1.1 Latar Belakang
Lembaga keuangan bertindak sebagai penyedia jasa keuangan bagi nasabahnya, di Indonesia terdiri dari lembaga keuangan bank dan lembaga keuangan non bank. Salah satu dari jenis lembaga keuangan non bank ialah asuransi. Asuransi mempunyai tujuan utama yaitu memberikan perlindungan risiko dan rasa aman kepada peserta asuransi terhadap kemungkinan atas terjadinya suatu kerugian. Industri asuransi berperan penting terhadap perkembangan sektor ekonomi dan sosial dengan cara meminimalkan risiko pada semua kegiatan perekonomian (Khan anda Noreen, 2014). Kegiatan bisnis yang dilakukan baik perusahaan maupun individu akan selalu berkaitan dengan kondisi ketidakpastian, sehingga asuransi menjadi salah satu solusi dalam meminimalisasi risiko yang dihadapi.
Kelompok asuransi di Indonesia terbagi menjadi dua yakni asuransi syariah dan asuransi konvensional yang diantara keduanya terdapat beberapa perbedaan. Soemitra (2009:266) menjelaskan bahwa asuransi syariah didasarkan atas tolong menolong (taawun) dengan menggunakan akad Tabarru’ (hibah) sebagai penghubung antar peserta sedangkan asuransi kovensional menggunakan akad lebih mirip jual-beli (tabadduli). Saling membantu jika salah satu orang mengalami musibah atau bahaya menjadikan pembeda konsep dasar antara asuransi syariah dan asuransi kovensional sehingga memiliki nilai lebih bagi asuransi syariah dari sisi sosial (Ardianto and Sukmaningrum, 2020). Saling tolong menolong menjadi salah satu perintah Allah SWT, difirmankan dalam Al- Qur’an Surat Al Maidah ayat 2 :
َّنِإ َٰۖ َّللّٱ ْاوُقَّتٱَو ِِۚنََٰوۡدُعۡلٱَو ِمۡثِ ۡلۡٱ َ َعَل ْاوُنَواَعَت َلََو َٰٰۖىَوۡقَّلتٱَو ِرِبۡلٱ َ َعَل ْاوُنَواَعَتَو ۘ ٱ
ُديِد َش َ َّللّ
ِباَقِع ۡلٱ
٢
..wa ta’awanu ‘alal birri wat taqwa wa la ta’awanu ‘alal itsmi wal ‘udwan wattaqullah innallaha syadidul ‘iqob.
Terjemah arti : .. dan tolong menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan permusuhan.
Bertakwalah kepada Allah, sungguh Allah sangat berat siksa-Nya.
Menurut (Khan and Noreen, 2014) asuransi konvensional dan takaful memiliki kerangka kerja operasional yang berbeda terhadap perlindungan risiko.
Sharing of risk yakni proses antara peserta satu dengan lainnya yang saling menanggung atau disebut (ta’awun) dan menjadi sistem dari asuransi syariah sedangkan proses berpindahnya risiko dari tertanggung (klien) ke penanggung (perusahaan) atau transfer of risk menjadi sistem asuransi konvensional (Soemitra, 2009: 267).
Kerugian yang terjadi dapat diminimalkan melalui manejemen risiko seperti asuransi umum dengan tujuan sebagai penyedia perlindungan untuk kerugian tidak terduga karena jika tidak dilakukan akan mengakibatkan pembiayaan eksternal yang besar atau realokasi sumber daya internal untuk penggantian aset. Magee dalam Salim (1995:15) mengemukakan bahwa peristiwa terjadi akibat kebakaran, pencurian, asuransi laut dan lain-lain yang menyebakan kerugian akan dijamin oleh asuransi umum. Di Indonesia industri asuransi terus mengalami pertumbuhan yang baik ditengah kondisi ketidakpastian perekonomian. Pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun 2019 tumbuh 5,02%
sehingga berdampak pada perkembangan industri perangsurasian baik asuransi syariah maupun kovensional (BPS, 2019). Pertumbuhan ekonomi yang tinggi akan menyebabkan peningkatan belanja infrastruktur oleh pemerintah dan investasi di sektor swasta sehingga terjadi peningkatan aktivitas asuransi pada suatu negara (Akhtar, 2018).
Berdasarkan data Otoritas Jasa Keuangan, total aset perusahaan asuransi syariah nasional tumbuh 8,44% dibandingkan pada periode sebelumnya dengan keseluruhan aset yang dimiliki senilai Rp 45.45 triliun sementara itu asuransi syariah mempunyai porsi 6,18% jika dibandingkan total aset asuransi
konvensional sebesar Rp 735 triliun (OJK, 2019).
Sumber : OJK (2019)
Gambar 1.1
Perkembangan Aset Asuransi Syariah Indonesia
Gambar 1.1 diatas memperlihatkan dalam kurun waktu lima tahun mulai 2014-2019 pasca Undang Undang 20 tahun 2014, pertumbuhan industri asuransi syariah hampir mencapai 2 kali lipat yang menujukkan optimisme pertumbuhan untuk kedepannya.
Sumber : OJK (2019)
Gambar 1.2
Pertumbuhan Jumlah Perusahaan Asuransi Umum
22,364
26,519
33,244
40,520 41,915
45,453
- 5,000 10,000 15,000 20,000 25,000 30,000 35,000 40,000 45,000 50,000
2014 2015 2016 2017 2018 2019
Rp. Triliun
Aset
81 80 80 79 79 73
2 3
4 5 5 5
23 24 24 25 24 24
0 10 20 30 40 50 60 70 80 90
2014 2015 2016 2017 2018 2019
UUS Syariah full fledged Kovensional
Berdasarkan data dari OJK per 31 Agustus 2020 tercatat bahwa penetrasi asuransi sebesar 2,9% dan penetrasi asuransi umum hanya sebesar 0,44% sehingga rasio penetrasi asuransi di Indonesia masih tergolong rendah. Dari data gambar 1.2 menunjukkan bahwa pangsa pasar asuransi syariah masih jauh dibawah asuransi konvensional yaitu sekitar 5%. Realitas tersebut menjadi tantangan sekaligus peluang bagi industri asuransi untuk lebih mengoptimalkan kemampuan perusahaannya agar peran asuransi syariah dalam ekonomi syariah bahkan dalam pembangunan nasional semakin besar. Ketatnya persaingan pasar akan menuntut perusahaan agar menyusun srategi yang tepat supaya mampu memperlihatkan kinerja yang baik.
Berkembang pesatnya industri asuransi di Indonesia tidak akan terlepas dari sejauh mana efisiensi suatu perusahaan. Efisiensi menjadi perhatian utama bagi para pembuat kebijakan untuk mendorong semakin berkembangnya industri asuransi (YAO et al., 2007). Efisiensi merupakan penggunaan biaya seminimal mungkin pada proses produksi, sehingga perusahaan harus mampu mengalokasikan faktor-faktor produksi yang dimiliki secara optimal agar pengelolaan hubungan input dan ouput memberikan hasil maksimal (Abidin, 2009). Salah satu aspek yang paling penting bagi keberhasilan suatu perusahaan asuransi adalah efisiensi dengan tujuan menjadi parameter kinerja perusahaan.
Efisiensi suatu asuransi harus diikuti oleh manajemen risiko yang baik agar mendapatkan keuntungan yang maksimal serta dapat mengendalikan risiko- risiko yang ada (Abidin, 2009).
Efisiensi bagi industri asuransi memiliki implikasi penting untuk tetap menjaga kepercayaan masyarakat sehingga perusahaan dapat memperbaiki kualitas dan memberikan inovasi baru (Ghaisani, 2018). Pengukuran efisiensi dilakukan agar menuai beberapa manfaat salah satunya agar dapat menjaga kesehatan laporan keuangan dan peningkatan mutu dalam perusahaan sehingga masyarakat akan menentukan pilihan perusahaan asuransi mana yang memiliki riwayat baik dalam pengelolaannya. Efisiensi secara sederhana merupakan bentuk penghindaran pemborosan agar sumber ketidakefisienan yang berasal
dari hubungan input dan output dapat diminimalisir (Ningsih and Suprayogi, 2017). Terdapat beberapa metode untuk mengukur efisiensi antara lain stochastic frontier analysis, total factor productivity, analisis rasio, least square regression dan data envelopment analysis. Pengukuran efisiensi dalam penelitian ini menggunakan metode data envelopment analysis (DEA) dengan asumsi VRS dan orientasi input berdasarkan pendekatan nilai tambah. Metode DEA digunakan karena dinilai mampu membandingkan Desicion Making Units (DMU) yang tidak efisien dengan ukuran skala yang sama dan mampu mengidentifikasi sumber inefisiensi pada setiap input dan output pada DMU (YAO et al., 2007). Pendekatan nilai tambah adalah pendekatan yang paling tepat digunakan untuk industri asuransi karena perusahaan asuransi beroperasi berdasarkan risk pooling dan risk-bearing dimana perusahaan menerima premi dari peserta dan mendistribusikannya kembali kepada peserta yang menderita kerugian (Huang & Eling, 2013).
Selain pengukuran efisiensi, faktor-faktor yang mempengaruhi efisiensi juga penting untuk dilakukan agar perusahaan memiliki srategi untuk dapat bersaing dengan perusahaan lain. Hal tersebut dikarenakan menentukan hubungan mengenai faktor penentu efisiensi akan membantu manajemen perusahaan asuransi dalam mengidentifikasi dan mampu mengelola kinerjanya dengan lebih baik (Grmanová and Strunz, 2017). Pengujian faktor-faktor yang mempengaruhi efisiensi menggunakan metode regresi tobit. Riset oleh Fauziah et al. (2020) mengungkapkan bahwa efisiensi perusahaan dipengaruhi oleh berbagai faktor antara lain rasio solvabilitas, leverage, likuiditas, size, tangibility, volume modal dan rasio kerugian, sedangkan Ilyas & Rajasekaran (2019) menjelaskan bahwa determinan efisiensi asuransi umum di India dipengaruhi oleh size, age, reasuransi, leverage, return on assets, risiko investasi dan diversifikasi. Penelitian ini menggunakan tiga variabel yang akan diuji pengaruhnya terhadap efisiensi, yakni Return on Assets (ROA), leverage dan age. ROA mewakili tingkat profitabilitas perusahaan asuransi. Semakin besar tingkat ROA maka semakin efisien suatu asuransi (Grmanová & Strunz,2017;
Copeland & Cabanda,2018; Jaloudi, 2019). Leverage merupakan rasio yang
digunakan untuk menggambarkan sejauh mana aset yang dimiliki perusaahaan dibiayai oleh hutang. Leverage yang tinggi menunjukkan bahwa tingkat efisiensi yang dimiliki juga tinggi namun hanya pada titik optimal ekuitas tertentu (Luhnen, 2009; Copeland & Cabanda 2018). Age menggambarkan umur perusahaan dengan berapa lamanya perusahaan berdiri. Perusahaan asuransi yang telah beroperasi lama akan mempunyai hubungan efisiensi positif dibandingan perusahaan asuransi baru (Ilyas & Rajasekaran, 2019; Biener et al., 2016).
Berdasarkan uraian diatas, ketatnya persaingan asuransi umum syariah dan konvensioanal di Indonesia maka perlu dilakukan pengukuran efisiensi serta faktor yang mempengaruhinya sebagai penilaian kinerja untuk menjaga performa perusahaan. Oleh karena itu, penelitian ini mengangkat topik mengenai tingkat efisiensi asuransi umum syariah dan konvensional di Indonesia selama tahun 2015-2019 dengan pendekatan Two-Stage Data Envelopment Analysis.
1.2 Kesenjangan Penelitian
Penelitian mengenai perbandingan efisiensi industri asuransi syariah dan konvensional yang menggunakan metode Data Envelopment Analysis telah diteliti oleh beberapa peneliti sebelumnya. Fokus penelitian para peneliti terbagi berbeda- beda seperti sektor bidang bisnis asuransi, wilayah yang diteliti dan pengunaan variabel input output. Riset oleh Almulhim (2019) secara umum menjelaskan bahwa skor efisiensi rata-rata Takaful lebih tinggi daripada asuransi konvensional di Arab Saudi sehingga Takaful memiliki kinerja yang lebih baik. Sedangkan penelitian Akhtar (2018) menjelaskan bahwa industri asuransi konvensional lebih efisien dibandingkan dengan Takaful. Sementara itu Ilyas & Rajasekaran (2019), Alhassan & Biekpe (2016) dan Copeland & Cabanda (2018) menguji mengenai faktor yang mempengaruhi tingkat efisiensi pada industri asuransi dan memiliki hasil tidak sama. Ilyas & Rajasekaran (2019) menjelaskan bahwa age berpengaruh secara signifikan terhadap efisiensi asuransi, sedangkan Alhassan & Biekpe (2016) menyatakan age tidak berpengaruh secara siginifikan. Copeland dan Cabanda (2018) mengemukakan bahwa ROA dan leverage berpengaruh secara
signifikan terhadap tingkat efisiensi, namun penelitian Ilyas & Rajasekaran (2019) menguraikan ROA dan leverage tidak berpengaruh signifikan. Perbedaan tersebut dipengaruhi oleh variabel yang digunakan dan periode penelitian. Kesenjangan penelitian yang menjadi alasan dalam penelitian ini yaitu ditemukan inkonsistensi dari hasil penelitian terdahulu mengenai perbandingan kinerja efisiensi dan faktor- faktor yang mempengaruhi efisiensi asuransi umum syariah dan konvensional di Indonesia. Oleh sebab itu, kesenjangan tersebut memunculkan rumusan masalah sebagai berikut :
1. Bagaimana perbedaaan tingkat efisiensi asuransi umum syariah dan konvensional di Indonesia?
2. Bagaimana pengaruh dari Return on Asset, leverage dan age terhadap tingkat efisiensi asuransi umum syariah dan konvensional di Indonesia?
1.3 Tujuan Penelitian
1. Untuk mengetahui tingkat efisiensi perusahaan asuransi umum syariah dan konvensional di Indonesia.
2. Untuk mengetahui pengaruh Return on Asset, leverage dan age terhadap tingkat efisiensi asuransi umum syariah dan konvensional di Indonesia.
1.4 Ringkasan Metode Penelitian
Pendekatan kuantitatif dilakukan pada penelitian ini dengan analisis non parametrik dan parametrik. Analisis non parametrik menggunakan metode Data Envelopment Analysis untuk mengukur tingkat efisiensi dengan asumsi Variable Return to Scale. Total modal, total beban perusahaan dan total beban asuransi sebagai variabel input sedangkan total pendapatan perusahaan dan total pendapatan asuransi digunakan pada variabel output. Model analisis parametrik pada two stage menggunakan regresi tobit untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi tingkat efisiensi terhadap variabel Return on Assets, leverage, age dan dilakukan uji hipotesis. Penelitian ini menggunakan data sekunder berupa laporan keuangan tahun 2015-2019. Populasi penelitian ini yaitu seluruh perusahaan asuransi umum konvensional dan syariah di Indonesia baik UUS
maupun Full Fledge yang terdaftar di OJK pada 2015-2019 dan sampel penelitian sebanyak 27 perusahaan yang terpilih melalui teknik purposive sampling.
1.5 Ringkasan Hasil Penelitian
Data Envelopment Analysis digunakan untuk mengukur tingkat efisiensi perusahaan asuransi umum konvensional dan syariah di Indonesia. Regresi tobit digunakan untuk mengetahui dan menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi tingkat efisiensi. Hasil penelitian menunjukkan secara keseluruhan rata-rata selama periode observasi, nilai efisiensi asuransi umum syariah lebih tinggi dibandingkan asuransi umum konvensional. Hal tersebut dikarenakan asuransi umum syariah mampu memilih kombinasi input optimal dan mengubahnya menjadi hasil output yang maksimal. Variabel ROA dan age di asuransi umum konvensional berpengaruh terhadap tingkat efisiensi namun variabel leverage tidak berpengaruh, sementara itu pada asuransi umum syariah hanya variabel ROA yang memiliki pengaruh terhadap tingkat efisiensi sedangkan variabel leverage dan age tidak berpengaruh pada tingkat efisiensi.
1.6 Kontribusi Penelitian
Penelitian ini memberikan konstribusi bagi perusahaan karena dapat mendorong perusahaan asuransi umum konvensional dan syariah dalam mengoptimalkan input dan output sehingga meningkatkan tingkat efisiensi. Hasil penelitian ini juga dapat menjadi aspek perbaikan pengambilan keputusan internal perusahaan terhadap variabel input output yang menyebabkan inefisiensi.
Penelitian ini memberikan wawasan dan menambah pengetahuan kepada peneliti serta pembaca terkait efisiensi perusahaan asuransi umum syariah dan konvensioanal di Indonesia menggunakan pendekatan Two-Stage Data Envelopment Analysis. Penelitian ini juga bisa menjadi referensi dan sumber informasi pada penelitian selanjutnya.
1.7 Sistematika Penulisan BAB 1 :PENDAHULUAN
Pendahuluan meliputi latar belakang, kesenjangan penelitian, tujuan penelitian, ringkasan metode penelitian, ringkasan hasil penelitian, konstribusi riset serta sistematika penulisan terkait dengan penelitian tentang tingkat efisiensi asuransi umum syariah dan konvensional di Indonesia selama tahun 2015-2019 dengan pendekatan Two-Stage Data Envelopment Analysis.
BAB 2 : KAJIAN PUSTAKA
Bab ini menguraikan sistematik tentang landasan teori, penelitian sebelumnya yang relevean dengan penelitian yang dilakukan serta menjelaskan hubungan antar variabel dan hipotesis yang telah ditentukan berdasarkan teori dan penelitian terdahulu.
BAB 3 : METODE PENELITIAN
Bab ini memberi penjelasan mengenai pendekatan penelitian, identifikasi variabel, definisi operasional variabel, jenis dan sumber data, populasi dan sampel serta teknik analisis data.
BAB 4 : HASIL DAN PEMBAHASAN
Pada bab ini diuraikan mengenai gambaran umum subjek dan objek penelitian, deskripsi statistik variabel, hasil estimasi dan pembuktian hipotesis serta interpretasi hasil pembahasan.
BAB 5 : KESIMPULAN DAN SARAN
Bab in terdiri dari ringkasan hasil, kesimpulan, saran dan keterbatasan penelitian.