Kementerian ESDM Republik Indonesia
1
KEBIJAKAN PENGUSAHAAN PELUMAS BEKAS DI INDONESIA
Kementerian ESDM Republik Indonesia
2
II.
Kewenangan K/L Dalam Pengaturan Industri Pelumas
Dan Pelumas Bekas
I. Kebijakan Energi Nasional
AGENDA
2
III. Regulasi Pengolahan Pelumas Bekas
Kementerian ESDM Republik Indonesia
3
KEBIJAKAN ENERGI NASIONAL
Kementerian ESDM Republik Indonesia
4
Kebijakan Energi Nasional adalah
kebijakan pengelolaan energi berdasarkan prinsip keadilan,
berkelanjuntan dan ramah lingkungan, dan terciptanya kemandirian energi dan ketahanan energi nasional.
KEBIJAKAN UTAMA
KEBIJAKAN PENDUKUNG
a. Ketersediaan energi untuk kebutuhan
nasional
b. Prioritas pengembangan energi
c. Penggunaan sumber daya energi nasional
d. Cadangan energi nasional
a. Konservasi dan diversifikasi energi.
b. Lingkungan dan Keselamatan.
c. Harga, subsidi, dan insentif energi.
d. Infrastruktur, akses sosial, dan industri
energi.
e. Penelitian dan pengembangan energi.
f. Institusional dan pendanaan.
Minyak
46.77%
Batubara
23.91%
Gas
24.29%
EBT
5.03%
2011
(165 MTOE = 1178 MBOE)PORSI ENERGI NON-FOSIL ≈ 5%
Minyak
25%
Batubara
30%
Gas
22%
EBT; 23%
2025
(400 MTOE= 2857 MBOE) Biofuel 5,75% Geothermal 5% Nuclear, Hydro, Solar, Wind, and Other NRE 10,25%Liquified Coal 2% Minyak: 550 MBOE Minyak: 100 MTOE = 714 MBOE
KEBIJAKAN ENERGI NASIONAL
Kementerian ESDM Republik Indonesia
5
KEWENANGAN K/L DALAM PENGATURAN INDUSTRI
PELUMAS dan PELUMAS BEKAS
Kementerian ESDM Republik Indonesia
6
Kementerian ESDM Republik Indonesia
7
RUANG LINGKUP PENGATURAN DAN KEBIJAKAN PELUMAS (2)
PELUMAS BEKAS
PELUMAS BEKAS
BASE OIL
BBM
(M.SOLAR/M.BAKAR)
PELUMAS
Pertimbangan
Tertulis KESDM
Izin Pemanfaatan B3. KLHK
Izin Usaha Industri,
BKPM
Kementerian ESDM Republik Indonesia
8
REGULASI PENGOLAHAN PELUMAS BEKAS
Kementerian ESDM Republik Indonesia 9
9
1. Undang-Undang Nomor 22/2001
Pasal 5 ayat (2)
“Kegiatan Usaha Hilir Migas yang mencakup Pengolahan, Pengangkutan, Penyimpanan, dan Niaga”
Pasal 23 ayat (1)
“Kegiatan Usaha Hilir sebagaimana dimaksud dalam Pasal 5 Angka 2, dapat dilaksanakan oleh Badan Usaha setelah mendapat Izin Usaha dari Pemerintah”
Pasal 23 ayat (2)
“Izin Usaha yang diperlukan untuk kegiatan usaha Minyak Bumi dan/atau kegiatan usaha Gas Bumi sebagaimana dimaksud dalam ayat 1, dibedakan atas Izin Usaha Pengolahan, Izin Usaha Pengangkutan, Izin Usaha Penyimpanan, dan Izin Usaha Niaga”
2. Peraturan Pemerintah Nomor 36/2004
Pasal 1 butir 6
“Hasil olahan adalah hasil dan/atau produk selain BBM dan/atau BBG yang diperoleh dari kegiatan Pengolahan Minyak dan Gas Bumi baik berupa produk akhir atau produk antara kecuali pelumas dan petrokimia. “
Pasal 2
“Kegiatan Usaha Hilir dilaksanakan oleh Badan Usaha yang telah memiliki Izin Usaha yang dikeluarkan oleh Menteri dan diselenggarakan melalui mekanisme persaingan usaha yang wajar, sehat dan transparan”
Pasal 12 butir (a)
“Kegiatan usaha hilir meliputi kegiatan usaha pengolahan yang meliputi kegiatan memurnikan, memperoleh bagian-bagian, mempertinggi mutu, dan mempertinggi nilai tambah minyak dan gas bumi yang menghasilkan Bahan Bakar Minyak, Bahan Bakar Gas, Hasil Olahan, LPG dan/atau LNG tetapi tidak termasuk Pengolahan Lapangan“
Pasal 62
“Menteri menetapkan jenis, standar dan mutu Bahan Bakar Minyak, Bahan Bakar Gas, Bahan Bakar Lain dan/atau Hasil Olahan yang berupa produk akhir (finished product) yang akan dipasarkan di dalam negeri”
3. Peraturan Menteri ESDM Nomor 29/2017
Pasal 9 ayat (1) dan ayat (2)
“
Persyaratan dan Pedoman Pelaksanaan Izin Usaha Pengolahan Minyak dan Gas Bumi”Kementerian ESDM Republik Indonesia 10
10
PENGOLAHAN PELUMAS BEKAS MENJADI BAHAN BAKU PELUMAS (BASE OIL)
(PERTIMBANGAN TERTULIS)
1. Keputusan Presiden nomor 21 tahun 2001
Pasal 1 ayat (4)
“Pengolahan pelumas bekas adalah kegiatan untuk memproses pelumas bekas dengan menggunakan teknologi tertentu untuk menghasilkan pelumas dasar”.
Pasal 1 ayat (5)
“Pelumas dasar adalah salah satu bahan utama yang digunakan untuk bahan baku proses/pabrikasi pelumas (Blending) dalam pembuatan pelumas”.
Pasal 2 ayat (1)
“Perusahaan dapat melaksanakan Pabrikasi pelumas dan Pengolahan Pelumas Bekas setelah mendapatkan izin usaha dari Menteri yang bertanggung jawab di bidang perindsutrian”
Pasal 2 ayat (2)
“Dalam memberikan izin usaha sebagaimaanadimaksud dalam ayat (1), Menetri yang bertanggung jawab di bidang perindustrian terlebih dahulu wajib mendapat pertimbangan tertulis dari Menteri”
Pasal 2 ayat (3)
“Persyaratan dan tata cara melaksanakan Pabrikasi Pelumas dan Pengolahan Pelumas Bekas sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) diatur lebih lanjut oleh Menteri”
2. Keputusan Menteri ESDM Nomor 1693 K/34/MEM/2001 tentang Pelaksanaan Pabrikasi Pelumas dan Pengolahan Pelumas Bekas Serta Penetapan Mutu Pelumas
Pasal 2 ayat (1)
“Sebelum mendapatkan izin usaha untuk mendirikan pabrik dan melaksanakan Pabrikasi Pelumas (Blending) dan atau Pengolahan Pelumas Bekas dari Menteri yang bertanggung jawab di bidang perindustrian, Perusahaan terlebih dahulu wajib mendapat pertimbangan tertulis dari Menteri”
Pasal 2 ayat (2)
“Untuk mendapatkan pertimbangan tertulis sebagaimana dimaksud dalam ayat (1), Perusahaan mengajukan permohonan kepada Menteri disertai lampiran data administratif dan data teknis dengan tembusan disampaikan kepada Menteri yang bertanggung jawab di bidang perindustrian”
Pasal 7 ayat (1)
“Dalam melaksanakan pengolahan pelumas bekas, Perusahaan wajib menggunakan teknologi berwawasan lingkungan yang ditetapkan antara lain Hydrotreating dan atau Extracting.”
Pasal 7 ayat (2)
Kementerian ESDM Republik Indonesia
11
PROSEDUR PERIZINAN KEGIATAN USAHA HILIR MIGAS
11
PERSYARATAN
ADMINISTRASI DAN
TEKNIS
KEGIATAN USAHA
HILIR MIGAS
Kementerian ESDM Republik Indonesia
12
PENGUSAHAAN MINYAK PELUMAS BEKAS DI INDONESIA
Kementerian ESDM Republik Indonesia 13
13
No
Nama Perusahaan
Lokasi
Produk
Kapasitas
Status
1 PT Isano Lopo Industri Tangerang, Banten HSD dan Minyak Bakar 18.000 KL/tahun Beroperasi 2 PT Tri Putri Atari Tangerang, Banten HSD dan Minyak Bakar 36.000 KL/tahun Tidak beroperasi 3 PT Laguna Industri Nusantara Tangerang, Banten HSD dan Minyak Bakar 12.000 KL/tahun Beroperasi 4 PT Tawu Inti Bati Karawang, Jawa Barat HSD dan Minyak Bakar 30.000 KL/tahun Tidak beroperasi 5 PT Primergy Solution Gresik, Jawa Timur HSD dan Minyak Bakar 28.000 KL/tahun Beroperasi 6 PT Mega Green Technology Batam, Kepulauan Riau HSD dan Minyak Bakar 30.000 KL/tahun Beroperasi 7 PT Metro Abadi Raya Gresik, Jawa Timur HSD dan Minyak Bakar 26.000 KL/tahun Beroperasi 8 PT Berdikari Jaya Bersama Probolinggo, Jawa Timur HSD dan Minyak Bakar 15.000 KL/tahun Beroperasi 9 PT Eminens Resources
Indonesia Bojonegara, Banten HSD dan Minyak Bakar 6.000 KL/tahun Beroperasi 10 PT Sinar Surya Maju Sejahtera Tangerang, Banten HSD dan Minyak Bakar 30.000 KL/tahun Beroperasi 11 PT Batam Slop & Sludge
Treatmen Centre Batam, Kepulauan Riau HSD dan Minyak Bakar 12.000 KL/tahun Beroperasi
BADAN USAHA PEMEGANG IZIN USAHA PENGOLAHAN HASIL OLAHAN
DENGAN BAHAN BAKU PELUMAS BEKAS
Kementerian ESDM Republik Indonesia 14
14
No Nama Perusahaan
Lokasi
Produk
1. PT ALP Petro
Industry
Pasuruan, Jawa Timur
Pelumas dasar dan
Pelumas
2. PT Wiraswasta
Gemilang
Indonesia
Bekasi, Jawa Barat
Pelumas dasar dan
Pelumas
3. PT Patra SK
Dumai, Riau
Pelumas dasar dan HSD
Kementerian ESDM Republik Indonesia
15
PENUTUP
Kementerian ESDM Republik Indonesia
16
PENUTUP
1. Pemanfaatan limbah B3 sebagai bahan baku pengolahan menjadi pelumas dan
BBM merupakan upaya pengurangan limbah dan alternative penyediaan BBM.
2. Produk akhir pengolahan pelumas bekas baik menjadi pelumas maupun bahan
bakar minyak wajib memenuhi standar dan mutu (spesifikasi) yang ditetapkan
oleh Kementerian ESDM cq Ditjen Migas.
3. Untuk pengolahan pelumas bekas menjadi BBM, wajib memiliki j
aminan
Kementerian ESDM Republik Indonesia
18
PERSYARATAN
ADMINISTRASI & TEKNIS
Kementerian ESDM Republik Indonesia 19
19
IZIN USAHA PENGOLAHAN HASIL OLAHAN
ERSYARATAN ADMINISTRASI
1. Surat Permohonan ditujukan Surat Permohonan ditujukan ke Menteri ESDM cq. Kepala BKPM
2. Salinan akte pendirian Badan Usaha dan perubahannya yang telah mendapatkan pengesahan dari instansi
yang berwenang yang bidang usahanya antara lain meliputi kegiatan usaha migas
3. Profil Badan Usaha (company profile)
4. Salian Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP)
5. Surat Keterangan Domisili Perusahaan
6. Persetujuan prinsip dari Pemerintah Daerah mengenai lokasi untuk pembangunan fasilitas dan sarana
7. Surat pernyataan tertulis di atas materai mengenai:
a)
Kesanggupan Badan Usaha memenuhi aspek keselamatan operasi, kesehatan kerja dan pengelolaan
lingkungan hidup;
b) Kesanggupan Badan Usaha memenuhi ketentuan peraturan perundang - undangan;
c)
kesediaan dilakukan inspeksi lapangan
d) Badan Usaha bebas dari konflik atau permasalahan hukum lainnya dengan pihak lain
8. Jaminan kecukupan pendanaan, baik dari pendanaan oleh pihak lain dan/atau pendanaan sendiri yang
nilainya sesuai dengan rencana usaha dalam studi kelayakan yang dibuktikan dengan:
a) Surat pernyataan jaminan kecukupan pendanaan sendiri yang laporan keuangan 3 (tiga) tahun terakhir
yang telah diaudit oleh akuntan publik yang terdaftar sesuai dengan peraturan perundang - undangan
bagi Badan Usaha yang telah berdisi lebih dari 3 tahun atau jaminan kecukupan pendanaan yang
dikeluarkan oleh pihak lain yang nialinya sesuai dengan rencana usaha dalam studi kelayakan; atau
b) Surat keterangan dari bank utama (primebank) yang berkedudukan di Indonesia, yang menrangkan
Kementerian ESDM Republik Indonesia
20
20
1. Studi Kelayakan Pendahuluan (Preliminary
Feasibility Study)
2. Kesepakatan jaminan pasokan bahan baku Hasil
Olahan Rencana sarana pengelolaan limbah
PERSYARATAN TEKNIS... (lanjutan)
IZIN USAHA SEMENTARA
IZIN USAHA (TETAP)
Khusus pengolahan pelumas bekas/sludge oil menjadi bahan bakar minyak:
•
Jaminan pasokan bahan baku dari pengumpul yang telah memiliki ijin KLH;
•
Melengkapi dengan Rekomendasi Pemanfaatan Limbah B3 dari KLH (sesuai PP 18/1999 dan
Permen LH nomor 18/2009)
1. Studi Kelayakan Pendahuluan (Preliminary
Feasibility Study)
2. Kesepakatan jaminan pasokan bahan baku Hasil
Olahan Rencana sarana pengelolaan limbah
PERSYARATAN ADMINISTRASI DAN TEKNIS TAMBAHAN
Salinan persetujuan penggunaan lokasi dari PemerintahDaerah atau Pengelola Kawasan yang berwenang mengenai lokasi untuk pembangunan fasilitas dan sarana bagi Badan Usaha yang melakukan perubahan lokasi;
Rencana pengolahan limbah;
MoU perjanjian pasokan bahan baku Hasil Olahan; dan Rencana spesifikasi komoditas yang dihasilkan sesuai dengan Keputusan Direktur Jenderal berupa hasil pemeriksaan laboratorium pada laboratorium terakreditasi.
ZIN USAHA SEMENTARA
1. Salinan persetujuan penggunaan lokasi dari Pemerintah Daerah atau Pengelola Kawasan yang berwenang mengenai lokasi untuk pembangunan fasilitas dan sarana bagi Badan Usaha yang melakukan perubahan lokasi;
2. Izin Lingkungan;
3. Kontrak perjanjian pasokan bahan baku Hasil Olahan;
4. Pemenuhan spesifikasi komoditas yang dihasilkan sesuai dengan Keputusan Direktur Jenderal berupa hasil pemeriksaan laboratorium pada laboratorium terakreditasi; dan
5. Laporan uji coba operasi (berita acara commissioning) yang menerangkan bahwa sarana dan fasilitas yang dimiliki layak beroperasi dan mampu dijalankan sesuai dengan kaidah keteknikan yang baik, yang ditetapkan oleh petugas Ditjen Migas atau Petugas dari Badan Usaha Jasa Inspeksi yang disetujui oleh Direktorat Jenderal.
Kementerian ESDM Republik Indonesia 21
21
PERTIMBANGAN TERTULIS
Akte Pendirian Perusahaan dan perubahannya
Biodata Perusahaan (Company Profile)
Informasi tertulis mengenai kelayakan usaha
Surat Izin Usaha Perdagangan (SIUP) / Tanda
Daftar Usaha Perdagangan (TDUP)
Surat Keterangan Tanda daftar Perusahaan
Surat Keterangan Domisili Perusahaan
Surat Pernyataan tertulis mengenai kemampuan
keuangan
PERSYARATAN ADMINISTRASI
PERSYARATAN TEKNIS
1. Sumber perolehan Bahan Baku (Pelumas Dasar)
2. Sumber perolehan Aditif
3. Jenis dan Mutu Pelumas atau Pelumas Dasar yang dihasilkan
4. Proses teknologi yang digunakan
5. Surat pernyataan tertulis mengenai kemampuan teknis
6. Surat pernyataan tertulis mengenai kesanggupan:
•
menghasilkan produk yang memenuhi standar mutu yang
ditetapkan Menteri atau memenuhi mutu yang berlaku
secara internasional
•
memenuhi aspek keselamatan dan kesehatan kerja serta
pengelolaan lingkungan hidup.
•
melengkapi perizinan lain berkaitan dengan sarana dan
prasarana pabrik dari instansi yang berwenang dalam
jangka waktu paling lama 6 (enam) bulan sejak tanggal
diterimanya pertimbangan tertulis
Kementerian ESDM Republik Indonesia 22
22
DIAGRAM ALIR
Kementerian ESDM Republik Indonesia 23
23
DIAGRAM ALIR
PERTIMBANGAN TERTULIS PABRIKASI PELUMAS
DAN PENGOLAHAN PELUMAS BEKAS
23
Badan Usaha :
- Data administratif
- Data teknis
Menteri ESDM
Direktur Jenderal
Migas
Direktur Pembinaan
Usaha Hilir Migas
Tim Evaluasi :
- Presentasi
- Kunjungan lapangan
Subdit Pengolahan Migas
Persyaratan tidak lengkap
PERTIMBANGAN TERTULIS Tembusan
Melengkapi persyaratan lebih dari 3 bulan permohonan dianggap batal Permohonan diterima
Permhonan Pertimbangan Tertulis
Persyaratan lengkap
Kementerian ESDM Republik Indonesia