PENINGKATAN HASIL BELAJAR PESERTA DIDIK MELALUI MODEL PEMBELAJARAN COOPERATIVE LEARNING TIPE TEAMS GAMES TOURNAMENT (TGT) PADA MATA PELAJARAN IPS KELAS IV SDN 2 SUKAMAJU KECAMATAN ULU BELU KABUPATEN

201  Download (0)

Teks penuh

(1)

SKRIPSI

Diajukan untuk melengkapi tugas – tugas dan memenuhi syarat guna memperoleh gelar Sarjana Pendidikan Islam (S.Pd) dalam Ilmu Tarbiyah dan Keguruan

Oleh

NIRVA YULIANTI NPM : 1211100138

Jurusan : Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah

FAKULTAS TARBIYAH DAN KEGURUAN INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI RADEN INTAN

(2)

ii SKRIPSI

Diajukan untuk melengkapi tugas – tugas dan memenuhi syarat guna memperoleh gelar Sarjana Pendidikan Islam (S.Pd) dalam Ilmu Tarbiyah dan Keguruan

Oleh

NIRVA YULIANTI NPM : 1211100138

Jurusan : Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah

Pembimbing I : Syofnidah Ifrianti, M.Pd Pembimbing II : Baharudin, M.Pd

FAKULTAS TARBIYAH DAN KEGURUAN INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI RADEN INTAN

(3)

iii ABSTRAK

PENINGKATAN HASIL BELAJAR PESERTA DIDIK MELALUI MODEL PEMBELAJARAN COOPERATIVE LEARNING TIPE TEAMS GAMES

TOURNAMENT (TGT) PADA MATA PELAJARAN IPS KELAS IV SDN 2 SUKAMAJU KECAMATAN ULU BELU KABUPATEN

TANGGAMUS TAHUN PELAJARAN2016/2017 Oleh

Nirva Yulianti

Dalam pembelajaran IPS Kelas IV SDN 2 Sukamaju Kecamatan Ulu Belu Kabupaten Tanggamus. Guru terbiasa menggunkan metode ceramah, belum pernah menggunakan model pembelajaran cooperative learning tipe teams games tournament (TGT), kurangnya guru dalam menerapkan motede pembelajaran dikelas berpengaruh terhadap aktivitas peserta didik sehingga pecapaian hasil belajar peserta didik banyak yang belum mencapai KKM yang telah ditentukan. Dengan kondisi di atas memotivasi peneliti untuk mencari solusi dengan menerapkan model pembelajaran cooperative learning tipe teams games tournament (TGT), kurangnya guru dalam menerapkan model pembelajaran dikelas berpengaruh terhadap karena metode ini adalah salah satu model pembelajaran yang mendorong peserta didik untuk ikut aktif dalam pembelajaran berlangsun, model pembelajaran ini juga menguji pemahaman peserta didik dengan suasana belajar yang menyenangkan. Rumusan masalah yang di ajukan adalah “Apakah penggunaan model pembelajaran cooperative learning tipe teams games tournament (TGT), dapat meningkatkan hasil belajar Peserta didik pada mata pelajaran IPS Kelas IV SDN 2 Sukamaju Kecamatan Ulu Belu Kabupaten Tanggamus?” Penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas dengan 2 siklus yang tahapannya meliputi : perencanaan, pelaksanaan tindakan, observasi dan refleksi. Subyek penlitian ini adalah Peserta didik kelas IV SDN 2 Sukamaju Kecamatan Ulu Belu Kabupaten Tanggamus. teknik penggumpulan data menggunakan observasi/pengamatan, tes, wawancara dan dokumentasi. Data di analisis secara deskriptif kualitatif.

Hasil penelitian ini menunjukkan hasil belajar pesrta didik mengalami

peningkatan. Siklus I permuan II nilai rata-rata peserta didik sebesar 6,65%, 11 peserta didik tuntas 68.75% sedangkan 5 peserta didik belum tuntas 31.25%, siklus II pertemuan II nilai rata-rata meningkat menjadi 7,71 % 14 peserta didik tuntas dengan persentase 87,5% sedangkan 2 peserta didik belum tuntas dengan persentase 12,5%. berdasarkan hasil penlitian dapat di simpulkan bahwa model pembelajaran cooperative learning tipe teams games tournament (TGT), dapat meningkatkan hasil beajar peserta didik pada mata pelajaran IPS kelas IV SDN 2 Sukamaju Kecamatan Ulu Belu Kabupaten Tanggamus Tahun Pelajaran 2016/2017.

(4)
(5)
(6)

vi MOTTO





























Artinya : dan bagi tiap-tiap umat ada kiblatnya (sendiri) yang ia menghadap kepadanya maka berlomba-lombalah dalam berbuat kebaikan (Albaqqarah : 148).1

1

(7)

vii

persembahkan skripsi ini sebagai ungkapan cinta dan terima kasih kepada:

1. Kedua orang tua tercinta, Ayahanda Ismail dan Ibunda Armawanah yang selalu memberikan ketulusannya dalam mendidik, membesarkan dan membimbing penulis dengan penuh kasih sayang serta keikhlasan di dalam iringan do’anya hingga menghantarkan penulis menyelesaikan

pendidikan di IAIN Raden Intan Lampung.

2. Adekku tercinta Hayatun Nupus yang selalu memberikan dukungan dan

do’anya.

(8)

viii

Tanggamus pada tanggal 30 Juli 1994. Anak pertama dari 2 bersaudara dari pasangan bapak Ismail dan Ibu Armawanah. Pendidikan formal penulis, dimulai sejak pendidikan Sekolah Dasar di SDN 1 Gunung Tiga Kecamatan Ulu Belu Kabupaten Tanggamus waktu di Sekolah Dasar penulis pernah meraih juara I dari kelas I sampai kelas 2, dan mendapatkan juara 3 dari kelas 3 sampai kelas 5 lulus pada tahun 2006. Pada tahun 2006 penulis melanjutkan Sekolah Menengah Pertama di SMP Bina Utama Kecamatan Ulu Belu Kabupaten Tanggamus lulus pada tahun 2009. Pada tahun 2009 penulis melanjutkan Pendidikan Tingkat Menengah Atas di MA YPPTQ MH Ambarawa Kecamatan Ambarawa Kabupaten Pringsewu lulus tahun 2012.

(9)

ix

memberikan ilmu pangetahuan, kekuatan dan petunjuk- Nya, sehingga Penulis dapat menyelesaikan penelitian skripsi ini. Penulis susun skripsi ini, sebagai bagian dari persyaratan untuk menyelesaikan Pendidikan pada Program Strata Satu (S1) Fakultas Tarbiyah dan Keguruan IAIN Raden Intan Lampung dan Alhamdulillah telah dapat penulis selesaikan sesuai dangan rencana. Dalam upaya penyelesaian ini, penulis menerima banyak bantuan dan bimbingan dari berbagai pihak yang telah membantu hingga selesainya skripsi ini. Rasa hormat dan terima kasih penulis sampaikan kepada:

1. Bapak Dr. H. Chairul Anwar, M.Pd selaku Dekan Fakultas Tarbiyah dan Keguruan IAIN Raden Intan Lampung.

2. Ibu Syofnidah Ifrianti, M.Pd, selaku Ketua Prodi Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah (PGMI) dan selaku pembimbing I terimakasih atas motivasi dan bimbingannya sehingga selesainya penulisan skripsi ini.

3. Bapak Baharuddin, M.Pd selaku pembimbing II termikasih atas bimbingannya dalam mengarahkan dan memotivasi penulis.

(10)

x

6. Bapak Iskandar, S.Pd selaku kepala sekolah SDN 2 Sukamaju dan ibu Dwi Adminingsih, S.Pd wali kelas IV serta para dewan guru SDN 2 Sukamaju Kecamatan Ulubelu Kabupaten Tanggamus.

7. Sahabat-sahabat ku, Yeni Istiqomah, Yeni Analia, Tri Widiastuti, Vera, Khusnul, yang selalu memotivasi dan memberikan dukungan kepada penulis.

8. Rekan-rekan PPL, KKN dan sahabat-sahabat ku Prodi Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah (PGMI) angkatan 2012 khusunya kelas D

9. Almamater tercinta Fakultas Tarbiyah dan Keguruan IAIN Raden Intan Lampung.

Semoga semua kebaikan yang telah diberikan dicatat sebagai amal ibadah di sisi Allah SWT, Amiin. Dalam penulisan skripsi ini masih terdapat kekurangan, sehingga penulis mengharapkan kritik dan saran kepada pembaca yang bersifat membangun. Semoga skripsi ini dapat bermanfaat, Amiin.

Bandar Lampung, Desember 2016 Penulis

(11)

xi

LEMBAR PERSETUJUAN PEMBIMBING ... iv

LEMBAR PEGESAHAN ... v A. Latar Belakang Masalah ... 1

B. Identifikasi Masalah ... 8

C. Batasan Masalah... 8

D. Rumusan Masalah ... 9

E. Tujuan Penelitian ... 9

F. Manfaat Penelitian ... 9

BAB II KAJIAN TEORI dan HIPOTESIS TINDAKAN A. Tinjauan Tentang Hasil Belajar ... 12

1. Pengertian Hasil Belajar ... 12

2. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Hasil Belajar ... 15

3. Indikator Hasil Belajar... 17

B. Model Pembelajaran Cooperative Learning tipe Teams Games Tournament (TGT) ... 18

1. Pengertian Model Pembelajaran Cooperative Learning ... 18

2. Tujuan Pembelajaran Cooperative Learning ... 20

3. Pengertian Model Pembelajaran tipe Teams Games Tournament (TGT) ... 21

4. Langkah-langkah Model Pembelajaran tipe (TGT) ... 22

(12)

xii

C. Ilmu Pengetahuan Sosial ... 23

1. Pengertian Ilmu Pengetahuan Sosial ... 23

2. Tujuan Pembelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial ... 24

3. Ruang Lingkup Ilmu Pengetahuan Sosial ... 25

D. Pembelajaran IPS dengan Cooperative Learning tipe Teams Games Tournament (TGT) ... 26

E. Hasil Penelitian Yang Relevan... 28

F. Hipotesis Tindakan... 30

BAB III METODOLOGI PENELITIAN TINDAKAN KELAS A. MetodePenelitian ... 31

B. Jenis atau Desain Penelitian ... 32

C. Setting Penelitian dan Karakteristik Subjek Penelitian ... 34

1. Tempat Penelitian... 34

2. Waktu Penelitian ... 34

3. Subjek Penelitian ... 34

D. Rencana Tindakan ... 34

E. Teknik Pengumpulan Data ... 41

F. Analisis Data... 43

G. Indikator Keberhasilan ... 45

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. HasilPenelitian ... 46

1. Sejarah Singkat Beridirnya SDN 2 Sukamaju ... 46

2. Fasilitas dan Keadaan Peserta Didik SDN 2 Sukamaju ... 51

B. Diskripsi Data ... 52

1. PaparanSiklus I ... 54

2. PaparanSiklus II ... 70

(13)

xiii

Tabel 1. Hasil Belajar Peserta DidikPada Mata Pelajaran IPSKelas IV SDN 2 Suka Maju Kecamatan Ulu Belu Kabupaten Tanggamus

Tahun Pelajaran 2016/2017 ... 6

Tabel 2. Periodesasi Kepemimpinan SDN 2 SukamajuKecamatan

Ulu Belu KabupatenTanggamus ... 46

Table3. Nama-nama Guru dan Karyawan SDN 2 Sukamaju Kecamatan

Ulu Belu Kabupaten Tanggamus ... 48

Tabel4. Kondisi Peserta Didik SDN 2 Sukamaju Kecamatan Ulu Belu

KabupatenTanggamus ... 49

Tabel 5. Ketersedian Alat Peraga/Media Pembelajaran SDN 2

Sukamaju Kecamatan Ulu Belu KabupatenTanggamus... 50 Tabel 6. Fasilitas SDN 2 Sukamaju Kecamatan Ulu Belu Kabupaten

Tanggamus ... 51 Tabel 7. Nilai Hasil Pretest ... 52 Table 8. Hasil Belajar Kelas IV DSN 2 Sukamaju Kecamatan

Ulu Belu Kabupaten Tanggamus Tahun Pelajaran 2016/2017 ... 59 Tabel 9. Hasil Belajar Kelas IV SDN 2 Sukamaju Kecamatan

Ulu Belu Kabupaten Tanggamus Tahun Pelajaran 2016/2017 ... 66 Tabel 10. Hasil Belajar IPS Siklus I Pertemuan Kedua Kelas IV SDN 2

Sukamaju Kecamatan Ulu Belu Kabupaten Tanggamus Tahun

Pelajaran 2016/2017 ... 67 Tabel 11. Hasil Belajar Kelas IV SDN 2 Sukamaju Kecamatan Ulu Belu

(14)

xiv

Pelajaran 2016/2017 ... 83 Tabel 14. Hasil Belajar Kelas IV SDN 2 Sukamaju Kecamatan Ulu Belu

Kabupaten Tanggamus Tahun Pelajaran 2016/2017... 87 Tabel 15. Persentase Hasil Pretest Pra Siklus dan Postest Siklus I

Pertemuan Kedua ... 89 Tabel 16. Hasil Belajar Kelas IV SDN 2 Sukamaju Kecamatan

Ulu Belu Kabupaten Tanggamus Tahun Pelajaran 2016/2017 ... . 91 Tabel 17. Persentase Hasil Belajar Siklus I Pertemuan Kedua danSiklus

II Pertemuan Kedua ... 92 Tabel 18. Hasil Belajar Kelas IVSDN 2 Sukamaju Kecamatan Ulu Belu

Kabupaten Tanggamus Tahun Pelajaran 2016/2017... 93 Tabel 19. Hasil Belajar IPS Siklus I dan Siklus II Kelas IV SDN 2

Sukamaju Kecamatan Ulu Belu Kabupaten TanggamusTahun

(15)

xv

Gambar 2. Grafik Peningkatan Hasil Belajar Peserta Didik dari Siklus I

Sampai Siklus II ... 95 Gambar 3. Saat peneliti menjelaskan materi kepada seluruh peserta didik ... 88 Gambar4. Saat peserta didik berdiskusi memahami materi yang telah

diberikan oleh peneliti ... 88 Gambar 5. Saat seluruh peserta didik dimeja tournament ... 89 Gambar 6. Kelompok tournament, pada saat pembaca soal sedang membacakan

soal ... 89 Gambar 7. Pada saat peserta didik di meja tournament... 90 Gambar 8. Pada saat peserta didik mendapatkan hadiah perwakilan dari

(16)

xvi

Lampiran2. RPP Siklus I Pertemuan ... 7

Lampiran 3. RPP Siklus I Pertemuan Kedua ... 14

Lampiran 4. RPP Siklus II Pertemuan Pertama ... 21

Lampiran 5. RPP Siklus II Pertemuan Kedua ... 28

Lampiran 6. Daftar Nama Anggota Kelompok Awal ... 35

Lampiran 7. Daftar Nama Anggota Kelompok Tournament ... 36

Lampiran 8. Lembar Observasi Siklus I Pertemuan Pertama ... 37

Lampiran 9. Lembar Observasi Siklus I Pertemuan Kedua ... 43

Lampiran 10. Lembar Observasi Siklus II Pertemuan Pertama ... 49

Lampiran 11. Lembar Observasi Siklus II Pertemuan Kedua ... 55

Lampiran 12. Soal Pretest ... 61

Lampiran 13. Soal Tournament Siklus I Pertemuan Satu ... 65

Lampiran 14. Soal Tournament Siklus I Pertemuan Kedua ... 67

Lampiran 15. Soal Postes Siklus I Pertemuan Kedua ... 69

Lampiran 16. Soal Tournament Siklus II Pertemuan Satu ... 73

Lampiran 17. Soal Tournament Siklus II Pertemuan Kedua ... 75

Lampiran 18. Soal Postes Siklus II Pertemuan Kedua ... 77

Lampiran 19. Kartu Konsultasi Pembimbing I ... 81

(17)
(18)

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Pembelajaran adalah sistem sosial tempat berlangsungnya mengajar dan belajar.1 Pembelajaran di desain untuk membelajarkan peserta didik yang berarti sistem pembelajaran peserta didik sebagai subjek belajar. Menurut Moh Surya dalam Hamzah B Uno Nurdin Mohamad belajar dapat diartikan sebagai suatu proses yang dilakukan oleh individu untuk memperoleh perubahan perilaku baru secara keseluruhan, sebagai hasil dari pengalaman individu itu sendiri dalam berinteraksi dengan lingkungannya.2 Berdasarkan uraian diatas belajar dapat disimpulkan proses perubahan perilaku secara menyeluruhan yang didasari oleh pengalaman individu dalam berintraksi dengan lingkungan.

Berangkat dari konsep pemikiran teori diatas belajar merupakan perubahan perilaku secara keseluruhan dan bertujuan untuk pengembangan kognitif dan skil. Dalam konteks penelitian ini peneliti melihat perkembangan hasil belajar peserta didik. Hasil belajar adalah segala sesuatu yang menjadi milik siswa sebagai akibat dari kegiatan belajar yang dilakukannya.3

1

Tim pengembangan MKDP, Kurikulum dan Pembelajaran ( Jakarta: PT Grafindo, 2012), h. 181.

2

Hamzah B. Uno, Nurdin Mohamad, Belajar Dengan Pendekatan Paikem (Jakarta: Bumi Aksara, 2013),h. 139.

3

(19)

Dalam kaitannya dengan hal peningkatan hasil belajar peserta didik, maka guru harus bertindak sebagai mediator dan fasilitator yang baik yang dapat mendukung terjadinya proses pembelajaran yang efektif. Dalam hal ini dengan memilih model pembelajaran yang tepat. Menurut Joyce & Weil model pembelajaran dapat dijadikan pola pilihan, artinya para guru boleh memilih pembelajaran yang sesuai dan efisein untuk mencapai tujuan pendidikannya.4

Sebagaimana dalam Al-Qur’an yang tertuang dalam Al-Qur’an Surat AlKahfi ayat 66 yang berbunyi :

mengajarkan kepadaku ilmu yang benar di antara ilmu-ilmu yang telah diajarkan

kepadamu?".5

Ayat ini menjelaskan, seorang guru hendaknya, Menuntun peserta didiknya. Dalam hal ini menerangkan bahwa peran seorang guru adalah sebagai fasilitator. Mendorong peserta didik terlibat lebih aktif dalam proses pembelajaran sehingga dapat meningkatkan hasil belajar peserta didik.

Dalam pembelajaran pentingnya peran seorang yang guru kreativitas. Salah satunya dengan menerapkan model, metode, strategi dan teknik, yang tepat di

4

Rusman, Model-model Pembelajaran (Jakarta : PT Grafindo Persada, 2013), h. 133. 5

(20)

sekolah dasar. Pembelajaran IPS pembelajaran lebih ditekankan pada pengembangan ide-ide yang penting dalam memahami, mengapresiasikan dan menerapkan dalam kehidupan.6 Pembelajaran IPS diharapkan dapat menyiapkan anggota masyarakat di masa yang akan datang dan dapat membina warga negara yang baik yang mampu memahami dan menelaah secara kritis kehidupan sosial disekitarnya, serta mampu aktif berpartisipasi dalam lingkungan kehidupan, baik di masyarakatnya, negara maupun dunia.

Guru harus memiliki kemampuan mengemas pembelajaran secara baik dengan menggunakan model pembelajaran yang tepat maka proses belajar mengajar akan berjalan lancar dan dapat menumbuhkan minat belajar serta mempengaruhi hasil belajar peserta didik. Model pembelajaran yang melibatkan peran aktif peserta didik untuk bekarjasama dalam memaksimalkan kondisi belajar, sehingga dapat meningkatkan hasil belajar peserta didik dengan menggunakan model pembelajaran cooperative learning.

Cooperative learning merupakan bentuk pembelajaran dengan cara siswa belajar dan bekerja dalam kelompok-kelompok kecil secara kolaboratif yang anggotanya terdiri dari 4-6 orang dengan struktur kelompok yang bersifat heterogen.7 Dalam pembelajaran cooperative learning setiap peserta didik akan saling membantu, mereka akan mempunyai motivasi untuk keberhasilan kelompoknya, sehingga setiap

6

Ahmad Susanto, pengembangan pembelajaran IPS Di Sekolah Dasar (Jakarta: charisma putra utama, 2014), h. 37.

7

(21)

peserta didik akan memilki kesempatan yang sama untuk memberikan konstribusi demi keberhasilan kelompok.

Terdapat banyak tipe pembelajaran kooperatif, diantaranya tipe teams games tournament (TGT). Model pembelajaran TGT adalah salah satu tipe pembelajaran kooperatif yang menempatkan siswa dalam kelompok-kelompok belajar yang beranggotakan 5 hingga 6 ornag siswa yang memiliki kemampuan, jenis kelamin dan suku ras yang berbeda.8

Tipe pembelajaran TGT dirancang untuk mengatasi kesulitan belajar peserta didik secara individual. Karena dalam pembelajaran ini tugas yang diberikan harus dikerjakan secara bersama-sama dengan anggota kelompoknya. Apa bila dari anggota kelompok tidak mengerti dengan tugas yang diberikan maka anggota kelompok lain yang bertangung jawab untuk memberikan jawaban atau menjelaskannya.

Ciri khas pada tipe TGT ini adalah peserta didik belajar secara berkelompok dalam memahami materi yang telah guru berikan, lalu mereka diuji secara individual mealalui game akademik. Nilai yang mereka peroleh dari game akan menentukan skor kelompok mereka masing-masing. Lima tahapan dalam pembelajran kooprartif tipe TGT Menurut Slavin dikutif oleh Rusman yaitu penyajian kelas, belajar dalam kelompok, permainan, pertandingan dan penghargaan kelompok. Tujuan utama

8

(22)

dalam pembelajaran cooperative learning adalah untuk mengajarkan kepada siswa keterampilan kerja sama dan kolaborasi.9

Melihat dari berbagai kajian teori yang ada dalam model cooperative learning tipeTGT dapat dijadikan alternatif untuk mengatasi hasil belajar peserta didik. Dalam konteks ini proses pembelajaran IPS diharapkan meningkatkan hasil belajar peserta didik kearah yang lebih baik dan menimbulkan kemampuan yang lebih baik untuk menjalin hubungan sosial dan kemampuan mengembangkan rasa saling mempercayai diantara teman dan dapat membina warga negara yang baik yang mampu memahami dan menelaah secara kritis kehidupan sosial disekitarnya, serta mampu secara aktif berpartisipasi dalam lingkungan kehidupan dalam masyarakat.

Berdasarkan hasil observasi awal yang penulis lakukan terlihat bahwa proses pembeajaran IPS kelas IV SDN 2 Sukamaju Kecamatan Ulu Belu Kabupaten Tanggamus guru dalam mengajar menggunakan metode ceramah. Di mana guru berdiri di depan kelas dan menjelaskan materi pelajaran yang diberikan. Sementara itu peserta didik diam mendengarkan penjelasan guru. Dalam suasana demikian, peserta didik cenderung bersikap pasif dan hanya menerima begitu saja pelajaran, sehingga menimbulkan rasa bosan dan jenuh peserta didik untuk mengikuti pelajaran. Kemudian pada saat guru memberikan tugas masih ada peserta didik yang tidak bisa menjawab tugas yang guru berikan adapun jawabannya masih asal-aslan10. Kondisi pembelajaran yang demikian menyebabkan pencapaian hasil belajar peserta didik

9

Rusman, OP. Cit. h. 210. 10

(23)

menjadi rendah. Hal tersebut peneliti ketahui dari hasil studi pendahuluan yang dilakukan peneliti diperoleh dari dokumen hasil belajar guru dimana mayoritas peserta didik belum berhasil mencapai batas minimum atau nilai KKM IPS yng telah ditetapkan.

Dengan adanya Nilai IPS masih dibawah KKM tersebut sangat mempengaruhi prestasi pada peserta didik itu sendiri. Deskripsi hasil belajar peserta didik dapat dilihat pada tabel berikut :

Tabel I

Hasil Belajar Peserta Didik Pada Mata Pelajaran IPS Kelas IV SDN 2 Suka Maju Kecamatan Ulu Belu KabupatenTanggamus

Tahun Pelajaran 2016/2017

(24)

Berdasarkan tabel diatas, diketahui hasil belajar peserta didik yang diberikan kepada 16 peserta didik, diperoleh 9 peserta didik atau 56.28% belum mampu mencapai tingkat ketuntasan belajar, hanya 7 orang peserta didik atau 43.75 % yang

behasil mencapai KKM IPS ≥ 65. Secara keseluruhan hasil belajar peserta didik pada

mata pelajaran IPS pada tes penelitian awal adalah rendah skor rata-rata 63.

Lebih lanjut, peneliti wawancara dengan guru kelas, mengatakan “rendahnya KKM yang dicapai peserta didik disebabkan oleh berbagai faktor, diantara motivasi

belajar rendah dan fasilitas yang kurang mendukung”.11

Berangkat kondisi pembelajaran di atas, penulis terdorong untuk melakukan perbaikan, dalam hal ini dengan memberikan tindakan meningkatkan hasil belajar peserta didik melalui model pelajaran cooperative learning tipe teams games tournament (TGT) pada pelajaran IPS. Dimana penulis memilih tipe teams games tournament (TGT) untuk mengatasi permasalahan peserta didik kelas IV SDN 2 sukamaju kecamatan ulu belu kabupaten tanggamus mata pelajaarn IPS. model pembelajaran cooperative learning tipe teams games tournament (TGT) mempunyai peranan untuk meningkatkan hasil belajar peserta didik dalam kelompok. Saat belajar ada tanggung jawab dari setiap anggota untuk menguasai materi yang diberikan guru, dapat membuat interaksi dalam kelas menjadi hidup dan tidak mebosankan. Dengan

11

(25)

ini diharapakan peserta didik belajar secara berkelompok dan saling bekerjasama dalam mencapai keberhasilan.

B. Identifikasi Masalah

Berdasarkan latar belakang di atas, maka masalah yang dapat diidentifikasi adalah sebagai berikut:

1. Mata pelajaran IPS yang selama ini masih dominasi oleh penggunaan metode ceramah dengan berfokus pada guru sebagai subjek utama.

2. Penggunaan metode pembelajaran IPS tidak relevan dengan materi yang disajikan.

3. Masih rendahnya tingkat pemahaman peserta didik terhadap materi-materi pembelajaran IPS yang telah disampaikan guru.

4. Pencapaian KKM pada Mata Pelajaran IPS SDN 2 Sukamaju Kelas IV masih dibawah standar KKM.

C. Batasan Masalah

Agar pembelajaran ini lebih efektif, terarah dan dapat dikaji maka perlu pembatasan masalah dalam hal ini difokuskan pada hal-hal sebagai berikut.

(26)

2. Penerapan Model Pembelajaran cooperative learning tipe teams games tournament (TGT) pada pembelajaran IPS Kelas IV SDN 2 Sukamaju Kecamatan Ulu Belu Kabupaten Tanggamus.

D. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah ditinjau dari masalah penelitan : Apakah penggunaan model pembelajaran cooperative learning tipe teams games tournament (TGT) dapat meningkatkan hasil belajar Peserta didik pada mata pelajaran IPS Kelas IV SDN 2 Sukamaju Kecamatan Ulu Belu Kabupaten Tanggamus?

E. Tujuan dan Manfaat Penelitian a. Tujuan penelitian

Berdasarkan rumusan masalah tersebut, maka tujuan penelitian ini adalah untuk meningkatkan hasil belajar peserta didik pada mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial.

b. Manfaat Penelitian

Adapun manfaat penelitian ini adalah

1. Manfaat Secara Teoritis

(27)

Pembelajaran Cooperative Learning Tipe (Teams Games Tournament ) TGT Kelas IV SD SDN 2 Sukamaju Kecamatan Ulu Belu Kabupaten Tanggamus.

2. Manfaat Secara Praktis a) Bagi Peserta Didik

Dapat meningkatkan pemahaman dalam menyerap materi yang dipelajari sehingga proses dan hasil belajar pun akan lebih meningkat.

b) Bagi Guru

Dapat mengembangkan pengetahuan dan keterampilan serta membangkitkan rasa percaya diri sehingga akan selalu bergairah dan bersemangat untuk memperbaiki pembelajarannya secara terus menerus.

c) Bagi Lembaga

Semoga penelitian ini dapat memberikan wacana dan inovasi tentang penerapan Model pembelajaran cooperative learning tipe TGT khususnya dalam bidang Ilmu Pengetahuan Sosial.

d) Bagi Sekolah

(28)
(29)

BAB II

KAJIAN TEORI DAN HIPOTESIS TINDAKAN

A. Tinjauan Tentang Hasil Belajar 1. Pengertian Hasil Belajar

Hasil belajar adalah sejumlah pengalaman yang diperoleh siswa yang mencakup ranah kognitif, afektif dan psikomotorik.1 Sebagaimana dalam Al-Qur’an yang tertuang dalam Al-Qur’an Surat Al- Mujadallah ayat 11 yang orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan.2

Sedangkan yang dimaksud dengan (ملعلا اوتوأ نيذلا( adalah mereka yang beriman dan menghiasi diri mereka dengan pengetahuan. Ini berarti ayat di atas membagi kaum beriman kepada kelompok besar yang pertama sekadar beriman beramal saleh dan yang kedua beriman dan beramal saleh serta memiliki pengetahuan. Derajat kelompok kedua ini memiliki lebih tinggi, bukan saja karena nilai ilmu yang disandangnya, tetapi juga amal dan pengajarannya kepada pihak lain baik secara lisan atau tulisan maupun dengan keteladanan. Ilmu yang dimaksud ayat di atas bukan saja ilmu agama tetapi ilmu apapun yang bermanfaat. Di sisi lain juga menunjukkan bahwa ilmu haruslah menghasilkan khasyyah yakni rasa takut dan kagum kepada allah, yang pada gilirannya mendorong yang berilmu untuk mengamalkan ilmunya serta memanfaatkannya untuk kepentingan mahkluk3

1

Rusman, Pembelajaran Tematik Terpadu (Jakarta : PT Grafindo, 2015), h. 67. 2

Departemen Agama RI, Al-Qur’an dan Terjemah (Jakarta, 2012), h. 910. 3

(30)

Ayat tersebut menjelaskan, bahwasannya Allah SWT sangat memperhatikan orang-orang yang berilmu dan berjanji akan mengangkat derajatnya lebih tinggi dibandingkan dengan orang yang tidak berilmu. Setiap usaha manusia dalam hidup tentu memiliki tujuan tertentu, demikian pula dengan pendidikan melalui proses belajar mengajar yang dilakukan dan dilaksanakan peserta didik secara terencana diharapkan dapat mencapai hasil belajar yang baik.

Hasil Belajar merupakan pola-pola perbuatan, nilai-nilai, pengertian-pengertian, sikap-sikap, apreasiasi dan keterampilan.4 Sebagaimana dalam Al-Qur’an yang tertuang dalam Al-Qur’an Surat Az-Zumar ayat 9 yang berbunyi :

...

Artinya : (Sesungguhnya orang yang berakallah yang dapat menerima pelajaran.5 Ayat tersebut menjelaskan, hasil belajar mempunyai peranan penting dalam proses pembelajaran proses penilaian terhadap hasil belajar dapat memberikan informasi kepada guru tentang kemajuan peserta didik dalam upaya mencapai tujuan-tujuan belajarnya melalui kegiatan belajar.

Hampir sebagian tersebar dari kegiatan atau prilaku yang dipelihatkan sesorang merupakan hasil belajar.6

4

Agus Suprijono, Cooperative Learning (Yogyakarta : Pustaka Belajar, 2013), h.5. 5

Departemen Agama RI, Op. Cit. h.747. 6

(31)

Kemajuan belajar peserta didik itu diukur dengan maksud untuk mengetahui sejauh mana peserta didik telah menguasai pelajaran yang telah guru sampaikan, sesuai dengan pembelajaran menurut Bloom et al dalam Deni Kurniawan menggolongkan hasil belajar itu menjadi tiga bagian yaitu : kognitif, afektif, dan psikomotor.7

Tipe hasil belajar kognitif lebih dominan dari pada afektif dan psikomotor karena lebih menonjol, namun hasil belajar afektif dan psikomotor juga harus menjadi bagian dari hasil penilaian dalam proses pembelajaran di sekolah. Hasil belajar digunakan guru untuk dijadikan ukuran atau kriteria dalam mencapai suatu tujuan pendidikan.

Pada dasarnya pengungapan hasil belajar meliputi segenap aspek psikologis, dimana aspek tersebut berangsur berubah seiring dengan pengalaman dan proses belajar yang dijalani peserta didik. Akan tetapi tidak dapat semudah itu, karena terkadang untuk rana afektif sangat sulit untuk hasil belajarnya. Hal ini disebabkan karena hasil belajar itu ada yang bersifat tidak bisa diraba maka dari itu, yang dapat dilakukan oleh guru adalah mengambil cuplikan perubahan tingkah laku sebagai hasil dari belajar yang dianggap penting dan diharapkan dapat mencerminkan hasil dari belajar tersebut, baik dari aspek kognitif, aspek afektif, dan aspek psikomotor.

7

(32)

2. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Hasil Belajar

Faktor-faktor yang mempengaruhi belajar banyak jenisnya tetapi dapat digolongkan menjadi dua golongan yaitu : faktor intern dan faktor ekstern, faktor intern adalah faktor yang ada dalam diri individu yang sedang belajar, sedangkan faktor ekstern adalah faktor yang ada di luar individu.8 Dua faktor yang mempengaruhi belajar yaitu :

a. Faktor Ekstern Faktor Lingkungan

Lingkungan merupakan bagian dari kehidupan anak didik. a) Lingkungan alami

Lingkungan hidup adalah lingkungan yang tempat tinggal anak didik

b) Lingkungan sosial budaya

Sebagai anggota masyarakat anak didik tidak bisa melepaskan diri dari ikatan sosial. Sistem sosial yang terbentuk mengikat perilaku anak didik untuk tunduk pada norma-norma sosial, susila, dan hukum yang berlaku dalam masyarakat. Demikian juga halnya di sekolah. Ketika anak didik berada di sekolah, maka dia berada dalam sistem sosial sekolah. Peraturan dan tata tertib sekolah harus anak didik taati.

b. Faktor Intern

Setiap sekolah mempunyai tujuan yang akan dicapai. Tujuan tentu saja pada tingkat kelembagaan, dalam rangka melicinkan kerarah itu diperlukan seperangkat kelengkapan dalam berbagai bentuk dan jenisnya, semua dapat diperdayagunakan menurut masing-masing kelengkapan sekolah yaitu:

8

(33)

1) Kurikulum

Kurikulum adalah a plan for learning yang merupakan unsur subtansial dalam pendidikan. Tanpa kurikulum kegiatan belajar mengajar tidak dapat berlangsung, sebab materi apa yang harus guru sampaikan dalam suatu pertemuan kelas, belum guru programkan sebelumnya.

2) Program

Setiap sekolah mempunyai program pendidikan. Program pendidikan disusun untuk dijalankan demi kemajuan pendidikan.

3) Sarana dan Fasilitas

Sarana mempunyai arti penting dalam pendidikan. Gedung sekolah misalnya sebagai tempat yang strategis bagi berlangsungnya kegiatan belajar mengajar di sekolah. 9 tubuh dan sendi-sendi dapat mempengaruhi semangat dan intensitas siswa dalam mengikuti peajaran. Kondisi organ tubuh yang lemah, apalagi jika disertai pusing kepala berat misalnya dapat menurunkan kualitas ranag cipta (kognitif) sehingga materi yang dipelajarinya kurang atau tidak berbekas. 11

d. Psikologis

Faktor-faktor psikologis yang utama mempengaruhi hasil belajar adalah sebagai berikut :

9

Syaiful Bahri Djamarah, Psikologi Belajar (Jakarta : PT Rineka Cipta, 2008), h.176-183. 10

Ibid. h. 185. 11

(34)

1) Minat

Minat adalah kecenderungan yang tetap untuk memperhatikan dan mengenang beberapa kegiatan.

2) Bakat

Bakat adalah kemapuan untuk belajar, kemampuan iti baru akan terealisasi menjadi kecakapan yang akan nyata sesudah belajar atau berlatih. 12 Faktor-faktor hasil belajar di atas dapat disederhanakan menjadi faktor ekstern dan faktor intern, yang diantara Ekstern dan Intern tersebut saling berintraksi secara langsung ataupun tidak langsung dalam mencapai hasil belajar.

3. Indikator Hasil Belajar

Banyak guru yang merasa sukar untuk menjawab pernyataan yang diajukan kepadanya mengenai apakah pengajaran yang telah dialakukan berhasil dan apa buktinya, untuk menjawab pernyataan itu, terlebih dahulu harus ditetapkan alat untuk menaikkan keberhasilan belajar secara tepat. Mengingat pengaran merupakan suatu proses untuk mencapai tujuan yang telah dirumuskan, maka disini dapat ditentukan dua kriteria yang bersifat umum. Menurut Sudjana kedua kriteria tersebut adalah :

a. Kriteria ditinjau dari sudut prosesnya. b. Kriteria ditinjau dari hasilnya.13

Dengan kriteria pengukuran tersebut maka diharapkan agar peserta didik dapat mencapai hasil belajar peserta didik yang baik karena dengan demikian maka menunjukkan pola tingkat penguasaan materi pelajaran dapat berjalan dengan baik.

12

Slamato, Op. Cit. h. 55-57. 13

(35)

B. Model Pembelajaran Cooperative Learning Tipe Teams Games Tournament (TGT)

1. Pengertian Model Pembelajaran Cooperative Learning

Pembelajaran cooperative learning adalah suatu model pembelajaran dimana dalam sistem belajar dan bekerja dalam kelompok-kelompok kecil yang berjumlah 4-6 orang secara kolaboratif sehingga dapat merangsang siswa dalam belajar.14 Sebagaimana dalam Al-Qur’an yang tertuang dalam Al-Qur’an Surat Al- Ma’idah ayat 2 yang berbunyi :

Artinya : dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa,

dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. dan bertakwalah

kamu kepada Allah, Sesungguhnya Allah Amat berat siksa-Nya.15

Ayat tersebut menjelaskan, pembelajaran dengan kelompok sangat menyentuh hakekat manusia sebagai mahluk sosial, yang selalu berintraksi saling memabantu kearah yang lebih baik secara bersama-sama. Dalam proses belajar disini benar-benar diutamakan saling membantu antar anggota kelompoknya.

14

Tukirin Taniredja, Efi Miftah Faridli, Sri Harmaianto, Op. Cit. h. 55. 15

(36)

Pembelajaran cooperative learning adalah suatu model pembelajaran dimana siswa belajar dan bekerja dalam kelompok-kelompok kecil secara kolaboratif yang anggotanya terdiri dari 4-6 orang, dengan struktur kelompoknya yang bersifat heterogen.16

Berdasarkan pendapat diatas Pembelajaran cooperative learning dapat disimpulkan pembelajaran dimana peserta didik belajar dalam kelompok-kelompok kecil dan memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk bekerja sama dengan kelompoknya masing-masing.

Pembelajaran cooperative learning adalah model pembelajaran dengan menggunakan pengelompokan/ tim yaitu antara empat sampai enam orang yang memiliki jenis kelamin, rasa tau suku yang berbeda.17

Berdasarkan pendapat diatas Pembelajaran cooperative learning dapat disimpulkan pembelajaran secara berkelompok dimana setiap kelompok memiliki jenis kelamin, rasa tau suku yang berbeda dalam pembelajaran dan dapat mendorong peserta didik untuk aktif dan saling membantu dalam menguasai materi pembelajaran untuk mencapai hasil belajar.

16

Etin Solihatin, Strategi Pembelajaran PPKN ( Jakarta : PT Bumi Aksara, 2012), h.102. 17

(37)

2. Tujuan Model Pembelajarn Cooperative Learning

Tujuan dari pembelajaran cooperative learning adalah agar peserta didik dapat belajar secara berkelompok bersama teman-temannya dengan cara menghargi pendapat dan memberikan kesempatan kepada orang lain untuk mengemukakan gagasannya dengan menyampaikan pendapat mereka secara berkelompok.18 Karena dengan model pembelajaran cooperative learning ini siswa terhindar dari rasa jenuh serta terbangkitnya motivasi belajar yang baru. Menurut Slavin tujuan model pembelajaran cooperative learning ini adalah menciptakan situasi dimana keberhasilan individu ditentukan atau dipengaruhi oleh keberhasilan kelompoknya.19

Berdasarkan defenisi di atas dapat dipahami bahwa tujuan cooperative learning adalah pembelajaran dimana peserta belajar secara berkelompok dan mendiskusikan materi dengan temanya, dan peserta didik dapat menggemukakan pendapatnya dengan teman kelompoknya dan peserta didik tidak merasakan jenuh pada saat pembelajaran berlangsung sehingga dapat meningkatkan hasil belajar peserta didik.

18

Isjoni, Cooperative Learning ( Bandung : Alfabeta, 2014), h. 21. 19

(38)

3. Pengertian Model Pembelajaran Cooperative Learning Tipe Teams Games Tournament (TGT)

Model pembelajaran TGT adalah salah satu model pembelajaran kooperatif yang menempatkan siswa dalam kelompok-kelompok belajar yang beranggotakan 5 hingga 6 ornag siswa yang memiliki kemampuan, jenis kelamin dan suku ras yang berbeda.20

Berdasarkan pendapat diatas Model pembelajaran TGT dapat disimpulkan pembelajaran yang melibatkan peserta didik belajar secara berkolompok kecil dan dapat dan saling bertukar pikiran antar anggota kelompoknya.

Model pembelajaran TGT adalah salah satu tipe atau model pembelajaran kooperatif yang mudah diterapkan, melibatkan aktivitas seluruh siswa tanpa harus ada perbedaan status, melibatkan peran siswa sebagai tutor sebaya dan mengandung unsur permainan.21

Berdasarkan pendapat diatas Model pembelajaran TGT dapat disimpulkan pembelajaran secara berkelompok tanpa adanya perbedaan status dan saling membantu antar kelompok dan mengandung unsur permaninan dalam pembelajaran.

20

Muhammad Fathurrohman, Model-model Pembelajaran Inovatif, ( Jakarta : Ar-Ruzz Media, 2015), h. 55.

21

(39)

Model pembelajaran TGT adalah salah strategi pembelajaran kooperatif yang dikembangkan oleh slavin untuk membantu siswa mereview dan menguasai materi pelajaran.22

Berdasarkan pendapat diatas Model pembelajaran TGT dapat disimpulkan pembelajaran secara berkelompok, dimana peserta didik belajar bersama-sama untuk menguasai materi pelajaran.

4. Langkah-langkah Model Pembelajaran Cooperative Learning Tipe Teams Games Tournament (TGT).

a. Pada awal pertemuan, membentuk kelompok kecil dengan anggota 4-5 orang. b. Mempelajari materi yang diberikan sesuai dengan kemapuan masing-masing. c. Bekerjasama memadukan kemampuan untuk saling mengisi, saling

membantu guna mengerjakan tugas belajar yang dibagikan oleh guru.

d. Menjelaskan dan menyatukan serta melengkapi pendapatnya dengan dasar-dasar pemikiran yang rasional.

5. Kelebihan dan Kelemahan Model Pembelajaran Cooperative Learning Tipe Teams Games Tournament (TGT).

Kelebihan Model Pembelajaran TGT

a. Dalam kelas kooperatif siswa memiliki kebebasan untuk berintraksi dan mengunakan pendapatnya.

22

(40)

b. Rasa percaya diri siswa menjadi lebih tinggi. c. Prilaku menganggu siswa lain menjadi lebih kecil. d. Motivasi belajar siswa bertambah.

e. Pemahaman yang lebih mendalam terhadap pokok bahasan pembelajaran. f. Meningkatkan kepekaan, toleransi antara siswa dengan siswa lain.

g. Siswa daapat menelaah sebuah mata pelajaran atau pokok bahasan bebas mengaktualisasikan diri dengan seluruh potensi yang ada dalam diri siswa dapat keluar, dan dapat membuat interaksi belajar dalam kelas menjadi hidup dan tidak mebosankan.

Kelemahan Model Pembelajaran TGT antara lain:

a. Sering terjadi kegiatan pembelajaran tidak semua siswa ikut serta menyumbangkan pendapatnya.

b. Kekurangan waktu untuk proses pembelajaran.

c. Kemungkinan terjadinya kegaduhan kalau guru tidak dapat mengelola kelas.23

C. Ilmu Pengetahuan Sosial

1. Pengertian Ilmu Pengetahuan Sosial

Ilmu Pengetahuan Sosial adalah suatu salah satu nama mata pelajaran di tingkat sekolah dasar dan menengah.24

23

(41)

Berdasarkan pengertian Ilmu Pengetahuan Sosial dapat disimpulkan bahwa pengetahuan yang memabahas tentang kegiatan manusia yang ada di sekitar kita dan dapat menambah wawasan peserta didik.

Ilmu Pengetahuan Sosial adalah intergrasi dari berbagai cabang ilmu – ilmu sosial, seperti sosiologi, sejarah, geografi, ekonomi, politik, hukum, dan budaya.25

Pembelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial diharapkan dapat menyiapkan anggota masyarakat di masa yang akan datang, mampu bertindak secara efektif dan dapat membina warga negara yang baik yang mampu memahami dan menelaah secara kritis kehidupan sosial yang ada di sekitarnya.

2. Tujuan Pembelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial

Menurut Nursid Sumaatmaja tujuan IPS adalah membina anak didik menjadi warga Negara yang baik, yang memiliki pengetahuan dan kepeduli sosial dan berguna bagi dirinya serta bagi masyarakat dan negara.26 Tujuan umum pengajaran IPS adalah sebagai berikut :

a. Meningkatkan kesadaran ekonomi rakyat.

b. Meningkatkan kesejahteraan jasmani dan kesejahteraan rohani.

c. Meningkatkan efesiensi, kejujuran dan keadilan bagi semua warga negara. d. Meningkatkan mutu lingkungan.

e. Menjamin keamanan Dn keadilan bagi semua warganegara.

24

Sapriya, Pendidikan IPS (Bandung : PT Remaja Rosdakarya, 2015), h.19. 25

Trianto, Model Pembelajaran Terpadu (PT Buki Aksara: Jakarta, 2010), h.171. 26

(42)

f. Memberi pengertian tentang hubungan internasional bagi kepentingan bangsa Indonesia dan perdamaian dunia.

g. Meningkatkan saling pengertian dan kerukunan antar golongan dan daerah dalam menciptakan kesatuan dan persatuan nasional.

h. Memelihara keagungan sifat-sifat kemanusian, kesejahteraan rohaniah dan tata susila yang luhur.27

Berdasarkan defenisi di atas dapat dipahami bahwa tujuan dari mata pelajaran IPS yaitu membekali peserta didik dengan pengetahuan sosial yang berguna, keterampilan sosial dan intelektual dalam membina perhatian serta kepedulian sosial dan trampil mengatasi setiap masalah yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari, baik yang menimpa dirinya sendiri maupun orang lain atau masyarakat.

3. Ruang Lingkup Ilmu Pengetahuan Sosial

Ruang lingkup IPS adalah manusia sebagai anggota masyarakat atau manusia dalam konteks sisial. Oleh karenanya pembelajaran IPS tidak hanya menekankan pada aspek pengetahuan saja, melainkan juga pembinaan peserta didik untuk mengembangkan dan menerapkan nilai-nilai pengetahuan tersebut di tengah masyarakat. Nilai-nilai tersebut misalnya tentang rasa sosial terhadap lingkungan, kepedulian terhadap sesama, disiplin. Penerapan nilai-nilai pengetahuan dimulai dari lingkup yang paling kecil, misalnya di dalam keluarga sampai pada lingkungan masyarakat. Setiap lingkungan akan mempengaruhi terhadap pembentukan kepribadian peserta didik atau individu. Keanekaragaman kelompok masyarakat dengan karakternya yang berbeda-beda.

27

(43)

Adapun Ruang lingkup mata pelajaran IPS meliputi aspek-aspek sebagai berikut:

1. Peta lingkungan setempat dengan dengan menggunakan skala sederhana, 2. Kenampakan alam dan keragaman, social budaya.

3. Interaksi manusia dengan lingkungan alam, social, budaya, dan ekonomi dari waktu ke waktu.

4. Suku bangsa di Indonesia, persatuan dalam keragaman budaya,prilaku menghargai keragaman yang ada di masyarakat.

5. Peninggalan sejarah di lingkungan setempat.

D. Pembelajaran IPS dengan Cooperative Learning Tipe Teams Games Tournament (TGT)

Pemilihan model pembelajaran yang tepat sangat membantu motivasi dan hasil belajar peserta didik. Guru mendapat kebebasan dalam memilih model pembelajaran yang digunakan. Salama ini pembelajaran IPS masih menggunakan metode ceramah yang menuntut peserta didik bersikap pasif. Salah satu metode yang menekakan pada keaktifan peserta didik adalah Model pembelajaran cooperative learning. Juliati mengemukakan pembelajaran kooperatif lebih tepat digunakan dalam pembelajaran IPS.28

28

(44)

Salah satu bentuk Model pembelajaran cooperative learning yang sering digunakan adalah diskusi. Dimana dalam diskusi yang dilakukan peserta diskusi diusahakan beragam. Beragam dalam artian bahwa dalam satu kelompok masing-masing individu berbeda dalam hal kemampuan kognitif, jenis kelamin latar belakang sosial maupun budaya. Hal tersebut dimaksudkan supaya mereka saling bertukar pengalaman dalam proses pembelajaran.

Berdasarkan hal tersebut, penelitian ini peneliti menggunakan model pembelajaran yang dapat mengaktifkan peserta didik dan memberi kesempatan peserta didik untuk bekerja sama dengan peserta didik yang mempunyai kemampuan heterogen sekaligus menggembirakan peserta didik dengan permainan. Model tersebut adalah model pembelajaran cooperative learning tipe teams games tournament (TGT). TGT dapat digunakan dalam berbagai mata pelajaran yaitu : Ilmu-ilmu Sosial dari jenjang pendidikan dasar.29

Dalam model pembelajaran ini peserta didik tidak hanya mendengarkan guru yang sedang mengajar yang sering kali membuat peserta didik menjadi pasif. Tetapi dalam model pembelajaran ini peserta didik diajarkan untuk berpendapat dalam belajar kelompok dan permaninan. Menurut Saco dalam Trianto dalam TGT siswa memainkan permainan dengan anggota-anggota tim lain untuk memperoleh skor bagi tim mereka masing-masing.30 Dalam pemebelajaran TGT ini peserta didik belajar

29

Trianto, Mendesain Model Pembealajaran Inovatif- Progresif ( Jakarta: Kencana, 2010), h. 83.

30

(45)

dengan permainan game berbentuk pertanyaan-pertanyaan berkaitan dengan materi pelajaran.

Menurut Slavin TGT berhasil meningkatkan skill-skill dasar, pencapaian, interaksi positif antar siswa, harga diri, dan sikap penerimaan pada siswa-siswi lain yang berbeda.31 Dengan menggunakan model pembelajaran TGT dapat meningkatkan motivasi dan hasil belajar peserta didik dalam mata pealajaran IPS.

E. Hasil Penelitian Yang Relevan

Sebelum adanya penelitian ini, sudah ada beberapa penelitian atau tulisan yang telah dilakukan oleh beberapa peneliti yang menggunakan atau menerapkan model

pembelajaran cooperative learning tipe TGT pada beberapa mata pelajaran yang berbeda-beda seperti yang dikemukakan oleh:

1. Yanti Sudarmi dengan judul “Penerapan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Teams

Games Tournament (TGT) Untuk Meningkatkan Hasil Belajar Pendidikan Kewarganegaraan kelas IV Semester II Tahun Pelajaran 2013/2014 Di SD Seririt Kabupaten Buleleng.

Dari penelitian yang telah dilaksanakan, tujuan penelitian tersebut antara lain : a) Untuk mengetahui penerapan model pembelajaran cooperative learning tipe

TGT dalam meningkatkan hasil belajar mata pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan.

31

(46)

b) Hasil penelitian menunjukkan bahwa model pembelajaran cooperative learning tipe TGT dapat meningkatkan hasil belajar peserta didik. Penelitian ini berhasil dilaksanakan oleh Yanthi Sudarmi.32

2. Modesta Yani Rante Bunga dengan judul “Meningkatkan Hasil Belajar IPA Melalui

Penerapan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Teams Games Tournament Siswa Kelas IV SD Bala Kecamatan Jono Oge.

Dari penelitian yang telah dilaksanakan, tujuan penelitian tersebut antara lain untuk :

a) Mendeskripsikan model pembelajaran cooperative learning tipe TGT.

b) Hasil penelitian menunjukkan bahwa pembelajaran cooperative learning tipe TGT dapat meningkatkan hasil belajar peserta didik, penelitian ini berhasil dilaksanakan oleh Modesta Yani Rante Bunga.33

Dengan keberhasilan dua peneliti pendahulu maka peneliti pun tertarik meneliti penelitian ini. Perbedaan penelitian yang dilakukan oleh peneliti pendahulu dengan peneliti pada penelitian ini adalah terletak pada tujuan, dan juga penerapan model pembelajaran cooperative learning tipe TGT pada mata pelajaran, subjek, dan lokasi penelitian yang berbeda.

32 Yanthi Sudarmi “Penerapan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe

Teams Games Tournament (TGT) Untuk Meningkatkan Hasil Belajar Pendidikan Kewarganegaraan kelas IV Di SD No 1 Seririt Kabupaten Buleleng Tahun Pelajaran 2013/2014.

33

(47)

F. Hipotesis Tindakan

Hipotesis adalah jawaban sementara terhadap rumusan masalah penelitian, dimana rumusan penelitian telah dinyatakan dalam bentuk kalimat pernyataan.34 Dalam penelitian tindakan kelas hipotesis yang diperlukan adalah hipotesis kerja, yang hendak dicarikan jawabannya melalui data yang dikumpulkan. Hipotesis ini disebut hipotesis kerja, karena dalam penelitian ini hipotesis ini dicari sesuai atau tidaknya dengan data pendukung yang dikumpulkan dari setting penelitian. Fungsi hipotesis secara umum untuk memberikan petunujuk kepada para guru atau peneliti didalam setting dan penentuan data yang perlu diambil guna memecahkan permasalahan.

Pada penelitian tindakan kelas hipotesis kerja perlu ditetapkan sejak awal tingkat perencanaan, dimana peneliti ingin melakukan penelitian dengan ide umum, kemudian penetapan hipotesis sebagai acuan dalam tindakan. Langkah selanjutnya dilakukan pengambilan data oleh para peneliti dengan satu atau beberapa teknik yang relevan misalnya observasi dan wawancara. Dalam penelitian ini penulis mengajukan hipotesis tindakan yaitu : Model pembelajaran cooperative learning tipe TGT dapat meningkatkan hasil belajar Peserta didik pada mata pelajaran IPS Kelas IV SDN 2 Sukamaju Kecamatan Ulu Belu Kabupaten Tanggamus.

34

Sugiyono, Metodelogi Penelitian Kuantitatif Kualitatif dan R & D (Bandung : CV.

(48)

BAB III

METODELOGI PENELITIAN TINDAKAN KELAS

A. Metode Penelitian

Metode penelitian adalah tata cara bagaimana suatu penelitian dilaksanakan.1 Secara umum Metode penelitian merupakan cara ilmiah untuk mendapatkan data dengan tujuan dan kegunaan tertentu.2 metode penelitian merupakan ilmu tentang metode-metode yang akan digunakan dalam melakukan sesuatu penelitian.3

Metodelogi penelitian juga diartikan cara atau jalan yang ditempuh sehubungan dengan penelitian yang dilakukan, yang memiliki langkah-langkah yang sistematis. Motode penelitian menyangkut masalah kerjanya, yaitu cara kerja untuk memahami yang menjadi sasaran penelitian yang bersangkutan, meliputi prosedur penelitian dan teknik penelitian.4

Penelitian ini penulis menggunakan metode penitian tindakan kelas, untuk mengidentifikasi penelitian tindakan kelas, adalah penelitian yang mengkombinasikan prosedur penelitian dengan suatu tindakan yang dilakukan dalam

1

M. iqbal hasan, Pokok-Pokok Materi, Metodologi Penelitian dan Aplikasinya ( Jakarta: ghalia Indonesia, 2002), h.25.

2

Sugiyono, Op. Cit. h.2. 3

Abdurrahmat Fathoni, Metodologi Penelitian dan Teknik Penyusunan Skripsi (Jakarta Rineka Cipta, 2011), h. 98.

4

(49)

disiplin, atau suatu usaha seseorang untuk memahami apa yang sedang terjadi, dalam sebuah proses perbaikan dan perubahan.5

B. Jenis atau Desain Penelitian

Penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas yang dilakukan secara kolaborasi antara peneliti dengan guru mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial dan peserta didik dalam meningkatkan hasil belajar peserta didik terhadap Ilmu Pengetahuan Sosial.

Menurut Ebbut Penelitan tindakan kelas merupakan kajian sistemik dari upaya perbaikan pelaksanaan praktik pendidikan oleh sekelompok guru dengan melakukan tindakan-tindakan dalam pembelajaran, berdasarkan refleksi mengenai hasil dan tindakan–tindakan tersebut .6

Berdasarkan uarain diatas Penelitan tindakan kelas dapat disimpulkan penelitian yang yang dilakukan oleh guru dikelas dengan tujuan untuk memperbaiki kinerja sehingga meningakatkan hasil belajar peserta didik.

Metode penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas yang menggunakan data pengamatan langsung terhadap jalannya proses pembelajaran dikelas. Dari data tersebut kemudian dianalisis melalui beberapa tahapan atas siklus–siklus tindakan. Penelitian tindakan kelas dilaksanakan dalam bentuk siklus yang di dalamnya

5

Rochiati wiriaatmadja, Metode Penelitian Tindakan Kelas (untuk meningkatkan kinerja guru dan dosen).(bandung: pt remaja rosdakarya, 2008), h. 11.

6

(50)

terdapat empat tahap utama, perencanaan, tahap pelaksanaan tindakan, Tahap Pelaksanaan Pengamatan, refleksi. Adapun model dan penjelasan untuk masing-masing tahapan adalah sebagai berikut :

Gambar 1

Prosedur Penelitian Tindakan Kelas (PTK) 7

Sumber :Bagan Penelitian Tindakan Kelas Model Kemmis dan Taggart

7

(51)

C. Setting Penelitian dan Krakteristik Subjek Penelitian 1. Tempat Penelitian

Penelitian tindakan kelas ini di laksanakan bertempatan di SDN 2 Sukamaju Kecamatan Ulu Belu Kabupaten Tanggamus.

2. Waktu Penelitian

Penelitian ini akan dilaksanakan pada semester ganjil tahun pelajaran 2016/2017.

3. Subjek Penelitian

Peserta didik kelas IV SDN 2 Sukamaju Kecamatan Ulu Belu Kabupaten Tanggamus.

D. Rencana Tindakan

Pelaksanaa penelitian ini dilakukan secara kolaborasi partisipatif antara guru mata pelajaran IPS kelas IV SDN 2 Suka Maju kecamatan Ulu Belu Kabupaten Tanggamus. Adapun langkah-langkah penelitian yang dialkukan di setiap siklus secara rinci dapat dijelaskan sebagai berikut.

1. Siklus Tindakan

(52)

kelas IV SDN 2 Sukamaju Kecamatan Ulu Belu Kabupaten Tanggamus. Untuk setiap siklusnya akan dilaksanakan 2x pertemuan, jadi peneliti ini akan berlangsung selama 4x pertemuan yang mana diharapkan dari kedua siklus tersebut model pembelajaran cooperative learning tipa TGT dapat meningkatkan hasil belajar peserta didik khususnya pada mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial.

a. Siklus I

Pelaksanaan pembelajaran menggunakan model pembelajaran cooperative learning tipe teams games tournament (TGT) pada siklus I dilaksanakan melalui beberapa tahap yaitu sebagai berikut :

1. Perencanaan Tindakan Kelas

Pada perencanaan ini peneliti mempersiapkan beberapa tahapan yaitu: a) Menyiapkan silabus pembelajaran.

b) Menyiapkan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP).

c) Menyiapkan materi pada mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial. d) Menyiapkan media pembelajaran.

e) Menyiapkan model/metode pembelajaran.

f) Menyiapkan lembar observasi guru dan lembar observasi peserta didik. g) Menyiapkan soal-soal yang akan diujikan.

(53)

j) Menyiapkan Reward ( Hadiah) 2. Pelaksanaan Tindakan Kelas

a. Kegiatan Awal

1) Guru mengucapkan salam dengan ramah kepada peserta didik ketika memasuki ruang kelas.

2) Berdo’a sebelum membuka pelajaran.

3) Memeriksa kebersihan kelas.

4) Memeriksa kehadiran peserta didik dan memeberikan motivasi belajar peserta didik.

b. Kegiatan Inti ( 50 Menit ) Eksplorasi ( 20 Menit )

1) Guru menjelaskan tujuan pembelajaran, pokok materi, dan penjelasan singkat tentang Menyebutkan bentuk-bentuk keragaman suku bangsa dan budaya setempat.

2) Peserta didik dan guru melakukan tanya jawab tentang macam-macam suku bangsa di Indonesia

3) Peserta didik mengungkapkan pengetahuannya tentang macam-macam

(54)

Elaborasi ( 25 Menit )

1) Guru mengondisikan kelas dan membagi kelompok menjadi 4 kelompok dengan jumlah masing-masing kelompok 4-5 peserta didik yang heterogen sesuai dengan kelompok pada pertemuan pertama.

2) Guru menjelaskan fungsi kelompok-kelompok kepada seluruh peserta didik.

3) Setelah guru memberikan penyajian kelas, kelompok (tim) bertugas untuk mengerjakan lembar kerja kelompok. Kegiatan peserta didik mendiskusikan masalah-masalah, membandingkan jawaban, memeriksa dan memperbaiki kesalahan-kesalahan konsep teman satu kelompok 4) Game atau permainan dilaksanakan setelah peserta didik menemukan

masalah di dalam kelompoknya, kemudian game tersebut berisi pertanyaan-pertanyaan yang relevan.

5) Guru menyiapkan meja tournament yang terdiir dari 4-5 orang yang merupakan wakil dari kelompok masing-masing.

(55)

7) Pembaca soal akan membacakan soal sesuai dengan soal yang diambil oleh pemain, soal dikerjakan secara mandiri oleh pemain dan penantang sesuai dengan waktu yang telah ditentukan dalam soal.

8) Permainan dilanjutkan pada kartu soal berikutnya sampai semua kartu soal habis dibacakan, posisi pemain diputar searah jarum jam agar setiap peserta dalam satu meja turnamen dapat berperan sebagai pembaca soal, pemain dan penantang.

9) Setelah semua kartu terjawab, setiap pemain dalam satu meja turnamen akan mengihung jumlah kartu yang diperoleh dan menetukan berapa poin yang diperoleh.

Konfirmasi (5 menit)

1) Setiap pemain kembali kepada kelompok asalnya dan melaporkan poin yang diperoleh kepada anggota kelompoknya.

2) Bagi kelompok yang mendapatkan skor tertinggi akan mendapatkan penghargaan.

c. Kegiatan akhir (10 Menit )

1) Seluruh peserta didik membuat kesimpulan dari hasil diskusi yang telah dilaksanakan sekaligus guru memberikan penguatan belajar.

(56)

3) Guru menyampaikan rencana pembelajaran pada pertemuan berikutnya agar peserta didik mempersiapkan pembelajaran tersebut dengan baik.

4) Seluruh peserta dan guru didik berdo’a.

5) Guru mengakhiri pelajaran dengan mengucapkan salam dan berjabat tangan

3. Observasi

Observasi ini dilakukan selama kegiatan pembelajaran berlangsung yang dilakukan oleh peneliti terhadap aktivitas peserta didik, dengan model pembelajaran cooperative learning tipe teams games tournament (TGT) yang sudah direncanakan sehingga didapatkan hasil untuk proses refleksi nantinya.

4. Refleksi.

(57)

Siklus II

Dalam siklus II seperti halnya siklus I dengan catatan sudah direvisi, yang terdiri dari ;

1. Perencanaan 2. Pelaksanaan

Peneliti melaksanakan kegiatan belajar berdasarkan hasil refleksi siklus I. 3. Pengamatan. Peneliti mengamati proses pembelajaran pada siklus ini. 4. Refleksi.

Bila dalam PTK terdapat lebih dari satu siklus, maka siklus kedua dan seterusnya merupakan putaran ulang dari tahapan sebelumnya. Hanya saja, antara siklus pertama, kedua, dan selanjutnya selalu mengalami perbaikan setahap demi setahap. Jadi, antara siklus yang satu dengan yang lainnya tidak akan pernah sama meskipun melalui tahap-tahap yang sama. Dalam Penelitian Tindakan Kelas di kelas IV SDN 2 Sukamaju Kecamatan Ulu Belu Kabupaten Tanggamus. Penulis merencanakan untuk melaksanakan 2 siklus, dimana dalam setiap siklus terdapat empat langkah yaitu perencanaan, tindakan, observasi, dan refleksi.

E. Teknik Pengumpulan Data

(58)

1. Observasi/Pengamatan

Observasi adalah cara menghimpun bahan-bahan kterangan (data) yang dilakukan dengan mengadakan pengamatan dan pencatatan secara sitematis terhadap fenomena-fenomena yang sedang dijadikan sasaran pengamatan.8 Dalam penelitian ini penulis menggunakan observasi tersrtuktur karena pada saat pengamatan dilakukan oleh seorang peneliti terhadap subjek dan objek penelitian dimana yang diamati itu yang bersifat.

Terstruktur peneliti dan mitra peneliti terlebih dahulu menyetujui kritria yang akan diamati, selanjutnya si observer tinggal menghitung saja berapa kali jawaban, tidakan peserta didik yang sedang di teliti. observasi tersrtuktur ini di lakukan oleh peneliti sebagai pelaksana dari kegiatan pembelajaran dengan menggunakan model pembelajaran cooperative learning tipe teams games tournament (TGT) kelas IV di SDN 2 sukamaju kecamatan ulu belu kabupaten tanggamus. Teknik ini, penulis gunakan untuk memperoleh gambaran secara umum tentang pelaksanaan penggunaan model pembelajaran cooperative learning tipe teams games tournament (TGT) untuk meningkat hasil belajar peserta didik.

2. Tes

Tes adalah seperangkat rangsangan (stimuli) yang diberikan kepada seseorang dengan maksud untuk untuk mendapat jawaban yang dapat dijadikan dasar pada penetapan skor angka. Dalam penlitian ini, peneliti menggunakan tes tertulis

8

(59)

a. Tes tertulis adalah berupa sejumlah pertanyaan yang diajukan secara tertulis tentang aspek-aspek yang ingin diketahui keadaan dari jawaban yang diberikan secara tertulis pula. Tes tertulis ini dibedakan menjadi dua yaitu:

1) Tes essey adalah tes yang dikehendaki agas tes memberikan jawaban dalam bentuk uaraian atau kalimat-kalimat yang disusun sendiri.

2) Tes objektif adalah suatu tes disusun dimana setiap pertanyaan tes disediakan alternatif jawaban yang dipilih.9 Didalam tes objektif ini peneliti menggunakan tes pilihan ganda.

3. Wawancara

Wawancara adalah cara menghimpun bahan-bahan keterangan yang dialksanakan dengan melakukan tanya jawab lisan secara sepihak, berhadapan muka, dan dnegan arah serta tujuan yang telah ditentukan.10 Dalam penelitian ini, penulis menggunakan model wawancara setengah terstruktur karena bentuk wawancara yang sudah di persiapkan terlebih dahulu, tetapi memberikan keleluasaan untuk menerangkan agak penjang mungkin tidak langsung kefokus pertanyaan atau bahasan atau mungkin mengajukan topik bahasan sendiri selama wawancara berlangsung.

9

Margono, Metodelogi Penelitian Pendidikan ( Jakarta : PT Rineka Cipta. 2010), h.170. 10

(60)

4. Dokumentasi

Dokumentasi adalah catatan peristiwa yang sudah berlalu, dokumen ini berbentuk tulisan, gambar atau karya-karya monumental dari seseorang.11 Jadi dapat penulis simpulkan bahwa teknik ini dimaksudkan untuk melengkapi data berupa bahan-bahan pelengkap dalam bentuk materi atau catatan dari guru yang berkaitan dengan penggunakan model pembelajaran cooperative learning tipe teams games tournament (TGT) kelas IV di SDN 2 Sukamaju Kecamatan Ulu Belu Kabupaten Tanggamus.

F. Analisis Data

Jenis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data kualitatif. Dapat dikatakan bahwa pengumpulan data merupakan jantungnya PTK, maka analisa data merupakan jiwa PTK. Langkah yang harus di tempuh setelah pengumpulan data yaitu analisia data. Data kualitatif yang diperoleh hasil pengamatan. Data yang diperoleh dari penelitian ini akan dianalisis secara kulitatif deskriptif dengan tahapan-tahapan sebagai berikut:

1. Reduksi data, yakni kegiatan menyeleksi data sesuai dengan fokus masalah. Dalam tahap ini pendidik atau peneliti membuang data yang tidak relevan.

11

(61)

2. Mendiskipsikan data sehingga data yang di organisir jadi bermakna. Mendeskripsikan data bisa dilakukan dalam bentuk naratif, membuat grafik atau menyusun dalam bentuk tabel.

3. Calculation Drawing/ verification, membuat kesimpulan berdasarkan deskripsi data.12

Setelah penulis melakukan analisis data maka penulis mengambil kesimpulan. Untuk menghitung presentasi hasil belajar peserta didik dalam proses pembelajaran diolah dengan menggunakan rumus :

x 100%

Keterangan :

P : Angka Presentase

F : Nilai hasil Ujian Blok

N : Jumlah Individu.13

Kriteria keberhasilan penelitian adalah 80% Siswa mencapai KKM

- 80% -100% = sangat baik - 60 % -79% = baik

12

Sugiyono. Metode Penelitian Kuantitatif Kualitatif dan R &D, (Bandung: Alfabeta, 2011), h. 345.

13

(62)

- 40% -59% = cukup - 0% -39% = Kurang G. Indikator Keberhasilan

(63)

BAB IV

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A. Profil SDN 2 Sukamaju Kecamatan Ulu Belu Kabupaten Tanggamus

1. Sejarah Berdirinya SDN 2 Sukamaju Kecamatan Ulu Belu Kabupaten Tanggamus

SDN 2 Sukamaju Kecamatan Ulu Belu Kabupaten Tanggamus yaitu beralamat di jalan Sukamaju Kecamatan Ulu Belu Kabupaten Tanggamus Berdiri di atas tanah seluas ± 1000 M2. SDN 2 Sukamaju Kecamatan Ulu Belu Kabupaten Tanggamus berdiri tahun 1986 yaitu dengan nama sekolah SD Kecil setelah pemekaran tahun 2002 menjadi SDN 2 Sukamaju Kecamatan Ulu Belu Kabupaten Tanggamus. Sejak berdiri hingga sekarang SDN 2 Sukamaju Kecamatan Ulu Belu Kabupaten Tanggamus telah mengalami empat pergantian kepala sekolah yaitu sebagai berikut1 :

Tabel 2

Periodesasi Kepemimpinan SDN 2 Sukamaju Kecamatan Ulu Belu Kabupaten Tanggamus

No Priode (Tahun) Nama Kepala Sekolah

1 Tahun 1986 s/d 2002 NAWAWI UDIN

2 Tahun 2002 s/d 2011 ABDUL KHOLIK

3 Tahun 2011 s/d 2013 SUMARTI, Amd

4 Tahun 2013 s / d Sekarang ISKANDAR, S.Pd.SD Sumber : Dokumentasi SDN 2 SukamajuTahun 2016

1

(64)

2. Visi dan Misi SDN 2 Sukamaju Kecamatan Ulu Belu Kabupaten Tanggamus a. Visi

Visi SDN 2 Sukamaju Kecamatan Ulu Belu Kabupaten Tanggamus adalah menuju sekolah yang unggul dalam berprestasi berdasarkan imtak (iman dan takwa) dan berprilaku hidup sehat.

b. Misi

1) Menciptakan sekolah yang bernuansa religious.

2) Membuktikan semangt keunggulan kepada seluruh warga sekolah. 3) Menumbuhkan penghatan terhadap ajaran agama yang dianut karakter

dan budaya bangsa sehingga menjadi sumber kearifan dalam bertindak.

4) Mewujudkan manajemen partisipasif dan transparan dengan melibatkan seluruh warga sekolah dan pihak terkait.

5) Mewujudkan pelajaran yang aktif, inovatif, kreatif.

6) Menciptakan lingkungan sekoah yang bersih, indah dan nyaman. 7) Meningkatkan kedisiplinan seluruh komponen sekolah.

8) Mewujudkan hubungan kerjasama yang harmonis dan kondusif baik di dalam lingkungan sekolah maupun luar sekolah.

Figur

Tabel 1. Hasil Belajar Peserta DidikPada Mata Pelajaran IPSKelas IV

Tabel 1.

Hasil Belajar Peserta DidikPada Mata Pelajaran IPSKelas IV p.13
Tabel 12. Hasil Belajar Kelas IV SDN 2 Sukamaju Kecamatan Ulu Belu

Tabel 12.

Hasil Belajar Kelas IV SDN 2 Sukamaju Kecamatan Ulu Belu p.14
Gambar 1. Gambar 1 Prosedur Penelitian Tindakan Kelas (PTK) ......................... 32

Gambar 1.

Gambar 1 Prosedur Penelitian Tindakan Kelas (PTK) ......................... 32 p.15
Tabel I Hasil Belajar Peserta Didik Pada Mata Pelajaran IPS Kelas IV

Tabel I

Hasil Belajar Peserta Didik Pada Mata Pelajaran IPS Kelas IV p.23
Prosedur Penelitian Tindakan Kelas (PTK)Gambar 1  7

Prosedur Penelitian

Tindakan Kelas (PTK)Gambar 1 7 p.50
Tabel 2 Periodesasi Kepemimpinan SDN 2 Sukamaju

Tabel 2

Periodesasi Kepemimpinan SDN 2 Sukamaju p.63
Tabel 3 Nama-nama Guru dan Karyawan SDN 2

Tabel 3

Nama-nama Guru dan Karyawan SDN 2 p.65
Tabel 4 Kondisi Peserta Didik SDN 2 Sukamaju

Tabel 4

Kondisi Peserta Didik SDN 2 Sukamaju p.66
Tabel 5 Ketersediaan Alat Peraga/Media Pembelajaran

Tabel 5

Ketersediaan Alat Peraga/Media Pembelajaran p.67
Tabel 6 Fasilitas SDN 2 Sukamaju

Tabel 6

Fasilitas SDN 2 Sukamaju p.68
Nilai Hasil Tabel 7 Pretest

Nilai Hasil

Tabel 7 Pretest p.70
Hasil BelajarTabel 8   Kelas IV DSN 2 Sukamaju

Hasil BelajarTabel

8 Kelas IV DSN 2 Sukamaju p.76
Tabel 9 Hasil Belajar  Kelas IV SDN 2 Sukamaju

Tabel 9

Hasil Belajar Kelas IV SDN 2 Sukamaju p.83
Tabel  11 Hasil Belajar Kelas IV SDN 2 Sukamaju

Tabel 11

Hasil Belajar Kelas IV SDN 2 Sukamaju p.92
Tabel 12 Hasil Belajar Kelas IV SDN 2 Sukamaju

Tabel 12

Hasil Belajar Kelas IV SDN 2 Sukamaju p.99
Tabel 13

Tabel 13

p.100
Tabel 14 Hasil Belajar Kelas IV SDN 2 Sukamaju

Tabel 14

Hasil Belajar Kelas IV SDN 2 Sukamaju p.104
Persentase Hasil Tabel 15 Pretest Pra Siklus dan

Persentase Hasil

Tabel 15 Pretest Pra Siklus dan p.106
Tabel 16 Hasil Belajar Kelas IV SDN 2 Sukamaju

Tabel 16

Hasil Belajar Kelas IV SDN 2 Sukamaju p.108
Tabel 17 Persentase Hasil Belajar Siklus I

Tabel 17

Persentase Hasil Belajar Siklus I p.109
Tabel 18 Hasil Belajar Kelas IVSDN 2 Sukamaju Kecamatan

Tabel 18

Hasil Belajar Kelas IVSDN 2 Sukamaju Kecamatan p.110
Tabel 19

Tabel 19

p.111
Gambar 2. Grafik

Gambar 2.

Grafik p.112
Gambar yang berhubungan dengan Menghargai Keragaman Suku Bangsa Dan

Gambar yang

berhubungan dengan Menghargai Keragaman Suku Bangsa Dan p.129
Gambar yang Mempelajari Benda Peninggalan Sejarah

Gambar yang

Mempelajari Benda Peninggalan Sejarah p.136
Gambar yang berhubungan dengan bentuk-bentuk peninggalan sejarah

Gambar yang

berhubungan dengan bentuk-bentuk peninggalan sejarah p.143
Gambar yang berhubungan dengan Melestarikan Peninggalan Sejarah

Gambar yang

berhubungan dengan Melestarikan Peninggalan Sejarah p.150

Referensi

Memperbarui...