TINJAUAN SISTEMATIS ANTIHIPERURISEMIA EKSTRAK TUMBUHAN INDONESIA PADA TIKUS DAN MENCIT SKRIPSI OLEH : ALDI FAREZI NIM

101  Download (0)

Full text

(1)

TINJAUAN SISTEMATIS ANTIHIPERURISEMIA EKSTRAK TUMBUHAN INDONESIA PADA TIKUS DAN MENCIT

SKRIPSI

OLEH : ALDI FAREZI NIM 171501005

PROGRAM STUDI SARJANA FARMASI FAKULTAS FARMASI

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN

2021

(2)

TINJAUAN SISTEMATIS ANTIHIPERURISEMIA EKSTRAK TUMBUHAN INDONESIA PADA TIKUS DAN MENCIT

SKRIPSI

Diajukan sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Farmasi pada Fakultas Farmasi Universitas Sumatera Utara

OLEH : ALDI FAREZI NIM 171501005

PROGRAM STUDI SARJANA FARMASI FAKULTAS FARMASI

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN

2021

(3)

PENGESAHAN SKRIPSI

TINJAUAN SISTEMATIS ANTIHIPERURISEMIA EKSTRAK TUMBUHAN INDONESIA PADA TIKUS DAN MENCIT

OLEH:

ALDI FAREZI NIM 171501005

Dipertahankan di Hadapan Penguji Skripsi Fakultas Farmasi Universitas Sumatera Utara pada Tanggal: 26 Juli 2021

Disetujui oleh: Panitia Penguji:

Pembimbing,

Prof. Dra. Azizah Nasution, M.Sc., Apt., Ph.D. Prof. Dr. Urip Harahap, Apt.

NIP 195503121983032001 NIP 195301011983031004

Prof. Dra. Azizah Nasution, M.Sc., Apt., Ph.D.

Ketua Program Studi Sarjana Farmasi, NIP 195503121983032001

Dr. Sumaiyah, S.Si., M.Si., Apt. Dadang Irfan Husori, S.Si., M.Si., Apt.

NIP 197712262008122002 NIP 198204112012121001

Medan, 26 Juli 2021 Disahkan oleh:

Dekan,

Khairunnisa, S.Si., M.Pharm., Ph.D., Apt.

NIP 197802152008122001

(4)

KATA PENGANTAR

Dengan mengucapkan Alhamdulillah segala puji dan syukur penulis ucapkan kehadirat Allah SWT yang telah memberikan rahmat, karunia, hidayah, dan ridha-Nya sehingga penulis dapat menjalani penelitian dan menyelesaikan skripsi yang berjudul “Tinjauan Sistematis Antihiperurisemia Ekstrak Tumbuhan Indonesia Pada Tikus dan Mencit”. Skripsi ini diajukan untuk memenuhi salah satu syarat dalam memperoleh gelar Sarjana Farmasi pada Fakultas Farmasi Universitas Sumatera Utara.

Selama penulisan skripsi ini tentunya penulis telah mendapatkan bantuan dari berbagai pihak yang telah mendukung dan membimbing penulis. Maka, pada kesempatan ini penulis menyampaikan ucapan terima kasih kepada Dekan Fakultas Farmasi Universitas Sumatera Utara Periode 2016-2021, Prof. Dr. Masfria, M.S., Apt. yang telah memberikan bantuan dan fasilitas di Fakultas Farmasi selama masa pendidikan. Kepada Dekan Fakultas Farmasi Universitas Sumatera Utara periode 2021-2026, ibu Khairunnisa, S.Si., M.Pharm., Ph.D., Apt. yang telah mengesahkan skripsi ini. Kepada Prof. Dra. Azizah Nasution, M.Sc., Apt., Ph.D. selaku dosen pembimbing yang telah meluangkan waktunya untuk membimbing dengan penuh kesabaran, tulus dan ikhlas selama masa penelitian serta selalu memberikan masukan hingga selesainya penulisan skripsi ini. Kepada Prof. Dr. Urip Harahap, Apt. dan bapak Dadang Irfan Husori, S.Si., M.Si., Apt. selaku dosen penguji yang telah memberikan kritik dan saran yang membangun untuk menyempurnakan skripsi ini. Kepada Prof. Dr. Siti Morin Sinaga, M.Sc., Apt. selaku dosen penasihat akademik yang telah memberikan bimbingan selama masa perkuliahan penulis.

Penulis juga berterima kasih kepada seluruh dosen, staf pengajar, serta civitas

(5)

akademika khususnya di Fakultas Farmasi Univeristas Sumatera Utara yang telah mendidik, memberikan ilmu dan telah berjasa bagi penulis pada masa perkuliahan berlangsung.

Selanjutnya, penulis juga memberikan ungkapan terima kasih yang tidak terhingga dan penghargaan yang tulus kepada ibunda Wan Fauziah, ayahanda Suparno dan kakanda Rini Paramitha, S.T. yang selalu memberikan doa, pengorbanan, nasihat, kasih sayang, serta dorongan moril dan materil kepada penulis sampai saat ini. Kepada rekan penelitian, Almira Zain, Rifqah Mawaddah, dan Fairuz Salsabila. Kepada sahabat yang selalu mendengarkan keluh kesah dan memberikan motivasi kepada penulis, Sartika Ramadhayani, Siti Rabila Sari Harahap, Farhan Zadun Raunaki Siregar, dan Muhammad Iqbal. Kepada sahabat terdekat, Dhifa A.W., Nela A., Rini A., Haliza H.P., Rodhina P., Mega D., Nurul H., dan Aisyah R.N. serta seluruh teman-teman dekat dan seluruh teman-teman yang selalu memberikan semangat, doa dan dukungan yang tidak dapat disebutkan satu persatu, khususnya teman-teman stambuk 2017 Fakultas Farmasi USU, UKMI Ath-Thibb, PEMA Fakultas Farmasi USU, dan rekan-rekan asisten Laboratorium Teknologi Sediaan Non Steril II.

Penulis menyadari bahwa skripsi ini masih jauh dari sempurna, oleh karena itu penulis meminta maaf atas kekhilafan yang terdapat dalam penulisan skripsi ini.

Penulis juga berharap skripsi ini dapat bermanfaat sebagai referensi pengetahuan khususnya dalam bidang farmasi.

Medan, 26 Juli 2021 Penulis,

Aldi Farezi NIM 17150100

(6)
(7)

TINJAUAN SISTEMATIS ANTIHIPERURISEMIA EKSTRAK TUMBUHAN INDONESIA PADA TIKUS DAN MENCIT

ABSTRAK

Latar Belakang: Hiperurisemia masih merupakan masalah kesehatan global.

Terapi hiperurisemia menggunakan obat sintesis seperti allopurinol memiliki berbagai efek samping. Hasil penelitian ekstrak tumbuhan sebagai antihiperurisemia dengan dosis yang bervariasi telah banyak dilakukan, tetapi sulit untuk mengambil kesimpulan dari banyaknya penelitian tersebut dan perlu dilakukan tinjauan sistematis.

Tujuan: Untuk mengetahui ekstrak tumbuhan yang berkhasiat sebagai antihiperurisemia berdasarkan variasi dosis, efektivitas dan efisiensi.

Metode: Penelitian ini merupakan tinjauan sistematis kualitatif menggunakan metode Preferred Reporting Items for Systematic Reviews and Meta-analyses (PRISMA), dengan memformulasi pertanyaan penelitian, menetapkan database dan kata kunci, menyeleksi artikel yang relevan berdasarkan kriteria inklusi, mengekstraksi data, dan mensintesis hasil penelitian ekstrak tumbuhan yang memiliki aktivitas antihiperurisemia dalam menurunkan kadar asam urat (KAU) pada tikus dan mencit yang diinduksi dengan berbagai penginduksi.

Hasil: Jumlah artikel yang memenuhi kriteria inklusi penelitian diperoleh sebanyak 16 dari 317 artikel yang diakses. Ekstrak dengan nilai penurunan KAU yang dianalisis dari yang tertinggi (dalam %): daun mahkota dewa, 70,75; daun kelor, 65,69; herba suruhan, 63,56; rimpang temu putih, 60,17; buah naga putih, 59,88;

daun hijau pucuk merah, 55,04; herba anting-anting, 53,41; rimpang temu lawak, 43,38; daun cocor bebek, 42,46; daun pegagan, 40,00; daun binahong, 37,58; biji alpukat, 34,36; tumbuhan jelatang, 24,15; daun bambu tali 21,83; buah andaliman, 18,55; daun murbei, 12,26.

Kesimpulan: Ekstrak etanol (EE) daun mahkota dewa dan EE daun kelor merupakan ekstrak tumbuhan yang efektif berdasarkan efektivitas dan kemudahan pemanenan.

Kata kunci: tinjauan sistematis, ekstrak tumbuhan, antihiperurisemia, kadar asam urat

(8)

SYSTEMATIC REVIEW OF ANTIHYPERURICEMIC OF INDONESIAN PLANT EXTRACTS IN RATS AND MICE

ABSTRACT

Background: Hyperuricemia remains as a global health issue. Synthetic medications like allopurinol, which are used to treat hyperuricemia, have a variety of negative effects. Plant extracts as antihyperuricemia have been studied at various doses, but it is difficult to draw conclusions from so many trials, thus a systematic review is needed.

Objectives: The purpose of this study was to investigate which plant extracts are effective as antihyperuricemia agents based on dosage variations, effectiveness and efficiency.

Method: This research is a qualitative systematic review using the Preferred Reporting Items for Systematic Reviews and Meta-analysis (PRISMA) method, by formulating research questions, setting da tabases and keywords, selecting relevant articles based on inclusion criteria, extracting data, synthesizing research results from plant extracts which has antihyperuricemic activity to decrease uric acid levels (UAL) in rats and mice induced with various inducers.

Results: The number of papers that satisfied the inclusion criteria was obtained as many as 16 out of 317 articles accessed. Extracts with decreasing UAL values were examined from the highest (in %): Phaleria leaves, 70.75; Moringa leaves, 65.69;

Peperomia herbs, 63.56; zedoaria rhizome, 60.17; white dragon fruit, 59.88; green leaves of oleana, 55.04; acalypha herbs, 53.41; zanthorrhiza herbs, 43.38; pinnatum leaves, 42.46; centella leaves, 40.00; cordifolia leaves, 37.58; avocado seeds, 34.36;

urtica plants, 24.15; gigantochloa leaves, 21.83; zanthoxylum fruits, 18.55; morus leaves, 12.26.

Conclusion: Ethanol Extract (EE) of Phaleria leaves and EE of Moringa leaves are effective plant extracts based on their effectiveness and ease of harvesting.

Keywords: systematic review, plant extracts, antihyperuricemia, uric acid levels

(9)

DAFTAR ISI

HALAMAN SAMPUL ... i

HALAMAN JUDUL ... ii

LEMBAR PENGESAHAN ... iii

KATA PENGANTAR ... iv

LEMBAR PERSYARATAN ORISINALITAS ... vi

ABSTRAK ... viii

ABSTRACT ... ix

DAFTAR ISI ... x

DAFTAR TABEL ... xii

DAFTAR GAMBAR ... xiii

DAFTAR LAMPIRAN ... xiv

BAB I PENDAHULUAN ... 1

1.1 Latar Belakang ... 1

1.2 Perumusan Masalah ... 4

1.3 Tujuan Penelitian ... 4

1.4 Manfaat Penelitian ... 5

BAB II TINJAUAN PUSTAKA ... 6

2.1 Asam Urat ... 6

2.1.1 Definisi Asam Urat ... 6

2.1.2 Metabolisme Purin Menjadi Asam Urat ... 7

2.2 Penyakit Asam Urat ... 8

2.2.1 Etiologi Penyakit Asam Urat ... 8

2.2.2 Tahap-Tahap Penyakit Asam Urat ... 9

2.2.3 Faktor Risiko Gout ... 11

2.2.4 Penegakan Diagnosis Penyakit Gout ... 12

2.2.5 Terapi Gout ... 12

2.3 Ekstrak Tumbuhan ... 14

2.4 Systematic Review ... 15

2.4.1 Definisi Systematic Review ... 15

2.4.2 Tujuan Systematic Review ... 16

2.4.3 Manfaat Systematic Review ... 17

2.5 Pembagian Systematic Review ... 18

2.6 Metode Pelaksanaan Systematic Review ... 19

2.7 Tahapan Systematic Review ... 20

2.7.1 Formulasi Pertanyaan Penelitian ... 20

2.7.2 Pengembangan Protokol ... 21

2.7.3 Penetapan Sumber Database ... 21

2.7.4 Seleksi Hasil Studi ... 21

2.7.5 Ekstraksi Data ... 21

2.7.6 Sintesis Hasil Data Penelitian ... 22

2.7.7 Penyajian Hasil... 22

BAB III METODOLOGI PENELITIAN... 23

3.1 Jenis Penelitian ... 23

(10)

3.2 Identifikasi Pertanyaan Penelitian ... 23

3.3 Pencarian Literatur ... 24

3.3.1 Penetapan Sumber Database ... 24

3.3.2 Penetapan Kata Kunci ... 24

3.4 Penyeleksian Artikel yang Relevan ... 24

3.5 Pemilihan Artikel Penelitian yang Berkualitas ... 24

3.5.1 Kriteria Inklusi ... 24

3.5.2 Kriteria Eksklusi... 25

3.6 Ekstraksi Data ... 25

3.7 Sintesis Hasil ... 27

3.8 Penyajian Hasil... 27

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN ... 28

4.1 Hasil Pencarian Artikel ... 28

4.2 Hasil Ekstraksi Artikel ... 29

4.3 Ekstrak Tumbuhan yang Dapat Menurunkan KAU Darah Pada Hewan Percobaan Berdasarkan Variasi Dosis ... 30

4.4 Ekstrak Tumbuhan yang Dapat Menurunkan KAU Darah Pada Hewan Percobaan Berdasarkan Efektivitas dan Waktu Panen... 37

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN ... 44

5.1 Kesimpulan ... 44

5.2 Saran ... 44

DAFTAR PUSTAKA ... 45

(11)

DAFTAR TABEL

2.1 Tahapan Penelitian Systematic Review ... 20 4.1 Ekstrak Tumbuhan dengan Efek Antihiperurisemia Pada Hewan

Percobaan Tikus Putih Berdasarkan Variasi Dosis ... 30 4.2 Ekstrak Tumbuhan dengan Efek Antihiperurisemia Pada Hewan

Percobaan Mencit Putih Berdasarkan Variasi Dosis ... 31 4.3 Ekstrak Tumbuhan dengan Efek Antihiperurisemia Pada Hewan

Percobaan Berdasarkan Efektivitas ... 38 4.4 Ekstrak Tumbuhan yang Dapat Menurunkan KAU pada

Hewan Percobaan berdasarkan Waktu Panen ... 40

(12)

DAFTAR GAMBAR

2.1 Rumus Bangun Asam Urat... 6 2.2 Metabolisme Purin Menjadi Asam Urat ... 8 3.1 Alur PRISMA Penelitian ... 26

(13)

DAFTAR LAMPIRAN

1. Database yang Digunakan dalam Pencarian Artikel ... 48

2. Pencarian Artikel Melalui Alur PRISMA ... 49

3. Artikel yang Memenuhi Kriteria Inklusi ... 50

4. Hasil Ekstraksi Data ... 66

5. Pucuk Merah (Syzygium Myrtifolium Walp.) ... 73

6. Jelatang (Urtica dioca L.) ... 74

7. Suruhan (Peperomia pellucida L. Kunth) ... 75

8. Andaliman (Zanthoxylum acanthopodium DC.) ... 76

9. Mahkota Dewa (Phaleria macrocarpa) Scheff. Boerl.) ... 77

10. Kelor (Moringa oleifera L.) ... 78

11. Temu Lawak (Curcuma xanthorrhiza Roxb.) ... 79

12. Bambu Tali (Gigantochloa apus)... 80

13. Binahong (Anredera cordifolia (Ten) Steenis) ... 81

14. Murbei (Morus alba L.) ... 82

15. Naga Putih (Hylocereus undatus) ... 83

16. Anting-Anting (Acalypha indica Linn.) ... 84

17. Pegagan (Cantella asiatica (L.) Urb.) ... 85

18. Alpukat (Persea americana Mill.) ... 86

19. Rimpang Temu Putih (Curcuma zedoaria) ... 87

20. Cocor Bebek (Bryophyllum pinnatum) ... 88

(14)

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

Penyakit asam urat merupakan salah satu penyakit yang sering dialami oleh masyarakat Indonesia. Penyakit ini dapat menyebabkan gejala nyeri, pembengkakan, dan rasa panas pada persendian. Bagian sendi yang paling sering terserang adalah sendi jari tangan, pergelangan tangan, lutut, pergelangan kaki, dan jari kaki (Anies, 2018).

Penyakit asam urat terjadi karena adanya peningkatan KAU yang lebih tinggi daripada kadar normal di dalam darah (overproduction) dan ginjal tidak mampu mengeluarkan asam urat dalam jumlah yang lebih besar dari dalam tubuh (underexcretion). Kondisi meningkatnya asam urat melebihi kadar normal dalam darah ini dinamakan hiperurisemia. Kondisi hiperurisemia dikatakan apabila konsentrasi serum asam urat dalam darah untuk pria sebesar >7 mg/dL dan untuk wanita >6 mg/dL (Ernest dkk., 2008).

Berdasarkan hasil dari Riskesdas tahun 2018, prevalensi penyakit yang terjadi di daerah persendian berdasarkan diagnosis dokter di Indonesia adalah sebesar 7,3% dengan prevalensi tertinggi yaitu berada di Aceh dengan 13,3% dan terendah yaitu di Sulawesi Barat 3,2%. Prevalensi penderita asam urat berdasarkan umur yaitu: umur 15-24 tahun dengan diagnosis yaitu 1,2%, umur 25-34 tahun dengan diagnosis yaitu 3,1% dan umur 35-44 tahun dengan berdasarkan diagnosis yaitu 6,3%, umur 45-54 tahun berdasarkan diagnosis yaitu 11,1%, umur 55-64 tahun berdasarkan diagnosis yaitu 15,5%, umur 65-74 tahun berdasarkan diagnosis yaitu 18,6% dan umur 75 tahun atau lebih yaitu mencapai 18,9% (Kementerian Kesehatan RI, 2018).

(15)

Masyarakat yang tinggal di pedesaan memiliki diagnosis prevalensi penyakit asam urat lebih besar yaitu 7,8% dibandingkan dengan masyarakat yang tinggal di perkotaan dengan diagnosis 6,9%. Penyakit asam urat lebih banyak diderita oleh perempuan yaitu berdasarkan diagnosis 8,5% dibandingkan dengan laki-laki yaitu berdasarkan diagnosis 6,1%. Ini disebabkan oleh pada wanita yang usianya memasuki masa menoupause hormon esterogen wanita mengalami penurunan sehingga tidak dapat dengan optimal mengekresi asam urat dalam tubuh (Kementerian Kesehatan RI, 2018).

Dari waktu ke waktu jumlah penderita asam urat cenderung meningkat.

Penyakit asam urat yang juga dikenal dengan gout merupakan perkembangan dari kondisi hiperurisemia yang dapat ditemukan di seluruh dunia dan pada semua ras manusia. Prevalensi asam urat semakin cenderung memasuki usia muda yaitu usia produktif yang akhirnya dapat berdampak pada penurunan produktivitas kerja (Jaliana dkk., 2018).

Usaha untuk menurunkan KAU dalam darah dapat dilakukan dengan mengurangi produksi asam urat atau dengan meningkatkan ekskresi asam urat oleh ginjal (Price dan Wilson, 2006). Umumnya untuk mengatasi penyakit asam urat dapat digunakan obat sintesis seperti allopurinol. Allopurinol merupakan obat yang bekerja dengan menghambat pembentukan asam urat melalui penghambatan aktivitas enzim xantin oxidase. Namun, obat ini memiliki efek samping seperti sakit kepala, demam, diare dan reaksi hipersensitivitas (Sanders, 2004). Efek samping lain yang juga dapat merugikan yaitu gangguan pada gastrointestinal, neuritis perifer, toksisitas hati dan reaksi alergi pada kulit (Katzung, 2002).

Berbagai penelitian eksperimental telah dilakukan untuk mencari alternatif pengobatan penyakit asam urat untuk menghindari efek samping yang dapat

(16)

ditimbulkan oleh obat-obat sintesis. Salah satunya adalah dengan memanfaatkan tumbuhan obat yang mempunyai efek terhadap penurunan KAU. Dari berbagai penelitian eksperimental tersebut juga telah didapatkan hasil efektivitas yang bervariasi dari dosis dan ekstrak tumbuhan yang juga bervariasi. Namun terlalu banyaknya pilihan tumbuhan yang dapat dikembangkan untuk hilirisasi, hasil penelitian tersebut masih belum dimanfaatkan di bidang kesehatan.

Dalam menentukan ekstrak tumbuhan yang efektif dan efisien untuk dikembangkan sebagai fitofarmaka antihiperurisemia baru, juga diperlukan beberapa aspek yang perlu dipertimbangkan, antara lain: efektivitas ekstrak tumbuhan dalam menurunkan KAU pada percobaan, bagian tumbuhan yang digunakan, kemudahan dalam membudidaya tumbuhan, serta lamanya waktu panen untuk memperoleh bagian tumbuhan yang dibutuhkan tersebut.

World Health Organization, WHO (2004) mengungkapkan bahwa kurangnya pemanfaatan hasil penelitian oleh penentu kebijakan merupakan salah satu permasalahan dalam penelitian kesehatan. Permasalahan tersebut tidak hanya terjadi di negara berkembang tetapi juga di negara maju. Pemanfaaatan hasil penelitian akan memerlukan ketersediaan sumber informasi yang valid dan komprehensif serta dirangkum dalam format yang mudah dipahami oleh penentu kebijakan. Salah satu metode yang dianjurkan oleh WHO dalam menyajikan sumber informasi berdasarkan bukti kepada penentu kebijakan adalah dengan metode systematic review (Siswanto, 2010).

Maka dari latar belakang tersebut, peneliti tertarik untuk melakukan penelitian tinjauan sistematis yang bertujuan untuk menyajikan fakta berupa sumber informasi dari berbagai ekstrak tumbuhan yang terbukti mempunyai manfaat sebagai antihiperurisemia yang dirangkum dari berbagai penelitian

(17)

eksperimental yang telah dipublikasikan dari tahun 2011-2020. Penelitian tinjauan sistematis ini juga bertujuan untuk mengetahui ekstrak tumbuhan yang berpotensi untuk dikembangkan sebagai fitofarmaka antihiperurisemia yang ditinjau dari aspek efektivitas dan efisiensi, yang diharapkan hasil penelitian ini dapat dimanfaatkan sebagai masukan bagi penentu kebijakan maupun langkah-langkah penelitian berikutnya.

1.2 Perumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang di atas, maka perumusan masalah pada penelitian ini adalah:

a. Apa saja jenis ekstrak tumbuhan yang telah diteliti sebagai antihiperurisemia berdasarkan variasi dosis ?

b. Apa saja ekstrak tumbuhan yang paling efektif dan efisien sebagai antihiperurisemia ?

1.3 Tujuan Penelitian

Berdasarkan rumusan masalah di atas, maka tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui:

a. Jenis ekstrak tumbuhan yang dapat dimanfaatkan sebagai antihiperurisemia berdasarkan aspek variasi dosis.

b. Ekstrak tumbuhan yang paling efektif dan efisien sebagai antihiperurisemia.

(18)

1.4 Manfaat Penelitian

Berdasarkan tujuan penelitian di atas, maka manfaat penulisan skripsi ini adalah:

a. Bagi penulis, memberikan penjelasan dan pemahaman tentang penelitian metode tinjauan sistematis yang berkaitan dengan penelitian klinis.

b. Bagi dunia kesehatan, diharapkan dapat memberikan kontribusi sebagai sumber bukti dalam mengembangkan fitofarmaka antihiperurisemia baru dengan bahan dasar ekstrak tumbuhan.

c. Bagi fakultas, dapat dijadikan sebagai tambahan referensi bagi para pembaca atau akademisi dari Fakultas Farmasi ataupun Fakultas lainnya yang ingin mencari sumber referensi ekstrak tumbuhan yang berkhasiat sebagai antihiperurisemia maupun penerapan metode penelitian tinjauan sistematis (systematic review).

(19)

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Asam Urat

2.1.1 Definisi Asam Urat

Asam urat adalah senyawa asam berbentuk kristal yang sukar larut di dalam air dan merupakan hasil akhir dari metabolisme purin (bentuk turunan nukleoprotein). Purin merupakan salah satu komponen asam nukleat yang terdapat pada inti sel. Secara alamiah, purin terdapat di dalam tubuh dan dapat ditemukan pada semua makanan yang bersumber dari makhluk hidup, seperti makanan dari tumbuhan berupa kacang-kacangan, sayuran, dan buah. Purin juga ditemukan pada makanan yang bersumber dari hewan seperti jeroan, daging, dan ikan sarden.

(Suiraoka, 2017). Rumus bangun asam urat dapat dilihat pada Gambar 2.1.

Gambar 2.1 Rumus bangun asam urat (Murray dkk., 2003)

Kadar serum asam urat normal pada laki-laki adalah 5,1 ± 1.0 mg/dl dan pada perempuan adalah 4,0 ± 1.0 mg/dl. KAU dapat mencapai 9-10 mg/dl pada seseorang yang mengalami gout (Price dan Wilson, 2005). KAU normal pada tikus adalah 1,7-3,0 mg/dl, dan tikus dikatakan hiperurisemia jika kadar asam uratnya diatas 3,0 (Anandagiri dkk., 2014). Manusia memiliki KAU yang lebih tinggi dari hewan mamalia lain karena manusia tidak memiliki enzim urikinase, yaitu enzim yang dapat menguraikan asam urat menjadi senyawa alotinin yang mudah larut (Katzung dkk., 2002).

(20)

Asam urat di dalam tubuh biasanya akan dibuang melalui ginjal dalam bentuk urine dan sebagian kecil lainnya dibuang melalui saluran pencernaan dalam bentuk tinja. Pada keadaan normal, jumlah asam urat yang terakumulasi di dalam darah kurang lebih 1200 mg pada laki-laki dan 600 mg pada perempuan. Jumlah akumulasi ini meningkat beberapa kali lipat pada penderita gout. Akumulasi berlebih ini dapat berasal dari produksi asam urat yang meningkat atau ekskresi yang menurun (Schwinghammer, 2008).

Apabila asam urat yang dibuang dari tubuh jauh lebih sedikit dari jumlah yang diproduksi, asam urat akan menumpuk dan membentuk kristal-kristal tajam natrium urat berukuran mikro yang bermuara di dalam sendi atau di sekeliling jaringan sendi. Ketika kristal-kristal tajam tersebut masuk ke ruang persendian dan mengganggu lapisan lunak sendi, terjadilah peradangan yang akan terasa sangat sakit (Anies, 2018).

2.1.2 Metabolisme Purin Menjadi Asam Urat

Purin adalah molekul berupa nukleotida yang terdapat di dalam sel.

Nukleotida berperan banyak pada proses biokimia tubuh. Nukleotida bersama dengan asam amino menjadi unit dasar dalam proses biokimiawi penurunan sifat genetik. Jenis nukleotida yang paling dikenal karena peranannya adalah nukleotida purin dan pirimidin. Kedua jenis nukleotida tersebut berperan dalam pembentukan DNA dan RNA (Suiraoka, 2017).

Nukleotida purin yang utama pada manusia adalah adenosine monofosfat (AMP) dan guanosin monofosfat (GMP). Kedua nukleotida tersebut akan dipecah menjadi bentuk nukleosida oleh fosfomonoesterase menjadi adenosine dan guanosin. Adenosine akan mengalami deaminasi menjadi inosin oleh enzim adenosine deaminase. Fosforilasi ikatan N-glikosinat inosin dengan guanosin

(21)

dikatalis oleh nukleosida purin fosforilase sehingga akan dilepaskan senyawa ribose-1-fosfat dan basa purin. Setelah itu, hipoxantin dan guanin membentuk xantin yang masing-masing dikatalis oleh enzim xantin oxidase dan guanase.

Xantin yang terbentuk akan kembali dikatalisis oleh xantin oxidase menjadi asam urat. Dengan demikian pembentukan asam urat sangat bergantung dari metabolisme nukleotida purin dan fungsi enzim xantin oxidase (Murray dkk., 2003).

Mekanisme metabolisme purin menjadi asam urat dapat dilihat pada Gambar 2.2.

Gambar 2.2 Metabolisme purin menjadi asam urat (Murray dkk., 2003) 2.2 Penyakit Asam Urat

2.2.1 Eiologi Penyakit Asam Urat

Kondisi tubuh ketika terjadinya peningkatan KAU di dalam darah di atas batas normal dinamakan kondisi hiperurisemia (Price dan Wilson, 2005).

Peningkatan konsentrasi asam urat (hiperurisemia) tersebut dapat berkembang dan menimbulkan terjadinya penyakit asam urat yang juga dikenal dengan gout. Gout adalah penyakit metabolik yang ditandai oleh artritis akut berulang karena adanya

(22)

endapan natrium urat di daerah persendian dan tulang rawan dan dapat juga terjadi akibat pembentukan batu asam urat di ginjal (Katzung dkk., 2002).

Awalnya penyakit asam urat diketahui hanya diderita oleh kaum pria usia menengah ke atas. Saat ini hasil penelitian menunjukkan hiperurisemia dan gout ditemukan pada seluruh status sosial ekonomi dan usia yang lebih muda. (Suiraoka, 2017).

Penyakit asam urat dapat terjadi ketika mulai terbentuknya kristal-kristal monosodium urat monohidrat pada sendi-sendi dan jaringan di sekitarnya. Kristal- kristal yang berbentuk seperti jarum tersebut mengakibatkan reaksi peradangan yang jika berlanjut akan menimbulkan rasa nyeri yang menyertai serangan gout.

Jika tidak diberikan terapi, endapan kristal akan menyebabkan kerusakan pada sendi dan jaringan lunak (Carter, 2014).

Terjadinya gout dapat dikategorikan berdasarkan penyebabnya, yaitu gout primer dan gout sekunder. Gout primer merupakan akibat langsung pembentukan asam urat tubuh yang berlebihan atau akibat penurunan eksresi asam urat. Gout sekunder disebabkan karena pembentukan asam urat yang berkurang akibat proses penyakit lain atau konsumsi obat-obat tertentu (Carter, 2014).

2.2.2 Tahap-Tahap Penyakit Asam Urat

Terdapat empat tahap klinis dari penyakit asam urat yang tidak diberikan terapi, yaitu:

a. Tahap Hiperurisemia Asimtomatik

Pada tahap ini pasien tidak merasakan adanya gejala. Pasien mengalami hiperurisemia dari pemeriksaan darah yang akan memperlihatkan terjadinya peningkatan KAU. Hanya 20% dari pasien hiperurisemia asimtomatik yang akan berlanjut ke tahap serangan gout akut (Price dan Wilson, 2005).

(23)

b. Tahap Artritis Gout Akut

Pada tahap ini pasien akan mengalami serangan mendadak berupa pembengkakan dan rasa nyeri yang luar biasa. Biasanya nyeri terjadi pada daerah sendi ibu jari kaki dan sendi metatarsofalangeal. Tahap ini biasanya akan mendorong pasien untuk segera mencari pengobatan. Daerah sendi lain yang dapat terserang adalah sendi jari-jari tangan, lutut, mata kaki, pergelangan tangan, dan siku. Serangan gout akut biasanya dapat pulih tanpa pengobatan dalam waktu 10 sampai 14 hari (Price dan Wilson, 2005).

c. Tahap Interkritis

Tahap interkritis merupakan kelanjutan dari artritis gout akut yang secara klinis tidak muncul tanda-tanda radang akut, walaupun pada cairan sendi masih ditemukan kristal natrium urat. Keberadaan kristal tersebut menunjukkan proses kerusakan sendi yang terus berlangsung progresif. Tahap ini dapat berlangsung beberapa bulan sampai beberapa tahun. Kebanyakan pasien mengalami serangan gout berulang dalam waktu kurang dari 1 tahun jika tidak diobati (Price dan Wilson, 2005).

d. Tahap Gout Kronik

Pada tahap ini pasien akan mengalami peradangan kronik yang ditandai dengan penimbunan kristal asam urat terus meningkat. Asam urat yang sifatnya sukar larut akan tertimbun dan membentuk tofi. Terjadinya peradangan kronik akibat kristal asam urat tersebut akan mengakibatkan rasa nyeri, sakit dan kaku yang disertai peradangan dan pembengkakan pada daerah di sekitar sendi. Gout juga dapat merusak ginjal yang dapat menyebabkan eksresi asam urat akan bertambah buruk. Batu ginjal juga dapat terbentuk sebagai akibat dari gout (Price dan Wilson, 2005).

(24)

2.2.3 Faktor Risiko Gout

Penumpukan senyawa asam urat di dalam sendi adalah penyebab terjadinya penyakit asam urat/gout. Salah satu faktor yang dapat menyebabkan gout adalah faktor keturunan. Mereka yang memiliki anggota keluarga dengan riwayat penyakit gout akan berisiko mengalami kondisi yang sama dengan perkiraan sebesar 20%

(Anies, 2018).

Faktor pola makan juga mementukan seseorang menderita penyakit gout, khususnya pada makanan yang tinggi protein dan kaya senyawa purin. Jenis makanan yang kaya akan purin biasanya makanan seperti daging sapi, hidangan laut, jeroan, bayam, kembang kol, jamur, dan kacang-kacangan. Namun tidak semua bahan makanan yang mengandung purin dapat meningkatkan KAU.

Contohnya teh, kopi dan cokelat mengandung senyawa purin berupa kafein, teofilin, dan teobromin yang dapat dimetabolisme menjadi metal urat yang tidak membentuk tofi dan tidak meningkatkan KAU di dalam darah. Namun, konsumsi minuman manis dan minuman beralkohol secara berlebihan berisiko mengalami penumpukan asam urat di dalam darah (Suiraoka, 2017).

Sejumlah obat-obatan seperti aspirin dosis rendah (kurang dari 1 sampai 2 g/hari), niacin, obat golongan ACE inhibitor, obat penghambat beta (beta bloker), diuretik, asam nikotinat, asetazolamid, etambutol dan obat-obatan kemoterapi juga dapat menghambat eksresi asam urat oleh ginjal sehingga dapat menyebabkan serangan gout. Karena itu risiko menderita penyakit asam urat juga tinggi bagi orang-orang yang sedang menjalani pengobatan menggunakan obat-obatan jenis tertentu (Carter, 2014).

Selain faktor-faktor tersebut, pasien yang memiliki riwayat penyakit tertentu seperti penyakit ginjal kronik, hipertensi, diabetes, kolesterol tinggi,

(25)

obesitas, osteoarthritis, psoriasis, dan sindrom metabolisme juga memiliki risiko tinggi mengalami penyakit gout (Anies, 2018).

2.2.4 Penegakan Diagnosis Penyakit Gout

Diagnosis penyakit gout diawali dari gejala yang dialami pasien. Dalam mendiagnosis, dilakukan pemeriksaan KAU di dalam darah dan juga pengujian untuk memastikan adanya kristal-kristal natrium urat pada persendian. Hal ini perlu dilakukan karena adanya jenis penyakit lain seperti rematik yang dapat menyebabkan gejala yang sama seperti penyakit asam urat. Sebelum pengujian dilakukan, informasi mengenai frekuensi rasa sakit, lokasi sendi yang sakit, obat- obatan yang sedang dikonsumsi serta riwayat penyakit dalam keluarga dapat menjadi informasi awal dalam mendiagnosis seseorang yang menderita gout (Anies, 2018).

Pada laki-laki yang mengalami artritis monoartikular, terutama pada ibu jari kaki yang mengalami nyeri secara akut, kemungkinan besar merupakan tanda dari penyakit gout. Peningkatan KAU serum sangat membantu dalam mendiagnosis namun tidak spesifik, karena adanya sejumlah obat-obatan yang juga dapat meningkatkan konsentrasi KAU dalam darah (Carter, 2014).

2.2.5 Terapi Gout

Secara umum penatalaksanaan terapi gout adalah dengan menurunkan KAU sampai di bawah titik jenuh untuk mencegah terjadinya kristalisasi asam urat.

Strategi ini dapat dilakukan dengan mempengaruhi sintesis asam urat, meningkatkan ekskresi asam urat, menghambat masuknya leukosit ke dalam sendi yang meradang, dan pemberian obat-obat AINS (Mycek dkk., 1995).

Pengobatan gout biasanya terdiri dari obat pereda nyeri seperti ibuprofen, naproxen, kolkisin, dan kortison serta pemberian allopurinol untuk menjaga KAU

(26)

darah tetap berada pada kadar normal sehingga kristal natrium urat tidak terbentuk (Tortora dan Derrickson, 2011). Obat-obatan yang dapat digunakan dalam mengatasi serangan gout, yaitu:

a. Obat Anti-Inflamasi Non Steroid (AINS).

Obat AINS merupakan pilihan pertama dalam mengatasi serangan gout akut karena memiliki efikasi yang baik dan toksisitas yang rendah pada penggunaan jangka pendek. Obat AINS yang paling sering digunakan adalah Indometasin, naproxen, diklofenak, dan piroksikam (Ernst dkk., 2008).

b. Kolkisin

Kolkisin merupakan alkaloid yang diperoleh dari bunga dan biji tumbuhan Colchicun autumnale, yang berasal dari India, Afrika Utara, dan Eropa. Kolkisin berkhasiat sebagai antiradang lemah dengan efek baik pada serangan gout akut (efektivitas 90%) (Tan dan Rahardja, 2007).

c. Kortikosteroid

Obat ini diberikan pada pasien yang memiliki kontraindikasi ataupun yang tidak memberikan efek terhadap pemberian obat AINS dan kolkisin (Ernst dkk., 2008).

Pada terapi profilaksis penderita gout juga dapat diberikan obat-obat yang bersifat urikostatik (menghambat pembentukan asam urat) atau urikosurik (meningkatkan ekskresi asam urat).

a. Golongan Urikostatik (Allopurinol)

Allopurinol merupakan analog purin. Obat ini mengurangi produksi asam urat dengan jalan menghambat secara kompetitif dua langkah terakhir biosintesis asam urat, yang dikatalisasi oleh xantin oksidase. Akibatnya perombakan hipoxantin dikurangi dan sintesis asam urat menurun kurang lebih 50% dan

(27)

produksi xantin maupun hipoxantin meningkat dan dibuang melalui ginjal. Obat ini mengurangi produksi asam urat, mengurangi konsentrasi asam urat di urin, mencegah terbentuknya batu natrium urat, dan mengecilkan tofi (deposit urat) (Mycek, 1995; Tan dan Rahardja, 2007).

b. Golongan Urikosurik (Probenesid dan Sulfinpirazon)

Probenesid adalah suatu penghambat umum sekresi tubular asam organik.

Sedangkan sulfinpirazon adalah suatu derivat fenilbutazon. Kedua obat urikosurik ini yang umum digunakan. Pada dosis terapi obat-obat ini menghambat reabsorbsi asam urat pada tubulus proksimal sehingga keluarnya asam urat melalui ginjal meningkat. Agar dapat bekerja dengan baik, maka diperlukan fungsi ginjal yang memadai. Klirens kreatinin perlu diperiksa untuk menentukan fungsi ginjal (normalnya adalah 115-120 mL/menit). Pemberian obat-obatan ini diperlukan masukan cairan sekurang-kurangnya 1500 mL/hari agar dapat meningkatkan ekskresi asam urat, dan penggunaan aspirin harus dihindari, karena dapat menghambat kerja obat-obatan urikosurik (Mycek, 1995; Carter, 1995).

2.3 Ekstrak Tumbuhan

Ekstrak adalah sediaan kental yang diperoleh dengan mengekstraksi senyawa aktif simplisla nabati atau simplisia hewani menggunakan pelarut yang sesuai. Kemudian semua atau hampir semua pelarut diuapkan. Massa atau serbuk yang tersisa diperlakukan hingga memenuhi baku yang telah ditetapkan. Sebagian besar ekstrak dibuat dengan mengekstraksi bahan baku obat secara perkolasi.

Seluruh perkolat biasanya dipekatkan secara destilasi dengan pengurangan tekanan, agar bahan sesedikit mungkin terkena panas (Depkes RI, 2014).

Ekstrak tumbuhan obat yang dibuat dari simplisia nabati dapat dijadikan sebagai bahan awal, bahan antara atau bahan produk jadi. Ekstrak sebagai bahan

(28)

awal dapat dijadikan bahan baku obat yang dengan teknologi fitofarmasi diproses menjadi produk jadi. Ekstrak sebagai bahan antara berarti masih menjadi bahan yang dapat diproses lagi menjadi fraksi-fraksi, isolat senyawa tunggal ataupun tetap sebagai campuran dengan ekstrak lain. Ekstrak sebagai produk jadi berarti ekstrak yang berada dalam sediaan obat jadi siap digunakan (Depkes RI, 2000).

Menurut Depkes RI (2000), ada beberapa metode ekstraksi yang sering digunakan antara lain yaitu cara dingin dan cara panas. Pada cara dingin dapat digunakan metode maserasi dan perkolasi, sedangkan metode cara panas, seperti refluks, digesti, sokletasi, infudasi dan dekoktasi.

2.4 Systematic Review

2.4.1 Definisi Systematic Review

Tinjauan sistematis (Systematic review) merupakan sebuah studi literatur yang merangkum penelitian-penelitian yang telah dilakukan dan berfokus pada satu pertanyaan. Metode ini dilakukan dengan mengidentifikasi, memilih, dan mensintesis semua hasil penelitian berkualitas yang relevan dengan pertanyaan penelitian (Bettany dan Satikov, 2009).

Tinjauan sistematis juga memberikan penilaian yang lebih objektif dari bukti-bukti penelitian yang telah ada sehingga dapat mengatasi ketidakpastian ketika suatu penelitian, ulasan, dan editorial yang asli mengungkapkan fakta akan ketidaksetujuan. Tinjauan sistematis juga dapat dilakukan untuk mengidentifikasi pertanyaan-pertanyaan mengenai penelitian yang dapat dilakukan di masa yang akan datang (Egger dan George, 2007).

Metode penelitian tinjauan sistematis merupakan suatu teknik statistika untuk menggabungkan hasil dua atau lebih penelitian sejenis sehingga memungkinkan untuk diperoleh paduan data secara kualitatif ataupun kuantitatif.

(29)

Metode tinjauan sistematis merupakan salah satu metode yang paling banyak digunakan dalam penelitian klinis. Dilihat dari prosesnya, bahwa tinjauan sistematis merupakan suatu studi observasional retrospektif, dalam arti peneliti membuat rekapitulasi fakta tanpa melakukan manipulasi penelitian (Sastroasmoro, 2002).

Tinjauan sistematis dikembangkan dengan kebutuhan untuk memastikan bahwa keputusan kebijakan yang mempengaruhi kehidupan masyarakat dapat diinformasikan melalui sumber informasi sekunder terkini dan lengkap disertai dengan bukti riset yang relevan. Semakin banyaknya sumber informasi penelitian yang terus berkembang dan terus meningkat, maka tidak mungkin bagi pembuat keputusan untuk menilai semua penelitian tersebut dalam mencari solusi permasalahan yang lebih tepat. Melalui tinjauan sistematis dapat dihasilkan rangkuman terkini yang menggabungkan berbagai sumber informasi primer mengenai suatu topik kesehatan yang dapat memudahkan pembuat kebijakan (Lasserson dkk., 2019).

Para pembuat kebijakan akan sangat tertarik pada pengambilan keputusan yang berdasarkan bukti. Mereka berada di bawah tekanan dalam mencari solusi dari masalah kebijakan atau untuk membenarkan program yang merujuk pada basis pengetahuan. Bagi pembuat kebijakan, tinjauan sistematis dapat memberikan ringkasan yang kuat dan dapat dipercaya dari bukti yang dapat diandalkan sehingga dapat memudahkan pembuat kebijakan untuk mengambil keputusan (Petticrew dan Helen, 2006).

2.4.2 Tujuan Systematic Review

Tujuan umum dari suatu tinjauan sistematis adalah untuk menjawab pertanyaan penelitian yang spesifik. Penelitian tinjauan sistematis dilakukan untuk berbagai tujuan, di antaranya untuk mengidentifikasi, mengkaji, mengevaluasi, dan

(30)

menafsirkan semua hasil penelitian yang tersedia pada topik yang sesuai dengan pertanyaan penelitian tertentu yang relevan. Tinjauan sistematis juga sering diperlukan untuk penentuan penelitian yang dapat dilakukan berikutnya, sebagai bagian dari disertasi atau tesis, serta merupakan bagian yang melengkapi pengajuan hibah penelitian (Triandini dkk., 2019).

Penelitian tinjauan sistematis juga dapat bertujuan dalam mengusulkan agenda penelitian dimasa depan, dimana kesimpulan dari penelitian dapat menjadi rekomendasi yang memungkinkan untuk diterapkan oleh para pengambil kebijakan. Serta penelitian dengan metode ini juga dapat bertujuan untuk menyajikan semua tahapan peninjauan dalam laporan akhir untuk memungkinkan adanya penilaian dan replikasi kritis (Syukri, 2020).

2.4.3 Manfaaat Systematic Review

Salah satu permasalahan dalam penelitian kesehatan adalah terkait dengan kurangnya pemanfaatan hasil penelitian oleh pengguna (the utilization of research results) telah diungkapkan dalam buku the World Report on Knowledge for Better Health (WHO, 2004). Permasalahan ini tidak saja terjadi di negara berkembang namun juga terjadi di negara maju. Pemanfaatan hasil penelitian oleh penentu kebijakan mencakup penyediaan fakta pada keseluruhan pelaksanaan proses kebijakan (policy process).

Dalam pelaksanaan proses kebijakan, hasil penelitian mempunyai peran atau fungsi sebagai berikut: (i) membantu mengidentifikasi masalah, (ii) membantu menemukan solusi suatu masalah, (iii) membantu pembuat keputusan untuk berpikir dalam menetapkan alternatif solusi (policy options) dan (iv) membantu memutuskan suatu kebijakan (Hass dan Springer, 1998).

(31)

2.5 Pembagian Systematic Review

Dalam mensintesis hasil data penelitian pada Systematic review terdapat dua jenis metode, yaitu secara kualitatif dan kuantitatif. Systematic review metode kualitatif digunakan untuk mensintesis (merangkum) hasil-hasil penelitian yang bersifat deskriptif kualitatif. Hasil dari penelitian kualitatif ini disebut dengan meta- sintesis. Meta-sintesis adalah sebuah teknik yang digunakan dalam melakukan integrasi data untuk mendapatkan teori maupun konsep baru yang lebih mendalam dan menyeluruh (Perry dan Hammond, 2002).

Dalam melakukan meta-sintesis (sintesis data kualitatif) terdapat dua pendekatan, yakni meta-agregasi dan meta-etnografi (Lewin, 2008). Meta-agregasi bertujuan untuk menjawab pertanyaan penelitian dengan cara merangkum berbagai penelitian. Meta-etnografi bertujuan untuk mengembangkan teori baru dari teori yang sudah ada (Siswanto, 2010).

Pada systematic review metode kuantitatif digunakan untuk mensintesis hasil-hasil penelitian dengan pendekatan kuantitatif, misalnya studi prevalensi.

Peran statistik dalam melakukan sintesis hasil penelitian dengan metode kuantitatif ini disebut dengan meta-analisis. Meta-analisis adalah teknik melakukan agregasi data dengan penggunaan statistik dalam identifikasi hubungan sebab akibat antara faktor dengan risiko atau perlakuan dengan suatu efek. (Perry dan Hammond, 2002).

Meta-analisis biasanya digunakan untuk menilai efektivitas intervensi klinis dengan mengkombinasikan beberapa hasil penelitian randomized control trials (RCT). Maka dari itu, meta-analisis merupakan pondasi (tulang punggung) dalam praktek berbasis bukti (evidence based medicine). Langkah krusial dalam meta- analisis adalah pemilihan studi yang berkualitas. Karena apabila studi yang

(32)

diikutkan dalam meta-analisis tidak berkualitas, maka tentunya hasil meta-analisis yang merupakan ukuran statistik dari kombinasi beberapa hasil penelitian akan tidak valid (Siswanto, 2010).

2.6 Metode Pelaksanaan Systematic Review

Pada tahun 1996 metode Quality of Reporting of Meta-analyses (QUORUM) telah dirilis oleh kelompok internasional untuk meninjau kualitas dari Meta-Analisis. Metode ini merupakan pedoman standar untuk melakukan meta- analisis dari uji coba terkontrol secara acak. Pedoman ini terus berkembang dan direvisi untuk memasukkan standar tambahan sebagai dasar pelaksanaan tinjauan sistematis serta meta-analisis yang diubah namanya menjadi PRISMA (Moher dkk., 1999).

Salah satu alasan terjadinya perubahan nama dari QUOROM menjadi PRISMA adalah adanya kebutuhan untuk merevisi dan memperbaiki pedoman QUOROM dengan menggunakan diagram alir. Hanya artikel yang dianggap relevan saja yang dipertahankan atau ditambahkan ke dalam kriteria inklusi (Moher dkk., 1999).

Preferred Reporting Items for Systematic Review and Meta Analysis (PRISMA) adalah kumpulan item minimum berbasis bukti untuk pelaporan dalam tinjauan sistematis dan meta-analisis. Metode PRISMA berfokus pada pelaporan tinjauan untuk mengevaluasi efek intervensi, tetapi juga dapat digunakan sebagai dasar untuk pelaporan tinjauan sistematis dengan tujuan selain mengevaluasi intervensi (misalnya mengevaluasi etiologi, prevalensi, diagnosis atau prognosis).

PRISMA pada prinsipnya memvisualisasikan semua urutan langkah dalam bentuk diagram sehingga jelas terlihat alurnya dan berakhir dengan berapa artikel yang terpilih dengan protokol yang telah ditetapkan (Swartz, 2010).

(33)

2.7 Tahapan Systematic Review

Pada prinsipnya penelitian metode tinjauan sistematis dimulai dengan membuat suatu protokol penelitian secara sistematis. Tahapan penelitian tinjauan sistematis dapat dilihat pada Tabel 2.1.

Tabel 2.1. Tahapan Penelitian Systematic Review (Perry dan Hammond, 2002)

No Komponen Tahapan Tujuan

1 Formulasi pertanyaan penelitian

Mengubah suatu topik masalah kesehatan untuk dijadikan pertanyaan penelitian 2 Pengembangan protokol

penelitian systematic review

Memberikan panduan dan tahapan dalam melaksanakan penelitian systematic review 3 Penetapan sumber database Memberikan batasan pencarian artikel

untuk mendapatkan hasil penelitian yang relevan

4 Pengumpulan artikel dengan hasil penelitian yang relevan

Mengumpulkan hasil penelitian yang relevan dengan pertanyaan penelitian 5 Seleksi artikel dengan hasil

penelitian yang berkualitas

Melakukan eksklusi dan inklusi terhadap artikel yang telah dikumpulkan untuk mendapatkan sumber informasi primer dengan hasil penelitian yang berkualitas untuk dirangkum dalam systematic review 6 Ekstraksi data dari artikel

yang diinklusi

Melakukan ekstraksi data dari artikel yang diinklusi untuk mendapatkan data penting yang dibutuhkan dalam penyusunan systematic review

7 Sintesis hasil data penelitian Melakukan sintesis hasil dari data yang telah didapatkan untuk dirangkum dalam systematic review

8 Penyajian hasil Menuliskan hasil penelitian systematic review

2.7.1 Formulasi Pertanyaan Penelitian

Penelitian tinjauan sistematis harus diawali dengan tahap formulasi pertanyaan yang didefinisikan dengan jelas serta latar belakang yang merupakan dasar pelaksanaan penelitian dan tujuan spesifik yang akan mengarahkan proses penelitian. Komponen dalam memformulasikan pertanyaan penelitian harus jelas dengan mengikuti format PICOS, yang terdiri dari populasi, intervensi, kontrol atau pembanding, serta hasil atau outcomes yang ingin dicapai dari pertanyaan penelitian (Perestelo-Perez, 2012).

(34)

2.7.2 Pengembangan Protokol

Pengembangan protokol perlu terlebih dahulu dikembangkan untuk mengarahkan rangkaian proses penelitian tinjauan sistematis secara eksplisit.

Protokol tinjauan sistematis sama dengan protokol penelitian lainnya yang menjelaskan/menetapkan masalah yang sedang dikaji. Protokol tinjauan sistematis juga perlu dimodifikasi akibat masalah yang tidak terhindarkan yang dapat muncul saat penelitian berlangsung (Perestelo-Perez, 2012).

2.7.3 Penetapan Sumber Database dan Pengumpulan Artikel

Setelah pertanyan penelitian dan pengembangan protokol penelitian telah ditetapkan dengan jelas, langkah berikutnya adalah mencari sumber informasi primer sebagai bukti ilmiah untuk menjawab pertanyaan penelitian tersebut. Dalam mencari sumber informasi primer akan membutuhkan proses yang sistematis melalui penetapan database yang dibutuhkan. Setelah database ditetapkan, maka selanjutnya dapat ditetapkan kata kunci pencarian (Perestelo-Perez, 2012).

2.7.4 Seleksi Hasil Studi

Tinjauan sistematis memerlukan sumber informasi primer yang relevan dan berkualitas. Dengan demikian diperlukan seleksi hasil studi yang berguna untuk mempermudah dalam memeriksa hasil studi tersebut. Penyeleksian hasil studi ini pada dasarnya dilakukan dengan menetapkan kriteria inklusi dan eksklusi yang berdasarkan format PICOS dari pertanyaan penelitian (Perestelo-Perez, 2012).

2.7.5 Ekstraksi Data

Tahap ekstraksi data dalam proses tinjauan sistematis diperlukan untuk mendapatkan poin penting berupa data dari setiap artikel yang telah dikumpulkan.

Data yang didapatkan dapat diekstraksi dengan menggunakan format terstandar

(35)

untuk dilanjutkan dengan mengakses kualitas studi yang ditentukan (Perestelo- Perez, 2012).

2.6.6 Sintesis Hasil Data Penelitian

Setelah data diekstraksi dari semua studi, maka dapat dilanjutkan dengan analisis dan sintesis data. Proses ini mencakup penggabungan, memadukan dan meringkas hasil setiap studi yang akan disertakan dalam hasil tinjauan sistematis.

Tujuannya adalah untuk memperkirakan dan menentukan kesimpulan dari pertanyaan penelitian yang telah ditetapkan diawal (Perestelo-Perez, 2012).

2.6.7 Penyajian Hasil

Hasil dari semua studi dirangkum dengan memberikan kesimpulan untuk menjawab perumusan masalah penelitian. Penyajian hasil harus memberikan ringkasan yang kuat dan dapat dipercaya dari bukti yang dapat diandalkan sehingga dapat memudahkan pembuat kebijakan untuk mengambil keputusan atau melakukan langkah penelitian berikutnya (Petticrew dan Helen, 2006).

(36)

BAB III

METODOLOGI PENELITIAN 3.1 Jenis Penelitian

Jenis penelitian ini adalah tinjauan sistematis kualitatif (qualitative systematic review) menggunakan teknik Preferred Reporting Items for Systematic Reviews and Meta-analysis (PRISMA). Penelitian ini dilakukan dengan memformulasikan pertanyaan penelitian, menetapkan database dan kata kunci pencarian artikel, menyeleksi artikel yang relevan berdasarkan kriteria inklusi, mengekstraksi data, mensintesis hasil penelitian ekstrak tumbuhan yang memiliki aktivitas antihiperurisemia dalam menurunkan KAU pada hewan percobaan tikus dan mencit dengan berbagai penginduksi.

3.2 Identifikasi Pertanyaan Penelitian

Banyaknya penelitian eksperimental yang telah dilakukan untuk menguji khasiat ekstrak tumbuhan sebagai antihiperurisemia dengan hasil efektivitas yang bervariasi dari dosis yang bervariasi. Namun masih kurangnya pemanfaatan hasil penelitian oleh pengguna (the utilization of research results) atau penentu kebijakan, sehingga pertanyaan penelitian atau research question (RQ) adalah sebagai berikut:

RQ1: Apa saja jenis ekstrak tumbuhan yang dapat dimanfaatkan sebagai antihiperurisemia berdasarkan variasi dosis ?

RQ2: Apa saja jenis ekstrak tumbuhan yang dapat dimanfaatkan sebagai antihiperurisemia berdasarkan aspek efektivitas dan efisiensi ?

(37)

3.3 Pencarian Literatur

3.3.1 Penetapan Sumber Database

Pencarian sumber informasi primer berupa artikel penelitian eksperimental dilakukan melalui sumber database Google Scholar dan Repository USU. Artikel yang diambil merupakan artikel dengan desain penelitian eksperimental yang dipublikasi pada rentang tahun 2011-2020.

3.3.2 Penetapan Kata Kunci

Kata kunci yang digunakan dalam mencari artikel penelitian eksperimental yang berkaitan dengan pertanyaan penelitian, yaitu: “antihiperurisemia”, “ekstrak tumbuhan” “eksperimental”, dan “Indonesia”.

3.4 Penyeleksian Artikel yang Relevan

Penyeleksian artikel penelitian eksperimental dilakukan dengan cara menyeleksi berdasarkan judul, abstrak, metode dan isi dari artikel terkait ekstrak tumbuhan sebagai antihiperurisemia. Artikel yang tidak relevan dengan penelitian dikeluarkan dari data penelitian.

3.5 Pemilihan Artikel Penelitian yang Berkualitas 3.5.1 Kriteria Inklusi

Artikel yang dipilih harus memenuhi kriteria inklusi sebagai berikut:

a. Penelitian dalam artikel menggunakan ekstrak tumbuhan tunggal b. Membahas tumbuhan yang memiliki aktivitas antihiperurisemia c. Artikel bukan merupakan tinjauan sistematis (Review)

d. Artikel dapat diakses secara lengkap

e. Penelitian eksperimental menggunakan subjek hewan uji tikus putih jantan atau mencit putih jantan

f. Penelitian dalam artikel berfokus pada penurunan KAU

(38)

g. Penelitian menggunakan allopurinol sebagai pembanding 3.5.2 Kriteria Ekslusi

Artikel dieksklusi dengan kriteria sebagai berikut:

a. Penelitian dalam artikel menggunakan ekstrak tumbuhan kombinasi

b. Artikel membahas tumbuhan yang memiliki aktivitas selain antihiperurisemia c. Artikel merupakan tinjauan sistematis (Review)

d. Data dan isi artikel tidak dapat diakses e. Penelitian menggunakan subjek manusia

f. Penelitian pada artikel hanya berfokus pada skrining fitokimia g. Penelitian tidak menggunakan obat sintesis sebagai pembanding 3.6 Ekstraksi Data

Ekstraksi data dilakukan setelah diperoleh artikel yang didapatkan dengan mengikuti alur PRISMA yang dapat dilihat pada Gambar 3.1. Semua data dari masing-masing artikel penelitian eksperimental yang memenuhi kriteria inklusi kemudian diekstraksi untuk mengambil informasi yang dibutuhkan. Ekstraksi data dilakukan dengan menginput data penting menggunakan software Microsoft word dan Microsoft Excel meliputi: nama peneliti, tahun terbit artikel, judul penelitian, jenis ekstrak tumbuhan (objek penelitian), metode ekstraksi, kontrol positif, penginduksi yang digunakan, subjek penelitian, dosis ekstrak, serta rerata KAU setelah induksi dan rerata KAU akhir.

(39)

Gambar 3.1 Alur PRISMA penelitian

Artikel diekslusi berdasarkan judul dan abstrak yang tidak relevan (n = jumlah artikel)

- Tidak menggunakan ekstrak tumbuhan tunggal

- Artikel tidak berfokus pada antihiperurisemia

- Artikel merupakan tinjauan sistematis (Review)

- Artikel tidak dapat diakses secara keseluruhan

-

Database Repository USU (n = jumlah artikel)

Jumlah artikel yang tersisa (n = jumlah artikel) Database Google Scholar

(n = jumlah artikel)

Artikel diekslusi melalui metode yang tidak tidak relevan (n = jumlah artikel) - Subjek penelitian bukan tikus dan

mencit

- Artikel tidak berfokus pada penurunan kadar asam urat -

Total artikel (n = jumlah artikel)

Artikel diekslusi melalui isi artikel yang tidak relevan (n = jumlah artikel) - Data yang dibutuhkan dalam artikel

tidak lengkap

- Penelitian tidak menggunakan Allopurinol sebagai pembanding Jumlah artikel yang tersisa

(n = jumlah artikel)

Total artikel yang memenuhi syarat inklusi (n = jumlah artikel)

(40)

3.7 Sintesis Hasil

Sintesis hasil dilakukan dengan menggunakan teknik naratif. Sintesil hasil dari penelitian ini yaitu dengan mengelompokkan data yang telah diekstraksi dari seluruh artikel penelitian eksperimental yang memenuhi kriteria inklusi. Pada tahap ini dilakukan pengelompokan data penting yang diperoleh dari setiap artikel penelitian sehingga selanjutnya dapat diambil kesimpulan yang dapat menjawab pertanyaan penelitian.

3.8 Penyajian Hasil

Setelah hasil dari semua data ekstrak tumbuhan disintesis kemudian dilakukan pembahasan hasil penelitian dalam bentuk laporan hasil tinjauan sistematis untuk menjawab rumusan permasalahan penelitian yang telah ditetapkan.

(41)

BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Hasil Pencarian Artikel

Penelitian systematic review dengan judul “Tinjauan sistematis antihiperurisemia ekstrak tumbuhan Indonesia pada tikus dan mencit” merupakan studi literatur yang dilakukan dengan cara mengidentifikasi, menilai, dan menginterpretasi hasil dari penelitian-penelitian eksperimental yang telah dilakukan dan dipublikasi dalam bentuk artikel dan sumber informasi primer lainnya dengan topik penelitian mengenai ekstrak tumbuhan yang dapat menurunkan KAU darah pada hewan percobaan tikus putih dan mencit putih. Hal ini dilakukan untuk mengetahui tumbuhan apa saja yang dapat berpotensi untuk menurunkan KAU berdasarkan aspek variasi dosis, efektivitas dan efisiensi.

Pencarian dan pengumpulan artikel serta sumber informasi primer dilakukan melalui database Google Scholar dan Repository USU. Kata kunci yang digunakan dalam pencarian ini adalah “antihiperurisemia”, “ekstrak tumbuhan”,

“eksperimental”, dan “Indonesia”. Kata kunci “ekstrak tumbuhan” dan

“antihiperiurisemia” digunakan karena untuk mendapatkan artikel yang relevan untuk mengetahui ekstrak tumbuhan apa saja yang telah diteliti dan mempunyai khasiat dalam menurunkan KAU darah. Kata kunci “eksperimental” digunakan karena batasan penelitian ini adalah penelitian yang telah dilakukan pada hewan percobaan tikus dan mencit. Sedangkan kata kunci “Indonesia” digunakan karena banyaknya tumbuhan di Indonesia yang berkhasiat sebagai antihiperurisemia namun belum dikembangkan.

Tahun yang digunakan dalam pencarian artikel dimulai dari 2011-2020.

Pemilihan artikel 10 tahun terakhir bertujuan untuk mendapatkan referensi yang

(42)

terbaru (Novelty). Jumlah artikel yang didapatkan dari database google scholar adalah sebanyak 310 artikel dan jumlah artikel yang diperoleh dari database repository USU sebanyak 7 artikel. Dari total 317 artikel tersebut, kemudian dilakukan seleksi melalui judul dan abstrak yang tidak sesuai dan dipatkan artikel yang harus dieksklusi sebanyak 224 artikel (Diantaranya artikel yang tidak menggunakan ekstrak tumbuhan sebanyak 16 artikel, artikel tidak menggunakan ekstrak tunggal sebanyak 22 artikel, artikel yang tidak berfokus pada antihiperurisemia sebanyak 134 artikel, dan artikel yang tidak dapat diakses secara keseluruhan sebanyak 52 artikel). Total artikel yang tersisa setelah dieksklusi adalah 93 artikel. Artikel yang tersisa dilanjutkan dengan seleksi dari metode yang digunakan dalam penelitian dari masing-masing artikel dan didapatkan 45 artikel tereksklusi (Diantaranya penelitian metode penelitian pada artikel bukan merupakan metode eksperimental sebanyak 33 artikel dan artikel yang hanya berfokus pada skrining fitokimia sebanyak 12 artikel). Total artikel setelah dieksklusi adalah berjumlah 48 artikel. Dari total artikel tersebut sebanyak 32 artikel dieksklusi karena data yang dibutuhkan pada artikel tidak lengkap sebanyak 30 artikel dan artikel yang tidak menggunakan obat sintesis pembanding allopurinol sebanyak 2 artikel. Maka, total artikel yang memenuhi kriteria inklusi didapatkan sebanyak 16 artikel.

4.2 Hasil Ekstraksi Artikel

Semua data dari masing-masing artikel penelitian eksperimental yang memenuhi kriteria inklusi kemudian dilakukan ekstraksi untuk mengambil informasi yang dibutuhkan. Ekstraksi data dilakukan secara manual dengan menginput data penting meliputi: nama peneliti, tahun terbit artikel, judul penelitian, ekstrak tumbuhan (objek penelitian), metode ekstraksi, kontrol positif,

(43)

penginduksi yang digunakan, subjek penelitian, dosis ekstrak, serta rerata KAU setelah induksi dan rerata KAU akhir. Hasil penelitian berisi tentang uraian artikel penelitian yang telah dirangkum dan disajikan dalam bentuk tabel.

4.3 Ekstrak Tumbuhan yang dapat Menurunkan KAU Darah Pada Hewan Percobaan Berdasarkan Variasi Dosis

Berdasarkan hasil berbagai penelitian eksperimental yang telah dilakukan menggunakan hewan percobaan tikus putih jantan didapatkan 7 ekstrak tumbuhan yang mampu menurunkan KAU darah pada Tikus. Ekstrak tumbuhan tersebut terbagi dalam 5 dosis berbeda yang dapat dilihat pada Tabel 4.1.

Tabel 4.1 Ekstrak tumbuhan dengan efek antihiperurisemia pada hewan percobaan tikus putih berdasarkan variasi dosis

Dosis (mg/kg

BB)

Ekstrak

Tanaman Inducer

Rerata KAU setelah induksi (mg/dL)

Rerata KAU Akhir setelah pemberia n ekstrak

(mg/dL)

Persen Penuruna

n KAU (%)

70 Ekstrak Etanol Daun Kelor

Kalium oksonat +

jus hati ayam

12,33 4,23 65,69

100

Ekstrak Etil Asetat Tumbuhan Suruhan

Kafein 7,52 2,74 63,56

100

Ekstrak Etanol Daun

Binahong

Kafein 3,06 1,91 37,58

150

Ekstrak Etanol Herba Anting- Anting

Jus hati ayam + kafein

4,98 2,32 53,41

150

Ekstrak Etanol Buah

Andaliman

Jus hati ayam + jus

kacang panjang +

Kalium oksonat

4,85 3,95 18,55

(44)

Dosis (mg/kg

BB)

Ekstrak

Tanaman Inducer

Rerata KAU setelah induksi (mg/dL)

Rerata KAU Akhir setelah pemberia n ekstrak

(mg/dL)

Persen Penuruna

n KAU (%)

200

Ekstrak Etanol Rimpang Temu Lawak

Potassium

oksonat 7,33 4,15 43,38

600

Ekstrak Etanol Rimpang Temu Putih

Kafein + jus

hati ayam 4,52 1,80 60,17

Keterangan : K.A.U = Kadar Asam Urat

Selain hewan percobaan tikus, berbagai penelitian eksperimental yang telah dilakukan menggunakan hewan percobaan mencit putih jantan didapatkan 9 ekstrak tumbuhan yang mampu menurunkan kadar asam urat darah pada mencit. Ekstrak tumbuhan tersebut terbagi dalam 7 dosis berbeda yang dapat dilihat pada Tabel 4.2 dibawah ini.

Tabel 4.2 Ekstrak tumbuhan yang dapat menurunkan KAU pada hewan percobaan mencit putih berdasarkan variasi dosis

Dosis (mg/kg

BB)

Ekstrak

Tananaman Inducer

Rerata K.A.U.

setelah induksi (mg/dL)

Rerata KAU Akhir setelah pemberian

ekstrak (mg/dL)

Persen Penuruna

n KAU (%)

7,40

Ekstrak Etanol Daun Hijau

Tumbuhan Pucuk Merah

Jus usus

ayam 6,45 2,90 55,04

50

Ekstrak Etanol Daun Mahkota Dewa

Kalium oksonat + hati ayam

10,60 3,10 70,75

50

Ekstrak Etanol Biji Alpukat

Jus hati ayam + Potassium

oksonat

3,26 2,14 34,36

(45)

Dosis (mg/kg

BB)

Ekstrak

Tananaman Inducer

Rerata KAU setelah induksi (mg/dL)

Rerata KAU Akhir setelah pemberian

ekstrak (mg/dL)

Persen Penuruna

n KAU (%)

72,8

Ekstrak Etanol Buah Naga Putih

Kafein 6,68 2,68 59,88

100

Ekstrak Etanol Daun Cocor Bebek

Kalium

oksonat 3,58 2,06 42,46

195

Ekstrak Etanol Daun Bambu Tali

Jus hati

ayam 5,77 4,51 21,83

250

Ekstrak Etanol Tumbuhan Jelatang

Jus hati ayam + kalium oksonat

4,72 3,58 24,15

250

Ekstrak Etanol Daun Murbei

Jus hati

ayam 5,38 4,72 12,26

400

Ekstrak Etanol Daun Pegagan

Potassium

oksonat 3,40 2,04 40,00

Keterangan : K.A.U = Kadar Asam Urat

Dari kedua tabel diatas dapat dilihat bahwa masing-masing ekstrak tumbuhan memberikan hasil yang berbeda dalam menurunkan KAU darah pada hewan percobaan tikus putih dan mencit putih yang digunakan sebagai subjek penelitian. Adanya perbedaan efektivitas ekstrak tumbuhan dalam menurunkan KAU pada masing-masing hewan percobaan dapat dipengaruhi oleh dosis ekstrak yang diberikan pada setiap penelitian dan berbedanya kandungan yang berpotensi sebagai antihiperurisemia dari masing-masing ekstrak tumbuhan. Dosis yang tertera pada Tabel 4.1 dan Tabel 4.2 merupakan dosis efektif yang didapatkan dari

(46)

masing-masing hasil percobaan tersebut. Dimana dosis yang paling efektif dari masing-masing ekstrak tumbuhan adalah dosis terendah namun sudah memiliki potensi sebagai antihiperurisemia dan tidak memiliki perbedaan yang signifikan dibandingkan dengan obat sintesis allopurinol yang digunakan sebagai kontrol positif.

Perbedaan penginduksi yang digunakan pada masing-masing percobaan akan mempengaruhi peningkatan KAU di dalam darah. Hal ini teradi karena bedanya mekanisme yang terjadi dari masing-masing penginduksi. Potassium oxonate akan menghambat enzim uricase yang akan mengubah asam urat menjadi alantoin sehingga KAU dalam darah meningkat (Mazzali dkk. 2011). Kafein dapat digunakan untuk meningkatkan KAU karena kafein merupakan alkaloid derivat xantin yang memiliki senyawa metil teroksidasi dan membentuk asam urat.

Sedangkan jeroan berupa hati ayam maupun usus ayam dapat meningkatkan KAU melalui metabolisme purin yang dihasilkan akan semakin meningkat. Selain itu, penginduksi yang menggunakan kombinasi tentu akan menghasilkan KAU yang lebih tinggi bila dibandingkan dengan penelitian yang menggunakan penginduksi tunggal.

Pada penelitian yang menggunakan hewan percobaan tikus putih, dosis 70 mg/kg BB Ekstrak Etanol Daun Kelor (EEDK) merupakan dosis terendah dari seluruh ekstrak tumbuhan yang dapat menurunkan KAU darah. Penelitian tersebut dilakukan oleh Putra dkk. (2019), menjelaskan hasil bahwa EEDK dengan dosis 70, 140, dan 280 mg/KgBB mampu menurunkan KAU tikus putih kembali ke kadar normal dengan nilai persen penurunan yang lebih tinggi dibandingkan dengan kelompok kontrol positif allopurinol.

(47)

EEDK dosis 70 mg/kg BB tidak hanya merupakan dosis terendah namun juga merupakan ekstrak yang memiliki persentase penurunan KAU tertinggi sebesar 65,69% jika dibandingkan dengan dosis dan ekstrak tumbuhan lainnya yang memiliki aktivitas antihiperurisemia pada hewan percobaan tikus putih. Hal ini dapat memperkuat bahwa Ekstrak Etanol Daun Kelor memiliki potensi sebagai antihiperurisemia dan dapat dipertimbangkan untuk dikembangkan menjadi obat tradisional fitofarmaka.

Pada dosis 100 mg/kg BB terdapat dua jenis ekstrak yang dapat menurunkan KAU pada tikus, yaitu: Ekstrak Etil Asetat Tumbuhan Suruhan (EEATS) dan Ekstrak Etanol Daun Binahong (EEDB). Kedua jenis ekstrak ini menunjukkan hasil yang berbeda. Dimana EEATS dosis 100 mg/kg BB memiliki persentase penurunan KAU yang lebih tinggi sebesar 63,56% dibandingkan dengan EEDB 10 mg/kg BB sebesar 37,58%. Penelitian EEATS memiliki rerata KAU seteleh induksi yang lebih tinggi. Hal ini dapat dipengaruhi oleh perbedaan dosis penginduksi yang digunakan pada kedua penelitian tersebut. Pada penelitian ekstrak menggunakan daun Binahong yang dilakukan oleh Lidinilla (2014), menggunakan penginduksi asam urat berupa kafein 3 mg/200 g BB. Sedangkan penelitian ekstrak menggunakan tumbuhan Suruhan yang dilakukan oleh Mawati (2017), menggunakan penginduksi kafein 54 mg/200 g BB. Perbedaan dosis penginduksi tersebut mempengaruhi KAU pada hewan percobaan tikus setelah dilakukan penginduksian.

Pada dosis 150 mg/kg BB juga terdapat dua jenis ekstrak yang dapat menurunkan KAU pada tikusnamun memiliki persentase penurunan yang berbeda.

Penelitian Ekstrak Etanol Herba Anting-Anting (EEHAA) yang dilakukan oleh Munthe (2016), didapatkan hasil persentase penurunan yang lebih besar yaitu 53,41% dibandingkan penelitian Ekstrak Etanol Buah Andaliman (EEBA) yang

(48)

dilakukan oleh Hutahuruk (2019), diperoleh hasil persentase penurunan sebesar 18,55%. Hal tersebut menunjukkan bahwa EEHAA memberikan penurunan KAU yang lebih besar.

Pada dosis 200 mg/kg BB pada Ekstrak Etanol Rimpang Temulawak (EERT) yang dilakukan oleh Megawati (2019), didapatkan hasil penelitian dan uji statistik yang disimpulkan bahwa ekstrak etanol rimpang temulawak demgan dosis 200 mg/kg BB memiliki kemampuan paling optimal dalam menurunkan KAU dibandingkan dengan dosis 50 mg/kg BB dan 100 mg/kg BB dengan persentase penurunan sebesar 43,03 % dan mempunyai efketivitas yang sebanding dengan kontrol positif (allopurinol).

Dosis 600 mg/kg BB pada Ekstrak Etanol Rimpang Temu Putih (EERTP) merupakan dosis ekstrak efektif tertinggi yang dapat menurunkan KAU pada tikus putih percobaan. Hasil statistik penelitian yang dilakukan oleh Andriani (2015), menunjukkan bahwa EERTP dosis 600 mg/kg BB dan kontrol positif allopurinol memiliki penurunan KAU yang tidak berbeda signifikan, tetapi berbeda signifikan dengan dosis EERTP 400 dan 800 mg/kg BB.

Pada penelitian yang menggunakan hewan percobaan mencit putih, juga didapatkan hasil yang bervariasi dari masing-masing ekstrak. Ekstrak tumbuhan dengan dosis ekstrak yang sama, dapat dibandingkan melalui persentase penurunan yang dihasilkan. Ekstrak dengan persentase penurunan paling tinggi berarti menurunkan KAU lebih banyak.

Pada dosis 7,40 mg/kg BB ekstrak etanol daun hijau tumbuhan pucuk merah yang dilakukan oleh Juwita dkk. (2017), didapatkan hasil bahwa aktivitas antihiperurisemia maksimal dari ekstrak bekerja pada dosis 7,40 mg/kg BB dengan

Figure

Gambar 2.2 Metabolisme purin menjadi asam urat (Murray dkk., 2003)  2.2 Penyakit Asam Urat

Gambar 2.2

Metabolisme purin menjadi asam urat (Murray dkk., 2003) 2.2 Penyakit Asam Urat p.21
Tabel 2.1.  Tahapan Penelitian Systematic Review (Perry dan Hammond, 2002)

Tabel 2.1.

Tahapan Penelitian Systematic Review (Perry dan Hammond, 2002) p.33
Gambar 3.1 Alur PRISMA penelitian

Gambar 3.1

Alur PRISMA penelitian p.39
Tabel 4.1 Ekstrak tumbuhan dengan efek antihiperurisemia pada hewan  percobaan tikus putih berdasarkan variasi dosis

Tabel 4.1

Ekstrak tumbuhan dengan efek antihiperurisemia pada hewan percobaan tikus putih berdasarkan variasi dosis p.43
Tabel 4.2 Ekstrak tumbuhan yang dapat menurunkan KAU pada hewan  percobaan mencit putih berdasarkan variasi dosis

Tabel 4.2

Ekstrak tumbuhan yang dapat menurunkan KAU pada hewan percobaan mencit putih berdasarkan variasi dosis p.44
Tabel 4.3 Ekstrak tumbuhan yang dapat menurunkan KAU pada hewan  percobaan berdasarkan efektivitas

Tabel 4.3

Ekstrak tumbuhan yang dapat menurunkan KAU pada hewan percobaan berdasarkan efektivitas p.51
Tabel 4.4 Ekstrak tumbuhan yang dapat menurunkan KAU pada hewan  percobaan berdasarkan waktu panen

Tabel 4.4

Ekstrak tumbuhan yang dapat menurunkan KAU pada hewan percobaan berdasarkan waktu panen p.53
Gambar Tumbuhan

Gambar Tumbuhan

p.86
Gambar Tumbuhan

Gambar Tumbuhan

p.87
Gambar Tumbuhan

Gambar Tumbuhan

p.88
Gambar Tumbuhan

Gambar Tumbuhan

p.89
Gambar Tumbuhan

Gambar Tumbuhan

p.90
Gambar Tumbuhan

Gambar Tumbuhan

p.91
Gambar Tumbuhan

Gambar Tumbuhan

p.92
Gambar Tumbuhan

Gambar Tumbuhan

p.93
Gambar Tumbuhan

Gambar Tumbuhan

p.94
Gambar Tumbuhan

Gambar Tumbuhan

p.95
Gambar Tumbuhan

Gambar Tumbuhan

p.96
Gambar Tumbuhan

Gambar Tumbuhan

p.97
Gambar Tumbuhan

Gambar Tumbuhan

p.98
Gambar Tumbuhan

Gambar Tumbuhan

p.99
Gambar Tumbuhan

Gambar Tumbuhan

p.100
Gambar Tumbuhan

Gambar Tumbuhan

p.101

References

Related subjects :

Scan QR code by 1PDF app
for download now

Install 1PDF app in