• Tidak ada hasil yang ditemukan

DEWAN PERWAKILAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA RISALAH RAPAT RAPAT DENGAR PENDAPAT UMUM KOMISI VII DPRRI DENGAN KETUA UMUM HISWANA MIGAS

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "DEWAN PERWAKILAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA RISALAH RAPAT RAPAT DENGAR PENDAPAT UMUM KOMISI VII DPRRI DENGAN KETUA UMUM HISWANA MIGAS"

Copied!
30
0
0

Teks penuh

(1)

DEWAN PERWAKILAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA

RISALAH RAPAT

RAPAT DENGAR PENDAPAT UMUM KOMISI VII DPRRI DENGAN

KETUA UMUM HISWANA MIGAS

Tahun Sidang : 2021-2022 Masa Persidangan : III

Rapat ke- :

Jenis Rapat : Rapat Dengar Pendapat Umum Sifat Rapat : Terbuka

Hari, Tanggal : Selasa, 18 Januari 2022 Waktu : Pukul 16.00 WIB s.d selesai

Tempat : Ruang Rapat Komisi VII DPRRI Gedung Nusantara I Lantai 1, Jakarta

Ketua Rapat : Sugeng Suparwoto/F-P.Nasdem/Ketua Komisi VII DPRRI

Sekretaris Rapat : Dra. Nanik Herry Murti/Kabagset. Komisi VII DPRRI Acara : 1. Zonasi Tata Kelola Migas; dan

2. Lain-lain.

Hadir : 23 orang Anggota hadir dari 51 orang Anggota Komisi VII DPRRI dengan rincian sebagai berikut:

A. Anggota DPRRI:

PIMPINAN :

1. Sugeng Suparwoto/F-P.Nasdem/Ketua Komisi VII DPRRI

2. Dony Maryadi Oekon, S.T./F-PDIP/Wakil Ketua Komisi VII DPRRI

3. Bambang Haryadi, S.E./F-Gerindra/Wakil Ketua Komisi VII DPRRI

4. H. Eddy Soeparno, S.H.,M.H/F-PAN/Wakil Ketua Komisi VII DPRRI

1. FRAKSI PARTAI DEMOKRASI INDONESIA PERJUANGAN:

3 orang Anggota dari 11 Anggota:

1. H. Nasyirul Falah Amru, S.E.

2. H. Andi Ridwan Wittiri, SH (Virtual) 3. Adian Yunus Yusak Napitupulu

2. FRAKSI PARTAI GOLKAR:

5 orang Anggota dari 7 Anggota:

1. Ir. H. M. Ridwan Hisyam

2. Drs. H.M. Gandung Pardiman, M.M.

(2)

3. Drs. Mukhtarudin 4. Ir. Lamhot Sinaga

5. Bambang Patijaya, S.E.,M.M.

3. FRAKSI PARTAI GERINDRA:

5 orang Anggota dari 6 Anggota:

1. Moreno Soeprapto 2. R. Wulansari

3. H. Subarna, S.E., M.Si.

4. Dr. Ir. H. Kardaya Warnika, D.E.A.

5. H. Nurzahedi, S.E.

4. FRAKSI PARTAI NASIONAL DEMOKRAT:

1 orang Anggota dari 4 Anggota 1. Ina Elisabeth Kobak, S.T.

5. FRAKSI PARTAI KEBANGKITAN BANGSA:

2 orang Anggota dari 5 Anggota:

1. H. Abdul Kadir Karding, S.Pi., M.Si 2. Hj. Ratna Juwita Sari, S.E., M.M.

6. FRAKSI PARTAI DEMOKRAT:

1 orang Anggota dari 4 Anggota:

1. Sartono Hutomo, S.E., M.M.

7. FRAKSI PARTAI KEADILAN SEJAHTERA:

1 orang Anggota dari 5 Anggota:

1. Dipl. Ing. Hj. Diah Nurwitasari, M.I. Pol.

8. FRAKSI PARTAI AMANAT NASIONAL:

1 orang Anggota dari 3 Anggota:

1. H. Nasril Bahar, S.E.

9. FRAKSI PARTAI PERSATUAN PEMBANGUNAN:

0 orang Anggota dari 1 Anggota:

B. PEMERINTAH/UNDANGAN

Rachmad Muhamadiyah (Ketua Umum DPP Hiswana Migas)

(3)

JALANNYA RAPAT:

KETUA RAPAT (SUGENG SUPARWOTO/F-P.NASDEM/KETUA KOMISI VII DPRRI):

Baiklah, mari kita mulai saja rapat dengar pendapat umum namanya RDPU Komisi VII DPRRI dengan Ketua Umum Himpunan Wiraswasta Nasional Minyak dan Gas (Hiswana Migas).

Bismillahirahmanirahim.

Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

Salam sejahtera kami sampaikan.

Om Swastiastu, Namo buddhaya, Salam kebajikan.

Yang kami hormati Pimpinan Komisi VII DPRRI, Ini ada Pak Bambang Haryadi, ada juga di zoom ada Pak Maman Abdurrahman, ada Pak Edi Suparno dan juga ada Pak Dony Oekon,

Yang kami hormati Bapak dan Ibu Anggota Komisi VII DPRRI baik yang hadir langsung. Ini kebetulan ada kurang lebih 7 apa, yang hadir tetapi ada di zoom sebagian besar bahkan,

Yang kami hormati juga, Ketua Umum Himpunan Wiraswasta Nasional Minyak dan Gas atau (Hiswana Migas) dan jajarannya, serta

Hadirin yang berbahagia,

Pertama-tama pasti kita semuanya bersyukur kehadirat Allah Subhanahu Wata'ala, Tuhan Yang Mahakuasa, dan atas ridho dan karunia-Nya juga kita bisa menyelenggarakan rapat dengar pendapat umum secara protokol kesehatan hari ini, baik yang hadir visik maupun virtual meeting guna melaksanakan tugas-tugas konstitusional kita masing-masing.

Pada kesempatan ini, kami mengucapkan terima kasih atas perhatian serta kesediaan Bapak/Ibu Anggota Komisi VII DPRRI untuk mengikuti rapat dengar pendapat umum pada hari ini. Dan, sesuai undangan yang telah disampaikan dan berdasarkan jadwal rapat Komisi VII DPRRI pada Masa Persidangan III, Tahun Sidang 2021-2022, pada hari ini Komisi VII DPRRI akan melaksanakan Rapat Dengar Pendapat Umum dengan Ketua Umum Himpunan Wiraswasta Nasional Minyak dan Gas atau (Hiswana Migas) dan jajarannya, dalam rangka pelaksanaan fungsi pengawasan dengan agenda sebagai berikut:

1. Tentang zonasi dan tata kelola migas.

2. Lain-lain.

Bapak/Ibu hadirin sekalian.

Berdasarkan data sekretariat, Anggota Komisi VII DPRRI yang hadir berjumlah 16 peserta dari 51 Anggota Komisi VII, dan terdiri dari 8 fraksi dari 9 fraksi yang ada. Dengan demikian, kuorum sebagaimana ditentukan dalam

(4)

peraturan DPRRI Nomor 1 Tahun 2020 tentang Tata Tertib, Pasal 281 ayat (1) telah terpenuhi. Dan sesuai ketentuan Pasal 276 ayat (1) menyatakan bahwa,

“setiap rapat DPR bersifat terbuka kecuali dinyatakan tertutup”. Oleh karena itu, Pimpinan meminta persetujuan anggota agar rapat dengar pendapat umum ini dilaksanakan sesuai dengan protokol kesehatan dan bersifat terbuka. Apakah disetujui?

Baiklah, Bapak/Ibu sekalian,

Atas persetujuan anggota dan dengan mengucapkan bismillahirrahmanirrahim, Rapat Dengar Pendapat Umum Komisi VII DPRRI dengan Ketua Umum Himpunan Wiraswasta Nasional Minyak dan Gas (Hiswana Migas) dan jajarannya dibuka dan dinyatakan terbuka untuk umum.

(RAPAT : SETUJU)

(RAPAT DIBUKA PUKUL 16.00 WIB)

Sebelum melanjutkan rapat ini, kami meminta persetujuan Bapak/Ibu Anggota Komisi VII DPRRI, bahwa rapat ini akan selesai kurang lebih pukul 9 tepat ya? Sepakat Bapak/Ibu sekalian ya? Terima kasih.

(RAPAT : SETUJU) Baiklah.

Bapak/Ibu yang kami hormati.

Tantangan tahun 2022 telah diawali dengan fluktuasi pasokan permintaan dan harga, serta, atau yang sering disebut supply and demand, serta cadangan energi, khususnya energi primer, baik secara global maupun lokal cukup tinggi. Gas bumi yang merupakan energi strategis dan tetap menjadi andalan dalam mendukung pembangunan dan perekonomian nasional, tampaknya mencari titik keseimbangan yang baru akhir-akhir ini. Sebagai contoh, sudah dua minggu ini usaha mikro dan kecil kampung lontong Surabaya yang tidak menggunakan LPG melon bersubsidi menanggung beban berat akibat kenaikan harga gas bumi yakni city gas, yang dipasok oleh PT PGN terbuka.

Oleh karena itu, Komisi VII DPRRI hendak memastikan, seberapa jauh kegiatan usaha minyak dan gas bumi memberikan nilai tambah secara nyata kepada pertumbuhan ekonomi nasional yang meningkat dan berkelanjutan.

Dalam rangka untuk pemenuhan kebutuhan gas domestik dengan existing supply pada tahun ini. Tahun 2022 sudah defisit pada prakiraan total demand, 290, maaf 5.924 MMSCFD dengan existing supply 5.256 MMSCFD. Sehingga, untuk menjaga neraca gas bumi nasional harus segera diupayakan pasokan baru.

Bapak dan Ibu yang kami hormati.

(5)

Komisi VII DPRRI menyelenggarakan Rapat Dengar Pendapat Umum dengan Ketua Umum Hiswana Migas, dimaksudkan untuk mendapatkan data faktual di lapangan, serta umpan balik perihal dinamika bisnis ritel migas selama ini. Selaku pelaku bisnis migas, diharapkan mampu memberikan umpan balik atas zonasi tata kelola migas wilayah jaringan distribusi, wilayah niaga tertentu, termasuk di dalamnya kepatuhan badan usaha-badan usaha semacam Hiswana Migas terhadap kebijakan atau aturan dari otoritas-otoritas terkait dalam melayani masyarakat.

Selanjutnya, untuk efektifnya rapat, kami persilakan, kami beri kesempatan kepada Ketua Umum Hiswana Migas untuk menyampaikan pemaparannya dan nanti bisa saja ditambahkan dari jajaran yang lain.

Dipersilahkan, yang terhormat.

KETUA UMUM DPP HISWANA MIGAS (RACHMAD MUHAMADIYAH):

Baik, terima kasih.

Assalamualaikum Warahmatullah Wabarakatuh.

Selamat malam dan salam sejahtera buat kita semua.

Pertama-tama kami perkenalkan diri Pak, nama saya Rachmad Muhamadiyah, selaku Ketua Umum DPP Hiswana Migas. Alhamdulillah bersama kami ini ada apa, teman-teman pengurus dari DPD-DPD. Jadi, Hiswana Migas itu ada 8 DPD. Ini dari Sumatera, kemudian dari Kalimantan, Sulawesi, alhamdulillah hadir Pak selain Jawa Pak. Jadi, Papua saja yang nggak hadir Pak. Kebetulan kita pas ada rapat, jadi saya ajak ke sini, jadi kita rombongan lumayan banyak Pak untuk bisa mengikuti RDPU pada malam hari ini.

Adapun pada kesempatan malam hari ini, kami apa, pengen menyampaikan sedikit sejarah tentang Hiswana Migas, Pak. Jadi, Hiswana Migas ini didirikan pada tahun 79. Awalnya adalah, mungkin di-skip saja Pak ya. Jadi, memang ada perkumpulan-perkumpulan agen minyak. Itu dimulai sejak tahun 50-an, dan beralih sampai akhirnya sekitar tahun 70-an. Itu pemerintah sudah mulai mengatur organisasi untuk agen minyak.

Nah, untuk Hiswana Migas, itu kepengurusannya terdiri 1 Dewan Pimpinan Pusat yang berkedudukan di Jakarta, kemudian ada 8 Dewan Pimpinan Daerah, ini sesuai dengan Pertamina. Kalau di Pertamina MOR, kalau di kita DPD Pak. Kemudian dari DPD tersebut ada 67 DPC. DPC itu bisa dari satu kota ataupun beberapa kota. Selanjutnya, anggota Hiswana Migas itu terdiri dari perorangan maupun badan hukum yang bergerak di bidang pemasaran dan menjadi mitra dari pada Pertamina persero. Saat ini dari mitra PT Pertamina Patra Niaga. Adapun anggotanya meliputi usaha di bidang agen minyak tanah. Ini masih ada yang di daerah timur, kemudian usaha SPBU dan SPBUN, SPBU Nelayan, kemudian agen LPG, PSO maupun non-PSO, SPBE

(6)

atau SPPBE dan retester, kemudian untuk pelumas, juga untuk agen transportir Pak. Selanjutnya, juga ada agen petro kimia dan aspal, dan juga bunker service.

Nah, dalam kesempatan ini, kami mungkin nanti akan membahas dua bidang usaha saja Pak yang terkait dengan apa, yang mungkin terkait dengan PSO, yaitu untuk agen LPG PSO, dan yang kedua SPBU karena menyalurkan BBM JBT. Mungkin untuk yang agen LPG PSO, Pak Heddy, silakan Pak Heddy melanjutkan.

DPP HISWANA MIGAS (HEDDY S. HEDIAN):

Baik, terima kasih Bapak.

Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

Bapak/Ibu sekalian.

Jadi, kami hanya ingin sedikit mengulas dan menjelaskan mengenai LPG PSO, yang lebih akrab dikenal dengan LPG melon. Yang apa, saat ini LPG 3 kg atau PSO ini di dalam pengawasannya dilakukan oleh beberapa instansi Pak, baik itu dari Dirjen Migas kemudian juga dari BPK. Mereka melakukan verifikasi dan audit terhadap jumlah pendistribusian dari agen ke pangkalan-pangkalan. Kemudian, untuk pendistribusian ini selain memang ada pengawasan dari Dirjen ESDM dan BPK juga dari pemerintah daerah yang kadang juga bekerja sama dengan teman-teman Hiswana di cabang, melakukan pengawasan di masing-masing daerahnya untuk pendistribusian di tingkat pangkalan ke masyarakat.

Kemudian, untuk lebih memudahkan pengawasan, LPG 3 kg ini pendistribusiannya juga mempergunakan clustering atau rayonisasi Pak per kota dan kabupaten, dengan menggunakan juga penandaan, yaitu plastik wrap yang memang setiap daerahnya berbeda warna-warnanya. Dan di dalam plastik wrap itu sendiri juga tercantum nama agen dan apa, alamatnya Pak. Hal ini untuk memudahkan pendistribusian dengan apa, kasat mata, terlihat, agar tidak terjadi overlap dari satu daerah ke daerah lainnya. Karena memang LPG 3 kilo ini sudah dialokasi masing-masing daerah, kota/kabupaten besarannya, jumlahnya. Nah, ini yang memang perlu dijaga agar tidak terjadi over atau mungkin kekurangan pasokan atau supply.

Untuk pengawasan lainnya, pemerintahan daerah bekerja sama dengan Hiswana ini salah satunya juga melakukan pendekatan atau sosialisasi ke usaha-usaha menengah, seperti halnya rumah makan-rumah makan yang memang masih mempergunakan LPG 3 kilo. Nah, ini kami dengan pemerintah daerah melakukan pendekatan agar mereka bisa beralih kepada LPG non-PSO Pak, yang memang sesuai dengan peruntukannya.

Untuk sementara, mungkin itu penjelasan LPG PSO.

Terima kasih.

(7)

Assalamualaikum Warahmatullah Wabarakatuh.

KETUA UMUM DPP HISWANA MIGAS (RACHMAD MUHAMADIYAH):

Wa’alaikumssalam.

Saya lanjutkan, Pak.

Jadi, adapun kuota versus realisasi, ini memang agak apa, mendekati Pak ya. Jadi, tahun 2019 itu 6,98 juta metrik ton, realisasinya 6,84 kemudian tahun 2020, 7 juta kuotanya, realisasinya sedikit melebihi 7,14 kemudian tahun 2021 kuotanya 7,5 juta ton, juta metrik ton, kemudian realisasinya 7,48 dan alhamdulillah pada tahun 2022 ini meningkat menjadi 8 juta metrik ton. Untuk itu, kami dari seluruh Anggota Hiswana Migas mengucapkan terima kasih banyak Pak, apa, ada peningkatan di penyaluran ini. Sehingga, kebutuhan untuk masyarakat apa, yang kurang mampu ini bisa terpenuhi.

Selanjutnya, untuk bidang SPBU ada 3, ada apa itu, cara proses pemesanan BBM. Jadi, dimulai dari check stok dan estimasi penjualan kita melakukan itu. Kemudian, kita melakukan pemesanan BBM melalui H2, house to house, ke bank, kemudian SMS ke MS2 yang diprogram, dipunyai oleh Pertamina, kemudian selanjutnya ada penjadwalan dan pengiriman. Rata-rata pengirimannya adalah H+1 dari pemesanan.

Demikian untuk kuota untuk BBM, Pak. Ini untuk kuota dan realisasi BBM JBT ini secara total Pak ya. Jadi, apa, kenapa Pak? JBT Pak. Maksudnya total itu, JBT itu kan ada minyak solar dan minyak, iya, jenis korporat tertentu Pak. Itu ada solar dan minyak tanah, subsidi, betul Pak. Mungkin kalau yang nonsubsidi kan ndak masalah Pak ya. Jadi, yang kita bahas yang subsidi, yang saya utamakan di sini. Adapun yang untuk JBT, angka kuotanya ini kita apa namanya, dari total, di mana kuota ini ada kuota untuk BBM solar dan ada BBM minyak tanah. Adapun untuk solar juga dibagi 2 melalui Pertamina dan melalui AKR, tapi kecil AKR-nya. Iya, iya Pak.

Kemudian untuk kuotanya tahun 2018, itu 16,23 realisasi 16,12. Hampir sesuai, masih lebih dikit karena tahun 2019 ini lebih. Jadi, kuotanya 15,1 sementara realisasinya 16,7. Kemudian tahun 2020, itu kuotanya 15,87 realisasinya 14,38. Ini mungkin disebabkan karena adanya pandemi. Nah, tahun 2021 ini 15,8 juta KL, realisasinya 15,53. Ini sudah agak naik dibandingkan tahun 2020 karena apa, pandemi sudah mulai berkurang dan ekonomi sudah mulai naik. Nah, yang cukup mengagetkan kami adalah tahun 2022 kuotanya malah turun jadi 15,1 di mana kita melihat atau memperkirakan tahun 2022 itu harusnya ada peningkatan di kegiatan ekonomi yang mana membutuhkan BBM ini malah turun. Tapi, ini sudah menjadi keputusan, dan kita akan tetap melaksanakan apa yang apa, telah diputuskan oleh pemerintah.

Kemudian, untuk pengawasannya terhadap BBM JBT ini, melalui BPH Migas dan juga melalui audit BPK yang dilakukan ke masing-masing MOR biasanya Pak. Sedangkan untuk monitoring-nya, itu dilakukan dengan cara

(8)

pencatatan nomor polisi dengan sistem digitalisasi dari Pertamina dan adanya batas wajar pengisian saat ini itu maksimum 200 liter per hari, seperti itu.

Selanjutnya, mungkin ini juga bisa di-skip Pak, ini peran Hiswana Migas sampai saat ini, apa, mewakili anggota ..(suara tidak jelas).. principle, kemudian juga untuk kita turut aktif dalam pembentukan undang-undang Migas, kemudian terakhir kita juga bikin apa namanya, turut dalam tim untuk tahun 2094. Kemarin ada ini Pak apa, pajak final untuk penyaluran BBM, kemudian terakhir tahun 2020 kemarin kita ada PMK untuk LPG PSO, di mana kita diberikan tarif khusus untuk selisih PPN-nya seperti itu. Dan selanjutnya kita sampaikan juga, awal daripada LPG ini adalah dari minyak tanah, di situ ada peran Hiswana Migas dalam pada saat konversi minyak tanah tahun 2007- 2009 kemarin.

Mungkin itu yang bisa saya sampaikan.

Terima kasih banyak Pak Pimpinan.

KETUA RAPAT :

Maaf ya, ini kok agak terus jadi bukan mengurangi rasa hormat, kita sama-sama.

KETUA UMUM DPP HISWANA MIGAS (RACHMAD MUHAMADIYAH):

Siap, pak.

KETUA RAPAT :

Bapak bisa bayangkan, kita mulai jam 10 teng adalah rapat paripurna, terus rapat terus. Nah, tadi menyaksikan sendiri, kita terus maraton, jadi.

Iya, jadi terima kasih dari Hiswana Migas telah menyampaikan paparannya menyangkut tentang LPG PSO, yang 3 kilogram, dan juga bahan bakar tertentu, yakni premium dan solar. Mungkin sebelum saya share di sini dengan Bapak/Ibu sekalian untuk mencatat dan sebagainya, saya menggarisbawahi beberapa hal.

Saya agak surprised, karena setiap kali naik senang gitu loh. Gas misalnya, kan naik terus memang dari tahun anggaran tahun 2000 yang sejumlah 7,5 juta ton, tahun 2021, maaf 7 juta ton, 2021 menjadi 7,5 juta ton dan 2022 8 juta ton. Dari tahun 2020 sampai hari ini naik setiap tahun 500 juta ton. Itu kalau kita lihat sebab musababnya, itu karena kemiskinan naik. Jadi, mohon ya, mohon maaf ya, kita harus pemahaman yang sama. Kita bangga itu kalau turun apa, volume-nya. Artinya apa? Pengguna apa, kan kenapa gas 3 kilogram LPG yang 3 kilogram itu untuk masyarakat miskin atau masyarakat tidak mampu. Jadi, kenapa kita naikkan? Ya karena krisis, kita tahu krisis ini menghantam semuanya, maka kemiskinan naik. Terlebih-lebih work from home, terlebih-lebih juga industri kecil terus bergerak, maka juga itulah yang kenapa

(9)

naik. Tetapi basisnya adalah karena kemiskinan naik gitu loh. Jadi, inilah yang menjadi catatan kita.

Demikian juga di, tadi kok turun justru di BBM tertentu, hanya menjadi apa, koma satu tadi, berapa.

KETUA UMUM DPP HISWANA MIGAS (RACHMAD MUHAMADIYAH):

15,1 Pak.

KETUA RAPAT : Iya betul.

Jadi, begini Bapak/Ibu sekalian,

Kita kan sudah sepakat bagaimana kita memakai BBM ron tinggi, kan begitu. Di mana ron rendah, bensin, karena sulfur dan karbonnya tinggi dan itu sudah tahun 2017, bahkan ada Keputusan Menteri Lingkungan Hidup, tentang bensin harus di standar ron 91 kan terendah, sementara bensin premium itu ron 88, tinggal dipakai oleh 6 negara saja di dunia, dan terakhir itu yang tidak, karena semula 7, terakhir Timor Timur yang meng-apa, yang tidak lagi menggunakan premiun ini. Karena dari hasil riset dari pakar di WHO ya, itu bahwa sulfur itulah yang membuat, merangsang cancer dan sebagainya, dan sebagainya, dan seterusnya. Saya kira itu.

Jadi, penurunan semata-mata karena memang juga pertimbangan itu.

Sehingga, bahkan kan sudah hampir habis sebetulnya. Sekarang tinggal 3%

saja itu apa, premium. Bahkan sempat dicuci kan apa, tangki-tangki kalian kan gitu. Kenapa? memang mau. Tetapi ada pertimbangan lain di mana bensin masih sangat dibutuhkan, ada bensin murah. Bensin murah karena disubsidi gitu loh. Yang benar itu yang disubsidi adalah BBM yang ramah lingkungan sehingga murah. Nah, itu yang sedang kita rumuskan formulasinya. Jadi itu.

Bapak/Ibu sekalian.

Anda sebagai pelaku langsung di bawah apa, yang berhubungan antara produsen, dalam hal ini Pertamina, dan sebagai penyalur sekaligus retail di bawah, saya kira beberapa catatan tadi sudah disampaikan. Dengan berbagai pengalaman yang ada, maka kita ingin diskusi panjang lebar bagaimana Indonesia tetap energi, ketahanan energi handal, tapi juga memenuhi sebagai apa, energi yang sehat dan lingkungan yang baik, saya kira itu. Affordable, terjangkau mudah didapat, tetapi juga terjangkau secara harga.

Saya kira itu.

Dipersilakan, kita mulai dari Golkar dulu ya. Dipersilakan.

ANGGOTA KOMISI VII DPR RI :

(10)

Karena PDI lagi nggak ada nih Pak.

F-P.GOLKAR (Ir. H.M. RIDWAN HISJAM):

Terima kasih.

Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

Yang saya hormati Pimpinan Komisi VII,

Pak Sugeng, Pak Ketua sama Pak Bambang Hariyadi, Wakil Ketua, Pimpinan yang lain, yang virtual,

Para anggota yang yang saya hormati,

Yang saya hormati Pak Ketua Hiswana Migas, ini bapaknya teman saya, jadi kalau anaknya ini kan musti manggil saya “om” gitu, teman berjuang, dan Seluruh jajaran pengurus.

Jadi, saya bangga dengan Hiswana Migas ini kita lihat sejarahnya. Kalau saya lihat ini kan, ini organisasi pejuang pengusaha atau pengusaha pejuang, karena bersama-sama dengan pemerintah sejak awal terutama di bidang energi, yang memberi pasokan atau menjaga harga energi, khususnya minyak tanah pada saat itu, dan terakhir adalah migas. Sejak tahun 50, tahun 60-an sejarahnya ini. Jadi, masih Shell, Stanvac, Mobil Oil dan Caltex. Dan kebetulan rumah saya waktu saya kecil itu di depannya Stanvac di Perak Timur situ, di Perak, Surabaya, berhadapan saya.

Jadi, rumah saya itu di depannya Stanvac yang sekarang Pertamina.

Sehingga saya tahu persis sejarah daripada perminyakan ini sampai dibentuknya Hiswana Migas dan diketuai oleh Pak Majdi Afandi, tokoh pengusaha besar dari Jawa Timur asal Gresik. Betul ya Mas Yani ya? Saya sama kakaknya mestinya, ini ndak ada waktu itu. Dia sekolah di mana,

KETUA UMUM DPP HISWANA MIGAS (RACHMAD MUHAMADIYAH):

Di Amerika Pak.

F-P.GOLKAR (Ir. H.M. RIDWAN HISJAM):

Di Amerika. Nah, jadi ini lulusan Amerika, jadi berjuang sama bapaknya, dan waktu itu saya Ketua Umum Himpunan Pengusaha Muda Indonesia, bapaknya juga pendiri HIPMI di Jawa Timur. Sehingga, saya melihat ini adalah betul-betul bersama pemerintah, dan perubahan-perubahan terjadi. Mulai dari tahun 50, 60, 70 ya, 65 jadi 70 sampai berdirinya Hiswana Migas tahun 79.

Nah, Hiswana Migas ini memang organisasi yang sakti. Kenapa saya sampaikan sakti? Dia tidak tersentuh oleh reformasi. Saya adalah juga pengusaha dari Jawa Timur. Saya dulu Ketua Umum HIPMI, Ketua Real Estate Indonesia Jawa Timur, Ketua Apegti Jawa Timur setelah Pak Ishadi. Tapi, Apegti tereformasi pada saat bersama-sama pamannya Apegti, Rusdi Affandi.

Nah, itu Apegti setelah itu saya. Pada waktu saya itulah terus tereformasi. Pada waktu itu Kabulog-nya Pak Beddu Amang.

(11)

Hiswana Migas tetap ada sampai hari ini. Di zaman reformasi yang sudah dipimpin Pak Joko Widodo 2 periode ini, tapi masih ada. Nah, saya ingin menyampaikan kepada saudara-saudara pengurus bahwa, situasi sudah berubah. Sehingga, saudara-saudara harus bisa menyesuaikan dengan kondisi sekarang. Apa yang disesuaikan? Semua lini, karena kita sudah memasuki era yang namanya era industri four point zero. Malah di luar sudah masuk ke five point zero, Indonesia masih baru four point zero sejak 2018.

Nah, tuntutan inilah yang diantisipasi oleh teman-teman yang ada di Komisi VII di DPR. Karena apa? Karena kami ini semuanya ada 50 orang lebih mewakili semua daerah di nusantara se-Indonesia. Jadi, aspirasinya macam- macam. Aspirasi di Jawa Timur mungkin nggak terlalu banyaklah, karena di Jawa Timur itu merata, tapi di daerah-daerah yang lain itu menjadi masalah yang namanya energi ini. Apalagi kita negara kita ini belum siap untuk menjadi, mempunyai cadangan energi sesuai dengan aturan yang ada. Di Eropa, energi, cadangan energi itu 3 bulan. Kita Pertamina 14 hari, atau 18 hari itu pun ya masih ada yang dihitung yang di apa, di tanker-tanker jalan perjalanan dihitung semua itu. Yang namanya batu bara Pak Ketua, 4 hari. Tambah gila lagi kan, batu bara kan sampai kemarin kejadian seperti itu.

Nah, kenapa kami mengundang Hiswana Migas? Saya kira Pimpinan sangat jeli melihat bahwa, “ini kok tenang-tenang saja Hiswana Migas ini?

maunya ke mana ke depan ini?” Jangan sampai anda tidak siap menghadapi perubahan ini. Karena tuntutan kami sangat, sangat berat. Bukan saja, Anda tenang-tenang kami yang dihajar sama masyarakat. Disampaikan bahwa di DPR inilah tempatnya makelar perizinan LPG. Tadi, sebelum rapat ini, kita rapat sama Dirjen Migas, sama Pertamina, PGN itu kita ungkap. Jangan istilahnya ustadz kita ini, Pak Nasril ini, jangan bau busuk dilempar ke Komisi VII. Karena pelaku-pelakunya ini kan banyak, terutama Pertamina dan Hiswana Migas, tetapi bau busuknya ada di sini. Nah, sehingga itu, harus saudara- saudara tahu itu.

Nah, kami akan menjaga stabilitas itu semuanya. Menjaga agar jangan sampai ini sistem yang sudah dibuat sebegitu panjang dan baik menurut saya, karena Hiswana Migas bisa bertahan. Gapensi aja yang kontraktor besar itu bubar itu, bubar dalam arti pecah. Berapa organisasi? Yang namanya REI, saya di situ juga pecah, sekarang ada 29. Organisasi yang namanya pembangunan perumahan itu. Nah itu.

Nah ini, sehingga kita harapkan kita harus ada komunikasi yang lebih akrab untuk saling mengisi. Jadi, jangan asik-asik sendiri Hiswana Migas gitu loh. Asik menikmati apa yang sudah ada, tapi bau busuknya ada di DPR. Nah, supaya saudara tahu bahwa kita harus menjaga keseimbangan itu. Dan kami juga sudah minta kepada Pertamina tadi agar masalah perizinan harus terbuka.

Karena kalau kita masuk ke Pertamina, mau bikin perizinan, ya toh sepertinya ada, ya ada kartel ada apa gitu. Dibuat sistem online, tapi harus lewat sesuatu.

Dan itu jatuhnya apa? DPR yang atur. Nah, ini kan rusak ini kan.

(12)

Nah, kita mau tahu gimana Hiswana Migas? Karena Hiswana Migas itu setahu saya organisasinya adalah, pembinanya adalah Direktur Marketing atau direktur apa? Pemasaran? Saya nggak tahu sekarang ya, karena kan di Pertamina berubah juga, ada Patraniaga. Apakah itu juga masuk di situ, tapi tertutup, masyarakat tidak bisa mengakses, yang dibuat kambing hitam adalah DPR. Nah, ini, dengan begitu ya kita harus terbuka semuanya, supaya kita sama-sama menjaga, baik itu bisnis para anggota Hiswana Migas bisa baik, dan juga saudara saya harapkan agar saudara ketat juga kepada anggota.

Jangan ada anggota yang asal-asalan. Mereka harus tahu apa fungsinya? Dia membawa misi apa? Dan pertemuan saudara kalau tadi kita lihat, agen ini kan sudah berapa banyak, berapa ribu ini? Nah, itu apakah sudah menjadi anggota Hiswana Migas semuanya? Harus diwajibkan.

Saya sebagai pengusaha real estate, pengurus REI, setiap pengusaha real estate yang pembebasan tanah harus masuk Anggota REI, bayar iuran.

Nah, patokannya di mana kalau dia nggak mau? di Badan Pertanahan. Jadi, kalau dia tidak punya keanggotaan real estate, nggak bisa ngurus sertifikat balik apa, PPAT segala, ndak bisa. Nah, apakah itu sudah dilakukan oleh Hiswana Migas? Sehingga tidak ada anggota-anggota yang notabenenya adalah sebagai agen, baik itu yang minyak. Jadi, SPBU, maupun gas atau ada, masih ada minyak tanah yang tidak terdaftar di organisasi ini. Nah, itu harus ketat.

Anda harus bisa bekerja sama dengan Pertamina. Kalau perlu ya kita support, Pimpinan kita minta untuk kita support supaya mereka semua tertib.

Dan mungkin mereka yang tidak tertib inilah yang merusak harga-harga sembarangan. Kita ndak usah bicara hargalah, karena itu pasti saudara sudah tahu. Siapa yang merusak ini? Saudara sudah tahu. Nah, sehingga bisnis ini adalah dianggap bisnis yang apa ya, sesuatu yang wah kalau sudah jadi agen Pertamina atau SPBU itu sudah hebat semuanya. Padahal kan susah juga kan.

Banyak makalah yang saudara hadapi.

Nah, pengetatan keanggotaan atau konsolidasi organisasi itu harus menjadi apa, program utama, dan harus terdaftar, dan sistemnya bukan lagi mendaftar biasa. Ya sistem apa, sistem digital. Anda begitu Pertamina keluar, Anda sudah tahu bahwa ada anggota baru, langsung ditertibkan. “Ini aturannya, Anda harus begini-begini, jangan merusak apa namanya, bisnis ini”. Kalau tidak, Hiswana Migas bisa merekomendasi untuk dicabut. Nah, itu baru organisasi Anda menjadi organisasi yang betul-betul berwibawa. Jadi, jangan pengurus ini, karena ini ada pengurus semuanya, yang nggak ikut cuma Papua saja tadi, jangan cuma asal mejeng saja jadi pengurus Hiswana Migas, tapi dia tidak bekerja.

Saya kira itu, Pak Pimpinan.

Terima kasih.

Assalamualaikum Warrahmatullahi Wabarakatuh.

KETUA RAPAT :

(13)

Waalaikumsalam Warahmatullahi Wabarakatuh.

Bapak Ridwan Hisjam, ini Kyai Haji Ridwan Hisjam, apa entah kyai beneran adu kyai palsu. Ini tadi beberapa catatan. Diminta adaptif, saya kira betul ini, zaman begini dan sebagainya, sudah tidak zamannya, mohon maaf waktu itu kan ya karena orang tua kita, karena, karena dan sebagainya.

Sekarang tidak, semuanya menjadi sedemikian terbuka.

Terus ada betul case yang tadi sudah analogi bau busuk itu. Nah, maka, ini maka tadi juga di, kita perlu betul-betul saling terus terbuka, saling komunikasi dan sebagainya. Sehingga, kita menjadi tahu juga masalahnya apa di, karena kita tahu bagaimana dengan program apa, Pertamini apa, yang gas Pertamina punya? Pertashop misalnya, harus sekian jauh dari ini dan sebagainya. Kan itu juga keluhan Anda semua. Nanti kalau tidak menjadi sebuah apa, harus menjadi sebuah kebijakan, kan kalau hanya sporadis kan, kan tidak akan menjadi sebuah kebijakan. Contohnya, yang kayak gitu, kayak gitu.

Jadi, kita mengapresiasi keberadaan Hiswana Migas dan sekali lagi itulah menjadi apa, ujung tombak yang mungkin istilah orang Jawa suka sering jadi ujung tombok juga, tapi kan tidak juga kan. Hari ini pasti pada untung, pada ini, dan kalau kita lihat, di antara pengurus-pengurus apa, kelompok profesi saya kira Hiswana Migas ini mencerminkan kemakmuran juga kalau lihat dari face-face, tampangnya. Aamiin toh? Bagaimana daya tahan tidak lapar untuk nunggu sekian waktu coba? mohon maaf ya. Kalau orang susah pasti pada berontak, tapi dengan Hiswana gitu, ini kan tidak.

Pak Gandung? Ini masih ada dari Golkar ya dulu ya? Mumpung. Apa?

F-P.GOLKAR (DRS. H.M. GANDUNG PARDIMAN, M.M.):

Mumpung PDI nggak ada gitu Pak ..(suara tidak jelas)..

Terima kasih.

Saya Gandung Pak, Dewan Dapil Yogya, Fraksi Partai Golkar.

Kami setiap tahun itu selalu memikirkan bagaimana penambahan kuota apa, gas maupun minyak ini. Ini tidak gampang saya mikir itu, tidak gampang.

Ada yang senang, ada yang tidak. Ada yang di belakang, ada yang ndekengi, dan sebagainya. Tetapi semangat kami seperti Pak Ketua tadi sampaikan.

Yang saya khawatirkan, kita sudah ikhlas lillahi ta'ala berhasil, di lapangan mengecewakan hati kita. Kami, juga banyak apa, masukan-masukan, banyak curhatan-curhatan. Baik oleh struktur format sendiri maupun oleh anggota apa, Hiswana Migas itu sendiri. Entah itu sebagai apa, lahan ujung tombak, ujung tombak, dan ujung peras-memeras gitu loh.

(14)

Ini saya juga, sebuah tanda tanya ini, yang benar yang mana? Gitu loh.

Ada yang struktur formal organisasi, takut, pemerintahan takut dengan Hiswana. Apa betul ini? Menakutkan Bapak ini? Takut, opo-opo manut. Nah, ini, ini hal yang perlu kita gali, kita gali, kita gali. Sebab setiap tahun kita hampir tambah 500.000 dan itu kita paksakan sebetulnya. Kuota ini kita tarik-menarik Pak, sampai berapa hari baru kita ada kesepahaman. Ini. Jadi, itu mengapa kita perlu adanya satu.

Sebenarnya, usul kemarin kita satukan saja dengan tadi. Tapi kalau disatukan nanti dari gimana, Hiswana Migasnya kaget. Karena apa? Kita kencang Pak dengan mitra itu, kita kencang, kaget nanti. Biar tahu kalau kita itu kencang betul kalau dengan mitra gitu. Jadi, Hiswana juga bisa memahami, kan gitu. Namun, akhirnya kita kalah yo di-deweki, akhirnya terutama saya, yo wis ngalah, di-deweki nggak apa-apa, asal nanti ada satu jalan keluarnya yang bagus. Yang kencang Pak Kardaya itu. Kalau Pak Karja sejarak dengan saya ya Pak Karja.

F-P.GERINDRA (Dr. Ir. H. KARDAYA WARNIKA, D.E.A.):

Saya bukan kencang, tapi kencang sekali.

F-P.GOLKAR (DRS. H.M. GANDUNG PARDIMAN, M.M.):

Jadi itu.

Sebenarnya tadi kita hampir 4 jam dengan apa, mitra. Untuk itu, kami minta ini dipercepat. Kita berikan kesimpulan kita, karena ini menyangkut masalah solusi ke depan. Kesimpulan kita selama 4 jam itu bagaimana. Mudah- mudahan ada titik temu di antara kita. Ada simbiosis mutualistis di antara kita.

Sehingga, ke depan itu kita bisa berjalan seiring sejalan. Jadi, jangan sampai langkah tegap tapi Hiswana yang kirinya dulu, DPR kanannya dulu, nanti malah jadi kelucuan ini.

Itu, saya tidak panjang lebar, tapi intinya adalah itu. Ini adalah itu. Ada juga, kalau tadi apa, ungkapan-ungkapan itu lugas dan sebagainya. Tapi, juga sebagai pengusaha kalau lugas mungkin kaget. Kaget nggak lugas Pak Bambang kira-kira? Kalau kita lugasi kaget atau nggak? Kaget ya. Kalau gitu ..(suara tidak jelas).. lugas. Jadi, itu apa, adanya permainan dalam permainan gitu loh. Ini harus kita apa, kita cari solusi terbaik agar supaya semua bisa bagus.

Terima kasih, Pak Pimpinan.

KETUA RAPAT :

Iya, Pak Gandung Pardiman dari Fraksi Partai Golkar.

Tadi menekankan betul pergulatan menambah kuota itu kita debat habis dengan Menteri Keuangan di antar, di Banggar, karena Banggar itu Pak, dengan fraksi komisi-komisi lain masing-masing memperjuangkan kepentingan

(15)

komisi juga. Luar biasa perdebatannya kita, dan berhari-hari, sampai pagi dan sebagainya. Dan itu mohon maaf, itu kan memperluas cakrawala jenengan semua kan gitu loh. Coba bayangkan, itu yang dimaksud Pak Gandung. Sini bergulat sampai pagi, lah kok sana, kasarnya begitu pak, tapi kan tidak. Nanti Insya Allah, kita akan komunikasi terus, sehingga hal-hal tertentu bisa kita koordinasikan selanjutnya.

Pak Kardaya dipersilakan selanjutnya.

F-P.GERINDRA (Dr. Ir. H. KARDAYA WARNIKA, D.E.A.):

Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

Pimpinan dan Anggota Komisi VII, baik yang virtual maupun yang fisik hadir di sini, Ketua Umum Hiswana Migas beserta seluruh jajaran DPP yang hadir dari seluruh Indonesia kecuali Papua ya mungkin ya, baik.

Pak, waduh manggilnya Pak Muhamadiyah ya? Eh, namanya Muhamadiyah? Sebentar lagi ke NU dia.

Gini, saya mungkin yang lain juga sama, menganggap bahwa Hiswana ini sangat strategis. Strategis karena merupakan ujung tombak terhadap atau berhubungan dengan konsumen. Bukan Pertamina, yang berhubungan dengan konsumen itu adalah Hiswana. Saya melihat bahwa Pertamina tanpa Hiswana tumpul. Karena siapa yang mau menjual LPG? Siapa yang mau menjualnya? dan tapi, Hiswana tanpa Pertamina ya mati, nggak punya duit.

Jadi, ya jadi itu harus disadari gitu.

Nah, bagi kita DPR, Hiswana itu merupakan stakeholder penting.

Sebagai contoh, sebagai contoh nih, kita lihat di TV harga LPG di Kazakhstan naik. Nggak banyak naiknya. Karena kenaikan itu berapa puluh polisi meninggal, berapa puluh demonstran meninggal, dan kabinet dibubarkan di sana. Itu. Karena apa? Karena menyangkut hajat hidup orang banyak. Yang dipegang oleh Hiswana ini bisnisnya menyangkut hajat hidup orang banyak.

Saya sering mengatakan bahwa, contoh yang paling sederhana SPBU.

SPBU yang bahan bakarnya dari Pertamina, atau berkontrak dengan Pertamina ada 7.000 sekian, yang punya Pertamina sendiri hanya 100 lebih saja. Hampir semuanya itu punya anggota Hiswana. Bayangkan kalau Hiswana mogok gitu. Tapi nggak boleh ya mogok, awas. Iya, bayangkan, mogok sehari saja bangkrut negara itu. Iya, bubar pemerintahan. Nggak usah 1 minggu, 1 hari saja, lalu LPG melonnya ya tidak diedarkan. Orang miskin mau, bukan miskin, kurang sejahtera, bagaimana dia bisa mengakses LPG untuk masaknya? Sudah kacau-balau.

Jadi, kita menganggap bahwa DPR Komisi VII itu Hiswana adalah penting makanya kita undang. Dan kita mengharapkan sebetulnya dapat masukan yang riil gitu. Baru Pak, Anggota Hiswana termuda. Termuda, karena otomatis katanya tadi disampaikan oleh Pak Sugeng itu.

(16)

Nah, jadi, kalau menurut saya, ini kita ini menganggap penting sekali gitu Hiswana itu, dan sampaikan ke kita hal-hal yang riil, yang bagaimana ininya.

Mungkin kita DPR kalau ingin membuat suatu kebijakan, kita RDPU dengan Hiswana, kalau pemerintah mengeluarkan peraturan kebijakan semacam ini, bagaimana kira-kira? Ribut enggak? Bukan berarti minta persetujuan, tidak, tapi minta feedback. Ribut nggak? Ini nggak? Nah, itu yang diharapkan sebetulnya Pak.

Tadi presentasinya bagus. 2020 sekian, ini sekian, sekian, sekian, sekian, kita ngangguk-ngangguk semua, karena dari pagi kita dapat angka itu juga gitu dari pagi itu. Dari Pertamina dapat angka begitu, dari BPH dapat angka. Yang kita tunggu sebetulnya itu yang lain gitu. “Pak kita ini”.

Sebagai contoh nih pak ya, saya sampaikan ke Pertamina. Pertamina itu tidak fair terhadap Hiswana. Misal, Hiswana pengusaha SPBU yang anu, ketua bidang SPBU-nya siapa? Baik. Itu kan begitu ngambil apa istilahnya tuh, ngambil DO atau ngambil itu, serah-terimanya kan bukan di SPBU kan? Di Terminal Depok sana. Secara hukum, mulai di depot itu tidak ada lagi hak pertamina itu, karena sudah dibayar di situ, secara hukum. Lalu, mestinya dari situ ke SPBU ya terserah yang punya BBM. Mau diangkutnya pakai apa, yang penting pengangkutannya itu memenuhi aspek safety. Itu.

Kaya zaman dulu, saya baca-baca itu waktu zaman minyak tanah begitu.

Nah, sekarang begitu sudah dibeli yang ngangkut itu Pertamina. Artinya terserah Pertamina unjuk siapa. Maka kencing terus itu. Yang ruginya itu Pak, Hiswana. Hiswana nggak berani ngomong, karena takut di, bukan dipotong takut-takut kontraknya habis. Inilah yang, yang ingin sebetulnya seperti itu kerepotannya bagaimana LPG kerepotannya segala macam itu dan ini.

Nah, Komisi VII membantu Hiswana. Kita bilang sama Pertamina, kalau yang minta-minta agen apa segala macam, itu jangan diladenin asal saja dan mengatasnamakan Komisi VII lagi. Iya, mengatasnamakan Komisi VII.

Permasalahannya, mungkin Anggota Komisi VII yang dapat sih tenang-tenang saja, tapi yang merasa tidak ini kan jangan di, jangan di-gebyah uyah gitu. Iya, bahasa Jawa nya gitu ya Pak? Ya, oh bahasa Sunda itu hahaha jangan di- gebyah uyah. Itu, kita keras tadi.

Lalu, kan ada keluhan-keluhan, “punyanya itu, DO LPG dikasih sekian”.

Kita batasi, suruh lapor mana yang agennya dikasih DO sangat besar atau besar. Maksimal 5, di atas 5 siap-siap ini yang memainkan. Iya, karena tidak mencerminkan asas keadilan, itu. Jadi, kalau ya Pak Yeni Ketua Umum, ya mudah-mudahan nggak ada yang di atas 5 ya, 4 tapi banyak. Artinya agennya banyak, empat, empat, empat. Ya, okelah, kita ini.

Kita membantu Hiswana, tapi tolong feeding ke kita, feeding ke kita apa yang terjadi di sana, bagaimana itu pajak. Pajak itu ..(suara tidak jelas).. minta ke saya ngantarkan ke dirjen karena pajaknya berlaku surut. Ratusan juta kena, harus dibayar sekarang. Saya bilang ke Pak Dirjen waktu ngantarkan. Saya yang ngantarkan ke Pak Dirjen Pajak. “Kalau mereka mogok, gimana Pak?

Kebayangkan nggak karena harus bayar sekian ratus juta pajaknya, lalu dia

(17)

nggak mampu”. “sudahlah berhenti saya”. Itu kan. Nah, itu yang, sampaikan.

Jadi, jangan sampaikan angka-angka yang normatiflah. Ya, itu sih perlu mungkin, tapi kita sudah punya gitu angka-angka itu. Yang nggak punya itu bagaimana itu.

Misalkan, nanti pangkalan LPG bayarnya harus, tadi Pertamina itu bilang di luar ini, harus pakai apa namanya, aplikasi. Waduh, berat itu, belum tentu semuanya punya handphone yang ada aplikasinya. Jadi, jangan dianggap semuanya kayak ketua umum gitu, kaya ketua umum. Nah itu. Lalu sampaikan, misalkan kalau begini. Seingat saya ketua umum ini masuk dalam daftar orang yang miskin ya kemarin bilang? iya, masuk. Jadi, dalam daftar apa namanya, DPKS itu. Ketua Umum Hiswana Migas masuk daftar orang miskin.

Gila kan?

KETUA UMUM DPP HISWANA MIGAS (RACHMAD MUHAMADIYAH):

Dapat kartu ini Pak, identitas.

F-P.GERINDRA (Dr. Ir. H. KARDAYA WARNIKA, D.E.A.):

Iya, kartu sehat yang artinya di, iya itu kan kartu itu tuh artinya dasarnya orang miskin kan? Kalau ketua umum dapat kartu itu, kita semua Anggota Komisi VII pasti lebih dapat lagi. Iya, lebih miskin soalnya. Itu kan? Nah sampaikan, “Pak, kalau begini, ini begini, tidak jalan”. Ini yang kita butuhkan Pak. Kalau misalkan nggak enak gitu, ya bisa bisik-bisik melalui Pak Ridwan Hisjam Kyai, Pak Ketua Pak Bambang Haryadi, pimpinan-pimpinan.

Sampaikan saja, yang penting kita dapat gitu anu-nya itu ya, gitu. clue-nya. Iya, yang kaya, dapat clue-nya, dapat informasinya yang riil itu.

Lalu menyambung tadi yang disampaikan oleh Pak Ridwan dan ini, dan ketua. Jadi, organisasinya selama ini kan bisa bertahan. Salah satu syarat supaya bisa bertahan itu, organisasi itu ada manfaatnya bagi anggota. Kalau anggota merasa tidak ada manfaatnya jadi anggota, maka believe me, organisasi ini pasti akan bubar. Kenapa Hiswana sampai bertahan? Karena anggotanya merasa terayomi, ada manfaatnya segala macam. Maka, tadi usulan itu bahwa, kalau ini jadi anggota, misalkan Pak Bambang Haryadi baru jadi anggota, otomatis harus daftar, bayar iuran, iya maksudnya itu, itu, bayar iurannya. Iuran itu penting. Kalau Hiswana manggil Pertamina, makanya siapa yang bayar? Nggak mungkin Pertamina ngasih makan Hiswana, nggak mungkin. Itu, jadi gitu. iya. Jadi itu, kita setuju gitu. Kalau perlu Pertamina, eh, setiap ini, yang dikasih, otomatis lapor. Bukan lapor, sampaikan ke Hiswana.

Ini harus jadi anggota, ini harus jadi anggota, ini jadi anggota.

Jadi, karena kita menganggap Hiswana itu penting dan mempunyai peran yang besar ya, maka tolong sampaikan ke kita, bantu kita untuk ngawasi di sana. Ini yang lapornya itu banyak ke kita Pak, “yang ini begini, yang ini begini, yang ini”. Maksudnya kita mengundang Hiswana itu, cross check yang lapor itu benar nggak? gitu, iya. Oh ya dua-duanyalah. Lapor bagus, kalau Anda suka, kasih tahulah orang lain, kalau Anda tidak suka, kasih tahulah saya. Itu di bengkel mobil itu kayak gitu.

(18)

Ya, jadi saya kira itu Pak Ketua. Jadi, sekali lagi, kalau menurut saya dan ini, nanti kapan-kapan akan kita undang lagi ya Pak ya? Iya, ini karena penting.

KETUA RAPAT :

Karena terlalu malam juga.

F-P.GERINDRA (Dr. Ir. H. KARDAYA WARNIKA, D.E.A.):

Iya maaf ya.

KETUA RAPAT :

Gitu Pak Kardaya?

F-P.GERINDRA (Dr. Ir. H. KARDAYA WARNIKA, D.E.A.):

Iya, terima kasih.

KETUA RAPAT:

Masih ada? mungkin.

F-P.GERINDRA (Dr. Ir. H. KARDAYA WARNIKA, D.E.A.):

Wallahul Muwafiq Ila Aqwamith Thariq,

Wassalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

KETUA RAPAT :

Waalaikumsalam Warahmatullah Wabarakatuh.

Dari PKS? Dipersilakan yang terhormat.

F-PKS (Dipl. Ing. Hj. DIAH NURWITASARI, M.I.Pol.):

Iya.

Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

Pimpinan dan Anggota Komisi VII yang saya hormati, Pimpinan beserta seluruh anggota Hiswana Migas.

Perkenalkan nama saya Diah Nurwitasari, anggota Fraksi PKS daerah pemilihan Kabupaten Bandung, Kabupaten Bandung Barat. Saya baru bergabung sejak November 2021 di Komisi VII.

(19)

Singkat Pimpinan, karena ini lebih kepada menghargai tamu yang kita undang sudah menunggu lama. Satu hal saja, saya melihat bahwa anggota Hiswana Migas ini berbisnis dengan kepentingan rakyat. Memiliki captive market. Sedemo-demonya masyarakat harga gas naik, harga minyak naik, tetap mereka beli, karena mereka tidak punya pilihan lain. Sehingga, ketika berbisnis dengan kepentingan masyarakat ini, moral itu juga harus sangat dijaga. Jangan sampai persaingan ataupun kepentingan-kepentingan bisnis ini kemudian merusak tatanan yang ujung-ujungnya yang jadi korban adalah rakyat.

Termasuk hubungan baik antara Hiswana dengan Pertamina misalkan gitu ya, ataupun dengan semua mata rantai terkait dengan penyaluran BBM maupun LPG tadi. Karena tadi saya katakan, masyarakat itu nggak punya pilihan lain. Sekarang sudah konversi pada gas, lalu ketika gas hilang, mereka juga sudah tidak bisa lagi kembali mau ke minyak tanah, mau kembali ke batu apa, ke kayu bakar, mereka juga sudah nggak bisa lagi gitu ya. Jadi, akhirnya terpaksa tinggal yang jual gorengan biasanya 1-2 apa, pisang goreng 2.000 apa Rp1.000,- sekarang. Kalaupun masih tetap 1.000 dikecilin pisangnya gitu ya, seperti itu.

Jadi, ini yang mungkin sedikit pesan mengingat bahwa, memang bukan charity, saya yakin berusaha juga kita pasti menginginkan ada keuntungan.

Kami juga tidak ingin anggota Hiswana itu rugi ya. Dalam hal ini peran kami adalah bagaimana masyarakat diuntungkan, tetapi pengusaha juga tidak ter- dzolimi. Nah, ini yang saya kira komunikasi dan keterbukaan di antara kita ini harus ada, agar keseimbangan tadi bisa terjaga.

Itu saja, Pimpinan.

Terima kasih.

KETUA RAPAT :

Iya, yang terhormat Ibu Diah dari Fraksi PKS.

Iya dipersilakan, yang terhormat Pak Nasril dari Fraksi Partai Amanat Nasional. Dipersilakan Pak Nasril.

F-PAN (H. NASRIL BAHAR, S.E.):

Terima kasih, Mas.

Pak Ketua dan Pimpinan Anggota Komisi VII yang kami hormati, Saudara-saudara kami yang dari Hiswana Migas.

Karena dalam batin saya belum familiar Pak, gitu. Mas, kalau boleh bertanya saya kan gitu, sudah berapa kali ke Komisi VII? Selama? Selama 2 periode? Satu periode sekali. Jadi, yang salah itu, apakah Komisi VII yang salah atau Hiswana Migas yang salah tidak berkunjung? Waktu itu Ketua Komisi VII Pak Kardaya ya Pak ya?

(20)

F-P.GERINDRA (Dr. Ir. H. KARDAYA WARNIKA, D.E.A.):

Dua-duanya benar kalau menurut saya.

F-PAN (H. NASRIL BAHAR, S.E.):

Karena begini, dalam satu periode 5 tahun ya, Mas? 4 tahun. Kalau kita 4 tahun itu membahas APBN itu empat kali. Kalau ada APBN perubahan, tambah 4 kali lagi. Berarti 8 kali. Aspirasi masyarakat yang menampung itu adalah Anggota DPR. Ketika melakukan reses ke daerah-daerah pemilihannya.

Ini kan miniatur, Mas. Miniatur Republik Indonesia ini. Kita ada 50 lebih, 52, 53, ada dari pemilihan dari Aceh sampai pemilihan Papua.

Saya pikir yang menyerap aspirasi kami, bukan Hiswana Migas. Bukan Hiswana Migas, kami yang menyerap aspirasi. Aspirasi tersebut kami lemparkan ke Ketua Komisi. Makanya tadi bertanya Pak Ketua, “kok Hiswana kok diam-diam saja?” kan begitu. Padahal kita itu sudah, pembahasan itu, saya belum, saya baru tiga bulan di sini Pak, kan gitu, 3 bulan di sini. Padahal, Pimpinan Komisi ini, feeling-nya itu masyarakat menderita kelangkaan, kelangkaan, kelangkaan, kekurangan, kekurangan, kekurangan, kemiskinan, kemiskinan, kemiskinan.

Maka, apakah salah Pimpinan komisi ya bersama teman-teman untuk menaikkan anggaran untuk memenuhi kuota? Kan begitu. Nah, ternyata benar.

Nah, Hiswana sendiri gimana posisinya pada saat itu? Apakah menunggu durian runtuh atau sebaliknya? Telepon dari Ibu Nike masuk. Iya benar, Ibu Dirut Pertamina yang telepon, karena Bapak ada di sini kan. Nah, ini yang menjadi persoalan.

Nah, jadi saya pikir ya, iya saya pikir dua-dua benarlah, tapi dua-dua juga salah, kan begitu. Kita berkewajiban untuk mengundang mereka sebelum pembahasan APBN, Mas. Anda butuh bagaimana kondisi rakyat. Kalau saya, ditanya saya Pak ya, ada nggak tabung yang dibawa, bisa dibawa ke Nias?

Karena harga pasaran di kedai itu kan 18.000 Mas, 18.000 ya, tapi dia sanggup membeli 21.000 dibawa ke Nias, 27.000 satu tabung. Nah itu Hiswana Migasnya di mana? fungsi peran daripada menata. Kan tata kelola diatur oleh Pertamina, Anda dibawa ini kan untuk memantau dan melakukan pembinaan dan sebagainya. Jangan ada yang nakal. Nah, kalau di dapil saya banyak yang nakal. Yang 3 kilo dituangkan ke 12 kilo, di Sumut yang mana Pak? Ada di sini nggak? Nggak ada ya? yang dari Sumatera? Sumatera Utara? Nggak ada.

Kalau Sumatera Utara nakal semua Pak, nakal semua. Yang 3 kilo ya dituangkan ke 12 kilo. Nah, dibawa ke luar. Nah, itu banyak di Sumut. Nah, itu tabungnya dikasih lempengan ini, lempengan besi supaya berat. Hah? agak tertib sedikit untuk penipuan kan begitu. Nah ini, ini Pak.

Jadi, ini yang perlu di, kemitraan yang harus dibangun antara lembaga profesi ini ya. Kami kan ingin tahu, dan kami sesungguhnya lebih tahu Pak, lebih tahu kami. Bapak nggak tahu kan yang dioplos, yang dikasih lempengan?

Iya, tanpa retester, waduh. Iya tapi itulah. Ya kami paham, kan begitu. Nah,

(21)

sesungguh-sungguhnya, karena kita sudah saling paham, iya, tentunya ke depan harus dibangun kemitraan yang seperti yang saya katakan tadi, jangan bau busuk itu dilempar ke DPR, Pak ya.

Kami menyerap aspirasi, aspirasi tersebut kami tuangkan dalam bentuk ke undang-undang, undang-undang itu dimanfaatkan oleh masyarakat, nah Bapak yang menatanya. Nah, itu kerja sama yang akan dibangun.

Saya pikir itu saja menurut saran saya, Pimpinan.

Terima kasih.

KETUA RAPAT : Iya, baiklah.

Ini dari meja Pimpinan ada mau disampaikan? Dipersilakan yang terhormat Pak Bambang.

F-P.GERINDRA (BAMBANG HARYADI, S.E.):

Baik, terima kasih Ketua.

Yang saya hormati Ketua Komisi beserta seluruh Pimpinan yang hadir di virtual dan yang saya hormati seluruh Anggota Komisi VII yang hadir fisik maupun virtual, dan tak lupa juga yang kita, mohon maaf kepada seluruh rombongan Hiswana yang sudah menunggu cukup lama. Tapi, kami ucapkan terima kasih atas kehadirannya.

F-P.GOLKAR (DRS. H.M. GANDUNG PARDIMAN, M.M.):

Pimpinan,

Ini sudah jam 9 lebih, diperpanjang atau?

F-P.GERINDRA (BAMBANG HARYADI, S.E.):

Oh perpanjang dulu, perpanjang dulu.

KETUA RAPAT :

Kita sepakat perpanjang berapa?

F-P.GERINDRA (BAMBANG HARYADI, S.E.):

15 menit.

KETUA RAPAT : 15 menit saja?

(22)

F-P.GERINDRA (BAMBANG HARYADI, S.E.):

Iya.

KETUA RAPAT :

Sampai setengah sepuluh ya? oke.

(RAPAT : SETUJU)

ANGGOTA KOMISI VII DPR RI :

“Ikan sepat, ikan gabus, lebih cepat, lebih bagus”.

F-P.GERINDRA (BAMBANG HARYADI, S.E.):

Baik.

Izinkan saya dari meja Pimpinan sedikit memberikan masukan dan juga kritik. Saya melihat dari paparan Hiswana saja. Ini ada 2 tema yang ada di kertas yang disampaikan ini. Satu profile atau history dari Hiswana itu sendiri.

Kedua, yang dipaparkan semua adalah barang subsidi, baik itu BBM, maupun gas. Nggak ada yang lain kan? Maka tadi disampaikan oleh ketua, yang nonsubsidi tidak ada masalah. Berarti yang harapannya hanya ada di subsidi.

Betul ya Pak? Sekarang kita bahas soal organisasi. Tujuan dasar dibentuknya sebuah organisasi pengusaha migas ini adalah biar memudahkan koordinasi dengan seluruh pengusaha migas yang ada di tanah air. Betul ya Pak ya?

Terus kedua, soal subsidi. Subsidi ini sesuatu yang membuat kami ini sebenarnya dilema. Satu sisi ini sebuah beban APBN, tapi satu sisi ini hak yang diatur di Undang-Undang Dasar. Hak masyarakat mendapatkan kesejahteraan, pemenuhan kebutuhan dasar masyarakat yang kurang mampu. Maka dibentuklah namanya subsidi. Ini biasa terjadi penentuannya di minimal tuh bulan-bulan Mei-lah itu pagu indikatif awal.

Nah, apa yang disampaikan Bu Diah adalah sesuatu yang benar. Nggak bisa dipungkiri Hiswana adalah pelaku yang ikut dalam sebuah perdagangan kepentingan dasar masyarakat. Kita menyetujui subsidi yang membebani APBN. Satu ya memang kita harus turut serta membantu saudara kita yang nilai daya belinya rendah, gitu. Tapi, kita tidak ingin subsidi ini bias. Di dapil saya, ini pasti anggotanya SPBU kan? SPBU dan juga agen LPG itu kan?

Hampir mayoritas kan? itu. Di dapil saya ditangkap kartu SPBU diperjual- belikan solar subsidi, di akhir Desember, di Jember. Saya yang telepon Kapolres suruh tangkap, suruh tutup.

Terus kedua, saya sering mendapat keluhan. Ini apa namanya, ini semua kan anggota Hiswana ya, dapat keluhan terjadi kelangkaan dan saya telepon Pak Dirjen “kita harus rumuskan”, bahkan tadi di kesimpulan kita, tolong

(23)

ditampilkan tadi, kita minta, kita akan bikin rumusan sebuah regulasi pembatasan terhadap kuota LPG di daerah masing-masing.

Komisi VII akan merumuskan regulasi kan, mendesak dirjen merumuskan regulasi pendistribusian LPG bersubsidi. Itu kita akan batasin dalam sebuah permen, maksimallah 4 atau 5 termasuk juga kepada BPH.

Kami menemukan ada 10% dari 7.000 SPBU yang kuota subsidinya besar, kan.

Kita akan evaluasi. Mungkin pasti anggota-anggota anda besok akan mulai diverifikasi. Dari 7.000 ada sekitar 10% yang jumlah kuota subsidi, khususnya solar, itu jumlahnya besar. Kita tidak ingin terjadi kebocoran. Kita akan evaluasi, kalau perlu kita akan minta stop. Ada evaluasi per 3 bulanan. Tadi kita sepakat sama BPH kan.

Jadi, kita ini tujuannya adalah bahwa ini barang, barang subsidi, barang milik rakyat. Rakyat harus mendapatkan haknya. Kita masih suka, di daerah itu masih banyak kelangkaan-kelangkaan kan. Maka itu, poin yang nomor 4 itu adalah satu keharusan. Bahkan kalau perlu kita ntar rumuskan dalam satu permen agar Pertamina, Pertamina itu pemberi izin, tapi mereka juga yang mengawasi. Bahkan saya tadi kaget juga ketika dibilang ada orang Pertamina menjadi dewan penasehat di organisasi profesi atau pengusaha yang mereka sendiri yang kasih izin, mereka yang kasih kuota, kan. Ini tidak fair, hulu dan hilirnya ada di situ. Makanya, kami akan bentuk dengan Menteri ESDM, kita akan batasi dalam sebuah regulasi, termasuk cakupannya. Minimal satu apa namanya, satu agen hanya maksimal 3 kecamatan dan begitu juga SPBU kan.

Yang kuota subsidinya besar kita akan cek, apa kebutuhan masyarakat di situ, berapa jangkauan sekitarnya, masuk akal atau enggak. Karena setiap tahun kita ada selalu penambahan kuota untuk solar ini gitu loh. Ini kita akan berlakukan sama seperti kita pontang-panting melarang ekspor batu bara kan, kita akan berpindah ke gas. Tapi, kalau gas tata kelolanya di hilirnya nggak jelas kan. Uang subsidi 70 triliun kan, hanya untuk kita bagikan kepada masyarakat, tapi masyarakat sendiri tidak menikmati.

Nah, ini kelemahannya adalah di pengawasan. Kenapa? Karena yang ngawasin itu ini. Makanya kita minta BPH membentuk satgas, kami DPR juga, bahkan kami sudah diskusi dengan Bu Erika, satgas itu akan melibatkan DPR dan juga kejaksaan agar SPDP-nya lebih cepat Pak kan. Kalau PPNS dia harus masih lewat Korwas. Kami minta Jaksa Agung ntar ikut dalam kerja sama dengan BPH. Karena di sini ada subsidi, boleh Jaksa Agung, ada APBN kan.

Jadi, saya sampaikan “memang kita bisa dengan kejaksaan?”, “bisa, selama itu ada unsur uang negara, subsidi itu uang negara, jaksa harus kita libatkan”.

Jadi, di satgas itu kita berharap ntar ada sebuah kerja sama bersama DPR juga, kita minta Hiswana bukan lembaga yang, atau organisasi yang hanya targetnya hanya minta kuota, tapi juga bisa nertibkan anggotanya. Kalau nertibin anggota enggak bisa, mendingan kita minta suruh bikin organisasi tandingan. Apa susahnya? Gitu loh. Kita ingin subsidi ini nyampe ke masyarakat.

Itu dari kami.

Terima kasih Ketua.

(24)

KETUA RAPAT : Iya.

Pak Bambang mengingatkan banyak hal, intinya kita semuanya bergerak dalam arus yang, ada moral, etik, ada menjunjung tinggi profesionalitas dan integritas pastinya.

Saya kira cukup ya? Karena memang sudah tadi kita batasi sampai apa, ini perlu ada kesimpulan? Hanya catatan saja ya? Sebelum masuk catatan, mungkin direspon secara umum saja. Tapi, kita sepakat ya? Bahwa dalam waktu dekat nanti kita undang lagi, begitu?

KETUA UMUM DPP HISWANA MIGAS (RACHMAD MUHAMADIYAH):

Siap Pak, siap.

KETUA RAPAT :

Jadi, biasakanlah kita saling tumpah di ruangan ini gitu loh. Jadi, inilah kita, kenapa? Ini bagian dari pertanggungjawaban publik juga Pak. Di sini disorot oleh pers nggak apa-apa, orang kita memang baik-baik kok, gitu. Ini live, di mana-mana live, betul. Jadi begitu. Ada catatan? atau kita respon dulu? kita respon, apa, minta respon dari Hiswana Migas.

Dipersilakan Pak.

KETUA UMUM DPP HISWANA MIGAS (RACHMAD MUHAMADIYAH):

Baik Pak.

Pertama-tama kami mungkin menjawab Hiswana Migas Pak ya. Jadi, Hiswana Migas ini memang anggotanya adalah otomatis, Pak. Jadi, yang jadi mitra di Pertamina itu otomatis menjadi anggota DPP Hiswana Migas. Nah, memang tadi mungkin yang sampaikan Pak Ridwan Hisjam juga banyak benarnya, Pak. Jadi, kita memang harus, anggota-anggota itu harus tertib. Ini yang mungkin kita kadang-kadang masih belum bisa melakukan itu. Ada beberapa yang tanda petik anggotanya memang nggak tahu bandel atau apa.

Kemudian, tadi ada apa, disampaikan ada kenakalan-kenakalan daripada anggota kami. Memang kita akui, memang ada Pak, terus terang kita nggak mungkin nutupin itu nggak ada. Tapi, memang itu juga namanya oknum juga selalu ada saya rasa di mana pun juga ada oknum-oknum itu.

Kemudian, tadi perihal LO ada yang besar, ada yang gede, apa, yang kecil. Itu mungkin terkait dengan sejarahnya daripada konversi LPG 3 kilo.

Mungkin karena dulu kan minyak tanah Pak ya. Jadi, kalau dulunya besar ya biasanya agen LPG-nya juga besar. Karena agen LPG dulunya itu konversi dari agen minyak tanah, di mana apa, tentunya pada saat awal itu memang sudah mempunyai pangkalan minyak tanah yang cukup besar sehingga pada saat

(25)

dijadikan LPG PSO, ya sudah punya jaringannya yang cukup besar. Adapun nanti kalau memang mau dibatasi atau apa, ya mungkin secara bertahap bisa Pak. Saya rasa nggak apa-apa, untuk pemerataan saya rasa ndak masalah.

Dan tadi yang di Jember ada kelangkaan itu saya juga, yang ditangkap Pak ya? oh iya. Kalau ditangkap memang, iya, kalau memang, kayak gitu memang kadang-kadang. Iya, ada oknum yang nakal, selalu ada, Pak terus terang. Kita juga apa, sama sekali nggak memberikan toleransi Pak kalau memang ada anggota kami yang nakal, kita akan laporkan juga ke Pertamina.

Iya, siap.. (suara tidak jelas).., siap.

Nggak, biasanya maksud, iya. Maksud kami, kami menyampaikan ke Pertamina untuk memberikan sanksi, Pak. Jadi, selain kalau secara hukumnya kan dengan aparat penegak hukum, bisa dengan Pertamina dia beri sanksi mungkin apa, ndak boleh operasi selama berapa lama, atau bahkan sampai tertinggi bisa pencabutan perda tersebut untuk di apa, disalurkan di SPBU tersebut.

Mungkin itu. Nah, mungkin pada kesempatan ini kami terus terang ada beberapa.

KETUA RAPAT :

Iya, nanti jawaban secara keseluruhan adalah bersifat tertulis, jawaban tertulis.

KETUA UMUM DPP HISWANA MIGAS (RACHMAD MUHAMADIYAH):

Oh gitu, baik Pak, siap.

KETUA RAPAT :

Iya jadi, intinya begini, semuanya sudah saling, karena juga, ini kan juga baru pertama untuk periode 2009 apa, maaf, untuk DPRRI periode ini. Nah, nanti kita sepakat, kita akan berkali-kali, sebagaimana juga disampaikan Pak Sahril tadi, apa, justru, dan juga Pak Kardaya, justru, apalagi kalau mau menyusun APBN, mestinya kan begitu. Ada semacam kebutuhan riilnya bagaimana sehingga match. Tapi memang, mau subsidi dinaikkan berapapun ketelen terus. Itu justru kita curiga juga gituloh.

Jadi, apa benar ini? Karena gini, ada survei dari LPM UI, ini sangat kredibel. Tingkat ketak tepat sasarannya tinggi sekali Pak untuk subsidi. Itu kurang lebih 39% bayangkan saja. Bappenas 37% tidak tepat sasaran. Nah, tadi, jadi itulah kadang-kadang. Seperti tadi, kok ada spare yang selalu gitu kalau dinaikkan 7,5 juta, yang terserap 7 juta 480, kan begitu. Modusnya itu kayaknya diatur gitu loh. Ini juga membuat curiga. Lihat saja nih, yang terserap itu kan hanya apa, miss-nya 200.000 atau apa 0,02 kurang lebih itu. Jadi, itu Bapak/Ibu sekalian.

(26)

Intinya, dan menjadi garis bawahi, barang subsidi itu sebenarnya bukan barang dagangan kan? Apa, pangkalan LPG itu adalah apa, ikut menyalurkan.

Ada apa, biaya transportasi. Prinsipnya di situ sebetulnya. Jadi, tidak merupakan barang dagangan. Ini juga menjadi pemahaman bersama, tapi bahwa juga di situ ada margin, ada harga eceran tertinggi ditentukan oleh DPRD dan pemerintah daerah sudah barang tentu dengan harga tembusan dari Pertamina di mana, beberapa, itu karena ada proses transportasi dan sebagainya. Sebagai barang ini bukan barang dagangan, karena ini, ini barang pemerintah untuk sampai kepada rakyat. Kurang lebih itu. Jadi, begitu Bapak/Ibu sekalian,

Terima kasih sekali lagi dari Hiswana Migas telah menyampaikan beberapa hal, dan kami juga mohon maaf atas sampai berlarutnya malam ini, tapi Bapak/Ibu semuanya menyaksikan, kita juga bukan menunda-nunda, lantas kita lelet, kita tidur dulu apa gitu, tidak juga. Mohon menjadi pemahaman bersama.

Baiklah. Mari, karena ini harus kita juga ada catatan-catatan sebagaimana kita simak di depan. Jadi, draf catatan nanti untuk kita sepakati bersama.

Rapat Dengar Pendapat Umum, Komisi VII DPRRI dengan Ketua Umum Himpunan Wiraswasta Nasional Minyak dan Gas Bumi (Hiswana Migas), Selasa, 18 Januari 2002 :

1. Komisi VII DPRRI mengapresiasi peran strategi Hiswana Migas dalam penyediaan kebutuhan BBM dan LPG bagi masyarakat.

..(suara tidak jelas).. dalam, bukan penyediaan iya, penyaluran. Iya pendistribusian. Kalimatnya itu. Penyaluran atau pendistribusian?

F-P.GOLKAR (Ir. H.M. RIDWAN HISJAM):

Yang lebih pas penyaluran. Kalau SPBU kan tidak mendistribusikan, tapi menyalurkan, menjual.

KETUA RAPAT :

Penyaluran BBM gitu ya? Setuju Bapak/Ibu sekalian?

(RAPAT : SETUJU)

2. Komisi VII DPRRI meminta Ketua Umum Hiswana Migas untuk menyampaikan kendala-kendala yang dihadapi dalam penyaluran BBM dan LPG.

Begitu? Setuju?

(RAPAT : SETUJU)

(27)

3. Komisi VII DPRRI meminta Ketua Umum Hiswana Migas untuk.

Nah, ntar dulu, ini ada satu tambahan untuk menertibkan tadi itu, anggota-anggotanya yang apa, agar melakukan evaluasi berkala dan apa istilahnya, menertibkan anggota-anggotanya, iya.

ANGGOTA KOMISI VII DPRRI :

Komisi VII meminta Hiswana Migas untuk proaktif dalam evaluasi yang dilakukan Dirjen Migas kepada anggotanya, Dirjen Migas ..(suara tidak jelas..) KETUA RAPAT :

Ya intinya begitulah.

ANGGOTA KOMISI VII DPRRI :

Dan minggu depan sudah mulai jalan.

KETUA RAPAT :

Komisi VII DPRRI meminta Ketua Umum Hiswana Migas untuk proaktif melakukan.

ANGGOTA KOMISI VII DPRRI : Menghimbau anggotanya, KETUA RAPAT :

Kok menghimbau, bukan.

ANGGOTA KOMISI VII DPRRI :

Oh iya, apa ya, menginstruksi ini.

KETUA RAPAT :

Dalam melakukan tadi, evaluasi atau apa namanya?

ANGGOTA KOMISI VII DPRRI :

Evaluasi yang dilakukan oleh, pendataan dan evaluasi yang dilakukan BPH dan juga ..(suara tidak terdengar)..

ANGGOTA KOMISI VII DPRRI :

Pak Ketua, nambah masalah organisasi.

(28)

Jadi, ketua, Komisi VII DPRRI meminta Ketua Umum Hiswana Migas untuk melakukan konsolidasi organisasi para anggotanya, iya toh, dalam mendukung titik-titik apa semuanya karena ini kan organisasi.

F-P.GOLKAR (DRS. H.M. GANDUNG PARDIMAN, M.M.):

Itu kok anu-nya ketua umum? kan ketua umum, lembaganya. Kasihan ketua umum nanti kalau.

ANGGOTA KOMISI VII DPRRI :

Iya, nanti ketua umum bagi sama ketua-ketua kan. Kan ada pembagian pekerjaan. Tanggung jawabnya tetap ketua umum, Pak Gandung.

ANGGOTA KOMISI VII DPRRI :

Saya kira itu lebih clear, Pak. Kalau yang ini, ya kalau dibaca sih mungkin ngerti ya, tetapi perlu bacanya lama itu.

ANGGOTA KOMISI VII DPRRI :

Jadi, Hiswana Migas harus kita beri satu kekuatan untuk menertibkan anggotanya. Jadi, berdasarkan rapat RDPU Komisi VII, sehingga Pak Yeni beserta jajaran nanti, waktu memanggil anggotanya ini loh. Ini tugas DPR yang diberikan kepada kami. Jadi, bukan sewenang-wenangnya. Harus dibunyikan di sini. Iya, banyak pensiunan jenderal-jenderal di situ.

F-P.GOLKAR (DRS. H.M. GANDUNG PARDIMAN, M.M.):

Kita bintang sembilan, kenapa takut?

ANGGOTA KOMISI VII DPRRI :

Iya, anggotanya proaktif menertibkan anggotanya yang menyimpang.

Jadi, yang ditertibkan itu yang menyimpang gitu, jangan semua anggota. Yang enggak menyimpang, ya nggak usah ditertibkanlah.

ANGGOTA KOMISI VII DPRRI :

Ada ini, harus ada konsolidasi. Komisi VII DPRRI meminta Ketua Umum Hiswana Migas untuk melakukan konsolidasi para anggotanya. Kalau konsolidasi itu macam-macam. Nah, nanti terus apa, yang menyimpang itu memberikan sanksi kepada anggotanya secara tegas. Tapi harus dikonsolidasi dulu. Ini kan saya yakin anggota-anggota ini kan belum tentu terdaftar semua ini. Orang yang dapat apa, yang dapat perizinan dari Pertamina. Nah, ini harus, kerjaannya Hiswana Migas, harus mengkonsolidasi ke anggota.

ANGGOTA KOMISI VII DPRRI :

(29)

Saya kira sudah komplit ini, sudah melakukan konsolidasi dan proaktif menertibkan.

ANGGOTA KOMISI VII DPRRI :

Nah.

ANGGOTA KOMISI VII DPRRI : Komplit.

F-P.GOLKAR (DRS. H.M. GANDUNG PARDIMAN, M.M.):

Pimpinan.

Mungkin, apa, dari Ketua Umum Hiswana Migas diberikan tadi apa, kesimpulan rapat tadi. Sudah? Sudah? oh iya. Biar disosialisasikan ke para anggotanya.

ANGGOTA KOMISI VII DPRRI :

Di-copy-kan, di-copy-kan. Yang tadi Minerba tadi yang sama Dirjen Migas, sama Pertamina.

ANGGOTA KOMISI VII DPRRI :

Dirjen Migas, BPH sama Pertamina, sudah.

KETUA RAPAT :

Iya betul. Nanti akan, kenapa? Biar semua itu melakukan apa, mitigasi kalau istilah bahasa hari ini. Dengan keputusan apa, direktorat yang akan dilakukan dan sebagainya.

Baiklah.

Bapak/Ibu sekalian.

Kita sungguh bersyukur kehadirat Allah Subhanahu Wata'ala,Tuhan Yang Mahakuasa bahwa rapat hari ini, Rapat Dengar Pendapat Umum Komisi VII dengan Hiswana Migas berlancar dengan sangat-sangat baik, sangat- sangat terbuka, dan kita memang rapat terbuka disaksikan oleh, dan ini live di youtube dan sebagainya.

Kita segenap Pimpinan dan Anggota Komisi VII menyampaikan banyak terima kasih kepada Hiswana Migas, ketua umum dengan segenap jajarannya.

Dan kami juga atas nama pimpinan dan anggota mohon maaf atas segala kekurangannya.

(30)

Untuk itu, sebelum saya tutup, kami persilakan ada semacam closing statement, bisa dari ketua umum atau orang yang dituakan misalnya, boleh saja.

Dipersilakan Pak.

KETUA UMUM DPP HISWANA MIGAS (RACHMAD MUHAMADIYAH):

Baik, Pak.

Terima kasih banyak Pak Pimpinan untuk undangannya pada malam hari ini dan juga apa, seperti tadi disampaikan, insya Allah kami siap untuk pertemuan-pertemuan selanjutnya, untuk kepentingan seluruh masyarakat Indonesia. Itu saja mungkin, Pak.

Terima kasih banyak.

Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

KETUA RAPAT :

Wa’alaikumsalam Warahmatullahi Wabarakatuh.

Baiklah, dengan mengucapkan syukur alhamdulillah, kita panjatkan puji syukur kehadirat Allah Subhanahu Wata'ala, rapat saya nyatakan ditutup.

Billahi Taufik Wal Hidayah.

Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

(RAPAT DITUTUP PUKUL .... WIB)

a.n. Ketua Rapat SEKRETARIS RAPAT,

TTD

Dra. Nanik Herry Murti NIP.196505061994032002

Referensi

Dokumen terkait

Dirut MIND ID beserta Direksi MIND ID dan anak-anak perusahaan yang telah hadir pada kesempatan hari ini lengkap, terima kasih atas kehadirannya, kami apresiasi itu. Pertama kali

Ketua, ini pelecehan. Kita harus sepakat saja, kita mau lanjutkan atau tidak? Kalau tidak, kita harus ambil tindakan politik, dari awal Bapak menjawab semua

Kemudian yang kedua Pak, hati-hati dengan produk luar negeri Pak karena digitalisasi itu Pak memangsa banyak sekali produk tadi seperti Pak Daeng sampaikan di

Ini mungkin saya ingin menyampaikan karena kondisi rapatnya tidak kuorum dari mitra kita maka saya mengusulkan rapat untuk ditunda minggu depan dan kami minta kepada Ibu Dirut

Terima kasih. Pimpinan, Anggota Komisi I DPR RI yang terhormat, Para Komisioner BRTI. Sebagai Ketua BRTI ya Pak? Bukan sebagai Dirjen, Dirjen kan eks officio artinya hadir sebagai

Baik Bapak, melanjutkan tadi pembicaraan dengan ibu Mercy. Kalau boleh kami sampaikan memang betul bapak bahwa ada 34 project mangkrak yang secara detil banyak sekali

Kalau saya melihat, bahwa salah satu penentu efektivitas konvensi ini adalah pada seberapa besar kepentingan pengorganisasian hal-hal yang terkait dengan counter

Bapak Ibu sekalian, Bapak kepala dengan mengucapkan permohonan maaf sebesar-besarnya karena Fraksi-fraksi ingin laporan yang lebih komplit untuk dibicarakan lebih lanjut, oleh