--.--Pikiran
Rakyat
o
Senin
12317
(9
19
OJan
8Peb
o Selasa 0 Rabu . Kamis 0 Jumat
4
5
6
7
8
9
10
11
20
21
22
23
24
25
26
o
Mar OApr
OMel
OJun
OJul
0 Ags
o Sabtu 0 Minggu
12
13
14
15
16
27
28
29
30
31
OSep
OOId
ONov
ODes
Jika Kepala Daerah
- '-'-" ~Dipilih DPRD
~- ~Oleh SUHARIZAL
D
ALAM waktu dekat,Kementerian Dalam Negeri segera menye--rahkan tiga rancangan undang-undang (RUU) menyangkut pe-merintahan daerah ke DPR un-tuk dibahasn bersama. Salah sa-tunya ROO tentang Pemilihan Kepala Daerah dan Waki! Kepa-la daerah (Pemilukada). Isu kru-sial yang banyak mendapat so-roton publik menyangkut pemi-lihan gubernur yang tidak lagi dipilih secara langsung, tetapi kembali dipilih DPRD.
Biaya pemilihan gubernur yang sangat mahal menjadi sa-lah satu pertimbangan. Provin-si Sumatra Utara dan Jawa Ti-mur misalnya, menghabiskan anggaran hampir Rp 1 triliun. Padahal APBD mereka masing-masing Rp 2,7 triliun dan Rp 5,9 triliun. Di luar biaya resmi tefie--but, diyakini para kandidat menghamburkan dana ratusan miliar bahkan triliunan rupiah. Sementara gaji yang diterima gubernur setiap bulan hanya Rp 8,7 juta. Posisi gubernur sebagai wakil pemerintah pusat di dae-rah dan kewenangan gubernur yang terbatas dibandingkan de--ngan kewenade--ngan yang dimiliki bupati atau wali kota, menjadi
alasan pembenar bagi Kemente--rian Dalam Negeri untuk me-ngembalikan pemilihan guber-nur ke DPRD.
Alasan keliru Pemilukada langsung tidak dengan sendirinya menjamin peningkatan kualitas demokrasi, tetapi jelas membuka akses ter-b,adap peningkatan kualitas de--mokrasi tersebut. Melalui pemi-lukada langsung, rakyat memi-liki kesempatan leb~ luas untuk menentukan pasangan pemim-pin eksekutif sesuai dengan yang dikehendaki. Harapan ter-besar tentunya pemimpin yang terpilih mampu menjalankan fungsi dan perannya dalam me--ningkatkan pertumbuhan de--mokrasi danjalannya pemerin-tahan di daerah.
Pada titik inilah pemilukada langsung menjadi pilihan strate--gis dibandingkan dengan pemi-lukada tak langsung melalui DPRD. Apalagi bila kita telaah lebihjauh salah satu raison d'et-re pemilukada langsung adalah tercipta tata cara dan mekanis-me yang sarna antara pemilihan presiden dan wakil presiden dan tata earn dan mekanisme pemi-lukada langsung.
DaUh pemilihan gubernur langsung amat mahal tidak cu-kup kuat untuk mengembalikan pemilihan gubernur ke DPRD. Mahalnya pemilukada sesung-guhnya karena dianggap sebagai pesta akbar dan harus dibiayai secara khusus. Mulai dari pen-daftaran ulang yang sering tidak valid, pengadaan barang danja-sa untuk pencoblodanja-san yang ber-ulang, sampai kampanye joIjo-ran. Pemilukada adalah "projek besar" yang harus dibiayai ang-garan besar pula. Akibatnya, in-efisiensi teIjadi dalam paradig-ma projek pemilukada.
penggabungan pemilukada adalah solusi yang bisa dikem-bangkan untuk mengatasi pro-blem anggaran. Penggabungan bisa satu provinsi atau bahkan penggabungan secara nasional. Pemilukada yang berlangsung serentak lebih efisien dari segi waktu, biaya, dan dampak sosial politiknya. Ke depan, hanya ada tiga hari pemilu, yaitu pemilu presiden, pemilu legislatif, dan pemilukada.
Menyangkut posisi gubernur memang amat dilematis. Di satu sisi, gubenur melaksanakan urusan desentralisasi yang men-jadi domain fungsinya sebagai daerah otonom dan fungsi pela-yanan di provinsi (concurrent
system), pada sisi lain
gungjawab atas urusan dekon-sentrasi dalam kedudukannya selaku wilayah administratif yang menjadi kepanjangan ta-ngan pemenntah pusat di dae-rah. Gubernur yang tetap men-jalankan fungsi pelayanan (wa-laupun terbatas), tetap membu-tuhkan legitimasi yang kuat. Pe-milukada langsung adalah pilih-an ypilih-ang tidak bisa ditawar guna memperoleh legitimasi tersebut Bila tetap memaksakan pemilih-an gubernur tidak secara lpemilih-ang- lang-sung, menghapus pemerintahan di tingkat provinsi (termasuk DPRD provinsi) adalah pilihan yang harns ditempuh.
Jika gubernur dipillh DPRD tanpa melakukan perubahan mendasar atas arsitektur pem-bagian kewenangan pusat-dae-rah, status provinsi, dan kedu-dukan gubernur, baik dalam hierarki pemerintahan ataupun dalam konteks otonomi daerah, akan memunculkan persoalan lain yang amat senus.
Pertama, dapat dipastikan bu-pati dan wali kota semakin soot "dikontrol" gubernur. Konflik kepentingan provinsi dengan kabupatenfkota semakin terbu-ka lebar dan sulit dihindari terbu- kare-na dualisme penyelenggaraan fungsi desentralisasi. Kepala daerah membutuhkan legitima-si tersendiri sehingga harns
dipi-lib sendiri oleh rakyat.
Kedua, tidak ada jaminan po-litik uang dan popo-litik dagang sa-pi di DPRD akan dapat diben-dung atau diminimalisasi. Tentu saja anggaran pemilukada, kllU-susnya yang akan dikeluarkan calon akan menjadi pemicu si-kap koruptif gubernur terpilih. Soot berharap paradigma kepe-mimpinan daerah berubah menjadi semakin demokratis, peka terhadap persoalan rakyat, partisipatif dalam pengambilan kebijakan, transparan dalam anggaran, dan akuntabel dalam tugas dan kewajiban.
. Ketiga, dualisme sistem pemi-lukada, merancukan sistem litik di tingkat daerah. Partai po-litik sebagai elemen terpenting semakin terpiriggirkan.
Di luar itu, sistem demokrasi perwakilan lebih banyak mek
- .
takkan kuasa untuk menentu-kan rekruitmen politik di tangan segelintir orang di DPRD (oli-garki). Sistem ini jelas akan menutup ruang partisipasi bagi warga dalam proses demokrasi dan menentukan kepemimpin-an politik di tingkat lokal. Ini je-}assuatu kemunduran besar dan penzaliman atas cita-cita refor-masi. ***
---='"'
~
---
-
-
--..