Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Halaman 1 dari 24 hal Put. Nomor 718 K/Pdt.Sus-BPSK/2016
P U T U S A N
Nomor 718 K/Pdt.Sus-BPSK/2016
DEMI KEADILAN BERDASARKAN KETUHANAN YANG MAHA ESA M A H K A M A H A G U N G
memeriksa perkara perdata khusus sengketa konsumen pada tingkat kasasi memutus sebagai berikut dalam perkara antara:
HARSALUDDIN NASUTION, bertempat tinggal di Dusun Jalan WR. Supratman Nomor 191, Desa Padang Matinggi, Kecamatan Rantau Utara, Kabupaten Labuhan Batu;
Pemohon Kasasi dahulu Termohon Keberatan;
L a w a n
PT. CIMB NIAGA AUTO FINANCE, berkedudukan di Menara Sentraya Lt. 28, Jalan Iskandarsyah Raya, Nomor 1 A Kebayoran Baru, Jakarta Selatan dan mempunyai Kantor Cabang di Jalan Jenderal Ahmad Yani Nomor 114 B, Kelurahan Bakaran Batu, Kecamatan Rantau Selatan, Kabupaten Labuhan Batu, diwakili oleh Purwadi Indra Martono, selaku Direktur, dalam hal ini memberi kuasa kepada Bambang Nurdiansyah, S.H., dan kawan, Advokat pada Kantor Bambang Nurdiansyah, S.H., & Fam, beralamat di Jalan Medan Tenggara II Jermal I Nomor 19, Kota Medan, berdasarkan Surat Kuasa Khusus 25 April 2016;
Termohon Kasasi dahulu Pemohon Keberatan;
Mahkamah Agung tersebut;
Membaca surat-surat yang bersangkutan;
Menimbang, bahwa dari surat-surat tersebut ternyata bahwa sekarang Termohon Kasasi dahulu sebagai Pemohon Keberatan telah mengajukan keberatan terhadap putusan Badan Penyelesaian Sengketa Konsumen Nomor 568/Arbitrase/BPSK-BB/XII/2015 tanggal 11 Januari 2016 yang amarnya sebagai berikut:
1. Mengabulkan permohonan Konsumen seluruhnya;
2. Menyatakan ada kerugian di pihak Konsumen;
3. Menyatakan Pelaku Usaha yang tidak memberikan dokumen yang mengikat diri dalam Perjanjian kepada Konsumen/almarhumah Sainah, seperti Perjanjian Pembiayaan Konsumen, Polis Asuransi, Akta Jaminan Fidusia dan Sertifikat Fidusia yang berbentuk salinan/fotocopy saja adalah Perbuatan
Disclaimer
Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu.
Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui : Email : [email protected]
Telp : 021-384 3348 (ext.318) Halaman 1
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Halaman 2 dari 24 hal Put. Nomor 718 K/Pdt.Sus-BPSK/2016
Melawan Hukum dan Bertentangan dengan Undang Undang Nomor 8 Tahun 1999 Perlindungan Konsumen.
4. Menyatakan Perjanjian Pembiayaan Konsumen Nomor 447101300038 tanggal 25 Januari 2013 yang telah dibuat dan ditandatangani antara Konsumen/almarhumah Sainah dengan Pelaku Usaha adalah batal demi hukum atau tidak mempunyai kekuatan hukum;
5. Menyatakan Konsumen/Harsaluddin Nasution (Ahli Waris/Anak dari Almarhumah Sainah) dibebaskan dari hutang atas fasilitas pembiayaan yang telah diberikan oleh Pelaku Usaha kepada Konsumen/almarhumah Sainah, disebabkan Konsumen/almarhumah Sainah selaku pembuat dan penandatangan Perjanjian Pembiayaan Konsumen Nomor 447101300038 tanggal 25 Januari 2013 telah meninggal dunia.
6. Menghukum Pelaku Usaha Untuk mengembalikan BPKB (Bukti Pemilik Kendaraan Bermotor) Mobil Merk Toyota Avanza, type 1.5 S M/TWTI/MPV, Nomor Rangka MHFM1CA4J7K006626, Nomor Mesin DAF3617, Tahun Pembuatan 2007, Nomor Polisi (Registrasi) F 1239 BW, yang menjadi jaminan/agunan Konsumen/Almarhumah Sainah kepada Konsumen/
Harsaluddin Nasution (ahli waris/anak dari almarhumah Sainah) dan serta mengembalikan uang angsuran yang telah dibayarkan oleh Konsumen /Harsaluddin Nasution (ahli waris/anak dari almarhumah Sainah) yaitu sebanyak 3 bulan (tiga) kali angsuran atau setara dengan Rp10.800.000,00 (sepuluh juta delapan ratus ribu rupiah). Disebabkan Konsumen/almarhumah Sainah selaku Pembuat dan Penandatangan Perjanjian Pembiayaan Konsumen Nomor 447101300038 tanggal 25 Januari 2013 telah meninggal dunia;
7. Menghukum Pelaku Usaha untuk menghapus biaya denda tunggakan keterlambatan pembayaran angsuran per-bulannya, biaya finalti, bunga berjalan maupun lainnya yang bertentangan dengan peraturan.
8. Menghukum Pelaku Usaha untuk membayar uang denda sebesar Rp1.000.000,00 (satu juta rupiah) setiap harinya, apabila lalai atau tidak mau mematuhi keputusan pada butir 6 (enam) dan 7 (tujuh) tersebut diatas, terhitung sejak keputusan ini berkekuatan hukum tetap (In Kracht).
Bahwa, terhadap amar putusan Badan Penyelesaian Sengketa Konsumen tersebut, Pemohon Keberatan telah mengajukan keberatan di depan persidangan Pengadilan Negeri Rantau Prapat yang pada pokoknya sebagai berikut:
Disclaimer
Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu.
Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui : Email : [email protected]
Telp : 021-384 3348 (ext.318) Halaman 2
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Halaman 3 dari 24 hal Put. Nomor 718 K/Pdt.Sus-BPSK/2016 1. Tentang Kewenangan Pengadilan Negeri Rantau Prapat Dalam Memeriksa
Dan Mengadili Perkara Keberatan a quo.
− Bahwa berdasarkan Pasal 3 PERMA Nomor 1 Tahun 2006 tentang Tata Cara Pengajuan Keberatan terhadap Putusan Badan Penyelesaian Sengketa Konsumen telah menyebutkan bahwa keberatan terhadap putusan BPSK dapat diajukan baik oleh pelaku usaha dan/atau konsumen kepada Pengadilan Negeri ditempat kedudukan hukum konsumen tersebut ;
− Bahwa berdasarkan isi surat Permohonan Penyelesaian Konsumen dari Termohon Keberatan kepada BPSK Kabupaten Batubara, jelas menyebutkan bahwa Termohon Keberatan beralamat di Jalan WR Supratman Nomor 191, Desa Patang Matinggi, Kecamatan Rantau Utara, Kabupaten Labuhan Batu yang berarti secara hukum Termohon keberatan adalah memiliki tempat kedudukan hukum di Pengadilan Negeri Rantau Prapat dan adapun alamat tersebut adalah sebagai bentuk pengakuan Termohon Keberatan dan merupakan bukti yang sempurna dan secara hukum tidak perlu dibuktikan lagi kebenarannya ;
− Bahwa begitu pula berdasarkan data dan dokumen KTP dan Kartu Keluarga yang ada pada Pemohon keberatan, Almh. Sainah selaku Konsumen pada Pemohon Keberatan adalah beralamat di Jalan WR Supratman, Desa Patang Matinggi, Kecamatan Rantau Utara, Kabupaten Labuhan Batu;
− Bahwa oleh karena itu pengajuan keberatan yang Pemohon Keberatan ajukan ke Pengadilan Negeri Rantau Prapat telah sesuai dengan ketentuan yang diatur di dalam Pasal 3 PERMA Nomor 1 Tahun 2006 tentang Tata Cara Pengajuan Keberatan terhadap Putusan Badan Penyelesaian Sengketa Konsumen;
2. Tentang Tenggang Waktu Mengajukan Keberatan Terhadap Putusan BPSK.
− Bahwa berdasarkan Pasal 5 ayat 1 PERMA Nomor 1 Tahun 2006 tentang Tata Cara Pengajuan Keberatan terhadap Putusan Badan Penyelesaian Sengketa Konsumen telah menyebutkan bahwa keberatan diajukan dalam tenggang waktu 14 hari kerja terhitung sejak konsumen atau pelaku usaha menerima pemberitahuan putusan BPSK ;
Disclaimer
Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu.
Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui : Email : [email protected]
Telp : 021-384 3348 (ext.318) Halaman 3
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Halaman 4 dari 24 hal Put. Nomor 718 K/Pdt.Sus-BPSK/2016
Bahwa Putusan BPSK Kabupaten Batubara Nomor 568/Arbitrase/
BPSK-BB/XII/2015 diputuskan pada tanggal 11 Januari 2016, dan diterima oleh Pemohon Keberatan pada tanggal 12 Januari 2016, maka dengan demikian keberatan yang Pemohon Keberatan ajukan secara formal masih dalam tenggang waktu yang ditentukan oleh Pasal 5 ayat 1 PERMA Nomor 1 Tahun 2006 tentang Tata Cara Pengajuan Keberatan terhadap Putusan Badan Penyelesaian Sengketa Konsumen, yaitu masih dalam tenggang waktu 14 (empat belas) hari kerja sehingga beralasan hukum kiranya Majelis Hakim Pengadilan Negeri Rantau Prapat menerima keberatan dari Pemohon Keberatan dalam perkara ini;
− Bahwa setelah membaca, mempelajari dan meneliti secara saksama putusan Badan Penyelesaian Sengketa Konsumen (BPSK) Kabupaten Batubara Nomor 568/Arbitrase/BPSK-BB/XII/2015 tanggal 11 Januari 2016, nyata-nyata Badan Penyelesaian Sengketa Konsumen (BPSK) Kabupaten Batubara telah salah, lalai dan tidak mentaati aturan perundang-undangan yang berlaku serta terlalu jauh melampaui kewenangannya dengan menerima, memeriksa dan memutus perkara antara Termohon Keberatan dengan Pemohon Keberatan;
− Bahwa untuk lebih jelasnya kesalahan-kesalahan dan kelalaian Badan Penyelesaian Sengketa Konsumen (BPSK) Kabupaten Batubara tersebut, berikut ini kami sampaikan uraian-uraian keberatannya, yakni sebagai berikut :
1. Permohonan Penyelesaian Sengketa Konsumen Diajukan Bukan Oleh Ahli Waris Yang Sah Dari Almarhumah Sainah.
− Bahwa sengketa antara Pemohon Keberatan dengan Termohon Keberatan yang diajukan oleh Termohon Keberatan ke BPSK Kabupaten Batubara adalah bersumber dari Perjanjian Pembiayaan Konsumen antara Pemohon Keberatan dengan Sdra. Sainah yang tertuang ke dalam Perjanjian Pembiayaan Konsumen Nomor 447101300038 tanggal 17 Januari 2013, dan oleh karena Sdra. Sainah telah meninggal dunia pada tanggal 12 Januari 2015, maka selanjutnya Termohon Keberatan/
Harsaluddin Nasution yang mengaku sebagai anak/ahli waris dari Sdra Sainah telah mengajukan permohonan penyelesaian sengketa perkara a quo ke BPSK Kabupaten Batubara pada tanggal 2 November 2015 ; Bahwa mengenai tata cara permohonan penyelesaian sengketa konsumen ini telah diatur di dalam Pasal 15 Kepmendag RI Nomor
Disclaimer
Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu.
Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui : Email : [email protected]
Telp : 021-384 3348 (ext.318) Halaman 4
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Halaman 5 dari 24 hal Put. Nomor 718 K/Pdt.Sus-BPSK/2016
350/MPP/Kep/12/2001 tentang Pelaksanaan Tugas Dan Wewenang Badan Penyelesaian Sengketa Konsumen, yakni :
Pasal 15
1. Setiap konsumen yang dirugikan dapat mengajukan permohonan penyelesaian sengketa konsumen kepada BPSK baik secara tertulis maupun lisan melalui Sekretariat BPSK;
2. Permohonan penyelesaian sengketa konsumen sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dapat juga diajukan oleh ahli waris atau kuasanya;
3. Permohonan penyelesaian sengketa konsumen yang diajukan oleh ahli waris atau kuasanya sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) dilakukan apabila konsumen:
a. Meninggal dunia;
b. Sakit atau telah berusia lanjut sehingga tidak dapat mengajukan pengaduan sendiri baik secara tertulis maupun lisan, sebagaimana dibuktikan dengan surat keterangan dokter dan Bukti Kartu Tanda Penduduk (KTP);
c. Belum dewasa sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku; atau
d. Orang Asing (Warga Negara Asing).
4. Dst...
− Bahwa berdasarkan ketentuan di atas jelas diatur dalam hal konsumen yang bersangkutan telah meninggal dunia maka permohonan penyelesaian konsumen ke Badan Penyelesaian Sengketa Konsumen dapat diajukan oleh ahli waris yang bersangkutan;
− Bahwa akan tetapi pada kenyataanya permohonan sengketa konsumen dalam perkara a quo yang telah diputus oleh BPSK Kabupaten Batubara dengan Nomor 568/Arbitrase/BPSK- BB/XII/2015 tanggal 11 Januari 2016 yang diajukan keberatannya ini, ternyata diajukan oleh Sdra. Harsaluddin Nasution yang secara hukum bukanlah merupakan ahli waris yang sah dari Almarhumah Sainah selaku Konsumen PT. CIMB Niaga Auto Finance/Pemohon Keberatan berdasarkan Perjanjian Pembiayaan Konsumen Nomor 447101300038 tanggal 17 Januari 2013;
Disclaimer
Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu.
Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui : Email : [email protected]
Telp : 021-384 3348 (ext.318) Halaman 5
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Halaman 6 dari 24 hal Put. Nomor 718 K/Pdt.Sus-BPSK/2016
− Bahwa fakta Sdra. Harsaluddin Nasution bukanlah sebagai ahli waris yang sah dari Almarhumah Sainah tersebut terbukti dimana didalam pemeriksaan BPSK Kabupaten Batubara, sama sekali Sdra. Harsaluddin Nasution tidak ada mengajukan bukti yang menunjukkan ianya benar secara hukum adalah sebagai ahli waris yang sah dari almarhumah Sainah (vide putusan BPSK halaman 8 dan 9), karena itu maka nyatalah pengajuan permohonan penyelesaian sengketa konsumen oleh Termohon Keberatan tersebut tidak sah secara hukum, dan mengenai keabsahan Sdra.
Harsaluddin Nasution yang seakan-akan bertindak sebagai ahli waris yang sah dari Almarhumah Sainah ini sama sekali juga diabaikan pemeriksaannya oleh BPSK Kabupaten Batubara, maka karena itu nyatalah tindakan BPSK Batubara dan pengajuan penyelesaian konsumen oleh Termohon Keberatan/Harsaluddin Nasution tersebut telah bertentangan dengan ketentuan Pasal 15 Kepmendag Republik Indonesia Nomor 350/MPP/Kep/12/2001 tentang Pelaksanaan Tugas Dan Wewenang Badan Penyelesaian Sengketa Konsumen, hal mana cukup alasan Majelis Hakim Pengadilan Negeri Rantau Prapat untuk membatalkan putusan BPSK Kabupaten Batubara yang dimohonkan keberatannya dalam perkara a quo ;
2. Tentang Kompetensi Absolut, Badan Penyelesaian Sengketa Konsumen (BPSK) Kabupaten Batubara Tidak Berwenang Untuk Memeriksa Dan Mengadili Perkara a quo.
− Bahwa berdasarkan Perjanjian Pembiayaan Konsumen Nomor 447101300038 tanggal 17 Januari 2013, yang selanjutnya telah didaftarkan kepada Kantor Pendaftaran Fidusia Kantor Wilayah Kementerian Hukum dan HAM Sumatera Utara pada tanggal 23 April 2013 sesuai dengan Sertifkat Jaminan Fidusia Nomor W2.027192.AH.05.01 Tahun 2013, dimana berdasarkan perjanjian pembiayaan bersama tersebut jelas secara hukum antara Pemohon Keberatan dengan Sdra. Sainah telah terikat secara hukum di dalam suatu perikatan/perjanjian, dan sesuai dengan ketentuan pasal 1338 KUHPerdata, bahwa “semua perjanjian yang dibuat secara sah dan mengikat sebagai undang-undang bagi mereka yang membuatnya” ;
Disclaimer
Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu.
Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui : Email : [email protected]
Telp : 021-384 3348 (ext.318) Halaman 6
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Halaman 7 dari 24 hal Put. Nomor 718 K/Pdt.Sus-BPSK/2016
− Bahwa di dalam Perjanjian Pembiayaan Konsumen Nomor 447101300038 tanggal 17 Januari 2013, yang selanjutnya telah didaftarkan kepada Kantor Pendaftaran Fidusia Kantor Wilayah Kementerian Hukum dan HAM Sumatera Utara pada tanggal 23 April 2013 sesuai dengan Sertifkat Jaminan Fidusia Nomor W2.027192.AH.05.01 Tahun 2013, telah disepakati bersama oleh Pemohon Keberatan dan Sdra. Sainah, para pihak telah setuju dan telah menyepakati suatu pemilihan tempat penyelesaian hukum secara tersendiri ;
− Bahwa tempat pemilihan hukum dimaksud dalam Perjanjian Pembiayaan yang mengikat Pemohon Keberatan dan Sdra. Sainah adalah di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, vide pasal 18 ayat (2) Ketentuan dan Syarat Umum Perjanjian Pembiayaan Konsumen, yang berbunyi sebagai berikut : “Untuk perjanjian ini dengan segala akibat dan pelaksanaannya kedua belah pihak memilih domisili di Kantor Panitera Pengadilan Jakarta Selatan di Jakarta dengan tidak mengurangi hak Kreditur untuk mengajukan tuntutan-tuntutan hukum terhadap debitur di Pengadilan lain”;
− Bahwa dengan demikian, karena pada kenyataannya pemilihan penyelesaian hukum (choice of law) tersebut sudah dilakukan oleh Pemohon Keberatan dan Sdra. Sainah untuk penyelesaian hukum melalui Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, maka jelaslah bahwa para pihak, harus tunduk pada pemilihan penyelesaian hukum tersebut di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, sesuai dengan apa-apa yang telah disepakatinya atas Perjanjian Pembiayaan dengan Jaminan Fidusia tersebut ;
Bahwa sehingga persoalan yang terjadi antara Pemohon Keberatan dengan Sdra. Sainah tentunya adalah bukan kewenangan BPSK Kabupaten Batubara tetapi adalah kewenangan Pengadilan Negeri Jakarta Selatan ;
− Bahwa pilihan hukum sebagaimana tersebut diatas adalah suatu kepastian hukum yang dipilih yang tidak dapat diinterpretasikan macam- macam secara subyektif, karena hal tersebut justru akan menghilangkan esensi kepastian hukum suatu kesepakatan dalam perjanjian;
− Bahwa karena itu jelaslah pemilihan penyelesaian hukum yang telah dilakukan oleh para pihak yang bersengketa harus dihormati oleh siapapun, termasuk oleh Badan Penyelesaian Sengketa Konsumen Kabupaten Batubara sehingga oleh karenanya sangat beralasan hukum bagi Pengadilan Negeri Rantau Prapat untuk menyatakan Badan Penyelesaian
Disclaimer
Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu.
Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui : Email : [email protected]
Telp : 021-384 3348 (ext.318) Halaman 7
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Halaman 8 dari 24 hal Put. Nomor 718 K/Pdt.Sus-BPSK/2016
Sengketa Konsumen Kabupaten Batubara tidak mempunyai kewenangan untuk memeriksa dan memutus sengketa dalam perkara ini ;
3. Tentang Majelis Badan Penyelesaian Sengketa Konsumen Kabupaten Batubara tidak berwenang memeriksa perkara a quo secara arbitrase.
− Bahwa di dalam putusannya halaman 12 alinea kelima, Badan Penyelesaian Sengketa Konsumen Kabupaten Batubara telah memberikan pertimbangan hukum, yang dikutip sebagai berikut :
“Menimbang, bahwa Konsumen telah memilih arbitrase sebagai alternatif penyelesaian sengketa berdasarkan surat pernyataan memilih penyelesaian sengketa konsumen dengan cara Arbitrase tanggal 19 Oktober 2015 ;
− Bahwa pertimbangan hukum majelis Badan Penyelesaian Sengketa Konsumen Kabupaten Batubara tersebut diatas adalah suatu pertimbangan hukum yang keliru dan bertentangan dengan peraturan perundang-undangan dan meremehkan syarat-syarat penyelesaian sengketa melalui Arbitrase, sebagaimana yang telah diatur di dalam aturan perundang-undangan yakni :
− Pasal 1 ayat 1 Undang Undang Nomor 30 Tahun 1999 tentang Arbitrase dan Alternatif Penyelesaian Sengketa, yang menyebutkan : “Arbitrase adalah cara penyelesaian suatu sengketa perdata di luar peradilan umum yang didasarkan pada perjanjian arbitrase yang dibuat secara tertulis oleh para pihak yang bersengketa”;
− Pasal 4 ayat 1 Undang Undang Nomor 30 Tahun 1999 tentang Arbitrase dan Alternatif Penyelesaian Sengketa, yang menyebutkan : “Dalam hal para pihak telah menyetujui bahwa sengketa di antara mereka akan diselesaikan melalui arbitrase dan para pihak telah memberikan wewenang, maka arbiter berwenang menentukan dalam putusannya mengenai hak dan kewajiban para pihak jika hal ini tidak diatur dalam perjanjian mereka”;
− Pasal 4 ayat 2 Undang Undang Nomor 30 Tahun 1999 tentang Arbitrase dan Alternatif Penyelesaian Sengketa, yang menyebutkan :
“Persetujuan untuk menyelesaikan sengketa melalui arbitrase sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dimuat dalam suatu dokumen yang ditandatangani oleh para pihak”;
− Pasal 9 ayat 1 Undang Undang Nomor 30 Tahun 1999 tentang Arbitrase dan Alternatif Penyelesaian Sengketa, yang menyebutkan : “Dalam hal para pihak memilih penyelesaian sengketa melalui arbitrase setelah
Disclaimer
Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu.
Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui : Email : [email protected]
Telp : 021-384 3348 (ext.318) Halaman 8
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Halaman 9 dari 24 hal Put. Nomor 718 K/Pdt.Sus-BPSK/2016
sengketa terjadi, persetujuan mengenai hal tersebut harus dibuat dalam suatu perjanjian tertulis yang ditandatangani oleh para pihak”.
− Pasal 45 Undang Undang Nomor 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen, yang menyebutkan : “Penyelesaian sengketa konsumen dapat ditempuh melalui Pengadilan atau di luar Pengadilan berdasarkan pilihan sukarela para pihak yang bersengketa”;
− Pasal 4 ayat 1 Keputusan Menteri Perindustrian dan Perdagangan Republik Indonesia Nomor 350/MPP/Kep/12/2001 tentang Pelaksanaan Tugas dan Wewenang Badan Penyelesaian Sengketa Konsumen, yang menegaskan : “Penyelesian sengketa konsumen oleh BPSK melalui konsiliasi atau mediasi atau arbitrase sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 huruf a, dilakukan atas dasar pilihan persetujuan para pihak yang bersangkutan”;
− Bahwa dengan merujuk kepada aturan perundang-undangan sebagaimana yang disebutkan di atas, sangat terang dan jelas Majelis BPSK Kabupaten Batubara yang di dalam pertimbangan hukumnya pada halaman 16 alinea terakhir putusan yang menyebutkan
“ Menimbang, bahwa Konsumen/Harsaluddin Nasution (ahli waris dari Almarhumah Sainah) telah memilih arbitrase sebagai alternatif penyelesaian sengketa berdasarkan surat pernyataan memilih penyelesaian sengketa konsumen dengan cara Arbitrase tanggal 2 November 2015”, adalah pertimbangan hukum yang keliru dan sebagai bentuk kesewenang-wenangan oleh Majelis BPSK Kabupaten Batubara yang seenaknya saja mengambil jalan pintas dan secara sepihak untuk mengalihkan penyelesaian sengketa secara arbitrase tanpa adanya persetujuan dari Pemohon Keberatan selakusalah satu pihak yang bersengketa, hal mana secara hukum tindakan Majelis BPSK Kabupaten Batubara perkara a quo nyata-nyata telah bertentangan dengan peraturan perundang-undangan sebagaimana yang telah disebutkan di atas, yang secara hukum dapat dijadikan alasan untuk membatalkan putusan BPSK yang dimohonkan didalam keberatan ini ;
− Bahwa disamping itu sesuai dengan ketentuan Pasal 32 ayat 1 Keputusan Menteri Perindustrian dan Perdagangan Republik Indonesia Nomor 350/MPP/Kep/12/2001 tentang Pelaksanaan Tugas dan Wewenang Badan Penyelesaian Sengketa Konsumen, disebutkan pula :
Disclaimer
Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu.
Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui : Email : [email protected]
Telp : 021-384 3348 (ext.318) Halaman 9
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Halaman 10 dari 24 hal Put. Nomor 718 K/Pdt.Sus-BPSK/2016
“Dalam penyelesaian sengketa konsumen dengan cara Arbitrase, para pihak memilih arbiter dari anggota BPSK yang berasal dari unsur-unsur pelaku usaha dan konsumen sebagai anggota Majelis”;
− Bahwa akan tetapi kenyataannya ketentuan Pasal 32 ayat 1 Keputusan Menteri Perindustrian dan Perdagangan Republik Indonesia Nomor 350/MPP/Kep/12/2001 tentang Pelaksanaan Tugas dan Wewenang Badan Penyelesaian Sengketa Konsumen tersebut lagi-lagi dilanggar oleh Majelis BPSK Kabupaten Batubara, karena nyata-nyata terbukti Majelis BPSK Kabupaten Batubara perkara a quo secara sepihak telah menunjuk dirinya sendiri sebagai yang berwenang untuk memutus sengketa antara Pemohon Keberatan dengan Termohon Keberatan a quo, sehingga semakin jelas bahwa pembentukan Majelis Arbiter oleh Majelis BPSK a quo adalah cacat secara yuridis yang lebih lanjut sesungguhnya Majelis arbiter BPSK Kabupaten Batubara perkara a quo tidak mempunyai kewenangan apapun untuk memeriksa sengketa antara Pemohon Keberatan dengan Termohon Keberatan ;
4. Tentang Pemeriksaan Perkara Dalam Putusan Bpsk Kabupaten Batubara Perkara A Quo Telah Melebihi Batas Waktu 21 (Dua Puluh Satu) Hari Kerja.
− Bahwa Pasal 38 Keputusan Menteri Perindustrian dan Perdagangan Republik Indonesia Nomor 350/MPP/Kep/12/2001 tentang Pelaksanaan Tugas dan Wewenang Badan Penyelesaian Sengketa Konsumen, sudah menentukan batas waktu bagi Majelis BPSK dalam memeriksa dan menyelesaikan setiap sengketa konsumen yakni selambat-lambatnya 21 (dua puluh satu) hari kerja terhitung sejak gugatan diterima oleh BPSK ;
− Bahwa sebagaimana surat pengaduan dan putusan Mejelis BPSK Kabupaten Batubara perkara a quo, nyata Termohon Keberatan mengajukan gugatannya ke BPSK Kabupaten Batubara adalah pada tanggal 2 November 2015 dan Majelis BPSK Kabupaten Batubara perkara a quo baru memberikan putusan pada tanggal 11 Januari 2016;
− Bahwa apabila dihitung berdasarkan Kalender Masehi resmi yang berlaku secara nasional, sejak tanggal 2 November 2015 sampai dengan tanggal 11 Januari 2015 terdapat 48 hari kerja, oleh karena itu nyatalah pemeriksaan perkara a quo oleh Badan Penyelesaian Sengketa Konsumen Batubara telah melewati waktu 21 hari kerja sebagaimana yang ditentukan oleh ketentuan Pasal 38 Keputusan Menteri Perindustrian dan Perdagangan Republik Indonesia Nomor
Disclaimer
Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu.
Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui : Email : [email protected]
Telp : 021-384 3348 (ext.318) Halaman 10
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Halaman 11 dari 24 hal Put. Nomor 718 K/Pdt.Sus-BPSK/2016
350/MPP/Kep/12/2001 tentang Pelaksanaan Tugas dan Wewenang Badan Penyelesaian Sengketa Konsumen ;
5. Tentang Putusan BPSK Kabupaten Batubara Telah Melampaui Kewenangan.
− Bahwa sebagaimana yang tercantum dan tertulis jelas di dalam putusan BPSK Kabupaten Batubara Nomor 568/Arbitrase/BPSK-BB/XII/2015 tanggal 11 Januari 2016 yang telah menjatuhkan putusan perkara a quo yang didalam memberikan putusan tersebut nyata-nyata telah melampaui kewenangannya dengan pemberian irah-irah “Demi Keadilan Berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa”, dengan alasan-alasan sebagai berikut :
1. Badan Penyelesaian Sengketa Konsumen bukanlah merupakan bahagian dari lembaga Peradilan;
2. Dari seluruh aturan-aturan hukum yang menjadi dasar kewenangan Badan Penyelesaian Sengketa Konsumen, baik itu Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen maupun Keputusan Menteri Perindustrian dan Perdagangan Republik Indonesia Nomor 350/MPP/Kep/12/2001 tentang Pelaksanaan Tugas dan Wewenang Badan Penyelesaian Sengketa Konsumen, tidak ada satupun dasar hukum, yang memberikan kewenangan kepada Badan Penyelesaian Sengketa Konsumen untuk memuat irah-irah “Demi Keadilan Berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa” di dalam putusannya, karena secara hukum agar putusan BPSK tersebut memiliki fiat eksekusi maka putusan BPSK tersebut harus dimintakan penetepannya eksekusinya terlebih dahulu ke Pengadilan;
− Bahwa berdasarkan alasan-alasan tersebut di atas nyata BPSK Kabupaten Batubara yang telah memberikan putusan Nomor 568/Arbitrase/BPSK-BB/XII/2015 tanggal 11 Januari 2016, dengan memuat irah-irah “Demi Keadilan Berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa” didalam putusannya adalah suatu tindakan yang melampui kewenangannya dan bertentangan dengan Undang- Undang Nomor 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen maupun Keputusan Menteri Perindustrian dan Perdagangan Republik Indonesia Nomor 350/MPP/Kep/12/2001 tentang Pelaksanaan Tugas dan Wewenang Badan Penyelesaian Sengketa Konsumen;
6. Keberatan Atas Pertimbangan Hukum BPSK Kabupaten Batubara Yang Menyatakan Pelaku Usaha Telah Memberlakukan 8 (Delapan) Daftar Negatif Klausula Baku Pada Dokumen Perjanjian.
Disclaimer
Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu.
Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui : Email : [email protected]
Telp : 021-384 3348 (ext.318) Halaman 11
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Halaman 12 dari 24 hal Put. Nomor 718 K/Pdt.Sus-BPSK/2016
− Bahwa didalam putusannya pada halaman 15 alinea ketiga dan halaman 16 alinea keempat BPSK telah memberikan pertimbangan hukum yang dikutip sebagai berikut :
Halaman 15 alinea ketiga :
“ Menimbang, bahwa Pelaku Usaha yang tidak memberikan dokumen yang lengkap kepada Majelis Badan Penyelesaian Sengketa Konsumen (BPSK) Kabupaten Batubara khususnya Perjanjian Pembiayaan Konsumen, Polis Asuransi, Akta Jaminan Fidusia dan Sertifikat Fidusia dan ketika Majelis Penyelesaian Sengketa Konsumen (BPSK) Kabupaten Batubara membaca dan memeriksa perkara ini juga masih ditemukannya frase dalam kalimat yang merupakan 8 (delapan) daftar negatif klausula baku yang dilarang dalampasal 18 ayat (1) Undang Undang Nomor 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen sehingga Majelis berpendapat bahwa Pelaku Usaha telah memberlakukan beberapa 8 (delapan) daftar negatif klausula baku pada dokumen atau perjanjian sehingga layaklah bila Pelaku Usaha mendapatkan sanksi yang telah ditetapkan oleh undang-undang berupa batalnya perjanjian konsumen dan Pelaku Usaha tersebut”;
Halaman 16 alinea keempat :
“Menimbang, bahwa berdasarkan pertimbangan-pertimbangan di atas, maka Majelis BPSK Kabupaten Batubara berpendapat bahwa perjanjian yang telah dibuat dan ditanda tangani oleh Konsumen/almarhumah Sainah dengan Pelaku Usaha terdapat ketentuan yang tidak memberikan kedudukan yang seimbang antara Konsumen dengan Pelaku Usaha, dan didalamnya mengandung pemanfaatan posisi Konsumen yang lemah. Maka ketentuan tersebut harus dinyatakan tidak mempunyai ketentuan hukum yang mengikat.”
− Bahwa pertimbangan hukum yang dijadikan dasar oleh BPSK Kabupaten Batubara untuk membatalkan perjanjian pembiayaan konsumen antara Pemohon Keberatan dan Termohon Keberatan tersebut nyata-nyata adalah tidak berdasar, aneh, kontradiktif dan terlalu mengada-ada karena faktanya bagaimana mungkin dan dari mana serta dengan dasar bukti apa BPSK Kabupaten Batubara mengetahui adanya 8 (delapan) daftar negatif klausula baku yang dilarang oleh undang-undang tersebut, sedangkan perjanjian pembiayaan konsumen yang menurut BPSK Kabupaten Batubara
Disclaimer
Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu.
Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui : Email : [email protected]
Telp : 021-384 3348 (ext.318) Halaman 12
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Halaman 13 dari 24 hal Put. Nomor 718 K/Pdt.Sus-BPSK/2016
terdapat 8 (delapan) daftar negatif klausula baku tersebut faktanya sama sekali tidak pernah sekalipun muncul dan tidak pernah diperiksa di dalam persidangan BPSK Kabupaten Batu Bara tersebut, lantas timbul pertanyaan, klausula baku perjanjian mana yang dimaksud oleh BPSK Kabupaten Batu Bara tersebut;
− Bahwa setelah Pemohon Keberatan membaca dan mempelajari putusan BPSK Kabupaten Batubara, nyatalah pertimbangan hukum BPSK Kabupaten Batubara tersebut hanyalah didasarkan kepada keterangan sepihak saja dari Termohon Keberatan yang mendalilkan pada saat penandatanganan perjanjian tidak ada penjelasan dari Pemohon Keberatan dan apalagi bentuk dan hurufnya kecil-kecil, tanpa disertai dengan bukti dan alasan hukum yang benar Majelis BPSK Kabupaten Batubara telah secara sewenang-wenang memberikan pertimbangan dan pendapat hukum bahwa Pemohon Keberatan telah memberlakukan 8 (delapan) daftar negatif klausula baku pada dokumen perjanjian antara Pemohon Keberatan dengan Sdra. Sainah sehingga layak bila Pelaku Usaha/Pemohon Keberatan mendapatkan sanksi berupa batalnya perjanjian konsumen dan pelaku usaha tersebut ;
− Bahwa selanjutnya pada halaman 16 alinea ketiga, Badan Penyelesaian Sengketa Konsumen Kabupaten Batubara juga memberikan pertimbangan hukum, yang dikutip sebagai berikut :
“Menimbang, bahwa dalam putusan Mahkamah Agung RI Nomor 2356 K/Pdt/2008 tanggal 18 Februari 2009 terdapat suatu kaidah hukum yang pada pokoknya menyatakan bahwa suatu perjanjian yang merupakan “Misbruik van omstandigheiden” dapat mengakibatkan perjanjian dapat dibatalkan karena tidak lagi memenuhi unsur-unsur Pasal 1320 KUHPerdata yaitu tidak ada kehendak bebas.”
− Bahwa mengenai kontrak baku ini, pakar hukum perbankan Indah Wahyuni berpendapat : “Meskipun terdapat syarat eksonerasi, kata sepakat dalam perjanjian baku tetap terjadi, alasan syarat eksonerasi dalam perjanjian baku bukan merupakan unsur pokok (essensialia), tetapi hanya unsur tambahan (naturalia). Perjanjian pokok telah disepakati kedua belah pihak, sehingga dapat dikatakan telah terjadi kesepakatan meski ada syarat tambahan (eksonerasi) yang dibuat sepihak. Hal ini sejalan pula dengan pendapat Mariam Darius
Disclaimer
Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu.
Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui : Email : [email protected]
Telp : 021-384 3348 (ext.318) Halaman 13
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Halaman 14 dari 24 hal Put. Nomor 718 K/Pdt.Sus-BPSK/2016
Badrulzaman yang mengemukakan sebagai berikut : “Perjanjian baku dapat diterima sebagai perjanjian berdasarkan fiksi adanya kemauan dan kepercayaan (fiche van wil en verrouwen) yang membangkitkan kepercayaan bahwa para pihak mengikatkan diri pada perjanjian itu ;
− Bahwa dengan sadarnya Sdra. Sainah membubuhkan tanda tangan pada suatu formulir perjanjian baku, tanda tangan itu menunjukkan kepercayaan bahwa yang bertandatangan mengetahui dan menghendaki isi formulir yang ditandatanganinya karena tidak mungkin seseorang menandatangani apa yang tidak diketahui isinya;
- Bahwa karena itu perjanjian pembiayaan konsumen antara Pemohon Keberatan dengan Sdra. Sainah secara hukum telah memenuhi syarat sahnya suatu perjanjian sebagaimana yang telah ditentukan oleh Pasal 1320 KUHPerdata dimana baik itu Pemohon Keberatan maupun Sdra. Sainah saling membubuhkan tanda tangan dalam dokumen perjanjian pembiayaan tersebut, dengan demikian berarti para pihak secara suka rela setuju pada isi perjanjian tersebut dan bertanggung jawab atas perjanjian yang mereka sepakati bersama, maka dengan demikian pencantuman klausul baku tidaklah mengakibatkan batalnya perjanjian, dengan demikian Perjanjian Pembiayaan Konsumen Nomor 447101300038 tanggal 17 Januari 2013, yang selanjutnya telah didaftarkan kepada Kantor Pendaftaran Fidusia Kantor Wilayah Kementerian Hukum dan HAM Sumatera Utara pada tanggal 23 April 2013 sesuai dengan Sertifkat Jaminan Fidusia Nomor W2.027192.AH.05.01 Tahun 2013 berlaku/eksis dan mengikat bagi para pihak ;
− Bahwa sedangkan mengenai dalil yang disampaikan oleh Termohon Keberatan didalam gugatannya di BPSK Kabupaten Batubara, yang selanjutnya telah dijadikan pertimbangan hukum dan putusan oleh Majelis BPSK Kabupaten Batubara, yang menyatakan Pelaku Usaha/Pemohon Keberatan tidak tidak ada menyerahkan copy salinan perjanjian pembiayaan Konsumen Nomor 447101300038 tanggal 17 Januari 2013 serta polis asuransi kepada Sdra. Sainah adalah pertimbangan dan putusan yang tidak benar, karena pada kenyataannya setelah penanda tanganan Perjanjian Pembiayaan Konsumen tersebut Sdra. Sainah telah menerima salinan perjanjian dan Polis asuransi tersebut, dengan tujuan utama agar Sdra. Sainah mengetahui dengan pasti jumlah/kewajiban setiap bulannya yang
Disclaimer
Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu.
Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui : Email : [email protected]
Telp : 021-384 3348 (ext.318) Halaman 14
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Halaman 15 dari 24 hal Put. Nomor 718 K/Pdt.Sus-BPSK/2016
harus dibayarkannya kepada Pemohon Keberatan, dan faktanya Sdra. Sainah tahu persis dan telah melakukan pembayaran angsuran mobil yang disepakati dengan Pemohon Keberatan, oleh karena itu aneh apabila Termohon Keberatan mendalilkan tidak ada menerima salinan perjanjian pembiayaan antara Pemohon Keberatan dengan Sdra. Sainah sedangkan ianya mengaku dan sempat beberapa kali melakukan pembayaran kepada Pemohon Keberatan, dari pengakuan Termohon Keberatan yang telah sempat melakukan pembayaran tersebut nyata terbukti Sdra. Sainah sebenarnya mengetahui dan memahami dengan betul kewajibannya kepada Pemohon Keberatan sebagaimana yang telah disepakati didalam Perjanjian Pembiayaan Konsumen tersebut ;
− Bahwa begitu pula dengan polis asuransi, tidak benar dalil Termohon Keberatan tidak ada menerima dan mengetahui Polis Asuransi tersebut, karena faktanya menurut data Laporan Penyelesaian Klaim yang diterima oleh Pemohon Keberatan dari asuransi yang bersangkutan yakni Laporan dari Asuransi Jasindo tanggal 25 Januari 2016, Sdra. Sainah maupun keluarga Sdra. Sainah telah 5 (lima) kali menerima penyelesaian klaim ganti kerugian dari Asuransi Jasindo, yakni :
− Akibat ditabrak pada tanggal 31 Maret 2013 dan diserempet pada tanggal 1 April 2013, Termohon Keberatan telah menerima klaim ganti kerugian sebesar Rp 2.772.000,00 ;
− Akibat menabrak dinding tembok pembatas jalan pada tanggal 8 Desember 2013, Termohon Keberatan telah menerima klaim ganti kerugian sebesar Rp30.269.550,00;
− Akibat diserempet betor pada tanggal 9 Maret 2014 dan ditabrak mobil lain pada tanggal 11 Maret 2014, Termohon Keberatan telah menerima klaim ganti kerugian sebesar Rp7.507.000,00 ;
− Akibat menyerempet mobil pick up pada tanggal 20 April 2014, Termohon Keberatan telah menerima klaim ganti kerugian sebesar Rp 4.893.000,00 ;
− Akibat menyerempet pintu garasi rumah pada tanggal 19 Maret 2015 dan menabrak pot bunga batu pada tanggal 22 Maret 2015, Termohon Keberatan telah menerima ganti kerugian sebesar Rp 4.460.000,00 ;
Disclaimer
Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu.
Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui : Email : [email protected]
Telp : 021-384 3348 (ext.318) Halaman 15
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Halaman 16 dari 24 hal Put. Nomor 718 K/Pdt.Sus-BPSK/2016
− Bahwa berdasarkan fakta telah berulang kalinya Sdra. Sainah maupun keluarganya menerima klaim ganti kerugian dari Asuransi Jasindo sebagaimana tersebut di atas, semakin membuktikan ketidak benaran dalil Termohon Keberatan yang menyebutkan tidak ada menerima polis asuransi dari Pemohon Keberatan ;
− Bahwa oleh karena itu berdasarkan uraian-uraian hukum yang Pemohon Keberatan sampaikan di atas maka patut dan beralasan hukum kiranya bagi Majelis Hakim Pengadilan Rantau Prapat untuk menganulir pertimbangan hukum Majelis BPSK Kabupaten Batubara yang secara nyata dengan tanpa disertai dasar hukum dan alasan hukum yang jelas dan terperinci secara sewenang-wenang telah membatalkan Perjanjian Pembiayaan Konsumen Nomor 447101300038 tanggal 17Januari 2013 antara Pemohon Keberatan dengan Sdra. Sainah ;
7. Keberatan atas Putusan BPSK Kabupaten Batubara Pada Angka 5 Putusan, yang menyatakan Konsumen/Harsaluddin Nasution (ahli waris/anak dari almarhumah Sainah) dibebaskan dari hutang atas fasilitas pembiayaan yang telah diberikan oleh Pelaku Usaha kepada Konsumen/Almarhumah Sainah, disebabkan konsumen/almarhumah Sainah Selaku Pembuat Dan Penandatangan Perjanjian Pembiayaan Konsumen Nomor 447101300038 tanggal 25 Januari 2013 telah meninggal dunia;
− Bahwa BPSK Kabupaten Batubara telah memberikan putusan pada halaman 17 angka 5 yang pada pokoknya membebaskan hutang/sisa angsuran kenderaan bermotor yang fasiltas pembiayaanya diberikan oleh Pemohon Keberatan kepada Sdra. Sainah dengan alasan hanya karena Sdra.Sainah selaku Pembuat dan Penandatangan Perjanjian Pembiayaan Konsumen Nomor 447101300038 tanggal 25 Januari 2013 telah meninggal dunia, tanpa disertai alasan-alasan hukum yang jelas,nyata- nyata tidak dapat dibenarkan secara hukum ;
− Bahwa alasan BPSK Kabupaten Batubara dalam memberikan putusan tersebut hanya di dasarkan karena Sdra Sainah telah meninggal dunia adalah alasan hukum yang rapuh, keliru, sangat mengada-ngada dan merupakan bentuk kesewenang-wenangan BPSK Kabupaten Batubara kepada Pemohon Keberatan, karena selain harus memuat alasan dan dasar hukum yang jelas putusan tersebut BPSK Kabupaten Batubara haruslah memuat pula pasal tertentu dari peraturan perundang-undangan yang bersangkutan ataupun dengan berdasarkan kepada bukti-bukti
Disclaimer
Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu.
Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui : Email : [email protected]
Telp : 021-384 3348 (ext.318) Halaman 16
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Halaman 17 dari 24 hal Put. Nomor 718 K/Pdt.Sus-BPSK/2016
tertentu, akan tetapi dalam seluruh putusan BPSK Kabupaten Batubara tidak satupun menyebut pasal peraturan tertentu maupun bukti yang mana yang menjadi dasar putusan tersebut ;
Bahwa, berdasarkan alasan-alasan tersebut di atas, Pemohon Keberatan mohon kepada Pengadilan Negeri Rantau Prapat agar memberikan putusan sebagai berikut:
1. Menerima dan mengabulkan keberatan Pemohon Keberatan untuk seluruhnya ;
2. Menyatakan Badan Penyelesaian Sengketa Konsumen Kabupaten Batubara tidak berwenang memeriksa dan mengadili sengketa antara Termohon Keberatan dengan Pemohon Keberatan dalam perkara ini;
3. Menyatakan batal dan tidak berkekuatan hukum Putusan BPSK Kabupaten Batubara Nomor 568/Arbitrase/BPSK-BB/XII/2015 tanggal 11 Januari 2016;
4. Menghukum Termohon Keberatan untuk membayar segala biaya yang timbul dalam perkara ini ;
Atau :
Apabila Majelis Hakim berpendapat lain, mohon putusan yang seadil-adilnya (ex aequo et bono);
Bahwa, terhadap keberatan tersebut, Pengadilan Negeri Rantau Prapat telah memberikan putusan Nomor 05/Pdt.Sus-BPSK/2016/PN.RAP. tanggal 7 Maret 2016 yang amarnya sebagai berikut:
- Mengabulkan Permohonan Pemohon Keberatan untuk sebagian;
- Menyatakan perjanjian pembiayaan konsumen 447101300038 tanggal 25 Januari 2013 sah dan mengikat secara hukum;
- Menyatakan Termohon Keberatan telah melakukan wanprestasi/cidera janji;
- Menyatakan putusan Arbitrase BPSK Kabupaten Batu Bara Nomor 568/Arbitrase/BPSK-BB/XII/2015 tanggal 11 Januari 2016 tidak berkekuatan hukum;
- Menghukum Termohon Keberatan untuk membayar biaya perkara yang sampai hari ini ditetapkan sejumlah Rp261.000,00 (dua ratus enam puluh satu ribu rupiah);
Menimbang, bahwa putusan Pengadilan Negeri Rantau Prapat tersebut telah diberitahukan kepada Pemohon Kasasi/Termohon Keberatan pada tanggal 18 Maret 2016, terhadap putusan tersebut, Pemohon Kasasi/Termohon Keberatan, mengajukan permohonan kasasi pada tanggal 23 Maret 2016, sebagaimana ternyata dari Akta Permohonan Kasasi Nomor 05/Pdt.Sus- BPSK/2016/PN.Rap. yang dibuat oleh Panitera Pengadilan Negeri Rantau
Disclaimer
Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu.
Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui : Email : [email protected]
Telp : 021-384 3348 (ext.318) Halaman 17
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Halaman 18 dari 24 hal Put. Nomor 718 K/Pdt.Sus-BPSK/2016
Prapat, permohonan tersebut diikuti dengan memori kasasi yang diterima di Kepaniteraan Pengadilan Negeri Rantau Prapat pada tanggal 5 April 2016;
Bahwa memori kasasi telah disampaikan kepada Pemohon Kasasi/Termohon Keberatan pada tanggal 9 Mei 2016, kemudian Termohon Kasasi/Pemohon Keberatan mengajukan kontra memori kasasi yang diterima di Kepaniteraan Pengadilan Negeri Rantau Prapat pada tanggal 19 Mei 2016;
Menimbang, bahwa permohonan kasasia quo beserta alasan-alasannya telah diberitahukan kepada pihak lawan dengan saksama, diajukan dalam tenggang waktu dan dengan cara yang ditentukan dalam undang-undang, oleh karena itu permohonan kasasi tersebut secara formal dapat diterima;
Menimbang, bahwa keberatan-keberatan kasasi yang diajukan oleh Pemohon Kasasi dalam memori kasasinya adalah:
I. Tentang Keberatan.
- Tentang tidak berwenang atau melampaui wewenang;
- Bahwa Judex Facti telah membatalkan keputusan arbitrase Badan Penyelesaian Sengketa Konsumen (BPSK) Pemerintah Kabupaten Batu Bara dalam perkara a quo, sedangkan menurut Pasal 6 ayat (3) Peraturan Mahkamah Agung RI Nomor 01 Tahun 2006 tentang tata cara pengajuan keberatan terhadap putusan Badan Penyelesaian Sengketa Konsumen (BPSK) disebutkan “(3) keberatan terhadap putusan Arbitrase Badan Penyelesaian Sengketa Konsumen (BPSK) dapat diajukan apabila memenuhi pernyataan Pembatalan Putusan Arbitrase sebagaimana diatur dalam Pasal 70 Undang Undang Nomor 30 Tahun 1999 tentang Arbitrase dan Alternatif Penyelesaian Sengketa yaitu :
a) Surat atau dokumen yang diajukan dalam pemeriksaan setelah putusan dijatuhkan diakui palsu atau dinyatakan palsu.
b) Setelah Putusan Arbitrase BPSK diambil, ditemukan dokumen yang bersifat menentukan yang disembunyikan pihak lawan;
Putusan diambil dari hasil tipu muslihat yang dilakukan salah satu pihak dalam pemeriksaan sengketa sedangkan, Judex Facti membatalkan keputusan BPSK tanpa (tidak menyebutkan alat bukti tersebut dalam keputusannya) Apalagi pada ayat (5) yang menyatakan dalam hal keberatan diajukan atas dasar alasan lain, diluar ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (3) Majelis Hakim dapat mengadili sendiri sengketa ;
c) Konsumen yang bersangkutan, akan tetapi Judex Facti tidak membuat “Mengadili Sendiri” dalam keputusannya dalam halaman
Disclaimer
Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu.
Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui : Email : [email protected]
Telp : 021-384 3348 (ext.318) Halaman 18
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Halaman 19 dari 24 hal Put. Nomor 718 K/Pdt.Sus-BPSK/2016
33. Sehingga Judex Facti tidak berwenang atau telah melampaui wewenangnya
- Bahwa menurut Undang Undang Nomor 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen Kewenangan Badan Penyelesaian Sengketa Konsumen (BPSK) adalah :
Undang Undang Nomor 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen :
a) Menurut Pasal 45 ayat (1) berbunyi “Setiap konsumen yang dirugikan dapat menggugat pelaku usaha melalui Lembaga yang bertugas menyelesaikan sengketa konsumen dan pelaku usaha atau melalui peradilan yang berada di lingkungan peradilan umum”;
b) Bahwa menurut Pasal 52 tentang Tugas dan Wewenang Badan Penyelesaian Sengketa Konsumen (BPSK) yang menyatakan :
a. Melaksanakan penanganan dan penyelesaian sengketa konsumen, dengan cara melalui mediasi atau arbitrase atau konsiliasi;
b. Memberikan konsultasi perlindungan konsumen;
c. Melakukan pengawasan terhadap pencantuman klausula baku;
d. Melaporkan kepada penyidik umum apabila terjadi pelanggaran ketentuan dalam undang-undang ini;
e. Menerima pengaduan baik tertulis maupun tidak tertulis, dari konsumen tentang terjadinya pelanggaran terhadap perlindungan konsumen;
f. Melakukan penelitian dan pemeriksaan sengketa perlindungan konsumen;
g. Memanggil pelaku usaha yang diduga telah melakukan pelanggaran terhadap perlindungan konsumen;
h. Memanggil dan menghadirkan saksi, saksi ahli dan/atau setiap orang yang dianggap mengetahui pelanggaran terhadap undang-undang ini;
i. Meminta bantuan penyidik untuk menghadirkan pelaku usaha, saksi, saksi ahli, atau setiap orang sebagaimana dimaksud pada huruf g dan huruf h, yang tidak bersedia memenuhi panggilan badan penyelesaian sengketa konsumen;
j. Mendapatkan, meneliti dan/atau menilai surat, dokumen, atau alat bukti lain guna penyelidikan dan/atau pemeriksaan;
Disclaimer
Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu.
Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui : Email : [email protected]
Telp : 021-384 3348 (ext.318) Halaman 19
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Halaman 20 dari 24 hal Put. Nomor 718 K/Pdt.Sus-BPSK/2016
k. Memutuskan dan menetapkan ada atau tidak adanya kerugian di pihak konsumen;
l. Memberitahukan putusan kepada pelaku usaha yang melakukan pelanggaran terhadap perlindungan konsumen;
m.Menjatuhkan sanksi administratif kepada pelaku usaha yang melanggar ketentuan undang-undang ini.
c) Keputusan Presiden Nomor 18 Tahun 2010 yang pada Pasal (2) nya menyatakan : “Setiap konsumen yang dirugikan atau ahli warisnya dapat mengajukan gugatan kepada Pelaku Usaha di Badan Penyelesaian Sengketa Konsumen (BPSK) tempat berdomisili konsumen atau pada Badan Penyelesaian Sengketa Konsumen (BPSK) terdekat”.
d) Bahwa dalam beberapa Pasal Undang Undang Nomor 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen yang menjelaskan dan/atau menjawab pertanyaan tersebut atas, yaitu :
Pasal 1 angka 1 Undang Undang Nomor 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen yang berbunyi : Bahwa
- Perlindungan konsumen adalah segala upaya yang menjamin adanya kepastian hukum untuk memberikan perlindungan kepada konsumen.
- Pasal 1 angka 2 Undang Undang Nomor 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen yang berbunyi : Bahwa konsumen adalah setiap orang pemakai barang dan/atau jasa yang tersedia dalam masyarakat, baik bagi kepentingan diri sendiri, keluarga, orang lain maupun mahluk hidup lain dan tidak untuk diperdagangkan;
- Pasal 1 angka 3 Undang Undang Nomor 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen yang berbunyi : Bahwa pelaku usaha adalah setiap orang perseorangan atau badan usaha, baik berbentuk Badan Hukum maupun bukan Badan Hukum yang didirikan dan berkedudukan atau melakukan kegiatan dalam wilayah Hukum Negara Republik Indonesia, baik sendiri maupun bersama-sama melalui perjanjian dalam menyelenggarakan kegiatan usaha dalam berbagai bidang ekonomi.
- Pasal 1 angka 4 Undang Undang Nomor 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen yang berbunyi : Bahwa
Disclaimer
Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu.
Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui : Email : [email protected]
Telp : 021-384 3348 (ext.318) Halaman 20
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Halaman 21 dari 24 hal Put. Nomor 718 K/Pdt.Sus-BPSK/2016
dalam setiap benda baik berwujud maupun tidak berwujud, baik bergerak maupun tidak bergerak, dapat dihabiskan maupun tidak dapat dihabiskan, yang dapat untuk diperdagangkan, dipakai, dipergunakan, atau dimanfaatkan oleh konsumen;
Pasal 7 Undang Undang Nomor 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen yang berbunyi Kewajiban pelaku usaha adalah beretikat baik dalam melakukan kegiatan usahanya, memberikan informasi yang benar, jelas dan jujur mengenai kondisi dan jaminan barang dan/atau jasa serta memberi penjelasan penggunaan, perbaikan, dan pemeliharaan, melakukan atau melayani konsumen secara benar dan jujur serta tidak diskriminatif, menjamin mutu barang dan/atau jasa yang diproduksi dan/atau diperdagangkan berdasarkan ketentuan standar mutu barang dan/atau jasa yang berlaku, memberi kesempatan kepada konsumen untuk menguji, dan/atau mencoba barang dan/atau jasa tertentu serta memberi jaminan dan/atau garansi atas barang yang dibuat dan/atau yang diperdagangkan, memberi kompensasi, ganti rugi dan/atau penggantian atas kerugian akibat penggunaan, pemakaian dan pemanfaatan barang dan/atau jasa yang diperdagangkan, memberi kompensasi, ganti rugi dan/atau penggantian apabila barang dan/atau jasa yang diterima atau dimanfaatkan tidak sesuai dengan perjanjian.
- Pasal 45 ayat (1 ) Undang Undang Nomor 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen yang berbunyi : Setiap konsumen yang dirugikan dapat menggugat pelaku usaha melalui lembaga yang bertugas menyelesaikan sengketa antara konsumen dan pelaku usaha atau merlalui peradilan yang berada dilingkungan peradilan umum.
e) Bahwa dari bunyi beberapa Pasal tersebut di atas, dapat diperoleh suatu petunjuk atau kesimpulan bahwa Pelaku Usaha berkewajiban melindungi terhadap setiap orang yang atau memakai barang dan/atau jasa dari hasil kegiatan usahanya;
a) Bahwa oleh karena itu Pelaku Usaha berkewajiban melindungi setiap orang yang memakai barang dan/atau jasa dari hasil usahanya, maka Pelaku Usaha dilarang melakukan suatu
Disclaimer
Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu.
Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui : Email : [email protected]
Telp : 021-384 3348 (ext.318) Halaman 21