• Tidak ada hasil yang ditemukan

SKRIPSI DINDA SUNDARI

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "SKRIPSI DINDA SUNDARI"

Copied!
151
0
0

Teks penuh

(1)

DINAMIKA FORGIVENESS PADA KORBAN DATING VIOLENCE

SKRIPSI

Diajukan untuk memenuhi persyaratan Ujian Sarjana Psikologi

Oleh

DINDA SUNDARI 131301089

FAKULTAS PSIKOLOGI

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

NOVEMBER 2017

(2)
(3)
(4)

DINAMIKA FORGIVENESS PADA KORBAN DATING VIOLENCE Dinda Sundari dan Josetta M. R. Tuapattinaja

ABSTRAK

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dinamika forgiveness pada korban dating violence. Forgiveness adalah proses intrafisik untuk melepaskan unforgiveness namun tidak sama dengan resolusi konflik (Worthington dan Wade, 1999). Metode penelitian ini menggunakan penelitian kualitatif dengan teknik purposive sampling dengan dua responden. Hasil dari penelitian ini diperoleh bahwa kedua responden mengalami disonansi dengan dinamika yang berbeda sebelum forgiveness. Disonansi yang terjadi pada responden I disebabkan oleh ketakutan akan ditinggalkan namun tidak ingin terus terjerat dalam kondisi sexual abuse sehingga berusaha mencari tahu keadaan hidup orang-orang yang pernah mengalami sexual abuse dan memilih forgiveness terhadap kondisinya. Disonansi yang dialami responden II ketika ia marah terhadap transgresor I namun transgresor I berusaha meminta maaf dan ingin berubah. Namun kembali terjerat kondisi siklus forgiveness kembali setelah memilih berakhir dengan kondisi forgiveness pada dating violence pertama. Responden I memilih decisional forgiveness dan responden II memilih emotional forgiveness.

Kata kunci: forgiveness, dating violence

(5)

THE DYNAMICS OF FORGIVENESS TO THE VICTIMS DATING VIOLENCE

Dinda Sundariand Josetta M. R. Tuapattinaja ABSTRACT

This study investigates the dynamics forgiveness to the victims dating violence.

Forgiveness is an intraphisic process to release unforgiveness but not the same as conflicts resolution (Worthington and Wade, 1999). The research method using qualitative research with purposive sampling technique with two respondent. The result of this study found that both respondents experienced dissonance with different dynamics before forgiveness. The dissonance that occurred in the first respondent was caused by the fear of being abandoned but did not want to continue being entangled in the sexual abuse condition so as to try to find out the living conditions of people who had experienced sexual abuse and chose forgiveness for their condition. Dissonance experienced by respondent II when she was angry with transgression I but transgressor I tried to apologize and want to change. But re-enslaved cycle conditions forgiveness back after choosing end with conditions forgiveness on the first dating violence. Respondent I chose decisional forgiveness and respondent II chose emotional forgiveness.

Keyword: forgiveness, dating violence

(6)

KATA PENGANTAR

Puji syukur peneliti panjatkan kehadirat Allah SWT atas berkah yang diberikan-Nya, sehingga dapat menyelesaikan penyusunan skripsi dengan judul

“Dinamika Forgiveness pada Korban Dating Violence” ini guna memenuhi persyaratan ujian Sarjana Psikologi Universitas Sumatera Utara.

Penyelesaian skripsi ini membutuhkan kerja keras, doa, bantuan dan dukungan banyak pihak. Skripsi ini dipersembahkan peneliti kepada keluarga tersayang; ayah Asrul Yani, mamak Sumarsih serta kedua kakak peneliti, mbak Astri Juliani dan mbak Dian Purwasih. Peneliti dengan tulus mengucapkan terima kasih atas segala dukungan, kesabaran, kasih sayang serta doa yang dipanjatkan untuk membantu peneliti dalam penyelesaian skripsi ini. Selain itu, peneliti juga mengucapkan terima kasih kepada berbagai pihak yang telah memberikan bantuan. Pada kesempatan ini peneliti ingin menyampaikan:

a. Terima kasih kepada Dekan Fakultas Psikologi Universitas Sumatera Utara, bapak Zulkarnaen, PhD., yang telah mendukung proses penyelesaian studi sehingga peneliti dapat menyelesaikan skripsi ini.

b. Terima kasih kepada Ibu Josetta Maria Remila Tuapattinaja, M.Si, Psikolog, selaku dosen pembimbing skripsi yang telah meluangkan waktu dan berbesar hati serta membagi ilmu yang berharga untuk membimbing peneliti sehingga skripsi ini dapat diselesaikan dengan baik.

(7)

c. Terima kasih kepada Ibu Eka Ervika, M.Si., Psikolog, selaku dosen pembimbing akademik yang telah membimbing perjalanan studi peneliti hingga berakhir masa perkuliahan.

d. Terima kasih kepada mbak Rahma Fauzia, M. Psi., Psikolog dan kak Rahma Yurliani, M.Psi., Psikolog, selaku dosen penguji atas ilmu dan masukan yang diberikan kepada peneliti.

e. Terima kasih kepada seluruh dosen pengajar Fakultas Psikologi Universitas Sumatera Utara atas ilmu, arahan, dan nasehat yang diberikan. Semoga ilmu yang dipelajari peneliti dapat diterapkan dengan baik.

f. Terima kasih kepada yang teristimewa, kedua responden penelitian yang telah membagi kisah dan pengalamannya untuk membantu peneliti sehingga kisahnya dapat „dipetik‟ menjadi pelajaran bagi para pembaca.

Tanpa kalian, penelitian ini tidak akan berjalan dengan baik.

g. Terima kasih untuk KITA, telah ada dalam segala dinamika perjuangan skripsi peneliti. Risya Oktari Andayani, Yuha Nuraini, Salshabilla Utari, Anggreini Ade Putri, Indri Diani dan Khalishah Fitri, mari kita buktikan bahwa kita mampu berjuang dan bertahan dalam menghadapi segala kondisi untuk tidak menyerah dan saling menopang satu sama lain.

h. Terima kasih kepada teman-teman seperjuangan pembimbingan skripsi, Cynthia Christian, kak Ike, kak Petra, yang selalu membantu peneliti saat peneliti kesulitan dan kekurangan motivasi.

(8)

i. Terima kasih untuk semangatnya Rita, Enyo, Bina, Uci, Mutia, adek Sari yang walaupun jauh namun selalu mendukung peneliti di manapun kalian berada.

j. Kepada teman-teman angkatan 2013, terima kasih telah saling mendukung dan menyemangati dalam masa studi ini. Bahagia bisa mengenal kalian dalam masa studi ini.

k. Kepada semua pihak yang membantu yang tidak dapat disebutkan satu persatu, terima kasih untuk bantuannya.

Peneliti menyadari bahwa dalam penulisan dan penyusunan penelitian ini masih banyak terdapat kekurangan baik dari segi isi dan penyusunannya. Oleh karena itu, peneliti mengucapkan terima kasih jika ada pihak yang memberikan saran dan kritik untuk penyempurnaan penelitian ini. Demikian penelitian ini disusun, semoga bermanfaat bagi peneliti secara pribadi, pembaca dan rekan- rekan semua.

Medan, November 2017 Peneliti

Dinda Sundari 131301089

(9)

DAFTAR ISI

Halaman

ABSTRAK ... i

ABSTRACT ... ii

KATA PENGANTAR ... iii

DAFTAR ISI ... vi

DAFTAR SKEMA ... x

DAFTAR TABEL ... xi

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang ... 1

1.2. Rumusan Masalah ... 11

1.3 Tujuan Penelitian ... 11

1.4. Manfaat Penelitian ... 12

1.4.1 Manfaat Teoritis ... 12

1.4.2 Manfaat Praktis ... 12

1.5. Sistematika Penelitian ... 12

BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Forgiveness ... 15

2.1.1 Definisi Forgiveness. ... 15

2.1.2 Dinamika Forgiveness ... 16

2.1.3 Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Forgiveness ... 24

2.1.4 Jenis Forgiveness ... 28

2.1.5 Dampak Forgiveness ... 28

(10)

2.2.Dating Violence ... 29

2.2.1 Definisi Dating Violence ... 29

2.2.2 Bentuk Dating Violence ... 30

2.2.3 Dampak Psikologis Dating Violence ... 32

2.2.4 Faktor yang Mempengaruhi Kondisi Dating Violence ... 33

2.2.5 Faktor Penyebab Dating Violence ... 35

2.3 Dinamika Forgiveness pada Korban Dating Violence ... 37

2.4 Paradigma Penelitian ... 42

BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Metode Penelitian Kualitatif ... 43

3.2 Metode Pengumpulan Data ... 43

3.3 Responden Penelitian ... 44

3.3.1 Karakteristik Responden ... 44

3.3.2 Jumlah Responden ... 44

3.3.3 Teknik Pengambilan Responden ... 45

3.3.4 Lokasi Penelitian ... 45

3.4 Alat Bantu Pengumpulan Data ... 45

3.4.1 Alat Perekam ... 45

3.4.2 Pedoman Wawancara ... 46

3.4.3 Buku Catatan ... 46

3.5 Prosedur Penelitian... 46

3.5.1 Pencarian Responden ... 46

3.5.2 Tahap Persiapan Penelitian ... 47

(11)

3.5.3 Tahap Pelaksanaan Penelitian ... 48

3.5.4 Tahap Pencatatan Data ... 49

3.5.5 Tahap Analisis Data ... 49

3.6 Kredibilitas Data ... 49

3.7 Metode Analisis Data ... 50

3.7.1 Organisasi Data ... 50

3.7.2 Koding dan Analisa ... 51

3.7.3 Pengujian Terhadap Dugaan ... 51

3.7.4 Strategi Analisis ... 52

3.7.5 Tahapan Interpretasi ... 52

BAB IV ANALISIS DATA DAN PEMBAHASAN 4.1 Hasil Analisis Data ... 53

4.1.1 Responden #1 ... 53

4.1.1.1 Identitas Responden ... 53

4.1.1.2 Observasi Umum ... 54

4.1.1.3 Observasi saat Pengambilan Data ... 54

4.1.1.4 Latar Belakang Kehiduppan Responden ... 58

4.1.1.5 Riwayat Dating Violence ... 61

4.1.1.6 Rekapitulasi Data Responden I ... 80

4.1.2 Responden II ... 83

4.1.2.1 Identitas Responden ... 83

4.1.2.2 Observasi Umum ... 83

4.1.2.3 Observasi saat Pengambilan Data ... 84

(12)

4.1.2.4 Latar Belakang Kehidupan ... 89

4.1.2.5 Riwayat Dating Violence ... 91

4.1.2.6 Rekapitulasi Data Responden II ... 109

4.2 Rekapitulassi Interresponden ... 113

4.3 Pembahasan ... 116

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN 5.1 Kesimpulan ... 124

5.2 Saran ... 126

5.2.1 Saran Metodologis ... 127

5.2.2 Saran Praktis... 127

DAFTAR PUSTAKA ... 129

LAMPIRAN ... 132

(13)

DAFTAR SKEMA

Skema II.1 Dinamika Forgiveness (Worthingon & Wade, 1999) ... 19

Skema II.2 Paradigma Penelitian ... 42

Skema IV.1 Dinamika Forgiveness Responden I ... 82

Skema IV.2 Dinamika Forgiveness Responden IIa ... 111

Skema IV.3 Dinamika Forgiveness Responden IIb ... 112

(14)

DAFTAR TABEL

Tabel III.1 Faktor Alasan Pemilihan Responden ... 47

Tabel IV.1 Identitas Responden I ... 53

Tabel IV.2 Jadwal Pengambilan Data Responden I ... 54

Tabel IV.3 Rekapitulasi Data Responden I ... 80

Tabel IV.4 Identitas Responden II ... 83

Tabel IV.5 Jadwal Pengambilan Data Responden II ... 84

Tabel IV.6 Rekapitulasi Data Responden II... 109

Tabel IV.7 Rekapitulasi Data Interresponden ... 113

(15)

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

Manusia sebagai mahkluk sosial membutuhkan orang lain dalam kehidupannya. Hal ini tidak terlepas dari salah satu tugas perkembangan dewasa yaitu pemilihan pasangan. Sebagai individu yang dewasa, pemilihan pasangan, pernikahan dan membangun keluarga menjadi isu yang sering diperbincangkan.

(Harvigrust dalam Santrock, 2007). Proses yang dijalani dalam pemilihan pasangan untuk menjadi pendamping hidup dikenal dengan istilah pacaran.

Pacaran merupakan kegiatan yang melibatkan pertemuan dua orang untuk melakukan aktivitas bersama dengan tujuan untuk mengenal satu sama lain (DeGenova, 2008).

Melakukan hal-hal positif dan menyenangkan menjadi aktivitas yang ada dalam hubungan pacaran. Namun tidak dapat dihindari aktivitas yang dilakukan tidak hanya diisi dengan hal yang menyenangkan. Hal yang tidak menyenangkan juga dapat timbul dalam hubungan dan dapat memicu permasalahan.

Permasalahan yang muncul terkadang menimbulkan konflik. Selain berdamai dengan masalah, tidak jarang konflik yang muncul diselesaikan dengan tindak kekerasan (Poerwandari, 2008).

Tindak kekerasan dalam pacaran atau dating violence menjadi salah satu masalah yang menarik perhatian masyarakat luas saat ini. Fakta yang mengejutkan di Indonesia, bahwa dating violence menempati posisi kedua setelah kekerasan dalam rumah tangga. Berdasarkan laporan Rifka Annisa Women Crisis Centre

(16)

Jogyakarta, tercatat dari 1994-2011 (Januari-Oktober), Rifka Annisa telah menangani 4952 kasus kekerasan pada perempuan, posisi pertama kasus KDRT sebanyak 3274 kasus, dan posisi kedua kasus dating violance tercatat 836 kasus (Admin dalam rifka-annisa.org, 2013).

Komisi Nasional Anti Kekerasan Terhadap Perempuan (2014) menerima sekitar 800 laporan mengenai kekerasan terhadap perempuan dalam wilayah personal, 59% di antaranya terjadi dalam wilayah perkawinan, 21% dalam hubungan pacaran dan 20% terhadap anak-anak. Secara substantif, dating violence merupakan bentuk yang sama dengan yang terjadi dalam rumah tangga.

Perbedaannya, terletak pada status hukum pelaku dan korban. Hal ini dikarenakan tidak ada payung hukum yang berlaku bagi korban yang berstatus pacar (Indraswari dalam medan.tribunnews.com, 2016).

Pada tahun 2016 Komisi Nasional Anti Kekerasan Terhadap Perempuan (Komnas Perempuan) menunjukkan bahwa angka kekerasan pada tahun 2015 cukup tinggi. Data menunjukkan bahwa dari total 11.207 kekerasan di ranah personal ada 2.374 kasus kekerasan dalam pacaran atau dating violence.(dalam Media Online Jabar, 2016). Dilansir dari surat kabar online di Medan bahwa, kekerasan dalam pacaran atau dating violence yang terjadi di Medan juga cukup tinggi. (dalam tribun, 2016).

Data angka yang didapatkan mengenai dating violence yang terjadi merupakan data yang berhasil diawasi atau dilaporkan. Faktanya, laporan mengenai dating violence digambarkan sebagai fenomena gunung es; kekerasan yang dialami yang tidak dilaporkan.Umumnya korban tidak menceritakan hal ini

(17)

kepada pihak yang berwenang atau bahkan kepada orangtuanya sendiri (Sulaeman

& Siti, 2010).

Kondisi korban yang tetap diam dengan keadaannya ini menjadi salah satu penyebab sulitnya penanganan dating violence. Terlebih lagi bahwa dating violence merupakan suatu kejadian yang memiliki pola berulang. Mengutip puisi yang ditulis oleh Pamela (16) seorang gadis yang mengalami dating violence, yang berjudul The Cycle of My Life.

“It all starts out wonderful until he strikes Constantly hearing I’m sorry

Until it doesn’t matter anymore Forgiving every time, forgetting never Calling out for him to stop

Never stopping until it is almost too late

Never thinking about the consequences of his actions

Just making me think out every possible consequences of mine Hearing I’m sorry all over again

Meeting him with open eyes

Awaiting the gifts I know will pour forward Until it all stops-

And the cycle begins all over again

(Soroptimist International of Americas,20 Februari 2013)

Puisi yang dituliskan Pamela menggambarkan bahwa ia merasa takut, sendiri dan bingung, akan tetapi ia hanya mampu berbicara melalui puisinya.

Situasi ini biasanya terjadi karena minimnya pengetahuan tentang pacaran, sehingga banyak diantara orang-orang yang menerima kekerasan memiliki pemahaman yang salah tentang yang telah dialaminya. Perempuan yang mengalami tindakan kekerasan, menganggap dating violence sebagai konsekuensi dari hubungan yang mereka jalani dan menganggap perilaku tersebut sebagai bentuk dari menghormati laki-laki yang lebih dominan dari dirinya (Hadi, 2002).

(18)

Sejalan dengan kondisi yang dialami perempuan berinisial VS berusia 22 tahun.

“HP aku kalo pas sama dia ya dipegangnya aja, kalo aku salah sikit ya dia marah-marah. Aku sih positif aja, „oh sayang kali dia mungkin samaku‟ gitulah pikirku kan...”

(Komunikasi Personal, 21 Desember 2016)

Kondisi yang diyakini oleh VS (22 tahun) sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh Ferlita (2008) yang menyatakan bahwa tindakan dominasi yang terjadi dianggap sebagai bentuk atau wujud kasih sayang dan perhatian pasangannya. Orang-orang yang mengalami dating violence sering kesulitan untuk memutus mata rantai kekerasan dalam hubungannya. Hal ini dikarenakan dating violence memiliki siklus yang berulang(Brown dalam Chung, 2007).

Dating violence sendiri dapat didefinisikan sebagai perilaku mengontrol, perilaku kasar, serta perilaku agresif lainnya yang merujuk pada dominasi terhadap pasangan (Murray, 2007). Dominasi ini sering kali terjadi pada budaya patriarki yang masih tinggi. Rata-rata kekerasan yang terjadi dalam hubungan pacaran 6 bulan ke atas (13 kali) lebih tinggi dibandingkan 6 bulan ke bawah (12 kali) (Siagian, 2006). Rata-rata usia perempuan yang memungkinkan mengalami kekerasan yaitu 16-24 tahun. Dating violence juga tidak memandang suku, agama, orientasi seksual budaya bahkan status ekonomi (Soroptimist, 2013). Sebagai contoh, kasus dating violence yang dialami oleh penyanyi pop Rihanna (21 tahun) pada tahun 2009 yang dilakukan oleh pacarnya saat itu yaitu Chris Brown (19 tahun). Laporan yang diterima bahwa Chris Brown mencekik Rihanna saat setelah Rihanna menerima pesan singkat dari penggemarnya. Berawal dari komunikasi yang tidak dapat dikontrol dengan pasangan, pengaturan emosi yang tidak nyaman

(19)

(seperti marah dan cemburu yang berlebihan), bertindak seakan-akan peduli terhadap pasangan, dianggap sebagai jalan untuk mempertahankan hubungan, padahal tindakan tersebut mengekang pasangan. Perilaku ini dianggap normal dan menjadi sebuah kebiasaan. Faktanya, tindakan tersebut merupakan masalah luas yang memiliki efek serius dalam jangka pendek maupun jangka panjang (Center for Disease Control, 2011). Kondisi penyerangan yang diterima Rihanna menyebabkan ia harus dirawat di rumah sakit. Akan tetapi, beberapa waktu kemudian publik dibuat terkejut karena Rihanna kembali menyatakan bahwa ia sudah kembali dengan Brown. Saat kondisi ini diketahui publik, banyak yang memberikan tanggapan-tanggapan negatif yang menyayangkan kondisi bahwa Rihanna menerima Brown kembali karena takut Rihanna terjerat kembali dalam kondisi kekerasan mengingat dating violence seperti siklus yang dapat kembali berulang (Soroptimist, 2013).

Siklus dating violence berawal dari fase tension building, fase explosion, kemudian fase honeymoon. Setelah fase honeymoon, siklus dapat kembali berulang dikarenakan adanya toleransi dari pihak yang menerima kekerasan.

(Brown dalam Chung, 2007). Faktor penyebab toleransi terhadap tindakan kekerasan sangat beragam, mulai dari rasa bersalah, takut ditinggal oleh kekasihnya, cinta, kepercayaan, konversi pikiran dan hal yang lain yang bertujuan untuk menemukan makna tindakan yang terjadi. Di samping itu, toleransi terhadap tindakan kekerasan juga dipengaruhi oleh faktor dari pihak pelaku (Claiborne, 2005). Hal ini sejalan dengan apa yang dialami oleh Rihanna yang

(20)

memutuskan kembali menerima pacarnya meskipun sudah mengalami dating violence.

Fase tension building yang ditandai dengan korban kekerasan sering berusaha mengontrol situasi dengan memaklumi tindakan violence yang terjadi atau menolak kenyataan bahwa tindakan tersebut merupakan suatu tindakan penyerangan (transgresi). Selama fase ini, pelaku violence akan lebih tempramental dan kritis terhadap korban. Selain itu, korban akan merasa terkejut terhadap kondisi penyerangan awal yang terjadi dan tidak sedikit akan menyalahkan dirinya atas penyerangan untuk mengontrol hubungan yang ada (Walker, 1979). Penelitian mengenai cycle of violence menujukkan hasil bahwa tiga dari dua belas respondennya merasa bersalah atas perilaku violence yang terjadi sedangkan sisanya merasa terkejut terhadap penyerangan yang dilakukan pasangan (Barnett, 2001).

Fase dating violence berlanjut kepada fase explosion yang ditandai dengan meningkatnya intensitas kekerasan serta kecemasan yang dialami. Hal ini ditandai dengan emosi negatif semakin meningkat. Menghindar, bingung, marah dan trauma yang muncul merupakan emosi negatif yang disebut dengan kondisi unforgiveness. Unforgiveness yang dialami tidak mudah hilang, Namun perlahan- lahan dapat berkurang seiring berjalannya waktu atau adanya intervensi yang tepat (Worthington, 1999). Kondisi ini sejalan dengan apa yang dialami oleh AG (23 tahun).

“Tiga atau empat harilah setelah kejadian (leher tergores pisau) itu.

Pokoknya gak sampe seminggu. „Aku mau ketemu samamu, aku mau minta maaf‟, katanya. Ih gamaulah aku, gila pulak nanti pikirku. Terus

(21)

Gak aku balaskan. Dicobanya ke adek kos aku. Gak taunya dibalas sama adek kos aku. Kan dia gatau malahnya. Kubilang aja gausah dibalas lagi, bilang aja bukunya buat dia. Polos kali dia. Terakhir dia mau balikin bukunya, dititipin bukunya sama kawan aku anak lantai 3 di kosan itu.

Itulah dia balikin sok-sok sedih. Itulah yang gak ngerti aku. Dia udah jahat tapi masih bisa sok-sok sedih.Engga, gamaulah. Itupun abis sama dia jomblo lama juga hampir setahun, delapan bulan gitulah. Gamau pacaran lagi kemaren. Trauma.”

(Komunikasi Personal, 23 Mei 2017)

“Aku nanya sama dekat kosan aku, „kak pernah nampak mobil jazz hitam.

Dibilangnya pernah dua hari lalu nungguin di depan kos. Ih serius kak?

Takutlah aku kan. Terus itulah aku ngadu sama mamaku. Udah gak aman lagi hidupku kupikir. Dari situlah aku minta pindah kos, karena udah takut kali aku.”

(Komunikasi Personal.23 Mei 2017) Jika kondisi unforgiveness terus berlanjut, kemungkinan seseorang dapat terserang penyakit yang mengganggu kondisi psikologis. Bahkan yang membahayakan, individu akan sulit mencapai kebahagiaan dalam hidup. Dalam meminimalisir kondisi terburuk yang mungkin terjadi, pelaku penyerangan (transgresor) berusaha meminta maaf terhadap tindakan kekerasan yang telah terjadi. Kondisi ini dikenal dengan fase honeymoon yang ditandai dengan janji bahwa perilaku akan berubah. Hal ini sejalan dengan apa yang dilakukan oleh pacar AG (Brown dalam Chung, 2007).

“Waktu dia udah berusaha menghubungi untuk minta maaf, aku setelah kejadian itu aku bener-bener gak mau merespon dia. Kuhindari dia.. Kayak mana ya Dinda, aku anak perempuan mamakku satu-satunya, sedih kaliloh aku dibuat gitu sama dia. Diancamnya nyawaku.Udahla laki-laki membeli wanita.

(Komunikasi Personal, 23 Mei 2017)

Barnet (2001) menemukan bahwa tujuh dari dua belas respondennya mengalami fase honeymoon yang menuntun mereka kembali mengalami kondisi

(22)

violence. Penelitian tersebut menjelaskan bahwa ketika memasuki fase honeymoon, pasangan mereka berusaha mengubah hati mereka dan menyatakan permintaan maaf kepada mereka. Pengakuan bahwa masih menyayangi dan janji tidak akan mengulang kembali tindakan violence mampu meluluhkan hati responden dan forgive terhadap tindakan violence yang terjadi.

Center for Disease Control (2011) menjelaskan, ketika individu tidak mampu forgiveness, kondisi unforgiveness akan terus berlanjut. Munculnya gejala depresi dan kecemasan menjadi bentuk unforgiveness yang mempengaruhi kesejahteraan psikologis. Membalas dendam atau melakukan mekanisme pertahanan diri tidak langsung memberikan dampak positif yang diharapkan.

Namun memunculkan emosi negatif lain. Adapun cara lain yang dapat digunakan untuk meredakan atau menghilangkan unforgiveness adalah melalui forgiveness (Worthington & Wade, 1999).

Forgiveness didefinisikan sebagai perubahan intrapersonal dan motivasi prososial individu (McCullough, 1998). Kondisi ini dapat menyebabkan perubahan dalam diri individu. Selanjutnya, Worthington & Wade (1999) menjelaskan bahwa forgiveness menimbulkan disonansi emosi pada individu.

Disonansi emosi terjadi ketika korban mengalami emosi-emosi positif seperti empati, rasa kasihan, maupun kerendahan hati. Emosi ini bertolak belakang dengan emosi awal (unforgiveness) yang dirasakan sehingga korban merasa tidak nyaman dan berusaha menyeimbangkan emosinya. Hal ini sesuai dengan apa yang dialami AG yang ditandai dengan penjelasan berikut.

(23)

“Pas dia minta maaf itukan Din, aku gak mau ya ketemu dia. Tapi pas dia minta maaf itu aku kayak yang. „Apasih dia ini udah jahat, minta maaf samaku.‟ Aku marah saat itu, tapi masih sayang gitu jugakan, namanya kami udah lama sama-sama. Tapi aku gak mau ketemu dia Din.”

(Komunikasi Personal, 23 Mei 2017) Mengalami disonansi emosi bukan berarti forgiveness. Disonansi ini merupakan fase yang dialami sebelum individu memilih forgive atau unforgive (Worthington & Wade, 1999). Pada dasarnya, forgiveness membutuhkan proses dan waktu yang cukup lama. Hal yang harus diperhatikan adalah, bahwa forgiveness tidak dapat menghilangkan rasa sakit, Namun, rasa sakit sendiri lebih mudah dikelola (Enright, 2001).

Pengelolaan forgiveness dipengaruhi oleh faktor personal attribute seperti kepribadian, kecerdasan emosi, empati, rasa bersalah atau agama dan relationship specific,seperti status hubungan, kepuasan hubungan serta komitmen. Faktor- faktor tersebut ada yang berkorelasi positif dan ada yang berkorelasi negatif sehingga mempengaruhi disonansi emosi pada individu. Individu dapat memilih kembali unforgive atau melepas unforgive berdasarkan pilihan individu itu sendiri (Worthington & Wade, 1999).

Penelitian mengenai Gambaran Dinamika Forgiveness pada Dewasa Muda yang Mengalami Putus Hubungan Pacaran menyatakan bahwa tidak semua subjek dalam penelitian mengalami forgiveness. Akan tetapi, dengan forgiveness, kondisi emosi subjek yang forgiveness lebih positif sehingga masalah yang muncul dapat diselesaikan dengan lebih teratur. Oleh karena itu, penanganan terhadap masalah yang dihadapi setelah putus hubungan pacaran menjadi lebih dapat diterima dan dipahami oleh individu. Hasil penelitian ini tentunya sejalan dengan penjelasan

(24)

Worthington & Wade (1999) yang mengatakan bahwa forgiveness memberikan keuntungan psikologis dan terapi yang efektif dalam intervensi untuk membebaskan seseorang dari kemarahannya dan rasa bersalah. Selain itu, kepercayaan diri yang meningkat dan tingkat depresi yang rendah juga berhubungan dengan forgiveness yang dialami seseorang. Ketika individu gagal melakukan forgive, maka hal ini membuat kepercayaan diri rendah dan introversi sosial yang akan menimbulkan hal buruk bila dialami berkelanjutan dalam kehidupan seseorang (Helb dan Enrigh, dalam Edmonson, 2004).

Forgiveness memang tidak menjamin adanya pemulihan hubungan(rekonsiliasi). Beberapa orang akan mungkin mengutuk dan mencoba melampiaskan amarahnya dengan membalas tindakan yang telah dialaminya.

Namun kondisi ini tidaklah membuat seseorang menjadi lebih baik. Jika individu mencoba tidak melampiaskan kemarahannya atau menahan amarahnya, maka akan lebih baik melakukan forgive. Setelah forgive, belum tentu juga individu dapat memiliki hubungan harmonis yang sama sebelum terjadinya dating violence. Akan tetapi, forgiveness memberikan konsekuensi positif daripada unforgiveness yang berhubungan dengan psychological well-being yang lebih baik (Lucia, 2005).

Individu yang melakukan forgive dapat mengoptimalisasi emosi positif yang lebih tinggi. Hal ini dikarenakan forgiveness melibatkan pengurangan emosi negatif dengan membentuk emosi positif. Emosi positif menyebabkan persepsi positif akan tumbuh kembali dan mempengaruhi kondisi suatu hubungan. Dalam hubungan dating, kemungkinan seseorang akan menilai hubungan mereka

(25)

kembali akan komitmen bersama yang pernah dibentuk. Sehingga meningkatkan dukungan sosial dalam memanfaatkan emosi yang ada sehingga dapat meningkatkan kepuasan hidup dan mempengaruhi rendahnya laporan mengenai gejala kesehatan fisik (Bono dkk, 2007).

Banyaknya dampak positif pada individu yang mampu forgiveness menunjukkan bahwa pengelolaan unforgiveness yang tepat dapat memberikan pengaruh yang baik dalam keberlangsungan hidup. Ketika kondisi unforgiveness terjadi pada seseorang yang mengalami dating violence, tidak dapat dipungkiri bahwa emosi negatif yang terus dibawa dapat mengganggu kehidupan sehari-hari.

Ketika dirinya sudah mampu forgiveness, mungkin kondisi dating violence dapat kembali berulang. Akan tetapi, pilihan terhadap resolusi akan disonansi yang terjadi menjadi jalan yang tepat untuk kembali atau terlepas dari dating violence..

Adanya hal inilah yang membuat peneliti tertarik untuk melakukan penelitian mengenai dinamika forgiveness pada korban dating violence.

1.2 Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan sebelumnya, maka rumusan masalah penelitian ini yaitu: “Bagaimana dinamika forgiveness pada korban dating violence?”

1.3 Tujuan Penelitian

Tujuan penelitian ini yaitu untuk mengetahui dinamika forgiveness pada korban dating violence.

(26)

1.4 Manfaat Penelitian

Manfaat dalam penelitian ini dibagi dalam dua bagian, yaitu manfaat praktis dan manfaat teoritis.

1.4.1 Manfaat Teoritis

Penelitian ini diharapkan memberikan sumbangan informasi mengenai forgiveness pada korban dating violence bagi penelitian selanjutnya dan dapat menjadi acuan dalam pengembangan ilmu psikologi, khususnya psikologi klinis dan ataupun studi psikologi lainnya.

1.4.2 Manfaat Praktis

Dari hasil penelitian ini, diharapkan:

1) Bagi korban dating violence, dapat menjadi salah satu masukan dalam menangani masalah selama pacaran demi kesejahteraan psikologis

2) Bagi lingkungan, dapat memahami bagaimana korban dating violence menangani masalahnya, sehingga dapat membantu memberikan masukan sebagai bentuk dukungan sosial

3) Bagi psikolog, dapat digunakan sebagai acuan dalam terapi atau konseling korban dating violence.

1.5 Sistematika Penulisan

Adapun sistematika yang disusun dalam penulisan ini yaitu : BAB I PENDAHULUAN

(27)

Bab ini berisi latar belakang dari penelitian, rumusan masalah, tujuan penelitian, manfaat penelitian secara praktis maupun secara teoritis dan sistematika penulisan.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

Bab ini memuat tinjauan teoritis dari masing-masing variabel yang menjadi acuan dalam pembahasan masalah yaitu forgiveness dan dating violence serta bagaimana paradigma penelitian forgiveness pada korban dating violence.

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

Bab ini menguraikan metode penelitian untuk mendapat data yang digunakan untuk mengolah hasil data penelitian yang berisi tentang pendekatan kualitatif, responden penelitian, teknik pengambilan responden, teknik pengumpulan data, alat bantu pengumpulan data serta prosedur penelitian.

BAB IV ANALISIS DATA DAN PEMBAHASAN

Bab ini menguraikan gambaran analisis data penelitian termasuk di dalamnya deskripsi umum partisipan penelitian, data observasi dan data wawancara serta rangkuman analisis data penelitian antar partisipan yang diakhiri dengan pembahasan dari rangkuman antar partisipan.

(28)

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN

Bab ini berisi kesimpulan penelitian yang diperoleh dan saran. Saran yang disampaikan berupa saran praktis maupun saran untuk peneliti selanjutnya yang berhubungan dengan hasil penelitian.

(29)

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Forgiveness

2.1.1 Definisi Forgiveness

Dalam kehidupan sehari-hari, ada kalanya sebuah konflik kecil dapat saja menjadi dendam yang besar bagi orang lain karena perubahan emosi tidaklah sesederhana yang dibayangkan. Sebagai sebuah perangkat pengubah motivasi, forgiveness dapat mengubah keinginan seseorang untuk membalas dendam dengan meredakan dorongan dan kebencian (McCullough, 1998). Perlu dipahami bahwa forgiveness dan unforgiveness adalah dua hal yang berbeda pemaknaannya Namun berada dalam satu kontinum yang sama. Forgiveness merupakan suatu proses yang diawali dengan kondisi unforgiveness. Sebelum individu mengalami forgiveness, ada suatu kondisi saat emosi yang diliputi kemarahan, kebencian, keinginan untuk menghindar dan melakukan pembalasan. Kondisi yang berkaitan dengan emosi seseorang ini dinamakan dengan unforgiveness. Salah satu pendapat menyatakan bahwa unforgiveness dapat dikelola dengan forgiveness. Forgiveness merupakan proses intrafisik individu melepas unforgiveness yang tidak sama dengan resolusi dari konflik. Orang-orang mungkin dapat menyelesaikan konfliknya dan tidak forgive atau mereka mungkin forgive namun tidak dapat menyelesaikan konfliknya. (Worthington dan Wade, 1999).

Proses forgiveness di dalam diri seseorang yang telah disakiti mampu melepaskan dirinya dari rasa marah, benci dan takut yang dirasakan dan tidak ingin balas dendam melibatkan pilihan atau keputusan sukarela oleh orang yang

(30)

telah disakiti untuk tidak marah, tidak menolak atau merasa tidak adil dalam merespon perilaku yang menyakitkan. Enright (dalam McCullough dkk., 2003) mendefinisikan forgiveness sebagai sikap untuk mengatasi hal-hal yang negatif dan penghakiman terhadap orang yang bersalah dengan tidak menyangkal rasa sakit itu sendiri tetapi dengan rasa kasihan, iba dan cinta kepada pihak yang menyakiti.

Lucia (2005) menyatakan bahwa ketika seseorang forgive, ia mengganti unforgiveness dengan kondisi emosi yang lebih positif sehingga dapat mengurangi permusuhan yang terjadi dan menurunkan stress negatif yang dialami seseorang.Worthington and Wade (2005) menyatakan bahwa forgiveness merupakan proses yang komplek karena mengelilingi pengalaman forgiveness itu sendiri. Proses forgiveness dimulai dengan menuturkan rasa sakit yang perlahan berkembang membangun kepercayaan yang dilakukan dengan suka rela (Spring dan Spring, 2006).

Berdasarkan penjelasan yang telah dijabarkan, dapat disimpulkan bahwa definisi yang dimaksud dalam penelitian adalah forgiveness sebagai proses intrafisik individu melepaskan unforgiveness yang tidak sama dengan resolusi konflik dan dilakukan secara perlahan-lahan.

2.1.2 Dinamika Forgiveness

Ada suatu skema dinamika yang menjelaskan unforgiveness dan forgiveness dalam sebuah hubungan interpersonal. Skema dinamika ini dibuat sebagai siklus yang dapat berulang. Penjelasan skema dinamika forgiveness

(31)

diawali dengan konteks. Konteks berisi karakteristik personal, status hubungan yang terjadi dan interaksi antara karakteristik personal terhadap status hubungan yang sedang dijalani. Selanjutnya, munculnya transgresi yang kemungkinan dapat terjadi pada hubungan tertentu. Transgresi yang muncul akan dipersepsikan oleh individu. Persepsi yang muncul akan menimbulkan respon yang berbeda dalam suatu keadaan.

Persepsi positif atau negatif tergantung pada konteks awal dari suatu hubungan. Ketika persepsi positif muncul, individu dalam suatu hubungan dapat menerima keadaan transgresi yang terjadi, sehingga konteks akan kembali lagi ke awal sebelum transgresi terjadi. Ketika individu mempersepsikan secara negatif, individu akan memasuki siklus dinamika forgiveness. Individu yang mempersepsikan suatu transgresi sebagai kondisi yang negatif akan memberikan respon terhadap transgresi. Respon dapat berupa rumination (merenungi keadaan) yang mengarah langsung kepada kondisi unforgiveness atau melakukan respon aktif maupun pasif.

Respon aktif yang dapat dilakukan individu berupa membalas tindakan transgresi yang terjadi atau mengkomunikasikan rasa sakit sehingga tidak merusak hubungan kedua belah pihak. Respon pasif yang dapat terjadi yaitu berdiam diri terhadap keadaan maupun menyalahkan diri secara langsung. Respon atas transgresi yang diberikan individu akan memicu respon transgresor (pelaku penyerangan). Respon ini dapat memicu munculnya kondisi disonansi. Kondisi disonansi dapat terjadi karena adanya perbedaan emosi yang bertolak belakang

(32)

dengan emosi awal sehingga menyebabkan individu merasa tidak nyaman.

Resolusi dari disonansi dapat berupa kondisi unforgiveness maupun forgiveness.

Kondisi ini berupa siklus yang memungkinkan transgresi dapat kembali terjadi lagi. Secara singkat skema dinamika forgiveness digambarkan dalam Skema II.1.

(33)

+ +

4.b.1 Rumination

4.a Respon aktif 3. Persepsi

Korban atas transgresi

4.a.2 Pro- Relationship Behavior

4. Reaksi emosi

4.b Respon pasif

4.a.1 Retaliation atau Avoidance 5. Respon

transgressor dan persepsi korban 6. Resolusi Disonansi Emosi

-

+

+

+

+

+ -

- 1. Konteks

Personal Context Valence Context

Personal x Relationship context

2. Transgresi

6.a Unforgiveness

6.B. FORGIVENESS 7. Konsekuensi forgiveness- unforgiveness

Partner is positively affected by an event (path A)

+/-

+

+

(34)

Adapun pengertian isi dari Skema II.1 adalah sebagai berikut.

1. Konteks

(a) Personal Context of the Partners

Beberapa karakteristik kepribadian dapat mempengaruhi seseorang merespon kejadian berbahaya dalam hidupnya. Seseorang yang memiliki emotional intelligence yang tinggi dapat membedakan situasi interpersonal dan mengendalikan perilaku mereka untuk meningkatkan interaksi positif. Pride, guilt-proneness dan shame-proneness mungkin termasuk juga karena mereka merefleksikan bagaimana orang-orang berdamai dengan transgresi. Disamping kepribadian, komitmen religiusitas dan belief individu juga mempengaruhi situasi.

(b) Emotional Valance of the Relationship

Segala peristiwa yang dialami dapat mempengaruhi persepsi seseorang terhadap suatu hubungan. Peristiwa negatif seperti transgresi dapat membuat hubungan positif menjadi kurang postif dan hubungan yang negatif menjadi semakin negatif. Sekali peristiwa dianggap sebagai suatu yang negatif, maka respon yang muncul akan negatif pula.

(c) Interaksi antara Personal Context dan Valence of the Relationship Dalam suatu hubungan, orang-orang mungkin akan memiliki kebiasaan yang berbeda-beda. Seseorang mungkin akan konsisten marah-marah di kantor, namun penuh cinta di rumah. Sebuah fakta kecil dalam hubungan yang spesifik akan menjadi faktor penting apakah seseorang akan memilih unforgiveness atau forgiveness sebagai

(35)

karakteristik sebuah hubungan yang memberikan kepuasan. Keadaan hubungan merupakan hal penting untuk memahami apakah unforgiveness akan cepat berubah menjadi forgiveness setelah terjadinya transgresi. Kondisi transgresi dalam penelitian ini adalah dating violence.

2. Transgresi

Transgresi dapat didefinisikan sebagai tindakan yang salah yang menyinggung perasaan pasangan atau sebagai tindakan yang menimbulkan

„luka‟ psikologis atau bahkan cedera. Secara objektif tindakan tersebut dianggap salah dan merugikan apabila pengamat yang mengetahui juga menganggap tindakan tersebut salah. Transgresi dapat merusak individu apabila terjadi berulang. Dalam penelitian ini transgresi yang terjadi adalah dating violence.

3. Persepsi Korban atas Transgresi

Respon yang diberikan individu dalam mempersepsikan sesuatu akan berbeda-beda. Dalam hal ini, ketika seseorang mempersepsikan suatu kondisi negatif dengan positif tentunya hal ini dapat menghindari orang tersebut dari siklus unforgiveness dan kembali pada hubungan awal sebelum terjadi trangresi.

(36)

4. Reaksi Emosi

Individu yang mempersepsikan suatu transgresi yang menyerang tentu akan mengalami kondisi emosi negatif. Kondisi ini memicu seseorang untuk melakukan coping aktif atau pasif. Worthington (dalam McCullough, 1998) menyatakan bahwa pengalaman yang dipersepsikan sebagai tindakan yang menyakitkan akan menimbulkan rasa takut. Emosi awal ini dapat mempengaruhi penerimaan, sabar atau melakukan defense yang kemudian menghindari orang tersebut dengan kondisi unforgiveness (lihat skema II.1, path B). Akan tetapi, kondisi unforgiveness dapat menyebabkan seseorang dalam motivasi pembalasan maupun permusuhan terhadap transgresor sehingga memicu mekanisme coping aktif dan pasif.

4.a Respon interpersonal aktif

Tindakan yang bersifat memperbaiki atau malah merusak hubungan dan merupakan tindakan eksternal dalam kondisi interpersonal disebut sebagai respon aktif. Ada dua tipe respon aktif:

4.a.1 Retaliation yaitu membalas atau melakukan tindakan yang menimbulkan rasa sakit yang sama pada transgresor. Avoidance yang berusaha menjauh dari transgresor. Kondisi seperti itu umumnya tidak membantu atau malah menimbulkan distress.

4.a.2 Consturctive Relationship Behavior, yang mana tindakan ini dapat bertujuan untuk mengkomunikasikan rasa sakit sehingga tidak merusak

(37)

kedua belah pihak. Akan tetapi, kondisi respon konstruktif ini hampir merupakan respon agresif.

4.b Respon interpersonal pasif

Respon ini merupakan cara yang lain yang dapat dilakukan korban untuk merespon emosi negatif akibat transgresi. Kondisi „pasif‟ lebih mengarah kepada hubungan interpersonal. Kondisi ini tidak membuat korban membalas transgresi yang terjadi, namun selalu mengingat penyerangan yang terjadi. Respon pasif juga meliputi perasaan, perilaku atau pikiran yang tidak dikomunikasikan secara langsung kepada transgresor; berdiam diri, menyalahkan diri sendiri ataupun rumination.

Sama halnya seperti „pandai besi menempa baja‟, rumination dapat membuat seseorang semakin unforgiveness.

5. Respon Transgresor dan Persepsi Korban

Respon yang dimunculkan oleh transgresor berupa penjelasan, pembenaran atau sekedar untuk mengurangi efek negatif dari transgresi.

Reaksi transgresor yang positif seharusnya diikuti oleh persepsi yang positif dari korban yang mana kondisi ini menyebabkan disonansi emosi (skema II.1, box 6). Akan tetapi, ketika respon transgresor negatif, maka rasa sakit yang dirasakan korban semakin kuat dan hal ini menimbulkan rumination(skema II.1, box 4.b.1).

(38)

6. Resolusi Disonansi Emosi

Setelah individu mengalami unforgiveness, disonansi emosi muncul dan memfasilitasi forgiveness. Kondisi disonansi emosi dapat muncul ketika korban dan transgresor memperoleh kembali status hubungan yang positif sehingga korban mengalami emosi positif. Kondisi ini tentunya bertolak belakang dari emosi awal (unforgiveness) dan ini menyebabkan korban merasa tidak nyaman sehingga korban akan berusaha menyeimbangkan emosinya. Disonansi emosi dapat diatasi dengan kembali kepada unforgiveness yang mana ini merupakan resolusi negatif dan tentu dapat juga kembali forgiveness yang menjadi resolusi positif. Hal yang perlu untuk diingat bahwa unforgiveness-forgiveness merupakan siklus atau dinamika yang dapat berulang. Korban mungkin forgive saat itu, namun suatu saat dapat kembali ruminate apabila korban mendapat trangresi baru.

7. Konsekuensi Forgiveness atau Unforgiveness

Hubungan yang baik dapat meningkat ketika seseorang melakukan forgiveness yang mana dapat menurunkan unforgiveness. Hal ini berpengaruh kepada proses atribusi , optimisme dan harapan individu.

Selain itu, kondisi atribusi, optimisme dan harapan individu juga berpengaruh ketika resolusi akhir yang dipilih adalah unforgiveness.

2.1.3 Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Forgiveness

Forgiveness yang dilakukan seseorang merupakan suatu dinamika yang dipengaruhi oleh banyak hal. Secara singkat Worthington dan Wade (1999)

(39)

menjelasakan beberapa faktor personal (big five, emotional intelligence, empathy,pride dan religion) dan atribut spesifik suatu hubungan (valence of the relationship, willingness to sacrifice dan commitment) yang mempengaruhi forgiveness.

a. Big Five

Teoritis berpendapat bahwa agreeableness seharusnya berpengaruh kepada forgiveness. Data yang diperoleh bahwa ditemukan penyusun forgiveness berkorelasi dengan agreeableness.

b. Emotional Intelligence

Kemampuan untuk mengerti apa yang dialami dan bagaimana emosi orang lain untuk secara aktif meregulasi emosi diri sendiri dan orang lain untuk memanfaatkan emosi dalam pengambilan keputusan, perencanaan serta memotivasi tindakan disebut sebagai emotional intelligence. Orang-orang dengan emotional intelligence yang tinggi dapat melihat situsi interpersonal dan mengontrol tindakan mereka untuk meningkatkan interaksi sosial yang positif. Emotional intelligence juga penting dari persepsi trangresor. Dengan mempersepsikan kemarahan, rasa takut dan kesedihan dari korban, transgresor yang kasar dapat meminta maaf atau mendiskusikan masalah kepada korban.

c. Empathy

Empati adalah kemampuan seseorang untuk ikut merasakan perasaan atau pengalaman orang lain. Kemampuan untuk empati ini erat kaitannya dengan pengambilalihan peran. Melalui empati terhadap pihak yang

(40)

menyakiti, seseorang dapat memahami perasaan pihak yang menyakiti.

Berdasarkan alasan itulah beberapa penelitian menunjukkan bahwa empati berpengaruh terhadap proses forgiveness (McCullough dkk, 1997).

d. Pride

Kebanggaan diri dikatakan menghambat forgiveness dan mendorong untuk menahan dendam sebagai gairah untuk menyelamatkan diri. Selain itu, orang yang penuh dengan kebanggaan terhadap diri mungkin lebih mudah menahan serangan dan memiliki kesulitan untuk forgive karena mereka lebih merasa terluka.

e. Religion

Atribusi personal lain yang mungkin mempengaruhi unforgiveness dan forgiveness adalah keterlibatan agama. Beberapa agama menilai interpersonal forgiveness lebih utama dari yang lain.

f. Valence of the Relationship

Beberapa orang menolak mengakui sakit hati yang mereka rasakan untuk mengakuinya sebagai sesuatu yang sangat menyakitkan. Kadang-kadang rasa sakit membuat mereka takut seperti orang yang dikhianati dan diperlakukan secara kejam. Mereka merasa takut mengakui sakit hatinya karena dapat mengakibatkan mereka membenci orang yang sangat dicintainya, meskipun melukai. Mereka pun menggunakan berbagai cara untuk menyangkal rasa sakit hati mereka. Pada sisi lain, banyak orang yang merasa sakit hati ketika mendapatkan bukti bahwa hubungan

(41)

interpersonal yang mereka kira akan bertahan lama ternyata hanya bersifat sementara.

g. Willingness to Sacrifice for the Relationship

Keinginan untuk mendapatkan hubungan yang memiliki kepuasan terkadang menolak beberapa hal yang terlihat buruk dalam suatu hubungan. Sebagai contoh, ketika terjadi penyerangan keinginan untuk memiliki kepuasan hubungan akan mengurangi unforgiveness. Mencari- cari dan mengharapkan forgiveness adalah hal yang „mahal‟ karena mengundang kepuasan hubungan.

h. Commitment

Seseorang yang forgive terhadap kesalahan pihak lain dapat dilandasi oleh komitmen yang tinggi pada relasi mereka. Ada empat alasan mengapa komitmen berpengaruh terhadap forgiveness dalam hubungan interpersonal. Pertama, pasangan yang forgive pada dasarnya mempunyai motivasi yang tinggi untuk menjaga hubungan. Kedua, dalam hubungan yang erat ada orientasi jangka panjang dalam menjalin hubungan di antara mereka. Ketiga, dalam kualitas hubungan yang tinggi kepentingan satu orang dan kepentingan pasangannya menyatu. Keempat, kualitas hubungan mempunyai orientasi kolektivitas yang menginginkan pihak- pihak yang terlibat untuk berperilaku yang memberikan keuntungan di antara mereka (McCullough dkk., 1998).

(42)

2.1.4 Jenis Forgiveness

Worthington, dkk (2007) menyatakan bahwa para peneliti yang meneliti mengenai transgresor dari orang asing atau orang yang memiliki hubungan yang tidak berkelanjutan lebih memilih forgiveness sebagai upaya utuk mengurangi unforgiveness. Dalam hubungan dengan transgresor asing, memiliki forgiveness sebagai upaya untuk menurunkan dan menghilangkan unforgiveness dan menggantikan negatif dengan hal positif dapat membangun pengalaman forgiveness yang baik. Adapun dua jenis forgiveness yaitu:

a. Decisional Forgiveness

Decisional forgiveness merupakan sebuah keputusan untuk mengontrol sebuah perilaku untuk mengurangi unfogiveness dengan merespon tindakan yang berbeda dari transgresor. Decisional forgiveness lebih merespon tindakan selain transgresi yang terjadi. Hal ini berkaitan dengan proses rekonsiliasi dan melalui hubungan yang lebih baik.

b. Emotional Forgiveness

Emotional forgiveness merupakan forgiveness yang mengganti emosi negatif dengan emosi positif. Emotional forgiveness termasuk dalam perubahan psikofisologis yang lebih terkait kepada kesehatan dan well- being.

2.1.5 Dampak Forgiveness

Hubungan interpersonal dapat diperbaiki dengan adanya forgiveness dalam diri seseorang,. Selain itu forgiveness juga berhubungan dengan kesehatan dan

(43)

kesejahteraan psikologis (Worthington & Wade, 1999). Forgiveness dapat mempengaruhi kesehatan fisik dan psikologis karena dengan forgiveness seseorang dapat melepaskan perasaan marah, mengubah pemikiran destruktif dan menjadi pemikiran yang lebih baik terhadap seseorang yang menyakitinya (Enright, 2001).

Helb dan Enrigh (dalam Edmonson, 2004) menyatakan bahwa forgiveness berhubungan dengan kepercayaan diri yang meningkat dan tingkat depresi yang rendah. Namun, ketika individu gagal melakukan forgive, tentunya akan berefek pada kepercayaan diri yang rendah dan introversi sosial.

Melakukan forgiveness dapat mempengaruhi psychological well-being yang lebih baik. Individu yang melakukan forgive dapat mengoptimalisasi emosi positif yang lebih tinggi dan dapat dikatakan bahwa memiliki emosi negatif yang rendah, meningkatnya kepuasan hidup dan rendahnya laporan mengenai gejala kesehatan fisik (Bono dkk, 2006).

2.2Dating Violence

2.2.1 Definisi Dating Violence

Dalam proses dating, ada kemungkinan kejadian atau tindakan yang dapat dialami dan menimbulkan penderitaan. Adapun tindakan yang mungkin terjadi adalah kekerasan baik secara fisik, seksual, psikologis ataupun emosional yang terjadi selama proses pacaran dapat didefinisikan sebagai kekerasan dalam pacaran atau dating violence. Dating violence merupakan tipe dari kekerasan pada pasangan intim, yang mana terjadi diantara dua orang yang sedang mengalami

(44)

hubungan kelekatan. Menurut Sugarman &Hotaling (dalam Krahe, 2001) menyatakan bahwa dating violence adalah tindakan atau ancaman untuk melakukan kekerasan salah satu pihak dari hubungan dating ke pihak lainnya.

Sedangkan The National Clearing house on Familly Violence and Dating Violence(2006) mendefinisikan dating violence sebagai serangan seksual, fisik, maupun emosional yang dilakukan pasangan pada saat pacaran. Tindakan ini tidak dilakukan transgresor atas paksaan orang lain sehingga dapat didefinisikan sebagai perilaku yang secara sadar sebagai bentuk dari perilaku mengontrol, perilaku kasar, serta perilaku agresif yang terjadi selama hubungan pacaran (Murray, 2007).

Dalam penelitian ini, peneliti memilih menggunakan teori Murray (2007) dalam mendefinisikan dating violence . Dating violence didefinisikan sebagai perilaku yang secara sadar mengontrol, kasar, serta agresif yang terjadi selama pacaran (Murray, 2007).

2.2.2 Bentuk Dating Violence

Ada banyak bentuk-bentuk dari dating violence. Murray (2007) membagi bentuk-bentuk dating violence. Bentuk-bentuk dating violence sendiri terdiri atas 3 jenis, yaitu:

(1) Verbal and emotional abuse adalah ancaman, pengabaian, penyelidikan, pengekangan maupun perusakan yang dilakukan pasangan terhadap pacarnya dengan perkataan maupun mimik wajah, seperti: menuduh pasangannya berselingkuh, mengintimidasi, menginterogasi pacarnya setiap waktu, yang

(45)

dilakukan secara sengaja dan bertujuan memperoleh atau mempertahankan kekuatan kontrol terhadap pasangannya.

(2) Sexual abuse adalah pemaksaan untuk melakukan kegiatan atau kontak seksual sedangkan pacar mereka tidak menghendakinya. Pemaksaan ini meliputi kissing, hubungan intim yang dilakukan untuk memperoleh kekuatan dan kontrol terhadap pasangan.

(3) Physical abuse adalah perilaku yang mengakibatkan pacar mereka terluka secara fisik, seperti memukul, menampar, menendang dengan menggunakan anggota tubuh seperti tangan maupun kaki atau benda lainnya dengan tujuan untuk memperoleh kontrol atas pasangannya.

Penjelasan mengenai bentuk-bentuk dating violence juga sesuai dengan yang disampaikanPoerwandari (2008) dalam penjabarannya sebagai berikut:

a. Kekerasan fisik; perbuatan yang mengakibatkan rasa sakit, jatuh sakit, atau luka berat. Contoh perilaku ini adalah memukul, mendorong, menampar, menonjok, memcekik dan menganiaya bagian tubuh orang lain.

b. Kekerasan psikologis/emosi; kekerasan yang terjadi termasuk mengancam pasangan, merugikan pasangan, merasa harga dirinya dicampakkan.

Kegiatannya termasuk nama panggilan, memalukan pasangan, bullying, atau menjauhkan pasangan dari temannya maupun keluarganya.

c. Kekerasan seksual; kekerasan yang terjadi termasuk memaksa pasangan untuk melakukan aktivitas seksual ketika mereka tidak mengizinkan.

Kekerasan ini bisa secara fisik maupun non fisik seperti mengancam akan

(46)

menyebarkan rumor ketika pasangan menolak untuk melakukan hubungan seksual.

d. Kekerasan ekonomi; Kekerasan yang tampil dalam dimensi ekonomi yaitu ketika seseorang ditelantarkan oleh pihak yang seharusnya bertanggung jawab, dipaksa atau mengeksploitasi secara ekonomi.

2.2.3 Dampak Psikologis Dating Violence

Dampak kekerasan yang timbul pada umumnya berpengaruh pada kehidupan korban selanjutnya. Variasi reaksi yang muncul tergantung pada jenis tindakan kekerasan yang dialami serta reaksi pribadi dari korban sendiri Pendekatan psikologis menyatakan bahwa perempuan yang mengalami kekerasan memiliki gangguan kesehatan mental dan terjadinya learned helplessness yaitu suatu kondisi yang membuat perempuan tidak dapat keluar dari kekerasan yang dialaminya. Perempuan merasa tidak lagi berdaya dan hanya bisa menyerah dengan kekerasan yang dialami (Hyde, 2007). Reaksi terburuk pada perempuan yang mengalami kekerasan adalah timbulnya depresi dan gangguan psikopatologis seperti Post Traumatic Stress Disorder atau PTSD (Calhoun &

Atkeson dalam Sulaeman & Siti, 2010).

Penelitian yang dilakukan oleh Nafi‟i(2015) mengenai Dinamika Psikologis Korban Kekerasan dalam Pacaran menemukan bahwa dampak psikologis yang paling dominan muncul adalah perasaan malu, takut, sakit dan tergantung secara emosional. Malu dalam hal ini dikarenakan sudah menjadi korban kekerasan, serta takut mengakui keadaan ini pada lingkungan . Sakit yang

(47)

dialami korban adalah efek dari luka fisik yang didapatkan dari kekerasan yang telah terjadi. Penyesalan dan terselipnya pernyataan janji dari transgresor untuk tidak mengulangi lagi kondisi dating violence membuat korban memikirkan hubungan yang dijalani dan melalukan forgiveness. Ketika hubungan kembali berlanjut, korban menerima kondisi dating violence lagi seperti semula yang disebut dengan siklus kekerasan atau cycle of violence. Ketika kondisi dating violence berlanjut, dampaknya juga berpengaruh pada kehidupan sosial korban, yang mana korban menjadi memiliki keterbatasan ruang gerak akibat kontrol yang diberikan pasangan. Selain itu, munculnya penurunan produktivitas kerjadan prestasi. Namun, apabila korban mampu bertahan dan keluar dari cycle of violence kemungkinan dirinya untuk lebih mengembangkan sifat asertif akan muncul dalam dirinya (Poerwandari, 2008)

2.2.4 Faktor yang Mempengaruhi Kondisi Dating Violence

Banyak peneliti yang berfokus pada penelitian tentang pasangan yang hidup bersama atau yang sudah menikah. Hanya sedikit peneliti yang berfokus pada faktor yang mempengaruhi tetap bertahan dalam kondisi dating violence.

Penelitian Lyon (2015) mengenai Dating Violence and the Stay/Leave Decision of Young women in Colleges menjelaskan faktor yang mempengaruhi tetap bertahan kondisi dating violence.

a. Relationship Features

Bagi perempuan, kepuasan dalam suatu hubungan dating mempengaruhi dirinya untuk bertahan atau meninggalkan dating sama halnya dengan kepuasan

(48)

hubungan pernikahan atau sekedar hidup bersama. Edward (dalam Lyon, 2015) menemukan bahwa semakin puas seseorang dalam sebuah hubungan, maka akan semakin mampu ia bertahan dalam hubungan yang sedang dijalani.

b. Emotional Responses

Hendy dkk, (dalam Lyon, 2015) menyatakan perempuan yang mengalami dating violence merasa malu terhadap kondisinya di masyarakat jika dibandingkan dengan teman-teman sebayanya yang tidak menerima dating violence. Meskipun usia dan pengalaman berpengaruh terhadap faktor ini, pasangan yang masih baru berhubungan berharap lebih tinggi terhadap perubahan yang terjadi selama dating dan memiliki harapan yang besar terhadap berakhirnya dating violence dalam hubungan mereka.

c. Psychosocial and Social Psychological Characteristics

Atribusi terhadap perilaku pasangan dan self esteem ditemukan mempengaruhi kecenderungan untuk meninggalkan dating pada perempuan yang sedang menjalani pendidikan. Perempuan yang memiliki atribusi positif terhadap perilaku pasangannya akan memiliki asosiasi negatif terhadap self esteem.

d. Personal Resources and Barriers

Tingginya social support dari teman sebaya menjadi faktor penting bagi college woman dalam membuat keputusan untuk untuk bertahan atau meninggalkan dating violence. Selain dalam dating, adanya social support juga menjadi hal penting dalam menjalani kehidupan college woman.

(49)

2.2.5 Faktor Penyebab Dating Violence

Murray (2007) menyatakan ada beberapa faktor yang berkontribusi dalam dating violence, yaitu:

1. Penerimaan Teman Sebaya

Kecenderungan individu yang ingin mendapatkan penerimaan dari teman sebaya membuat mereka cenderung mengikuti apa yang diinginkan kelompok.

2. Harapan Peran Gender

Laki-laki yang diharapkan lebih aktif cenderung mendominasi perempuan.

Hal inilah yang menjadikan laki-laki lebih mengesahkan dating violence sebagai tindakannya kepada pasangannya. Sedangkan perempuan yang pasif cenderung menerima tindakan yang diterimanya.

3. Pengalaman

Secara umum, seseorang yang memiliki sedikit pengalaman dalam kondisi dating tidak mengerti seperti apa dating yang benar. Keadaan yang dinilai baik atau tidak selama dating dinilai dari pengalaman yang diperoleh.

4. Sedikit Akses ke Layanan Masyarakat

Kurangnya akses kepada layanan masyarakat menjadi kendala sehingga informasi yang dimiliki tidak lengkap.

5. Legalitas

Kesempatan untuk mendapatkan legalitas menjadi salah satu penyebab terjadinya dating violence. Individu yang belum mendapat legalitas

(50)

cenderung sedikit akses untuk meminta bantuan kepada pihak pengadilan, polisi atau penyedia jasa bantuan lainnya.

6. Penggunaan Obat-Obatan

Penggunaan obat-obatan bukanlah peyebab utama terjadinya dating violence, Namun ada kecenderungan meningkatnya keberbahayaan dating violence apabila trnasgresor adalah pengguna obat-obatan.

World Health Organization atau WHO (2010) juga menjelaskan faktor- faktor penyebab yang memunculkan tindakan dating violence berdasarkan model ekologis yang terbagi menjadi empat, yaitu:

1. Faktor individual, termasuk di dalamnya faktor biologis dan sejarah kehidupan pribadi dari individu yang memiliki kemungkinan untuk menjadi korban atau pelaku kekerasan.

2. Faktor hubungan, termasuk didalamnya faktor individu yang memiliki hubungan dengan teman-teman, kelompok atau pasangan dan keluarga.

Dari orang-orang yang ada di dekat individu maka dapat membentuk perilaku dan pengalaman.

3. Faktor komunitas, kondisi ini terbangun hubungan sosial seperti sekolah, tempat bekerja, dan lingkungan tempat tinggal.

4. Faktor sosial, faktor yang lebih luas dibandingkan faktor sebelumnya termasuk didalamnya ketidaksetaraan gender, agama, nilai-nilai budaya, norma sosial, dan kebijakan politik-ekonomi yang kemudian menciptakan jarak antara kelompok orang.

(51)

2.3 Dinamika Forgiveness pada Korban Dating Violence

Kekerasan dalam berpacaran atau dating violence merupakan salah satu bentuk kekerasan yang kurang mendapat perhatian masyarakat. Hal ini dikarenakan tidak ada payung hukum yang berlaku selama masih dalam tahap berpacaran (Poerwandari, 2006). Padahal dating violence merupakan salah satu bentuk tindak kekerasan terhadap perempuan. Walaupun termasuk tindak kekerasan terhadap perempuan, dating violence ini tidak hanya dialami oleh perempuan. Akan tetapi, perempuan lebih banyak menjadi korban dikarenakan ketimpangan kekuasaan laki-laki dan perempuan yang dianut masyarakat. Hal inilah yang menjadi salah satu penyebab timbulnya dating violence dalam hubungan berpacaran. Dating violence didefinisikan sebagai tindakan yang dilakukan oleh pelaku penyerangan (transgresor) sebagai bentuk dari perilaku mengontrol, mendominasi, perilaku kasar, serta perilaku agresif lain yang terjadi selama hubungan pacaran (Murray, 2007).

Adapun faktor yang mempengaruhi dating violence dalam hubungan pacaran yaitu, penerimaan teman sebaya yang diharapkan dapat menjadi celah untuk diakui dalam suatu kelompok menjadi salah satu alasan. Harapan terhadap peran gender yang menganggap bahwa laki-laki diharapkan lebih „aktif‟, pengalaman yang minim terhadap dampak yang mungkin ditimbulkan, sedikitnya akses ke layanan masyarakat terhadap informasi yang benar dan sesuai, legalitas dalam masyarakat serta penggunaan obat-obatan menjadi kontribusi dalam munculnya tindakan dating violence dalam suatu hubungan. Faktor-faktor inilah

(52)

yang menjadi alasan saat suatu hubungan mengalami masa dating violence (Murray, 2007).

Bentuk-bentuk dating violence sendiri terdiri atas 3 macam, yaitu (1) verbal and emotional abuse, (2) sexual abuse, (3) physical abuse. Verbal and emotional abuse adalah ancaman yang dilakukan pasangan terhadap pacarnya dengan perkataan maupun mimik wajah, seperti: menuduh pasangannya berselingkuh, mengintimidasi, menginterogasi pacarnya setiap waktu, dan lain- lain. Sexual abuse adalah pemaksaan untuk melakukan kegiatan atau kontak seksual sedangkan pacar mereka tidak menghendakinya. Physical abuse adalah perilaku yang mengakibatkan pacar mereka terluka secara fisik, seperti memukul, menampar, menendang dan sebagainya (Murray, 2007).

Brown dalam Chung (2007) menyatakan bahwa dating violence merupakan siklus yang tiap fasenya ditandai dengan tindakan berbeda. Berawal dari fase tension building yang mana tindakan kekerasan (transgresi) baru dimulai.

Dalam hubungan pacaran, persepsi individu terhadap kondisi trangresi atau dating violence yang terjadi tergantung pada konteks awal suatu hubungan. Suatu tindakan dapat dipersepsikan positif atau negatif tergantung pada konteks awal suatu hubungan. Persepsi positif dapat membuat individu menerima kondisi dating violence yang terjadi (Worthington & Wade, 1999). Kondisi ini termasuk dalam salah satu tanda individu berada dalam fase tension building. Seiring berjalannya waktu, persepsi negatif yang muncul akan mengarahkan langsung emosi negatif dari individu yang mengalami tindakan dating violence. Munculnya

(53)

emosi negatif setelah mengalami trangresi disebut juga dengan kondisi unforgiveness (Brown dalam Chung, 2007)

Worthington dan Wade (1999) menyatakan bahwa kondisi emosi yang diliputi kemarahan, kebencian, keinginan untuk membalas tindakan yang disebabkan oleh suatu penyerangan disebut juga kondisi unforgiveness.Unforgiveness merupakan reaksi terhadap transgresi yang terjadi.

Kombinasi emosi seperti marah, ingin menyerang, kebencian, serta rasa takut.

Kondisi ini merupakan reaksi alami yang timbul dari adanya rasa sakit. Dalam kondisi ini, fase dating violence berada dalam fase exploison (Brown dalam Chung, 2007). Respon individu yang dapat muncul saat ini dapat berupa merenungi kesalahan (rumination) atau melakukan respon aktif dengan membalas dan atau mengkomunikasikan rasa sakit kepada transgresor sehingga hubungan kedua belah pihak tidak akan rusak. Akan tetapi, respon dapat juga berupa tindakan pasif dengan berdiam diri terhadap keadaan transgresi yang terjadi sehingga unforgiveness dapat memicu dampak yang negatif terhadap individu maupun hubungan itu sendiri (Worthingon & Wade, 1999).

Dampak yang ditimbulkan ketika unforgiveness terjadi dapat berupa kondisi seperti luka memar pada tubuh yang ditimbulkan dari physical abuse, menurunnya self esteem dikarenakan adanya verbal and emotional abuse. Jika kondisi ini berkelanjutan, reaksi terburuk yang dapat terjadi yaitu timbulnya depresi serta gangguan psikopatologis seperti Post Traumatic Stress Disorder (PTSD) atau bahkan kematian (Calhoun & Atkeson dalam Sulaeman & Siti,

Gambar

Tabel III.1 Faktor Alasan Pemilihan Responden
Tabel IV.2 Jadwal Pengambilan Data Responden I
Tabel IV.3 Rekapitulasi Data Responden I
Tabel IV.5 Jadwal Pengambilan Data Responden II
+3

Referensi

Dokumen terkait

Penilaian autentik adalah bentuk penilaian di mana siswa diminta untuk memaparkan tugasan dalam situasi sebenar yang menunjukkan penerapan Ketrampilan dan

Berdasarkan hasil analisis data dari observasi pada anak usia 5-6 tahun di TK Negeri Pembina 1 Pekanbaru dapat dilihat pada tabel di atas bahwa perkembangan motorik halus

Hasil penelitian sub variabel pemasaran ternak dan hasil ternak di Desa Sumbang Kecamatan Curio Kabupaten Enrekang desa sumbang pada tabel 19 menunjukkan bahwa

Bila diamati, bintang selalu bergerak di langit malam, baik itu tiap jam maupun tiap hari akibat pergerakan Bumi relatif terhadap bintang (rotasi dan revolusi

hukum adat secara historis telah ada semenjak zaman pra Islam dan setelah zaman Islam. Kemudian pada Tahun 375 H. 986 M, telah ada Kerajaan Linge Gayo di pimpin oleh Adi

Register Akta Catatan Sipil adalah daftar yang membuat data outentik mengenai peristiwa penting meliputi kelahiran, kematian, perkawinan, perceraian, pengakuan anak

Hasil yang diperoleh dalam penelitian ini, dimana pada konsentrasi Ribavirin 40 ppm ternyata plbs yang bebas CyMV adalah eliminasi yang sempurna sebesar 100% setelah

Lemak hewani mengandung banyak sterol yang disebut kolesterol, sedangkan lemak nabati mengandung fitosterol dan lebih banyak mengandung asam lemak tak jenuh