SKRIPSI ANALISIS PENERAPAN METODE VARIABLE COSTING SEBAGAI ALAT UNTUK MENGHITUNG HARGA POKOK PRODUKSI PADA PT. SEMEN TONASA KABUPATEN PANGKEP

87  Download (0)

Teks penuh

(1)SKRIPSI. ANALISIS PENERAPAN METODE VARIABLE COSTING SEBAGAI ALAT UNTUK MENGHITUNG HARGA POKOK PRODUKSI PADA PT. SEMEN TONASA KABUPATEN PANGKEP. ZULKIPLI 10573 02525 11. FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MAKASSAR MAKASSAR 2015.

(2) SKRIPSI. ANALISIS PENERAPAN METODE VARIABLE COSTING SEBAGAI ALAT UNTUK MENGHITUNG HARGA POKOK PRODUKSI PADA PT. SEMEN TONASA KABUPATEN PANGKEP. ZULKIPLI 10573 02525 11. Untuk Memenuhi Persyaratan Guna Memperoleh Gelar Sarjana Ekonomi pada Jurusan Akuntansi. FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MAKASSAR MAKASSAR 2015.

(3)

(4)

(5) HALAMAN MOTTO DAN PERSEMBAHAN Rasulullah SAW bersabda: ”Barang siapa dilanda kesusahan dalam suatu masalah hendaklah dia mengucapkan Laa Haula Wa Laa Quwwata Illa Bil-Laahil’Aliyyul’Azhim’ (Tiada daya dan tiada kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah yang Maha Tinggi lagi Maha Agung)” (H.R. Baihaqi dan Ar Rabi’i).. Syukuri apa yang ada..hidup adalah anugerah..tetap jalani hidup ini..melakukan yang terbaik..Tuhan pasti kan menunjukkan kebesaran dan kuasaNya.. bagi hambaNya yang sabar dan tak kenal putus asa.. jangan menyerah..jangan menyerah.. jangan menyerah!!!!!!!!!!!!!! (d’Massive – Jangan Menyerah). Z  zero (nol), selalu ingat, usaha nol membuahkan hasil nol pula, U  understand (paham), pahami bahwa hidup itu selalu ada potensi untuk naik, L  learn (belajar), belajar dari kesalahan dan berusaha untuk tidak mengulanginya.. Buah karya ini kupersembahkan untuk: semua tetes air mata, tetes keringat, iringan doa yang senantiasa menyelimuti jejak langkahku dan perjuangan yang telah dilakukan untuk dapat menyambung hidup keluarga dan membiayai kuliah saya jasa-jasanya tak akan pernah Zul lupa…. Makasih Ayah, Ibu, Kakak, Adik dan Keponakanku Tak pernah berhenti berucap syukur Alhamdulillah karena memiliki kalian..

(6) ABSTRAK. Zulkipli, 2015. “Analisis Penerapan Metode Variable Costing Sebagai Alat Untuk Menghitung HargaPokok Produksi Pada PT. Semen Tonasa Kabupaten Pangkep”. Pembimbing, Hj. Euis Eka Pramiarsih dan Samsul Rizal. Sasaran atau tujuan yang ingin dicapai oleh perusahaan adalah meningkatkan jumlah produksi agar mendapat laba yang optimal. Salah satu faktor yang dapat menunjang suksesnya masing-masing bagian dalam mencapai tujuannya adalah adanya penentuan harga pokok produksi. Variable costing merupakan salah satu metode yang digunakan dalam menghitung harga pokok produksi yang memperhitungkan biaya-biaya yang bersifat variabel saja. Masalah pokok pada penelitian ini adalah apakah penerapan metode variable costing tepat dijadikan sebagai alat untuk menghitung harga pokok produksi, serta tujuannya untuk mengetahui penerapan metode variable costing sebagai alat untuk menghitung harga pokok produksi. Metode analisis yang digunakan pada penelitian ini adalah analisis deskriktif kuantitatif, data penelitian diperoleh dari perusahaan serta penulis mengadakan wawancara langsung dengan pihak terkait di PT. Semen Tonasa, sedangkan metode penelitian yang digunakan adalah penelitian lapangan dan pustaka. Hasil penelitian menunjukkan bahwa adanya perbedaan harga pokok produksi yang lebih rendah jika menggunakan metode variable costing yang dikarenakan adanya biaya overhead pabrik tetap yang tidak dihitung dalam harga pokok produksi. Hal ini dapat dilihat dari perbandingan harga pokok produksi yang dihasilkan perusahaan dan variable costing, dimana harga pokok produksi menurut perusahaan sebesar Rp.551.061, sedangkan menurut variable costing sebesar Rp. 420.042. Sehingga hal ini dapat mengurangi harga pokok produksi sebesar Rp.131.019. Oleh karena itu, penerapan metode variable costing dapat dikatakan tepat dijadikan sebagai alat untuk menghitung harga pokok produksi. Kata Kunci : biaya, variable costing, harga pokok produksi..

(7) KATA PENGANTAR. Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh Segala puji dan syukur atas kehadirat Allah SWT. atas rahmat, ridho dan karunia-Nya sehingga penulis dapat merangkai beberapa kata yang dari kata itu terangkai pula menjadi kalimat dan dari untaian kalimat tersebut maka tersusunlah sebuah penulisan dalam bentuk skripsi dengan judul “Analisis Penerapan Metode Variable Costing sebagai Alat untuk Menghitung Harga Pokok Produksi pada PT. Semen Tonasa”. Sholawat dan salam semoga selalu tercurah kepada baginda Rasulullah SAW. Penulisan skripsi ini merupakan salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Ekonomi (SE) pada Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Muhammadiyah Makassar. Penulis menyadari dalam penulisan skripsi ini tidak terlepas dari hambatan dan rintangan. Namun demikian, atas bimbingan, bantuan, arahan, serta dukungan dari berbagai pihak maka penulis dapat menyelesaikannya. Semoga Allah SWT selalu memberikan Hidayah dan Rahmat kepada semua pihak yang telah membantu dengan ikhlas sehingga skripsi ini dapat terselesaikan. Oleh karena itu, pada kesempatan ini penulis ingin menyampaikan rasa terima kasih yang spesial kepada kedua orang tuaku, ayahanda Rumpa dan Ibunda Hj. P. Burasi serta saudara-saudaraku yang dengan sabar dan ketulusan hati mencurahkan cinta, kasih, sayang dan dukungannya baik berupa materi maupun doa dalam.

(8) penyusunan skripsi ini. Bersama dengan ini juga saya haturkan terima kasih kepada: 1. Bapak Dr. H. Irwan Akib M.Pd. selaku rektor Universitas Muhammadiyah Makassar. 2. Bapak Dr. H. Mahmud Nuhung MA. selaku dekan Fakultas Ekonomi Dan Bisnis Universitas Muhammadiyah Makassar, 3. Bapak Ismail Badollahi SE, M.Si, Ak. CA selaku ketua jurusan akuntansi yang sekaligus selaku Penasehat Akademik selama penulis menempuh pendidikan di Unismuh Makassar, 4. Ibu Dr. Hj. Euis Eka Pramiarsih M.Pd. dan Bapak Samsul Rizal SE, MM selaku dosen pembimbing yang dengan ketulusan hati dan kesabaran memberikan bimbingan, arahan dan masukan dalam penyusunan skripsi ini. 5. Staf dan dosen-dosen di Fakultas Ekonomi dan Bisnis Unismuh Makassar, yang saya yakin terus mendoakan kami menjadi yang terbaik selaku mahasiswa tingkat akhir. 6. Staf karyawan dan karyawati PT. Semen Tonasa, departemen akuntansi dan treasury, biro akuntansi manajemen yang telah banyak membantu memberikan informasi dan data-data yang diperlukan penulis, 7. Ibu Dra. Hj. Siti Markiah Maddu sebagai keluarga yang telah bersedia memberikan tumpangan hidup selama penulis menempuh pendidikan di Makassar, terima kasih atas bantuannya baik berupa doa maupun materi, 8. Semua teman-teman angkatan 2011, khususnya untuk kelas AK-4-2011 (Saldy, Dhion, Icul, Iank, Fikar, Asdar, Khim, Zulfa, Fatri, Khiky, Inna,.

(9) Wiah, Dyana, Febby, Linda, Ningsih dan semuanya) yang telah membuat saya bahagia pernah menjadi “bagian dari kalian”, terima kasih atas doa dan keperyaannya serta seluruh kenangan selama 4 tahun bersama. 9. Teman IMAI (Ikatan Mahasiswa Akuntansi Indonesia) dan teman-teman IMM (Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah) yang tidak pernah lelah berbagi ilmu dengan penulis, terima kasih sudah menerima dan membantu penulis selama ini, 10. Semua pihak yang telah membantu dalam penyelesaian skripsi ini yang tidak dapat penulis sebutkan satu demi satu. Dengan segala keterbatasan yang ada, penulis tetap berusaha untuk menyelesaikan penulisan skripsi ini dengan baik. Oleh karena itu, penulis mengharapkan kritik dan saran dari pembaca guna kesempurnaan skripsi ini. Akhir kata, penulis berharap skripsi ini dapat bermanfaat bagi kita semua. Semoga Allah meridhai dan dicatat sebagai amal ibadah disisi-Nya. Amin. Billahi Fii Sabililhaq, Fastabiqul Khaerat Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.. Makassar, 26 Juni 2015. Penulis.

(10) DAFTAR ISI. HALAMAN JUDUL ........................................................................................ i HALAMAN PENGESAHAN PENGUJI ....................................................... ii HALAMAN PERSETUJUAN ........................................................................ iii HALAMAN MOTTO DAN PERSEMBAHAN ............................................ iv ABSTRAK ........................................................................................................ v KATA PENGANTAR ...................................................................................... vi DAFTAR ISI ..................................................................................................... ix DAFTAR GAMBAR ........................................................................................ xi DAFTAR TABEL ............................................................................................ xii BAB I. PENDAHULUAN ............................................................................ 1 A. Latar Belakang ............................................................................ 1 B. Rumusan Masalah ...................................................................... 5 C. Tujuan Penelitian ........................................................................ 5 D. Manfaat Penelitian ...................................................................... 6. BAB II. TINJAUAN PUSTAKA .................................................................. 7 A. Pengertian Biaya ......................................................................... 7 B. Penggolongan Biaya ................................................................... 11 C. Pengertian dan Unsur Biaya Produksi ........................................ 13 D. Pengertian Harga Pokok Produksi .............................................. 19 E. Metode Penentuan Harga Produksi ............................................ 22 F. Pengertian Variable Costing ....................................................... 25.

(11) G. Penelitian Emperik ..................................................................... 33 H. Kerangka Fikir ............................................................................ 34 BAB III METODE PENELITIAN ............................................................... 36 A. Lokasi dan Waktu Penelitian ...................................................... 36 B. Metode Pengumpulan Data ......................................................... 36 C. Sumber dan Jenis Data ................................................................ 37 D. Metode Analisis Data ................................................................ 38 BAB IV GAMBARAN UMUM PERUSAHAAN ......................................... 39 A. Sejarah Singkat Berdirinya PT. Semen Tonasa .......................... 39 B. Status Perusahaan ....................................................................... 42 C. Struktur Organisasi Perusahaan .................................................. 43 D. Uraian Tugas .............................................................................. 44 E. Proses Produksi .......................................................................... 47 BAB V. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN .............................. 50 A. Analisis Kalkulasi Biaya Produksi Menurut Perusahaan ........... 50 B. Analisis Perhitungan Harga Pokok Produksi menurut Metode Variable Costing ........................................................... 56 C. Pembahasan Hasil penelitian ...................................................... 64. BAB VI SIMPULAN DAN SARAN ............................................................. 66 A. Kesimpulan ................................................................................. 66 B. Saran ........................................................................................... 66 DAFTAR PUSTAKA ....................................................................................... 67 Lampiran-lampiran.

(12) DAFTAR GAMBAR. Gambar 2.1 Arus Biaya Variable Costing ......................................................... 29 Gambar 2.2 Kerangka Fikir ................................................................................ 35 Gambar 4.1 Struktur Organisasi Perusahaan ..................................................... 44.

(13) DAFTAR TABEL. Tabel 5.1 Volume Produksi dan Volume penjualan PT. Semen Tonasa ......... 51 Tabel 5.2 Kebutuhan Bahan Baku dalam Produksi Semen ............................. 52 Tabel 5.3 Biaya Tenaga Kerja Langsung ........................................................ 52 Tabel 5.4 BOP Sebelum Pemisahan Biaya Semi Variabel ............................. 53 Tabel 5.5 Struktur Biaya Produksi Semen ...................................................... 54 Tabel 5.6 Biaya Semi Variabel ........................................................................ 56 Tabel 7.7 Perhitungan Regresi dalam Pemisahan Biaya Semi Variabel, Biaya Perbaikan dan Pemeliharaan ................................. 58 Tabel 5.8 Perhitungan Regresi dalam Pemisahan Biaya Semi Variabel, Biaya Listrik dan Telepon ............................................... 60 Tabel 5.9 Struktur Biaya Produksi Semen Setelah Pemisahan Biaya Semi Variabel ........................................................................ 62 Tabel 5.10 Perbandingan Harga Pokok Produksi menurut Perusahaan Dengan Metode Variable Costing ................................................... 64.

(14) BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Perusahaan sebagai badan usaha memiliki beberapa bentuk tujuan. Tujuan-tujuan tersebut berdasarkan perencanaan yang telah disusun sebelumnya. Diantara tujuan tersebut yang terpenting adalah mendapatkan keuntungan atau laba yang optimum. Hal ini dimaksudkan untuk menunjang kelangsungan hidup dan perluasan usaha. Laba dalam konsep akuntansi adalah sisa pendapatan penjualan setelah dikurangi seluruh beban dalam menjalankan bisnis. Laba yang diperoleh perusahaan ditentukan oleh banyak faktor-foktor, antara lain pendapatan, biaya dan volume penjualan. Pendapatan itu sendiri ditentukan oleh jumlah produk yang terjual dan juga ditentukan oleh harga jual dari produk itu sendiri. Di dalam pasar banyak dijumpai produk-produk yang sejenis yang hanya berbeda merek saja. Hal ini menuntut adanya kemampuan menetapkan harga jual yang tepat dan mampu bersaing, sehingga perusahaan dapat memenangkan persaingan. Sebelum menetapkan harga jual, maka yang perlu dilakukan oleh perusahaan yaitu meningkatkan jumlah produksi agar mencapai laba yang optimal. Hal ini hanya dapat terlaksana jika ditunjang oleh pengelolaan manajemen perusahaan secara efektif dan efisien. Satu hal yang perlu diperhatikan bahwa dalam pengelolaan manajemen perusahaan, faktor utama.

(15) yang dapat menunjang perusahaan. dalam mencapai tujuannya adalah. ketepatan dalam hal pengambilan keputusan, yakni pengendalian biaya produksi demi tercapainya efisisensi. Salah satu faktor yang dapat menunjang suksesnya masing-masing bagian dalam mencapai tujuannya adalah adanya suatu penentuan harga pokok produksi. Penentuan harga pokok produksi yang benar dari suatu produk akan dapat mengurangi ketidakpastian dalam penentuan harga jual. Harga pokok produksi biasanya terdiri dari dua jenis biaya yaitu biaya produksi dan biaya non produksi. Dalam menghitung harga pokok produksi harus diperhatikan unsur-unsur biaya apa saja yang masuk dalam harga pokok produk dan mengalokasikan unsur-unsur biaya tersebut secara tepat sehingga dapat menggambarkan pengorbanan sumber ekonomi yang sesungguhnya. Biaya produksi ini akan membentuk harga pokok produksi yang digunakan untuk menghitung harga pokok produk jadi, sedangkan biaya non produksi akan ditambahkan pada harga pokok produksi untuk menghitung total harga pokok produk. Informasi dan pengumpulan biaya produksi yang tepat akan sangat menentukan perhitungan harga pokok produksi yang tepat pula. Demikian juga dengan perhitungan harga pokok produksi yang benar, akan mengakibatkan penetapan harga jual yang benar pula, tidak terlalu tinggi bahkan terlalu rendah dari. harga pokok, sehingga nantinya mampu. menghasilkan laba sesuai dengan yang diharapkan. Namun jika kalkulasi harga pokok produksi yang kurang tepat akan berpengaruh terhadap harga.

(16) jual, yang berakibat perusahaan tidak mendapatkan laba atau bahkan mengalami kerugian. Kalkulasi harga pokok produksi merupakan permasalahan yang fundamental bagi suatu perusahaan, khususnya dibidang industri, sebab kalkulasi harga pokok produksi berkaitan dengan penentuan harga jual produk tersebut. Dengan pentingnya masalah kalkulasi harga. pokok. produksi dalam kegiatan produksi, maka salah satu faktor yang berpengaruh dalam kegiatan produksi adalah bagaimanakah penerapan metode penentuan harga pokok produksi dalam menetapkan harga pokok produksi dari perusahaan. Dalam kaitannya dengan uraian tersebut diatas, dengan metode penentuan harga pokok produksi dalam kegiatan industri maka akan berpengaruh. terhadap. laba. yang. akan. dicapai,. khususnya. dalam. perhitungan laba rugi. Dengan pentingnya peranan metode penentuan harga pokok produksi, maka perlu adanya penggunaan metode penentuan harga pokok produksi dalam kegiatan operasional perusahaan. Terdapat dua metode dalam penentuan harga pokok produksi yaitu metode full costing dan metode variable costing. Full costing yang biasa juga disebut dengan absorption costing memperhitungkan semua jenis biaya produksi yang terdiri dari biaya bahan baku, biaya tenaga kerja, dan biaya overhead sebagai harga pokok produk tanpa memeperhatikan perilakunya. Laporan yang dihasilkan dari pendekatan ini banyak digunakan untuk memenuhi kebutuhan pihak luar perusahaan..

(17) Untuk penggunaan internal manajemen harga pokok produk dapat menggunakan metode variable costing. Sunarto (2010) variable costing adalah penentuan harga pokok produksi dengan memperhitungkan biaya produksi yang bersifat variable dalam harga pokok produksi, terdiri dari bahan baku, biaya tenaga kerja langsung, dan overhead variable. Biaya-biaya produksi tetap dikelompokkan sebagai biaya periodik bersama-sama dengan biaya tetap non produksi. Metode ini mendapat tanggapan positif dari berbagai pihak karena dapat dengan mudah memahami data yang dihasilkan dan baik digunakan untuk pengambilan keputusan. Harga pokok produksi terdiri dari kumpulan biaya-biaya yang dikeluarkan untuk memperoleh dan mengolah bahan baku menjadi barang jadi. Hansen dan Mowen. (2010) mengemukakan bahwa : Harga pokok. produksi adalah total harga pokok produk yang diselesaikan selama periode berjalan. Harga pokok hasil merupakan perhitungan harga pokok produk produk dengan menunjukkan penyerahan terhadap biaya bahan baku, biaya tenaga kerja dan biaya overhead pabrik. Ketiga biaya tersebut harus di klasifikasikan. sesuai. dengan. jenis,sifat,dan. perilaku. biaya. untuk. menaggulangi ketidakpastian harga pokok produksi serta mengetahui berapa besaran biaya sebenarnya untuk menghasilkan suatu produk. Dalam pengumpulan biaya produksi sangat ditentukan oleh cara berproduksi yaitu produksi atas dasar pesanan dan produksi massa. PT. Semen Tonasa adalah perusahaan yang bergerak dibidang produksi semen, perusahaan yang beralamatkan di Desa Biring Ere, Kecamatan.

(18) Bungoro, Kabupaten Pangkep ini senantiasa mengalami peningkatan dalam menjalankan aktivitas usahanya. Seiring dengan perkembangan tersebut maka masalah yang timbul dalam perusahaan juga semakin rumit, secara khusus penggunaan biaya produksi yang setiap tahun meningkat, sehingga perhitungan harga pokok produksi secara tepat menjadi semakin penting. Oleh karena itu perlu dilakukan langsung evaluasi tentang penggunaan biaya bahan baku, biaya tenaga kerja dan biaya overhead pabrik. Hal-hal tersebut diatas yang merupakan dorongan bagi penulis untuk membahas permasalahan pada PT. Semen Tonasa dengan memilih judul: “Analisis Penerapan Metode Variable Costing sebagai Alat untuk Menghitung Harga Pokok Produksi pada PT. Semen Tonasa”.. B. Rumusan Masalah Berdasarkan latar belakang yang telah dikemukakan, maka yang menjadi masalah pokok dalam penulisan ini adalah: “Apakah metode variable costing tepat dijadikan sebagai alat untuk menghitung harga pokok produksi pada PT. Semen Tonasa”.. C. Tujuan Penelitian Adapun tujuan dari penulisan skripsi ini adalah untuk mengetahui penerapan metode variable costing sebagai alat untuk menghitung harga pokok produksi pada PT. Semen Tonasa..

(19) D. Manfaat Penelitian Hasil Penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat antara lain: a. Manfaat Teoritis Penelitian ini diharapkan dapat memberikan pengetahuan dalam menghitung harga pokok produksi melalui metode variable costing. b. Manfaat Praktisi 1. Bagi instansi, sebagai informasi dalam melakukan perhitungan harga pokok produksi dengan mengunakan metode variable costing. 2. Bagi penulis, sebagai bahan perbandingan dalam menata pola pikir mengenai masalah. penentuan. harga. pokok. produksi. melalui. metode variable costing yang dilakukan oleh perusahaan dengan teori yang telah didapatkan dibangku kuliah..

(20) BAB II TINJAUAN PUSTAKA. A. Pengertian Biaya Informasi biaya yang sistematik dan komparatif serta data analisis biaya dan laba sangat diperlukan dalam usaha mengelola perusahaan. Informasi ini membantu. manajemen. untuk menetapkan sasaran laba. perusahaan, menetapkan target departemen yang menjadi pedoman manajemen menengah dan operasi menuju pencapaian sasaran. akhir,. mengevaluasi keefektifan rencana, mengungkapkan keberhasilan atau kegagalan dalam bentuk tanggung jawab yang spesifik dan menganalisis serta memutuskan pengadaan penyesuaian dan perbaikan agar seluruh organisasi tetap bergerak maju secara seimbang menuju tujuan yang telah ditetapkan. Sistem informasi yang benar sangat diperlukan oleh setiap manajer yang bertanggung jawab. Guna pencapaian tujuan ini, sistem tersebut harus dikomunikasikan secara efektif. Untuk itu, kebutuhan akan pengendalian biaya menjadi hal yang penting. Untuk melaksanakan tanggung jawab perencanaan dan pengendalian biaya, manajer membutuhkan informasi tentang biaya. Dari sudut pandang akuntansi, kebutuhan informasi biaya paling sering berkaitan dengan biayabiaya organisasi. Menghasilkan pendapatan tidaklah menjamin adanya laba. Pengetahuan mengenai biaya-biaya dapat membuat perbedaan signifikan dalam keberhasilan sebuah perusahaan. Entitas-entitas bisnis yang sangat.

(21) memahami dan mengendalikan biaya-biaya biasanya memperoleh sukses yang lebih baik dari pada entitas-entitas yang tidak memahaminya. Tanpa informasi biaya, manajemen tidak memiliki ukuran apakah masukan yang dikorbankan memiliki nilai ekonomi yang lebih rendah dari nilai keluarannya, sehingga tidak ada informasi yang dijadikan dasar untuk mengetahui apakah kegiatan usahanya menghasilkan laba atau sisa hasil usaha yang sangat diperlukan untuk mengembangkan atau mempertahankan eksistensi perusahaannya. Begitu juga tanpa informasi biaya, manajemen tidak memiliki dasar untuk mengalokasikan berbagai sumber ekonomi yang dikorbankan dalam menghasilkan sumber ekonomi lain. Berdasarkan pandangan tersebut, menurut William (2009:30) mengungkapkan secara umum bahwa ; “Biaya adalah suatu nilai tukar, pengeluaran, atau pengorbanan yang dilakukan untuk menjamin perolehan manfaat. Dalam akuntansi keuangan, pengeluaran atau pengorbanan pada tanggal akuisisi dicerminkan oleh penyusutan atas kas atau aset lain yang terjadi pada saat ini atau dimasa yang akan datang”. Perumusan definisi biaya secara umum yang dikemukakan di atas, memiliki ciri-ciri seperti pemakaian barang-barang,keterkaitan dengan suatu tujuan output dan penilaian. Melalui penggunaan ciri-ciri yang lebih dipertajam dengan memperhatikan ciri-ciri tambahan yang diperlukan dapat menghasilkan pengertian biaya secara khusus atau pengertian biaya yang lebih rinci. Pengertian biaya secara khusus merupakan pengertian yang operasional, terutama karena memberi petunjuk tentang jenis pemakaian.

(22) barang-barang, banyaknya pemakaian, kaitan pemakaian dan hasil serta dasar-dasar penilaiannya, sesuai dengan kekhususan masing-masing biaya yang bersangkutan. Muqodim (2005:142) mengungkapkan bahwa : “ Biaya adalah aliran keluar atau penggunaan aktiva, atau terjadinya utang (atau kombinasi di antara keduanya) dari penyerahan atau produksi barang, penyerahan jasa atau pelaksanaan kegiatan atau suatau perusahaan”. Sedangkan Mulyadi (2005:8) mengatakan bahwa : “ Biaya adalah pengorbanan sumber ekonomi, yang diukur dalam satuan uang, yang telah terjadi atau kemungkinan akan terjadi untuk tujuan tertentu. Pengertian biaya yang dikemukakan oleh Prawironegoro (2009:19) adalah : “pengorbanan untuk memperoleh harta, sedangkan beban merupakan. pengorbanan. untuk. memperoleh. pendapatan.. Keduanya. merupakan pengorbanan, namun tujuannya berbeda. Dalam dunia bisnis, semua aktivitas dapat diukur dengan satuan uang yang lazim disebut biaya. Aktivitas itu merupakan pengorbanan waktu, tenaga dan pikiran, material untuk mencapai suatu tujuan tertentu. Tujuan bisnis adalah laba. Oleh sebab itu setiap aktivitas harus diperhitungkan secara benefit cost ratio (perhitungan keuntungan dan pengorbanan). Lebih lanjut Mursyidi ( 2008:14) menyatakan bahwa : “Biaya diartikan sebagai suatu pengorbanan yang dapat mengurangi kas atau harta lainnya untuk mencapai tujuan, baik yang dapat dibebankan pada saat ini maupun pada saat yang akan datang.”.

(23) Berdasarkan definisi yang dikemukakan di atas, terdapat 4 (empat) unsur pokok, yaitu; a. Biaya merupakan Pengorbanan sumber ekonomi b. Diukur dalam satuan uang c. Yang telah terjadi atau secara potensial akan terjadi d. Pengorbanan tersebut untuk tujuan tertentu. Istilah biaya dalam akuntansi, didefinisikan sebagai pengorbanan yang dilakukan untuk mendapatkan barang atau jasa, pengorbanan mungkin diukur dalam kas, aktiva yang ditransfer, jasa yang diberikan dal lain-lain, hal ini diperkuat oleh pendapat Witjaksono (2013:6) bahwa : “Biaya adalah suatu pengorbanan sumber daya untuk mencapai suatu tujuan tertentu”. Berdasarkan definisi-definisi diatas tentang biaya maka digunakan akumulasi data biaya untuk keperluan penilaian persediaan dan untuk penyusunan laporan-laporan keuangan di mana data biaya jenis ini bersumber pada buku-buku dan catatan perusahaan. Tetapi, untuk keperluan perencanaan analisis dan pengambilan keputusan, sering harus berhadapan dengan masa depan dan berusaha menghitung biaya terselubung (imputed cost), biaya deferensial, biaya kesempatan (oppurtinity cost) yang harus didasarkan pada sesuatu yang lain dari baiaya masa lampau. Oleh sebab itu merupakan persyaratan dasar bahwa biaya harus diartikan dalam hubungannya dengan tujuan dan keperluan penggunaannya sehingga suatu permintaan akan data biaya harus disertai dengan penjelasan mengenai tujuan dan keperluan penggunaannya, karena data biaya yang sama belum.

(24) tentu dapat memenuhi semua tujuan dan keperluan.. B. Penggolongan Biaya Penggolongan adalah proses pengelompokan secara sistematis atas keseluruhan elemen yang ada ke dalam golongan-golongan tertentu yang lebih ringkas untuk dapat memberikan informasi yang lebih mempunyai arti atau lebih penting. Akuntansi biaya bertujuan untuk menyajikan informasi biaya yang akan digunakan untuk berbagai tujuan sehingga dalam menggolongkan biaya harus disesuaikan dengan tujuan dari informasi biaya yang akan disajikan. Oleh karena itu, dalam penggolongan biaya perlu diperhatikan untuk apa biaya tersebut digolongkan, untuk tujuan yang berbeda diperlukan cara penggolongan biaya yang berbeda pula, dengan kata lain tidak ada satu cara penggolongan yang dapat dipakai untuk semua tujuan menyajikan informasi biaya. Berikut ini akan disajikan klasifikasi biaya yang sering dilakukan untuk menyajikan informasi biaya sebagaimana yang dikemukakan oleh Rahmawati (2012:17) bahwa klasifikasi biaya bertujuan untuk menyajikan informasi biaya yang digunakan untuk berbagai tujuan,. sehingga. penggolongan biaya juga didasarkan atas disesuaikan dengan tujuan tersebut.. Ada. beberapa. cara. menggolongkan biaya diantaranya :. yang. dapat. di. gunakan. untuk.

(25) 1.. Berdasarkan fungsi pokok perusahaan. 2.. Capital Expenditure (Pengeluaran modal). 3.. Berdasarkan pengaruh manajemen terhadap biaya. 4.. Karakteristik biaya dihubungkan dengan keluarannya. 5.. Pengaruh perubahan volume kegiatan terhadap biaya Selanjutnya oleh Dunia dan Wasilah (2009:23), mengemukakan. bahwa : Klasifikasi biaya diperlukan untuk menyampaikan dan menyajikan data biaya agar berguna bagi manajemen dalam mencapai berbagai tujuannya.. Sebelum. mengalokasikan. biaya. memutuskan dengan. baik,. bagaimana manajemen. menghimpun dapat. dan. melakukan. pengklasifikasian biaya atas dasar : 1.. Obyek biaya a.. Produk. b.. Departemen. 2.. Perilaku biaya. 3.. Periode Akuntansi. 4.. Fungsi manajemen atau jenis kegiatan fungsional. Hal yang serupa diungkapkan oleh Ari Purwanti dan Darsono. (2013:24), bahwa dalam organisasi bisnis pada umumnya menggolongkan biaya menurut kebutuhan informasi. Makin besar organisasi bisnis, biasanya makin rumit dan makin banyak informasi akuntansi dibutuhkan oleh manajemen. Penggolongan biaya dalam suatu organisasi bisnis pada umumnya didasarkan pada:.

(26) a. Penggolongan dasar terdiri dari biaya produksi (production cost) dan biaya usaha (commercial cost), b. Masa akuntansi terdiri dari pengeluaran modal (capital expenditures) dan pengeluaran pendapatan (revenue expenditures), c. Volume kegiatan terdiri dari biaya tetap (tidak mengikuti volume kegiatan) dan biaya variabel (mengikuti volume kegiatan), d. Departemen terdiri dari biaya departemen produksi dan departemen jasa (pembantu produksi), e. Biaya bersama terdiri dari common cost (biaya overhead pabrik) dan joint cost atau biaya gabungan (biaya material), f. Proses analisis terdiri dari differential cost, relevant cost, opportunity cost, g. Sifat kegiatan terdiri dari biaya utama (biaya bahan langsung dan biaya tenaga kerja langsung) dan biaya konversi atau biaya pengolahan (biaya tenaga kerja langsung dan biaya overhead pabrik).. C. Pengertian dan Unsur Biaya Produksi Salah satu faktor yang kerap kali menjadi pertimbangan penting untuk menjalankan usaha dengan baik, terutama bila dikaitkan dengan masalah produksi adalah biaya produksi. Didalam pelaksanaan operasi produk dari suatu perusahaan, biaya produksi merupakan salah satu variabel yang tidak boleh dilupakan. Terkendalinya biaya produksi ini akan merupakan salah satu kunci keberhasilan dari pengendalian produksi secara keseluruhan. Didalam pelaksanaan proses produksi, meskipun seluruh aspek pelaksanaan produksi.

(27) ini dapat dikendalikan dengan cukup baik, namun apabila masalah biaya produksi terlupakan oleh manajemen perusahaan yang bersangkutan maka hal ini berarti pengendalian produksi yang dilaksanakan di dalam perusahaan yang bersangkutan tersebut belum dapat mencapai sasaran dari pengendalian produksi di dalam perusahaan tersebut. Hal ini disebabkan karena walaupun proses produksi dapat berjalan dengan lancar dan baik, kualitas produk cukup memadai, namun apabila tidak didukung dengan usaha untuk dapat menekan biaya produksi menjadi serendah-rendahnya akan dapat berakibat naiknya biaya produksi di atas batas-batas yang wajar. Dengan naiknya biaya produksi ini, maka harga pokok produksi akan menjadi naik pula di atas batas yang wajar sehingga harga pokok penjualan dari perusahaan yang bersangkutan tersebut akan menjadi naik pula. Dalam keadaan demikian, maka perusahaan yang bersangkutan tersebut akan mengalami kesulitan didalam melaksanakan pemasaran dari produk perusahaan yang bersangkutan. Dalam kaitan dengan produksi dan biaya, ada tiga hal penting yang perlu. diperhatikan.. Pertama,. memproduksi barang dalam. kata. produksi. tidak. hanya. industri, melainkan lebih luas. diartikan dari. itu.. Pengertian produksi mencakup produksi barang maupun memberikan jasa. Dengan begitu, perusahaan dagang juga melakukan proses produksi, yang terdiri dari pembelian, penyimpanan barang dagangan, pengemasan, penjualan, memberikan kredit penjualan, dan sebagainya. Kedua,dalam uraian di atas pengertian biaya tidak terbatas pada pengorbanan yang dinyatakan dalam nilai moneter. Kalau kita membatasinya pada pengertian ini.

(28) saja, kita akan menyimpang dari gambaran umum yang berlaku di dunia usaha. Ketiga, kita harus membedakan dengan tajam antara biaya dan uang yang dikeluarkan. Kita berbicara mengenai biaya untuk alat-alat produksi yang dikorbankan. dalam proses produksi. Sedangkan pengeluaran uang. terjadi saat harga beli dari alat-alat produksi itu dibayarkan, walaupun masih belum dipakai dalam proses produksi. Sebelum membahas lebih jauh tentang biaya produksi, terlebih dahulu harus diketahui tentang pengertian biaya produksi, sebagaimana yang dikemukakan oleh Siswanto dan Muhadi (2005:4) bahwa : “Biaya produksi adalah biaya-biaya yang sejak terjadinya sudah mempunyai hubungan kausal (sebab akibat) dengan kesatuan produk yang dibiayai”. Pengertian lain tentang biaya produksi, dikemukakan pula oleh Mursyidi (2008:76) : “Biaya produksi adalah biaya yang dialokasikan ke unit produk yang di transfer ke departemen berikut, dan unit yang masih dalam proses (barang dalam proses akhir) yang dibagi menjadi bahan baku,tenaga kerja,dan biaya overhead pabrik. Sedangkan menurut Mulyadi (2014:14) bahwa : “ Biaya produksi merupakan biaya-biaya yang terjadi untuk mengolah bahan baku menjadi produk jadi yang siap untuk dijual, contohnya biaya depresiasi mesin dan ekuipmen, biaya bahan baku, biaya bahan penolong, biaya gaji karyawan yang bekerja dalam bagian-bagian, baik yang lansung maupun tidak langsung berhubungan dengan proses produksi.”.

(29) Biaya produksi akan diperlakukan sebagai beban atas pendapatan untuk tujuan penentu rugi-laba, apabila produk yang bersangkutan terjual. Karena itu, biaya produksi dianggap tetap melekat pada produk selesai dan produk dalam proses pada akhir suatu periode, sampai dengan saat produk dijual kepada pihak lain dalam bentuk produk selesai pada periode akuntansi berikutnya. Sugiri (2009:17) menyatakan bahwa : “ Biaya produksi pada perusahaan manufaktur terdiri atas elemen-elemen biaya bahan baku, biaya tenaga kerja dan biaya overhead pabrik”. Dari uraian tersebut diatas dapat disimpulkan bahwa biaya produksi adalah biaya yang berhubungan langsung dengan produksi dari suatu produk yang terdiri dari biaya bahan baku, biaya tenaga kerja dan biaya overhead pabrik yang diberlakukan sebagai persediaan selama proses produksi berlangsung. Untuk menentukan harga pokok produk yang diperlukan suatu dasar penilaian persediaan dan penentuan rugi laba periodik. Disamping itu biaya produksi perlu diklasifikasikan menurut jenis atau obyek pengeluarannya. Hal ini penting agar pengumpulan data biaya dan alikasinya yang seringkali menuntut adanya ketelitian yang tinggi, seperti misalnya, penentuan tingkat penyelesaian produk dalam proses produksi secara massal dapat dilakukan dengan mudah. Bahan baku. adalah bahan yang digunakan untuk. membentuk. produk selesai. Bahan baku dapat diidentifikasikan ke produk dan merupakan.

(30) bagian integral dari produk tersebut. Bahan baku juga merupakan bahan utama yang dipakai di dalam produksi yang kemudian diproses menjadi produk jadi melalui penambahan upah langsung dan biaya overhead pabrik. Biaya bahan baku adalah nilai uang bahan baku yang digunakan dalam proses produksi, atau dengan kata lain biaya bahan baku adalah biaya yang timbul karena pemakaian bahan baku. Biaya bahan baku meliputi harga pokok dari semua bahan yang secara praktis dapat diidentifikasi sebagai bagian produk selesai. Misalnya, papan atau kayu pada perusahaan produsen meubel, pasir dan semen pada perusahaan tegel. Tidak semua bahan yang dipakai dalam pembuatan suatu produk diklasifikasikan sebagai bahan baku. Paku dan lem pada perusahaan produsen meubel, umpamanya tidak diklasifikasikan sebagai bahan baku. Ini disebabkan oleh karena biaya yang diperlukan untuk pengidentifikasiannya dianggap tidak sebanding dengan manfaat yang didapat dari ketelitian harga pokok produknya. Bahanbahan yang relatif kecil nilainya seperti itu disebut bahan penolong dan diklasifikasi sebagai bagian dari biaya produksi tidak langsung. Biaya tenaga kerja adalah biaya yang dikeluarkan untuk membayar para pekerja dan pegawai yang bekerja pada suatu perusahaan. Biaya tenaga kerja pada fungsi produksi lebih lanjut diklasifikasikan menjadi biaya tenaga kerja langsung dan biaya tenaga kerja tidak langsung. Biaya tenaga kerja langsung adalah jumlah upah yang dibayarkan kepada tenaga kerja yang langsung menangani proses produksi. Gaji dan upah operator mesin merupakan biaya tenaga kerja langsung. Sedangkan biaya tenaga kerja tidak.

(31) langsungnya adalah jumlah upah yang dibayarkan kepada tenaga kerja yang secara tidak langsung menangani kegiatan dalam proses produksi. Gaji dan upah mandor adalah salah satu contoh dari biaya tenaga kerja tidak langsung. Biaya overhead pabrik adalah biaya produksi selain biaya bahan baku dan biaya tenaga kerja langsung. atau semua biaya produksi tak. langsung. Biaya-biaya selain bahan baku dan tenaga kerja langsung yang diperlukan untuk memproduksi barang disebut biaya overhead pabrik (factory overhead atau manufacturing overhead atau factory burden). Hubungan biaya overhead terhadap produk adalah hubungan tak langsung. Oleh karena itu, biaya ini disebut juga biaya tak langsung. Biaya-biaya yang termasuk dalam klasifikasi overhead pabrik adalah unsur-unsur biaya berikut : bahan tak langsung, upah tak langsung, penyusutan mesin dan peralatan pabrik, penyusutan gedung pabrik, bahan habis pakai untuk pabrik, pajak bumi dan bangunan. (PBB) untuk gedung. pabrik, biaya pemeliharaan mesin-mesin dan peralatan pabrik, dan biaya listrik untuk penerangan dan pembangkit tenaga listrik. Untuk menentukan harga pokok produksi sebagai dasar penilaian persediaan, terdapat perbedaan yang fundamental tentang apa yang harus dilakukan terhadap biaya produksi langsung dan biaya overhead pabrik. Untuk biaya produksi langsung pengumpulan data biaya dilakukan dengan menggunakan dokumen-dokumen transaksi seperti, surat permintaan bahan untuk bahan baku, dan jam kerja untuk tenaga kerja langsung. Melalui dokumen tersebut dicatat data kuantitas dan harga atau tarif per satuannya.

(32) pada setiap kali terjadi transaksi pemakaian bahan baku atau pelaksanaan suatu order produksi. Sedangkan biaya overhead pabrik, tidak dapat diidentifikasi secara langsung kepada produk tertentu, sebab manfaatnya dinikmati oleh semua produk yang dihasilkan oleh perusahaan dan hanya dapat dialokasikan kepada masing-masing produk berdasar pada suatu taksiran. Untuk mengatasi hal ini, perusahaan pada umumnya menetapkan jumlah biaya overhead pabrik untuk jangka waktu tertentu, misalnya satu tahun, kemudian membebankannya kepada produk yang dihasilkan dalam jangka waktu tersebut berdasarkan tarif tertentu.. D. Pengertian Harga Pokok Produksi Sebagaimana diketahui bahwa biaya adalah merupakan bagian dari pada harga pokok produksi yang dikorbankan dalam usaha untuk memperoleh penghasilan, sedangkan harga pokok dapat pula disebut dengan bagian dari pada harga pokok perolehan atau harga beli aktiva yang. ditunda pembebanannya. Sehingga dapat dikatakan bahwa biaya. produksi adalah biaya yang terjadi dalam hubungannya dengan proses pengolahan bahan baku menjadi produk jadi. Biaya produksi dapat dibagi menjadi tiga elemen yaitu bahan baku, biaya tenaga kerja dan biaya overhead pabrik. Istilah harga pokok dalam manajemen biaya atau akuntansi biaya disebut pula sebagai biaya pokok produksi atas pembuatan suatu produk. Biaya pokok ini terdiri dari bermacam-macam unsur biaya. Istilah harga.

(33) pokok tidak dapat dipisahkan dari persoalan yang menyangkut biaya. Dengan perkataan lain, biaya adalah unsur yang menentukan harga pokok suatu produk Dengan demikian harga pokok merupakan biaya yang seharusnya dikeluarkan untuk memproduksi suatu barang atau jasa. Perlu diketahui bahwa biaya penjualan dan biaya administrasi umum tidak termasuk harga pokok produksi. Biaya merupakan bagian dari pada harga pokok produksi yang dikorbankan dalam usaha untuk memperoleh penghasilan, sedangkan harga pokok dapat pula disebut dengan bagian dari pada harga pokok perolehan atau harga beli aktiva yang ditunda pembebannya. Sehingga dapat dikatakan bahwa biaya produksi adalah biaya yang terjadi dalam hubungannya dengan proses pengolahan bahan baku menjadi produk jadi. Biaya produksi dapat dibagi menjadi tiga elemen yaitu bahan baku, biaya tenaga kerja dan biaya overhead pabrik. Harga pokok produk merupakan elemen penting untuk menilai keberhasilan dari perusahaan dagang dan manufaktur. Harga pokok produk mempunyai kaitan erat dengan indikator-indikator tentang sukses perusahaan, seperti misalnya laba kotor penjualan dan laba bersih. Tergantung pada rasio antara harga jual dan harga produknya. Perubahan pada harga pokok produk yang relatif kecil biasa jadi berdampak signifikan pada indikator keberhasilannya. Informasi biaya bermanfaat untuk menentukan harga pokok-pokok yang dihasilkan oleh organisasi (perusahaan). Harga pokok produk.

(34) merupakan akumulasi dari biaya-biaya yang dibebankan pada produk yang dihasilkan oleh perusahaan. Dalam penentuan harga pokok produk, akuntansi biaya merupakan bagian dari akuntansi keuangan. Penentuan harga pokok produk digunakan untuk menghitung laba atau rugi perusahaan yang akan dilaporkan kepada pihak eksternal perusahaan. Informasi mengenai harga pokok produk menjadi dasar bagi manajemen dalam pengambilan keputusan harga jual produk yang bersangkutan. Armanto Wijatsono (2006 : 25) mengemukakana bahwa : ” Harga pokok produksi adalah tata cara atau metode penyajian informasi biaya produk dan jasa berdasarkan informasi dari sistem akuntansi biaya dan sistem biaya ”. Mursyidi (2008 : 85) harga pokok produksi menyajikan informai tentang : 1. Data produksi, yaitu bahan yang diproses, produk yang dihasilkan, produk dalam proses, dan produk yang hilang 2. Biaya produksi yang dibebankan selama periode tertentu dengan merinci jenis biaya produksi : bahan baku, tenaga kerja, dan biaya overhead pabrik baik jumlah maupun biaya persatuan 3. Biaya yang diperhitungkan baik untuk produk selesai maupun produk dalam proses akhir. Dengan demikian, maka harga pokok produksi adalah seluruh biaya yang dikeluarkan oleh perusahaan di dalam membuat suatu produk.

(35) tertentu. Salah satu unsur yang sangat penting adalah masalah pengendalian biaya produksi sebab seperti diketahui bahwa seringkali perusahaan di dalam memproduksi suatu bahan baku menjadi produk jadi guna dipasarkan kepada konsumen dengan sasaran laba yang semaksimal mungkin, sehingga untuk mengatasi masalah tersebut di atas, maka diperlukan suatu metode penentuan harga pokok produksi yang dapat digunakan oleh perusahaan yang bersangkutan di dalam menghitungkan berapakah besarnya harga pokok produksi jika perusahaan memproduksi produk jadi dan berapa besarnya laba.. E. Metode Penentuan Harga Produksi Metode. penentuan. harga. pokok. produksi. adalah. cara. memperhitungkan unsur-unsur biaya ke dalam harga pokok produksi. Dalam memperhitungkan unsur-unsur biaya ke dalam harga pokok produksi, menurut Mulyadi (2014) terdapat dua pendekatan yaitu : 1. Full Costing Full costing adalah metode penentuan harga pokok produk dengan memasukkan seluruh komponen biaya produksi sebagai unsur harga pokok, yang meliputi biaya bahan baku, biaya tenaga kerja langsung, biaya overhead pabrik variabel dan biaya overhead pabrik. tetap. Didalam. metode full costing, biaya overhead pabrik yang bersifat variabel maupun tetap dibebankan kepada produk yang dihasilkan atas dasar tarif yang ditentukan dimuka pada kapasitas normal atau atas dasar biaya overhead.

(36) pabrik sesungguhnya. Oleh karena itu biaya overhead pabrik tetap akan melekat pada harga pokok persediaan produk selesai yang belum dijual, dan baru dianggap sebagai biaya (elemen harga pokok penjualan) apabila produk selesai tersebut tidak dijual. 2. Variable Costing Variable costing adalah metode penentuan harga pokok yang hanya memasukkan komponen biaya produksi yang bersifat variabel sebagai unsur harga pokok, yang meliputi biaya bahan baku, biaya tenaga kerja langsung, dan biaya overhead pabrik variabel. Menurut Mursyidi (2008 : 29) mendefinisi bahwa penentuan harga pokok produksi adalah pembebanan unsur biaya produksi terhadap produk yang dihasilkan dari suatu proses produksi, artinya penentuan biaya yang melekat pada produk jadi dan persediaan barang dalam proses. Cara penentuan harga pokok produksi sendiri ada dua yaitu full costing dan variabel costing. Metode. pengumpulan. harga. pokok. produksi. adalah. cara. mengumpulkan unsur-unsur biaya ke dalam harga pokok produksi. Dalam mengumpulkan unsurunsur biaya ke dalam harga pokok produksi, terdapat dua pendekatan yaitu : 1. Biaya Proses (Process Cost) Dirancang untuk pengendalian biaya perusahaan yang banyak memproduksi barang-barang. Misalnya, perusahaan pengolahan makanan akan memproduksi 1.000 kaleng makanan setiap hari. Penekanan.

(37) pengendalian dalam perusahaan ini tidak pada pekerjaan individual atau unit individual (kaleng makanan). Penekanannya ditempatkan pada pengendalian proses pengoperasian atau departemen dalam perusahaan pabrik yang baik memproduksi bagian-bagian mobil (contoh lain) dapat diorganisasikan pembubutan,. kedalam. empat. departemen,. yakni:. departemen. departemen pemotongan, departemen perakitan, dan. departemen pengecatan. Dalam sistem akuntansi biaya proses. Catatancatatan biaya akan digunakan oleh departemen. Tiga elemen biaya (bahan mentah, tenaga kerja langsung, dan overhead pabrik) kemudian akan dianalisis dan dikendalikan untuk tiap-tiap departemen secara terpisah. 2. Biaya Pesanan (Job Order) Dirancang untuk pengendalian biaya perusahaan yang memproduksi pesananpesanan individual atau pekerjaan-pekerjaan individual. Misalnya kebiasaan operasi pengecatan mungkin akan menggunakan sistem akuntansi biaya pesanan. Perusahaan yang, membuat kapal juga mungkin akan menggunakan sistem akuntansi biaya pesanan. Perusahaan yang membuat kapal juga mungkin akan menggunakan sistem akuntansi biaya pesanan pekerjaan. Dalam sistem ini catatan biaya individual dihitung untuk tiap-tiap pekerjaan. Catatan tersebut kemudian diakumulasikan untuk bahan informasi pada biaya-biaya bahan mentah, tenaga kerja langsung, dan overhead pabrik untuk tiap-tiap pekerjaan. Harga penjualan dari pekerjaan dapat dibandingkan dengan total biaya dari pekerjaan tersebut dan tiga elemen biaya untuk pekerjaan (bahan mentah, tenaga.

(38) kerja langsung, dan overhead pabrik) dapat dianalisis untuk tujuan pengendalian dan dapat digunakan sebagai suatu dasar harga yang akan datang dari masing-masing pekerjaan.. F. Pengertian Variable Costing Penilaian. prestasi. manajer. seringkali. dikaitkan. dengan. kemampuannya dalam meningkatkan laba perusahaan atau suatu divisi yang dibawah kendalinya. Perubahan laba dari suatu periode ke periode berikutnya dan perbedaan antara budget laba dengan realisasi merupakan dasar untuk menilai kemampuan manajemen. Secara umum, seorang manajer mempunyai asumsi bahwa : 1. Jika penjualan meningkat dibanding periode sebelumnya, sedangkan biaya tidak berubah, maka laba seharusnya ikut naik 2. Jika. penjualan menurun dibanding periode sebelumnya, sedangkan. biaya tidak mengalami perubahan, maka laba seharusnya ikut turun. 3. Jika penjualan tidak berubah dibanding periode sebelumnya, sedangkan biaya tidak mengalami perubahan, maka laba seharusnya tetap. Dalam metode variable costing produk hanya dibebani biaya variabel, yaitu biaya bahan baku langsung, biaya tenaga kerja langsung, dan biaya overhead variabel. Kebaikan variable costing dapat dipandang dari segi kegunaan data yang diperoleh dari metode tersebut dan juga dari kesesuaiannya dengan teori akuntansi yang umum. Beberapa anggota manajemen berpendapat bahwa variable costing.

(39) menyediakan data yang lebih dapat dimengerti mengenai biaya, volume, pendapatan, dan laba kepada manajemen yang tidak ahli dalam teknik dan prosedur akuntansi. Metode variable costing menyajikan data biaya dalam hubungannya dengan pendapatan dalam bentuk yang sederhana tanpa menyebabkan penyimpangan laba selama periode terjadinya fluktuasi produksi dan penjualan, karena variabel cenderung berubah sesuai dengan penjualan. Lebih jauh lagi, metode variable costing membantu perencanaan manajemen sebab variable costing memberikan gambaran yang lebih jelas tentang efek tambahan produksi terhadap biaya dan laba. Menurut Mulyadi (2005:122) mengemukakan bahwa variable costing adalah metode penentuan harga pokok produksi yang hanya memberikan biaya-biaya produksi variabel saja ke dalam harga pokok produk. Harga pokok produk menurut variable costing terdiri dari : Biaya bahan baku. Rp. xxx. Biaya tenaga kerja langsung. xxx. Biaya overhead pabrik variabel. xxx. Harga pokok produk. xxx. Menurut Witjaksono (2013:184) mengemukakan bahwa : “variable costing diperlukan sebagai biaya-biaya periode. Konsekuensi akan terdapat perbedaan dalam pelaporan jumlah laba periode yang dilaporkan keuangan (Income Statement)”. Dengan asumsi bahwa dari waktu ke waktu tidak terdapat perbedaan atau perubahan dalam jumlah unit produk yang.

(40) diproduksi dan atau dijual. Pendekatan ini juga dikenal sebagai pendekatan biaya langsung (variabel costing approach) karena biaya variabel yang menjadi harga pokok dalam perhitungannya terdiri dari biaya-biaya langsung. Dalam pendekatan ini hanya biaya-biaya produksi yang berubah sejalan dengan perubahan output yang diperlakukan sebagai elemen harga pokok produk. Jika perusahaan menggunakan metode variable costing, maka seperti yang dikemukakan diatas bahwa biaya tetap perlu dipisah menjadi biaya tetap langsung dan biaya tetap bersama. Biaya tetap langsung adalah biaya tetap yang dapat ditelusuri secara langsung. pada suatu. segmen atau dapat dihindarkan jika segmen tersebut dihilangkan karena terjadinya biaya tersebut disebabkan oleh segmen bersangkutan. Contoh biaya tetap langsung adalah gaji pengawas produk tertentu atau penyusutan mesin. Sedangkan biaya tetap bersama adalah biaya yang disebabkan adanya dua atau lebih segmen secara bersama dalam perusahaan. Biaya ini masih tetap dikeluarkan perusahaan sekalipun salah satu segmen ditutup. Contoh biaya bersama adalah gaji manajer atau penyusutan gedung pabrik. Variable costing adalah metode penentuan harga pokok produksi yang hanya memperhitungkan biaya produksi yang berperilaku variabel ke dalam harga pokok produksi, yang terdiri dari biaya bahan baku, biaya tenaga kerja langsung, dan biaya overhead pabrik variabel. Dengan demikian harga pokok produksi menurut metode variable costing terdiri dari unsur biaya produksi berikut ini :.

(41) Biaya bahan baku. Rp. xxx. Biaya tenaga kerja langsung. xxx. Biaya overhead pabrik variabel. xxx. Harga pokok produk. xxx. Dalam pendekatan variable costing, dari semua unsur biaya produksi hanyalah biaya-biaya produksi variabel yang diperhitungkan sebagai elemen harga pokok produksi. Oleh karena itu pendekatan variable costing bagi manajemen. lebih. baik. digunakan. sebagai. alat. perencanaan. laba,. pengendalian biaya dan pengambilan keputusan-keputusan jangka pendek yang tidak mengharuskan pertimbangan tentang biaya-biaya non produksi. Dalam arus biaya variable costing elemen biaya periodik terdiri dari biaya overhead tetap ditambah biaya administrasi dan penjualan. Elemen harga pokok produksinya hanya terdiri dari komponen biaya overhead variabel serta biaya bahan baku dan tenaga kerja langsung, tidak termasuk biaya overhead tetap. Sehingga dapat digambarkan sebagai berikut:.

(42) Gambar 2.1 Arus Biaya Variable Costing Biaya Periodik Harga Pokok Produksi Biaya penjualan, administrasi. Biaya overhead tetap. Biaya overhead variabel. Biaya bahan Baku tenaga kerja langsung. Persediaan barang dalam proses. Biaya periodik. beban pokok penjualan. Persediaan akhir. Sumber: Samryn (2012:70). Metode variable costing ini juga dikenal pula dengan sebutan direct costing. Pengertian langsung dan tidak langsungnya suatu biaya tergantung kepada erat tidaknya hubungan biaya dengan obyek penentuan biaya, misalnya : produk, proses, departemen, dan pusat biaya yang lain. Dalam hubungannya dengan produk, biaya langsung (direct costing) adalah biaya yang mudah diidentifikasikan (atau diperhitungkan) secara langsung kepada produk. Apabila pabrik hanya memproduksi satu jenis produk, maka semua biaya produksi adalah merupakan biaya langsung dalam hubungan dengan produk. Oleh karena itu tidak selalu biaya langsung dalam hubungannya dengan produk merupakan biaya variabel..

(43) Sebagai contoh misalnya suatu pabrik mori hanya menghasilkan satu jenis produk yang berupa mori saja. Upah tenaga kerja pabrik yang dibayar bulanan dan tidak tergantung dari hasil produksinya, merupakan biaya langsung terhadap produk mori tersebut, namun bukan merupakan biaya variabel, karena tidak berubah sebanding dengan perubahan volume produksi. Metode direct costing ini berhubungan dengan penentuan harga pokok produk yang hanya memperhitungkan biaya produksi yang berperilaku variabel, dan bukan biaya langsung (direct costing) saja. Dalam metode variable costing, biaya overhead pabrik tetap diperlakukan sebagai period costs dan bukan sebagai unsur harga pokok produk, sehingga biaya overhead pabrik tetap di bebankan sebagai biaya dalam periode selanjutnya. Dengan demikian biaya overhead pabrik tetap di dalam metode variable costing tidak melekat pada persediaan produk yang belum laku dijual, tetapi langsung dianggap sebagai biaya dalam periode terjadinya. Beberapa keunggulan yang dimiliki jika perusahaan menggunakan metode variable costing dalam penentuan harga pokok produksi adalah sebagai berikut: 1. Laba akan terarah pada penjualan karena laba yang diperoleh tidak dipengaruhi oleh tingkat persediaan 2. Manajer selalu berasumsi bahwa yang dinamakan biaya produksi hanyalah yang bersifat variabel saja, sehingga akan menjadi masalah jika diterapkan full costing karena disamping ada biaya produksi variabel juga.

(44) dimasukkan unsur biaya tetap, 3. Variable costing berkaitan dengan standar costing dan flexible budget, 4. Laba netto berdasarkan variable costing lebih dekat kaitannya dengan net cash flow daripada full costing terutama pada perusahaan yang mengalami masalah serius dengan cash flow. 5. Data variable costing memudahkan estimasi tingkat profitabilitas produk, konsumen dan segmen bisnis lainnya. 6. Pada variable costing, dampak fixed cost terhadap laba sangat jelas. Jika dihubungkan dengan pihak-pihak yang memakai laporan biaya, maka variable costing bertujuan sebagai berikut: 1. Untuk pihak internal, variable costing digunakan untuk tujuan-tujuan: a. Perencanaan laba Dalam jangka pendek, biaya tetap tidak berubah dengan adanya perubahan volume kegiatan, sehingga hanya biaya variabel yang perlu dipertimbangkan oleh manajemen. b. Pengambilan keputusan oleh manajemen Dalam pengambilan keputusan terutama keputusan khusus manajemen, akan lebih tepat dengan menggunakan metode variable costing. c. Pengendalian biaya. Biaya tetap dalam variable costing dapat dikelompokan dalam dua kategori yaitu discretionary fixed cost adalah biaya yang berperilaku tetap karena kebjakan manajemen, dalam jangka pendek biaya ini dapat dikendalikan oleh manajemen. Committed fixed cost adalah.

(45) biaya yang timbul dari pemilikan pabrik, ekuipmen dan organisasi pokok, dalam jangka pendek biaya ini tidak dapat dikndalikan. 2. Untuk pihak eksternal, meskipun tujuan utamanya untuk pihak internal, konsep variable costing dapat pula digunakan oleh pihak eksternal untuk tujuan: a. Penentuan harga pokok persediaan b. Penentuan laba Tujuan eksternal tersebut hanya dapat dicapai apabila laporan yang disusun atas dasar variabel costing disesuaikan dengan teknik-teknik tertentu, menjadi laporan yang disusun atas dasar konsep harga pokok penuh (full costing), sebab konsep variabel costing tidak sesuai dengan teori akuntansi yang berlaku umum. Meskipun variable costing banyak menarik perhatian, namun masih kontroversial, karena seperti yang telah disinggung sebelumnya bahwa metode ini tidak sesuai dengan teori akuntansi. Pengukuran laba dalam teori akuntansi tradisional didasarkan pada penandingan pendapatan dengan biaya yang menyebabkan pendapatan tersebut. Dalam metode absorption costing harga pokok meliputi semua biaya variabel dan biaya non variabel. Biaya ini dibandingkan dengan pendapatan penjualan pada periode terjadinya penjualan barang-barang. Sedangkan metode variable costing hanya menandingkan biaya produksi variabel dengan pendapatan. Ada keterbatasan–keterbatasan lain dari variable costing, salah satu kelemahannya adalah dalam pemisahan biaya tetap dan biaya tidak tetap dan.

(46) biaya variabel. Meskipun teknik statistik yang canggih digunakan untuk memisahkan biaya menjadi biaya tetap dan biaya variabel, teknik ini mungkin menyebabkan kesimpulan yang keliru. Prosedur pemisahan tersebut seringkali menggunakan data historis yang disesuaikan untuk membentuk kelompok biaya tetap dan biaya variabel di masa yang akan datang, tetapi terjadinya kejadian- kejadian yang tidak dapat diperkirakan mungkin memiliki pengaruh yang nyata terhadap kategori biaya yang telah ditetapkan tersebut.. G. Penelitian Emperik Penelitian yang dikemukakan oleh Maria 2011, Analisis Penerapan Variabel Costing Sebagai Alat Pengambilan Keputusan Produksi pada PT. Semen Gresik, Fakultas Ekonomi Universitas Ubaya, Surabaya. Dari hasil analisis mengenai penerapan variable costing menunjukkan bahwa perusahaan menerapkan kalkulasi harga pokok produksi dengan metode variable. costing.. Kelengkapan. unsur-unsur. biaya. produksi. dalam. perhitungan harga pokok produksi dengan pendekatan variable costing telah dijadikan sebagai alat pengambilan keputusan produksi. Hal ini disebabkan karena dalam penyajian unsur-unsur biaya produksi perusahaan telah memisahkan biaya variabel dengan biaya tetap. Selanjutnya. Musdalifah. (2014). dengan. judul. penelitiannya,. Penerapan Metode Variable Costing Dalam Penentuan Harga Jual Pada PT. Cahaya Murni Raya Industri, Universitas Sam Ratulangi, Manado..

(47) Mengemukakan bahwa untuk mencapai penganggaran yang efektif dan efisien perlu didukung oleh informasi yang tepat dan akurat. Informasi tersebut akan sangat berpengaruh dalam proses pengambilan keputusan sehubungan dengan usaha perusahaan untuk mencapai tujuan. Berdasarkan hasil analisa yang diadakan penulis maka penentuan harga jual perusahaan lebih rendah dibandingkan penentuan harga jual menggunakan metode variabel costing. PT. Cahaya Murni Raya Industri didalam penentuan harga jual masih belum optimal, dan sebaiknya menggunakan metode variabel costing agar laba yang diharapkan dapat tercapai sesuai tujuan.. H. Kerangka Fikir PT. Semen Tonasa adalah merupakan perusahaan yang bergerak dalam bidang produksi semen, sebagai perusahaan industri maka salah satu hal yang perlu diperhatikan oleh perusahaan adalah mengenai penentuan harga pokok produksi yang dimaksudkan untuk menetukan harga jual agar biaya yang dikeluarkan untuk memproduksi produk sebanding dengan perolehan laba yang diharapkan. Adapun metode penentuan harga pokok produksi yang dilakukan oleh perusahaan adalah dengan mengunakan variable costing. Variable costing. adalah. metode. penentuan. harga. pokok. produksi. dengan. memperhitungkan biaya-biaya produksi yang terdiri dari biaya bahan baku, biaya tenaga kerja langsung dan biaya overhead pabrik variable. Ketiga biaya-biaya ini perlu diperhatikan oleh perusahaan agar perusahaan dapat.

(48) memperoleh laba sesuai dengan yang diharapkan. Variable costing dapat membantu manajemen dalam menentukan harga jual yang tepat untuk mencapai laba tertentu. Berdasarkan uraian-uraian di atas, kerangka pemikiran dapat dikemukakan dengan gambar berikut ini : Gambar 2.2 Kerangka Fikir. PT. Semen Tonasa. Metode Variable Costing. Penentuan Harga Pokok Produksi.

(49) BAB III METODE PENELITIAN. A. Lokasi dan Waktu Penelitian Penelitian ini akan dilakukan di PT. Semen Tonasa yang beralamatkan di Desa Biring Ere, Kecamatan Bungoro, Kabupaten Pangkep. Sedangkan waktu yang diperlukaan untuk penelitian hingga pembahasan dalam bentuk penulisan skripsi membutuhkan waktu kurang lebih dua bulan lamanya yaitu mulai tanggal 1 Maret s.d 30 April 2015.. B. Metode Pengumpulan Data Dalam upaya menghasilkan hasil yang sebenarnya sesuai dengan apa yang akan dilaporkan oleh penulis, maka penulis menggunakan teknik pengumpulan data melalui : 1. Penelitian lapangan (Field Research) yaitu penelitian langsung pada obyek yang diteliti dengan menggunakan cara : a.. Observasi Teknik observasi dilakukan dengan mengadakan pengamatan secara langsung dalam proses kegiatan pengolahan data biaya produksi, dan data lainnya yang menunjang pembahasan skripsi ini..

(50) b.. Interview Interview dilakukan wawancara secara langsung dengan pimpinan perusahaan, kepala bagian produksi dan sejumlah personil yang berhubungan dengan penulisan skripsi ini. 2. Penelitian Pustaka (Library Research), yaitu penelitian yang dilakukan dengan cara mengumpulkan, membaca dan mempelajari literatur yang berhubungan dengan masalah yang dibahas. Hal ini dimaksudkan untuk memperoleh landasan teori tentang permasalahan yang akan dibahas. 3. Mengakses website atau situs-situs yang menyediakan informasi yang berkaitan dengan masalah dalam penelitian ini.. C. Sumber dan Jenis Data Kuncoro (2009:33) menyatakan berdasarkan sumbernya, sumber data umumnya berasal dari: a. Data primer atau data internal yaitu data yang diperoleh dengan survei lapangan yang menggunakan semua metode pengumpulan data original. b. Data sekunder atau data eksternal yaitu data yang telah dikumpulkan oleh lembaga pengumpul data dan dipublikasikan kepada masyarakat pengguna alat. Sumber data dalam penelitian ini adalah: a. Data primer, penulis meneliti secara langsung pada obyek penelitian dengan jalan menyusun daftar pertanyaan, mengadakan wawancara langsung pada bagian keuangan dan akuntansi serta bagian produksi..

(51) b. Data sekunder, yaitu data yang diperoleh dari perusahaan baik berupa biaya bahan baku, biaya tenaga kerja dan BOP serta informasi tertulis dari pihak lain dalam kaitannya dengan pembahasan skripsi ini. Jenis data yang penulis gunakan dalam penelitian ini adalah: a. Data kuantitatif, berupa data yang berhubungan dengan penetapan harga pokok produk perusahaan. b. Data kualitatif, berupa sejarah singkat perusahaan, struktur organisasi, proses produksi dan informasi lainnyayang relevan dengan penulisan ini.. D. Metode Analisis Data Berdasarkan masalah pokok dan tujuan yang ingin dicapai maka metode analisis yang digunakan dalam pembahasan ini adalah analisis deskriktif kuantitatif yaitu suatu analisis yang menguraikan metode penentuan harga pokok produksi dengan analisa variable costing yang dapat dihitung dengan rumus sebagai berikut: Persediaan awal bahan baku. xxx. Pembelian bahan baku (netto). xxx. Tersedia untuk digunakan. xxx. Persediaan akhir bahan baku. (xxx). Biaya bahan baku. xxx. Biaya tenaga kerja langsung. xxx. Biaya overhead pabrik variabel. xxx. Harga pokok produksi variabel. xxx.

(52) BAB IV GAMBARAN UMUM PERUSAHAAN. A. Sejarah Singkat Berdirinya PT. Semen Tonasa PT. Semen Tonasa merupakan BUMN ( Badan Umum Milik Negara ) yang didirikan berdasarkan TAP MPRS No. II/MPRS/1960, mengenai pola proyek bidang produksi golongan A I 1953 No. 54. Namun pada tanggal 01 April 1971, PT. Semen Tonasa ditetapkan menjadi Perusahaan Umum (perum) melalui PP No. 54 tahun 1971. PT. Semen Tonasa adalah produsen terbesar di Kawasan Timur Indonesia yang menempati lahan seluas 715 hektar di Desa Biringere Kecamatan Bungoro Kabupaten Pangkajene Kepulauan 68 kilometer dari kota Makassar. PT Semen Tonasa memiliki kapasitas terpasang 5.980.000 metrik ton semen pertahun dan mempunyai 4 (empat) Unit Pabrik yang masih beroperasi yaitu pabrik tonasa II, III, IV dan V. Untuk pabrik tonasa I sudah tidak beroperasi lagi karena di anggap tidak ekonomis. 1.. Pabrik Semen Tonasa Unit I Pabrik Semen Tonasa I ini terletak di kelurahan Tonasa, Kecamatan Balocci, Kabupaten Pangkep, Propinsi Sulawesi Selatan, yang didirikan berdasarkan ketetapan Majelis Permusyawaratan Rakyat Sementara RI No.II/MPRS/1960 tanggal 06 Desember 1960.Pada tanggal 15 Juni 1960 diadakan survey bahan baku yang dilakukan oleh Team Technoexport Cekoslowakia dengan dibantu oleh lembaga Geologi Bandung dari.

(53) tanggal 08 Agustus 1960 sampai dengan tanggal 05 Mei 1961. Sedangkan analisa bahan baku dilakukan oleh Balai Penelitian Kimia Makassar. Pabrik Semen Tonasa I didirikan diatas Tanah seluas 639.7 hektar dengan luas bangunan 55.185 M2 dan beroperasi dengan proses basah dengan kapasitas terpasang 110.000 ton semen pertahun. Pembangunan Pabrik Semen ini merupakan hasil kerjasama pemerintah Indonesia dengan Pemerintah. Cekoslowakia yang dimulai sejak tahun 1960. sampai tahun 1968, yang pengoprasiannya diresmikan oleh Menteri Perindustrian M. Yusuf pada tanggal 02 November 1968. Berdasarkan Peraturan Pemerintah Republik Indonesia No. 54 Tahun 1971 tanggal 08 September 1971,. Pabrik Semen Tonasa I. yang berstatus Proyek ditetapkan sebagai BUMN yang berbentuk Perusahaan Umum (PERUM). Kemudian dengan peraturan Pemerintah No.. Tahun 1975 tanggal 09 Januari 1975, bentuk PERUM tersebut. diubah menjadi Perusahaan Perseroan.Dalam perkembangan operasinya terjadi beberapa perubahan diantaranya kenaikan harga Bahan Bakar Minyak sehingga lambat laun operasional pabrik dengan menggunakan proses basah, dirasakan sudah tidak ekonomis lagi disamping itu pabrik Tonasa II sudah mulai beroperasi yang berakibat pada penghentian operasi pabrik Semen Tonasa I yang dilaksanakan pada bulan November 1984..

(54) 2.. Pabrik Semen Tonasa Unit II Tonasa II yang berlokasi di Biringere Kecamatan Bungoro Kabupaten Pangkajene Kepulauan Propinsi Sulawesi Selatan sekitar 23 kilometer dari lokasi Tonasa Unit I didirikan berdasarkan kepada persetujuan BAPENAS No.023/XC-LC/B.V/76 dan No.285/D.1/IX/76 yang diresmikan penggunaannya oleh Bapak Presiden Soeharto tanggal 28 Pebruari 1980 Tonasa Unit II yang menggunakan proses kering ( Proses ini umpan kiln berupa tepung kering dengan kadar air 0,5 – 1 % mulai beroperasi secara komersial pada tahun 1980 dengan kapasitas terpasang 510.000 metrik ton semen pertahun. Program optimalisasi Tonasa Unit II dirampungkan pada tahun 1991 secara swakelola dan berhasil meningkatkan kapasitas terpasang menjadi 590.000 metrik ton pertahun.. 3.. Pabrik Semen Tonasa Unit III Dengan meningkatnya kebutuhan Semen, maka didirikan Pabrik Semen Tonasa III yang lokasinya berdekatan dengan Pabrik Semen Tonasa II,. berdasarkan persetujuan BAPPENAS No. 32/XC-. LC/B.V/1981 tanggal 30 Oktober 1981. Pembangunan Pabrik Semen. Tonasa III ini dilaksanakan. atas. kerjasama Pemerintah Republik Indonesia dengan Pemerintah Jerman Barat, yang selesai pada akhir tahun 1984, dan diresmikan pada tanggal 13 April 1985 oleh Bapak Presiden Soeharto bersama-sama dengan Perdana Menteri Singapura Lee Kwan Yew. Dengan Besar. biaya.

(55) investasi untuk pabrik ini adalah Rp. 98.807.000.000,- yang beroperasi dengan menggunakan BCO dan pada tahun 1987 penggunaan Bahan bakar BCO pada pabrik Tonasa II & III diganti dengan mengunakan Bahan bakar Batu Bara. 4.. Pabrik Semen Tonasa Unit IV Tonasa Unit IV didirikan berdasarkan SK Menteri Perindustrian No. 182/MPP.IX/1990 tanggal 02 Oktober 1990 dan SK Menteri Keuangan RI No. 154/MK.013/1990 tanggal 29 November 1990. Pabrik Semen Tonasa IV yang diresmikan Penggunaanya oleh Bapak Presiden Soeharto pada tanggal 10 September 1996.Tonasa Unit IV dengan kapasitas terpasang 2.300.000 metrik ton pertahun dioperasikan secara komersial pada tanggal 01 November 1996. Pabrik yang menggunakan proses kering ini terletak di lokasi yang sama dengan Tonasa Unit II dan Unit III.. 5.. Pabrik Semen Tonasa Unit V Tonasa V beroperasi secara komersil sejak 1 Februari 2013. Pabrik Tonasa V memiliki kapasitas terpasang 2,5 juta ton per tahun. Tonasa V dan Pembangkit Listrik 2 x 35 MW diresmikan oleh mantan Presiden RI (Susilo Bambang Yudhoyono) pada tanggal 19 Februari 2014.. B. Status Perusahaan Pada awal berdirinya pabrik Semen Tonasa I dalam masa kontruksi, perusahaan masih berstatus ”Proyek” di bawah naungan Departemen Perindustrian dan Pertambangan. Dengan selesainya proyek pembangunan.

(56) pabrik Semen Tonasa I, pada tanggal 2 November 1968, status perusahaan di tingkatkan menjadi status ”Pabrik” sampai dengan tahun 1971. Pabrik Semen Tonasa ditetapkan menjadi BUMN yang berbentuk Perusahaan Perum (PERUM) berdasarkan PP No. 54 tahun 1971 tanggal 8 September 1971. Pada tahun 1975, perusahaan meningkat menjadi Perusahaan Perseroan (Persero), berdasarkan PP No. 1 tahun 1975. Perubahan bentuk hukum dari PERUM menjadi PERSERO disahkan tahun 1976 dengan akte Notaris Soewarno SH, No. 6 tanggal 9 Januari 1976 di Jakarta dan diperbaiki dihadapan Notaris. H. Bebasa Dg. Lalo SH, No. 64 tanggal 20 Mei 1976. Terakhir dengan perubahan Anggaran Dasar oleh Notaris Hadi Moentoro SH, di Jakarta No. 11 tanggal 12 Desember 1984. Pada tanggal 15 September 1995, PT. Semen Tonasa mengadakan konsolidasi dengan PT. Semen Gresik (Persero) Tbk, dan hal tersebut masih berlangsung hingga sekarang.. C. Struktur Organisasi Perusahaan Adanya struktur organisasi yang baik merupakan salah satu syarat yang penting agar perusahaan dapat berjalan dengan baik. Suatu perusahaan akan berhasil mencapai prestasi kerja dari karyawan apabila terdapat suatu system kerja sama yang baik, dimana fungsi-fungsi dalam organisasi tersebut mempunyai pembagian tugas, wewenang dan tanggung jawab yang telah dinyatakan dan diuraikan dengan jelas..

(57) Struktur organisasi PT. Semen Tonasa adalah gabungan dari struktur organisasi garis dan staf. Perusahaan dipimpin oleh Direktur Utama dan dibantu oleh tiga orang direktur yaitu Direktur Produksi, Direktur Komersial dan Direktur Keuangan. Gambar 4.1 Struktur Organisasi PT. Semen Tonasa Direktur Utama Dept. Internal Audit Direktur Produksi Dept. Prod. Bahan baku Dept. Prod. T. 2/3. Direktur Komersial. Direktur Keuangan. Dept. Penjualan. Dept. Akuntansi dan Treasury. Dept. Distribusi dan transportasi. Departemen SDM. Dept. CSR&Umum. Sekper. Dept. Prod. Tonasa 4 Dept. Pengadaan & & PP Staf Dirut. Dept. Prod. Tonasa 5 Dept. Perenc. Tekhnik. Biro Perenc & Analisa Pasar. Dept. Pembangkit. Dept. Jaminan Mutu. Sumber : PT. Semen Tonasa, Pangkep. D. Uraian Tugas Adapun perincian tugas (fungsi) dari masing-masing bagian yang ada dalam perusahaan dapat dijelaskan sebagai berikut ini :.

(58) 1. Dewan Direksi Sesuai dengan Anggaran Dasar Perusahaan PT. Semen Tonasa (Persero) diurus dan dipimpin oleh direksi dari seorang Direktur Utama dibantu tiga orang direktur lainnya. Dalam menjalankan tugasnya Dewan Direksi bertanggung jawab sekaligus diawasi oleh Dewan Komisaris sebagai wakil pemegang saham. Dewan Direksi diangkat berdasarkan Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) dengan lama masa jabatan 5 tahun. Dewan Direksi terdiri atas : a) Direktur Utama Direktur Utama bertanggung jawab atas kelancaran jalannya perusahaan. Direktur Utama juga mempunyai tugas dan tanggung jawab terhadap bidang-bidang yang mendapat pengawasan secara langsung yaitu bidang umum, bidang sumber daya manusia, bidang satuan pengawas intern dan bidang usaha sampingan (Yayasan Dana Pensiun dari Hari Tua, YKST, PT. PKM, Koperasi, Dharma Wanita, Bengkel Kendari) serta perwakilan Jakarta. b) Direktur Produksi Direktur produksi bertugas membantu direktur utama dan mengawasi langsung kegiatan yang terjadi pada produksi bahan baku, produksi tonasa II-V, perencanaan tekhnik, pembangkit dan jaminan mutu..

(59) c) Direktur Komersial Direktur komersial bertugas membantu direktur utama dan mengawasi langsung kegiatan yang terjadi pada penjualan, perencanaanan analisa pasar, distribusi dan Transportasi. d) Direktur Keuangan Direktur Akuntansi dan Keuangan bertugas membantu direktur utama dan mengawasi langsung kegiatan yang terjadi pada akuntansi dan treasury serta SDM. 2. Kepala Departemen atau Bidang Dalam struktur organisasi PT. Semen Tonasa (Persero) terdapat 14 departemen. Tugas dari departemen tersebut adalah merencanakan, mengkoordinir dan mengawasi pengoperasian perusahaan sesuai dengan bidangnya. 3. Kepala Biro Tugas kepala biro ini adalah membantu kepala departemen atau kepala bidang dalam menangani pekerjaan sehari-hari. Penentuan kepala biro berdasarkan pada jenis pekerjaan yang akan di tangani pada masingmasing bidang. 4. Kepala Seksi Tugas kepala seksi adalah membantu Kepala Biro dalam melaksanakan tugas sehari-harinya. Dan bertanggungjawab penuh secara teknis terhadap semua kegiatan yang langsung dibawahinya..

(60) E. Proses Produksi Pada dasarnya proses pembuatan semen terdiri dari proses penggilingan campuran bahan baku batu kapur, tanah liat dan pasir silica menjadi bubuk yang disebut Raw Meal dan dikendalikan mutunya oleh laboratorium, kemudian Raw Meal dibakar menjadi butir-butir klinker yang selanjutnya dicampur dengan Gypsum yang digiling sehingga menjadi semen. Bahan baku seperti batu kapur, tanah liat dan pasir silica didapatkan di sekitar pabrik yang telah dikuasai oleh perusahaan. Adapun pasir silica terdapat banyak di Kabupaten Pangkep, Maros, Sidrap dan Pinrang. Sedangkan Gypsum yang digunakan untuk mengendalikan pengerasan semen didapatkan dari dalam negeri yaitu dari PT.Petrokimia Gresik dan di impor dari Thiland, Australia dan Filipina. Proses pembuatan semen yang dilakukan oleh PT. Semen Tonasa (Persero) merupakan proses kering (Dry Process). Proses pembuatan semen tersebut menurut urutan-urutannya adalah sebagai berikut : 1.. Bahan mentah yang terdiri atas : a. Pasir silica 1-2 % b.. Gypsum 3%. c. Tanah liat 18 % d. Batu kapur 80 %.

(61) 2.. Proses pembuatan yang meliputi : a. Quary Batu kapur yang diquary diledakkan dengan menggunakan bahan peledak. Lalu dengan alat-alat berat batu kapur itu dipilih yang mempunyai diameter maksimum 170 cm, selanjutnya dimuat dan diangkut dengan menggunakan Damp Trucks ke atas pemecah. b. Crusher Tanah liat yang merupakan hasil query dipecah oleh Hammer Crusher menjadi ukuran yang kecil-kecil dengan diameter maksimum 36 cm. c. Clay pit Tanah liat yang berasal dari clay pit diambil dengan menggunakan alat-alat berat kemudian diangkat menuju storage hall (tempat pengumpul). d. Clay Drier Clay yang terdapat di storage hall dikeringkan dengan clay drier untuk mendapatkan kadar air maksimum 1 % selanjutnya dikumpulkan dalam silo. e. Pasir Silika Pasir silika diambil dari deposit yang terdapat di daerah Sulawesi Selatan. Pasir silika ini sebagian diperoleh dari kandungan clay dari clay pit..

(62) f. Raw Material Batu kapur, clay dan pasir silika secara bersama-sama digiling dalam raw material hingga silo. Dalam proses penggilingan tersebut selalu mendapatkan pengawasan dari laboratorium sehingga raw material yang dihasilkan langsung siap dibakar. g. Kiln/Tungku Putar Raw mill yang berasal dari silo diangkut ke kiln untuk dibakar dengan temperatur 1350 – 1500 C sehingga dapat menghasilkan klinker. h. Finish Mill Klinker bersama-sama gypsum yang dengan perbandingan 94 : 4 digiling untuk selanjutnya di dalam proses finish mill menghasilkan semen. Semen hasil penggilingan ini kemudian disimpan dalam silosilo. Semen yang dihasilkan ini siap untuk dikantongkan atau diangkut ke pelabuhan Biringkassi..

(63) BAB V HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN. A. Analisis Kalkulasi Biaya Produksi Menurut Perusahaan Biaya produksi adalah biaya yang dikeluarkan oleh perusahaan dalam proses produksi. Biaya-biaya tersebut meliputi biaya bahan baku langsung, biaya tenaga kerja langsung dan biaya overhead pabrik. Berkaitan dengan uraian tersebut di atas, yang menjadi obyek penelitian penulis adalah pada PT. Semen Tonasa di Pangkep yakni perusahaan yang bergerak dibidang industri Semen sehingga dalam melakukan aktivitas produksi semen maka yang menjadi titik pokok dalam penelitian ini adalah biaya produksi. Sebab tanpa biaya produksi yang dikeluarkan oleh perusahaan maka perusahaan tidak akan dapat melakukan aktivitas operasional secara optimal. Oleh karena itulah maka perusahaan perlu melakukan perhitungan harga pokok produksi. Dimana harga pokok produksi adalah seluruh biaya baik secara langsung maupun tidak langsung dalam produksi, dimana harga pokok produksi semen yang dapat meliputi; biaya bahan baku langsung, biaya tenaga kerja langsung dan biaya overhead pabrik. Sebelum dilakukan perhitungan harga pokok produksi menurut perusahaan (PT. Semen Tonasa) maka terlebih dahulu akan disajikan data produksi dan penjualan semen untuk bulan Januari s/d Desember tahun 2013 yang dapat dilihat pada tabel 5.1 yaitu sebagai berikut:.

Figur

Memperbarui...

Referensi

Related subjects : Menghitung Harga Pokok Produksi

Pindai kode QR dengan aplikasi 1PDF
untuk diunduh sekarang

Instal aplikasi 1PDF di