• Tidak ada hasil yang ditemukan

PENANGANAN UMPAN HIDUP PADA PENGOPERASIAN ALAT TANGKAP POLE AND LINE DI KM. DIOSKURI 3A SORONG, PAPUA BARAT TUGAS AKHIR OLEH : MUHAMMAD FAISAL ASRI

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "PENANGANAN UMPAN HIDUP PADA PENGOPERASIAN ALAT TANGKAP POLE AND LINE DI KM. DIOSKURI 3A SORONG, PAPUA BARAT TUGAS AKHIR OLEH : MUHAMMAD FAISAL ASRI"

Copied!
23
0
0

Teks penuh

(1)

PENANGANAN UMPAN HIDUP PADA PENGOPERASIAN ALAT TANGKAP POLE AND LINE DI KM. DIOSKURI 3A

SORONG, PAPUA BARAT

TUGAS AKHIR

OLEH :

MUHAMMAD FAISAL ASRI 12 22 217

JURUSAN PENANGKAPAN IKAN

POLITEKNIK PERTANIAN NEGERI PANGKEP

2016

(2)

HALAMAN PENGESAHAN TUGAS AKHIR

PENANGANAN UMPAN HIDUP PADA PENGOPERASIAN ALAT TANGKAP POLE AND LINEDI KM. DIOSKURI 3A

SORONG, PAPUA BARAT

OLEH :

MUHAMMAD FAISAL ASRI NIM. 12 22 217

Sebagai Salah Satu Syarat untuk Menyelesaikan Studi padaPoliteknik Pertanian Negeri Pangkep

Telah Diperiksa dan Disetujui oleh:

Erna, S.Pi.,M.Si. Ir. Muh. Nadir, M.Si.

Pembimbing I Pembimbing II

Mengetahui :

Ir. Andi Asdar Jaya, M.Si. Salman,S. Pi., M.Si.

Direktur Ketua Jurusan

(3)

LEMBAR PERSETUJUAN PENGUJI

Judul :Penanganan Umpan Hidup pada Pengoprasian Alat Tangkap Pole and Line di Dioskuri 3A Sorong, Papua Barat

Nama :Muhammad Faisal Asri

NIM :12 22 217

Jurusan : Penangkapan Ikan Tanggal Lulus :

Disahkanoleh:

TimPenguji

1. Erna, S.Pi.,M.Si (...)

2. Ir. Muh. Nadir, M.Si (...)

3. Hasmawati, S.pi.,M.si (...)

4. Mukhlisa Aghaffar S.Pi., M.Si (...)

(4)

i RINGKASAN

Muhammad Faisal Asri

Penanganan Jenis Umpan Hidup Ikan Cakalang pada Alat Tangkap Pole AndLineDi Km. Dioskuri 3A Sorong (di bawah bimbinganErna Dan Muh.Nadir).

Adapun tujuan dari penulisan Tugas Akhir ini yaitu : Penanganan Jenis Umpan Hidup ikan Cakalang pada Alat Tangkap Pole Andlinedi KM. Dioskuri 3a Sorong

Metode penulisan yang digunakan adalah; intervieu atau wawancara dengan pembimbing lapang dan para ABK KM. Dioskuri 3A yang mengetahui hal-hal yang berhubungan dengan materi yang dibahas, dan observasi atau pengamatan langsung dengan cara mengamati secara langsung dan berperan aktif dalam kegiatan di atas kapal selama kegiatan berlansung dan studi literatur atau pustaka yang berhubungan dengan materi tulisan.

Khusus untuk pengunaan umpan hidup dari kapal-kapal pole and line yang berbasis di Bitung Sulawesi Utara, yang kebanyakan menggunakan jenis umpan ikan teri,dikarenakan hasil tangkapan dari alat tangkap umpan hidup didominasi oleh ikan teri.

Faktor-faktor yang harus diperhatikan dalam penanganan ikan umpan hidup

antara lain, sirkulasi air dalam bak penampungan ikan umpan hidup, temperatur air

dalam bak umpan, dan tingkat kepadatan umpan dalam bak penampungan yang

sangat penting untuk diperhatikan demi ketahanan ikan umpan sampai pada saat

penebaran di fishing ground,Dalam proses pemindahan umpan ini sering juga terjadi

ember yang terbentur di pinggir kapal terutama yang dilakukan pada malam hari, hal

ini dapat mengakibatkan ikan umpan menjadi shockdan akan memengaruhi ketahanan

umpan tersebut.

(5)

ii KATA PENGANTAR

Puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Kuasa atas berkat dan rahmat-Nya sehingga penyusunan tugas akhir ini dapat terselesaikan dengan baik. Penulisan tugas akhir ini merupakan salah satu syarat untuk menyelesaikan program studi dalam bidang perikanan di Politeknik Pertanian Negeri Pangkep, yang berjudul ”Penanganan Umpan Hidup pada Pengoprasian Alat Tangkap Pole AndLine di KM. Dioskuri 3A Sorong Papua Barat”.

Dalam penyusunan Tugas Akhir ini tidak sedikit kesulitan yang ditemui baik tenaga maupun keterbatasan pengetahuan sehingga penyusunan Tugas Akhir ini memerlukan bantuan dari berbagai pihak. Dengan selesainya Tugas Akhir ini penulis mengucapkan terima kasih kepada Ibu dan Ayah tercinta yang telah membantu dan memberikan dorongan spiritual, perhatian dan kasih sayang yang tulus, pada kesempatan ini pula penulis mengucapkan terimah kasih kepada :

1. Bapak Ir. Andi Asdar Jaya, M.Si Selaku Direktur Politeknik Pertanian Negeri Pangkep.

2. Bapak Salman, S.Pi., M.Si Selaku Ketua Jurusan Penangkapan Ikan, Politeknik Pertanian Negeri Pangkep.

3. Ibu Erna, S.Pi., M.Si Dan Bapak Ir. Muh. Nadir, M.Si selaku Pembimbing I

dan II yang Memberikan Motivasi dalam Penyusunan tugas Akhir ini.

(6)

iii 4. Ibu Yanti L.Tangiloang, selaku Pimpinan Perusahaan PT Radios Apirja Kota

Sorong (Papua Barat).

5. Seluruh Staf Pengajar, Teknisi dan Pegawai Politeknik Pertanian Negeri Pangkep.

6. Seluruh rekan-rekan Mahasiswa Politeknik Pertanian Negeri Pangkep yang telah banyak membantu dalam penyusunan tugas akhir ini.

Penulis menyadari sepenuhnya bahwa dalam penyusunan tugas akhir ini masih terdapat kekurangan dan kesalahan, oleh karena itu kritik dan saran yang sifatnya membangun sangat diharapkan demi kesempurnaan tulisan ini.

Semoga tugas akhir ini dapat bermanfaat kepada pihak pembaca terutama bagi penulis sendiri.

Mandalle, 1 Maret 2016

Muh. Faisal Asri

(7)

iv DAFTAR ISI

Halaman

LEMBAR PENGESAHAN

RINGKASAN... i

KATA PENGANTAR ... ii

DAFTAR ISI ... iv

DAFTAR TABEL ... vi

DAFTAR GAMBAR ... vii

DAFTAR LAMPIRAN... viii

1. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang ... 1

1.2 Tujuan dan Kegunaan ... 2

II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Pole and Line ... 4

2.2 Umpan Hidup dan Syarat-Syarat Umpan Hidup Dalam Pole and Line 6 2.3Tingkah Laku Ikan Umpan ... 9

2.4 Faktor Lingkungan dan Lama Penyimpanan Ikan Umpan... 11

2.7.1 Suhu dan Salinitas... 11

2.7.2 Kadar Oksigen... 11

(8)

v III. MEODOLOGI

3.1 Waktu dan Tempat Pengambilan Data ... 12

3.2 Alat dan Bahan ... 13

3.3 Metode Pengambilan Data ... 12

IV. KEADAAN LOKASI PENGAMBILAN DATA 4.1 Keadaan Umun Lokasi ... ... 14

4.2 Keadaan Daerah Operasi Penangkapan ... 15

V.HASIL DAN PEMBAHASAN 5.1 Faktor yang Berpengaruh Kelangsungan Ikan Umpan... ... 16

5.1.1 Sirkulasi Dalam Bak Umpan ... 16

5.1.2 Temperatur Air Dalam Bak.... ... 19

5.1.3 Tingkat Kepadatan Umpan.. ... 19

5.2 Penanganan Umpan Hidup ikan Umpan ... 21

VI. KESIMPULAN DAN SARAN 6.1 kesimpulan ... 23

6.2 Saran ... 23 DAFTAR PUSTAKA

LAMPIRAN

RIWAYAT HIDUP

(9)

vi DAFTAR TABEL

No Teks Halaman 1. Spesifikasi bak penampungan umpan hidup dan

Kapasitasumpan dalam sekali pengambilan umpan,2016………. 17

(10)

vii DAFTAR GAMBAR

No Teks Halaman

1. Ikan Umpan Hidup……… 7

2. Bagang Tancap………... 6

3. Sirkulasi Menggunkan Pipa Yang Memanfaatkan

Tekanan Air Saat Kapal Bergerak……… 18 4. Pipa Sirkulasi Air Yang Menggunakan

Bantuan Mesin Pompa……….. 19

5. Juru Umpan (Boi-Boi) Sedang Mengontrol Tingkat

Kepadatan Umpan Saat Pemindahan Dari Bagang Ke Perahu………… 20

6. Penanganan Umpan Hidup Pada Malam Hari……….. 22

(11)

viii DAFTAR LAMPIRAN

No Teks Halaman

1. Alat-alat yang digunakan Dalam Penanganan Umpan Hidup……… 26

2. Alur proses Penanganan Ikan Umpan Hidup………. 29

3. Pengambilan Umpan Hidup per Trip……….. 28

4. Penggunaan Umpan Hidup………. 29

(12)

1 BAB I

PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

Penangkapan ikan merupakan salah satu profesi yang telah lama dilakukan oleh manusia. Menurut sejarah sekitar ratusan tahun yang lalu manusia telah melakukan kegiatan penangkapan dengan menggunakan tangan, kemudian profesi ini berkembang terus secara perlahan-lahan dengan menggunakan berbagai alat yang masih sangat tradisional yang terbuat dari berbagai jenis bahan seperti kayu, batu, tulang dan tanduk. Seiring dengan perkembangan kebudayaan, manusia mulai bisa membuat perahu yang sangat sederhana seperti sampan sebagai alat bantu penangkapan sampai akhirnya tecipta kapal-kapal modern.

Perkembangan perikanan “huhate” tidak terlepas dari perkembangan perikanan umpan hidup. Kedudukan perikanan umpan hidup dapat dikatakan sejajar dengan perikanan huhate karena saling berkaitan sehingga biasa di sebut sebagai perikanan ganda (dual fisheries). Aktivitas penangkapan ikan dengan huhate sangat dipengaruhi oleh ketersediaan ikan umpan hidup.

Untuk mendapatkan kondisi ikan umpan yang baik, diperlukan penanganan umpan yang baik. Oleh karena itu usaha penangkapan ikan umpan hidup juga merupakan salah satu kegiatan yang harus mendapat perhatian serius..

Masalah yang sering dihadapi dalam pengembangan perikanan cakalang adalah ketidakpastian penyediaan ikan umpan ,Daerah dan musim penangkapannya. Masalah terpenuhinya ikan umpan memegang peranan yang tidak kecil, karena ikut menentukan untung ruginya usaha yang dilakukan.

kapal pole and line yang beroperasi di perairan Papua Barat kadang-

kadang sulit untuk mendapatkan ikan umpan hidup. Walaupun penangkapan ikan

(13)

2 umpan hidup ini dapat dilakukan sepanjang tahun, tetap ditentukan oleh keadaan bulan.

1.2 Tujuan Dan Kegunaan

Tujuan yang ingin dicapai dalam penulisan Tugas Akhir ini adalah untuk mengetahui Faktor-faktor yang berpengaruh terhadap kelangsungan hidup ikan umpan dan untuk mengetahui Waktu penanganan umpan hidup pada pengoprasian alat tangkap Pole and Line di KM. Dioskuri 3A.

Kegunaan dari laporan tugas akhir ini adalah sebagai bahan informasi dan

Acuan tentang factor-faktor yang berpengaruh terhadap kelangsungan hidup

umpan dan Penanganan umpan hidup pada pengoprasian Alat tangkap pole and

line .

(14)

3 BAB II

TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Pole And Line

Unit penangkapan pole and line terdiri atas kapal, alat tangkap dan tenaga kerja komponen-komponen tersebut merupakan satu kesatuan yang tak dapat dipisahkan dan sangat menentukan keberhasilan operasi penangkapan. Kapal dalam armada penangkapan pole and line berfungsi untuk mengangkut tenaga kerja dan alat tangkap dari fishing base ke fishing ground serta kembali ke fishing base atau tempat pendaratan lainnya. Selain itu kapal juga berfungsi membawa

hasil tangkapan, umpan hidup dan mengejar gerombolan ikan. Alat tangkap pole and line terdiri atas joran( pole) tali pancing (line) dan kail (Ben Yami, 1980).

Menurut Ben Yami (1980), alat bantu yang sering digunakan pada perikanan pole and line adalah

1. Hand net atau jaring tangguk, digunakan untuk mengelompokkan ikan umpan hidup sehingga memudahkan untuk ditangkap dengan scoop net;

2. Scoop net, dipakai untuk beberapa tujuan tergantung pada ukurannya.scoop net berukuran besar berdiameter 40 cm dan dalam 20-30 cm, berfungsi untuk memindahkan umpan hidup dari palka umpan hidup ke ember, menangkap umpan non umpan dan kadang- kadang dipakai sebagai pengganti ember, dan juga dipakai dalam penebaran umpan hidup.

3. Ember, dipakai untuk menempatkan atau memindahkan umpan dari bagan ke palka penyimpanan umpan di kapal pole and line ;

4. Bait chumming tank, berfungsi menampung umpan untuk proses

chumming

(15)

4 Cakalang (Katsuwonus pelamis) adalah termasuk jenis ikan pelagis besar yang hidup di perairan bebas dengan salinitas tinggi sekitar 32-35 ppt dan suhu permukaan laut sekitar 28

o

C-31

o

C (Blackburn, 1965 vide Gafa, 1986).

(Hamzah Diguantoro,2000) menjelaskan bahwa alat tangkap yang paling baik untuk mengusahakan ikan umpan adalah alat tangkap yang tidak menggunakan jaring kantong berbentuk krucut, seperti paying, karena ikan umpan yang tertangkap akan mengumpul dalam satu tempat yang menyempit dan akhirnya akan berhimpit serta cepat mati. Alat tangkap yang paling baik digunakan adalah jenis jaring angkat, termasuk bagan, soma dampar dan tipe jarring yang bila dioperasikan membentuk suatu lingkaran seperti tudung saji terbalik.

Alat tangkap yang digunakan dalam usaha penangkapa ikan umpan bermacam- macam yaitu bagan, payang, pukat pantai,dll. Efektifitas alat tangkap tersebut berbeda dalam menangkap ikan teri, karena selain ikan teri juga tertangkap ikan lainnya sebagai hasil tangkapan sampingan (Diniah et al. 1995).

Ikan-ikan kecil seperti ikan umpan lebih tertarik pada cahaya sehingga untuk mengumpulkan di suatu lokasi di perlukan bantuan lampu pada malam hari di saat bulan gelap (Hutomo et al 1987).

di bawah ini adalah gambar dari salah satu alat tangkap ikan umpan hidup

(16)

5

2.2 Umpan Hidup Dan Syarat-Syarat dalam Pole And Line

Ikan umpan memegang peranan penting dalam perikanan pole and line.

Ruivo (1959) vide Laksono (1983) menjelaskan bahwa umpan adalah salah satu bentuk rangsangan atau stimulus yang bersifat fisik maupun kimiawi dan dapat menimbulkan respon bagi ikan tertentu. Menurut kondisinya umpan dibedakan menjadi umpan hidup dan umpan mati. Berdasarkan sifat asalnya umpan dibedakan sebagai umpan alami dan umpan buatan. Berdasarkan penggunaannya umpan dibedakan atas umpan yang dipasang pada alat tangkap dan umpan yang tidak dipasang pada alat tangkap. Umpan yang digunakan pada pole and line adalah umpan hidup, sehingga penangkapan ikan dengan pole and line dikenal dengan life bait fishing.

Jenis ikan yang digunakan sebagai umpan hidup umumnya ikan pelagis kecil.

Kelompok ikan pelagis kecil merupakan ikan yang hidup di lapisan permukaan suatu perairan, berenang dalam gerombolan dan menyenangi daerah yang terlindung seperti daerah pantai dan teluk. Banyak jenis ikan umpan yang dapat digunakan untuk penangkapan cakalang dengan pole and line, namun hanya

Gambar 1.Bagan Tarik di fak-fak

(17)

6 beberapa jenis yang disenangi oleh cakalang, antara lain teri (Stolephorus spp.), tembang (sardinella sp.), kembung (Rastrelliger sp.) (Gafa dan Subani, 1987).

Jenis-jenis ikan umpan yang tertangkap dengan bagan di perairan Sulawesi Utara meliputi beberapa jenis diantaranya teri (Stolephorus spp.), tembang (sardinella sp.), kembung (Rastrelliger sp.). Menurut Naamin (1998) dalam penelitiannya di periran Maluku komposisi ikan umpan yang tertangkap oleh bagan terdiri atas 75 % “puri” (Stolephorus spp), 10 % kembung (Rastrelliger sp.), 10 % “make” (sardinella spp.) dan sekitar 5% ikan pelagis kecil lainnya.

Selama ikan umpan hidup berada dalam tempat penyimpanan maka ikan yang lemah dan sakit akan mati sedangkan ikan yang lebih kuat akan dapat menyesuaikan diri dan bertahan hidup sampai diangkut oleh kapal. (Yami 1980) Daya tahan dari beberapa spesiaes ikan umpan hidup tergantung dari beberapa faktor seperti :

Gambar 2. Ikan Umpan Hidup KM.Dioskuri 3A

A. Lolosi B. Layang C. Teri

A

C

B

(18)

7 1. Kondisi eksternal pada saat penangkapan, misalnya waktu penangkaan siang atau malam, lokasi dan cara penangkapan, suhu perairan, serta karakteristik dasar perairan;

2. Jenis dan kondisi ikan itu sndiri, misalnya umur, ukuran, tingkat kematangan gonad dan sifat kegemukan;

3. Alat dan metode yang digunakan dalam penangkapan ikan umpan;

4. Keadaan ikan setelah penangkapan.

Menurut Tampubolon (1980), proses kematian ikan umpan hidup terjadi karena dua hal, yaitu :

1. Perlakuan fisik (physical mortality) adalah kematian yang diakibatkan oleh suatu perlakuan;

2. Sifat alam ikan umpan ( natural mortality) adalah kematian yang terjadi karena sifat alami, terjadi secara wajar dalam batas ketahanan tertntu dari satu jenis ikan.

(Menurut Monintja,1968), pengurungan umpan dalam tempat penyimpanan adalah untuk :

1. Penyimpanan ikan umpan sampai diangkut oleh kapal motor 2. Pengumpulan ikan upan sampai cukup untuk diangkat

3. Sebagai temat penyipanan ikan umpan bila tidak habis dipakai dan sebagai prsediaan untuk hari-hari selanjutnya

4. Tempat menenangkan ikan umpan yang liar, karena bila terus dimasukkan

ke dalam bak uman kapal motor ikan akan berenang dengan liar dan saling

menabrak atau menabrak dinding bak umpan, sehingga menimbulkan

kematian

(19)

8 5. Tempat menyeleksi jenis–jenis ikan umpan yang baik serta memindahkan

ikan upan yang luka maupun lemah.

Beberapa hal yang penting diperhatikan dalam kurungan terapung (Clever dan Shimada,1950) adalah

1. Kurungan terapung harus diletakkan di pantai yang agak terlindun dari ombak dan angin yang kencang, serta air yang bebas dari minyak-minyak kapal dan kotoran-kotoran pelabuhan

2. Ikan umpan yang luka dan mat harus terus-menerus disingkirkan untuk mencegah pembusukkan yang akan meracuni ikan umpan yang lain

3. Baik ikan umpan di dalam kurungan terapung sudah cukup lama, perlu dilakukan pemberian makanan sedikit demi sedikit. Makanan ikan umpan dapat brupa kepompong ulat sutra atau sekam.

Kematian ikan umpan di dalam wadah penyimpanan merupakan salah satu masalah utama dalam perikanan pole and line, kematian ikan teri biasanya pada saat setelah tangkapan di bagang atau alat tangkap lain dan ada saat pemindahan ikan umpan ke tangki penyimpanan umpan hidup (Rawlinson,1992).

Pada tempat penyimpanan teri sementara di daerah penangkapan ternyata

terjadi mortalitas yang tinggi sebelum ikan dipakai sebagai umpan hidup. Oleh

karena itu, perlu dibuat cara penyimpanan yang baru yang lebih menjamin

kecilnya angka kematian, disamping itu alat ini harus dapat menampung ikan teri

yang lebih banyak dalam waktu yang lebih lama, sehingga hasil tangkapan yang

banyak dapat disimpan sebagai cadangan di waktu berkurangnya hasil tangkapan

(Sumadiharga,1989).

(20)

9 Adapun jenis-jenis ikan umpan dapat digunakan penangkapan/pemancingan cakalang namun perlu dierhatikan terutama dalam pemeliharaan agar dapat mempertahankan ikan umpan tetap hidup dan mutunya hingga waktu penggunaan dalam operasi penangkapan dengan Pole and line.

Hal ini umpan hidup yang baik umumnya :

1. Warna terang/mengkilat putih/perak yang menimbulkan refleksi yang baik di air.

2. Dapat hidup lama dalam bak penampungan.

3. Memiliki sisik tidak mudah lepas (mengurangi mortalitas kematian)

4. Ukuran panjang umumnya berkisar antara 10 - 12,5 cm, atau tergantung dari jenis yang digunakan (Balai Penelitian Perikanan Laut, 1983)

5. Berenang cepat menuju permukaan air .

Menurut Tampubolon (1980), ada beberapa ikan umpan yang memiliki sifat-sifat yang digunakan sebagai umpan hidup pada penangkapan ikan cakalang dengan alat penangkap ikan huhate yaitu ikan umpan tersebut memilki sifat atau tingkah laku memberi refleksi yang baik dipermukaan air, bila ditebarkan cenderung untuk kembali mendekati kapal (untuk berlindung) antara lain ikan :

1. Puri (Stoleporus devisi ), yang memiliki kepala berwarna merah dengan ukuran panjang antara 6,5 - 72 mm.

2. Puri gelas (Steoleporus indikus) dengan ukuran panjang 73 mm.

2.3 Faktor Lingkungan Ikan Umpan Hidup

2.3.1 suhu dan salinitas

(21)

10 Kisaran suhu di periran lebih sedikit variasinya dibandingkan kisaran suhu di daratan, yaitu 26-29

0

C untuk kisaran suhu di perairan 24- 26

0

C untuk suhu udara. Organisme di perairan umumnya memiliki batas tolernsi yang sempit terhadap suhu. Perubahan suhu menghasilkan pola sirkulasi dan stratifikasi yang khas yang berpengaruh besar pada kehidupan akuatik (Odum, 1996).

Stolephorus spp. dapat hidup pada perairan atau habitat dengan suhu dan

salinitas yang relatif tinggi, yaitu sekitar 29

0

C dan 33 ppt, serta pada perairan yang relatif tidak tercemar (Murdiyanto et al., 1984).

Menurut Gunarso (1998), fluktuasi suhu dan perubahan geografi merupakan faktor penting dalam upaya merangsang dan menentukan pengkonsentrasian gerombolan ikan, sehingga suhu memegang peranan penting dalam penentuan daerah penangkapan ikan. Perubahan suhu perairan di bawah suhu normal atau optimal menyebabkan penurunan aktivitas gerekan dan aktivitas makan.

2.3.2 Kadar Oksigen

Menurut Tampubolon (1980), di daerah tropis diketahui bahwa temperatur

air lebih tinggi dibandingkan dengan daerah – daerah lintang tinggi. Hal ini

berarti bahwa kadar oksigen air juga lebih rendah di daerah tropis. Sebaliknya

konsumsi oksigen oleh mahluk hidup di daerah lain lebih besar.

(22)

11 BAB III

METODOLOGI 3.1.Waktu dan Tempat

Pengumpulan data lapangan dilakukan selama mengikuti Kegiatan Pengalaman Kerja Praktek Mahasiswa (PKPM),kurang lebih tiga bulan yaitu dari 02 Februari 2015 sampai 23 April 2015, bertempat Kabupaten Sorong, Papua Barat . Fishing Base di perusahaan dengan titik koordinat 00° 57’

731’’ LS – 131° 16’ 099’’ BT, sedangkan Fishing Ground di Laut Arafuru.

Dengan Titik koordinat 03° 31’ 297’’ LS – 132° 24’ 131’’ BT , dan 03° 34’

401" LS - 132° 18' 767" BT.

3.2.Metode Pengambilan Data

Penyusunan laporan Tugas Akhir ini dilakukan berdasarkan data yang diambil Dan dikumpulkan selama kegiatan PKPM. Data Yang di ambil dan dikumpulkan Antara Lain :

a. Interview atau wawancara langsung dengan pembimbing lapangan atau Nakhoda dan ABK KM. DIOSKURI 3A.

b. Observasi atau pengamatan langsung dengan cara mengamati secara langsung selama kegiatan PKPM berlangsung.

c. Dokumentasi merupakan foto-foto dan tulisan-tulisan yang berhubungan dengan materi kajian.

d. Data sekunder melalui bahan-bahan literatur.

(23)

12 3.3. Alat dan Bahan

Adapun alat dan bahan yang digunakan dalam Menagani Umpan Hidup Yakni :

1. Bak umpan 2. Ember 3. Sibu-sibu

4. Pipa yang sudah dibelah menjadi dua 5. Lampu 50 watt

6. Jaring/Soma

7. Alat-alat tambahan penangkapan umpan misal : stick net, ember, sibu-sibu,

ganco dan Perlengkapan-perlengkapan lainnya yang berkaitan dengan

penanganan umpan hidup.

Gambar

Gambar 1.Bagan Tarik  di fak-fak
Gambar 2. Ikan Umpan Hidup KM.Dioskuri 3A

Referensi

Dokumen terkait