusahaan harus mengetahui bagaimana cara konsumen menjatuhkan pilihan terhadap sebuah merek, yaitu;

a. Ketertarikan pada merek, yaitu ketertarikan pada citra merek yang sudah melekat pada produk yang dibutuhkan

b. Kebiasaan pada merek, yaitu konsumen memilih produk dengan merek tertentu, karena telah terbiasa dengan merek tersebut pada produk yang dibelinya.

(40)

c. Kesesuaian harga, yaitu konsumen selalu mempertimbangkan harga yang sesuai dengan kualitas dan manfaat produk yang aka diperolehnya.

3. Pilihan penyalur, konsumen harus menentukkan penyalur mana yang dipilih untuk membeli produk. Dalam hal ini konsumen memilih penyalur dapat dikarenakan faktor lokasi yang dekat, harga yang murah, tersedianya barang yang lengkap dan kenyamanan pada saat membeli.

a. Kemudahan untuk mendapatkan produk yang diinginkan, konsumen akan merasa lebih nyaman jika lokasi pendistribusian produk mudah dijangkau dalam waktu yang singkat.

b. Pelayanan yang diberikan, dengan pelayanan yang baik maka akan menimbulkan kenyamanan konsumen sehingga konsumen akan selalu memilih lokasi tersebut.

c. Ketersediaan barang, kebutuhan dan keinginan konsumen terhadap produk tidak dapat dipastikkan kapan terjadi namun dengan ketersediaan barang yang memadai pada penyalur akan membuat konsumen memilih untuk melakukan pembelian di tempat tersebut.

4. Jumlah pembelian, konsumen dapat menentukkan kualitas barang yang akan dibeli. Dalam hal ini perusahaan harus mempersiapkan banyaknya produk yang sesuai dengan keinginan konsumen yang berbeda-beda karena konsumen akan menentukkan;

(41)

a. Keputusan jumlah pembelian, selain keputusan pada pilihan merek yang ditentukkan konsumen, konsumen juga dapat menentukkan kuantitas yang akan dibelinya.

b. Keputusan pembelian untuk persediaan, dalam hal ini konsumen memiliki produk selain untuk memenuhi kebutuhannya yang melakukan beberapa tindakan persiapan dengan sejumlah persediaan produk yang mungkin dibutuhkan pada saat mendatang.

5. Waktu pembelian, pada saat konsumen menentukkan waktu pembelian dapat berbeda-beda, yaitu ;

a. Kesesuaian dengan kebutuhan, ketika merasa butuh sesuatu dan merasa perlu melakukan pembelian.

b. Keuntungan yang dirasakan, ketika konsumen membeli kebutuhannya akan suatu produk pada saat tertentu, maka pada saat itu konsumen akan merasakan keuntungan sesuai dengan kebutuhannya melalui produk yang dibelinya.

c. Alasan pembelian, setiap produk memiliki alasan untuk memenuhi kebutuhan konsumen pada saat konsumen membutuhkanya.

6. Metode pembayaran, konsumen dapat menentukkan metode pembayaran yang akan digunakan pada saat transaksi pembelian.

Konsumen mungkin akan menggunakan cara pembayaran; bayar tunai, cek, kartu kredit, kartu debit, kartu ATM, kredit melalui lembaga keuangan dan kredit melalui toko.

(42)

Minat Beli Konsumen

Keinginan yang muncul diri konsumen terhadap suatu produk sebagai dampak dari suatu proses pengamatan dan pembelajaran konsumen terhadap suatu produk. Konsumen yang memiliki minat beli terhadap suatu produk menunjukkan adanya perhatian dan rasa senang terhadap produk yang diikuti dengan realisasi berupa perilaku membeli. Menurut (Kotler,2008) minat beli adalah suatu yang timbul setelah menerima rangsangan dari produk yang dilihatnya, dari sana timbul ketertarikkan untuk mencoba produk tersebut sampai pada akhirnya timbul keinginan untuk membeli agar dapat memilikinya.

Aspek Minat Beli

Menurut (Schiffman dan Kanuk, 2007), ada beberapa aspek minat beli pada konsumen, diantaranya yaitu;

a. Tertarik untuk mencari informasi tentang produk.

Konsumen yang terangsang kebutuhanya akan mendorong untuk mencari informasi yang lebih banyak. Ada 2 (dua) level rangsangan atau stimulan kebutuhan konsumen, yaitu level pencarian informasi yang lebih ringan atau penguatan perhatian dan level aktif mencari informasi yaitu dengan mencari bahan bacaan, bertanya pada teman atau mengunjungi toko untuk mempelajari produk tertentu.

b. Mempertimbangkan untuk membeli.

Berdasarkan pengumpulan informasi, konsumen mempelajari merek yang bersaing dan juga fitur merek tersebut. Melakukan evaluasi terhadap pilihan dan mulai mempertimbangkan untuk membeli produk.

(43)

c. Tertarik untuk mencoba.

Setelah konsumen erusaha memenuhi kebutuhan, mempelajari merek yang bersaing dan juga fitur merek tersebut, konsumen akan mencari manfaat tertentu dari solusi produk dan melakukan evaluasi terhadap produk tersebut. Evaluasi di anggap sebagai proses yang berorientasi kognitif.

Maksudnya, konsumen dianggap menilai suatu produk secara sangat sadar dan rasional hingga mengakibatkan ketertarikan untuk mencoba.

d. Ingin mengetahui produk.

Setelah memiliki ketertarikkan untuk mencoba suatu produk, konsumen akan memiliki keinginan untuk mengetahui produk. Konsumen akan memanddang produk sebagai sekumpulan atribut dengan kemampuan yang berbeda dalam memberikkan manfaat yang digunakan untuk memuaskan kebutuhan.

e. Ingin memiliki produk.

Para konsumen akan memberikan perhatian besar terhadap atribut yang memberikkan manfaat yang dicarnya. Kemudian akhirnya konsumen akan mengambil sikap(keputusan ,preferensi) terhadap produk melalui evaluasi atribut dan membentuk niat untuk membeli atau memiliki produk yang disukai.

Dimensi Minat Beli

Menurut Ferdinand (2002), terdapat beberapa dimensi minat beli konsumen, diantaranya yaitu ;

(44)

a. Minat transaksional, yakni kecenderungan seseorang untuk membeli produk. Maksudnya, konsumen telah memiliki minat untuk melakukan pembelian suatu produk tertentu yang diinginkan.

b. Minat refensial, yakni kecenderungan seseorang untuk merefensikan produk kepada orang lain. Maksudnya, seseorang konsumen yang telah memiliki minat untuk membeli akan menyarankan orang terdekatnya untuk juga melakukan pembelian produk yang sama.

c. Minat preferensial, yakni minat yang menggambarkan perilaku seseorang yang memiliki preferensi utama pada produk tersebut. Preferensi ini hanya bisa diganti apabila terjadi sesuatu dengan produk preferensianya.

d. Minat eksporatif, yakni menggambarkan perilaku seseorang yang selalu mencari informasi mengenai produk yang diminatinya dan mencari informasi untuk mendukung sifat positif dan produk tersebut.

(45)

2.2 Kajian Empiris

1. Saifudin, Sutrisno Djaja, Heti Mustika Ani (2017) tentang strategi bauran pemasaran UD Tropikal Batik dusun Klontang desa Gondoh kecamatan Sempu Kabupaten Banyuwangi. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji lebih dalam tentang strategi bauran pemasaran. Metode penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif yang berjenif deskriptif. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa strategi Produk UD Tropikal adalah menggutamakan kualitas produk, strategi penetapan harga disesuikan dengan bahan baku dan proses produksi, serta promosi dilakukan dengan pameran, bekerja sama dengan koperasi dan sekolah, serta promosi mulut ke mulut, strategi distribusi dilaksanakan secara langsung dan tidak langsung.

2. Ralitza Passileva, M. Al Musadieq (2018) tentang analisis strategi bauran pemasaran internasional produk baju busana muslim pada PT. Vauza Tamma Abadi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan menganalisis strategi bauran pemasaran internasional yang digunakan PT.

Vauza Tamma Abadi, serta mengetahui pengembangan strategi pemasaran internasional pada PT. Vauza Tamma Abadi. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif dengan menggunakan pendekatan kualitatif. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan cara observasi, wawancara, dan dokumentasi. Hasil penelitianmenunjukkan bahwa PT.

Vauza Tamma Abadi mengutamakan strategi bauran pemasaran Strategi produk yang mempertimbangkan faktor preferensi, biaya, hukum, dan peraturan, sertakompatibilitas. Strategi harga menggunakan metode

(46)

penetapan harga penetrasi. Strategi distribusimenggunakan jasa pengiriman barang dalam mengirim produk ke negara tujuan. Strategi promosi menggunakan periklanan, personal selling, publisitas, serta promosi penjualan.

3. Rika Sylvia, Rizki Amalia Afriana, Nor Anisa Amelia (2019) tentang penerapan bauran pemasaran untuk meningkatkan omset penjualan pada UD Rahmani Sasirangan kabupaten banjar (kain khas suku banjar).

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui penerapan bauran pemasaran yang dilakukan pada UD Rahmani Sasirangan untuk meningkatkan omset penjualan. Jenis penelitian yang digunakan adalah deskriptif kualitatif. Metode penelitian yang berlandaskan pada filsafat postpositivisme, digunakan untuk meneliti pada kondisi objek alamiah.

Hasil penelitian menunjukkan bahwaUD Rahmani Sasirangan mengutamakan strategi bauran pemasaran Strategi yang mempertimbangkan faktor4P yang diterapkan UD Rahmani Sasirangan menggunakan media yang bervariasi dalam memasarkan produknya untuk meningkatkan omset penjualan perusahaan.

4. Siti Mukarromah, Siti Ma’roah, Mochammad Mochklas (2018) tentang implementasi strategi bauran pemasaran dalam meningkatkan volume penjualan pada Toko Baju Senam Grosir.com.Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian dengan menggunakan metode kualitatif. Jenis dan sumber data dalam penelitian ini menggunakan data primer yaitu data yang diperoleh langsung dengan melakukan wawancara dan pengamatan langsung di lapangan.Teknik

(47)

analisis dalam penelitian ini mengacu pada model interactive, dimana penelitian dimulai dari pengumpulan data penjualan di toko BajuSenamGrosircom, kemudian dilakukan reduksi data dengan cara merangkum, memilih hal-hal pokok, memfokuskan pada hal-hal yang penting, dicari tema dan polanya.Hasil penelitian ini menunjukan bahwa implementasi bauran pemasaranKomponen produk, harga, dan saluran distribusi mempunyai peran yang dominan dalam meningkatkan volume penjualan. Sedangkan, promosi tidak berpengaruh besar dalam meningkatkan volume penjualan.

5. Louisia Wisnuwardana, Imam Suyadi (2016), tentang upaya peningkatan penjualan baju pada Toko Viee Kalla.Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji lebih dalam tentang upaya peningkatan penjualan pada toko Viee kalla. Penelitian ini menggunakan studi kasus. Studi kasus dipilih karena digunakan untuk mendalami hal-hal yang terjadi dalam peningkatan penjualan. Penelitian ini menggunakan observasi pertisipatif dan studi dokumentasi untuk memperoleh data dengan cara yang lebih dalam. Hasil penelitian menunjukan bahwa produk harga dan saluran distribusi mempunyai peran yang dominan dalam meningkatkan penjualan secara efektif.

(48)

2.3.Alur Penelitian

Gambar 2.1

PENURUNAN PENJUALAN

ANALISIS PENURUNAN PENJUALAN

FAKTOR MENINGKATKAN HASIL PENJUALAN

ANALISIS

KESIMPULAN

(49)

33 3.1 Jenis Penelitian

Jenis Penelitian ini menggunakan jenis penelitian kualitatif deskriptif.

(Menurut Sugiyono, 2013) menyatakan bahwa “metode penelitian kualitatif adalah metode penelitian yang digunakan untuk meneliti pada kondisi objek yang alamiah dimana peneliti sebagai instrumen kunci, teknik pengumpulan data dilakukan secara triangulasi, analisis data bersifat induktif, dan hasil penelitian kualitatif lebih menekankan makna dari pada generalisasi”.

(Sugiyono, 2013) juga menjelaskan, “metode kualitatif digunakan untuk mendapatkan data yang mendalam, suatu data yang mengandung makna.

Makna adalah data yang sebenarnya, data pasti yang merupakan suatu nilai dibalik data yang nampak”. Pendapat lainya menurut (Moleong, 2010) dalam bukunya metode penelitian kualitatif menjelaskan bahwa “peneliti kualitatif adalah peneliti yang bermaksud untuk memahami fenomena tentang apa yang dialami subjek penelitian.

Berdasarkan beberapa uraian diatas, diketahui bahwa studi kasus dalam penelitian kualitatif merupakan cara atau metode yang sesuai untuk menjawab fenomena suatu permasalahan penelitian lebih mendalam terhadap suatu objek penelitian. Dalam kaitanya dengan penelitian ini yaitu ingin meneliti bagaimana upaya meningkatkan hasil penjualan pada Josemma Boutique Semarang. Dengan metode tersebut diharapkan permasalahan dapat diketahui

(50)

dengan maksimal sehingga dapat disusun upaya-upaya strategis yang efektif guna mengatasi penurunan penjualan.

3.2 Jenis Data Penelitian

Data-data yang diperoleh untuk peneliti ini bersumber dari

a. Data Primer adalah data yang diperoleh langsung dari subjek penelitian dari subjek penelitian, dalam hal ini peneliti memperoleh data atau informasi langsung dengan menggunakan instrumen-instrumen yang telah ditetapkan. Data primer dikumpulkan oleh peneliti untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan penelitian. Pengumpulan data primer merupakan bagian internal dari proses penelitian dan yang seringkali diperlukan untuk tujuan pengambilan keputusan. Data primer dianggap lebih akurat, karena data yang disajikan secara terperinci. Indriantoro dan Supomo dalam Purhantara (2010)

b. Data Sekunder adalah data yang telah tersedia dalam berbagai bentuk.

Biasanya sumber data ini banyak sebagai data statistik atau data yang sudah diolah sedemikian rupa sehingga siap digunakan dalam statistik biasanya tersedia pada kantor-kantor pemerintahan, biro jasa data, perusahaan swasta atau badan lain yang berhubungan dengan penggunaan data. (Moehar, 2002). Data sekunder umumnya berupa bukti, catatan atau laporan historis yang telah tersusun dalam arsip (data dokumenter) yang dipublikasikan dan yang tidak dipublikasikan. Dalam penelitian ini data sekunder didapat dari lembaga maupun perusahaan atau pihak-pihak yang berkaitan dengan penelitian ini.

(51)

3.3 Tempat dan Waktu Penelitian

Penelitian dilaksanakan di Josemma Boutique Semarang yang beralamat di Jalan Raya Genuk Kudu Semarang. Kegiatan penelitian dimulai sejak bulan Januari 2019 dan diperkirakan sampai Juli 2019.

Dengan berbagai pertimbangan dan alasan antara lain :

1. Terdapat masalah penurunan penjualan pada Josemma Boutique di Jalan Raya Genuk Kudu Semarang

2. Pertumbuhan bisnis fashion yang semakin bertambah tahun semakin berkembang khususnya dikota Semarang sehingga perlu adanya pengamatan untuk mengertahui perkemangan tersebut secara mendalam dan dapat mengantisipasi apabila terdapat kelemahan.

3.4 Subyek dan Obyek Penelitian a. Subjek Penelitian

Subjek Penelitian merupakan sumber data yang dimintai informasinya sesuai dengan masalah penelitian. Adapun yang dimaksud sumber data dalam penelitian adalah subjek dari mana data diperoleh (Suharsimi Arikunto, 2002). Untuk mendapatkan data yang tepat maka perlu ditentukan informan yang memiliki kompetensi dan sesuai dengan kebutuhan data (purposive). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui upaya meningkatkan hasil penjualan. Oleh karena itu diperlukan objek yang mampu menjelaskan dan mengetahui terkait hal diatas sehingga memungkinkan data dapat diperoleh.

Karakteristik subjek penelitian adalah sebagai berikut:

1. Memiliki pengetahuan dan pengalaman tentang penjualan

(52)

2. Membantu peneliti dalam proses pengumpulan data 3. Memiliki waktu yang memadai untuk dimintai informasi

Tabel 3.4 Daftar informan

No Nama Umur jenis kelamin keterangan

1 Emma suteja 28 perempuan owner butik

2 Aan 30 laki-laki Penjualan1

3 Anna 21 perempuan Penjualan 2

4 Retno 30 perempuan konsumen 1

5 Gita 22 perempuan konsumen 2

6 Mega 47 perempuan konsumen 3

7 Nanda 20 perempuan konsumen 4

Sumber : Observasi Lapangan b. Objek Penelitian

Obyek penelitian yang dipilih penulis adalah yaitu Josemma Boutique yang terletak di Jl. Raya Genuk Kudu Semarang. Adapun pemilih Josemma Boutique ini sebagai obyek penelitian dengan alasan bahwa perkembangan Fasion sekarang ini yang semakin berkembang khususnya di kota Semarang, sehingga memunculkan ide dan inovasi berbisnis dalam mengembangkan produk-produk agar mampu bersaing dalam bisnis yang sejenis.

3.5 Metode Pengumpulan Data

Dalam penelitian kualitatif, pengumpulan data dapat dilakukan dalam berbagai setting, sumber, dan cara. Misalnya observasi, wawancara, arsip data sekunder, dan FGD (focus group discussion). Instrumen utama dalam

(53)

pengumpulan data adalah peneliti, berinteraksi dengan informan sebagai subjek yang diteliti (Ghony dan Almansyur, 2012). Untuk memahami mendalam tentang kondisi nyata kehidupan informan yang sesungguhnya, sehingga dibutuhkan kedekatan dengan orang-orang yang ada dalam situasi peneliti (Afifudin dan Saebeni, 2009).

Metode untuk menerapkan prinsip pembuktian dari banyak sumber, dalam penelitian kualitatif menggunakan triangulasi yaitu pengumpulan data dari berbagai sumber yang relavan dengan fenomena yang dipelajari (Locke, 2001, Ihalauw, 2011) yang memungkinkan peneliti memperhatikkan isu dari berbagai sudut pendang dan dapat mempertemukannya menuju satu titik. Dalam peneliti ini, maka metode pengumpulan data yang dilakukan adalah:

3.5.1 Metode Observasi

Observasi sebagai teknik pengumpulan data mempunyai ciri yang spesifik bila dibandingkan dengan teknik lain, yaitu wawancara dan kuesioner.

Wawancara dan kuesioner selalu berkomunikasi dengan orang, sedangkan obsevasi tidak terbatas pada orang tetapi pada objek lain. Sutrisno Hadi sebagai mana dikutip oleh Sugiyono (2004) mengemukakan bahwa observasi merupakan proses yang komplek, proses yang tersusun dari berbagai proses biologis dan psikologis. Dua diantara yang terpenting adalah proses pengamatan dan ingatan.

Peneliti menggunakan metode observasi non partisipasi, artinya peneliti tidak terlibat dan hanya sebagai pengamat independen. Dengan metode ini penulis dapat memperoleh data gambaran umum kinerja perusahaan, penjualan, dan pembelian di Josemma Boutique Semarang. Hal ini dilakukan sebagai penjajagan

(54)

awal dan seterusnya terhadap lapangan penelitian agar penulis lebih memahai kondisi yang sebenarnya sehingga memperoleh data yang valid.

3.5.2 Wawancara

Pedoman wawancara (interview guide) adalah daftar pertanyaan yang bersifat terbuka yang dimasukkan untuk mengenali data atau informasi secara lengkap dan mendalam (Erwan Agus Purwanto, 2007). Teknik wawancara dapat dilakukan dengan wawancara tatap muka (face to face interviewing), wawancara menggunakan telepon (telephone interviewing) atau wawancara dengan online seperti chatting (online research). Dalam penelitian ini peneliti melakukan wawancara langsung yaitu, tanya jawab dengan Informan.

3.5.3 Dokumentasi

Yatim Riyanto (2001) berpendapat dokumentasi berasal dari kata dokumen, yang artinya barang-barang tertulis. Metode dokumentasi berarti cara mengumpulkan data dengan mencatat data-data yang sudah ada,metode ini lebih mudah dibandingkan dengan metode pengumpulan data yang lain. Metode ini penulis gunakan untuk memperoleh data yang lengkap dari penelitian di Josemma Boutique. Hal ini penulis lakukan karena informasi yang akan penulis peroleh bukan berasal dari orang saja, melainkan dari data-data yang berbentuk dokumen.

Dalam penelitian ini dokumentasi diperoleh dari gambar-gambar langsung melalui objek yang diteliti.

3.6 Teknik Analisis Data A. Uji Kredibilitas Data

Uji Kredibilitas adalah uji kepercayaan dari data yang dihasilkan selama proses penelitian kualitatif (Sugiyono, 2011). Moleong (2005)

(55)

memaparkan tujuan uji (credibility) kredibilitas data yaitu untuk menilai kebenaran dari temuan penelitian kualitatif. Dalam penelitian ini menggunakan triangulasi sumber dan triangulasi metode untuk menguji kredibilitas data.

1. Triangulasi Sumber

Untuk menguji kredibilitas data dilakukan dengan cara mengecek data yang telah diperoleh melalui beberapa sumber. Data yang diperoleh dianalisis oleh peneliti sehingga menghasilkan suatu kesimpulan selanjutnya dimintakan kesepakatan (membercheck) dengan tiga sumber data (Sugiyono, 2007).

2. Triangulasi Metode

Menurut Moleong(2010) triangulasi adalah teknik pemeriksaan keabsahan data yang memanfaatkan sesuatuyang lain diluar data itu untuk keperluan pengecekan atau sebagai pembanding terhadap data itu. Dalam penelitian ini peneliti menggunakan satu macam triangulasi yaitu triangulasi teknik.

Triangulasi “Teknik “pengumpulan data

Sumber Data Sama

Observasi Wawancara Dokumentasi

(56)

3.7 Narasi Data

Dari informan diatas ada 1 orang selaku Owner Josemma Boutique yaitu Ibu Emma Suteja yang berusia 28 thn, bergelut didunia bidang Fashion Selama 4 tahun terakhir ini Ibu Emma mengamati ada penurunan hasil penjualan yang sangat dratis setiap tahunnya. Dengan begitu perusahaan harus memperbaiki strategi pemasaran yang membuat para konsumen tidak akan beralih dengan pesaing lain. Dan pada akhrinya peneliti memilih Ibu Emma dan 2 orang karyawanya posisinya sebagai Staf Penjualan sebagai informan yang dapat dipercaya dengan dilakukannya wawancara, observasi dan pengambilan dokumentasi guna memperoleh data yang sesuai.

(57)

41 4.1. DeskripsiObyekPenelitian

4.1.1. Sejarah Singkat Josemma Boutique

Josemma Boutique merupakan suatu usaha yang bergerak dibidang penjualan pakaian wanita, awal mulanya berdiri Josemma Boutique didirikan pada tahun 2015 yang berlokasi di Jalan Raya Genuk Kudu Rt 01 Rw 06 Banjardowo Semarang Timur. Pemiliknya bernama Ibu Emma Suteja dahulu sebelum mendirikan toko butik IbuEmma bekerja sebagai apoteker di salah satu apotik di wilayah banjardowo. Tetapi karena kecintaanya pada fashion Ibu Emma berinisiatif untuk berjualan pakaian online disela-sela waktunya bekerja. Setelah keluar dari kerjaanya ibu Emmamemutuskanmemberanikan diri untuk mendirikan toko butik sendiri yang diberi nama Josemma Boutique.

4.2 ProfildanInformanKunci

Penelitianinitelahmelakukanobservasiuntukmenentukaninforman yang sesuaidengankriteria yang telahditentukansebelumnya. Informan yang telahdiambilberjumlah 7 (Tujuh) orang. Informanini yang dapatmemberikaninformasiberdasarkanpertanyaanpenelitianyaitu upaya dalam meningkatkan hasil penjualan.

Berdasarkan hasil penelitian didapatkan profil dan infroman kunci

(58)

dapat dilihat pada tabel sebagai berikut : Tabel 4.1 Data Informan

No Nama Keterangan

1 Ibu Emma Pemilik Butik

2 Bapak Aan Tenaga Penjualan

3 Anna Tenaga Penjualan

4 Retno Konsumen

5 Gita Konsumen

6 Mega Konsumen

7 Nanda Konsumen

Sumber : Wawancara Pendekatan 4.3 Gambaran Penelitian dan Pembahasan

Josemma Boutique adalah sebuah butik yang berada di Jalan Raya Genuk Kudu Rt 01 Rw 06 Banjardowo Semarang Timur berdiri sejak 2015 hingga saat ini. Tahun demi tahun penjualan pada Josemma Boutique semakin menurun oleh kerenanya perusahaan berupaya melakukan evaluasi guna mengetahui penyebab penurunan guna meningkatkan hasil penjualan yang baik. Berdasarkan hal tersebut di atas yang menjadi persoalan adalah penurunan pada penjualan Josemma Boutique. Dengan pertanyaan penelitian faktor apa saja yang menyebabkan penurunan hasil penjualan pada Josemma Boutique Semarang?, bagaimana faktor upaya meningkatkan hasil penjualan pada Josemma Boutique Semarang?.

(59)

4.3.1 Hasil Wawancara Dengan Ibu Emma pemilik Josemma Boutique Semarang

Peneliti: Assalamualaikum Ibu Emma, boleh meminta waktunya sebentar? saya inneke yang kemarin meminta ijin untuk penelitian disini, maaf bu kalau mengganggu waktunya.

Informan: Waalaikumsallam, iya tidak apa-apambak langsung saja mbak.

Peneliti: Makasih ya bu, bagaimana awal mula ibu mendirikan Josemma Boutique ini?

Informan : Awalnya saya berdagangan online dulu mbak saat itu saya masih bekerja sebagai apoteker tetapi setelah saya keluar kerja saya lebih senang untuk menekuni bidang fashion jadinya ya saya berani untuk buka butik sendiri

Peneliti: Konsep Butik seperti apa yang ditawarkan Josemma Boutique?

Informan: Konsep yang diberikan Josemma Boutique ya minimalis karena lahan memang tidak terlalu luas konsep sederhana minimalis saja

Peneliti: Apa yang menjadi keunggulan dan kelemahan Josemma Boutique?

Informan: Josemma boutique memberikan fasilitas kepada konsumen bisa kostum baju sesuai keinginan,

(60)

kelemahanya lahan toko memang tidak terlalu luas sama cuman punya satu media pemasaran sosial media dan hanya promosi lewat mulut kemulut saja.

Peneliti: Siapa yang melakukan promosi Josemma Boutique?

Informan: Yang melaukan promosi ya saya sendiri mbak, semua yang bertanggung jawab penuh atas kelancaran Josemma Boutique.

Peneliti: Bagaimana tahapan-tahapan proses perencanaan strategi promosi dalam menarik minat konsumen?

Informan: Kalau promosi di Josemma belum ada proses khusus atau rencana khusus dalam melakukan perencanaan promosi, cuman mengambil gambar foto video lalu diupload di instagram saja.

Peneliti: Kegiataan apa saja yang menunjang kegiatan promosi Josemma Boutique?

Informan: Biasanya mengadakan promo-promo bonus dan potongan harga.

Peneliti: Bagaimana memperkenalkan produk-produk Josemma Boutique kepada khalayak?

Informan: Kita lebih banyak mengandalkan sosial media, karena erannya sekarang kan sosial media

Peneliti: Melalui media apa sajakah yang digunakan untuk beriklan?

Informan: Medianya yang digunakan hanya instagram saja dan

(61)

hanya mengandalkan promosi mulut kemulut karena banyak konsumen baru kebanyakan rekomendasian orang terdekat yang pernah kesini

Peneliti: Usaha apa yang telah dilakukan josemma boutique untuk meningkatkan hasil penjualan?

Informan: Dengan lebih menggencarkan promosi-promosi dengan menggunakan instagram

Peneliti: Upaya apa saja yang dilakukan dalam menghadapi pesaing josemma boutique?

Informan: Upaya yang dilakukan itu memprioritaskan keinginan konsumen. Dan lebih mempertahankan kualitas produk yang baik.

Peneliti: Bagaimana hasil yang telah dilakukan dalam strategi promosi yang dilakukan Josemma Boutique?

Informan: Hasilnya ya belum meksimal karena penjualan kami belum bisa mencapai hasil yang memuaskan

Peneliti: Promosi yang seperti apa yang sangat dominan mempengaruhi kenaikan jumlah konsumen?

Informan: Promosi yang dominan itu ya dimedia sosial mbak ya karena banyak sekali orang yang bermain media sosial setiap saat terutama instagram

Peneliti: Bagaimana cara mengukur berhasil atau tidaknya promosi yang dilakukan Josemma Boutique?

Informan: Cara mengukurnya itu melihat jumlah konsumen

(62)

setiap nulanya yang berkunjung atau membeli secara online di Butik

Peneliti: Bagaimana cara Josemma Boutique menetapkan diskon?

Informan: Biasanya memberikan diskon dengan menghabiskan stok lama, ya untuk membersihkan inventori karena juga butuh untuk membuat ruangan untuk produk baru

Peneliti: Iya bu, terimakasih atas informasinya bu, kurang lebihnya saya mohon maaf karena sudah menggangu waktunya.

Informan: Iya mbak sama sama

Dari hasil wawancara dengan Ibu Emma selaku pemilik Josemma Boutique menunjukan adanya faktor-faktor dari terkait dalam Upaya meningkatkan hasil penjualan Yaitu : Promosi, harga yang ditetapkan untuk setiap produk, word of mouth, minat beli. Pada Josemma Boutique belum terbentuknya proses strategi pemasaran dalam penjualan. Serta ibu Emma menjelaskan upaya dilakukan adalah memberikan diskon bonus serta potongan harga untuk menarik minat konsumen, promosi yang digunakan adalah menggunakan media instagram dan word of mouth agar lebih mudah dalam pencapaian kepada khalayak.

Usaha ini awal mulanya sebelum mendirikan toko butik Ibu Emma bekerja sebagai apoteker di salah satu apotik. Tetapi karena kecintaanya

(63)

pada fashion Ibu Emma berinisiatif untuk berjualan pakaian online disela-sela waktunya bekerja. Setelah keluar dari kerjaanya ibu Emma memutuskan memberanikan diri untuk mendirikan toko butik sendiri yang diberi nama Josemma Boutique. Dalam membangun dan melaksanakan usaha Josemma Boutique tidak menggunkan proses khusus dalam pelaksanaan promosi mengakibatkan banyak tujuan yang belum dapat di capai oleh Josemma Boutique.

4.3.2. Hasil Wawancara Dengan Pak Aan(Tenaga Penjualan)

Peneliti: Selamat sore Pak, saya Inneke yang kemarin meminta ijin untuk penelitian disini, maaf Pak kalau mengganggu waktunya.

Informan: Sore mbak, iya silahkan mbak

Peneliti: Terimakasih Pak, saya mulai dari pertanyaan pertama ya pak, kegiatan apa saja yang menunjang minat beli pada konsumen Josemma Boutique?

Informan: Ya banyak mengadakan promo-promo dan potongan harga serta aktif terus dimedia sosial dalam memasarkan berbagai produk

Peneliti: Bagaimana Josemma Boutique memberikan kepuasan pelayanan penjualan yang baik kepada konsumen?

Informan: Ya, harus selalu siap respon dalam melayani konsumen

Peneliti: Iklan yang seperti apa yang digunakan Josemma

Figur

Tabel 1.1 Data Hasil Penjualan Josemma Boutique...................................  I-2 Tabel 3.4 Daftar Nama Informan……...................................................

Tabel 1.1

Data Hasil Penjualan Josemma Boutique................................... I-2 Tabel 3.4 Daftar Nama Informan……................................................... p.14
Gambar 2.1    Alur Penelitian ........................................ . II-31

Gambar 2.1

Alur Penelitian ........................................ . II-31 p.15
Tabel 3.4 Daftar informan

Tabel 3.4

Daftar informan p.52
Tabel 4.4  Klasterisasi Kategori Analisis

Tabel 4.4

Klasterisasi Kategori Analisis p.82
Tabel 4.5 Pengidentifikasian Pola dan Kategori

Tabel 4.5

Pengidentifikasian Pola dan Kategori p.83
Foto Bersama KonsumenFoto Bersama KonsumenFoto Bersama Konsumen

Foto Bersama

KonsumenFoto Bersama KonsumenFoto Bersama Konsumen p.99

Referensi

Memperbarui...

Related subjects :