commit to user
7 BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Landasan Teori 1. Pengertian Belajar
Belajar merupakan proses penting bagi perubahan perilaku manusia dan mencakup segala sesuatu yang dipikirkan dan dikerjakan. Belajar memiliki peranan penting di dalam perkembangan, kebiasaan, sikap, keyakinan, tujuan, kepribadian dan persepsi manusia. Menurut James O Wittaker dalam Darsono (2000: 4), belajar dapat didefinisikan sebagai proses yang menimbulkan atau merubah perilaku melalui latihan atau pengalaman. Belajar sebagai suatu hasil pengalaman dibatasi pada macam-macam perubahan perilaku yang dianggap mewakili aspek belajar. Perubahan perilaku merupakan hasil belajar yang diperoleh melalui proses pengalaman yang terjadi sebagai akibat dari interaksi antara individu dengan lingkungannya. Perubahan perilaku tersebut disebabkan oleh perubahan tingkat pengetahuan, keterampilan dan sikap yang merupakan pertanda bahwa seseorang telah melakukan aktivitas belajar. Menurut W.S Winkel dalam Darsono (2000:4), belajar adalah suatu aktivitas mental/ psikis yang berlangsung dalam interaksi aktif dengan lingkungan, yang menghasilkan perubahan dalam pengetahuan, pemahaman, keterampilan dan nilai sikap. Dengan adanya interaksi dengan lingkungan, fungsi intektualitas seseorang akan berkembang.
Dari berbagai pendapat tersebut dapat disimpulkan bahwa belajar adalah suatu perubahan dalam diri seseorang berupa tingkah laku, pengetahuan, pemahaman, keterampilan dan nilai sikap karena pengalaman atau interaksi dengan lingkungan. Darsono (2000: 30-31) mengemukakan ciri-ciri belajar antara lain:
a. Belajar dilakukan dengan sadar dan mempunyai tujuan. Tujuan dipakai sebagai arah kegiatan dan sekaligus sebagai tolak ukur keberhasilan belajar.
b. Belajar merupakan pengalaman sendiri, tidak dapat diwakilkan pada orang lain.
commit to user
c. Belajar merupakan proses interaksi antara individu dan lingkungan. Berarti individu harus aktif bila dihadapkan pada suatu lingkungan tertentu. Keaktifan dapat terwujud karena individu memiliki berbagai potensi untuk belajar.
Misalnya perhatian, minat, pikiran, emosi, motivasi dan lain-lain.
d. Belajar mengakibatkan terjadinya perubahan bersifat integral yaitu perubahan dalam aspek kognitif, afektif dan psikomotorik yang terpisah satu dengan yang yang lain pada diri orang yang belajar.
Dengan demikian belajar menyangkut dua hal yaitu proses dan hasil belajar.
Belajar merupakan suatu proses dalam diri seseorang untuk mencapai tujuan tertentu. Dari berbagai definisi di atas sebagian besar menekankan pada segi perilaku yang nampak dari pengalaman. Perubahan perilaku disebabkan adanya stimulus terkondisi, latihan-latihan, timbul secara spontan tanpa dikeluarkan secara intrinsik oleh stimulus apapun, hasil observasi manusia dan kejadian- kejadian dan proses berpikir dengan menggunakan logika deduktif dan induktif.
Menurut psikologi belajar kognitif, belajar adalah proses berpikir yang tidak hanya mengembangkan kemampuan kognitif, tetapi juga harus diimbangi dengan perkembangan diri secara utuh melalui kemampuan hubungan interpersonal.
2. Teori-teori Belajar a. Teori Belajar Piaget
Teori perkembangan Piaget mewakili konstruktivisme yang memandang perkembangan kognitif sebagai suatu proses dimana anak secara aktif membangun sistem makna dan pemahaman realitas melalui pengalaman- pengalaman dan interaksi-interaksi mereka. Piaget meyakini bahwa pengalaman fisik memanipulasi lingkungan penting bagi terjadinya perubahan perkembangan.
Menurut Piaget dalam Ratna Wilis (1989: 151) mengatakan bahwa perkembangan intelektual didasarkan pada dua fungsi, yaitu organisasi dan adaptasi. Organisasi memberikan organisme kemampuan untuk mensistematiskan atau mengorganisasikan proses-proses fisik atau proses-proses psikologis menjadi item-item yang teratur dan berhubungan atau struktur-struktur. Proses adaptasi terhadap lingkungan dilakukan melalui dua proses yaitu asimilasi dan akomodasi.
commit to user b. Teori Belajar Ausubel
Teori belajar Ausubel disebut teori belajar bermakna. Menurut David Ausubel, belajar dapat diklasifikasikan kedalam dua dimensi, yaitu: cara informasi atau materi pelajaran yang disajikan pada siswa melalui penerimaan atau penemuan, dan bagaimana siswa mengaitkan informasi pada struktur kognitif yang telah ada. Struktur kognitif adalah fakta-fakta, konsep-konsep, dan generalisasi-generalisasi yang telah dipelajari dan diingat oleh siswa.
Ausubel menjelaskan bahwa pada tingkat pertama belajar, informasi dikomunikasikan pada siswa dalam bentuk belajar penerimaan yang menyajikan informasi itu dalam bentuk final, maupun penemuan yang mengharuskan siswa untuk menemukan sendiri sebagian atau seluruh materi yang akan diajarkan. pada tingkat kedua, siswa menghubungkan atau mengaitkan informasi pada pengetahuan (berupa konsep-konsep) yang telah dimilikinya agar terjadi belajar bermakna.
Faktor-faktor utama yang mempengaruhi belajar bermakna menurut Ausubel dalam Ratna Wilis (1989: 116) adalah struktur kognitif yang ada, stabilitas dan kejelasan pengetahuan dalam suatu bidang studi tertentu pada waktu tertentu. Sifat-sifat struktur kognitif menentukan validitas dan kejelasan arti yang timbul ketika informasi baru masuk ke dalam struktur kognitif tersebut, demikian pula sifat proses interaksi yang terjadi. Ausubel berpendapat bahwa guru harus dapat mengembangkan potensi kognitif siswa melalui proses belajar bermakna.
Guru dapat memulai dengan konsep-konsep umum tetapi harus memperlihatkan bagaimana terkaitnya konsep-konsep subordinat, dan kembali melalui contoh- contoh ke arti baru bagi konsep yang tingkatnya lebih tinggi. Karena aktivitas siswa terutama yang berada pada tingkat pendidikan dasar akan bermanfaat jika mereka banyak dilibatkan dalam kegiatan langsung. Namun untuk siswa pada tingkat pendidikan lebih tinggi, kegiatan langsung akan menyita banyak waktu sehingga akan lebih efektif jika guru menggunakan penjelasan, peta konsep, demonstrasi, diagram dan ilustrasi.
commit to user c. Teori Belajar Gagne
Menurut Gagne bahwa dalam pembelajaran terjadi proses penerimaan informasi untuk kemudian diolah sehingga menghasilkan keluaran dalam bentuk hasil belajar. Dalam proses tersebut ada interaksi antara kondisi internal dan eksternal individu. Gagne dalam Ratna Wilis (1989: 141-143) mengungkapkan bahwa tahapan proses pembelajaran meliputi delapan fase, yaitu: a) Motivasi, siswa yang belajar harus diberi motivasi dengan harapan bahwa belajar akan memperoleh hadiah; b) Pengenalan (apprehending phase), siswa harus memberikan perhatian pada bagian-bagian esensial dari suatu kejadian instruksional jika belajar akan terjadi; c) Pemerolehan (acquistion phase), jika siswa menerima informasi tidak langsung disimpan ke dalam memori tetapi informasi tersebut diubah menjadi bentuk bermakna dan dihubungkan dihubungkan dengan informasi yang telah ada dalam memori siswa; d) Retensi, informasi yang diterima siswa harus dipindah dari memori jangka pendek ke memori jangka panjang, melalui pengulangan kembali, praktik, elaborasi dan lain- lain; e) Ingatan kembali, bagian penting dalam belajar adalah belajar memperoleh hubungan antara yang dipelajari dengan apa yang telah dipelajari sebelumnya; f) Generalisasi, merupakan fase kritis dalam belajar, karena informasi akan sangat bernilai jika informasi yang telah diperoleh dapat diterapkan di luar konteks dimana informasi tersebut dipelajari; g) Penampilan, siswa yang telah mempelajari sesuatu hal akan tampak pada penampilan mereka; h) Umpan balik, siswa perlu memperoleh umpan balik sehingga menunjukkan apakah telah atau belum mengerti tentang apa yang diajarkan.
d. Teori Belajar Bruner
Dalam usaha meningkatkan pendidikan sains, Bruner mengemukakan empat tema, yaitu struktur, kesiapan, intuisi dan motivasi. Bruner menganggap bahwa belajar meliputi tiga proses kognitif, yaitu memperoleh informasi baru, transformasi pengetahuan dan menguji relevansinya dan ketepatan pengetahuan.
Menurut Bruner belajar bermakna hanya dapat terjadi melalui belajar penemuan, karena pengetahuan yang diperoleh dapat bertahan lama dan mempunyai efek transfer yang lebih baik.
commit to user
Tinjauan Bruner terhadap belajar didasarkan pada dua asumsi dasar. Asumsi pertama adalah orang belajar berinteraksi dengan lingkungannya secara aktif sehingga memperoleh pengetahuan, dan asumsi kedua adalah seeorang menciptakan sendiri kerangka kognitif dan mengkonstruksi pengetahuannya dengan menghubungkan informasi yang masuk dengan informasi yang disimpan yang diperoleh sebelumnya.
3. Pembelajaran Sains (Fisika)
Pembelajaran adalah suatu kegiatan yang dilakukan oleh guru sedemikian rupa, sehingga tingkah laku siswa berubah ke arah yang lebih baik (Darsono, 2000: 24). Gagne dalam Sugandi (2006: 9), mengemukakan pembelajaran merupakan kumpulan proses yang bersifat individual, yang merubah stimulus dari lingkungan seseorang ke dalam sejumlah informasi yang selanjutnya dapat menyebabkan adanya hasil belajar dalam bentuk ingatan jangka panjang. Briggs dalam Sugandi (2006: 9) menjelaskan bahwa pembelajaran adalah seperangkat peristiwa yang mempengaruhi pembelajar sedemikian rupa sehingga memperoleh kemudahan dalam berinteraksi dengan lingkungan. Dengan demikian pembelajaran adalah proses interaksi antara siswa dengan lingkungannya, sehingga terjadi perubahan perilaku ke arah yang lebih baik untuk jangka waktu yang panjang.
Pembelajaran sains termasuk fisika, lebih menekankan pada pemberian pengalaman langsung untuk mengembangkan kompetensi agar siswa mampu menjelajahi dan memahami alam sekitar secara ilmiah. Pembelajaran sains diarahkan untuk mencari tahu dan berbuat sehingga membantu siswa untuk memperoleh pemahaman yang lebih mendalam tentang alam sekitar. Menurut Santoso (2007: 160) pembelajaran dengan pengembangan pengalaman langsung dan kondisi nyata (real word) akan menghasilkan pengetahuan yang mudah diingat dan bertahan lama. Dengan demikian, siswa akan lebih mudah menerima pelajaran jika materi yang disampaikan bersifat nyata melalui pengalaman langsung karena akan lebih mudah diingat dan pembelajaran fisika akan lebih bermakna.
commit to user
Beberapa prinsip yang perlu diikuti dalam proses pembelajaran sains yaitu:
a. Pembelajaran sains erat kaitannya dengan pengalaman alam kehidupan nyata.
Pada pembelajaran sains siswa memecahkan masalah secara riil dan otentik, artinya materi itu ada dan terjangkau oleh pengalaman nyata siswa.
b. Pada pendidikan sains guru perlu menghubungkan bahan ajar, kegiatan belajar mengajar (KBM) dengan situasi nyata.
4. Hasil Belajar Fisika
Hasil belajar atau prestasi belajar selalu dihubungkan dengan pelaksanaan kegiatan atau aktivitas belajar. Hasil belajar merupakan hal yang tidak dapat dipisahkan dari kegiatan belajar karena kegiatan belajar merupakan proses, sedangkan hasil belajar merupakan output dari proses belajar. Definisi hasil belajar antara lain dikemukakan oleh Winkel (2009) menyatakan bahwa prestasi belajar adalah suatu bukti keberhasilan belajar atau kemampuan seorang siswa dalam melakukan kegiatan belajarnya sesuai dengan bobot yang dicapainya.
Sedangkan menurut Sukmadinata (2003), prestasi atau hasil belajar (achievement) merupakan realisasi dari kecakapan-kecakapan potensial atau kapasitas yang dimiliki seseorang. Di sekolah, hasil belajar dapat dilihat dari penguasaan siswa akan mata pelajaran yang telah ditempuhnya. Alat untuk mengukur hasil belajar disebut tes prestasi belajar yang disusun oleh guru. Nasution (2005) mendefinisikan prestasi belajar adalah kesempurnaan yang dicapai seseorang dalam berpikir, merasa dan berbuat.
Hasil belajar merupakan perubahan tingkah laku yang diperoleh pembelajar setelah mengalami aktivitas belajar (Anni, 2006: 5). Perolehan aspek-aspek perubahan tingkah laku tersebut tergantung pada apa yang dipelajari.
Pembelajaran disini adalah pembelajaran di bidang fisika sehingga perubahan tingkah laku yang diperoleh adalah pengetahuan tentang fisika.
Hasil belajar memiliki peran penting dalam proses belajar mengajar.
Penilaian terhadap hasil belajar dapat memberikan informasi sampai sejauh mana keberhasilan seorang siswa dalam belajar. Dari informasi tersebut, guru dapat menganalisis kegiatan pembelajaran yang telah dilakukan baik untuk seluruh kelas maupun individu.
commit to user
Benyamin S. Bloom mengklasifikasikan hasil belajar menjadi tiga kategori yang disebut ranah belajar, yaitu:
a. Ranah Kognitif
Hasil belajar kognitif siswa pada dasarnya berkaitan dengan hasil berupa pengetahuan, kemampuan dan kemahiran intelektual. Ranah kognitif terdiri dari enam kategori kemampuan. Keenam kategori tersebut tersusun secara hirarki yang berarti tujuan pada tingkat bawahnya telah dikuasai. Keenam kategori tersebut antara lain kemampuan kognitif tingkat pengetahuan (C1), pemahaman (C2), penerapan (C3), analisis (C4), sintesis (C5) dan evaluasi (C6).
b. Ranah Afektif
Hasil belajar ranah afektif berorientasi pada nilai, minat dan sikap yang menggambarkan proses seseorang dalam mengenali dan mengadopsi suatu nilai dan sikap tertentu sehingga menjadi pedoman tingkah laku (Anni 2006: 8). Ranah afektif meliputi: penerimaan, penilaian, pengorganisasian, dan pembentukan pola hidup. Ranah afektif dapat berupa sikap kesadaran siswa akan pentingnya bekerjasama setelah mengikuti pembelajaran.
c. Ranah Psikomotorik
Ranah psikomotorik adalah ranah yang berkaitan dengan keterampilan (skill) atau kemampuan fisik seperti keterampilan motorik dan syaraf, manipulasi obyek dan koordinasi syaraf. Ranah psikomotorik sebenarnya merupakan kelanjutan dari hasil belajar kognitif dan afektif yang baru tampak dalam bentuk kecenderungan untuk berperilaku.
Ranah psikomotorik menurut Simpson dalam Anni (2006: 10) meliputi persepsi, kesiapan, gerakan terbimbing, gerakan terbiasa, gerakan kompleks, penyesuaian dan kreativitas. Ranah psikomotorik dalam pembelajaran dapat berupa keterampilan siswa dalam melakukan kegiatan praktikum, seperti dalam menyusun alat, melakukan pengamatan dan pengambilan data serta menuliskan data hasil percobaan yang dilakukan.
commit to user 5. CTL (Contextual Teaching and Learning) a. Pengertian CTL
Dalam proses belajar mengajar diperlukan strategi pembelajaran yang melibatkan siswa secara penuh terhadap mata pelajaran yang diajarkan khususnya fisika. Dengan melibatkan siswa secara penuh dalam proses pembelajaran diharapkan siswa berkembang tidak hanya dalam aspek kognitif, tetapi juga afektif dan psikomotorik.
Strategi pembelajaran yang dimaksud adalah dengan menggunakan pendekatan CTL. CTL adalah suatu pendekatan pembelajaran yang menekankan pada proses keterlibatan siswa secara penuh untuk dapat menemukan materi yang dipelajari dan menghubungkannya dengan situasi nyata sehingga mendorong siswa untuk dapat menerapkannya dalam kehidupan mereka (Sanjaya, 2007: 255).
Pembelajaran dengan pendekatan CTL terjadi apabila siswa menerapkan dan mengalami apa yang sedang diajarkan dengan mengacu pada masalah-masalah yang berhubungan dengan kehidupan sehari-hari. Menurut Nurhadi (2004: 103) CTL adalah konsep belajar yang mendorong guru untuk menghubungkan antara materi yang diajarkan dengan situasi dunia nyata siswa.
Berdasarkan uraian tersebut dapat disimpulkan bahwa CTL merupakan pendekatan pembelajaran yang menekankan kepada proses keterlibatan siswa secara penuh dan membantu guru untuk menghubungkan materi yang diajarkan dan situasi dunia nyata siswa serta memotivasi siswa membuat hubungan antara pengetahuan dan penerapannya dalam kehidupan mereka.
Dampak positif penerapan pendekatan CTL ditunjukkan dari hasil penelitian yang dilakukan oleh Mariawan (2006), dari hasil penelitiannya menunjukkan bahwa penerapan pendekatan CTL dengan setting model belajar kooperatif dapat meningkatkan hasil belajar siswa. Hal ini diperkuat oleh Smith (2006) mengemukakan bahwa pembelajaran dengan CTL dapat meningkatkan kinerja dan motivasi belajar siswa sehingga hasil belajar siswa juga meningkat.
b. Penerapan Pendekatan CTL di Kelas
Didalam kelas kontekstual, tugas guru adalah membantu siswa mencapai tujuannya. Guru lebih banyak berurusan dengan strategi daripada memberi
commit to user
informasi. Tugas guru mengelola kelas sebagai sebuah tim yang bekerja bersama menemukan sesuatu yang baru bagi siswa. Filosofi pembelajaran kontektual berakar dari paham progresivisme John Dewey. Siswa akan belajar dengan baik apabila apa yang mereka pelajari berhubungan dengan apa mereka ketahui, serta proses belajar akan produktif jika siswa terlibat aktif dalam proses belajar di sekolah (Nurhadi, 2004: 8).
Secara garis besar, langkah-langkah pendekatan kontekstual (CTL) adalah sebagai berikut (Nurhadi, 2004: 106):
1) Mengembangkan pemikiran bahwa anak akan belajar lebih bermakna dengan cara bekerja sendiri dan mengkonstruksi sendiri pengetahuan dan keterampilan barunya;
2) Melaksanakan sejauh mungkin kegiatan inkuiri untuk semua topik;
3) Mengembangkan sifat ingin tahu siswa dengan bertanya;
4) Menciptakan masyarakat belajar (belajar dalam kelompok);
5) Menghadirkan model sebagai contoh pembelajaran;
6) Melakukan refleksi di akhir pertemuan;
7) Melakukan penilaian yang sebenarnya dengan berbagai cara.
Berdasarkan konsep di atas, hasil pembelajaran diharapkan lebih bermakna bagi siswa. Proses pembelajaran berlangsung alamiah dalam bentuk kegiatan siswa bekerja dan mengalami, bukan transfer pengetahuan dari guru ke siswa.
Pada pembelajaran dengan CTL, siswa terlibat secara penuh dalam proses pembelajaran, siswa bukan sekedar mendengarkan dan mencatat, tetapi mengalami proses berpengalaman langsung. Melalui proses berpengalaman tersebut diharapkan perkembangan siswa terjadi secara utuh, yaitu perkembangan dalam aspek kognitif, afektif dan psikomotorik.
c. Tujuh Komponen CTL
CTL sebagai suatu pendekatan pembelajaran memiliki tujuh komponen.
Komponen-komponen ini yang melandasi pelaksanaan proses pembelajaran dengan menggunakan pendekatan kontekstual (Sanjaya, 2007: 264). Ketujuh komponen tersebut diuraikan sebagai berikut:
commit to user 1) Konstruktivistme (Constructivism)
Konstruktivisme merupakan landasan berpikir (filosofi) pendekatan kontekstual, yaitu pengetahuan yang dibangun oleh manusia sedikit demi sedikit yang hasilnya diperluas melalui konteks yang terbatas dan tidak dengan tiba-tiba.
Pengetahuan bukanlah seperangkat fakta-fakta, konsep atau kaidah yang siap untuk diambil dan diingat tetapi manusia harus mengkonstruksi pengetahuan itu dan memberi makna melalui pengalaman nyata (Sagala, 2008: 88). Siswa perlu dibiasakan untuk memecahkan masalah, menemukan sesuatu yang berguna bagi dirinya dan bergelut dengan ide-ide, yaitu siswa harus mengkonstruksikan pengetahuan di benak mereka sendiri.
2) Menemukan (Inquiry)
Menemukan merupakan bagian inti dari kegiatan pembelajaran menggunakan pendekatan kontekstual. Menurut Sa’ud (2008: 169) inkuiri merupakan proses pembelajaran pada pencarian dan penemuan melalui proses berpikir sistematis. Pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh siswa diharapkan bukan hanya hasil mengingat seperangkat fakta, tetapi hasil dari menemukan sendiri. Tindakan guru bukan untuk mempersiapkan siswa menghafalkan sejumlah materi akan tetapi merancang pembelajaran yang memungkinkan siswa menemukan sendiri materi yang harus dipahaminya.
3) Bertanya (Questioning)
Pengetahuan yang dimiliki seseorang, selalu bermula dari bertanya, karena bertanya merupakan strategi utama pembelajaran yang berbasis pendekatan kontekstual. Belajar pada hakikatnya adalah bertanya dan menjawab pertanyaan.
Bertanya dapat dipandang sebagai refleksi dari keingintahuan setiap individu, sedangkan menjawab pertanyaan mencerminkan kemampuan seseorang dalam berpikir (Sanjaya, 2007: 266). Dalam proses pembelajaran melalui CTL, peran bertanya sangat penting, sebab melalui pertanyaan-pertanyaan guru dapat membimbing dan mengarahkan siswa untuk menemukan setiap materi yang dipelajari.
commit to user 4) Masyarakat Belajar (Learning Community)
Dalam menyelesaikan suatu permasalahan sangat dibutuhkan bantuan dari orang lain melalui kerja sama, saling memberi dan menerima. Leo Semenovich Vygotsky dalam Sanjaya (2007: 267) menyatakan bahwa pengetahuan dan pemahaman anak ditopang banyak oleh komunikasi dengan orang lain. Menurut Sagala (2008: 90) masyarakat belajar bisa terjadi apabila ada komunikasi dua arah. Seseorang yang terlibat dalam kegiatan masyarakat belajar dapat memberikan informasi yang diperlukan dari teman bicaranya dan sekaligus juga meminta informasi yang diperlukan dari teman belajarnya. Kegiatan saling belajar ini bisa terjadi apabila tidak ada yang dominan dalam komunikasi, tidak ada yang menganggap paling tahu, semua saling mendengarkan. Jadi, harus merasa bahwa setiap orang memiliki pengetahuan, pengalaman atau keterampilan yang berbeda yang perlu dipelajari.
5) Permodelan (Modelling)
Permodelan merupakan suatu proses pembelajaran dengan mempergakan sesuatu sebagai contoh yang dapat ditiru oleh setiap siswa (Sa’ud, 2008: 171).
Dalam pembelajaran kontekstual, permodelan tidak terbatas dari guru saja tetapi dapat juga memanfaatkan siswa yang memiliki kemampuan. Dengan demikian siswa dapat dianggap sebagai model.
6) Refleksi (Reflection)
Refleksi adalah cara berpikir tentang apa yang baru dipelajari atau berpikir ke belakang tentang apa yang sudah dilakukan di masa lalu (Trianto, 2007: 113).
Siswa menyimpan apa yang baru dipelajarinya sebagai struktur pengetahuan yang baru yang merupakan pengayaan atau revisi dari pengetahuan sebelumnya.
7) Penilaian Nyata (Authentic Assessment)
Penilaian nyata adalah proses yang dilakukan guru untuk mengumpulkan informasi tentang perkembangan belajar yang dilakukan siswa (Sanjaya, 2007:
269). Penilaian nyata dilakukan untuk mengetahui siswa benar-benar belajar atau tidak dan mengetahui pengalaman belajar siswa memiliki pengaruh positif terhadap perkembangan baik intelektual maupun mental siswa.
commit to user 6. Media Pembelajaran
Media berasal dari bahasa latin dan merupakan bentuk jamak dari
“medium” yang secara harfiah berarti “perantara”. Pengertian media secara khusus banyak dikembangkan oleh banyak ahli, diantaranya menyebut media sebagai segala sesuatu yang digunakan untuk menyalurkan informasi. Menurut Wina Sanjaya (2008: 163) yang dimaksud media adalah segala sesuatu yang dapat digunakan untuk menyalurkan pesan dari guru ke siswa sehingga dapat merangsang pikiran, perasaan, perhatian dan minat serta perhatian siswa sedemikian rupa sehingga proses belajar terjadi. Menurut Azhar Arsyad (2007: 7) media pendidikan memiliki pengertian sebagai alat bantu pada proses belajar yang digunakan dalam rangka komunikasi dan interaksi antara guru dan siswa dalam proses pembelajaran.
Menurut Rudi Susilana dan Cepi Riyana (2008: 6) media pembelajaran terdiri atas dua unsur penting yaitu unsur peralatan atau perangkat keras (hardware) dan unsur pesan yang dibawanya (message/software). Perangkat lunak (software) adalah informasi atau bahan ajar yang akan disampaikan kepada siswa, sedangkan perangkat keras (hardware) adalah sarana atau peralatan yang digunakan untuk menyajikan bahan ajar tersebut. Media pembelajaran dapat menyampaikan pesan secara konkrit atau lebih nyata bila dibandingkan melalui kata-kata yang diucapkan.
Ada beberapa kriteria umum yang diperlukan dalam pemilihan media, yaitu kesesuaian dengan tujuan, materi pembelajaran, teori, karakteristik siswa dan guru, gaya belajar siswa, dan kondisi lingkungan (Rudi Susilana dan Cepi Riyana, 2008: 69). Media pembelajaran mempunyai manfaat dalam belajar mengajar, yaitu: a) Memperjelas pesan agar tidak selalu verbalistis, b) Mengatasi keterbatasan ruang, waktu dan tenaga serta daya indera, c) Menimbulkan gairah belajar, interaksi lebih langsung antara murid dan sumber belajar, d) Memungkinkan anak belajar mandiri sesuai dengan bakat dan kemampuan visual, auditori dan kinestetiknya, e) Memberi rangsangan yang sama, mempersamakan pengalaman dan menimbulkan persepsi yang sama.
commit to user a. Media Riil
Media riil adalah semua media nyata yang ada di alam baik yang digunakan dalam keadaan hidup, diawetkan atau replika. Media ini baik digunakan dalam pembelajaran karena siswa akan lebih mudah dalam belajar dengan sesuatu yang nyata berada di hadapannya.
b. Media Animasi Flash
Untuk mempermudah komunikasi antara guru dan dan siswa serta untuk mengatasi kendala yang timbul akibat keterbatasan ruang dan waktu, maka penggunaan komputer dalam pembelajaran perlu dikembangkan. Animasi merupakan media yang menyediakan proses interaktif dan memberikan umpan balik, serta memberikan kebebasan kepada pengguna dalam menentukan topik yang akan dipelajari. Animasi juga membantu guru terutama pada topik-topik tertentu yang sulit disampaikan secara tradisional atau membutuhkan akurasi tinggi. Selain itu animasi dapat menuntun bereksplorasi, menganalisis, mencoba dan menggali konsep dan prinsip yang termuat dalam materi ajar.
Dalam Macromedia Flash MX 2004 (Andi dalam Saregar 2012) dinyatakan bahwa, animasi adalah sebuah gerakan obyek maupun teks yang diatur sedemikian rupa sehingga kelihatan hidup. Jadi, media animasi merupakan suatu media pembelajaran yang menampilkan gambar atau obyek bergerak dengan memanfaatkan program dan peralatan komputer. Pembelajaran fisika yang disajikan dalam bentuk animasi diharapkan menjadi lebih menarik dan lebih interaktif. Dengan demikian pembelajaran tidak membosankan dan lebih variatif.
7. Kemampuan Berpikir
Proses berpikir manusia memiliki beberapa periode. Periode berpikir yang dikemukakan oleh Piaget ada empat (Muhibbin Syah dalam Siswoyo 2009: 31), yaitu:
1) Periode Sensorik Motor (Usia 0-2 tahun)
Cirinya adalah adanya gerakan yang dilakukan akibat reaksi langsung dari rangsangan. Rangsangan timbul karena anak melihat dan meraba obyek-obyek.
Anak belum memiliki kesadaran adanya konsep obyek yang tetap. Jika obyek disembunyikan, anak itu tidak akan mencarinya. Tetapi karena pengalamnnya
commit to user
terhadap lingkungan, pada akhir periode ini anak menyadari bahwa obyek yang disembunyikan tadi masih ada dan ia akan mencarinya.
2) Periode Pra Operasional (Usia 2-7 tahun)
Pada periode ini anak berpikir tidak didasarkan kepada keputusan yang logis melainkan kepada keputusan yang dilihat seketika. Anak terpaku kepada kontak langsung dengan lingkungannya.
3) Periode Operasi Konkret (Usia 7-11/ 12 tahun)
Pada periode ini anak berpikir logikanya didasarkan atas manipulasi fisik obyek-obyek. Operasi konkret menunjukkan kenyataan adanya hubungan dengan pengalaman empirik konkret yang lampau dan masih mendapat kesulitan dalam mengambil kesimpulan logis dari pengalaman khusus.
Ciri anak pada periode ini adalah pertama kombinasi atau klasifikasi yaitu suatu operasi dua kelas atau lebih yang dikombinasikan ke dalam suatu kelas yang lebih besar. Kedua, yaitu reversibilitas yaitu operasi kebalikan. Ketiga, asosiasivitas yaitu suatu operasi terhadap beberapa kelas yang dikombinasikan menurut sembarang urutan. Keempat, identitas yaitu suatu operasi yang menunjukkan adanya unsur nol yang bial dikombinasikan dengan unsur atau kelas hasilnya tidak berubah. Kelima, korespondensi satu-satu antara obyek-obyek dua kelas. Keenam, kesadaran adanya prinsip konservasi.
4) Periode Operasi Formal (Usia 11/ 12 tahun ke atas)
Periode ini disebut juga periode operasi hipotetis-deduktif yang merupakan tahap tinggi dari perkembangan intelektual.
Dalam teori yang dikembangkan Piaget, tahap-tahap berpikir adalah spontan namun umur kronologis yang diberikan bersifat fleksibel, terutama masa transisi dari periode satu ke periode yang lain. Teori perkembangan intelektual ini terlihat selama masa sekolah sehingga sangat bermanfaat untuk mengembangkan kurikulum fisika di sekolah. Dari beberapa periode berpikir di atas, dapat dibedakan menjadi dua, yaitu:
a. Kemampuan Berpikir Konkret
Kemampuan berpikir konkret yaitu kemampuan yang berpusat di belahan otak sebelah kanan, yaitu pusat matematika, analitik (Daniel Goleman dalam
commit to user
Siswoyo 2009: 33). Kemampuan berpikir konkret dapat dideskripsikan sebagai kemampuan mengenai barang-barang nyata melalui proses penglihatan khususnya mengenai benda tiga dimensi. Jadi, kemampuan berpikir konkret adalah kemampuan seseorang yang berasal dari pusat otak sebelah kanan yang hasilnya langsung dimanfaatkan dalam bentuk angka.
b. Kemampuan Berpikir Abstrak
Kemampuan berpikir abstrak adalah kemampuan seseorang untuk berpikir logis dengan menggunakan simbol-simbol (Daniel Goleman dalam Siswoyo 2009:
33). Kemampuan berpikir abstrak seseorang adalah kemampuan dari aspek-aspek kepribadian manusia yang dapat diamati secara abstrak namun menentukan keberhasilan seseorang baik karir maupun studi. Adapun indikatornya adalah sistem referensi ganda, berpikir hipotesis deduktif, berpikir hipotetis induktif, kombinatorial, abstraksi reflektif dan proporsi (analogi).
8. Motivasi Berprestasi
Dalam kegiatan belajar diperlukan suatu motivasi dari dalam diri seseorang.
Motivasi merupakan suatu tenaga yang terdapat dalam diri siswa yang menimbulkan, mengarahkan dan mengorganisasikan tingkah laku siswa. Clelland (1982: 417) mengartikan motivasi sebagai standar of exellen, hal ini juga dikemukakan oleh Eccles (Hetherington and Parke 1999) bahwa motivasi berprestasi adalah kecenderungan seseorang untuk berusaha mencapai kesuksesan, mengevaluasi prestasi dengan standar keunggulan dan merasa puas akan prestasi yang diraihnya. Jadi, motivasi berprestasi adalah suatu sikap, dorongan internal dan eksternal dalam diri siswa yang membangun siswa untuk berbuat, melakukan perubahan, menentukan arah dan memberikan semangat untuk meraih prestasi belajar.
Motivasi dapat mempengaruhi adanya kegiatan yang dilakukan.
Sehubungan dengan hal tersebut, ada beberapa fungsi motivasi dalam pembelajaran. Motivasi berfungsi untuk: mendorong manusia berbuat, dengan kata lain motivasi sebagai motor penggerak yang melepaskan energi; menentukan arah perbuatan, maksudnya adalah untuk mencapai tujuan yang hendak dicapai;
menyeleksi perbuatan, maksudnya adalah untuk menentukan perbuatan-perbuatan
commit to user
yang harus dikerjakan guna mencapai tujuan dengan menghindari perbuatan yang tidak bermanfaat.
9. Materi Sifat Mekanik Zat
Sifat mekanik suatu bahan mencerminkan hubungan antara deformasi dengan gaya yang terpakai. Deformasi adalah perubahan bentuk suatu benda akibat adanya gaya-gaya dari luar. Perilaku sifat mekanik ini sangat penting, seperti: kekuatan, kekerasan, elastisitas dan ketangguhan bahan.
Ada 2 pengertian dasar mempelajari sifat elastis benda padat yaitu tegangan (stress) dan regangan (strain).
a. Tegangan/ Stress (σ)
Tegangan dari suatu benda menyatakan kekuatan dari gaya-gaya yang dapat disebabkan oleh penarikan, peremasan, atau pemuntiran. Tegangan merupakan besaran skalar dan memiliki satuan N/m2 atau Pascal (Pa). Jika suatu batang dengan luas A disetiap ujungnya mengalami gaya tarik sebesar F yang sama besar dan berlawanan arah. Batang tersebut dikatakan mengalami tegangan. Secara matematis dirumuskan oleh persamaan (1)
σ = ...(1) dengan, F = gaya tekan/ tarik (N),
A = luas penampang yang ditekan/ di tarik (m2) dan σ = tegangan/ stress (N/m2 atau Pascal)
b. Regangan/ Strain ()
Regangan adalah perubahan relatif ukuran atau bentuk benda yang mengalami tegangan. Sebuah batang dengan panjang mula-mula
l
o berubah panjangnya menjadil
setelah mendapat gaya tarik sebesar F. Dengan demikian, batang tersebut mendapat pertambahan panjang sebesar l
, dengan l
=l- l
0. Oleh karena itu, regangan didefinisikan sebagai perbandingan antara pertambahan panjang benda dan panjang benda mula-mula. Secara matematis dirumuskan oleh persamaan (2)commit to user
=
...(2) dengan,
= regangan
l
= pertambahan panjang (m)l
o = panjang mula-mula (m) c. Modulus Elastisitas (E)Tegangan yang diperlukan untuk menghasilkan suatu regangan tertentu bergantung pada sifat bahan dari benda yang mendapat tegangan tersebut.
Menurut Hooke, perbandingan antara tegangan dan regangan suatu benda disebut Modulus Young atau modulus elastisitas. Secara matematis dirumuskan oleh persamaan (3) dan (4)
E
= =
...(3)E
=
...(4) dengan satuan E dalam N/m2.Menurut hukum Hooke, gaya pemulih pada pegas yang berada di dalam batas elastisnya akan selalu memenuhi persamaan (5)
F = - k
l
...(5) dengan, k = tetapan pegas (N/m)
l
= pertambahan panjang pegas (m) F = gaya yang bekerja pada pegas (N)Tanda minus (-) menyatakan arah gaya pemulih selalu berlawanan dengan pertambahan panjang pegas. Dari persamaan modulus elastisitas diperoleh
F =
l
. Karena F = k l
maka hubungan antara tetapan pegas dan modulus elastisitas dapat ditulis sebagai sebagai persamaan (6)k
= ...(6)
commit to user d. Hukum Hooke
Jika gaya yang bekerja pada sebuah pegas dihilangkan, pegas tersebut akan kembali ke keadaannya semula. Ilmuwan yang pertama kali meneliti tentang ini adalah Robert Hooke. Melalui percobaannya, Hooke menyimpulkan bahwa sifat elastis pegas tersebut ada batasnya dan besar gaya pegas sebanding dengan pertambahan panjang pegas.
Gambar 2.1 Pertambahan panjang pada pegas
Pada saat ditarik, dengan gaya tertentu di daerah yang berada dalam batas kelentingannya akan bertambah panjang sebesar x. Selain itu besar gaya pemulih pegas sebanding dengan pertambahan panjang pegas tetapi arahnya berlawanan (F aksi = -F reaksi). Secara matematis pernyataan tersebut dapat dituliskan sebagai persamaan (7) dan (8)
Fp = -F...(7) Fp = -k.x...(8) dengan: Fp = gaya pegas (N)
Sehingga dari persamaan diatas, Hukum Hooke dapat dinyatakan: Pada daerah elastisitas benda, besarnya pertambahan panjang sebanding dengan gaya yang bekerja pada benda. Grafik hubungan gaya dengan pertambahan panjang dapat digambarkan sebagai berikut:
Gambar 2.2 Grafik hubungan gaya dengan pertambahan pegas
commit to user Secara matematis dinyatakan melalui persamaan (9))
F = k . x ...(9) dengan: F = gaya yang dikerjakan pada pegas (N)
x = pertambahan panjang (m) k = konstanta pegas (N/m)
Berdasarkan grafik hubungan antara F dan x. Dari titik O sampai P berbentuk garis lurus. Dalam batasan ini pertambahan panjang pegas linear dan titik P disebut sebagai batas linearitas pegas. Dari titik P sampai dengan titik Q, pertambahan panjang pegas tidak linear sehingga F tidak sebanding dengan Δx.
Namun sampai titik Q ini pegas masih bersifat elastis. Di atas batas elastis ini terdapat daerah tidak elastis (plastis). Pada daerah ini, pegas dapat putus atau tidak kembali ke bentuknya semula, walaupun gaya yang bekerja pada pegas itu dihilangkan. Hukum Hooke hanya berlaku sampai batas linearitas pegas. Dari grafik juga dapat ditentukan tetapan pegas (k) pada batas linearitas pegas, yaitu:
k = =
tan = kemiringan grafik ...(10)Sifat pegas seperti ini banyak digunakan dalam kehidupan sehari-hari, misalnya pada neraca pegas dan pada kendaraan bermotor (pegas sebagai peredam kejut).
e. Susunan Pegas
Konstanta pegas dapat berubah nilainya, apabila pegas-pegas tersebut disusun menjadi rangkaian. Misalnya dalam merancang pegas yang digunakan sebagai shockbreaker. Besar konstanta total rangkaian pegas bergantung jenis rangkaian pegas, yaitu rangkaian pegas seri atau paralel.
Secara umum, konstanta total pegas yang disusun seri dinyatakan dengan persamaan (11) berikut
1/ ks = 1/ k1 + 1/ k2 + 1/ k3 +...1/ kn ...(11)
Sedangkan untuk konstanta pegas yang disusun paralel dinyatakan dengan persamaan (12) berikut
kp = k1 + k2 + k3 + ... kn ...(12)
commit to user B. Penelitian yang Relevan
1. Hardiati (2004) dalam penelitiannya yang berjudul “Penggunaan Media Animasi Simulasi Macromedia Flash dan Modul LKS ditinjau dari Motivasi berprestasi dan Kemampuan Awal Siswa dalam Pembelajaran Fisika’’
Hasil penelitian ini menunujukkan adanya pengaruh signifikan interaksi penggunaan media pembelajaran dengan motivasi berprestasi dan kemampuan awal terhadap hasil belajar siswa. Adanya peningkatan motivasi berprestasi dengan penggunaan flash mendorong untuk melakukan penelitian yang sama. Tetapi penelitian yang akan dilakukan menggunakan pendekatan CTL. Diharapkan hasil penelitiannya menunjukkan hasil belajar yang lebih baik.
2. Indra Himayatul Asri (2011) dalam penelitiannya yang berjudul
“Pembelajaran Biologi Menggunakan Model CTL dengan Media Gambar dan Media Real ditinjau dari Motivasi Belajar dan Kemampuan Awal Siswa”
Hasil penelitian ini menunujukkan adanya pengaruh signifikan interaksi penggunaan model CTL terhadap hasil belajar siswa. Sehingga penelitian yang akan dilakukan akan tetap menggunakan CTL dengan menggunakan media riil dan virtuil. Tetapi aspek yang diukur adalah kemampuan berpikir abstrak dan dan motivasi berprestasi. Hasil penelitian yang akan diperoleh diharapkan mampu meningkatkan hasil belajar siswa.
3. Siswoyo (2009) dalam penelitiannya yang berjudul “Pembelajaran CTL melalui Metode Inkuiri dan Poe dalam belajar Fisika dengan memperhatikan Kemampuan Berpikir Abstrak dan Kreativitas Siswa”
Hasil penelitian ini menunujukkan adanya pengaruh signifikan interaksi penggunaan model CTL dan kemampuan berpikir abstrak terhadap hasil belajar siswa. Oleh sebab itu, penelitian yang akan dilakukan tetap menggunakan pendekatan CTL tetapi ditambah penggunaan media. Agar kemampuan berpikir abstrak siswa menjadi lebih baik sehingga hasil belajarnya akan meningkat.
commit to user
4. Tuniyah (2010) dalam penelitiannya yang berjudul “Penggunaan Metode Inkuiri Terbimbing dan Inkuiri Bebas Termodifikasi ditinjau dari Sikap Ilmiah dan Motivasi Berprestasi”.
Hasil penelitian ini menunujukkan adanya pengaruh signifikan interaksi penggunaan motivasi berprestasi terhadap hasil belajar siswa. Penggunaan metode inkuiri terbimbing dan termodifikasi mampu meningkatkan sikap ilmiah siswa dan motivasi berprestasi siswa, sehingga hasil belajar siswa menjadi lebih baik. Oleh sebab, itu dalam penelitian yang akan dilakukan akan mencoba mengganti metode yang digunakan. Yaitu dengan mengganti metode inkuiri dengan pendekatan CTL, untuk melihat pengaruh terhadap motivasi berprestasi siswa dan hasil belajar siswa.
C. Kerangka Berpikir
Kerangka berpikir merupakan suatu kerangka pemikiran yang bertujuan untuk memperoleh kejelasan variabel-variabel yang berpengaruh terhadap penelitian. Kerangka berpikir merupakan alur pikiran yang menyangkut perkiraan arah jawaban dari masalah. Berdasarkan latar belakang masalah, kajian teori dan penelitian yang relevan, maka dapat disusun kerangka berpikir sebagai berikut:
Pembelajaran dengan pendekatan CTL menggunakan media riil diharapkan mampu menjadi alat yang dapat merangsang motivasi, pikiran, perasaan dan kemauan siswa, sehingga hasil belajar menjadi lebih baik. Pembelajaran dengan pendekatan CTL menggunakan media virtuil diharapkan mampu merangsang kemampuan berpikir siswa, sehingga hasil belajar juga meningkat. Media riil meningkatkan motivasi berprestasi, sedangkan media virtuil meningkatkan kemampuan berpikir abstrak. Meskipun berbeda pengaruh tetapi diharapkan sama-sama meningkatkan hasil belajar siswa.
Kemampuan berpikir abstrak adalah kegiatan berpikir simbolik atau imajinatif terhadap permasalahan tertentu. Kemampuan berpikir abstrak tinggi dapat dicapai oleh anak yang mencapai tahap operasional formal dengan baik yaitu pada usia 11 atau 12 tahun ke atas. Siswa yang mempunyai kemampuan berpikir abstrak tinggi akan akan lebih mudah ketika belajar menggunakan
commit to user
multimedia, sehingga mempunyai hasil belajar yang lebih tinggi dibandingkan dengan siswa yang mempunyai kemampuan berpikir abstrak rendah.
Motivasi adalah keinginan untuk sukses. Siswa yang mempunyai keinginan untuk sukses atau berprestasi akan mengupayakan agar mendapat nilai yang baik.
Sehingga, siswa yang mempunyai motivasi berprestasi tinggi akan mempunyai hasil belajar yang lebih tinggi dibandingkan dengan siswa yang mempunyai motivasi berprestasi rendah.
Siswa yang mempunyai kemampuan berpikir abstrak tinggi akan dengan mudah memahami materi sifat mekanik zat dalam bentuk tampilan animasi (virtuil). Kemampuan berpikir abstrak yang tinggi akan membantu siswa berpikir secara logis melalui simbol-simbol tertentu, sehingga dapat meningkatkan prestasi belajarnya. Sedangkan siswa dengan kemampuan berpikir abstrak rendah dapat menyerap materi sifat mekanik zat yang disajikan melalui media riil. Penyerapan terhadap materi dengan baik diharapkan mampu meningkatkan prestasi belajar siswa. Dimungkinkan akan ada interaksi antara pendekatan CTL memalui media riil dan virtuil dan kemampuan berpikir abstrak tinggi dan rendah terhadap prestasi belajar siswa.
Siswa dengan motivasi berprestasi yang tinggi diberi media apapun baik riil maupun akan berusaha semaksimal mungkin agar mendapatkan hasil belajar yang tinggi. Sedangkan siswa yang mempunyai motivasi berprestasi rendah ketika diberi pembelajaran dengan media animasi akan termotivasi untuk meningkatkan prestasinya. Karena penggunaan media animasi (virtuil) merupakan sesuatu yang baru bagi siswa. Dimungkinkan akan ada interaksi pendekatan CTL melalui media riil dan virtuil dan motivasi berprestasi tinggi dan rendah terhadap prestasi belajar siswa.
Siswa yang mempunyai kemampuan berpikir abstrak tinggi dimungkinkan motivasi berprestasinya juga tinggi sehingga hasil belajarnya akan lebih baik dibandingkan siswa yang kemampuan berpikir abstraknya rendah. Akan ada interaksi antara kemampuan berpikir abstrak tinggi dan rendah dan motivasi berprestasi tinggi dan rendah terhadap prestasi belajar siswa.
commit to user
Siswa yang mempunyai kemampuan berpikir abstrak tinggi apabila diberi pembelajaran menggunakan pendekatan CTL melalui media virtuil hasil belajarnya akan lebih tinggi dibandingkan dengan siswa yang kemampuan berpikir abstraknya rendah. Sebaliknya siswa dengan kemampuan berpikir abstrak rendah akan baik nilainya ketika belajar dengan media riil. Sedangkan siswa yang mempunyai motivasi berprestasi tinggi apabila diberi pembelajaran menggunakan pendekatan CTL melalui media riil hasil belajarnya akan lebih tinggi dibandingkan dengan siswa yang motivasi berprestasinya rendah. Sebaliknya siswa dengan motivasi berprestasi rendah akan baik nilainya jika dihadapkan dengan media animasi, akan ada interaksi antara pendekatan CTL melalui media riil dan virtuil, kemampuan berpikir abstrak tinggi rendah, dan motivasi berprestasi tinggi rendah terhadap prestasi belajar siswa.
D. Hipotesis
Berdasarkan landasan teori dan masalah yang disajikan, serta kerangka berpikir yang ada dalam penelitian ini, maka dapat dirumuskan hipotesis penelitian sebagai berikut:
1. Ada perbedaan pengaruh pembelajaran fisika dengan pendekatan CTL melalui media riil dan virtuil terhadap prestasi belajar siswa.
2. Ada perbedaan pengaruh kemampuan berpikir abstrak tinggi dan rendah terhadap prestasi belajar siswa.
3. Ada perbedaan pengaruh motivasi berprestasi tinggi rendah terhadap prestasi.
4. Ada interaksi antara penggunaan pendekatan CTL melalui media riil dan virtuil dengan kemampuan berpikir abstrak terhadap prestasi belajar siswa.
5. Ada interaksi antara penggunaan pendekatan CTL melalui media riil dan virtuil dengan motivasi berprestasi terhadap prestasi belajar siswa.
6. Ada interaksi antara kemampuan berpikir abstrak dengan motivasi berprestasi terhadap prestasi belajar siswa.
7. Ada interaksi antara penggunaan pendekatan CTL melalui media riil dan virtuil,kemampuan berpikir abstrak dan motivasi berprestasi terhadap prestasi belajar siswa.