PERBEDAAN PENGARUH PEMBELAJARAN INOVATIF DENGAN BOLA MINI DAN BOLA LUNAK TERHADAP HASIL BELAJAR PASSING BAWAH BOLAVOLI PADA SISWA KELAS XI SMK KRISTEN SURAKARTA TAHUN PELAJARAN 2010/2011.

69 

Loading.... (view fulltext now)

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Teks penuh

(1)

commit to user

PERBEDAAN PENGARUH PEMBELAJARAN INOVATIF DENGAN

BOLA MINI DAN BOLA LUNAK TERHADAP HASIL BELAJAR

PASSING BAWAH BOLAVOLI PADA SISWA KELAS XI

SMK KRISTEN SURAKARTA TAHUN PELAJARAN 2010/2011

SKRIPSI

Oleh :

VERONICHA DIANA MAYA SARI

NIM : X 5606025

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN

UNIVERSITAS SEBELAS MARET

SURAKARTA

(2)

commit to user

PERBEDAAN PENGARUH PEMBELAJARAN INOVATIF DENGAN

BOLA MINI DAN BOLA LUNAK TERHADAP HASIL BELAJAR

PASSING BAWAH BOLAVOLI PADA SISWA KELAS XI

SMK KRISTEN SURAKARTA TAHUN PELAJARAN 2010/2011

Oleh :

VERONICHA DIANA MAYA SARI

NIM : X 5606025

Skripsi

Ditulis dan diajukan untuk memenuhi syarat mendapatkan gelar Sarjana Pendidikan Program Studi Pendidikan Kepelatihan Olahraga

Jurusan Pendidikan Olahraga dan Kesehatan

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN

UNIVERSITAS SEBELAS MARET

SURAKARTA

2010

(3)

commit to user

PERSETUJUAN

Skripsi ini telah disetujui untuk dipertahankan di hadapan Tim Penguji Skripsi Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Sebelas Maret Surakarta.

Persetujuan Pembimbing

Pembimbing I Pembimbing II

Drs. Bambang Wijanarko, M.Kes Drs. Sukono

(4)

commit to user

PENGESAHAN

Skripsi ini telah dipertahankan di hadapan Tim Penguji Skripsi Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Sebelas Maret Surakarta dan diterima untuk memenuhi persyaratan mendapatkan gelar sarjana pendidikan.

Pada hari : Tanggal :

Tim Penguji Skripsi :

(Nama Terang) (Tanda Tangan)

Ketua : Drs. H. Agustiyanto, M.Pd ____________

Sekretaris : Drs. Sugiyoto, M.Pd ____________ Anggota I : Drs. Bambang Wijanarko, M.Kes ____________

Anggota II : Drs. Sukono ____________

Disahkan oleh :

Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Sebelas Maret

Dekan,

Prof. H.M. Furqon Hidayatullah, M.Pd NIP. 19600727 198702 1 001

(5)

commit to user

ABSTRAK

Veronica Diana Mayasari. PERBEDAN PENGARUH PEMBELAJARAN INOVATIF DENGAN BOLA MINI DAN BOLA LUNAK TERHADAP HASIL BELAJAR PASSING BAWAH BOLAVOLI PADA SISWA KELAS XI SMK KRISTEN SURAKARTA TAHUN PELAJARAN 2010/2011.

Skripsi. Surakarta : Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Sebelas Maret Surakarta, Oktober 2010.

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui; (1) Perbedaan pengaruh pembelajaran inovatif dengan bola mini dan bola lunak terhadap hasil

belajar passing bawah bolavoli pada siswa kelas XI SMK Kristen Surakarta tahun pelajaran 2010/2011;(2) Pembelajaran inovatif yang lebih baik pengaruhnya antara dengan bola mini dan bola lunak terhadap hasil belajar passing bawah bolavoli pada siswa kelas XI SMK Kristen Surakarta tahun pelajaran 2010/2011.

Penelitian ini menggunakan metode eksperimen dengan rancangan

pretest-posttest design. Populasi yang digunakan dalam penelitian ini adalah siswa

kelas XI SMK Kristen Surakarta yang berjumlah 162. Sampel yang digunakan berjumlah 32 orang dengan teknik purposive proporsional random sampling. Sampel dibagi dalam 2 kelompok dengan cara matched ordinal pairing. Kelompok 1 sebanyak 16 siswa mendapat perlakuan pembelajaran inovatif passing bawah dengan bola mini dan kelompok 2 sebanyak 16 siswa mendapat perlakuan pembelajaran inovatif passing bawah dengan bola lunak. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah tes dan pengukuran kemampuan passing bawah bolavoli. Teknik analisis dengan rumus t-tes dengan taraf signifikansi 5% dan uji beda prosentase.

(6)

commit to user

belajar passing bawah bolavoli pada siswa kelas XI SMK Kristen Surakarta tahun pelajaran 2010/2011. Pembelajaran inovatif dengan bola mini memiliki prosentase

peningkatan kemampuan passing bawah sebesar 145.46 %, sedangkan pembelajaran inovatif dengan bola lunak memiliki peningkatan kemampuan passing bawah sebesar 85.29%.

(7)

commit to user

MOTTO

Orang-orang yang gagal hanyalah mereka yang tidak pernah mencoba. (Davis Viscot)

Ilmu lebih penting dari harta, karena ilmu akan menjagamu sedangkan harta harus kau jaga (penulis)

(8)

commit to user

PERSEMBAHAN

Skripsi ini dipersembahkan kepada :

- Bapak dan Ibu terhormat atas nasehat dan do’anya.

- Sahabat-sahabatku POK’O6

- Anak kost BAC

- Adik-adik JPOK FKIP UNS

- Almamater

(9)

commit to user

KATA PENGANTAR

Dengan diucapkan puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa yang telah melimpahkan rahmat dan hidayah-Nya, sehingga dapat diselesaikan penulisan skripsi ini.

Disadari bahwa penulisan skripsi ini banyak mengalami hambatan, tetapi berkat bantuan dari beberapa pihak maka hambatan tersebut dapat diatasi. Oleh karena itu dalam kesempatan ini disampaikan ucapan terima kasih kepada yang terhormat :

1. Dekan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Sebelas Maret Surakarta.

2. Ketua Jurusan Pendidikan Olahraga dan Kesehatan Universitas Sebelas Maret Surakarta.

3. Ketua Program Pendidikan Kepelatihan Olahraga Universitas Sebelas Maret Surakarta.

4. Prof Dr. Sudjarwo,M.Pd, sebagai Pembimbing I yang telah memberikan bimbingan dan pengarahan dalam penyusunan skripsi.

5. Drs. Sukono, sebagai Pembimbing II yang telah memberikan bimbingan dan pengarahan dalam penyusunan skripsi.

6. Kepala Sekolah dan Guru Penjasorkes SMK Kristen Surakarta yang telah memberikan ijin untuk mengadakan penelitian

7. Para siswa kelas XI SMK Kristen Surakarta tahun pelajaran 2009/2010 yang

telah bersedia menjadi sampel penelitian.

8. Semua pihak yang telah membantu terlaksananya penelitian ini.

Semoga segala amal baik tersebut mendapatkan imbalan dari Tuhan Yang Maha Esa. Akhirnya berharap semoga hasil penelitian yang sederhana ini dapat bermanfaat.

(10)

commit to user

DAFTAR ISI

Halaman

HALAMAN JUDUL... i

HALAMAN PENGAJUAN... ii

HALAMAN PERSETUJUAN... iii

HALAMAN PENGESAHAN... iv

DAFTAR ISI... v

HALAMAN ABSTRAK... vi

HALAMAN MOTTO... vii

HALAMAN PERSEMBAHAN... viii

KATA PENGANTAR... ix

DAFTAR ISI... x

DAFTAR GAMBAR... xi

DAFTAR TABEL... xii

DAFTAR LAMPIRAN... xiii

BAB I. PENDAHULUAN... 1

A. Latar Belakang Masalah ... 5

B. Identifikasi Masalah ... 5

C. Pembatasan Masalah ... 6

D. Perumusan Masalah... 6

E. Tujuan Penelitian... 7

F. Manfaat Penelitian... 7

BAB II. LANDASAN TEORI ... 8

A. Tinjauan Pustaka... 8

1. Permainan Bolavoli... 8

a. Bolavoli dalam Konteks Pendidikan ... 9

b. Teknik Dasar Bermain Bolavoli... 10

2. PassingBawah... 12

a. Teknik Pelaksanaan Passing Bawah ... 13

(11)

commit to user

b. Kesalahan yang Sering Terjadi Pada Passing Bawah... 15

3. Hakikat belajar dan Pembelajaran Gerak... 16

4. Pembelajaran Inovatif... 21

a. Model-Model pembelajaran Inovatif... 23

b. Kelebihan Pembelajaran Inovatif... 26

c. Kekurangan Pembelajaran inovatif... 27

5. Pembelajaran Inovatif Passing Bawah dengan Bola Mini.... 27

a. Hakikat Pembelajaran Inovatif Passing Bawah dengan Bola Mini ... 27

b. Pelaksanaan Pembelajaran Inovatif Passing Bawah dengan Bola Mini... 28

c. Kelebihan dan Kelemahan pembelajaran Inovatif Passing Bawah dengan Bola mini... 29

6. Pembelajaran Inovatif dengan Bola Lunak... 30

a. Hakikat Pembelajaran Inovatif Passing Bawah dengan Bola Lunak ... 30

b. Pelaksanaan Pembelajaran Inovatif Passing Bawah dengan Bola Lunak... 31

c. Kelebihan dan Kelemahan pembelajaran Inovatif Passing Bawah dengan Bola Lunak... 32

B. Kerangka Berpikir... 33

C. Hipotesis... 34

BAB III. METODE PENELITIAN... 35

A. Tempat dan Waktu Penelitian ... 35

(12)

commit to user

E. Teknik Analisis Data... 37

BAB IV. HASIL PENELITIAN... 42

A. Deskripsi Data... 42

B. Mencari Reliabilitas... 42

C. Pengujian Prasyarat Analisis... 43

1. Uji Normalitas... 43

2. Uji Homogenitas... 43

D. Hasil Analisis Data... 45

1. Uji Perbedaan Sebelum Diberi Perlakuan... 45

2. Uji Perbedaan Sesudah Diberi Perlakuan... 46

E. Pengujian Hipotesis dan Pembahasan... 48

BAB V. SIMPULAN,IMPLIKASI DAN SARAN... 50

A. Simpulan... 50

B. Implikasi... 50

C. Saran... 51

DAFTAR PUSTAKA... 52

LAMPIRAN-LAMPIRAN... 54

(13)

commit to user

DAFTAR GAMBAR

Gambar

1. Sikap saat Perkenaan Bola Pass Bawah... 14

2. Rangkaian Gerakan Passing Bawah... 14

3. Tingkatan Perkembangan Ketrampilan Gerak... 19

4. Contoh Bola Mini... 28

5. Contoh Pembelajaran Inovatif Passing Bawah dengan Bola Mini... 29

(14)

commit to user

DAFTAR TABEL

Tabel Halaman

1. Deskripsi Hasil Tes Kemampuan Passing Bawah Bolavoli pada

kelompok 1 (K1) dan Kelompok 2 (K2)... 42 2. Ringkasan Hasil Uji Reliabilitas Data Tes Awal dan Tes Akhir...

...43 3. Range Kategori Reliabilitas...

...43 4. Rangkuman Hasil Uji Normalitas Data...

...44 5. Rangkuman Hasil Uji Homogenitas Data... ...45

6. Rangkuman Hasil Uji Perbedaan Tes Awal Pada Kelompok 1 (K1)

dan Kelompok 2 (K2)... 45 7. Rangkuman Hasil Uji Perbedaan Hasil Tes Awal dan Tes Akhir Pada

Kelompok 1 (K1)... 46 8. Rangkuman Hasil Uji Perbedaan Hasil Tes Awal dan Tes Akhir Pada

Kelompok 2 (K2)... 46 9. Rangkuman Hasil Uji Perbedaan Hasil Tes Akhir antara Kelompok 1 (K1) Dan Kelompok (K2)... 49 10.Rangkuman Hasil Penghitungan Nilai Perbedaan Peningkatan Kemampuan Passing Bawah Bolavoli dalam Persen Pada Kelompok 1 (KI) dan

Kelompok 2 (K2 )... 48

(15)

commit to user

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran Halaman

1. Data Tes Kemampuan Passing Bawah Bolavoli Siswa Kelas XI SMK

Kristen Surakarta TahunPelajaran 2009/2010`... 54

2. Data Tes Akhir Kemampuan Passing bawah Bolavoli Siswa Kelas XI SMK Kristen 1 Surakarta Tahun Pelajaran 2009/2010... 55

3. Data Tes Awal dan Tes Akhir Passing Bawah Bolavoli Pada Siswa Kelas XI SMK Kristen Surakarta Tahun Pelajaran 2009/2010... 56

4. Data Hasil Tes Awal Passing Bawah Bolavoli Pada Siswa Kelas XI SMK Kristen Surakarta Berdasarkan Urutan Ringking... 57

5. Pemasangan Subyek Penelitian Berdasarkan Hasil Tes Awal Passing Bawah Bolavoli... 58

6. Rekapitulasi Hasil Tes Awal dan Tes Akhir Kemampuan Passing Bawah Bolavoli pada kelompok 1... 59

7. Rekapitulasi Hasil Tes Awal dan Tes Akhir Kemampuan Passing Bawah Bolavoli Pada Kelompok 2... 60

8. Uji Reliabilitas dengan Anava ...61

9. Uji Normalitas data Dengan Metode lillifors...67

10. Uji Homogenitas... 69

11. Uji Perbedaan...71

12. Petunjuk Pelaksanaan Tes Kemampuan Passing Bawah Bolavoli... 77

13. Program Pembelajaran Tiap Pertemuan...79

14. Contoh Kegiatan Awal dan Kegiatan Akhir Pembelajaran ... 99

(16)

commit to user

(17)

commit to user ABSTRACK

Veronicha Diana Maya Sari.The diffence of innovate learning effect using miniball and softball on the volleyball lower passing learning achievemen in XI graders of SMK Kristen Surakarta in the scool year of 2010/2011. Thesis: Teacher Training and Education Faculty, Surakarta Sebalas Maret University, October 2010.

The objecktive of research is to find out: (1) the Difference of innovative learning effect using miniball and softball on the volleyball lower passing learning achievement in XI graders of SMK Kristen Surakarta in the scool years of 2010/2011;(2) the innovative learning with better effect using miniball and softball on the volleyball lower passing learning achievement in XI graders of SMK Kristen Surakarta in the scool years of 2010/2011.

This reserch employed an experimental method with pretest-posttest design. The population used in this research XI graders of SMK Kristen Surakarta consisting of 162. The sample of research used was32 respondents taken using purposive proportional random sampling. The sample was divided into 2 groups using matched ordinal pairing. The group 1 consisted of 16 students obtaining the treatment of lower passing innovative learning with miniball and group 2 consisted of 16 students obtaining the treatment of lower passing innovative learning with softball. Techniques of collecting data used were test and volleyball lower passing competency measurement. Technique of analyzing data used wast t-test formula at signifacance level of 5% and percentage variance test.

(18)

commit to user

better effect that that using softball on the volleyball lower passing learning achievement in XI greders of SMK Kristen Surakarta in the scool year of 2010/2011. The learning innovative using miniball has the percentage improvement of lower passing competency of 145.46%, while that using softball has the percentage improvement of lower passing competency of 85.29%.

(19)

commit to user BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Pendidikan jasmani, olahraga dan kesehatan merupakan bagian integral

dari pendidikan secara keseluruhan, bertujuan untuk mengembangkan aspek

kebugaran jasmani, keterampilan gerak, ketrampilan berfikir kritis, ketrampilan

sosial, penalaran stabilitas emosional, tindakan moral, aspek pola hidup sehat dan

pengenalan lingkungan bersih melalui aktivitas jasmani, olahraga kesehatan

terpilih, yang direncanakan secara sistematis dalam rangka mencapai tujuan

pendidikan nasional

Pendidikan jasmani, olahraga dan kesehatan yang diajarkan disekolah

memiliki peranan sangat penting, yaitu memberikan kesempatan kepada peserta

didik untuk terlibat langsung dalam berbagai pengalaman belajar melalui aktivitas

jasmani, olahraga dan kesehatan yang dipilih yang dilakukan secara sistematis.

Pembekalan pengalaman belajar itu diarahkan untuk membina pertumbuhan fisik

dan pengembangan psikis yang lebih baik, sekaligus membentuk pola hidup sehat

dan bugar sepanjang hayat. Oleh karena itu dalam proses pembelajaran

pendidikan jasmani, olahraga dan kesehatan di sekolah harus harus menyertakan

unsur-unsur positif pendidikan jasmani.

Proses pembelajaran pendidikan jasmani yang terjadi sekarang ini di

pandang kurang baik, tidak sedikit guru pendidikan jasmani yang memasukkan

nilai-nilai negatif dalam proses pembelajaran. Tidak jarang terlihat seorang guru

pendidikan jasmani yang merokok ketika sedang mengajar, duduk santai di

warung sementara siswa dibiarkan sedemikian rupa dalam proses pembelajaran,

dan masih banyak lagi hal-hal serupa yang dapat menyebabkan guru pendidikan

jasmani dipandang sebagai guru yang seenaknya oleh masyarakat umum. Dengan

kata lain, guru pendidikan jasmani diragukan profesionalismenya.

(20)

commit to user

Guru pendidikan jasmani juga mendapat identitas sebagai guru yang

tidak kreatif dan monoton dalam menyampaikan materi pembelajaran. Hal ini

dikarenakan guru hanya menerapkan model pembelajaran itu-itu saja dalam

mengajar. Kondisi ini akan sangat disayangkan jika dihadapkan pada kenyataan

bahwa guru pendidikan jasmani saat ini sudah dijadikan sebagai profesi.

Sejalan dengan permasalahan di atas, maka kegiatan pembelajaran dalam

pendidikan jasmani, olahraga dan kesehatan selalu terkait langsung dengan tujuan

yang jelas. Ini berarti, proses pembelajaran itu tidak begitu bermakna jika

tujuannya tidak jelas. Jika tujuan tidak jelas, maka isi pengajaran berikut metode

pembelajaran juga tidak mengandung makna apa-apa. Oleh karena itu seorang

guru harus menyadari benar-benar keterkaitan antara tujuan, pengalaman belajar,

metode pembelajaran, dan bahkan cara mengukur perubahan atau kemajuan yang

dicapai.

Untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan dalam proses

pembelajaran, seorang guru harus mampu menerapkan metode pembelajaran

cocok untuk mencapai tujuan yang dimaksud. Seorang guru harus memiliki ide

dengan menerapkan model pembelajaran yang tepat sesuai dengan kondisi yang

ada, agar tujuan yang telah ditetapkan dapat tercapai dengan baik.

Model pembelajaran yang terjadi selama ini, khususnya dalam

pembelajaran bolavoli adalah pembelajaran konvensional yang hanya

memfokuskan pada komunikasi verbal, demonstrasi, sentralisasi pengajar, dan

pembelajaran yang otoriter, yakni pengajarlah yang berhak menentukan apa yang

akan dipelajari oleh siswa dan faham-faham yang tidak memberikan ruang

kreativitas baik bagi siswa dalam mengembangkan pembelajaran yang inovatif

dan kreatif. Untuk itu perlunya di terapkan Pembelajaran Aktif, Inovatif, Kreatif,

Efektif dan Menyenangkan (PAIKEM ). Pembelajaran Aktif Inovatif Kreatif

Efektif dan Menyenangkan (PAIKEM) adalah pola atau model pembelajaran

yang sedang digalakkan dewasa ini. Pembelajaran inovatif sebagai bagian dari

PAIKEM dapat dijadikan sebagai cermin dari PAIKEM itu sendiri. Hal ini

dikarenakan pembelajaran inovatif sebenarnya merupakan suatu pemaknaan

(21)

commit to user

berbagai teori pembelajaran modern yang berlandaskan pada inovasi

pembelajaran. Di samping itu, pembelajaran inovatif bersifat menyenangkan dan

membutuhkan kreativitas guru dalam proses pembelajaran untuk dapat membuat

siswa agar aktif selama pembelajaran berlangsung sehingga lebih efektif dalam

pencapaian tujuan pembelajaran. Sehingga pembelajaran aktif memberikan

peluang siswa untuk bersifat aktif dan mandiri.

Berdasarkan permasalahan di atas, model pembelajaran inovatif dapat

dijadikan alternatif dalam pembelajaran bolavoli, khususnya dalam pembelajaran

teknik dasar passing bawah. Sebagai langkah awal pembelajaran permainan

bolavoli kepada siswa sekolah yaitu dikenalkan macam-macam teknik dasar

bolavoli. Belajar macam-macam teknik dasar bolavoli merupakan langkah awal

yang harus dilakukan siswa untuk mencapai prestasi bolavoli. Seperti

dikemukakan Marta Dinata (2004: 5) bahwa, “untuk meningkatkan prestasi,

seorang pemain bolavoli harus menguasai beberapa teknik dasar terlebih dahulu”.

Salah satu teknik dasar awal bolavoli yang harus dikuasai terlebih

dahulu dalam bermain bolavoli adalah passing khususnya passing bawah. Hal ini

karena, passing bawah memiliki tujuan untuk mengoperkan bola yang

dimainkannya itu kepada teman seregunya untuk dimainkan dilapangan sendiri.

Apabila penyajian bola dari passing bawah baik maka pengumpan bola (set-up)

akan mudah melakukan serangan dan mendapatkan nilai.

Passing bawah merupakan salah satu teknik dasar bolavoli yang paling

mudah jika dibandingkan dengan teknik lainnya. Namun tidak menutup

kemungkinan bagi siswa sering melakukan kesalahan, sehinga kualitas passing

bawah yang dihasilkan tidak sesuai yang diharapkan. Tidak jarang para siswa

sekolah kurang mampu melakukan macam-macam bentuk passing bawah. Bahkan

masih banyak diantara mereka yang belum mengetahui dan menguasai teknik

passing bawah yang benar. Karena belum menguasai teknik dasar passing bawah

maka masih banyak para siswa tidak mampu melakukan passing bawah dengan

baik.

Kendala atau masalah yang sering di hadapi siswa dalam proses belajar

(22)

commit to user

solusi yang tepat agar tujuan pembelajaran dapat tercapai dengan baik. Siswa

yang belum mampu melakukan passing bawah disebabkan oleh beberapa faktor

misalnya merasakan bola terlalu berat, terlalu besar ukurannya, tidak memiliki

pengalaman bermain bolavoli dan lain sebagainya. Untuk itu perlunya langkah

yang tepat sesuai dengan kondisi siswa. Menurut Rusli Lutan dan adang

Suherman (2000:75) berpandapat,” Lakukan modifikasi peralatan, apabila

peralatan di duga sebagai penghambat keberhasilan”.

Merubah peralatan pembelajaran (bola) merupakan salah satu cara untuk

mengatasi kesulitan dalam belajar passing bawah bolavoli, jika bola di anggap

sebagai kendalanya. Untuk memberi kemudahan dalam pembelajaran passing

bawah bolavoli dapat dilakukan dengan menggunakan bolavoli mini dan bolavoli

lunak. Menurut Persatuan Bolavoli Seluruh Indonesia ( 1995:55 & 89) bahwa, ”

Bolavoli mini pada umumnya untuk mengembangkan serta meningkatkan mutu

permainan bolavoli. Sedangkan permainan bolavoli lunak di harapkan permainan

bolavoli lebih luas di kenal dan dinikmati oleh semua lapisan masyarakat, hal ini

merupakan modal dasar dalam pencapaian prestasi yang tinggi dalam bolavoli”.

Pembelajaran passing bawah bolavoli menggunakan bola mini dan bolavoli lunak

merupakan cara untuk mengatasi kesulitan-kesulitan dalam belajar passing bawah

terutama bagi siswa putri. Namun dari kedua modifikasi pembelajaran passing

bawah bolavoli tersebut belum di ketahui tingkat efektifitasnya terhadap

peningkatan hasil belajar passing bawah bolavoli.

Berdasarkan permasalahan di atas penelitian ini akan membandingkan

model pembelajaran inovatif dengan bola mini dan bola lunak. Dari kedua

pembelajaran passing bawah menggunakan bola mini dan bola lunak akan di

bandingkan manakah yang lebih baik pengaruhnya terhadap peningkatan hasil

belajar passing bawah bolavoli. Untuk mengetahui hal tersebut, maka perlu di kaji

dan di teliti secara teori maupun praktek melalui penelitian eksperimen.

Penelitian eksperimen ini akan dilaksanakan pada siswa kelas XI SMK

Kristen Surakarta Tahun Pelajaran 2010/2011 yang sebagian besar siswa berjenis

kelamin perempuan. Pada umumnya proses pembelajaran yang dilaksanakan di

(23)

commit to user

bawah yang menuntut siswa untuk terlibat aktif dan dapat mandiri. Jarang sekali

seorang guru olahraga modifikasi pembelajaran keterampilan. Hal ini disebabkan

karena terbatasnya prasarana dan sarana yang ada. Tidak jarang juga, banyak

diantara guru olahraga kurang memperhatikan kesulitan-kesulitan yang dihadapi

siswa dalam belajar keterampilan termasuk passing bawah, apalagi bagi anak

perempuan.

Kesulitan-kesulitan yang dihadapi siswa dalam belajar passing bawah di

SMK Kristen Surakarta khususnya anak perempuan menuntut guru untuk

berkreativitas menerapkan model pembelajaran yang tepat. Misalnya, bola yang

digunakan adalah bola mini dan bola lunak atau model pembelajaran permainan

passing bawah yang menyenangkan. Model pembelajaran yang dicontohkan akan

dapat meningkatkan motivasi belajar siswa lebih aktif, karena cara belajar yang

dilakukan lebih mudah, ringan dan menyenangkan. Model pembelajaran yang

disesuaikan dengan kondisi siswa akan meningkatkan motivasi belajar siswa,

sehingga akan diperoleh hasil belajar yang lebih optimal.

Berdasarkan permasalahan yang telah diungkapkan di atas, maka

penelitian ini mengambil judul “ Perbedaan Pengaruh Pembelajaran Inovatif

dengan Bola Mini dan Bola Lunak Terhadap Hasil Belajar Passing Bawah

Bolavoli Pada Siswa Kelas Kelas XI SMK Kristen Surakarta Tahun Pelajaran

2010/2011”.

B. Identifikasi Masalah

Berdasarkan latar belakang yang telah dikemukakan di atas, masalah

dalam penelitian ini dapat diidentifikasi sebagai berikut :

1. Proses pembelajaran pendidikan jasmani yang terjadi sekarang ini di pandang

kurang baik.

2. Guru pendidikan jasmani mendapat identitas sebagai guru yang tidak kreatif

dan monoton dalam menyampaikan materi pembelajaran.

3. Perlunya pembelajaran inovatif dalam menyampaikan materi pembelajaran

bolavoli.

(24)

commit to user

4. Belum pernah di lakukan pembelajaran inovatif dengan bola mini dan bola

lunak pada siswa SMK Kristen Surakarta.

5. Kurangnya sarana dan prasarana bolavoli yang berdampak pada proses

pembelajaran bolavoli.

6. Belum diketahui pengaruh pembelajaran inovatif dengan bola mini dan bola

lunak terhadap hasil belajar passing bawah bolavoli.

7. Kemampuan passing bawah bolavoli siswa kelas XI SMK Kristen Surakarta

tahun pelajaran 2010/2011 belum teruji.

C. Pembatasan Masalah

Untuk menghindari penafsiran yang salah terhadap permasalahan

penelitan, masalah penelitian perlu dibatasi. Pembatasan masalah dalam

penelitian ini sebagai berikut :

1. Pengaruh pembelajaran inovatif dengan bola mini dan bola lunak terhadap

hasil belajar passing bawah bolavoli

2. Kemampuan passing bawah bolavoli siswa kelas XI SMK Kristen Surakarta

tahun pelajaran 2010/2011.

D. Perumusan Masalah

Berdasarkan identifikasi masalah dan pembatasan masalah di atas, dapat di

rumuskan masalah dalam penelitian ini sebagai berikut :

1. Adakah perbedaan pengaruh pembelajaran inovatif dengan bola mini dan bola

lunak terhadap hasil belajar passing bawah bolavoli pada siswa kelas XI SMK

Kristen Surakarta tahun pelajaran 2010/2011?

2. Manakah yang lebih baik pengaruhnya pembelajaran inovatif dengan bola

mini dan bola lunak terhadap hasil belajar passing bawah bolavoli pada siswa

kelas XI SMK Kristen Surakarta tahun pelajaran 2010/2011?

(25)

commit to user E. Tujuan Penelitian

Berdasarkan permasalahan yang telah dirumuskan di atas, penelitian ini

mempunyai tujuan untuk mengetahui :

1. Perbedaan pengaruh pembelajaran inovatif dengan bola mini dan bola lunak

terhadap hasil belajar passing bawah bolavoli pada siswa kelas XI SMK

Kristen Surakarta tahun pelajaran 2010/2011.

2. Pembelajaran inovatif yang lebih baik pengaruhnya antara dengan bola mini

dan bola lunak terhadap hasil belajar passing bawah bolavoli pada siswa kelas

XI SMK Kristen Surakarta tahun pelajaran 2010/2011.

F. Manfaat Penelitian

Dari hasil penelitian ini diharapkan memberikan manfaat baik bagi peneliti

maupun guru dan siswa yang dijadikan obyek penelitian antara lain:

1. Dapat meningkatkan kemampuan passing bawah bolavoli siswa kelas XI

SMK Kristen Surakarta yang di jadikan obyek penelitian.

2. Dapat di peroleh informasi tentang pembelajaran yang baik dan efektif untuk

meningkatkan kemampuan passing bawah bolavoli.

3. Dapat dijadikan sebagai masukan dan pedoman bagi guru pendidikan jasmani

pada SMK Kristen Surakarta tentang pentingnya penerapan model

pembelajaran inovatif untuk meningkatkan kemampuan passing bawah

bolavoli.

4. Dapat menambah wawasan dan pengetahuan bagi peneliti, tentang karya

ilmiah untuk di kembangkan lebih lanjut.

(26)

commit to user

Bolavoli adalah cabang olahraga permainan yang cukup populer dan telah

dikenal di indonesia sejak jaman penjajahan Belanda. Maksud dan tujuan

permainan bolavoli adalah memasukkan bola ke daerah lawan melewati suatu

rintangan berupa tali atau net dan berusaha memenangkan permainan dengan

mematikan bola itu di daerah lawan. Semua bagian tubuh dapat digunakan untuk

memainkan bola.

Permainan bolavoli adalah olahraga beregu yang dalam pelaksanaan

permainannya dilakukan dengan memantulkan bola secara bergantian dari tim

yang satu ke lawannya bertujuan untuk mematikan lawan dan memperoleh

kemenangan. Amung Ma’mum dan Toto Subroto (2001: 43) menyatakan bahwa,

“Prinsip dasar permainan bolavoli adalah memantul-mantulkan bola agar jangan

sampai bola menyentuh lantai, bola dimainkan sebanyak-banyaknya tiga kali

sentuhan dalam lapangan sendiri dan mengusahakan bola hasil sentuhan itu

diseberangkan ke lapangan lawan melewati jaring masuk sesulit mungkin”.

Menurut Agus Mukholid (2004: 35) bahwa,

Permainan bolavoli adalah suatu permainan yang menggunakan bola untuk

di-volly (dipantulkan) di udara hilir mudik di atas net (jaring), dengan

maksud dapat menjatuhkan bola di dalam petak daerah lapangan lawan,

dalam rangka mencari kemenangan. Mem-volly atau memantulkan bola ke

udara dapat mempergunakan seluruh anggota atau bagian tubuh dari ujung kaki sampai ke kepala dengan pantulan sempurna.

Berdasarkan dua pendapat tersebut dapat disimpulkan bahwa, permainan

bolavoli adalah suatu permainan yang dilakukan dengan cara memantulkan bola

menggunakan seluruh bagian kaki untuk dimainkan di lapangan permainan sendiri

sebanyak tiga kali. Syarat pantulan bola harus sempurna tidak bertentangan

(27)

commit to user

menyeberangkan bola ke daerah lapangan permainan lawan sesulit mungkin untuk

dijatuhkan atau mematikan bola agar memperoleh kemenangan.

a. Olahraga Bolavoli Dalam Konteks Pendidikan

Tujuan pendidikan pada dasarnya bersifat menyeluruh menyangkut

domain kognitif, afektif dan psikomotor. Sebagaimana diungkapkan Sukintaka

(2004: 38) bahwa, “Tujuan pendidikan jasmani terdiri dari empat ranah yakni (1)

jasmani, (2) psikomotor, (3) afektif, dan (4) kognitif”. Dari keempat ranah

menyangkut beberapa persyaratan seperti kecerdasan, keterampilan berpikir,

kestabilan emosional, berbudi pekerti yang baik, sehat jasmani dan rohani, hidup

kreatif dan mandiri. Dengan demikian pendidikan jasmani menjadi bagian dari

program pendidikan formal di lembaga-lembaga pendidikan formal dan non

formal. Pendidikan jasmani merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari

pendidikan pada umumnya.

Olahraga bolavoli sebagai bagian dari mata rantai materi pendidikan

jasmani dalam arti kata merupakan bagian dari materi pendidikan jasmani secara

keseluruhan. Bila dikategorikan, maka olahraga bolavoli termasuk dalam olahraga

yang bercirikan permainan. Permainan bolavoli merupakan materi pokok

pendidikan jasmani yang wajib diajarkan kepada siswa. Sebagaimana

karakteristiknya permainan bolavoli mengandung unsur keterampilan gerak yaitu

berupa teknik-teknik memainkan bola di dalam permainan bolavoli. Menurut

Amung Ma’mum dan Toto Subroto (2001: 41-42) nilai-nilai yang terkandung

dalam permainan bolavoli meliputi “ (1) Nilai sosial, (2) Nilai kompetetif, (3)

Kebugaran fisik, (4) Keterampilan berpikir, (5) Kestabilan emosi, dan (6) Tertib

hukum dan aturan”.

Nilai-nilai sosial seperti unsur kerjasama di antara teman seregu sangat

dibutuhkan, memahami keterbatasan diri atau regu, memahami keunggulan teman

bermain di luar regu sendiri dan lain-lain. Nilai-nilai kompetetif seperti memaknai

keberhasilan dan ketidak-berhasilan. Nilai kompetetif ini sebaiknya ditanamkan

kepada setiap diri anak agar dapat terimplementasikan dalam kehidupan baik

(28)

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

mendorong anak untuk senantiasa bergerak (terintegrasi dengan pembelajaran

keterampilan gerak). Keterampilan berpikir yang diperoleh dari permainan

bolavoli yaitu dalam memainkan bola untuk mencapai suatu keberhasilan regu

dituntut untuk memecahkan persoalan yang berkaitan dengan taktiknya agar regu

dapat memperoleh angka menuju keberhasilan secara keseluruhan. Ditinjau dari

kestabilan emosi bahwa, dengan bermain bolavoli anak akan terbiasa dan terlatih

untuk belajar memaknai keberhasilan dan kegagalan baik dalam setiap sub

kegiatan permainan maupun permainan secara keseluruhan. Sedangkan kesadaran

tertib hukum dan aturan karena dalam setiap cabang olahraga termasuk permainan

bolavoli ketentuan yang menjadi aturan permainan tercantum di dalamnya.

Dengan adanya aturan permainan anak akan terbiasakan untuk mentaati dan

menghormati aturan.

Dari nilai-nilai yang terkandung dalam permainan bolavoli tersebut akan

dapat memberikan pengaruh terhadap pengembangan berbagai potensi yang ada

pada diri individu ke arah yang dicita-citakan. Oleh karena itu, guru pendidikan

jasmani harus senantiasa menciptakan suasana pembelajaran permainan bolavoli

yang dapat mengarahkan anak agar nilai-nilai yang terkandung dalam permainan

bolavoli dapat dirasakan.

b. Teknik Dasar Bermain Bolavoli

Penguasaan teknik dasar permainan bolavoli merupakan salah satu unsur

yang ikut menentukan menang atau kalahnya satu regu di dalam suatu

pertandingan. Berkaitan dengan teknik dasar bolavoli Soedarwo, Sunardi & Agus

Margono (2000:6) menyatakan bahwa,” teknik bolavoli adalah suatu proses

melahirkan keaktifan jasmani dan pembuktian suatu praktek dengan sebaik

mungkin untuk menyelesaikan tugas yang pasti dalam cabang permainan

bolavoli”. Menurut M. Yunus (1992 : 68) mengemukakan bahwa, “teknik dalam

permainan bolavoli dapat di artikan sebagai cara memainkan bola dengan efektif

dan efisien sesuai dengan peraturan permainan yang berlaku untuk mencapai hasil

yang optimal”. Dari pendapat tersebut dapat disimpulkan bahwa, teknik dasar

(29)

commit to user

menyelesaikan tugas yang pasti dalam permainan bolavoli. Teknik dalam

permainan bolavoli merupakan aktifitas jasmani yang menyangkut cara

memainkan bola dengan efektif dan efisien sesuai peraturan permainan yang

berlaku untuk mencapai suatu hasil yang optimal. Teknik dasar bermain bolavoli

yang harus dikuasai oleh pemain bolavoli, menurut Suharno HP (1985 : 51)

Sedangkan menurut Sugiyanto (1993 : 6) teknik –teknik dasar yang perlu

dikuasai untuk dapat bermain bolavoli dengan baik adalah :

a. Gerak dasar

Berdasarkan dua pendapat tersebut dapat di simpulkan bahwa, teknik dasar

bolavoli dibedakan menjadi dua macam yaitu teknik dengan bola dan teknik

dengan bola atau gerak dasar dan gerak teknik dasar bermain. Kedua teknik

tersebut merupakan faktor yang penting dan harus dipahami serta dikuasai

(30)

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user 2. Passing Bawah

Passing merupakan operan bola yang dimainkannya kepada teman

seregunya. Hal ini sesuai dengan pendapat Soedarwo dkk (2000:8) yang

menyatakan bahwa “ Passing didalam permainan bolavoli adalah usaha ataupun

upaya seorang pemain bolavoli dengan cara menggunakan suatu teknik tertentu

yang tujuannya adalah untuk mengoperkan bola yang dimainkannya itu kepada

teman seregunya untuk dimainkan dilapangan sendiri”. Sedangkan menurut M.

Yunus (1992:80) mengemukakan bahwa “ passing adalah mengoperkan kepada

teman sendiri dalam satu regu dengan suatu teknik tertentu, sebagai langkah awal

untuk menyusun pola serangan kepada regu lawan”. Oleh karena itu, menguasai

teknik dasar passing bolavoli merupakan faktor yang penting dan harus dipahami

serta dikuasai dengan benar.

Berdasarkan pendapat di atas dapat disimpulkan, passing bawah adalah

teknik dasar memainkan bola dengan mengunakan kedua tangan,dimana

perkenaan bola yaitu pada kedua lengan bawah ynag bertujuan untuk

mengoperkan bola kepada teman seregunya untuk dimainkan ke lapangan sendiri

atau sebagai awal melakukan serangan.

Passing bawah merupakan teknik dasar bolavoli yang paling awal

diberikan dalam mengajar atau melatih bolavoli. G. Durrwachter (1990:52)

menyatakan, “teknik passing bawah bagi anak didik dirasakan lebih wajar,

gampang dan terutama lebih aman pada saat menerima bola yang keras,

dibandingkan dengan gerak passing atas yang memerlukan sikap tangan dan jari

khusus”. Dengan demikian passing bawah memiliki keuntungan yang lebih baik

jika dibandingkan dengan passing atas. Hal ini dapat dilihat dalam permainan, jika

menerima servis atau smash yang keras dan tajam harus dilakukan dengan passing

bawah.

a. Teknik Pelaksanaan Passing Bawah

Teknik passing bawah merupakan satu pola gerakan yang di rangkaikan

(31)

commit to user

dan sempurna. Untuk mencapai hal tersebut seorang pemain harus menguasai

teknik passing bawah.

Cara melakukannya adalah ibu jari sejajar dan jari-jari tangan yang satu

membungkus jari-jari tangan lainnya. Semua penerimaan bola dengan teknik ini

sebaiknya bola di sentuh persis sedikit lebih atas dari pergelangan tangan. Sikap

lengan dan tangan diupayakan seluas mungkin dari kedua sikut sebaiknya difiksir

untuk mencegah terjadinya pergeseran yang memberikan kemungkinan arah bola

yang dikehendaki tidak melenceng. Sikap kaki dibuka selebar bahu, dan salah satu

kaki berada di depan. Ketika bola datang cepat dan sangat menukik, maka

gunakan sikap penjagaan rendah, demikian pula jika bola datang tidak terlalu

cepat dan rendah gunakan sikap penjagaan menengah ( Amung ma’mun dan Toto

Subroto, 2001: 57). Sedangkan menurut Soedarwo dkk (2000:9) teknik

pelaksanaan pass bawah adalah sebagai berikut :

(a) Sikap permulaan :

Ambil sikap siap normal pada saat tangan akan dikenakan pada bola, segera tangan dan juga lengan diturunkan serta tangan dan lengan dalam keadaan terjulur kebawah depan lurus. Siku tidak boleh ditekuk, kedua lengan merupakan papan pemukul yang selalu lurus keadaannya.

(b) Sikap saat perkenaan :

(32)

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

Gambar 1. Sikap saat perkenaan bola pass bawah (Soedarwo dkk. 2000:10)

(c) Sikap akhir :

Setelah bola berhasil dipass bawah maka segera diikuti pengambilan sikap siap normal kembali dengan tujuan agar dapat bergerak lebih cepat untuk menyesuaikan diri dengan keadaan.

Rangkaian gerakan passing bawah secara keseluruhan dapat dilihat pada

gambar di bawah ini:

Gambar 2: Rangkaian gerakan passing bawah

(Amung ma’mun dan Toto Subroto, 2001 :58)

Menurut Suharno HP (1985 : 18) Penggunaan teknik terima tangan

bawah ini pada prakteknya ada tiga macam kategori. Ketiga kategori tersebut

adalah sebagai berikut :

(33)

commit to user

penerima harus mengambil posisi sedemikian ( misalnya dengan mengadakan langkah surut) hingga bola akan berjarak sejangkauan lengan sipenerima. Pada saat lengan diayunkan dari bawah keatas depan diikuti juga oleh gerakan kaki keatas dengan cara meluruskan lutut dan badan dalam keadaan tegak. Gerak demikian ini sebenarnya bertitik tolak kepada usaha agar pantulan bola pada saat mengenai bagian proximal dari pergelangan itu dapat memantul 900.

(2) Bila bola jatuh pada ketinggian diantara bahu dan panggul. Secara ideal penerimaan bola dengan teknik terima tangan bawah sebenarnya pelaku memang harus dapat menempatkan diri pada posisi sedemikian hingga bola tepat bedara didepannya dan dengan ketinggian antara bahu dan panggul. Sebab pada posisi yang demikian ini relatip akan dibutuhkan koordinasi badan yang lebih sederhana daripada bila bola jatuh pada ketinggian yang lain. Dengan demikian kestabilan bola akan lebih terjamin dan lebih terarah. Dengan keadan seperti tersebut diatas maka untuk melaksanakan teknik terima tangan bawah cukup hanya mengayunkan lengan dari bawah keatas depan saja.

(3) Bila bola jatuh setinggi panggul kebawah. Biasanya menerima bola dalam keadaan demikian itu perlu diadakan langkah kedepan sebelum mengenakan bagian proximal dari pergelangan tangan kepada bola. Setelah melangkah kedepan segera diikuti ayunan lengan dari bawah keatas depan dalam keadaan lurus dan fixir, maka pada saat bagian proximal daripada pergelangan tangan mengenai bola bersamaan dengan itu diikuti gerakan penurunan panggul ke bawah. Gerakan ini merupakan gerakan pengungkit. Jadi bola diungkit keatas dengan jalan ayunan lengan dan ditambah dengan penurunan panggul. Maksud daripada gerakan ini tidak lain agar bola dapat dipantulkan keatas dengan sudut pantul 900

Untuk memperoleh kualitas passing bawah yang baik, maka setiap terjadi

kesalahan harus dicermati letak kesalahannya dan kesalahan harus dihindari.

Kemampuan siswa dalam mencermati setiap kesalahan yang dilakukan akan dapat

membentuk pola passing seperti yang diharapkan.

b. Kesalahan Yang Sering terjadi pada Passing Bawah

Passing bawah merupakan salah satu teknik dasar bolavoli yang paling

mudah jika dibandingkan dengan teknik lainnya. Namun tidak menutup

kemungkinan, bagi siswa sekolah seringkali dalam melakukan passing bawah

terjadi kesalahan, sehingga kualitas passing yang di hasilkan tidak sesuai yang di

(34)

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

passing bawah antara lain :

1) Lengan terlalu tingi ketika memukul bola

2) Merendahkan tubuh dengan menekuk pingang bukan lutut, sehingga bola yang di operkan terlalau rendah dan terlalu kencang.

3) Tidak memindahkan berat badan ke arah sasaran, sehingta bola tidak bergerak ke muka.

4) Lengan terpisah sebelum pada saat atau sesudah menerima bola, sehinga operan salah.

5) Bola mendarat di lengan di daerah siku atau menyentuh tubuh.

Hal-hal tersebut di atas harus diperhatikan oleh guru atau pelatih dalam

mengajar passing bawah bolavoli. Pada umumnya siswa tidak mampu mengamati

letak kesalahan yang dilakukan. Seorang guru harus mampu mencermati setiap

kesalahannya dan setiap kesalahan yang dilakukan siswa, guru segera mungkin

untuk membetulkan gerakan yang salah tersebut. Kesalahan yang dibiarkan akan

membentuk pola gerak yang salah, sehingga kualitas passing bawah yang

dilakukan hasilnya tidak sesuai yang diharapkan.

3. Hakekat Belajar dan Pembelajaran Gerak

Pengertian belajar gerak tidak terlepas dari pengertian belajar pada

umumya, tetapi dalam belajar gerak mengandung karakteristik tertentu.

Karakteristik tersebut berhubungan dengan domain tujuan belajar yang menjadi

sasarannya yaitu menyangkut penguasaan ketrampilan dan gerak tubuh.

Pengertian belajar merupakan sesuatu yang kompleks, karena itu

pengertiannya bisa bermacam-macam. Belajar bisa dipandang sebagai suatu hasil

apabila yang dilihat adalah bentuk terakhir dari berbagai pengalaman interaksi

edukatif, bisa dipandang sebagai suatu proses apabila yang dilihat adalah kejadian

selama siswa menjalani proses belajar untuk mencapai suatu tujuan, dan bisa juga

dipandang sebagai suatu fungsi apabila yang dilihat adalah aspek-aspek yang

menentukan terjadinya perubahan tingkah laku siswa.

Belajar gerak mempelajari pola-pola gerak ketrampilan tubuh. Proses

belajarnya melalui pengamatan dan mempraktikkan pola-pola gerak yang di

(35)

commit to user

adalah domain psikomotor yang juga termasuk domain fisik. Hasil akhir dari

belajar gerak adalah berupa kemampuan melakukan pola-pola gerak ketrampilan

tubuh. Misalnya ketrampilan siswa dalam melakukan passing bawah bolavoli,

sebelumnya siswa merespon dengan unsur kognitif, afektif, yang kemudian di

wujudkan dalam unsur psikomotor.

Semua unsur kemampuan individu terlibat di dalam belajar gerak, hanya

saja intensitas keterlibatannya berbeda-beda. Intensitas keterlibatan domain

kognitif dan domain afektif relatif lebih kecil dibandingkan keterlibatan domain

psikomotor. Keterlibatan domain psikomotor tercermin dalam respon-respon

muslular yang diekspresikan alam gerakan tubuh secara keseluruhan atau

bagian-bagian tubuh. Berkaiatan dengan belajar gerak, Sugiyanto (1996:27) menyatakan,

” Belajar gerak adalah belajar yang diwujudkan melalui respon-respon muskular

yang diekspresikan dalam gerakan tubuh atau bagian tubuh’. Menurut Rusli

Lutan (1988:102) ” Belajar motorik adalah seperangkat proses yang bertalian

dengan latihan atau pengalaman yang mengantarkan ke arah perubahan permanen

dalam perilaku terampil”.

Berdasarkan dua pendapat tersebut dapat di simpulkan bahwa, belajar

gerak (motorik) merupakan perubahan perilaku motorik berupa ketrampilan

sebagai hasil dari latihan dan pengalaman. Upaya menguasai ketrampilan gerak

sebagai hasil dari latihan dan pengalaman.

Pada awal tahap pembelajaran siswa yang baru mengenal subtansi yang

dipelajari baik yang menyangkut pembelajaran kognitif, afektif, dan psikomotor

bagi siswa materi pembelajaran itu menjadi asing pada awalnya, namun setelah

guru berusaha untuk menarik dan memusatkan perhatian siswa pada materi

pembelajaran, maka diharapkan sesuatu yang asing bagi siswa tersebut

berangsur-angsur hilang dengan sendirinya.

Dalam tahap ini seorang guru harus mengupayakan pembelajaran dengan

menata lingkungan belajar dan perencanaan materi yang akan dipelajari atau akan

dibahas. Guru harus berperan sebagai fasilitator dan motivator sehingga siswa

berminat untuk mengikuti pembelajaran. Klasifikasi tingkah laku domain kognitif,

(36)

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

Guiford dalam Magill (l982:2), menamakan “(intelectual activities)” yaitu

"kemampuan individu dalam hubungannya dengan pengenalan informasi, dan

ingatan yang berkenaan dengan aktivitas berpikir”. Kemudian domain afektif

adalah penalaran yang mempunyai peran penting sebagai motivasi dalam belajar

keterampilan gerak dan yang terakhir adalah domain psikomotor sangat penting

dalam belajar keterampilan gerak, karena berhasil tidaknya seseorang memahami

keterampilan gerak dari gerakan yang sederhana ke dalam gerakan yang lebih

kompleks. Belajar gerak terjadi dalam bentuk atau melalui respon-respon

muskular yang diekspresikan dalam gerakan-gerakan bagian tubuh.

Menurut Pate, Rotella dan McClenaghan (1993:201), bahwa

“Pembelajaran bertahap keterampilan gerakan yang rumit adalah fenomena yang

kompleks dimulai secara periodik dalam kandungan dan berlangsung sampai usia

dewasa. Kemampuan untuk bergerak dengan baik dalam lingkungan seseorang

tergantung pada perpaduan aspek sensorik dan aspek sistem syaraf secara efisien”.

Sebelum memulai dengan pembahasan tentang perbaikan keterampilan olahraga

tingkat lanjut, perlu terlebih dahulu dibahas bagaimana seseorang memperoleh

kemampuan untuk dapat bergerak dengan kompleks. Tanpa informasi dasar ini

akan sulit bagi guru untuk memahami mengapa beberapa penampilan mempunyai

kesulitan yang lebih besar dalam menguasai gerakan yang menuntut keterampilan

siswa. Pembelajaran bertahap keterampilan gerak dapat benar-benar dipahami

apabila menggunakau model “tingkatan”. Ketika seorang anak menjadi dewasa

sistem syaraf otot mulai mampu melakukan gerakan yang makin lama makin sulit

Perkembangan gerak dapat dibagi dalam dua periode utama : tahap

pra-keterampilan dan tahap perbaikan pra-keterampilan. Dalam masing-masing tahap

terdapat tingkatan yang berurutan yang digunakan untuk membantu dalam

menggambarkan pengamatan tingkah laku. Ciri khas tingkah laku untuk

mendapatkan keterampilan yang lebih tinggi secara berkelanjutan, sesuai dengan

tahap tingkatan perkembangan keterampilan gerak. Berikut ini di sajikan tahap

(37)

commit to user

Gambar 3. Tingkatan Perkembangan Ketrampilan gerak

Sumber. Pate, Rotclla dan McClenaghan, 1993. Scientific Foundation of

Coaching (Terjemahan : Rasiyo Dwijoyowinoto). Semarang : IKIP Semarang

(38)

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

Gambar tersebut dia atas memberikan asumsi bahwa selama masa awal

pra-remaja anak-anak mulai sangat mementingkan keikutsertaan yang berhasil

dalam olahraga. Ketika remaja telah membatasi pilihannya dan berkonsentrasi

pada keterampilan gerak, tekanan harus diarahkan pada perbaikan keterampilan

tersebut. Keterampilan olahraga dapat menjadi lebih baik ketika kesempatan

untuk turut serta dalam kegiatan yang cocok bertambah. Tahap-tahap dalam

perolehan keterampilan olahraga mencakup periode perkembangan perbaikan,

penampilan, dan kemunduran. Satu hal yang sangat penting adalah bahwa cara

seseorang dalam tahap-tahap perkembangan tergantung pada kecenderungannya

untuk ikut serta kegiatan yang berorientasi pada kegiatan olahraga.

Tingkat perbaikan keterampilan remaja secara terus menerus mulai

mengatur pola gerak dasar dengan penuh terpadu. Gerakan dasar secara penuh

sudah terkuasai. Latihan diperlukan untuk perbaikan keterampilan dan

pengendalian gerakan. Program gerak ini didefinisikan sebagai suatu perangkat

perintah gerak yang membantu dalam menampilkan pola keterampilan gerak yang

sulit dengan campur tangan susunan syaraf sadar yang terbatas. Latihan yang

terus-menerus selama tingkat perkembangan ini penting untuk mengembangkan

mekanisme kontrol gerakan. Kemampuan dalam mengontrol gerakan akan

memberikan kemungkinan bagi seseorang untuk berbuat sesuai dengan yang

seharusnya dilakukan akan lebih mudah untuk mengikuti aturan-aturan,

termasuk mengikuti aturan agar dirinya dapat menjadi terampil. Belajar gerak

adalah mempelajari pola-pola gerak keterampilan tubuh, proses belajarnya

melalui pengamatan dan mempraktekkan pola-pola yang dipelajari.

Periode pra-remaja sangat penting dalam pembelajaran gerak yang makin

terpadu. Schmidt dalam Pate, Rotella dan McClenaghan (1993;205)

”menggunakan dasar kognitif dari bagan untuk menolong perolehan penampilan

yang terampil bahwa program gerak yang disimpan dalam selaput otak bukan

rekaman khusus dari gerakan-gerakan, tetapi lebih merupakan aturan-aturan

umum yang membantu mengatur penampilan”. Hal senada diungkapkan oleh

Fitts, Adams dalam Pate, Rotella dan McClenaghan (1993 : 205) menandai tiga

(39)

commit to user

umur, maju melalui langkah-langkah perkembangan berikut ini :

Langkah 1. Tingkat kognitif ditandai oleh usaha pertama siswa untuk menguasai suatu keterampilan gerak baru atau dengan kata lain proses belajarnya diawali dengan aktif berpikir tentang gerakan yang dipelajari. Siswa berusaha untuk mengetahui dan memahami gerakan dari informasi yang diberikan kepadanya

Langkah 2. Tingkat asosiatif yaitu dalam perbaikan keterampilan olahraga ditandai oleh naiknya penampilan melalui latihan dan pada saat program gerak dibuat atau seorang siswa sudah mampu melakukan gerakan-gerakan dalam bentuk rangkaian yang tidak tersendat-sendat dalam pelaksanaannya

Langkah 3. Tahap otonom. Latihan yang rutin dan terus-menerus menghasilkan perbaikan lebih lanjut dari keterampilan gerak rnenjadi suatu gerak

dirancang sedemikian rupa sehingga memungkinkan seorang siswa menampilkan

kegiatan itu dalam berbagai situasi lingkungan. Tujuan guru memberikan materi

latihan dasar ini adalah tercapainya kemampuan untuk menampilkan segala

macam keterampilan yang mungkin dibutuhkan dalam perundingan yang

sebenarnya. Untuk itu siswa harus memperhatikan contoh gerakan dan merespon

gerakan tersebut. Dalam tahap otonom ini keterampilan gerak yang dikuasai oleh

siswa akan berlanjut sejalan dengan bertambahnya latihan dan berlanjut ke tahap

yang lebih kompleks.

Dengan demikian keterampilan dapat di gambarkna sebagai kualitas

penampilan seseorang dalam melakukan tugas-tugas gerak fisik. Indikator kualitas

yang di penuhi sebagai gerak terampil yaitu efektif, efisien dan adaptif. Untuk

dapat menguasai ketrampilan gerak olahraga harus melalui proses pembelajaran.

Melalui pembelajaran yang sistematis dan kontinyu, maka ketrampilan dapat di

(40)

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

4. Pembelajaran Inovatif

Pembelajaran inovatif sebenarnya merupakan suatu pemaknaan terhadap

proses pembelajaran yang bersifat komprehensif yang berkaitan dengan berbagai

teori pembelajaran modern yang berlandaskan pada inovasi pembelajaran. Seperti

halnya teori belajar konstruktivis dan teori lainnya.

Dari segi definisinya, Pembelajaran inovatif adalah suatu proses

pembelajaran yang dirancang sedemikian rupa sehingga berbeda dengan

pembelajaran pada umumnya yang dilakukan oleh guru (konvensional).

Pembelajaran inovatif lebih mengarah pada pembelajaran yang bepusat pada

siswa. Proses pembelajaran dirancang, disusun, dan dikondisikan untuk siswa agar

belajar. Dalam pembelajaran yang berpusat pada siswa, pemahaman konteks

siswa menjadi bagian yang sangat penting, karena dari sinilah seluruh

perancangan proses pembelajaran dimulai. Hubungan antara guru dan siswa

menjadi hubungan yang saling belajar dan saling membangun. Otonomi siswa

sehingga subjek pendidikan menjadi titik acuan seluruh perencanaan dan proses

pembelajaran dengan mengacu pada pembelajaran aktif dan inovatif. Seperti yang

di kemukakan oleh I Wayan Santyasa (2008:5) bahwa “ Pembelajaran inovatif

adalah pembelajaran yang lebih bersifat student centered”.

Pembelajaran inovatif sebagai inovasi pembelajaran dapat mencakup

modifikasi pembelajaran, baik dari segi sarana dan prasarana maupun model

pembelajaran yang diterapkan. Pembelajaran inovatif bersifat menyenangkan

(rekreatif) dan membutuhkan kreativitas guru dalam proses pembelajaran untuk

dapat membuat siswa agar aktif selama pembelajaran berlangsung sehingga lebih

efektif dalam pencapaian tujuan pembelajaran.

Dalam berbagai kegiatan inovasi yang dilakukan guru lebih ditekankan

pada penerapan gagasan yang lebih praktis dan mudah. Dengan demikian

kegiatan-kegiatan inovasi yang dilakukan oleh guru dapat berupa gagasan kreatif

dan kegiatan sederhana di tingkat kelas yang dianggap dapat mengatasi

(41)

commit to user

Berbagai kegiatan guru dalam melakukan inovasi pembelajaran inovatif

menurut Moh. Ansyar dan H. Nurtain yang dikutip Hermanto (1999: 4) meliputi:

”a) mengetahui dan menemukan masalah; b) mengidentifikasi dan menyeleksi

alternatif pemecahan masalah; c) penentuan alternatif pemecahan masalah; d)

melaksanakan; e) menilai; f) perbaikan produk inovasi”. Keseluruhan rangkaian

kegiatan tersebut berkaitan sehingga produk yang dihasilkan benar-benar

merupakan solusi yang mampu memecahkan masalah yang sedang dihadapi oleh

guru yang bersangkutan. Meskipun melalui kegiatan inovasi ini para guru

mempunyai peluang untuk meningkatkan mutu pembelajaran, akan tetapi dalam

mewujudkan kegiatan inovasi tergantung kesempatan pada guru yang ada, biaya,

situasi sosial kultural warga sekolah yang, kualitas kepemimpinan kepala sekolah,

dan karakteristik guru sebagai pelaksana kurikulum. Dengan demikian, apabila

guru hendak melakukan kegiatan inovasi dalam pembelajaran sebaiknya

memperhatikan hal-hal tersebut sehingga kegiatan inovasi yang dilakukan dapat

terlaksana dengan baik dan berhasil maksimal.

a. Model - Model Pembelajaran Inovatif

Model-model pembelajaran inovatif yang akan diangkat oleh penulis

dalam penelitian ini adalah ini diantaranya: model pembelajaran langsung, model

pembelajaran kooperatif, dan beberapa contoh model dan langkah-langkah

pembelajaran Inovatif.

1) Model pembelajaran langsung

Model pengajaran langsung adalah salah satu pendekatan mengajar yang

dirancang khusus untuk menunjang proses belajar siswa yang berkaitan dengan

pengetahuan deklaratif dan pengetahuan prosedural yang terstruktur dengan baik

yang dapat diajarkan dengan pola kegiatan yang bertahap, selangkah demi

selangkah. Istilah lain model pengajaran langsung antara lain: training model,

active teaching model, mastery teaching, dan explicit instruction.

Ciri-ciri model pengajaran langsung adalah sebagai berikut:

a) Adanya tujuan pembelajaran dan pengaruh model pada siswa termasuk

(42)

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

b) Sintaks atau pola keseluruhandan luar kegiatan pembelajaran

c) Sistem pengelolaan dan lingkungan belajar model yang diperlukan agar

kegiatan pembelajaran tertentu dapat berlangsung dengan berhasil.

(a) Tujuan pembelajaran dan hasil belajar siswa

Para pakar teori belajar pada umumnya membedakan dua macam

pengetahuan, yakni pengetahuan deklaratif dan pengetahuan prosedural.

Pengetahuan deklaratif (dapat diungkapkan dengan kata-kata) adalah pengetahuan

tentang sesuatu, sedangkan pengetahuan prosedural adalah pengetahuan tentang

bagaimana melakukan sesuatu. Suatu contoh pengetahuan deklaratif yaitu:

tekanan adalah hasil bagi antara gaya dan luas bidang benda yang dikenai gaya

(p=F/A). pengetahuan prosedural yang berkaitan dengan pengetahuan deklaratif

di atas adalah bagaimana memperoleh rumus atau persamaan tekanan tersebut.

Menghafal hukum atau rumus tertentu dalam bidang studi fisika , kimia,

dan matematika merupakan contoh pengetahuan deklaratif sederhana atau

informasi faktual. Pengetahuan yang lebih tinggi tingkatannya memerlukan

penggunaan pengetahuan dengan cara tertentu, misalnya membandingkan dua

rancangan penelitian, menilai hasil karya seni dan lain-lain. Seringkali

penggunaan pengetahuan prosedural memerlukan penguasaan pengetahuan

prasyarat yang berupa pengetahuan deklaratif. Para guru selalu menghendaki agar

siswa-siswa memperoleh kedua macam pengetahuan tersebut, supaya mereka

dapat melakukan suatu kegiatan dan melakukan segala sesuatu dengan berhasil.

(b) Sintaks atau pola keseluruhan dan alur kegiatan pembelajaran

Pada model pengajaran langsung terdapat lima fase yang sangat penting.

Guru mengawali pelajaran dengan penjelasan tentang tujuan dan latar belakang

pembelajaran, serta mempersiapkan siswa untuk menerima penjelasan guru.

Pengajaran langsung dapat berbentuk ceramah, demonstrasi, pelatihan

atau praktek, dan kerja kelompok. Pengajaran langsung digunakan untuk

menyampaikan pelajaran yang ditransformasikan langsung oleh guru kepada siwa.

(43)

commit to user

seefisien mungkin, sehingga guru dapat merancang dengan tepat waktu yang

digunakan.

b) Pembelajaran Kooperatif

Pakar-pakar yang memberikan sumbangan pemikiran bagi

pengembangan model pembelajaran kooperatif adalah John Dewey dan Herbert

Thelan. Menurut Dewey kelas seharusnya merupakan cerminan masyarakat yang

lebih besar. Thelan telah mengembangkan prosedur yang tepat untuk membantu

para siswa bekerja secara berkelompok. Tokoh lain adalah ahli sosiologi Gordon

Alport yang mengingatkan kerja sama dan bekerja dalam kelompok akan

memberikan hasil lebih baik. Shlomo Sharan mengilhami peminat model

pembelajaran kooperatif untuk membuat setting kelas dan proses pengajaran yang

memenuhi tiga kondisi yaitu (a) adanya kontak langsung, (b) sama-sama berperan

serta dalam kerja kelompok dan (c) adanya persetujuan antar anggota dalam

kelompok tentang setting kooperatif tersebut.

Hal yang penting dala model pembelajaran kooperatif adalah bahwa

siswa dapat belajar dengan cara bekerja sama dengan teman. Teman yang lebih

mampu dapat menolong teman yang lemah. Dan setiap anggota kelompok tetap

memberi sumbangan pada prestasi kelompok. Para siswa juga mendapat

kesempatan untuk bersosialisasi.

c) Pembelajaran Demonstration

Langkah-langkah dalam model pembelajaran demonstration meliputi:

1) Guru menyampaikan Tujuan Pembelajaran Khusus.

2) Guru menyajikan gambaran sekilas materi yang akan disampaikan.

3) Siapkan bahan atau alat yang diperlukan.

4) Menunjukan salah seorang siswa untuk mendemontrasikan sesuai skenario

yang telah disiapkan.

5) Seluruh siswa memperhatikan demontrasi dan menganalisa.

(44)

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

pengalaman siswa didemontrasikan.

7) Guru membuat kesimpulan

d) Inside-Outside-Circle/Lingkaran Kecil-Lingkaran Besar

Pada model pembelajaran ini, siswa saling membagi informasi pada saat

yang bersamaan, dengan pasangan yang berbeda dengan singkat dan teratur.

Langkah-langkah pembelajarannya meliputi:

1) Separuh kelas berdiri membentuk lingkaran kecil dan menghadap keluar.

2) Separuh kelas lainnya membentuk lingkaran di luar lingkaran pertama,

menghadap ke dalam.

3) Dua siswa yang berpasangan dari lingkaran kecil dan besar berbagi informasi.

Pertukaran informasi ini bisa dilakukan oleh semua pasangan dalam waktu

yang bersamaan.

4) Kemudian siswa berada di lingkaran kecil diam di tempat, sementara siswa

yang berada di lingkaran besar bergeser satu atau dua langkah searah jarum

jam.

5) Sekarang giliran siswa berada di lingkaran besar yang membagi informasi.

Demikian seterusnya.

Pembelajaran inovatif sebagai bagian dari PAIKEM (Pembelajaran Aktif

Inovatif Kreatif Efektif dan Menyenangkan) dapat dijadikan sebagai cermin dari

PAIKEM itu sendiri. Pembelajaran inovatif bersifat menyenangkan (rekreatif) dan

membutuhkan kreativitas guru dalam proses pembelajaran untuk dapat membuat

siswa agar aktif selama pembelajaran berlangsung sehingga lebih efektif dalam

pencapaian tujuan pembelajaran. Sebagai pembelajaran yang rekreatif, dalam

pembelajaran inovatif ditekankan pada kegiatan belajar yang mengandung unsur

(45)

commit to user b. Kelebihan Pembelajaran Inovatif

Saat ini model pembelajaran yang sedang digalakkan adalah

pembelajaran inovatif. Hal ini dikarenakan pembelajaran inovatif memiliki

beberapa kelebihan, antara lain sebagai berikut:

1) Pembelajaran inovatif lebih mengarah pada pembelajaran yang bepusat

pada siswa.

2) Proses pembelajaran dirancang, disusun, dan dikondisikan untuk siswa

agar belajar.

3) Menuntut kreativitas guru dalam mengajar.

4) Hubungan antara guru dan siswa menjadi hubungan yang saling belajar

dan saling membangun.

5) Bersifat menyenangkan (rekreatif) dan membutuhkan kreativitas guru

dalam proses pembelajaran untuk dapat membuat siswa agar aktif selama

pembelajaran berlangsung sehingga lebih efektif dalam pencapaian tujuan

pembelajaran.

6) Otonomi siswa sehingga subjek pendidikan menjadi titik acuan seluruh

perencanaan dan proses pembelajaran.

7) Siswa adalah penerima informasi secara aktif.

8) Pengetahuan dibangun dengan penemuan terbimbing.

9) Pembelajaran lebih konkret dan praktis.

10) Perilaku dibangun atas pengalaman belajar.

11) Perilaku baik berdasarkan motivasi instrinsik.

c. Kekurangan Pembelajaran Inovatif

Di samping memiliki kelebihan, pembelajaran inovatif juga memiliki

beberapa kekurangan, antara lain sebagai berikut:

1) Pembelajaran akan bersifat monoton jika guru kurang kreatif dalam

mengelola kelas.

2) Siswa yang kurang aktif dalam proses belajar akan semakin tertinggal.

3) Situasi kelas kurang terkoordinir karena pusat kegiatan belajar adalah

(46)

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

4) Program pembelajaran kurang terkonsep.

5. Pembelajaran Inovatif Passing Bawah dengan Bola Mini

a. Hakikat Pembelajaran inovatif Passing Bawah dengan Bolavoli Mini

Pembelajaran passing bawah bolavoli dengan modifikasi bola mini

merupakan bentuk pembelajaran yang menekankan pada perubahan peralatan

khususnya bola. Bolavoli ukuran standart dianggap sebagai penghambat

pelaksanaan passing bawah. Karena bola dianggap sebagai penghambat

pelaksanaan pembelajaran passing bawah bolavoli, mka perlu diciptakan kondisi

belajar yang lebih mudah agara siswa mampu melakukan passing bawah. Rusli

Lutan & Adang Suherman (2000:75) menyatakan,” Manakala kondisi sebenarnya

menjadi penghambat belajar ketrampilan tertutup, rubahlah kondisi latihan itu

pada tingkat yang bisa dilakukan siswa selama perubahan kondisi tersebut tidak

merusak integritas skill yang dipelajarinya”. Sedangkan Sugiyanto (1996 : 64 )

menyatakan, penyusunan materi pelajaran hendaknya mengikuti prinsip-prinsip:

1) Dimulai dari materi belajar yang mudah dan di tingkatakan secara

berangsur-angsur ke materi yang lebih sukar. 2) Dimulai dari materi belajar yang sederhana

dan ditingkatkan secara berangsur-angsur ke materi yang semakin kompleks.

Berdasarkan pendapat diatas menunjukkan bahwa pembelajaran passing bawah menggunakan bola mini merupakan bentuk pembelajaran yang merubah kondisi belajar sesungguhnya (bola standart dirubah menggunakan bolavoli mini. Ukuran bolavoli mini menurut Persatuan Bolavoli Seluruh Indonesia (1995:57) yaitu,” Bola nomor 4, berat 230- 250 gram, keliling 22-24 cm ”. Perubahan penggunaan bolavoli ukuran mini karena sisa mengalami kesulitan melakukan passing bawah menggunakan bola ukuran standart. Ukuran bolavoli standart menurut Persatuan Bolavoli Seluruh Indonesia (1995: 12) Yaitu,” Keliling 65 sampai 67 cm, berat 260 sampai 280 gram, tekanan udara 0.40 sampai 0. 45 kg/cm2 ( 392-444)”. Contoh bentuk bola mini dapat dilihat pada gambar di bawah ini.

Figur

Gambar 1. Sikap saat perkenaan bola pass bawah
Gambar 1 Sikap saat perkenaan bola pass bawah. View in document p.32
Gambar 3. Tingkatan Perkembangan Ketrampilan gerak
Gambar 3 Tingkatan Perkembangan Ketrampilan gerak. View in document p.37
Gambar 5. Contoh pembelajaran inovatif passing bawah dengan bola minicommit to user
Gambar 5 Contoh pembelajaran inovatif passing bawah dengan bola minicommit to user . View in document p.47
Gambar 6. Contoh
Gambar 6 Contoh . View in document p.49
Tabel  1.  Deskripsi  Hasil  Tes  Kemampuan  Passing  Bawah  Bolavoli pada
Tabel 1 Deskripsi Hasil Tes Kemampuan Passing Bawah Bolavoli pada . View in document p.60
Tabel 2. Ringkasan Hasil Uji Reliabilitas Data Tes Awal dan Tes Akhir.
Tabel 2 Ringkasan Hasil Uji Reliabilitas Data Tes Awal dan Tes Akhir . View in document p.61
Tabel 4. Rangkuman Hasil Uji Normalitas Data
Tabel 4 Rangkuman Hasil Uji Normalitas Data. View in document p.62
Tabel 6.  Rangkuman Hasil Uji Perbedaan Tes Awal pada Kelompok 1 (K1) dan                Kelompok 2 (K2).
Tabel 6 Rangkuman Hasil Uji Perbedaan Tes Awal pada Kelompok 1 K1 dan Kelompok 2 K2 . View in document p.63
Tabel 5. Rangkuman Hasil Uji Homogenitas Data
Tabel 5 Rangkuman Hasil Uji Homogenitas Data. View in document p.63
Tabel 8. Rangkuman Hasil Uji Perbedaan Hasil Tes Awal dan Tes Akhir pada
Tabel 8 Rangkuman Hasil Uji Perbedaan Hasil Tes Awal dan Tes Akhir pada . View in document p.64
Tabel 7. Rangkuman Hasil Uji Perbedaan Hasil Tes Awal dan Tes Akhir pada
Tabel 7 Rangkuman Hasil Uji Perbedaan Hasil Tes Awal dan Tes Akhir pada . View in document p.64
Tabel 9. Rangkuman Hasil Uji Perbedaan Hasil Tes Akhir antara Kelompok 1 (K1) dan Kelompok 2 (K2)
Tabel 9 Rangkuman Hasil Uji Perbedaan Hasil Tes Akhir antara Kelompok 1 K1 dan Kelompok 2 K2 . View in document p.65
Tabel  10.  Rangkuman  Hasil  Penghitungan  Nilai  Perbedaan  Peningkatan
Tabel 10 Rangkuman Hasil Penghitungan Nilai Perbedaan Peningkatan . View in document p.65

Referensi

Memperbarui...