• Tidak ada hasil yang ditemukan

KONSEPPENATAAN KAWASANMEURAXADIKOTABANDAACEH DONNYARIEFSUMARTO

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "KONSEPPENATAAN KAWASANMEURAXADIKOTABANDAACEH DONNYARIEFSUMARTO"

Copied!
60
0
0

Teks penuh

(1)

KONSEPPENATAAN

KAWASANMEURAXADIKOTABANDAACEH BERBASISMITIGASITSUNAMI

BERBASISMITIGASITSUNAMI

DONNYARIEFSUMARTO 3208203007

3208203007

3/15/2009 DONNY ARIEF SUMARTO DONNY ARIEF SUMARTO

3208203007

3208203007

(2)

LATAR

LATARBELAKANG BELAKANG

¾ Tsunami menghancurkan sebagian wilayah provinsi NAD, termasuk ibukotanya, Banda Aceh.

¾ Tingkat kerusakan yang diderita Banda Aceh mencapai 60%, terutama di kawasan pesisir.

¾ Upa a ehabilitasi dan ekonst ksi dilak kan te mas k dalam upaya penataan ruang kota

¾ Upaya rehabilitasi dan rekonstruksi dilakukan, termasuk dalam upaya penataan ruang kota.

¾ Menurut para ahli, parahnya kehancuran kota Banda Aceh dipengaruhi oleh besarnya tsunami (sebagai faktor utama) dan kesalahan penataan ruang. Ternyata perencanaan yang dibuat tid k b b i iti i b ik d tid k d til

tidak berbasis mitigasi yang baik dan tidak mendetil.

¾ Danisworo mengungkapkan peran produk perancangan kota dalam penataan kawasan adalah sebagai jembatan antara produk perencanaan dengan pelaksana proyek.

¾ Sampai hari ini tidak ada satupun kawasan yang memiliki kajian maupun produk rancangan kota, tapi kawasan ini memiliki Building Code.

¾ Saunders (2008) mengatakan bahwa building code hanya bertujuan memproteksi bangunan

¾ Saunders (2008) mengatakan bahwa building code hanya bertujuan memproteksi bangunan dari ancaman lingkungan, mungkin hanya bisa bertahan dari ancaman angin, salju, bahkan gempa, tapi tidak aliran banjir. (tambahan)

Perlu ada kajian penataan kawasan berbasis mitigasi tsunami dalam lingkup Perlu ada kajian penataan kawasan berbasis mitigasi tsunami dalam lingkup perancangan kota, karena produk perencanaan umum dan Building Code saja tidak

cukup.

(3)

¾ Dari 60% bagian Kota Banda Aceh hancur terkena

LATAR

LATARBELAKANG BELAKANG PENETAPAN KAWASAN STUDI PENETAPAN KAWASAN STUDI

¾ Dari 60% bagian Kota Banda Aceh hancur terkena dampak tsunami, 4 kecamatan (kawasan pantai) di tetapkan sebagai area yang paling parah yaitu Meuraxa, Kuta Raja, Kuta Alam, dan Syiah Kuala.

¾ Di antara keempat kecamatan itu, Meuraxa

¾ Di antara keempat kecamatan itu, Meuraxa merupakan kawasan yang menderita kerugian terparah karena:

¾ Lahan terbangunnya padat mencapai tepi pantai (lihat peta)

¾ Memliki korban jiwa terbesar akibat tsunami, yaitu 82% (RDTRK Kecamatan Meuraxa 2007)

¾ Jumlah kerusakan bangunan dan g infrastruktur terbesar

No Kecamatan Tingkat Kerusakan Pemukiman (%)

Tolat Permukiman Pemukiman (%)

Hancur (unit)

1. Meuraxa 100 1337

3. Kuta raja 96 817

4. Kuta alam 74 778

5 Syiah kuala 83 934

Kawasan Perkotaan Hancur Total Kawasan Perkotaan Rusak Berat Kawasan Perkotaan Rusak Sedang

5. Syiah kuala 83 934

Kecamatan Arteri Sekunder (Km)

Tdk rusak Rusak Total

Meuraxa 7 6 0 5 8 1

Kawasan Perkotaan Rusak Ringan Kawasan Perdesaan Hancur Total

Meuraxa 7.6 0.5 8.1

Kuta Alam 5.4 0.0 5.4

Kuta Raja 0.6 0.0 0.6

Syiah Kuala 4.3 0.0 4.3

Total 27.7 1.2 29.1

(4)

¾ Dari tingkat besarnya

d k t i t b t

LATAR

LATARBELAKANG BELAKANG PENETAPAN KAWASAN STUDI PENETAPAN KAWASAN STUDI

dampak tsunami tersebut kota Banda Aceh dibagi menjadi 5 zona.

¾ Dari keempat kecamatan terparah hanya Meuraxa terparah, hanya Meuraxa yang masuk dalam 3 zona terawan coastal, eco, dan traditional city center zone (TCC zone).

¾ Pada coastal dan eco zone tidak boleh ada pemukiman, dan TCC zone diperuntukkan untuk evakuasi untuk evakuasi.

¾ Sesuai dengan pernyataan para ahli, di Meuraxa masih ada peruntukan lahan perumahan dan banyak yang sudah terbangun kembali pada eco zone [kesalahan penataan ruang I]

ruang I]

¾ Kawasan ini hanya memiliki produk penataan RDTRK, dimana mereka hanya menggunakan ketinggian pasang surut air laut sebagai pedoman perencanaan, bukan tsunami. [kesalahan penataan ruang II]

p g ]

Dengan pertimbangan bahwa Meuraxa merupakan kawasan terparah terkena dampak, memiliki permasalahan penataan ruang yang tidak mitigatif, maka

Kecamatan Meuraxa ditetapkan sebagai kawasan studi terpilih.

(5)

LATAR

LATARBELAKANG BELAKANG MAKA… MAKA…

Permasalahan penelitian ini adalah, kawasan Meuraxa ini belum memiliki kajian dan produk rencana penataan kawasan dalam lingkup perancangan kota, yang seharusnya

ada sebagai landasan implementasi proyek rekonstruksi dan rehabilitasi yang sedang ada sebagai landasan implementasi proyek rekonstruksi dan rehabilitasi yang sedang

berlangsung

Tujuan penelitian ini menghasilkan konsep penataan kawasan berbasis mitigasi tsunami dalam lingkup yang lebih detil, yaitu perancangan kota.

Untuk mencapai perumusan konsep penataan kawasan berbasis mitigasi tsunami, proses penelitian ini perlu mencapai beberapa sasaran berikut:

proses penelitian ini perlu mencapai beberapa sasaran berikut:

1. Mengidentifikasi besarnya ancaman tsunami yang mempengaruhi kerentanan elemen penataan fisik dan lingkungan

2. Menganalisa kerentanan elemen penataan fisik dan lingkungan berdasarkan faktor- faktor yang mempengaruhinya,

3. Merumuskan konsep penataan fisik dan lingkungan kawasan berbasis mitigasi 3. Merumuskan konsep penataan fisik dan lingkungan kawasan berbasis mitigasi

tsunami

(6)

KAJIAN

KAJIANTEORI TEORI

Dampak tsunami terhadap lingkungan fisik kawasan

• Link. Alami (vegetasi sebagai ekosistem alami)

• Link. Buatan (bangunan, jembatan, utilitas, dll)

Resiko = Besarnya bahaya X Kerentanan

Faktor Penyebab Besa n a Dampak

Faktor Penyebab Besarnya Dampak

• Ukuran Tsunami yang Tidak Bisa Diprediksi (HAZARD)

• Kurangnya Upaya Pencegahan Tsunami menjangkau daratan, (VULNERABILITY)

• Kesalahan rencana penataan kawasan Link. Alami

Rusaknya vegetasi pantai, ruang terbuka, tepi jalan, pekarangan rumah

Link. Buatan/binaan Bangunan, jembatan, utilitas, ruang terbuka hijau (sawah, taman, ladang, dll)

Fokus Mitigasi Æ Mengurangi Kerentanan

• Kesalahan rencana penataan kawasan, (VULNERABILITY)

• Kurangnya Informasi, (VULNERABILITY)

UPAYA MITIGASI

MENURUT ASPEK PENATAAN FISIK DALAM UPAYA MITIGASI ELEMEN FISIK PENATAAN Pratikto 2004

• kebijakan tentang tata guna lahan kawasan pantai yang rawan

bencana; • Tata guna lahan terhadap

kerentanan Pratikto, 2004

• kebijaksanaan tentang standarisasi bangunan (pemukiman

maupun bangunan lainnya) serta infrastruktur sarana dan prasarana; • Kualitas bangunan, infrastruktur dan fasilitas lainnya

Bakornas, 2002 • Perencanaan yang mengidentifikasi resiko dengan akurat, dan menerapkan dengan sistem yang benar

Z i b d k ti k t k t P l h b d k

Bakornas, 2002, Upaya Mengurangi

kerentanan

• Zonasi berdasarkan tingkat kerentanan

• Identifikasi fungsi dan kualitas bangunan terhadap bencana

• Peraturan pengelolaan bangunan

• Penertiban melalui peraturan

• Penggunaan lahan berdasarkan tingkat kernetanan

• Kualitas Bangunan sesuai zona tingkat kerentanan

• Penertiban melalui peraturan Permendagri, No.33

Tahun 2006, Tentang Pedoman Umum Mitigasi Bencana

• Zonasi tata ruang/tata guna lahan yang didasarkan pada kajian resiko.

• Menyediakan lapangan terbuka untuk zona perantara ( Buffer Zone), evakuasi dan akses darurat

• Tata guna lahan berdasarkan kajian resiko

• Ruang terbuka untuk buffer zone,

evakuasi dan akses darurat,

(7)

KAJIAN

KAJIANTEORI TEORI

UPAYA

MITIGASI ASPEK PENATAAN FISIK DALAM UPAYA MITIGASI ELEMEN FISIK PENATAAN MITIGASI

MENURUT

ASPEK PENATAAN FISIK DALAM UPAYA MITIGASI ELEMEN FISIK PENATAAN

• Perencanaan lokasi ( land management ) dan pengaturan penempatan penduduk,

• Kualitas bangunan dan infrastruktur serta memperbaiki peraturan

• Tata guna lahan

• Kualitas bangunan F ilit li k Ilyas, 2006 • Kualitas bangunan dan infrastruktur serta memperbaiki peraturan

( code ) disain yang sesuai,

• Relokasi lahan ke daerah yang lebih aman

• Kualitas lingkungan alami

• Fasilitas lingkungan yang bersifat melindungi,

• Lingkungan alami dan vegetasi

• Rencana tata guna lahan dan tapak • Tata guna lahan dan tapak

Fahmyddin Tauhid dalam Urban waterfront

revitalization for i di

• Rencana tata guna lahan dan tapak

• Penandaan area

• Penggunaan ruang terbuka

• Fasilitas pendukung

• Tata guna lahan dan tapak

• Kualitas penataan bangunan, infrastruktur dan fasilitas lainnya,

Ruang terbuka tsunami disaster

mitigation: A case study of Indonesia

• Ruang terbuka hijau tepi pantai

• Rencana sirkulasi darurat, beserta aspek yang membantu keberhasilannya

• Ruang terbuka

• Sirkulasi

Penataan Fisik dan Tinjauannya

NO. ELEMEN FISIK PENATAAN ASPEK KAJIAN

1 Zonasi Penggunaan lahan • Tingkat kerawanan

P t k l k i l h i

o a ggu aa a a • Peruntukan lokasi lahan yang sesuai 2 Kualitas bangunan dan infrastruktur • Pola Penataan Bangunan,

• Pola Penataan Infrastruktur 3 Penataan ruang terbuka • Kebutuhan untuk ruang evakuasi

• Preservasi ruang terbuka hijau khusus (hutan pantai, manggrove, dan lainnya)

4 Sirkulasi • Kebutuhan jalur khusus evakuasi dan akses darurat, dan polanya

(8)

KAJIAN

KAJIANTEORI TEORI

Proses Upaya Mitigasi pada Aspek Penataan (Lindell, 2007)

Proses Upaya Mitigasi pada Aspek Penataan (Lindell, 2007)

DISAJIKAN DALAM BENTUK PETA

Faktor kerentanan yang dibutuhkan, dari hasil

survey dan studi

Perencana/Perancang Kota

BENTUK PETA

Faktor A Faktor B Faktor C

Instalasi Sistem Peringatan Dini

Dan lainnya

Perancangan Kota dalam upaya mitigasi

Perancangan Kota dalam upaya mitigasi

Kebutuhan akan informasi karakteristik fisik kawasan yang akan dirancang, untuk

mempertimbangkan tingkat kesesuaian lahan, daya dukung, dan pengurangan dampak kerusakan jika hal yang tidak diharapkan (seperti bencana) terjadi. Di antaranya seperti informasi jenis

j y g p ( p ) j y p j

tanah, iklim, vegetasi, topografi, dan kajian lokasi rawan/rentan bencana (Shirvani, 1985).

• Mayoritas Penerapannya pada kebijakan penggunaan lahan dan teknis bangunan (Mader

dan Crowder, 1969)

(9)

KAJIAN

KAJIANTEORI TEORI

Elemen Perancangan Kota dalam pa a mitigasi

Elemen Perancangan Kota dalam upaya mitigasi PENGGUNAAN LAHAN

Æ Fokus pada masalah kepadatan lahan dengan dasar pertimbangan zona tingkat kerentanan Æ Mengidentifikasi khusus faktor kerentanan sebagai dasar pertimbangan kesesuaian lahan g g p g Æ Kebutuhan lahan baru seperti area evakuasi.

Æ Akses antar lahan, terutama dari lahan padat ke area evakuasi

Pada beberapa produk tata ruang kawasan di Indonesia, tata guna lahan telah dilakukan pada produk Rencana Detil Tata Ruang Kota (RDTRK). Perancang kota akan melanjutkan dengan kajian yang lebih detil.

Kota (RDTRK). Perancang kota akan melanjutkan dengan kajian yang lebih detil.

Jika penggunaan lahan kawasan studi ini telah dilakukan pada RDTRK, maka tidak dikutsertakan dalam penelitian ini.

BENTUK DAN MASSA BANGUNAN

Saunders (2008) menyatakan bahwa, ketinggian lantai bangunan harus lebih tinggi dari jangkauan tsunami [ tambahan ] Tsunami mengancam bangunan jika aliran tsunami mengarah ke bukaan bangunan (CDIT, 2007) [ tambahan ]

TEORI PERANCANGAN KOTA

SHIRVANI (1985) HASIL PENELITIAN TSUNAMI

TERHADAP BANGUNAN SINTESA

Ketinggian Ketinggian lantai bangunan dari jangkauan

tsunami (Saunders, 2008) Pedoman ketentuan lantai bangunan dipengaruhi oleh ketinggian jangkauan tsunami

Volume

Proporsi Skala Proporsi, Skala

Floor Area Ratio (FAR) Persentase Luas Terbangun/kepadatan

(Navaratne, 2007) semakin padat bangunan terbangun, semakin banyak bangunan terancam

Building Coverage Ratio (BCR)

Arah Hadap (CDIT, 2007) p ( , ) Bangunan dapat terancam jika tsunami mengarah g p j g ke muka bangunan

Jarak Antar Bangunan (Navaratne, 2007) Mengurangi hambatan tsunami, yang dapat

menekan lebih kuat

(10)

KAJIAN

KAJIANTEORI TEORI

SIRKULASI

Æ Pola jalan yang mempunyai arah sama dengan arah garis pantai, akan mempersulit pengguna untuk melarikan diri menjauhi pantai (melarikan diri), perlu ada pola memotong tegak lurus terhadap jalan yang menjauhi garis pantai

RUANG TERBUKA

Æ Secara fungsional ruang terbuka diartikan sebagai tempat yang dapat menampung aktifitas yang memenuhi

kebutuhan, yang bisa bersifat tertentu dan bersifat aktifitas sosial (Gehl 1987)

tegak lurus terhadap jalan yang menjauhi garis pantai (NTHMP, 2001).

Æ Dalam perancangan kota, secara fungsional sirkulasi

menghubungkan bagian kota yang satu dengan kota lainnya dan menghubungkan fungsi yang satu dengan lainnya

sosial (Gehl, 1987).

Æ Dalam kondisi tertentu ruang terbuka bisa menampung pertambahan penduduk secara tiba-tiba atau keadaan genting tertentu (Helen Wolley, 2003).

Æ D l k iti i t i t t b k

dan menghubungkan fungsi yang satu dengan lainnya (Marshall, 2005).

Æ Dari upaya mitigasi, sirkulasi ditekankan pada hubungan antara suatu zona (yang berbahaya) dengan zona lainnya (yang lebih aman). Yang menjadi pertimbangan adalah

Æ Dalam kasus mitigasi tsunami, penataan ruang terbuka difokuskan pada:

• Penggunaan untuk penyelamatan, lapangan di area yang aman, dan bukit penyelamatan

• Penggunaan untuk barier, menggunakan elemen-

(y g ) g j p g

kemudahan mencapai ke zona aman. gg , gg

elemen ruang terbuka (seperti vegetasi, bukit, dsb) sebagai peredam tsunami.

ELEMEN PERANCANGAN KOTA ASPEK TINJAUAN

• Pola orientasi bangunan

• Ketinggian bangunan Bentuk dan Massa bangunan • Ketinggian bangunan

• Luasan terbangun

• Jarak antar bangunan

Sirkulasi • Pola sirkulasi

Sirkulasi • Pola sirkulasi

Ruang terbuka hijau Fungsi Barier dan ruang terbuka evakuasi

(11)

KAJIAN

KAJIANTEORI TEORI

TEORI-TEORI PENATAAN KAWASAN PANTAI DARI HASIL STUDI

STUDI RUANG TERBUKA

Æ Ruang terbuka tepi pantai dalam lingkup mitigasi tsunami

Kriteria ruang terbuka fungsi mitigasi

Fungsi barier Fungsi penyelamatan

1 Berada di zona jangkauan tsunami, 1 Memiliki ketinggian di atas ketinggian jangkauan tsunami,

g p g

diperuntukkan untuk dua jenis fungsi, yaitu ruang terbuka evakuasi dan vegetasi hutan pantai (barrier)

gg j g ,

atau di zona tingkat kerentanan aman

2 Berada di antara tepi pantai dan kawasan

terbangun, 2 Sudah terdapat akses yang

memadai

3 Ruang tanam yang cukup untuk vegetasi 3 Cukup luas untuk menampung Æ Keduanya mempunyai perbedaan

karakteristik sebagai berikut:

3 Ruang tanam yang cukup untuk vegetasi yang padat (ketebalan min 200m, dan panjang min 100m, luas minimal 20000m

2

)

3 Cukup luas untuk menampung sejumlah orang (min 100 orang, 100m

2

)

4 Di area ekosistem vegetasi barier.

POLA SIRKULASI

Æ Pola jalan dibuat tegak lurus dengan arah

garis pantai, lebih baik daripada searah

garis pantai, lebih baik daripada searah

dengan garis pantai karena dapat menjadi

jalur evakuasi (NTHMP, 2001).

(12)

KAJIAN

KAJIANTEORI TEORI

TEORI-TEORI PENATAAN KAWASAN PANTAI DARI HASIL STUDI

BANGUNAN

Æ Saunders (2008) menyatakan bahwa, ketinggian lantai bangunan harus lebih tinggi dari jangkauan tsunami

harus lebih tinggi dari jangkauan tsunami

Jarak bangunan =

½ i i b A ½ i i b B

½ sisi bang A + ½ sisi bang B

Kawasan Keralla Tamil Nadu India selatan pernah menyusun regulasi kepadatan Kawasan Keralla, Tamil Nadu, India selatan pernah menyusun regulasi kepadatan

bangunan berdasarkan ketingian tsunami

Jika terancam Kepadatan maksimum Jika terancam Kepadatan maksimum

<1 meter >15%

1-4 meter 15%

4-8 meter 11%

> 8 Tidak boleh terbangun

(13)

¾ Zonasi area tingkat kerentanan berdasarkan

KAJIAN

KAJIANTEORI TEORI sintesa sintesa

Karena aspek penggunaan lahan pada kawasan studi kajian risiko, untuk menentukan penggunaan

lahan, dan perancangan tapak

¾ Kualitas penataan bangunan dan infrastruktur,

¾ Penataan ruang terbuka untuk vegetasi (buffer

telah dilakukan, maka aspek kajian yang tersisa adalah:

¾ Kualitas penataan bangunan dan infrastruktur,

¾ Penataan ruang terbuka untuk vegetasi (buffer

¾ Penataan ruang terbuka untuk vegetasi (buffer zone) dan evakuasi

¾ Jalur sirkulasi, berupa akses darurat

¾ Penataan ruang terbuka untuk vegetasi (buffer zone) dan evakuasi

¾ Jalur sirkulasi, berupa akses darurat

No Variabel Sub-Variabel 1 Ruang

terbuka Fungsi barier

Fungsipenyelamatan

Variabel Analisa Tahap II

Dari hasil tinjauan elemen fisik penataan tersebut pada lingkup perancangan kota (sub-bab 2.4, hal II- 22), didapat aspek tinjauan tiap elemen fisik dalam

kajian terkait mitigasi, yaitu: terbuka Fungsipenyelamatan 2 Sirkulasi Pola sirkulasi

3 Bangunan Kepadatan bangunan Jarak antar bangunan, P l h h d

kajian terkait mitigasi, yaitu:

¾ Bentuk dan massa bangunan, dengan aspek tinjauan ketinggian, kepadatan, arah hadap, dan jarak antar bangunan

Pola arah hadap Ketinggian lantai

¾ Ruang terbuka, dengan aspek tinjauan

kesesuaian dengan ruang terbuka fungsi mitigasi (barier atau penyelamatan)

¾ Sirkulasi, dengan tinjauan pola sirkulasi.

¾ Sirkulasi, dengan tinjauan pola sirkulasi.

Telah diketahui objek tinjauan penelitian dan aspek

tinjauannya, maka dapat ditentukan bahwa elemen

fisik penataan fisik tersebut merupakan variabel

penelitian dan aspek kajian menjadi sub variabel

penelitian dan aspek kajian menjadi sub-variabel.

(14)

METODOLOGI

METODOLOGIPENELITIAN PENELITIAN tipologi tipologi

Tipologi dan Metode Penelitian

Penelitian arsitektural, perancangan kota, /

Penelitian pengembangan/penemuan.

Tahap awal Æ kuantitatif deskriptif, untuk untuk menggambarkan karakteristik ancaman tsunami, besar dan luasnya jangkauannya, yang diperoleh dari pengolahan data secara digita Tahap kedua Æ kuantitatif deskriptif, untuk menjelaskan seberapa rentan elemen fisik dan

lingkungan kawasan studi akibat ancaman tsunami, yang diperoleh dari hasil g g y g observasi, digitasi, dan penilaian

Tahap akhir Æ kualitatif deskriptif, untuk menggambarkan rumusan konseptual dari deskripsi

hasil analisa sebelumnya. y

(15)

METODOLOGI

METODOLOGIPENELITIAN PENELITIAN variabel variabel

Variabel bebas Variabel terikat

Ketinggian tsunami, adalah ketinggian tsunami pada area zona rawan tsunami

berdasarkan ancaman kedalaman genangan, adalah area yang terjangkau

tsunami dengan kedalaman t t t di k d l

gg p

tertentu di kawasan studi diukur dari permukaan laut,

Area jangkauan tsunami, area yang tergenang tsunami dengan

klasifikasi ketinggian tertentu

Variabel identifikasi besar dan zona kerentanan berdasarkan

kedalaman genangan

tertentu, dimana kedalaman didapat dari selisih ketinggian

tsunami dengan ketinggian muka tanah.

klasifikasi ketinggian tertentu,

Ketinggian muka tanah, ketinggian dasar kawasan studi

yang digenangi tsunami.

kedalaman genangan

Variabel bebas Variabel terikat

arah datangnya tsunami ke Variabel identifikasi proyeksi

Proyeksi arah aliran tsunami

arah datangnya tsunami ke daratan (kawasan studi), adalah arah aliran tsunami yang datang dari

sumbernya ke kawasan studi

Variabel identifikasi proyeksi perkiraan arah aliran tsunami di

kawasan studi

bentuk garis pantai, adalah bidang yang akan mempengaruhi arah aliran

tsunami di daratan

(16)

METODOLOGI

METODOLOGIPENELITIAN PENELITIAN variabel variabel

Variabel bebas Variabel

terikat

Kualitas elemen

fi ik t b k

Zona tingkat kerawanan, adalah lokasi dan tingkat ancaman tsunami

Kualitas fungsi penyelamatan, adalah tingkat keses aiann a sebagai f ngsi

Variabel bebas Variabel terikat

Kualitas elemen

Zona tingkat kerawanan, adalah lokasi dan tingkat ancaman tsunami

fisik ruang terbuka tingkat kesesuaiannya sebagai fungsi penyelamatan

Kualitas fungsi barrier, adalah tingkat kesesuaiannya sebagai fungsi barrier

Kualitas elemen fisik Sirkulasi

Pola sirkulasi, adalah pola yang dapat memberi akses termudah bagi pengguna untuk mencapai daerah yang

aman

Variabel analisa kualitas elemen fisik ruang

terbuka Variabel analisa kualitas elemen fisik

sirkulasi

Variabel bebas Variabel

terikat

Zona tingkat kerawanan, adalah lokasi dan tingkat ancaman tsunami berdasarkan kedalaman genangan

Kualitas elemen

Proyeksi arah aliran tsunami, adalah gambaran arah ancaman tsunami berupa tekanan secara horizontal ancaman tsunami berdasarkan kedalaman genangan

Ketinggian bangunan, adalah ketinggian lantai yang aman Kualitas elemen

fisik tata bangunan

Ketinggian bangunan, adalah ketinggian lantai yang aman dari ancaman jangkauan genangan tsunami

Kepadatan bangunan, adalah jumlah bangunan per satuan luas lahan, yang dapat terancam tsunami

Pola arah hadap bangunan, adalah posisi bukaan bangunan terhadap arah datang tsunami bangunan terhadap arah datang tsunami

Jarak antar bangunan, adalah jarak antar bangunan minimum yang dapat dilalui arus tsunami tanpa merusak

bangunan

Variabel analisa kualitas

elemen fisik tata bangunan

(17)

METODOLOGI

METODOLOGIPENELITIAN PENELITIAN variabel variabel

Variabel bebas Variabel

t ik t Variabel bebas

terikat

Hasil analisa kualitas elemen fisik, adalah hasil identifikasi kualitas elemen fisik kawasan studi terhadap ketentuan

Rumusan Konsep

Referensi, adalah sumber rujukan ilmiah, faktual, empiri dan valid sebagai data pembanding

Pendapat pakar, adalan konsep yang dihasilkan dari pakar yang dianggap kompeten mengenai masalah ini, yang telah mengetahui juga mengenai permasalahan kawasan studi dalam penelitian ini

Variabel analisa triangulasi

perumusan konsep

(18)

METODOLOGI

METODOLOGIPENELITIAN PENELITIAN metode pengambilan data metode pengambilan data

Variabel Data Met. Pengambilan Met. Penyusunan

K ti i P t k ti i t i S li d i d k T i E Di it i d k l k b li i t it t lit

Ketinggian

tsunami Peta ketinggian tsunami Salinan dari dokumen Tsunami Escape Plan for Meuraxa (Sea Defence

Consultant, 2007)

Digitasi dan penskalaan kembali sesuai peta citra stelit menggunakan software AutoCAD 2007.

Diklasifikasi ulang menggunakan software ArcView 3.0 Area jangkauan

tsunami Peta jangkauan tsunami Salinan dari dokumen Tsunami Escape Plan for Meuraxa (Sea Defence

Consultant 2007)

Digitasi dan penskalaan kembali sesuai peta citra stelit menggunakan software AutoCAD 2007.

Diklasifikasi ulang menggunakan software ArcView 3 0 Consultant, 2007) Diklasifikasi ulang menggunakan software ArcView 3.0 Ketinggian muka

tanah Peta topografi Dari dokumen RDTRK Meuraxa 2007,

yang diunduh dari situs PemProv.NAD Digitasi ulang menggunakan software AutoCAD 2007.

Diklasifikasi ulang menggunakan software ArcView 3.0 Arah datang

tsunami Simulasi pergerakan

tsunami, Mengunduh video simulasi dari website

Sea Defence Consultant, Pencitraan dari video simulasi menggunakan software Video Capture (Corel Capture X3), dan digitasi menggunakan software AutoCAD 2007.

Bentuk garis

pantai peta eksisting kawasan

studi peta pencitraan satelit menggunakan

sofware Google Earth Layering peta dengan menggunakan software Adobe Photoshop v.7

Kualitas RT fungsi

l

Kriteria RT fungsi

penyelamatan Kajian teori/telaah kepustakaan Sintesa

K di i k i i RTH Ob i k d P l k b d k k i i & b

penyelamatan Kondisi eksisting RTH Observasi terukur dengan cara

dokumentasi gambar dan dari pencitraan satelit

Pengelompokan berdasarkan kriteria & penggambaran secara deskriptif

Kualitas RT

barier Kriteria RT fungsi

penyelamatan Kajian teori/telaah kepustakaan Sintesa

K di i k i ti RT Ob i t k d P l k b d k k it i & b

Kondisi eksisting RT Observasi terukur dengan cara

dokumentasi gambar dan dari pencitraan satelit

Pengelompokan berdasarkan kriteria & penggambaran secara deskriptif

Pola sirkulasi Peta Pola sirkulasi Dari dokumen RDTRK Meuraxa 2007,

yang diunduh dari situs PemProv.NAD Digitasi ulang menggunakan software AutoCAD 2007.

Kepadatan Peta lokasi bangunan Identifikasi dari pencitraan satelit Pengelompokan berdasarkan klasifikasi dalam bentuk peta Kepadatan

bangunan Peta lokasi bangunan Identifikasi dari pencitraan satelit Pengelompokan berdasarkan klasifikasi dalam bentuk peta menggunakan software AutoCAD 2007dan ArcView 3.0 Jarak antar

bangunan Hasil pengukuran jarak antar bangunan, dan peta citra satelit

Observasi lapangan dan pencitraan satelit

menggunakan sofware Google Earth Dalam bentuk gambar beserta ukurannya.

Pola arah hadap

bangunan Peta lokasi bangunan Pencitraan satelit menggunakan sofware Google Earth, diidentifikasi berdasarkan muka bangunan dari posisinya terhadap jalan.

Pengelompokan dalam bentuk peta menggunakan software

AutoCAD 2007dan ArcView 3.0

(19)

METODOLOGI

METODOLOGIPENELITIAN PENELITIAN metode pengambilan data metode pengambilan data

Variabel Data Met. Pengambilan Met. Penyusunan

Ketinggian

bangunan Peta lokasi bangunan Obeservasi tiap bangunan menurut ketinggiannya, dan posisinya di peta satelit

Pengelompokan dalam bentuk peta menggunakan software AutoCAD 2007dan ArcView 3.0

T i T i t S d d k ji t k Si t

Teori Teori penataan, perancangan kota, mitigasi, vegetasi pantai.

Saduran, dan kajian pustaka Sintesa

Studi kasus Informasi penataan,

mitigasi, perancangan, Pencarian melalui Google.com dan

diunduh atau salin Menyusun ulang berdasarkan variabel analisa sebelumnya.

Reg lasi/kebi Pe at an penataan Peng nd han da i sit s PemDa Meng tip men alin men ad dan men s n men t Regulasi/kebi-

jakan Peraturan penataan kawasan setempat, dokumen perencanaan, dan lainnya.

Pengunduhan dari situs PemDa, Departemen PU,

www.penataanruang.net, dan lainnya.

Mengutip, menyalin, menyadur, dan menyusun menurut kebutuhan analisa.

Pendapat pakar Pendapat pakar

mengenai konsep Wawancara melalui e-mail. Menyusun ulang berdasarkan variabel analisa sebelumnya.

mengenai konsep

penataan kawasan Ulee

Lheue berbasis mitigasi

tsunami

(20)

METODOLOGI

METODOLOGIPENELITIAN PENELITIAN teknik analisa teknik analisa

A. Metode analisa tahap 1 adalah dengan menggabungkan variabel-variabel bebasnya, dan menyajikannya dalam bentuk gambar (peta). Teknik yang digunakan tergantung dari jenis data dan hasil yang diinginkan.

Æ identifikasi besarnya ancaman berdasarkan kedalaman genangan, data yang digunakan berupa Æ identifikasi besarnya ancaman berdasarkan kedalaman genangan, data yang digunakan berupa peta dan hasil yang diinginkan adalah zonasi. Identifikasi dilakukan dengan menggunakan teknik overlay- mapping menggunakan software ArcViewGIS 3.0 . Menggabungkan kedua peta secara berlapis untuk mendapatkan zona yang tergabung atau bersinggungan.

Æ identifikasi proyeksi arah aliran tsunami data yang digunakan adalah peta arah tsunami di kawasan Æ identifikasi proyeksi arah aliran tsunami, data yang digunakan adalah peta arah tsunami di kawasan dan peta eksisting dengan bentuk garis pantai. Dilakukan layering kedua peta tersebut (menggunakan software Adobe Photoshop v.7 ) dan menggambarkan proyeksi arah aliran tsunami setelah melewati tepi pantai.

B. Metode analisa tahap 2, memiliki dua tahap dan dua teknik analisa.

Æ Pertama adalah mengidentifikasi elemen fisik tersebut berada di zona rentan yang mana atau

terkena pengaruh arah aliran tsunami yang seperti apa Teknik yang digunakan adalah me- layer peta kondisi terkena pengaruh arah aliran tsunami yang seperti apa. Teknik yang digunakan adalah me- layer peta kondisi eksisting elemen fisik (lokasi bangunan, dan sebagainya) dengan peta zonasi ancaman genangan atau peta arah aliran tsunami.

Æ Tahap yang kedua adalah menganalisa kesesuaian antara hasil identifikasi sebelumnya dengan k t t

ketentuan.

C. Metode analisa tahap 3, untuk merumuskan konsep adalah dengan teknik triangulasi sumber data.

Triangulasi ini akan menggabungkan beberapa data yang didapat dari tiga sumber yaitu hasil identifikasi

Triangulasi ini akan menggabungkan beberapa data yang didapat dari tiga sumber, yaitu hasil identifikasi

(hasil analisa tahap II), referensi (teori, studi kasus, dan regulasi/kebijakan), dan pendapat pakar yang

dianggap kompeten.

(21)

berlangsung.

PENDAHULUAN Fenomena:

•Produk rencana penataan tidak memiliki landasan konseptual yang baik mengenai mitigasi tsunami

•Belum ada panduan desain kawasan sebagai pedoman penting pelaksanaan proyek pembangunan Masalah:

•Belum ada kajian dan produk rencana penataan kawasan dalam lingkup perancangan kota, yang seharusnya ada sebagai landasan implementasi proyek rekonstruksi dan rehabilitasi yang sedang berlangsung.

berlangsung.

berlangsung.

TUJUAN

Menghasilkan konsep penataan fisik dan lingkungan kawasan (urban design) berbasis

mitigasi tsunami

KAJIAN PUSTAKA

SASARAN

•Mengidentifikasi besarnya ancaman tsunami yang mempengaruhi kerentanan elemen penataan fisik dan lingkungan

•Analisa kerentanan elemen penataan fisik dan lingkungan berdasarkan faktor-faktor yang mempengaruhinya,

•Merumuskan konsep penataan fisik dan lingkungan kawasan berbasis mitigasi tsunami

KAJIAN PUSTAKA

aspek-aspek terkait penataan fisik dan lingkungan urban design di dalam upaya mitigasi tsunami, faktor-faktor kerentanan, proses penelaahan kerentanan dalam proses urban design, dan teori-teori penataan fisik dan lingkungan tepi pantai dan elemennya.

SINTESA

Faktor yang mempengaruhi kerentanan elemen penataan fisik dan lingkungan: besarnya ancaman tsunami, berupa genangan dan arah aliran

Elemen-elemen penataan fisik dan lingkungan (urban design) yang terpengaruh ancaman tsunami, serta aspek tinjauannya: Ruang terbuka (fungsi mitigasi), Pola Sirkulasi (pola), dan bangunan (ketinggian, kepadatan, arah hadap, jarak antar bangunan).

PENGUMPULAN DATA

Metode: Observasi, Survey, Dokumentasi, Kajian kepustakaan, Download,

DATA DASAR Peta topografi

Peta satelit, Peta simulasi, Dokumentasi survey DATA SEKUNDER

Dokumen rencana teknis kawasan studi, teori/penelitian sejenis, regulasi/kebijakan terkait, pendapat pakar, studi kasus,

( gg , p , p, j g )

ANALISA I

¾Identifikasi besarnya ancaman genangan Æ [Overlay-mapping] peta topografi + ketinggian tsunami Æ peta zona genangan

¾Identifikasi arah aliran tsunami Æ [overlay-mapping] peta proyeksi arah tsunami+peta garis tepi pantai+peta zona tingkat ancaman genangan.

HASIL ANALISA I Peta zonasi tingkat ancaman genangan

tsunami

Peta perkiraan arah datang tsunami

ANALISA III

k i l i b d d i h il li f i d d k

ANALISA II

Analisa kerentanan Ruang terbuka (fungsi barier dan penyelamatan) Analisa kerentanan pola sirkulasi

Analisa kerentanan bangunan (ketinggian, kepadatan, arah hadap, dan jarak antar bangunan) HASIL ANALISIS II

Kerentanan Ruang terbuka (fungsi barier dan penyelamatan) Kerentanan pola sirkulasi

Kerentanan bangunan

HASIL ANALISIS III

K U d K Ti El P t K Ul Lh

Perumusan konsep, triangulasi sumber data dari hasil analisa, referensi, dna pendapat pakar Konsep Umum dan Konsep Tiap Elemen Penataan Kawasan Ulee Lheue Berbasis Mitigasi Tsunami

MENYIMPULKAN HASIL PENELITIAN

Gambar 3.1. Diagram Skematik Kerangka Alur Kerja Penelitian

Gambar 3.1. Diagram Skematik Kerangka Alur Kerja Penelitian

(22)

KAJIAN

KAJIANOBJEK OBJEKSTUDI STUDIdan danDATA DATA

Gambaran umum:

¾ Fungsi utama kawasan adalah pelabuhan dan pariwisata

¾ Fungsi utama kawasan adalah pelabuhan dan pariwisata,

¾ Pengembangan secara keseluruhan diupayakan untuk menjaga lingkungan hidup,

¾ Kondisi topografi menurun, dan banyak terbentuk genangan-genangan baru.

¾ Prinsip dasar pengembangan berbasis mitigasi adalah:

¾ Menghindari pembangunan baru di daerah terpaan Tsunami untuk mengurangi korban di masa datang. g

¾ Mengatur pembangunan baru yang meliputi fasilitas maupun jaringan infrastruktur di daerah terpaan Tsunami untuk memperkecil kerugian di masa yang akan datang.

¾ Merancang dan membangun bangunan baru dengan ketahanan struktur dan konstruksi sesuai dengan standar bangunan gempa untuk mengurangi kerusakan

¾ Merencanakan sistem mitigasi dalam perencanaan tata ruang Kecamatan.

¾ Merencanakan dengan mempertimbangkan kemungkinan bencana lain yang dapat terjadi di masa datang

datang.

¾ Melestarikan sumber daya alam yang ada sebagai keseimbangan ekosistem, mata pencaharian dan

bahkan dapat sebagai upaya memperkecil terpaan Tsunami.

(23)

KAJIAN

KAJIANOBJEK OBJEKSTUDI STUDIdan danDATA DATA

Data Ruang terbuka

(24)

KAJIAN

KAJIANOBJEK OBJEKSTUDI STUDIdan danDATA DATA

Mangrove

Mangrove Museum Hijau Museum Hijau

Genangan Genangan Pantai

Pantai

(25)

KAJIAN

KAJIANOBJEK OBJEKSTUDI STUDIdan danDATA DATA

Lapangan

Lapangan Makam Makam

Wisata

Wisata

(26)

KAJIAN

KAJIANOBJEK OBJEKSTUDI STUDI dan

danDATA DATA

Data Pola Sirkulasi

(27)

KAJIAN

KAJIANOBJEK OBJEKSTUDI STUDI dan

danDATA DATA

Jumlah total bangunan pada

k t di Æ 5202 it

kawasan studi Æ 5202 unit

Klasifikasi ketinggian

Bangunan 1 lantai Æ 4975 Bangunan 2 lantai Æ 219 Bangunan 3 lantai Æ 8

Bangunan

(28)

KAJIAN

KAJIANOBJEK OBJEKSTUDI STUDI dan

danDATA DATA

Klasifikasi Kepadatan

Æ 907 bangunan terbangun pada kepadatan antara 1-10%

Æ 1278 bangunan terbangun pada kepadatan antara 11-15%

Æ 3017 bangunan terbangun pada kepadatan >15%

Bangunan

(29)

KAJIAN

KAJIANOBJEK OBJEKSTUDI STUDI dan

danDATA DATA

ARAH HADAP BANGUNAN ARAH HADAP BANGUNAN

Informasi pola arah hadap bangunan didapat melalui analisa karena harus melalui overlay

beberapa peta, yaitu peta proyeksi arah aliran tsunami dan peta posisi bangunan. Dari peta posisi bangunan, arah hadap bangunan ditetapkan menghadap ke jalan.

JARAK ANTAR BANGUNAN

Pendataan jarak antar bangunan dilakukan dengan cara mengambil 1 deret bangunan yang Pendataan jarak antar bangunan dilakukan dengan cara mengambil 1 deret bangunan yang

memiliki jarak paling kecil, pada tiap zona ancaman genangan. Pendataan hanya dapat dilakukan ketika peta zona ancaman genangan telah ada, yaitu pada setelah analisa tahap II.

Bangunan

(30)

KAJIAN

KAJIANOBJEK OBJEKSTUDI STUDI dan

danDATA DATA

Data karakteristik Tsunami pada Data karakteristik Tsunami pada

kawasan studi

Ketinggian dan jangkauan genangan

(31)

KAJIAN

KAJIANOBJEK OBJEKSTUDI STUDI dan

danDATA DATA

Data karakteristik Tsunami Data karakteristik Tsunami

pada kawasan studi

Proyeksi Arah Aliran Tsunami

(32)

KAJIAN

KAJIANOBJEK OBJEKSTUDI STUDI dan

danDATA DATA

Data karakteristik Tsunami Data karakteristik Tsunami

pada kawasan studi

Topografi

(33)

ANALISA ANALISA

Identifikasi Zona Ancaman Tsunami

[ ancaman kedalaman genangan ]

OV ER LA Y

(34)

ANALISA ANALISA

Identifikasi Zona Ancaman

Ketinggian Genangan (meter) 0-3

(A) 3-6

(B)

6-9

Tsunami (C)

[ ancaman kedalaman genangan ]

(A) (B) (C)

m et er)

0 – 1

(4) -1 – 3

(4A) 2 – 6

(4B) 5 – 9

(4C)

1 – 2 -2 – 2 1 – 5 4 – 8

p ografi ( m 1 2

(3)

2 2 (3A)

1 5 (3B)

4 8 (3C) 2– 3

(2) -3 – 1

(2A) 0 – 4

(2B) 3 – 7

(2C)

To p

3 – 4

(1) -4 – 0

(1A) -1 – 3

(1B) 2 – 6

(1C)

(1A) (2A) (3A) (4A) (1B) (2B) (3B) (4B) (1C) (2C) (3C) (4C) -4 sampai

1 meter

1 sampai 4 meter

4 sampai 8 meter

8 sampai 9 meter

Aman Rendah Sedang Tinggi

(35)

ANALISA ANALISA

Identifikasi Zona Ancaman Tsunami

[ ancaman arah aliran tsunami ]

(36)

ANALISA ANALISA

Kualitas Elemen fisik &

lingkungan

[ ruang terbuka ]

(37)

ANALISA

ANALISA Kualitas Elemen fisik & lingkungan

[ ruang terbuka ]

(38)

ANALISA

ANALISA Kualitas Elemen fisik & lingkungan

[ ruang terbuka ]

(39)

ANALISA

ANALISA Kualitas Elemen fisik & lingkungan [ ruang terbuka ]

Hasil

• Dari 16 tipologi ruang terbuka, 9 lahan sesuai untuk ruang terbuka fungsi barier yaitu, lahan mangrove di zona rendah, zona sedang dan zona tinggi, g g gg

• Dari 16 tipologi ruang terbuka, 4 lahan sesuai untuk ruang terbuka fungsi penyelamatan yaitu, lahan genangan pada zona aman, lahan lapangan pada zona rendah dan sedang, dan lahan wisata pada zona sedang,

• Dari 16 tipologi ruang terbuka, 3 lahan lainnya tidak untuk fungsi keduanya yaitu, lahan

lapangan pada zona tinggi, dan lahan makam pada zona rendah dan sedang.

(40)

ANALISA

ANALISA Kualitas Elemen fisik & lingkungan

[ Pembahasan ruang terbuka fungsi barrier ]

(41)

ANALISA

ANALISA Kualitas Elemen fisik & lingkungan

[ Pembahasan ruang terbuka fungsi penyelamatan ]

Kesimpulan

S b i b (56%) t b k t d t di k t di iliki

Sebagian besar (56%) ruang terbuka yang terdapat di kawasan studi, memiliki kecenderungan karakteristik sebagai ruang terbuka fungsi barier. Beberapa diantaranya memiliki masalah luas lahan yang tidak cukup untuk area tanam vegetasi barier.

Sebanyak 25% ruang terbuka lainnya memenuhi sebagian besar kriteria ruang

terbuka fungsi penyelamatan. Sebagian besar memiliki masalah dengan ketinggian dan

hanya 1 lahan yang memiliki masalah dengan kekurangan akses darurat.

(42)

ANALISA ANALISA

Kualitas Elemen fisik &

lingkungan

[pola sirkulasi - identifikasi]

A B

C

C

(43)

ANALISA ANALISA

Kualitas Elemen fisik &

lingkungan

[pola sirkulasi – analisa pola]

A‐1

SA‐1

A‐2

BP‐2 Pembahasan:

Ruas jalan ini memiliki akses yang memungkinkan untuk menambahkan pola jalan tegak lurus menjauhi pantai.

BP‐1

p j g j p

1 buah akses pernah ada namun dalam kondisi belum bisa digunakan karena harus melalui sebuah jembatan yang terputus.

Jika harus menambahkan akses diruas jalan ini antara Jika harus menambahkan akses diruas jalan ini antara titik SA-1 dan A-1, harus melewati sebuah muara, dan jalan yang dituju adalah jalan yang masih memiliki pola yang searah garis pantai.

D i h il ti i kt t h d

Dari hasil estimasi waktu tempuh pengguna pada ruas

jalan ini, pengguna dapat/memungkinkan menjangkau area

aman terjauh (zona aman) melalui pola jalur yang ada,

sebelum tsunami tiba di tepi pantai.

(44)

ANALISA ANALISA

Kualitas Elemen fisik &

BP 3 lingkungan

[pola sirkulasi – analisa pola]

BP‐3 BP‐4 S 1

S‐2

B‐2 S‐1

BP 2

Pembahasan:

Ruas jalan ini memiliki 1 buah akses tambahan yang berpola

BP‐2 Ruas jalan ini memiliki 1 buah akses tambahan yang berpola

tegak lurus menjauhi pantai, yang bersimpul pada titik S-1.

Namun jalan tersebut tidak memberikan jalan lebih singkat untuk mencapai tempat aman terdekat, karena dari titik

i l S 1 k b l t (BP 5) iliki j k

BP‐5

B‐1 simpul S-1 ke bangunan penyelamatan (BP-5) memiliki jarak

yang sama dari simpul S-1 ke bangunan peyelamatan BP-4.

Kedua bangunan penyelamat dapat dijangkau dalam waktu 1/3 dari waktu tiba tsunami ke tepi pantai.

Tetapi, melalui jalan kolektor tersebut akan mencapai zona aman lebih dekat.

Dari hasil estimasi waktu tempuh pengguna pada ruas jalan

ini maupun melalui jalan kolektor yang bersimpul pada ruas

ini, maupun melalui jalan kolektor yang bersimpul pada ruas

ini, pengguna dapat/memungkinkan menjangkau area aman

terjauh (zona aman) melalui pola jalur yang ada, sebelum

tsunami tiba di tepi pantai.

(45)

ANALISA ANALISA

Kualitas Elemen fisik &

lingkungan

[pola sirkulasi – analisa pola]

BP‐5

C 2 BP‐6

C‐2

S-2

BP‐14

S-1

BP‐12 Pembahasan:

BP‐7 C-1 BP‐9

BP‐10

BP‐13

Dari titik terjauh (C-1), untuk mencapai ke seluruh daerah aman (zona maupun bangunan) masih memungkinkan sebelum tibanya tsunami di tepi pantai.

BP‐8

BP‐11

p

Zona aman dapat ditempuh dengan mudah dengan pola seperti ini.

Akses jalan lokal yang bersimpul pada titik S-1

( h k l t ) tid k b t

(mengarah ke selatan) tidak membuat pengguna

mendekati zona aman, hanya membuat jarak yang

lebih dekat dengan bangunan penyelamatan (BP-9

dan BP-10).

(46)

ANALISA ANALISA

Kualitas Elemen fisik &

Kesimpulan Dari titik terjauh pada ketiga pola yang dianalisa, masih

ki k t k i t j h d l

lingkungan

[pola sirkulasi – analisa pola]

memungkinkan untuk mencapai zona aman terjauh dalam waktu sebelum tibanya tsunami pada tepi pantai.

Waktu tempuh terjauh adalah dari titik A-1 pada ruas p j p jalan A, yaitu 11,9 menit.

Pola jalan A masih memungkinkan untuk ditambahkan akses menjauhi tepi pantai namun harus melintasi muara

A B

akses menjauhi tepi pantai namun harus melintasi muara.

Pola jalan B telah memiliki akses yang memotong menuju ke arah menjauhi pantai, yang ternyata menambah

kemudahan untuk mencapai zona aman kemudahan untuk mencapai zona aman.

Pola jalan C telah memiliki akses yang memotong menjauhi garis pantai, tapi ternyata tidak menambah C

kemudahan untuk mencapai zona aman.

Jadi, secara umum pola sirkulasi seperti yang ada sudah cukup untuk digunakan pengguna untuk mencapai sudah cukup untuk digunakan pengguna untuk mencapai

zona aman maupun bangunan penyelamatan.

(47)

ANALISA ANALISA

Kualitas Elemen fisik &

lingkungan

[Bangunan– Ketinggian]

V ERLA Y O V

(48)

ANALISA ANALISA

Kualitas Elemen fisik &

lingkungan

[Bangunan– Ketinggian]

Pembahasan:

Dari 5202 bangunan yang ada di kawasan studi, 4103 bangunan terancam karena ketinggian lantainya dibawah batas jangkauan tsunami atau sebanyak 78 9 %

tsunami, atau sebanyak 78,9 %.

Diantara yang terancam, 30 bangunan 1 lantai di zona tinggi mendapat ancaman terbesar, yaitu ancaman genangan setinggi 9 meter dari lantai utama

Kesimpulan Penataan bangunan kawasan studi pada

aspek ketinggian lantai bangunan, teridentifikasi 78 9% bang nan terancam meter dari lantai utama.

Diantara yang terancam, 3082 bangunan 1 lantai di zona sedang dan 3 bangunan 2 lantai di zona tinggi, mendapat ancaman

genangan setinggi 8 meter dari lantai utama.

teridentifikasi 78,9% bangunan terancam.

Hal ini disebabkan karena banyaknya bangunan 1 lantai dan beberapa bangunan 2 lantai masih banyak yang terancam oleh Diantara yang terancam, 868 bangunan 1 lantai di zona rendah

dan 120 bangunan 2 lantai di zona sedang, mendapat ancaman genangan setinggi 4 meter dari lantai utama.

lantai masih banyak yang terancam oleh

genangan tsunami.

(49)

ANALISA ANALISA

Kualitas Elemen fisik &

lingkungan

[Bangunan– Kepadatan]

V ERLA Y O V

(50)

ANALISA ANALISA

Kualitas Elemen fisik &

lingkungan

[Bangunan– Kepadatan]

Pembahasan:

Dari hasil identifikasi melalui pemetaan di atas dan berdasarkan ketentuan kepadatan bangunan pada zona ancaman tsunami, ditemukan bahwa:

D i 5202 b d di k t di 3223 b Kesimpulan

Dari 5202 bangunan yang ada di kawasan studi, 3223 bangunan terancam karena berada pada area berkepadatan diatas batas ketentuan, atau sebanyak 62 %.

Diantara yang terancam, 33 bangunan di area kepadatan >15%

Kesimpulan Penataan bangunan kawasan studi

pada aspek kepadatan bangunan masih rentan, yaitu masih mengancam 62% dari seluruh mendapat ancaman terbesar, karena berada pada zona ancaman tinggi,

Diantara yang terancam, 1613 bangunan di area kepadatan 15%

mendapat ancaman terbesar ke 2, karena berada pada zona ancaman sedang

mengancam 62% dari seluruh bangunan.

Hal ini disebabkan karena banyaknya bangunan berkepadatan antara 11- sedang,

Diantara yang terancam, 666 bangunan di area kepadatan 15% dan 911 bangunan diarea kepadatan 11-15% mendapat ancaman terbesar ke 3, karena berada pada zona ancaman rendah,

15% dan diatas 15%, berada pada

zona ancaman genangan tsunami.

(51)

ANALISA ANALISA

Kualitas Elemen fisik &

lingkungan

[Bangunan– Arah Hadap]

V ERLA Y O V

(52)

ANALISA ANALISA

Kualitas Elemen fisik &

lingkungan

[Bangunan– Arah Hadap]

Pembahasan:

Dari 5202 bangunan yang ada di kawasan studi, 219 bangunan

terancam karena memiliki arah hadap berlawanan dengan arah aliran tsunami, atau sebanyak 4%.

Kesimpulan Penataan bangunan kawasan studi tsunami, atau sebanyak 4%.

Diantara yang terancam, 3 bangunan di zona tinggi, 120 bangunan di zona sedang, 36 bangunan di zona rendah, dan 60 bangunan di zona aman.

Penataan bangunan kawasan studi

pada aspek arah hadap bangunan

tidak begitu terancam, hanya 4% dari

seluruh bangunan yang terancam.

(53)

ANALISA ANALISA

Kualitas Elemen fisik &

lingkungan

[Bangunan– Jarak antar bangunan]

Setelah mengetahui zona

kerentanan ancaman genangan,

dianalisa satu blok bangunan

dengan jarak antar terkecil, yang

diambil dari tiap zona.

(54)

ANALISA

ANALISA Kualitas Elemen fisik & lingkungan

[Bangunan– Jarak antar bangunan - Pembahasan]

Kesimpulan

Dari hasil analisa dan pembahasan pada sel r h ona ancaman ts nami masih terdapat bang nan dengan jarak antar bang nan Dari hasil analisa dan pembahasan, pada seluruh zona ancaman tsunami masih terdapat bangunan dengan jarak antar bangunan yang tidak sesuai.

Khususnya bagi bangunan yang berada pada zona ancaman genangan sedang dan tinggi, yang dapat terancam bertambahnya

genangan sebanyak 80%.

(55)

KESIMPULAN ANALISA SECARA KESELURUHAN KESIMPULAN ANALISA SECARA KESELURUHAN

S k t t fi ik d li k di k M

Secara umum, kerentanan penataan fisik dan lingkungan di kawasan Meuraxa, disebakan karena:

• Tingginya dan luasnya ancaman genangan tsunami terhadap kawasan studi (88%), gg y y g g p ( ),

• Ruang terbuka tidak cukup luas dan tinggi untuk fungsi mitigasi,

• Banyaknya (>60%) bangunan terbangun pada zona yang tidak boleh terbangun, y y ( ) g g p y g g ,

dengan kualitas tata bangunan yang tidak sesuai.

(56)

PERUMUSAN KONSEP PERUMUSAN KONSEP

Ke PDF Ke PDF Ke PDF…

Ke PDF…

(57)

KESIMPULAN PENELITIAN KESIMPULAN PENELITIAN

P l h d k M d l h t i t

Permasalahan mendasar kawasan Meuraxa adalah ancaman tsunami yang sangat besar, ditambah faktor posisi kawasan yang sangat dekat dengan sumber bencana.

P i i d d l iti i f kt t k b k t t k

Prinsip dasar dalam mitigasi, faktor yang menentukan besarnya kerentanan suatu kawasan adalah besar kecilnya upaya proteksi, menghindari, atau adaptasinya. Dari hasil penelitian (peninjauan, identifikasi dan analisa) yang dilakukan pada aspek fisik dan lingkungan Kecamatan Meuraxa diketahui bahwa pada kawasan ini:

Meuraxa diketahui bahwa pada kawasan ini:

• Ada sedikit upaya proteksi yang telah dilakukan terhadap kawasan, yaitu membangun sea-wall setinggi 2 meter (berhasil mengurangi ancaman ketinggian tsunami 10%). Tidak ada proteksi dengan menggunakan barier alami, hutan pantai dan lainnya.

• Sedikit upaya menghindari, diketahui dari hanya kawasan tepi pantai tidak terbangun kembali, namun seratus meter kebelakang masih terus terbangun bangunan (bahkan mencapai ada yang mencapai kepadatan >15%)

• Beberapa upaya adaptasinya, terlihat dari beberapa usaha mitigasi yang telah dilakukan seperti

pembangunan beberapa bangunan penyelamatan, penyediaan sirkulasi darurat, dan instalasi

peringatan dini. Namun terjadi juga pembangunan kembali yang menggunakan parameter

ancaman genangan bukan dari ketinggian tsunami tapi dari titik pasang tertinggi Akibatnya

ancaman genangan bukan dari ketinggian tsunami, tapi dari titik pasang tertinggi. Akibatnya

banyak lahan yang boleh terbangun berada pada zona ancaman tsunami sangat tinggi. Selain itu

juga terlihat dari kualitas penataan bangunan yang memiliki ketidaksesuaian dengan ketentuan

mitigasi tsunami hingga 60%. g gg

(58)

KESIMPULAN PENELITIAN KESIMPULAN PENELITIAN

Dari hasil analisa dirumuskan konsep dalam aspek penataan fisik dan lingkungan, yaitu: p p p g g , y

• Melakukan upaya penataan protektif yang sesuai untuk kawasan studi adalah penggunaan sea-wall lepas pantai atau mengoptimalkan barier (mengubah banyak lahan menjadi green-belt setebal 1km sepanjang kawasan)

lahan menjadi green belt setebal 1km sepanjang kawasan)

• Upaya menghindari yang mungkin dilakukan adalah, membatasi pembangunan sedini mungkin, merelokasi bangunan yang teridentifikasi sangat rentan,

U d t i i t k k i i d l h k b

• Upaya adaptasi yang sesuai untuk kawasan ini adalah, rekayasa bangunan yang masih memungkinkan (tidak terlalu rentan) dengan peninggian lantai, penataan kavling (penentuan arah hadap, dan GSB bangunan), membuat void kawasan, dan penataan pola sirkulasi

penataan pola sirkulasi.

(59)

SARAN PENELITIAN SARAN PENELITIAN

Hasil studi ini sebaiknya digunakan untuk pertimbangan memperbaiki ketidak-mitigasian rencana/kebijakan yang lebih umum, karena upaya mitigasi sangat dipengaruhi oleh

penggunaan lahan yang diatur dalam rencana yang lebih umum

penggunaan lahan yang diatur dalam rencana yang lebih umum.

(60)

Terima kasih…

Terima kasih…

Gambar

Gambar 3.1. Diagram Skematik Kerangka Alur Kerja PenelitianGambar 3.1. Diagram Skematik Kerangka Alur Kerja Penelitian

Referensi

Dokumen terkait

Integrasi tauhid dalam konsep berpikir yang sistematis dan komprehensif Pemutaran Film Ceramah Diskusi Penugasan TM: 2 x 50” BT+BM: (1+1) x (2x60”) − Mahasiswa

Jumlah buah yang muncul dari perkembangan bunga tanaman cabai yang ditanam pada tanah terdegradasi bekas tambang batu bata merah yang diberi PCO bersama NPK pada

Penelitian ini menggunakan faktor-faktor yang akan diamati dan sebelumnya telah dijelaskan hipotesis dari faktor-faktor tersebut, antara lain keputusan migrasi sirkuler

Penentuan kemampuan fasilitas rumah sakit tidak hanya pada keter- batasan infrastruktur fisik tetapi juga pada kemampuan menyediakan sumber daya lain yang diperlukan, sehing- ga

nonstatistik. Me Meto todo dolo logi gi un untu tuk k mem memut utus uska kan n akseptabilitas populasi pada intinya sama baik untuk sampling atribut maupun akseptabilitas

Sesuai dengan permasalahan yang dikemukakan di atas, maka penelitian ini bertujuan untuk memperoleh gambaran mengenai kompetensi guru-guru sains (biologi) Sekolah

Pembuatan butiraldehid yang menghasilkan produk i-butiraldehid dan n-butiraldehid dengan proses hidroformilasi yang menggunakan bahan baku propilen, hidrogen, karbon monoksida

Bakteri sangat peka terhadap suhu atau temperatur dan daya tahannya tidak sama untuk semua spesies. Bakteri dapat diklasifikasikan menjadi tiga kelompok berdasarkan suhu