30 BAB IV
PENYAJIAN DAN ANALISIS DATA A. Biografi Ibnu al-Qoyyim al-Jauziyah
1. Nama, Kelahiran dan Wafat
Nama lengkapnya adalah Abu ‘Abdullah Syamsuddin Muhammad bin Abu Bakr bin Ayyub bin Sa’ad bin Hariz bin Makki, Zainuddin Az-Zur’i Ad- Dimaqi Al-Hanbali dan dikenal dengan nama Ibnu AL-Qoyyim al-Jauziyah.55 Nama Kuniyahnya adalah Abu 'Abdillah, sedangkan nama laqab atau gelarnya adalah Syamsuddin ayahnya bernama Syaikh Abu Bakar bin Ayyub Az-Zar’i.56
Ibnu al-Qoyyim al-Jauziyah dilahirkan pada tahun 691 H di desa Izra’
salah satu desa yang berada di Hauran Damaskus.57 Muridnya yang bernama Ash-Shafadi menuturkan bahwa kelahirannya secara tepat yaitu pada hari ketujuh di bulan Shafar tahun 691 H. hal yang senada juga dikatakan oleh Ibnu Thagri Birdi, Dawari dan juga As-Suyuthi.58 Beliau dilahirkan dari keluarga yang cinta akan ilmu pengetahuan dan mengabdikan hidupnya untuk ilmu-ilmu Islam. Ayahnya Abu Bakar bin Ayyub Az-Zar’I adalah pengelola (Qoyyim) lembaga prndidikan Al-Jauziyah di Damaskus. Lembaga pendidikan tersebut lahir setelah runtuhnya salah satu lembaga pendidikan yang menganut mazhab Hanbali yang terbesar yang didirikan oleh Ibnu Al- Jauzi (510 H / 1226 M – 597 H / 1200 M).59
Ibnu al-Qoyyim al-Jauziyah meninggal dunia pada malam Kamis tanggal 13 Rajab saat azan berkumandang shalat Isya pada tahun 751 H. dia meninggal dunia pada usia yang ke 60 tahun. Jenazahnya disholatkan pada
55 Ibnu Qoyyim Al-Jauziyah, Kunci Kebahagian Ter. Abdul Hayyie Al-Katani dkk, (Jakarta: Akbar Media Eka Sarana, 2004), Cet. 1, hlm.3.
56 Syaihk Ahmad Farid, 60 Biografi Ulama Salaf, (Jakarta: Pustaka Al-Kautsar 2006), cet.
1, hlm, 822.
57 Ibnu Qoyyim Al-Jauziyah, Thibbul Qulub Klinik Penyakit Hati Ter. Fib Bawaan Arif Topan, (Jakarta Timur: Pustaka Al-Kautsar 2018), cet. 1, hlm. 25.
58 Syaihk Ahmad Farid, 60 Biografi Ulama Salaf, (Jakarta: Pustaka Al-Kautsar 2006), cet.
1, hlm, 822.
59 Abdul Aziz Dahlan, Ensiklopedia Hukum Islam, (Jakarta: PT. Ichtiar Baru van Hoeve, 1997), hlm. 617.
hari berikutnya setelah sholat dzuhur di masjid Jarah dan banyak penziarah yang mengiringi upacara penguburannya. Ibnu Katsir berkata, “Orang-orang yang mengiringi jenazahnya membludak. Diikuti oleh para qothi, para pejabat, orang-orang shalih, baik yang khusus maupun yang umum. Dan orang-orang berebutan mengangkat peti jenazahnya”. Ia dimakamkan di Damaskus di perkuburan al-Bab ash-Shaghir di samping makam kedua orangtuanya.60
2. Perjalanan Mencari Ilmu, Guru, dan Murid
Ibnu al-Qoyyim al-Jauziyah tumbuh dan berkembang di keluarga yang dilingkupi dengan ilmu, keluarga yang religius dan memiliki banyak keutamaan. Ayahnya, Abu Bakar bin Ayyub Az-Zur’I beliau adalah pengasuh di Madarasah al-Jauziyah. Disinilah Imam Ibnu al-Qoyyim al-Jauziyah belajar dalam asuahan dan bimbingan ayahanda beliau dan dalam arahannya yang ilmiyah. Ibnu al-Qoyyim memiliki keinginan yang sungguh-sungguh dalam menuntut ilmu. Tekadnya yang luar biasa dalam mengkaji dan menelaah sejak masih muda belia. Ibnu al-Qoyyim al-Jauziyah memulai perjalanan ilmiyahnya pada usia tujuh tahun. Allah mengkarunianinya bakat dan daya akal yang kuat, pikirannya cemerlang, daya hapal yang mengagumkan, dan energi yang sangat luar biasa.
Oleh karena itu, tidak mengherankan jika dia banyak ikut berspatisipasi aktif dalam berbagai lingkaran ilmiah para gurunya (syaikh) dengan semangat yang mebara dan jiwa yang energis untuk menyembuhkan rasa haus dan memuaskan obsesinya terhadap ilmu pengetahuan. Oleh karena itu, dia menimba ilmu dari setiap ulama spesialis hingga ia menjadi ahli dalam ilmu- ilmu Islam dan mempunyai andil besar dalam berbagai disiplin ilmu.
Disiplin ilmu yang didalaminya dan dikuasainya hampir meliputi semua ilmu syariat dan ilmu alat. Ibnu Rajab, muridnya, mengatakan, “Dia pakar dalam tafsir dan tidak tertandingi, ahli dalam bidang ushuluddin dan ilmu ini mencapai puncak di tangannya, ahli dalam bidang fiqih dan ushul fiqih, ahli
60 Syaihk Ahmad Farid, 60 Biografi Ulama Salaf, hlm. 834.
dalam bidang bahasa Arab dan memiliki kontribusi besar didalamnya, ahli dalam bidang ilmu kalam, dan juga ahli dalam biadang tasawuf.
Ibnu al-Qoyyim al-Jauziyah telah berguru kepada sejumlah ulama terkenal. Mereka inilah yang memiliki pengaruh dalam pembentukan pemikiran dan kematangan ilmiahnya. Diantara gurunya yaitu Ayahnya, Abu Bakar bin Ayyub (Qoyyim Al-Jauziyah) di mana Ibnu Qoyyim mempelajari ilmu faraid. Kemudian Imam Al-Harran, Ismail bin Muhammad Al-Farra’, Syarafuddin bin Taimiyyah, Badruddin bin Jama’ah, Ibnu Muflih, Imam Mazi, Fathimah binti Jauhar dan Syaikh Al-Islam Ibnu Taimiyyah Ahmad bin Al-Halim bin Abdussalam An-Numairi. Diantara banyaknya guru Ibnu al- Qoyyim al-Jauziyah tersebut yang paling berjasa dan yang paling ia muliakan dan yang paling dekat dengannya adalah Syaikh Al-Islam Ibnu Taimiyyah Ahmad bin Al-Halim bin Abdussalam An-Numairi atau yang dikenal dengan nama Ibnu Taimiyyah. Ibnu Qoyyim menyertainya selama tujuh belas tahun, sejak dia menginjakkan kaki di Damasqy hingga ia wafat.61
Ibnu al-Qoyyim al-Jauziyah memiliki banyak murid yang terkenal dintara murid-murid yang terkenal itu adalah. Al-Burhan bin Qoyyim Al- Jauziyah, anaknya bernama Burhanuddin, Ibnu Katsir, Ibnu Rajab, Syarafuddin bin Al-Qoyyim, anaknya bernama Abdullah bin Muhammad, As-Subki, Ali bin Abdulkafi bin Ali bin Tamam As-Subki, Ad-Dzahabi, Ibnu Abdulhadi, An-Nablusi, Al-Ghazi, dan Al-Firuz Abadi Al-Muqri.62
3. Keutamaan dan Akhlaknya
Ibnu al-Qoyyim al-Jauziyah adalah seorang ulama yang menjalankan agama dengan sebenarnya, dan benar-benar mencintai Allah dan Rasul-Nya, serta tidak pernah takut dalam membela agama Allah. Ia adalah sosok yang berjiwa tenang, kuat kepribadiannya, yang diceritakan oleh Ibnu Katsir, teman belarnya itu, “Ia adalah sosok yang bagus bacaannya, dan indah perangainya, penyayang wataknya, tidak pernah hasad terhadap orang lain,
61 Ibnu Qoyyim Al-Jauziyah, Kunci Kebahagian Terjemahan. Abdul Hayyie Al-Katani dkk, Cet. 1, hlm. 3-4.
62 Syaihk Ahmad Farid, 60 Biografi Ulama Salaf, Cet.1, hlm 830.
tidak menganiaya orang, tidak menggunjing orang lain, tidak dengki kepada siapapun. Saya adalah orang yang paling dekat dengannya, dan paling mencintainya. Saya tidak mendapati ulama pada zaman kita ini yang lebih banyak ibadahnya melebihi dia. Jika dia shalat sendirian maka ia memperpanjang shalatnya itu lama sekali, demikian juga memperpanjang rukuk dan sujudnya. Dan banyak dari sahabatnya yang mengkritik perbuatannya itu pada beberapa waktu, tapi ia tetap tidak meninggalkan kebiasaannya itu dan tidak merasa terganggu dengan kritikan tersebut.”
Ibnu al-Qoyyim al-Jauziyah adalah sosok ulama yang banyak beribadah dan bertahajud, selalu berdzikir dan amat mencintai serta faqir kepada Allah.
Ia juga adalah ulama yang amat memberikan perhatian terhadap penyakit hati, sambil memberikan terapi tentang cara mengobatinya dan menghilangkannya dari hati,engan cara mujahadah, latihan rohani, banyak berdzikir kepada Allah, bermuroqobah terhadap Allah, bertawakal kepada- Nya, selalu kembali kepada-Nya, menumbuhkan cinta kepada-Nya, serta mencintai para kekasih dan wali-Nya. Sehingga hati manusia menjadi bersih pada hari kiamat.
Orang yang membaca kitab-kitab karya Ibnu al-Qoyyim al-Jauziyah, akan mendapati kecenderungan ini dalam karya-karyanya itu. Dan ia telah menusnya dalam beberapa kitabnya, seperti kitab Madarijus Salikin baina Manazil Iyyaka Na’budu wa Iyyaka Nasta’iin, dan didalamnya kita akan mendapati banayk ilmu hakikat dan syariat. Kecenderungan yang ditempuh oleh Ibnu al-Qoyyim al-Jauziyah ini membuat sebagian ulama dan peneliti memasukkanya sebagai seorang ulama tawasuf.
4. Karya-karya Ibnu Qoyyim al-Jauziyah
Ibnu al-Qoyyim al-Jauziyah merupakan seorang ‘Ulama yang sangat produktif dalam menuliskan ilmunya, ia telah banyak menghasilkan karya- karya yang meliputi berbagai bidang keilmuan. Diatara karya beliau ada dibidang tauhid, fikih, ushul fikih, tasawuf, ilmu kalam, sirah (biografi), dan
sejarah.63 Di dalam bidang ilmu tauhid Ibnu al-Qoyyim al-Jauziyah mengarang kitab yang berjudul Syifa al-Alil fi Masail al-Qadha wa al-Qadar dan ia juga mengarang kitab ar-Ruh. Sedangkan dalam bidang fikih dan ushul fiqih Ibnul Qoyyim mengarang kitab yang berjudul I’lam al-Muwaqqi’in, Bayan ad-dalil ala Istiqna al-Musabaqat ‘an at-Tahlil. Dalam ilmu tasawuf Ibnu al-Qoyyim al-Jauziyah mengarang kitab yang berjudul Madarijus Salikin baina Manazil Iyyaka Na’budu wa Iyyaka Nasta’iin, Iddat as-Sabirin, dan al-Fawaid. Dan di dalam ilmu sejarah Ibnul Qoyyim mengarang kitab yang berjudul Akhbar an-Nisa, dan Zaad al-Ma’ad.
Ibnul Qoyyim al-Jauziyah merupakan seorang yang berwawasan luas dan mencintai semua ilmu yang sangat terkenal pada saat hidupnya. Diantara karangan dan karya-karya beliau yang telah dicetak adalah sebagai berikut:
1. Ijtima’ Al-Juyusy Al-Islamiyah ‘ala Ghazwil Mu’aththalah wa Al- Jahmiyah. Dicetak di India pada tahun 1314 Hijriyah, kemudia dicetak di Mesir pada tahu 1351 Hijriyah. (Bidang Aqidah atau Tauhid)
2. Ahkam Ahli Adz-Dzimmah. Dicetak dengan ditahqiq oleh Shubhi As- Shalih dalam dua jilid
3. Asma’ Mu’allafat Ibni Taimiyah. Dicetak dengan ditahqiq oleh Shalahuddin Al-Munjid.
4. I’lam Al-Muwaqqi’in ‘an Rabbil ‘Alamin. Dicetak dengan empat jilid oleh Mathba’ah Al-Muniriyah Al-Mathba’ah As-Sa’adah.
5. Ighatsah Al-Lahfan min Mashayid Asy-Syaithan. Dicetak beberapa kali dalam dua jilid.
6. Ighatsah Al-ahfan fi Hukmi Thalaq Al-Ghadhban. Dicetak dengan ditahqiq oleh Muhammad Jamaluddin Al-Qosimi.
7. Bada’i Al-Fawaid. Dicetak di Mesir oleh Mathba’ah Al-Muniriyah dengan tanpa tahun dalam empat juz dalam dua jilid.64
8. At-Tibyan fi Aqsam Al-Quran. dicetak beberapa kali.
63 Rizal Darwis, “Pemikiran Ibnul Qoyyim al-Jauziyah Terhadap paradigma Perubahan Hukum”, Jurnal Hukum dan Ekonomi Syariah, Vol. 05, No. 1, Maret 2017, hlm. 73.
64 Syaihk Ahmad Farid, 60 Biografi Ulama Salaf, Cet.1. hlm. 832.
9. Tuhfah Al-Maudud fi Ahkam Al-Maulud. Dicetak beberapa kali dan dua diantaranya telah ditahqiq yang salah satunya adalah cetakan Abdul Hakim Syafaruddin Al-Hindi pada tahun 380 Hijriyah dan kedua adalah dengan ditahqiq Abdul Qadir Al-Amauth pada tahun 391 Hijriyah.
10. Tahdzib Mukhatashar Sunan Abi Dawud. Dicetak dengan Mukhtashar Al-Mundziri dan syarahnya Ma’alim As-Sunan karya Al-Khithabi dalam delapan jilid lux.
11. Jala’ Al-Ifham fi Shalah wa As-Salam ‘Ala Khairil Anam.
12. Hadi Al-Arwah ila Bilad Al-Afrah. Dicetak di Mesir beberapa kali.
13. Hukmu Tarik As-Shalah. Dicetak di Mesir beberapa kali.
14. Ad-Da’ wa Ad-Dawa’. Dicetak dengan nama Al-Jawab Al-Kafi liman Sa’ala ‘ani Ad-Dawa’ Asy-Syafi.
15. Ar-Risalah At-Tabukiyah. Dicetak oleh Mathba’ah As-Salafiyah di Mesir pada tahun 1347 Hijriyah.65
16. Raudhatul Muhibbin wa Nuzhah Al-Musytaqin. Pertama kali dicetak oleh Mathba’ah As-Sa’adah di Mesir pada tahu 1357 Hijriyah.
17. Ar-Ruh. Dicetak beberapa kali.
18. Ar-Ruh wa an-Nafs. Ini bukan kitab Ar-Ruh, Ibnul Qoyyim telah menyebutkannya dalam kitab ar-Ruh Mitah as-Sa’adah dan Jaa’ul al- Afham.
19. At-Taubah wa Al-Inabah.
20. Zad al-Musafirin ila Manazil as-Su’ada ‘fi Hadyi Khatam al-Anbiya’.
21. Ash-Shirath al-Mustaqim fi Ahkam Ahl al-Jahim.66
22. Zad Al-Ma’ad fi Hadyi Khairil Ibad. Dicetak beberpaka kali dalam empat jilid dan akhir pencetakannya dalam jilid lima.
23. Sifa’ Al-‘Alil fi Masa’il Al-Qadha’ wa Al-Qadar wa Al-Hikmah wa At- Ta’lil. Dicetak dua kali.
24. Ath-Thib An-Nabawi. Dicetak dua kali. Kitab ini merupakan nukian dari kitab Zad Al-Ma’ad.
65 Ibid., hlm. 833.
66 Ibnu Qoyyim Al-Jauziyah, Kunci Kebahagian Terjemahan. Abdul Hayyie Al-Katani dkk, Cet. 1, hlm. 9.
25. Thariq Al-Hijratain wa bab As-Sa’adatain. Dicetak beberapa kali.
26. At-Thuruq Al-Hakimah fi As-Siyasah As-Syar’iyyah. Dicetak beberapa kali
27. ‘Iddah Ash-Sabirin wa Dakhirah Asy-Syakirin. Dicetak beberapa kali.
28. Al-Furusiyah. Kitab ini adalah ringkasan dari kitab Al-Furusiyah Asy- Syar’iyyah.
29. Al-Fawaid. Kitab ini lain dengan kitab Bada’i Al-Fawaid. Pertama kali dicetak di Mathba’ah Al-Muniriyah.
30. Al-Kafiyah Asy-Syafiyah fi Al-Intishar li Al-Firqah An-Najiyah. Dicetak beberapa kali. Kitab ini lebih dikenal dengan nama An-Nuniyah.
31. Al-Kalam Ath-Thayyib wa Al-‘Amal Ash-Shalih. Dicetak beberapa kali.
Di Mesir dan India dengan nama Al-Wabil Ash-Shayyib min Al-Kalam Ath-Thayyib.
32. Madarij as-Salikin baina Manazil Iyyaka Na’budu wa Iyyaka Nasta’in.
dicetak dua kali dalam tiga jilid dengan nama ini. Kitab ini merupakan syarah kitab Manazil As-Sairin karya Syaikhul Islam Al-Anshari.
33. Miftah Dar As-Sa’adah wa Mansyur Wilayah Al-Ilmi wa Al-Iradah.
Dicetak beberapa kali. Dalam kitab ini dibahas tentang ilmu dan keutamaannya,dibahas tentang hikmah Allah dalam membuat makhluk, hikmah adanya syariat, dibahas tentang keNabian dan kebutuhan akan adanya Nabi.
34. Al-manar Al-Munif fi Ash-Shahih wa Adh-Dha’if. Dicetak beberapa kali.
Dan sekali dicetak dengan nama Al-Manar.
35. Hidayah Al-Hiyari fi Ajwibah Al-Yahud wa An-Nashara. Dicetak beberapa kali.67
Selain karyanya diatas, ada juga artikel atau tulisan tersendiri karya Ibnu al-Qoyyim al-Jauziyah yang diambil dari buku dan karangan- karangannya. Misalnya kitab Bulugh as-Sulfi Aqdhiyatil-Rasul Shallallahu
‘Alaihi wa Salam, yang disarikan dari kitab A’lam al-Muwaqqi’in, Tafsir al- Fatihah dari kitab Madarijus Salikin, Tafsir al-Mu’awwidzatain dari kitab
67 Syaihk Ahmad Farid, 60 Biografi Ulama Salaf, Cet.1. hlm. 833-834.
Badaiul-Fawaid, ar-Risalah al-Qobriyahfi ar-Radd ‘ala munkiri Adzabil- QobrMinaz-Zanadiqah wal- Qadariyah dari kitab ar-Ruh.68
5. Sanjungan Para Ulama Terhadapnya
Ibnu Rajab Al-Hambali mengatakan “Ibnu al-Qoyyim al-Jauziyah adalah seorang yang pandai dalam masalah mazhab, seorang brilian, sering memberi fatwa, seringu bersama dengan Syaikh Taqiyuddin bin Taimiyah, pandai dalam ilmu-ilmu keislaman, menguasai tafsir yang tiada bandingnya, pandai dalam bidang Ushuluddin, hadits, makana fikihnya serta rahasia- rahasia pembilangan hukumnya. Dia juga mahir dalam bidang fikih dan ushul fikihnya, pandai dalam bidang bahasa Arab, ilmu kalam, dan nahwu. Ia juga pandai dalam bidang biografi, pandai dalam mencerna perkataan para ahli sufi, isyarat dan rahasia-rahasianya.
Ibnu Katsir mengatakan , “Dia belajar hadits, konsen menuntut ilmu dan pandai dalam berbagai bidang ilmu, terutama dalam bidang tafsir, hadits dan Ushul. Dan, ketika Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah kembali dari mesir pada tahun 712 Hijriyah , dialah orang yang selalu menyertainya sampai Syaikh wafat. Dari Ibnu Taimiyah, Ibnu al-Qoyyim al-Jauziyah menyerap ilmu. Menggantikan sang guru mengajar sehingga ia mendapat tambahan ilmu yang luar biasa banyaknya, sehingga murid-muridnya pun semakin banyak yang keluar-masuk dari rumhnya siang maupun malam.69
Al-Qadhi Burhanuddin Az-Zar’i mengatakan, “Di kolong langit ini tidak ada orang yang lebih pandai melebihi darinya. Dia terkenal dengan sebutan Al-Jauziyah sudah sangat lama, dan kitab-kitab tulisannya pun tidak terhitung lagi jumlahnya.
Al-Hafidz bin Nashiruddin Asy-Syafi’I mengatakan, “Syaikh Al-Imam Al-Allamah Syamsuddin adalah salah seorang muhaqqi, diantara para pengarang yang brilian dan seorang mufassir yang langka. Dia mempunyai
68 Ibnu Qoyyim Al-Jauziyah, Kunci Kebahagian Ter. Abdul Hayyie Al-Katani dkk, Cet.
1, hlm. 12.
69 Ibid., hlm, 823.
banyak karangan buku yang sangat indah dan mempunyai banyak karangan buku, baik dalam bidang syariat maupun hakikat.70
B. Konsep Tobat Menurut Ibnu al-Qoyyim al-Jauziyah 1. Tobat Menurut Ibnu al-Qoyyim al-Jauziyah
Menurut Ibnu al-Qoyyim al-Jauziyah tobat merupakan langkah kembalinya seorang hamba kepada Allah setelah melakukan perbuatan dosa dan maksiat dengan cara meninggalkan jalan orang-orang yang mendapatkan murka dan sesat pada saat itu juga. Ibnu al-Qoyyim al-Jauziyah juga mengatakan bahwa Tobat merupakan pintu awal, pertengahan sekaligus terakhir yang harus dilalui oleh seorang salik dalam perjalanan mendekatkan diri kepada Allah Azza wa Jalla.71 Bagi orang yang sedang mengadakan perjalanan kepada Allah ia harus melalui maqam tobat terlebih dahulu sebelum naik kemaqam yang lebih tinggi.
Karena tobat adalah kembalinya seorang hamba kepada Allah, dan tindakannya meninggalkan jalan yang dibenci dan jalan orang-orang yang sesat, maka hal itu tidak akan terwujud kecuali atas petunjuk dari Allah menuju jalan yang lurus. Petunjuk Allah itu tidak akan terwujud kecuali dengan pertolongan-Nya dan tauhid-Nya. Oleh karena itu hidayah yang sempurna menuju jalan yang lurus tidak terwujud jika disertai dengan kejahilan tentang dosa-dosa sendiri, atau masih tetap melakukan dosa tersebut.72
Dalam kehidupan ini menurut Ibnu al-Qoyyim al-Jauziyah manusia dibagi oleh Allah Swt. ke dalam dua kelompok, pertama, kelompok orang yang bertobat dan kelompok orang yang dzalim (orang yang tidak mau tobat).
Kelompok orang yang bertobat adalah mereka kelompok orang-orang yang beruntung, sedangkan kelompok orang-orang yang tidak bertobat adalah
70 Ibid., hlm. 824.
71 Ibnu Qoyyim al-Jauziyah, Madarijus-Salikin (Pendakian Menuju Allah), Cet. 1, alih bahasa Kathur Suhardi, (Jakarta: Pustaka Al-Kautsar, 1998).hlm. 38.
72 Ibnul Qoyyim al-Jauziyah, Tobat Kembali Kepada Allah Cet 1, (Depok: Gema Insani, 2006). hlm. 35.
kelompok orang-orang yang merugi.73 Hal ini sebagaimana berdasarkan firman Allah Swt. Allah berfirman:
(٣١) ٍَن ْوُحِلْفُت ٍُْكَّلَعَل ٍَن ْوُنِمْؤُمْلا ٍَهُّيَا اًعْيِ َجَ ٍِ ّٰ للا ٍَلِا آْْوُبْوُتَو
Terjemahan: “ Dan bertobatlah kamu semua kepada Allah, Wahai orang- orang yang beriman, agar kamu beruntung” (Q.S An-Nur: 31)
Ayat ini masuk dalam kategori surah madaniyah. Dalam ayat tersebut, Allah Swt. menyeru dan memerintahkan kepada seluruh orang-orang yang beriman dan hamba-hamba-Nya tanpa mengecualikan seorangpun diantara mereka agar betobat kepada Allah Azza wa Jalla. Meskipun orang itu telah demikian taat menjalankan syari’ah, dan telah menanjak dalam barisan kaum muttaqin namun ia tetap melakuka tobat. Diantara kaum mu’minin ada yang bertaubat dari dosa-dosa besar, jika ia telah melakukan dosa besar itu. Karena mereka memang bukan orang yang ma’shum (terjaga dari dosa). Kemudian diantara mereka ada yang bertobat dari dosa-dosa kecil, dan sangat sedikit sekali orang yang selamat dari dosa-dosa macam ini.74
Orang yang melakukan tobat adalah orang-orang pilihan Allah Swt.
yang termasuk kedalam golongan orang-orang yang beriman serta termasuk kedalam golongan orang-orang yang akan beruntung. Sedangankan orang- orang yang tidak melakukan tobat maka ia termasuk orang-orang yang dzalim dan merugi. Hal ini bisa kita lihat dari pendapat Ibnu al-Qoyyim al-Jauziyah ketika ia mengutip ayat 11 dari surah al-Hujarat sebagai dalil bahwa orang yang tidak melakukan tobat termasuk kedalam golongan orang yang dzalim.
Sebagaimana Allah Swt. berfirman:
(١١) ٍَن ْوُمِل ّٰ ظلا ٍُُه ٍَك ىّٰۤلوُاَف ٍْبُتَي ٍْمَّل ٍْنَمَو ه
Terjemahan: “Siapa yang tidak bertobat maka mereka itulah orang-orang yang dzolim” (Q.S Al-Hujarat: 11).
73 Ibnul Qoyyim al-Jauziyah, Tobat dan Inabah, (Jakarta: QISTHI Press, 2012), hlm. 24.
74 Yusuf Al-Qardawi, At-Taubah Ila Allah, Cet. 1. Penerjemah Abdul Hayyie al-Kattani, hlm. 16.
Ibnu al-Qoyyim al-Jauziyah mengatakan orang meninggalkan apa yang diperintahkan Allah dan mengerjakan apa yang dilarang Allah Swt. adalah orang yang dzalim. Maka untuk menghilangkan perbuatan dzalim ini hanya bisa dihilangkan dengan cara melakukan tobat kepada Allah Azza wa Jalla.
Karena manusia hanya ada dua macam golongan yakni orang yang berobat dan orang yang dzalim. Tidak ada yang lain. Orang-orang yang bertobat menurut Ibnu al-Qoyyim al-Jauziyah adalah orang-orang yang disifati Allah.
Allah Swt. berfirman:
ٍَن ْوُهاَّنلاَو ٍِف ْو ُرْع ٍَن ْو ُرِمّٰ ْلْا ٍَمْل ِب ٍَن ْوُدِج ّٰ سلا ٍَن ْوُعِك ّٰ رلا ٍَن ْوُ ىِٕۤا َّسلا ٍَنْوُدِمّٰحْلا ٍَنْوُدِبّٰعْلا ٍَن ْوُب ه ه ىۤاَّتلَا (١١٢) ٍَ ْيِنِمْؤُمْلا ٍِ ِ شَبَو ٍِ ّٰ للا ۗ ٍِدْوُدُحِل ٍَن ْو ُظِفّٰحْلاَو ٍِرَكْنُمْلا ٍِنَع
Terjemahan: “Mereka itu adalah orang-orang yang bertobat, beribadah, memuni (Allah), mengembara (demi ilmu dan agama), rukuk, sujud, menyuruh berbuat makruf dan mencegah dari yag mungkar, dan yang memelihara hukum-hukum Allah. Dan bergembiralah orang-orang yang beriman”. (Q.S. at-Taubah ayat 112).
Menurut Ibnu al-Qoyyim al-Jauziyah dalam ayat ini Allah Azza wa Jalla mensifati orang-orang yang bertobat dengan orang yang memelihara hukum Allah. Karena memelihara hukum Allah adalah bagian dari tobat. Seseorang disebut orang yang bertobat, karena dia kembali kepada perintah Allah dari larangan-Nya, kembali kepada ketaatan dari kedurhakaan kepada-Nya.75 Selain itu ia disebut orang bertobat karena ia juga senantiasa memperbaiki dirinya dari segala macam kesalahan dan dosa dengan cara memperbanyak beribadah kepada Allah Swt. dan menjauhi diri dari perbuatan maksiat dan dosa.
75 Ibnul Qoyyim al-Jauizyah, Madarijus Salikin (Pendakian Menuju Allah) Cet. 1, Alih Bahasa Kathur Suhardi, (Jakarta: Pustaka Al-Kautsar, 1998), hlm. 59.
2. Dalil-dalil Nash Tentang Tobat a. Dalil Al-Quran
Adapun dalil dari Ibnu al-Qoyyim al-Jauziyah mengenai pembahasan tobat yaitu merujuk kepada kitab suci Al-Quran Firman Allah Azza wa Jalla sebagai berikut:
1) Quran Surah An-Nur ayat 31
اَ ْنِْم ٍَرَه َظ اَم ٍَّلِْا ٍَّنُ َتَِنْيِز ٍَنْيِدْبُي ٍَلَْو ٍَّنُ َجَ ْو ُرُف ٍَن ْظَفْ َيَُو ٍَّنِهِرا َصْبَا ٍْنِم ٍَن ْض ُضْغَي ٍِتّٰنِمْؤُمْلِ ل ٍْلُقَو
ٍْوَا ٍَّنِ ِتَِلْوُعُب ٍِءَۤبّٰا ٍْوَا ٍَّنِ
ه ىِٕۤ َبّٰا ٍْوَا ٍَّنِ ِتَِلْوُعُبِل ٍَّلِْا ٍَّنُ َتَِنْيِز ٍَنْيِدْبُي ٍ َّنِ ِبِْوُيُج َلَْو ٍ ّٰلَع ٍَّنِهِرُمُ ِبِ ٍَنْبِ ْضَْيْلَو
ٍْتَكَلَم ٍْوَااَم ٍَّنِ
ه ىِٕۤا َسِن ٍَّنِ ِتِّٰوَخَاْوَا ٍْْٓ ِنَب ٍِِنْاَوْخِاْوَا ٍَّن ٍْْٓ ِنَب ٍْوَا ٍَّنِ ِنْاَوْخِا ٍَّنِ ِتَِلْوُعُبْوَا ٍْوَاِءۤاَنْبَا ٍَّنِ
ه ىِٕۤاَنْبَا
ٍِت ّٰر ْوَع ٍ ّٰلَع ا ْو ُرَه ْظَي ٍْمَل ٍَنْيِ َّلَّا ٍِلْف ِ طلا ٍِوَا ٍِلاَجِ رلا ٍَنِم ٍِةَبْرِ ْلْا ٍ ِلوُا ٍِْيَغ ٍَ ْيِعِبّٰ تلا ٍِوَا ٍَّنُ ُنْاَمْيَا
ٍَن ْوُنِمْؤُمْلا ٍَهُّيَا اًعْيِ َجَ ٍِ ّٰ للا ٍَلِا ٍ َّنِ ِتَِنْيِزآْْوُبْوُتَو ٍْنِم ٍَ ْيِفْ ُيُ اَم ٍََلْعُيِل ٍَّنِهِلُجْرَ ِب ٍَنْبِ ْضَْي ٍَلَْو ٍ ۗ ٍِءۤا َسِ نلا (٣١) ٍَن ْوُحِلْفُت ٍُْكَّلَعَل
Terjemahan: “Katakanlah kepada para perempuan yang beriman hendaklah mereka menjaga pandangannya, memelihara kemaluannya, dan janganlah menampakkan perhiasannya (bagian tubuhnya), kecuali yang (biasa) terlihat. Hendaklah mereka menutupkan kain kerudung ke dadanya. Hendaklah pula mereka tidak menampakkan perhiasannya (auratnya), kecuali kepada suami mereka, ayah mereka, ayah suami mereka, putra-putra mereka, putra-putra suami mereka, saudara-saudara laki-laki mereka, putra-putra saudara laki-laki mereka, putra-putra saudara perempuan mereka, para perempuan (sesama muslim), hamba sahaya yang mereka miliki, para pelayan laki-laki (tua) yang tidak mempunyai keinginan (terhadap perempuan), atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat perempuan. Hendaklah pula mereka tidak mengentakkan kakinya agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. Bertobatlah kamu semua kepada Allah, wahai orang-orang yang beriman, agar kamu beruntung”.76
2) Quran Surah al-Hujarat ayat 11
ٍ ءۤا َسِ ن ٍْنِ م ٍ ءۤا َسِن ٍَلَْو ٍْمُ ْنِْ م اً ْيَخ اْوُنْوُكَّي ٍْنَا ٍ ّْٰٓسَع ٍ مْوَق ٍْنِ م ٍ مْوَق ٍْرَخ ْسَي ٍَلْ اْوُنَمّٰا ٍَنْيِ َّلَّا اَ ُّيَُّّْٰٓيٰ
ٍُقْو ُسُفْلا ٍُ ْس ِلْا ٍ َسْئِب ٍ ِباَقْلَ ْلْ ِب ا ْوُزَباَنَت ٍَلَْو ٍُْك َسُفْنَا آْْوُزِمْلَت ٍَلَْو ٍَّنُكَّيً ْيَخا َّنُ ْنِْ م ٍْنَا ٍ ّْٰٓسَع
76 Ibnu Qoyyim al-Jauziyah, Tobat Kembali Kepada Allah Cet 1. hlm. 33.
(١١) ٍَن ْوُمِل ّٰ ظلا ٍُُه ٍَك ه ىّٰۤلوُاَف ٍْبُتَي ٍْمَّل ٍْنَمَو ٍ ِناَمْيِ ْلْا ٍَدْعَب
Terjemahan: “Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu mengolok-olok kaum yang lain, (karena) boleh jadi mereka (yang diolok- olokkaan) lebih baik dari mereka (yang mengolok-olok), dan jangan pula perempuan-perempuan (mengolok-olokkan) perempuan lain, (karena) boleh jadi perempuan (yang diolok-olokkan) lebih baik dari perempuan (yang mengolok-olok). Janganlah kamu saling mencela satu sama lain, dan jangnlah saling memanggil dengan gelar-gelar yang buruk. Seburuk- buruk panggilan adalah (panggilan) yang buruk (fasik) setelah beriman.
Dan barang siapa tidak bertobat, maka itulah orang-orang yang dzalim”.77
3) Quran Surah at-Tahrim ayat 8
ٍُْكَلِخ ْدُيَو ٍُْكِتّٰاِ ي َ س ٍُْكْنَع ٍَرِ فَكُّي ٍْنَا ٍُْكُّبَر ٍ ّٰسَع ٍ اًحْو ُصَّن ًٍةَبْوَت ٍِ ّٰ للا ٍَلِا آْْوُبْوُت اْوُنَمّٰا ٍَنْيِ َّلَّا اَ ُّيَُّّْٰٓيٰ
( ٨ ) ٍ ُرّٰ ْنَْ ْلْا اَ ِتِْ َتَ ٍْنِم ٍْيِرْ َتَ ٍ تّٰ نَج
Terjemahan: “Wahai orang-orang yang beriman, Bertobatlah kepada Allah dengan tobat semurni-murninya, mudah-mudahan Tuhan kamu akan menghapus kesalahan-kesalahanmu dan memasukkan kamu kedalam surga-surga yang mengalir dibawahnya sungai-sungai”. 78 4) Quran Surah Ali-Imran ayat 133
(١٣٣) ٍَ ْيِقَّتُمْلِل ٍْتَّدِعُا ٍ ُ ضْرَ ْلْاَو ٍُتّٰوّٰم َّسلا اَه ُضْرَع ٍ ةَّنَجَو ٍُْكِ بَّر ٍْنِ م ٍ ةَرِفْغَم ٍّٰلِا آْْوُعِرا َسَو
Terjemahan: “Bersegeralah menuju ampunan dari Tuhanmu dan surga (yang) luasnya (seperti) langit dan bumi yang disediakan bagi orang-orang yang bertakwa”.
5) Quran Surah At-Taubah ayat 117
ٍَد َكَ اَم ٍِدْعَب ٍ ْنِم ٍِةَ ْسُْعْلا ٍِةَعا َس ٍْ ِف ٍُهْوُعَبَّتا ٍَنْيِ َّلَّا ٍِرا َصْنَ ْلْاَو ٍَنْيِرِجّٰهُمْلاَو ٍِ ِبَّنلا ٍَلَع ٍُ ّٰ للا ٍَب َّتَ ٍْدَقَل (١١٧) ٍ ۗ ٍ ْيِحَّر ٍ فْوُءَر ٍْمِ ِبِ ٍ هَّنِا ٍ ْمِ ْيَْلَع ٍَب َتَ ٍَُّثُ ٍْمُ ْنِْ م ٍ قْيِرَف ٍُبْوُلُق ٍُغْيِزَي
Terjemahan: “Sungguh, Allah benar-benar telah menerima tobat Nabi serta orang-orang Muhajirin dan orang-orang Ansar yang mengikutinya pada masa-masa sulit setelah hati sekelompok dari mereka hampir
77 Ibid., hlm, 34.
78 Ibnul Qoyyim al-Jauziyah, Tobat dan Inabah, hlm. 7.
berpaling (namun) kemudian Allah menerima tobat mereka. Sesungguhnya Dia Maha Pengasih lagi Maha Penyayang kepada mereka.”
6) Quran Surah Al-Furqon ayat 70
ا ًر ْوُفَغ ٍُ ّٰ للا ٍَن َكََو ٍْمِ ِتِّٰاِ ي َ س تّٰن َ سَح ٍُ ّٰ للا ٍُلِ دَبُي ٍَك ه ىّٰۤلوُاَف اًحِلا َص ًٍلَ َع ٍَلِ َعَو ٍَنَمّٰاَو ٍَب َتَ ٍْنَم ٍَّلِْا (٧٠) اًمْيِحَّر
Terjemahan: “Kecuali, orang yang bertobat, beriman, dan beramal saleh. Maka, Allah mengganti kejahatan mereka (dengan) kebaikan. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”.79
b. Dail Dari Hadits 1) Hadits Pertama
ٍ ةَّرَم
ٍٍ
)لسمٍهاور( ٍَةَئاِم ٍِهْيَل ا ٍِمْوَيْلا ٍ ِف ٍُبوُتَٔأ ٍ ِ ن ه اَف ٍَِّللا ٍَل ه
ه ا اوُبوُت ٍ ُساَّنلا اَ ُّئَُّأ ٍَيٰ
Terjemahan: “Wahai sekalian manusia. Taubatlah (beristigfar) kepada Allah karena aku selalu bertaubat kepada-Nya dalam sehari sebanyak 100 kali.” (HR. Muslim)
2) Hadits Kedua
ٍ)يراخبلاٍهاور(ٍ ِلِ ْرِفْغاٍَّمُهَّللاٍ َكِدْمَ ِبَِوٍاَنَّبَرٍَّمُهَّللاٍ َكَنٍاَحْب ُ س
Terjemahan: “Mahasuci Engkau, wahai Rabb kami, dan segala puja-puji bagi-Mu, ya Allah ampunilah aku.” (HR. Al-Bukhari).80
3) Hadits Ketiga
ًٍةَّرَم
ٍٍ
)يراخبلاٍهاور( ٍَيِعْب َ س ٍْنِم ٍََثَْكَٔأ ٍِمْوَيْلا ٍ ِف ٍِهْيَل ا ٍُبوُتَٔأَو ٍََّللا ٍُرِفْغَت ْ سَٔلأ ٍ ِ ن ه ا ٍَِّللاَو ه
Terjemahan : “Demi Allah. Sungguh aku selalu beristighfar dan bertaubat kepada Allah dalam sehari lebih dari 70 kali.” (HR. Al- Bukhari).81
79 Ibnul Qoyyim al-Jauizyah, Madarijus Salikin (Pendakian Menuju Allah) Cet. 1, Alih Bahasa Kathur Suhardi, hlm. 57.
80 Ibnul Qoyyim al-Jauziyah, Tobat Kembali Kepada Allah Cet 1. hlm. 35.
81 Ibnul Qoyyim al-Jauziyah, Tobat dan Inabah. hlm. 24.
4) Hadits Keempat
ٍُيِحَّرلا
ٍٍ
)دوادٍوب أٍهاور( ٍُباَّوَّتلا ٍَتْنَٔأ ٍَكَّن ا ٍََّلَع ٍْبُتَو ٍ ِل ٍْرِفْغا ٍِ بَر ه
Terjemahan: “Ya Allah ampunilah aku dan terimalah taubatku, sesungguhnya Engkau Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang]
sebanyak 100 kali”. (HR. Abu Daud).82 5) Hadits Kelima
)دحْاٍهاور(ٍ َباَّوَّتلاٍ َ َّتََّفُمْلاٍ ُدْبَعْلاٍ ُّبِ ُيٍُ َلاَعَتٍَاللهٍ َّن ا ه
Terjemahan: “Sesungguhnya Allah mencintai seorang hamba yang berbuat dosa dan bertobat.” (HR. Ahmad).83
3. Hukum Melakukan Tobat
Tobat merupakan bagian dari ibadah kepada Allah yang pada prinsipnya harus segera dilaksanakan. Menunda-nunda tobat adalah suatu perbuatan yang sangat berbahaya, karena mengingat tidak ada yang mampu memberikan jaminan atau garansi sampai berapa tahun kita hidup di dunia ini. Ketika nyawa seseorang terlepas dari tubuhnya, sementara ia belum sempat bertobat kepada Allah Swt. atas dosa-dosa yang dilakukannya, baik dosa yang terkait dengan Allah Swt. maupun dosa antara sesama manusia, maka hal itu merupakan tanda bahwa ia akan celaka di akhirat nanti.84
Menurut Ibnu al-Qoyyim al-Jauziyah hukum melakukan tobat adalah suatu kewajiban bagi setiap hamba Allah Swt. karena tobat adalah sebagai bagian dari ibadah yang pada prinsipnya harus segera dilakukan. Apabila seseorang menunda untuk melakukan tobat maka ia akan berdosa kerena penundaannya itu. Maka, ketika seorang hamba bertobat dari suatu dosa maka tersisalah suatu dosa yang belum ia tobati, yaitu tobat dari dosa menunda tobat.85 Oleh karena itu melakukan tobat dengan segera merupakan kewajiban bagi seseorang agar ia kembali kepada ketaatan dan jalan yang lurus.
82 Ibid., hlm. 24.
83 Ibnu Qoyyim al-Jauziyah, Tobat Kembali Kepada Allah Cet 1. hlm. 176.
84 Abdul Mustaqim, Akhlak Tasawuf Lelaku Suci Menuju Revolusi Hati, Cet.1, hlm. 59.
85 Ibnul Qoyyim al-Jauziyah, Tobat dan Inabah, hlm. 176.
Berbicara mengenai dosa Ibnu al-Qoyyim al-Jauziyah mengklafikasikan dosa menjadi dua yakni, dosa besar dan kecil. Hal tersebut berlandaskan pada al-Quran,.86 Sebagaimana Allah berfirman:
(٣١) اًمْيِرَك ًٍلَخ ْدُّم ٍُْكْلِخ ْدُنَو ٍُْكِتّٰاِ ي َ س ٍُْكْنَع ٍْرِ فَكُن ٍُهْنَع ٍَن ْوَ ْنُْت اَم ٍَر ه ىۤاَبَك اْوُبِنَتْ َتَ ٍْنِا
Terjemahan: “Jika Kamu menjauhi dosa-dosa besar di antara dosa-dosa yang dilarang kamu menegrjakannya, niscaya Kami hapus kesalahan- kesalahanmu (dosa-dosamu yang kecil). Dan Kami akan memasukkan kamu ketempat yang mulia (surga)” (Q.S An-Nisa: 31)
ٍُْكَا َشْنَا ٍْذِا ٍُْكِب ٍَُلْعَا ٍَوُه ٍ ِةَرِفْغَمْلا ٍُع ِساَو ٍَكَّبَر ٍَّنِا ٍ َمَمَّللا ٍَّلِْا ٍ َشِحاَوَفْلاَو ٍِْثُِ ْلْا ٍَ
ه ىّٰٕۤبَك ٍَن ْوُبِنَتْ َيَ ٍَنْيِ َّلََّا (٣٢) ىّٰقَّتا ٍِنَمِب ٍَُلْعَا ٍَوُه ٍ ُْك َسُفْنَا آْْوُّكَزُت ٍَلَف ٍ ُْكِتّٰهَّمُا ٍِن ْو ُطُب ٍْ ِف ٍ ةَّنِجَا ٍُْتْنَا ٍْذِاَو ٍ ِضْرَ ْلْا ٍَنِ م
Terjemahan: “(Yaitu) orang-orang yang menjauhi dosa-dosa besar dan perbuatan keji yang selain dari kesalahan-kesalahan kecil. Sungguh, Tuhanmu Maha Luas ampunan-Nya. Dia mengetahui tentang kamu, sejak Dia menjadikan kamu dari perut ibumu. Maka janganlah kamu menganggap dirimu suci. Dia mengetahui tentang orang yang bertaqwa” (Q.S An-Najm:
32).87
Terkait dengan masalah dosa Ibnu al-Qoyyim al-Jauziyah mengatakan bahwa ada 12 (dua belas) diantara dosa-dosa yang harus dimintakan ampunan padanya (tobat). Dua belas macam dosa ini merupakan poros dari berbagai macam perkara yang diharamkan Allah Swt.88 diantaranya yaitu :
1) Kufur (kekafiran)
Kekufuran terbagi menjadi dua macam yakni kufur besar dan kufur kecil. Kufur besar menyebabkan seseorang keluar dari agama Islam dan ia kekal didalam neraka jika ia mati tapi belum sempat bertobat kepada Allah Swt. kufur besar ada lima macam yakni, kufur pendustaan, kufur ketakaburan dan pembangkangan disertai pembenaran, kufur berpaling, kufur keraguan, dan kufur kemunafikan.
86 Ibnu Qoyyim al-Jauziyah, Tobat Kembali Kepada Allah Cet 1. hlm. 223.
87Ibnul Qoyyim al-Jauziyah, Tobat dan Inabah, hlm. 245.
88 Ibnul Qoyyim al-Jauizyah, Madarijus Salikin (Pendakian Menuju Allah) Cet. 1, Alih Bahasa Kathur Suhardi, hlm. 65.
Sedangkan kufur kecil tidak menyebabkan seseorang keluar dari agama Islam, conthnya seperti membenci orang tua.89 Sebagaimana sabda Rasulullah Saw. sebagai berikut:
ٍَبَاٍ ْنَعٍاوُبَغْرَتَلٍَْلاَقٍََّل َسَوٍِهْيَلَعٍ ُ َّللاٍ َّلَّ َصٍ ِ ِبَّنلاٍ ِنَعٍَةَرْيَرُهٍ ْ ِبَِاٍ ْنَع
ٍ َبِغَرٍ ْنَمَفٍْ ُكِئ ٍٍ
)هيلعٍقفتم(ٍ رْفُكٍ َوُهَفٍِهْيِبَاٍ ْنَع
Terjemahan: “ Dari Abu Hurairah dari Nabi Muhammad Saw.
Beliau bersabda: “Janganlah kalian membenci bapak-bapak kalian, karena barangsipa yang membenci bapaknya, maka dia kufur” (HR.
Muttafaqun’Alaih).
2) Syirik
Syirik terbagi menjadi dua yakni syirik besardan kecil. Menurut Ibnu al-Qoyyim al-Jauziyah syirik besar hanya akan diampuni Allah Swt. jika seorang hamna bertobat dari perbuatan syirik yang dilakukan.
Syirik besar ini adalah menjadikan sesembahan selain Allah Swt. yang disembah bersamaan penyembahan kepada Allah. Ia mencintai sekutu itu sebagaimana mencintai Allah.90 Untuk membersikan syirik ini ia harus mentauhidkan Allah Swt. semata.91 Ia harus Ridha kepada Allah sebagai Rabb yang harus diibadahi dan membenci ibadah kepada selain-Nya. Ridha kepada Allah sebagai Rabb artinya tidak mengambil penolong selain Allah, yang diserahi kekuasaan untuk menangani dirinya dan menjadi tumpuan kebutuhannya.92 Orang yang melakukan syirik ia harus meninggalkan perbuatan syirik itu seketika itu juga dan ia harus beristighfar memohon ampun kepada Allah Swt. dan berjanji untuk tidak melakukannya kembali dan kemudian diiringi dengan banyak melakukan amal shaleh agar kejahatan daan dosa yang mereka
89 Ibnu Qoyyim al-Jauziyah, Tobat Kembali Kepada Allah Cet 1. hlm. 248-249.
90 Ibnul Qoyyim al-Jauziyah, Tobat dan Inabah, hlm. 283.
91 Ibid., hlm. 286.
92 Ibnul Qoyyim al-Jauizyah, Madarijus Salikin (Pendakian Menuju Allah) Cet. 1, hlm.
213.
lalukan diampuni dan ditutup oleh Allah Swt. sebagaimana firman Allah dalam Quran Surah al-Furqoon ayat 70 sebagai berikut:
ا ًر ْوُفَغ ٍُ ّٰ للا ٍَن َكََو ٍْمِ ِتِّٰاِ ي َ س تّٰن َ سَح ٍُ ّٰ للا ٍُلِ دَبُي ٍَك ه ىّٰۤلوُاَف اًحِلا َص ًٍلَ َع ٍَلِ َعَو ٍَنَمّٰاَو ٍَب َتَ ٍْنَم ٍَّلِْا (٧٠) اًمْيِحَّر
Terjemahan: “Kecuali, orang yang bertobat, beriman, dan beramal saleh. Maka, Allah mengganti kejahatan mereka (dengan) kebaikan.
Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”.93 3) Nifaq
Sifat munafik merupakan penyakit yang paling kronis, penyakit ini terbagi menjadi dua nifaq besar dan kecil. Sikap munafik dicerminan oleh perbuatan lahir yang menampakkan keimanan kepada Allah, malaikat, kitab, rasul dan hari akhirat, tetapi hatinya menentang atau mendustakan apa yang ditampakkan oleh lahirnya.94
4) Fusuk (kefasikan) dan Kedurhakaan
Fusuk disebutkan dalam dua macam dalam al-Quran yakni fusuk yang disebut sendirian dan fusuk yang dikaitkan dengan kedurhakaan.
Fusuk yang sendirian merupakan kefasikan kekafiran yang dapat mengeluarkan pelakunya dari Islam. Contoh dari perilaku ini terdapat pada surah Al-Baqarah ayat 26-27. Sedangkan fusuk (kefasikan) yang beriringan dengan kedurhakaan disebutkan dalam surah al-Hujarat ayat 6-7. Fusuk kedurhakaan ini tidak mengeluarkan mereka dari agama Islam.95
5) Itsm dan U‘dwan (Dosa dan Pelanggaran)
Adapun itsm (dosa) dan ‘udwan (pelanggaran), keduanya merupakan suatu yang beriringan. Sebagaimana Firman Allah dalam surah al-maidah ayat 2 sebagai berikut:
93 Ibnu Qoyyim al-Jauziyah, Tobat Kembali Kepada Allah Cet 1. hlm. 204.
94 Ibnul Qoyyim al-Jauziyah, Tobat dan Inabah, hlm. 296.
95 Ibnu Qoyyim al-Jauziyah, Tobat Kembali Kepada Allah Cet 1. hlm. 281.
ٍَ ّٰ للاٍ َّنِا ٍ َ ّٰ للاٍاوُقَّتاَوٍ ٍ ِناَو ْدُعْلاَوٍِ ْثُِ ْلْاٍ َلَعٍاْوُنَواَعَتٍ َلَْوٍ ىّٰوْقَّتلاَوٍِ ِبْلاٍ َلَعٍاْوُنَواَعَتَو
ٍُدْيِد َيٍ
ٍ
ٍ ِباَقِعْلا ٢
Terjemahan: “Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan permusuhan (pelanggaran). Bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah sangat berat siksaan-Nya”.
Setiap dosa adalah pelanggran, sebab dosa adalah melakukan perbuatan yang dilarang Allah atau meninggalkan perbuatan yang diperintahkan oleh-Nya. Jika dilihat secara lebih mendalam lagi kedua perbuatan tersebut memang disebutkan secara beriringan tapi keduanya adalah dua hal yang berbeda jika dilihat dari sifatnya. Itsm adalah perbuatan yang diharamkan jenisnya, seperti dusta, zina, minum arak, dan lain-lainnya. Sedangkan ‘udwan adalah hal yang diharamkan kadar dan kelebihannya. Jadi, ‘udwan adalah melanggar batas yang diperbolehkan ke kadar yang diharamkan.96
6) Kekejian 7) Kemungkaran 8) Aniaya
9) Mengeluarkan perkataan terhadap Allah tanpa dilandasi ilmu.
10) Dan mengikuti selain jalan orang-orang Mu’min.
Dua belas macam dosa ini merupakan poros dari berbagai macam perkara yang diharamkan Allah Azza wa Jalla. Maka seorang hamba tidak akan berhak untuk mendapatkan sebutan sebagai orang yang bertobat kecuali setelah dia membebaskan dirinya dari perkara-perkara yang harus dimintakan ampunan kepada Allah Swt dari dosa-dosa yang dua belas terebut. 97
Adapun cara atau langkah-langkah yang dapat dilakukan oleh seseorang apabila ia terjerumus kedalam salah satu diantara dua belas dosa diatas maka
96 Ibid., hlm. 293
97 Ibnul Qoyyim al-Jauizyah, Madarijus Salikin (Pendakian Menuju Allah) Cet. 1, hlm.
65.
menurut Ibnu al-Qoyyim al-Jauziyah ia harus segera mungkin menghentikan perbuatan dosa yang ia lakukan dan kemudian ia harus meminta ampun kepada Allah dengan beristigfar dan menyesali perbuatannya tersebut.98 Karena dengan beristighfar meminta ampun kepada Allah yang disertai penyesalan maka istighfar nya itu akan mencegah dan melindungi mereka dari azab Allah Swt. karena Allah tidak akan mengazab orang-orang yang meminta ampun kepada-Nya. Sebgaimana firman Allah Swt. dalam Quran Surah Al-Anfal ayat 33 sebagai berikut:
ٍْمِ ْيِْفٍ َتْنَاَوٍْمُ َبٍِِ ذَعُيِلٍ ُ َّللاٍ َن َكٍَاَمَو
ٍِ ذَعُمٍ ُ َّللاٍ َن َكٍَاَمَو ٍ
ٍْمُ َبِ ٍ (ٍ َن ُرِفْغَت ْ سَيٍْ َهَو ٍ ۳۳
ٍٍ)
Terjemahan : “Dan Allah tidak akan menghukum mereka, selama engkau (Muhammad) berada diantara mereka. Dan tidaklah (pula) Allah akan menghukum mereka, sedang mereka (masih) memohon ampun”.
Orang-orang yang. tidak akan diazab Allah Swt. pada ayat ini adalah orang-orang yang meminta ampun (beristighfar) kepada-Nya. Dan tidak meneruskan perbuatan dosa yang dilakukan. Sedangkan orang yang meminta ampun tetapi tetap meneruskan perbuatan dosa mereka maka istighfar yang mereka ucapkan bukanlah suatu istigfar yang sesungguhnya.99
4. Syarat-syarat Kesempurnaan Tobat
Tobat yang diterima oleh Allah Swt. adalah taubatan nasuha atau yang dikenal juga dengan tobat sebenar-benar tobat. Untuk memperoleh tobat nashuha yang diharapkan maka tentu seorang yang akan melakukan tobat harus memenuhi syarat-syarat tersebut agar tobat yang dilakukannya menjadi tobat nashuha. Ibnu al-Qoyyim al-Jauziyah lebih lanjut mengatakan bahwa syarat-syarat dalam melakukan tobat ada tiga yang harus dipenuhi.
Diantaranya: pertama, menyesali perbuatan dosa yang dilakukan, kedua, berhenti secara total mengerjakan perbuatan dosa tersebut, dan ketiga, al- I’tidzaar serta berjanji tidak akan mengulangi perbuatan yang sama dimasa yang akan datang.100
98 Ibnul Qoyyim al-Jauziyah, Tobat dan Inabah, hlm, 234.
99 Ibid., hlm. 234.
100 Ibnu Qoyyim al-Jauziyah, Tobat dan Inabah. hlm. 29.
Pertama, Rasa menyesal didalam hati atas dosa yang telah dilakukan merupakan sebuah bentuk realisasi dari suatu pertobatan. Sebab, jika seseorang tidak menyesal atas perbuatan buruk yang pernah dialakukan, maka hal ini menjadi tanda kerelaannya atas perbuatan dosanya itu, dan rasa senangnya untuk terus melakukan dosa itu.101 Oleh karenanya rasa sesal yang muncul didalam hati adalah tanda ia sedang melakukan pertobatan.
Rasulullah Saw. bersabda:
)دحْاٍهاور( ٍ ةَبْوَت ٍُمَدَّنلا ٍ
Terjemahan: “Penyesalan adalah tobat.” (HR. Ahmad).
Setelah penyesalan, maka harus dibarengi dengan berhenti secara total dari perbuatan dosa yang dilakukan, karena berhenti secara total dari perbuatan dosa merupakan konsekuensi logis dari suatu pertobatan. Adalah suatu yang mustahil jika seseorang yang sedang melakukan pertobatan tetap melakukan perbuatan dosa yang sama. haruslah dibuktikan dengan meningalkan perbuatan dosa.102
Ketiga,yakni tentang I’tidzaar (meminta ampunan dengan beralasan) maksudnya ialah meminta ampunan kepada Allah dengan menunjukkan kelemahan diri, kehinaan diri, dan kuatnya musuh dalam menggoda, serta perkasanya kekuasaan nafsu.103 Dengan menujukkan kelemahan tersebut maka tersadarlah diri bahwa hanya Allah Azza wa Jalla lah yang maha pengampun dan maha penerima tobat dengan sifat-Nya Al-Gaffar (Maha Pengampun), Ar-Rahman (Maha Pengasih), dan Ar-Rahim (Maha Penyayang). Ibnul Qoyyim mengatakan bahwa kesalahan dan dosa yang di perbuat hendaklah meminta ampunan kepada Allah Swt. dengan beralasan seperti pengakuan “kesalahan yang aku perbuat itu bukan kerana aku menganggap remeh hak-Mu, juga bukan karena ketidaktahuanku tentang hal itu, serta bukan karena aku tidak megimani tentang pengawasan-Mu atas
101 Ibnu Qoyyim al-Jauziyah, Tobat Kembali Kepada Allah Cet 1. hlm. 39.
102 Ibnu Qoyyim al-Jauziyah, Tobat dan Inabah. hlm. 29.
103 Ibnu Qoyyim al-Jauziyah, Tobat Kembali Kepada Allah Cet 1. hlm. 40.
diriku, serta bukan pula karena aku menganggap remeh ancaman-Mu. Tapi, semua itu semata karena aku dikalahkan hawa nafsu, kelemahan diriku dalam melawan penyakit syahwat.
Sedangkan keinginan untuk mendapatkan ampunan-Mu, mengharapkan penghapusan dosa dari-Mu, dan karena aku berbaik sangka kepada-Mu, mendorongku untuk mengharapkan kedermawanan-Mu, dan ingin mendapatkan rahmat-Mu. Akupun mengakui telah tertipu oleh diriku serta nafsu yang selalu mengajak kepada keburukan. Juga dengan adanya tutupan- Mu yang selalu melindungiku ditambah dengan kebodohanku, membuatku menjadi alpa. Maka tidak ada jalan utuk berlindung bagiku kecuali kepada- Mu, dan tidak ada yang dapat membantuku untuk taat kepada-Mu kecuali dengan bantuan-Mu”. Juga dengan kata-kata yang sejenisnya yang mengandung makna meratap, menghinakan diri menunjukkan kebutuhan, mengakui kelemahan, serta menegaskan ubudiyah kepada Allah Swt.104
Dalam melakukan pertobat ketiga hal ini harus selalu ada ketika seseorang bertaubat. Artinya jika seseorang bertobat maka dalam satu waktu ia harus menyesal terhadap perbuatan dosa yang dilakukan, kemudian setelah menyesali perbuatan dosa yang dilakukan maka seseorang harus berhenti secara total dari mengerjakan perbuatan dosa yang dulu dikerjakan, dan kemudian ia harus bertekad untuk tidak mengulagi lagi perbuatan dosa yang sama dimasa yang akan datang. Dengan demikian, jika seseorang telah melakukan tobat dan memenuhi syarat tersebut maka ia telah kembali kepada tingkatan ubudiyah, yaitu sebuah titik tolak yang menjadi tujuan dari penciptaannya.105 Pada titik inilah seseorang benar-benar telah melakukan tobat yang hakiki.
Selain dari ketiga syarat tersebut Ibnu al-Qoyyim al-Jauziyah juga menambahkan bahwa jika perbuatan dosa dan maksiat yang dilakukan mengandung hak manusia, maka orang yang bertobat harus mengembalikan hak orang itu. Entah dengan benar-benar mengembalikan secara riil atau
104 Ibid., hlm. 39-40
105 Ibnu Qoyyim al-Jauziyah, Tobat dan Inabah, hlm. 29.
dengan cara meminta kerelaannya setelah memberitahukannya kepadanya, baik itu adalah hak harta, atau pelanggaran atas badannya atau badan yang diwarisinya. Hal ini sebagaimana sabda Nabi Muhammad Saw. Sebagai berikut:
ٍْلاٍُ ْلًْلَحَتَيْلَفٍ ضْرِعْؤَأٍ لاَمٍ ْنِمٍ ةَمَل ْظَمٍُهَدْنِعٍِهيِخٍَٔ ِلأٍ َن َكٍَ ْنَم
ٍ راَنيِدٍ َنوُكَيٍَلٍْ ْنَٔأٍَلْبَقٍَمْوَي
ٍ) يذم تّلاٍوٍيراخبلاٍهاور(ٍٍ ِتَٔأِ ي َّ سلاَوٍ ِتاَن َ سَحْلاٍَّلْ اٍ َه ْرِدٍَلْ َو ه
Terjemahan: “Barangsiapa melakukan kezhaliman kepada saudaranya baik berupa kezhaliman harta atau kehormatan, hendaklah dia tahallul (membersihkan dirinya) di dunia ini sebelum datang hari kiamat di mana perhitungan pada hari itu bukan dengan dinar dan dirham, melainkan dengan pahala kebaikan dan dosa kejahatan.” (HR. Al-Bukhari dan At-Tirmidzi).106 5. Rahasia Hakikat Tobat
Menurut Ibnu al-Qoyyim al-Jauziyah rahasia hakikat tobat ada tiga perkara: (1) memilih antara tobat untuk ketakwaan dan tobat untuk kejayaan (karamah), (2) melalaikan dosa, (3) dan tobat dari cacatnya pertobatan.107 Adapun maksud memilih antara tobat untuk ketakwaan dan tobat untuk kejayaan adalah bahwa hendaknya orang tobat itu semata-mata karena takwanya kepada Allah Swt. hendaklah ia selalu takut dan khawatir akan siksa Allah Swt. sehingga ia bisa menegakkan perintah Allah Swt. dan menjauhi larangan Allah Swt. Ia melaksanakan amal ketaatan dengan petunjuk Allah dan hanya mengharap pahala dari-Nya. Demikian juga ketika ia menjauhi larangan-Nya, ia menjauhi dengan petunjuk Allah Swt., takut akan siksa-Nya dan tidak mengharapkan kejayaan (karamah) dari ketaatan yang dia lakukan. Tidak diragukan lagi, kejayaan atau karamah memang bisa diraih dengan amal ketaatan dan tobat, baik secara lahir maupun batin.
Akan tetapi, kejayaan atau karamah itu bukanlah menjadi tujuan dari suatu pertobatan, walaupun ia tahu bahwa karamah atau kejayaan itu dapat diraih dengan ketaatan dan tobat. Dengan demikian barangsiapa yang bertobat demi untuk mendapatkan kejayaan atau karamah maka tobatnya itu sudah
106 Ibnu Qoyyim al-Jauziyah, Tobat Kembali Kepada Allah Cet 1. hlm. 188-189.
107 Ibnu Qoyyim al-Jauziyah, Tobat dan Inabah, hlm. 57-58.
kemasukan dan tidak murni lagi karena Allah Swt. Tegasnya bahwa untuk mencapai hakikat tobat seseorang harus dapat membedakan antara tobat untuk mencapai keuntungan pribadi dan tobat untuk memenuhi hak Allah Swt. baik secara teori maupun praktik. 108
Adapun melalaikan atau melupakan dosa maka hal ini perlu dirinci lebih detail lagi. Dalam hal ini para sufi dibagi menjadi dua pendapat, Pertama, ingatan akan dosa harus dibuang jauh-jauh dan tidak perlu lagi dipedulikan.
Hal ini didasarkan pada sebuah kenyataan bahwa keheningan waktu yang dihabiskan bersama Allah Swt. akan sangat besar manfaatnya bagi orang yang bertobat. Maka dari itu ada pepatah menyatakan “mengingat perbuatan tercela (dosa) disaat hening adalah perbuatan tercela. Kedua ada juga yang berpendapat bahwa orang yang bertobat tidak boleh melupakan dosanya, bahkan ia harus mengarahkan pandangannya terhadap dosa tersebut dan memperhatikannya setiap saat. Akibat melakukan hal ini, semacam remukan jiwa, kehinaan, dan ketundukan akan terjadi dalam dirinya, yang tentunya hal ini akan mendatangkan efek yang sangat besar manfaatnya daripada ia berkumpul dalam jamaah tarekatnya atau menyepi dalam kesendirian.109 6. Tingkatan Manusia Dalam Tobat
Dalam pertobatan Ibnu al-Qoyyim al-Jauziyah membagi manusia yang sedang melakukan pertobatan menjadi kepada tiga tingkatan. Tingkatan pertama adalah tingkatan tobatnya para kaum awam, yang kedua tobatnya orang pertengahan, dan yang ketiga yaitu tobatnya orang khawas (khusus).
Pembagian tingkatan dalam pertobatan ini tentunya terbagi atas dasar jenis- jenis dosa yang dilakukan tentunya. Sebagimana yang dijelaskan oleh Ibnu al-Qoyyim al-Jauziyah bahwa:
1. Tobatnya Orang Awam
Dalam tasawuf yang dimaksud dengan orang-orang awam adalah orang-orang yang melampaui pintu al-jam (kemanunggalan), dan al- fana’ (keseirnaan). Tobatnya orang awam adalah memandang banyak
108 Ibid., hlm. 58.
109 Ibid., hlm. 59.
kebaikan dan ketaatan yang telah dilakukan oleh dirinya, sehingga dengan mengagap telah banyaknya kebaikan dan ketaatan yang mereka kerjakan mereka lengah dan tidak memperhatikan aib-aib kebaikan- kebaikan itu sehingga mereka mengingkari karunia Allah yang telah menutupi kebaikan-kebaikan mereka dan memberi mereka kesempatan untuk memperbaiki kesalahannyadan bertobat. 110
2. Tobatnya Kaum Pertengahan (awsath)
Ibnul Qoyyim al-Jauziyah mengatakan bahwa tobatnya kaum pertengahan adalah dari memandang sedikitnya maksiat. 111 Padahal memandang sedikitnya maksiat adalah suatu perbuatan dosa, sebagaimana memandang banyaknya ketaatan juga merupakan suatu perbuatan dosa.112 Berbeda dengan orang-orang yang arif, orang-orang arif akan memandang bahwa kebaikan-kebaikan yang dilakukannya begitu sangat sedikit dimatanya. Setiap kali dia memperbanyak amal kebaikan, dia memandangnya sedikit dan kecil. Setiap kali dia memperbanyak amal kebaikan maka pintu-pintu makrifat dan kedekatan kepada Allah Azza wa Jalla dibukakan baginya. Sehingga mata hatinya menyaksikan keagungan dan kemuliaan Tuhan yang membuatnya harus memandang kecil semua amal-amalnya, sekalipun amalnya telah menggunung. Begitupun sebaliknya dalam urusan dosa orang-orang yang arif akan memandang dosa-dosa yang telah dilakukannya banyak dan besar karena dia memahami betul kewajibannya dan kepada siapa dia harus menunaikannya. Dia meresa kurang dalam menunaikan kewajiban itu dengan cara yang layak dan pas dengan yang dicintai dan dikehendaki Tuhan.
Jika ini sudah bisa dipahami, kita bisa mengatakan bahwa kalau seorang hamba memandang maksiatnya sedikit, maka itu adalah suatu perbuatan dosa, hal tersebut sama dengan kelancangan dan tantangan kepada Allah Azza wa Jalla. Sikap memandang maksiatnya sedikit
110 Ibnu Qoyyim al-Jauziyah, Tobat Kembali Kepada Allah Cet 1. hlm.141-151.
111 Ibid., hlm. 152.
112 Ibnu Qoyyim al-Jauziyah, Tobat dan Inabah, hlm, 164.
menunjukkan ketidaktahuan seseorang akan kedudukan Dzat yang didurhakainya dan tidak tau akan nilai hak-Nya. Sikap seperti itu disebut dengan “tantangan” karena jika dia memandang maksiatnya kecil dan sedikit, maka maksiat itu dirasakan sepele, terasa ringan di hatinya. 113
3. Tobatnya Kaum Khawas
Ibnu al-Qoyyim al-Jauziyah mengatakan tobatnya kaum khawas adalah bertobat dari menyia-nyiakan waktu. 114 Adapun yang dimaksud dengan menyia-nyiakan waktu bukanlah membuangnya dalam melakukan maksiat atau hal yang sia-sia, atau berpaling dari kewajiban,115 melainkan tobat mereka ini adalah dari menyia-nyiakan waktu dari kesempatan keheningan yang murni dan haal yang benar bersama Allah tanpa dicampurkan oleh hal-hal yang lain. Oleh karena itu kalau seseorang membuang waktunya, maka dia telah mengeruhkan mata air kebersamaan yang sangat spesial ini, dan dia juga akan mengalami keterputusan kebersamaan itu. Tidak ada hal yang lebih merugikan bagi seorang arif (yang punya makrifat kepada Allah) dari pada menyia-nyiakan waktunya bersama Allah. 116
7. Tanda Diterimanya Tobat
Menurut Ibnu al-Qoyyim al-Jauziyah tobat nashuha yang diterima oleh Allah Swt. mempunyai ciri-ciri lahir yang bisa dilihat oleh manusia. Diantara ciri-ciri yang disebutkan oleh Ibnu al-Qoyyim al-Jauziyah adalah sebagai berikut:
1. Perilaku orang yang melakukan tobat menjadi lebih baik dari pada sebelumnya.
2. Dalam pergaulannya ia bergaul dengan orang yang shaleh dan menghindar dari bergaul dengan teman yang buruk perilakunya.
113 Ibnu Qoyyim al-Jauziyah, Tobat Kembali Kepada Allah Cet 1. hlm. 153.
114 Ibid., hlm. 154.
115 Ibnu Qoyyim al-Jauziyah, Tobat dan Inabah, hlm, 166.
116 Ibnu Qoyyim al-Jauziyah, Tobat Kembali Kepada Allah Cet 1. hlm. 154-157.
3. Berhenti dari perbuatan dosa dan menerima dengan tangan terbuka terhadap segala macam kebajikan.
4. Selalu cemas terhadap azab dan murka Allah s.w.t. sehingga dengan cemasnya terhadap murka dan azab Allah menjauhkan ia dari perbuatan dosa.
5. Hatinya berpaling dari hal-hal keduniawian yang tidak bermanfaat, dan sebaliknya hati itu haus akan hal-hal yang bersifat ukhrawi.
6. Hatinya selalu aktif dan tersadar karena penyesalan dan rasa cemas yang terus membayangi.117
C. Urgensi Tobat Dalam Kehidupan Modern 1. Permasalahan Kehidupan Modern
Kehidupan modern merupakan kehidupan yang telah mengalami transformasi dari berbagai macam bidang. Kehidupan modern telah membawa manusia kedalam dua sisi, yakni sisi baik (positif) dan buruk (negatif). Dampak positf dari kehidupan modern telah memberikan berbagai macam kemudahan-kemudahan dalam kehidupan manusia, begitu juga sebaliknya kehidupan modern juga telah membawa dampak buruk dalam kehidupan manusia. kehidupan modern telah menimbulkan berbagai macam bentuk kejahatan, terlebih kejahatan didalam bidang teknologi, tersingkirnya agama dalam kehidupan manusia sehingga manusia jauh dari ajaran agama yang mengakibatkan mereka mengalami kehampaan spritual yang berujung pada gejala psikologis seperti jiwa merasa gelisah, mengalami putus asa dalam menjalani kehidupan, krisis pada akhlak, dan lain sebagainya. Sebagaimana realitas kehidupan masyarakat perkotaan yang notabenenya mewakili manusia modern, tidak sedikit dari mereka mengalami apa yang dinamakan hampa akan makna sehingga tidak menuntut kemungkinan kondisi dan struktur sosial yang keras sehingga melahirkan orang-orang yang sakit dalam mental.118 Kasus-kasus seperti menyebabkan banyaknya manusia mengalami stress, depresi,
117 Ibnu Qoyyim al-Jauziyah, Tobat dan Inabah. hlm. 9.
118 Haedar Nashir. Agama dan Krisis Manusia, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 1997), hlm.
4.
keterhampaan, dan putus asa dalam menjalani kehidupan sehingga mendorong mereka untuk malakukan perbuatan atau hal-hal yang berbau kejahatan dan keburukan yang berlawanan dengan tutunan ajaran agama.
Manusia yang hidup pada kehidupan modern memiliki sikap hidup yang materialistik (mengutamakan materi), hedonistik (memperturutkan kesenangan dan syahwat), totaliteristik (ingin menguasai semua aspek kehidupan) dan hanya percaya kepada rumus-rumus pengetahuan empiris saja serta sikap hidup positivistis yang berdasarkan kemampuan akal pikiran manusia, yang tampak jelas menguasai manusia yang memegang ilmu pengetahuan dan teknologi.119 Pada diri orang-orang yang berjiwa dan bermental seperti inilah ilmu pengetahuan dan teknologi modern sangat meng-khawatirkan, karena mereka akan menjadi penyebab kerusakan di atas permukaan bumi ini. Sebagaimana firman Allah Swt.
dalam surah ar-Rum ayat 41 Allah Swt. berfirman:
ٍْمُهَّلَعَلٍاوُلِ َعٍيِ َّلَّاٍ َضْعَبٍْمُهَقيِذُيِلٍ ِساَّنلاٍيِدْئَأٍ ْتَب َسَكٍاَمِبٍِرْحَبْلاَوٍِ َبْلاٍْ ِفٍُدا َسَفْلاٍ َرَه َظ
ٍ
ٍ َنوُع ِجْرَي (
۴۱ )
Terjemahan: “Telah tampak kerusakan di darat dan di laut di sebabkan pebuatan tangan manusia, Allah mengkehendaki agar mereka merasakan sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar)”.
ٍ
Kehadiran ilmu pengetahuan dan teknologi telah melahirkan sejumlah problematika masyarakat modern, problematika yang muncul antara lain:
1) Menghalalkan segala cara untuk mendapatkan tujuan sehingga tidak lagi memperhatikan aturan-aturan agama.
2) Kehilangan harga diri dan masa depan. Jika kontrol nilai-nilai agama telah lepas dari kehidupan, maka manusia tidak lagi punya harga diri dan masa depan.
3) Penyalahgunaan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi.
119 Abuddin Nata, Akhlak Tasawuf, (Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 1999), hlm. 32.
4) Pendangkalan Iman anak-anak dan orang dewasa.
5) Stress dan Frustasi karena banyaknya persoalan dan tuntutan hidup.120
6) Banyaknya tontonan-tontonan yang merusak.
7) Krisis akhlak pada anak-anak disebabkan mereka tidak di didik dengan agama.
8) Mengalami keterbelahan jiwa (split of persoality). Hal ini karena kehidupan dunia modern dibentuk oleh ilmu pengetahuan yang coraknya kering dari nilai-nilai spriritual. Jika proses keilmuan yang berkembang tidak berada di bawah kendali agama, maka proses kehancuran pribadi manusia aka terus berjalan, dan pada akhirnya kehidupan mengalami kemerosotan, dan moral akan rusak.
Problematika masyarakat modern sekarang ini disebabkan karena telah hilangnya keyakinan serta spritualitas dalam agama, yang mana masalah ini tidak bisa diselesaikan dengan materi sebab sesuatu yang berasal dari dalam harus diobati juga dari dalam yakni dengan cara jalan spritual. Jalan spritual itu diperoleh dengan pendekatan agama dengan cara melakukan dan menjalankan perintah-perintah agama karena agama adalah suatu yang akan menghantarkan pada keselamatan lahir dan bathin.
melalui tasawuf Ibnul Qoyyim dalam karyanya Madarijus Salikin dan Tobat dan Inabah.
2. Urgensi Tobat Dalam Kehidupan Modern
Seperti yang telah diuraikan pada bagian-bagian terdahulu bahwa tobat merupakan suatu usaha meninggalkan perbuatan dosa, dari apa yang dibenci Allah Swt. kepada apa yang diridhoi oleh Allah Swt. baik secara lahir maupun secara bathin.121 Tobat yang benar akan mengembalikan seseorang kepada jalan kebenaran yang akan mendatangankan keridhoan
120 Budi Safariato, Kosep Hati Meurut Imam Ibnu Qayyim Al-Jauziyah Dalam Tafsir Al- Qayyim, Tesis (Jakarta: Program Studi Ilmu Agama Islam, Pascasarjana Institut PTIQ Jakarta, 2016), hlm. 131.
121 Hamka (Haji Abdul Malik Karim Amrullah), Tafsir al-Azhar, (Jakarta: PT. Pustaka Panjimas, 1983). Hlm 388.