• Tidak ada hasil yang ditemukan

2. LANDASAN TEORI. Universitas Kristen Petra

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "2. LANDASAN TEORI. Universitas Kristen Petra"

Copied!
13
0
0

Teks penuh

(1)

2. LANDASAN TEORI

2.1 Pendahuluan

2.1.1 Definisi Kontrak Konstruksi

Kontrak konstruksi diartikan sebagai “keseluruhan dokumen yang mengatur hubungan hukum antara pengguna jasa dan penyedia jasa dalam penyelenggaraan pekerjaan konstruksi” (Undang-Undang Jasa Konstruksi No. 18 Tahun 1999). Kontrak konstruksi memiliki bentuk yang berbeda dari bentuk kontrak komersial lainnya, hal ini dikarenakan komoditas yang dihasilkan bukan merupakan produk standar, namun berupa struktur yang memiliki sifat yang unik dengan batas mutu, waktu, dan biaya (Rompas, 2008).

2.1.2 Riwayat Organisasi dan Dokumen FIDIC

FIDIC merupakan kepanjangan dari Federation Internationale Des Ingenieurs-Conseils dalam bahasa Perancis. Diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris yaitu International Federation of Consulting Engineers. Organisasi ini didirikan oleh Belgia, Perancis, dan Swiss pada 1913. Kantor pusat FIDIC berlokasi di Lausanne, Swiss. Dalam perkembangannya, FIDIC merupakan perkumpulan dari asosiasi nasional para konsultan (consulting engineers) seluruh dunia.. Saat ini anggota FIDIC telah mencapai lebih dari 89 anggota asosiasi yang tercatat untuk setiap negara, termasuk organisasi nasional Indonesia, INKINDO (Ikatan Nasional Konsultan Indonesia) (FIDIC, Federation, chap. 4). Di samping asosiasi nasional terdapat pula organisasi-organisasi yang terkait seperti organisasi pengacara dan asuransi yang menjadi affiliate member dari FIDIC.

Aktivis FIDIC merupakan organisasi perkumpulan asosiasi konsultan dari seluruh dunia dan telah menghasilkan banyak pedoman dan standar kontrak yang telah diakui oleh internasional, bahkan oleh institusi pemberi pinjaman antara lain World Bank, ADB, JBIC dan masih banyak lagi.

Seiring dengan perkembangan-perkembangan dalam metode-metode pengelolaan dan dalam sumber pendanaan pembangunan proyek, maka pada tahun 1999 telah dikeluarkan edisi ke 1 dari satu dokumen standar yang sama

(2)

sekali baru tentang persyaratan kontrak untuk pekerjaan konstruksi, yaitu : “ Conditions of Contract for Building and Engineering Works Designed by the Employer “. Wade (1998) menyatakan bahwa Edisi ke 1 tahun 1999 ini telah disusun dengan mendapatkan masukan dari berbagai sumber, History and Scope of the Three Major New Books, seperti (dalam Rompas, Wade, 2008) :

 Survei dari pemakai dokumen FIDIC dan keinginan-keinginan mereka,

 Survei dari persyaratan standar lainnya, internasional maupun nasional,

 Review dari komentar pemaikai atas dokumen FIDIC yang ada.

Edisi ke 1 tahun 1999 ini juga telah diperluas cakupannya, yaitu dari pekerjaan sipil saja dalam penerbitan-penerbitan sebelumnya menjadi mencakup seluruh jenis pekerjaan konstruksi. Dan yang tidak kalah pentingnya adalah diterapkannya suatu pembagian resiko yang berimbang antara pihak-pihak yang terkait dalam suatu pembangunan proyek, yaitu bahwa resiko dibebankan kepada pihak yang paling mampu untuk mengendalikan resiko tersebut.

2.1.3 Penerapan Kontrak FIDIC bagi Kontraktor Nasional

Para pelaku usaha di bidang konstruksi Indonesia diharapkan mengetahui standardisasi kontrak FIDIC agar lebih leluasa masuk pangsa pasar jasa konstruksi dunia. Menurut Djoko Kirmanto, proyek pembangunan yang bernilai besar sebaiknya dilakukan sesuai standar FIDIC yang merupakan standar internasional. Selain itu kontraktor Indonesia harus memahami metoda kontrak dengan standar internasional ini, untuk memudahkan mereka terjun dalam persaingan di era global (International Workshop on FIDIC Conditions of Contract, para. 3). Penggunaan FIDIC sudah dipergunakan secara luas di dunia dan dinilai merupakan standar yang paling adil dan berimbang antara kedudukan pelaku dan penyedia jasa konstruksi (Kontraktor Diminta Terapkan Standar FIDIC, para. 1).

Menurut Sarwono Hardjomuljadi, Staf Khusus Menteri Pekerjaan Umum, era globalisasi tidak dapat dihindari, sehingga standar internasional pada kontrak kerja jasa konstruksi yang dibiayai institusi internasional pemberi pinjaman harus digunakan. Ini mengingat FIDIC merupakan persyaratan kontrak yang

(3)

direkomendasikan. Maka pemahaman secara lebih mendalam tentang persyaratan kontrak ini mutlak diperlukan. Ini dilakukan agar penanganan proyek dilakukan secara profesional berdasarkan standar internasional (best practise) (Kontraktor Diminta Terapkan Standar FIDIC, para. 7).

Kepala Badan Pembina Konstruksi Indonesia (BPKSDM) Kementerian Pekerjaan Umum, Bambang Goertino mengatakan bahwa Kementerian Pekerjaan Umum mendorong kontraktor nasional untuk menggunakan ketentuan sesuai standar FIDIC. Hal ini untuk meningkatkan kemampuan bersaing dan mempersiapkan hak dan kewajibannya dalam menghadapi pasar konstruksi global. Selain itu ketentuan FIDIC di Indonesia saat ini sudah 100 persen diadopsi untuk kontrak-kontrak yang pendanaannya bersumber dari institusi internasional seperti Bank Dunia, Bank Pembangunan Asia, JICA, dan lainnya. Sedangkan untuk proyek swasta, hal ini akan diusahakan.

Sarwono Hardjomuljadi menjelaskan bahwa penggunaan FIDIC Conditions of Contract for Construction sudah sesuai dengan amanat UU No 18 Tahun 1999 tentang Jasa dan Konstruksi. Regulasi itu terkait peningkatkan kesetaraan pengguna jasa dan penyedia jasa (Kontraktor Nasional Didorong Gunakan Standar FIDIC, para. 7).

Kepala Badan Pembina Konstruksi dan SDM Kementerian Pekerjaan Umum, Sumaryanto Widayatin mengatakan selama ini standar FIDIC baru diterapkan untuk tender yang dibiayai pinjaman luar negeri. Semua pekerjaan proyek konstruksi, termasuk berskala kecil akan berusaha mengadopsi sistem FIDIC untuk rencana ke depan (Muhanoa, 2010, para. 3). Sedangkan Sekretaris Umum Lembaga Pengembangan Jasa Konstruksi Nasional (LPJKN), Sirajuddin Nonci mengatakan bahwa pemerintah harus secara tegas mengaplikasikan standar FIDIC karena sistem kontrak yang berlaku saat ini banyak yang belum mencerminkan adanya kesetaraan hak antara pemberi jasa dan penyedia jasa.

(Muhanoa, 2010, para. 7).

Menurut Sarwono Hardjomuljadi, kontrak FIDIC tidak hanya menjadi acuan bagi perusahaan jasa konstruksi di Indonesia yang ingin mengerjakan proyek- proyek di luar negeri, tapi juga untuk proyek-proyek di dalam negeri. Ia mengatakan, bahwa dasar dari suatu keberhasilan bidang jasa konstruksi

(4)

sebenarnya adalah kesetaraan dalam hak dan kewajiban. Hal ini diharapkan akan dapat dijaga dengan baik dengan mempergunakan FIDIC Condition of Contract untuk kontrak-kontrak diIndonesia (International Workshop on FIDIC Conditions of Contract, para. 9)

2.2 Variabel Klausul yang Menjadi Permasalahan Menurut Sumber

Berdasarkan sumber-sumber studi di Turki, Palestina, dan Ethiopia yang pernah menggunakan FIDIC, diperoleh beberapa variabel klausul yang menjadi permasalahan. Beberapa variabel itu bisa dilihat pada tabel 2.1 beserta sumber yang menyebutkan.

Tabel 2.1. Variabel Klausul Beserta Sumber

No Variabel Klausul

Usta (2005)

Sertyesilisik ( 2007)

Aljarosha (2008)

Dessa (2003)

Kahssay (2003)

Seid (2008)

1 Ketentuan Umum x

2 Owner x x

3 Konsultan x x

4 Kontraktor x

5 Subkontraktor yang

dinominasikan x x

6 Staf dan buruh x

7 Peralatan, bahan dan tenaga

kerja x

8 Keterlambatan Pekerjaan x x x x x

9 Pengujian pada akhir

pekerjaan x

10 Serah terima kepada owner x x

11 Tanggung jawab atas cacat

mutu x

12 Pengukuran dan evaluasi x

13 Variasi x x x x

14 Harga kontrak dan

pembayaran x

15 Pemutusan kontrak x x x x x x

16 Resiko dan tanggung jawab x x x

17 Asuransi x

18 Keadaan kahar x

19 Pemberitahuan Klaim x x x x x

x Permasalahan berada pada

Dari 19 variabel yang didapat dari beberapa sumber tersebut, didapatkan 5 variabel yang menjadi pembahasan dalam studi survey ini.

(5)

2.3 Roadmap Penelitian

Gambar 2.1. Roadmap Penelitian

Usta (2005)

- Keterlambatan pekerjaan - Variasi - Pemutusan

kontrak - Resiko dan

tanggung jawab - Pemberitahuan

klaim

Sertyesilisik ( 2007) - Owner - Konsultan - Keterlambatan

pekerjaan - Serah terima

kepada owner - Pemutusan

kontrak

Aljarosha (2008)

- Ketentuan umum - Owner - Konsultan - Kontraktor - Subkontraktor

yang dinominasikan - Staf dan buruh - Peralatan, bahan

dan tenaga kerja - Keterlambatan

pekerjaan - Pengujian pada

akhir pekerjaan - Serah terima

kepada owner - Tanggung jawab

atas cacat mutu - Pengukuran dan

evaluasi - Variasi - Harga kontrak

dan pembayaran - Pemutusan

kontrak - Resiko dan

tanggung jawab - Asuransi - Keadaan kahar - Pemberitahuan

klaim

Dessa (2003)

- Subkontraktor yang dinominasikan - Keterlambatan

pekerjaan - Variasi - Pemutusan

kontrak - Pemberitahuan

klaim

Kahssay (2003)

- Keterlambatan pekerjaan - Variasi - Pemutusan

kontrak - Pemberitahuan

klaim

Seid (2008)

- Pemutusan kontrak - Resiko dan

tanggung jawab - Pemberitahuan

klaim

Penelitian

- Keterlambatan pekerjaan - Variasi

- Pemutusan kontrak - Resiko dan

tanggung jawab - Pemberitahuan

klaim

(6)

Berdasarkan variabel-variabel klausul yang menjadi permasalahan pada penelitian Usta (2005), Sertyesilisik ( 2007), Aljarosha (2008), Dessa (2003), Kahssay (2003), dan Seid (2008) diperoleh 5 buah variabel klausul yang diteliti pada penelitian ini yaitu keterlambatan pekerjaan, variasi, pemutusan kontrak, resiko dan tanggung jawab, dan pemberitahuan klaim.

2.4 Variabel Klausul

2.4.1 Variabel Klausul Pertama : Keterlambatan Pekerjaan

Industri konstruksi dihadapkan pada beberapa masalah, seperti kurangnya kerjasama, kepercayaan, dan komunikasi antar pihak dan menyebabkan perselisihan antar pihak. Chan (2003) mengatakan bahwa keterlambatan pekerjaan menjadi salah satu penyebab perselisihan itu (dalam Usta, Chan, 2005). Hal ini didukung Smith dan Bohn (1999) yang mengatakan bahwa keterlambatan pekerjaan sulit untuk diperkirakan tanpa dasar yang jelas (dalam Usta, Smith &

Bohn, 2005). Keterlambatan dapat berdampak pada tanggal penyelesaian dan juga berdampak pada biaya tambahan pengguna jasa.

Sertyesilisik (2007) mengatakan bahwa keterlambatan menjadi salah satu penyebab timbulnya klaim pada suatu kontrak. Bila kontraktor tidak setuju dengan keputusan yang diambil maka hal ini bisa menjadi perselisihan antar 2 pihak. Hughes (2005) menyatakan bahwa perselisihan kontrak konstruksi timbul dikarenakan kekurangan waktu yang tersedia pada suatu proyek (dalam Sertyesilisik, Hughes, 2007). O’Brien dan Zilly (1991) juga mengatakan hal ini sebagai penyebab timbulnya perselisihan (dalam Sertyesilisik, O’Brien & Zilly, 2007). Osama dan Azam (1999) pada penelitiannya fokus pada keterlambatan pekerjaan yang merupakan salah satu sumber penyebab perselisihan di Timur Tengah (dalam Sertyesilisik, Osama & Azam, 2007). Mortaja (2007) juga mengatakan bahwa industri konstruksi Palestina menghadapi beberapa masalah kontrak, salah satunya keterlambatan pekerjaan yang menjadi konsekuensi dari perselisihan (dalam Aljarosha, Mortaja, 2008). Kemungkinan terjadi keterlambatan menyelesaikan pekerjaan sesuai kontrak merupakan salah satu faktor daru 10 faktor tertinggi di Palestina (Aljarosha, 2008).

Di industri konstruksi Ethiopia, klaim mengenai keterlambatan dan variasi menjadi kontroversi dan menempati urutan pertama dalam pengajuan klaim

(7)

(Dessa, 2003). Hal ini terjadi pada kontraktor lokal maupun internasional.

Kahssay (2003) mengatakan bahwa kegagalan mengatur proyek internasional dengan benar dapat menimbulkan kasus klaim, di mana keterlambatan pekerjaan menjadi kasus yang paling banyak.

Menurut Aljarosha (2008), kontraktor harus memahami kontrak FIDIC secara baik untuk dapat mengidentifikasi resiko yang akan terjadi berkaitan dengan keterlambatan pekerjaan yang terdapat pada klausul 1.9, 2.1, 8.4, 8.5, 8.7, 8.8, 8.9 pada kontrak FIDIC. Tambahan waktu yang diberikan juga diberikan pada kontraktor akibat terjadinya keadaan yang tidak dapat dihindari seperti keadaan kahar. Hal ini tertuang pada klausul 19.1 pada kontrak FIDIC.

2.4.2 Variabel Klausul Kedua : Variasi

Usta (2005) mengatakan bahwa kebanyakan klaim yang muncul pada suatu kontrak salah satunya adalah dikarenakan perubahan lingkup pekerjaan, detil konstruksi, dan kuantitas pekerjaan. Andersson et al (2002) mengatakan bahwa di industri konstruksi banyak kontraktor sulit mendapat proyek yang memiliki profit yang layak dikarenakan tidak selalu mendapat kompensasi dari adanya variasi dan pekerjaan tambahan yang muncul selama proyek (dalam Aljarosha, Andersson et al, 2008).

Variasi menyebabkan terjadinya penghentian pekerjaan yang terkait (Aljarosha, 2008). Andersson juga mengatakan bahwa membuat rencana detil pada fase tertentu proyek merupakaan hal yang sulit dikarenakan adanya variasi.

Desain yang kurang baik dapat menyebabkan terjadinya banyak variasi di kemudian hari. Variasi ini menyebabkan terganggunya urutan pekerjaan dan menyulitkan kontraktor. Mortaja (2007) mengatakan kesalahan manajemen oleh kontraktor dapat menyebabkan gangguan pada pekerjaan dan dampak besar pada anggaran kontraktor. Variasi dapat disebut sebagai penyebab perselisihan (dalam Aljarosha, Mortaja, 2008). Zeneldin et al (2005) menyimpulkan bahwa variasi merupakan penyebab utama munculnya klaim di sektor konstruksi Uni Emirat Arab (dalam Aljarosha, Zeneldin et al, 2008). Sedangkan menurut Yogeswaran (1997), variasi adalah penyebab utama klaim (dalam Aljarosha, Yogeswaran, 2008).

(8)

Dessa (2003) mengatakan bahwa variasi dapat menyebabkan munculnya klaim dalam industri konstruksi. Hal ini dikarenakan perubahan/ variasi terjadi karena beberapa kondisi. Variasi yang ada dinegosiasikan dengan penentuan biaya dan waktu yang disepakati sebagai dampak variasi. Hal ini berpengaruh pada perubahan perjanjian terkait variasi. Ketika negosiasi tidak berjalan dengan baik, maka perselisihan dapat terjadi. Maka perselisihan ini dapat diselesaikan dengan arbitrase dan proses peradilan. Di industri konstruksi Ethiopia perselisihan dan klaim mengenai variasi menempati peringkat kedua setelah keterlambatan pekerjaan. Kahssay (2003) menyatakan variasi juga menjadi permasalah pada kontrak internasional di Ethiopia.

Menurut Aljarosha (2008), kontraktor harus memahami kontrak FIDIC secara baik untuk dapat mengidentifikasi resiko yang akan terjadi berkaitan dengan variasi yang terdapat pada klausul 13.1 pada kontrak FIDIC.

2.4.3 Variabel Klausul Ketiga : Pemberitahuan Klaim

Chan (2003) menyatakan bahwa industri konstruksi menghadapi berbagai masalah, seperti kerjasama, kepercayaan, dan komunikasi yang kurang baik. Hal ini akan mempawa pada penyelesaian klaim (dalam Usta, Chan, 2005). Barnes (1994) mengatakan bahwa kontrak, kode, standar dan peraturan dapat menggunakan bahasa dan bentuk yang cocok dengan konstruksi sehingga tujuan akhir dapat tercapai (dalam Usta, Barnes, 2005).

Perselisihan pada proyek konstruksi merupakan hal biasa, dan bila tidak segera diselesaikan akan menimbulkan dampak merugikan bagi proyek dan hubungan antar pihak. Perselisihan disebabkan oleh ukuran dan durasi proyek, dokumen kontrak yang rumit, perubahan kondisi proyek, komunikasi yang buruk, keterbatasan sumber daya, masalah keuangan, desain yang buruk, masalah tenaga kerja, dan keadaan kahar. Karena ini, Harmon (2003) mengatakan industri konstruksi akan terganggu akibat hubungan yang kurang baik antara kontraktor dan owner (dalam Usta, Harmon, 2005).

Banyak kondisi dimana menyebabkan kontraktor melakukan klaim untuk biaya tambahan maupun tambahan waktu (Usta, 2005). Banyak klaim dilakukan setelah pekerjaan selesai dan para pihak berusaha menyiapkan record pada saat

(9)

pekerjaan tersebut dilakukan. Pemberitahuan klaim harus jelas untuk menghindari ambiguitas. Perselisihan biasa terjadi ketika kontraktor tidak menyatakan klausa pada kontrak yang menjadi klaim. Jika kontraktor tidak memberitahukan klaim ini dalam periode waktu yang diatur, maka kontraktor akan kehilangan hak kontraknya. Seid (2008) juga mengatakan bahwa untuk melakukan klaim mengenai perpanjangan waktu pekerjaan dan kompensasi, kontraktor perlu melakukan pemberitahuan tertulis dan penyebabnya dalam waktu tertentu yang ada pada kontrak sehingga konsultan dan owner mengetahui hal ini.

Kontroversi yang terjadi pada industri konstruksi Ethiopian saat ini adalah klaim (Dessa, 2003). Hal ini tidak dialami oleh kontraktor lokal, tetapi juga pada kontraktor internasional. Kontraktor harus dapat mengenali dan mengidentifikasi sebuah klaim ketika permasalahan baru terjadi, tidak ketika hal itu sudah menjadi kontroversi. Kelalaian dalam hal administratif klaim hingga pekerjaan tersebut telah selesai dapat menimbulkan masalah yang besar.

Kahssay (2003) mengatakan bahwa ketika ketentuan dari dokumen dan spesifikasi kontrak tidak jelas, interpretasi yang salah dapat menimbulkan klaim.

Pada procurement tradisional di Ethiopia memiliki kecenderungan untuk terjadinya klaim. Hal ini sama dengan penggunaan kontrak FIDIC “Condition of Contract for Construction, for Building and Engineering Works Designed by The Employer, General Conditions, First Edition 1999“, di mana desain berasal dari owner.

Menurut Aljarosha (2008), kontraktor harus memahami kontrak FIDIC secara baik untuk dapat mengidentifikasi resiko yang akan terjadi berkaitan dengan pemberitahuan klaim yang terdapat pada klausul 20.1 pada kontrak FIDIC.

2.4.4 Variabel Klausul Keempat : Resiko dan Tanggung Jawab

Shively (2000) menyatakan bahwa hubungan owner dan kontraktor yang baik memerlukan definisi perjanjian yang jelas dan sesuai (dalam Usta, Shively, 2005). Kontrak ini perlu menjabarkan tanggung jawab masing-masing pihak.

Broome dan Hayes (1997) mengatakan bahwa penetapan kewajiban dan tanggung jawab dengan jelas merupakan salah satu cara mendapatkan sebuah kontrak yang

(10)

jelas (dalam Usta, Broome & Hayes, 2005). Usta (2005) mengatakan penyaluran resiko berarti penyaluran tanggung jawab antar pihak di suatu proyek. Hal ini juga dikemukakan oleh Baker (2002) (dalam Aljarosha, Baker, 2008).

Smith dan Bohn (1999) mengatakan apabila kontraktor memiliki persepsi yang salah mengenai manajemen resiko proyek, hal ini dikarenakan kontraktor berpendapat tidak bertanggung jawab terhadap hal tersebut (dalam Aljarosha, Smith & Bohn, 2008). Berdasarkan Wang dan Chou (2003), agar manajemen resiko lebih efisien dan efektif, tiap pihak harus memahami tanggung jawab resiko, resiko kondisi proyek, preferensi resiko, dan kemampuan mengatur resiko (dalam Aljarosha, Wang & Chou, 2008).

Menurut Aljarosha (2008), pengetahuan mengenai resiko dan tanggung jawab baik eksplisit maupun implisit diperlukan untuk estimasi dan manajemen kewajiban dan resiko. Mitropoulos et al (2001) mengatakan bahwa permasalahan kontrak mengacu pada tanggung jawab tiap pihak (dalam Aljarosha, Mitropoulos et al, 2008). Zhang (2005) mengatakan bahwa kontraktor bertanggung jawab terhadap kondisi pekerjaan dan properti selama masa pekerjaan konstruksi dan memperbaiki kerusakan atau kehilangan berdasarkan biaya dan resiko sendiri (dalam Seid, Zhang, 2008).

Menurut Aljarosha (2008), kontraktor harus memahami kontrak FIDIC secara baik untuk dapat mengidentifikasi resiko yang akan terjadi berkaitan dengan resiko dan tanggung jawab yang terdapat pada klausul 17.1, 17.2, 17.5 pada kontrak FIDIC.

2.4.5 Variabel Klausul Kelima : Pemutusan Kontrak

Menurut Usta (2005) konflik dapat terjadi salah satunya dikarenakan pemutusan kontrak yang tidak sesuai kontrak. Karena itu Harmon (2003) mengatakan industri konstruksi akan terganggu dengan perselisihan antara owner dan kontraktor (dalam Usta, Harmon, 2005). Sertyesilisik (2007) mengatakan bahwa pemutusan kontrak dapat dilakukan oleh 2 pihak, owner maupun kontraktor. Eren (2001) menyatakan bila owner melanggar kontrak, owner harus membayar untuk pengeluaran kontraktor akibat pelanggaran kontrak tersebut (dalam Sertyesilisik, Eren, 2007).

(11)

Aljarosha (2008) menyatakan bahwa pemutusan kontrak oleh owner menempati peringkat ketiga dalam dampak bagi kontraktor di jalur Gaza. Kontrak konstruksi di jalur Gaza menyatakan bahwa owner dapat memutuskan kontrak tanpa ganti rugi terhadap profit yang diharapkan dan mengganti rugi hanya overhead pada masa pemberitahuan pemutusan kontrak. Osinski (2002) mengatakan bahwa owner dapat melakukan pemutusan kontrak dengan mempberi pemberitahuan tertulis pada kontraktor mengenai pemutusan kontrak (dalam Aljarosha, Osinski, 2008). Probabilitas terjadinya faktor ini rendah akan tetapi apabila hal ini terjadi dapat menyebabkan dampak biaya yang besar bagi kontraktor. Pelanggaran akan suatu kontrak dapat menjadi penyebab dari pemutusan kontrak (Dessa, 2003).

Karena suatu alasan, owner melakukan penghentian pekerjaan sementara atau memutuskan kontrak. Hal ini dapat dikarenakan pekerjaan yang tidak sesuai atau buruk dari sisi kontraktor. Akan tetapi apabila kontraktor dapat membuktikan pemutusan kontrak tersebut memberi keuntungan pada owner atau tidak memiliki alasan yang kuat, kontraktor dapat melakukan klaim atas keuntungan bila pekerjaan selesai dan biaya demobilisasi (Kahssay, 2003). Pada kasus pemutusan kontrak, kontraktor memiliki hak untuk biaya material yang telah tersedia, pekerjaan yang telah dilakukan (Seid, 2008).

Clarence dan Robert (1958) mengatakan bahwa kegagalan kontraktor dalam melaksanakan pekerjaan sesuai instruksi konsultan atau hukum, dapat menjadi dasar bagi owner untuk memutuskan kontrak sebagai kegagalan kontraktor (dalam Seid, Clarence & Robert, 2008).

Menurut Aljarosha (2008), kontraktor harus memahami kontrak FIDIC secara baik untuk dapat mengidentifikasi resiko yang akan terjadi berkaitan dengan pemutusan kontrak yang terdapat pada klausul 15.2 pada kontrak FIDIC.

Pada pasal 19.6 dan 19.7 juga dikatakan mengenai pembebasan kewajiban pada kontraktor yang menyangkut pemutusan kontrak berdasarkan pada pasal-pasal tersebut. Sedangkan pada pemutusan kontrak yang dilakukan oleh kontraktor terkait pada pasal 16.2.

(12)

2.5. Klausul- Klausul dan Sumber

Berikut merupakan poin-poin klausul FIDIC dan sumber klausul yang didapat.

Tabel 2.2 11 Poin Klausul FIDIC Beserta Sumber

Variabel

Klausul No Klausul FIDIC Sumber

Keterlambatan Pekerjaan

1

Keterangan : Kontraktor harus diberikan tambahan waktu dan biaya pelaksanaan oleh owner apabila terjadi perbedaan cuaca/iklim,keterbasan personil dan barang akibat wabah, kebijakan pemerintah,keterlambatan yang disebabkan owner,

dan keadan kahar.

FIDIC 8.4 (c),(d),(e);

FIDIC 8.5;

FIDIC 8.9;

FIDIC 19.1 Tambahan waktu yang diberikan oleh konsultan ditentukan

berdasarkan data klaim kontraktor dan pemeriksaan konsultan.

FIDIC 8.4

2

Kontraktor harus membayar denda keterlambatan kepada owner sesuai keterlambatan setiap harinya sebesar yang

ditetapkan dalam kontrak.

FIDIC 8.7

3

Konsultan dapat menginstruksikan kepada kontraktor untuk bertanggung jawab atas mutu,kehilangan,kerusakan

yang disebabkan oleh penundaan pekerjaan.

FIDIC 8.8, FIDIC 8.12

4

Kontraktor tidak berhak mendapatkan perpanjangan waktu atau pembayaran akibat kesalahan kontraktor (rencana dan

pelaksanaan)

FIDIC 1.9, FIDIC 2.1

Variasi 5

Konsultan mempunyai hak untuk menginstruksikan kepada kontraktor dalam meningkatkan atau

menurunkan,menghapus,mengubah kuantitas dan kualitas pekerjaan.Kontraktor harus melaksanakan setiap perubahan yang diakibatkan oleh variasi pekerjaan.

FIDIC 13.1 (a),(b),(c),(d)

Pemberitahuan

Klaim 6

Kontraktor harus menyampaikan pemberitahuan suatu klaim dalam jangka waktu 28 hari. Apabila kontraktor

tidak menyampaikan dalam waktu 28 hari, waktu penyelesaian pekerjaan tidak akan diperpanjang dan kontraktor tidak berhak atas pembayaran tambahan.

Owner akan dibebaskan dari semua kewajiban yang berkaitan dengan klaim

FIDIC 20.1

Resiko dan Tanggung

Jawab 7

Kontraktor harus membayar ganti rugi yang diakibatkan oleh luka fisik,penyakit,kematian,kerusakan,kehilangan

properti pribadi yang diakibatkan oleh kesalahan kontraktor dalam pelaksanaan pekerjaan

FIDIC 17.1 (a),(b)

8 Kontraktor harus bertanggung jawab untuk menjaga dan

memelihara properti/dokumen FIDIC 17.2

9

Kontraktor harus membayar ganti rugi pada owner atas klaim atas kerugian yang berkaitan dengan pembuatan,penggunaan,penjualan,pengimporan barang- barang & desain yg menjadi tanggung jawab kontraktor

FIDIC 17.5 (i),(ii)

(13)

Tabel 2.2 11 Poin Klausul FIDIC Beserta Sumber (Lanjutan)

Pemutusan Kontrak

10

Owner dapat mengakhiri kontrak bahkan mengalihkan pekerjaan ke pihak lain bila kontraktor gagal menyampaikan jaminan pelaksanaan dlm 28 hari, meninggalkan pekerjaan,tidak

memenuhi pekerjaan dalam kontrak tanpa alasan yang jelas,mensubkontrakkan seluruh pekerjaan tanpa kesepakatan

yang disyaratkan,jatuh pailit/atau diputuskan pailit dari pengadilan,kontraktor melakukan suap atau korupsi,kondisi di

luar jangkauan para pihak (misal:keadaan kahar)

FIDIC 15.2 (a),(b),(c),(d ),(e),(f);

FIDIC 15.6;

FIDIC 19.6, FIDIC 19.7

11 Apabila terjadi penghentian pembayaran atau owner jatuh pailit

maka kontraktor berhak untuk menghentikan pekerjaan. FIDIC 16.2

Sumber: FIDIC (1999)

2.4 Penyelesaian Perselisihan pada Kontrak

Menurut Sertyesilisik (2007), beberapa perusahaan kontraktor menghadapi perselisihan pada kontrak dan tidak dapat melindungi hak kontrak mereka karena tidak cukup memahami kontrak tersebut. Hal ini juga mendasari permasalahan pelaksanaan kontrak dikarenakan pasar yang berbeda. Industri konstruksi semakin kompleks ketika berada pada skala yang lebih luas. Kontraktor akan menghadapi hukum yang berbeda, bahasa, budaya ketika pekerjaan dilakukan. Untuk mengatasi masalah yang timbul dibutuhkan pemahaman bahasa dan standar kontrak.

2.5 Kelebihan dan Kekurangan FIDIC

Osinski (2002) mengatakan bahwa kontrak FIDIC memiliki prinsip pengalokasian resiko yang seimbang dan telah banyak diterima oleh owner dan kontraktor (dalam Aljarosha, Osinski, 2008). Hal ini juga didukung oleh Sertyesilisik (2007) yang mengatakan hal yang sama, bahwa adanya posisi yang seimbang antar pihak.

Aljarosha (2008) mengatakan ketika terjadi variasi yang banyak, maka kontraktor dapat melakukan pengajuan dengan harga baru, kemudian penentuan ini akan diproses terlebih dahulu oleh konsultan. Proses ini merupakan proses yang panjang dan terkait semua pihak. Hal ini dapat menimbulkan rawan terjadi perselisihan. Kemungkinan masalah yang timbul adalah dikarenakan adanya modifikasi yang dilakukan pada ketentuan khusus pada bagian kontrak FIDIC yang dapat membuat ketimpangan posisi kontrak.

Gambar

Tabel 2.1. Variabel Klausul Beserta Sumber
Gambar 2.1. Roadmap Penelitian
Tabel 2.2 11 Poin Klausul FIDIC Beserta Sumber
Tabel 2.2 11 Poin Klausul FIDIC Beserta Sumber (Lanjutan)

Referensi

Dokumen terkait

Penggantian atau imbalan sehubungan dengan pekerjaan atau jasa yang diterima atau diperoleh dalam bentuk natura dan/atau kenikmatan dari Wajib Pajak atau Pemerintah, kecuali

Para konsumen yang ingin memperoleh doorprize di akhir acara, tentu akan berusaha mendapatkan kupon undian doorprize sebanyak mungkin dengan cara berbelanja sebanyak

Sebagai alternatif kedua dari tujuan promosi yang akan dilakukan oleh perusahaan adalah mempengaruhi dan membujuk pelanggan atau konsumen sasaran agar mau membeli

Pendapat tersebut menjelaskan bahwa media digunakan oleh guru untuk mencapai tujuan pembelajaran karena media memiliki kemampuan untuk memperlihatkan konsep materi

External failure cost merupakan biaya yang terjadi setelah pengiriman produk ke konsumen atau pengguna yang mengalami ketidaksesuaian atau kecacatan seperti biaya terhadap

Fungsi utama lainnya dari sistem informasi akuntansi dalam siklus penggajian adalah menyediakan pengendalian yang memadai agar dapat terpenuhinya tujuan-tujuan

Pada proses ini perusahaan memberikan penilaian yang lebih rinci mengenai peluang sukses produk baru, mengidentifikasi penyesuaian-penyesuaian akhir yang dibutuhkan untuk produk,

Posisi kerja yang cocok untuk jenis pekerjaan yang membutuhkan area kerja sebatas jangkauan tangan, tidak membutuhkan gaya yang besar dalam bekerja dan