ANALISIS KETERLAMBATAN PROYEK
MENGGUNAKAN METODE FAULT TREE ANALYSIS (FTA) DAN FAILURE MODE AND EFFECT ANALYSIS (FMEA) (STUDI KASUS PROYEK PEMBANGUNAN BENDUNGAN
LAU SIMEME PAKET-I)
TUGAS AKHIR
diajukan untuk memenuhi persyaratan mencapai gelar Sarjana S1 pada Departemen Teknik Sipil, Fakultas Teknik, Universitas Sumatera Utara
KEVIN BONARDO SIREGAR 16 0404 065
BIDANG STUDI MANAJEMEN REKAYASA KONSTRUKSI DEPARTEMEN TEKNIK SIPIL
FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN
2021
LEMBAR PENGESAHAN
ANALISIS KETERLAMBATAN PROYEK
MENGGUNAKAN METODE FAULT TREE ANALYSIS (FTA) DAN FAILURE MODE AND EFFECT ANALYSIS (FMEA)
(STUDI KASUS PROYEK PEMBANGUNAN BENDUNGAN LAU SIMEME PAKET-I)
TUGAS AKHIR
diajukan untuk memenuhi persyaratan mencapai gelar Sarjana S1 pada Departemen Teknik Sipil, Fakultas Teknik, Universitas Sumatera Utara
KEVIN BONARDO SIREGAR 16 0404 065
Pembimbing Pertama,
Ir. Syahrizal, M.T.
NIP: 19611231 198811 1 001
Pembimbing Kedua,
Ir. Andy Putra Rambe, M.B.A.
NIP: 19680429 199703 1 002
Penguji Pertama,
Prof. Dr. Ing. Ir. Johannes Tarigan NIP: 19561224 198103 1 002
Penguji Kedua,
Gea Geby Aurora Syafridon, S.T., M.T.
NIP: 19901222 201903 2 016
Diketahui:
Ketua Departemen Teknik Sipil
Dr. M. Ridwan Anas, S.T., M.T.
NIP: 19760805 200812 1 002
SURAT PERNYATAAN
Saya yang bertanda tangan di bawah ini:
Nama : Kevin Bonardo Siregar NIM : 16 0404 065
Departemen : Teknik Sipil FT USU
Dengan ini menyatakan bahwa Tugas Akhir saya dengan judul “ANALISIS KETERLAMBATAN PROYEK MENGGUNAKAN METODE FAULT TREE ANALYSIS (FTA) DAN FAILURE MODE AND EFFECT ANALYSIS (FMEA) (STUDI KASUS PROYEK PEMBANGUNAN BENDUNGAN LAU SIMEME PAKET-I)” adalah bebas plagiat.
Apabila dikemudian hari terbukti terdapat plagiat dalam Tugas Akhir saya tersebut, maka saya bersedia menerima sanksi sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan.
Demikian pernyataan ini saya perbuat untuk dipergunakan sebagaimana mestinya.
Medan, Desember 2021 Penulis,
Kevin Bonardo Siregar 16 0404 065
KATA PENGANTAR
Puji dan syukur penulis panjatkan kepada Tuhan yang Maha Kuasa yang telah memberikan rahmat dan karunia-Nya kepada penulis sehingga penulis dapat menyelesaikan tugas akhir yang berjudul “Analisis Keterlambatan Proyek Menggunakan Metode Fault Tree Analysis (FTA) dan Failure Mode and Effect Analysis (FMEA) (Studi Kasus Proyek Pembangunan Bendungan Lau Simeme Paket-I)”. Tugas akhir ini merupakan salah satu persyaratan untuk mendapatkan gelar Sarjana Teknik di Departemen Teknik Sipil, khususnya program studi Reguler S-1, Fakultas Teknik, Universitas Sumatera Utara.
Dalam penulisan tugas sarjana ini, penulis mendapatkan bimbingan dan bantuan dari berbagai pihak, baik berupa materil, spiritual, maupun administrasi.
Oleh karena itu, pada kesempatan ini penulis ingin menyampaikan ucapan terimakasih kepada:
1. Bapak Ir. Syahrizal, MT. dan Bapak Ir. Andy Putra Rambe, M.B.A. selaku dosen pembimbing tugas akhir yang menuntun saya untuk dapat menyelesaikan tugas akhir ini.
2. Bapak Prof. Dr. Ing. Ir. Johannes Tarigan dan Ibu Gea Geby Aurora Syafridon S.T., M.T. selaku dosen penguji/pembanding untuk kesempurnaan tugas akhir ini.
3. Bapak Dr. M. Ridwan Anas, S.T., M.T. selaku Ketua Departemen Teknik Sipil Fakultas Teknik Univerisitas Sumatera Utara.
4. Bapak/Ibu dosen dan staf tata usaha Departemen Teknik Sipil Fakultas Teknik Universitas Sumatera Utara.
5. Teristimewa kepada kedua orangtua saya Tumanda Siregar dan Erlina Tobing serta adik saya Devi Olivia yang telah membantu dan memberi dukungan dalam penyusunan tugas akhir ini, baik dukungan moral dan materil.
6. Pihak proyek pembangunan Bendungan Lau Simeme sebagai objek penelitian yang telah membantu dalam memberikan data-data yang dibutuhkan dalam tugas akhir ini.
7. Sahabat-sahabat penulis yang selalu memberikan semangat, yaitu Daniel, Nicholas, Popo, dan Timothy.
8. Teman-teman seperjuangan Rahma dan Andra serta teman-teman stambuk 2016 yang tidak dapat disebutkan satu persatu, yang telah memberikan dukungan dan ilmu agar tugas akhir ini dapat selesai dengan baik.
Penulis menyadari sepenuhnya bahwa tugas akhir ini masih banyak terdapat kekurangan dan masih jauh dari kesempurnaan, dikarenakan keterbatasan pengetahuan, pengalaman, serta referensi yang dimiliki. Oleh karena itu, penulis sangat mengharapkan saran dan kritik yang membangun dari pembaca demi kesempurnaan tugas akhir ini.
Akhir kata, penulis mengucapkan terimakasih kepada pihak-pihak yang terlibat baik secara langsung maupun tidak langsung. Semoga tugas akhir ini memberikan manfaat bagi pembaca.
Medan, Oktober 2021 Penulis,
Kevin Bonardo Siregar 16 0404 065
DAFTAR ISI
LEMBAR PENGESAHAN ... i
LEMBAR PERNYATAAN ... ii
KATA PENGANTAR ... iii
DAFTAR ISI ... v
DAFTAR GAMBAR ... vii
DAFTAR TABEL ... viii
DAFTAR LAMPIRAN ... ix
ABSTRAK ... x
BAB I. PENDAHULUAN ... 1
1.1. Latar Belakang ... 1
1.2. Rumusan Masalah ... 2
1.3. Tujuan Penelitian ... 2
1.4. Batasan Masalah ... 2
1.5. Manfaat Penelitian ... 2
1.6. Sistematika Penulisan ... 3
BAB II. TINJAUAN PUSTAKA ... 4
2.1. Umum ... 4
2.2. Definisi Proyek ... 5
2.3. Manajemen Proyek ... 7
2.4. Tahapan Proyek Konstruksi ... 7
2.5. Proyek Konstruksi Bendungan ... 10
2.6. Manajemen Risiko ... 12
2.6.1. Sumber Risiko ... 13
2.6.2. Proses Manajemen Risiko ... 14
2.7. Keterlambatan Proyek ... 18
2.8. Penyebab Keterlambatan Proyek ... 20
2.9. Fault Tree Analysis ... 21
2.9.1. Simbol Fault Tree Analysis ... 22
2.9.2. Tahapan Fault Tree Analysis ... 26
2.10. Failure Mode and Effect Analysis ... 26
2.10.1. Tipe-tipe Failure Mode and Effect Analysis ... 27
2.10.2. Tujuan Failure Mode and Effect Analysis ... 27
2.10.3. Tahapan Failure Mode and Effect Analysis ... 28
2.10.4. Potential Effect, Risk Cause, dan Current Control ... 29
2.10.5. Severity, Occurance, dan Detectability ... 30
2.11. Pemetaan risiko ... 31
BAB III. METODOLOGI PENELITIAN ... 33
3.1. Lokasi Penelitian ... 33
3.2. Tinjauan Proyek ... 33
3.2.1. Data Proyek ... 33
3.2.2. Waktu Pelaksanaan Proyek ... 34
3.3. Metode Penelitian ... 34
3.3.1. Sumber Data Penelitian ... 34
3.3.2. Prosedur Penelitian ... 34
BAB IV. HASIL DAN PEMBAHASAN ... 40
4.1. Pelaksanaan Penelitian ... 40
4.1.1. Profil Perusahaan Kontraktor ... 40
4.1.2. Profil Proyek ... 40
4.2. Identifikasi Risiko ... 41
4.2.1. Konstruksi Diagram Fault Tree Analysis (Analisa Kualitatif) ... 41
4.2.2. Probabilitas Basic Event (Analisa Kuantitatif) ... 50
4.3. Penilaian Risiko ... 53
4.3.1. Identifikasi Potential Effect, Risk Cause, dan Current Control ... 53
4.3.2. Penentuan Nilai Severity, Occurance, dan Detectability... 55
4.3.3. Perhitungan nilai Risk Priority Number (RPN) ... 59
4.3.4. Penentuan peringkat risiko ... 61
4.3.5. Pemetaan risiko ... 62
BAB V. KESIMPULAN DAN SARAN ... 66
5.1. Kesimpulan ... 66
5.2. Saran ... 67
DAFTAR PUSTAKA ... 68
LAMPIRAN ... ix
DAFTAR GAMBAR
Gambar 2.1. Tiga batasan proyek (triple constraint) ... 6
Gambar 2.2. Simbol basic event ... 22
Gambar 2.3. Simbol intermediate event ... 22
Gambar 2.4. Simbol undeveloped event ... 23
Gambar 2.5. Simbol transfer event ... 23
Gambar 2.6. Simbol AND Gate ... 24
Gambar 2.7. Simbol OR Gate ... 24
Gambar 2.8. Contoh penggambaran sederhana fault tree ... 25
Gambar 2.9. Matriks pemetaan risiko ... 32
Gambar 3.1. Lokasi penelitian ... 33
Gambar 3.2. Diagram alir penelitian ... 35
Gambar 4.1. Fault tree aktivitas A1-1 ... 42
Gambar 4.2. Fault tree aktivitas A2-1 ... 42
Gambar 4.3. Fault tree aktivitas A3-1 ... 43
Gambar 4.4. Fault tree aktivitas A3-2 bagian pertama ... 43
Gambar 4.5. Fault tree aktivitas A3-2 bagian kedua ... 44
Gambar 4.6. Fault tree aktivitas A3-2 bagian ketiga ... 44
Gambar 4.7. Fault tree aktivitas A3-2 bagian keempat ... 44
Gambar 4.8. Fault tree aktivitas A4-1 ... 45
Gambar 4.9. Fault tree aktivitas A4-2 ... 45
Gambar 4.10. Fault tree aktivitas A5-1 ... 46
Gambar 4.11. Fault tree aktivitas A6-1 ... 46
Gambar 4.12. Fault tree aktivitas A7-1 ... 47
Gambar 4.13. Model fault tree keseluruhan risiko keterlambatan ... 48
Gambar 4.14. Grafik Perbandingan Probabilitas Basic Event ... 52
Gambar 4.15. Hasil rekapitulasi nilai severity ... 57
Gambar 4.16. Hasil rekapitulasi nilai occurance ... 58
Gambar 4.17. Hasil rekapitulasi nilai detectability ... 59
Gambar 4.18. Hasil pemetaan risiko ... 62
Gambar 4.19. Proporsi pemetaan risiko keterlambatan ... 65
DAFTAR TABEL
Tabel 2.1. Skala severity ... 30
Tabel 2.2. Skala occurance ... 30
Tabel 2.3. Skala detectability ... 31
Tabel 2.4. Definisi indikator pemetaan risiko ... 32
Tabel 3.1. Skala severity ... 38
Tabel 3.2. Skala occurance ... 38
Tabel 3.3. Skala detectability ... 38
Tabel 4.1. Hasil identifikasi risiko dengan menggunakan metode Fault Tree Analysis ... 49
Tabel 4.2. Frequency Index ... 50
Tabel 4.3. Probabilitas Basic Event ... 50
Tabel 4.4. Hasil identifikasi potential effect, risk cause, dan current control ... 54
Tabel 4.5. Profil responden ... 55
Tabel 4.6. Hasil penilaian severity, occurance, dan detectability ... 55
Tabel 4.7. Hasil perhitungan nilai Risk Priority Number (RPN) ... 60
Tabel 4.8. Hasil pemeringkatan Risk Priority Number (RPN) ... 61
Tabel 4.9. Rincian hasil pemetaan risiko ... 63
DAFTAR LAMPIRAN
Lampiran 1 Kuesioner
Lampiran 2 Hasil identifikasi risiko terhadap pekerjaan pada proyek Pembangunan Bendungan Lau Simeme
Lampiran 3 Hasil identifikasi potential effect, risk cause, dan current control Lampiran 4 Gambar Proyek
Lampiran 5 Kelengkapan Surat Permohonan Data Proyek
ABSTRAK
Sebuah proyek konstruksi tidak dapat terlepas dari yang namanya keterlambatan proyek. Beberapa faktor sebagai contoh, sumber daya manusia yang tidak kompeten, alat yang tidak sesuai standar dan tidak dikalibrasi, serta cuaca tidak menentu dapat menghambat pelaksanaan proyek. Untuk bisa mengetahui secara pasti risiko keterlambatan yang terjadi, diperlukan sebuah metode yang dapat menganalisa risiko yang menjadi penyebab keterlambatan proyek.
Penelitian ini mengidentifikasi risiko keterlambatan yang terjadi pada proyek Pembangunan Bendungan Lau Simeme Paket-1 dengan menggunakan metode Fault Tree Analysis (FTA) dan menilai dampak keseluruhan risiko yang teridentifikasi dengan menggunakan metode Failure Mode and Effect Analysis (FMEA).
Melalui metode FTA, diperoleh risiko keterlambatan sebanyak 25 risiko dari setiap aktivitas yang terdapat pada proyek. Perhitungan probability index dilakukan sebagai analisa kuantitatif dari metode FTA, didapatkan bahwa aktivitas A3-2, yaitu pekerjaan main dam dan coffer dam, memiliki nilai probability index tertinggi sebesar 4,75. Selanjutnya dilakukan penilaian risiko dengan metode FMEA, maka didapatkan risiko dengan nilai Risk Priority Number (RPN) tertinggi, yaitu R-8 (sungai banjir), dengan nilai RPN sebesar 64, dan nilai RPN terendah, yaitu R-20 (material sisa penyemprotan shotcrete menumpuk), dengan nilai RPN sebesar 8. Kemudian dilakukan pemetaan risiko menggunakan matriks risiko terhadap keseluruhan risiko yang teridentifikasi, didapatkan sebanyak 15 risiko yang berdampak pada pelaksanaan proyek dengan profil risiko level tinggi (high risk).
Kata Kunci: Keterlambatan proyek, Bendungan Lau Simeme, Fault Tree Analysis, Failure Mode and Effect Analysis.
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang
Sebuah proyek konstruksi memerlukan sebuah perencanaan dan pengendalian yang matang. Kedua hal tersebut dipengaruhi oleh berbagai faktor yaitu sumber daya manusia yang kompeten di bidangnya dan memiliki kuantitas yang cukup, kondisi alam dan geografis, keterbukaan akses masuk dan keluar proyek, ketersediaan material di sekitar proyek dan faktor-faktor lain yang mempengaruhi penyelesaian proyek tersebut.
Walaupun telah dibuat perencanaan yang matang, namun di lokasi proyek masih terdapat beberapa kendala yang menghambat pengerjaan proyek. Sumber daya manusia yang tidak kompeten dan tidak terlatih menjadi salah satu kendala dalam menyelesaikan sebuah proyek. Alat yang tidak sesuai standar menyebabkan masalah apabila peralatan tersebut rusak. Peralatan konstruksi yang tidak dikalibrasi dapat menyebabkan perhitungan melenceng dari perencanaan awal yang menyebabkan pekerjaan tersebut harus diulang dan akan menambah durasi pekerjaan. Kendala lainnya adalah karena proyek konstruksi dilaksanakan di tempat yang terbuka sehingga pekerjaan sangat bergantung pada kondisi cuaca di lokasi proyek tersebut. Selain beberapa faktor diatas, masih banyak terdapat faktor lainnya yang memperlambat kemajuan dari sebuah proyek.
Pembangunan Bendungan Lau Simeme bertujuan untuk mengembangkan sektor pariwisata, penyediaan energi listrik, memenuhi kebutuhan air baku di Sumatera Utara, serta mengendalikan banjir di kota Medan. Akan tetapi berdasarkan fakta di lapangan, Proyek Pembangunan Bendungan Lau Simeme Paket-I mengalami keterlambatan dalam pelaksanaannya.
Dalam penelitian ini, penulis menggunakan metode Fault Tree Analysis (FTA) dan Failure Mode and Effect Analysis (FMEA). Metode FTA dipilih karena memiliki gerbang logika (logic event) yang menggambarkan kondisi pemicu mode kegagalan yang bermanfaat dalam mencari sumber permasalahan (basic event) yang muncul dan diuraikan dari setiap kejadian puncak (top event). Sedangkan
FMEA dipilih karena dapat mengidentifikasi sebanyak mungkin mode kegagalan yang kemudian dilakukan pemeringkatan melalui Risk Priority Number (RPN) berdasarkan tingkat keparahan (severity), tingkat kemungkinan terjadi (occurance), dan tingkat kemungkinan terdeteksi (detectability).
1.2. Rumusan Masalah
1. Faktor-faktor apa saja yang menjadi risiko penyebab keterlambatan pada pelaksanaan proyek?
2. Apa saja risiko keterlambatan yang paling berdampak pada pelaksanaan proyek?
1.3. Tujuan Penelitian
1. Untuk mengidentifikasi risiko penyebab keterlambatan pada pelaksanaan proyek menggunakan metode Fault Tree Analysis (FTA).
2. Untuk menilai risiko keterlambatan yang paling berdampak pada pelaksanaan proyek menggunakan Failure Mode and Effect Analysis (FMEA).
1.4. Batasan Masalah
1. Penelitian dilakukan pada proyek Pembangunan Bendungan Lau Simeme Kabupaten Deli Serdang Paket-I.
2. Faktor-faktor yang dicari adalah faktor-faktor penyebab keterlambatan.
3. Analisis dalam penelitian ini dilakukan pada pekerjaan bendungan.
4. Kategori risiko yang diteliti adalah biaya dan waktu.
5. Penelitian dilakukan dari sudut pandang kontraktor.
6. Analisa yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisa kuantitatif dengan metode wawancara dan kuesioner.
1.5. Manfaat Penelitian 1. Bagi Peneliti
Penelitian ini memberikan pengetahuan kepada penulis mengenai penerapan metode Fault Tree Analysis dan Failure Mode and Effect Analysis dalam menganalisis keterlambatan proyek.
2. Bagi Akademisi
Penelitian ini bermanfaat untuk menambah referensi tentang penerapan metode Fault Tree Analysis dan Failure Mode and Effect Analysis.
1.6. Sistematika Penulisan
Sistematika penulisan terbagi menjadi beberapa bagian sebagai berikut:
BAB 1: PENDAHULUAN
Bab ini berisi tentang latar belakang mengapa penelitian ini dilakukan, rumusan masalah penelitian, tujuan penelitian, batasan masalah dalam penelitian serta manfaat dari penelitian.
BAB 2: TINJAUAN PUSTAKA
Bab ini menjelaskan tentang dasar-dasar teori yang menjadi acuan dalam memecahkan masalah dalam penelitian dan metode-metode yang digunakan seperti Fault Tree Analysis dan Failure Mode and Effect Analysis.
BAB 3: METODOLOGI PENELITIAN
Bab ini berisikan tentang langkah-langkah yang harus dijalankan agar penelitian berjalan dengan terstruktur dan sistematis agar mencapai tujuan penelitian.
BAB 4: HASIL DAN PEMBAHASAN
Bab ini berisikan tentang hasil pengolahan data penelitian dan pembahasannya.
BAB 5: KESIMPULAN DAN SARAN
Bab ini berisikan tentang penarikan kesimpulan terhadap hasil penelitian dan pembahasan, serta pemberian saran terhadap penelitian yang dilakukan.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Umum
Pembangunan Bendungan Lau Simeme di Kabupaten Deli Serdang mempunyai tujuan sebagai bentuk pengendalian banjir di kota Medan dan sekitarnya dari periode ulang 25 tahunan (Q25) menjadi periode ulang 40 tahunan (Q40), penyediaan air baku untuk kebutuhan kota Medan dan sekitarnya sebanyak 3000 l/dt, penyediaan energi listrik sekitar 2,80 MW, serta menyediakan area pariwisata baru.
Keterlambatan penyelesaian proyek merupakan hal yang harus dihindari oleh pelaksana proyek. Keterlambatan dapat menyebabkan tambahan biaya bagi pelaksana proyek, karena harus membayar pinalti kepada pihak pemilik proyek, atau memperpanjang sewa alat berat yang seharusnya sudah selesai. Hal-hal seperti ini akan berakibat pada berkurangnya keuntungan bagi pihak pelaksana proyek.
Dalam upaya dalam mencegah keterlambatan sebuah proyek, pelaksana proyek dapat melakukan penyempurnaan jadwal kegiatan atau melakukan peningkatan produktifitas pekerja sehingga pelaksanaan proyek dapat menghasilkan keuntungan yang maksimal bagi pelaksana proyek.
Penyelesaian proyek yang tepat waktu merupakan tantangan klasik bagi pelaksana proyek. Agar persoalan tentang keterlambatan proyek tidak terulang, maka perlu dilakukan pencarian terhadap faktor-faktor apa saja yang menyebabkan keterlambatan tersebut.
Metode yang dapat digunakan untuk menganalisis keterlambatan proyek adalah metode Fault Tree Analysis (FTA). Metode FTA adalah metode yang berguna untuk menemukan kegagalan sistem. Metode FTA adalah metode berorientasi fungsi atau umumnya disebut metode top-down karena metode tersebut dimulai dengan sistem di atas dan berlanjut ke bawah. Sistem yang dimaksud disini adalah pelaksanaan proyek, dan kegagalan sistem adalah keterlambatan pelaksanaan proyek.
Kemudian, untuk menemukan prioritas dalam mengidentifikasi kegagalan dalam sebuah sistem dapat menggunakan metode Failure Mode and Effect Analysis (FMEA). Metode FMEA digunakan untuk meningkatkan keandalan dan keamanan dari sebuah sistem dengan menemukan potensi kegagalan dalam sistem tersebut.
Mode kegagalan kemudian dinilai menggunakan tiga parameter, yaitu tingkat keparahan/severity (S), kemungkinan terjadi/occurance (O), dan kemungkinan kegagalan terdeteksi/detectability (D). Kombinasi ketiga parameter ini dikenal sebagai Angka Prioritas Risiko/Risk Priority Number (RPN).
2.2. Definisi Proyek
Sebuah proyek dapat didefinisikan sebagai sebuah aktivitas yang berlangsung dalam waktu tertentu, dengan memakai sumber daya yang telah ditentukan terlebih dahulu, untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan sejak awal (Soeharto, 1995: 1).
Pengertian proyek diatas menunjukkan bahwa sebuah proyek memiliki ciri- ciri pokok, yaitu (Soeharto, 1995: 1):
a. sebuah proyek diadakan untuk mencapai hasil akhir yang telah ditetapkan, b. dalam mencapai hasil akhir tersebut diperlukan biaya, jadwal, dan standar
mutu/kualitas,
c. sebuah proyek memiliki batasan waktu dalam pengerjaannya,
d. kegiatan di dalam proyek tidak repetitif karena karakteristik tersendiri yang dimiliki sebuah proyek.
Sebuah proyek dalam mencapai tujuan akhir memiliki batasan-batasan seperti batasan biaya yang dianggarkan, jadwal yang harus dicapai, serta kualitas pengerjaan yang harus dipenuhi. Ketiga batasan tersebut disebut triple constrain.
Batasan-batasan ini kemudian dijadikan tolok ukur agar tujuan sebuah proyek berhasil dicapai (Soeharto, 1995: 2).
a. Biaya (Anggaran)
Biaya memegang peranan dalam sebuah proyek mencapai tujuannya.
Sebuah proyek harus dapat dirampungkan dengan biaya yang tidak melampaui anggaran proyek tersebut. Jika sebuah proyek memerlukan biaya yang besar dan
memakan waktu bertahun-tahun, maka biaya dapat dibagi-bagi atas beberapa komponen (contohnya dibagi menjadi beberapa paket pekerjaan) atau dibagi-bagi berdasarkan rentang waktu tertentu (contohnya multi-years contract). Proyek tersebut juga harus memenuhi target penyelesaian berdasarkan pembagian tersebut.
b. Jadwal (Waktu)
Sebuah proyek memiliki titik awal (starting point) dan titik akhir (ending point). Oleh karena itu, proyek tersebut harus dikerjakan dalam rentang waktu yang telah ditentukan.
c. Mutu (Kualitas)
Sebuah proyek haruslah mengikuti sebuah standar mutu/kualitas yang dipersyaratkan. Dengan begitu, hasil akhirnya sebuah proyek dapat melaksanakan tugas sebagai mana yang ditetapkan sebagai tujuan proyek, atau disebut fit for intended use.
Ketiga batasan memiliki keterikatan antara satu dengan yang lainnya.
Dengan artian, jika ingin meningkatkan kualitas hasil akhir proyek, maka akan ada biaya lebih yang harus dibayarkan atau penambahan jadwal pengerjaan. Jika ingin melakukan percepatan jadwal, maka harus membayar biaya lebih untuk peruntukan seperti biaya lembur pekerja. Atau jika ingin menekan biaya pengerjaan, maka akan ada yang dikorbankan seperti mutu pengerjaan proyek.
Biaya (Anggaran)
Jadwal (Waktu) Mutu (Kualitas) Gambar 2.1 Tiga batasan proyek (triple constraint)
(Soeharto, 1995: 2)
2.3. Manajemen Proyek
Manajemen proyek dapat diartikan sebagai penerapan ilmu pengetahuan, keahlian, dan keterampilan, cara teknis yang terbaik dan dengan sumber daya yang terbatas, untuk mencapai sasaran dan tujuan yang telah ditentukan agar mendapatkan hasil yang optimal dalam hal kinerja, biaya, mutu, waktu, serta keselamatan kerja (Husen, 2011: 5).
Manajemen proyek memungkinkan setiap pihak dalam sebuah proyek melaksanakan tugasnya masing-masing dan mencegah tugas dan tanggung jawab saling tumpang tindih (overlap) karena dengan manajemen proyek dapat terlihat sebuah batasan tugas, wewenang, dan tanggung jawab dari setiap pihak yang terlihat dalam aktivitas proyek.
Jika manajemen proyek dijalankan dengan baik, maka proyek akan mengeluarkan output yang sesuai dengan tujuan akhir yang telah ditetapkan, yaitu:
- Tepat biaya - Tepat mutu - Tepat waktu
- Terlaksananya safety/K3 dengan baik
- Tidak terdapat gejolak sosial pada masyarakat sekitar 2.4. Tahapan Proyek Konstruksi
Aktivitas dalam sebuah proyek konstruksi berisikan tahapan-tahapan yang saling berkaitan satu dengan yang lainnya. Menurut Ervianto (2008: 15), terlaksananya sebuah proyek melalui beberapa tahapan utama sebagai berikut:
a. Tahap Studi Kelayakan (feasibility study)
Tujuan dari tahap studi kelayakan adalah untuk menunjukkan kepada pemilik proyek bahwa proyek konstruksi yang akan dilaksanakan memenuhi kriteria dari segi perencanaan dan perancangan, segi biaya dan anggaran, maupun segi dampak terhadap lingkungan. Beberapa kegiatan pada tahap ini adalah:
- Mempersiapkan draf rencana proyek serta estimasi biaya yang harus dianggarkan
- Mempertimbangkan manfaat yang akan diperoleh setelah proyek selesai, baik manfaat terhadap perekonomian maupun manfaat secara sosial - Mempersiapkan analisa kelayakan proyek, dari aspek ekonomis maupun
finansial
- Melakukan analisa terhadap lingkungan sekitar jika proyek tersebut dilaksanakan.
b. Tahap Penjelasan (briefing)
Pada tahap ini, pemilik proyek menjelaskan fungsi dari proyek yang akan dilaksanakan dan batasan biaya yang disetujui agar pelaksana konstruksi dapat mengetahui keinginan pemilik proyek dan membuat anggaran biaya yang dibutuhkan. Beberapa kegiatan pada tahap ini adalah:
- Mempersiapkan rencana kerja dan menunjuk para pelaksana konstruksi - Mempertimbangkan kebutuhan pemakaian, keadaan di lokasi, mempersiapkan draf ruang lingkup kerja, jadwal, anggaran biaya, serta standar mutu
- Mempersiapkan draf gambar dengan skala tertentu untuk menggambarkan situasi di lokasi proyek.
c. Tahap Perancangan (design)
Tahap perancangan merupakan tahapan untuk memperjelas manfaat proyek dengan menentukan tata letak, rancangan, metode konstruksi yang digunakan, serta anggaran biaya agar kemudian disetujui oleh pemilik proyek serta pihak berwenang yang terkait. Pada tahapan ini seluruh informasi pelaksanaan seperti gambar rencana dan dokumen tender telah lengkap. Beberapa kegiatan pada tahap ini adalah:
- Melakukan pengembangan draf rencana proyek menjadi penyelesaian akhir
- Melakukan pemeriksaan masalah teknis
- Mendapatkan persetujuan draf rencana proyek dari pemilik proyek
- Mempersiapan anggaran biaya akhir, rancangan yang detail, gambar kerja, spesifikasi, jadwal, daftar kuantitas, program pelaksanaan pendahuluan.
d. Tahap Pengadaan/Pelelangan (procurement/tender)
Tujuan dari tahap pengadaan/pelelangan adalah untuk mendapatkan penawaran, menyeleksi, dan kemudian menunjuk kontraktor atau subkontraktor yang akan melaksanakan proyek konstruksi. Kontraktor memberikan penawaran yang kompetetif dari segi biaya serta spesifikasi yang dipersyaratkan.
e. Tahap Pelaksanaan (construction)
Pada tahap ini konstruksi mulai dilaksanakan dengan mengikuti batasan biaya dan waktu yang telah disetujui, serta dengan standar mutu yang telah diminta.
Beberapa kegiatan pada tahap ini adalah perencanaan dan pengendalian jadwal pelaksanaan, organisasi, tenaga kerja, peralatan, material, serta koordinasi seluruh operasional di lapangan.
f. Tahap Pemeliharaan dan Persiapan Penggunaan (maintenance, startup, and implementation)
Tahap ini bertujuan agar proyek konstruksi yang telah selesai dilaksanakan sesuai dengan dokumen kontrak yang telah disepakati sebelumnya dan bekerja sebagaimana mestinya untuk mencapai manfaat yang ditetapkan di awal. Beberapa kegiatan pada tahapan ini adalah:
- Mempersiapkan laporan administrasi seperti surat menyurat, laporan keuangan, dokumen kontrak dan perubahannya, serta gambar terlaksana (as-built drawing)
- Melakukan observasi secara visual di lapangan untuk melihat apakah terdapat kerusakan atau cacat yang mungkin terjadi di lapangan
- Membuat petunjuk program pemeliharaan bangunan.
2.5. Proyek Konstruksi Bendungan
Peraturan Pemerintah Nomor 37 Tahun 2010 menjelaskan bahwa bendungan adalah bangunan yang berupa urugan tanah, batu, beton, dan/atau pasangan batu yang dibangun selain untuk menahan dan menampung air, dapat pula dibangun untuk menahan dan menampung limbah tambang (tailing), atau menampung lumpur sehingga terbentuk waduk. Waduk sendiri memiliki pengertian sebagai wadah buatan yang terbentuk sebagai akibat dibangunnya sebuah bendungan.
Bendungan dapat diklasifikasikan menjadi beberapa jenis, yaitu (Soedibyo, 2003):
1. Bendungan berdasarkan ukuran
Terdapat dua jenis bendungan berdasarkan ukurannya, yaitu:
a. Bendungan besar (large dams)
Merupakan bendungan yang dibangun dengan tinggi lebih dari 10 meter, diukur dari bagian terbawah pondasi sampai ke puncak bendungan.
b. Bendungan kecil (small dams)
Merupakan bendungan yang tidak memenuhi syarat sebagai bendungan besar.
2. Bendungan berdasarkan tujuan pembangunan
Terdapat dua jenis bendungan berdasarkan tujuan pembangunannya, yaitu:
a. Bendungan dengan tujuan tunggal (single purpose dams)
Merupakan bendungan yang dibangun untuk memenuhi satu tujuan saja, misalnya hanya untuk pembangkit tenaga listrik atau irigasi atau pengendalian banijr atau tujuan lainnya, tetapi hanya untuk satu tujuan saja.
b. Bendungan serbaguna (multipurpose dams)
Merupakan bendungan yang dibangun untuk memenuhi beberapa tujuan, misalnya untuk pembangkit tenaga listrik (PLTA) dan irigasi;
pengendalian banjir dan PLTA; air minum dan air industri; PLTA, pariwisata dan irigasi, dan lain-lain.
3. Bendungan berdasarkan penggunaan
Terdapat tiga jenis bendungan berdasarkan penggunaannya, yaitu:
a. Bendungan membentuk waduk (storage dams)
Merupakan bendungan yang dibangun untuk membentuk waduk untuk menyimpan air pada waktu kelebihan agar dapat digunakan kembali saaat diperlukan.
b. Bendungan penangkap atau pembelok air (diversion dams)
Merupakan bendungan yang dibangun untuk membuat permukaan air lebih tinggi agar dapat mengalir ke dalam saluran air.
c. Bendungan untuk memperlambat jalannya air (detension dams)
Merupakan bendungan yang dibangun untuk memperlambat aliran air untuk mencegah terjadinya banjir.
4. Bendungan berdasarkan jalannya air
Terdapat dua jenis bendungan berdasarkan jalannya air, yaitu:
a. Bendungan untuk dilewati air (overflowdams)
Merupakan bendungan yang dibangun untuk dilewati air, misalnya pada bangunan pelimpah (spillway).
b. Bendungan untuk menahan air (non overflow dams)
Merupakan bendungan yang dibangun sama sekali tidak boleh dilewati air yang biasanya terbuat dari beton, pasangan batu, atau pasangan bata.
5. Bendungan berdasarkan konstruksi
Terdapat empat jenis bendungan berdasarkan konstruksinya, yaitu:
a. Bendungan serbasama (homogeneus dams)
Merupakan bendungan yang lebih dari setengah volumenya terdiri dari bahan bangunan yang seragam.
b. Bendungan urugan berlapis-lapis (zoned dams)
Merupakan bendungan yang terdiri dari beberapa lapisan yaitu lapisan kedap air (water tight layer), lapisan batu (rock zones), lapisan batu teratur (rip-rap), dan lapisan pengering (filter zones).
c. Bendungan urugan batu dengan lapisan kedap air di muka (impermeable face rock fill dams)
Merupakan bendungan urugan batu berlapis-lapis dimana lapisan kedap air terdapat di sebelah hulu bendungan. Lapisan yang dipakai biasanya adalah aspal dan beton bertulang.
d. Bendungan beton (concrete dams)
Merupakan bendungan yang dibuat dari konstruksi beton, baik dengan tulangan maupun tidak.
Bendungan Lau Simeme di Kabupaten Deli Serdang sendiri memiliki tujuan sebagai bentuk pengendalian banjir di kota Medan, penyediaan air baku untuk kebutuhan kota Medan dan sekitarnya, penyediaan energi listrik, serta menyediakan area pariwisata baru.
2.6. Manajemen Risiko
Sebuah proyek tidak bisa dipisahkan dari yang namanya risiko. Risiko adalah kombinasi antara probabilitas sebuah kejadian (likelihood) dengan konsekuensi yang dihasilkan kejadian tersebut (consequences), dimana terdapat kemungkinan terdapat banyak konsekuensi untuk setiap kejadian, dan konsekuensi tersebut bisa berefek positif atau negatif (Shortreed, et al. 2003).
Secara matematis, risiko dapat digambarkan melalui rumus berikut:
Risiko = likelihood x consequences (2.1)
Keterangan:
Likelihood = probabilitas sebuah kejadian Consequences = konsekuensi yang dihasilkan
Risiko di dalam sebuah proyek adalah risiko murni yang secara potensial dapat mendatangkan kerugian dalam upaya mencapai sasaran proyek (Soeharto, 2001: 366).
Peran manajemen risiko adalah untuk mengenali dan mengelola masalah yang tak terduga dan berpotensi mengganggu jalannya sebuah proyek. Manajemen risiko mengidentifikasi peristiwa risiko (sesuatu yang salah atau menyimpang) sebanyak mungkin, memperkecil dampak negatif dari risiko, mengelola respons terhadap risiko, dan mempersiapkan tanggung jawab untuk mengatasi risiko yang terjadi (Gray dan Larson, 2006: 189).
2.6.1. Sumber Risiko
Sumber risiko dapat diartikan sebagai faktor yang dapat menimbulkan kejadian yang bersifat negatif atau positif. Sebagai contoh, di bawah ini adalah sumber risiko dari suatu proyek (Soeharto, 2001: 368).
a. Risiko yang berkaitan dengan bidang manajemen
- Kurang tepatnya perencanaan lingkup, biaya, jadwal, dan mutu - Kurang tepatnya pengendalian lingkup, biaya, jadwal, dan mutu - Ketepatan penentuan struktur organisasi
- Ketelitian pemilihan personil - Kekaburan kebijakan dan prosedur - Koordinasi pelaksanaan
b. Risiko yang berkaitan dengan bidang teknis dan implementasi - Ketepatan pekerjaan dan produk desain-engineering
- Ketepatan pengadaan material dan peralatan (volume, jadwal, harga, dan kualitas)
- Ketepatan pekerjaan konstruksi (jadwal dan kualitas) - Tersediannya tenaga ahli dan penyelia
- Tersediannya tenaga kerja lapangan - Variasi dalam produktivitas kerja - Kondisi lokasi dan site
- Ditemukannya teknologi baru (peralatan atau metode) dalam proses konstruksi dan produksi
c. Risiko yang berkaitan dengan bidang kontrak, dan hukum
- Pasal-pasal kurang lengkap, kurang jelas, dan interpretasi yang berbeda - Pengaturan pembayaran, change order, dan klaim
- Masalah jaminan, guaranty, dan waranty - Lisensi dan hak paten
- Force majeure
d. Risiko yang berkaitan dengan bidang situasi ekonomi, sosial, politik - Peraturan perpajakan dan pungutan
- Perijinan
- Pelestarian lingkungan
- Situasi pasar (persediaan dan panawaran material dan peralatan) - Ketidakstabilan moneter/devaluasi
- Realisasi pinjaman - Aliran kas
2.6.2. Proses Manajemen Risiko
Manajemen risiko memiliki proses untuk merencanakan, mengidentifikasi, menganalisis, merespon, dan me-monitoring risiko tersebut. Hal ini bertujuan untuk memperkecil dampak negatif yang ditimbulkan dan meningkatkan dampak positif terhadap proyek. Proses yang dilalui dalam manajemen risiko adalah sebagai berikut (Santosa, 2009: 198).
1. Perencanaan Manajemen Risiko (Risk Management Planning)
Manajemen risiko adalah sebuah pendekatan proaktif, bukan reaktif.
Manajemen risiko merupakan sebuah proses preventif untuk memperkecil dampak negatif yang ditimbulkan (Gray dan Larson, 2006: 190). Oleh karena itu tahap pertama dalam manajemen risiko adalah menentukan pendekatan dan rencana aktifitas manajemen risiko untuk sebuah proyek.
2. Identifikasi Risiko (Risk Identification)
Proses selanjutnya dalam manajemen risiko adalah identifikasi risiko.
Identifikasi risiko menjadi penting karena merupakan pondasi sebuah manajemen risiko untuk melangkah ke tahap analisa selanjutnya. Proses ini nantinya akan menghasilkan daftar risiko yang mungkin akan berpengaruh terhadap pengerjaan sebuah proyek.
Dalam mengidentifikasi sebuah risiko, diperlukan sebuah teknik yang dapat dijelaskan sebagai berikut (PMBOK Guide 6th Edition, 2017: 414).
a. Penilaian para ahli (expert judgement)
Para ahli yang telah memiliki pengetahuan khusus pada proyek yang serupa dapat memberikan pertimbangan seluruh aspek risiko berdasarkan pengalaman sebelumnya.
b. Pengumpulan data (data gathering)
Teknik pengumpulan data dapat dijelaskan sebagai berikut.
- Brainstorming, para pihak yang memegang peranan penting dalam proyek berkumpul dan kemudian secara aktif mendaftarkan semua kemungkinan risiko yang ada.
- Checklist, sebuah daftar dikembangkan berdasarkan informasi dan pengetahuan yang dihimpun dari proyek serupa atau sumber informasi lainnya
- Interview, sumber risiko dapat diidentifikasi dengan melakukan interview kepada pelaksana proyek, pemangku kepentingan, dan para
ahli, dengan catatan bahwa wawancara dilakukan dengan jujur dan tidak memihak
c. Analisis data (data analysis)
Teknik analisa data dapat dijelaskan sebagai berikut.
- Root cause analysis, metode ini digunakan untuk menemukan akar masalah yang menjadi dasar terjadinya sebuah risiko
- Assumption and constraint analysis, manajemen proyek disusun berdasarkan beberapa asumsi dan beberapa batasan yang kemudian dibuktikan validitasnya untuk menentukan mana yang menimbulkan risiko bagi proyek
- SWOT analysis, metode ini dimulai dengan mengidentifikasi kekuatan dan kelemahan sebuah organisasi atau proyek itu sendiri.
- Document analysis, proyek dapat melakukan review mulai dari rencana, dokumen proyek sebelumnnya, ataupun kontrak.
3. Analisa Kualitatif (Qualitative Risk Analysis)
Analisa risiko secara kualitatif merupakan sebuah analisa yang menilai dampak dan kemungkinan dari sebuah risiko yang telah diidentifikasi dengan menyusun risiko berdasarkan efeknya terhadap tujuan proyek.
4. Analisa Kuantitatif (Quantitative Risk Analysis)
Analisa risiko secara kuantitatif biasanya mengikuti analisa kualitatif.
Analisa kuantitatif adalah proses menganalisa secara numerik semua kemungkinan dari setiap risiko dan konsekuensinya terhadap tujuan proyek. Analisa ini juga dapat mengidentifikasi kemungkinan kerusakan atau kegagalan sistem dan memprediksi besaran kerugian yang ditimbulkan.
5. Penanganan Risiko (Risk Response Planning)
Proses selanjutnya adalah proses penanganan risiko yang dilakukan untuk mengurangi tingkat ancaman sebuah risiko sampai kepada batas toleransi. Proses
ini dilakukan dengan mengembangkan pilihan dan kemudian menentukan aksi untuk mengurangi ancaman terhadap proyek.
Beberapa teknik yang dapat digunakan untuk menangani risiko adalah:
a. Menghindari risiko
Teknik ini dilakukan dengan tidak melakukan aktivitas yang mendatangkan risiko. Meskipun tidak bisa menghilangkan risiko sepenuhnya, beberapa risiko yang mungkin terjadi masih mungkin dihindari. Cara yang dapat dilakukan adalah dengan menambah sumber daya atau waktu atau menggunakan cara-cara yang mirip dari proyek sebelumnya, dan cara lainnya.
b. Reduksi risiko
Reduksi risiko merupakan tindakan awal untuk mengurangi peluang terjadinya risiko. Contohnya dengan menempakan orang yang sepenuhnya kompeten untuk posisi pekerjaan tertentu atau membuat desain rencana sebaik mungkin.
c. Menerima risiko
Karena risiko tidak dapat dihindari sepenuhnya, maka menerima kerugian adalah sebuah teknik jika kejadan risiko tersebut terjadi. Teknik ini dapat dilakukan apabila risiko yang dihasilkan kecil atau tidak ada cara lain untuk menanganinya.
d. Transfer risiko
Transfer risiko adalah sebuah teknik untuk mengalihkan risiko kepada pihak lain.
6. Pemantauan dan Pengendalian Risiko (Risk Monitoring and Control) Proses ini adalah untuk mengawasi risiko yang telah diidentifikasi, memonitor risiko yang tersisa, mengidentifikasi risiko baru, memastikan risk management plan berjalan dengan baik, dan mengevaluasi keefektifan dalam mengurangi risiko.
2.7. Keterlambatan Proyek
Pengertian keterlambatan menurut Ervianto (2004: 15) adalah sebagian waktu pelaksanaan yang tidak dapat dimanfaatkan sesuai dengan rencana, sehingga menyebabkan beberapa kegiatan yang mengikuti menjadi tertunda atau tidak dapat diselesaikan tepat sesuai jadwal yang telah direncanakan. Keterlambatan dapat terjadi karena faktor-faktor lain yang berpengaruh terhadap proyek konstruksi atau bahkan kontraktor itu sendiri. Keterlambatan dapat disebabkan oleh pemilik proyek, perencana, kontraktor utama, subkontraktor, pemasok, serikat pekerja, perusahaan penyedia fasilitas, atau organisasi lainnya yang berkaitan dengan pekerjaan proyek tersebut.
Karena proyek konstruksi umumnya berada di lokasi terbuka, keterlambatan sangat memungkinkan untuk terjadi dengan berbagai penyebab. Penyebab yang umum terjadi adalah terjadinya perbedaan kondisi di lapangan, perubahan desain rencana, pengaruh cuaca, kekurangan pekerja, material, atau peralatan, kesalahan perencanaan atau spesifikasi, bahkan intervensi dari pemilik proyek. Pengaruh keterlambatan tidak hanya menyebabkan waktu pelaksanaan menjadi lebih lama, tetapi akan berpengaruh kepada peningkatan biaya konstruksi.
Keterlambatan proyek dapat dikelompokkan menjadi dua kelompok, yaitu (Ervianto, 2004:16):
1. Excusable delay
Excuseable delay diartikan sebagai gagalnya pihak pelaksana konstruksi dalam memenuhi waktu penyelesaian proyek sesuai dengan kesepakatan karena adanya kejadian di luar kendali pihak pemilik dan pelaksana proyek. Penilaian keterlambatan diatur dalam dokumen kontrak, karena setiap kontrak mempunyai standar penilaian tersendiri dalam menilai sebuah keterlambatan. Sebagai contoh, kontrak standar oleh American Institute of Architect (AIA), dalam dokumen kontrak A201 General Condition of Construction Conctract, mengijinkan tambahan waktu jika keterlambatan disebabkan oleh hal-hal berikut:
- Penundaan yang disebabkan oleh pemilik proyek atau arsitek - Terdapat perubahan lingkup kerja
- Perselisihan pekerja konstruksi - Bencana kebakaran
- Dan lain-lain
Excuseable delay juga dapat dibagi menjadi dua tipe (Levis dan Atherley, 1996):
a. Compensable delay
Jenis keterlambatan ini terjadi karena kesalahan pihak pemilik proyek (owner) dalam memenuhi kewajiban dalam kontrak dengan tepat, sehingga pihak pelaksana (kontraktor) berhak atas kompensasi biaya dan perpanjangan waktu.
Yang termasuk dalam compensable delay adalah:
- Terlambatnya penyerahan secara total lokasi (site) proyek - Terlambatnya pembayaran kepada pihak kontraktor - Kesalahan pada gambar dan spesifikasi
- Terlambatnya persetujuan atas gambar-gambar fabrikasi
b. Non-compensable delay
Jenis keterlambatan ini terjadi karena faktor diluar dari pihak pemilik proyek (owner) dan pihak pelaksana (kontraktor). Kontraktor berhak atas perpanjangan waktu yang setara dengan keterlambatan tetapi tidak berhak atas kompensasinya. Yang termasuk dalam non-compensable delay adalah:
- Act of God, seperti gangguan alam antara lain gempa bumi, tornado, letusan gunung api, banjir, kebakaran, dan lain-lain.
- Force majeure, termasuk di dalamnya faktor Act of God, perang, huru- hara, demo, mogok kerja, dan lain-lain.
- Cuaca, ketika tidak bersahabat dan diluar kondisi normal.
2. Non-excuseable delay
Non-excuseable delay didefinisikan sebagai situasi dimana pihak pelaksana konstruksi gagal memenuhi ketentuan waktu pelaksaan karena kompetensi dari
pihak pelaksana konstruksi itu sendiri. Penyebab keterlambatan yang digolongkan ke dalam kelompok ini adalah perencanaan yang kurang tepat, rendahnya kualitas sumber daya manusia yang dimiliki pihak pelaksana proyek, kegagalan subkontraktor, dan lain sebagainya.
Non-excuseable delay memiliki konsekuensi pemutusan hubungan kerja/kontrak. Umumnya keterlambatan kelompok ini tidak mendapatkan kompensasi tambahan waktu, tetapi kemungkinan besar pelaksana proyek akan melakukan percepatan pekerjaan.
Keterlambatan di dalam sebuah proyek tidak selalu berakibat pada perpanjangan waktu pelaksanaan. Sebagai contoh, dalam pekerjaan elektrikal, pemilik proyek ingin mengganti jenis stop kontak, maka tidak perlu penambahan waktu penyelesaian proyek karena tidak mengganggu pekerjaan yang lainnya.
Keterlambatan ini disebut juga Non-Critical Delay. Namun apabila terjadi perubahan dimensi balok secara tiba-tiba, maka akan mempengaruhi pekerjaan lainnya, karena memerlukan waktu untuk proses change order, shop drawing, atau pemesanan material. Keterlambatan ini disebut Critical Delay dan akan menyebabkan terjadinya perubahan waktu penyelesaian proyek.
2.8. Penyebab Keterlambatan Proyek
Penyebab keterlambatan sebuah proyek dapat berasal dari beberapa faktor, seperti dari pihak pemilik, pelaksana, dan selain dari kedua pihak (Antill, 1989).
a. Keterlambatan akibat kesalahan pihak pelaksana (kontraktor), - Terlambatnya memulai pelaksanaan proyek
- Pekerja dan pelaksana kurang berpengalaman - Terlambat mendatangkan peralatan
- Mandor yang kurang aktif - Rencana kerja yang kurang baik
b. Keterlambatan akibat kesalahan pihak pemilik (owner), - Terlambatnya angsuran pembayaran oleh kontraktor - Terlambatnya penyediaan lahan
- Mengadakan perubahan kerja yang besar
- Pemilik proyek menugaskan kontraktor lain untuk mengerjakan proyek tersebut
c. Keterlambatan akibat kesalahan selain dari kedua pihak,
- Akibat kebakaran yang bukan berasal dari pihak pelaksana, pemilik, konsultan
- Akibat banjir, gempa bumi, perang, atau bencana lainnya - Perubahan moneter
2.9. Fault Tree Analysis
Keterlambatan proyek konstruksi adalah permasalahan klasik yang sering dialami pada setiap proses pengerjaan sebuah proyek. Oleh karena itu diperlukan sebuah metode untuk mencari faktor-faktor yang menjadi penyebab keterlambatan tersebut.
Fault Tree Analysis dapat dideskripsikan sebagai analisa teknikal di dalam sebuah sistem karena adanya suatu kejadian yang tidak diinginkan terjadinya.
Selanjutnya sistem tersebut dianalisa dengan kondisi lingkungan dan operasional yang ada untuk menemukan penyebab dasar yang menjadi penyebab masalah (undesired event) yang merupakan penyebab utama (top event) (Fault Tree Handbook USNRC, 1981: IV-1).
Fault Tree Analysis merupakan sebuah metode yang dapat digunakan untuk mengidentifikasi dan menganalisis faktor yang dapat berkontribusi pada kejadian yang tidak diinginkan (disebut kejadian puncak atau top event). Faktor penyebab diidentifikasi secara deduktif, yang kemudian disusun secara logis, dan dapat digambarkan dalam bentuk diagram pohon yang menggambarkan faktor penyebab dan hubungan logis antara faktor penyebab tersebut dengan kejadian puncak (SNI IEC/ISO 31010, 2016: 48).
Faktor-faktor yang diidentifikasi pada pohon tersebut dapat berupa kejadian yang terkait dengan kegagalan komponen perangkat keras, kesalahan manusia, atau kejadian terkait lainnya yang menyebabkan kejadian yang tidak diinginkan (SNI IEC/ISO 31010, 2016: 48).
Fault Tree Analysis merupakan sebuah alat yang digunakan untuk menganalisa, menampilkannya secara visual, dan kemudian mengevaluasi jalur kegagalan di dalam sebuah sistem, serta menyediakan mekanisme untuk mengevaluasi tingkat bahaya di dalam sistem tersebut (Ericson, 1999). Menurut Ericson (1999), konsep mendasar dari Fault Tree Analysis adalah menterjemahkan dan menganalisa sebuah kegagalan atau kesalahan dari sebuah sistem ke dalam bentuk diagram visual dan model logika. Diagram visual memberikan suatu bentuk model visual yang dengan mudah menggambarkan hubungan-hubungan yang ada pada sistem dan akar permasalahan yang terjadi. Sementara model logika memberikan mekanisme evaluasi secara kualitatif dan kuantitatif (Ericson, 1999).
2.9.1. Simbol Fault Tree Analysis
Dalam penerapannya, metode Fault Tree Analysis (FTA) menggunakan dua simbol dasar yang disebut peristiwa (events) dan gerbang logika (logic gates).
Notasi peristiwa terdiri dari 4 simbol, yaitu:
a. Lingkaran (Basic Event)
Lingkaran adalah simbol yang digunakan untuk menyatakan penyebab risiko. Dengan kata lain, simbol lingkaran menunjukan akar/sumber penyebab dari sebuah peristiwa, dalam hal ini adalah keterlambatan penyelesaian proyek.
b. Persegi (Intermediate Event)
Basic Event
Intermediate Event
Gambar 2.2. Simbol basic event
Gambar 2.3. Simbol intermediate event
Persegi adalah simbol yang digunakan untuk peristiwa yang masih memerlukan analisis lanjutan, biasanya simbol ini akan diikuti dengan logic gates untuk menggambarkan peristiwa selanjutnya.
c. Segi empat wajik (Undeveloped Event)
Segi empat wajik adalah simbol yang digunakan untuk peristiwa yang tidak dapat dianalisis lebih lanjut karena ketidakcukupan data atau informasi.
d. Segitiga (Transfer Symbol)
Segitiga adalah simbol yang digunakan untuk menyatakan peristiwa yang masih memerlukan analisis lanjutan, diluar dari peristiwa risiko utama pada analisis yang sedang dikerjakan.
Sedangkan untuk notasi gerbang logika (logic gate) terdiri dari 2 simbol, yaitu:
Undeveloped Event
Transfer Event
Gambar 2.4. Simbol undeveloped event
Gambar 2.5. Simbol transfer event
a. AND Gate
Simbol ini menyatakan bahwa sebuah peristiwa risiko dapat terjadi apabila seluruh input peristiwa di bawahnya terjadi.
b. OR Gate
Simbol ini menyatakan bahwa sebuah peristiwa risiko dapat terjadi apabila salah satu atau lebih dari input peristiwa di bawahnya terjadi.
Setiap event akan saling terhubung secara vertikal dengan menggunakan gate “and” atau “or”. Jika hubungan antara dua kejadian adalah “and”, maka kejadian diatasnya akan terjadi hanya apabila kejadian dibawahnya seluruhnya terjadi, namun jika penghubungnya adalah “or”, maka kejadian diatasnya akan terjadi apabila salah satu atau lebih kejadiannya di bawahnya terjadi (Stamatelatos, 2002: 2).
Untuk mempermudah penggunaan metode Fault Tree Analysis, digunakan identifier yang membantu mengenali setiap fault event yang terjadi pada fault tree.
Untuk fault event yang menjadi top event sebuah fault tree diberikan kode T-1, T- 2, T-3,…, T-n. Untuk fault event yang menjadi intermediate event sebuah fault tree
AND Gate
OR Gate
Gambar 2.6. Simbol AND Gate
Gambar 2.7. Simbol OR Gate
akan diberi kode E-1, E-2, E-3,…, E-n. Untuk gerbang logika (logic gate) yang dipakai di dalam fault tree diberi kode G-1, G-2, G-3,…, G-n. Sedangkan untuk fault event yang menjadi basic event yang merupakan risiko keterlambatan yang terjadi dalam pelaksanaan proyek diberikan kode R-1, R-2, R-3,…, R-n.
Contoh penggambaran sederhana fault tree akan ditunjukkan pada gambar berikut.
Metode Fault Tree Analysis (FTA) memiliki beberapa kekuatan dimana FTA dapat memberikan pendekatan disiplin yang sistematis, tetapi disisi lain memberikan fleksibilitas untuk menganalisa dari berbagai faktor, termasuk interaksi manusia dan fenomena fisik. Kekuatan berikutnya yang dimiliki FTA adalah dikarenakan pendekatan top-down yang terdapat dalam metode ini memberikan perhatian secara langsung terhadap efek kegagalan yang berkaitan langsung dengan kejadian puncak (SNI IEC/ISO 31010, 2016: 50).
Metode Fault Tree Analysis (FTA) ini juga memungkinkan untuk menganalisa sistem yang memiliki banyak antarmuka dan interaksi dan karena analisis metode FTA merupakan kumpulan potongan jalur peristiwa pemicu atau penyebab terjadinya kejadian utama, jalur kegagalan yang sederhana dalam sebuah sistem yang kompleks dapat diidentifikasi secara langsung (SNI IEC/ISO 31010, 2016: 50).
Top Event T-1
Basic event R-1
Intermediate event E-1
Basic event R-2
Basic event R-3 G-2
G-1
Gambar 2.8. Contoh penggambaran sederhana fault tree (Stamatelatos, 2002: 3)
2.9.2. Tahapan Fault Tree Analysis
Untuk melakukan analisis dengan menggunakan Fault Tree Analysis (FTA), terdapat 3 tahapan, yaitu (Setyadi, 2013):
a. Mendefinisikan kecelakaan/kegagalan.
b. Mempelajari sistem melalui pemahaman terhadap spesifikasi peralatan, lingkungan kerja, dan prosedur operasi.
c. Mengembangkan pohon kegagalan.
Dalam proses membuat pohon kegagalan, diperlukan langkah-langkah sebagai berikut:
a. Menetapkan kejadian utama (top event)
b. Menentukan intermediate event tingkat pertama terhadap kejadian utama c. Menentukan hubungan intermediate event tingkat pertama terhadap
kejadian utama menggunakan gerbang logika (logic gate)
d. Menentukan hubungan intermediate event tingkat pertama terhadap intermediate event tingkat pertama menggunakan gerbang logika (logic gate) e. Melanjutkan sampai basic event
2.10. Failure Mode and Effect Analysis
Menurut SNI IEC/ISO 31010 (2016: 44), Failure Mode and Effect Analysis (FMEA) merupakan sebuah teknik yang dapat digunakan untuk mengidentifikasi cara dimana komponen, sistem, atau proses dapat gagal untuk memenuhi maksud dan tujuan rancangan yang dimaksud. FMEA mengidentifikasi potensi kegagalan atau mode kegagalan untuk meningkatkan keandalan dan keamanan sebuah proses.
Proyek konstruksi sangat erat dengan yang namanya proses konstruksi yang sistematis, oleh karena itu FMEA dapat digunakan mengidentifikasi risiko pada proyek konstruksi.
2.10.1. Tipe-tipe Failure Mode and Effect Analysis
Terdapat beberapa tipe FMEA yang akan dijelaskan sebagai berikut (Stamatis, 2003: 40)
a. System FMEA
System FMEA digunakan untuk menganalisa sistem dan subsistem dengan berfokus pada potensi kegagalan pada interaksi setiap elemen sistem.
b. Design FMEA
Design FMEA digunakan untuk menganalisa mode kegagalan pada sebuah desain sebelum dikirim untuk melalui proses manufaktur.
c. Process FMEA
Process FMEA digunakan untuk menganalisa mode kegagalan yang disebabkan kekurangan pada proses manufaktur.
d. Services FMEA
Process FMEA digunakan untuk menganalisa mode kegagalan pada sebuah layanan sebelum sampai ke pelanggan.
2.10.2. Tujuan Failure Mode and Effect Analysis
Beberapa tujuan penggunaan metode Failure Mode and Effect Analysis (FMEA) adalah sebagai berikut (SNI IEC/ISO 31010, 2016: 45):
a. untuk memberikan bantuan untuk menetapkan alternatif rencana yang memiliki ketergantungan yang tinggi,
b. untuk memastikan semua mode kegagalan dari sistem dan proses, serta akibat yang ditimbulkan untuk mendukung kesuskesan operasional,
c. untuk mengidentifikasi mode dan akibat kesalahan manusia,
d. untuk menyediakan dasar untuk merencanakan pengujian dan perbaikan sebuah sistem,
e. untuk memperbaiki rancangan proses dan prosedur,
f. untuk menyediakan informasi kualitatif atau kuantitatif untuk teknik analisis
2.10.3. Tahapan Failure Mode and Effect Analysis
Tahapan yang perlu dilakukan untuk menerapkan metode Failure Mode and Effect Analysis (FMEA) adalah sebagai berikut:
1. Menentukan proses yang memiliki potensi risiko
Seluruh proses yang terjadi di dalam proyek harus diidentifikasi secara rinci dan tujuan setiap proses harus jelas.
2. Mengidentifikasi mode kegagalan di dalam proses
Pada tahap ini dilakukan identifikasi terhadap mode kegagalan yang terjadi di sepanjang proses yang ditinjau.
3. Mengidentifikasi dampak dari setiap mode kegagalan
Setelah mengetahui mode kegagalan di dalam proses tersebut, maka selanjutnya perlu dilakukan identifikasi dampak kegagalannya.
4. Membuat kriteria tingkat keparahan (S/Severity), tingkat kemungkinan terjadi (O/Occurance), dan tingkat deteksi (D/Detectability)
Sebelum melakukan penilaian terhadap setiap parameter S, O, dan D, maka diperlukan sebuah kriteria pada masing-masing parameter. Parameter tersebut dapat disusun secara kualitatif yang kemudian ditafsirkan secara kuantitatif dengan skala peringkat numerik 1-10 atau 1-5, dengan catatan setiap parameter S, O, dan D harus memiliki skala yang sama.
5. Menentukan tingkat keparahan (S/Severity), tingkat kemungkinan terjadi (O/Occurance), dan tingkat deteksi (D/Detectability)
Pada tahap ini akan dinilai keseriusan dampak yang ditimbulkan oleh kegagalan yang terjadi (S), seberapa mungkin sebuah kegagalan dapat terjadi (O), dan kemampuan mengendalikan mode kegagalan tersebut (D).
6. Menghitung Risk Priority Number (RPN) dari setiap mode kegagalan Setelah mendapatkan nilai pada setiap peringkat parameter S, O, dan D, kemudian dilakukan perkalian untuk mendapatkan Risk Priority Number (RPN).
Nilai RPN yang tinggi memberikan indikasi bahwa sebuah proses mebutuhkan prioritas penanganan yang serius. Rumus yang digunakan untuk menghitung Risk Priority Number (RPN) adalah sebagai berikut.
RPN = severity x occurance x detectability (2.2) Keterangan:
RPN = Risk Priority Number (Angka prioritas sebuah risiko) Severity = Tingkat keparahan sebuah risiko
Occurance = Tingkat frekuensi sebuah risiko terjadi
Detectability = Tingkat kemampuan mendeteksi sebuah risiko
7. Mengurutkan prioritas penanganan berdasarkan Risk Priority Number (RPN) Pada tahap ini, Risk Priority Number (RPN) yang telah didapat pada tahap sebelumnya diurutkan untuk mendapatkan peringkat kekritisannya. Peringkat ini diperlukan untuk menentukan prioritas penanganan dan kendali untuk setiap potensi kegagalan.
8. Menentukan rekomendasi tindakan penanganan
Setelah mendapatkan peringkat prioritas penanganan, maka selanjutnya dilakukan penentuan tindakan penanganan yang akan dilakukan untuk mengurangi peringkat pada satu atau lebih parameter (S, O, dan D).
2.10.4. Potential Effect, Risk Cause, dan Current Control
Sebelum melakukan penilaian terhadap severity, occurance, dan detectability, dilakukan identifikasi terhadap potential effect, risk cause, dan current control terhadap setiap risiko yang telah teridentifikasi. Ketiga hal ini dapat menjadi indikator penilaian terhadap severity, occurance, dan detectability.
Identifikasi terhadap potential effect dilakukan sebagai indikator untuk mengetahui tingkat keseriusan dampak yang ditimbulkan (severity). Identifikasi terhadap risk cause dilakukan sebagai indikator untuk menilai seberapa sering
risiko terjadi. Kemudian identifikasi terhadap current control dilakukan sebagai indikator untuk mengukur kemampuan sebuah risiko dapat terdeteksi (detectability).
2.10.5. Severity, Occurance, dan Detectability 1. Severity
Severity merupakan sebuah parameter yang digunakan untuk menilai seberapa serius dampak yang ditimbulkan jika kegagalan terjadi. Severity menggunakan skala peringkat numerik seperti pada tabel berikut.
Tabel 2.1. Skala severity (Gaspersz, 2002)
Rating Kriteria
1 Negligible severity; pengaruh buruk yang dapat diabaikan
2 Mild severity; pengaruh buruk yang ringan, ditimbulkan hanya bersifat ringan
3
Moderate severity; pengaruh buruk kategori sedang, akan dirasakan berpengaruh pada proyek namun masih dalam batas toleransi dan dapat diselesaikan dalam waktu singkat
4 High severity; tingkat keparahan tinggi, mempengaruhi proses dengan waktu dan biaya diluar toleransi
5 Fatality; tingkatan yang menimbulkan bahaya dalam proses dan berpengaruh terhadap keselamatan proyek
2. Occurance
Occurance merupakan sebuah parameter yang digunakan untuk menilai seberapa sering kemungkinan suatu kegagalan dapat terjadi. Occurance menggunakan skala peringkat numerik seperti pada tabel berikut.
Tabel 2.2. Skala occurance (Gaspersz, 2002) Rating Berdasarkan Frekuensi Kejadian Degree
1 Tidak pernah terjadi Remote
2 Jarang terjadi Low
3 Kadang terjadi Moderate
4 Sering terjadi High
5 Sangat sering terjadi Very High
3. Detectability
Detectability merupakan sebuah parameter yang digunakan untuk menilai atau mengukur kemampuan mengendalikan mode kegagalan. Detectability menggunakan skala peringkat numerik seperti pada tabel berikut.
Tabel 2.3. Skala detectability (Gaspersz, 2002)
Rating
Berdasarkan Frekuensi
Kejadian
Degree
1 0,01 per 1000 item Metode pencegahan sangat efektif. Tidak ada kesempatan bagi penyebab untuk muncul 2 0,1 per 1000 item
0,5 per 1000 item Kemungkinan penyebab terjadi sangat rendah 3
1 per 1000 item 2 per 1000 item 5 per 1000 item
Kemungkinan penyebab terjadi bersifat moderat. Metode pencegahan masih memungkinkan penyebab untuk muncul 4 10 per 1000 item
20 per 1000 item
Kemungkinan penyebab terjadi tergolong tinggi. Metode pencegahan kurang efektif,
penyebab muncul berulang kali 5 50 per 1000 item
100 per 1000 item
Kemungkinan penyebab terjadi tergolong sangat tinggi. Metode pencegahan tidak efektif,
penyebab muncul berulang kali
2.11. Pemetaan risiko
Pemetaan risiko dapat menunjukkan tingkatan dari setiap risiko yang telah teridentifikasi dengan menggunakan dua aspek risiko, yaitu consequences (severity) dan likelihood (occurance). Matriks yang digunakan berbentuk 5x5 dengan kombinasi nilai severity dan occurance yang memberikan pengertian tingkatan risiko masing-masing.
Tingkatan risiko terdiri atas risiko rendah (low risk) berwarna hijau, risiko menengah (medium risk) berwarna kuning, dan risiko tinggi (high risk) berwarna merah. Pemetaan dilakukan untuk mengetahui tingkatan dari setiap risiko keterlambatan yang terjadi. Gambar berikut ini menunjukkan matriks yang dipakai sebagai pemetaan risiko berdasarkan consequences (severity) dan likelihood (occurance).
5
4
3
2
1
1 2 3 4 5
Gambar 2.9. Matriks pemetaan risiko
Untuk dapat menjelaskan penilaian dan hasil pemetaan risiko dengan baik, maka diperlukan pemahaman dari setiap indikator diatas. Tabel berikut akan menjelaskan definisi dari ketiga indikator pemetaan risiko (Thakur, 2015).
Tabel 2.4. Definisi indikator pemetaan risiko
Tingkatan risiko Definisi
High Risk
Merupakan risiko yang memerlukan penanganan yang secepatnya, sampai risiko tersebut dipastikan tidak berpengaruh terhadap aktivitas/kinerja
Medium Risk
Merupakan risiko yang memerlukan penanganan smart thinking dan logical planning serta tidak membutuhkan penanganan yang cepat
Low Risk
Merupakan risiko yang tidak memberikan pengaruh yang signifikan, tetapi akan lebih baik ditangani untuk performa aktivitas/kinerja yang lebih baik.
Tingkat keparahan risiko keterlambatan (severity)
Tingkat kemungkinan risiko keterlambatan terjadi (occurance)
BAB III
METODOLOGI PENELITIAN
3.1. Lokasi Penelitian
Gambar 3.1. Lokasi penelitian
Proyek pembangunan Bendungan Lau Simeme secara administrasi berada di Kabupaten Deli Serdang, tepatnya berada di Desa Kuala Dekah, Desa Rumah Gerat, Desa Sari Laba Jahe, dan Desa Penen dengan sumber material/quarry berada di Desa Mardinding Julu. Letak proyek secara geografis berada diantara 03°19'14"- 03°21'12" Lintang Utara dan 98°37'35"-98°39'08" Bujur Timur.
3.2. Tinjauan Proyek 3.2.1. Data Proyek
1. Nama Proyek : Proyek Pembangunan Bendungan Lau Simeme Paket – I
2. Alamat Proyek : Kecamatan Sibiru-biru, Kabupaten Deli Serdang 3. Nilai Kontrak : Rp. 582.072.480.000
4. Penyedia Jasa : PT. WIKA-BUMI KARSA, KSO
3.2.2. Waktu Pelaksanaan Proyek
Sesuai dengan time schedule yang telah ditetapkan, pekerjaan proyek konstruksi berlangsung sejak tahun 2018 sampai dengan tahun 2022, yaitu selama 1.567 hari kalender.
3.3. Metode Penelitian 3.3.1. Sumber Data Penelitian
Penelitian ini menggunakan dua sumber data, yaitu data primer dan data sekunder.
a. Data Primer
Data primer merupakan data yang didapatkan langsung dari objek penelitian.
Data primer pada penelitian ini didapatkan dari suvery opini berupa kuesioner yang diisi oleh para pihak yang berkaitan langsung dengan proyek Bendungan Lau Simeme Paket-I
b. Data Sekunder
Data sekunder merupakan data yang bersumber dari dokumen proyek yang sedang dikerjakan, seperti Rencana Anggaran Biaya (RAB), Analisa Harga Satuan Pekerjaan (AHSP), Time Schedule, dan laporan mingguan proyek.
3.3.2. Prosedur Penelitian
Penenlitian ini menggunakan metode Fault Tree Analysis (FTA) dan Failure Mode and Effect Analysis (FMEA). Adapun diagram alir penelitian ini dapat dilihat pada gambar di bawah ini.
Mulai
Identifikasi dan Perumusan Masalah
Studi Literatur terkait
Melakukan pengumpulan data
Data Sekunder:
- RAB dan AHS - Kurva S
- Laporan Mingguan Data Primer:
- Survei lapangan - Wawancara - Kuesioner
Mengidentifikasi potensi risiko dengan metode Fault Tree Analysis (FTA)
Menggambar konstruksi Fault Tree Analysis (FTA)
Melakukan penilaian risiko dengan metode Failure Mode and Effect Analysis
Menentukan nilai severity, occurance, dan detectability
Menentukan nilai Risk Priority Number (RPN)
Selesai
Kesimpulan dan Saran
Melakukan pemeringkatan dan pemetaan risiko
Gambar 3.2. Diagram alir penelitian