• Tidak ada hasil yang ditemukan

SHOYU KERTAS KARYA DISUSUN OLEH TRI HARTINA NIM :

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "SHOYU KERTAS KARYA DISUSUN OLEH TRI HARTINA NIM :"

Copied!
35
0
0

Teks penuh

(1)

SHOYU

KERTAS KARYA DISUSUN

OLEH

TRI HARTINA NIM : 142203044

PROGRAM STUDI DIII BAHASA JEPANG FAKULTAS ILMU BUDAYA

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN

2017

(2)

SHOYU

KERTAS KARYA

Kertas karya ini diajukan kepada Panitia Ujian Program Pendidikan Non Gelar Fakultas Ilmu Budaya Universitas Sumatera Utara Medan, untuk melengkapi salah satu syarat ujian Diploma III Program Studi Bahasa Jepang.

Dikerjakan OLEH:

TRI HARTINA NIM : 142203044

PEMBIMBING,

Drs. Amin Sihombing NIP: 19600403 199103 1 001

PROGRAM STUDI D-III BAHASA JEPANG FAKULTAS ILMU BUDAYA

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN

(3)

Disetujui oleh:

Program Diploma Sastra dan Budaya Fakultas Ilmu Budaya

Universitas Sumatera Utara Medan

Program Studi D III Bahasa Jepang Ketua Program Studi

Dr. Diah Syafitri Handayani, M.Litt NIP.197212281990032001

(4)

PENGESAHAN

Diterima Oleh :

Panitia Ujian Pendidikan Non-Gelar Sastra Budaya Fakultas Ilmu Budaya Universitas Sumatera Utara Medan, untuk melengkapi salah satu syarat ujian Diploma III dalam Bidang Studi Bahasa Jepang.

Pada :

Tanggal :

Hari :

Program Studi D-III Bahasa Jepang Fakultas Ilmu Budaya

Universitas Sumatera Utara Dekan,

Dr. Budi Agustono, M.S NIP: 196008051987031001

Panitia Tugas Akhir :

No. Nama Tanda Tangan

1. ( )

2. ( )

(5)

KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena atas berkat dan karunia-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan penulisan kertas karya ini yang berjudul “SHOYU”.

Penulis menyadari bahwa karya tulis ini masih jauh dari kata sempurna karena kemampuan penulis yang terbatas. Tetapi berkat bantuan beberapa pihak, maka penulis berhasil menyelesaikan karya tulis ini.

Maka dari itu, penulis mengucapkan terima kasih kepada pihak yang telah memberikan dukungan, terutama kepada :

1. Bapak Dr. Budi Agustono.MS, Selaku Dekan Fakultas Ilmu Budaya Universitas Sumatera Utara.

2. Ibu Dr. Diah Syafitri Handayani,M.Litt selaku Ketua Jurusan Bahasa Jepang Fakultas Ilmu Budaya Universitas Sumatera Utara.

3. Bapak Drs. Amin Sihombing selaku Dosen Pembimbing yang telah banyak meluangkan waktu, memberikan bimbingan, membantu dan memberikan pengarahan sehingga penulis dapat menyelesaikan kertas karya ini.

4. Kepada seluruh Dosen dan Staf pengajar Jurusan Bahasa Jepang Fakultas Ilmu Budaya Universitas Sumatera Utara.

5. Untuk kedua orang tuaku Bapak Teguh dan Ibu Aseh tercinta, terimakasih atas do’a, kasih sayang, dan dukungan baik dari segala bentuk.

(6)

6. Untuk Abangku Ahmad Subarkah Amd.Kom, kakak tersayangku Fitri Wahyuni, S.pd, dan terimakasih juga kepada Abang Achong atas dukungannya.

7. Untuk para sahabat Fenny Ayu Indriyani, Rili Dwi Sartika, dan Siti Hartina, terima kasih atas support dan dukungan kalian semua.

8. Untuk keluarga besar Hinode dan seluruh teman-teman di Fakultas Ilmu Budaya Universitas Sumatera Utara.

Akhir kata penulis mengucapkan banyak terima kasih kepada seluruh pihak yang tidak bisa disebutkan satu persatu tetapi telah banyak memberikan dukungan yang baik serta membantu penulis dalam menyelesaikan laporan ini.

Penulis berharap semoga penulisan kertas karya ini dapat bermanfaat serta memberikan wawasan kepada pembaca.

Medan, 11 April 2017 Penulis

TRI HARTINA NIM.142203044

(7)

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ………i

DAFTAR ISI ………..iii

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Alasan Pemilihan judul ...1

1.2 Tujuan penulisan ...2

1.3 Batasan Masalah ...3

1.4 Metode penulisan ...3

BAB II GAMBARAN UMUM 2.1 Sejarah Shoyu ...4

2.2 Jenis-jenis Shoyu ...6

2.3 Bahan-bahan untuk membuat Shoyu ...8

2.4 Cara Membuat Shoyu ...9

2.5 Kandungan Gizi pada Shoyu ...12

BAB III TINGKAT PRODUKSI SHOYU 3.1 Penduduk Jepang ...15

3.2. Tingkat Produksi Shoyu di Jepang...17

3.3. Daerah Penghasil Shoyu ...18

3.3. Penggunaan Shoyu ke Berbagai Makanan ...19

(8)

BAB IV KESIMPULAN DAN SARAN

4.1 Kesimpulan ...21 4.2 Saran ...21

DaftarPustaka ...22 Lampiran

(9)

BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Alasan Pemilihan Judul

Masakan Jepang adalah makanan yang dimasak dengan cara memasak yang berkembang di Negara Jepang dan menggunakan bahan-bahan makanan yang diambil dari wilayah jepang dan sekitarnya. Dalam bahasa jepang, makanan jepang disebut Nihonshoku atau Washoku.

Masakan Jepang sangat popoler di negara-negara luar Jepang. Hal ini dapat dilihat dari banyaknya restoran-restoran Jepang yang terdapat diberbagai negara, sehingga terjadilah berbagai modifikasi makanan tersebut dan disesuaikan dengan bahan-bahan yang ada disekitar.

Zaman sekarang, sudah terlalu banyak jenis-jenis bumbu penyedap untuk campuran masakan. Seluruh masyarakat Jepang pasti menggunakan bumbu penyedap untuk masakannya.Tanpa adanya bumbu penyedap, masakan tersebut tidak ada rasa dan aromanya, karena bumbu penyedaplah yang dapat membangkitkan selera untuk makan.

Salah satu bumbu yang digemari di Jepang adalah shoyu. Shoyu adalah penyedap makanan yang berasal dari Jepang yang dibuat dari fermentasi rebusan kedelai, gandum atau campuran keduanya dengan garam. Shoyu digunakan untuk memberi rasa makanan dan juga biasanya dimasak bersama dengan maskan.

Shoyu yang alami biasanya menggunakan metode fermentasi berabad-abad yang

(10)

melibatkan koji khusus (Aspergillus oryzae) yang mengubah protein kedelai, pati dan lemak yang diklaim sulit digali menjadi asam amino yang mudah diserap.

Pada umumnya, bahan-bahan masakan berupa beras hasil pertanian dan masakan laut. Bumbu berupa dashi yang terbuat dari konbu, ikan dan shitake dan ditambah dengan miso dan shoyu. Berbeda dengan masakan dari negara Indonesia, masakan Jepang sama sekali tidak menggunakan bumbu berupa rempah-rempah dari biji-bijian ataupun penyedap yang mengandung biji yang harus ditumbuk atau dihaluskan. Masakan jepang juga tidak mengandung bumbu yang berbau tajam. Kacang kedelai merupakan bahan utama bumbu olahan.

Masakan Jepang umumnya rendah lemak, tetapi mengandung kadar garam yang tinggi.

1.2. Tujuan Penulisan

Berdasarkan alasan pemilihan judul, maka tujuan penulisan dalam kertas karya ini, yaitu:

1. Mendeskripsikan secara singkat tentang pemakaian shoyu dalam kehidupan sehari-hari masyarakat Jepang.

2. Untuk mengetahui jenis-jenis shoyu.

3. Untuk mengetahui seberapa penting pemakaian shoyu dalam kehidupan sehari-hari masyarakat Jepang.

(11)

1.3. Batasan Masalah

Dalam pemilihan kertas karya ini perlu diberikan batasan masalah yang jelas agar tujuan pembahasan dapat tercapai. Adapun masalah yang dibahas dalam penulisan ini adalah gambaran umum tentang shoyu dan cara membuat shoyu.

1.4. Metode Penulisan

Dalam penyusunan kertas karya ini, penulis menggunakan metode kepustakaan (library research) yakni dengan cara memanfaatkan sumber-sumber bacaan yang ada yakni sebagai referensi yang berkaitan dengan pokok permasalahan yang dibahas, kemudian dirangkum dan dideskripsikan ke dalam kertas karya ini. Selain itu, penulis juga memanfaatkan informasi teknologi internet sebagai referensi tambahan agar data yang didapatkan menjadi lebih akurat dan jelas.

(12)

BAB II

GAMBARAN UMUM

2.1. Sejarah Shoyu

Kecap Asin (shoyu) adalah sejenis kecap yang rasanya asin. Shoyu merupakan hasil fermentasi bahan nabati atau hewani berprotein tinggi di dalam larutan garam. Shoyu memiliki aroma yang khas dan mempunyai tekstur warna, mulai dari warna coklat tua sampai warna yang lebih terang.

Shoyu, dalam bentuk primitif, berasal dari Cina; itu dikenal sebagai Jiang/sho dan catatan paling awal dari produksi diperkirakan sekitar 25-225 Masehi. Sho adalah pasta dengan tekstur mirip dengan bubur atau jus apel; itu pertama kali diproduksi dari fermentasi jenis ikan cincang dengan millet malt, garam, dan alkohol.

Penggunaan tercatat pertama dari kedelai untuk Sho dikatakan didokumentasikan sekitar 3 Masehi, Sho hanya digunakan untuk merujuk pada campuran yang mencakup kedelai karena memperoleh tanggapan yang menguntungkan dibandingkan dengan iterasi sebelumnya.

Berkembangnya zaman, ikan benar-benar dihilangkan dan Sho berkembang menjadi bentuk yang sangat akrab, dan akibatnya dengan penghapusan unsur hewani, itu dianggap ideal untuk digunakan untuk mengikuti agama Buddha yang tidak mengkonsumsi daging.

(13)

Sho dikatakan pertama kali tiba di Jepang sekitar 500 Masehi, bersama dengan pengenalan Buddhisme ke Jepang dari Cina. Sho secara luas dipromosikan dan digunakan untuk menggantikan bumbu dasar kecap ikan, karena sebuah keputusan yang dikeluarkan oleh Kaisar selama abad ke-7, melarang semua mengkonsumsi daging (kecuali ikan dan burung). Untuk mematuhi ajaran-ajaran Buddha; Jepang menerapkannya untuk 1.100 tahun kedepan. Selama periode ini popularitas sekitar abad ke-10. Sho bercabang ke jalan yang berbeda, dengan lebih pasta seperti Sho berkembang menjadi Miso, sedangkan jenis cairan Sho berkembang menjadi Shoyu. Shoyu telah menjadi bumbu pokok pola makan Jepang.

Shoyu biasanya dibuat dengan menggunakan kedelai kukus, gandum panggang, Koji ( ragi ), garam, dan kadang-kadang alkohol. Bahan dicampur bersama-sama dan disimpan di sebuah ruangan khusus yang disebut Koji Muro, yang biasanya gelap dan dingin. Untuk penyimpanannya membutuhkan waktu sekitar 6 sampai 12 bulan (tergantung pada rasa yang diinginkan). Ketika waktu yang dibutuhkan telah tiba, isi kemudian disaring dan cairan dikemas dan dijual sebagai shoyu.

Namun, proses tersebut diatas adalah proses yang panjang dan melelahkan, sehingga sebagaian besar perusahaan modern yang lebih memilih proses kimia sederhana dengan mencampur kedelai dengan sereal diformulasikan khusus dan asam untuk menghasilkan shoyu.

(14)

2.2 Jenis-jenis shoyu

Secara garis besar, shoyu dapat dikelompokkan menurut warna, yaitu : 1. Koikuchi shoyu (濃口), yang berarti rasa tebal/kuat, lebih banyak biotin.

Shoyu standar yang memiliki warna gelap diantara jenis-jenis yang lainnya. Shoyu jenis ini berasal dari daerah Kanto, yang kini banyak dipakai oleh >80% orang Jepang. Disebut juga kijoyu ( 生 醤 油 ) atau namashoyu ( 生 し ょ う ゆ ), inilah jenis kecap jepang yang umumnya

dipasaran. Komposisi kedelai dan tepungnya hampir sama.

2. Usukuchi shoyu ( 薄 口 ), yang berarti rasa tipis/lemah. Shoyu yang berwarna terang (Light Soy Sauce). Rasanya lebih asin dan sering digunakan untuk memasak sayuran dan sup. Namun masakannya tidak tampak terlalu gelap meski cukup bergaram. Shoyu jenis ini terkenal di daerah Kansai serta rasanya yang lebih ringan, dan lebih banyak natrium.

Warna cerahnya karena penggunaan amazake (甘酒), minuman Jepang yang manis dan lebih sedikit alkohol.

3. Saishikomi shoyu atau kanro shoyu (甘露醤油) merupakan shoyu spesial yang dibuat di Yamaguchi. Uniknya, pencampuran beras dilakukan sebanyak 2 kali yaitu, sebelum dan sesudah proses fermentasi. Kecap ini lebih gelap lagi serta lebih berasa aromanya.

(15)

4. Tamari shoyu (たまり) merupakan shoyu yang lebih kental dan gelap diantara yang lainnya. Shoyu jenis ini dibuat tanpa gandum dan mengandung lebih banyak kacang kedelai. Hal itu membuat tamari lebih kental dan lebih kaya rasa, tetapi lebih sedikit mengandung garam dibandingkan shoyu biasa. Shoyu ini biasanya digunakan sebagai saus celup untuk teriyaki atau makanan panggang, yang menuntut rasa yang penuh atau kaya rasa. Shoyu ini cocok untuk orang yang sedang diet karena free gluten (pembuatannya tanpa wheat), rendah natrium dan alkohol, tapi lebih banyak mineral kalium, besi, dan Vitamin B.

5. Gen-en shoyu merupakan (shoyu yang mengandung sedikit garam) bisa jadi pilihan untuk orang yang sadar akan kesehatan. Anda akan sulit membedakan rasanya dengan shoyu biasa.

6. Shiro shoyu ( 白 ) merupakan shoyu yang mengandung lebih banyak gandum untuk memberi warna dan rasa yang lebih ringan dari pada Usukushi shoyu, sehingga tidak mengubah warna masakan. Shoyu ini memiliki warna yang paling cerah diantara yang lainnya. Rasanya manis dan diproduksi di Prefektur Aichi. Warna shoyu ini mirip dengan warna dashi yang terbuat dari Bonito Flakes.

7. Selain itu beberapa jenis shoyu yang terkenal diantara orang jepang adalah seperti Dashi-Iri Shoyu (Kaldu Dashi ditambahkan Shoyu), Soba-Tsuyu (Saus mi dicampur shoyu dengan mirin dan gula) dan ponzu shoyu (shoyu dengan citrus).

(16)

2.3. Bahan-bahan untuk membuat shoyu

1. Kedelai

Kedelai merupakan bahan baku penting untuk pembuatan shoyu.

Kandungan protein tinggi yang baik untuk pembuatan shoyu. Protein kedelai dihasilkan oleh protease (enzim proteolitik) Aspergillus oryzone.

Jika menggunakan bahan dasar kedelai dengan lemak tinggi, dan harganya murah, maka dapat memperpendek waktu fermentasi moromi selama 5 bulan.

2. Gandum

Gandum sebagai bahan dasar tambahan yang berfungsi untuk mengurangi kadar air bahan, yaitu dari 60% menjadi 40% sehingga menghambat pertumbuhan bakteri. Kualitas keseimbangan N gandum akan berubah menjadi glukosa oleh kekuatan amilase tersebut.

3. Garam

Garam, atau Natrium Klorida, ditambahkan pada awal fermentasi sekitar 12-18% dari berat produk jadi. Garam tidak hanya ditambahkan untuk rasa; ini juga membantu membangun lingkungan kimiawi yang tepat untuk

(17)

Konsentrasi garam yang tinggi juga diperlukan untuk membantu melindungi produk jadi dari pembusukan. Garam dapat memperlambat kerja mikroorganisme, dan memiliki efek menetralisir bakteri jahat.

2.4. Cara Membuat Shoyu

Proses Manufaktur terdiri dari 2 (dua) cara, yaitu dengan Metode diseduh tradisional dan Metode yang tidak diseduh (Hidrolisis Kimia).

a. Metode diseduh Tradisional

Metode tradisional pembuatan kecap, terdiri dari 3 (tiga) tahap : pembuatan koji, fermentasi air garam, dan penyempurnaan.

1. Pembuatan Koji

Kedelai dan gandum yang diolah dengan hati-hati dilumatkan dan dicampur bersama dalam kondisi terkendali. Air ditambahkan ke dalam campuran, yang direbus hingga butirnya benar-benar matang dan melunak. Mash (bubur), seperti yang diketahui, biarkan dingin sampai sekitar 80˚F (27˚C) sebelum cetakan benih (Aspergillus) ditambahkan. Campuran dibiarkan matang selama 3 (tiga) hari di dalam tong besar berlubang dimana udara disirkulasikan. Kultur kedelai, gandum, dan jamur ini dikenal sebagai koji.

2. Fermentasi Air Garam

Koji dipindahkan ke tangki fermentasi, dimana dicampur dengan air dan garam untuk menghasilkan mash (bubur) yang disebut moromi. Bakteri asam laktat dan ragi kemudian ditambahkan untuk mempromosikan fermentasi lebih lanjut. Moromi harus

(18)

difermentasi selama beberapa bulan, selama waktu kedelai dan gandum pasta akan berubah menjadi semi-cair, coklat kemerahan.

Proses fermentasi ini menciptakan lebih dari 200 senyawa rasa yang berbeda.

3. Perbaikan atau penyempurnaan

Setelah sekitar 6 (enam) bulan fermentasi moromi, kecap mentah dipisahkan dari kue gandum dan residu kedelai dengan cara menekannya melalui lapisan kain filtrasi. Cairan yang muncul kemudian diawetkan. Proses pengawetan memiliki dua tujuanyaitu, membantu memperpanjang umur simpan produk jadi, dan membentuk senyawa aromatik dan rasa tambahan. Akhirnya, cairan itu dibotolkan sebagai kecap.

b. Metode yang tak disentuh ( hidrolisis kimia )

Alih-alih fermentasi, banyak manufaktur modern secara artifisial memecah protein kedelai dengan proses kimia yang dikenal sebagai hidrolisis karena jauh lebih cepat. (Hidrolisis memakan waktu beberapa hari dibandingkan metode diseduh tradisional).

1. Dalam metode ini, kedelai direbus dalam asam klorida selama 15- 20 jam untuk menghilangkan asam amino. Bila jumlah maksimum telah dilepaskan, campuran didinginkan untuk menghentikan reaksi hidrolitik.

(19)

2. Cairan asam amino dinetralkan dengan natrium karbonat, ditekan melalui saringan, dicampur dengan karbon aktif, dan dimurnikan melalui penyaringan. Larutan ini dikenal sebagai protein nabati terhidrolisis.

3. Warna karamel, sirup jagung, dan garam ditambahkan ke dalam campuran protein ini untuk mendapatkan warna dan rasa yang sesuai. Campuran ini kemudian disuling dan dikemas.

Kecap yang dihasilkan dengan metode kimia lebih keras dan tidak memiliki profil rasa yang diinginkan seperti yang dihasilkan dengan cara diseduh tradisional. Perbedaan rasa terjadi karena hidrolisis asam yang digunakan dalam metode yang tidak diseduh cenderung lebih lengkap dari pada fermentasinya. Ini berarti hampir semua protein dalam kecap yang tidak diseduh diubah menjadi asam amino, sedangkan dalam produk yang diseduh lebih banyak asam amino tetap bersama sebagai peptida, memberikan rasa yang berbeda. Produk yang diseduh juga mengandung alkohol, ester, dan senyawa lainnya yang menyumbangkan aroma dan nuansa yang berbeda.

2.5. Kandungan Gizi pada Shoyu

Shoyu adalah bumbu penyedap makanan tradsional jepang yang dibuat dari kacang kedelai. Kacang kedelai mengandung isoflavone yang dapat membantu menurunkan kolesterol dan menghambat hipertensi. Kacang kedelai juga mengandung 12 persen protein lengkap.

(20)

Kedelai adalah salah satu tanaman polong-polongan yang menjadi bahan dasar shoyu dan juga menjadi bahan dasar banyak makanan di Asia Timur seperti tempe, tahu, dan lain-lain. Berdasarkan peninggalan arkeologi, kacang kedelai ini dibudidayakan sejak 3500 tahun yang lalu di Asia Timur.

NILAI GIZI PER 100g

Energi 222 kJ (53 kcal)

Karbohidrat 4,93 g

Kandungan Gula 0,40 g

Serat makanan 0,8 g

Lemak 0,57 g

Protein 8,14 g

Tryptophan 0,096 g

Threonine 0,271 g

Isoleusin 0,318 g

Leusin 0,537 g

Lysine 0,381 g

Cystine 0,118 g

Fenilalanin 0,353 g

Tirosin 0,244 g

Valin 0,332 g

Arginine 0,463 g

Histidin 0,174 g

(21)

Alanine 0,294 g

Asam aspartat 0,719 g

Asam Glutamat 1,579 g

Glycine 0,297 g

Prolin 0,493 g

Serin 0,388 g

Vitamin

Vitamin A jumlah yang cukup 0 mg ( 0% )

Tiamin ( ) 0,033 mg ( 3% )

Riboflavin ( ) 0,165 mg ( 14% )

Niacin ( ) 2,196 mg ( 15% )

Asam Pantotenat ( ) 0,297 mg ( 6% )

Vitamin ( ) 0,148 mg ( 11% )

Asam Folat ( ) 14 ug ( 4% )

Vitamin ( ) 0,00 mg ( 0% )

Colin 18,3 mg ( 4% )

Vitamin C 0,0 mg ( 0% )

Vitamin D 0,0 mg ( 0% )

Vitamin E 0,0 mg ( 0% )

Vitamin K 0,0 mg ( 0% )

Mineral Sodium 5493 mg ( 366% )

(22)

Kalium 435 mg ( 9% )

Kalsium 33 mg ( 3% )

Magnesium 74 mg ( 21% )

Fosfor 166 mg ( 24% )

Besi 1,45 mg ( 11% )

Seng 0,87 mg ( 9% )

Manggan 1,018 mg ( 48% )

Selenium 0,5 mg ( 1% )

(23)

BAB III

TINGKAT PRODUKSI SHOYU

3.1. Penduduk Jepang

Jepang adalah sebuah negara kepulauan di Asia Timur. Letaknya di ujung Barat Samudera Pasifik, disebelah timur Laut Jepang, dan bertetangga dengan Republik Rakyat Tiongkok, Korea, dan Rusia. Jepang terdiri dari 6.852 pulau yang menjadikannya sebagai negara kepulauan. Pulau-pulau utama dari Utara ke Selatan adalah Hokkaido, Honshu (Pulau terbesar), Shikoku, dan Kyushu.

Demografi Jepang ditandai penurunan tingkat kelahiran secara terus- menerus dan peningkatan harapan hidup yang menyebabkan penduduk Jepang makin menua. Penurunan tingkat fertilitas juga menyebabkan turunnya jumlah penduduk.

Penduduk Jepang berjumlah stabil sekitar 30 juta orang sepanjang abad ke-18 hingga paruh pertama abad ke-19. Populasi Jepang meningkat setelah Restorasi Meiji 1868. Pada 1926, penduduk Jepang mencapai 60 Juta orang, dan melampaui angka 100 juta orang pada tahun 1967. Namun semenjak tahun 1960- an hingga 1970-an, laju pertumbuhan penduduk melambat menjadi rata-rata sekitar 1% dan turun drastis sejak 1980-an. Populasi Jepang mencapai puncaknya pada Desember 2004 sejumlah 127.840.000 orang. Populasi mengalami

(24)

penurunan untuk pertama kalinya sejak Perang Dunia II menjadi 127.770.000 orang menurut Sensus Penduduk 2005.

Menurut perkiraan Biro Statistik Jepang, penduduk Jepang pada 1 Desember 2009 berjumlah 127.530.000 orang (62.130.000 laki-laki dan 65.410.000 perempuan). Dan dibandingkan populasi Desember 2008 terjadi penurunan sebesar 0,12% (150.000 orang).

Penduduk usia 65 tahun ke atas di Jepang meningkat dari 22.005.152 orang (1 Oktober 2000) menjadi 25.672.005 orang (1 Oktober 2005), dan menjadi 29.100.000 orang pada 1 Desember 2009. Penduduk pada usia 65 tahun ke atas telah melampaui jumlah penduduk usia muda (0-14 tahun) sejak tahun 1997.

Pada 1 Desember 2009, persentase penduduk berusia 65 tahun ke atas sebesar 22,8% dari total populasi. Sensus Januari 1997 memprediksi 27,4%

populasi Jepang akan berusia di atas 65 tahun pada tahun 2025, dan bertambah menjadi 32,3% pada tahun 2050.

Persentase penduduk usia muda (0-14 tahun) terus menyusut sejak 1982.

Pada tahun 2008, penduduk usia muda berjumlah 17.180.000 orang atau 13,5%

dari total penduduk, sementara populasi usia produktif (15-64 tahun) sebesar 64,5% (82.300.000 orang), dan terus menurun sejak tahun 1996. Menurut data 1 Juli 2009 , Persentase penduduk 0-14 tahun dan 15-64 tahun mengalami penurunan, masing-masing sebesar 0,84% (145.000 orang) dan 1,02% (844.000 orang) dibandingkan data 1 Juli 2008.

(25)

3.2. Tingkat Produksi Shoyu di Jepang

Cara pengelolaan kecap diduga berasal dari daratan Cina, ditemukan lebih dari 3000 tahun yang lalu. Selanjutnya masuk ke Jepang dan negara lain di Asia, termasuk Indonesia. Saat ini industri kecap terbesar terdapat di Jepang, yaitu Kikkoman dengan jenis kecap yang dihasilkan adalah shoyu dan tamari.

Kikkoman Corporation atau Kikkoman Kabushikigaisha adalah perusahaan Jepang yang bergerak dibidang industri makanan, dengan produk utama berupa kecap asin dan saus uster.

Adapula di Oita, Jepang pabrik pembuat bumbu dan sebuah Universitas di Prefektur Oita, Jepang. Kecap ini buatan Fundokun Shoyu Co dan Universitas Ritsumeikan Asia Pasifik menggunakan bahan pengawet bukan alkohol untuk menghambat pertumbuhan bakteri. Fundokun merupakan salah satu pabrik yang baru saja memproduksi shoyu pada tahun ini.

Berikut adalah kumpulan dari beberapa perusahaan yang memproduksi shoyu setiap tahunnya.

Perusahaan Tahun

Produksi/tahun Liter

Kikkoman 2015 17,85 Juta Liter

Fundokun 2017 120.000 Liter

Fukumurasaki 2014 1,8 Juta Liter

(26)

Penerimaan masyarakat tertinggi terhadap kecap terjadi di Jepang.

Diperkirakan total konsumsi tahunan kecap di Jepang sekitar 43,35 Juta Liter per tahun.

3.3. Daerah Penghasil Shoyu

Sejak dulu kawasan Noda, Prefektur Chiba terkenal sebagai pusat industri kecap asin. Diantara sejumlah industri rumahan tersebut terdapat 2 bisnis keluarga yang menonjol yaitu keluarga Takanashi, dan keluarga Mogi. Pada tahun 1917, delapan usaha keluarga termasuk usaha keluarga Takanashi dan usaha keluarga Mogi membentuk sebuah perusahaan terbatas. Perusahan tersebut bernama Noda Shoyu dengan Hichiroemon Mogi sebagai direktur utama.Perusahaan Noda Shoyu memiliki dari 200 merek dagang, termasuk Kikkoman. Pada tahun 1940, merek Kikkoman akhirnya dipilih sebagai satu-satunya merek yang mewakili Noda Shoyu.

Kikkoman merupakan salah satu perusahaan tertua di Jepang, yang terkenal di sseluruh dunia karena kecapnya (Shoyu). Kecap Kikkoman memegang 50% untuk saus botol oriental di Amerika Utara dan 30% di Jepang. Untuk memenuhi permintaan seluruh dunia (yang dijual 100 negara seluruh dunia) produksi telah mengalami peningkatan selama 22 tahun terakhir. Fakta lain yang mengesankan adalah Kikkoman membuat kecapnya dengan menggunakan metode yang kembali pada abad ke-17, yang memerlukan beberapa bulan penyulingan sebelum disiapkan.

(27)

3.4. Masakan Jepang yang memakai shoyu

Masakan dan makanan Jepang tidak selalu harus berupa “makanan yang sudah dimakan orang Jepang secara turun temurun.” Makanan orang Jepang berbeda-beda menurut zaman, tingkat social, dan daerah tempat tinggal. Cara memasak masakan Jepang banyak meminjam cara memasak dari Negara-negara Asia Timur dan Negara-negara Barat. Di zaman sekarang, definisi makanan Jepang adalah semua makanan yang dimakan orang Jepang dan makanan tersebut bukan merupakan masakan asal Negara lain.

Dalam arti sempit, masakan Jepang mengacu pada berbagai jenis makanan khas Jepang. Makanan yang sudah sejak lama dan secara turun temurun dimakan orang Jepang seperti, gyudon, udon, ramen, yakiniku, teriyaki, shabu-shabu, sushi dan takoyaki merupakan contoh makanan Jepang karena menggunakan bumbu khas Jepang yaitu shoyu.

Masakan Jepang tergolong masakan yang rendah lemak namun berkadar garam yang tinggi. Karena untuk kaldunya tidak menggunakan daging ayam atau sapi, melainkan kaldu atau juga disebut dashi yang terbuat dari ikan atau jamur shiitake yang nantinya dicampurkan dengan miso atau shoyu.

Masakan Jepang memiliki rasa yang lebih lembut dibandingkan masakan Indonesia, hal ini dikarenakan makanan Indonesia menggunakan bermacam- macam rempah-rempah yang memiliki rasa yang kuat. Di Jepang bumbu utama yang digunakan adalah gula pasir, garam, cuka, shoyu, dan miso. Inilah beda masakan Jepang dengan masakan dari Negara lain, karena masakan Jepang tidak mengenal bumbu rempah berupa biji-bijian yang ditumbuk semacam merica,

(28)

cabai, ketumbar dan sebagainya. Namun masakan Jepang memiliki ciri khas yaitu penyajiannya yang indah. Orang Jepang memang suka memasukkan unsur seni dalam segala hal, termasuk dalam makanan.

(29)

BAB IV

KESIMPULAN DAN SARAN

4.1 Kesimpulan

1. Shoyu atau kecap Jepang adalah kecap asin yang berbeda dengan kecap asin di Indonesia. Kecap asin Jepang memiliki rasa gurih kedelai yang jauh lebih kuat daripada kecap Indonesia. Sedangkan Kecap asin Indonesia lebih encer dan kadar garamnya lebih tinggi, bahkan ada yang dibuat menggunakan ikan laut.

2. Kebanyakan masakan Jepang adalah menggunakan shoyu yang tidak mengandung banyak minyak. Hampir seluruh makanan Jepang pasti selalu menyisipkan sayuran didalamnya.

3. Shoyu sudah ada di Jepang sekitar 25-225 Masehi. Penggunaan tercatat pertama dari kedelai untuk Sho dikatakan didokumentasikan sekitar 3 Masehi,

4. Shoyu sudah meluas ke berbagai Negara di Dunia karena memiliki kandungan rendah lemak, kalori dan mempunyai protein yang sangat tinggi.

4.2 Saran

1. Penulis berharap agar Kertas Karya ini dapat memberikan informasi dan wawasan kepada pembaca tentang shoyu.

(30)

DAFTAR PUSTAKA

Septiatin, atin. 2012. Meningkatkan Produksi Kedelai. Bandung: Yrama Widya.

http://olivklopedia.blogspot.co.id/2015/02/japan-corner-shoyu-kecap-ala-jepang.html Diana. 2012. Menu Katering Lunch Box Ala Jepang. Jakarta: GramediaPustaka Utama

(31)
(32)
(33)
(34)
(35)

Referensi

Dokumen terkait

Menurut Tandelilin (2010:187), CAPM merupakan salah satu model keseimbangan yang dapat menentukan hubungan antara tingkat return harapan dari suatu aset berisiko

Menurut Swastha dan Handoko (2012:4), pemasaran adalah suatu sistem keseluruhan dari kegiatan-kegiatan usaha yang ditujukan untuk merencanakan, menentukan harga,

Penelitian ini dilaksanakan untuk mengetahui pengaruh pembelajaran melalui metode pembelajaran think pair and share (TPS) terhadap pemahaman dan hasil belajar siswa

Reviu Laporan Keuangan Pemerintah Daerah, dilakukan setiap tahun secara berkala yang tertuang dalam Program Kerja Pengawasan Tahunan (PKPT) Inspektorat Kabupaten

Bermula pada ketidakberhasilan Taman Nasional untuk mengembangkan potensi pariwisata yang ada di Pulau Kapota, Dinas Pariwisata mulai mendekati Pak Suhairi, yang

Danise dan Robert (2009:107), mengemukakan bahwa strategi investasi yang berdasarkan kepemilikan modal dari dalam perusahaan (modal sendiri) memiliki hubungan

Uji Toksisitas Sub Letal Toksisitas sub letal ini dilakukan untuk mengetahui pengaruh limbah cair lateks terhadap kelangsungan hidup, pertumbuhan dan tingkat konsumsi

Dari sini terdapat perbedaan pendapat bahwa bagi subjekorang paling penting adalah suaminya, namun menurut suami subjek orang paling penting bagi kehidupan subjek adalah